You are on page 1of 40

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gangguan Jiwa
1. Pengertian gangguan jiwa
Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh
seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya
tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Djamaludin, 2010).
Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berpikir (cognitive), kemauan
(volition),emosi (affective), tindakan (psychomotor) (Yosep, 2012).
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2010) adalah suatu perubahan pada
fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan
peran social.
Menurut Townsend (2009) mental illness adalah respon maladaptive
terhadap stressor dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan,
dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu
fungsi sosial, kerja, dan fisik individu.

2. Penyebab Timbulnya Gangguan Jiwa


Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari
berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak
adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan seseorang yang
dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa yang
disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan gangguan pada otak (Djamaludin,
2001).
Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang sebab-sebab terjadinya
gangguan jiwa. Menurut pendapat Sigmund Freud dalam Maslim (2008), gangguan
jiwa terjadi karena tidak dapat dimainkan tuntutan id (dorongan instinctive yang
sifatnya seksual) dengan tuntutan super ego (tuntutan normal social). Orang ingin
berbuat sesuatu yang dapat memberikan kepuasan diri, tetapi perbuatan tersebut akan
mendapat celaan masyarakat. Konflik yang tidak terselesaikan antara keinginan diri
dan tuntutan masyarakat ini akhirnya akan mengantarkan orang pada gangguan jiwa.
Terjadinya gangguan jiwa dikarenakan orang tidak memuaskan macam-
macam kebutuhan jiwa mereka. Beberapa contoh dari kebutuhan tersebut diantaranya
adalah pertama kebutuhan untuk afiliasi, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan
diterima oleh orang lain dalam kelompok. Kedua, kebutuhan untuk otonomi, yaitu
ingin bebas dari pengaruh orang lain. Ketiga, kebutuhan untuk berprestasi, yang
muncul dalam keinginan untuk sukses mengerjakan sesuatu dan lain-lain. Gangguan
jiwa disebabkan oleh tekanan dari perasaan rendah diri (infioryty complex) yang
berlebih-lebihan. Sebab-sebab timbulnya rendah diri adalah kegagalan di dalam
mencapai superioritas di dalam hidup. Kegagalan yang terus-menerus ini akan
menyebabkan kecemasan dan ketegangan emosi (Alfred Adler, 2012).
3. Penggolongan Gangguan Jiwa
Penggolongan gangguan jiwa sangatlah beraneka ragam menurut para ahli
berbeda-beda dalam pengelompokannya, menurut Maslim (2012) macam-macam
gangguan jiwa dibedakan menjadi gangguan mental organik dan simtomatik,
skizofrenia, gangguan skizotipal dan gangguan waham, gangguan suasana perasaan,
gangguan neurotik, gangguan somatoform, sindrom perilaku yang berhubungan
dengan gangguan fisiologis dan faktor fisik, Gangguan kepribadian dan perilaku
masa dewasa, retardasi mental, gangguan perkembangan psikologis, gangguan
perilaku dan emosional dengan onset masa kanak dan remaja.
a. Skizofrenia
Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan
disorganisasi personalitas yang terbesar. Skizofrenia juga merupakan suatu
bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Meskipun
demikian pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan patogenisanya sangat
kurang. Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai kontak dengan realitas,
sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara
bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan.
Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati
biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak “cacat” (Maramis, 1994).
b. Depresi
Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan
dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan
pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus
asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan, 2011). Depresi juga dapat
diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang
ditandai dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup, perasaan
tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya (Hawari, 2010). Depresi adalah
suatu perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan. Dapat berupa
serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam
(Nugroho, 2010).
c. Kecemasan
Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami
oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang
dihadapi sebaik-baiknya, Maslim (2008). Suatu keadaan seseorang merasa
khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik
(Rawlins 2006). Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak diketahui atau tidak
dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai
tingkat berat. Menurut Sundeen (2009) mengidentifikasi rentang respon
kecemasan kedalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasan ringan, sedang,
berat dan kecemasan panik.
d. Gangguan Kepribadian
Klinik menunjukkan bahwa gejala-gejala gangguan kepribadian
(psikopatia) dan gejala-gejala neurosa berbentuk hampir sama pada orang-orang
dengan inteligensi tinggi ataupun rendah. Jadi boleh dikatakan bahwa gangguan
kepribadian, neurosa dan gangguan inteligensi sebagian besar tidak tergantung
pada satu dan lain atau tidak berkorelasi. Klasifikasi gangguan kepribadian:
kepribadian paranoid, kepribadian afektif atau siklotemik, kepribadian skizoid,
kepribadian axplosif, kepribadian anankastik atau obsesif-kompulsif, kepribadian
histerik, kepribadian astenik, kepribadian antisosial, Kepribadian pasif agresif,
kepribadian inadequat.
e. Gangguan Mental Organik
Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-psikotik yang
disebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak. Gangguan fungsi jaringan otak
ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak atau
yang terutama diluar otak. Bila bagian otak yang terganggu itu luas, maka
gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak tergantung pada
penyakit yang menyebabkannya bila hanya bagian otak dengan fungsi tertentu
saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan gejala dan sindroma,
bukan penyakit yang menyebabkannya. Pembagian menjadi psikotik dan tidak
psikotik lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak pada suatu penyakit
tertentu daripada pembagian akut dan menahun (Maramis, 2010).
f. Gangguan Psikosomatik
Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi
badaniah. Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian
besar atau semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai
oleh susunan saraf vegetatif. Gangguan psikosomatik dapat disamakan dengan
apa yang dinamakan dahulu neurosa organ. Karena biasanya hanya fungsi faaliah
yang terganggu, maka sering disebut juga gangguan psikofisiologik (Maramis,
2011).
g. Retardasi Mental
Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti
atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan
selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan
secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan social
(Maramis, 2011).
4. Tanda dan gejala gangguan jiwa
Tanda dan gejala gangguan jiwa menurut Yosep (2007) adalah sebagai berikut :
a. Ketegangan (tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-
perbuatan yang terpaksa (convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu
mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk.
b. Gangguan kognisi pada persepsi: merasa mendengar (mempersepsikan) sesuatu
bisikan yang menyuruh membunuh, melempar, naik genting, membakar rumah,
padahal orang di sekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya
tidak ada hanya muncul dari dalam diri individu sebagai bentuk kecemasan
yang sangat berat dia rasakan. Hal ini sering disebut halusinasi, klien bisa
mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang sebenarnya
tidak ada menurut orang lain.
c. Gangguan kemauan: klien memiliki kemauan yang lemah (abulia) susah
membuat keputusan atau memulai tingkah laku, susah sekali bangun pagi,
mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor, bau dan acak-acakan.
d. Gangguan emosi: klien merasa senang, gembira yang berlebihan (Waham
kebesaran). Klien merasa sebagai orang penting, sebagai raja, pengusaha, orang
kaya, titisan Bung karno tetapi di lain waktu ia bisa merasa sangat sedih,
menangis, tak berdaya (depresi) sampai ada ide ingin mengakhiri hidupnya.
e. Gangguan psikomotor : Hiperaktivitas, klien melakukan pergerakan yang
berlebihan naik ke atas genting berlari, berjalan maju mundur, meloncat-loncat,
melakukan apa-apa yang tidak disuruh atau menentang apa yang disuruh, diam
lama tidak bergerak atau melakukan gerakan aneh. (Yosep, 2007).

