You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Secara terminologi, penciptaan alam dapat dipahami sebagai sebuah peristiwa ketika
alam semesta atau jagat raya dan segala isinya ini muncul.Berbicara tentang alam semesta,
tentu saja timbul sebuah pertanyaan bagaimanakah alam semesta ini berawal, kemana ia
menuju bagaimana hukum yang menjaga tatanan dan keseimbangannya bekerja. Alam
semesta itu ada seperti yang ketahui sekarang ini bukanlah tanpa suatu proses, akan tetapi
alam semesta ini ada karena tercipta dan melalui proses yang begitu panjang.
Kemajuan cara berpikir manusia membuat para ilmuwan merumuskan teori
mengenai terbentuknya alam semesta. Bagaimana konsepsi para ilmuwan tentang
penciptaan alam semesta, serta konsepsi itu berubah-ubah sepanjang sejarah, bergantung
pada tingkat kecanggihan alat-alat dan sarana observasinya, dan bergantung pada tingkat
kemajuan fisika itu sendiri.
Selama ratusan tahun para ilmuwan dan pemikir telah melakukan banyak penelitian
tentang bagaimana terciptanya alam semesta ini dan hanya memunculkan sedikit sekali
teori. Gagasan yang umum di abad ke-19 adalah gagasan para kaum materialis, yang
menyatakan alam semesta ini merupakan kumpulan materi dengan ukuran tak hingga yang
telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya seperti sedia kala yaitu tetap tidak
berubah sama sekali. Selain menetapkan dasar berpijak bagi faham materialis bahwa alam
semesta ini adalah tidak berawal dan tidak berakhir, pandangan ini juga menolak
keberadaan sang pencipta (Allah).
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai melakukan pengamatan
lebih rasional terhadap alam semesta. Astronomi berkembang, dari pengamatan bintang
dan planet melebar ke studi struktur dan evolusi alam semesta. Lahirlah Kosmologi, sains
yang mencari pemahaman fundamental alam semestaa.. Dalam penggunaan modern oleh
para ilmuwan, kosmologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang berupaya memahami
struktur ruang-waktu dan komposisi alam semesta skala besar dengan menggunakan
metode ilmu pengetahuan alam.Ini berarti kosmologi memanfaatkan pengamatan rinci
untuk memperoleh data dan memanfaatkan teori-teori fisika untuk menafsirkan data
tersebut, serta mempergunakan penalaran matematika atau penalaran logika lainnya yang
terkandung dalam teori-teori tersebut untuk memperoleh pengetahuan lengkap mengenai

1
alam semesta fisik.Oleh karena itu, penulis ingin membahas mengenai kosmologi dalam
pandangan filsafat dan ilmu pengetahuan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan Kosmologi?
2. Bagaimana sejarah perkembangan Kosmologi?
3. Bagaimana Kosmologi dipandang dalam bidang filsafat?
4. Bagaimana Kosmologi dipandang dalam bidang ilmu pengetahuan?

1.3 Tujuan Masalah


Adapun tujuan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kosmologi
2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan kosmologi
3. Untuk mengetahui kosmologi dalam bidang filsafat
4. Untuk mengetahui kosmologi dalam bidang ilmu pengetahuan

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai sumber informasi dan
pembelajaran mengenai Kosmologi baik dalam bidang filsafat maupun ilmu pengetahuan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kosmologi


