You are on page 1of 20

BAB XII

KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL DAN AGREGAT


(Job Mix Formula)

12.1. Pendahuluan

Terdapat bermacam-macam tipe campuran aspal dan agregat. yang paling


umum adalah campuran Aspal Beton (Asphaltic Concrete) yang lebih
dikenal dengan AC atau LASTON dan campuran Hot Rolled Asphalt
(HRA). Perbedaan mendasar dari kedua tipe campuran ini adalah pada
gradasi agregat pembentuknya. Campuran tipe AC menggunakan agregat
bergradasi menerus (continuous graded) sedangkan campuran tipe HRA
menggunakan agregat bergradasi senjang (gap graded).

Sifat-sifat penting yang harus dimiliki oleh suatu campuran aspal dan
agregat:
1. Stabilitas
Campuran harus memiliki ketahanan terhadap deformasi permanen
yang disebabkan oleh beban lalu lintas. Stabilitas suatu campuran
dapat diperoleh dari adanya sifat interlocking agregat dalam
campuran ataupun dengan menggunakan aspal berpenetrasi rendah.
2. Fleksibilitas
Camouran harus dapat menahan defleksi dan momen tanpa timbul
retak pada campuran tersebbut yang diakibatkan oleh perubahan
jangka panjang pada daya dukung tanah atau lapis pondasi. lendutan
yang berulang akibat beban lalu lintas. perubahan volume campuran
akibat perubahan suhu. fleksibilitas suatu campuran dapat diperoleh
dengan cara meninggikan kadar aspal dalam campuran.
menggunakan aspal berpenetrasi tinggi. dan juga dengan
menggunakan agregat bergradasi terbuka (open graded).

126
3. Durabilitas
Durabilitas berkaitan dengan keawetan suatu campuran terhadap
beban lalu lintas dan pengaruh cuaca. Campuran harus tahan
terhadap air dan perubahan sifat aspal karena penguapan dan
oksidasi. Durabilitas dapat ditingkatkan dengan cara membuat
campuran yang dapat kedap air. yang dapat diperoleh dari
penggunaan agregat bergradasi rapat (dense graded) dan kadar aspal
yang tinggi.
4. Workability
Workabilitas berarti kemudahan suatu campuran untuk dihamparkan
dan dipadatkan untuk mencapai tingkat kepadatan yang diinginkan.
Hal ini dapat tercapai jika viskositas campuran pada suhu
pencampuran dan pemadaman cukup rendah.
5. Ekonomis
Campuran harus direncanakan dengan menggunakan jenis dan
kombinasi material yang menghasilkan biaya termurah tetapi
memenuhi persyaratan stabilitas. Fleksibilitas, durabilitas,
kekesatan, dan workabilitas.
Perencanaan suatu agregat dan aspal terutama ditujukan agar campuran
tersebut dapat memiliki sifat-sifat seperti yang dijelaskan di atas. Tujuan
akhir dari perencanaan tersebut adalah menentukan suatu kadar aspal
optimum yang akan memberikan keseimbangan dari semua sifat campuran
tersebut. karena tidak ada satu kadar aspal pun yang akan dapat
memaksimalkan semua sifat campuran.

12.2. Tujuan Praktikum

Praktikum ini memberikan kemampuan dasar kepada mahasiswa untuk


dapat menentukan komposisi yang tepa tantara agregat. aspal. dan material
pengisi (filler) dalam campuran aspal dan agregat. Setelah selesai
melakukan praktikum ini. mahasiswa diharapkan :

127
1. Mampu membuat campuran aspal dan agregat.
2. Mampu mengukur/menentukan karakteristik dan kinerja campuran
aspal dan agregat.
3. Mampu menentukan kadar aspal optimum daru suatu campuran aspal
dan agregat.

128
12.3. Alat dan Bahan

12.3.1. Alat-alat Percobaan


1. 10 buah cetakan (mold) benda uji dari logam yang berdiameter 10,16
cm dan tinggi 6,35 cm. lengkap dengan pelat alas dan leher sambung.

Gambar 12.1. 10 buah Cetakan (Mold)

2. Mesin penumbuk manual (compactor).

Gambar 12.2. Mesin Penumbuk

129
3. Wajan.

