You are on page 1of 2

SKPKBT, apa itu?

Oleh : Dionisius Christian Jerry Ardianto / 3-06 / 10 / NPM 2301160461


 APA SIH ITU SURAT KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR TAMBAHAN (SKPKBT)?
Menurut Pasal 1 angka 17 Undang – Undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana diubah terakhir dengan Undang – Undang nomor 6 tahun 2009, menyatakan bahwa :

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas
jumlah pajak yang telah ditetapkan.

Nah, dari pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa fungsi dari Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
(SKPKBT) adalah akan menambah pajak terutang yang masih harus dibayar oleh Wajib Pajak, baik Wajib Pajak
Orang Pribadi maupun Wajib Pajak Badan.
 LALU, BAGAIMANA PROSEDUR DARI PENERBITAN SURAT KETETAPAN PAJAK
KURANG BAYAR TAMBAHAN (SKPKBT)?
Menurut Pasal 15 ayat 1 Undang – Undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana diubah terakhir dengan Undang – Undang nomor 6 tahun 2009, menyatakan bahwa :

Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dalam jangka
waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak apabila ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang
setelah dilakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan.

Dari kutipan pasal 5 tersebut, dengan jelas disebutkan bahwa hanya Direktur Jenderal Pajak yang berhak untuk
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) dengan terlebih dahulu dilakukan tindakan
pemeriksaan oleh fiskus dengan dasar ditemukannya data baru yang hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan
penambahan kembali jumlah pajak yang terutang.
Maksud dari “penambahan kembali jumlah pajak yang terutang” karena sebelum diterbitkannya SKPKBT , Wajib
Pajak tersebut sudah terlebih dahulu mendapatkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB).
 WAIT, PROSEDUR PEMERIKSAAN YANG DILAKUKAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
TERHADAP WAJIB PAJAK ITU BAGAIMANA?
Karena saat ini topik kita hanya fokus membahas SKPKBT, maka prosedur pemeriksaan kita bahas disini atau dapat
di baca sendiri dalam Pasal 31 Undang – Undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana diubah terakhir dengan Undang – Undang nomor 6 tahun 2009. Maaf ya. Hehe
 OKE DEH, BALIK LAGI KE TOPIK SKPKBT. TERUS, GIMANA TUH KALO UDAH LEBIH
DARI JANGKA WAKTU 5 TAHUN?
Menurut Pasal 15 ayat 4 Undang – Undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana diubah terakhir dengan Undang – Undang nomor 6 tahun 2009, menyatakan bahwa :

Apabila jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat, Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48%
(empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, dalam hal Wajib Pajak setelah
jangka waktu 5 (lima) tahun tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau
tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Nah, jadi clear ya bahwa setelah lebih dari jangka waktu 5 tahun SKPKBT itu tetap dapat diterbitkan dengan
ditambah sanksi administrasi sebesar 48% dari jumlah pajak terutang.
Sebagai contoh, apabila dalam SKPKBT tertera jumlah tambahan pajak terutang sebesar Rp 1.000.000.000 maka
Wajib Pajak juga mendapat sanksi kenaikan sebesar Rp 480.000.000. Jadi total yang harus dibayar sebesar Rp
1.480.000.000.
Tapi ketentuan SKPKBT setelah jangka waktu 5 tahun ini hanya dapat diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak
hanya apabila Wajib Pajak tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak
pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Jadi secara otomatis, maka SKPKBT setelah jangka waktu 5 tahun
terlewati tidak dapat diterbitkan apabila tidak adanya tindak pidana yang dilakukan oleh Wajib Pajak tersebut. Hal
ini dilakukan untu memberikan kepastian kepada Wajib Pajak.
 JIKA WAJIB PAJAK MENDAPAT SKPKBT DALAM JANGKA WAKTU 5 TAHUN, APAKAH
ADA SANKSI YANG DIKENAKAN KEPADA WAJIB PAJAK BERSANGKUTAN?
Menurut Pasal 15 ayat 2 Undang – Undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana diubah terakhir dengan Undang – Undang nomor 6 tahun 2009, menyatakan bahwa :

Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan ditambah
dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak
tersebut.

Jadi, jika Wajib Pajak mendapat SKPKBT akan dikenakan sanksi administrasi kenaikan sebesar 100% dari jumlah
pajak terutang tersebut.
Sebagai contoh, apabila dalam SKPKBT tertera jumlah tambahan pajak terutang sebesar Rp 1.000.000.000 maka
Wajib Pajak juga mendapat sanksi kenaikan sebesar Rp 1.000.000.000. Jadi total yang harus dibayar sebesar Rp
2.000.000.000.
Buset, gede amat amat sanksinya!!
Eits, tunggu dulu gan jangan emosi.
Menurut Pasal 15 ayat 3 Undang – Undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana diubah terakhir dengan Undang – Undang nomor 6 tahun 2009, menyatakan bahwa :

Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dikenakan apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan itu diterbitkan berdasarkan keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri, dengan
syarat Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan.

Jadi, apabila Wajib Pajak secara sadar memberikan keterangan atau melapor kepada Direktur Jenderal Pajak tentang
kemungkinan bertambahnya pajak terutang, maka SKPKBT yang kemudian diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak
tersebut tidak dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan. Ketentuan ini dilakukan dengan syarat bahwa saat Wajib
Pajak tersebut melapor kepada Direktur Jenderal Pajak, Direktur Jenderal Pajak belum mulai untuk melakukan
tindakan pemeriksaan. Nah, masih mau emosi?? Hehe
Jadi kesimpulan yang kita dapatkan bahwa penerbitan SKPKBT selalu didahului dengan tindakan pemeriksaan yang
dilakukan oleh fiskus dengan disertai dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% atau 48%.
Penerbitan SKPKBT dikecualikan dari sanksi administrasi berupa kenaikan apabila Wajib Pajak secara sadar
memberikan keterangan atau melapor kepada Direktur Jenderal Pajak tentang kemungkinan bertambahnya pajak
terutang , dan Direktur Jenderal Pajak belum mulai untuk melakukan tindakan pemeriksaan.
Nah, sudah jelas kan penjelasan saya tentang SKPKBT beserta sanksi administrasinya. Dan saya yakin, pastinya
kalian tidak ingin untuk mendapat sanksi administrasi kenaikan yang sebesar itu. Maka dari itu, mari kita taat untuk
membayar pajak. Selain terbebas dari sanksi administrasi, kita juga turut membangun negeri ini.