Kosmologi atau yang juga dikenal dengan philosophy of nature (filsafat alam
semesta), secara etimologis berasal dari akar kata bahasa Yunani, yakni kosmos yang
berarti “susunan atau keteraturan”; dan logos yang berarti “telaah atau studi” (Siswanto,
2005: 1). Sedangkan secara terminologis, Runes mendefinisikannya sebagai a branch of
philosophy which treats of the origin and the structure of the universe (Runes, 1971:
60). Yaitu cabang filsafat yang membicarakan asal-usul dan struktur alam semesta.
Louis Kattsoff mempergunakan istilah kosmologi dalam dalam dua pengertian,
yaitu: pertama, penyelidikan filsafat mengenai istilah-istilah pokok yang terdapat dalam
fisika, ruang, waktu, dan lain sebagainya. Kedua, praaggapan-praanggapan yang terdapat
dalam fisika sebagai ilmu tentang jagat raya. Dan untuk membedakannya dengan
ontologi, bidang ini disebut juga dengan ’filsafat fisika’ atau ’filsafat ilmu-ilmu alam’
(Kattsoff, 2004: 231-232).
A. F. Taylor dalam elements of metaphysic (1924: 3-30), memerikan problem-
problem kosmologi dalam beberapa aspek, yakni: ruang (space), waktu (time), gerak
(motion), jarak bintang (magnitude), gaya (force), materi (matter), perubahan (change),
interaksi (interaction), bilangan (number), kualitas (quality), dan kausalitas (causality).
Dari deskripsi di atas, dapat disimpulkan istilah kosmologi secara umum memiliki
pengertian sebagai berikut, yakni: pertama, ilmu tentang alam semesta sebagai sistem
yang rasional dan teratur. Kedua, merupakan cabang ilmu pengetahuan, khususnya
bidang astronomi yang berupaya membuat hipotesis mengenai asal, struktur, ciri khas,
dan perkembangan alam fisik berdasarkan pengamatan dan metodologi ilmiah.Ketiga,
ilmu yang memandang bahwa alam semesta sebagai keseluruhan yang integral; dan
bagian dari alam semesta itu berdasarkan pengamatan astronomi, merupakan suatu
bagian dari keseluruhan tersebut.Keempat, secara tradisional kosmologi diposisikan
sebagai cabang metafisika yang menelaah mengenai asal dan susunan alam semesta,
penciptaan dan kekekalannya, vitalisme dan mekanisme, kodrat hukum, ruang, waktu,
serta kausalitas. Analisis kosmologi mencoba mencari apa yang berlaku bagi dunia ini,
dan ontologi berusaha mencari relasi-relasi dan diferensiasi-diferensiasi yang mungkin
berlaku dalam dunia (Bagus, 2002: 499).

3
Disiplin keilmuan kosmologi telah mengalami perkembangan pesat, seiring dengan
perjalanan sejarah sebagaimana cabang keilmuan lain. Berawal dari tradisi pemikiran
Yunani kuno, dipelopori oleh filsuf-filsuf alam, sampai kekinian kita, telah lahir pelbagai
corak pemikiran kosmologi yang beragam sesuai dengan titik-pijak, orientasi, dan
perspektifnya. Ditelaah dari watak dan karakternya, pemikiran kosmologi dapat
diklasifikasi dalam enam mainstream (arus besar) pemikiran yakni; spekulatif, ilmiah,
kritik, matematis, baru (pasca-Einstein), dan sintesis.
a. Kosmologi spekulatif
Pemikiran kosmologi jenis ini dibangun atas dasar kerangka epistemologi yang
menitikberatkan pada kemampuan kontemplasi yang bersifat spekulatif. Meskipun
begitu, pada tahap pemikiran ini sudah dilakukan pengamatan langsung atau
observasi dalam pengertian yang paling sederhana.Misalnya pandangan Demokritos
yang menegaskan bahwa arkhe alam semesta ialah atom dan ruang kosong; ini jelas
merupakan hasil olah nalar spekulatif murni. Sejarah menuturkan bahwa waktu itu
belum ditemukan alat apa pun yang memungkinkan seseorang dapat mengetahui
keberadaan atom dan ruang kosong.
b. Kosmologi ilmiah.
Kosmologi model ini bekerja dengan alat dan kerangka atau desain metode yang kerja
dan produknya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
c. Kosmologi kritik.
Model kosmologi yang lahir sebagai jawaban atas keberatan-keberatan terhadap
kosmologi spekulatif. Tokoh yang dikategorikan sebagai pemikir kosmologi kritik
ialah Emmanuel Kant, karena ia memiliki ciri yang unik dan berbeda dengan model
pemikiran kosmologi lain. Ia berusaha mengatasi kelemahan-kelemahan kosmologi
spekulatif dengan metode kritisisme.
d. Kosmologi matematis.
Merupakan pemikiran kosmologi yang fondasinya dirancang berdasarkan asumsi
epistemologis ilmu-ilmu kealaman seperti astronomi, fisika, dan matematika.
e. Kosmologi baru (pasca Einstein).
Mayoritas ilmuwan mengatakan bahwa sesudah Albert Einstein mewariskan prinsip-
prinsip kosmologi matematis, terjadi debat metodologis yang luar bisa. Dari debat
tersebut justru kosmologi dianggap sebagai ilmu baru yang memberikan sumbangan
cukup signifikan kepada perkembangan ilmu dewasa ini.