Gambar 12.3. Wajan

4. Sendok pengaduk

Gambar 12.4. Sendok Pengaduk

5. Kompor

Gambar 12.5. Kompor

130
6. Sarung tangan

Gambar 12.6. Sarung Tangan

12.3.2. Bahan-bahan Percobaan

1. Benda uji berupa campuran antara agregat kasar. medium. dan halus
yang telah ditimbang.

Gambar 12.7. Benda Uji

2. Aspal.

Gambar 12.8. Aspal

131
12.4. Landasan Teori

Ada bermacam-macam metode perencanaan campuran, yang paling dikenal


adalah metode Marshall dan metode Hveem. Secara umum semua metode
itu terdiri dari proses-proses:
1. Persiapan benda uji.
2. Pemadatan.
3. Perhitungan rongga dan tes stabilitas dan kadar rongga.
4. Analilis.
Persiapan benda uji terdiri dari penyiapan agregat dan aspal serta pembuatan
benda uji sesuai dengan spek yang direncanakan.
Pemadatan benda uji dilakukan untuk mensimulasikan kepadatan campuran
tersebut di lapangan setelah beban lalu lintas tertentu. Metode pemadatan
yang umum meliputi:
1. Impact Compaction, yang digunakan pada metode Marshall.
2. Kneading Compaction, yang digunakan pada metode Hveem.
3. Gyratory Compaction,
Setelah pemadatan selesai. proses selanjutnya adalah pengujian berat jenis
uji untuk menghitung kandungan rongga di dalam campuran dan kemudian
diikuti dengan pengujian stabilitas.

Jumlah benda uji yang harus dibuat untuk suatu kadar aspal tertentu adalah
tiga buah. agar hasil pengujian terjamin secara statistik. Umumnya kadar
aspal divariasikan dengan kenaikan 0,5 % atau 1 %. Banyaknya kadar aspal
yang divariasikan tergantung dari jenis campurannya. umumnya pada setiap
pengujian cukup dibuat lima kadar aspal.

132
12.5. Prosedur Percobaan

Prosedur-prosedur yang dilakukan meliputi:


1. Menyiapkan benda uji yaitu agregat halus, agregat sedang. agregat
kasar. dan semen (filler).

Gambar 12.9. Menyiapkan Benda Uji

2. Timbang masing-masing benda uji sesuai kadar aspal yang ditentukan.

Gambar 12.10. Menimbang Benda Uji

133
3. Masukkan benda uji yang ke dalam oven dengan suhu 105 – 110oC
selama 24 jam.

Gambar 12.11. Memasukkan Benda Uji ke dalam Oven

4. Ambil wadah berisi aspal yang telah cair, taruh di atas pemanas.

Gambar 12.12. Menyiapkan Aspal

5. Timbang aspal yang dibutuhkan sesuai dengan perhitungan JMF


beserta wajan sehingga dapat langsung dicampurkan di dalam wajan.

Gambar 12.13. Menimbang spal

134
6. Campurkan benda uji ke dalam wajan berisi aspal, aduk hingga aspal
menyelimuti setiap benda uji secara merata.

Gambar 12.14. Mencampurkan Benda Uji dengan Aspal

7. Masukkan benda uji ke dalam cetakan (mold) beserta leher sambung


dan pelat alas. Taruh kertas pembatas di atas pelat alas.

Gambar 12.15. Memasukkan Benda Uji ke dalam Mold.

8. Menusuk benda uji guna untuk menghilangkan rongga pada benda uji.

Gambar 12.16. Menusuk Benda Uji

135
9. Tumbuk benda uji dengan mesin penumbuk sebanyak 75 kali tiap
sisinya.

