You are on page 1of 12

2.

1 Tinjauan Kebijakan
BAB
TINJAUAN TEORI 2
2.1.1 Undang – Undang No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
Penanggulangan bencana berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berasaskan kemanusiaan; keadilan;
kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; keseimbangan, keselarasan dan
keserasian; ketertiban dan kepastian hukum; kebersamaan; kelestarian lingkungan
hidup; serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Asas dalam penanggulangan bencana
yaitu:
1. Cepat dan tepat;
2. Prioritas;
3. Koordinasi dan keterpaduan;
4. Berdaya guna dan berhasil guna;
5. Transparansi dan akuntabilitas;
6. Kemitraan;
7. Pemerbadayaan;
8. Nondiskriminatif;
9. Nonproletisi.
Penanggulangan bencana bertujuan untuk:
1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancamana bencana;
2. Menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada;
3. Menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana,
terkoodinasi, dan menyeluruh;
4. Menghargai partisipasi dan kemitraan public serta swasta;
5. Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan dan kedermawanan;
6. Menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan berdasarkan 4 (empat)
aspek meliputi:
1. Sosial, ekonomi dan budaya masyarakat;

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 5


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

2. Kelestarian lingkungan hidup;


3. Kemanfaatan dan efektivitas;
4. Lingkup luas wilayah.
Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, Pemerintah dapat menetapkan
daerah rawan bencana menjadi daerah terlarang untuk permukiman dan mencabut
atau mengurangi sebagian atau seluruh hak kepemilikan setiap orang atas suatu benda
sesuai dengan peraturan perudang-undangan.
2.1.2 Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana
Penyelenggaraan penanggulangan bencana bertujuan untuk menjamin
terselenggaranya pelaksanaan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu,
terkoordinasi, dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada
masyarakat dari ancaman, risiko, dan dampak bencana. Penyelenggaraan
penanggulangan bencana meliputi tahap prabencana, saat tanggap darurat, dan
pascabencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap prabencana meliputi:
1. Dalam situasi tidak terjadi bencana meliputi perencanaan penanggulangan
bencana, pengurangan risiko bencana, pencegahan, pemaduan dalam perencanaan
pembangunan, persyaratan analisis risiko bencana, pelaksanaan dan penegakan
rencana tata ruang, pendidikan dan pelatihan, dan persyaratan standar teknis
penanggulangan bencana;
2. Dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana meliputi kesiapsiagaan,
peringatan dini, dan mitigasi bencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat meliputi:
1. Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi;
2. Kerusakan, kerugian, dan sumber daya;
3. Penentuan status keadaan darurat bencana;
4. Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana;
5. Pemenuhan kebutuhan dasar;
6. Perlindungan terhadap kelompok rentan; dan
7. Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap pascabencana terdiri atas:
1. Rehabilitasi, rehabilitasi pada wilayah pascabencana dilakukan melalui kegiatan:

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 6


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

a. Perbaikan lingkungan daerah bencana;


b. Perbaikan prasarana dan sarana umum;
c. Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat;
d. Pemulihan sosial psikologis;
e. Pelayanan kesehatan;
f. Rekonsiliasi dan resolusi konflik;
g. Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya;
h. Pemulihan keamanan dan ketertiban;
i. Pemulihan fungsi pemerintahan; dan
j. Pemulihan fungsi pelayanan publik.
2. Rekonstruksi, rekonstruksi pada wilayah pascabencana dilakukan melalui
kegiatan:
a. Pembangunan kembali prasarana dan sarana;
b. Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;
c. Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat;
d. Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih
baik dan tahan bencana;
e. Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia
usaha dan masyarakat;
f. Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;
g. Peningkatan fungsi pelayanan publik; atau
h. Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.
2.1.3 Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No.2 Tahun
2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian risiko Bencana
Kompleksitas penyelenggaran penanggulangan bencana memerlukan suatu
penataan dan perencanaan yang matang, terarah dan terpadu. Penanggulangan bencana
yang dilakukan selama ini belum didasarkan pada langkah-langkah yang sistematis dan
terencana, sehingga seringkali terjadi tumpang tindih dan bahkan terdapat langkah
upaya penting yang tidak tertangani. Prinsip pengkajian risiko bencana dilaksanakan
berdasarkan:
1. Data dan segala bentuk rekaman kejadian yang ada;
2. Integrasi analisis probabilitas kejadian ancaman dari para ahli dengan kearifan
lokal masyarakat;

