Вы находитесь на странице: 1из 32

TERAPI RASIONAL PENYAKIT HIPERTENSI

Oleh

MUTHIA FADHILA No. BP 1821012003


VILMA HUMAIRA No. BP 1821012018

PROGRAM PASCASARJANA

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2018
TINJUAN PUSTAKA

HIPERTENSI

A. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan curah jantungdan/atau
kenaikan pertahanan perifer.
Menurut The Joint National Commitee of Prevention, Detection, Evaluation and
Treatment of The Blood Pressure (2004) dikatakan hipertensi jika tekanan darah sistolik
yang lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau peningkatan tekanan darah diastolik
yang lebih besar atau sama dengan 90mmHg. Umumnya tekanan darah normal seseorang
120 mmHg/80 mmHg. Hasil pemeriksaan tersebut dilakukan 2 atau lebih pemeriksaan
dan dirata-rata.

B. Epidemiologi Hipertensi
Hipertensi telah menjadi permasalahan kesehatan yang sangat umum terjadi. Data
dari National Health and Nutrition Examination (NHANES) menunjukkan bahwa 50 juta atau
bahkan lebih penduduk Amerika mengalami tekanan darah tinggi. Angka kejadian
hipertensi di seluruh dunia mungkin mencapai 1 milyar orang dan sekitar 7,1 juta
kematian akibat hipertensi terjadi setiap tahunnya (WHO, 2003 dan Chobanian et.al,
2004).
Dalam suatu data statistika di Amerika serikat pada populasi penderita dengan
risiko hipertensi dan penyakit jantung koroner, lebih banyak dialami oleh pria dari pada
wanita saat masih muda tetapi pada umur 45 sampai 54 tahun, prevalensi hipertensi
menjadi lebih meningkat pada wanita. Secara keseluruhan pada penderita wanita
prevalensi hipertensi akan meningkat seiring denganmeningkatnya usia, hanya sekitar 3%
sampai 4 % wanita pada umur 35 tahunyang menderita hipertensi, sementara >75%
wanita menderita hipertensi padaumur ≥ 75 tahun.
Di Indonesia, belum ada data nasional lengkap untuk prevalensi hipertensi.Dari
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, prevalensi hipertensi diIndonesia adalah
8,3%. Sedangkan dari survei faktor risiko penyakitkardiovaskular (PKV) oleh proyek
WHO di Jakarta, menunjukkan angka prevalensi hipertensi dengan tekanan darah 160/90
masing-masing pada priaadalah 12,1% dan pada wanita angka prevalensinya 12,2% pada
tahun 2000.Secara umum, prevalensi hipertensi pada usia lebih dari 50 tahun berkisar
antara15%-20%.

C. Etiologi Hipertensi
 Stres atau perasaan tertekan.
 Kegemukan (Obesitas).
 Kebiasaan merokok.
 Kurang berolahraga.
 Kelainan kadar lemak dalam darah (Dislipidemia).
 Konsumsi yang berlebihan atas garam, alkohol, dan makanan yang berlemak tinggi.
Kurang mengonsumsi makanan yang berserat dan diet yang tidak seimbang.

D. Klasifikasi Hipertensi
 Berdasarkan Nilai Tekanan Darahnya
Pada tahun 2004, The Joint National Commitee of Prevention,
Detection, Evaluation and Treatment of The Blood Pressure (JNC-7) mengeluarkan
batasan baru untuk klasifikasi tekanan darah, <120/80 mmHg adalah batas
optimal untuk risiko penyakit kardiovaskular. Didalamnya ada kelas baru dalam
klasifikasi tekanan darah yaitu pre-hipertensi. Kelas baru pre-hipertensi tidak
digolongkan sebagai penyakit tapi hanya digunakan untuk mengindikasikan
bahwa seseorang yang masuk dalam kelas ini memiliki resiko tinggi untuk
terkena hipertensi, penyakit jantung koroner dan stroke dengan demikian baik
dokter maupun penderita dapat mengantisipasi kondisi ini lebih awal, hingga
tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih parah.
Individu dengan prehipertensi tidak memerlukan medikasi, tapi dianjurkan
untuk melakukan modifikasi hidup sehatyang penting mencegah peningkatan
tekanan darahnya. Modifikasi pola hidup sehat adalah penurunan berat badan,
diet, olahraga, mengurangi asupan garam, berhenti merokok dan membatasi
minum alcohol.
Klasifikasi Tekanan darah (mmHg)
Hipertensi Sistole Diastole
Normal < 120 mmHg < 80 mmHg
Pre – Hipertensi 120 – 139 mmHg 80 – 89 mmHg
Hipertensi
Stadium 1 140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg
Sadium 2 >160 mmHg > 100 mmHg