Gambar 12.17. Menumbuk Benda Uji

10. Lepas benda uji dari mesin penumbuk, diamkan selama 24 jam.

Gambar 12.18. Melepas Benda Uji dari Mesin Penumbuk

11. Lakukan prosedur (4) – (9) untuk tiap benda uji yang telah disiapkan.

12.6. Data Hasil Percobaan


Pada analisis saringan didapatkan data-data akhir sebagai berikut:
Tabel 12.1. Hasil Analisis Saringan
CA FA1 FA2 Ff
20.00 37.66 36.84 5.50

136
12.7. Perhitungan

12.7.1. Kadar Aspal Rencana

𝑃𝑏 = (0,035 × 𝐶𝐴) + (0,045 × 𝐹𝐴) + (0,18 × 𝐹𝑖𝑙𝑙𝑒𝑟) + 𝐾 (12.1)


Keterangan:
𝑃𝑏 = Kadar aspal rencana
𝐶𝐴 = Persen kebutuhan agregat 1 – 2 cm
𝐹𝐴 = Persen kebutuhan agregat 0,5 – 1 cm dan 0,075 – 0,5 cm
𝐾 = Konstanta (0,75)

𝑃𝑏 = (0,035 × 20) + (0,045 × 74,5) + (0,18 × 5,5) + 0,75

𝑃𝑏 = 5,793 % ≈ 5,7 %

12.7.2. Nilai Kadar Aspal

𝑃𝑏` = 𝑃𝑏 ± 0,5 % (12.2)

𝑃𝑏` = 𝑃𝑏 ± 1,0 % (12.3)

Keterangan:
𝑃𝑏` = Sampel kadar aspal
Tabel 12.2. Persentase Sampel Kadar Aspal
Pb – 1 Pb – 0,5 Pb Pb + 0,5 Pb + 1
4,7 5,2 5,7 6,2 6,7

12.7.3. Menghitung Berat Jenis Teori

𝐵𝐽𝐵𝑢𝑙𝑘 + 𝐵𝐽𝐴𝑝𝑝𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡
𝐵𝐽 = (12.4)
2

% 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐴𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡
∅𝐵𝐽 = (12.5)
𝐵𝐽

𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑝𝑎𝑙
%𝐾𝐴 = (12.6)
𝐵𝐽𝑎𝑠𝑝𝑎𝑙

(12.7)

137
(100 − 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑝𝑎𝑙)
%𝐾𝐴𝑔 = ∑ ∅𝐵𝐽 ×
100

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 %𝐵𝑒𝑛𝑑𝑎 𝑈𝑗𝑖 = %𝐾𝐴 + %𝐾𝐴𝑔 (12.8)

100
𝐵𝐽 𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 = (12.9)
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 %𝐵𝑒𝑛𝑑𝑎 𝑈𝑗𝑖
Keterangan:
𝐵𝐽 = Berat jenis agregat
𝐵𝐽𝐵𝑢𝑙𝑘 = Berat jenis agregat kondisi normal
𝐵𝐽𝐴𝑝𝑝𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡 = Berat jenis agregat kondisi setelah di oven
∅𝐵𝐽 = Nilai berat jenis agregat
%𝐾𝐴 = Persentase kadar aspal
𝐵𝐽𝑎𝑠𝑝𝑎𝑙 = Berat jenis aspal
%𝐾𝐴𝑔 = Persentase kebutuhan agregat

Dari rumus di atas. didapatkanlah hasil perhitungan dan ditampilkan di


dalam Tabel 12.3.

Tabel 12.3. Hasil Perhitungan BJ Teori


Berat Jenis % BJ
Fraksi % Tertahan ϕBJ
Bulk SSD Apparent Penyerapan terpakai
1 2 3 4 5 6 7 8
Kasar 20.00 2.631 2.635 2.643 0.180 2.637 7.585
Halus 74.50 2.635 2.635 2.635 0.000 2.635 28.271
Filler 5.50 2.635 2.635 2.635 0.000 2.635 2.087
Total 37.942

Bj Total %
Kadar %KA %KAg Bj Teori Max
Aspal Benda Uji
Aspal % [9/10] ∑ [8] x {(100-[9])/100} [100/ {13}]
(gr/cm3) [11+12]
9 10 11 12 13 14
4.70 1.034 4.545 36.159 40.704 2.457
5.20 1.034 5.029 35.969 40.998 2.439
5.70 1.034 5.513 35.780 41.292 2.422
6.20 1.034 5.996 35.590 41.586 2.405
6.70 1.034 6.480 35.400 41.880 2.388

