You are on page 1of 8

ARTIKEL

PENGGUNAAN KONSEP ALJABAR DENGAN KONSEP


GEOMETRI UNTUK MEMECAHKAN MASALAH
OLEH AL-KHAWARIZMI
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sejarah Matematika
Dosen Pengampu : Dr. Karso, M.Pd
: Riva Lista Arianty,M.Pd

Oleh:
Ayuni Khairiyyah (1132050011)
Pendidikan Matematika 5A

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN MIPA


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015
BIOGRAFI AL-KHWARIZMI

Nama Asli dari Al-Khawarizmi ialah Muhammad Ibn Musa


Al-Khawarizmi. Selain itu beliau dikenali sebagai Abu Abdullah
Muhammad bin Ahmad bin Yusoff. Al-Khawarizmi dikenal di Barat
sebagai al-Khawarizmi, al-Cowarizmi, al Ahawizmi, al-Karismi, al-
Goritmi, al-Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi. Beliau dilahirkan di
Bukhara. Tahun 780-850M adalah zaman kegemilangan Al-
Khawarizmi. Al Khawarizmi telah wafat antara tahun 220 dan
230M. Ada yang mengatakan al-Khawarizmi hidup sekitar awal
pertengahan abad ke-9 M. Sumber lain menegaskan beliau
hidup di Khawarism, Usbekistan pada tahun 194H/780M dan
meninggal tahun 266H/850M di Baghdad.
Di bawah pemerintahan tiga raja dinasti Abbasiyah, Al-
Mansur, Harun Al-Rasyid, dan Al-Ma’mun terjadi masa keemasan
Irak. Istilah Arabian Night tercetus pada masa Harun Al-Rasyid.
Bahkan Al-Ma’mun bermimpi dapat menghadirkan kembali pemikir
sekaliber Aristosteles di Baghdad.
Ada dua ilmuwan yang bertugas mengalihbahasakan karya-
karya ilmiah di Graha Kebijaksanaan (The House of Wisdom), di mana
salah satunya adalah Al-Khawarizmi. Buku dan karyanya mencetuskan
kata aljabar dan membuatnya menjadi ilmuan yang legendaris. Riwayat
Al-Khawarizmi tidaklah terlalu jelas diketahui orang, tidak banyak
catatan dan asal usulnya yang diketahui orang kebanyakan, tak
terkecuali ahli sejarah. Nama Al-Khawarizmi memberi indikasi bahwa
dia berasal dari Al-Khawarizm, sebelah selatan laut Aral, Asia Tengah.
Ahli sejarah At-Tabrani memberi tambahan julukan “Al-Qutrubulli”,
yang memberi indikasi bahwa A-Khawarizmi berasal dari Qutrubulli
yaitu daerah antara sungai Tigiris dan Eufrat yang letaknya tidak jauh
dari Baghdad.
Setiap tokoh mempunyai sifat ketokohannya tersendiri.
Ketokohan Al-Khawarizmi dapat dilihat dari dua sudut, yaitu dari
bidang matematika dan astronomi. Namun, bidang matematika akan
diperjelaskan secara terperinci dibandingkan astronomi, karena hal itu
melibatkan kajian yang dikaji. Dalam bidang matematika, Al-
Khawarizmi telah memperkenalkan aljabar dan hisab. Beliau juga
banyak menghasilkan karya-karya yang masyhur ketika zaman
peradaban Islam.
Di antara karya-karya yang beliau hasilkan adalah “Mafatih
Al-Ulum”. Sistem nomor adalah salah satu sumbangannya dan telah
digunakan pada zaman peradaban Islam. Banyak kaidah yang
diperkenalkan dalam setiap karya yang dihasilkan. Diantaranya adalah
cos, sin, dan tan dalam trigonomeri penyelesaian persamaan; teorema
segitiga sama kaki dan segitiga sama sisi serta memperkirakan luas
segitiga, segiempat dan bulatan dalam geometri. Masalah pecahan dan
sifat nomor perdana teori nomor juga diperkenalkan. Banyak lagi
konsep dalam matematika yang telah diperkenalkan Al-Khaawarizmi
sendiri.
Bidang astronomi juga membuat Al-Khawarizmi sangat
