Вы находитесь на странице: 1из 11

BUDIDAYA LEBAH MADU Apis mellifera L.

OLEH MASYARAKAT PEDESAAN


KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH
(Beekeeping of Apis mellifera L. Honeybees by Rural People in Pati Regency, Central
Jawa)*
Asmanah Widiarti dan/and Kuntadi
Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi
Jl.Gunung Batu No.5 PO Box 165;Telp.0251-8633234;Fax 0251-8638111 Bogor
e-mail : p3hka_pp@yahoo.co.id; aaswid@yahoo.co.id; kuntadi10@yahoo.com
*Diterima : 1 Pebruari 2012; Disetujui : 11 Desember 2012

i
ABSTRACT
Apis mellifera beekeeping in Indonesia has been practiced mainly in Java since 1970’s; nevertheless, the
honey productivity is considerably low in both quantity and quality. To identify problems of beekeeping from
beekeeper perspectives, we conducted a case study in Pati Regency, Central Java Province, by interviewing
respondents selected based on the method of purposive sampling from several villages in Gembong
subdistrict. There were six main problems in A. mellifera beekeeping. The decreasing of bee forages and the
unavailability of funding were the major problems faced by beekeepers, each stated by 78.13% and 59.38%
respondent opinions, followed by the lack of extension services concerning beekeeping value (50.%) and
technical advisory (37.50%), the decreasing queen quality (25%), and the honeybee pest (18.75%). There
have been seven solutions to solve the problems proposed by beekeepers, i.e. developing bee forage
plantation in forest areas (87.50%), subsidizing sugar (50.%), subsidizing equipment (37.50%),
standardizing honey price (31.25%), arranging migratory schedules (25%), formulating the rules of felling
randu trees (18.75%), and subsidizing honeybee queen (18.75%). All the solutions basically connected
merely to problems of bee forages and funding. It can be concluded that the decrease of bee forage
availability and problem of funding are two major obstacles for the development of A. mellifera beekeeping
in Indonesia.
Keywords: Apis mellifera, beekeeping problems, proposed solutions, Pati Regency

ABSTRAK
Budidaya lebah madu Apis mellifera di Indonesia telah dipraktekan terutama di Jawa sejak tahun 1970-an,
namun dari segi produktivitas tergolong rendah, baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk
mengidentifikasi permasalahan budidaya lebah A. mellifera dari perspektif peternak telah dilakukan
penelitian di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Metode yang digunakan yaitu wawancara dengan
responden yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling dari desa-desa di Kecamatan Gembong.
Hasil penelitian menunjukkan ada enam permasalahan pokok dalam budidaya lebah madu A. mellifera.
Penurunan sumber pakan dan kekurangan dana menurut pendapat responden adalah masalah utama yang
dihadapi para peternak, masing-masing didukung fakta oleh ketersediaan sumber pakan 78,13% responden
dan ketersediaan dana 59,38% responden. Kemudian berturut-turut pendapat responden yaitu permasalahan
yang terkait dengan kurangnya penyuluhan manfaat perlebahan (50%) dan pembinaan teknis (37,50%),
penurunan kualitas ratu (25%), dan hama (18,75%). Untuk mengatasi permasalahan tersebut, ada tujuh butir
solusi yang diajukan peternak kepada pemerintah dan dibuktikan hasil penelitian yakni pengembangan
tanaman pakan lebah di kawasan hutan (87,50% responden), pemberian subsidi gula (50% responden),
subsidi peralatan (37,50% responden), standardisasi harga madu (31,25% responden), pengaturan angon
(25% responden), aturan penebangan (18,75% responden), dan subsidi bibit (18,75% responden). Ketujuh
butir solusi tersebut pada dasarnya hanya berkaitan dengan persoalan tanaman pakan dan pembiayaan. Oleh
sebab itu dapat disimpulkan bahwa berkurangnya ketersediaan tanaman pakan dan masalahan pembiayaan
merupakan persoalan utama yang menghambat perkembangan budidaya A. mellifera di Kabupaten Pati
khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
Kata kunci: Apis mellifera, permasalahan budidaya, saran pemecahan masalah, Kabupaten Pati

