You are on page 1of 22

Kilang migas dan derivatifnya seperti halnya kilang petrokimia/refinery banyak dibangun

didaerah remote ataupun onshore yang rata-rata kondisi daya dukung tanah alaminya kurang
bagus. Daya dukung tanah yang cukup kuat diperlukan untuk menempatkan pondasi dari
equipment-equipment yang cukup banyak jumlahnya. Dan seperti kita ketahui juga, banyak
metode untuk meningkatkan kualitas daya dukung tanah/tapak pada suatu proyek.

Faktor keekonomian dan penghematan waktu, sedikit banyak menentukan metoda perbaikan
tanah yang akan dipilih, tentunya disamping faktor-faktor lain yang situasional. Dari berbagai
pengalaman lapangan dan engineering yang pernah saya geluti, beberapa metode perbaikan
tanah dapat dilaksanakan sekaligus/sinergikal pada suatu tapak proyek.

Dalam artikel bagian 1 ini, saya akan menyajikan metoda-metoda perbaikan daya dukung
tanah yang dapat dilakukan pada suatu waktu tertentu secara berkesinambungan. Metoda
tersebut adalah Dynamic Compaction/DC (Pemadatan Dinamis) dan Dynamic
Replacement/DR. Untuk metoda DR ini bisa juga disebut metoda kolom batu (Stone
Column), nanti akan saya uraikan lebih lanjut.

Metoda DC/DR ini ditemukan oleh Menard (France, 1960). Metoda ini bisa menghemat
biaya dalam mensubtitusi penggunaan pile (tiang pancang) menjadi pondasi dangkal hingga
penanggungan beban tertentu sesuai peningkatan kapasitas daya dukung tanah. Di negara kita
Indonesia, mungkin metoda ini belum banyak diketahui. Tetapi seiring dengan mudahnya
informasi yang didapat dan faktor komparasi dengan metode konvesional lainnya yang
dikenal, saya yakin kedepannya metoda ini bisa jadi pilihan yang patut
dipertimbangkan.Terutama untuk kondisi lahan di Sumatera dan Kalimantan serta Sulawesi.
Dimana yang saya tahu, pembukaan lahan untuk eksplorasi dan pembuatan kilang
pengolahan masih mengandalkan teknik pemadatan pola konvensional.

Sedangkan tulisan di bagian 2 nanti akan membahas pelaksanaan Pilot Test dan perhitungan
kekuatan daya dukung tanah setelah pelaksanaan metoda DC dan DR.

CATATAN:
Silahkan meng-klik sketsa illustrasi dan foto-foto memperjelas tampilan.

1. Metoda Dynamic Compaction (DC)

Secara garis besar, pengertian DC adalah suatu metoda peningkatan kondisi tanah yang dapat
diterapkan pada tanah yang kering, basah/lembab dan jenuh (saturated). Metoda ini bisa juga
diterapkan pada tanah jenuh dengan kandungan butiran halus mencapai hingga 30%. Target
DC dicapai dengan menjatuhkan beban (pounder) dari suatu ketinggian tertentu ke atas
permukaan tanah yang akan dipadatkan. Proses pemadatan ini berlangsung pada sekian
banyak jatuhan pada lahan yang dituju.

a. Prinsip Dasar Peningkatan Tanah


Mengapa bisa terjadi pemadatan hanya dengan menjatuhkan beban? Pounder/beban yang
dijatuhkan pada ketinggian yang sudah ditetapkan akan memberikan impact energy (energy
benturan). Energi benturan ini menciptakan getaran dan mengatur ulang partikel-partikel
tanah yang ada dan mendorong keluar gas dan air terkandung didalam partikel didalam tanah
asal. Hal ini dapat meningkatkan kepadatan tanah lunak. Metoda DC ini selain dapat
diterapkan pada kondisi tanah diatas, dapat juga secara terbatas, -berdasarkan hasil soil
investigation tentunya-, pada kondisi tanah kepasiran, lapisan tanah berbatu lepas, atau tanah
hasil pembuangan.

