You are on page 1of 37

PENGEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH

PENGEMBANGAN KURIKULUM (DIBANDINGKAN DENGAN YANG TERJADI


DI SEKOLAH)

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 7

1. Weni (A1C116015)
2. Ayu Azura Fariza (A1C116065)
3. Gita Priscilla Sitepu (A1C116077)

DOSEN PENGAMPU :

Dra. M. Dwi Wiwik Ernawati, M.Kes

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat


dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Terimakasih pula kami ucapkan kepada Ibu Dra. M. Dwi Wiwik Ernawati,
M.Kes selaku dosen mata kuliah Pengembangan Kurikulum Sekolah Menengah.
Dan terima kasih, saya ucapkan kepada teman-teman serta pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, khususnya semua anggota kelompok
VII (Tujuh), sehingga makalah yang berjudul “Pengembangan Kurikulum
(Dibandingkan Dengan Yang Terjadi Di Sekolah)” ini dapat terselesaikan tepat
pada waktunya serta dapat digunakan dengan sebaik mungkin. Makalah ini dibuat
dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum Sekolah
Menengah.
Kami sadari, dalam makalah ini masih terdapat banyak kesalahan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat
diharapkan untuk kesempurnaan makalah-makalah berikutnya.

Jambi, September 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

1.1.KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii


BAB I PENDAHULUAN
1.2. Latar Belakang .................................................................................................1
1.3. Rumusan Masalah ............................................................................................1
1.4. Tujuan Penulisan ..............................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Analisis Tujuan (Nas., Tingkat Satuan Pend., Kelas, KI, SK) ...........................2
2.1.1 Prosedur Penyusunan Kompetensi Dasar Baru .............................12

2.2 Indikator Pencampaian Kompetensi ................................................................12


2.2.1 Konsep Kompetensi Dasar ............................................................13
2.2.2 Konsep Rumusan Indikator ...........................................................17
2.2.3 Cara Perumusan Indikator .............................................................18
2.3 Pengembangan Bahan Ajar, LKS dan Media ..................................................22
2.3.1 Bahan Ajar......................................................................................22
2.3.2 LKS ................................................................................................27
2.3.3 Media .............................................................................................28

BAB III PENUTUP


Kesimpulan ...........................................................................................................29
Saran .......................................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................30
PERMASALAHAN DAN SOLUSI ....................................................................31

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses pendidikan dalam kegiatan pembelajaran atau dalam kelas, akan bisa berjalan
dengan lancar, kondusif, interaktif, dan lain sebagainya apabila dilandasi oleh dasar
kurikulum yang baik dan benar. Pendidikan bisa dijalankan dengan baik ketika kurikulum
menjadi penyangga utama dalam proses belajar mengajar. Kurikulum mengandung sekian
banyak unsur konstruktif supaya pembelajaran terlaksana dengan optimal.Sejumlah pakar
kurikulum berpendapat bahwa jantung pendidikan berada pada kurikulum.Baik dan buruknya
hasil pendidikan ditentukan oleh kurikulum.
Membahas mengenai kurikulum, tentu semua pihak sepakat bahwa soal kebijakan
yangg sangat strategis karena semua perubahan kurikulum yangg terjadi di Indonesia
merupakan rancangan pembelajaran yangg memiliki kedudukan yangg sangat strategis dalam
keseluruhan kegiatan pembelajaran yangg akan menentukan proses dan hasil sebuah
pendidikan yangg dilakukan.

Dalam hal ini sekolah sebagai pelaksana pendidikan sangat berkepentingan menjadi
lahan utama. Darii semua pihak baik itu orang tua, masyarakat dan semua pihak yangg terkait
dengaan perubahan-perubahan kurikulum itu. Oleh karena itu perubahan kurikulum itu harus
disikapi secara positif dengaan mengkaji dan memahami implementasinya di sekolah.
Keberhasilan implementasi kurikulum ini juga dipengaruhi oleh kemampuan guru terutama
berkaitan dengaan pengetahuan.

1.1 Rumusan Masalah


1. Hal apa saja yang dilakukan profesionalisasi dalam mengimplementasikan pengembangan
kurikulum yang ada disekolah?
2. Bagaimana seorang profesionalisasi, mengimplementasikan dalam pengembangan
kurikulum kepada peserta didik?

1.2 Tujuan Penulis


Berdasarkan permasalahan diatas, tujuan penulis dalam pembuatan makalah
ini,agar para pembaca dapat memahami hal apa saja yang menyangkut keprofesional, pengim
plemantasikan terhadap pengembangan kurikullum yang ada.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Analisis Tujuan (Nas., Tingkat Satuan Pend., Kelas, KI, SK)

Contoh Perumusan Kompetensi


Dasar Dari Kompetensi Inti untuk
PPKN Kelas I SD

Kompetensi Inti Kompetensi Inti Kelas Rumusan


Kompetensi Dasar
Usulan
1. Menerima dan 1 Menjelaskan perbedaan jenis 1.Menerima
menjalankan ajaran kelamin, agama, dan suku bangsa keberagaman
agama yang dianutnya 2 Memberikan contoh hidup rukun karakteristik
melalui kegiatan di rumah dan di individu (agama,
sekolah suku, fisik, psikis)
3 Menerapkan hidup rukun di rumah sebagai anugerah
dan di sekolah Tuhan
4 Menjelaskan pentingnya tata tertib di
rumah dan disekolah 1 Menunjukkan
5 Melaksanakan tata tertib di rumah perilaku baik
dan di sekolah (jujur, disiplin,
6 Menjelaskan hak anak untuk tanggung jawab,
bermain, belajar dengan gembira dan santun,
didengar pendapatnya peduli/kasih
7 Melaksanakan hak anak di rumah dan sayang, dan
disekolah percaya diri)
8 Mengikuti tata tertib dirumah dan di dalam
sekolah berinteraksi
9 Melaksanakan aturan yang berlaku di dengan keluarga,
masyarakat teman, dan guru,
sebagai
perwujudan nilai

2
dan moral
Pancasila.
2 Memiliki sikap
dan perilaku patuh
pada tata tertib dan
aturan yang berlaku
dalam kehidupan
sehari-hari di
rumah dan sekolah
3 Memiliki sikap
toleran terhadap
keberagaman
karakteristik
individu (agama,
suku, fisik, psikis)
di rumah dan
sekolah
4.Menunjukkan
perilaku
kebersamaan dalam
keberagaman
dirumah dan
sekolah

1.Menyajikan
contoh
kebersamaan dalam
keberagaman
karakteristik
individu di rumah
dan sekolah melalui
permainan
2 Menyajikan

3
Pancasila dan
simbol-simbol sila
Pancasila melalui
lagu, cerita,
gambar, dan/atau
permainan

2 Memiliki perilaku jujur,


disiplin, tanggung jawab,
santun, peduli, dan percaya
diri dalam berinteraksi
dengan keluarga, teman,
dan guru
3 Memahami pengetahuan
factual dengan cara
mengamati (mendengar,
melihat, membaca) dan
menanya berdasarkan rasa
ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan
dan kegiatannya, dan
benda-benda yang
dijumpainya dirumah dan
di sekolah
4 Menyajikan pengetahuan
factual dalam bahasa yang
jelas dan logis, dalam
karya yang estetis, dalam

4
gerakan yang
mencerminkan anak sehat,
dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku
anak bermain dan
berakhlak mulia

Contoh Penurunan Kompetensi dan SKL untuk Kelas 1 SD


Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kelas
Memiliki [melalui menerima, menjalankan, Menerima dan menjalankan ajaran
menghargai, menghayati, mengamalkan] perilaku agama dan kepercayaan yang
yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak dianutnya.
mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam Memiliki perilaku jujur, disiplin,
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial tanggung jawab, santun, peduli, dan
dan alam, di sekitar rumah, sekolah, dan tempat percaya diri dalam berinteraksi
bermain dengan keluarga, teman, dan guru