351
Vol. 9 No. 4 : 351-361, 2012

I. PENDAHULUAN (Ceiba pentandra). Tanaman ini banyak


terdapat di Kabupaten Pati, Batang, Jepa-
Budidaya lebah madu telah lama men- ra, dan Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa
jadi bagian dari kehidupan masyarakat Tengah serta Kabupaten Pasuruan dan
Indonesia, khususnya yang tinggal di pe- Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Ta-
desaan dan sekitar hutan. Mereka menge- naman lainnya yang termasuk dalam ke-
nal dengan baik tradisi budidaya lebah lompok utama penghasil madu adalah ka-
madu, khususnya jenis lokal Apis cerana, ret (Hevea braziliensis) dan rambutan
meskipun dalam bentuk dan teknik seder- (Nephelium lapaceum). Dua jenis tanam-
hana (Salmah, 1992). Pada tahun 1970- an ini banyak terdapat di Kabupaten Su-
an, diprakarsai oleh Pusat Apiari Pramu- bang dan Kabupaten Purwakarta, Provin-
ka, mulai dikembangkan budidaya lebah si Jawa Barat. Selain jenis-jenis tersebut
madu secara modern menggunakan jenis masih ada beberapa jenis tanaman peng-
lebah eropa (A. mellifera) yang didatang- hasil madu lainnya, namun tidak terma-
kan dari Australia (Hadisoesilo, 1992). suk dalam kelompok utama karena jum-
Dimulai dari 20 stup (kotak lebah) A. lah tegakannya yang relatif sedikit dan
mellifera hadiah kunjungan Presiden Soe- sebarannya terbatas, misalnya kopi (Cof-
harto ke Australia pada tahun 1974 yang fea sp.), kaliandra (Caliandra callothyr-
diberikan kepada Gerakan Pramuka (Soe- sus), dan sonobrit (Dalbergia sp.).
kartiko, 2009), dalam beberapa tahun te- Berkembangnya usaha perlebahan di
lah berkembang hingga puluhan ribu ko- masyarakat dan peningkatan jumlah po-
loni dan melibatkan ratusan peternak. Di- pulasi koloni A. mellifera yang pesat, di
rektorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan sisi lain, berdampak negatif bagi kegiatan
Perhutanan Sosial (RLPS), Kementerian budidaya lebah itu sendiri. Perkembangan
Kehutanan, mencatat sekurang-kurang- jumlah koloni menjadi semakin tidak ber-
nya terdapat 33.000 koloni A. mellifera imbang dengan luasan areal tanaman pa-
pada tahun 2006 (Ditjen RLPS, 2006). kan yang cenderung terus menyusut aki-
Budidaya A. mellifera menduduki po- bat pengalihan penggunaan lahan yang
sisi penting dalam kegiatan perlebahan tinggi di Pulau Jawa (Kuntadi dan Ada-
dan produksi madu di Indonesia. Kuntadi lina, 2010). Hal ini tidak saja menyebab-
(2008a), mengutip data dari Direktorat kan penurunan produktivitas koloni, te-
Jenderal RLPS, mengatakan bahwa A. tapi juga berdampak negatif yaitu mun-
mellifera menyumbang sekitar 25% dari culnya persaingan perebutan lahan peng-
total produksi madu Indonesia yang rata- gembalaan yang tidak sehat antar peter-
rata sebesar 4.000 ton per tahun. Wilayah nak (Soekartiko, 2000). Gejala over po-
yang menjadi prioritas pengembangan pulation koloni lebah madu A. mellifera
usaha budidaya lebah eropa adalah Pulau ditengarai sudah berlangsung cukup la-
Jawa (Departemen Kehutanan, 2000a). ma, setidak-tidaknya telah diketahui dan
Sampai saat ini, basis produksi dan peng- dirasakan dampaknya sejak tahun 2000.
gembalaan lebah A. mellifera terutama di Salah satu resolusi yang dihasilkan dari
sekitar wilayah pantai utara Jawa Tengah, Temu Usaha, Pameran Perlebahan, dan
Jawa Timur, dan Jawa Barat. Hal ini ber- Musyawarah Nasional Asosiasi Perlebah-
kaitan dengan ketersediaan tanaman pa- an Indonesia pada tanggal 21-22 Maret
kan lebah yang cukup baik di wilayah ter- 2000 di Jakarta menyatakan bahwa di Pu-
sebut dan adanya infrastruktur jalan yang lau Jawa terjadi ketimpangan antara po-
menjangkau hingga ke pelosok sesuai de- pulasi lebah dengan ketersediaan tanaman
ngan keberadaan tanaman sumber pakan pakan, sehingga timbul persaingan yang
itu sendiri (Kuntadi, 2003). Jenis tanaman kurang sehat (Departemen Kehutanan,
sumber pakan yang paling diandalkan se- 2000b). Tampaknya masalah ketersediaan
bagai penghasil madu adalah kapok randu tanaman pakan yang makin berkurang
352
Budidaya Lebah Madu Apis mellifera L. oleh Masyarakat…(A. Widiarti; Kuntadi)

telah menjadi persoalan utama bagi ke- C. Metode Penelitian


giatan perlebahan di Jawa mengingat ma-
1. Pendekatan
salah ini mengemuka kembali pada per-
temuan Asosiasi Perlebahan Indonesia Penelitian dilakukan dengan metode
bulan Desember 2008 di Tretes, Jawa Ti- wawancara dan observasi langsung ke
mur (Perhutani, 2008). lapangan (Singarimbun dan Sofian, 1982)
Berkaitanan dengan permasalahan di dengan mengambil sampel lokasi di Ke-
atas, penelitian ini bertujuan untuk men- camatan Gembong.
dapatkan informasi budidaya lebah madu 2. Jenis dan Metode Pengumpulan Data
A. mellifera yang dikembangkan masya-
Jenis data yang dikumpulkan terdiri
rakat, permasalahan yang muncul, dan sa-
dari data primer dan data sekunder. Data
ran solusi yang diharapkan dapat dilaku-
primer terdiri dari karakteristik responden
kan pemerintah untuk mengatasinya. Di-
dan informasi yang berkaitan dengan bu-
harapkan hasil penelitian dapat memberi-
didaya lebah A. mellifera; sedangkan data
kan masukan terhadap perbaikan kebijak-
sekunder terdiri dari data pendukung
an budidaya lebah dan solusi terhadap
yang dikutip dari laporan dan buku statis-
permasalahan yang dihadapi.
tik instansi terkait.
Pengumpulan data dan informasi dila-
kukan melalui wawancara, diskusi, peng-
II. BAHAN DAN METODE
amatan, dan pengukuran langsung di la-
pangan.
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Pengambilan desa contoh dilakukan
Penelitian dilakukan pada tahun 2009 secara sengaja (purposive sampling), ya-
di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. itu desa yang banyak penduduknya me-
Kecamatan Gembong merupakan sentra miliki mata pencaharian beternak lebah
produksi madu hasil budidaya A. mellife- A. mellifera. Di desa-desa contoh, respon-
ra di Kabupaten Pati, pada khususnya, den diambil secara purposive di antara
dan wilayah Jawa Tengah, pada umum- peternak lebah yang ada sehingga diper-
nya. Data terakhir bidang usaha perlebah- oleh keragaman rumah tangga contoh.
an di Kabupaten Pati tercatat peternak le- Jumlah responden sebanyak 32 respon-
bah A. mellifera sebanyak 204 jiwa de- den, yaitu sekitar 25% dari populasi pe-
ngan jumlah koloni 15.580 kotak dan ternak lebah di Kecamatan Gembong.
produksi madu sebesar 469.434 kg (Di- Karakteristik responden yang menjadi ob-
nas Kehutanan dan Perkebunan Kabupa- yek penelitian mempunyai ciri-ciri yang
ten Pati, 2007). dikelompokkan berdasarkan indikator
sosial ekonomi seperti tertera pada Tabel
B. Bahan Penelitian 1. Wawancara dan diskusi juga dilakukan
dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Bahan penelitian yang digunakan da- Kabupaten Pati dan Perum Perhutani Ke-
lam penelitian ini adalah kuesioner berisi satuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati,
daftar pertanyaan yang diperlukan untuk yakni para pihak yang ikut berperan da-
menggali informasi berkaitan dengan bu- lam pengembangan perlebahan di Kabu-
didaya lebah madu A. mellifera dan per- paten Pati.
masalahannya serta solusi yang diharap- 3. Analisis Data
kan peternak. Sebagai obyek penelitian
adalah peternak lebah di Kecamatan Data yang diperoleh, baik primer
Gembong, Kabupaten Pati. maupun sekunder, diolah dengan metode
tabulasi silang dan dianalisis secara des-
kriptif.