Perilaku tanah setelah diterapkannya metoda DC ini bisa berbeda secara signifikan
tergantung kondisi tanah, seperti apakah tanah tersebut adalah tanah jenuh (saturated soil)
ataupun tanah tidak jenuh (non saturated soil). Dalam halnya tanah tidak jenuh, efek benturan
yang muncul adalah seperti halnya kita melakukan Proctor Compaction Test di laboratorium
mekanika tanah.
Sedangkan jika kondisi tanah jenuh, akan terjadi berbagai bentuk gelombang benturan yang
berpusat pada pusat jatuhan beban. Gambar dibawah ini akan bisa memberikan gambaran
tentang gelombang benturan yang dimaksud.
P wave atau gelombang tekan akan merombak struktur partikel tanah akibat Push-Pull
Motion dan meningkatkan tekanan pori. Sedangkan S wave atau gelombang geser
memainkan peran menyusun ulang kepadatan partikel meskipun kecepatan gelombang cukup
pelan. Adapun Rayleigh wave adalah ringkasan dari gelombang geser dan gelombang
permukaan yang tersebar dekat dengan permukaan tanah. Sehingga akibat adanya berbagai
macam gelombang yang tercipta oleh karena beban benturan pounder, akan menghasilkan
tekanan tarik dibawah tanah, berujung pada retak tarik dalam bentuk radial (seperti gambar
diatas) pada pusat beban benturan. Retak tarik ini membuat jalur aliran yang berguna untuk
mengeluarkan tekanan pori yang berlebihan dan membuang air pori dalam tanah jenuh. Hal
inilah yang berujung pada peningkatan kapasitas daya dukung tanah.

Illustrasi diatas adalah perilaku partikel tanah secara mikroskopik selama pemadatan
berlangsung dan setelahnya.

Bagaimana dengan penurunan permukaan tanah? Penurunan tanah tergantung dari pada jenis
tanah dan energi jatuhan/pemadatan yang tercipta. Namun biasanya berkisar 3-8 % dari
ketebalan tanah asal alami, sedangkan untuk reklamasi lahan buangan sekitar 20-30 %.
Tekanan pori yang berlebih terjadi karena jatuhan beban bisa saja masih terjadi bahkan
setelah proses jatuhan itu selesai. Namun tingkat disipasi (penghamburan/penghilangan)
tekanan pori berlebih ini sangat singkat jika dibandingkan dengan metoda pemadatan statis
seperti halnya metoda pre-loading.

b. Karateristik Metoda DC
1. Pekerjaan terapan yang cepat dengan tahapan sederhana, penghematan biaya dan sangat
dimungkinkan pelaksanaannya dengan pekerjaan lain pada saat yang sama.
2. Meskipun tergantung dari jenis tanah, kelangsungan pekerjaan lain diatas tanah setelah
peningkatan terjadi sangatlah diijinkan.
3. Dapat diterapkan pada berbagai jenis tanah termasuk jenis tanah hasil
bongkaran/pembuangan, pasir tanah kepasiran (dredging soil), tanah halus, lumpur buangan
maupun hasil pengeboran atau bentonit.
4. Kualitas kerja dapat dikontrol dan hasil yang baik.
5. Tidak bermasalah terhadap lapisan batuan dibawahnya.
6. Tidak memerlukan material khusus.

2. Metoda Dynamic Replacement (DR)/Stone Column (Kolom Batu)


Metoda DR ini adalah lanjutan dari metoda DC dan biasanya dilaksanakan pada tanah dengan
kandungan lempung dan lapisan lanau sangat tebal serta diketahui dengan metoda DC
tidaklah cukup untuk meningkatkan daya dukung tanah pada kondisi tanah tersebut seperti
yang ditargetkan. Seperti kita ketahui, setelah pounder dijatuhkan berkali-kali akan terbentuk
suatu kawah yang disebut crater. Dalam penerapan metoda DR, crater yang tercipta akan diisi
dengan batuan/material non plastis (berdasarkan pengujian ASTM D 4318), atau batuan alam
yang ada dilokasi tanah lunak. Crater akan terus diisi batuan dengan berulang kali melakukan
jatuhan pounder (tamping) hingga kedalaman yang diinginkan ataupun berhenti ketika crater
yang terbentuk sudah tidak bisa lagi melesak lebih dalam.

