You are on page 1of 15

PENGGUNAAN LAMBANG NEGARA GARUDA PANCASILA

Oleh:

Kelompok 8

1. Afifah Nur Shabrina 1655051006


2. Arief Putih Prabowo 1655051007
3. Dini Aulia Rahma 1615051014
4. Ditha Arlinsky. Ar 1615051022
5. Gege Mayendra 1615051034
6. Pupu Purnama 1615051044
7. Sarah Safira 1615051036

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Penggunaan Lambang Negara Garuda Pancasila ini dengan baik meskipun masih banyak
kekurang didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai lambang negara garuda pancasila dan semboyan bhinneka
tunggal ika. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan
dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini
di waktu yang akan datang.

Bandar Lampung, November 2016

Tim Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara kesatuan yang penuh dengan keragaman. Indonesia terdiri
atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan,
dll. Namun Indonesia mampu mepersatukan bebragai keragaman itu sesuai dengan
semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” , yang berarti berbeda-beda tetapi
tetap satu jua.

UUD Republik Indonesia menyatakan dengan tegas tentang realitas multikultural


Bangsa Indonesia. Kenyataan tersebut dilukiskan di dalam lambang negara “Bhinneka
Tunggal Ika.” Kebhinnekaan masyarakat dan bangsa Indonesia diakui bahkan dijadikan
sebagai dasar perjuangan nasional permulaan abad ke-20. Untuk itu integrasi nasional
bangsa Indonesia pun harus diwujudkan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk
karena masyarakat yang majemuk merupakan salah satu potensi sumber konflik yang
menyebabkan disintegrasi bangsa. Agar identitas bangsa Indonesia di mata dunia terkenal
dengan bangsa yang majemuk tetapi satu dalam keanekaragaman (suku, bahasa, agama,
dll, yang berbeda-beda) semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus diwujudkan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun permasalahan yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah
1. Bagaimana implementasi dari bhineka tunggal ika dan cita-cita luhur bangsa
Indonesia?
2. Apa prinsip-prinsip bhineka tunggal ika?
3. Bagaimana mengimplementasikan prinsip bhineka tunggal ika dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara?
BAB II
PEMBAHASAN

3.1 Implementasi Bhinneka Tunggal Ika dan Cita-Cita Luhur Bangsa


Untuk dapat mengimplementasikan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara dipandang perlu untuk memahami secara mendalam prinsip-
prinsip yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika. Prinsip-prinsip tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Dalam rangka membentuk kesatuan dari keanekaragaman tidak terjadi
pembentukan konsep baru dari keanekaragaman konsep-konsep yang terdapat
pada unsur-unsur atau komponen bangsa. Suatu contoh di negara tercinta ini
terdapat begitu aneka ragam agama dan kepercayaan. Dengan ketunggalan
Bhinneka Tunggal Ika tidak dimaksudkan untuk membentuk agama baru. Setiap
agama diakui seperti apa adanya, namun dalam kehidupan beragama di Indonesia
dicari common denominator, yakni prinsip-prinsip yang ditemui dari setiap agama
yag memiliki kesamaan, dan common denominator ini yang kita pegang sebagai
ke-tunggalan, untuk kemudian dipergunakan sebagai acuan dalam hidup
berbangsa dan bernegara. Demikian pula halnya dengan adat budaya daerah, tetap
diakui eksistensinya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berwawasan kebangsaan. Faham Bhinneka Tunggal Ika, yang oleh Ir Sujamto
disebut sebagai faham Tantularisme, bukan faham sinkretisme, yang mencoba
untuk mengembangkan konsep baru dari unsur asli dengan unsur yang datang dari
luar.
2. Bhinneka Tunggal Ika tidak bersifat sektarian dan eksklusif; hal ini bermakna
bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan merasa dirinya
yang paling benar, paling hebat, dan tidak mengakui harkat dan martabat pihak
lain. Pandangan sektarian dan eksklusif ini akan memicu terbentuknya keakuan
yang berlebihan dengan tidak atau kurang memperhitungkan pihak lain, memupuk
kecurigaan, kecemburuan, dan persaingan yang tidak sehat. Bhinneka Tunggal Ika
bersifat inklusif. Golongan mayoritas dalam hidup berbangsa dan bernegara tidak
memaksakan kehendaknya pada golongan minoritas.
3. Bhinneka Tunggal Ika tidak bersifat formalistis yang hanya menunjukkan perilaku
semu. Bhinneka Tunggal Ika dilandasi oleh sikap saling percaya mempercayai,
saling hormat menghormati, saling cinta mencintai dan rukun. Hanya dengan cara
demikian maka keanekaragaman ini dapat dipersatukan.
4. Bhinneka Tunggal Ika bersifat konvergen tidak divergen, yang bermakna
perbedaan yang terjadi dalam keanekaragaman tidak untuk dibesar-besarkan,
tetapi dicari titik temu, dalam bentuk kesepakatan bersama. Hal ini akan terwujud
apabila dilandasi oleh sikap toleran, non sektarian, inklusif, akomodatif, dan
rukun.
5. Prinsip atau asas pluralistik dan multikultural Bhinneka Tunggal Ika
mendukung nilai:
1. inklusif, tidak bersifat eksklusif,
2. terbuka,
3. ko-eksistensi damai dan kebersamaan,
4. kesetaraan,
5. tidak merasa yang paling benar,
6. toleransi,
7. musyawarah disertai dengan penghargaan terhadap pihak lain yang
berbeda.