 Berdasarkan Etiologinya
Hipertensi berdasarkan etiologi / penyebabnya dibagi menjadi 2 :
 Hipertensi Primer atau Esensial
Hipertensi primer atau yang disebut juga hipertensi esensial atau
idiopatik adalah hipertensi yang tidak diketahui etiologinya/penyebabnya.
Paling sedikit 90% dari semua penyakit hipertensi dinamakan hipertensi
primer
Patofisiologi hipertensi primer
Beberapa teori patogénesis hipertensi primer meliputi :
o Aktivitas yang berlebihan dari sistem saraf simpatik
o Aktivitas yang berlebihan dari sistem RAA
o Retensi Na dan air oleh ginjal
o Inhibisi hormonal pada transport Na dan K melewati dinding sel
pada ginjal dan pembuluh darah
o Interaksi kompleks yang melibatkan resistensi insulin dan fungsi
endotel
Sebab – sebab yang mendasari hipertensi esensial masih belum
diketahui. Namun sebagian besar disebabkan oleh ketidak normalan tertentu
pada arteri.Yakni mereka memiliki resistensi yang semakin tinggi (kekakuan
atau kekurangan elastisitas) pada arteri – arteri yang kecil yang paling jauh
dari jantung (arteri periferal atau arterioles), hal ini seringkali berkaitan
dengan faktor-faktor genetic, obesitas, kurang olahraga, asupan garam
berlebih, bertambahnya usia, dll. Secara umum faktor-faktor tersebut antara
lain:
Factor Genetika (Riwayat keluarga)
Hipertensi merupakan suatu kondisi yang bersifat menurun
dalam suatu keluarga. Anak dengan orang tua hipertensi memiliki
kemungkinan dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada
anak dengan orang tua yang tekanan darahnya normal.
Ras
Orang –orang yang hidup di masyarakat barat mengalami
hipertensi secara merata yang lebih tinggi dari pada orang berkulit
putih. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tubuh mereka
mengolah garam secara berbeda.
Usia
Hipertensi lebih umum terjadi berkaitan dengan usia, Khususnya
pada masyarakat yang banyak mengkonsumsi garam. Wanita pre –
menopause cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi
daripada pria pada usia yang sama, meskipun perbedaan diantara jenis
kelamin kurang tampak setelah usia 50 tahun. Penyebabnya, sebelum
menopause, wanita relatif terlindungi dari penyakit jantung oleh
hormon estrogen. Kadar estrogen menurun setelah menopause dan
wanita mulai menyamai pria dalam hal penyakit jantung
Jenis kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi
dari pada wanita. Hipertensi berdasarkan jenis kelamin ini dapat pula
dipengaruhi oleh faktor psikologis. Pada pria seringkali dipicu oleh
perilaku tidak sehat (merokok, kelebihan berat badan), depresi dan
rendahnya status pekerjaan. Sedangkan pada wanita lebih berhubungan
dengan pekerjaan yang mempengaruhi faktor psikiskuat
Stress psikis
Stress meningkatkan aktivitas saraf simpatis, peningkatan ini
mempengaruhi meningkatnya tekanan darah secara bertahap. Apabila
stress berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap
tinggi. Secara fisiologis apabila seseorang stress maka kelenjer
pituitary otak akan menstimulus kelenjer endokrin untuk
mengahasilkan hormon adrenalin dan hidrokortison kedalam darah
sebagai bagian homeostasis tubuh. Penelitian di AS menemukan enam
penyebab utama kematian karena stress adalah PJK, kanker, paru-paru,
kecelakan, pengerasan hati dan bunuh diri.
Obesitas
Pada orang yang obesitas terjadi peningkatan kerja pada jantung
untuk memompa darah agar dapat menggerakan beban berlebih dari
tubuh tersebut. Berat badan yang berlebihan menyebabkan
bertambahnya volume darah dan perluasan sistem sirkulasi. Bila bobot
ekstra dihilangkan, TD dapat turun lebih kurang 0,7/1,5 mmHg setiap
kg penurunan berat badan. Mereduksi berat badan hingga 5-10% dari
bobot total tubuh dapat menurunkan resiko kardiovaskular secara
signifikan.
Asupan garam Na
Ion natrium mengakibatkan retensi air, sehingga volume darah
bertambahdan menyebabkan daya tahan pembuluh meningkat. Juga
memperkuat efek vasokonstriksi noradrenalin. Secara statistika,
ternyata bahwa pada kelompok penduduk yang mengkonsumsi terlalu
banyak garam terdapat lebih banyak hipertensi daripada orang-orang
yang memakan hanya sedikit garam.
Rokok
Nikotin dalam tembakau adalah penyebab tekanan darah
meningkat. Hal ini karena nikotin terserap oleh pembuluh darah yang
kecil dalam paru – paru dan disebarkan keseluruh aliran darah. Hanya
dibutuhkan waktu 10 detik bagi nikotin untuk sampai ke otak. Otak
bereaksi terhadap nikotin dengan memberikan sinyal kepada kelenjer
adrenal untuk melepaskan efinephrine (adrenalin). Hormon yang
sangat kuat ini menyempitkan pembuluh darah, sehingga memaksa
jantung untuk memompa lebih keras dibawah tekanan yang lebih
tinggi.
Konsumsi alcohol
Alkohol memiliki pengaruh terhadap tekanan darah, dan secara
keseluruhan semakin banyak alkohol yang di minum semakin tinggi
tekanan darah. Tapi pada orang yang tidak meminum minuman keras
memiliki tekanan darah yang agak lebih tinggi dari pada yang
meminum dengan jumlah yang sedikit.

E. Patofisiologi Hipertensi

Mekanisme patogenesis hipertensi yaitu Peningkatan tekanan darah yang


dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer. Mekanisme hipertensi tidak dapat
dijelaskan dengan satu penyebab khusus, melainkan sebagai akibat interaksi dinamis
antara faktor genetik, lingkungan dan faktor lainnya. Tekanan darah dirumuskan sebagai
perkalian antara curah jantung dan atau tekanan perifer yang akan meningkatkan tekanan
darah. Retensi sodium, turunnya filtrasi ginjal, meningkatnya rangsangan saraf simpatis,
meningkatnya aktifitas renin angiotensin alosteron, perubahan membransel,
hiperinsulinemia, disfungsi endotel merupakan beberapa faktor yang terlibatdalam
mekanisme hipertensi. Mekanisme patofisiologi hipertensi salah satunya dipengaruhi
oleh system renin angiotensin aldosteron, dimana hampir semua golongan obat anti
hipertensi bekerja dengan mempengaruhi sistem tersebut.

Renin angiotensin aldosteron adalah sistem endogen komplek yang berkaitan


dengan pengaturan tekanan darah arteri. Aktivasi dan regulasi sistem renin angiotensin
aldosteron diatur terutama oleh ginjal. Sistem renin angiotensi aldosteron mengatur
keseimbangan cairan,natrium dan kalium. Sistem ini secara signifikan berpengaruh pada
aliran pembuluh darah dan aktivasi sistem saraf simpatik serta homeostatik regulasi
tekanan darah.

F. Diagnosa Hipertensi

Pemeriksaan diagnostik terhadap pengidap tekanan darah tinggi


mempunyai beberapa tujuan :
 Memastikan bahwa tekanan darahnya memang selalu tinggi
 Menilai keseluruhan risiko kardiovaskular
 Menilai kerusakan organ yang sudah ada atau penyakit yang menyertainya
 Mencari kemungkinan penyebabnya
Diagnosis hipertensi menggunakan tiga metode klasik yaitu:
 Pencatatan riwayat penyakit (anamnesis)
 Pemeriksaan fisik (sphygomanometer)
 Pemeriksaan laboraturium (data darah, urin, kreatinin serum, kolesterol)
Kesulitan utama selama proses diagnosis ialah menentukan sejauh mana pemeriksaan
harus dilakukan. Dimana pemeriksaan secara dangkal saja tidak cukup dapat diterima
karena hipertensi merupakan penyakit seumur hidup dan terapi yang dipilih dapat
memberikan implikasi yang serius untuk pasien.