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 7


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

3. Kemampuan untuk menghitung potensi jumlah jiwa terpapar, kerugian harta


benda dan kerusakan lingkungan;
4. Kemampuan untuk diterjemahkan menjadi kebijakan pengurangan risiko bencana
Fungsi pengkajian risiko bencana di suatu daerah secara umum adalah sebagai
berikut:
1. Pada tatanan pemerintah, hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai
dasar untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana. Kebijakan ini
nantinya merupakan dasar bagi penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana
yang merupakan mekanisme untuk mengarusutamakan penanggulangan bencana
dalam rencana pembangunan.
2. Pada tatanan mitra pemerintah, hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan
sebagai dasar untuk melakukan aksi pendampingan maupun intervensi teknis
langsung ke komunitas terpapar untuk mengurangi risiko bencana. Pendampingan
dan intervensi para mitra harus dilaksanakan dengan berkoordinasi dan
tersinkronasi terlebih dahulu dengan program pemerintah dalam
penyelenggaraan penanggulangan bencana.
3. Pada tatanan masyarakat umum, hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan
sebagai salah satu dasar untuk menyusun aksi praktis dalam rangka
kesiapsiagaan, seperti menyusun rencana dan jalur evakuasi, pengambilan
keputusan daerah tempat tinggal dan sebagainya.
2.1.4 Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No.4 Tahun
2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana
Kompleksitas dari permasalahan bencana tersebut memerlukan suatu penataan
atau perencanaan yang matang dalam penanggulangannya, sehingga dapat
dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Penanggulangan yang dilakukan selama ini
belum didasarkan pada langkah-langkah yang sistematis dan terencana, sehingga
seringkali terjadi tumpang tindih dan bahkan terdapat langkah upaya yang penting
tidak tertangani. Pada dasarnya penyelenggaraan adalah tiga tahapan yakni:
1. Pra bencana yang meliputi: situasi tidak terjadi bencana, situasi terdapat potensi
bencana;
2. Saat Tanggap Darurat yang dilakukan dalam situasi terjadi bencana;
3. Pascabencana yang dilakukan dalam saat setelah terjadi bencana.

