You are on page 1of 9

KEWAJIBAN MENUTUP AURAT DAN BATASANNYA

Oleh
Ustadz Haikal Basyarahil, Lc

Jika melihat kehidupan masyarakat di sekitar, banyak kita jumpai kaum wanita keluar rumahnya
dengan tidak mengenakan jilbab, atau bahkan memakai rok mini yang mengumbar aurat mereka,
begitu pula kaum pria, banyak di antara mereka tidak menutup aurat. Anehnya, keadaan itu
dianggap biasa, tidak dianggap sebuah kemaksiatan yang perlu di ingkari. Seakan menutup aurat
bukan sebuah kewajiban dan membuka aurat bukan sebuah dosa. Bahkan sebaliknya, terkadang
orang yang menutup auratnya di anggap aneh, lucu dan asing. Inilah fakta yang aneh pada zaman
sekarang. Kenapa bisa seperti itu ? Jawabnya, karena jauhnya mereka dari agama Islam sehingga
mereka tidak mengerti apa yang menjadi kewajiban termasuk kewajiban menjaga aurat. Oleh
kerena itu, pada kesempatan kali ini, kami akan mencoba membahas tentang kewajiban menutup
aurat, batasan-batasanya dan siapa yang bertanggung jawab menjaganya ?

PENGERTIAN AURAT DAN KEWAJIBAN MENUTUPNYA.


Aurat adalah suatu angggota badan yang tidak boleh di tampakkan dan di perlihatkan oleh lelaki
atau perempuan kepada orang lain. [Lihat al-Mausû’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, 31/44]
Menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allâh
Azza wa Jalla:

‫ت َوقُل‬ ِ ‫ارهِن ِمن يَغضُضنَ ِلل ُمؤ ِمنَا‬ ِ ‫ص‬َ ‫ظ َه َر َما إِل ِزينَت َ ُهن يُبدِينَ َو َل فُ ُرو َج ُهن َويَحفَظنَ أَب‬ َ ‫علَى بِ ُخ ُم ِرهِن َول َيض ِربنَ ۖ ِمن َها‬
َ ‫ۖ ُجيُوبِ ِهن‬
َ‫اء أَو آبَائِ ِهن أَو ِلبُعُولَ ِت ِهن إِل ِزي َنت َ ُهن يُبدِينَ َول‬ َ َ َ َ
ِ َ‫َاء أو أبنَائِ ِهن أو بُعُول ِت ِهن آب‬ ِ ‫بَنِي أَو إِخ َوانِ ِهن بَنِي أو إِخ َوانِ ِهن أو بُعُولتِ ِهن أبن‬
َ َ َ َ
‫سائِ ِهن أَو أَخ ََواتِ ِهن‬َ ِ‫الربَ ِة أُو ِلي غَي ِر التابِعِينَ أَ ِو أَي َمانُ ُهن َملَكَت َما أَو ن‬ ِ ‫الطف ِل أ َ ِو‬
ِ َ‫الر َجا ِل ِمن‬ ِ َ‫ت َعلَى يَظ َه ُروا لَم الذِين‬ ِ ‫َعو َرا‬
‫اء‬
ِ ‫س‬ َ َ َ ُ َ َ ُ ُ َ
َ ِ‫تف ِلحُونَ لعَلكم ال ُمؤ ِمنونَ أيُّهَ َج ِميعًا ّللاِ إِلى َوتوبُوا ۚ ِزينَتِ ِهن ِمن يُخفِينَ َما ِليُعل َم بِأر ُج ِل ِهن يَض ِربنَ َول ۖ الن‬ ُ

Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh
maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman,
“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah
mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali
kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau
putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara
laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau
budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah
mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung. [an-Nûr/24:31]
Dan Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
‫ال ُمس ِرفِينَ ي ُِحبُّ َل ِإنهُ ۚ تُس ِرفُوا َو َل َواش َربُوا َو ُكلُوا َمس ِجد ُك ِل ِعندَ ِزينَتَ ُكم ُخذُوا آدَ َم بَنِي يَا‬

Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan
minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang
berlebihan. [al-A’râf/7:31]

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang di sebutkan dalam Shahîh Muslim dari Ibnu Abbâs
Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
‫وف ال َمرأَة ُ كَانَت‬
ُ ‫ط‬ُ َ‫ت ت‬ َ ‫َمس ِجد ُك ِل ِعندَ ِزينَتَ ُكم ُخذُوا اْليَةُ َه ِذ ِه فَنَزَ لَت … عُريَانَة َوه‬
ِ ‫ِي بِالبَي‬
Dahulu para wanita tawaf di Ka’bah tanpa mengenakan busana … kemudian Allâh menurunkan
ayat :
‫َمس ِجد ُك ِل ِعندَ ِزينَتَ ُكم ُخذُوا آدَ َم بَنِي يَا‬

Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid…[HR. Muslim, no.
3028]

Bahkan Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada istri-istri nabi dan wanita beriman untuk
menutup aurat mereka sebagaimana firman-Nya :

‫ي أَيُّ َها يَا‬ ِ ‫اء َو َبنَاتِكَ ِِلَز َو‬


ُّ ِ‫اجكَ قُل النب‬ ِ ‫س‬َ ِ‫ورا ّللاُ َو َكانَ ۗ يُؤذَينَ فَ َل يُع َرفنَ أَن أَدنَى ذَلِكَ ۚ َج َلبِي ِب ِهن ِمن َعلَي ِهن يُدنِينَ ال ُمؤ ِمنِينَ َون‬
ً ُ‫َغف‬
‫َر ِحي ًما‬

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang
Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian
itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzâb/33:59]
Dengan menutup aurat hati seorang terjaga dari kejelekan Allâh Azza wa Jalla berfrman :
‫سأَلت ُ ُموهُن َوإِذَا‬
َ ‫اء ِمن فَاسأَلُوهُن َمتَاعًا‬
ِ ‫َوقُلُوبِ ِهن ِلقُلُوبِ ُكم أَط َه ُر ذَ ِل ُكم ۚ ِح َجاب َو َر‬
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari
belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. [al-Ahzâb/33:53]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu
anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan
busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya
sambil berkata :
‫ت ِإذَا ال َمرأَةَ ِإن أَس َما ُء َيا‬ َ ‫َو َهذَا َهذَا ِإل ِمن َها ي َُرى أَن َيصلُح لَم ال َم ِح‬
ِ َ‫يض َبلَغ‬
Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota
badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).[HR. Abu
Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni
rahimahullah]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah didatangi oleh seseorang yang menanyakan perihal
aurat yang harus di tutup dan yang boleh di tampakkan, maka beliau pun menjawab :
‫ َي ِمينُكَ َملَكَت َما أَو زَ و ِجكَ ِمن إل َعو َرتَكَ احفَظ‬.

Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan) istrimu atau budak yang kamu miliki.[HR. Abu
Dâwud, no.4017; Tirmidzi, no. 2794; Nasa’i dalam kitabnya Sunan al-Kubrâ, no. 8923; Ibnu
Mâjah, no. 1920. Hadist ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni]
Wanita yang tidak menutup auratnya di ancam tidak akan mencium bau surga sebagaimana yang
di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu beliau berkata :