353
Vol. 9 No. 4 : 351-361, 2012

Tabel (Table) 1. Karakteristik responden di lokasi penelitian (Characteristics of respondents in the study
area)
Indikator sosial-ekonomi peternak lebah Karakteristik responden
(Socio-economic indicators of beekeepers) (Characteristics of respondents)
Umur rata-rata (Mean age) 44 tahun (year)
Pendidikan (Education):
SD (Elementary school) 15,63%
SMP (Yunior high school) 18,75%
SMA (Senior high school) 50,00%
Perguruan tinggi (University) 6,25%
Pekerjaan utama (Main job):
Petani (Farmer) 25,62%
Peternak lebah (Beekeepers) 74,38%
Rata-rata kepemilikan lahan (Average of land ownership) 0,73 ha
Kursus perlebahan (Beekeeping courses):
Pernah (Ever) 43,75%
Belum pernah (Never) 56,25%
Rata-rata kepemilikan koloni lebah (Average number of colonies) 198 kotak (hive)
Jumlah responden (Total of respondents) (n) 32 jiwa (person)
Sumber (Source): Data primer (Primary data)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN satu tanaman sumber pakan lebah yang
penting karena bunganya menghasilkan
A. Budidaya Apis mellifera di Keca- nektar dan polen.
matan Gembong Budidaya lebah A. mellifera dilaku-
kan dengan sistem angon (migratory bee-
Budidaya lebah madu A. mellifera di
keeping). Lebah digembalakan secara
Kecamatan Gembong dimulai sekitar ta-
berpindah-pindah mengikuti musim pem-
hun 1976, tidak lama setelah Kwartir Na-
bungaan tanaman. Penetapan tujuan
sional (Kwarnas) Gerakan Pramuka men-
angon biasanya didasarkan pada kondisi
gembangkan budidaya lebah eropa ini di
koloni. Untuk koloni yang lemah dibu-
kebun randu milik Perseroan Terbatas
tuhkan perawatan untuk memperkuat dan
Perkebunan Nasional (PTPN) di Keca-
memperbesar populasi, sehingga dibutuh-
matan Gringsing, Kabupaten Batang,
kan tanaman pakan yang banyak mengan-
Provinsi Jawa Tengah. Saat itu beberapa
dung tepungsari. Bila koloni sudah besar
orang mengikuti pelatihan teknik budida-
maka siap untuk proses produksi, untuk
ya lebah A. mellifera di bawah bimbingan
itu lebah diangon ke lokasi tanaman sum-
Bapak Karsono dari Kwarnas Pramuka
ber pakan penghasil nektar. Akan lebih
yang pernah belajar perlebahan di Ruma-
baik bila di satu lokasi tersedia tanaman
nia, dan peserta diberi lima kotak lebah
penghasil tepungsari dan nektar dalam
untuk dipelihara. Sejak saat itu berkem-
jumlah banyak karena akan mengurangi
banglah budidaya lebah A. mellifera, ti-
biaya angon (Kuntadi, 2008b).
dak hanya di Kecamatan Gembong, tetapi
Secara garis besar, sistem migratory
juga kecamatan lain di sekitarnya, seperti
koloni yang dilakukan peternak lebah A.
Tlogowungu, dan Kluwak.
mellifera di Kecamatan Gembong dalam
Budidaya lebah A. mellifera berkem-
satu tahun mengikuti jadwal angon seper-
bang dengan baik di Kabupaten Pati ka-
ti disajikan pada Tabel 2.
rena didukung oleh adanya potensi pohon
Budidaya A.mellifera membutuhkan
kapuk randu sebagai sumber pakan. Ka-
sumber pakan yang terus-menerus untuk
bupaten Pati sejak jaman Kolonial Be-
kelangsungan hidupnya, oleh karena itu
landa dikenal sebagai penghasil kapuk
pada saat musim paceklik bunga lebah
terbesar di Jawa Tengah (Mulyadi, 2011).
harus diberikan makanan tambahan. Sirup
Tanaman kapuk randu merupakan salah
354
Budidaya Lebah Madu Apis mellifera L. oleh Masyarakat…(A. Widiarti; Kuntadi)