5. Penanganan Gangguan Jiwa


a. Terapi psikofarmaka
Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara
selektif pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap
aktivitas mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang
berpengaruh terhadap taraf kualitas hidup klien (Hawari, 2011). Obat psikotropik
dibagi menjadi beberapa golongan, diantaranya: antipsikosis, anti-depresi, anti-
mania, anti-ansietas, anti-insomnia, anti-panik, dan anti obsesif-kompulsif,.
Pembagian lainnya dari obat psikotropik antara lain: transquilizer, neuroleptic,
antidepressants dan psikomimetika (Hawari, 2011).
b. Terapi somatic
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat gangguan
jiwa sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh lain. Salah satu
bentuk terapi ini adalah Electro Convulsive Therapy. Terapi elektrokonvulsif
(ECT) merupakan suatu jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan
pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut cukup
menimbulkan kejang grand mal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik
tercapai. Mekanisme kerja ECT sebenarnya tidak diketahui, tetapi diperkirakan
bahwa ECT menghasilkan perubahan-perubahan biokimia di dalam otak
(Peningkatan kadar norepinefrin dan serotinin) mirip dengan obat anti depresan.
(Townsend alih bahasa Daulima, 2006).
c. Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah suatu pendekatan penanganan klien gangguan
yang bervariasi yang bertujuan mengubah perilaku klien gangguan jiwa dengan
perilaku maladaptifnya menjadi perilaku yang adaptif.
Ada beberapa jenis terapi modalitas, antara lain:
1) Terapi Individual
Terapi individual adalah penanganan klien gangguan jiwa dengan pendekatan
hubungan individual antara seorang terapis dengan seorang klien. Suatu
hubungan yang terstruktur yang terjalin antara perawat dan klien untuk
mengubah perilaku klien. Hubungan yang dijalin adalah hubungan yang
disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan sistematis
(terstruktur) sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan tingkah laku
klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan.
Hubungan terstruktur dalam terapi individual bertujuan agar klien mampu
menyelesaikan konflik yang dialaminya. Selain itu klien juga diharapkan
mampu meredakan penderitaan (distress) emosional, serta mengembangkan
cara yang sesuai dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
2) Terapi Lingkungan
Terapi lingkungan adalah bentuk terapi yaitu menata lingkungan agar terjadi
perubahan perilaku pada klien dari perilaku maladaptive menjadi perilaku
adaptif. Perawat menggunakan semua lingkungan rumah sakit dalam arti
terapeutik. Bentuknya adalah memberi kesempatan klien untuk tumbuh dan
berubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas
dan interaksi.
3) Terapi Kognitif
Terapi kognitif adalah strategi memodifikasi keyakinan dan sikap yang
mempengaruhi perasaan dan perilaku klien. Proses yang diterapkan adalah
membantu mempertimbangkan stressor dan kemudian dilanjutkan dengan
mengidentifikasi pola berfikir dan keyakinan yang tidak akurat tentang
stressor tersebut. Gangguan perilaku terjadi akibat klien mengalami pola
keyakinan dan berfikir yang tidak akurat. Untuk itu salah satu memodifikasi
perilaku adalah dengan mengubah pola berfikir dan keyakinan tersebut. Fokus
asuhan adalah membantu klien untuk reevaluasi ide, nilai yang diyakini,
harapan-harapan, dan kemudian dilanjutkan dengan menyusun perubahan
kognitif.
4) Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga
sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga adalah agar
keluarga mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran utama terapi jenis
ini adalah keluarga yang mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan
fungsi-fungsi yang dituntut oleh anggotanya. Dalam terapi keluarga semua
masalah keluarga yang dirasakan diidentifikasi dan kontribusi dari masing-
masing anggota keluarga terhadap munculnya masalah tersebut digali. Dengan
demikian terlebih dahulu masing-masing anggota keluarga mawas diri; apa
masalah yang terjadi di keluarga, apa kontribusi masing-masing terhadap
timbulnya masalah, untuk kemudian mencari solusi untuk mempertahankan
keutuhan keluarga dan meningkatkan atau mengembalikan fungsi keluarga
seperti yang seharusnya.
5) Terapi Kelompok
Terapi kelompok adalah bentuk terapi kepada klien yang dibentuk dalam
kelompok, suatu pendekatan perubahan perilaku melalui media kelompok.
Dalam terapi kelompok perawat berinteraksi dengan sekelompok klien secara
teratur. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran diri klien, meningkatkan
hubungan interpersonal, dan mengubah perilaku maladaptive. Terapi Perilaku
Anggapan dasar dari terapi perilaku adalah kenyataan bahwa perilaku timbul
akibat proses pembelajaran. Perilaku sehat oleh karenanya dapat dipelajari dan
disubstitusi dari perilaku yang tidak sehat. Teknik dasar yang digunakan dalam
terapi jenis ini adalah: Role model, Kondisioning operan, Desensitisasi
sistematis, Pengendalian diri dan Terapi aversi atau rileks kondisi.
6) Terapi Bermain
Terapi bermain diterapkan karena ada anggapan dasar bahwa anak-anak akan
dapat berkomunikasi dengan baik melalui permainan dari pada dengan
ekspresi verbal. Dengan bermain perawat dapat mengkaji tingkat
perkembangan, status emosional anak, hipotesa diagnostiknya, serta
melakukan intervensi untuk mengatasi masalah anak tersebut.

6. Persepsi Masyarakat Tentang Gangguan Jiwa


Manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat.
Untuk mempertahankan eksistensinya manusia perlu berada bersama orang lain dan
mengadakan interaksi sosial di dalam kelompoknya. Kelompok ini dibedakan
menjadi kelompok kecil (keluarga) dan kelompok yang lebih luas (masyarakat).
Masyarakat merupakan sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan
mendiami wilayah atau daerah tertentu ,serta mengembangkan norma-norma yang
harus dipatuhi oleh para anggotanya. Selain itu masyarakat juga terdiri dari arti
masyarakat secara luas yang mengartikan bahwa masyarakat merupakan kumpulan
dari individu-individu yang saling berinteraksi, yang mempunyai tujuan bersama dan
yang cenderung memiliki kepercayaan, sikap dan perilaku yang sama. (Sarwono,
2007).
Persepsi masyarakat terhadap kesehatan mental berbeda di setiap
kebudayaan. Dalam suatu budaya tertentu, orang-orang secara sukarela mencari
bantuan dari para profesional untuk menangani gangguan jiwanya. Sebaliknya dalam
kebudayaan yang lain, gangguan jiwa cenderung diabaikan sehingga penanganan
akan menjadi jelek, atau di sisi lain masyarakat kurang antusias dalam mendapatkan
bantuan untuk mengatasi gangguan jiwanya. Bahkan gangguan jiwa dianggap
memalukan atau membawa aib bagi keluarga. Hal kedua inilah yang biasanya terjadi
dikalangan masyarakat saat ini. (http://rsjlawang.com/artikel_080512a.html).
Model kesehatan Barat memandang gangguan jiwa sebagai suatu hal yang
harus disembuhkan. Sehingga pelayanan kesehatan jiwa cenderung berorientasi
hanya pada gangguan jiwa yang menimpa orang tersebut dan sering mengabaikan
aspek-aspek yang berkaitan dengan kehidupan dan kesejahteraan kliennya.
Sebaliknya di berbagai negara, gangguan jiwa dapat dipersepsi secara
holistik, dan memperhitungkan adanya kesulitan mental dan spiritual yang dialami
klien yang dapat menyebabkan gangguan jiwa. Apabila seseorang tidak sampai pada
tingkatan ini, mereka seringkali tidak berani mencari bantuan sehingga diagnosanya
akan menjadi jelek dan memperburuk keadaannya.
Pada abad XX, kepercayaan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh kekuatan
supranatural seperti roh atau arwah masih dijumpai, misalnya di Meksiko dan
Filipina. Demikian juga di negara-negara Afrika, Asia Tenggara, India, Siberia, Haiti,
bahkan di Amerika Serikat. Saat ini, di negara-negara barat dapat dibedakan
pandangan tentang terjadinya penyimpangan tingkah laku, yang salah satunya adalah
penjelasan magis yakni perilaku aneh atau menyimpang karena kekuatan roh jahat
(Gunawan, 2012).
Dalam masyarakat kita, ada beberapa keadaan yang merupakan bentuk
persepsi untuk individu dengan gangguan jiwa menurut (Soewadi, 1997) yang dikutip
Mubin, (2008). Pertama, keyakinan atau kepercayaan bahwa gangguan jiwa itu
disebabkan oleh guna-guna, tempat keramat, roh jahat, setan, sesaji yang salah,
kutukan, banyak dosa, pusaka yang keramat, dan kekuatan gaib atau supranatural.
Kedua, keyakinan atau kepercayaan bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang
tidak dapat disembuhkan. Ketiga, keyakinan atau kepercayaan bahwa gangguan jiwa
merupakan penyakit yang bukan urusan medis. Keempat, keyakinan atau kepercayaan
bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang selalu diturunkan.
Menurut Rahmat (2014) persepsi dipengaruhi oleh pengalaman, dimana
seseorang yang telah mempunyai pengalaman tentang hak-hak tertentu akan
mempengaruhi kecermatan seseorang dalam memperbaiki persepsi. Sedangkan
menurut (Willis, 1976; Kolb & Brodie, 2013) pada zaman pra sejarah masyarakat
selalu beranggapan bahwasanya suatu penyakit itu disebabkan oleh kekuatan
supranatural.
Pada mulanya, masyarakat dengan dasar pengetahuan yang minim sekali,
ditambah dengan dasar kepercayaan dan keyakinan yang dimiliki, menganggap
bahwa penyakit yang menimpanya sebagai "murka dari Yang Maha Kuasa". Oleh
sebab itu, tidak jarang ditemukan masyarakat yang melaksanakan hajatan dengan
berbagai sajian untuk menyembuhkan orang sakit (Jafar et al,2009)
Persepsi yang timbul di masyarakat disebabkan oleh gejala-gejala yang
dianggap aneh dan berbeda dengan orang normal. Adanya persepsi ini juga berkaitan
dengan faktor tradisi atau kebudayaan dalam masyarakat yang masih percaya
takhayul dan tindakan-tindakan irrasional warisan nenek moyang. Selain itu, persepsi
tersebut muncul karena penyebab gangguan jiwa itu sendiri dirasa sulit ditemukan.
Bahkan, para ahli jiwa masih sering berdebat tentang etiologi gangguan jiwa
(Soewadi,2008)

