You are on page 1of 6

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/319557827

MAMPUKAH NUSA TENGGARA TIMUR MANDIRI PANGAN SUMBER


KARBOHIDRAT ?

Chapter · September 2016

CITATIONS READS

0 367

1 author:

Herianus Lalel
Universitas Nusa Cendana
33 PUBLICATIONS   563 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Mapping and optimizing the use of minor fruit plants in Timor Island View project

Integrasi Penggunaan Drone dan Free & Open Source Softwares (FOSS) Sistem Informasi Geografis dalam Kajian Sebaran dan Kondisi Lingkungan Pohon Gewang (Corypha
utan Lamk.) di Kabupaten Kupang View project

All content following this page was uploaded by Herianus Lalel on 09 September 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Pangan Indonesia Yang Diimpikan : 2016

MAMPUKAH NUSA TENGGARA TIMUR MANDIRI PANGAN SUMBER KARBOHIDRAT ?


Herianus J.D. Lalel; Anggota PATPI

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki sejarah buruk yang panjang terkait kerawanan
pangan dan hingga kini masih tercatat sebagai salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki resiko rawan
pangan yang sangat tinggi. Beberapa faktor yang dianggap sebagai penyebab utama dari kondisi ini di
antaranya adalah iklim yang kering, lahan marginal yang mendominasi usaha pertanian, budaya pengelolaan
usaha tani yang pada umumnya masih tradisional serta akses terhadap input produksi yang masih rendah.
Kenyataan seperti di atas mengakibatkan harapan akan terciptanya kemandirian pangan terutama
sumber karbohidrat di wilayah NTT menjadi suatu perjuangan yang tidak gampang. Pemerintah baik pusat
maupun daerah telah melakukan berbagai upaya baik secara langsung maupun tidak langsung untuk
mewujudkan kedaulatan pangan di NTT. Berbagai lembaga luar negeri termasuk Perserikatan Bangsa
Bangsa juga turut terlibat aktif dalam berbagai program perbaikan dan peningkatan ketahanan pangan di
NTT yang sebagian besar secara teknis dilakukan oleh Lembaga-lembaga Sosial Masyarakat.

Potret Ketahanan Pangan Indonesia


Ketahanan pangan di NTT sudah tentu sangat dipengaruhi oleh kebijakan pangan nasional. Indeks
ketahanan pangan Indonesia beberapa tahun belakangan ini secara memprihatinkan berada di bawah 50
point dari 100. Berdasarkan Global Food Security Index (GFSI) yang dikembangkan oleh Economist
Intelligence Unit (EIU) dan DuPont, posisi ranking Indonesia terus mengalami penurunan dari posisi 64
pada tahun 2012 menjadi 74 pada tahun 2015 (Tabel 1). Indeks ini dihitung berdasarkan kemampuan
memperoleh (affordability), ketersediaan (availability), serta kualitas dan keamanan (quality and safety)
pangan. Data ini menggambarkan bahwa ketahanan pangan Indonesia secara nasional tidak mengalami
perbaikan yang berarti selama 4 tahun ini. Hal ini juga bermakna bahwa program-program yang selama ini
dilakukan oleh pemerintah belum efektif dalam meningkatkan ketahanan pangan di Negara ini.
Volume import Indonesia untuk pangan termasuk beras, jagung, gula, kedelai, daging sapi dan
garam berkecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dan total mencapai hampir 18 juta ton setiap
tahunnya untuk 4 tahun terakhir dengan nilai mencapai 10.000 juta USD pada tahun 2014. Pada periode
Januari – Agustus 2015, BPS (2016) mencatat bahwa dari 122 item bahan pangan yang diimport,
berdasarkan besarnya volume terdapat 5 besar komoditi import yaitu berturut-turut biji gandum (4,5 juta ton
= USD 1,3 milyar), jagung (2,3 juta ton = USD 522,9 juta), gula tebu (1,98 juta ton = USD 789 juta),
kedelai (1,52 juta ton = USD 719,8 juta), dan garam (1,04 juta ton = USD 46,6 juta).