4
f. Kosmologi sintesis.
Model kosmologi yang mencoba membuat sintesis-sintesis baru atas dasar hasil
penemuan ilmu-ilmu kealaman dengan mempertimbangkan keterangan-keterangan
filsafat (Siswanto, 2005: 12-13).
Perjalanan sejarah pemikiran kosmologi mengalami dinamisasi menuju
kesempurnaan pengetahuan manusia tentang jagat raya. Proses dinamis ini, sesuai
dengan epistemologi problem solving Karl Popper dengan metode falsifikasi, bahwa sifat
kemungkinan salah dari ilmu mendorong manusia selalu belajar untuk maju (Taryadi,
1989: 32).
Secara garis besar, berdasarkan pengertiannya kosmologi terbagi atas tiga hal
yaitu:
a. Kosmologi Ilmiah
Maksudnya adalah manusia berupaya membangun sebuah konsepsi kosmologi yang
bersifat universal, yang ditopang oleh hasil penemuan-penemuan ilmu pengetahuan
empiris.
b. Kosmologi Filosofi
Pemikiran ini dibangun melalui proses penciptaan argumentasi rasional agar
proposi-proposi tentang eksistensi keadaan memiliki alasan kuat.
c. Kosmologi Keimanan
Keyakinan manusia tentang suatu yang “mengada” di dunia berasal dari sumber
yang tidak diragukan lagi. Misal : Kitab Suci.

2.2. Sejarah Pemikiran Kosmologi


Empat ribu tahun sebelum masehi, bangsa Babilon terkenal memiliki keahlian
dalam ilmu astronomi yang membantu mereka memprediksi gerakan-gerakan yang
tampak mengenai bulan, bintang-bintang, dan planet-planet, serta matahari. Bahkan
mereka bisa memprediksi terjadinya gerhana. Namun, sejarah mencatat bangsa Yunani
kunolah yang pertama kali bisa membuat model kosmologi untuk menafsirkan gerakan-
gerakan tersebut.Pada abad ke-4 SM, mereka memperkenalkan ide bahwa bintang-
bintang itu berada pada suatu permukaan bola yang berotasi di seputar Bumi setiap 24
jam. Sementara itu planet-planet, matahari, dan bulan bergerak di dalam ’eter’ di antara
Bumi dan bintang-bintang.

5
Aristoteles pada tahun 340 SM, dalam bukunya Mengenai Langit, mampu
mengemukakan dengan baik dua argumen yang meyakinkan orang bahwa Bumi
berbentuk sebuah bola bulat, bukannya piring datar. Pertama, ia menyadari bahwa
gerhana Bulan disebabkan oleh Bumi yang berada antara bulan dan matahari. Kedua, dari
perjalanan yang dilakukan orang Yunani, mereka tahu bahwa Bintang Utara tampak lebih
rendah di langit bila pengamat berada lebih selatan (karena terletak di atas kutub Utara,
Bintang Utara itu berada tepat di atas ubun-ubun seorang pengamat di Kutub Utara, dan
di atas horiszon bila ia berada di Katulistiwa). Bahkan orang Yunani memiliki argumen
ketiga, bahwa Bumi pastilah bulat. Kalau tidak, mengapa orang melihat terlebih dahulu
layar kapal menyembul di cakrawala, baru kemudian lambungnya? (Hawking, 1994: 2).
Model ini berkembang lebih jauh di abad-abad berikutnya, yang berpuncak pada
sistem Ptolemeus di abad ke-2 M. Gerakan yang sempurna haruslah membentuk
lingkaran-lingkaran. Oleh karena itu, bintang-bintang dan planet-planet, yang merupakan
benda ruang angkasa, mestilah bergerak melingkar. Namun, untuk menegaskan gerakan
yang rumit dari planet-planet, diperkenalkanlah ide tentang epicycle, yakni lingkaran
pada lingkaran.
Nicholas Copernicus, seorang imam Polandia pada abad ke-16 M,
mengembangkan sebuah model pemikiran yang beranggapan bahwa Bumi dan planet-
planetlah yang bergerak melingkar mengitari Matahari, tetapi data pengamatan pada saat
itu memihak pada sistem Ptolemeus. Penolakan terhadap pandangan Copernicus itu
bukan tanpa alasan. Tycho Bhrahe seorang astronom terkemuka pada abad ke-16 M,
menyadari bahwa Bumi mengitari Matahari, maka posisi bintang-bintang haruslah
berbeda kalau diukur dari posisi yang berbeda-beda dari orbit bumi. Tetapi tanda-tanda
pergesaran posisi itu, yang disebut paralaks, tidak terlihat pada kala itu. Jadi, hanya ada
dua probabilitas: Bumi dalam keadaan diam, atau bintang-bintang berada pada jarak yang
amat jauh sehingga paralaks tidak terindera.
Kala teleskop ditemukan pada abad ke-17 M, dengan bantuan alat ini ide Ptolemeus
runtuh. Lewat perantara alat penglihatan jarak-jauh tersebut Galileo menemukan bulan-
bulan yang bergerak mengitari Jupiter
Pada saat yang sama Kepler, yang merupakan asisten Tycho Brahe, menemukan
ide kunci untuk membangun model heliosentris: bahwa planet-planet bergerak mengitari
Matahari pada lintasan elips, bukan lingkaran sempurna. Kelak Newton menjelaskan
bahwa gerakan eliptik bisa dipahami berdasarkan hukum grafvitasinya, yakni gaya
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak. Namun, kemiskinan data observasi tentang