Memiliki [melalui, mengamati, menanya, mencoba, Menyajikan pengetahuan factual


mengolah, menyaji, menalar, mencipta] kemampuan dalam bahasa yang jelas dan logis,
pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah dalam karya yang estetis, dalam
abstrak dan konkret sesuai dengan yang ditugaskan gerakan yang mencerminkan anak
kepadanya sehat, dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku anak
Memiliki [melalui mengetahui, memahami, beriman dan berakhlak mulia
menerapkan, menganalisis, mengevaluasi]
pengetahuan factual dan konseptual dalam ilmu Memahami pengetahuan factual
pengetahuan, teknologi, seni, budaya dengan dengan cara mengamati berdasarkan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, rasa ingin tahu tentang dirinya,
dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di makhluk ciptaan Tuhan dan
lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain. kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah dan disekolah

5
Kompetensi Inti SMA dan SMK

X XI XII
SMA: SMA: SMA:
Mengolah, menalar, dan Mengolah, menalar, dan menyaji Mengolah, menalar,
menyaji dalam ranah konkret dalam ranah konkret dan ranah menyaji, dan
dan ranah abstrak terkait abstrak terkait dengan mencipta dalam
dengan pengembangan dari pengembangan dari yang ranah konkret dan
yang dipelajarinya di sekolah dipelajarinya di sekolah secara ranah abstrak terkait
secara mandiri, dan mampu mandiri, bertindak secara efektif dengan
menggunakan metode sesuai dan kreatif, serta mampu pengembangan dari
kaidah keilmuan menggunakan metode sesuai yang dipelajarinya di
kaidah keilmuan sekolah secara
mandiri serta
bertindak secara
efektif dan kreatif,
dan mampu
menggunakan
metode sesuai
kaidah keilmuan
SMK: SMA: SMK:
Mengolah, menalar, dan SMK: Mengolah, menyaji,
menyaji dalam ranah konkret Mengolah, menyaji, dan menalar menalar, dan
dan ranah abstrak terkait dalam ranah konkret dan ranah mencipta dalam
dengan pengembangan dari abstrak terkait dengan ranah konkret dan
yang dipelajarinya di sekolah pengembangan dari yang ranah abstrak terkait
secara mandiri, dan mampu dipelajarinya di sekolah secara dengan
melaksanakan tugas spesifik mandiri, bertindak secara efektif pengembangan dari
di bawah pengawasan dan kreatif, dan mampu yang dipelajarinya di
langsung melaksanakan tugas spesifik di sekolah secara
bawah pengawasan langsung mandiri, dan mampu
melaksanakan tugas
spesifik di bawah

6
pengawasan
langsung

Kelas
I II III IV V VI
1.) Men 2.) Meneri 3.) Meneri 4.) Menerima 5.) Mene 6.) Me
erim ma dan ma dan dan rima dan nerima
a menjalankan menjalankan menjalankan menjalanka dan
dan ajaran ajaran ajaran agama n ajaran menjalan
menj agama yang agama yang yang agama kan
alan dianutnya dianutnya. dianutnya. yang ajaran
kan dianutnya. agama
ajara yang
n dianutny
aga a.
ma
yang
dian
utny
a
7.) Men 8.) Meneri 9.) Menerima 10.) Menerim 11.) 12.)
M Men
erim ma dan dan a dan enerima dan erima
a menjalankan menjalanka menjalankan menjalanka dan
dan ajaran n ajaran ajaran agama n ajaran menjalan
menj agama yang agama yang yang agama yang kan
alan dianutnya dianutnya dianutnya dianutnya ajaran
kan agama
ajara yang
n dianutny
aga a
ma
yang
dian
utny
a
13.) M 14.) Menunj Menunjukkan Menunjukkan Menunjukkan Menunjuk
emili ukkan perilaku jujur, perilaku jujur, perilaku kan
ki perilaku disiplin, disiplin, jujur, perilaku
peril jujur, tanggung tanggung jawab, disiplin, jujur,
aku disiplin, jawab, santun, santun, peduli, tanggung disiplin,
jujur tanggung peduli, dan dan percayadiri jawab, tanggung
, jawab, percayadiri dalam santun, jawab,
disip santun, dalam berinteraksi peduli, dan santun,
lin, peduli, dan berinteraksi dengan percayadiri peduli,
tang percayadiri dengan keluarga, teman, dalam dan
gung dalam keluarga, dan guru, dan berinteraksi percayadir

7
jawa berinteraksi teman, dan tetangganya dengan i dalam
b, dengan guru. serta cinta tanah keluarga, berinterak
santu keluarga, air. teman, dan si dengan
n, teman, dan guru, dan keluarga,
pedu guru. tetangganya teman, dan
li, serta cinta guru, dan
dan tanah air. tetanggany
perc a serta
aya cinta tanah
diri air.
dala
m
berin
terak
si
deng
an
kelu
arga,
tema
n,
dan
guru.
15.) M 16.) Memah 17.) Memah 18.) Memaha 19.) Mema 20.) Me
emah ami ami mi hami mahami
ami pengetahuan pengetahuan pengetahuan pengetahua pengeta
peng factual factual factual n factual huan
etahu dengan cara dengan cara dengan cara dan factual
an mengamati mengamati mengamati konseptual dan
factu (mendengar, (mendengar, (mendengar, dengan konsept
al melihat, melihat, melihat, cara ual
deng membaca) membaca) membaca) mengamati dengan
an dan dan dan menanya (mendenga cara
cara menanya menanya berdasarkan r, melihat, menga
men berdasarkan berdasarkan rasa ingin membaca) mati
gama rasa ingin rasa ingin tahu tentang dan (mende
ti tahu tentang tahu tentang dirinya menanya ngar,
(men dirinya dirinya makhluk berdasarka melihat,
deng makhluk makhluk ciptaan tuhan n rasa memba
ar, ciptaan ciptaan dan ingin tahu ca) dan
meli tuhan dan tuhan dan kegiatannya,d tentang menany
hat, kegiatannya, kegiatannya, an benda- dirinya a
mem dan benda- dan benda- benda yang makhluk berdasa
baca) benda yang benda yang dijumpainnya ciptaan rkan
dan dijumpainny dijumpainny di rumah dan tuhan dan rasa
mena a di rumah a di rumah di sekolah kegiatanny ingin
nya dan di dan di dan tempat a,dan tahu
berd sekolah. sekolah. bermain benda- tentang
asark benda yang dirinya
an dijumpainn makhlu

8
rasa ya di k
ingin rumah dan ciptaan
tahu di sekolah tuhan
tenta dan tempat dan
ng bermain kegiata
dirin nnya,da
ya n
mak benda-
hluk benda
cipta yang
an dijumpa
tuha innya di
n rumah
dan dan di
kegia sekolah
tann dan
ya,da tempat
n bermain
bend
a-
bend
a
yang
diju
mpai
nnya
di
ruma
h
dan
di
sekol
ah.

Kompetensi Inti SMP

Kelas
VII VIII IX
 Menerima dan  Menerima dan  Menerima dan mengamalkan
mengamalkan mengamalkan ajaran ajaran agama yang dianutnya serta
ajaran agama yang agama yang dianutnya menghargai penganut agama lain.
dianutnya serta serta menghargai
menghargai penganut agama lain.
penganut agama
lain.