Tabel (Table) 2. Jadwal angon koloni lebah A. mellifera di Jawa (Migratory schedules of A. mellifera bee-
keeping in Java)
Bulan Tanaman pakan Produksi
Lokasi (Location) Sumber (Source)
(Month) (Beeforage) (Production)
Mei-Juni Pati Randu, Sonokeling Nektar-polen Madu
Juli Pasuruan, Probolinggo, Randu Nektar-polen Madu
Banyuwangi
Agustus Purwodadi,Wonosobo, Jagung Polen koloni-polen
Boyolali,Kediri, Jepara
September- Boja, Wonosari, Gringsing Karet Nektar Madu
Oktober
November Subang Rambutan Nektar Madu
Desember- Pati - - -
April
Sumber (Source): Data primer (Primary data)

gula merupakan pakan tambahan peng- kaitan dengan semakin banyaknya ma-
ganti nektar, diberikan terutama pada saat syarakat yang beralih dari penggunaan
lebah digembalakan di lokasi kebun ja- kapuk untuk bahan dasar kasur dengan
gung dan pada saat musim pembungaan dacron dan busa, sehingga pohon randu
sangat kurang. banyak yang ditebang karena menurun-
nya permintaan dan kebutuhan kapuk.
B. Permasalahan Budidaya Lebah Data statistik perkebunan dari Kemente-
Menurut Persepsi Peternak rian Pertanian (2011) mengkonfirmasikan
penurunan areal kebun randu tersebut. Di
Hasil identifikasi permasalahan ber-
Provinsi Jawa Tengah, angka penurunan
dasarkan wawancara dengan peternak le-
luas areal kebun randu antara tahun 2000-
bah yang menjadi responden menunjuk-
2009 mencapai 44%, yaitu dari 79.779 ha
kan bahwa ada enam kategori permasa-
pada tahun 2000 menjadi tinggal hanya
lahan dalam budidaya lebah A. mellifera,
44.666 ha pada tahun 2009. Penebangan
yaitu persoalan pakan, dana, penyuluhan,
tidak hanya pada tanaman randu yang su-
pembinaan teknis, bibit/induk ratu, dan
dah tua tetapi juga yang masih produktif.
hama. Di antara permasalahan tersebut,
Oleh karena itu banyak perusahaan peng-
keterbatasan ketersediaan sumber pakan
odol kapuk randu yang gulung tikar, de-
menduduki urutan pertama, yaitu dike-
mikian juga pabrik minyak klentheng (bi-
mukan oleh 78,13% responden, diikuti
ji kapuk) berhenti sejak lima tahun tera-
selanjutnya masalah keterbatasan dana
khir akibat kelangkaan bahan baku.
atau permodalan pada urutan kedua
Penyusutan luas tegakan pohon randu
(59,38% responden). Secara lebih terpe-
tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, wila-
rinci urutan permasalahan dapat dilihat
yah Jawa Timur juga mengalami hal yang
pada Gambar 1.
sama. Hal ini menambah kesulitan bagi
1. Sumber Pakan para peternak lebah mengingat kebun-ke-
Menurunnya jumlah dan luas areal ta- bun randu di Jawa Timur termasuk wila-
naman sumber pakan dinilai para peter- yah penggembalaan koloni A. mellifera
nak sebagai permasalahan yang paling dari berbagai daerah. Data statistik perta-
utama bagi perkembangan budidaya le- nian untuk komoditi perkebunan menca-
bah A. mellifera. Kelangkaan sumber pa- tat terjadinya penurunan luas areal kebun
kan sudah dirasakan peternak lebah sejak randu di Jawa Timur sebesar 10% antara
beberapa tahun terakhir. Pohon kapuk tahun 2000-2009, yaitu dari total luasan
randu yang menjadi andalan utama peng- sebesar 89.028 ha pada tahun 2000
hasil madu makin menurun jumlah dan menjadi tinggal 79.955 ha pada tahun
kualitas tegakannya. Hal ini diduga ber- 2009 (Kementerian Pertanian, 2011). Dari
355
Vol. 9 No. 4 : 351-361, 2012

100
78,13
80
59,38
Persentase

60 50,00
37,50
40
25,00
18,75
20

0
Pakan Dana Pembinaan Penyuluhan Hama Bibit
teknis

Masalah
Gambar (Figure) 1. Tingkat urgensi permasalahan dalam budidaya lebah A. mellifera (Urgency level of problems
on A. mellifera beekeeping)
Sumber (Source): Data primer (Primary data)