3.2 Implementasi Bhinneka Tunggal Ika


Berdasarkan prinsip-prinsip Bhinneka Tunggal Ika di atas, maka prinsip-
prinsip tersebut perlu untuk diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
1. Perilaku inklusif.
Di depan telah dikemukakan bahwa salah satu prinsip yang terkandung dalam
Bhinneka Tunggal Ika adalah sikap inklusif. Dalam kehidupan bersama yang
menerapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika memandang bahwa dirinya, baik itu
sebagai individu atau kelompok masyarakat merasa dirinya hanya merupakan
sebagian dari kesatuan dari masyarakat yang lebih luas. Betapa besar dan penting
kelompoknya dalam kehidupan bersama, tidak memandang rendah dan
menyepelekan kelompok yang lain. Masing-masing memiliki peran yang tidak
dapat diabaikan, dan bermakna bagi kehidupan bersama.

2. Mengakomodasi sifat pluralistic


Bangsa Indonesia sangat pluralistik ditinjau dari keragaman agama yang dipeluk
oleh masyarakat, aneka adat budaya yang berkembang di daerah, suku bangsa
dengan bahasanya masing-masing, dan menempati ribuan pulau yang tiada jarang
terpisah demikian jauh pulau yang satu dari pulau yang lain. Tanpa memahami
makna pluralistik dan bagaimana cara mewujudkan persatuan dalam
keanekaragaman secara tepat, dengan mudah terjadi disintegrasi bangsa. Sifat
toleran, saling hormat menghormati, mendudukkan masing-masing pihak sesuai
dengan peran, harkat dan martabatnya secara tepat, tidak memandang remeh pada
pihak lain, apalagi menghapus eksistensi kelompok dari kehidupan bersama,
merupakan syarat bagi lestarinya negara-bangsa Indonesia. Kerukunan hidup
perlu dikembangkan dengan sepatutnya. Suatu contoh sebelum terjadi reformasi,
di Ambon berlaku suatu pola kehidupan bersama yang disebut pela gandong,
suatu pola kehidupan masyarakat yang tidak melandaskan diri pada agama, tetapi
semata-mata pada kehidupan bersama pada wilayah tertentu. Pemeluk berbagai
agama berlangsung sangat rukun, bantu membantu dalam kegiatan yang tidak
bersifat ritual keagamaan. Mereka tidak membedakan suku-suku yang berdiam di
wilayah tersebut, dan sebagainya. Sayangnya dengan terjadinya reformasi yang
mengusung kebebasan, pola kehidupan masyarakat yang demikian ideal ini telah
tergerus arus reformasi.