6
paralaks tersebut mewajibkan bahwa bintang-bintang berada pada jarak yang teramat
jauh dari Matahari. Jagat raya menjadi seperti lautan yang sangat luas berisi bintang-
bintang. Dengan bantuan teleskop, Galileo menemukan 7.000 bintang baru yang tak
terlihat secara kasat mata.
Di abad ke-19 M, seorang ahli astronomi dan matematika Bassel akhirnya mampu
mengukur Jarak ke bintang-bintang paralaks. Bintang terdekat (selain Matahari) terukur
pada jarak sekitar 25 juta mil (sebagai bandingan, matahari berjarak 93 juta mil dari
Bumi). Mayoritas dari bintang yang mampu kita lihat termasuk dalam galaksi Bima
Sakti, pita terang yang tersusun atas bintang-bintang yang merentang di langit pada
malam hari. Kemudian pada 1920, seorang ahli astronomi Amerika, Hubble,
menunjukkan bahwa selain Bima Sakti masih banyak galaksi-galaksi yang berukuran
serupa. Hubble juga membuat penemuan yang mengagumkan bahwa galaksi-galaksi
tersebut bergerak menjauhi kita dengan kecepatan yang sebanding dengan jaraknya
terhadap kita. Hal ini bisa dimaklumi sebagai akibat alami dari teori relativitas umum
yang ditemukan kemudian pada tahun 1915 oleh Einstein; bahwa alam semesta memuai.
Benda-benda memiliki kecenderungan berkumpul dan menyatu sebagai akibat gaya
(tarik-menarik) gravitasi sehingga mustahil alam semesta statis. Tetapi, Einstein
memaklumi bahwa dia bisa menambahkan konstanta ke dalam rumusan matematikanya
untuk menyeimbangi gaya tarik gravitasi. Jika ini benar, maka galaksi-galaksi akan tetap
dalam keadaan terpisah. Setelah diketahui bahwa alam semesta itu memuai, Einstein
menyatakan bahwa upayanya untuk menambahkan konstanta kosmologi merupakan
kesalahan besar.
Seorang ahli matematika Rusia pada tahun 1917, yakni Friedmann menyadari
bahwa persamaan matematika Einstein dapat menjelaskan pemuaian alam semesta.
Rumusan ini berimbas bahwa jagat raya pernah lahir suatu saat, sekitar 10 ribu juta tahun
yang lalu dan galaksi-galaksi masih bergerak menjauh dari kita sejak kala itu.
Problemanya ialah, sesungguhnya alam semesta itu sendiri, diciptakan hanya pada sesaat
saja. Ahli Astronomi Inggris fred Hoyle, menjuluki peristiwa penciptaan itu dengan ’Big
Bang’ (Dentuman Besar).
Terdapat model pemikiran alam semesta tandingan diajukan oleh Bondi, Gold, dan
Hoyle. Teori tersebut disebut ’Teori Keadaan Ajeq Steady’, berusaha menjelaskan
pemuaian jagat raya. Teori ini memerlukan penciptaan materi secara terus-menerus untuk
menghasikan galaksi-galaksi baru ketika alam semesta memuai. Hal ini bisa memberikan
jaminan bahwa alam bisa memuai, tetapi tetap tidak berubah terhadap waktu. Selama