‫سو ُل قَا َل‬


ُ ‫صلى ّللاِ َر‬َ ُ‫ َو َسل َم َعلَي ِه للا‬: ‫ان‬
ِ َ‫صنف‬ ِ ‫ار أَه ِل ِمن‬ ِ ‫أ َ َر ُه َما لَم الن‬، ‫ب ِسيَاط َمعَ ُهم قَوم‬
ِ ‫اس ِب َها يَض ِربُونَ البَقَ ِر َكأَذنَا‬
َ ‫الن‬، ‫ساء‬ َ ِ‫َون‬
‫اريَات كَا ِسيَات‬ ِ ‫يلت َمائِ َلت َع‬ َ َ
ُ ‫ت أسنِ َم ِة َكأمثَا ِل ُر ُءو‬
َ ‫س ُهن ُم ِم‬ ِ ‫ال َمائِلَ ِة البُخ‬، ‫ري َح َها َي ِجدنَ َو َل ال َجنةَ يَد ُخلنَ َل‬،
ِ ‫لَتُو َجدُ ِري َح َها َوإِن‬
‫َو َكذَا َكذَا َمسِيرة ِمن‬

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang
belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor
sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang,
berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti
punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium
baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim, no. 2128]

Dalam riwayat lain Abu Hurairah menjelaskan. bahwasanya aroma Surga bisa dicium dari jarak
500 tahun. [HR. Malik dari riwayat Yahya Al-Laisiy, no. 1626]

Dan diharamkan pula seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya atau wanita melihat aurat wanita
lainnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
َ‫ظ ُر ل‬ ُ ‫الر ُج ِل َعو َرةِ إِلَى الر ُج ُل يَن‬، َ‫ال َمرأَةِ َعو َرةِ إِلَى ال َمرأَة ُ َول‬، َ‫ضي َول‬
ِ ‫ب فِي الر ُج ِل إِلَى الر ُج ُل يُف‬ ِ ‫ال َمرأَة ُ تُف‬
ِ َ‫ضي َول‬
ِ ‫ح ِد ال َوا الثو‬،
‫ب فِي ال َمرأَةَ إِلَى‬ِ ‫ال َو ِح ِد الثو‬
Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat
aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh
pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” [HR. Muslim, no. 338 dan yang
lainnya]

Begitu pentingngnya menjaga aurat dalam agama Islam sehingga seseorang di perbolehkan
melempar dengan kerikil orang yang berusaha melihat atau mengintip aurat keluarganya di
rumahnya, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
‫صاة َخذَفتَهُ لَه ُ تَأذَن َولَم أ َ َحد بَيتِكَ فِي اطلَ َع لَو‬
َ ‫ُجنَاح ِمن َعلَيكَ َكانَ َما َعينَهُ فَفَقَأتَ ِب َح‬
Jika ada orang yang berusaha melihat (aurat keluargamu) di rumahmu dan kamu tidak
mengizinkannya lantas kamu melemparnya dengan kerikil sehingga membutakan matanya maka
tidak ada dosa bagimu. [HR. Al-Bukhâri, no. 688, dan Muslim, no. 2158].
BATASAN-BATASAN AURAT.
1. Pertama. Aurat Sesama Lelaki
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang batasan aurat sesama lelaki, baik
dengan kerabat atau orang lain. Pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah pendapat jumhur
Ulama yang mengatakan bahwa aurat sesama lelaki adalah antara pusar sampai lutut. Artinya
pusar dan lutut sendiri bukanlah aurat sedangkan paha dan yang lainnya adalah aurat. Adapun
dalil dalam hal ini, semua hadistnya terdapat kelemahan pada sisi sanadnya , tetapi dengan
berkumpulnya semua jalur sanad tersebut menjadikan hadist tersebut bisa di kuatkan redaksi
matannya sehingga dapat menjadi hujjah. [Lihat perkataan Syaikh al-Albâni dalam kitabnya
Irwâ’ 1/297-298, dan Fatawa al-Lajnah ad-Dâimah, no. 2252]

2. Kedua. Aurat Lelaki Dengan Wanita


Jumhur Ulama sepakat bahwasanya batasan aurat lelaki dengan wanita mahramnya ataupun yang
bukan mahramnya sama dengan batasan aurat sesama lelaki. Tetapi mereka berselisih tentang
masalah hukum wanita memandang lelaki. Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini ada dua
pendapat.