Prosedur dan Kriteria Diagnosis


Cara pemeriksaan tekanan darah, yaitu :
 Anamnesis
- Sering sakit kepala (meskipun tidak selalu), terutama bagian belakang,
sewaktu bangun tidur pagi atau kapan saja terutama sewaktu mengalami
ketegangan.
- Keluhan sistem kardiovaskular (berdebar, dada terasa berat atau
sesak terutama sewaktu melakukan aktivitas isomerik)
- Keluhan sistem serebrovaskular (susah berkonsentrasi, susah tidur,migrain,
mudah tersinggung, dll)
- Tidak jarang tanpa keluhan, diketahuinya secara kebetulan
- Lamanya mengidap hipertensi. Obat-obat antihipertensi yang telahdipakai,
hasil kerjanya dan apakah ada efek samping yang ditimbulkan
- Pemakaian obat-obat lain yang diperkirakan dapat mempermudahterjadinya
atau mempengaruhi pengobatan hipertensi (kortikosteroid,analgesik, anti
inflamasi, obat flu yang mengandung pseudoefedrinatau kafein, dll),
Pemakaian obat kontrasepsi, analeptik,dll
- Riwayat hipertensi pada kehamilan, operasi pengangkatan keduaovarium atau
menopause
- Riwayat keluarga untuk hipertensi
- Faktor-faktor resiko penyakit kardiovaskular atau kebiasaan buruk (merokok,
diabetes melitus, berat badan, makanan, stress, psikososial, makanan asin dan
berlemak)
 Pemeriksaan Fisik
- Pengukuran tekanan darah pada 2 – 3 kali dengan sistoklik/diastolik lebih
sama dengan 140 mmHg/90 mmHg kunjungan berhubung variabilitas tekanan
darah. Posisi terlentang, duduk atau berdiridilengan kanan dan kiri
- Perabaan denyut nadi diarteri karotis dan femoralis
- Adanya pembesaran jantung, irama gallop
- Pulsasi aorta abdominalis, tumor ginjal, bising abdominal
- Denyut nadi diekstremitas, adanya paresis atau paralisis
 Penilaian organ target dan faktor-faktor resiko
- Funduskopi, untuk mencari adanya retinopati keith wagner i-v
- Elektrokardiografi, untuk melihat adanya hipertrofi ventrikel kiri,abnormalitas
atrium kiri, iskemia atau infark miokard
- Foto thoraks, untuk melihat adanya pembesaran jantung dengankonfigurasi
hipertensi bendungan atau edema paru
- Laboratorium : DL, UL, BUN, kreatin serum, asam urat, gula darah, profil
lipid K+ dan Na+ serum

G. Manifestasi Klinis Hipertensi


Sebagian besar manifestasi klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun,
dan berupa :
 Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
peningkatan tekanan darah intrakranium
 Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi
 Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
 Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus
 Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler

Dampak Hipertensi
Hipertensi yang diabaikan atau tidak diobati dapat menyebabkan berbagaimacam
gangguan kardiovaskular, serebrovaskular dan renal. Hipertensi dapat merupakan
penyebab tunggal atau hanya merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan
tersebut. Tingkat kerusakan organ umumnya berhubungan dengan nilai tekanan darah,
meskipun tidak selalu demikian. Ada kalanya nilai tekanan darah yang tinggi tidak
disertai dengan kerusakan organ sasaran, dan begitupula sebaliknya.
Terdapat kerusakan organ pada kenaikan nilai tekanan darah yang sedang. Hipertensi
dianggap faktor resiko yang paling penting karena hipertensi adalah faktor yang
menyebabkan serangan jantung, gagal jantung, stroke dan kerusakan ginjal.

Kerusakan Pada Target Organ


Selanjutnya, bila hipertensi tidak ditangani dengan tepat dan sesegera mungkin,
hipertensi akan mengakibatkan kerusakan organ dalam tubuh terjadi, diantaranya adalah:
 Jantung
Hipertensi dapat berkomplikasi kepada jantung. Baik secara tak langsung
melalui peningkatan perubahan atherosklerotis, maupun secara langsung melalui
efek yang berkaitan dengan tekanan darah. Hipertensi dapat mengakibatkan CVD
(Cardio Vascular Disease) dan meningkatan resiko kejadian iskemik, semisal angina
dan MI. Selain itu, sebagai mekanisme kompensasi dari jantung dalam merespon
naiknya tahanan pembuluh darah karena meningkatnya tekanan darah, hipertensi
dapat memperparah LVH (Left Ventricular Hypertrophy). LVH sendiri merupakan
perubahan miokardial (selular), bukan perubahan arterial. Ini patut diwaspadai
karena LVH tergolong faktor resiko berbahaya akan terjadinya CAD (Coronary
Acute Disease), HF (Heart Failure), dan arrhythmias. Sebagaimana diketahui, HF
merupakan dampak negatif hipertensi terbesar untuk jantung. Lebih jauh, HF
dapat menurunkan kemampuan kontraksi (disfungsi sistolik) atau
ketidakmampuan untuk mengisi darah (disfungsi diastolik). Hipertensi yang
tidak terkontrol merupakan salah satu pemicu HF.

 Otak
Terjadinya transcient ischamicattacks, stroke iskemik, infark serebral, dan
perdarahan otak. Peningkatan tekanan darah sistolik yang berkepanjangan dapat
menyebabkan hypertensi veenchephalopathy. Uji klinis membuktikan, terapi
hipertensi dapat menurunkan resiko stroke kambuhan maupun stroke yang baru
dialami pertama kali.
 Ginjal
GFR (Glomerulus Filtration Rate/Laju Filtrasi Glomerulus) digunakan untuk
mengetahui fungsi ginjal. GFR menurun seiring bertambahnya usia,
namun penurunan itu dapat dipercepat oleh hipertensi. Hipertensi berhubungan
dengan nephrosclerosis, yang mana menyebabkan peningkatan tekanan intra
glomerular.
 Mata
Hipertensi dapat menyebabkan retinopati yang berkomplikasi pada
kebutaan. Keparahannya diklasifikasikan menjadi empat, yakni:
- Tingkat 1 : Ditandai dengan menebalnya diameter arteri, yang menyebabkan
vasokonstriksi
- Tingkat 2 : Ditandai dengan nicking pada arterio venous (AV), yang
menyebabkan atherosclerosis
- Tingkat 3 : Terjadi jika hipertensi tidak kunjung diobati yangdapat
menyebabkan cotton wool exudates dan flame hemorrhage
- Tingkat4 : Muncul sebagai akibat dari kasus yang semakin parah, yang
ditandai dengan papill edema