a. Prinsip Dasar DR
Secara prinsip, metoda pelaksanaan pada awal pekerjaan sama dengan metoda DC tetapi ada
tahapan kerja yang berkelanjutan yaitu pengisian material kasar kedalam crater yang
terbentuk akibat tamping. Material yang diisikan terus menerus akan membentuk pola seperti
kolom batu, maka dari itulah metoda DR ini dapat pula disebutkan metoda kolom batu. Pada
saat batuan kedalam crater ataupun granular soil (seperti gravel ukuran tertentu misalnya),
area tekanan pada tanah lunak didistribusikan ke kolom batu (stone column/pillar). Sehingga
tanah lunak memadat dan menghasilkan daya dukung yang ditargetkan. Penerapan DR ini
berdasarkan data tanah (hasil dari soil investigation report) yang dilanjutkan pada tahapan
experiment lapangan (seperti halnya uji trial and error) serta dilakukan dengan interval
tertentu berdasarkan rumus yang tertulis berikut ini.

b. Karateristik Metoda DR
1. Sementara kolom DR terbentuk dengan mengisikan material non plastis (batuan pecah,
gravel), terjadi kontraksi dilapisan tanah lunak sekeliling kolom DR. Yang menyebabkan
tekanan pori berlebih terlepas terus menerus. Proses ini pada dasarnya sama dengan dengan
teknik konsolidasi tanah dengan metode pre-loading, hanya saja konsolidasi tersebut terjadi
lebih cepat sekaligus menaikkan daya dukung tanah.
2. Tahanan geser lebih besar terjadi didalam kolom DR dan kekuatan tanah diantara kolom
DR meningkat secara signifikan.
3. Pada saat kolom DR terbentuk didalam tanah setelah proses dilakukan, komposisi
kandungan tanah akan berubah. Pengertiannya yaitu lapisan tanah terdiri dari batuan dan
tanah asal yang mana partikel awal menjadi tersusun ulang. Dalam hal ini tekanan tanah
sebagian besar diakomodasi oleh kolom DR sedangkan tanah asal hanya menderita tekanan
lebih kecil.

Gambar illustrasi metoda DR:

Contoh foto pelaksanaan DR dilapangan:

Gambar dibawah adalah contoh crane lengkap dengan pounder (beban).

Gambar dibawah adalah kondisi lapangan seelah dilaksanakan DC dan DR. Crater yang
tercipta harus ditutup dengan urugan/backfill hingga ketinggian level yang disyaratkan dalam
Plot Plan.
Contoh hasil tamping dan bentuk crater yang tercipta (cukup besar ukurannya sekitar 2 x 2
m):
COMPACTION

Compaction tes Tanah ini dilakukan untuk menentukan hubungan antara kadar air dan
kepadatan tanah dengan memadatkandi dalam cetakan silinder berukuran tertentu dengan
mengunakan alat penumbuk 2,5 kg (5,5 lbs) dan tinggi jatuh 30 cm ( 12” )

Pemeriksaan kepadatan standar dalpat dilakukan dengan 4 (empat) cara sebagai berikut :

Cara A : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 4,75 mm (no.4)

Cara B : cetakan diameter 152 mm (6”) beban lewat saringan 4,75 mm (no.4)

Cara C : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 19 mm (3/4”)

Cara D : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 19 mm (3/4”)

PERALATAN UNTUK COMPACTION TEST ADALAH

 Cetakan diameter 102 mm (4”) kapasitas 0,000943 atau kurang lebih 0,00003 m3
dengan diameter dalam 101,6 mm, tinggi 116,43 kurang lebih 0,1270 mm.
 Cetakan diameter 152 mm, kapasitas 0,00124 kurang lebih 0,000021 m3, dengan
diameter dalam 152,4 kurang lebih 0,660 mm, tinggi 116,43 kurang lebih 0,1270 mm.
cetakan harus dari logam yang mempunyai dinding teguh dan dibuat sesuai dengan
ukuran di atas. Cetakan harus dilengkapi dengan leher sambung dibuat dari bahan
yang sama, dengan tingi ± 60 mm. yang dipasang kuat tetapi bisa dilepaskan .
 Catakan cetakan yang sudah dipergunakan beberapa lama sehingga tidak memnuhi
syarat toleransi di atas masih dapat di pergunakan bila toleransi tersebut tidak
melampaui lebih dari 50%.
 Alat tumbuk tangan dari logam yang mempunyai permukaan tumbuk rata diameter
50,8 ± 0,127 mm (2,00” ± 0,005”) berat selubung yang bisa mengatur tinggi jatuh
secara bebas setinggi 304,8 ± 1,524 mm (12,00” ± 0,06”).