49
Pangan Indonesia Yang Diimpikan : 2016

Tabel 1. Ranking Negara-negaran ASEAN berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan (2012-2015)


Ranking Negara berdasarkan GFSI
No Negara a
2012 2013b 2014c 2015c
1 Singapura - 16 (79.9) 5 (84.3) 2 (88.2)
2 Malaysia 33 (63.9) 34 (64.5) 34 (68.0) 34 (69.0)
3 Thailand 45 (57.9) 45 (58.9) 49 (59.9) 52 (60.0)
4 Vietnam 55 (50.4) 60 (48.6) 67 (49.1) 65 (53.4)
5 Filipina 63 (47.1) 64 (46.9) 65 (49.4) 72 (49.4)
6 Indonesia 64 (46.8) 66 (45.6) 72 (46.5) 74 (46.7)
7 Myanmar 78 (37.2) 74 (40.1) 86 (37.6) 78 (44.0)
8 Kamboja 89 (30.0) 89 (31.3) 96 (33.1) 96 (34.6)
a b c
) 105 negara; ) 107 negara; ) 109 negara; Sumber : EIU dan DuPont (2015)

Permasalahan Pangan Sumber Karbohidrat di NTT dan Alternatif Solusi


Adanya perubahan pola pangan masyarakat NTT dari aneka pangan pokok lokal kepada beras
sementara jumlah lahan sawah potensial sangat terbatas telah menciptakan ketergantungan NTT terhadap
pasokan beras dari luar NTT cukup tinggi. Hal ini merupakan salah satu dampak dari program
“berasnisasi” oleh pemerintahan pada masa lalu. Badan Ketahanan Pangan NTT telah cukup banyak
berupaya untuk mengembalikan jagung sebagai pangan pokok utama bagi masyarakat NTT agar dapat
mengurangi ketergantungan NTT pada pasokan beras dari luar NTT, namun masyarakat sudah terlanjur
mencintai beras. Hal ini juga didukung oleh dengan semakin mudah masyarakat memperoleh beras dan
relatif murahnya harga beras termasuk akibat adanya Program Beras Miskin (raskin).
Kenyataan bahwa masyarakat NTT terlanjur mencintai beras tidak perlu secara “kasar” ditentang.
Hal utama yang perlu dilakukan adalah secara bertahap mengurangi ketergantungan NTT terhadap pasokan
beras dari luar NTT, dengan cara :
(1) Mengoptimalkan potensi lahan sawah di NTT disertai perbaikan sistem budidaya padi.
(2) Memberdayakan potensi lahan kering untuk pertanaman padi gogo.
(3) Menggalakan program-program diversifikasi pangan berbasis potensi lokal.
Luas lahan irigasi teknis di NTT yang terdata pada tahun 2014 mencapai 127.308 ha, sedangkan
non teknis termasuk lahan kering di NTT mencapai 2.379.005 ha. Dari total lahan ini, pemanfaatan lahan
basah baru mencapai 52 %, sedangkan lahan kering baru mencapai 65,41 %. Peningkatan produksi padi
sawah di NTT sebenarnya masih sangat mungkin. BPS (2016) mencatat angka sementara produksi padi
sawah di NTT untuk tahun 2015 adalah sebanyak 948.088 ton GKG, sedangkan angka tetap tahun 2014
sebanyak 825.728 ton GKG (meningkat 14,82 persen). Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya luas
panen dan produktivitas masing-masing sebesar 7,90 persen dan 6,41 persen.