H. Risiko Penyakit (Komplikasi)


Salah satu alasan mengapa kita perlu mengobati tekanan darah tinggi adalah
untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi yang dapat timbul jika penyakit ini
tidak disembuhkan. Beberapa komplikasi hipertensi yang umum terjadi sebagai berikut:
 Stroke
Hipertensi adalah faktor resiko yang penting dari stroke dan serangan
transient iskemik. Pada penderita hipertensi 80% stroke yang terjadi merupakan
stroke iskemik, yang disebabkan karena trombosis intra-arterial atau embolisasi
dari jantung dan arteri besar. Sisanya 20% disebabkan oleh pendarahan
(haemorrhage), yang juga berhubungan dengan nilai tekanan darah yang sangat
tinggi. Penderita hipertensi yang berusia lanjut cenderung menderita stroke
dan pada beberapa episode menderita iskemia serebral yang mengakibatkan
hilangnya fungsi intelektual secara progresif dan dementia. Studi populasi
menunjukan bahwa penurunan tekanan darah sebesar 5 mmHg menurunkan
resiko terjadinya strok.
 Penyakit jantung koroner
Nilai tekanan darah menunjukan hubungan yang positif dengan resiko
terjadinya penyakit jantung koroner (angina, infark miokard atau kematian
mendadak), meskipun kekuatan hubungan ini lebih rendah daripada hubungan
antara nilai tekanan darah dan stroke. Kekuatan yang lebih rendah ini menunjukan
adanya factor – factor resiko lain yang dapat menyebabkan penyakit jantung
koroner. Meskipun demikian, suatu percobaan klinis yang melibatkan sejumlah
besar subyek penelitian (menggunakan β-Blocer dan tiazid) menyatakan bahwa
terapi hipertensi yang adequate dapat menurunkan resiko terjadinya
infark miokard sebesar 20%.
 Gagal jantung
Bukti dari suatu studi epidemiologik yang bersifat retrospektif
menyatakan bahwa penderita dengan riwayat hipertensi memiliki resiko enam kali
lebih besar untuk menderita gagal jantung dari pada penderita tanpa riwayat
hipertensi. Data yang ada menunjukan bahwa pengobatan hipertensi, meskipun
tidak dapat secara pasti mencegah terjadinya gagal jantung, namun dapat
menunda terjadinya gagal jantung selama beberapa decade.
 Hipertrofi ventrikel kiri
Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respon kompensasi
terhadap peningkatan afterload terhadap jantung yang disebabkan oleh tekanan
darah yang tinggi. Pada akhirnya peningkatan massa otot melebihi suplai oksigen,
dan hal ini bersamaan dengan penurunan cadangan pembuluh darah koroner yang
sering dijumpai pada penderita hipertensi, dapat menyebabkan terjadinya
iskemik miokard. Penderita hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri
memiliki peningkatan resiko terjadinya cardiac aritmia (fibrilasi atrial dan aritmia
ventrikular) dan penyakit atherosklerosis vaskular (penyakit koroner dan penyakit
arteri perifer).
 Penyakit vaskular
Penyakit vaskular meliputi abdominal aortic aneurysm dan penyakit
vaskular perifer. Kedua penyakit ini menunjukan adanya atherosklerosis yang
diperbesar oleh hipertensi. Hipertensi juga meningkatkan terjadinya lesi
atherosklerosis pada arteri carotid, dimana lesi atherosklerosis yang berat
seringkali merupakan penyebab terjadinya stroke.
 Retinopati
Hipertensi dapat menimbulkan perubahan vaskular pada mata yang
disebut retinopati hipersensitif. Perubahan tersebut meliputi bilateral
retinalfalmshaped haemorrhages, cotton woll spots, hard exudates dan
papiloedema. Pada tekanan yang sangat tinggi (diastolic >120 mmHg, kadang-
kadang setinggi 180 mmHg atau bahkan lebih) cairan mulai bocor dari arteriol –
arteriol kedalam retina, sehingga menyebabkan padangan kabur, dan bukti
nyata pendarahan otak yang sangat serius, gagal ginjal atau kebutaan permanent
karenarusaknya retina.
 Kerusakan ginjal
Ginjal merupakan organ penting yang sering rusak akibat hipertensi.
Dalam waktu beberapa tahun hipertensi parah dapat menyebabkan insufiensi
ginjal, kebanyakan sebagai akibat nekrosis febrinoid insufisiensi arteri – ginjal
kecil. Pada hipertensi yang tidak parah, kerusakan ginjal akibat arteriosklerosis
yang biasanya agak ringan dan berkembang lebih lambat.

I. Penatalaksanaan Hipertensi
Penatalaksanaan pengobatan hipertensi harus secara holistik dengan tujuan
menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi dengan menurunkan tekanan
darah seoptimal mungkin sambil mengontrol factor – factor resiko kardiovaskular
lainnya, memilih obat yang rasional sesuai dengan indikasi dan mempunyai efek samping
yang kecil, untuk ini dianjurkan pemberian obat kombinasi, dan harus disesuaikan
dengan kemampuan penderita. Berdasarkan pertimbangan manfaat dan kerugian ini maka
JNC VII-2004 menggunakan rekomendasi berikut untuk memulai pengobatan hipertensi
pada orang dewasa.
Tujuan Pengobatan Hipertensi
Tujuan terapi obat anti hipertensi adalah:
 Mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular dan renal akibatkomplikasi
 Tekanan darah yang diharapkan setelah terapi adalah <140/90 mmHgtanpa
adanya komplikasi, hal ini berhubungan dengan penurunanrisiko komplikasi CVD
(Coronary Vascular Disease)
 Pasien hipertensi dengan komplikasi diabetes mellitus dan penyakitrenal, tekanan
darah yang diharapkan dapat dicapai setelah terapi yaitu<130/80 mmHg

Prinsip penggunaan obat antihipertensi


Menurut Shankie (2001) tanpa mempertimbangkan jenis obat antihipertensi yang
digunakan, ada beberapa prinsip yang mendasari penggunaan obat antihipertensi, yaitu:
 Mulailah dengan dosis terkecil untuk menghindari reaksi yang tidak dikehendaki.
Bila terdapat respon tekanan darah yang baik dan obatditoleransi dengan baik,
dosis dapat ditingkatkan secara bertahapsampai tekanan darah sasaran tercapai
(<140 mmHg atau <130 mmHg pada penderita diabetes atau penyakit ginjal
kronik)
 Gunakan kombinasi obat untuk memaksimalkan respon tekanan darahdan
meminimalkan reaksi yang tidak dikehendaki
 Gantilah dengan kelas obat yang berbeda bila dosis awal dari obattidak
memberikan efek yang berarti atau ada masalah efek sampingobat
 Gunakan formulasi yang minimal memberikan kontrol tekanan darahselama 24
jam. Hal ini penting untuk menjaga kepatuhan pasien danuntuk memastikan
tekanan darah terkontrol pada pagi hari ketika terjadi peningkatan tekanan darah.