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 8


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

Secara umum perencanaan dalam penanggulangan bencana dilakukan pada setiap


tahapan dalam penyelenggaran penanggulangan bencana. Dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana, agar setiap kegiatan dalam setiap tahapan dapat berjalan
dengan terarah, maka disusun suatu rencana yang spesifik pada setiap tahapan
penyelenggaraan penanggulangan bencana.
1. Pada tahap Prabencana dalam situasi tidak terjadi bencana, dilakukan penyusunan
Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster Management Plan), yang merupakan
rencana umum dan menyeluruh yang meliputi seluruh tahapan / bidang kerja
kebencanaan. Secara khusus untuk upaya pencegahan dan mitigasi bencana
tertentu terdapat rencana yang disebut rencana mitigasi.
2. Pada tahap Prabencana dalam situasi terdapat potensi bencana dilakukan
penyusunan Rencana Kesiapsiagaan untuk menghadapi keadaan darurat yang
didasarkan atas skenario menghadapi bencana tertentu (single hazard) maka
disusun satu rencana yang disebut Rencana Kontinjensi (Contingency Plan).
3. Pada Saat Tangap Darurat dilakukan Rencana Operasi (Operational Plan) yang
merupakan operasionalisasi/aktivasi dari Rencana Kedaruratan atau Rencana
Kontinjensi yang telah disusun sebelumnya.
Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana Pemulihan (Recovery Plan)
yang meliputi rencana rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pada pasca
bencana. Sedangkan jika bencana belum terjadi, maka untuk mengantisipasi kejadian
bencana dimasa mendatang dilakukan penyusunan petunjuk/pedoman mekanisme
penanggulangan pasca bencana.
2.1.5 Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang Nomor 2 Tahun 2013 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lumajang Tahun 2012-2032
Tinjauan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lumajang Tahun 2012 - 2032
terkait rencana penanggulangan bencana yaitu penyelamatan dan evakuasi masyarakat
terkena bencana dilakukan melalui usaha dan kegiatan pencarian, pertolongan, dan
penyelamatan masyarakat sebagai korban akibat bencana. Pengerahan sumber daya
manusia, peralatan, dan logistik dilakukan untuk menyelamatkan dan mengevakuasi
korban bencana, memenuhi kebutuhan dasar, dan memulihkan fungsi prasarana dan
sarana vital yang rusak akibat bencana. Pengerahan sumber daya manusia, peralatan,
dan logistik ke lokasi bencana harus sesuai dengan kebutuhan.

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 9


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

2.1.6 Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang Nomor 1 Tahun 2013 tentang


Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.
Berdasarkan kebijakan yang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang
No. 1 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, menjelaskan
bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana daerah bertujuan untuk:
1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana;
2. Menyelaraskan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
3. Menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu,
terkoordinasi, dan menyeluruh;
4. Menghargai budaya local dan kearifan lokal dan menjaga kelestarian lingkungan
hidup;
5. Membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta;
6. Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan;
7. Menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Peran serta dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana, meliputi:
1. Pengalokasian dana penanggulangan bencana dalam anggaran pendapatan belanja
daerah yang memadai untuk pra bencana (sebelum terjadi bencana), saat terjadi
bencana, dan pasca bencana;
2. Penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana
sesuai dengan standar pelayanan minimum;
3. Perlindungan masyarakat dari dampak bencana;
4. Pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dalam
program pembangunan;
5. Melakukan rehabilitasi atas dampak bencana.

2.2 Tinjauan Pustaka


2.2.1 Pengertian Tutupan Lahan
A. Daya Dukung Lahan
Daya dukung lahan (Land Carrying Capacity) dinilai menurut ambang batas
kesanggupan lahan sebagai suatu ekosistem menahan keruntuhan akibat penggunaan.
Daya dukung lahan ditentukan oleh banyak faktor baik biofisik maupun sosial-ekonomi-