luasan yang masih ada, hanya 70% yang ni/pekebun tidak jarang bersifat sangat
dapat dimanfaatkan sebagai sumber pa- ekstrim dengan mengancam membakar
kan lebah, karena selebihnya berupa te- stup-stup lebah atau menjungkir-balik-
gakan rusak (14%) dan tegakan yang be- kannya. Penolakan dan pengusiran keda-
lum berproduksi (16%) (Kuntadi, 2008a). tangan koloni lebah antara lain terjadi di
Pohon randu pada umumnya ada di Purwodadi (Jawa Tengah) oleh petani ja-
lahan masyarakat, antara lain di lahan pe- gung dan Subang (Jawa Barat) oleh pe-
karangan, kebun, dan pematang sawah/te- milik kebun rambutan. Ini merupakan hal
galan. Di Jawa Timur, lebih dari 95% ke- yang sangat ironis mengingat di negara
bun randu merupakan kebun rakyat yang lain lebah madu justru sangat dibutuhkan
ditanam di lahan milik (Kuntadi, 2008a). para petani/pekebun untuk meningkatkan
Hal yang sama juga ditemui di Jawa Te- produksi pertanian/perkebunan. Nilai pro-
ngah. Pohon-pohon randu yang ditebang duk pertanian/perkebunan yang meman-
umumnya karena dianggap sudah tidak faatkan jasa penyerbukan oleh lebah ma-
memiliki nilai secara ekonomis (hasil du di berbagai negara mencapai US$ 14,6
produksinya tidak terjual), sementara ke- milyar di Amerika Serikat (Morse & Cal-
beradaannya di pematang sawah/tegalan deron, 2000), $A 0,97 milyar di Austra-
hanya menjadi penghambat pertumbuhan lia (Gordon & Davis, 2003), $Can 0,4
ketela pohon yang menjadi pilihan usaha milyar di Kanada (Scott-Dupree et al.,
tani pemilik lahan. 1995), € 4,3 milyar di Eropa (Bornek &
Masalah yang tidak kalah mengkhawa- Merle, 1989). Burgett (2011) menginfor-
tirkan bagi para peternak lebah A. melli- masikan bahwa penghasilan utama mayo-
fera dibanding dengan berkurangnya ritas peternak lebah di wilayah barat
jumlah dan kualitas tegakan tanaman Amerika Serikat berasal dari jasa penye-
sumber pakan di atas adalah masih ada- waan koloni, dengan biaya sewa tahun
nya penolakan kedatangan koloni lebah 2010 berkisar dari yang termurah sebesar
oleh sebagian petani/pekebun. Mereka US$ 3225 untuk penyerbukan buah straw-
mengganggap lebah menyebabkan rontok berry dan yang termahal sebesar US$
bunga sehingga potensi pembuahan ber- 13720 untuk buah almond (biaya sewa ra-
kurang. Beberapa peternak lebah meng- ta-rata keseluruhan jenis buah sebesar
informasikan bahwa penolakan para peta- US$ 7085).
356
Budidaya Lebah Madu Apis mellifera L. oleh Masyarakat…(A. Widiarti; Kuntadi)

2. Dana/Modal Kerja sim pembungaan tanaman yang berbeda.


Masa tunggu dapat berlangsung antara 1-
Dana menjadi persoalan yang sangat
2 minggu hingga satu bulan.
penting untuk kepentingan pengelolaan
Biaya cukup besar selanjutnya adalah
koloni, baik dalam rangka produksi mau-
biaya angkutan untuk penggembalaan ke
pun mempertahankan keutuhan dan kese-
Jawa Timur, Jawa Barat, dan atau di se-
hatan koloni lebah madu. Biaya yang di-
kitar wilayah Jawa Tengah. Tidak jarang
keluarkan peternak untuk pengelolaan ko-
biaya yang sudah dikeluarkan untuk ang-
loni terdiri dari beberapa komponen, di
kutan menjadi terbuang sia-sia karena
antaranya yang cukup besar adalah biaya
mengalami kegagalan panen akibat tidak
transpor untuk angkut lebah dan pembeli-
mendapatkan lokasi yang baik. Ini dapat
an gula. Secara lebih rinci, jenis pengelu-
terjadi karena tingkat kompetisi yang
aran dan besarnya biaya yang dikeluarkan
tinggi untuk mendapatkan areal peng-
untuk satu periode pemeliharaan selama
gembalaan lebah, sebagai konsekuensi
satu tahun tertera dalam Tabel 3.
dari semakin tidak berimbangnya antara
Beban dana yang terberat bagi peter-
jumlah keseluruhan populasi koloni lebah
nak lebah terutama untuk pembelian gula.
yang ada dengan areal tanaman pakan
Selain kebutuhannya yang memang sa-
yang tersedia.
ngat besar, harga gula dalam beberapa ta-
Mengingat besarnya biaya yang dibu-
hun terakhir juga naik terus. Gula diper-
tuhkan dalam pemeliharaan lebah A.
lukan untuk stimulasi pada masa pacek-
mellifera, bila produksi madu menurun
lik, khususnya pada saat kekurangan atau
maka peternak seringkali terpaksa menju-
tidak ada bunga yang mengeluarkan nek-
al kotak lebah untuk menutupi hutang-
tar, baik karena di luar musim pembu-
nya. Pertanyaannya, mengapa para peter-
ngaan tanaman atau karena sekresi nektar
nak menempatkan persolaan dana pada
tercuci oleh hujan yang berkepanjangan.
posisi kedua setelah persoalan tanaman
Untuk setiap koloni diperlukan satu kg
pakan? Tampaknya mereka meyakini
gula per minggu. Masa paceklik terpan-
bahwa apabila tanaman pakan cukup ter-
jang biasanya berlangsung selama lima
sedia, maka hasil produksi dapat meng-
bulan, yaitu antara bulan Desember (sete-
atasi persolaan kebutuhan dana. Hasil
lah musim bunga rambutan selesai) sam-
analisis finansial oleh Adalina (2008) ju-
pai dengan April (menjelang musim bu-
ga membuktikan bahwa usaha budidaya
nga randu). Selain pada masa paceklik,
lebah A. mellifera sesungguhnya cukup
stimulasi gula juga diperlukan pada masa
menguntungkan dengan B/C ratio lebih
tunggu, yaitu jeda waktu antara dua mu-
besar dari satu.

