You are on page 1of 7

Nama : Nova Dwi Putri Astuti

NIM : 4915164382
Kelas : P.IPS C 2016
Strategi Pembelajaran IPS

Jenis – Jenis Metode Pembelajaran Kooperatif:


1. Snowball Throwing
Metode Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif.
Metode pembelajaran tersebut mengandung unsur-unsur pembelajaran kooperatif. Snowball
artinya bola salju sedangkan throwing artinya melempar. Snowball Throwing dapat diartikan
sebagai metode pembelajaran yang menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung
bulat berbentuk bola kemudian dilemparkan secara bergiliran di antara sesama anggota
kelompok.
Maka berdasar pada uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan snowball throwing yaitu metode pembelajaran yang didalam terdapat unsur-unsur
pembelajaran kooperatif sebagai upaya dalam rangka mengarahkan perhatian siswa terhadap
materi yang disampaikan oleh guru.
Komentar: Pada metode seperti ini sangat menarik untuk di terapkan dalam peroses
pemebelajaran karena metode ini berupaya untuk mengarahkan perhatian siswa terhadap
materi yang sedang disampaikan oleh guru yang sedang mengajar di dalam kelas. Bila
menerapkan metode pembelajaran snow throwing ini tentu proses dari pembelajaran tidak
terlalu menegangkan bagi siswa. Dalam menerapkan metode seperti ini juga dapat
meningkatkan interaksi guru dan siswa, serta interaksi sesama antar siswa itu sendiri dengan
begitu terjalinlah kerjasama yang baik.

2. Student Team Learning (STL - Kelompok Belajar Siswa)


Pada dasarnya metode pembelajaran kooperatif yang satu ini sama saja dengan model
pembelajaran kooperatif yang lain yaitu adanya ide dasar bahwa siswa harus bekerjasama dan
turut bertanggungjawab terhadap pembelajaran siswa lainnya yang merupakan anggota
kelompoknya. Pada tipe STL ini penekanannya adalah bahwa setiap kelompok harus belajar
sebagai sebuah tim. Ada 3 konsep sentral pada model pembelajaran kooperatif tipe STL ini,
yaitu:
a) penghargaan terhadap kelompok
b) akuntabilitas individual
c) kesempatan yang sama untuk memperoleh kesuksesan

Pada sebuah kelas yang menerapkan metode pembelajaran ini, setiap kelompok dapat
memperoleh penghargaan apabila mereka berhasil melampaui ktiteria yang telah ditetapkan
sebelumnya. Akuntabilitas individual bermakna bahwa kesuksesan sebuah kelompok
bergantung pada pembelajaran yang dilakukan oleh setiap individu anggotanya. Pada model
pembelajaran tipe STL, setiap siswa baik dari kelompok atas, menengah, atau bawah dapat
memberikan kontribusi yang sama bagi kesuksesan kelompoknya, karena skor mereka dihitung
berdasarkan skor peningkatan dari pembelajaran mereka sebelumnya.
Komentar: Jika menerapkan metode pembelajaran kelompok belajar siswa dalam
proses pembelajaran menekankan bahwa siswa harus bekerjasama serta tanggung jawab
terhadap sesama anggota kelompok. Pada metode ini siswa yang terbagi dalam beberapa
kelompok bebas berpartisipasi dan bekerja sebaik mungkin demi memperoleh penilaian yang
lebih baik dari kelompok yang lain. Maka dari itu pada metode pembelajaran ini tidak
menunjukan adanya sifat egois, dan lebih mengarah terhadap rasa kebersamaan.

3. Two Stay Two Stray

Metode pembelajaran kooperatif two stay two stray ini sebenarnya dapat dibuat
variasinya, yaitu berkaitan dengan jumlah siswa yang tinggal di kelompoknya dan yang
berpencar ke kelompok lain. Misalnya: (1) one stay three stray (satu tinggal tiga berpencar);
dan (2) three stay one stray (tiga tinggal satu berpencar). Dengan struktur kelompok kooperatif
seperti tipe two stay two stray ini dapat memberikan kesempatan kepada tiap kelompok untuk
saling berbagi informasi dengan kelompok-kelompok lain.