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 10


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

budaya yang saling mempengaruhi. Daya dukung tergantung pada persentasi lahan
yang dapat digunakan untuk peruntukan tertentu yang berkelanjutan dan lestari,
persentasi lahan ditentukan oleh kesesuaian lahan untuk peruntukan tertentu. Konsep
daya dukung harus merujuk pada aras (level) penggunaan lahan yang akan meluangkan
pemeliharaan secara sinambung suatu aras mutu lingkungan tertentu dalam suatu aras
tujuan pengelolaan tertentu yang ditetapkan dengan mengingat biaya pemeliharaan
mutu sumberdaya pada suatu aras yang akan mendatangkan kepuasan pengguna
sumberdaya. Daya dukung lahan merupakan gabungan antara kemampuan dan
kesesuaian lahan.
Kemampuan lahan adalah daya yang dimiliki oleh lahan untuk menanggung
kerusakan lahan. Kemampuan lahan (land capability) merupakan pengelolaan
berdasarkan pertimbangan biofisik untuk mencegah terjadinya kerusakan lahan selama
penggunaan. Semakin rumit pengelolaan yang diperlukan, berarti lahan semakin rentan.
Faktor yang menentukan kemampuan lahan adalah faktor biofisik. Lahan yang memiliki
topografi datar mempunyai kemampuan yang lebih tinggi daripada lahan yang memiliki
topografi miring.
Kemampuan tanah menggambarkan potensi tanah secara umum untuk berbagai
penggunaan dengan mempertimbangkan risiko kerusakan tanah dan faktor pembatas
tanah terhadap penggunaannya (Sadyohutomo, 2006:27). Unsur-unsur sifat fisik tanah
yang dipergunakan untuk menunjukkan suatu potensi kemampuan tanah dapat
berbeda-beda tergantung pada cara yang digunakan. Biasanya yang sering digunakan
adalah unsur lereng, kedalaman efektif tanah, tekstur, drainase, kepekaan erosi dan
faktor pembatas. Terdapat dua cara dalam melihat kemampuan tanah, yaitu dengan
cara membuat kelas kemampuan tanah dan dengan cara melihat potensi tanah secara
apa adanya tanpa membuat kelas kemampuannya. Dengan menentukan kelas
kemampuan tanah, mengasumsikan penggunaan tanah untuk pertanian walaupun
masih secara umum. Pada cara kedua lebih mementingkan potensi fisik yang menonjol
tanpa membuat kelas untuk penggunaannya.
Kesesuaian lahan adalah penilaian mengenai kesesuaian suatu bentang tanah
terhadap penggunaan tertentu pada tingkat pengelolaan dan hasil yang wajar dengan
tetap memperhatikan kelestarian produktifitas dan lingkungannya (Soetarto dalam
Sadyohutomo, 2006: 33). Penilaian kesesuaian tanah bertujuan untuk menetapkan
pilihan penggunaan tanah tertentu yang secara ekonomis menguntungkan dan

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 11


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

berwawasan lingkungan. Kesesuaian lahan (land suitability) merupakan tingkat


kesesuaian atau kecocokan suatu bidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu.
Prinsip penentuan kesesuaian lokasi untuk suatu pemanfaatan lahan, pada
dasarnya dilakukan dengan pertimbangan berbagai aspek diantaranya aspek fisik,
untuk menghindari munculnya dampak negatif dari pemanfaatan yang tidak optimal.
Dampak negatif yang muncul dari pemanfaatan lokasi yang melebih kemampuannnya
berupa penurunan kualitas lingkungan seperti terjadi bencana banjir, tanah longsor dan
penurunan muka air tanah.
2.2.2 Pengertian Bencana
Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis.
2.2.3 Bencana Banjir
Banjir merupakan salah satu bentuk bencana hidro-metereologi. Berdasarkan
Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, banjir
merupakan peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan
karena volume air yang meningkat. Penyebab utama terjadinya banjir disebabkan oleh
dua hal yaitu akibat kejadian alam (tingginya curah hujan, erosi dan sedimentasi,
geometri DAS, dll) serta akibat ulah manusia (perubahan guna lahan di DAS,
pembalakan hutan, permukiman kumuh di sempadan sungai, dll).
2.2.4 Tinjauan Risiko Bencana
A. Ancaman (Hazard)
Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, ancaman bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa
menimbulkan bencana. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, klasifikasi
bencana berdasarkan penyebab ancamannya dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi,
tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 12