3. Tidak mencari menangnya sendiri


Menghormati pendapat pihak lain, dengan tidak beranggapan bahwa pendapatnya
sendiri yang paling benar, dirinya atau kelompoknya yang paling hebat perlu
diatur dalam menerapkan Bhinneka Tunggal Ika. Dapat menerima dan memberi
pendapat merupakan hal yang harus berkembang dalam kehidupan yang beragam.
Perbedaan ini tidak untuk dibesar-besarkan, tetapi dicari titik temu. Bukan
dikembangkan divergensi, tetapi yang harus diusahakan adalah terwujudnya
konvergensi dari berbagai keanekaragaman. Untuk itu perlu dikembangkan
musyawarah untuk mencapai mufakat.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat.
Dalam rangka membentuk kesatuan dalam keanekaragaman diterapkan
pendekatan “musyawa-rah untuk mencapai mufakat.” Bukan pendapat sendiri
yang harus dijadikan kesepakatan bersama, tetapi common denominator, yakni
inti kesamaan yang dipilih sebagai kesepakatan bersama. Hal ini hanya akan
tercapai dengan proses musyawarah untuk mencapai mufakat. Dengan cara ini
segala gagasan yang timbul diakomodasi dalam kesepa-katan. Tidak ada yang
menang tidak ada yang kalah. Inilah yang biasa disebut sebagai win win solution.

5. Dilandasi rasa kasih sayang dan rela berkorban.


Dalam menerapkan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara perlu dilandasi oleh rasa kasih sayang. Saling curiga mencurigai harus
dibuang jauh-jauh. Saling percaya mempercayai harus dikembangkan, iri hati,
dengki harus dibuang dari kamus Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini akan berlangsung
apabila pelaksanaan Bhnneka Tunggal Ika menerap-kan adagium “leladi
sesamining dumadi, sepi ing pamrih, rame ing gawe, jer basuki mowo beyo.”
Eksistensi kita di dunia adalah untuk memberikan pelayanan kepada pihak lain,
dilandasi oleh tanpa pamrih pribadi dan golongan, disertai dengan pengorbanan.
Tanpa pengorbanan, sekurang-kurangnya mengurangi kepentingan dan pamrih
pribadi, kesatuan tidak mungkin terwujud.