138
12.7.4. Volume Mold

1
𝑉= × 𝜋 × 𝑑2 × 𝑡 (12.10)
4
Keterangan:
𝑉 = Volume benda uji
𝑑 = Diameter benda uji
𝑡 = Tinggi benda uji

1
𝑉= × 3,14 × 10,162 × 6,35 = 514,554 𝑐𝑚3
4

12.7.5. Kebutuhan Berat Total

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑉 × 𝐵𝐽 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 (12.11)

Berat total = 514,554 x 2,457


= 1264,121 gr

12.7.6. Kebutuhan Berat Aspal

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐴𝑠𝑝𝑎𝑙 = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑝𝑎𝑙 × 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 (12.12)

Beart Aspal = (4,7/100) x 1264,121


= 59,414 gr

12.7.7. Kebutuhan Berat Agregat

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐴𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 − 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐴𝑠𝑝𝑎𝑙 (12.13)

Berat Agregat = 1264,121 – 59,414

= 1204,707 gr

Tabel 12.4. Berat Total, Berat Aspal dan Berat Agregat.


Kadar Aspal Berat (gr)
% Total Aspal Agregat
4.70 1264.121 59.414 1204.707
5.20 1255.061 65.263 1189.798
5.70 1246.129 71.029 1175.100
6.20 1237.324 76.714 1160.610
6.70 1228.643 82.319 1146.324

139
12.7.8. Kebutuhan Berat Masing-masing Agregat

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐴𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 × 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝐶𝐴


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝐴 =
100 %

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐴𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 × 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝐹𝐴1


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐹𝐴1 =
100 %

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐴𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 × 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝐹𝐴2


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐹𝐴2 =
100 %

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐴𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 × 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝐹𝑖𝑙𝑙𝑒𝑟


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐹𝑖𝑙𝑙𝑒𝑟 =
100 %

Keterangan:
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝐴 = Berat agregat 1 - 2 cm
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐹𝐴1 = Berat agregat 0,5 – 1 cm
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐹𝐴2 = Berat agregat 0,075 – 0,5 cm

Dari rumus di atas, didapatkanlah hasil perhitungan di dalam Tabel 12.5.


Tabel 12.5. Kebutuhan Berat Masing-masing Agregat
Kebutuhan Agregat
Kadar Aspal (%)
CA (gr) FA (gr) Ff (gr) Jumlah (gr)
4,7 240.9415 897.507 66.25891 1204.70738
5,2 237.9595 886.3992 65.43887 1189.79757
5,7 235.02 875.4495 64.6305 1175.09997
6,2 232.122 864.6545 63.83355 1160.61007
6,7 229.2647 854.011 63.04779 1146.32351

Keterangan:
𝐶𝐴 = Coarse Aggregate / Agregat 1 – 2 cm
𝐹𝐴 (FA1 + FA2) = Fine Aggregate / Agregat 0,075 – 1 cm
𝐹𝑓 = Filler

140
12.8. Analisis

12.8.1. Faktor Koreksi Tinggi


Dari benda uji yang telah dibuat, didapatkan data tinggi yang ditampilkan
pada Tabel 12.6.

Tabel 12.6. Data Tinggi Benda Uji


Kadar Air Tinggi Benda Uji (mm) Rata-Rata (mm)
(%) Benda Uji 1 Benda Uji 2 Benda Uji 1 Benda Uji 2
71.02 68.7
4,7 69.9 69.42 70.097 69.04
69.37 69
67.25 67.28
5,2 67.66 67.55 67.527 67.32
67.67 67.15
65.51 67.37
5,7 66.24 66.7 65.853 67.08
65.81 67.19
66.12 67.63
6,2 66.24 67.7 66.057 67.60
65.81 67.48
66.77 65.63
6,7 65.69 64.79 67.74 65.24
67.76 65.3
Sumber: Perhitungan

Data di atas dihitung untuk mendapatkan nilai koreksi tinggi untuk


perhitungan stabilitas Marshall Test dengan kriteria yang ditampilkan pada
Tabel 12.7.

