You are on page 1of 11

JENIS - JENIS RISIKO BISNIS, PENGUKURAN DAN

PENANGANAN RISIKO BISNIS

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Manajemen Risiko
Yang dibina oleh Andro Agil Nur Rakhmad, S.E.I., M.E.

Oleh :
Vivi Roving Novita Sari (160413607347)
Siska Novia Indah Wahyuni (160413602046)
Wildan Hirzul Muslimin (160413607268)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
September 2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................... i


BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 2
2.1 Jenis-Jenis Risiko Bisnis ................................................................ 2
2.2 Pengukuran Risiko Bisnis .................................................................. 3
2.3 Penanganan Risiko Bisnis .................................................................. 5
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 9

i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Dalam menjalankan suatu bisnis tidak akan lepas dari adanya risiko
pekerjaan, karena risiko merupakan bagian dari kehidupan kerja individual
maupun organisasi. Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau
keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.
Dengan adanya berbagai macam pekerjaan dalam pencapaian tujuan
organisasi maka risiko yang timbul juga akan berbeda – beda. Adanya
berbagai macam risiko yang mungkin timbul diperlukan penanganan yang
sesuai dengan sifat, ukuran maupun dampak yang akan terjadi dari risiko
tersebut.
Maka peran manajemen dalam menangani risiko sangatlah penting
bagi perusahaan. oleh karena itu pengetahuan akan manajemen risiko dalam
mengidentifikasi, mengukur maupun menangani risiko yang mungkin terjadi
diperlukan agar manajemen risiko dalam suatu perusahaan dapat diolah
dengan tepat.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah :
1. Apa saja jenis-jenis risiko yang dapat terjadi dalam bisnis?
2. Bagaiamana cara pengukuran risiko bisnis?
3. Bagaiaman penanganan risiko bisnis?

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis-Jenis Risiko Bisnis
Jenis – jenis risiko bisnis dapat dibedakan dengan berbagai macam cara, yaitu :
1. Menurut sifatnya
a. Risiko Murni, adalah risiko yang muncul karena suatu situasi atau
keputusan yang konsekuensinya adalah kerugian saja. Bentuk risiko
murni ini ada beberapa yang sering muncul, seperti:
 Risiko hilang / rusaknya aset yang dimiliki sebagai akibat dari
kebakaan, penggelapan, pencurian dan lainnya.
 Kecelakaan kerja pada proses produksi.
 Risiko akibat tuntutan hukum dari pihak lain, seperti karena
keracunan dari makanan yang dijual, tuntutan konsumen karena
kelalaian yang dilakukan dan sebagainya.
 Risiko operasional lainnya.
 Bencana alam atau force majeure, seperti misalnya gempa, banjir,
angin topan dan sejenisnya.
b. Risiko spekulatif, adalah risiko yang muncul sebagai akibat dari situasi
atau keputusan yang konsekuensinya bisa berupa kerugian maupun
keuntungan. Contoh risiko spekulatif yang mungkin, misalnya :
 Risiko perubahan harga
Harga pasar suatu produk, jasa atau komoditi dapat berubah
-ubah, bisa naik bias juga turun. Ini disebabkan oleh perubahan
harga input. Ketika harga input naik, maka perusahaan dapat
mengalami kerugian karena adanya penurunan margin keuntungan.
Sebaliknya, bila harga input turun, maka perusahaan justru akan
mengalami keuntungan. Ini disebabkan karena adanya kenaikan
marjin keuntungan. Selain itu, jika dikaitkan dengan harga output,
maka perusahaan akan mengalami kentungan ketika harga output
naik karena marjin keuntungan yang juga meningkat. Sementara
apabila harga output turun, maka perusahaan akan mengalami
kerugian, karena adanya penurunan margin keuntungan.

2
 Risiko kredit
Risiko kredit ini adalah risiko yang muncul akibat adanya
transaksi kredit, seperti hutang dagang. Apabila pihak yang
diberikan kredit mengalami gagal bayar. Jika hal ini terjadi, maka
pengusaha akan mengalami kerugian. Meski kita tidak akan
terlepas dari adanya risiko. Namun, bukan berarti bahwa kita harus
menghindari kegiatan bisnis tersebut dan sama sekali melepaskan
risiko yang ada. Sebab, Anda dapat melakukan pengelolaan risiko
untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya risiko yang ada.
2. Menurut dapat tidaknya resiko dialihkan kepada pihak lain
(diasuransikan).
a. Resiko yang dapat dialihkan pada pihak lain, dengan
mempertanggungkan suatu obyek yang akan terkena resiko pada
perusahaan asuransi, dengan membayar sejumlah oremi asuransi,
sehingga semua kerugian menjadi tanggungan pihak erusaan asuransi.
b. Resiko yang tidak dapat dialihkan pada pihak lain, (tidak dapat
diasuransikan), umunya meliputi semua jenis risiko spekulatif.
3. Menurut sumber/penyebab timbulnya.
a. Resiko intern, yaitu resiko yang berasal dari dalam perusahaan itu
sendiri, contoh: keusakan aktiva karena kesalahan karyawan itu
sendiri, kecelakaan kerja, kesalahan manajemen dan sebagainya.
b. Resiko ekstern, yaitu resiko yang berasal dari luar perusahaan itu,
misal: pencurian, penipuan, persaingan bisnis, fluktuasi harga,
perubahan kebijakan pemerintah dan sebagainya.
2.2 Pengukuran Risiko Bisnis
Setelah berbagai tipe kerugian potensial berhasil diidentifikasi, maka
untuk mengatasinya perlu dilakukan pengukuran atas exposure-exposure
tersebut harus diukur. Pengukuran resiko dibutuhkan untuk :
1. Menentukan kepentingan relative dari suatu risiko yang dihadapi
2. Untuk Mendapatkan informasi yang sangat diperlukan oleh Manajemen
Risiko dalam upaya menentukan cara dan kombinasi cara – cara yang