Selain dari lima implementasi di atas yang telah dikaitkan dengan prinsip-
prinsip Bhinneka tunggal Ika, terdapat juga beberapa implementasi yang lain,
seperti :
a. Implementasi dalam relasi antar suku bangsa
Dalam risalah sidang kedua Dokuritu Zyunbbi Tyosakai (Badan
Persiapan Usaha Kemerdekaan), yang berlangsung 10-17 Juni 1945, muncul
juga tema menarik yaitu soal wilayah Indonesia. Dalam kaitannya dengan
tema “Bhinneka Tunggal Ika” dan masalah etnisitas atau kemajemukan suku-
suku bangsa, Bung Hatta mempertanyakan apakah Papua termasuk wilayah
Indonesia. Karena secara etnologis, Papua termasuk rumpun Melanesia,
berbeda dengan rumpun penduduk Indonesia lainnya yang termasuk rumpun
Polenisia. Menurut Hatta, yang lebih rasional dan sesuai dengan hukum
internasional, yang menjadi wilayah Indonesia adalah bekas jajahan Belanda.
Diingatkan Hatta, jangan sampai dengan konsep “tumpah darah” (Jerman:
kultur und boden) menjadi nafsu imperlialis seperti Jerman. Tetapi Hatta juga
manyadari, bahwa seperti pen-duduk Indonesia di wilayah Barat dan Tengah
adalah asimilasi dari orang-orang Melanesia dengan bangsa-bangsa Arab,
Cina, India, begitu juga bisa jadi hasil percampuran antara penduduk
Melanisia dengan Polenisia lalu menjadi Papua, menjadi dasar
dimasukkannya Papua menjadi wilayah Indonesia.
Sebelumnya Yamin menekankan, bahwa wilayah kita jangan hanya
menjadi enclaves daripada “seluruh tanah Indonesia atas beberapa kekuasaan
imperialisme 350-400 tahun yang belakangan ini”. Menurut Yamin,
perkataan “Indonesia” sendiri dibuat dengan pemahaman yang mengatakan
Indonesia melingkupi daerah Malaya dan Polinesia. Jadi, dengan sendirinya
pada waktu perkataan Indonesia lahir, dimaksudkan tanah Papua masuk ke
dalam daerah Indonesia. Menurut paham Geopolitik, pulau Papua adalah
lompatan yang paling akhir dari benua Indonesia menuju lautan Pasifik, dan
lompatan yang pertama dari lautan pasifik menuju tanah air kita. Apalagi
menurut faham Indonesia, sebagian besar pulau Papua adalah masuk hak adat
lingkungan adat kerajaan Tidore, sehingga dengan sendirinya betul-betul
daerah itu masuk bagian daerah Indonesia. Akhirnya Yamin juga
menandaskan bahwa wilayah Indonesia adalah “Kepulauan De-lapan”:
Sumatra, Melayu, Borneo, Jawa, Sulawesi, Sunda Kecil, Maluku, dan Papua
(masing-masing dengan kepulauan-kepulauan kecil di sekeliling Kepulauan
Delapan tersebut. Yamin menyebut bahwa sebenarnya itu bukan
keinginannya, tetapi sejak beribu-ribu tahun tumpah darah Indonesia itu
terbentuk, yang disebutnya “Testamen Gajahmada”.
Menariknya, berbeda dengan Hatta yang masih agak ragu-ragu
memasukkan Papua, Bung Karno sepakat 100% dengan Yamin, dan
memperkuat argumentasi Yamin bahwa wilayah kita bukan warisan Belanda,
sebaliknya “….bersandar kepada kekuatan sejarah kita dulu, bersandar pada
batas sejarah kita yang dulu. Bukalah, tuan-tuan. Negarakertagama yang
