You are on page 1of 3

Tugas Mata Kuliah Transkultural

Dosen Pengampu: Laili Rahayuwati PhD


Nama: Ihda Al Adawiyah MZ
NPM: 220120170009

Keunikan Perawat di Indonesia

Bidang Keperawatan di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini disebabkan oleh
berbagai faktor seperti birokrasi pemerintahan, keberagaman masyarakat dan keadaan demografi di
Indonesia, sehingga menjadikan perawat Indonesia berbeda dengan perawat negara-negara lain di
dunia. Berbeda maksudnya disini bukan dari kaidah keilmuan keperawatan, tetapi dalam tatanan
sistem pelayanan dan sistem yang mengatur pelayanan yang dilakukan oleh perawat Indonesia dalam
menjalankan tugasnya.
Pelayanan keperawatan di Indonesia dapat di katakan ‘unik’. Kata ‘unik’, berasal dari Bahasa
Inggris ‘unique’, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2007) memiliki arti ‘lain dari pada yang
lain’. Apa saja keunikan perawat Indonesia tersebut? Dalam bidang birokrasi pemerintahan:

1. Kegiatan Praktisi
Pelaksanaan asuhan keperawatan dapat dilakukan oleh perawat di rumah (praktek
mandiri keperawatan), karena perawat Indonesia memiliki ijin praktek. Di negara-negara
lain, ijin praktek hanya diberikan kepada profesi tertentu khususnya dokter dan praktisi
hukum, tetapi ada perawat yang boleh membuka praktek mandiri dengan peraturan yang
ketat dan terbatas pada level konsultan yang berpendidikan doktor (S3).
Di Indonesia, Perawat Diploma bisa membuka praktek mandiri jika sudah memenuhi
beberapa syarat yang ditetapkan seperti memiliki Surat Tanda Registrasi (STR, rekomendasi
dari Organisasi Profesi dan ijin dari Dinas Kesehatan di wilayah kerja tempat praktek mandiri
yang akan diusulkan tersebut.

2. Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan keperawatan di Indonesia ditangani oleh dua kementrian, yaitu
Kementrian Kesehatan dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini akan
memberikan dampak tersendiri bagi profesi keperawatan. Dari segi kurikulum pembelajaran,
mahasiswa keperawatan kurang pemahaman tentang standar pendidikan kesehatan karena
setiap kementerian baik itu Kementerian Kesehatan atau Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan memiliki standar masing-masing.
Politeknik Kesehatan (Poltekkes) memiliki Program Diploma Keperawatan dibawah
naungan Kementrian Kesehatan alias negeri. Diploma III Keperawatan yang swasta di bawah
Dikti (Dirjen Perguruan Tinggi) yang dibawahi oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Begitu juga dengan program Sarjana baik yang negeri maupun swasta dan ada beberapa
sekolah keperawatan dibawah kementrian lain seperti pertahanan keamanan yang memiliki
Akper TNI Angkatan Udara, Angkatan Laut, Darat, atau yang milik BUMN. Hal ini sudah
berlangsung sejak sekitar tahun 1982.

3. Sistem Registrasi
Sistem registrasi perawat di Indonesia masih perlu tinjauan lebih lanjut. Ujian
Kompetensi untuk Pendidikan D3 Keperawatan dilakukan secara manual, sedangkan sarjana
CBT (Computer Based Test) sehingga penyeleggaraannya tidak merata. Registrasi kita
terpusat di bawah MTKI (Majelis Tinggi Kesehatan Indonesia) yang membawahi semua
tenaga kesehatan di Indonesia tidak hanya perawat tetapi juga dokter,bidan, farmasi dan
tenaga kesehatan lainnya, sehingga sangat luas naungannya dan tidak berfokus pada
pengurusan registrasi perawat saja. Hal ini dipandang sebagai salah satu faktor penyebab
panjangnya proses pengurusan registrasi perawat.
Negara-negara lain di dunia seperti Australia, Jepang, dan Belanda sudah memiliki
Nursing Board, yang bertugas dalam pengurusan Nursing Registration. Bersifat lebih fokus,
simple dan to the point. Sehingga waktu yang dibutuhkan dalam pengurusan registrasi
perawat lebih cepat dibandingkan di Indonesia.
Pada tanggal 15 September 2017 dikeluarkan Peraturan Presiden RI Nomor 90 Tahun
2017 tentang Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI). Peraturan tersebut berisi bahwa
KTKI terdiri dari Konsil Keperawatan, Konsil Kefarmasian, dan Konsil Tenaga Kesehatan
Lainnya. Konsil masing-masing tenaga kesehatan memiliki tugas salah satunya melakukan
registrasi tenaga kesehatan termasuk perawat. Semoga dengan pembentukan KTKI ini,
proses registrasi tenaga kesehatan lebih efektif dan efisien.