B. DEFINISI PEMASUNGAN
1. Pengertian Pemasungan
Pemasungan penderita gangguan jiwa adalah tindakan masyarakat
terhadap penderita gangguan jiwa (biasanya yang berat) dengan cara dikurung, dirantai
kakinya dimasukan kedalam balok kayu dan lain-lain sehingga kebebasannya menjadi
hilang. Pasung merupakan salah satu perlakuan yang merampas kebebasan dan
kesempatan mereka untuk mendapat perawatan yang memadai dan sekaligus juga
mengabaikan martabat mereka sebagai manusia. Di Indonesia, kata pasung mengacu
kepada pengekangan fisik atau pengurungan terhadap pelaku kejahatan, orang-orang
dengan gangguan jiwa dan yang melakukan tindak kekerasan yang dianggap berbahaya
(Broch, 2001, dalamMinas & Diatri, 2008). Pengekangan fisik terhadap individu
dengan gangguan jiwa mempunyai riwayat yang panjang dan memilukan.
Pasung merupakan suatu tindakan memasang sebuah balok kayu pada tangan
dan/atau kaki seseorang, diikat atau dirantai, diasingkan pada suatu tempat tersendiri di
dalam rumah ataupun di hutan. Keluarga dengan klien gangguan jiwa yang dipasung
seringkali merasakan beban yang berkaitan dengan perawatan klien. Alasan keluarga
melakukan pemasungan adalah mencegah perilaku kekerasan, mencegah risiko bunuh
diri, mencegah klien meninggalkan rumah dan ketidak mampuan keluarga merawat
klien gangguan jiwa.
Mereka lebih memilih menyembunyikan penderita dibanding mengobati.
Kebanyakan pelaku dari kasus pemasungan ini adalah keluarga dari si penderita
gangguan jiwa itu sendiri. Keluarga penderita pada umumnya tidak paham apa yang
sebaiknya mereka lakukan terhadap para penderita. Keluarga juga khawatir jika yang
bersangkutan nantinya melakukan tindakan merusak atau bahkan kekerasan kalau
sakitnya itu kambuh. Faktor keterbatasan ekonomi juga jadi faktor penting kenapa
penderita tidak dilarikan ke rumah sakit jiwa.

2. ETIOLOGI
a. Ketidaktahuan pihak keluarga, rasa malu pihak keluarga, penyakit yang tidak
kunjung sembuh, tidak adanya biaya pengobatan, dan tindakan keluaga untuk
mengamankan lingkungan merupakan penyebab keluarga melakukan pemasungan
(Depkes, 2005).
b. Perawatan kasus psikiatri dikatakan mahal karena gangguannya bersifat jangka
panjang (Videbeck, 2008). Biaya berobat yang harus ditanggung pasien tidak hanya
meliputi biaya yang langsung berkaitan dengan pelayanan medik seperti harga obat,
jasa konsultasi tetapi juga biaya spesifik lainnya seperti biaya transportasi ke rumah
sakit dan biaya akomodasi lainnya (Djatmiko, 2007).
Alasan keluarga melakukan pemasungan diantaranya
a. Mencegah klien melakukan tindak kekerasan yang dianggap membahayakan
terhadap dirinya atau orang lain
b. Mencegah klien meninggalkan rumah dan mengganggu orang lain
c. Mencegah klien menyakiti diri seperti bunuh diri
d. Ketidaktahuan serta ketidakmampuan keluarga menangani klien apabila sedang
kambuh.
e. Faktor kemiskinan dan rendahnya pendidikan keluarga merupakan salah satu
penyebab pasien gangguan jiwa berat hidup terpasung

3. Tindakan Pemasungan
Terkurung dalam kandang binatang peliharaan; terkurung dalam rumah; kaki
atau lehernya dirantai; salah satu atau kedua kakinya dimasukkan kedalam balok kayu
yang dilubangi.
a. Terapi
a) Dirawat sampai sembuh di Rumah Sakit Jiwa, kemudian dilanjutkan dengan
rawat jalan.
b) Untuk menghilangkan praktek pasung yang masih banyak terjadi dimasyarakat
perlu adanya kesadaran dari keluarga yang dapat diintervensi dengan
melakukan terapi keluarga. Salah satu terapi keluarga yang dapat dilakukan
adalah psikoedukasi keluarga ( Family psichoeducation Therapy). Terapi
keluarga ini dapat memberikan support kepada anggota keluarga. Keluarga
dapat mengekspresikan beban yang dirasakan seperti masalah keuangan, sosial
dan psikologis dalam memberikan perawatan yang lama untuk anggota
keluarganya.
b. Family Psychoeducation Terapy
Family Psychoeducation Terapy adalah salah satu bentuk terapi
perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi dan
edukasimelalui komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi merupakan
pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatis (Stuart & Laraia, 2005).Carson
(2000) menyatakan bahwa psikoedukasi merupakan suatu alatterapi keluarga yang
makin populer sebagai suatu strategi untuk menurunkan faktor – faktor resiko
yang berhubungan dengan perkembangan gejala – gejala perilaku.
c. Tujuan umum dari Family psychoeducation
Menurunkan intensitas emosi dalam keluarga sampai pada tingkatan yang
rendah sehingga dapat meningkatkan pencapaian pengetahuan keluarga tentang
penyakit dan mengajarkan keluarga tentang upaya membantu mereka melindungi
keluarganya dengan mengetahui gejala-gejala perilaku serta mendukung kekuatan
keluarga (Stuart & Laraia, 2005).
d. Manfaat Family Psychoeducation
Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang penyakit, mengajarkan
tehnik yang dapat membantu keluarga untuk mengetahui gejala –
gejala penyimpangan perilaku, serta peningkatan dukungan bagi anggota keluarga
itu sendiri. Indikasi dari terapi psikoedukasi keluarga adalah anggota keluarga
dengan aspek psikososial dan gangguan jiwa.
Menurut Carson (2010), situasi yang tepat dari penerapan psikoedukasi
keluarga adalah:
a. Informasi dan latihan tentang area khusus kehidupan keluarga, seperti latihan
keterampilan komunikasi atau latihan menjadi orang tua yang efektif.
b. Informasi dan dukungan terhadap kelompok keluarga khusus stress dan krisis,
seperti pada kelompok pendukung keluarga dengan penyakit Alzheimer.
c. Pencegahan dan peningkatan seperti konseling pranikah untuk keluarga
sebelum terjadinya krisis
Terapi ini juga dapat diberikan kepada keluarga yang
membutuhkan pembelajaran tentang mental, keluarga yang mempunyai anggota
yang sakit mental/ mengalami masalah kesehatan dan keluarga yang ingin
mempertahankan kesehatan mentalnya dengan training/ latihan ketrampilan.
d. Family psychoeduction
Dapat dilakukan di rumah sakit baik rumah sakit umum maupun rumah
sakit jiwa dengan syarat ruangan harus kondusif. Dapat juga dilakukan di rumah
keluarga sendiri. Rumah dapat memberikan informasi kepada tenaga kesehatan
tentang bagaimana gaya interaksi yang terjadi dalam keluarga, nilai – nilai yang
dianut dalam keluarga dan bagaimanan pemahaman keluarga tentang
kesehatan.Selain terapi keluarga, terdapat beberapa jenis terapi lain yang
dapatdigunakan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dan klien
dimasyarakat yaitu dengan terapi individu, terapi kelompok dan terapikomunitas.
Intervensi tersebut diupayakan melalui penerapan program kesehatan jiwa
komunitas/masyarakat yang efektif yang dalam hal ini dilakukan melalui
penerapan Community Mental Health Nursing (CMHN).Pelayanan CMHN
tersebut diwujudkan melalui beberapa kegiatan,diantaranya kunjungan rumah oleh
perawat CMHN dan Kader Kesehatan Jiwa (KKJ), pendidikan kesehatan,
pelayanan dari Puskesmas (termasuk pemberian psikofarmaka), Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK) dan Terapi Rehabilitasi (FIK UI & WHO, 2005).
Adapun intervensi yang dapat diberikan untuk keluarga dengan
gangguan jiwa menurut CMHN (2005) adalah sebagai berikut :
a) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien.
b) Berikan penjelasan pada keluarga tentang pengertian, etiologi, tanda dan
gejala, dan cara merawat klien dengan diagnosa keperawatan tertentu
(misalnya halusinasi, perilaku kekerasan)
c) Demonstrasikan cara merawat klien sesuai jenis gangguan yang dialami.
d) Berikan kesempatan pada keluarga untuk memperagakan cara merawat klien
yang telah diajarkan.
e) Bantu keluarga untuk menyusun rencana kegiatan di rumah.
f) Tindakan Terhadap Keluarga Dengan Pasung
Secara umum, program komprehensif dalam bekerjasama dengan keluarga
terdiri dari beberapa komponen berikut ini (Marsh, 2000 dalam Stuart & Laraia,
2005) :
a) Didactic component, memberikan informasi tentang gangguan jiwa dan
sistem kesehatan jiwa. Pada komponen ini, difokuskan pada peningkatan
pengetahuan bagi anggota keluarga melalui metode pengajaran psikoedukasi.
b) Skill component, menawarkan pelatihan cara komunikasi, resolusi
konflik, pemecahan masalah, bertindak asertif, manajemen perilaku, dan
manajemen stres. Pada komponen ini, difokuskan pada penguasaan dan
peningkatan keterampilan keluarga dalam merawat keluarga dengan
gangguan jiwa termasuk ketrampilan mengekspresikan perasaan anggota
keluarga sehingga diharapkan dapat mengurangi beban yang dirasakan
keluarga.
c) Emotional component, memberi kesempatan keluarga untuk ventilasi,
bertukar pendapat, dan mengerahkan sumber daya yang dimiliki. Pada
komponen ini, difokuskan pada penguatan emosional anggota keluarga untuk
mengurangi stress merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.
Keluarga dapat saling menceritakan pengalaman dan perasaannya serta
bertukar informasi dengan anggota kelompok yang lain tentang pengalaman
merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.
d) Family process component, berfokus pada koping keluarga dengan
gangguan jiwa dan gejala sisa yang mungkin muncul. Pada komponen ini,
difokuskan pada penguatan koping anggota keluarga dalam menghadapi
kemungkinan kekambuhan klien di masa depan.
e) Social component, meningkatkan penggunaan jaringan dukungan formal dan
informal. Pada komponen ini, difokuskan pada pemberdayaan keluarga dan
komunitas untuk meningkatkan kerjasama yang berkesinambungan dan terus
menerus.
Kelima komponen di atas sangat tepat diterapkan sebagai prinsip dasar dalam
menjalin kerjasama dengan keluarga dengan gangguan jiwa karena telah
mencakup semua hal yang diperlukan untuk sebuah kolaborasi antara
keluarga klien dengan tenaga kesehatan.
Menurut Stuart dan Laraia (2005), ada dua prinsip utama dalam terapi
keluargayang membedakannya dari terapi individu atau kelompok dan terapi-
terapi yang lain, yaitu :
a) Keluarga diartikan sebagai sebuah sistem perilaku dengan berbagai keunikan
dibandingkan dengan karakteristik sejumlah individu anggota keluarga.
b) Diasumsikan bahwa ada hubungan tertutup antara fungsi keluarga sebagai
suatu kumpulan dan adaptasi emosional dari individu anggota keluarga.
Dalam perkembangannya, terdapat berbagai jenis terapi keluarga dari
berbagai aliran. Meskipun demikian, secara umum tujuan dari terapi keluarga
adalah untuk meningkatkan ketrampilan individu, komunikasi, perilaku, dan
fungsi darikeluarga.
Varcarolis (2006) mengidentifikasi beberapa jenis terapi keluarga yang
berbasis pada insight-oriented family therapy dan behavioral family therapy.
Insight-oriented family therapy berfokus pada proses unconsciousness (bawah
sadar) yangmempengaruhi hubungan kebersamaan antar anggota keluarga dan
mendorong munculnya insight tentang diri sendiri dan anggota keluarga.
Berikut ini tiga jenis pendekatan terapi keluarga yang berfokus pada
insight-oriented family therapy yaitu :
a) Psychodinamic Therapy, dikembangkan oleh Ackerman et al dengan
dasar konsep perbaikan/peningkatan insight dalam menyikapi cara pandang
terhadap hubungan masalah yang terjadi di masa lalu.
b) Family-of-origin therapy, dikembangkan oleh Murray Bowen dengan
asumsi bahwa keluarga dipandang sebagai suatu sistem hubungan
emosional. Bowen percaya bahwa keluarga mempunyai pengaruh sangat besar
terhadap hidup seseorang. Setiap kali seseorang masuk dalam suatu hubungan,
pola-pola lama yang ada dalam keluarga sangat berpengaruh terlebih jika
individu mempunyai unfinished business dalam hubungan di keluarga. Oleh
karena itu, salah satu alat terapi Bowen adalah peta keluarga (genogram) 3
generasi. Model Bowen ini kelak menjadi dasar konsep family triangles.
c) Experimental-existensial therapy, dikembangkan oleh Virginia Satir et
al dengan konsep bahwa tujuan terapi adalah untuk meningkatkan
pertumbuhan keluarga dengan asumsi perlunya pemberdayaan keluarga untuk
memecahkan masalahnya sendiri. Menurut Satir, peran terapis adalah
membantu mengidentifikasi disfungsi pola komunikasi dalam keluarga.

