You are on page 1of 12

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi

Kejang demam adalah kejang yang dihubungkan dengan

suatu penyakit yang dicirikan dengan demam tinggi (suhu 38,90 C − 40,0 0
C).

Kejangdemam berlangsung kurang dari 15 menit, generalisata, dan terjadi

padaanak-anak tanpa kecacatan neurologik. (Muscari, 2005)

Kejang demam juga dapat diartikan sebagai suatu kejang yang

terjadi pada usia antara 3 bulan hingga 5 tahun yang berkaitan dengan demam

namun tanpa adanya tanda-tanda infeksi intrakranial atau penyebab yang jelas.

B. Etiologi

Penyebab yang pasti dari terjadinya kejang demam tidak diketahui. Kejang

demam biasanya berhubungan dengan demam yang tiba-tiba tinggi dan

kebanyakan terjadi pada hari pertama anak mengalami demam.

Kejang berlangsung selama beberapa detik sampai beberapa menit. kejang

demam cenderung ditemukan dalam satu keluarga, sehingga diduga melibatkan

faktor keturunan (faktor genetik). Kadang kejang yang berhubungan dengan

demam disebabkan oleh penyakit lain, seperti keracunan, meningitis atau

ensefalitis. Roseola atau infeksi oleh virus herpes pada manusia juga sering

menyebabkan kejang demam pada anak-anak. Shigella pada Disentri juga sering

menyebakan demam tinggi dan kejang demam pada anak-anak.


C. Klarifikasi

Kejang demam dapat dibedakan menjadi 2 jenis:

1. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung singkat,

kurang 15 menit dan umumnya dapat berhenti sendiri. Kejangnya bersifat

umum artinya melibatkan seluruh tubuh. Kejang tidak berulang dalam 24 jam

pertama. Kejang demam tipe ini merupakan 80% dari seluruh kasus kejang

demam.

2. Kejang demam kompleks adalah kejang dengan satu ciri sebagai berikut:

kejang lama > 15 menit, kejang fokal / parsial satu sisi tubuh, kejang > 1 kali

dalam 24 jam

D. Patofisiologi

Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel

neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui

membran tersebut dengan akibat teerjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan

listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun

membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan

terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi singkat pada umumnya tidak berbahaya

dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama ( lebih

dari 15 menit ) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan

energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia,

asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial


disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang

disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan

metabolisme otak meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah

yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan

timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada

daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang

berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi

serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama dapat

menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga terjadi epilepsi.

E. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis kejang demam antara lain :

1. Kejang umum biasanya di awali kejang tonik kemudian klonik berlangsung

10 sampai 15 menit

2. Frekuensi takikardia pada bayi sering di atas 150 – 200 permenit

3. Pulsasi arteri melemah dan tekanan nadi mengecil yang terjadi sebagai akibat

menurunnya curah jantung

4. Gejala bendungan system vena : Hepatomegali, Peningkatan vena jugularis

F. Komplikasi

1. Kejang berulang

2. Epilepsi

3. Hemiparese

4. Gangguan mental dan belajar


G. Pemeriksaan laboratorium

1. Lumbal Fungsi

Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau

menyingkirkan kemungkinan meningitis.

2. Elektroensefalografi

Pemeriksaan elektro ense falo grafi ( EEG ) tidak dapat memprediksi

berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada

pasien kejang demam

3. Darah

a. Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200

mq/dl)

b. BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan

indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.

c. Elektrolit : K, Na

Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang

1) Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )

2) Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )

d. Cairan Cerebo Spinal : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda

infeksi, pendarahan penyebab kejang.

e. Skull Ray :Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya

lesi
f. Tansiluminasi : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih

terbuka (di bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus untuk

transiluminasi kepala.

H. Penatalaksanaan Medik

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang,

kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang, obat yang paling

cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara

intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,3 – 0,5 mg/kg perlahan lahan dengan

kecepatan 12 mg/menit atau dalam waktu 35 menit, dengan dosis maksimal 20 mg.

Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orangtua atau di rumah adalah

diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5 – 0,75 mg/kg atau diazepam

rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan < 10 kg dan 10 mg untuk berat badan >

10 kg atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun.

Tata laksana kejang demam :

1. Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang

lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit.

2. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan

ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan

dosis 0,3 – 0,5 mg/kg.

3. Bila kejang tetap belum berhenti, berikan fenitoin secara intravena dengan

dosis awal 1020 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari
50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 48 mg/kg/hari,

dimulai 12 jam setelah dosis awal.

4. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti, maka pasien harus dirawat di

ruang rawat intensif. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya

tergantung dari jenis kejang demam, apakah kejang demam sederhana atau

kompleks dan faktor resikonya


BAB II

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Proses Pengkajian

1. Aktifitas : Keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus otot/kekuatan otot,

gerakan involunter.

2. Sirkulasi : Peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi

dengan penurunan nadi dan pernapasan.

3. Integritas ego : Sterssor eksternal/internal yang berhubungan dengan keadaan

atau penanganan, peka rangsangan.

4. Eliminasi : Inkontinensia episodik, peningkatan kandung kemih dan tonus

spinkter.

5. Makanan/cairan : Sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang

berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak/gigi

6. Neurosensori : Aktivitas kejang berulang, riwayat trauma kepala dan infeksi

cerebral.

B. Penentuan Diagnosa

1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan proses penyakit

2. Risiko terjadinya kejang berulang berhubungan dengan adanya peningkatan

suhu tubuh

3. Resiko cidera sekunder akibat kejang berhubungan dengan gerakan klonik yang

tidak terkontrol selama episode kejang


C. Penentuan Intervensi

1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan proses penyakit

NOC

a. Suhu tubuh normal

Kriteria Hasil

a. Suhu badan anak berkurang hingga 37,5º C

b. Temperatur kulit hangat

NIC

a. Mengkaji TTV

b. Pantau suhu tubuh

c. Berikan kompres hangat

d. Ajarkan keluarga untuk kompres hangat

e. Kolaborasi pemberian obat sesuai dengan ketentuan

2. Risiko terjadinya kejang berulang berhubungan dengan adanya peningkatan

suhu tubuh

NOC

a. Tidak terjadi kejang berulang

Kriteria Hasil
a. Suhu tubuh normal

b. Tidak kejang

c. Tanda-tanda vital normal

NIC

a. Berikan kompres basah pada daerah axilla dan lipatan paha

b. Berikan baju tipis

c. Kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam pemberian obat antipiretik

3. Resiko cidera sekunder akibat kejang berhubungan dengan gerakan klonik yang

tidak terkontrol selama episode kejang

NOC

a. Tidak ada cedera

Kriteria Hasil

a. Tidak mengalami cedera akibat kejang

NIC

b. Lakukan kewaspadaan kejang, seperti pasang penghalang tempat tidur.

c. Catat berbagai gerakan tubuh anak dan lama kejangnya

d. Kaji status pernapasan anak

e. Kolaborasi:Beri pengobatan antikonuulsan sesuai indikasi


DAFTAR PUSTAKA

Hidayat.(2009). Askep Anak Kejang Demam, Juli 20 2013, From

Nursalam, Dr. (2005). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba

Medika

Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan: Difinisi Dan Klasifikasi 2012-

2014/Editor,T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Suwarwati Dan Nike Budhi

Subekti. Jakarta: EGC

Huda, Nuratif dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan

Diagnosa NANDA NIC-NOC. Jakarta: Media Action.


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN KASUS KEJANG DEMAM

Oleh :
PUTU PURNAWATI S.Kep
NS0618062

Preceptor Lahan Preceptor Institusi

(………………………………………) (………………………………………)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An “M” DENGAN MASALAH
KEJANG DEMAM DI RUANGAN BAJI MINASA
RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR

Oleh :
PUTU PURNAWATI S.Kep
NS0618062

Preceptor Lahan Preceptor Institusi

(………………………………………) (………………………………………)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2018