9
 Menunjukkan  Menunjukkan perilaku  Menunjukkan perilaku jujur,
perilaku jujur, jujur, disiplin, disiplin, tanggung jawab, santun,
disiplin, tanggung tanggung jawab, peduli, percaya diri, cinta tanah air,
jawab, santun, santun, peduli, percaya semangat kebangsaan, mandiri,
peduli, percaya diri, diri, cinta tanah air, kerjasama dan kreatif dalam
cinta tanah air, semangat kebangsaan, berinteraksi dengan kelompok
semangat mandiri, kerjasama dan sebaya dan masyarakat lingkungan
kebangsaan, kreatif dalam sekitar.
mandiri, kerjasama berinteraksi dengan
dan kreatif dalam kelompok sebaya dan
berinteraksi dengan masyarakat lingkungan
kelompok sebaya sekitar.
dan masyarakat
lingkungan sekitar.
 Memahami  Memahami  Memahami pengetahuan factual,
pengetahuan factual, pengetahuan factual, konseptual dan prosedural dengan
konseptual dan konseptual dan cara mengamati, mengaitkan,
prosedural dengan prosedural dengan cara mempertanyakan, menalar induktif,
cara mengamati, mengamati, dan mencoba berdasarkan rasa
mengaitkan, mengaitkan, ingin tahu tentang dirinya,
mempertanyakan, mempertanyakan, lingkungan alam dan sosial yang
menalar induktif, menalar induktif, dan terkait fenomenadan kejadian yang
dan mencoba mencoba berdasarkan tampak mata.
berdasarkan rasa rasa ingin tahu tentang
ingin tahu tentang dirinya, lingkungan
dirinya, lingkungan alam dan sosial yang
alam dan sosial yang terkait fenomenadan
terkait fenomenadan kejadian yang tampak
kejadian yang mata.
tampak mata.
 Menemukan,  Menemukan,  Menemukan, menerapkan, dan
menerapkan, dan menerapkan, dan menyajikan: pengetahuan factual,
menyajikan: menyajikan: konseptual, dan procedural secara

10
pengetahuan factual, pengetahuan factual, logis, sistematis, dan kritis,seni
konseptual, dan konseptual, dan yang menggambarkan keindahan,
procedural secara procedural secara logis, karya yang kreatif, dan
logis, sistematis, dan sistematis, dan tindakan/gerakanyang
kritis,seni yang kritis,seni yang mencerminkan perilaku hidup
menggambarkan menggambarkan sehat.
keindahan, karya keindahan, karya yang
yang kreatif, dan kreatif, dan
tindakan/gerakanyan tindakan/gerakanyang
g mencerminkan mencerminkan perilaku
perilaku hidup sehat. hidup sehat.
Rumusan Kompetensi Inti Pendidikan Menengah

Kompetensi inti kelas


X XI XII
a) Menghayati dan b) Menghayati dan c) Menghayati dan
mengamalkan ajaran mengamalkan ajaran mengamalkan ajaran agama yang
agama yang agama yang dianutnya, dianutnya, Mengembangkan
dianutnya, Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung
Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, jawab, peduli, santun, ramah
perilaku (jujur, tanggung jawab, peduli, lingkugan, gotong royong,
disiplin, tanggung santun, ramah kerjasama, cinta damai,
jawab, peduli, santun, lingkugan, gotong responsive dan pro-aktif) dan
ramah lingkugan, royong, kerjasama, menunjukkan sikap sebagai
gotong royong, cinta damai, responsive bagian dari solusi atas berbagai
kerjasama, cinta dan pro-aktif) dan permasalahan bangsa, serta
damai, responsive dan menunjukkan sikap memosisikan diri sebagai agen
pro-aktif) dan sebagai bagian dari transformasi masyarakat dalam
menunjukkan sikap solusi atas berbagai membangun peradaban bangsa
sebagai bagian dari permasalahan bangsa dan dunia.
solusi atas berbagai dalam berinteraksi
permasalahan bangsa secara efektif dengan
dalam berinteraksi lingkungan sosial
secara efektif dengan danalam serta dalam

11
lingkungan sosial menempatkan diri
danalam serta dalam sebagai cerminan
menempatkan diri bangsa dalam
sebagai cerminan pergaulan dunia.
bangsa dalam
pergaulan dunia.
SMA: SMA: SMA:
Memahami, Memahami, menerapkan, Memahami, menerapkan, dan
menerapkan, dan dan menjelaskan menjelaskan pengetahuan faktual,
menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, metakognitif ,dalam ilmu
konseptual, prosedural, dan metakognitif ,dalam pengetahuan. teknologi, seni,
dalam ilmu ilmu pengetahuan. udaya, dan humaniora dengan
pengetahuan. teknologi, teknologi, seni, budaya, wawasan kemanusiaan,
seni, budaya, dan dan humaniora dengan kebangsaan, kenegaraan, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, peradaban terkait penyebab
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, fenomena dan kejadian, serta
kebangsaan, dan peradaban terkait menerapkan pengetahuan
kenegaraan, dan penyebab fenomena dan prosedural pada bidang kajian yang
peradaban terkait kejadian, serta spesifik sesuai dengan bakat dan
penyebab fenomena dan menerapkan pengetahuan minatnya untuk memecahkan
kejadian, serta prosedural pada bidang masalah.
menerapkan kajian yang spesifik sesuai
pengetahuan prosedural dengan bakat dan
pada bidang kajian minatnya untuk
gang spesifik sesuai memecahkan masalah.
dengan bakat dan
minatnya untuk
memecahkan masalah.

SMK: SMK: SMK:


Memahami dan Memahami dan Memahami dan menerapkan
menerapkan menerapkan pengetahuan pengetahuan faktual, konseptual,

12
pengetahuan faktual, faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam
konseptual, dan prosedural, dan ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
prosedural dalam ilmu metakognitif dalam ilmu budaya, dan humaniora dengan
pengetahuan, teknologi, pengetahuan, teknologi, wawasan kemanusiaan,
seni, budaya, dan seni, budaya, dan kebangsaan, kenegaraan, dan
humaniora dengan humaniora dengan peradaban terkait penyebab
wawasan kemanusiaan, wawasan kemanusiaan, fenomena dan kejadian dalam
kebangsaan, kebangsaan, kenegaraan, bidang kerja yang spesifik untuk
kenegaraan, dan dan peradaban terkait memecahkan masalah.
peradaban terkait penyebab fenomena dan
penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang
kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk
kerja yan spesifik untuk memecahkan masalah.
memecahkan masalah.

2.1.1 Prosedur Penyusunan Kompetensi Dasar Baru

Dalam menyusun kompetensi dasar yang baru dilakukan dengan langkah-langkah


sebagai berikut:

1. Menyusun kompetensi lulusan yang baru.


2. Mengevaluasi standar kompetensi dan kompetensi dasar lama setiap mata pelajaran dan
setiap kelas.
3. Berdasarkan hasil evaluasi, standar kompetensi dan Kompetensi dasar lama yang sesuai
dengan Standar Kompetensi Lulusan yang baru dipertahankan.
4. Merevisi standar kompetensi dan kompetensi dasar lama disesuaikan dengan standar
kompetensi lulusan yang baru.
5. Menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar yang baru.
6. Menyusun kompetensi mata pelajaran setiap kelas besumber dari kompetensi inti dan
kompetensi dasar yang baru (Hidayat.2013:142-146).

2.2 Indikator Pencampaian Kompetensi


Untuk menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas harus dimulai dengan
perencanaan pembelajaran yang berkualitas pula. Kenyataan di lapangan menunjukkan

13
bahwa masih banyak guru ketika menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) belum
memahami dengan baik cara merumuskan indikator pencapaian kompetensi padahal
komponen tersebut sangat penting dan merupakan target kemampuan yang harus dikuasai
peserta didik secara individu dan merupakan tolok ukur ketercapaian kompetensi dasar dari
materi pelajaran.
Hasil analisis dari beberapa RPP peserta diklat Kurikulum 2013 menunjukkan bahwa
indikator yang dirumuskan dalam RPP hanya mengulang bunyi/teks dari Kompetensi Dasar
sehingga formulasi yang tersusun bukanlah indikator karena tidak menggunakan kata kerja
operasional sesuai tingkat kompetensi dan tidak menunjukkan adanya perilaku yang dapat
diukur atau diobservasi. Rangkuman hasil analisis RPP menunjukkan perumusan indikator
tingkat penguasaan peserta diklat berada pada kategori buruk.