4. Pencegahan
a. Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE).
b. Kurasi (penyembuhan) dan rehabilitasi yang lebih baik.
c. Memanfaatkan sumber dana dari JPS-BK.
d. Penciptaan Therpeutic Community (lingkungan yang mendukung proses
penyembuhan ).
e. Salah satu kasus yang ditemukan melalui pendekatan CMHN adalah tindakan
pemasungan yang masih kerap dilakukan oleh keluarga klien dengan gangguan
jiwa. Untuk memberantas praktek tersebut, diperlukan peningkatan kesadaran dan
pengetahuan dari keluarga dan masyarakat mengenai gangguan jiwa tentang cara
penanganan yang manusiawi terhadap klien.
Hukum pasung merupakan metode yang paling "populer" karena ada dimana-
mana. Alat pasung pun sangat beragam dari satu tempat ke tempat lain. Umumnya
hukuman pasung dilaksanakan sebagai pengganti penjara. Orang dihukum pasung
karena berbagai sebab, antara lain prostitusi, kriminal biasa, juga sakit jiwa. DiAmerika
Serikat pasung diterapkan sampai awal abad ke- 20, terutama di pedalaman yang tidak
memiliki penjara (Anonim, 2007). Klien gangguan jiwa merupakan kelompok
masyarakat yang rentan mengalami pelanggaran HAM dan perlakuan tidak adil. Hal ini
disebabkan adanya stigma, diskriminasi, pemahaman yang salah, serta belum adanya
peraturan yang benar-benar melindungi mereka. Kondisi ini diperparah dengan
munculnya beragam pandangan keliru atau stereotip di masyarakat sehingga karena
pandangan yang salah ini masyarakat akhirnya lebih mengolok-olok penderita,
menjauhinya, bahkan sampai memasung karena menganggapnya berbahaya.
Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan “
perawat utama” bagi klien. Oleh karenanya peran keluarga sangat besar dalam
menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien di rumah. Jika keluarga dipandang
sebagai suatu sistem maka gangguan yang terjadi pada salah satu anggota dapat
mempengaruhi seluruh sistem, sebaliknya disfungsi keluarga merupakan salah satu
penyebab gangguan pada anggota keluarga. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa
angka kekambuhan pada pasien tanpa terapi keluarga sebesar 25 – 50 %, sedangkan
angka kambuh pada pasien yang diberikan terapi keluarga adalah sebesar 5 – 10
% (Keliat, 2006). Hal ini dapat disebabkan kurangnya dukungan keluarga terhadap klien
sehingga diharapkan dengan meningkatkan dukungan keluarga melalui intervensi
psikoedukasi keluarga dapat mengurangi angka kekambuhan klien yang secara otomatis
akan mengurangi praktek pasung di masyarakat.

Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang dapat membantu klien


dengan gangguan jiwa untuk beradaptasi dan meningkatkan kemampuannya dalam
masyarakat. Jika keluarga memiliki pengaruh yang positif pada anggotanya, mereka
akan mempunyai rasa dan pengakuan diri serta harga diri yang positif danmenjadi
produktif sebagai anggota masyarakat. Pada kenyataannya, keluarga sering merupakan
faktor pencetus timbulnya masalah kesehatan mental klien termasuk di dalamnya
melakukan pengurungan atau pemasungan terhadap klien yang dianggap berbahaya
sebagai akibat sikap keluarga yang tidak terapeutik terhadap klien dan kurangnya
pengetahuan mengenai peran serta keluarga serta ketidak mampuan memahami klien
sehingga tidak mampu mendukung dalam perawatan klien. Keluarga juga cenderung
menganggap penderita gangguan jiwa sebagai beban dari segi ekonomi dan aib yang
harus ditutupi dari pandangan masyarakat.
Keluarga merupakan „perawat‟ utama dan support system terbesar untuk klien.
Gangguan jiwa yang dialami klien akan menimbulkan berbagai respon dari keluarga
dan lingkungan, salah satunya berupa pemasungan yang dilakukan olehkeluarga
terhadap klien gangguan jiwa jika dianggap berbahaya bagi lingkungan.Pemasungan
yang dilakukan keluarga sangat dipengaruhi oleh perilaku keluarga yang diuraikan
menurut teori Green (1980) meliputi predisposing factor, enabling factor dan
reenforcing factor.
a. Faktor predisposisi ( predisposing factor)
Mencakup pengetahuan dan sikap keluarga terhadap kesehatan, tradisi dan
kepercayaan keluarga terhadap terhadap hal-hal yang berhubungan dengan
kesehatan, sistem nilai yang dianut keluarga, tingkat pendidikan keluarga dan
tingkat sosial ekonomi keluarga. Misalnya tradisi pasung yang dilakukan keluarga
terhadap klien gangguan jiwa didaerah pedesaan dapat dianggap sebagai warisan
dari nenek moyang. Perlakuan seperti ini dilatarbelakangi oleh pemahaman yang
sangat minim terhadap gangguan jiwa. Ditambah lagi dengan rendahnya tingkat
pendidikan dan tingkat sosial ekonomi keluarga yang secara tidak langsung sangat
mempengaruhi keluarga dalam memperlakukan klien gangguan jiwa.
b. Faktor pemungkin (enabling factor )
Mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan
bagikeluarga, termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas,
RumahSakit Jiwa, ketersediaan psikiater atau perawat jiwa yang mudah dijangkau
oleh keluarga. Pemasungan biasanya dilakukan oleh masyarakat yang bertempat
tinggal di daerah pedesaan yang mempunyai jarak cukup jauh dari sarana pelayanan
kesehatan sehingga sulit dijangkau oleh tenaga kesehatan. Kesulitan dalam
mengakses sarana pelayanan kesehatan semakin menguatkan perilaku keluarga
dalam melakukan tindakan negatif terhadap klien gangguan jiwa
seperti pemasungan atau pengurungan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang
tidak diinginkan bila sewaktu-waktu klien mengalami kekambuhan.
c. Faktor penguat (reenforcing factor)
Mencakup sikap dan perilaku tokoh masyarakat dan petugas kesehatan serta
adanya undangundang dan peraturan pemerintah. Sikap masyarakat dan lingkungan
keluarga sangat berpengaruh terhadap proses rehabilitasi dan pencegahan
kekambuhan klien gangguan jiwa. Pemasungan yang dilakukan keluarga biasanya
juga mendapat dukungan dari masyarakat karena kurangnya pengetahuan
lingkungan tentang gangguan jiwa. Selain itu, diperlukan juga peraturan pemerintah
yang mengatur tentang kemudahan penggunaan fasilitas kesehatan bagi keluarga
dan masyarakat. Pemasungan merupakan tindakan yang dilakukan keluarga yang
dipengaruhi oleh beberapa hal. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ketiga faktor
di atas turut mempengaruhi keluarga dalam melakukan pemasungan.Konsep
keluarga diuraikan melalui beberapa aspek yaitu kemampuan,fungsi, peran, tugas
dan karakteristik keluarga. Semua faktor tersebut mempengaruhi kemampuan
keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa.

5. Tugas Keluarga
Mempertahankan status kesehatan seluruh anggota keluarga baik kesehatan
fisik dan mental merupakan salah satu tugas utama keluarga. Keluarga dengan status
kesehatan yang optimal merupakan aset yang sangat berharga untuk masyarakat dan
negara. Warga negara yang sehat dan produktif sangat berperan dalam meningkatkan
produktifitas kerja dan turut menunjang peningkatan ekonomi negara.
MenurutFriedman (2008), keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu
dipahami dan dilakukan, meliputi :
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga. Orang tua perlu mengenal keadaan
kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan
sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung
menjadi perhatian orang tua atau keluarga.
b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas inimerupakan
upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepatsesuai dengan
keadaan keluarga, denganpertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai
kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga. Tindakan
kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan
dapat dikurangi atau bahkan teratasi.
c. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Keluarga hendaknya
mampu memerankan tugasnya untuk merawat salah satu anggota keluarga yang
mengalami gangguan di rumah. Faktor lingkungan dan dukungan keluarga
yang positif sangat mendukung untuk proses kesembuhan seseorang.
d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga. Keluarga
harus berupaya menciptakan suasana yang nyaman untuk setiap anggota
keluarga. Lingkungan yang kondusif akan menciptakan kondisi mental yang
sehat bagi anggota keluarga dan sekaligus meningkatkan daya tahan keluarga
terhadap krisis.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.
Keluarga dapat merujuk salah satu anggota keluarga yang sakit ke pusat
pelayanan kesehatan terdekat dan juga dapat memeriksakan secara rutin jika
terdapat gejala-gejala kekambuhan.
Gangguan jiwa ringan dan berat sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup
dan produktivitas individual/keluarga karena akibat yang ditimbulkan menetap
seumur hidup, bersifat kronik dengan tingkat kekambuhan yang dapat terjadi setiap saat
sehingga pada akhirnya menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat. Sejalan dengan
dampak ekonomi yang ditimbulkan berupa hilangnya hari produktif untuk mencari
nafkah bagi penderita maupun keluarga yang harus merawat serta tingginya biaya
perawatan yang harus ditanggung keluarga maupun masyarakat. Penyelesaian masalah
saat merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa dapat ditentukan oleh
faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan keluarga.
Menurut Green (1980, dalam Notoatmodjo, 2010), perilaku dipengaruhi oleh 3
faktor yaitu : predisposing factor (faktor predisposisi yang meliputi pengetahuan, sikap,
sistem nilai, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi), enabling factor (faktor
pemungkin yang meliputi ketersediaan sarana dan prasarana, fasilitas kesehatan) dan
reenforcing factor (faktor penguat yang meliputi sikap dan perilaku tokoh masyarakat
dan petugas kesehatan, undang-undang dan peraturan pemerintah). Berdasarkan paparan
diatas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga
yang mengalami gangguan jiwa dipengaruhi oleh banyak faktor yang harus diketahui
dan dimiliki oleh keluarga sehingga dapat memberikan asuhan yang berkualitas kepada
klien.
Bekerja sama dengan anggota keluarga merupakan bagian penting dari
proses perawatan klien gangguan jiwa (Stuart & Laraia, 2005). Kondisi di banyak
negara berkembang termasuk Indonesia, sebenarnya lebih menguntungkan
dibandingkan negara maju, karena dukungan keluarga (primary support
groups) yangdiperlukan dalam penggobatan gangguan jiwa berat lebih baik
dibandingkan dinegara maju. Stigma terhadap gangguan jiwa berat ini tidak hanya
menimbulkan konsekuensi negatif terhadap penderitanya tetapi juga bagi anggota
keluarga, meliputi sikap-sikap penolakan, penyangkalan, disisihkan, dan diisolasi.
Kliengangguan jiwa mempunyai risiko tinggi terhadap pelanggaran hak asasi
manusia(Djatmiko, 2007). Salah satu bentuk pelanggaran hak asasi tersebut adalah
masih adanya praktek pasung yang dilakukan keluarga jika ada salah satu anggota
keluarga yang mengidap gangguan jiwa. Padahal dengan cara itu, secara tidak sadar
keluarga telah memasung fisik dan hak asasi penderita, hingga menambah beban mental
dan penderitaannya.

6. Keluarga dengan Gangguan Jiwa Khususnya Pasung


Kondisi di banyak negara berkembang termasuk Indonesia, sebenarnya lebih
menguntungkan dibandingkan negara maju, karena dukungan keluarga
(primary support groups) yang diperlukan dalam penggobatan gangguan jiwa berat
lebih baik dibandingkan di negara maju. Stigma terhadap gangguan jiwa berat ini
tidak hanya menimbulkan konsekuensi negatif terhadap penderitanya tetapi juga bagian
anggota keluarga, meliputi sikap-sikap penolakan, penyangkalan, disisihkan,
dandiisolasi. Klien gangguan jiwa mempunyai risiko tinggi terhadap pelanggaran
hak asasi manusia (Djatmiko, 2012).