terkenal pada zaman peradaban Islam. Astronomi dapat ditakrifkan
sebagai ilmu falaq (pengetahuan tentang perbintangan yang melibatkan
kajian tentang kedudukan, pergerakan, dan pemikiran serta tafsiran
yang berkaitan dengan bintang). Al-Khawarizmi juga menghasilkan dua
buah yang salah satunya telah diterjemahkan ke Bahasa Latin dan
memberi pengaruh besar kepada Muslim dan orang Spanyol serta umat
Kristen. Pengguanaan matemaatika dalam astronomi sebelum zaman
peradaban islam amat sedikit dan terbatas. Ini disebabkan oleh
kemunduran pengetahuan matematika yang hanya menggunakan
aritmatika dan geometri saja.
Kepribadian Al-Khawarizmi telah diakui oleh orang islam dan
juga Barat. Al-Khawarizmi telah dianggap sebagai sarjana matematika
yang masyhur oleh orang islam dan dia diakui oleh oaring barat. Ini
dapat dibuktikan dengan ungkapan G. Sarton bahwa “pencapaian-
pencapaian tertinggi telah diperoleh orang-orang Timur” termasuk
juga Al-Khawarizmi. Al-Khawarizmi patut disanjung karena dia adalah
orang yang pintar. Menurut Wiedman “Al-Khawarizmi memiliki
kepribadian yang teguh dan seorang yang berjiwa sains”.
Al-Khawarizmi bekerja pada saat berkuasanya khalifah Al-
Ma’mun dan dia mempersembahkan dua karyanya untuk khalifah
tersebut, yakni karya besar dibidang aljabar dan astronomi. Hisab Al-
Jabar Wa Al-Muqabala adalah karyanya yang sangat terkenal dibidang
aljabar dan sangat penting. Judul karya itu menunjukan kata “Aljabar”
yang menjadi istilah pertama yang kemudian dipakai sampai sekarang.
Tujuan dan pesan yang ingin disampaikan buku ini seperti, seperti yang
disebutkan dalam buku terjemahan Rosen, adalah mencari cara
termudah dan paling bermanfaat dari aritmatika.
“Setiap hari orang-orang berkutat dengan kasus-kasus yang
menyangkut warisan, pembagian harta, kasus-kasus hukum,
perdagangan dan semua perjanjian yang terjadi diantara pribadi seperti:
mengukur lahan, menggali sungai, menghitung luas bidang geometri
tertentu, dan bermacam-macam perhitungan lainnya.” Dari ungkapan
tersebut kita semua menjadi maklum bahwa isi teks alajabar ini
dimaksudkan untuk kepentingan praktis dan aljabar diperkenalkan
untuk menyelesaikan problem-problem yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari dalam lingkup kerajaan Islam pada zaman itu. Pengantar
buku ini memberi gambar tentang bilangan-bilangan asli (natural
number), dimana bagi mereka yang tidak fasih dengan sistem ini
tampak menggelikan, namun inti penting yang ingin disampaikan
adalah pemahaman baru tentang abstraksi seperti dinyatakan dalam
kalimat dibawah ini.
“Ketika orang mulai melakukan perhitungan, mereka selalu
mengggunakan angka. Angka terdiri dari satuan-satuan dan setiap
angka dapat dibagi menjadi satuan-satuan. Setiap angka diekspresikan
dengan satu sampai sepuluh, setelah sepuluh diagandakan, dikalikan
tiga sehingga terdapat dua puluh, tiga puluh, dan seterusnya hingga
seratus. Seratus digandakan, dikalikan tiga dengan cara yang sama
sehingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa bilangan itu tidak
terbatas.”
Karya aljabar dari Al-Khawarizmi diawali dengan pengertian
prinsip-prinsip bilangan dan memberikan solusi. Terdiri dari enam bab
