You are on page 1of 7

Kelompok 4 : Penyakit Karies pada Gigi

PENYAKIT KARIES PADA GIGI


Kelompok 4
Mahasiswa Pendidikan Dokter Gigi
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara
Jl. Alumni No.2 Kampus USU Medan 20155

ABSTRACT

Dental caries is a disease that can cause cavities. Caries is a disease that if not release will cause problem from
the lowest, to the highest problem, namely death. Caries occurs in the part of the tooth tissue, usually
characterized by demineralization of the hard tissue of the teeth, followed by damage to the organic material.
This demineralization will cause bacterial invasion and cause damage on pulp tissues then followed by the
spread of infection to the periapical tissues which can cause pain in our teeth. Some of the factors that cause it
are plaque accumulation and retention, frequency of carbohydrate intake, frequency of exposure to food, health
factors such as pelicles and saliva, and fluoride from other elements that can be controlled by caries. Not only
that, the shape, structure and the position of the teeth can also affect the arise of caries in our teeth. Caries has
6 class classifications according to G.V Black.Caries can be prevented with several precautions, namely
primary prevention (prevention of means of promotion of brushing and cleaning of teeth), secondary prevention
(prevention by patching carious lesions), tertiary prevention (prevention by rehabilitation process, teeth using
implant or denture).

Key words : caries, early childhood caries, children’s caries prevention.

ABSTRAK

Karies gigi adalah sebuah penyakit yang dapat menyebabkan gigi berlubang. Karies merupakan penyakit yang
jika tidak ditangani akan menimbulkan permasalahan dari yang paling rendah, hingga permasalahan tertinggi,
yakni kematian. Karies terjadi pada bagian jaringan gigi, biasanya karies ditandai dengan demineralisasi pada
jaringan keras gigi, yang diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Demineralisasi tersebut akan
menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan mengakibatkan kerusakan pada jaringan pulpa lalu diikuti dengan
penyebaran infeksi ke jaringan periapikal yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada gigi kita. Beberapa faktor
penyebab karies diantaranya adalah akumulasi dan retensi plak, frekuensi asupan karbohidrat, frekuensi pajanan
terhadap makanan asam, faktor pelindung alami seperti pelikel dan saliva, serta fluoride dari elemen-elemen lain
yang dapat mengontrol perkembangan karies. Tidak hanya itu, faktor bentuk, struktur, dan posisi gigi juga dapat
mempengengaruhi timbulnya karies pada gigi kita. Karies memiliki 6 klasifikasi kelas menurut G.V Black.
Karies dapat dicegah dengan beberapa pencegahan, yaitu pencegahan primer (pencegahan berupa upaya
promosi cara menyikat dan membersihkan gigi), pencegahan sekunder (pencegahan tingkat lanjut dengan cara
melakukan penambalan pada lesi karies), pencegahan tersier (pencegahan terakhir dengan proses rehabilitasi
dengan menganti gigi menggunakan implan ataupun gigi palsu).

Kata kunci: karies, faktor penyebab karies, pencegahan karies.

I. PENDAHULUAN Karies gigi masih merupakan masalah utama


dari sekian banyak masalah kesehatan gigi dan
mulut di dunia, baik di negara-negara industri
Kesehatan gigi dan mulut merupakan maupun Negara negara yang sedang
suatu masalah kesehatan masyarakat yang berkembang. Karies merupakan suatu penyakit
memerlukan penanganan secara komprehensif pada jaringan keras gigi yaitu email, dentin,
karena dampaknya yang sangat luas sehingga dan sementum; disebabkan oleh aktivitas jasad
perlu penanganan segera sebelum terlambat. renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang

