You are on page 1of 4

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
MATA KULIAH GEOHIDROLOGI

SIKLUS GEOHIDROLOGI

TUGAS

OLEH:
A. M. YUSRIL
D611 16 009

GOWA
2018
HIDROGEOLOGI DAERAH BATUJAJAR, JAWA BARAT

Secara regional kondisi hidrogeologi daerah Batujajar, Jawa Barat yang

telah tergambarkan dalam peta hidrogeologi daerah Bandung, dengan skala 1 :

250.000 terbitan Direktorat Geologi Tata Lingkungan (Soetrisno S, 1983)

menyebutkan daerah penyelidikan terletak pada bagian barat laut cekungan airtanah

Bandung.

Sistem akuifer daerah penyelidikan termasuk dalam akuifer dengan

aliran airtanah melalui ruang antar butir yang produktifitasnya sedang – besar

dengan penyebaran luas. Akuifer dengan keterusan sedang, kedalaman muka

airtanah beragam sekitar 10 – 18 meter dengan debit sumur umumnya kurang dari

5 liter/detik. Akuifer ini secara dominan dibentuk oleh litologi dari Formasi

Kosambi (Ql) dan Formasi Cibeureum (Qyd).

Sunarwan dan Juanda (1997) membagi daerah Padalarang-

CimahiLembang-Bandung dalam 5 unit hidrogeologi berdasarkan sebaran ba\tuan,

proses dan kejadian serta sifat hidrogeologinya. Daerah Padalarang termasuk dalam

Unit Hidrogeologi IV : Sistem akuifer Volkanik yang tersusun oleh perselingan

breksi, tufa pasiran, lava andesit dari Formasi Cibeureum.

Hutasoit dan Ramdhan, 2009 telah menganalisi log litologi dari hasil

pemboran air tanah. Dari data ini dapat dilihat bahwa di bawah permukaan, Formasi

Cibeureum juga terdapat di bawah Formasi Kosambi yang tersingkap di

permukaan, terutama di bagian barat dan timur, membentuk sistem akuifer

terkekang.
Data litologi terperinci Formasi Cibeureum dari log pemboran, seperti

misalnya yang ditunjukkan oleh Koesoemadinata dan Hartono (1981) serta Hutasoit

dan Ramdhan (2006), menunjukkan keberadaan lebih dari satu akuifer dalam

formasi tersebut (multiaquifer system). Secara alamiah tidak diketahui apakah

akuifer-akuifer tersebut berhubungan atau tidak, tetapi dengan adanya pemboran,

akuiferakuifer tersebut pasti berhubungan, sehingga dapat dikatakan bahwa MAT

yang diukur pada satu titik pemboran adalah MAT pada formasi tersebut.

Data litologi terperinci Formasi Cibeureum dari log pemboran, seperti

misalnya yang ditunjukkan oleh Koesoemadinata dan Hartono (1981) serta Hutasoit

dan Ramdhan (2006), menunjukkan keberadaan lebih dari satu akuifer dalam

formasi tersebut (multiaquifer system). Secara alamiah tidak diketahui apakah

akuifer-akuifer tersebut berhubungan atau tidak, tetapi dengan adanya pemboran,

akuifer-akuifer tersebut pasti berhubungan, sehingga dapat dikatakan bahwa MAT

yang diukur pada satu titik pemboran adalah MAT pada formasi tersebut.

Penelitian hidrogeologi dengan cukup lengkap telah dilakukan oleh

Iwaco (1990) yang menyatakan bahwa kebanyakan akuifer di cekungan Bandung

berhubungan dengan salah satu aliran bahan lepas (debris-flow) dari Gunung

Tangkuban Perahu yang membentuk endapan Kipas Bandung dan Cimahi atau

dengan endapan "volcano-fluviatile" yang membentuk endapan kipas di pinggiran

Danau Bandung. Dalam kaitannya dengan Cekungan Batujajar maka endapan kipas

Cimahi menjadi penting sebagai sumber aliran air tanah.


DAFTAR PUSTAKA

Iwaco, Waseco, 1991, Studi Hidrologi Bandung, Laporan Utama Tambahan 2.


Sumberdaya Airtanah,West Java Provincial Water Sources Master
Plan or Water Supply.
Sunarwan, B, 2014, Hidrostratigrafi Endapan Volkanik Cekungan Airtanah
Bandung-Soreang Provinsi Jawa Barat, Disertasi Doktor Institut
Teknologi Bandung

Suwarto, dkk, 2018, Hidrogeologi CAT Batujajar Dengan Pendekatan Kajian


Geologi dan Isotop 18O dan 2H. Universitas Padjajaran