3
paling dapat diterima / paling baik dalam penggunaan sarana
penanggulangan risiko.
Dalam pengukuran risiko dimensi yang diukur adalah :
1. Besarnya frekuensi kerugian, artinya berapa kali terjadinya suatu kerugian
selama suatu periode tertentu. Jadi untuk mengetahui sering tidaknya suatu
kerugian itu terjadi.
2. Tingkat kegawatan (severity) atau keparahan dari kerugian – kerugian
tersebut. Artinya untuk mengetahui sampai seberapa besar pengaruh dari
suatu kerugian terhadap kondisi perusahaan, terutama kondisi finansial.
Dan hasil pengukuran yang mencakup dua dimensi tersebut akan dapat
diketahui :
1. Nilai rata-rata dari kerugian selama suatu periode anggaran.
2. Variasi nilai kerugian dari suatu periode anggaran ke periode anggaran
yang lain naik – turunnya nilai kerugian dari waktu ke waktu.
3. Dampak keseluruhan dari kerugian – kerugian tersebut, terutama kerugian
yang ditanggung sendiri (diretensi), jadi idak hanya nilai rupiahnya saja.

Pengukuran Frekuensi Kerugian

Pengukuran frekuensi kerugian potensional adalah untuk mengetahui


berapa kali suatu jenis peril dapat menimpa suatu jenis objek yang bisa
terkena peril selama suatu jangka waktu tertentu, yang umumnya satu tahun.
Berdasarkan dimensi frekuensi ada empat kategori kerugian, yaitu :
1. Kerugian yang hampir tidak mungkin terjadi (almost nil), yaitu risiko yang
tidak akan terjadi atau kemungkinan terjadinya sangat kecil sekali dan
hapir tidak mungkin terjadi (probabilitas terjadinya mendekati nol).
2. Kerugian yang kemungkinan terjadinya kecil (slight), yaitu risiko – risiko
yang tidak akan terjadi dalam waktu dekat dan di masa yang akan datang
kemungkinannya pun kecil.
3. Kerugian yang mungkin (moderate), yaitu kerugian – kerugian yang
mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat di masa yang yang akan dating.
4. Kerugian yang mungkin sekali (definite), yaitu kerugian yang biasanya
terjadi secara teratur, baik dalam waktu dekat maupun di masa mendatang
jadi merupakan kerugian yang hamper pasti terjadi.

4
Berkaitan dengan pengukuran kerugian dari dimensi frekuensi manajer
risiko harus memperhatikan pula beberapa jenis kerugian yang dapat
menimpa suatu objek dan beberapa jenis objek yang dapat terkena suatu jenis
kerugian. Sebab kedua hal itu akan sangat mempangaruhi besarnya
probabilitas kerugian potensial.

Pengukuran Kegawatan Kerugian

Pengukuran kerugian potensial dari dimensi kegawatan adalah untuk


mengetahui berapa besarnya nilai kerugian, yang selanjutnya dikaitkan
dengan pengaruhnya terhadap kondisi perusahaan, terutama kondisi
finansialnya. Berdasarkan dimensi kegawatannya ada empat kategori
kerugian poensial, yaitu :
1. Kemungkinan kerugian yang wajar (normal loss expectancy), yaitu
kerugian –kerugian yang dapat dikelola sendiri oleh perusahaan ataupun
oleh umum / perusahan asuransi.
2. Probabilitas kerugian maksimum (probable maximum loss), yaitu kerugian
yang dapat terjadi bila alat pengaman terhadap peril tidak dapat berfungsi.
3. Kerugian maksimum yang dapat diduga (maximum foreseeable loss), yaitu
kerugian – kerugian yang tidak dapat diatasi secara individual ( tidak bisa
ditangani sendiri ) jadi penangannya harus diserahkan kepada umum
(perusahaan asuransi).
4. Kemungkinan kerugian maksimum (maximum possible loss), yaitu
kerugian-kerugian yang tidak diamankan, biak secara individual maupu
secara umum (oleh perusahaan asuransi).
2.3 Penanganan Risiko Bisnis
Dalam pendekatan dengan penanganan risiko (risk control) ada beberapa
alat/metode yang dapat digunakan, antara lain:
1. Menghindarinya
Menghindari suatu risiko (murni) adalah menghindari harta, orang
atau kegiatan dari exposure. Dengan cara :
a. Menolak memiliki, menerima atau melaksanakan kegiatan yang
mengandung risiko, walaupun hanya sementara. Contoh : tidak