Selubung harus sedikitnya mempunyai 2 @ 4 buah lubang udara yang berdiameter tidak lebih
kecil dari 9,5 mm (3/8”) dengan poros tegak lurus satu sama lain berjarak 19mm dari kedua
ujung. Selubung harus cukup longgar sehingga batang penumbuk dapat jatuh bebas tidak
terganggu.

 Dapat juga dipergunakan alat tumbuk mekanis, dari logam yang dilengkapi alat
pengontrol tinggi jatuh bebas 304,8 ± 1,524 mm (12,00” ± 0,06”). Dan dapat
membagi bagi tumbukan secara merata di atas permukaan.

Alat penumbuk harus mempunyai permukaan tumbuk yang rata berdiameter 50,8 ± 0,127
mm (2,00” ± 0,005”) dan berat 2,495 ± 0,009 kg (5,50 ± 0,02 lb).

 Alat untuk mengeluarkan contoh.

Timbangna kapasitas 11,5 dengan ketelitian 5 gram.

Oven yang dilengkapi pengatur suhu (110)


 Alat perata dari besi strength edge panjang 2,5 cm salah satu sisi memanjang harus
tajam dan sisi lain datar (0,01 % dari panjang)
 Saringan 5mm (2”), 19mm (3/4”), 4,75mm (no.4)
 Talam, alat pengaduk, dan sendok.

BENDA UJI UNTUK COMPACTION TEST

Bila contoh tanah yang diterima dari lapangan masih dalam keadaan lembab (damp),
keringkan contoh tersebut hingga menjadi gembur. Pengeringan dapat dilakukan di udara
atau dengan alat pengering lain dengan suhu tidak lebih dari 60. Kemudian gumpalan
gumpalan tanah tersebut ditumbuk tetepi butir aslinya tidak pecah.

Tanah yang gembur disaring dengan saringan 4,75 mm (no.4) untuk cara A dan B, serta
saringan19 mm (3/4”) untuk cara C dan D.

Jumlah contoh yang sesuai untuk masing masing cara pemeriksaan adalah sebagai berikut :

Cara A sebanyak 15 kg

Cara B sebanyak 45 kg

Cara C sebanyak 30 kg

Cara D sebanyak 65 kg
Benda uji dibagi menjadi 6 bagian dan tiap tiap bagian dicampur dengan air yang ditentukan
dan diaduk sampai merata.

Pemambahan air diatur sehingga didapat benda uji sebagai berikut :

 Tiga contoh dengan kadar air kira kira di bawah optimum


 Tiga contoh dengan kadar air kira kira di atas optimum

Perbedaan kadar air dari benda uji masing masing antara 1 s/d 3 %

Masing masing benda uji dimasukkan ke dalam kantong plastic dan disimpan selama 12 jam
atau sampai kadar airnya merata.

CARACOMPACTION TEST PADA TANAH ADALAH

COMPACTION TEST Cara A :

i. Timbang cetakan diameter 102 mm (4”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram
(B1) gram.
ii. Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan
cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan
setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh
30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 25
tumbukan.
iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher
sambung.
v. Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata
dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2)
gram.
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar
benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya
untuk pemeriksaan kadar air dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

COMPACTION TEST Cara B :


i. Timbang cetakan 152 mm (6”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram (B1) gram.
ii. Cetakan, leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan tempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh, diaduk dan dipadatkan dalam cetakan
dengan cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan
setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh
30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 56
tumbukan.

iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher
sambung.
v. Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata
dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2)
gram.
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar
benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya
untuk pemeriksaan kadar air dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