Komentar: Metode pembelajaran jenis ini sangat baik untuk siswa karena dengan
menggunakan metode two stay two stray siswa dapat mendapatkan informasi baru dari
kelompok lain dan itu dapat memperkaya lagi wawasan dan pengetahuan siswa terkait topik
yang sedang di bahas bersama, tentu saling memberi informasi dari berbagai sumber yang
berbeda sangat baik, karena kita belajar tidak hanya terpacu pada satu sumber saja perlu juga
adanya sumber dari yang lain

4. Tea Party (Pesta Minum Teh)


Pada metode pembelajaran kooperatif tipe tea party, siswa membentuk dua lingkaran
konsentris atau dua barisan di mana siswa saling berhadapan satu sama lain. Guru mengajukan
sebuah pertanyaan (pada bidang mata pelajaran apa saja) dan kemudian siswa mendiskusikan
jawabannya dengan siswa yang berhadapanan dengannya. Setelah satu menit, baris terluar atau
lingkaran terluar bergerak searah jarum jam sehingga akan berhadapan dengan pasangan yang
baru. Guru kemudian mengajukan pertanyaan kedua untuk mereka diskusikan. Langkah-
langkah seperti ini terus dilanjutkan hingga guru selesai mengajukan 5 atau lebih pertanyaan
untuk didiskusikan. Untuk sedikit variasi dapat pula siswa diminta menuliskan pertanyaan-
pertanyaan pada kartu-kartu untuk catatan nanti bila diadakan tes.
Komentar: dengan menggunakan metode pembelajaran jenis ini siswa bisa lebih saling
mengenal mengenai pola berpikir serta karakter dari teman-teman yang menjadi pasanganya
dalam mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan oleh guru. Dan dari situ
juga siswa dapat belajar dari teman-temannya saat diskusi berlangsung.

5. The Williams
Tipe metode pembelajaran kooperatif The Williams mengajak siswa melakukan
kolaborasi untuk menjawab sebuah pertanyaan besar yang merupakan sebuah tujuan
pembelajaran. Pada model pembelajaran ini siswa dikelompok-kelompoknya secara heterogen
seperti pada tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Kemudian setiap kelompok
diberikan pertanyaan yang berbeda-beda dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan
kognitif yang memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut.

Komentar: Pada metode ini juga menekankan pada kerjasama siswa di dalam suatu
kelompok. Siswa disini di ajak menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk mengasah lagi
kemampuan kognitif. Untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tentu siswa melakukan
diskusi.

6. TPS (Think Pairs Share)


Metode pembelajaran kooperatif tipe TPS (think pairs share) Tipe model pembelajaran
kooperatif ini memungkinkan setiap anggota pasangan siswa untuk berkontemplasi terhadap
sebuah pertanyaan yang diajukan. Setelah diberikan waktu yang cukup mereka selanjutnya
diminta untuk mendiskusikan apa yang telah mereka pikirkan tadi (hasil kontemplasi) dengan
pasangannya masing-masing. Setelah diskusi dengan pasangan selesai, guru kemudian
mengumpulkan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan tersebut dari
seluruh kelas.

Komentar: metode ini nantinya bila diterapkan akan membuat siswa belajar untuk siap
di beri kritikan serta saran yang baik dari siswa lain yang menjadi pasangannya dalam
berdiskusi. Dari situ siswa dapat belajar untuk berlapang dada dan menghargai pendapat
yang di berikan pasangan diskusinya, dan mereka dapat saling belajar memahami bahwa apa
yang kita pikir kan baik belum tentu orang lain berpendapat itu baik juga.

7. TPC (Think Pairs Check)


Metode pembelajaran kooperatif tipe think pairs-check adalah modifikasi dari tipe think
pairs share, di mana penekanan pembelajaran ada pada saat mereka diminta untuk saling cek
jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan guru saat berada dalam pasangan.