yang terbagi menjadi enam tipe persamaan yang mencakup tiga jenis
operasi: akar, kwardat dan bilangan (x, x2, dan bilangan).
Semua solusi atau semua penyelesaian (penyederhanaan) suatu
bentuk persaamaan (linear atau kuadrat), terlebih dahulu harus
dijadikan salah satu dari 6 bentuk baku seperti di bawah ini:
1. Kwadrat-kwadrat identik dengan akar-akar
2. Kwadrat-kwadrat identik dengan bilangan-bilangan.
3. Akar-akar identik dengan bilangan-bilangan.
4. Kwadrat-kwadrat dan akar-akar identik dengan bilangan-
bilangan. (misalnya: x2 + 10x = 39)
5. Kwadrat-kwadrat dan bilangan-bilangan identik dengan
akar-akar. (misalnya: x2 + 21 = 20x)
6. Akar-akar dan bilangan-bilangan identik dengan kwadrat-
kwadrat. (msialnya: 3x + 4 = x2)
Penyederhanaan ini menggunakan dua operasi/cara yang
disebut dengan al-jabr dan al-muqobala. Istilah “al-jabr” berarti
“menyelesaikan”, yaitu proses menghilangkan bentuk negative/minus
dari suatu persamaan. Salah satu contoh yang dikemukakan oleh Al-
Khawarizm, “al-jabr” mengubah x2 = 40x - 4x2 menjadi 5x2 = 40x.
istilah ini disebut denagan “al-muqobala” berarti “menyeimbangkan”
yaitu proses mengkelompokkan jenis/notasi yang sama, pangkat yang
sama apabila terdapat pada ruas yang kanan maupun ruas kiri dalam
suatu persamaan. Contoh, dua aplikasi al-muqobala adalah
menyederhanakan 50 + 3x + x2 = 29 + 10x menjadi 21 + x2 = 7x
(aplikasi pertama terkait dengan bilangan-bilangan dan aplikasi kedua
terkait dengan akar).
Al-Khawarizmi juga menulis sistem bilangan Hindu-Arabik.
Karya ini menggambarkan Hindu mempunyai sistem bilangan berbasis
1,2,3,4,5,6,7,8,9 dan 0. Pertama karya angka nol dirintis olehnya.
Karya Al-Khawarizmi lainnya adalah dalam bidang
astronomi. Topic utama yang disajikan dalam buku “Sindhind Zif”
adalah kalender; menghitung posisi matahari, bulan dan planet-planet;
table sinus dan tangen ; table astrologi, serta memperkirakan terjadinya
gerhana. Karya lain adalah dibidang geologi yang memberi garis
lintang dan garis bujur untuk 2402 tempat berdasarkan peta dunia.
Buku ini mirip buku Ptolmy Geografi yang mencatat juga kota, gunung,
lautan, pulau dan sungai. Manuskrip Al-Khawarizmi lebih teperinci
untuk wilayah Islam, Afrika dan Timur Jauh. Untuk benua Eropa
diambil dari data Ptolemy.
Selain itu, Al-Khawarizmi menulis topic-topik seperti
penggunaan astrolabe (pengukur lintasan planet sebelumditemukan
sketsa/sextant) untuk mengetahui lintasan matahari dan kalender
Yahudi.
Kiprah matematikawan Arab ini sunggguh laur biasa. Pencetus
istilah aljabar serta memberi tonggak dalam matematika. Semua itu
membuat dia layak disebut dengan “bapak aljabar”, bukan Diophantus.
Aljabar diajarkannya dengan bentuk-bentuk dasar, sedangkan
Diophantus banyak berkutat dengan teori bilangan. Aljabar kemudian
dipelajari dan menjadi milik dunia hingga saat ini. Dia menggabungkan
aritmatika dan aljaba. Keduanya penting sebagai sumber utama
pengetahuan matematika selama berabad-abad baik di dunia Timur
maupun di Barat.
Dia juga mengenalkan bilangan-bilangan Hindu ke Eropa,
kelak beberapa abad kemudian, bangsa Arab akan melahirkan putra-
putra terbaiknya sebagai matematikawan yang tidak kalah bersaing
dengan rekan-rekannya yang berasal dari Benua Eropa.