Jenis Terapi Obat Anti Hipertensi


 Terapi Tunggal
Penggunaan satu macam obat anti hipertensi untuk pengobatan hipertensi
dapat direkomendasikan bila nilai tekanan darah awal mendekati nilai tekanan
darah sasaran. Menurut JNC-7 nilai tekanan darah awal mendekati nilai tekanan
darah sasaran apabila selisihnya kurang dari 20 mmHg untuk tekanan darah
sistolik dan kurang darah sistolik dan kurang dari 10 mmHg untuk tekanan darah
diastolik. Hal ini meliputi penderita hipertensi tahap 1 dan tekanan darah
sasaran<140/90 mmHg.
Menurut Gardner (2007) setengah penderita tekanan darah tinggi tahap I
dan II dapat mengendalikan tekanan darah mereka dengan satu obat saja. Jika satu
obat tidak efektif, maka dapat ditingkatkan dosisnya jika tidak ada
efek sampingnya. Alternatif lainnya adalah mencoba obat yang berbeda dan
menambahkan satu obat lagi pada obat yang telah diminum (kombinasi).
 Terapi Kombinasi
Bila menggunakan terapi obat kombinasi, biasanya dipilih obat – obat
yang dapat meningkatkan efektivitas masing – masing obat atau mengurangi
efek samping masing-masing obat. Memulai terapi dengan kombinasi dua obat
direkomendasikan untuk penderita hipertensi tahap 2 atau penderita hipertensi
yang nilai tekanan darah sasarannya jauh dari nilai tekanan darah awal (≥ 20
mmHg untuk tekanan darah sistolik dan ≥ 10 mmHg untuk tekanan darah
diastolik).
Terapi kombinasi juga merupakan pilihan bagi pasien yang nilai tekanan
darah sasarannya sulit dicapai (penderita diabetes dan penyakit ginjal kronik) atau
pada pasien dengan banyak indikasi pemaksaan yang membutuhkan beberapa
antihipertensi yang berbeda.
Dalam ALLHAT (Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment in
Prevent Heart Attack Trial) disebutkan 60% penderita hipertensi mencapai tekanan
darah terkontrol pada tekanan darah < 140/90 mmHg dengan penggunaan dua
atau lebih antihipertensi, dan hanya 30% yang tekanan darahnya terkontrol
dengan satu obat antihipertensi. JNC-7 merekomendasikan penggunaan tiga atau
lebih obat antihipertensi untuk mencapai target terapi tekanan darah yang
diinginkan.

Kombinasi Obat Anti hipertensi yang Sering Digunakan


Kombinasi obat antihipertensi Keuntungan
ACE Inhibitor – Kalsium Antagonis - Menurunkan tekanan intra glomuler
- Memperbaiki permeabilitas glomuler
- Menghambat terjadinya hipertrofi
glomuler
- Mengurangi proteinuria
- Mengurangi hipermetabolisme ginjal
- Mengurangi akumulasi kalsium
intraseluler
- Dianjurkan pada nefropati hipertensi
dan hipertensi dengan nefripati
diabetik
ACE Inhibitor – Diuretik - Meningkatkan natriuresis
- Memperbaiki toleransi glukosa dan
kadar asam urat
- Mempertahankan kadar kalium plasma
- Mempercepat regresi LVH
- Meningkatkan kecepatan ACEI
ACE Inhibitor – Beta bloker - Baik untuk hipertensi usia muda
dengan peningkatan system RAA dan
simpatis
- Baik pula untuk hipertensi dan pasca
infark akut dengan tujuan:
 Menurunkan resiko takhiaritmia
 Mengurangi progresivitas dilatasi
ventrikel
 Memperbaiki toleransi latihan
Beta bloker – Diuretik - Menurunkan peningkatan system RAA
karena diuretic
- Beta bloker mempunyai efek anti-
aldosteron ringan
- Baik untuk isolated systolic
hypertension, stroke, dan infark
miokard
Beta bloker – Kalsium antagonis - Menurunkan curah jantung dan
tahanan perifer
- Memperbaiki integritas endotel
- Normalisasi peningkatan system RAA
karena kalsium antagonis
- Sangat baik meregresi LVH
- Normalisasi resistensi insulin dan
gangguan profil lipid karena beta
bloker
- Baik untuk hipertensi dengan angina
pectoris
- Baik untuk hipertensi dan takhiaritmia

Perbedaan pemberian obat tunggal dan obat kombinasi


Perawatan obat tunggal Perawatan kombinasi
- Diperlukan dosis obat yang lebih - Dosis rendah untuk masing –
tinggi masing obat sudah cukup
- Kurang efektif - Lebih efektif
- Efek samping lebih banyak - Efek samping sedikit