7
bertahun-tahun, persoalan apakah alam semesta kekal dan tidak berubah, atau hanya ada
dalam kurun waktu yang terbatas hayalah dipandang sebagai isu akademis belaka. Tetapi,
pukulan terhadap model keadaan lunak terjadi pada tahun 1965 ketikan Penzias dan
Wilson menemukan radiasi kosmik bergelombang mikro.
Sejak tahun 1970, mayoritas ahli astronomi menerima ’Big Bang’ dan memulai
pertanyaan-pertayaan khusus yang juga radikal. Teori relativitas umum memberi tahu
bahwa materi melengkungkan kurva ruang-waktu.
Manusia baru mulai menemukan jawaban sebagian pertanyaan tersebut. Radiasi
kosmik memainkan peran penting dalam memberikan gambaran tentang jagat raya
sekitar seratus ribu tahun setelah ’Big Bang’. Pengamatan terhadap radiasi kosmik ini
dilakukan lebih jauh oleh NASA. Pada tahun 1992, stelit NASA yang khusus dirancang
untuk mendeteksi radiasi kosmik. Ternyata ada fluktuasi temperatur sebersar 1/100 ribu
dalam radiasi ini.Ini memberi petunjuk tentang benih-benih ’sesuatu’ yang darinya
galaksi tercipta. Sejak awal 1980-an terjadi lonjakan perhatian terhadap peristiwa fisika
di awal kelahiran alam semesta. Tekhnologi baru dan percobaan satelit, seperti teleskop
ruang angkasa Hubble, telah mengantarkan manusia pada gambaran dan sketsa alam
semesta yang lebih komperhensif.Dan model baru pun berkembang dengan bertumpu
pada ide-ide terakhir di bidang relativitas dan fisika partikel (Mizan & CIMM, 2000: 47-
49).

2.3. Kosmologi Filsafat


Istilah “kosmologi” (cosmology) dipakai pertama kali oleh Christian von Wolff
dalam bukunya “Discursus Praeliminaris de Philosophia in Genere” tahun 1728, dengan
menempatkannya dalam skema pengetahuan filsafat sebagai cabang dari “metafisika”
dan dibedakan dengan cabang-cabang metafisika yang lain seperti “ontologi”, “teologi
metafisik”, maupun “psikologi metafisik” (Munitz, dalam Edward, ed., 1976: 237).
Dengan demikian, sejak “klasifikasi Christian”, “kosmologi” dimengerti sebagai sebuah
cabang filsafat yang membicarakan asal mula dan susunan alam semesta; dan dibedakan
dengan “ontologi” atau “metafisika umum” yang merupakan suatu telaah tentang watak-
watak umum dari realitas natural dan supernatural; juga dibedakan dengan “filsafat alam”
(The philosophy of nature) yang menyelidiki hukum-hukum dasar, proses dan klasifikasi
objek-objek dalam alam (Runes, 1975: 68-69).
Dalam tradisi pemikiran Barat (Yunani, Eropa), perkembangan pemikiran
kosmologi filsafat berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran filsafat Barat.