Dalam perumusan indikator diharapkan setiap kompetensi dasar dikembangkan


sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator. Namun masih banyak guru yang
mengembangkan indikator hanya dua atau satu indikator saja bahkan sering ditemukan RPP
yang disusun guru hanya menampilkan KD dan tujuan pembelajaran tanpa indikator
pembelajaran padahal kita pahami bersama bahwa target pencapaian indikator
bersifatindividu sedangkan tujuan pembelajaran target pencapaiannya bersifat klasikal.

Mencermati uraian di atas, maka rumusan masalah yang ditetapkan dalam tulisan ini
adalah: (1) apakah kompetensi dasar itu?; (2) apakah rumusan indikator itu?; (2) bagaimana
cara merumuskan indikator?.
Berdasarkan rumusan masalah dalam tulisan ini, maka dapat diketahui tujuan
penulisan adalah untuk memberikan informasi secara teoritis kepada guru tentang konsep
kompetensi dasar, konsep rumusan indikator, dan cara perumusan indikator yang dapat
menunjang pencapai kompetensi dasar secara individu peserta didik.
Manfaat yang dapat diperoleh dari tulisan ini adalah: (1) bagi guru sebagai salah satu
acuan dalam perumusan indikator; (2) bagi satuan pendidikan sebagai informasi dan masukan
untuk menjadi langkah pembinaan guru dalam perumusan indikator sesuai tingkatan
kompetensi, menggunakan kata operasional yang tepat, bersifat terukur, dapat diobservasi,
dan menjadi acuan penilaian kompetensi peserta didik; (3) bagi peserta didik mendapat
layanan dan pengalaman mengajar yang dapat mendukung ketercapaian kompetensi dasar
setiap mata pelajaran.

2.2.1 Konsep Kompetensi Dasar

14
Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk berpikir, berbuat, dan bersikap
secara konsisten.Seluruh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipelajari harus
berwujud dalam bentuk pikiran, perbuatan, dan perilaku yang relatif bertahan lama.Ada dua
ciri kompetensi yaitu keteramatan dan kebertahanan.

Kompetensi berkaitan dengan apa yang seseorang bisa lakukan, dan bukan hanya apa
yang telah mereka ketahui. Implikasinya adalah kompetensi terkait dengan apa yang
dilakukan harus memiliki konteks, kompetensi adalah suatu hasil yang menjelaskan apa yang
dapat dilakukan oleh seseorang, mengukur kompetensi harus jelas kinerja yang diukur dan
ada standarisasi, dan pengukuran terhadap apa yang biasdilakukan seseorang dapat dilakukan
dalam suatu waktu tertentu.Dalam Kurikulum 2013 yang dimaksud kompetensi adalah
seperangkat sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai
oleh peserta didik setelah mempelajari suatu muatan pembelajaran, menamatkan suatu
program, atau menyelesaikan suatu pendidikan tertentu.

Untuk memahami lebih jauh mengenai Kompetensi Dasar terlebih dahulu kita perlu
mengetahui hierarki kompetensi di Kurikulum 2013 meliputi Standar Kompetensi Lulusan
(SKL), Kompetensi Inti (KI), dan Kompetensi Dasar (KD).

SKL adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar
isi, standar proses,standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan,
standar sarana prasarana, standar pengelolaan dan standar pembiayaan.

Kompetensi Inti merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai SKL yang harus
dimiliki peserta didik pada setiap tingkatan kelas yang menjadi landasan pengembangan KD.
KI mencakup : sikap spritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang berfungsi
sebagai pengintegrasi muatan pembelajaran, mata pelajaran atau program dalam mencapai
SKL. Kompetensi Inti meningkat seiring dengan meningkatnya usia peserta didik yang
dinyatakan dengan meningkatnya kelas. KI bukan untuk diajarkan melainkan untuk dibentuk
melalui pembelajaran berbagai kompetensi dasar dari sejumlah mata pelajaran yang
relevan.Tiap mata pelajaran harus tunduk pada KI yang telah dirumuskan. Dengan kata lain
semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkonstribusi
terhadap pembentukan KI.

15
Kompetensi Inti adalah pengikat berbagai kompetensi yang harus dihasilkan dengan
mempelajari tiap mata pelajaran serta berfungsi sebagai integrator horizontal antar mata
pelajaran.Dengan pengertian ini kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran kerena
tidak mewakilimata pelajaran tertentu.Kompetensi inti menyatakan kebutuhan kompetensi
peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi.Dengan demikian
kompetensi inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasian (organising element) kompetensi
dasar.Sebagai unsur pengorganisasi kompetensi inti merupakan pengikat untuk organisasi
vertikal dan organisasi horizontal kompetensi dasar. Rumusan Komptensi Inti dalam
kurikulum 2013 menggunakan notasi: KI-1 untuk kompetensi Inti spritual, KI-2 untuk
kompetensi inti sikap sosial, KI-3 untuk kompetensi inti pengetahua, KI-4 untuk kompetensi
inti keterampilan

Kompetensi Dasaradalah kemampuan untuk mencapai kompetensi Inti yang harus


diperoleh peserta didik melalui pembelajaran yang mencakup sikap spritual, sikap sosial,
pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan dalam konteks muatan pembelajaran,
pengalaman belajar, mata pelajaran sesuai dengan KI. Dalam mendukung KI, capaian
pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi kompetensi-kompetensi dasar.Pencapaian KI
adalah melalui pembelajaran KD yang disampaikan melalui mata pelajaran.Rumusannya
dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta
ciri dari suatu mata pelajaran.

Menurut Permendiknas No.41 Tahun 2007 tentang Standar Proses,


disebutkan.Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan minimum yang harus dikuasai
peserta didik untuk standar kompetensi tertentu dan digunakan sebagai rujukan penyusunan
indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat
diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang
menjadi acuan penilaian mata pelajaran, dirumuskan dengan kata kerja operasional yang
dapat diamati dan diukur, mencakup pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.

Kompetensi Dasar (KD) dibutuhkan untuk mendukung pencapaian SKL dan


KI.Selain itu kompetensi dasar diorganisisr ke dalam berbagai mata pelajaran yang pada
gilirannya berfungsi sebagai sumberkompetensi.Mata pelajaran yang digunakan sebagai
sumber kompetensi tersebut harus mengacu pada ketentuan yang tercantum pada Undang-
undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, khususnya ketentuan pada pasal
37.Selain jenis mata pelajaran yang diperlukan untuk membentuk kompetensi, juga

16
diperlukan beban belajar perminggu dan persemester atau pertahun.Beban belajar ini
kemudian didistribusikan ke berbagai mata pelajaran sesuai dengan tuntutan kompetensi yang
diharapkan dapat dihasilkan oleh tiap mata pelajaran.