Tinjauan tengtang obat antihipertensi


Pada prinsipnya, pengobatan hipertensi dilakukan secara bertahap. Kelompok
obat antihipertensi yang saat ini digunakan sebagai pilihan terapi hipertensi, yaitu :
 Diuretik
Semua kelas diuretik menyebabkan peningkatan eksresi natrium oleh
ginjal (natriuresis) dimana efek ini bertanggung jawab terhadap aktivitas
antihipetensi dari diuretik. Diuretik tiazid memiliki efek natriuresis sedang dan
merupakan diuretik yang paling banyak digunakan dalam pengobatan hipertensi.
Loop diuretic memiliki efek natriuresis besar dan hanya digunakan bila
diuretik thiazid tidak efektif atau dikontraindikasikan untuk penderita.
Potassium sparingdiuretic memiliki efek natriuresis yang rendah, dan
umumnya digunakan dalam bentuk kombinasi dengan diuretik thiazid atau loop
diuretik mengurangi ekskresikalium atau untuk mencegah hipokalemia. Suatu
meta-analysis dari 42 percobaan klinis pada tahun 2003 membuktikan bahwa
diuretik dosis rendah merupakan antihipertensi pilihan pertama yang paling
efektif untuk mencegah mortalitas kardiovaskular.
Diuretik thiazid
- Contoh obat
Yang tergolong di dalamnya ialah: hidrochlortiazid,
bendroflumethiazide, chlortalidone, metolazone, indapamide, dan
xipamide.
- Indikasi
Diuretik thiazid merupakan pilihan pertama untuk terapi hipertensi.
Thiazid dapat digunakan dalam bentuk tunggal maupun kombinasi dengan
antihipertensi lain. Kombinasi dengan ACEI atau β-bloker merupakan
kombinasi yang umum digunakan.
- Mekanisme kerja
Pada penggunaan jangka pendek, diuretik thiazid menurunkan
volume darah yang berdampak pada penurunan cardiac output. Pada
penggunaan jangka panjang, diuretik thiazid juga menurunkan tahanan
perifer, yang tampaknya berperan dalam efek antihipertensi jangka
panjang dari obat ini.
- Perhatian
Hipokalemia dapat terjadi pada penggunaan diuretik tiazid.
Hipokalemia berbahaya pada pasien PJK dan yang sedang menerima obat
cardiac glycosides. Sering kali untuk mengatasi efek hipokalemia
penggunaannya dikombinasi dengan potasium sparing diuretik atau
suplement potassium.
Loop diuretik
- Contoh obat
Yang tergolong di dalamnya ialah: Furosemide, Torasemide, dan
Bumetanide.
- Indikasi
Loop diuretik digunakan pada pasien pulmonary oedema akibat
gangguan pada ventrikel kiri, pada pasien CHF (Chronic Heart Failure),
dan juga pasien diuretic – resistant oedema.
- Mekanisme kerja
Loop diuretik terutama bekerja pada bagian menaik dari loop of
Henle dengan menghambat reabsorbsi elektrolit sehingga meningkatkan
ekskresi natrium.
- Perhatian
Hipokalemia dapat terjadi pada penggunaan furosemid.
Hipokalemia berbahaya pada pasien PJK berat dan yang sedang menerima
obat cardiac glycosides. Resiko hipokalemia dapat meningkat pada
penggunaan furosemid dosis tinggi apalagi bila diberikan dalam bentuk
sediaan injeksi. Sering kali untuk mengatasi efek hipokalemia
penggunaannya dikombinasi dengan potassium sparing diuretik atau
suplement potassium.
Potassium Sparing Diuretik
- Contoh obat
Yang tergolong di dalamnya ialah: Amiloride HCl, dan
Triamterene
- Indikasi
Potassium sparing diuretik digunakan sebagai tambahan pada
terapi dengan diuretik thiazid dan loop diuretik untuk mencegah terjadinya
hipokalemia.
- Mekanisme kerja
Potassium sparing diuretik terutama bekerja pada tubulus distal
ginjal untuk meningkatkan ekskresi natrium dan menurunkan ekskresi
kalium.
- Perhatian
Potasium sparing diuretik dapat meyebabkan terjadinya
hiperkalemia terutama pada pasien yang dengan riwayat gangguan ginjal
kronis atau diabetes dan pasien yang sedang menggunakan ACE inhibitor,
ARB, NSAID atau potassium supplement.
Aldosterone Antagonist
- Contoh obat
Termasuk golongan Potassium sparing diuretik. Yang tergolong
didalamnya ialah: Eplerenone, dan Spironolactone
- Indikasi
Aldosteron antagonis diindikasikan untuk oedema, pada dosis
rendah memiliki efek kerja pada penderita gagal jantung dan juga
digunakan pada penderita primary hyperaldosteronism. Pemberian jangka
lama aldosteron antagonis umumnya direkomendasikan pada penderita
post STEMI tanpa gangguan fungsi ginjal yang berat atau hiperkalemia
LEVF (Left Ventricle Ejection Fraction) pada penderita gagal jantung dan
diabetes. Spironolacton adalah antagonis aldosteron yang paling banyak
digunakan. Suatu penelitian Radomized Aldactone Evaluation Study (RALES)
menunjukkan, terjadi 30% penurunan angka kematian dengan
menggunakan spironolacton pada penderita gagal jantung sedang sampai
berat.
- Mekanisme kerja
Aldosterone antagonist bekerja pada bagian distal tubulus renal
sebagai antagonis kompetitif dari aldosteron.
- Perhatian
Untuk jenis obat spironolacton harus dihindari pada gangguan
fungsi ginjal dan hati-hati bila dikombinasikan dengan ACE
inhibitor/ARB, akan menyebabkan hiperkalemia.
 α-Bloker
- Contoh obat
Yang tergolong di dalamnya ialah: Doxazosin, Prazosin, Terazosin,
dan Indoramin
- Indikasi
α-bloker merupakan antihipertensi alternatif pilihan pertama
apabiladiuretik atau β-bloker dikontraindikasikan atau tidak ditoleransi
dengan baik. α-bloker terutama diindikasikan untuk penderita benign prostatic
hyperplasia. α- bloker tidak berpengaruh terhadap profil lipid dan glukosa
sehingga berguna pada penderita dengan dislipidemia atau intoleransi
glukosa.
- Mekanisme kerja
α-bloker menyebabkan vasodilatasi dan menghambat aksi
noradrenalin pada post sinaptic adrenoseptor α1 baik pada arteriol maupun
vena, dimana hal ini mengakibatkan penurunan tahanan perifer dan tekanan
darah.
- Perhatian
Jarang digunakan sebagai pilihan utama karena mempunyai efek
samping yang sering menganggu yaitu hipotensi postural, palpitasi dan sakit
kepala.
 β-blocker
- Contoh obat
Terbagi menjadi 2 sub class yaitu:
o β-bloker cardioselektif (selektif reseptor β-1) yaitu atenolol,
acebutolol, metoprolol, bisoprolol, betaxolol, celiprolol dan
o β-bloker non-cardioselektif (reseptor β-1 Dan β-2) yaitu carvedilol,
propanolol dan pindolol
- Indikasi
Beta bloker pertama kali direkomendasikan oleh JNC-7 sebagai terapi
’first line’ alternatif dari diuretik. Pilihan terapi pada semua bentuk iskemik
heart disease kecuali pada angina varian vasospastic prinzmetal. Beta
bloker merupakan pilihan terapi pada angina, baik angina stabil maupun
angina tidak stabil, dapat menurunkan resiko mortalitas pada fase akut infark
miokard dan setelah periode infark dan juga pilihan terapi untuk kondisi
lainnya seperti hipertensi, arrhythmia’s serius dan cardiomyopathy. Pada
peningkatan titrasidosis secara hati-hati diketahui memiliki efek mengurangi
resiko mortalitas pada pasien gagal jantung. Pada dosis kecil β-bloker
cardioselektif dapat digunakan pada pasien bronkospasme atau chronic lung
disease.
Pada angina dan hipertensi penggunaan β-bloker cardioselektif lebih
efektif dibandingkan dengan noncardioselektif, sedangkan β-bloker
noncardioselektif memiliki efek antiarrhytmics yang lebih baik dibandingkan
dengan cardioselektif. Bisoprolol merupakan agent β1 yangselektif, tidak
memiliki ISA ( Intrinsik Sympathomimetic Activity) dan bekerja lama, dipakai
secara luas dan berhasil dalam studi besar pada populasi gagal jantung
dimana terjadi penurunan yang besar yang tidak hanya pada mortalitas namun
juga sudden cardiac death. β-bloker direkomendasikan untuk penderita
hipertensi dengan infark miokard karena obat ini mempunyai keuntungan
sebagai anti hipertensi, antiiskemia, anti aritmia dan mampu mengurangi
remodelling ventrikel.
Dosis awal dari beta bloker umumnya kecil dan pelan-pelan dinaikkan
sampai dosis target (berdasarkan trial klinis yang besar), peningkatan ini
tergantung pada individual. Kontraindikasi harus diawasi, seperti asma
sbronkial, severe bronkial disease, bradikardia simptomatik dan hipotensi.
- Mekanisme kerja
Secara umum β-bloker menghambat aksi noradrenalin pada
reseptor adrenergik β-1 di jantung dan jaringan lain sehingga menyebabkan
penurunan cardiac output melalui penurunan denyut jantung dan
kontraktilitas. β-bloker juga menghambat sekresi renin dari sel-sel juxta
glomerular ginjal yang mengakibatkan penurunan pembentukan angiotensin
II dan rilis aldosteron.
- Perhatian
Penghentian mendadak terapi beta blocker menyebabkan gejala putus
obat (With drawl) yang dapat memperburuk PJK. Dapat dilakukan tindakan
preventif dengan pengurangan bertahap dosis beta blocker sebelum terapi
dihentikan. Penggunaan beta blocker bersamaan dengan verapamil
menyebabkan risiko hipotensi dan asystole yang dapat meningkatkan risiko
gagal jantung pada penderita penyakit jantung koroner.
 ACE inhibitor ( ACEI )
- Contoh obat
Yang tergolong di dalamnya ialah: Captopril, Cilazapril, Enalapril
maleat, Lisinopril, Perindopril erbumine, dan Ramipril.
- Indikasi
ACE inhibitor merupakan antihipertensi alternatif pilihan pertama
apabila diuretik atau β-bloker dikontraindikasi atau tidak ditoleransi dengan
baik. ACEI terutama direkomendasikan pada penderita gagal jantung,
disfungsi ventrikel kiridan EF <40%, hipertensi disertai dengan diabetes tipe
2.
ACE inhibitor juga sangat bermanfaat bila diberikan terutama pada
infark luas, infark dengan penurunan fungsi ventrikel kiri, infark dengan
edema paruakut dan infark miokard dengan hipertensi. Umumnya dipilih
jenis obat denganlama kerja pendek dan mempunyai gugus sulfhidril. Dalam
meminimalisir risiko hipotensi dan kerusakan pada ginjal, terapi ACE
inhibitor hendaknya dimulai dari dosis kecil dan kemudian dilanjutkan
dengan titrasi dosis sampai dosis target. Fungsi renal dan konsentrasi
potassium harus dievaluasi dalam 1-2 minggu setelah dimulai pemberian
secara perodik, terutama setelah dosis ditingkatkan.
- Mekanisme kerja
ACE inhibitor menghambat Angiotensin Converting Enzym sehingga
menyebabkan vasodilatasi, penurunan resistensi perifer dan penurunan
kadar hormon aldosteron.
- Perhatian
Pada penggunaan ACE inhibitor yang harus diperhatikan yaitu
meningkatnya kadar K+ dalam tubuh (hiperkalemia) bila digunakan
bersamaan dengan potasium sparing diuretik, oleh karena itu selama
penggunaan perlu dilakukan monitoring kadar K+ dalam tubuh. Pada
penggunaan kombinasi pertama kali dengan diuretik efek hipotensi dapat
muncul dengan tiba – tiba sehingga diuretik perlu dihentikan satu hari saat
menggunakan ACE inhibitor.
ACE inhibitor juga dapat meningkatkan serum kreatinin, sehingga
pada pasien dengan risiko renal impairment selama penggunaan harus hati –
hati dan dilakukan monitoring serum kreatinin.