8
Tonggak perubahan dari perenungan tentang “kosmos” berpindah pada perenungan
tentang “manusia”, dimulai oleh kaum Sofis pada Abad ke 5 Sebelum Masehi (Hatta,
1964: 2).
Beberapa fakta tentang kosmologi filsafat yaitu:
1. Topik utama kosmologi filsafat menurut Hegel adalah tentang “kontingensi”
(kemestian yang merujuk pada “hukum”), “kepastian”, “keabadian”, batas-batas dan
hukum formal dunia, kebebasan manusia, dan asal mula kejahatan. Namun rata-rata
filsuf hanya mempersoalkan hakikat dan hubungan antara ruang dan waktu, dan
persoalan tentang hakikat kebebasan dan asal mula kejahatan sebagai materi telaah
di luar bidang kosmologi (Runes, ed, 1975: 69). Secara umum bangunan pemikiran
kosmo-logi filsafat berpijak pada prinsip-prinsip ilmu ataupun dalil-dalil metafisis,
sehingga pada satu sisi berkaitan dengan fakta-fakta empiris, pada sisi lain
berhubungan dengan kebenaran metafisis tertentu. Dengan demikian dari pijakan ini
mudah dilihat bahwa kosmologi filsafat memiliki nilai bila dia mampu memberi
kerangka pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa alami/kodrati, batas-batas dan
“hukum” ruang-waktu “dunia”, dan bagaimana “keterbatasan manusiawi” tersebut
mampu “diatasi”.
2. Secara historis perkembangan kosmologi filsafat (barat) dimulai dari filsuf-filsuf
alam pra Sokratik, yang kemudian persoalan-persoalannya oleh Plato dalam
“Timaeus” dan oleh Aristoteles dalam “Physics” disistematisir dan diperluas. Secara
umum kosmologi filsafati di Yunani , dengan berbagai varian pemikiran, sepakat
bahwa ruang jagad raya ini terbatas dan di bawah pengaruh hukum-hukum yang tidak
dapat dirubah, yang memiliki ketentuan dan irama tertentu. Perkembangan berikut,
pada Abad Tengah, mulai diperkenalkan konsep-konsep “penciptaan” dan “kiamat”,
“keajaiban” dan “pemeliharaan” oleh Tuhan dalam kosmologi. Seirama dengan
perkembangan ilmu empiris, kosmologi filsafat jaman modern sebagaimana
dikemukakan oleh Descartes, Leibniz, maupun Newton mengalihkan kecenderungan
yang muncul pada Abad tengah kepada corak pemikiran yang lebih dekat dengan
pemikiran Yunani. Bahkan sejak Immanuel Kant, telaah kosmologi filsafati selalu
dalam kaitan dengan isue-isue metafisika.
Secara sistematis, kosmologi filsafat dibedakan dalam empat kelompok varian
besar dengan dasar pengelompokan:
1. Berpijak dari keyakinan ontis bahwa hakikat dunia itu “jamak” ataukah “tunggal”
(monisme, pluralisme).

9
2. Kedudukan manusia dalam kosmis (subjektivistis, objektivistis).
3. Esensi dan substansi manusia dengan esensi dan substansi dunia yang lain
(penonjolan “perbedaan” antara esensi dan substansi manusia dengan esensi dan
substansi dunia yang lain pada: Husserl, Scheler, Hartman, dan Heidegger;
pengutamaan pada “kesamaan” antara esensi dan substansi “pengkosmos-
pengkosmos” pada: panpsikisme dan Whitehead).
4. pendekatan sintesis (Bergson, Theilard de Chardin, dan kosmologi Pancasila)
(Bakker, 1995: 42-52)
Secara sistematis, perspektif-perspektif kosmologi metafisis tentang “waktu”,
sebagaimana banyaknya varian pendekatan dalam kosmologi, secara garis besar dapat
dipilah dalam empat kelompok, yakni:
1. Subjektivisme yang menyatakan bahwa waktu merupakan sesuatu yang tidak nyata,
hanya bersifat subjektif-individual. Pemikiran yang demikian dianut oleh
Parmenides, Zeno, Budhisme, Advaita Vedanta, Descartes, Leibniz, Locke, Hume,
Berkeley, Fichte, Scheling, Hegel, Kant, Morris Schlick, Reichenbach, dan Carnap).
2. Realisme Ekstrem yang menyatakan bahwa waktu merupakan realitas absolut yang
universal, tidak mempunyai kesatuan yang intrinksik dan hanya menunjukkan
urutan-urutan murni. Kosmologi yang demikian dapat ditemukan pada kosmologi
Indonesia/ Jawa, Jaina, Nyanya, Vaiseshika, Gassendi, Newton, Clarke, Whitehead,
dan Alexander.
3. Realisme lunak, yang menyatakan bahwa waktu merupakan aspek perubahan yang
nyata, sekalipun dihasilkan oleh subjek yang berabstraksi. Corak kosmologi yang
demikian nampak pada pemikiran Aristoteles, Agustinus, Thomas Aquinas, Einstein,
dan kosmologi Pancasila.
4. Subjektivisme lunak yang menerima waktu sebagai suatu yang heterogen
sebagaimana dikemukakan oleh Bergson, atau sebagai dimensi historis dari pribadi,
sebagaimana diyakini oleh eksistensialisme (Bakker, 1995: 111-116). Dari “peta
kosmologi” di atas, terlihat bahwa tradisi kosmologi timur paling dominan diwarnai
oleh subjektivisme dan realisme ekstrem.