Pendapat pertama, Ulama Syafiiyah berpendapat bahwasanya tidak boleh seorang wanita melihat
aurat lelaki dan bagian lainnya tanpa ada sebab. Dalil mereka adalah keumuman firman Allâh
Azza wa Jalla :
‫ت َوقُل‬
ِ ‫ارهِن ِمن َيغضُضنَ ِلل ُمؤ ِمنَا‬
ِ ‫ص‬َ ‫أَب‬
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya. [an-
Nûr/24:31]
Dan hadist Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata :
ُ‫سو ِل ِعندَ ُكنت‬ ُ ‫صلى ّللاِ َر‬ َ ُ‫سل َم َعلَي ِه للا‬ َ ‫ب أ ُ ِمرنَا أَن َبعدَ َوذَلِكَ َمكتُوم أ ُ ِم ابنُ فَأَقبَ َل َمي ُمونَةُ َو ِعندَهُ َو‬ ِ ‫ى فَقَا َل بِال ِح َجا‬ُّ ِ‫صلى النب‬ َ ُ‫للا‬
‫سل َم َعلَي ِه‬ ‫و‬
َ َ َ ِ
: ‫ا‬ ‫ب‬‫َج‬ ‫ت‬‫اح‬ ُ ‫ه‬ ‫ن‬‫م‬ِ ! ‫َا‬ ‫ن‬‫ل‬ُ ‫ق‬َ ‫ف‬ ‫ا‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫و‬‫س‬ ‫ر‬
َ َ ُ َ ِ َ‫ّللا‬ ‫س‬ ‫ي‬َ ‫ل‬َ ‫أ‬ ‫ى‬ ‫م‬
َ ‫ع‬َ ‫أ‬ َ ‫ل‬ ‫َا‬ ‫ن‬‫ر‬ ‫ص‬
ُ ِ ‫ُب‬ ‫ي‬ َ ‫ل‬‫و‬ ‫َا‬ ‫ن‬ُ
َ ِ َ َ‫ف‬ ‫ر‬ ‫ع‬‫ي‬ ‫ل‬ ‫ا‬ َ ‫ق‬َ ‫ف‬ ‫ى‬
ُّ ِ ‫ب‬‫الن‬ ‫ى‬ ‫ل‬ َ ُ ِ َ َ َ َ ِ َ َ ‫أَفَ َع‬
‫ص‬ ‫للا‬ ‫ه‬ ‫ي‬َ ‫ل‬ ‫ع‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫س‬ ‫و‬ : ‫ان‬ ‫او‬ ‫ي‬‫م‬
‫ص َرا ِن ِه أَلَست ُ َما أَنت ُ َما‬ ِ ‫تُب‬
Aku berada di sisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Maimunah sedang
bersamanya. Lalu masuklah Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu anhu -yaitu ketika perintah hijab
telah turun-. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Berhijablah kalian berdua
darinya.” Kami bertanya, “Wahai Rasûlullâh, bukankah ia buta sehingga tidak bisa melihat dan
mengetahui kami?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, “Apakah kalian berdua
buta ? Bukankah kalian berdua dapat melihat dia ?. [HR. Abu Dâwud, no. 4112; Tirmidzi, no.
2778; Nasa’i dalam Sunan al- Kubrâ, no.9197, 9198) dan yang lainnya namun riwayat ini adalah
riwayat yang dha’îf, dilemahkan oleh Syaikh al-Albâni]