 Angiotensin Receptor Bloker (ARB)


- Contoh obat
Yang tergolong di dalamnya ialah: candesartan cilexetil,
losartan potassium, irbesartan, olmesartan medoxomil, valsartan, dan
telmisartan.
- Indikasi
Angiotensin II Receptor Antagonist merupakan alternatif pilihan
antihipertensi untuk penderita yang tidak mentoleransi ACEI karena efek
samping yang berupa batuk kering dan angioedema. ARB dapat diberikan pada
penderita STEMI yang intoleren terhadap ACEI, dimana penderita tersebut
secara klinis dan radiologis menunjukkan kondisi gagal jantung atau fraksi
ejeksi < 0.40 untuk itu biasanya direkomendasikan penggunaan valsartan dan
candesartan.
- Mekanisme kerja
ARB merupakan antagonis kompetitif dari angiotensin II pada
reseptor AT1, yang menyebabkan penurunan resistensi perifer tanpa adanya
reflek peningkatan denyut jantung dan menurunkan kadar aldosteron. ARB
tidak menimbulkan efek bradikinin yang menyebabkan munculnya efek
samping batuk seperti pada penggunaan ACEI.
- Perhatian
Monitoring konsentrasi plasma potasium terutama pada pasien lansia
dan pasien dengan renal impairment , karena efek hiperkalemianya.
 Antagonis Kalsium
Antagonis kalsium dibagi menjadi dua subclass yaitu dihydropyridine dan non
dihydropyridine. Dihydropyridine mempengaruhi baroreseptor dengan reflex
takikardia karena efeknya yang kuat dalam mengakibatkan vasodilatasi perifer.
Dihydropyridine tidak mempengaruhi konduksi nodal atrioventrikular dan
tidak efektif pada supraventrikular tachyarrhytmias, Sedangkan non
dihydropyridine menyebabkan penurunan heart rate dan memperlambat konduksi
nodalatrioventrikular, sama dengan golongan beta bloker obat ini dapat digunakan
pada supraventrikular tachyarrhytmias.
Dihydropyridine
- Contoh obat
Yang tergolong di dalamnya ialah: Amlodipine, Nifedipine dan
Felodipine.
- Indikasi
Jika angina stabil dan tekanan darah tidak dapat dikontol dengan
beta bloker atau jika terjadi kontraindikasi dengan beta bloker maka dapat
menggunakan golongan calcium channel bloker. Calcium channel bloker
dapat mengurangi total resisten perifer dan resistensi koroner sehingga
dapat menurunkan tekanan darah. Sering kali beta bloker dan calcium
channel bloker dikombinasikan.
- Mekanisme aksi
CCB bekerja dengan mengintervensi pemindahan ion kalsium
melalui kanal kalsium di membran sel, dimana bertanggung jawab
menjaga plaeau phase potensi aksi. Depolarisasi jaringan lebih bergantung
kepada influks kalsium ketimbang natrium, terutama pada otot polos
vaskular, sel-sel myokardial, dan sel-sel yang terdapat dalam nodus –
nodus sinoatrial dan atrioventrikular. Blokade pada kanal kalsium
mengakibatkan vasodilatasi koroner dan perifer, aksi inotropik negatif,
mereduksi denyut jantung, dan memperlambat konduksi ventricular.
- Perhatian
Nifedipine short acting tidak direkomendasikan pada penderita
angina atau untuk terapi jangka panjang pada penderita hipertensi, karena
efeknya yang dapat menyebabkan hipotensi dan reflek
takikardia. Nifedipine memiliki efek inotropik negatif sehingga tidak
disarankan pada pasien gagal jantung dengan efek mereduksi kerja dari
ventrikel kiri. Penghentian mendadak terapi calcium channel blocker
menyebabkangejala putus obat (With drawl) yang dapat memperburuk
angina.
non Dihydropyridine
- Contoh obat
Yang tergolong di dalamnya ialah: diltiazem dan verapamil
- Indikasi
Sama dengan antagonis kalsium dihydropyridine.
- Mekanisme aksi
Sama dengan antagonis kalsium dihydropyridine.
- Perhatian
Verapamil tidak boleh diberikan bersamaan dengan beta bloker
karena efek kronotropik dan inotropik negatif nya yang kuat, sehingga
harus diberikan dengan hati-hati pada penderita gagal jantung atau yang
sedang diterapi dengan beta bloker. Penghentian mendadak terapi calcium
channel blocker menyebabkan gejala putus obat (with drawl) yang dapat
memperburuk angina.