7. Dampak Dari Tindakan Pemasungan


Salah satu bentuk pelanggaran hak asasi tersebut adalah masih adanya
praktek pasung yang dilakukan keluarga jika ada salah satu anggota keluarga yang
mengidap gangguan jiwa. Pasung merupakan suatu tindakan memasang sebuah balok
kayu pada tangan atau kaki seseorang, diikat atau dirantai lalu diasingkan pada suatu
tempat tersendiri di dalam rumah ataupun di hutan
a. Secara tidak sadar keluarga telah memasung fisik dan hak asasi penderita hingga
menambah beban mental dan penderitaannya.
b. Tindakan tersebut mengakibatkan orang yang terpasung tidak dapat menggerakkan
anggota badannya dengan bebas sehingga terjadi atrofi.Tindakan ini sering
dilakukan pada seseorang dengan gangguan jiwa bilaorang tersebut dianggap
berbahaya bagi lingkungannya atau dirinya sendiri (Maramis, 2013).
Di beberapa daerah di Indonesia, pasung masih digunakan sebagai alat
untuk menangani klien gangguan jiwa di rumah. Saat ini, masih banyak klien
gangguan jiwa yang didiskriminasikan haknya baik oleh keluarga maupun masyarakat
sekitar melalui pemasungan. Sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan larangan
"tradisi" memasung klien gangguan jiwa berat yang kerap dilakukan penduduk yang
berdomisili di pedesaan dan pedalaman terus berupaya dilakukan antara lain dengan
memberdayakan petugas kesehatan di tengah-tengah masyarakat.
Pemasungan terdapat di seluruh Indonesia, hanya prevalensinya berbeda-beda
di berbagai daerah. Masyarakat memakai caranya sendiri untuk menangani klien
gangguan jiwa yang dianggap berbahaya bagi masyarakat atau bagi klien itu sendiri.
Cara pasung dianggap oleh masyarakat sebagai suatu cara yang efektif akan tetapi
sangat disayangkan bahwa selanjutnya tidak ada atau hanya sedikit sekali diusahakan
pengobatan dari segi medis dan klien dipasung terus bertahun-tahun lamanya. Usaha
untuk melepaskan klien pasung sampai saat ini masih terbentur pada banyak masalah,
antara lain keuangan dan tempat di rumah sakitserta sikap masyarakat sendiri(Maramis,
2006). Stigma dan ketidaktahuan yang menjadi penyebab klien gangguan jiwa banyak
berada di tengah masyarakat. Selain itu beban berat juga dipikul oleh keluarga klien.
Anggota keluarga menjadi malu dan ikut dijauhi masyarakat, bahkan terkadang
keluarga juga dipojokkan sebagai penyebab gangguan yang dialami klien.
Menurut Minas dan Diatri (2008), alasan keluarga dan masyarakat
melakukan pemasungan terhadap klien gangguan jiwa sangat bervariasi meliputi
pencegahan prilaku kekerasan, mencegah klien „keluyuran‟ sehingga membahayakan
oranglain, mencegah risiko bunuh diri, dan ketidak mampuan keluarga merawat klien
dengan gangguan jiwa. Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa praktek pasung
yang dilakukan keluarga dan masyarakat sangat terkait dengan tingkat pengetahuan dan
pandangan masyarakat sekitar.

C. KONSEP DASAR TEORI ISOLASI SOSIAL


1. Pengertian Isolasi Sosial : Menarik Diri
Secara kodratiyah, manusia sebagai makhluk berpikir yang membedakanya
dengan hewan, manusia tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Untuk mencapai
kepuasan dalam kehidupannya mereka harus membina hubungan interpersonal.
Interaksi sosial atau sosialisasi adalah hubungan interpersonal yang sehat, terjadi jika
individu terlibat saling merasakan kedekatan, sementara identitas pribadi masih dapat di
pertahankan. Juga perlu untuk membina perasaan saling tergantung, yang merupakan
keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan. (Stuart
dan Sundeen, 2010: 345).
Interaksi sosial adalah keadaan dimana individu mengalami atau beresiko
mengalami respon negative, ketidak adekuatan ketidakpuasan dalam interaksi.
( Carpenito, 2011 : 385). Dari kedua pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa
interaksi sosial adalah kemampuan individu melakukan suatu aktifitas dengan individu
lainnya dalam menjalin hubungan kerjasama, adanya saling ketergantungan,
keseimbangan dan kepuasan serta kemandirian dalam suasana hubungan yang sehat.
Menurut Townsend, M.C (2000:152) isolasi sosial merupakan keadaan kesepian
yang dialami oleh seseorang karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan
mengancam bagi dirinya. Sedangkan menurut DEPKES RI (2014: 117) penarikan diri
atau withdrawal merupakan suatu tindakan melepaskan diri, baik perhatian maupun
minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung yang dapat bersifat sementara atau
menetap.
Isolasi sosial merupakan keadaan di mana individu atau kelompok mengalami
atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan
orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito 2008,L.J,: 381).
Menurut Rawlins, R.P & Heacock, P.E (2007: 423) isolasi sosial menarik diri
merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain,
individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam
berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan.
Perilaku isolasi sosial menarik diri merupakan suatu gangguan hubungan
interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang
menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan
sosial (Depkes RI, 2000)

2. Proses Terjadinya Masalah


Menurut Stuart Sundeen rentang respon klien ditinjau dari interaksinya dengan
lingkungan social merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respon adaptif
dengan maladaptive sebagai berikut :
a. Rentang respon sosial

Respom Adaptif :
Respon yang masih dapat diterima oleh norma – norma social dan kebudayaan
secara umum serta masih dalam batas normal dalam menyelesaikan masalah
a. Menyendiri : respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah
terjadi dilingkungan sosialnya.
b. Otonomi : kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide, pikiran,
perasaan dalam hubungan social.
c. Bekerjasama : kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama lain.
d. Interdependen : saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam
membina hubungan interpersonal.
Respon Maladaptif :
Respon yang diberikan individu yang menyimpang dari norma social. Yang
termasuk respon maladaptive adalah :
a. Menarik diri : seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara
terbuka dengan orang lain.
b. Ketergantungan : seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga
tergantung dengan orang lain.
c. Manipulasi : seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga
tidak dapat membina hubungan social secara mendalam.
d. Curiga : seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.

3. Faktor Predisposisi
a. Faktor Perkembangan
Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan yang disebutkan pada
tabel 1.2 akan mencetuskan seseorang sehingga mempunyai masalah respon social
maladaptip. System keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon
sosial maladaptip. Beberapa orang percaya bahwa individu yang mempunyai ini
adalah orang yang tidak berhasil memisahkan dirinya dari orang tua. Norma keluarga
mungkin tidak mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain di luar keluarga.
Peran keluarga sering kali tidak jelas. Orang tua pecandu alcohol dan penganiaya
anak juga mempengaruhi seseorang berespon social maladaptif. Organisasi anggota
keluarga bekerjasama dengan tenaga professional untuk mengembangkan gambaran
yang lebih tepat tentang hubungan antara kelainan jiwa dan stress keluarga.
Pendekatan kolaboratif sewajarnya mengurangi menyalahkan keluarga oleh tenaga
professional.
Tabel 1.2
Tugas perkembangan berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal
Tahap Perkembangan Tugas
Masa bayi Menetapkan landasan rasa percaya
Masa bermain Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri
Masa pra sekolah Belajar menunjukan inisiatif dan rasa tanggung jawab
dan hati nurani
Masa sekolah Belajar berkompetisi, bekerja sama dan berkompromi
Masa pra remaja Menjadi intim dengan sesama jenis kelamin
Masa remaja Menjadi intim dengan teman lawan jenis kelamin
Masa dewasa Menjadi saling tergantung dengan orang lain
Muda Teman, menikah, mempunyai anak
Masa tengah baya Belajar menerima
Masa dewasa tua Berduka karena kelahiran dan mengembangkan
perasaan keterkaitan dengan budaya

b. Faktor Biologik
Faktor genetik dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptif. Ada
bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmiter dalam perkembangan gangguan
ini, namun tetap masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
b. Faktor Sosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor dalam anggota gangguan berhubungan, ini
akibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak
mengahargai anggota masyarakat yang tidak produktif seperti lansia orang cacat,
dan berpenyakit kronik, isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, prilaku, dan
sistem nilai yang berbeda dari kelompok budaya mayoritas. Harapan yang tidak
realistis terhadap hubungan merupakan faktor lain yang berkaitan dengan gangguan
ini.

4. Faktor Presipitasi.
Stressor pencetus umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh stress
seperti kehilangan yang mempengaruhi individu untuk berhubungan dengan orang lain
dan menyebabkan stress. Faktor pencetus ini di kategorikan:
a. Stressor sosiokultural, stress dapat ditimbulkan oleh :
1) Menurunnya stabilitas unit keluarga
2) Berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupannya
b. Stressor Psikologik, Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan
keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan
orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan untuk
ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tinggi.