COMPACTION TEST Cara C :


i. Timbang cetakan diameter 102 mm (4”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram
(B1) gram.
ii. Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan
cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan
setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh
30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 25
tumbukan.

iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher
sambung.
v. Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata
dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2)
gram.
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar
benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya
untuk pemeriksaan kadar air dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

COMPACTION TEST Cara D :


i. Timbang cetakan diameter 102 mm (4”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram
(B1) gram.
ii. Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan
cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan
setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh
30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 56
tumbukan.
iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher
sambung.
v. Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata
dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2)
gram.
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar
benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya
untuk pemeriksaan kadar air dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.
Pemadatan Tanah

1. Pengertian Pemadatan
Pemadatan adalah suatu proses dimana udara pada pori-pori tanah dikeluarkan dengan salah
satu cara mekanis (menggilas / memukul / mengolah). Tanah yang dipakai untuk pembuatan
tanah dasar pada jalan, tanggul / bendungan , tanahnya harus dipadatkan, hal ini dilakukan
untuk :

 Menaikan kekuatannya.

 Memperkecil daya rembesan airnya.

 Memperkecil pengaruh air terhadap tanah tersebut.

2. Prinsip – prinsip Pemadatan


Tingkat pemadatan tanah di ukur dari berat volume kering tanah yang dipadatkan. Bila air
ditambahkan kepada suatu tanah yang sedang dipadatkan, air tersebut akan berfungsi sebagia
unsur pembasah pada partikel-partikel tanah. Untuk usaha pemadatan yang sama, berat
volume kering dari tanah akan naik bila kadar air dalam tanah meningkat. Harap dicatat
bahwa pada saat kadar air w = 0, berat volume basah dari tanah adalah sama dengan berat
volume keringnya.
Bila kadar airnya ditingkatkan terus secara bertahap pada usaha pemadatan yang sama, maka
berat dari jumlah bahan padat dalam tanah persatuan volume juga meningkat secar
bertahapmpula. Berat volume kering dari tanah pada kadar air dapat dinyatakan:
Setelah mencapai kadar air tertentu w = w2, adanya penambahan kadar air justru cenderung
menurunkan berat volume kering dari tanah. Hal ini disebabkan karena air tersebut kemudian
menempati ruang-ruang pori dalam tanah yang sebetulnya dapat ditempati oleh partikel-
partikel padat dari tanah. Kadar air dimana harga berat volume kering maksimum tanah
dicapai tersebut kadar air optimim.
Percobaan-percobaan di laboratorium yang umum dilakukan untuk mendapatkan berat
volume kering maksimum dan kadar air optimum adalah proctor compaction (uji pemadatan
Proctor).

3. Pengujian Pemadatan tanah


Untuk menentukan hubungan kadar air dan berat volume, dan untuk mengevaluasi tanah
agar memenuhi syarat kepadatan, maka pada umumnya dilakukan uji pemadatan :
Proctor (1933), telah mengamati bahwa ada hubungan yang pasti anatra kadar air dan berat
volume kering yang padat. Untuk berbagai jenis tanah pada umumnya salah satu nilaii kadar
air optimum tertentu untuk mencapai berat volume kering maksimumnya.
Hubungan berat volume kering ( ) dengan berat volume basah ( b)dan kadar air
(w), Dinyatakan dalam persamaan:
Berat volume kering setelah pemadatan tergantung pada jenis tanah , kadar air, dan
usaha yang diberikan oleh alat penumbuknya. Karakteristik kepedatan tanah dapat dinilai dari
pengujian standart laboratorium yang disebut dengan alat uji Proctor.

4. Faktor – faktor yang mempengaruhi pemadatan


. a. Tebal lapisan yang dipadatkan.
Untuk mendapatkan suatu kepadatan tertentu makin tebal lapisan yang akan
dipadatkan, maka diperlukan alat pemadat yang makin berat. Untuk mencapai kepadatan
tertentu maka pemadatan harus dilaksanakan lapis demi lapis bergantung dari jenis tanah dan
alat pemadat yang dipakai, misalnya untuk tanah lempung tebal lapisan 15 cm, sedangkan
pasir dapat mencapai 40 cm.

b. Kadar Air Tanah.