Dan mereka juga berdalil dengan qiyas: yaitu sebagaimana di haramkan para lelaki melihat
wanita seperti itu pula di haramkan para wanita melihat lelaki.
Pendapat yang kedua adalah pendapat Ulama di kalangan mazhab Hambali, boleh bagi wanita
melihat pria lain selain auratnya. Mereka berdalil dengan sebuah hadits yang di riwayatkan oleh
Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata :
ُ‫صلى الن ِبى َرأَيت‬ َ ُ‫سل َم َعلَي ِه للا‬ َ ‫ ِب ِردَائِ ِه يَست ُ ُرنِى َو‬، ‫ظ ُر َوأَنَا‬
ُ ‫ش ِة ِإلَى أَن‬
َ َ‫ ال َمس ِج ِد فِى يَل َعبُونَ ال َحب‬، ‫ أَسأ َ ُم الذِى أَنَا أ َ ُكونَ َحتى‬،
َ ‫الله ِو َعلَى ال َح ِري‬
ِ ‫ص ِة الس ِِن ال َحدِيث َ ِة ال َج‬
‫اريَ ِة قَد َر فَاقد ُُروا‬

Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan pakaiannya, sementara aku
melihat ke arah orang-orang Habasyah yang sedang bermain di dalam Masjid sampai aku
sendirilah yang merasa puas. Karenanya, sebisa mungkin kalian bisa seperti gadis belia yang
suka bercanda [HR. Al-Bukhâri, no.5236; Muslim, no.892 dan yang lainnya]

3. Ketiga. Aurat Lelaki Dihadapan Istri


Suami adalah mahram wanita yang terjadi akibat pernikahan, dan tidak ada perbedaan pendapat
di kalangan para Ulama bahwasanya seorang suami atau istri boleh melihat seluruh anggota
tubuh pasangannya. Adapun hal ini berdasarkan keumuman firman Allâh Azza wa Jalla :

ِ ‫ظونَ ِلفُ ُر‬


َ‫وج ِهم هُم َوال ِذين‬ ِ ‫ومينَ غَي ُر فَإِن ُهم أَي َمانُ ُهم َملَكَت َما أَو أَز َو‬
ُ ِ‫﴿ َحاف‬٢٩﴾ ‫اج ِهم َعلَى إِل‬ ِ ُ‫َمل‬
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-
budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. [al-
Ma’ârij/70:29-30]
Dan hadits Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma berkata:
‫قَالَت‬: ُ‫ي أَنَا أَغتَ ِس ُل ُكنت‬ َ ُ‫سل َم َعلَي ِه للا‬
ُّ ِ‫صلى َوالنب‬ َ ‫احد إِنَاء ِمن َو‬
ِ ‫َجنَابَة ِمن َو‬
“Aku mandi bersama dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana dalam
keadaan junub. [HR. Al-Bukhâri, no. 263 dan Muslim, no. 43]

4. Keempat. Aurat Wanita Dihadapan Para Lelaki Yang Bukan Mahramnya


Diantara sebab mulianya seorang wanita adalah dengan menjaga auratnya dari pandangan lelaki
yang bukan mahramnya. Oleh kerena itu agama Islam memberikan rambu-rambu batasan aurat
wanita yang harus di tutup dan tidak boleh ditampakkan. Para Ulama sepakat bahwa seluruh
anggota tubuh wanita adalah aurat yang harus di tutup, kecuali wajah dan telapak tangan yang
masih diperselisihkanoleh para Ulama tentang kewajiban menutupnya. Dalil tentang wajibnya
seorang wanita menutup auratnya di hadapan para lelaki yang bukan mahramnya adalah firman
Allâh Azza wa Jalla :

‫ي أَيُّ َها َيا‬ ِ ‫اء َو َبنَاتِكَ ِِلَز َو‬


ُّ ‫اجكَ قُل الن ِب‬ ِ ‫س‬َ ِ‫ورا ّللاُ َو َكانَ ۗ يُؤذَينَ فَ َل يُع َرفنَ أَن أَدنَى ذَلِكَ ۚ َج َل ِبي ِب ِهن ِمن َعلَي ِهن يُدنِينَ ال ُمؤ ِمنِينَ َون‬
ً ُ‫َغف‬
‫َر ِحي ًما‬