Tabel (Table) 3. Biaya tahunan pemeliharaan lebah A. mellifera (Annual cost of A. mellifera beekeeping)
No Jenis pengeluaran (The expenditures) Jumlah biaya/responden (Cost/respondent) (Rp)
1. Survei lokasi (survey) 350.000
2. Angkutan (transportation) 6.643.375
3. Pungutan liar di jalanan (street bribery) 406.250
4. Bongkar muat (loading and unloading) 300.000
5. Sewa lahan penggembalaan (rental beeyard) 295.000
6. Pajak desa (village taxes) 1.183.050
7. Keamanan (security) 240.000
8. Tenaga kerja (labour) 1.760.000
9. Biaya panen (cost of harvesting) 600.000
10. Gula (sugar) *) 34.280.000
Jumlah 46.057.675
Keterangan (Remark) :
*) Untuk kepemilikan lebah 198 kotak/responden, diperlukan gula sebanyak 4.285 kg dengan harga gula Rp
8.000/kg. Sumber (Source): Data primer (Primary data)

357
Vol. 9 No. 4 : 351-361, 2012

3. Penyuluhan berpengaruh terhadap perkembangan po-


Peternak lebah memandang penting di- pulasi koloni, akan tetapi kecukupan
lakukannya penyuluhan manfaat perle- sumber pakan yang paling menentukan
bahan bagi peningkatan produktivitas hasil akhirnya. Inilah sebabnya peternak
pertanian/perkebunan. Beberapa insiden mendudukkan persoalan kualitas ratu ja-
pengusiran yang dilakukan petani/peke- uh di bawah persoalan ketersediaan sum-
bun rupanya menimbulkan kekhawatiran ber pakan dalam skala prioritas pena-
yang mendalam bagi peternak lebah. Me- nganannya. Kemampuan para peternak
reka khawatir sikap menolak kehadiran untuk menangkarkan ratu sendiri dan
koloni lebah yang hanya dilakukan oleh adanya kesadaran untuk kerjasama antara
beberapa petani/pekebun akan diikuti sesama peternak dalam memproduksi le-
oleh banyak petani/pekebun lainnya. bah ratu juga ikut berperan bagi penem-
Di tengah situasi menurunnya keterse- patan urutan skala prioritas untuk perso-
diaan tanaman pakan lebah dan semakin alan kualitas ratu.
sempitnya pilihan lokasi penggembalaan, 6. Hama
kekhawatiran ketidak-sinambungan pro-
duksi madu peternak lebah sangat ber- Para peternak menempatkan masalah
alasan. Tidak mengherankan apabila para hama Varroa destructor di posisi terakhir
peternak menempatkan pentingnya pe- di antara enam permasalahan pokok budi-
nyuluhan manfaat perlebahan di posisi daya A. mellifera yang mereka kemuka-
ketiga setelah masalah tanaman pakan kan. Posisi ini mengejutkan mengingat
dan dana. hama ini sudah lama menjadi mengkha-
watirkan dan menurut El-Zemity et al.
4. Pembinaan Teknis (2006), telah mengakibatkan kerugian
Peternak merasa kurang mendapat yang sangat besar bagi peternak lebah A.
pembinaan teknis budidaya, baik dari di- mellifera di seluruh dunia. Indonesia sen-
nas kehutanan maupun institusi terkait, diri pernah mengalami ledakan serangan
misalnya Perhutani. Dalam hal pengolah- kutu V. destructor pada pertengahan ta-
an pasca panen juga dirasakan kurang hun 1990-an, mengakibatkan musnahnya
mendapat pembinaan, baik dari dinas-di- 50-60% populasi koloni A. mellifera (De-
nas terkait, seperti perindustrian dan ke- partemen Kehutanan, 1997 dalam Kunta-
sehatan, ataupun dari pihak swasta, se- di dan Andadari, 2011). Tidak berulang-
perti industri produk perlebahan, dan aso- nya lagi serangan berat hama V. Destruc-
siasi. Sejauh ini para peternak merasa tor selama 15 tahun terakhir rupanya
berjalan sendiri dalam mengelola dan me- membuat peternak lebih percaya diri da-
ngembangkan budidaya lebah madu. Pe- pat mengatasinya. Pengobatan secara ru-
ngetahuan praktis budidaya diperoleh dari tin menggunakan campuran naphthalene
hasil sharing dengan sesama peternak, dan belerang serta beberapa jenis obat
khususnya para petugas lapangan. Ke- pembasmi hama pertanian dapat menekan
inginan untuk maju rupanya menjadikan perkembangan hama.
sebagian peternak menempatkan masalah
kekurangan pembinaan teknis dalam po- D. Solusi yang Diharapkan Peternak
sisi yang cukup penting bagi pengem-
bangan perlebahan. Di dalam penelitian ini juga dilaku-
kan penelusuran pendapat peternak me-
5. Kualitas Ratu ngenai solusi untuk mengatasi permasa-
Para peternak menaruh perhatian ter- lahan di atas dan untuk mendukung ke-
hadap persoalaan kualitas ratu, walaupun berhasilan budidaya lebah A. mellifera
tidak menempatkannya dalam skala prio- yang mereka kelola. Butir-butir solusi
ritas yang cukup tinggi untuk diatasi. Me- yang disarakan peternak tertera pada
reka menyadari bahwa lebah ratu sangat Grafik 2.
358
Budidaya Lebah Madu Apis mellifera L. oleh Masyarakat…(A. Widiarti; Kuntadi)

Solusi
Gambar (Figure) 2. Saran peternak untuk mendorong perkembangan budidaya lebah Apis mellifera (Bee-
keeper advices to boost the development of Apis mellifera beekeeping)
Sumber (Source) : Data primer (Primary data)