Bila kadar air tanah rendah, tanah tersebut sukar dipadatkan, jika kadar air dinaikkan
dengan menambah air, air tersebut seolah-olah sebagai pelumas antara butiran tanah sehingga
mudah dipadatkan tetapi bila kadar air terlalu tinggi kepadatannya akan menurun. Jadi untuk
memperoleh kepadatan maximum, diperlukan kadar air yang optimum. Untuk mengetahui
kadar air optimum dan kepadatan kering maximum diadakan percobaan pemadatan
dilaboratorium yang dikenal dengan :

 Standard Proctor Compaction Test; dan

 Modified Compaction Test


c. Alat Pemadat
Pemilihan alat pemadat disesuaikan dengan kepadatan yang akan dicapai. Pada
pelaksanaan dilapangan, tenaga pemadat tersebut diukur dalam jumlah lintasan alat pemadat
dan berat alat pemadat itu sendiri. Alat pemadat maupun tanah yang akan dipadatkan
bermacam-macan jenisnya, untuk itu pemilihan alat pemadat harus disesuaikan dengan jenis
tanah yang akan dipadatkan agar tujuan pemadatan dapat tercapai.

d. Pengaruh Usaha Pemadatan

Energi pemadatan per volume satuan (E), dinyatakan dalam


persamaan :

E=

Dengan :
Nb = Jumlah pukulan per lapisan
NI = Jumlah lapisan
W = Berat pemukul
H = Tinggi jatuh pemukul
V = Volume mould

5. Spesifikasi Pemadatan tanah di lapangan


Tujuan pemadatan adalah untuk memperoleh stabilitas tanah dan memperbaiki sifat-sifat
teknisnya. Olehkarna itu, sifat teknis timbunan sangat penting di perhatikan, tidak hanya
kadar air dan berat volume keringnya.
Terdapat dua kategori spesifikasi untuk pekerjaan tanah :
1. Spesifikasi hasil akhir dari pemadatan
2. Spesifikasi untuk cara pemadatan
Untuk spesifikasi hasil akhir, kepadatan relative atau persen kepadatan tertentu
dispsifikasikan (Kepadatan Relatif : adalah nilai banding dari berat volume kering dilapangan
dengan berat volume kering maksimum dilaboratorium menurut percobaan standar, seperti
Percobaan Standar Proctor atau Modeifikasi Proctor). Dalam spesifikasi hasil akhir ( Banyak
digunakanpada proek-proyek jalan raya dan pondasi bangunan).
Perlu diingat bahwa memadatkan tanah pada sisi basah optimum(wet side of optimum),
umumnya menghasilkan kuat geser tanah hasil pemadatan lebih rendah bila dibandingkan
dengan kadar air pada sisi kering optimum (dry side of optimum), Sifat-sifat tanah yang lain
seperti permeabilitas dan potensi kembang susut juga dipengaruhi oleh kadar air saat
pemadatan. Karena itu, selain persen kepadatan ditentukan, rentang kadar air tanah yang akan
dipadatkan sebaiknya juga ditentukan.
Untuk spesifikasi cara pemadatan, macam dan berat mesin pemadat, jumlah lintasan serta
ketebalan setiap lapisan juga ditentukan. Hal ini banyak dipakai untuk proyek pengerjaan
tanah yang besar seperti bendungan.

6. Alat – alat Pemadat dan Prosedur Pemadatan


Macam-macam peralatan yang dipergunakan sehubungan dengan pekerjaan pemadatan lapis
pondasi jalan umumnya ada dua jenis yaitu yang dilaksanakan secara mekanik darl manual
dimana keduanya diuraikan sbb :