50
Pangan Indonesia Yang Diimpikan : 2016

Rendahnya pemanfaatan potensi irigasi di NTT pada umumnya berhubungan erat dengan
kurangnya kemampuan teknis dan finansial serta rendahnya motivasi masyarakat. Hal ini diperparah
dengan rendahnya manajemen perawatan irigasi di beberapa kawasan yang menyebabkan potensi irigasi
menjadi berkurang secara signifikan.
Lemahnya koordinasi lintas sektor di daerah perlu segera diperbaiki. Sering ditemukan dalam 1
desa terdapat lebih dari 2 program pangan yang melibatkan kelompok-kelompok masyarakat yang sama,
namun tidak terdapat keterpaduan karena dilakukan oleh lembaga-lembaga yang berbeda dengan
kepentingan yang berbeda dan target-target capaian yang diinginkan sangat sering bersifat sektoral dan
sementara. Perguruan Tinggi memiliki posisi strategis yang sebenarnya dapat dilibatkan untuk memfasilitasi
koordinasi program-program ini karena Perguruan Tinggi merupakan lembaga yang netral, serta memiliki
sumberdaya manusia dalam jumlah dan kualitas yang cukup dengan lingkup bidang ilmu yang sangat
beragam. Pola kemitraan Pemerintah – Perguruan Tinggi – Dunia Usaha – Masyarakat – NGO perlu
diintensifkan.
Perbaikan dalam hal teknis budidaya padi juga perlu diperhatikan. Salah satu teknik budidaya padi
dengan sistem SRI (System of Rice Intensification) telah terbukti mampu meningkatkan produksi padi
hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan cara penanaman biasa. Sistem ini memberikan beberapa
keuntungan berupa penghematan benih, penghematan air irigasi, dan dapat dipadukan dengan pertanian
organik sehingga ramah lingkungan.
Selain padi sawah, sebenarnya padi gogo juga memiliki potensi yang sangat tinggi untuk
mendukung swasembada beras bagi NTT. Hal ini terutama jika dilihat dari ketersediaan lahan kering di
NTT yang jauh melebihi luasan lahan persawahan, yaitu mencapai 1.528.308 ha. Dari luasan yang tersedia
ini, setiap tahunnya rata-rata kurang dari 80.000 ha yang diusahakan untuk padi gogo dengan produktivitas
hanya berkisar 2,2 ton/ha.
Perhatian pemerintah terhadap pengembangan padi gogo perlu ditingkatkan. Dari daftar varietas
padi unggul yang dilepas pada periode 2011-2014 tercatat jumlah varietas padi sawah mencapai 31 jenis
sedangkan padi gogo hanya 7 jenis (Badan Litbang Pertanian, 2016). Sebenarnya plasma nutfah padi gogo
di NTT cukup besar dengan sifat fisiko kimia beras yang sangat beragam. Di Kabupaten Ende saja terdapat
21 jenis (galur) padi gogo yang dibudidayakan masyarakat dengan sangat sederhana (Lalel dkk., 2009).
Diversifikasi pangan pokok sumber karbohidrat berbasis bahan baku lokal perlu lebih digalakan.
Jagung, sorghum dan umbi-umbian merupakan jenis tanaman pangan yang sudah lama dikenal dan

51
Pangan Indonesia Yang Diimpikan : 2016

dibudidayakan oleh masyarakat tani di NTT, namun hingga kini baru tanaman jagung yang cukup mendapat
perhatian Pemerintah Daerah seperti tergambar dari program-program yang digulirkan.
Usaha tani jagung di NTT sering diperhadapkan oleh kendala lemahnya pengelolaan air karena
umumnya jagung dibudidayakan dengan mengandalkan siraman hujan. Sebenarnya jika dilihat dari data
curah hujan, maka jumlah air yang diperoleh dari hujan untuk NTT cukup besar yaitu rata-rata mencapai
1200 mm setiap tahunnya, kebanyakan dibiarkan hilang sebagai run off sehingga tidak dapat termanfaatkan
secara optimal untuk pertanian. Pemerintah beberapa tahun belakangan ini telah membantu melakukan
pemanenan air dalam bentuk pembangunan bendungan, embung-embung dan sejenisnya, namun belum
dibarengi dengan perbaikan budaya pemanfaatan panenan air. Jika pertanaman jagung dapat dilakukan di
luar musim hujan atau lebih dari 1 kali tanam setiap tahunnya, maka tidak saja terhindar dari gagal panen,
tetapi juga produksi jagung akan meningkat secara signifikan.
Masalah kekeringan dan kekurangan air yang sering menjadi momok dalam budidaya jagung akibat
sifat perakaran yang dangkal dan kurangnya daya tahan tanaman terhadap cekaman kekeringan dapat
dibantu dengan penerapan teknik pengolahan tanah yang mampu mempertahankan kelembaban tanah secara
optimal. Teknik-teknik dimaksud di antaranya adalah pemanfaatan mulsa dari sisa-sisa tanaman dan hasil
penyiangan gulma yang tidak saja untuk mempertahankan kelembaban tanah, tetapi juga dapat mendukung
kehidupan jasad renik tanah penentu kesuburan tanah, serta dapat menekan pertumbuhan gulma sehingga
persaingan unsur hara dan kebutuhan tenaga kerja untuk penyiangan berkurang. Selain mulsa, dapat pula
dibantu dengan penanaman tidak dengan cara tugal sederhana tetapi dengan tugal dalam kotak lubang
(berukuran tertentu dan benih ditugal didalamnya). Dengan adanya kotak lubang tanah memungkinkan air
hujan/siraman terkonsentrasi pada sistem perakaran jagung sehingga kelembaban sekitar perakaran terjaga.
Kotak lubang tanah ini dapat pula menghemat tenaga kerja karena lahan tidak perlu dibajak secara
keseluruhan serta lubang yang sama masih dapat digunakan untuk musim tanam berikutnya.
Alternatif lainnya adalah membudidayakan tanaman serealia lain yang lebih tahan terhadap
kekeringan seperti sorghum. Tanaman sorghum selain cukup tahan terhadap kekeringan, tanaman ini juga
memiliki daya saing terhadap gulma jauh lebih tinggi dari jagung. Tanaman ini masih secara tradisional
diusahakan petani di beberapa daerah di NTT. Selain sorghum terdapat pula tanaman serealia lain yang
juga cukup tahan kekeringan seperti jewawut yang masih dapat ditemukan dalam lahan-lahan usaha tani
masyarakat di beberapa daerah di Flores. Tanaman-tanaman ini perlu mendapat perhatian untuk
pengembangannya.