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang
Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian
itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [al-Ahzâb/33:59]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa seluruh anggota tubuh wanita
adalah aurat yang harus di tutup. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ُ ‫ َعو َرة ال َمرأَة‬، ‫ـر بَيتِـ َها ِمن َخ َر َجت ِإذَا َو ِإن َها‬ َ ‫الشيـ‬
َ ‫طانُ فَ َها استَش‬
Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya [HR.
Tirmidzi,no. 1173; Ibnu Khuzaimah, no. 1686; ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr, no. 10115
dan yang lainnya]
5. Kelima. Aurat Wanita Di depan Mahramnya
Mahram adalah seseorang yang haram di nikahi kerena adanya hubungan nasab, kekerabatan dan
persusuan. Pendapat yang paling kuat tentang aurat wanita di depan mahramnya yaitu seorang
mahram di perbolehkan melihat anggota tubuh wanita yang biasa nampak ketika dia berada di
rumahnya seperti kepala, muka, leher, lengan, kaki, betis atau dengan kata lain boleh melihat
anggota tubuh yang terkena air wudhu. Hal ini berdasarkan keumuman ayat dalam surah an-Nûr,
ayat ke-31, insyaAllâh akan datang penjelasannya pada batasan aurat wanita dengan wanita
lainnya. Dan hadist Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma berkata :

َ‫الر َجا ُل َكان‬ َ ِ‫ان ِفي يَت ََوضئُونَ والن‬


ِ ‫سا ُء‬ ِ ‫سو ِل زَ َم‬ َ ُ‫سل َم َعلَي ِه للا‬
ُ ‫صلى للاِ َر‬ َ ‫َج ِميعًا َو‬
Dahulu kaum lelaki dan wanita pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan
wudhu’ secara bersamaan [HR. Al-Bukhâri, no.193 dan yang lainnya]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Bisa jadi, kejadian ini sebelum turunnya ayat hijab dan tidak
dilarang pada saat itu kaum lelaki dan wanita melakukan wudhu secara bersamaan. Jika hal ini
terjadi setelah turunya ayat hijab, maka hadist ini di bawa pada kondisi khusus yaitu bagi para
istri dan mahram (di mana para mahram boleh melihat anggota wudhu wanita). [Lihat Fathul
Bâri, 1/300]

6. Keenam. Aurat Wanita Di Depan Wanita Lainnya


Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang aurat wanita yang wajib di tutup
ketika berada di depan wanita lain. Ada dua pendapat yang masyhûr dalam masalah ini :
• Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa aurat wanita di depan wanita lainnya seperti aurat lelaki
dengan lelaki yaitu dari bawah pusar sampai lutut, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak
menimbulkan syahwat bagi orang yang memandangnya.

• Batasan aurat wanita dengan wanita lain, adalah sama dengan batasan sama mahramnya, yaitu
boleh memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan, seperti rambut, leher, dada
bagian atas, lengan tangan, kaki dan betis. Dalilnya adalah keumuman ayat dalam surah an-Nûr,
ayat ke-31. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

‫اء أَو آبَائِ ِهن أَو ِلبُعُولَ ِت ِهن ِإل ِزينَتَ ُهن يُبدِينَ َو َل‬
ِ َ‫َاء أَو أَبنَائِ ِهن أَو بُعُولَتِ ِهن آب‬
ِ ‫َبنِي أ َو ِإخ َوانِ ِهن بَنِي أَو ِإخ َوانِ ِهن أَو بُعُولَ ِت ِهن أَبن‬
‫سائِ ِهن أَو أَخ ََواتِ ِهن‬
َ ِ‫ن‬
Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,
atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera
saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, [an-Nûr/24:31]

Yang dimaksud dengan perhiasan di dalam ayat di atas adalah anggota tubuh yang biasanya di
pakaikan perhiasan.