A. Peralatan Mekanik
Jenis peralatan ini digerakkan oleh tenaga mesin sehingga pekerjaan pemadatan dapat
dilaksanakan lebih cepat dan lebih baik.
Adapun macam-macam / type dari alat ini adalah sebagai berikut :
1. Three Wheel Roller.
Penggilas type ini juga sering disebut penggilas Mac Adam, karena jenis ini sering
dipergunakan dalam usaha-usaha pemadatan material berbutir kasar. Pemadat ini mempunyai
3 buah silinder baja, untuk menambah bobot dari pemadat jenis ini maka roda silinder dapat
diisi dengan zat cair (minyak/air) ataupun pasir. Pada umunya berat penggilas ini berkisar
antara 6 s/d 12 ton.
Three Wheel Roller

2. Tandem Roller
Penggunaan dari alat ini umumnya untuk mendapatkan permukaan yang agak halus. Alat ini
mempunyai 2 buah roda silinder baja dengan bobot 8 s/d 14 ton. Penambahan bobot dapat
dilakukan dengan menambahkan zat cair.
Tandem Roller

3. Pneumatik Tired Roller ( PTR ).


Roda-roda penggilas ini terdiri dari roda-roda ban karet. Susunan dari roda muka dan
belakang berselang-seling sehingga bagian dari roda yang tidak tergilas oleh roda bagian
muka akan tergilas oleh roda bagian belakang. Tekanan yang diberikan roda terhadap
permukaan tanah dapat diatur dengan cara mengubah tekanan ban. PTR ini sesuai digunakan
untuk pekerjaan penggilasan bahan yang granular; juga baik digunakan pada tanah lempung
dan pasir.

Pneumatik Tired Roller (PTR)


B. Peralatan Manual
Jenis peralatan ini digerakkan dengan tenaga manusia / hewan sehingga pekerjaan pemadatan
ditaksanakan lebih lambat dan hasil pemadatan kurang memuaskan tetapi sangat berguna
untuk pelaksanaan pemadatan didaerah terpencil / pedesaan dimana sulit untuk
mendatangkan peralatan pemadat mekanik karena biaya yang mahal.

Ada 2 jenis alat pemadat manual :


 Alat Pemadat Tangan AlatAlat pemadat ini dibuat dari beton cor yang diberi tangkai untuk
menumbukkan beban tersebut ke tanah yang akan dipadatkan.

 Alat pemadat silinder beton

Alat ini berupa roda yang berbentuk silinder terbuat dari beton cor. Cara melakukan
pemadatannya adalah ditarik dengan hewan seperti kerbau atau lembu dan dapat juga
mempergunakan kendaraan bermotor sebagai penariknya.

Alat Pemadat

. Alat Pemadat

Jika pada suatu lahan dilakukan penimbunan maka pada lahan tersebut perlu dilakukan
pemadatan. Pemadatan juga dilakukan untuk pembuatan jalan, baik untuk jalan tanah dan
jalan dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Yang termasuk sebagai alat
pemadat adalah tamping roller, pneumatictiredroller, compactor, dan lain-lain. Pekerjaan
pembuatan landasan pesawat terbang, jalan raya, tanggul sungai dan sebagainya tanah perlu
dipadatkan semaksimal mungkin. Pekerjaan pemadatan tanah dalam skala kecil pemadatan
tanah dapat dilakukan dengan cara menggenangi dan membiarkan tanah menyusust dengan
sendirinya, namun cara ini perlu waktu lama dan hasilnya kurang sempurna; agar tanah
benar-benar mampat secara sempurna diperlukan cara-cara mekanis untuk pemadatan tanah.

Pemadatan tanah secara mekanis umumnya dilakukan dengan menggunakan mesin penggilas
(Roller); klasifikasi Roller yang dikenal antara lain adalah:

 Berdasarkan cara geraknya; ada yang bergerak sendiri, tapi ada juga yang harus
ditarik traktor.
 Berdasarkan bahan roda penggilasnya, ada yang terbuat dari baja (SteelWheel) dan
ada yang terbuat dari karet (pneumatic).
 Dilihat dari bentuk permukaan roda; ada yang punya permukaan halus (plain),
bersegmen, berbentuk grid, berbentuk kaki domba, dan sebagainya.
 Dilihat dari susunan roda gilasnya; ada yang dengan roda tiga (Three Wheel), roda
dua (Tandem Roller), dan Three Axle Tandem Roller.
 Alat pemadat yang menggunakan penggetar (vibrator).

 Gambar.1.5