Komentar: di dalam metode pembelajaran ini siswa dapat kritis, bebas


berpendapat, dan berusaha untuk teliti dalam kegiatan pembelajaran serta bersikap jujur dan
adil saat mengadakan cek jawaban.

8. TPW (Think Pairs Write)


Tipe metode pembelajaran kooperatif TPW (Think Pairs Write) juga merupakan variasi
dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pairs Share). Penekanan metode
pembelajaran kooperatif tipe ini adalah setelah mereka berpasangan, mereka diminta untuk
menuliskan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.
Metode pembelajaran kooperatif tipe TPW ini sangat cocok untuk pelajaran menulis.

Komentar: tidak jauh berbeda dengan metode metode think pairs sebelumnya mereka
belajar untuk menulis tanggapan terhadap pertanyaan yang telah diajukan. Siswa juga bebas
dalam memberikan jawaban atau tanggapan

9. Round Table atau Rally Table

Untuk menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Round table atau Rally Table ini
guru dapat memberikan sebuah kategori tertentu kepada siswa (misalnya kata-kata yang
dimulai dengan huruf “s”). Selanjutnya mintalah siswa bergantian menuliskan satu kata secara
bergiliran.

Komentar: dalam metode pembelajaran ini siswa di uji mengenai wawasan nya terhadap topik
bahasan dalam pembelajaran. Serta dapat juga melihat sejauh mana tingkat kreatifitas serta wawasan
yang selama ini ia miliki terkait bahan pembahasan.

10. Three-Minute Review (Review Tiga Langkah)


Metode pembelajaran kooperatif tipe three-step review efektif untuk digunakan saat guru
berhenti pada saat-saat tertentu selama sebuah diskusi atau presentasi berlangsung, dan
mengajak siswa mereview apa yang telah mereka ungkapkan saat diskusi di dalam kelompok
mereka. Siswa-siswa dalam kelompok-kelompok itu dapat bertanya untuk mengklarifikasi
kepada anggota lainnya atau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anggota lain. Misalnya
setelah diskusi tentang proses-proses kompleks yang terjadi di dalam tubuh manusia misalnya
pencernaan makanan, siswa dapat membentuk kelompok-kelompok dan mereview proses
diskusi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengklarifikasi.

Komentar: metode ini seperti tanya-jawab setelah diskusi atau presentasi selesai, siswa
di beri kesempatan untuk bertanya untuk mencoba mengklarifikasi informasi yang ia dapat
benar atau tidak. Siswa juga belajar berani untuk bertanya dan menanggapi pertanyaan-
pertanyaan dari siswa lain.

11. Reverse Jigsaw (Kebalikan Jigsaw)

Tipe metode pembelajaran kooperatif ini dikembangkan oleh Timothy Hedeen (2003).
Perbedaanya dengan tipe Jigsaw adalah, bila pada metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
anggota kelompok ahli hanya mengajarkan keahliannya kepada anggota kelompok asal, maka
pada metode pembelajaran kooperatif reverse jigsaw ini, siswa-siswa dari kelompok ahli
mengajarkan keahlian mereka (materi yang mereka pelajari atau dalami) kepada seluruh kelas.

Komentar: metode ini dirasa lebih baik jika di banding dengan metode jiksaw, karena di sini siswa di
ajarkan untuk saling berbagi ilmu yang tentunya bermanfaat dan lebih berguna bila ilmu itu kita dapat
membaginya kepada orang lain dan bukan hanya untuk dirinya sendiri. Jadi yang ahli dalam pada yang
mereka pelajari di sekolah tidak hanya satu kelompok saja tetapi yang lain juga mempunya
kesempatan untuk di ajarkan oleh temannya.

12. NHT (Numbered Heads Together) – Kepala Bernomor Bersama

Pada metode pembelajaran kooperatif tipe NHT, minta siswa untuk menomori diri mereka
masing dalam kelompoknya mulai dari 1 hingga 4. Ajukan sebuah pertanyaan dan beri batasan
waktu tertentu untuk menjawabnya. Siswa yang mengangkat tangan jika bisa menjawab
pertanyaan guru tersebut. Guru menyebut suatu angka (antara 1 sampai 4) dan meminta seluruh
siswa dari semua kelompok dengan nomor tersebut menjawab pertanyaan tadi. Guru menandai
siswa-siswa yang menjawab benar dan memperkaya pemahaman siswa tentang jawaban
pertanyaan itu melalui diskusi.