Sebagai pendukung pencapaian Kopetensi Inti, KD dikelompokkan menjadi 4 (empat)


sesuai dengan rumusan Kompetensi Inti yang didukungnya yaitu:

a) Kelompok KD sikap spritual (mendukung KI-1)


b) Kelompok KD sikap sosial (mendukung KI-2)
c) Kelompok KD pengetahuan (mendukung KI-3)
d) Kelompok KD keterampilan (mendukung KI-4)
Uraian KD yang rinci ini adalah untuk memastikan bahwa capaian pembelajaran tidak
berhenti sampai pada pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan, dan
bermuara pada sikap. Melalui KI tiap mata pelajaran ditekankan bukan hanya memuat
kandungan pengetahuan saja, tetapi juga memuat kandungan proses yang berguna bagi
pembentukan keterampilannya. Selain itu juga memuat pesan tentang pentingnya memahami
mata pelajaran tersebut sebagai bagian dari pembentukan sikap.Hal ini penting mengingat
kompetensi pengetahuan sifatnya dinamis karena pengetahuan masih selalu berkembang.
Kemampuan keterampilan akan bertahan lebih lama dari kompetensi pengetahuan, sedangkan
yang akan terus melekat pada dan akan dibutuhkan oleh peserta didik adalah sikap.
Kompetensi dasar dalam kelompok Kompetensi Inti sikap (KI-1 dan KI -2 ) bukanlah
untuk peserta didik karena kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihafalkan dan tidak
diujikan, tetapi sebagai pengangan bagi pendidik bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran
tersebut ada pesan-pesan spritual dan sosial sangat penting yang terkandung dalam materinya.
Dengan kata lain , KD yang berkenaan dengan sikap spritual (mendukung KI-1) dan
individual- sosial (mendukung KI-2) dikembangkan secara inderect teaching (tidak langsung)
yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (mendukung KI-3) dan
keterampilan (mendukung KI-4). Hal ini diuraikan dalam lampiran 4 Permendikbud No. 81 A
tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013.Untuk memastikan keberlanjutan
penguasaan kompetensi, proses pembelajaran dimulai dari komptensi pengetahuan, kemudian
dilanjutkan menjadi kompetensi keterampilan dan berakhir pada pembentukan sikap.

2.2.2 Konsep Rumusan Indikator


Dalam Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses, Indikator
kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan

17
ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran.
Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional
yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Panduan Pengembangan Indikator (Kemendiknas, 2010) menguraikan lebih lanjut
pengertian Indikator yang merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan
perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator
dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan,
potensi daerah dan dirumuskandalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat
diobservasi.
Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan: (1) tuntutan kompetensi
yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD; (2) karakteristik mata
pelajaran, peserta didik, dan sekolah; (3) potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat,
dan lingkungan/daerah. Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat
duarumusan indikator, yaitu: (1) Indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai
indikator; (2) Indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal
yang di kenal sebagai indikator soal.
Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan
pencapaian kompetensi berdasarkan KD. Indikator berfungsi sebagai berikut : (1) pedoman
dalam mengembangkan materi pembelajaran Pengembangan materi pembelajaran harus
sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat
memberikan arah dalam pengembangan materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan
karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan;
(2) pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran.Desain pembelajaran perlu dirancang
secara efektif agar kompetensi dapat dicapai secara maksimal.Pengembangan desain
pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang dikembangkan, karena indikator dapat
memberikan gambaran kegiatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai
kompetensi.Indikator yang menuntut kompetensi dominan pada aspek prosedural
menunjukkan agar kegiatan pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori
melainkan lebih tepat dengan strategi discovery-inquiry; (3) pedoman dalam
mengembangkan bahan ajar.Bahan ajar perlu dikembangkan oleh guru guna menunjang
pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan
indikator sehingga dapat meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal; (4)
pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar Indikator menjadi
pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil belajar, Rancangan

18
penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis penilaian, serta
pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada
indikator pencapaian yang dikembangkan.
2.2.3 Cara Perumusan Indikator
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja
operasional.Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat
kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.
Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi
dalam KD.Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan
standar secara nasional.Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang
digunakan dalam KD.Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat
pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan
lebih rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan
tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan.Klasifikasi tingkat kompetensi untuk 3
ranah dapat dilihat secara rinci di Taksonomi Bloom.
Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
(1) setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator; (2) keseluruhan
indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan
dalam KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat
dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta
didik; (3) indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi; (4)
rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan
materi pembelajaran; (5) indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran
sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai; (6) rumusan indikator dapat
dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah sikap,
pengetahuan, dan keterampilan(Dawi, N.2015: 2-9).

Indikator mempunyai peranan yang sangat penting dalam rancangan persiapan


pembelajaran karena proses belajar mengajar yang baik harus direncanakan dengan baik pula.
Pengembangan indikator yang baik akan mengukur kompetensi dasar dan standar kompetensi
yang dikehendakai oleh kurikukulum di sekolah karena indikator merupakan penanda
pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perilaku siswa yang terukur mencakup
sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakter peserta

19
didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja
operasional yang terukur dan atau dapat diobservasi.
Indikator dalam Pencapaian Kompetensi, Indikator merupakan penanda pencapaian
KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta
didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja
operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Pengembangan indikator
mempertimbangkan (1) tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang
digunakan dalam KD, (2) karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah, dan (3)
potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/daerah.
Pengembangan pembelajaran dan penilaian ada dua rumusan indikator, yaitu
Indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator dan Indikator penilaian yang
digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang dikenal sebagai indikator soal.
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja
operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat
kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi. Indikator memiliki
kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan
SK-KD karena indikator sebagai pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran.
Pengembangan materi pembelajaran sesuai dengan indikator yang dikembangkan.
Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan
materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi dan
kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan, dan sebagai pedoman dalam mendesain
kegiatan pembelajaran.
Desain pembelajaran perlu dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai
secara maksimal. Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator
yang dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan pembelajaran
yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut kompetensi dominan pada
aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi
ekspositori, melainkan lebih tepat dengan strategi discoveryinquiry.
Fungsi lain dari indikator adalah sebagai pedoman dalam merancang dan
melaksanakan penilaian hasil belajar. Indikator menjadi pedoman dalam merancang,
melaksanakan, serta mengevaluasi hasil belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan
dalam menentukan bentuk dan jenis penilaian, serta pengembangan indikator penilaian.

20
Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian yang
dikembangkan sesuai dengan tuntutan SK dan KD.
Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi
dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang
dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar
minimal tersebut. Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang
digunakan dalam SK dan KD.
Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan,
tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari
pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi
paling tinggi yang diinginkan. Klasifikasi tingkat kompetensi berdasarkan kata kerja yang
digunakan adalah Berhubungan dengan mencari keterangan (dealing with retrieval),
Memproses (processing), Menerapkan dan mengevaluasi. Selain tingkat kompetensi,
penggunaan kata kerja menunjukan penekanan aspek yang diinginkan, mencakup sikap,
pengetahuan, serta keterampilan.
Pengembangan indikator harus mengakomodasi kompetensi sesuai tendensi yang
digunakan SK dan KD. Jika aspek keterampilan lebih menonjol, maka indikator yang
dirumuskan harus mencapai kemampuan keterampilan yang diinginkan. Klasifikasi kata kerja
berdasarkan aspek kognitif adalah tingkat pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis,
sintesis, dan penilaian. Pada ranah afektif menggunakan kata kerja operasional yang meliputi
tingkatan menerima, menanggapi, menilai, mengelola, dan menghayati. Ranah psikomotorik
memiliki tingkatan menirukan, memanipulasi, pengalamiahan, dan artikulasi. Pada masing-
masing tingkatan baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik memilki bentuk
kata kerja operasional tersendiri yang terukur dan teramati.
Pengembangkan indikator memerlukan informasi karakteristik peserta didik yang
unik dan beragam. Peserta didik memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya belajar.
Oleh karena itu indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman tersebut. Peserta
didik dengan karakteristik unik visual-verbal atau psiko-kinestetik selayaknya diakomodir
dengan penilaian yang sesuai sehingga kompetensi siswa dapat terukur secara proporsional.
a. Menganalisis Kebutuhan dan Potensi
Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk
dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Penyelenggaraan
pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta
mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan

21
sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya.
Indikator dikembangkan guna peningkatan mutu sekolah di masa yang akan datang sehingga
diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah yang berguna untuk mengembangkan
kurikulum melalui pengembangan indikator.
b. Merumuskan Indikator
Perumusan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan (1) setiap KD
dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator, (2) keseluruhan indikator
memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK
dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan
melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik, (3)
indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi, (4) rumusan
indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi
pembelajaran, (5) indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga
menggunakan kata kerja operasional yang sesuai, dan (6) rumusan indikator dapat
dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif,
dan/atau psikomotorik.
c. Mengembangkan Indikator Penilaian
Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator (indikator
pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman
penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah. Dengan demikian indikator
penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap
penilaian yang dilakukan melalui tes dan nontes harus sesuai dengan indikator penilaian.
Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator
(indikator pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan
tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal,
lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri
(Hartini, S : 198-205).

