You are on page 1of 20

TUGAS ANALISA JURNAL

STASE PEMINATAN

” FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN INFARK
MIOKARD AKUT DI RUANGAN CVCU RSUP
PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO”

DISUSUN OLEH:

FITRIA PERMATA SARI

PN.17.0075

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES WIRA HUSADA YOGYAKARTA
2018
LEMBAR PENGESAHAN

ANALISA JURNAL
STASE PEMINATAN

” Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien


Infark Miokard Akut Di Ruangan Cvcu Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado”

Analisa jurnal ini telah dibaca dan diperiksa pada :


Hari/Tanggal :

Mahasiswa Mengetahui
Pembimbing Akademik

FITRIA PERMATA SARI Patria Asda, S. Kep., Ns., M. PH.

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Alloh SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan analisa jurnal yang
berjudul “faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pada pasien
infark miokard akut di ruangan cvcu RSUP. Prof. dr. r. d. Kandou Manado” ini
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat
bagi kita semua, terutama untuk mahasiswa yang sedang dalam proses
pembelajaran pada stase peminatan.
Dalam penulisan ini tidak lepas dari pantauan bimbingan saran dan
nasehat dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kapada yang terhormat :
1. Ibu Patria Asda, S. Kep., Ns., M. PH. yang telah memberikan tugas dan
kesempatan kepada saya untuk membuat dan menyusun makalah ini.
2. Serta semua pihak yang telah membantu dan memberikan masukan serta
nasehat hingga tersusunnya makalah ini hingga akhir.
Laporan ini tentu masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi perbaikan dan
penyempurnaan tugas ini. Akhirnya, penulis berharap semoga laporan ini bisa
bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, September 2018

Fitria Permata Sari

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Infark Miokard Akut merupakan jenis penyakit jantung koroner
yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penyakit
IMA merupakan jenis penyakit kardiovaskuler penyebab kematian yang
utama di Amerika Serikat pada tahun 2006 jika dibandingkan penyakit
kardiovaskuler lainnya. Sampai saat ini telah tercatat kurang lebih 1,2 juta
orang yang mengalami IMA di negara tersebut (Perwitasari RD, 2009).
Indonesia merupakan negara berkembang dimana prevelansi penyakit
jantung dari tahun ke tahun semakin meningkat terutama infark miokard
akut. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 mengukuhkan
penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang masih menduduki
presentase tertinggi yang menyebabkan kematian dengan presentase
33,2% jiwa. Pada tahun 2002 penyakit infark miokard akut merupakan
penyebab kematian pertama dengan angka mortalitas 220.000 jiwa.
Direktorat Jendral Yanmedik Indonesia meneliti pada tahun 2007 jumlah
pasien penyakit jantung yang menjalani rawat inap dan rawat jalan di
rumah sakit di Indonesia adalah 239.548 jiwa, kasus terbanyak ialah
penyakit jantung iskemik yaitu 110.183 kasus. Care fatelity rate (CFR)
tertinggi terjadi pada infark miokard akut, (13,49%) kemudian diikuti oleh
gagal jantung (13,42%) dan penyakit jantung lainnya (13,37%) (Booloki,
HM. Askari A. 2014).
Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi pada kondisi pasien dengan
IMA, kecemasan merupakan salah satu keadaan yang dapat menimbulkan
adanya perubahan keadaan fisik, maupun psikologis yang akhirnya
mengaktifkan saraf otonom yang mana detak jantung menjadi bertambah,
tekanan darah naik, frekuensi nafas bertambah dan secara umum
mengurangi tingkat energi pada klien (Purwaningsih, 2010). Kecemasan

1
menimbulkan dampak yang buruk bagi penderita IMA. Prevalensi
gangguan cemas pada populasi dengan penyakit jantung cukup tinggi
yakni 28% sampai 44%. Pasien dengan penyakit IMA memiliki tingkat
kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. (Kadek Dwi,
2013).