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

2. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi,
epidemi, dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial
antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
Sedangkan, jika dilihat dari tempo kejadiannya ancaman dapat terjadi secara
mendadak, berangsur-angsur atau musiman. Contoh ancaman yang terjadi secara
mendadak adalah gempa bumi, tsunami, dan banjir bandang, ancaman yang
berlangsung secara perlahan-lahan atau berangsur-angsur adalah banjir genangan,
rayapan, kekeringan dan ancaman yang terjadi musiman adalah banjir bandang (di
musim hujan), kekeringan (di musim kemarau) dan suhu dingin.
B. Kerentanan (Vulnerability)
Kerentanan adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis,
klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi di suatu wilayah
untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam,
mencapai kesiapan dan berkurangnya kemampuan untuk menanggapi dampak buruk
bahaya tertentu (UNISDR, 2009). Analisis kerentanan merupakan variabel penting pada
analisis risiko bencana. Analisis kerentanan merupakan jenis analisis evaluatif yang
menggunakan pembobotan kondisi di lapangan dengan standar yang kemudian
divisualisasikan dalam peta kerentanan sehingga dapat diketahui kawasan yang
memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana. Terdapat empat aspek kerentanan dalam
penelitian yaitu:
1. Aspek fisik
Kerentanan aspek fisik menggambarkan perkiraan tingkat kerusakan terhadap
kondisi fisik yang rentan jika ada faktor berbahaya tertentu. Faktor yang
mempengaruhi aspek kerentanan fisik diantaranya rancangan dan material yang
digunakan dalam pembangunan infrastruktur (International Strategy of Disaster
Reduction, 2002). Indikator penentuan kerentanan fisik menggunakan parameter
lahan terbangun, kepadatan bangunan dan kerusakan jalan.
2. Aspek sosial
Kerentanan sosial menggambarkan kondisi tingkat kerapuhan sosial dalam
menghadapi bahaya (hazards). Faktor yang mempengaruhi aspek kerentanan

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 13


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

sosial diantaranya pendidikan dan pengetahuan tentang bencana, kesehatan


masyarakat, keamanan, aplikasi hak asasi manusia, sistem pemerintahan,
pengetahuan, tradisi yang positif, serta sistem organisasi keseluruhan
(International Strategy of Disaster Reduction, 2002). Indikator penentuan
kerentanan sosial menggunakan parameter kepadatan penduduk, laju
pertumbuhan penduduk, penduduk usia tua balita, jumlah penduduk dan tingkat
pendidikan.
3. Aspek ekonomi
Kerentanan ekonomi menggambarkan suatu kondisi tingkat kerapuhan ekonomi
dalam menghadapi ancaman bahaya (hazards). Hal ini berkaitan dengan
probabilitas kehilangan dan kerugian yang dialami saat bencana terjadi, juga
tingkat penerimaan dan pemulihan setelah bencana terjadi. Kemampuan ekonomi
suatu individu atau masyarakat sangat menentukan tingkat kerentanan terhadap
ancaman bahaya. Pada umumnya masyarakat atau daerah yang miskin atau
kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya, karena tidak mempunyai
kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau
mitigasi bencana (BNPB, 2008:13). Indikator penentuan kerentanan ekonomi
menggunakan parameter penduduk miskin dan penduduk petani dan buruh tani.
C. Kapasitas (Capacity)
Kapasitas adalah kemampuan daerah dan masyarakat untuk melakukan tindakan
pengurangan tingkat ancaman dan tingkat kerugian akibat bencana (Perka BNPB No. 2
Tahun 2012). Kemampuan/kapasitas adalah sumber daya, pengetahuan, ketrampilan,
dan kekuatan yang dimiliki seseorang atau masyarakat yang memungkinkan mereka
untuk mempertahankan dan mempersiapkan diri, mencegah, dan memitigasi,
menanggulangi dampak buruk, atau dengan cepat memulihkan diri dari bencana. (BNPB
No. 1 Tahun 2012). Kapasitas dibentuk oleh beberapa aspek yang dimiliki masyarakat
(pentagon asset). Pentagon asset terdiri dari sumber daya manusia, sumber daya dana,
sumber daya alam, sumber daya sosial, dan sumber daya fisik.
D. Risiko Bencana (Risk)
Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada
suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit,
jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta dan