PENGGUNAAN KONSEP ALJABAR DENGAN KONSEP


GEOMETRI UNTUK MEMECAHKAN MASALAH

Kata "algoritma" berasal dari Latinisasi dari namanya, dan


kata "aljabar" berasal dari Latinisasi dari "al-jabr", bagian dari judul
buku yang paling terkenal, di mana ia memperkenalkan metode aljabar
dasar dan teknik untuk memecahkan persamaan
Untuk menyelesaikan pertanyaan 𝑥 2 + 10𝑥 = 39 , Al-
Khawarizmi menyelesaikannya dengan metode melengkapi kuadrat
sempurna. Untuk menyelesaikan permasala tersebut beliau membuat
sebuah gambar:
1. Beliau membuat sebuah persegi kecil dengan panjang sisi 𝑥
x

Persegi diatas memiliki luas 𝑥. 𝑥 = 𝑥 2 yang dimana 𝑥 2 = 39 − 10𝑥

2. Kemudian beliau menambahkan masing-masing sisi persegi tersebut


dengan persegi panjang yang sama besar dengan lebar persegi
10 10
panjang tersebut adalah 4 = 2,5 . 4 didapat dari persamaan yaitu
10
10𝑥, 10 dibagi 4 sama besar menjadi .
4

2,5
2,5

2,5
2,5

Sehingga beliau mengetahui bahwa luas daerah persegi diatas adalah


39 atau dengan kata lain:
𝑥 2 + 4(2,5𝑥) = 𝑥 2 + 10 = 39
3. Selanjutnya beliau melengkapi gambar tersebut menjadi sebuah
persegi dengan menambah empat buah persegi kecil. Sehingga
tercipta persegi baru seperti gambar dibawah.

2,5 x 2,5

2,5 2,5

x x

2,5 2,5

2,5 x 2,5

Sehingga lebar daerah persegi yang paling besar menjadi 2,5 + 𝑥 +


2,5 = 𝑥 + 5 maka luas persegi yang paling besar adalah (𝑥 + 5)2
dan luas persegi tersebut akan sama dengan luas berwarna biru pada
gambar 3 ditambah luas berwarna kuning pada gambar 3, atau dapat
kita tulis sebagai berikut:
𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑏𝑖𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 + 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑏𝑖𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎 𝑘𝑢𝑛𝑖𝑛𝑔
= (𝑥 2 + 10𝑥) + (4(2,5)2 )
= 39 + 25
= 64
Karena luas bangun berwarna biru ditambah bangun berwarna
kuning sama dengan luas (𝑥 + 5)2 , maka:
(𝑥 + 5)2 = 64
Dari hasil di atas beliau dapat menentukan nilai 𝑥, yaitu:
(𝑥 + 5)2 = 64
𝑥 + 5 = √64
𝑥 + 5 = ±8
𝑥 = 3 atau 𝑥 = -13
Pembuktian Geometrik di atas menjadi sumber polemic di
antara para matematikawan. Tampaknya, Al-Khawarizmi memahami
elemen Euclid, karena secara tidak langsung penyelesaian itu mirip dengan
termaktub dalam karya Euclid. Dalam masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid,
ketika Al-Khawarizmi masih muda, Al-Hajaj ditugaskan untuk
mengalihbahasakan Elemen Euclid kedalam Bahasa Arab. Al-Hajaj tidak
lain adalah rekan Al-Khawarizmi di Graha Kebijaksanaan. Itu bagi yang
melihat bahwa karya Al-Khawarizmi adalah penjabaran dari Euclid.
Pendapat lain menyebutkan bahwa tidak ada definisi, aksioma, postulat,
atau contoh-contoh seperti yang diuraikan Euclid, sehingga tidak dapat
menggolongkan Al-Khawarizmi sebagai pengikut Euclid. Pendukung
pendapat kedua mengemukakan hukum aritmatika dengan objek-objek
aljabar.
Sebagai contoh, Al-Khawarizmi menunjukkan bagaimana
melakukan perkalian untuk ekspresi seperti: (a + bx) (c + dx). Meskipun
tidak ada narasi untuk mengekspresikannya dan tidak ada symbol yang
digunakan, tetapi disini tersirat konsep aljabar dengan akurasi tinggi: teori
linear dan kuadratik dengan suatu bilangan tidak diketahui. Disini aljabar
dapat dipandang sebagai teori persamaan. Lebih lanjut Al-Khawarizmi
memberikan penerapan dan contoh seperti mencari luas bidang lingkaran,
silinder, kerucut, dan piramida.
Uraian diatas tidaklah cukup untuk mengulas secara
menyeluruh karya dari matematikawan Muslim. Masih banyak yang belum
tercakup dan belum terungkap. Belum tercakup dan dan belum
terungkapnya semata-mata karena kurangnya sumber yang
mengisahkannya. Dengan demikian pantas bagi kita untuk mengatakan
bahwa matematikawan Muslim adalah pahlawan-pahlawan matematika
yang tidak boleh dilupakan dan harus selalu dikenang jasa-jasanya, dan
yang terpenting adalah apa yang telah dirintis harus selalu dikembangkan
untuk mencapai kemajuan dan puncak peradaban.