5. Mekanisme Koping
Mekanisme pertahanan diri yang di gunakan pada gangguan hubungan sosial
sangat bervariasi, seperti pada gangguan menarik diri, mekanisme yang di gunakan
adalah regresi, represi, isolasi.
a. Tanda dan Gejala Menarik diri
1. Menurut SAK kesehatan jiwa ( 1998 )
1) Gangguan pola makan, tidak nafsu makan atau makan berlebihan
2) Berat badan menurn drastic
3) Kemunduran kesehatan fisik
4) Tidur berlebihan
5) Tinggal ditempat tidur dalam waktu lama
6) banyak tidur siang
7) Kurang bergairah
8) Tidak memperdulikan lingkungan
9) Kegiatan menurun
10) Imobilisasi
11) Sikap mematung
12) Melakukan gerakan berulang-ulang
13) Keinginan seksual menurun
2. Menurut Towsend ( 1958 : 152 )
1) Menyendiri dalam ruangan
2) Tidak berkomunikasi
3) Tidak melakuakn kontak mata
4) Sedih
5) Afek datar
6) Tindakan tidak sesuai
7) Berfikir tentang sesuatu menurut pemikirannya sendiri
8) Tindakan berulang-ulang
3. Menurut Budi Anna Kelia (2009), tanda dan gejala ditemui seperti:
1) Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
2) Menghindar dari orang lain (menyendiri).
3) Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan
klien lain/perawat.
4) Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk.
5) Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas.
a) Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan
percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
b) Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.
b. Dampak Kerusakan Interaksi sosial : Menarik Diri Terhadap Kebutuhan Dasar
Manusia menurut Hirarki maslow
1) Kebutuhan nutrisi
Klien lebih menikmati kesendiriannya sehingga kurang berminat untuk makan,
bila hal ini berlangsung terus maka akan terjadi penurunan berat badan, selain
itu dampak obat yang diberikan yaitu anti Parkinson dan anti psikotik dapat
mengakibatkan mual, mulut kering dan konstipasi sehingga hal itupun akan
menyebabkan proses asupan nutrisi jadi terganggu.
2) Kebutuhan istirahat tidur
Klien dengan menarik diri sengan berlama-lama dikamar dan banyak tidur
siang selain itu obat-obatan juga berpengaruh sehingga klien cendrung untuk
tidur terus.
3) Aktifitas sehari-hari
Klien kurang senang dengan kegiatan sehingga kegiatan yang bekaitan
dengan perawatan dirinya terabaikan, penampilan klien kusut dan kusam,
selain itu efek terapi anti psikotik adalah kelemahan otot sehingga klien terlihat
lemah dalam beraktifitas.
4) Kebutuhan dan rasa aman
Klien dengan menarik diri akan merasa aman bila tidak berhubungan dengan
orang lain, karena klien beranggapan hal itu akan membahayakan dirinya. Efek
samping obat anti psikotik adalah timbulnya keresahan dan kegelisahan continue
sehingga klien merasa lebih nyaman bila sendiri.
5) Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki
Klien dengan menarik diri mengalami kegagalan dalam pemenuhan dasar ini,
karena klien lebih senang dunianya sendiri.
6) Kebutuhan aktualisasi diri
Klien dengan menarik diri tidak mempunyai kemampuan untuk memecahkan
masalahnya, tidak mempunyai perasaan bersaing dan tidak mempunyai keinginan
untuk dapat diakui kebaikannya atau perannya.

D. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan
yang bertujuan untuk mengumpulkan dara atau informasi tentang klien agar dapat
mengidentifikasi kesehatannya, kebutuhan keperawatan serta merumuskan masalah dan
diagnosa keperawatan klien.
Pengkajian meliputi : Pengumpilan data, analisa data, diagnosa keperawatan
berdasarkan prioritas masalah.
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data bertujuan untuk menilai status kesehatan klien dan kemungkinan
masalah keperawatan yang memerlukan intervensi dari perawat. Data yang
dikumpulkan dapat berupa data subjektif dan data objektif. Data objektif adalah
data yang ditemukan secara nyata, data ini didapatkan secara observasi atau
pemeriksaan langsung oleh perawat. Data subjektif adalah data yang disampaikan
secara lisan oleh klien dan keluarga , data ini didapat melalui wawancara kepada
klien dan keluarga, pengumpulan data ini mencakup :
 Identitas klien meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama,
pekerjaan, status mental, suku bangsa, alamat, nomer medrek, ruang rawat,
tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa medis.
 Identitas penanggung jawab : Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, agama, hubungan dengan klien, alamat.
1) Faktor predisposisi
 Faktor yang mempengaruhi harga diri
Pengalaman masa kanak-kanak dapat merupakan factor kontribusi pada
gangguan atau masalah konsep diri.
Meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis,
kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab
personal, ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak
realistis.
 Faktor yang mempengaruhi penampilan peran
Adalah streotipik peran seks, tuntutan peran kerja, dan harapan peran
kultural.Peran sesuai dengan jenis kelamin, konflik oerandan peran yang
tidak sesuai muncul dari factor biologis.
 Faktor yang mempengaruhi identitas diri
Orang tua yang selalu curiga pada anak akan menyebabkan kurang percaya
diri pada anak, teman sebaya merupakan factor lain yang mempengaruhi
identitas.Ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya dan
perubahan dalam struktur social.
 Faktor tumbuh kembang
Pada dasarnya kemampuan hubungan sosisal berkembang sesuai dengan
tumbuh kembang individu mulai dari dalam kandungan sampai dewasa
lanjut. Untuk mengembangkan hubungan social yang positif setiap tugas
perkembangan harus dilalui dengan sukses. Bila salah satu tugas
perkembangan tidak terpenuhi maka akan mengahambat tahap
perkembangan berikutnya. Kemampuan berperan serta dalam proses
hubungan diawali dengan kemampuan berperan serta dalam proses
hubungan diawali dengan kemampuan tergantung pada masa bayi dan
perkembangan pada masa dewasa dengan kemampuan saling
ketergantungan.
 Faktor predisposisi dan presipitasi tersebut diatas dapat mempengaruhi
perkembangan kognitif, efektif, psikologis, perilku dan social bagi
individu sebagai stersor. Hal tersebut akan menyebabkan perubahan
perilaku dimana terjadi ketidak seimbangan sehingga individu cernderung
menggunakan mekanisme destruktif yang pada akhirnya masalah tidak
terselesaikan menjadi stressor bagi klien yang semakin lama
mengakibatkan timbunya korban jiwa baik berupa gangguan neuorosa atau
ganguan kepribadian serta dapat berupa pula gangguan psikosa atau
skizofrenia.
Proses terjadinya gangguan tersebut berkembang melalui rentang respon
sosial yang berawal dari respon adaptif sampai maladaptif dan salah
satunya adalah menarik diri sehingga terjadi ganguan interaksi sosial.
 Faktor sosial budaya
Nilai-nilai, norma-norma , adat dan kebiasaan yang ada dan sudah menjadi
suatu budaya dalam masyarakat merupakan tantangan antara budaya dan
keadaan social dengan nilai-nilai yang dianut.
 Faktor Biologis
Faktor Biologis juga merupakan salah satu factor pendukung terjadinya
gangguan dalam hubungan social. Organ tubuh yang jelas dapat
mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan social adalah otak. Sebagai
contoh : pada klien skizoprenia yang mengalami masalah dalam hubungan
social terdapat struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak,
perubahan ukuran dan sel-sel dalam limbic dan daerah kortikal.
2) Faktor Presipitasi
a) Faktor Ekstrenal
Contohnya adalah sterssor social budaya, yaitu sress yang di timbulkan
oleh faktor social budaya yang antatra lain adalah keluarga.
b) Faktor Internal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu sres terjadi akibat ansietas
yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan
kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat
tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya
kebutuhan ketergantungan individu.
 Pengkajian Fisik
Pemeriksaan fisik mencakup semua system yang ada hubungannya
dengan klien depresi berat di dapatkan pada system integumen klien
tampak kotor, kulit lengket di karenakan kurang perhatian terhadap
perawatan dirinya bahkan gangguan aspek dan kondisi klien
 Status Mental
 Penampilan
Biasanya pada pasien menarik diri klien tidak terlalu
memperhatikan penampilan, biasanya penampilan tidak rapi, cara
berpakaian tidak seperti biasanya (tidak tepat).
 Pembicaraan
Cara berpakaian biasanya di gambarkan dalam frekuensi, volume
dan karakteristik. Frekuansi merujuk pada kecepatan pasien
berbicara dan volume di ukur dengan berapa keras pasien
berbicara. Observasi frekuensi cepat atau lambat, volume keras
atau lambat, jumlah sedikit, membisu, dan di tekan, karakteristik
gagap atau kata-kata bersambungan.
 Aktifitas Motorik
Aktifitas motorik berkenaan dengan gerakan fisik pasien. Tingkat
aktifitas : letargik, tegang, gelisah atau agitasi. Jenis aktifitas :
seringai atau tremor. Gerakan tubuh yang berlebihan mungkin ada
hubunganya dengan ansietas, mania atau penyalahgunaan
stimulan. Gerakan motorik yang berulang atau kompulsif bisa
merupakan kelainan obsesif kompulsif.
 Alam Perasaan
Alam perasaan merupakan laporan diri pasien tentang status
emosional dan cerminan situasi kehidupan pasien. Alam perasaan
dapat di evaluasi dengan menanyakan pertanyaan yang sederhana
dan tidak mengarah seperti “bagaimana perasaan anda hari ini”
apakah pasien menjawab bahwa ia merasa sedih, takut, putus asa,
sangat gembira atau ansietas (cemas).
 Afek
Afek adalah nada emosi yang kuat pada pasien yang dapat di
observasi oleh perawat selama wawancara. Afek dapat di
gambarkan dalam istilah sebagai berikut : batasan, durasi,
intensitas, dan ketepatan. Afek yang labil sering terlihat pada
mania, dan afek yang datar,tidak selaras sering tampak pada
skizofrenia.
 Persepsi
Ada dua jenis utama masalah perceptual : halusinasi dan ilusi.
Halusinasi di definisikan sebagai kesan atau pengalaman sensori
yang salah. Ilusi adalah persepsi atau respon yang salah terhadap
stimulus sensori. Halusinasi perintah adalah yang menyuruh
pasien melakukan sesuatu seperti membunuh dirinya sendiri, dan
melukai diri sendiri.
 Interaksi selama wawancara
Interaksi menguraikan bagaimana pasien berhubungan dengan
perawat. Apakah pasien bersikap bermusuhan,tidak kooperatif,
mudah tersinggung, berhati-hati, apatis, defensive,curiga atau
sedatif.
 Proses pikir
Proses pikir merujuk “ bagaimana” ekspresi diri pasien proses
diri pasien di observasi melalui kemampuan berbicaranya.
Pengkajian dilakukan lebih pada pola atas bentuk verbalisasi dari
pada isinya
 Isi Pikir
Isi pikir mengacu pada arti spesifik yang di ekspresikan dalam
komunikasi pasien. Merujuk pada apa yang di pikirkan pasien
walaupun pasien mungkin berbicara mengenai berbagai subjek
selama wawancara, beberapa area isi harus di catat dalam
pemeriksaan status mental. Mungkin bersifat kompleks dan
sering di sembunyikan oleh pasien.
 Tingkat Kesadaran
Pemeriksaan status mental secara rutin mengkaji orientasi pasien
terhadap situasi terakhir. Berbagai istilah dapat di gunakan untuk
menguraikan tingkat kesadaran pasien seperti bingung, tersedasi
atau stupor.
 Memori
Pemeriksaan status mental dapat memberikan saringan yang cepat
tehadap masalah-masalah memori yang potensial tetapi bukan
merupakan jawaban definitive apakah terdapat kerusakan yang
sfesifik. Pengkajian neurologis di perlukan untuk menguraikan
sifat dan keparahan kerusakan memori. Memori di definisikan
sebagai kemampuan untuk mengingat pengalaman lalu.
 Tingkat konsentrasi dan kalkulasi
Konsentrasi adalah kemampuan pasien untuk memperhatikan
selama jalannya wawancara. Kalkulasi adalah kemampuan pasien
untuk mengerjakan hitungan sederhana.
 Penilaian
Penilaian melibatkan perbuatan keputusan yang konstruktif dan
adaftif termasuk kemampuan untuk mengerti fakta dan menarik
kesimpulan dari hubungan
 Daya titik diri
Penghayatan merujuk pada pemahaman pasien tentang sifat
penyakit. Penting bagi perawat untuk menetapkan apakah pasien
menerima atau mengingkari penyakitnya.
3) Psikososial dan spiritual
a) Konsep Diri
 Gambaran Diri : kumpulan dari sikap individu yang di sadari dan tidak
disadari terhadap tbuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang,
serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi yang
berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman yang
baru.
 Ideal diri : persepsi individu tentang bagaimana dia harus berprilaku
berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personel tertentu.
 Harga diri : penilaian individu tentang personal yang di peroleh dengan
menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri.
Harga diri ynag tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan
diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan dan kegagalan,
tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga.
 Penampilan peran : serangkaian pola prilaku yang diharapkan oleh
lingkungan social berhubungan dengan fungsi individu di berbagai
kelompok social. Peran yang di tetapakan adalah peran diman
seseorang tidak mempunyai pilihan, peran yang di terima adalah peran
yang tepilih atau yang dipilih oleh individu.
 Identitas personal : pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang
bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan
keunikan individu. Mempunyai konotasi otonomi dan meliputi persepsi
seksualitas seseorang pembentukan identitas dimulai pada masa bayi
dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas
utama pada masa remaja.
4) Spiritual
Nilai dan keyakinan klien, pandangan dan keyakian klien terhadapa gangguan
jiwa sesuai dengan norma dan agama yang dianut pandangan masyarakat
setempat tentang gangguan jiwa. Kegiatan ibadah : kegiatan di rumah secara
individu atau kelompok.
5) Perencanan Pasien Pulang
Pengkajian diarahkan pada klien dan keluarga klien tentang persiapan keluarga,
lingkungan dalam menerima kepulangan klien. Untuk menjaga klien tidak
kambuh kembali diperlukan adanya penjelasan atau pemberian pengetahuan
terhadap keluarga yang mendukung pengobatan secara rutin dan teratur.
6) Analisa Data
Analisa data merupakan proses berfikir yang meliputi kegiatan
mengelompokkan data menjadi data subjektif dan objektif, mencari
kemungkinan penyebab dan dampaknya serta menentukan mmasalah
keperawatan.

B. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji


a. Masalah keperawatan:
1. Isolasi sosial: menarik diri
2. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi
3. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
b. Data yang perlu dikaji
Isolasi Sosial : menarik diri
 Data Subyektif:
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
 Data Obyektif:
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi
 Data Subjektif:
 Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan
stimulus nyata.
 Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata.
 Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus.
 Klien merasa makan sesuatu.
 Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya.
 Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar.
 Klien ingin memukul/melempar barang-barang.
 Data Objektif:
 Klien berbicara dan tertawa sendiri.
 Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu.
 Klien berhebti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu.
 Disorientasi
Gangguan konsep diri : harga diri rendah
 Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
 Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri atau ingin mengakhiri hidup.

C. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


1. Isolasi sosial: menarik diri
2. Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
D. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa : Isolasi sosial: menarik diri
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi
halusinasi
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
dengan cara :
 Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
 Perkenalkan diri dengan sopan
 Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
 Jelaskan tujuan pertemuan
 Jujur dan menepati janji
 Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
 Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan:
 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik
diri atau mau bergaul
 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta
penyebab yang muncul
 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (
tidur, marah, menyibukkan diri dll)
 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan
orang lain
 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan prang lain.
 Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
 Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang
lain
 beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain
 diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
 beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Tindakan:
 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
 Klien – Perawat
 Klien – Perawat – Perawat lain
 Klien – Perawat – Perawat lain – Klien lain
 K – Keluarga atau kelompok masyarakat
 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
5Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
Tindakan:
 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang
lain
 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang
lain.
 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan
manfaat berhubungan dengan oranglain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Tindakan:
 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
 Salam, perkenalan diri
 Jelaskan tujuan
 Buat kontrak
 Eksplorasi perasaan klien
 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
 Perilaku menarik diri
 Penyebab perilaku menarik diri
 Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
 Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain.
 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal
satu kali seminggu
 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga
FOKUS INTERVENSI PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL
a. Pasien
SP 1
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
2. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
3. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang
lain
4. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
5. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang – bincang
dengan orang lain dalam kegiatan harian
SP 2
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan
dengan satu orang
3. Membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang – bincang dengan orang
lain sebagai salah satu kegiatan harian
SP 3
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Memberikan kesempatan kepada klien berkenalan dengan dua orang atau
lebih
3. Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

Keluarga
SP 1
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien
beserta proses terjadinya
3. Menjelaskan cara – cara merawat pasien isolasi sosial
SP 2
1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi
sosial
SP 3
1. Membantu keluarga membuat jadual aktivitas dirumah termasuk minum obat
( Discharge planning)
2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

E. Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan keperawatan oleh perawat dan klien,
beberapa petunjuk pada implementasi adalah sebagai berikut :
1. Intervensi dilakukan sesuai rencana setelah dilakukan validasi
2. Kemempuan interpersonal, intelektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang akan
dilaksanakan
3. Kemampuan fisik dan psikologis dilindungi
4. Dokumentasi intervensi dan respon klien. ( Keliat Budi Anna,2013 : 15 )
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)
TAK yang dapat dilakukan untuk pasien isolasi social adalah TAK sosialisasi
yang terdiri dari 7 sesi, meliputi :
1. Sesi 1 : Kemampuan memperkenalkan diri
2. Sesi 2 : Kemampuan berkenalan
3. Sesi 3 : Kemampuan bercakap – cakap
4. Sesi 4 : Kemampuan bercakap – cakap topik tertentu
5. Sesi 5 : Kemampuan bercakap – cakap masalah pribadi
6. Sesi 6 : Kemampuan bekerjasama
7. Sesi 7 : Evaluasi kemampuan sosialisasi

F. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai afek dari tindakan
keperawatan pada klien. Evaluasi dilakuakn terus menerus pada respon klien tehadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi 2 yaitu : Formatif
dan sumatif, Formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, evaluasi sumatif
dilakuakn dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan umum yang telah
ditentukan dengan menggunakan SOAP.
S : Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
O : Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
A : Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah
masalah masih tetap atau muncul masalh baru atau ada data yang kontradiksi dengan
masalah yang ada
P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa.
( Keliat ,2013 : 15 )