2.3 Pengembangan Bahan Ajar, LKS dan Media


2.3.1 Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar atau teachingmaterial,
terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan. Melaksanakan
pembelajaran (teaching) diartikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu
lingkungan belajar

22
yang efektif.
Menurut Majid (2007:174) bahan ajar adalah segala bentuk bahan, informasi, alat dan
teks yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar adalah merupakan
seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/ suasana
yang memungkinkan siswa untuk
belajar.
Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila seorang guru atau dosen
mengembangkan bahan ajar sendiri, yakni antara lain; pertama, diperoleh bahan ajar yang
sesuai dengan kebutuhan belajar siswa atau mahasiswa, kedua, tidak lagi tergantung kepada
buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh, ketiga, bahan ajar menjadi labih kaya karena
dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi, keempat, menambah khasanah
pengetahuan dan pengalaman guru atau dosen dalam menulis bahan ajar, kelima, bahan ajar
akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru/dosen dengan
siswa/mahasiswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada guru atau dosennya.
Adapun bahan ajar berfungsi sebagai berikut: 1) Pedoman bagi pengajar yang akan
mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran. 2) Pedoman bagi siswa atau
mahasiswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran. 3)
Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam pengembangan bahan ajar. Prosedur
itu meliputi: 1) memahami standar isi dan standar kompetensi lulusan, silabus, program
semeter, dan rencana pelaksanaan pembelajaran, 2) mengidentifikasi jenis materi
pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap poin pertama, 3) melakukan pemetaan
materi, 4) menetapkan bentuk penyajian, 5) menyusun struktur (kerangka) penyajian, 6)
membaca buku sumber, 7) mendraf (memburam) bahan ajar, 8) merevisi (menyunting) bahan
ajar, 9) mengujicobakan bahan ajar, dan 10) merevisi dan menulis akhir (finalisasi).
Adapun alur penyusunan bahan ajar dapat dilakukan dengan langkah seperti pada
gambar 1. Perubahan kurikulum menjadi kurikulum 2013 didasari oleh (Sumber: Bahan
Sosialisasi Kurikulum 2013 Kemendikbud) : (1) Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014, (2) Sektor Pendidikan ,(3) INPRES NOMOR 1
TAHUN 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional:
Penyempurnaan Kurikulum dan Metode Pembelajaran Aktif Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya
bangsa Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Pemberlakuan Kurikulum 2013
juga ingin menyempurnakan tujuan yang ingin dicapai.

23
Analisis Penyusunan Bahan Ajar

(Zukhaira. 2014: 83-84).

Isi Kurikulum/Bahan Ajar.Isi program kurikulum atau bahan ajar adalah segala
sesuatu yang ditawarkan kepada siswa sebagai pemelajar dalam kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan.Isi kurikulum meliputi mata-mata pelajaran yang harus dipelajari siswa dan
isi program masing-masing mata pelajaran tersebut. Jenis-jenis mata pelajaran ditentukan atas
dasar tujuan institusional atau tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan
(sekolah/madrasah/pondok pesantren dan lembaga pendidikan lain yang bersangkutan).

Mata-mata pelajaran yang yang berisi materi-materi pokok dan program yang
ditawarkan kepada siswa untuk dipelajari pada hakikatnya adalah isi kurikulum atau ada pula
yang menyebutnya dengan silabus.Dalam silabus terdapat tujuan kurikuler (standar
kompetensi), tujuan pembelajaran (kompetensi dasar), indikator dan materi
pokok/pembelajaran beserta uraiannya.Uraian materi pokok inilah yang dijadikan dasar
pengambilan dan penentuan materi ajar dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas oleh
guru.Penentuan pokok-pokok bahasan atau materi pokok didasarkan atas standar kompetensi
dan kompetensi dasar serta indikator.

24
Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi
materi ajar atau isi kurikulum antara lain:

1. Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
2. Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
3. Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
4. Isi kurikulum dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

Materi ajar pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun
dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topik-topik
pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
2. Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran.
3. Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Hilda Taba (1962) mengemukakan kriteria untuk memilih isi materi kurikulum, yaitu:

1. Materi harus sahih dan signifikan, artinya menggambarkan pengetahuan mutakhir.


2. Relevan dengan kenyataan sosial dan kultur agar anak lebih memahaminya.
3. Materi harus seimbang antara keluasan dan kedalaman.
4. Materi harus mencakup berbagai ragam tujuan.
5. Sesuai dengan kemampuan dan pengalaman peserta didik.
6. Materi harus sesuai kebutuhan dan minat peserta didik.

Pengembangan materi kurikulum harus berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Mengandung bahan kajian yang dapat dipelajari siswa dalam pembelajaran.


2. Berorientasi pada tujuan, sesuai dengan hierarki tujuan pendidikan.

Materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk:

1. Teori: seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan,
yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan
antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
2. Konsep: suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan,
merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.

25
3. Generalisasi: kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersmnber dari
analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
4. Prinsip: yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan
hubungan antara beberapa konsep.
5. Prosedur: yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus
dilakukan peserta didik.
6. Fakta: sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari
terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
7. Istilah: kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
8. Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau prosses yang bertujuan untuk memperjelas
suatu uraian atau pendapat.
9. Definisi: penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis
besarnya.
10. Preposisi: cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya
mencapai tujuan kurikulum (Hidayat.2013:62-63).

2.3.2 LKS
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran IPA khususnya Fisika, maka perlu
dikembangkan suatu pembelajaran IPA khususnya Kimia berbasis menemukan sendiri suatu
konsep dengan bekerjasama dan memecahkan masalah.Hal tersebut kemudian diwujudkan
melalui sebuah LKS.Media pembelajaran LKS ini melatih peserta didik untuk menemukan
sebuah konsep kimia, meningkatkan kompetensi bekerjasama dan memecahkan masalah,
juga mengembangkan keterampilan peserta didik.Percobaan atau praktikum merupakan
bagian terpenting dari IPA, hal ini dikarenakan IPA adalah ilmu alam yang didasarkan pada
penemuan berdasarkan gejala-gejala kimia pada kehidupan sehari-hari. Pengamatan di
sekolah menunjukkan kecenderungan proses pembelajaran dengan strategi/metode yang
kurang representatif dan mendukung pemenuhan kebutuhan keilmuan IPA.
Penyampaian informasi yang sarat dan dominan satu arah dari guru dengan
ceramah, sedikitnya kesempatan dan ruang bagi siswa untuk berinteraksi dengan objek dan
persoalan serta mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, LKS yang tidak
berfungsi optimal selain hanya untuk latihan soal-soal, adalah gambaran umum proses
pembelajaran IPA yang ada di sekolah. Belum lagi dengan tuntutan menuntaskan materi
pelajaran, memaksa guru untuk semakin mengenyampingkan proses pembelajaran IPA yang

26
ideal. Pencapaian hasil belajar siswa pun menjadi terbatas pada aspek pengetahuan (kognitif)
saja, tetapi belum banyak mengalami pengembangan aspek psikomotorik.
Berdasarkan paparan di atas, perlu adanya pengembangan media pembelajaran
LKS dengan meningkatkan kompetensi bekerjasama dan memecahkan masalah pada materi
IPA kimia. Karena ini merupakan cara, langkah-langkah, dan sarana pembelajaran untuk
peserta didik menginvestigasi secara langsung suatu konsep sampai menemukan suatu konsep
dengan meningkatkan kompetensi bekerjasama dan memecahkan masalah.
Untuk meningkatkan belajar siswa yang aktif maka dikembangkan media
pembelajaran LKS untuk membimbing siswa melakukan kegiatan praktikum.Pengembangan
LKS ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam bekerjasama dan
memecahkan masalah.Media pembelajaran LKS yang dikembangkan lebih menekankan pada
peningkatan kompetensi untuk bekerjasama dan memecahkan masalah. Kompetensi
bekerjasama dan memecahkan masalah penting untuk memudahkan siswa mencapai
pemahaman tentang persoalan dalam kehidupan sehari-hari, saling bertukar ide dan
menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari, dan menjelaskan suatu pemecahan
masalah dengan baik (Shoufika, 2017 :11-21).