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 14


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

gangguan kegiatan masyarakat. Berdasarkan Affeltranger, et.al (2006), terdapat


hubungan antara ancaman bahaya, kerentanan dan kapasitas yang dapat dituliskan
dalam persamaan berikut:
Ancaman x Kerentanan
Risiko Bencana =
Kapasitas
Risiko bencana dipengaruhi oleh tingkat kerentanan dan bahaya suatu tempat.
Juga dipengaruhi pula oleh kemampuan tempat lokasi bencana tersebut dalam
menghadapi bencana. Apabila kemampuan masyarakat dan sumber daya suatu lokasi
bencana sudah sangat mampu menghadapi bencana, maka tingkat risiko bencana juga
akan semakin kecil. Bahaya menunjukkan kemungkinan terjadinya kejadian baik alam
maupun buatan di suatu tempat. Kerentanan menunjukkan kerawanan yang dihadapi
suatu masyarakat dalam menghadapi ancaman tersebut. Sedangkan ketidakmampuan
merupakan kelangkaan upaya atau kegiatan yang dapat mengurangi korban jiwa atau
kerusakan. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kerentanan dan ancaman terhadap
bencana, dan tingkat kemampuan atau kapasitas daerah yang terancam semakin
rendah, maka risiko terhadap bencana semakin tinggi.
2.2.5 Mitigasi Bencana
Mitigasi bencana adalah suatu upaya atau kegiatan yang dilakukan bertujuan
untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh
bencana (BNPB, 2008:16). Mitigasi bencana dilakukan untuk mengurangi kerugian
akibat kemungkinan terjadinya bencana, baik korban jiwa atau kerugian harta benda
yang akan berpengaruh pada kehidupan dan kegiatan manusia.
Tujuan utama dalam mitigasi bencana adalah untuk mengurangi risiko dan
dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya bencana khususnya bagi penduduk, seperti
korban jiwa (kematian), kerugian ekonomi, dan kerusakan sumber daya alam,
meningkatkan pengetahuan masyarakat (public awarensess) dalam menghadapi serta
mengurangi risiko dan dampak akibat bencana, sehingga masyarakat dapat hidup dan
bekerja dengan aman.
Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
menyatakan bahwa manajemen bencana pada dasarnya berupaya untuk
menghindarkan masyarakat dari bencana baik dengan mengurangi kemungkinan
munculnya hazard maupun mengatasi kerentanan. Terdapat lima model manajemen
penanggulangan bencana yaitu:

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 15


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lumajang

1. Disaster management continuum model, merupakan model yang paling popular


karena terdiri dari tahap-tahap yang jelas sehingga lebih mudah
diimplementasikan. Tahap-tahap manajemen bencana meliputi emergency, relief,
rehabilitation, reconstruction, mitigation, preparedness dan early warning.
2. Pre-during-post disaster model, membagi tahap kegiatan di sekitar bencana. Pre-
during-post disaster model seringkali digabungkan dengan disaster management
continuum model.
3. Contract-expand model, berasumsi bahwa seluruh tahapan yang ada pada
manajemen bencana (emergency, relief, rehabilitation, reconstruction, mitigation,
preparedness dan early warning) harus tetap dilaksanakan pada daerah yang
rawan bencana. Perbedaan pada kondisi bencana dan tidak bencana adalah pada
saat bencana tahap tertentu lebih dikembangkan (emergency dan relief)
sementara tahap yang lain seperti rehabilitation, reconstruction dan mitigation
kurang ditekankan.
4. The crunch and release model, menekankan pada upaya mengurangi kerentanan
untuk mengatasi bencana. Bila masyarakat tidak rentan maka bencana akan juga
kecil kemungkinannya terjadi meski hazard tetap terjadi.
5. Disaster risk reduction framework, menekankan pada upaya manajemen bencana
pada identifikasi risiko bencana baik dalam bentuk kerentanan maupun hazard
dan mengembangkan kapasitas untuk mengurangi risiko tersebut.
Upaya tindakan mitigasi bencana dilihat dari sifatnya digolongkan menjadi dua
bagian, yaitu mitigasi pasif (non struktural) dan mitigasi aktif (struktural) (Bakornas
PB, 2007:21).

Kajian Identifikasi dan Penanganan Wilayah Potensi Banjir Kabupaten Lumajang | 16