Dari tujuh butir solusi yang disaran- erah. Responden menyarankan jarak
kan, hampir keseluruhannya berkaitan de- angon antar peternak berkisar 300-500
ngan dua permasalahan teratas yang dike- meter. Untuk perlindungan tanaman pa-
luhkan peternak, yakni masalah sumber kan yang ada, khususnya tegakan randu,
pakan lebah dan modal kerja. Ini menan- sebagian responden menyarankan agar
dakan bahwa kedua permasalahan terse- aturan penebangan pohon randu diterap-
but menduduki prioritas utama untuk se- kan kembali dengan sangsi yang tegas.
gera mendapatkan solusinya. Di antara Pada tahun 2001 pernah terbit peraturan
butir-butir solusi tersebut, tiga butir ber- daerah yang mengatur soal penebangan
hubungan dengan permasalahan sumber pohon randu, yaitu bila menebang satu
pakan, yaitu perlunya penanaman kawas- pohon kapuk randu maka punya kewajib-
an hutan dengan tanaman sumber pakan an menanam kembali sebanyak tiga po-
lebah (87,50%), aturan angon (25%), dan hon, namun aturan ini dalam pelaksana-
aturan penebangan (18,75%). Persentase annya mengalami kesulitan, karena tidak
tertinggi pada butir solusi satu, menanda- adanya sangsi yang tegas.
kan bahwa sebagian besar peternak Empat butir saran solusi lainnya ber-
menghendaki perlunya pengembangan hubungan dengan modal kerja, yaitu sub-
areal tanaman sumber pakan lebah di ka- sidi gula (50%), subsidi peralatan
wasan hutan. Peternak menyarankan pe- (37,50%), standar harga produk
nanaman jenis-jenis pakan lebah seperti (31,25%), dan subsidi bibit (18,75%). Ba-
sonokeling (Dalbergia sp.), akasia (Aca- gi peternak yang umumnya memiliki ke-
cia sp.), kaliandra (Caliandra callothyr- terbatasan modal, diharapkan sekali ada-
sus), sengon (Paraserianthes falcataria), nya subsidi harga gula, karena komponen
dan randu (Ceiba pentandra). Dua butir biaya ini sangat berat. Selain itu juga ada
saran solusi lainnya berhubungan dengan bantuan peralatan untuk memproduksi
pengaturan pemanfaatan dan perlindung- polen dan royal jeli karena selama ini
an terhadap tanaman pakan yang ada. Pe- hanya beberapa peternak saja yang sudah
ternak memandang penting adanya aturan memproduksinya. Saran berikutnya ada-
angon agar tidak terjadi rebutan areal lah adanya standar harga jual madu curah
penggembalaan, seperti yang selama ini dengan besaran sekurang-kurangnya tiga
sering terjadi, di mana peternak Pati sen- kali harga gula pasir. Selama ini, peternak
diri kesulitan mendapatkan lokasi karena seringkali terpaksa menjual hasil madu-
sudah diserbu oleh peternak dari luar da- nya dengan harga murah saat panen kare-
359
Vol. 9 No. 4 : 351-361, 2012

na harus segera melunasi utang pembeli- 2. Para peternak perlu difasilitasi untuk
an gula. Peternak juga mengharapkan membentuk kelembagaan dan mem-
adanya subsidi bantuan bibit ratu unggul bangun kesepahaman dalam hal pe-
agar dapat meningkatkan produksi madu. manfaatan kawasan untuk tujuan me-
Meskipun para peternak memiliki ke- menuhi ketersediaan pakan dengan
mampuan menangkarkan ratu, namun pola kemitraan.
mereka menyadari bahwa penangkaran 3. Perlu ada aturan dimana pemilik po-
yang berulang-ulang dari sumber bibit hon randu juga mendapatkan/sebagai
yang sama akan menghasilkan ratu yang penerima manfaat dari usaha perle-
semakin merosot kualitasnya. Subsidi di- bahan.
perlukan mengingat harga bibit unggul
cukup mahal sehingga tidak terjangkau DAFTAR PUSTAKA
oleh para peternak. Adalina, Y. (2008). Analisis finansial
usaha lebah madu Apis mellifera L.
KESIMPULAN DAN SARAN Jurnal Penelitian Hutan dan Kon-
servasi Alam V (3), 217-237.
A. Kesimpulan Borneck, R., & Merle, B. (1989). Essai
1. Penurunan ketersediaan tanaman d’une évaluation de l’incidence
sumber pakan dan keterbatasan mo- économique de l’abeille pollini-
dal kerja (dana) merupakan masalah satrice dans l’agriculture euro-
utama budidaya lebah A. mellifera. péenne. Apiacta 24, 33-38.
2. Berkurangnya areal tegakan pohon Burgett, M.D. (2011). Pacific Northwest
randu yang sangat signifikan menjadi honey bee pollination economic
penyumbang terbesar dalam kaitan- survey. National Honey Report, 12.
nya dengan penurunan ketersediaan Departemen Kehutanan. (2000). Perle-
sumber pakan, mengingat bunga ran- bahan: Peluang agribisnis yang ra-
du merupakan sumber utama pengha- mah lingkungan. Jakarta: Biro Hu-
sil madu dalam budidaya lebah madu bungan Masyarakat, Departemen
A. mellifera. Selain itu, adanya feno- Kehutanan.
mena penolakan kedatangan koloni Departemen Kehutanan. (2000). Temu
lebah oleh sebagian kecil petani/pe- usaha, pameran perlebahan, dan
kebun juga semakin mempersempit musyawarah nasional Asosiasi Per-
ruang gerak peternak dalam meng- lebahan Indonesia (API Indonesia).
gembalakan lebahnya. Diunduh 15 Nopember 2011 dari
3. Tingginya harga gula pasir dan kebu- http://www.dephut.go.id/informasi/
tuhannya yang tinggi pada masa pa- rrl/TEMUUSaha_api HTM.
ceklik (tidak ada bunga) menjadi fak- Kementerian Pertanian. (2011). Basis da-
tor utama yang berhubungan dengan ta statistik pertanian. Diunduh 15
permasalahan dana modal kerja. Sela- November 2011 dari http://aplikasi
in biaya pembeliannya merupakan .deptan.go.id/bdsp/hasil_kom.asp.
pengeluaran yang terbesar dalam bu- Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabu-
didaya lebah madu A. mellifera, paten Pati. (2007). Statistik Kehu-
pengadaannya pun tidak bisa ditunda. tanan dan Perkebunan Kabupaten
Pati 2007. Pati: Dinas Kehutanan
B. Saran dan Perkebunan Kabupaten Pati.
Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan
1. Sebaiknya pemerintah ikut membantu Sosial. (2006). Keynote Speech Di-
dalam menyediakan pakan lebah de- rektur Jenderal RLPS pada Loka-
ngan berbagai pola pemanfaatan ka- karya Perlebahan Nasional tanggal
wasan hutan. 7 Desember 2007 di Yogyakarta.
360
Budidaya Lebah Madu Apis mellifera L. oleh Masyarakat…(A. Widiarti; Kuntadi)