ditulis Prapanca, maka tuan-tuan akan membaca di dalamnya beberapa nama
tempat dan daerah yang menun-jukkan, bahwa kerajaan Majapahit pun
daerahnya melebar sampai kepada Papua”. Bung Karno percaya, kalau kita
melihat peta dunia maka kita akan melihat bahwa Tuhan Allah SWT telah
menentukan beberapa daerah sebagai suatu kesatuan. Allah telah menentukan
kepulauan Inggris sebagai satu kesatuan, atau menentukan kepulauan
Hellenia (Yunani) sebagai satu kesatuan, demikian juga Allah telah
menentukan wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu,
pentingnya faktor wilayah ini ditekankan Bung Karno dalam pidatonya
tanggal 1 Juni 1945, untuk melengkapi definisi Ernest Renan dan Otto Bauer.
Renan mensyaratkan bangsa hanyalah “kehendak akan bersatu” (le desir
d’etre ensemble), sedangkan Bauer mendefinisikan: “Bangsa adalah satu
perasaan perangai yang timbul karena persatuan nasib” (Eine nations ist aus
Schiksals gemenischafft erwachsene charakter gemenischaft).“Orang dan
tempat tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang
ada di bawah kakinya”, demikian tegas Bung Karno.
Apa yang diwacanakan oleh para “Founding Fathers” di atas bukan
sekedar apologetika atau bentuk pembelaan diri mengenai hak bangsa
Indonesia untuk menempati tumpah darah Indonesia, tetapi sadar atau tidak
juga merupakan bagian dari upaya pencarian mereka atas rujukan historis
bagaimana kita harus memaknai warisan kemajemukan kita, khususnya
dalam hal suku-suku bangsa. Tetapi para pendiri bangsa itu tidak berlebihan.
Indonesia ternyata tidak hanya mempunyai bukti-bukti prasasti dan
bergudang manuskrip kuno yang membuktikan bahwa sebelum mereka
hendak mendirikan NKRI, rakyat yang mendiami ratusan pulau besar dan
kecil dari Sabang sampai Merauke itu, memang pernah disatukan dalam satu
wadah Negara. Itulah yang dimaksudkan Bung Karno sebagai “sebuah
Negara Nasional” (Nationale Staat), sebelum NKRI sekarang, yaitu
Sriwijaya dan Majapahit. Bukti-bukti itu tidak hanya tercatat dalam Kaka-
win Negarakrtagama, karya Mpu Prapanca (1365), dan sejumlah manuskrip
Nusantara kuna lainnya, tetapi juga karya-karya pujangga manca negara yang
sezaman, bahkan ketika di Indonesia sendiri masih disebut “pra-sejarah”.
Maksudnya, sudah ada catatan-catatan manca negara yang merujuk eksistensi
bangsa Indonesia, ketika bangsa Indonesia sendiri tidak atau belum mencatat
sejarahnya.
Dengan demikian, penduduk Indonesia bukan hanya meliputi suku-
suku yang mendiami wilayah Barat Nusantara yang dikenal sebagai rumpun
Polenisia, tetapi juga suku-suku Papua yang dikenal dengan rumpun
Melanesia. Nah, keanekaragaman penduduk yang menghuni kepulauan
Nusantara selama berabad-abad dengan segala kompleksitas budaya, bahasa
dan adat istiadatnya, meskipun dalam konteks narasi yang dikutip di awal
tulisan ini tidak dibahasnya langsung, namun secara substansial juga menjadi
perhatian para pujangga Nusantara.