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Diharapkan dapat memberikan informasi dan wawasan kepada
pembaca mengenai apa saja faktor yang berhubungan dengan
kecemasan pada pasien Infark Miocard Akut

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui kesahihan metode penelitian yang digunakan
b. Mengetahui kesahihan hasil penelitian
c. Mengetahui apakah penelitian mengenai faktor yang berhubungan
dengan kecemasan pada pasien Infark Miocard Akut dapat
diterapkan dalam perawatan pasien di Rumah Sakit.
d. Merekomendasikan rencana tindak lanjut yang dapat dilakukan
dalam mengatasi masalah kecemasan pada pasien Infark Miocard
Akut

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. AKUT MIOCARD INFARK


1. Definisi
Infark Miokard Akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat
aliran darah ke otot jantung yang terganggu. Infark Miokard Akut
merupakan keadaan dimana terjadi iskemia atau bahkan nekrosis otot
jantung yang diakibatkan gangguan pembuluh darah atau penurunan
aliran darah ke otot jantung. Nekrosis miokard pada infark miokard
akut dapat terjadi oleh karena tidak adekuatnya aliran darah akibat
sumbatan akut arteri koroner (Muttaqin Arif. 2009)

2. Etiologi
Menurut Rokhaeni Heni (2002) Infark miokard dapat disebabkan oleh:
a. penyempitan kritis arteri koroner akibat ateriosklerosis atau oklusi
arteri komplit akibat embolus atau trombus.
b. Penurunan aliran darah koroner dapat juga disebabkan oleh syok
dan hemoragi.
c. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard.
AMI terjadi jika suplai oksigen yang tidak sesuai dengan
kebutuhan tidak tertangani dengan baik sehingga menyebabkab
kematian sel-sel jantung tersebut. Beberapa hal yang menimbulkan
gangguan oksigenasi tersebut diantaranya:
a. Berkurangnya suplai oksigen ke miokard.
Menurunya suplai oksigen disebabkan oleh tiga factor, antara lain:
1) Faktor pembuluh darah
Hal ini berkaitan dengan kepatenan pembuluh darah sebagai
jalan darah mencapai sel-sel jantung. Beberapa hal yang bisa
mengganggu kepatenan pembuluh darah diantaranya:
atherosclerosis, spasme, dan arteritis. Spasme pembuluh darah

3
bisa juga terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat
penyakit jantung sebelumnya, dan biasanya dihubungkan
dengan beberapa hal antara lain: (a) mengkonsumsi obat-obatan
tertentu; (b) stress emosional atau nyeri; (c) terpapar suhu
dingin yang ekstrim, (d) merokok.
2) Faktor Sirkulasi
Sirkulasi berkaitan dengan kelancaran peredaran darah dari
jantung keseluruh tubuh sampai kembali lagi ke jantung.
Sehingga hal ini tidak akan lepas dari factor pemompaan dan
volume darah yang dipompakan. Kondisi yang menyebabkan
gangguan pada sirkulasi diantaranya kondisi hipotensi. Stenosis
maupun isufisiensi yang terjadi pada katup-katup jantung
(aorta, mitrlalis, maupun trikuspidalis) menyebabkan
menurunnya cardac out put (COP). Penurunan COP yang
diikuti oleh penurunan sirkulasi menyebabkan bebarapa bagian
tubuh tidak tersuplai darah dengan adekuat, termasuk dalam hal
ini otot jantung.
3) Faktor darah
Darah merupakan pengangkut oksigen menuju seluruh bagian
tubuh. Jika daya angkut darah berkurang, maka sebagus apapun
jalan (pembuluh darah) dan pemompaan jantung maka hal
tersebut tidak cukup membantu. Hal-hal yang
menyebabkan terganggunya daya angkut darah antara lain:
anemia, hipoksemia, dan polisitemia.
b. Meningkatnya kebutuhan oksigen tubuh
Pada orang normal meningkatnya kebutuhan oksigen mampu
dikompensasi diantaranya dengan meningkatkan denyut jantung
untuk meningkatkan COP. Akan tetapi jika orang tersebut telah
mengidap penyakit jantung, mekanisme kompensasi justru pada
akhirnya makin memperberat kondisinya karena kebutuhan
oksigen semakin meningkat, sedangkan suplai oksigen tidak

4
bertambah. Oleh karena itu segala aktivitas yang menyebabkan
meningkatnya kebutuhan oksigen akan memicu terjadinya infark.
Misalnya: aktivtas berlebih, emosi, makan terlalu banyak dan lain-
lain. Hipertropi miokard bisa memicu terjadinya infark karea
semakin banyak sel yang harus disuplai oksigen,
sedangkan asupan oksien menurun akibat dari pemompaan yang
tidak efektive.

3. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala infark miokard ( TRIAGE ) menurut Muttaqin Arif,
2009) adalah :
a. Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak
mereda, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen bagian
atas, ini merupakan gejala utama.
b. Keparahan nyeri dapat meningkat secaara menetap sampai nyeri
tidak tertahankan lagi.
c. Nyeri tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat
menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan (biasanya
lengan kiri).
d. Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau
gangguan emosional), menetap selama beberapa jam atau hari, dan
tidak hilang dengan bantuan istirahat atau nitrogliserin (NTG).
e. Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan leher.
f. Nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis
berat, pening atau kepala terasa melayang dan mual muntah.
g. Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang
hebat karena neuropati yang menyertai diabetes dapat mengganggu
neuroreseptor (menumpulkan pengalaman nyeri)

5
4. Pemeriksaan penunjang
a. EKG
Untuk mengetahui fungsi jantung : T. Inverted, ST depresi, Q.
Patologis
b. Enzim Jantung.
CPKMB, LDH, AST
c. Elektrolit.
Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontr
aktilitas, missal hipokalemi, hiperkalemi
d. Sel darah putih
Leukosit ( 10.000 – 20.000 ) biasanya tampak pada hari ke-2
setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi
e. Kecepatan sedimentasi
Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI , menunjukkan
inflamasi.
f. Kimia
Mungkin normal, tergantung abnormalitas fungsi atau perfusi
organ akut atau kronis
g. GDA
Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut
atau kronis.
h. Kolesterol atau Trigliserida serum
Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab
AMI.
i. Foto dada
Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga
GJK atau aneurisma ventrikuler.
(Muttaqin Arif, 2009)

6
5. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan medis adalah untuk meminimalkan
kerusakan miokard dengan: menghilangkan nyeri, memberikan
istirahat dan mencegah timbulnya komplikasi seperti disritmia letal
dan syok kardiogenik.
a. Pemberian oksigen dilakukan saat awitan nyeri dada.
b. Analgesik (morfin sulfat).
Farmakoterapi :
1) Vasodilator untuk meningkatkan sulpai oksigen (NTG).
2) Antikoagulan (Heparin).
3) Trombolitik (streptokinase, aktivator plasminogen jenis
jaringan , anistreplase) hanya akan efektif bila diberikan
dalam 6 jam awitan nyeri dada, selama terjadi neurosis
jaringan transmural.

B. KECEMASAN
1. Pengertian
Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman dan
kekawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak
menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan
berasal dari dalam benar (Dewi Yusmiati, 2007).
Kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan
keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan
atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau
dikenal (Fitriyanti, 2008).

2. Klasifikasi tingkat kecemasan


Menurut Fitriyanti (2008) klasifikasi tingkat kecemasan di bagi
menjadi:
a. Kecemasan ringan; Kecemasan ringan berhubungan dengan
ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan

7
seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan
pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat
ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran
tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku
sesuai situasi.
b. Kecemasan sedang; Memungkinkan seseorang untuk memusatkan
pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain
sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun
dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi
pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut
jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat,
bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit,
mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan
konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada
rangsangan yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung,
tidak sabar,mudah lupa, marah dan menangis.
c. Kecemasan berat; Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang.
Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan
pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir
tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan
untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi
yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit
kepala, nausea, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare,
palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara
efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk
menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung,
disorientasi.
d. Panik; Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan
teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang
panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan

8
pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah
susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis,
pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah
yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan
delusi.

3. Gejala
a. Fase 1
Keadan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh
mempersiapkan diri untuk fight (berjuang), atau flight (lari secepat-
cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak sebagai akibat
dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan nor adrenalin. Oleh
karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa
tegang di otot dan kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan
punggung. Dalam persiapannya untuk berjuang, menyebabkan otot
akan menjadi lebih kaku dan akibatnya akan menimbulkan nyeri
dan spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari
kelompok agonis dan antagonis akan menimbulkan tremor dan
gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jari-jari tangan
(Dewi Yusmiati, 2007). Pada fase ini kecemasan merupakan
mekanisme peningkatan dari sistem syaraf yang mengingatkan kita
bahwa system syaraf fungsinya mulai gagal mengolah informasi
yang ada secara benar (Dewi Yusmiati, 2007).
b. Fase 2
Disamping gejala klinis seperti pada fase satu, seperti gelisah,
ketegangan otot, gangguan tidur dan keluhan perut, penderita juga
mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada motifasi diri
(Ade Sutrimo, 2014). Labilitas emosi dapat bermanifestasi mudah
menangis tanpa sebab, yang beberapa saat kemudian menjadi
tertawa. Mudah menangis yang berkaitan dengan stres mudah
diketahui. Akan tetapi kadang-kadang dari cara tertawa yang agak