Imam al- Jasshâs rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ayat di atas adalah bolehnya
seseorang menampakkan perhiasannya kepada suaminya dan orang-orang yang disebutkan
bersamanya (yaitu mahram) seperti ayah dan yang lainnya. Yang terpahami, yang dimaksudkan
dengan perhiasan disini adalah anggota tubuh yang biasanya di pakaikan perhiasan sepert wajah,
tangan, lengan yang biasanya di pakaikan gelang, leher, dada bagian atas yang biasanya di
kenakan kalung, dan betis biasanya tempat gelang kaki. Ini menunjukkan bahwa bagian tersebut
boleh dilihat oleh orang-orang yang disebutkan dalam ayat di atas (yaitu mahram).[1] Hal senada
juga di ungkapkan oleh imam az-Zaila’i rahimahullah.[2]

Syaikh al-Albâni rahimahullah menukil kesepakatan ahlu tafsir bahwa yang di maksud pada ayat
di atas adalah bagian tubuh yang biasanya di pakaikan perhiasan seperti anting, gelang tangan,
kalung, dan gelang kaki.[3]

Pendapat Yang terkuat dalam hal ini adalah pendapat terakhir, yaitu aurat wanita dengan wanita
lain adalah seperti aurat wanita dengan mahramnya karena dalil yang mendukung lebih kuat.
Wallahu a’lam.

SIAPAKAH YANG BERTANGGUNG JAWAB MENJAGA AURAT?


Agama Islam selaras dengan fitrah manusia. Selama fitrah tersebut masih suci, tidak di nodai
dengan maksiat, maka menjaga aurat bagian dari pembawaan manusia sejak lahir, sebagaimana
nabi Adam q dan istrinya ketika nampak aurat mereka yang sebelumnya tertutup akibat
memakan buah yang terlarang. Dengan fitrahnya, nabi Adam q dan istrinya menutup auratnya
dengan daun-daun surga, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

‫سوآت ُ ُه َما لَ ُه َما َبدَت الش َج َرة َ ذَاقَا فَلَما ۚ ِبغُ ُرور فَدَل ُه َما‬ َ ‫ان َو‬
َ ‫ط ِفقَا‬ ِ ‫َعن أَن َه ُك َما أَلَم َربُّ ُه َما َونَادَا ُه َما ۖ ال َجن ِة َو َر‬
ِ ‫ق ِمن َعلَي ِه َما َيخ‬
ِ َ‫صف‬
‫طانَ ِإن لَ ُك َما َوأَقُل الش َج َر ِة تِل ُك َما‬
َ ‫ُم ِبين َعدُو لَ ُك َما الشي‬

Maka syaithan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala
keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah
keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka,
“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepadamu,
bahwa sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua ? [al- A’râf/7:22]

Namun, ketika fitrah ini mulai hilang dari bani Adam dan ketika sifat malu pada diri mereka
mulai terkikis, maka harus ada yang mengontrol dan mengingatkan mereka dalam menjaga aurat.
Sebab, mempertontonkan aurat merupakan sebuah kemungkaran yang harus di ingkari,
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
‫ ِبيَ ِد ِه فَليُغ َِيرهُ ُمنك ًَرا ِمن ُكم َرأَى َمن‬، ‫سانِ ِه يَست َِطع لَم فَإِن‬ ُ ‫ان أَض َع‬
َ ‫فَ ِب ِل‬، ‫فَ ِبقَل ِب ِه يَست َِطع لَم فَإِن‬، َ‫ف َوذَلِك‬ ِ ‫الي َم‬
ِ
Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan
tangannya, jika dia tidak mampu maka dengan lisannya, jika dia tidak bisa maka dengan hatinya
dan itu adalah selemah –lemah iman. [HR. Muslim, no.49 dan yang lainnya]
Mengubah kemungkaran dengan tangan adalah hak dari ulill amri (pemerintah) atau orang yang
memiliki kekuasan, seperti ayah kepada anaknya, atau suami terhadap istrinya. Seorang bapak
berkewajiban menjaga aurat anak perempuannya jika dia sudah baligh. Mereka berkewajiban
melarang anak perempuan mereka berdandan atau berpakaian yang tidak menutup aurat ketika
keluar rumah. Begitu pula seorang suami, ia juga berkewajiban menjaga aurat istrinya, seperti
menyuruhnya berbusana yang menutup anggota tubuhnya, menyuruhnya berjilbab jika keluar
rumah. Dan jika sudah diberi nasehat dengan cara yang baik, suami boleh memberikan sangsi
kepada istrinya yang tetap membuka auratnya, yaitu dengan pisah ranjang, atau memukulnya
dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Karena membuka aurat bagian dari nusyûz
(meninggalkan salah satu kewajiban) seorang istri kepada suaminya. Allâh Azza wa Jalla
berfirman tentang sangsi nusyûz :