b. Implementasi dalam relasi negara dan agama


Dalam kaitannya dengan relasi agama dan negara, Pancasila diajukan
Bung Karno sebagai Philosopie Gronslag (Dasar Falsafah) Negara Indonesia
dalam pidatonya yang berjudul Lahirnya Pancasila, di depan sidang
Dokoritsu Zonbie Tjosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) tanggal 1 Juni 1945, dalam rangka menjawab dan
menemukan solusi dari para peserta sidang yang terbelah menjadi dua
pilihan, yaitu pilihan Negara Islam, dan pilihan Negara Sekular. Pancasila
muncul sebagai “jalan tengah“ diantara dua kutub ekstrim antara paham
negara agama (Theocracy) dan paham negara sekuler (Secularism). Pada satu
pihak dengan penegasan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa“, maka tidak
mungkin kita mendepak nilai-nilai agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa dari kehidupan berbangsa dan ber-negara, karena hal itu
bertentangan dengan degub jantung kehidupan rakyat Indonesia yang sangat
religius. Di pihak lain, dengan mengangkat dasar “Ketuhanan yang Maha
Esa“ (bukan agama tertentu) juga berarti pengakuan terhadap semua agama
dan kepercayaan yang berbeda-beda. Jadi, bukan bukan Ketuhanan menurut
salah satu agama saja, melainkan Ketuhanan menurut agama masing-masing,
sebagaimana ditegaskan oleh Bung Karno.
Prinsip Ketuhanan. Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi
masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan. Tuhannya sendiri.
Yang Kristen menyembah Tuhannya menurut petunjuk Isa Al-Masih, yang
Islam menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan
ibadatnya menurut kitab-kitab suci yang ada padanya. Tetapi marilah kita
semua ber-Tuhan. Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap
orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap
rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada
„egoisme agama“. Dan hendaknya Negara Indonesia satu negara yang
bertuhan! Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun
Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara berkeadaban itu? Ialah
hormat menghormati satu sama lain. Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi
bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-
agama lain.
Dalam kerangka berpikir seperti itulah Bung Karno menyebut bahwa
Indonesia yang hendak didirikan adalah sebuah Nationale Staat (Negara
Nasional). Dan dalam mengelola kema-jemukan masyarakat Indonesia, maka
model yang hendak dipilih oleh Bung Karno adalah Sriwijaya dan Majapahit,
bukan negara-negara agama seperti Demak, Pajang, Mataram, Ternate,
Tidore dan lain-lain. Selanjutnya, semboyan yang dicantumkan dalam
lambang negara adalah “Bhinneka Tunggal Ika“ (Berbeda-beda tetapi Satu),
suatu ungkapan yang berasal dari Mpu Tantular, di puncak kejayaan
Majapahit, dengan tepat mengungkapkan problem kemajemukan Indonesia
yang harus dijadikan asas dalam pembangunan hukum. Rujukan kepada
negara nasional Majapahit bagi para pendiri bangsa Indonesia, ternyata
secara historis mempunyai dasar filosofis yang sangat mendalam.
Fakta sejarah juga membuktikan bahwa jauh sebelum Pasal 29 ayat (1)
UUD 1945 menegaskan bahwa ”Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang
Maha Esa”, yang menekankan pengakuan negara atas Tuhan Yang Maha Esa
sebagai Causa Prima, tanpa terikat oleh definisi menurut salah satu agama,
kesadaran ini sudah muncul pada negara nasional Majapahit. Berkaitan
dengan seloka “Bhinneka Tunggal Ika“, S. Supomo dalam penelitiannya
yang berjudul Arjuna-wijaya: A Kakawin of Mpu Tantular, mengatakan
bahwa pada zaman Majapahit konsep “Ketuhanan Yang Maha Esa” disebut
dengan Sang Hyang Parawataraja, yang mengatasi konsep-konsep
ketuhanan menurut agama-agama yang pada waktu itu. Dalam konsep “The
National Godhead” dinyatakan bahwa Negara berdasarkan atas kesadaran
adanya Tuhan yang Maha Esa, tetapi tidak identik dengan salah satu agama.
Bertitik tolak dari konsep Nationale Staat (Negara Nasional) yang
tidak didasarkan atas agama tertentu, Mr. Muhammad Yamin membuktikan
bahwa pada waktu itu sudah dikenal jabatan tinggi yang disebut
dharmadyaksa yang mengurusi agama Hindu (Dharmadyaksa ring
Kasyaiwan) dan agama Buddha (Dharmadyaksa ring Kasogatan). Sedangkan
sebuah kelompok tersendiri yang disebut Karesyan – barangkali sejajar
dengan penghayat Kepercayaan pada zaman sekarang – berada di bawah
seorang pejabat yang bernama Mentri Herhaji. Ketiga kelompok agama dan
keyakinan tersebut dalam Kakawin Negarakrtagama, karya Mpu Prapanca
(1361) disebut Tripaksa, dan langsung di bawah kekuasaan Raja: “Aramba
Nareçware pageha sang Tripakse Jawa” (Artinya: “yang meneguhkan hak
dan kewajiban tripaksa di wilayah pulau Jawa dalam perlindungan