9
keras dapat menunjukkan tanda adanya gangguan kecemasan fase
dua (Ade Sutrimo, 2014). Kehilangan motivasi diri bisa terlihat
pada keadaan seperti seseorang yang menjatuhkan barang ke tanah,
kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya melihat
barang yang jatuh tanpa berbuat sesuatu (Dewi Yusmiati, 2007).
c. Fase 3
Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi
sedangkan stresor tetap saja berlanjut, penderita akan jatuh
kedalam kecemasan fase tiga. Berbeda dengan gejala-gejala yang
terlihat pada fase satu dan dua yang mudah di identifikasi
kaitannya dengan stres, gejala kecemasan pada fase tiga umumnya
berupa perubahan dalam tingkah laku dan umumnya tidak mudah
terlihat kaitannya dengan stres. Pada fase tiga ini dapat terlihat
gejala seperti : intoleransi dengan rangsang sensoris, kehilangan
kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang sebelumnya telah
mampu ia tolerir, gangguan reaksi terhadap sesuatu yang sepintas
terlihat sebagai gangguan kepribadian (Ade Sutrimo, 2014).

10
BAB III
ANALISA JURNAL

A. JUDUL DAN ABSTRAK


1. Judul Jurnal
Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan
pada pasien infark miokard akut di ruang cvcu rsup prof. Dr. R. D.
Kandou manado

Melihat dan membaca judul jurnal di atas judul sudah


menggambarkan masalah dan variable penelitian dan sudah meliputi
apa dan siapa subyek penelitian, namun di dalam judul tidak
dicantumkan tahun dilakukannya penelitian tersebut.

2. Abstrak
Kecemasan merupakan penyebab utama konseling psikiatri di
CVCU. Pada pasien dengan infark miokard akut, kecemasan
merupakan salah satu keadaan yang dapat menimbulkan adanya
perubahan keadaan fisik, maupun psikologis. Ada beberapa faktor
yang berhubungan dengan tingkat kecemasan yaitu usia, tingkat
pendidikan, status sosial ekonomi, dan pengalaman.
Isi dari abstrak jurnal ini sudah baik karena didalamnya telah
mencakup isi dari jurnal yang peneliti telah lakukan dari awal hingga
tercapainya keberhasilan tindakan yang telah dilaksanakan.

B. LATAR BELAKANG
Dalam latar belakang penelitian ini menjelaskan faktor-faktor yang
berhubungan dengan tingkat kecemasan pada pasien infark miokard akut. Di
dalam latar belakang juga sudah dijelaskan mengenai prevalensi dari
penyakit IMA . Sehingga bisa digunakan untuk mendasari peneliti untuk
melakukan penelitian tersebut.

11
C. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja faktor-
faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pada pasien infark
miokard akut di ruang cvcu rsup prof. Dr. R. D. Kandou manado
Tujuan penelitian sudah sangat lengkap dan spesifik yaitu mengacu
pada judul jurnal yaitu untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang
berhubungan dengan tingkat kecemasan pada pasien infark miokard akut di
ruang cvcu rsup prof. Dr. R. D. Kandou manado

D. METHODS
STUDY DESIGN
Kata kunci : Kecemasan, Infark Miokard Akut
Kata kunci dalam jurnal ini sudah tepat, karena sudah mencakup teori atau
variabel dalam penelitian.

SETTING
Penelitian ini bertempat di ruang CVCU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado. Untuk tempat sudah disebutkan secara spesifik dan sudah
menyantumkan Rumah sakitnya. Sedangkan untuk tanggal dan periode
pengambilan data tidak dicantumkan.