El-Zemity, S.R., Hussein, A.R., & Zai- Kuntadi, & Andadari, L. (2011). Aktivi-
toon, A.A. (2006). Acaricidal acti- tas akarisida beberapa minyak atsiri
vity of some essential oils and their dan cuka kayu terhadap Varroa
monotherpenoidal constituents destructor Anderson & Trueman di
against the parasitic bee mite, Var- Laboratorium. Manuskrip. Jurnal
roa destructor (Acari: Varroidae). Penelitian Hutan Tanaman (dalam
Journal of Applied Sciences Re- proses penerbitan).
search, 2(11), 1032-1036. Morse, R.A., & Calderon, N.W. (2000).
Gordon, J., & Davis, L. (2003). Valuing The value of honey bees as polli-
honey pollination. Publication 03/ nators of US crop in 2000. (Re-
077. Barton, ACT, Australia: Rural port). Cornell University, Ithaca,
Industries Research and Develop- New York.
ment Corporation. Mulyadi, A. (2011). Kapuk Jawa, keung-
Hadisoesilo, S. (1992). Evolutionary and gulan yang terlupakan. Diunduh
development of beekeeping in In- April 2011 dari http:
donesia (pp.39-44). Dalam Procee- //kapukrandukaraban-pati.blogspot
ding of the Beenet Asia. Workshop .com.
on Priorities in R&D on Bee- Perhutani. (2008). 20 persen hutan untuk
keeping in Tripical Asia. Beenet pakan lebah. Diunduh 28 Desember
Asia, Universiti Pertanian Malay- 2011 dari http://www.bumn.go.id
sia, Southbound. /perhutani/publikasi/berita/20-
Kuntadi. (2003). Perlebahan di Indonesia. persen-hutanuntuk-pakan-lebah/.
Sylva Tropika No 08, Desember Salmah, S. (1992). Lebah, pengembangan
2003. Jakarta: Badan Penelitian dan dan pelestariannya. (Pidato pengu-
Pengembangan Kehutanan. kuhan Guru Besar Tetap Ilmu Bio-
Kuntadi. (2008). Profil perlebahan na- logi). Fakultas Matematika dan Il-
sional: Peluang dan tantangan. Ba- mu Pengetahuan Alam, Universitas
han presentasi Kelompok Kerja Andalas.
HHBK Kementerian Kehutanan pa- Scott-Dupree, C., Gates, J., Hergert, G.,
da Oktober 2008. Nelson J.D., Termer B., & Wins-
Kuntadi. (2008). Langkah-langkah me- ton, M. (1995). A guide to ma-
maksimalkan produksi dan produk- naging bees for crop pollination.
tivitas koloni lebah madu. Makalah Canadian Association of Pro-
Gelar Teknologi tanggal 5-6 No- fessional Apicultturists.
vember 2008 di Padang Pariaman. Singarimbun, M., & Sofian E. (1982).
Sumatera Barat. Pusat Peneltian Metoda Penelitian Survai. Jakarta:
dan pengembangan Hutan dan Kon- LP3ES.
servasi Alam. Bogor. Soekartiko, B. (2000). Permasalahan da-
Kuntadi, & Adalina, Y. (2010). Potensi lam usaha perlebahan di Indonesia.
Acacia mangium sebagai sumber Prosiding Temu Usaha Perlebahan.
pakan lebah madu (pp. 915-921). Jakarta: Direktorat Jenderal Rehabi-
Prosiding Seminar Nasional Ma- litasi Lahan dan Perhutanan Sosial,
syarakat Peneliti Kayu Indonesia Departemen Kehutanan; Perum
(MAPEKI) XIII: Pengembangan Perhutani; API Indonesia.
ilmu dan teknologi kayu untuk men- Soekartiko, B. (2009). Perkembangan
dukung implementasi program per- perlebahan nasional dan dunia.
ubahan iklim, Bali 10-11 Nopem- (Makalah). Pertemuan Asosiasi
ber 2010. Bogor : Masyarakat Pe- Perlebahan Indonesia 2009 di Ci-
neliti Kayu Indonesia. bubur. Jakarta: Bina Apiari Indo-
nesia.
361