Dalam Bidang Keberagaman Budaya, yaitu:


Indonesia adalah negara yang majemuk, memiliki sekitar 1.340 suku bangsa dan lebih dari
300 kelompok etnik yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Setiap suku bangsa memiliki
budaya dan kebiasaan masing-masing termasuk dalam bidang kesehatan. Perawat Indonesia dituntut
untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang profesional tanpa mengesampingkan budaya
yang dianut oleh pasien yang dirawatnya. Oleh karena itu, perawat di Indonesia dipandang perlu
mempelajari budaya berbagai suku bangsa di Indonesia, sehingga terwujud kerja sama yang baik
anatara perawat dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan.

Beberapa contoh pelayanan keperawatan yang dipengaruhi oleh budaya di Indonesia yang
mungkin tidak dialami oleh perawat di luar negeri:
1. Kepercayaan terhadap Mitos
Mitos suku Jawa Kuno pada ibu hamil seperti tidak boleh potong rambut dan potong
kuku karena berpengaruh pada bayi akan mengalami patah tulang atau ada bagian yang
putus. Dan tidak boleh makan belut saat ngidam, alasaanya karena belut adalah hewan yang
sangat lincah dan gesit, hal tersebut dipercaya dapat mempengaruhi pada pola tingkah bayi
saat lahir menjadi hiperaktif.
Potong kuku terkait dengan Personal hygiene dan belut merupakan salah satu
sumber protein untuk perkembangan janin. Perawat Indonesia melakukan pendekatan
secara persuasif dengan memberikan pendidikan kesehatan bahwa kepercayaan yang dianut
oleh pasien adalah mitos dan tidak terbukti kebenarannya tanpa membuat pasien
tersinggung. Merubah pandangan masyarakat terhadap sesuatu yang dipercayai bukanlah
sesuatu yang mudah, tetapi perawat Indonesia tetap berusaha dan mengembang
pendekatan-pendekatan yang dapat diterima oleh masyarakat.
2. Pengobatan Alternatif
Masyarakat Indonesia memiliki berbagai macam pengobatan alternatif selain
pengobatan medis. Bukan berarti diluar negeri tidak ada pengobatan alternatif, tetapi
pengobatan alternatif di Indonesia tergolong unik. Misalnya, praktek perdukunan dalam
proses praktiknya ada cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah kesehatan contoh: dukun
meludahi segelas air kemudian pasien disuruh untuk meminumnya, dan sebagainya. Lalu ada
kepercayaan penyakit yang disebabkan oleh makhluk gaib, sehingga hanya bisa disembuhkan
melalui pengobatan alternatif. Dan yang paling banyak dilakukan masyarakat adalah
mengkombinasikan antara pengobatan medis dengan alternatif.
Pada saat kolaborasi pengobatan medis dan alternatif, perawat diharapkan
menerapkan praktek keperawatan transkultural dengan baik sehingga tidak terjadi benturan
antara kebudayaan yang dianut oleh pasien dan pelayanan kesehatan yang diberikan.
3. Kebiasaan kesehatan yang tidak baik
Misalnya suku Minangkabau di Sumatera Barat yang suka makan makanan yang
mengandung santan dan berlemak tinggi walaupun tau bahwa mengkonsumsi makanan yang
berlemak tertalu sering tidak baik untuk kesehatan tetapi orang minang sulit untuk merubah
kebiasaannya tersebut. Akibat dari kebiasaan tersebut Sumatera Barat tercatat sebagai
Provinsi dengan angka kejadian stroke tertinggi di Indonesia.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani hal tersebut adalah
dengan mendrikan Rumah Sakit Khusus Stroke di Bukittinggi yang menjadi Rumah Sakit
Rujukan Stroke di Pulau Sumatera.
4. Keadaan sosial ekonomi masyarakat
Indonesia adalah negara berkembang, dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat
yang belum merata. Masih banyak penduduk Indonesia yang hidup dibawah garis
kemiskinan. Hal ini juga mempengaruhi terhadap sikap masyarakat tentang kesehatan.
Masyarakat yang kurang mampu dan belum memperoleh kartu berobat gratis dari
pemerintah cendrung memilih pengobatan tradisonal yang tergolong murah dibandingkan
berobat ke pelayanan kesehatan. Dan masih kurangnya tenaga kesehatan dan jauhnya jarak
dengan fasilitas kesehatan terdekat membuat masyarakat lebih memilih berobat secara
alternatif atau mengabaikan penyakit yang dideritanya.
Perawat Indonesia diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan di setiap lini
kehidupan masyarakat sehingga terwujud masyarakat Indonesia yang sehat dan sejahtera.
Perawat di negara-negara maju tentu tidak perlu mengkhawatirkan hal ini karena sistem
pelayanan kesehatan sudah terstruktur baik sehingga setiap warganya dapat memperoleh
fasilitas kesehatan secara merata.