1
Kelompok 4 : Penyakit Karies pada Gigi

diragikan. Proses karies biasanya ditandai glukosa yang dapat diragikan oleh 11 bakteri
dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan tertentu dan membentuk asam sehingga pH
keras gigi, diikuti dengan kerusakan bahan plak akan menurun sampai dibawah 5 dalam
organiknya. Hal ini akan menyebabkan tempo 3-5 menit. Penurunan pH yang
terjadinya invasi bakteri dan kerusakan pada berulang-ulang dalam waktu tertentu
jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi
jaringan periapikal dan menimbulkan suatu (Kidd, 2012). Proses terjadinya karies dimulai
rasa nyeri. Sampai sekarang, baik di negara- dengan adanya plak dipermukaan gigi. Plak
negara berkembang ataupun maju, karies gigi terbentuk dari campuran antara bahan-bahan
masih merupakan masalah. Data dari Bank air ludah seperti musin, sisa-sisa sel jaringan
WHO (2000) yang diperoleh dari enam mulut, leukosit, limposit dan sisa makanan
wilayah WHO (AFRO, AMRO, EMRO, serta bakteri. Plak ini mula-mula terbentuk,
EURO, SEARO, WPRO) menunjukkan bahwa agar cair yang lama kelamaan menjadi kelat,
rerata pengalaman karies (DMFT) pada anak tempat bertumbuhnya bakteri (Suryawati,
usia 12 tahun berkisar 2,4. Indeks karies di 2010). Selain karena adanya plak, karies gigi
Indonesia sebagai salah satu Negara SEARO juga disebabkan oleh sukrosa (gula) dari sisa
(South East Asia Regional Offices) berkisar 2,2 makanan dan bakteri yang menempel pada
untuk kelompok usia yang sama. Kelompok 12 waktu tertentu yang berubah menjadi asam
tahun merupakan indicator kritis, karena laktat yang akan menurunkan pH mulut
sekitar 76,97 % karies menyerang pada usia menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan
tersebut. Di negara berkembang lainnya, demineralisasi email yang berlanjut menjadi
indeks karies 1,2 sedangkan indeks target karies gigi.
WHO untuk tahun 2010 adalah 1,0.
Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga 2.3 ETIOLOGI KARIES
(SKRT, 2004), prevelansi karies di Indonesia
mencapai 90,05 % dan ini tergolong lebih Karies gigi merupakan penyakit multifaktorial
tinggi dibandingkan dengan Negara yang disebabkan oleh berbagai faktor. Lima faktor
berkembang lainnya. Karies menjadi salah satu utama yaitu faktor utama yang paling berpengaruh
bukti tidak terawatnya kondisi gigi dan mulut terhadap pembentukan lesi karies adalah akumulasi
masyarakat Indonesia. 1-2 dan retensi plak, frekuensi asupan karbohidrat,
frekuensi pajanan terhadap makanan asam, faktor
II.TINJAUAN PUSTAKA pelindung alami seperti pelikel dan saliva, serta
fluoride dari elemen-elemen lain yang dapat
2.1 KARIES GIGI mengontrol perkembangan karies.

Pengertian Karies Gigi Karies gigi adalah Plak adalah lapisan polisakarida semi
suatu proses penghancuran setempat jaringan transparan yang melekat dengan kuat kepada
kalsifikasi yang dimulai pada bagian permukaan gigi dan mengandung organisme
permukaan gigi melalui proses dekalsifikasi pathogen. Akumulasi dan retensi plak akan
lapisan email gigi yang diikuti oleh lisis mengakibatkan peningkatan fermentasi karbohidrat
struktur organik secara enzimatis sehingga oleh bakteri asideogenik, dimana metabolisme
terbentuk kavitas (lubang) yang bila didiamkan bakteri dalam keadaan maksimal dapat
akan menembus email serta dentin dan dapat menyebabkan pH permukaan gigi turun dengan
mengenai bangian pulpa (Dorland, 2010). cepat. Tingkat penurunan pH bergantung pada
Karies gigi merupakan proses kerusakan gigi ketebalan plak, jumlah dan jenis bakteri dalam
yang dimulai dari enamel terus ke dentin. plak, kemampuan buffer saliva dan faktor-faktor
Proses tersebut terjadi karena sejumlah faktor lain. Penyebab lain karies adalah frekuensi asupan
(multiple factors) di dalam rongga mulut yang karbohidrat yang akan dimetabolisme oleh bakteri
berinteraksi satu dengan yang lain. Faktor- plak. Beberapa penelitian menyatakan bahwa
faktor tersebut meliputi faktor gigi, banyaknya asupan karbohidrta sekali makan. Asam
mikroorganisme, substrat dan waktu yang dihasikan oleh fermentasi karbohidrat
(Chemiawan, 2004). sebenarnya adalah asam lemah dan hanya
menyebabkan sedikit demineralisasi. Akan tetapi,
2.2 PATOFISIOLOGI KARIES dengan konsumsi karbohidrat yang banyak dalam
GIGI waktu yang lama disertai dengan menurunnya
kemampuan saliva tentunya akan menyebabkan
Karies gigi bisa terjadi apabila terdapat perkembangan karies menjadi lebih pesat.4
empat faktor utama yaitu gigi, substrat,
mikroorganisme, dan waktu. Beberapa jenis Faktor-faktor dari gigi yang berpengaruh
karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan terhadap peningkatan karies :