‫شوزَ هُن تَخَافُونَ َواللتِي‬ ُ ‫اجع فِي َواه ُج ُروهُن فَ ِع‬


ُ ُ‫ظوهُن ن‬ َ َ ‫يل َعلَي ِهن ت َبغُوا فَ َل أ‬
َ ‫طعنَ ُكم فَإِن ۖ َواض ِربُوهُن ال َم‬
ِ ِ ‫ض‬ ً ِ‫سب‬
َ ۗ ‫َع ِليًّا َكانَ ّللاَ إِن‬
ً ِ‫َكب‬
‫يرا‬

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyûz maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah
mereka dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu,
maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allâh Maha
Tinggi lagi maha besar. [An-Nisâ’/4:34]
Pemerintah juga mempunyai peranan penting dalam menjaga aurat masyarakat, sehingga mereka
tidak seenaknya berpakaian dan berpenampilan yang mengumbar aurat di depan umum. Tatanan
sebuah masyarakat akan rusak jika hal ini tidak dilarang, sebab akan terjadi berbagai macam
kemungkaran seperti perzinahan, pemerkosaan dan yang lainnya. Pemerintah harus ikut andil
dalam menjaga aurat masyarakat kerena itu merupakan kewajiban dan tanggung jawab mereka
sebagai pihak yang berwenang. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
‫راع ُكلُّ ُكم‬،
َ ‫ر ِعيتِ ِه َعن َمسئُول َو ُكلُّ ُكم‬، ُ ‫اس َعلَى الذِي فَاِل َ ِم‬
َ ‫ير‬ ِ ‫ َعن ُهم َمسئُول َوه َُو َعلَي ِهم َراع الن‬.
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan di tanya tentang kepemimpinannya,
seorang amir maka dia adalah pemimpin bagi rakyatnya dan akan ditanya tentang
kepemimpinannya. [HR. al-Bukhâri , no. 893,2409,2554; dan Muslim, no.1829]

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Wajib bagi waliyul amri (pemerintah) melarang perempuan
yang keluar (rumahnya) dengan berdandan dan bersolek, dan juga melarang mereka berpakaian
yang menampakkan auratnya. [at-Thuruq al-Hukmiah, hlm. 238]
Jika terjadi pelangggaran dalam masalah ini pemerintah boleh memberikan sangsi terhadap
pelakunnya, dan hal ini di benarkan dalam agama Islam. Masalah jenis sangsi, dikembalikan
kepada kebijakan hakim. Kerena pelanggaran tidak menutup aurat termasuk hukum ta’zîr dan
bukan bagian dari hukum hudud. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-
858197 Fax 0271-858196]
________
Footnote
[1]. Lihat Ahkâmul Qur’ân, 5/174
[2]. Lihat Tabyînul Haqâi’q, 6/19
[3]. Lihat ar-Raddul Mufhim 1/75

Sumber: https://almanhaj.or.id/4114-kewajiban-menutup-aurat-dan-batasannya.html