5
menggunakan teknologi yang berisiko tinggi, tidak mau menerima
pengemudi yang suka mabuk, tidak menjual barang secara kredit
macet, dan lain-lain
b. Menyerahkan kembali risiko yang terlanjur diterima atau segera
menghentikan yang diketahui mengandung risiko. Contoh :
membatalkan pembelian barang-barang yang berharga murah setelah
mengetahui bahwa barang tersebut adalah barang illegal
Karakteristik dasar penghindaran risiko
a. Keadaan yang mengakibatkan tidak adanya kemungkinan untuk
menghindari risiko, di mana makin luas pengertian risiko yang
dihadapi akan makin besar ketidakmungkinan untuk menghindari
b. Manfaat atau laba potensial yang akan diterima dari pemilikan harta,
mempekerjakan orang tertentu, tanggung jawab atas suatu kegiatan
akan hilang bila kita menghindari risiko dari kepemilikan,
mempekerjakan atau kegiatan tersebut
c. Makin sempit risiko yang dihadapi, maka semakin besar
kemungkinan terciptanya risiko yang baru
2. Mengendalikan kerugian (Loss Control)
Pengendalian kerugian bertujuan untuk :
a. Memperkecil kemungkinan/peluang terjadinya kerugian.
b. Mengurangi keparahan bila suatu risiko kerugian memang terjadi.
Tujuan tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara, anatara lain :
a. Melakukan tindakan pencegahan dan pengurangan kerugian
b. Program pengendalian kerugian berdasar sebab-sebab terjadinya
c. Pengendalian kerugian menurut lokasi
d. Pengendalian menurut timing

6
3. Pemisahan
Pemisahkan artinya memisahkan penempatan dari harta yang
menghadapi risiko yang sama. Jadi dengan cara menambah banyaknya
independent exposure unit, sehingga probabilitas kerugiaanya dapat
diperkecil. Tujuan pemisahan adalah untuk mengurangi jumlah kerugian
akibat suatu peril. Contoh : perusahaan yang mempunya banyak truk,
maka untuk memperkecil kerugian karena kebakaran, truknya disimpan
dalam beberapa pool

4. Melakukan kombinasi atau pooling


Kombinasi atau pooling adalah menambah banyaknya exporsure unit
dalam batas kendali perusahaan yang bersangkutan, dengan tujuan agar
kerugian yang akan dialami lebih diramalkan, sehingga risikonya lebih
kecil. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengadakan
pengembangan internal.
Contoh :
 Perusahaan transportasi memperbanyak armada truknya, agar
probabilitas terjadinya kecelakan diperkecil
 Perusahaan auransi mengkombinasikan risiko murni dari banyak
tertanggung
5. Pemindahan Risiko
Pemindahan risiko dapat dilakukan dengan cara:
1. Harta milik atau kegiatan yang menghadapi risiko dipindahkan
kepada pihak lain, yang dinyatakan dengan tegas dengan berbagai
transaksi atau kontrak. Contoh : perusahaan yang menyerahkan
pengangkutan produknya kepada perusahaan transportasi, bertujuan
untuk memindahkan risiko dalam pengangkutan kepada perusahaan
tersebut.
2. Risiko sendiri yang dipindahkan
Contoh : dalam perjanjian sewa-menyewa rumah, biasanya pemilik
rumah memindahkan risiko kerusakan kepada penyewa, biasanya
berupa kerusakan karena kelalaian penyewa.

7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Jenis-jenis risiko yang dapat terjadi dalam bisnis
a. Menurut sifatnya
 Risiko murni
 Risiko spekulatif
b. Menurut dapat tidaknya resiko dialihkan kepada pihak lain
 Risiko yang dapat dialihkan
 Risiko yang tidak dapat dialihkan
c. Menurut sumber/penyebab timbulnya
 Risiko internal
 Risiko eksternal
2. Cara pengukuran risiko bisnis :
a. Pengukuran Frekuensi Kerugian
b. Pengukuran Kegawatan Kerugian
3. Dalam pendekatan dengan penanganan risiko (risk control) ada beberapa
alat/metode yang dapat digunakan, antara lain:
a. Menghindarinya
b. Mengendalikan
c. Pemisaha
d. Kombinasi atau Pooling
e. Pemindahan

8
DAFTAR PUSTAKA

Djojosoedarso, S. 2003. Prinsip-Prinsip Manajemen Resiko dan Asuransi,


EdisRevisi. Jakarta: Salemba Empat.
Harrington, Scott E dan Gregory R Niehaus. 2004. Risk Management and
Insurance. 2nd Ed. New York: McGraw Hill.