52
View publication stats

Pangan Indonesia Yang Diimpikan : 2016

Komoditi pangan dari kelompok umbi-umbian sebenarnya memiliki potensi pengembangan yang
tidak kalah dengan komoditi pangan yang telah disebutkan sebelumnya. Umbi-umbian telah menjadi
makanan pokok masyarakat NTT jauh sebelum jagung diintroduksi, bahkan beberapa jenis umbi merupakan
tanaman asli NTT karena masih dapat ditemukan tumbuh liar di hutan-hutan. Ketela pohon, ketela rambat
dan uwi (Dioscorea sp.) telah menjadi pangan buffer yang terbukti sangat membantu masyarakat tani NTT
pada saat musim-musim paceklik. Tanaman ini relatif tidak membutuhkan perawatan yang intensif dan
pemanenannya dapat dilakukan kapan saja.
Pangan pokok sumber karbohidrat lainnya yang dimiliki NTT yang sangat berpotensi untuk
mengurangi ketergantungan NTT akan pasokan beras adalah sagu dari gewang. Sumber pangan ini sangat
sering diberitakan secara negatif oleh media masa dengan sebutan lokal “putak”. Hal yang terpenting dalam
pengolahan jenis sumber pangan ini adalah penerapan teknik ekstraksi yang tepat untuk memperoleh sagu
bermutu tinggi. Dari 1 tanaman gewang berumur 30 tahun dapat diperoleh sagu hingga 1000 kg. Tanaman
gewang sangat tahan terhadap kekeringan maupun genangan air dan relatif tidak membutuhkan perawatan
yang intensif serta dapat dipanen kapan saja sehingga jika secara arif diberdayakan maka dapat menjadi
sumber pangan andalan NTT.
Dewasa ini, melalui kepemimpinan Presiden Joko Widodo pemerintah memberikan perhatian yang
semakin besar terhadap pembangunan pedesaan yang jelas terlihat dari semakin besarnya dana desa.
Kebijakan ini dapat menjadi potensi yang sangat bermakna bagi NTT untuk berbenah diri dalam rangka
mengupayakan percepatan tercapainya kemandirian pangan, khususnya pangan sumber karbohidrat. Total
dana desa yang diterima NTT pada tahun 2016 mencapai Rp 1.849.353.802 (untuk 2.995 desa) yang
diperuntukan khusus bagi pembangunan infrastruktur desa dan pemberdayaan masyarakat desa.
Pendampingan yang intensif untuk pengelolaan dana ini sangat dibutuhkan agar optimalisasi pemberdayaan
potensi-potensi sumber daya alam di desa termasuk pangan sumber karbohidrat, ataupun peningkatan
kemampuan masyarakat untuk mengelolanya demi peningkatan kesejahteraan mereka dapat tercapai.

Referensi :
Badan Litbang Pertanian, 2016. Daftar Varietas Unggul. http://www.litbang.pertanian.go.id/varietas/?
Diakses 14 Maret 2016.
BPS, 2016. NTT dalam Angka. Badan Pusat Statistik NTT, Kupang.
Economist Intelligence Unit dan DuPont, 2015. Global Food Security Index 2015. The Economist
Intelligence Unit, London.
Lalel, H.J.D., Abidin, Z., Jutomo, L., 2009. Sifat fisiko kimia beras merah gogo lokal Ende. Jurnal
Teknologi dan Industri Pangan, 20:109-116.

53