Komentar: pada metode ini bila di terapkan dapat meminimalisir kesalah saat menginput nilai pada
siswa, karena masing masing siswa memakai nomer sebagai tanda sehingga memudahkan guru adar
tidak salah saat melakukan proses penilaian pada siswanya.

13 .TGT (Team Game Tournament)

Metode pembelajaran kooperatif tipe TGT mirip dengan metode pembelajaran kooperatif tipe
STAD, tetapi bedanya hanya pada kuis yang digantikan dengan turnamen mingguan. Pada
metode pembelajaran kooperatif ini, siswa-siswa saling berkompetisi dengan siswa dari
kelompok lain agar dapat memberikan kontribusi poin bagi kelompoknya. Suatu prosedur
tertentu digunakan untuk membuat permainan atau turnamen berjalan secara adil. Penelitian
menunjukkan bahwa metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terbukti efektif meningkatkan
hasil belajar siswa.

Komentar: melihat bahwa telah ada penelitian mengenai metode ini dan menyebutkan bahwa metode
ini terbukti efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentu sangat baik bila di terapkan oleh guru
dalam proses pembelajaran. Merode ini tentu dapat membangun jiwa kompetitif pada siswa dan
dapat juga memotivasi diri siswa untuk memberikan point agar kelompoknya lebih unggul. Tentunya
dengan begitu akan terjalin kerjasama dengan baik antar siswa di dalam suatu kelompok tersebut.

14. Three-Step Interview (Wawancara Tiga Langkah)

Pada metode pembelajaran kooperatif tipe three-step interview (disebut juga three problem-
solving) dilakukan 3 langkah untuk memecahkan masalah. Pada langkah pertama guru
menyampaikan isu yang dapat memunculkan beragam opini, kemudian mengajukan beberapa
pertanyaan-pertanyaan kepada seluruh siswa di kelas. Langkah kedua, siswa secara
berpasangan bermain peran sebagai pewawancara dan orang yang diwawancarai. Kemudian,
di langkah yang ketiga, setelah wawancara pertama dilakukan maka pasangan bertukar peran:
pewawancara berperan sebagai orang yang diwawancarai dan sebaliknya orang yang tadi
mewawancarai menjadi orang yang diwawancarai. Setelah semua pasangan telah bertukar
peran, selanjutnya setiap pasangan dapat membagikan atau mempresentasikan hasil wawancara
mereka kepada seluruh kelas secara bergiliran.

Komentar: pada metode pembelajaran three-step interview ini terdapat langkah-langkah


sehingga lebih terstruktur. Dapat meningkatkan nalar serta proses berpikir pada siswa
mengenai sebuah topik/isu yang telah disampaikan. Melatih rasa percaya diri mereka saat
mempresentasikan hasil yang mereka diskusikan kepada siswa lain di depan kelas. Serta
melatih siswa dalam menghadapi suatu masalah dan bagaimana pemecahan dari masalah
tersebut.

15. STAD (Student Teams Achievement Division)

Pada metode pembelajaran kooperatif tipe STAD ini siswa dikelompokkan ke dalam kelompok
kecil yang disebut tim. Kemudian seluruh kelas diberikan presentasi materi pelajaran. Siswa
kemudian diberikan tes. Nilai-nilai individu digabungkan menjadi nilai tim.

Komentar: metode pembelajaran ini menekan pada siswa untuk meningkatkan kerjasama dan
kontribusinya untuk memperoleh penilaian yang baik untuk kelompoknya. Tentunya dalam
metode ini dapat menjunjung nilai tanggung jawab terhadap siswa serta ikut bersama sama
dalam mencapai keberhasilan kelompoknya.