141
Tabel 12.7. Faktor Koreksi Tinggi

Volume Tinggi Volume Tinggi


Faktor Faktor
Benda Uji Benda Uji Benda Uji Benda Uji
Korelasi Korelasi
(cm3) (mm) (cm3) (mm)

200-213 25.4 5.56 421-431 52.4 1.39


214-225 27.0 5.00 432-443 54.0 1.32
226-237 28.6 4.55 444-456 55.6 1.25
238-250 30.2 4.17 567-470 57.2 1.19
251-264 31.8 3.85 471-482 58.7 1.14
265-276 33.3 3.57 483-495 60.3 1.09
277-289 34.9 3.33 496-508 61.9 1.04
290-301 36.5 3.03 509-522 63.5 1.00
302-316 38.1 2.78 523-535 65.1 0.96
317-328 39.7 2.50 536-546 66.7 0.93
329-340 41.3 2.27 547-559 68.3 0.89
341-353 42.9 2.08 560-573 69.8 0.86
354-367 44.4 1.92 574-585 71.4 0.83
378-379 46.0 1.79 586-598 73.0 0.81
380-392 47.6 1.67 599-610 74.6 0.78
393-405 49.2 1.56 611-625 76.2 0.76
406-420 50.8 1.47
Sumber: Modul Praktikum Bahan Perkerasan Jalan. ITB 1999

142
Dengan melihat Tabel 12.7. maka didapatkan faktor koreksi tinggi benda
uji praktikum dan ditampilkan pada Tabel 12.8.
Tabel 12.8. Faktor Koreksi Tinggi Benda Uji
Tinggi Tinggi Faktor Faktor
Kadar Aspal
Benda Uji 1 Benda Uji 2 Koreksi Koreksi
(%)
(mm) (mm) Benda Uji 1 Benda Uji 2
4.7 70.10 69.04 0.8544375 0.8752
5.2 67.53 67.33 0.9093333 0.914333
5.7 65.85 67.09 0.945875 0.920333
6.2 66.06 67.60 0.9420625 0.907417
6.7 67.74 65.24 0.904 0.957375
Sumber: Perhitungan

143
12.9. Simpulan

1. Pada praktikum ini menggunakan 5 sampel yaitu dinilai dari kadar


aspal. Kadar aspal yang digunakan dimulai dari 4,7%, 5,2%, 5,7%,
6,2%, 6,7%.
2. Pada praktikum ini didapatkan data berat kering rata-rata (bulk), berat
SSD (Saturated Surface Dry), berat semu rata-rata (apparent), dan
persentase kadar air yang ditampilkan pada Tabel 12.9.
Tabel 12.9. Data Benda Uji
Kadar Aspal Berat Bulk Berat SSD Berat Semu Kadar Air
(%) (gr) (gr) (gr) (%)
4,7 1209.45 1224.35 689.05 1.232
5,2 1207.35 1213 688.75 0,468
5,7 1194.55 1198.65 679.5 0,342
6,2 1189.55 1192.2 670 0,222
6,7 1220.25 1228.85 681.85 0,048

12.10. Saran

1. Praktikan diharapkan lebih teliti dalam perencanaan job mix formula ini
dikarenakan banyaknya data yang harus diolah.
2. Praktikan diharapkan pada saat perhitungan Analisa saringan harus
lebih teliti karena niai CA, FA, dan Filler berpengaruh terhadap nilai
kadar aspal (Pb).
3. Praktikan harus lebih teliti dalam menyiapkan benda uji. Hal ini
dikarenakan hasil/angka yang didapatkan dari perhitungan bukan
bilangan asli, sehingga saat penimbangan harus diperhatikan angka di
belakang koma.
4. Praktikan sebaiknya menyaring tiap agregat terlebih dahulu agar hasil
yang didapatkan sesuai dengan yang ada pada perhitungan.
5. Praktikan diharapkan datang tepat waktu.

144
DAFTAR PUSTAKA

Annual ASTM Standards (1980)

BS 812: PART 3: 1973 (UDC)

Modul Praktikum Pelaksanaan Perkerasan Jalan. Jurusan Teknik Sipil UNILA.


2017

Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton untuk Jalan Raya (SKBI-2.4.24.1987)


Departemen Pekerjaan Umum

SNI 06-2489-1991

Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Divisi 6 Perkerasan Aspal

Standard Specification for Transportation Materials and Methods of Sampling


and Testing. Part II (1990)

145