J. Pencegahan Hipertensi
 Mengurangi dalam hal mengkonsumsi garam.Bila kita menginginkan terhindar
dari penyakit hipertensi ini alangkah baiknya kita sedari awal mengkonsumsi
garam, karena konsumsi garam yang berlebihan akan meningkatkan faktor resiko
hipertensi itu sendiri.
 Melakukan rutinitas dalam berolahraga. Olahraga ini efektif sekali dalam hal
mencegah berbagi macam penyakit, termasuk penyakit hipertensi ini. Olahraga
akan meningkatkan kesehatan dan juga daya tahan tubuh. Bila telah menderita
penyakit hipertensi maka olahraga yang disarankan adalah olahraga yang ringan
selama 30 menit dan seminggu paling tidak 3 kali. Olahraga ringan seperti halnya
bersepeda dan juga berjalan kaki.
 Rajin dalam mengkonsumsi makanan dan juga buah-buahan yang kaya akan serat
seperti halnya melon, tomat dan juga sayuran hijau.
 Menghindari dari konsumsi alkohol.
 Mengendalikan kadar kolesterol jahat dalam tubuh dan juga menghindari
kegemukan atau obesitas.
 Tidak merokok dan bagi para perokok maka pencegahan hipertensi ini dengan
menghentikan merokok itu sendiri.
 Menghindari dan mengendalikan diabetes bila mempunyai penyakit DM tersebut.
Penatalaksanaan Hipertensi Tanpa Compelling Indication (JNC7 p.31)
Penatalaksanaan untuk pengobatan pasien hipertensi tanpa compelling indication dapat
dilihat pada gambar diatas, terapi dimulai dengan modifikasi lifestyle, jika modifikasi lifestyle
tidak tercapai maka untuk terapi obat tanpa compelling indications dibagi menjadi 2 yaitu stage 1
dan stage 2. Untuk stage 1 diberikan golongan thiazide tipe diuretic untuk terapi awal tapi juga
dapat dipertimbangkan dengan kombinasi dengan salah satu jenis yang lain (ACEI,ARB,BB,
CCB), Jika BP nya masih >20 mmHg dari target sistoliknya dan 10 mmHg dari target
diastoliknya maka dipertimbangkan untuk memulai kombinasi obat antihipertensi. Sedangkan
pada hipertensi stage 2 diberikan kombinasi langsung (biasanya thiazide tipe diuretic dengan
ACEI, atau ARB, atau BB, atau CCB)

Jika belom tercapai target tekanan darahnya maka dapat dilakukan dengan
mengoptimalkan dosis atau dengan menambahkan obat tambahan sampai tekanan darah nya
mencapai target tetapi dengan pertimbangan konsultasi dengan dokter spesialis.
Penatalaksanaan Hipertensi (JNC 8 p.516)
Penatalaksanaan hipertensi pada JNC8 hampir sama dengan JNC7 tapi lebih menjelaskan
treatment yang diberikan secara lebih rinci ketika terapi dengan single atau kombinasi obat
belum mencapai target yaitu :

A. Memaksimalkan pengobatan pertama sebelum penambahan obat kedua (kombinasi)


B. Tambahkan obat kedua sebelum obat pertama belum mencapai dosis maksimum
C. Dimulai dengan 2 kombinasi obat secara terpisah atau sebagai kombinasi dosis tetap.

Jika belum mencapai target :

Dengan peningkatan kepatuhan pengobatan dan lifestyle. Untuk strategi A dan B


diberikan titrasi thiazide tipe diuretic atau ACEI atau ARB atau CCB (penggunaan kelas obat
yang sebelumnya tidak dipilih dan menghindari penggunaan kombinasi ACEI dan ARB), untuk
strategi C, dengan titrasi dosis obat awal untuk pengobatan maksimum.

Jika belum mencapai target :

Dengan peningkatan kepatuhan pengobatan dan lifestyle. Dengan pemberian titrasi


thiazide tipe diuretic dan ACEI atau ARB atau CCB (pengobatan kelas obat sebelumnya tidak
dipilih dan menghindari penggunaan kombinasi ACEI dan ARB)

Jika belum mencapai target :

Dengan penigkatan kepatuhan pengobatan dan lifestyle. Tambahkan kelas obat (beta
bloker, antagonis aldosterone, atau lainnya) dan atau dengan merujuk ke dokter spesialis.

Jika belum mencapai target tekanan darah maka dilakukan treatment seperti treatment
yang terakhir dan jika sudah mencapai target tekanan darahnya dilanjutkan
pengobatannya dan juga dilakukan monitoring.

Hipertensi Compelling Indications

Tabel 8 menggambarkan compelling indications yang membutuhkan golongan obat


antihipertensi tertentu untuk kondisi berisiko tinggi. Pilihan obat ini untuk compelling
indications didasarkan pada hasil data yang baik dari uji klinis. Kombinasi agen lain mungkin
diperlukan. Pertimbangan manajemen lainnya termasuk obat yang sudah digunakan, tolerabilitas,
dan target Tekanan Darah yang diinginkan. Dalam banyak kasus, konsultasi spesialis dapat
diindikasikan.