METODE STATISTIK
Metode yang digunakan menggunakan Cross sectional dan data yang
dikumpulkan dari responden menggunakan lembar kuesioner dan lembar.
Metode yang digunakan dalam jurnal ini sudah sesuai dengan judul jurnal.
Telah dijelaskan semua prosedur, tahap – tahap penelitian mulai dari
persiapan penelitian hingga berakhir dan laporan tentang instrument yang
digunakan beserta proses pengembangan dan uji validitas realibilitas telah
diuraikan secara gamblang pada isi metodologi penelitian jurnal ini.

12
RESPONDEN
Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 responden yang didapat
menggunakan tekhnik total sampling. Jumlah tersebut sudah memenuhi
syarat minimun untuk pengambilan jumlah sampel.

VARIABEL
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas adalah faktor-
faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan. Variabel terikat adalah infark
miokard akut

UKURAN SAMPEL
Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling
yaitu 30 responden. Jumlah tersebut sudah memenuhi syarat minimun untuk
pengambilan jumlah sampel.

BIAS
Dalam jurnal tidak menjelaskan kemungkinan bias dan cara
mengendalikannya.

E. HASIL
RESPONDEN
Responden berjumlah 30 responden, terbagi menjadi 18 responden berumur
< 40 tahun dan 12 responden berumur > 40 tahun.

KARAKTERISTIK SUBYEK PENELITIAN


Karakteristik responden sudah dijelaskan dengan lengkap pada jurnal
tersebut, dimana responden dibagi berdasarkan adalah umur, pendidikan,
usia, status ekonomi, pengalaman, dan tingkat pendidikan.

13
RINGKASAN HASIL
Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara usia, tingkat
pendidikan, status sosial ekonomi, dan pengalaman dengan tingkat
kecemasan pada pasien dengan Infark Miokard Akut di ruangan CVCU
RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

F. KELEMAHAN JURNAL
1. Penelitian tidak menjelaskan lama waktu penelitian yang dilakukan.
2. Tidak mencantumkan tahun dilakukannya penelitian pada judul jurnal.
3. Sampel penelitian hanya 30 orang sehingga kemungkinan bias masih
besar.

G. KELEBIHAN JURNAL
1. Dapat menggambarkan secara jelas faktor-faktor yang berhubungan
dengan tingkat kecemasan pada pasien infark miokard akut secara rinci.
2. Menggunakan teknik total sampling yaitu semua populasi dapat dijadikan
sampel penelitian.

14
BAB IV
IMPLIKASI KEPERAWATAN

Implikasi keperawatan yang dapat dilakukan dari jurnal tersebut adalah

1. Memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan


melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses
keperawatan.
2. Membantu pasien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai
informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam
pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada
pasien.
3. Membantu pasien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan,
gejala penyakit, tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan
perilaku pada pasien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

15
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Jurnal yang telah dianalisis diatas memberikan hasil yang
menggambarkan masalah tingkat kecemasan pada pasien infark miokard
akut. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara faktor usia,
tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, dan pengalaman dengan tingkat
kecemasan pada pasien infark miokard akut. Hasil ini dapat digunakan
sebagai gambaran bagi perawat untuk bisa melakukan asuhan keperawatan
yang tepat dalam mengatasi tingkat kecemasan pasien.

B. SARAN
Perawat hendaknya lebih meningkatkan kualitas pemberian asuhan
keperawatan bagi pasien untuk mengatasi masalah tingkat kecemasan pada
pasien sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan dan terjadi
perubahan tingkat pengetahuan dan perubahan perilaku pasien infark
miokard akut.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ade Sutrimo. 2014. Pengaruh guided imagery and music (GIM). Terhadap
kecemasan pasien pre operasi SC di RSUD Banyumas. Diakses 26 september
2018).

Dewi Yusmiati. 2007. Manajemen Stres Cemas Pengantar A sampai Z. Edsa


Mahkota: Jakarta

Doenges at al. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Ed.3. EGC: Jakarta

Elan Furwanti. 2014. Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien di IGD RSUD


Panembahan Senopati Bantul. UMMU Yogyakarta. Diakses 26 september
2018).

Fitriyanti. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan Pasien Dalam


Tindakan Kemoterapi Di RS Dharmais Jakarta. Diakses 26 september 2018).

Muttaqin Arif. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
System Kardiovaskular dan Hematologi. Salemba Medika: Jakarta

Rokhaeni Heni. 2002. Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskular Edisi Pertama.


Bidang Diklat Pusat Kesehatan Jantung Dan Pembuluh Darah Nasional
Harapan Kita: Jakarta

17