10
2.4. Kosmologi Ilmu Pengetahuan
Selain dipakai dalam khasanah pemikiran filsafat, istilah “kosmologi” juga dipakai
dalam lingkup ilmu empiris, yakni dikenali sebagai ilmu yang menggabungkan hasil-
hasil pengamatan astronomis dengan teori-teori fisika dalam rangka menyusun hal-hal
astronomis atau fisis dari alam semesta dalam suatu kesatuan dengan skala yang besar
(Munitz, dalam: Edward, ed, 1976: 238).
Kosmologi ilmiah (scientific cosmology) lebih berpijak pada suatu studi empiris
tentang gejala-gejala astronomis.Upaya-upaya yang selalu dilakukan adalah membuat
model-model “alam semesta” atas dasar penemuan-penemuan observatorial oleh para
astronom.Dengan demikian sangat berbeda dengan “kosmologi filsafat” yang murni
konsepsional dan merupakan analisis kategorial yang dilakukan secara “spekulatif” oleh
para filsuf. Adapun kajian filosofis terhadap “kosmologi ilmiah” merupakan sub-bagian
dari kajian “filsafat ilmu”, dengan fokus telaah pada aspek-aspek metodologis dan
epistemologis bangunan “kosmologi ilmiah” sebagai “ilmu”.
Kosmologi bukan astronomi yang membagi-bagi seluruh alam semesta menjadi
galaksi, bintang, planet, bulan, lalu menelaahnya satu demi satu. Kosmologi memadukan
semua cabang dan ranting pohon ilmu pengetahuan untuk memperoleh gambaran yang
menyeluruh mengenai alam semesta. Kosmologi menelaah ruang dan waktu, menyelidiki
asal-usul semua materi pengisi alam, mempelajari peristiwa kosmis penting, termasuk
asal mula kehidupan dan kemungkinan perkembangan kecerdasan. Masalah yang
dihadapi para kosmolog modern adalah mempersatukan sifat-sifat alam semesta teramati
untuk memperoleh model-model alam semesta yang akan mendefinisikan struktur dan
evolusinya. Model alam semesta menjadi sarana yang dibangun manusia untuk
memperoleh gambaran mengenai alam semesta yang demikian luas.Model ini dibentuk
dengan bertumpu pada data empiris dan teori-teori fisika.Model alam semesta pun
senantiasa diujikan. Hasil-hasil amatan baru atau teori-teori baru akan mengubah model
alam semesta dari waktu ke waktu.
Teori tentang terbentuknya alam semesta terlah terjadi perhatian para astronom
sejak lama. Hal ini diungkapkan melalui apa yang diketahui tentang ruang angkasa,
bintang, galaksi, nebula, komet, planet dan sebagainnya. Sampai saat ini ada dua teori
yang mencoba menerangkan bagaimana alam semesta terbentuk.
1. Teori “Big-Bang”
Teori Big Bang (terjemahan bebas: Ledakan Dahsyat atau Dentuman Besar) dalam
kosmologi adalah salah satu teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan

11
perkembangan dan bentuk awal dari alam semesta. Menurut teori ini, alam semesta
semual berwujud sebagai gumpalan sangat padat dan besar dari sekelompok
atom.Gumpalan ini meledak yang menghasilkan panas sampai 100 miliar Celcius,
dan dari ledakan inilah terbentuknya berbagai maca kosmos, benda alam.Teori ini
menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari ledakan mahadahsyat yang
terjadi sekitar 13.700 juta tahun lalu.Ledakan ini melontarkan materi dalam jumlah
sangat besar ke segala penjuru alam semesta.Materi-materi ini kemudian yang
kemudian mengisi alam semesta ini dalam bentuk bintang, planet, debu kosmis,
asteroid/meteor, energi, dan partikel lainnya dialam semesta ini.
Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big
Bang.Ia mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan
raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain
itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta.Bukti yang
’seharusnya ada’ ini pada akhirnya diketemukan.Pada tahun 1965, dua peneliti
bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa
sengaja.Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi latar kosmis’, tidak terlihat memancar dari
satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa.Demikianlah,
diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal
peristiwa Big Bang.Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan
mereka.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit COBE (Cosmic Background
Explorer).COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar
kosmis.Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz
dan Wilson.COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal
pembentukan alam semesta.Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar
sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang.
Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang
angkasa. Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium
di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-
helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki
permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya
telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium.
Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh
masyarakat ilmiah.Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu

12
pengetahuan tentang asal muasal alam semesta.Begitulah, alam semesta ini telah
diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat.
2. Teori Steady State
Teori steady state atau teori pemantapan kelangsungan yang menyatakan
bahwa unsur atom baru masih akan membentuk secara terus menerus di alam
semesta. Unsur ini sebagai debu mengalami gerakan melingkar berputar-putar
sampai terbentuknya galaksi baru. Jadi alam semesta terus menerus akan mengalami
pembentukannya sepanjang masa, sehingga teori ini mempercayai bahwa alam
semesta sekarang ini sama halnya dengan jutaan tahun yang lewat, dan akan sama
keadaanya jutaan tahun yang akan datang. Oleh karena itu pengikut teori ini tidak
mempercayai akan berakhirnya alam semesta. Para astronom akan tetap mempelajari
lebih lanjut dan akan menghasilkan teori baru tentang terbentuknya alam semesta
(kosmogenesis) (Ronan dalam Anon 1973). Pada akhirnya teori ini mempercayai
bahwa segala sesuatu di alam semesta mengalami tatanan atau hukum alam yang
pasti sehingga akan terjadi kelangsungan dinamika keadaan alam sesuai dengan
kehendak Tuhan yang menciptakannya. Manusia berkewajiban dengan rasio dan
intuisi (kata hati) untuk mengikuti dengan kearifan dan keikhlasan akan adanya
segenap kenyataan yang dihadapi dengan pendekatan nisbi atau relative.
Pada pertengahan abad k e-20 seorang materialis, astronom terkemuka asal
Inggris Fred Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut dengan teori “Steady
State” yang mirip dengan teori alam semesta tetap abad ke-19.Teori ini menyatakan
bahwa alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa, tujuannya
adalah untuk mempertahankan faham materialis.
Menurur H. Bondi, T. Gold, and F. Hoyle mengatakan bahwa alam semesta
tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Alam semesta selalu terlihat tetap seperti
sekarang.Materi secara terus menerus datang berbentuk atom-atom hidrogen dalam
angkasa (space) yang membentuk galaksi baru dan mengganti galaksi lama yang
bergerak menjahui kita dalam ekspansinya. Materialisme adalah sistem pemikiran
yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak
keberadaan apapun selain materi.Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan
mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal
dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx.

13
BAB III
3.1. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari isi makalah ini yaitu:


a. kosmologi secara umum memiliki pengertian ilmu tentang alam semesta sebagai sistem
yang rasional dan teratur.
b. Sejarah pemikiran kosmologi dimulai pada empat ribu tahun sebelum masehi, bangsa
Babilon terkenal memiliki keahlian dalam ilmu astronomi yang membantu mereka
memprediksi gerakan-gerakan yang tampak mengenai bulan, bintang-bintang, dan
planet-planet, serta matahari yang terus berkembang hingga kini
c. kosmologi dimengerti sebagai sebuah cabang filsafat yang membicarakan asal mula
dan susunan alam semesta; dan dibedakan dengan “ontologi” atau “metafisika umum”
yang merupakan suatu telaah tentang watak-watak umum dari realitas natural dan
supernatural; juga dibedakan dengan “filsafat alam” (The philosophy of nature) yang
menyelidiki hukum-hukum dasar, proses dan klasifikasi objek-objek dalam alam
d. Kosmologi ilmu pengetahuan dikenal sebagai ilmu yang menggabungkan hasil-hasil
pengamatan astronomis dengan teori-teori fisika dalam rangka menyusun hal-hal
astronomis atau fisis dari alam semesta dalam suatu kesatuan dengan skala yang besar

3.2. Saran

Makalah digunakan untuk memenuhi mata kuliah filsafat, dengan sasaran mahasiswa.
Apabila kalimat yang kami gunakan sulit dipahami,

14
DAFTAR PUSTAKA

Matutu, H. Mustamin Dg. Kosmologi Ala Stephen Hawking c.s. Mengandung Fiksi, Kontradiksi, dan
Inkonsistensi (diambil dari http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/10/27/0032.html)

Suhartono, Suparlan.2005.Filsafat Ilmu Pengetahuan.Yogyakarta:Ar-Ruzz

Tjasyono HK, Bayong. 2009. Ilmu Kebumian dan Antariksa, Bandung: Rosda

Biorgapi Stephen hawking, http://scienceworld.wolfram.com/biography/Hawking.html dalam


eljabar.blogspot.com

15