2.3.3 Media

Dalam proses belajar mengajar, lima komponen yang sangat penting adalah tujuan,
materi, metode, media, dan evaluasi pembelajaran. Kelima aspek ini saling mempengaruhi.
Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan berdampak pada jenis media
pembelajaran yang sesuai, dengan tanpa melupakan tiga aspek penting lainnya yaitu tujuan,
materi, dan evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi
utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi,
motivasi, kondisi, dan lingkungan belajar. Pemakaian media pembelajaran dalam proses
belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, membangkitkan
motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh
psikologis terhadap pebelajar. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi
pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan
dan isi pelajaran pada saat itu.

Banyak ahli yang memberikan batasan tentang media pembelajaran.AECT misalnya,


mengatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk
menyalurkan pesan.Gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan

27
pebelajar yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Senada dengan itu, Briggs
mengartikan media sebagai alat untuk memberikan rangsangan bagi pebelajar agar terjadi
proses belajar. kalau saat ini kita mendengar kata media, hendaklah kata tersebut diartikan
dalarn pengertiannya, yaitu meliputi alat bantu pembelajar dalam mengajar serta sarana
pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar ( pebelajar ). Sebagai penyaji
dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu, bisa mewakili pembelajar
menyajikan informasi belajar kepada pebelajar

Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran.


Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan
proses pembelajaran secara menyeluruh. Akhir dari pemilihan media adalah penggunaaan
media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan pebelajar dapat
berinteraksi dengan media yang kita pilih. Jika kita telah menentukan alternatif media yang
akan kita gunakan dalam pembelajaran, selanjutnya sudah tersediakah media tersebut di
sekolah atau di pasaran? Jika sudah tersedia, maka kita tinggal meminjam atau membelinya
saja.Itupun jika media yang ada memang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah kita
rencanakan, dan terjangkau harganya.Jika media yang kita butuhkan temyata belum tersedia,
mau tak mau kita harus membuat sendiri program media sesuai keperluan tersebut.Pemilihan
media itu perlu kita lakukan agar dapat menentukan media yang terbaik, tepat dan sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk itu, pemilihan jenis media harus
dilakukan dengan prosedur yang benar, karena begitu banyak jenis media dengan berbagai
kelebihan dan kelemahan masing-masing (Iwan. 2014: 105-106).

28
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam pengembangan kurikulum profesional guru, dan pengimplementasian kurikulum


sangat diperlukan, hal ini dikarena seorang guru merupakan seorang figur yang mulia dan
dimuliakan banyak orang, upaya guru mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih anak
didik dan bentuk upaya memajukan dan mencerdaskan peserta didik untuk pencapaian.

Tujuan yang berdasarkan kualitatif maupun kuantitatif. Pengembangan kurikulum dapat


dikonsepsi sebagai suatu siklus lingkasan yang dimulai dengan analisis mengenai maksud
dicirikan sekolah.

Sebagai guru yang profesional, maka guru harus dapat mengetahui prinsip-
prinsip pengembangan kurikulum, dan peranan guru dalam pengembangan kurikulum. Hal
ini semua bertujuan untuk kemajuan peserta didik dan membentuk keterampilan peserta didik
dalam pemantapan tujuan pendidikan, baik secara efektif, kognitif, dan psikomotor.
Keprofesioanalan guru dalam pengembangan kurikulum implementasi sangatditerapkan
kepada suatu jenjang pendidikan dan pengklasifikasian kepada peserta didik itusendiri,
karena implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan kurikulum yang telah
dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diuji cobakan dengan pelaksanaan dan
pengelolaan, sambil senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan
karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional dan bentuk fisiknya.
Dalam pengembangan kurikulum implementasi juga tidak terlepas dari berbagai komponen-
komponen yang mengatur dan mengarah kepada tujuan dalam dunia pendidikan.

3.2 Saran
Dalam makalah ini telah membahas Pengembangan Kurikulum (Dibandingkan
Dengan Yang Terjadi Di Sekolah). Jika terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini,
penulis mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman demi kesempurnaan makalah
selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

29
DAFTAR PUSTAKA

Dawi, N.2015.Merancang Pencapaian Kompetensi Dasar Melalui Perumusan


Indikator.Artikel E-Buletin Edisi: Media Pendidikan LPMP Sulsel. Halaman : 2-9

Falahudin, Iwan. 2014. Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran. Jurnal Lingkar


Widyaiswara. ISSN: 2355-4118
Hidayat, S.2013.Pengembangan Kurikulum Baru.PT Remaja Rosdakarya : BANDUNG
Hartini, S. Pengembangan Indikator Dalam Upaya Mencapai Kompetensi Dasar Bahasa
Indonesia Di Sekolah Menengah Atas Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Halaman
: 198-205

Hasyim, M.Y., dan Zukhaira. 2014.Penyusunan Bahan Ajar Pengayaan Berdasarkan


Kurikulum 2013 Dan Pendidikan Karakter Bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyah.Vol. 12
No. 1. Halaman: 83-84

Hilyana, Shoufika. 2017. Pengembangan media pembelajaran LKS untuk meningkatkan


kompetensi bekerjasama dan memecahkan masalah siswa.2(1). 11-21

30
PERMASALAHAN DAN SOLUSI

1. Pembelajaran yang berlangsung di kelas berusaha untuk mengikuti alur: pendahuluan,


kegiatan inti, penutup (akhir pembelajaran). Mengapa harus demikian? Bagaimana jika
tidak demikian ?
Jawab :
Pembelajaran yang dilakukan sebenarnya dapat saja dijalankan tanpa mengikuti alur.
Namun, pembelajaran yang diselenggarakan jadi sulit untuk diukur tingkat ketercapaiannya.
Dengan demikian, idealnya memang pembelajaran yang dilakukan ialah mengikuti alur
tersebut. Ini akan memberikan kesan bahwa pembelajaran yang dilakukan step by step atau
langkah demi langkah. Dalam alur ini, pendahuluan atau kegiatan awal dimaksudkan untuk
memberi pancingan dan curah pendapat (brain storming) agar dapat diarahkan pada materi
pelajaran. Sementara itu, kegiatan inti merupakan langkah praktik yang dipakai dalam
kegiatan belajar seperti penggunaan metode ajar. Pada bagian akhir hendaknya diberikan
kesimpulan sehingga apa yang telah dipelajari akan diulas dan disimpulkan dengan lebih
singkat untuk mudah dipahami siswa.
2. Bagaimana perencanaan pembelajaran yang ideal menurut tuntutan kurikulum yang
berlaku?
Jawab :
Perencanaan yang ideal menurut tuntutan kurikulum tentunya telah memenuhi kriteria
yang harus dilakukan dalam pembelajaran. Sesuai dengan kurikulum yang sedang berlaku,
perencanaan setidaknya meliputi tiga hal pokok, yaitu pendahuluan, kegiatan inti, kemudian
penutup. Dalam satu paket perencanaan tersebut telah tergambarkan model pembelajarannya
dengan jelas. Kemudian di dalam strategi hingga taktik mengajar juga telah disebutkan pada
rencana pembelajarannya.
Uzer Usman dalam bukunya “Menjadi Guru Profesional” menyebutkan persiapan
mengajar yang baik harus memenuhi kriteria:
a. Materi dan tujuan mengacu pada garis besar program pengajaran.
b. Proses belajar mengajar menunjang pembelajaran aktif dan mengacu pada analisis materi
pelajaran.
c. Terdapat keselarasan antara tujuan, materi dan alat penilaian.
d. Dapat dilaksanakan.
e. Mudah dimengerti/dipahami.