kekuasaan Raja” − Kakawin Negarakrtagama LXXX,1). Hak-hak kebe-
basan beragama, beribadah dan mengekspresikan keyakinan dari ketiga
kelompok agama dan kepercayaan tersebut dijamin oleh negara, tanpa ada
diskriminasi satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Dalam konteks pemikiran seperti yang dikutip di atas, ungkapan
“Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi satu) dikemukakan pertama
kali oleh Mpu Tantular yang juga berasal dari zaman yang sama yang
dijadikan sesanti negara dalam mengelola warisan kultural kemajemukan
agama-agama pada zamannya, yang kemudian diangkat kembali oleh para
pendiri bangsa Indo-nesia untuk menjawab problem kemajemukan bangsa
Indonesia modern yang tentunya jauh lebih kompleks. Sebagaimana sudah
disinggung sepintas di depan, bahwa dalam sidang-sidang Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) beberapa bulan
menjelang kemerdekaan Indonesia, masalah penting yang hendak dipecahkan
adalah dasar negara yang akan menjadi landasan Indonesia Merdeka. Pada
waktu itu ada dua kelompok, yaitu kelompok yang menghendaki Negara
Islam, dan yang lain menghendaki negara yang netral agama. Selain pemi-
kiran Bung Karno yang disampaikan dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945,
Bung Hatta meng-hendaki Negara Sekuler yang memisahkan agama dan
negara (Scheiding van Kerk en Staat), sedangkan Soepomo seperti Bung
Karno menghendaki pemisahan agama dan negara, tetapi tidak berarti bahwa
negara bersifat “a-religious”. Sebaliknya, agama-agama harus menjadi
landasan etik, moral dan spiritual untuk membangun bangsa dan negara
menuju kejayaannya, sebagaimana dikatakan oleh Soepomo, “Negara
nasional yang bersatu itu tidak berarti bahwa negara itu akan ‘a-religious’.”
Itu bukan. Negara nasional yang bersatu itu akan memelihara budi pekerti
kemanusiaan yang luhur, akan memegang cita-cita moral rakyat yang luhur.
Maka negara yang demikian itu dan hendaknya negara Indonesia juga
memakai dasar moral yang luhur, dasar moral yang juga dianjurkan oleh
agama Islam.
Karena itu Soepomo membedakan antara “Negara Islam” dengan
“Negara berdasar atas cita-cita luhur dari agama Islam”. Meskipun Soepomo
menegaskan bahwa pilihan negara Islam tidak tepat, karena “akan timbul
soal-soal minderheden, soal golongan agama yang kecil-kecil, golongan
agama Kristen dan lain-lain”, namun dua hari setelah kemerdekaan
Indonesia, tepat-nya tanggal 19 Agustus 1945, ketika membentuk kabinet,
dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zonbai
Inkai) Soepomo menghendaki agar melalui Kemen-trian Kehakiman negara
tidak hanya mengatur soal peradilan, soal penjara, tetapi juga turut mengatur
masalah nikah, talak, rujuk, infaq dan zakat yang terkait dengan masalah-
masalah keagamaan, khususnya agama Islam. Gagasan inilah yang di
kemudian hari ditampung dengan pembentukan Departemen Agama. Dan
karena Indonesia bukan negara Islam, maka departemen mengatur dalam
batas-batas tertentu urusan yang berkaitan dengan agama-agama yang ada di
Indonesia.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Prinsip atau asas pluralistik dan multikultural Bhinneka Tunggal Ika mendukung nilai:
1) inklusif, tidak bersifat eksklusif; 2) terbuka; 3) ko-eksistensi damai dan kebersamaan;
4) kesetaraan; 5)tidak merasa yang paling benar; 6)toleransi; 7)musyawarah disertai
dengan penghargaan terhadap pihak lain yang berbeda.
Berdasarkan Prinsip-prinsipnya, Implementasi Bhinneka Tunggal Ika dalam
kehidupan berbangsa dan bernegera, yaitu : 1) perilaku inklusif ; 2) mengakomodasi sifat
pluralistic ; 3) tidak mencari menangnya sendiri ; 4) Musyawarah untuk mencapai
mufakat ; 5) dilandasi rasa kasih sayang dan rela berkorban. Selain itu implementasi yang
lain, yaitu Implementasi dalam relasi antar suku bangsa dan Implementasi dalam relasi
negara dan agama.

3.2 Saran
Adapun saran penulis kepada pembaca agar pembaca dapat mengetahui bahwa
semboyan Bhinneka Tunggal Ika sangat penting bagi kehidupan kita dan agar pembaca
dapat melaksanakan atau bisa menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Selain dari pada itu, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan karena
penulis masih dalam proses pembelajaran. Dan yang diharapkan dengan adanya makalah
ini,dapat menjadi wacana yang membuka pola pikir pembaca dan memberi saran yang
sifatnya tersirat maupun tersurat.

20
DAFTAR PUSTAKA

Pramusinta, Andrea. 2013. Makalah Pancasila. https://coretanandrea.wordpress.com.


Diakses pada tanggal 8 November 2016 pada pukul 8.52 WIB.

Rasak, Taufiq. 2014. Makalah Pancasila (Semboyan Bhinneka Tunggal Ika.


http://taufiqrasak.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 7 November 2016 pada pukul
13.00 WIB.

iv