31
Dalam perencanaan pembelajaran hal yang perlu ditampilkan pertama kali adalah
Standar Kompetensi (SK). Selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD) sebuah
topik, dari topik yang akan dibahas kemudian ditentukan pula indikator yang akan dicapai.
Berikutnya menyebutkan tujuan pembelajaran yang seterusnya diberikan gambaran/deskripsi
singkat materi yang akan disampaikan. Kemudian menyebutkan pendekatan dan metode yang
akan dipakai. Sedangkan didalam kegiatan inti hingga kegiatan akhir menyebutkan taktik
yang akan dilakukan meliputi membuka dengan doa, menyampaikan materi pertemuan
selanjutnya serta doa penutup. Dibagian akhir disebutkan pula sumber ajar, alat, media,
teknik penilaian, bentuk penilaian, intrumen dan kriteria penilaian.

3. Apakah strategi yang tepat dapat mengembangkan intelektual peserta didik?

Jawab :

Kemampuan intelektual peserta didik dapat terasah dengan pemilihan strategi belajar
yang tepat. Hal seperti ini didahului oleh motivasi dan semangat siswa dalam mengikuti
pelajaran. Motivasi dan semangat siswa pertama kali akan muncul apabila guru dapat
menyampaikan materi ajar dengan menarik. Misalnya dengan pemilihan media belajar, teknik
mengajar, dan metode pembelajaran yang menyenangkan siswa. Pembelajaran yang baik
berupaya mengarahkan siswa untuk dapat mengeksplor pengetahuannya berdasarkan hal
terkecil yang pernah ia temui, misalnya siswa diajak untuk menggambarkan sebuah
kenampakan fisik suatu objek yang pernah ia temui. Dengan demikian pengetahuan siswa
akan berkembang.

Guru tidak seharusnya memaksa peserta didik yang agak lamban dalam belajar agar
serta merta mengikuti proses pembelajaran disekolahnya. Guru juga jangan menghambat
peserta didik yang jenius untuk berhenti menunggu pasif teman-temannya yang masih jauh di
bawahnya. Dari sini ada penekanan agar guru tetap memperhatikan tingkat kemampuan
peserta didik dalam menyerap materi ajar.

4. Dalam KBK terdapat salah satu sistem pembelajaran menggunakan modul.


a. Uraikan yang dimaksud belajar dengan modul tersebut!
b. Apa kelebihan dan kekurangan belajar dengan modul
Jawab:

32
a) Sistem pembelajaran menggunakan modul dalam KBK terdapat peran serta modul
sebagai paket pembelajaran mandiri sebagai suatu proses pembelajaran mengenai suatu
satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah yang
digunakan oleh peserta didik disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru
untuk mencapai tujuan belajar. Dengan sistem pembelajaran modul ini, peserta didik
mendapat kesempatan lebih banyak untuk belajar mandiri, membaca uraian, dan petunjuk
di dalam lembaran kegiatan, menjawab pertanyaan serta melaksanakan tugas-tugas yang
harus diselesaikan dalam setiap tugas tersebut. Sehingga peserta didik dalam batas-batas
tertentu dapat maju seirama dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing. Peranan
guru dalam penyajian dengan modul adalah sebagai sumber tambahan dan pembimbing,
atau dapat dikatakan pula tugas seorang guru sebagai fasilitator.
b) Keunggulan sistem belajar dengan modul adalah pembelajaran berfokus pada
kemampuan individual peserta didik, karena pada hakikatnya mereka memiliki
kemampuan untuk bekerja sendiri dan lebih bertanggung jawab atas tindakan-
tindakannya; adanya kontrol terhadap hasil belajar melalui penggunaan peserta didik
kompetensi dalam setiap modul yang harus dicapai oleh peserta didik; dan relefansi
kurikulum ditunjukan dengan adanya tujuan dan cara pencapaiannya, sehingga peserta
didik dapat mengetahui keterkaitan antara pembelajaran dan hasil yang akan
diperolehnya. Kekurangan sistem belajar dengan modul seperti penyusunan modul yang
baik membutuhkan keahlian tertentu memuat tujuan dan alat ukur berarti, tetapi
pengalaman belajar yang termuat di dalamnya tidak tertulis dengan baik atau tidak
lengkap; sulit menentukan proses penjadwalan dan kelulusan, serta membutuhkan
manajemen pendidikan yang sangat berbeda dari pembelajaran konvensional, karena
setiap peserta didik menyelesaikan modul dalam waktu yang berbeda-beda tergantung
pada kecepatan dan kemampuan masing-masing; dan dukungan pmbelajaran berupa
sumber belajar, cukup mahal, setiap murid harus mencarinya sendiri.
5. Kemampuan guru dalam memahami ketentuan dalam merumuskan indikator pencapaian
KD akan mengantarkan guru dalam merumuskan indikator yang benar. Perumusan
indikator yang benar akan menjadi tolah ukur dalam menentukan keberhasilan peserta
didik dalam memperoleh komptensi yang diharapkan. Bagaimanakah mengembangkan
indikator berdasarkan KD?
Jawab :
A. Menganalisis tingkat kompetensi yang digunakan pada KD

33
Langkah ini dilakukan dengan cara melihat tingkat kompetensi yang terdapat pada
Kompetensi dasar. Kriteria yang dapat dilakukan dengan menganalisis kata kerja operasional
(KKO) yang digunakan oleh KD tersebut. Apabila tingkat kompetensi pada KD sampai pada
level C2 (penerapan) maka indikator yang dikembangkan harus mencapai kompetensi C2.
Hal ini untuk memenuhi tututan minimal dari kompetensi yang dijadikan acuan untuk
mencapai standar nasional.Namun, tidak tertutup kemungkinan bagi pendidik untuk
mengembangkan indikator melebihi kompetensi yang ada pada KD karena sesuai dengan
penetapan SNP bahwa pendidik dan sekolah dapat menyesuaikan kompetensi yang hendak
dicapai berdasarkan potensi anak didik.

B. Menganalisis Indikator berdasarkan tingkat UKRK kompetensi pada KD

Safari (2008: 29-31) menyatakan bahwa indikator terbagi atas dua yaitu indikator
sangat penting dan indikator penunjang. Membedakan antara indicator penting dan penunjang
ditentukan berdasarkan tingkat UKRK pada indicator tersebut. Dengan itu, UKRK dapat
dijadikan kiteria dalam memilih dan memilah ketepatan indicator yang akan dijadikan
indicator penting atau indicator penunjang.

UKRK merupakan akronim dari Urgensi, Kontinuitas, Relevansi,


Keterpakaian.Urgensi adalah tingkat kepentingannya.Maka urgensi dimaknai bahwa indicator
tersebut penting dikuasai oleh peserta didik. Kontinuitas adalah berkelanjutan, yang juga
bermakna bahwa indicator tersebut akan menjadi dasar bagi indicator selanjutnya atau akan
mempunyai hubungan dengan indicator pada tingkat lanjut. Relevansi bermakna bahwa
indicator tersebut mempunyai hubungan dengan mata pelajaran lain. Keterpakaian
berimplikasi bahwa indicator tersebut memiliki nilai yang aplikatif dalam kehidupan social
dan bermasyarakat peserta didik.

34