2
Kelompok 4 : Penyakit Karies pada Gigi

 Bentuk 5. Kelas V. Karies yang terdapat pada bagia 1/3


leher gigi-gigi depanatau permukaan halus
Variasi morfologi gigi juga mempengaruhi dan fasial maupun gigi belakang pada
resistensi gigi terhadap karies. Gigi permukaan labial, lingual, palatal ataupun
dengan lekukan yang lebih mudah bukal dari gigi.Lebih dominan timbul
terserang karies. Hal tersebut dipermukaan yang menghadap kebibir dan
memudahkan masuknya makanan di pipi dari pada lidah.
daerah yang sulit untuk dibersihkan.
6. Kelas VI. Karies yang terdapat pada incisal
 Posisi edge dan cusp oklosal pada gigi belakang
yang disebabkan oleh abrasi, atrisi atau erosi.5
Gigi yang berjejal atau susunannya tidak
teratur lebih sukar dibersihnya. Hal ini
cenderung meningkatkan terjadinya karies
pada gigi. 2.5 FAKTOR RISIKO TERJADINYA
KARIES GIGI
 Struktur
Faktor risiko karies gigi adalah faktor-faktor
Komposisi gigi sulung terdiri dari enamel
yang memiliki hubungan sebab akibat terjadinya
dan dentin. Dentin adalah lapisan di
karies gigi atau faktor yang mempermudah
bawah enamel. Permukaan enamel lebih
terjadinya karies gigi. Beberapa faktor yang
banyak mengandung mineral dan bahan-
dianggap sebagai faktor risiko adalah pengalaman
bahan organik dengan air yang relatif lebih
karies gigi, kurangnya penggunaan fluor, oral
sedikit. Permukaan enamel terluar lebih
higiene yang buruk, jumlah bakteri, saliva serta
tahan karies dibanding lapisan di
pola makan dan jenis makanan (Sondang, 2008).
bawahnya, karena lebih keras dan lebih
padat. Struktur enamel sangat menentukan
dalam proses terjadinya karies (Suwelo, 1. Pengalaman Karies Gigi
1992).3 Penelitian epidemiologis telah memberikan bukti
adanya hubungan antara pengalaman karies
dengan perkembangan karies di masa mendatang.
2.4 KLASIFIKASI KARIES GIGI Prevalensi karies pada gigi desidui dapat
memprediksi karies pada gigi permanen
Untuk memudahkan mendeteksi penyakit karies
(Sondang, 2008).
gigi, maka telah dilakukan pengelompokkan
atau klasifikasi oleh G.V Black.Berikut adalah
klasifikasi karies gigi menurut G.V. Black : 2. Kurangnya Penggunaan Fluor
Ada berbagai macam konsep mengenai
1. Kelas I. Karies yang terjadi pada bagian mekanisme kerja fluor berkaitan dengan
oklusal (pits dan fissure) dari gigi premolar pengaruhnya pada gigi, salah satunya adalah
dan molar (gigi posterior, gigi 4-8).Dapat juga pemberian fluor secara teratur dapat mengurangi
terdapat pada gigi anterior di foramencaecum. terjadinya karies karena dapat meningkatkan
remineralisasi. Tetapi, jumlah kandungan fluor
2. Kelas II. Karies yang terdapat pada bagian dalam air minum dan makanan harus
approximal (mesial dan distal) dari gigi-gigi diperhitungkan pada waktu memperkirakan
molar atau premolar (gigi posterior, gigi 4-8), kebutuhan tambahan fluor karena pemasukan
yang umumnya meluas sampai bagian fluor yang berlebihan dapat menyebabkan
oklusal. fluorosis (Farsi, 2007).
3. Oral Hygiene yang Buruk
Kebersihan mulut yang buruk akan
3. Kelas III. Karies yang terdapat pada bagian
mengakibatkan persentase karies lebih tinggi.
approximal dari gigi depan, tetapi belum
Untuk mengukur indeks status kebersihan mulut,
mencapai margo incisalis (belum mencapai ⁄
digunakan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-
incisal gigi).Lubang di permukaan gigi yang
S) dari green dan vermillon. Indeks ini
menghadap ke langit-langit.
merupakan gabungan yang menetukan skor
debris dan deposit kalkulus baik untuk semua
4. Kelas IV. Kelanjutan Kelas III. Karies telah
atau hanya untuk permukaan gigi yang terpilih
meluas dari approximal dari gigi-gigi depan
saja. Debris rongga mulut dan kalkulus dapat
dan sudah mencapai margo incisalis (telah
diberi skor secara terpisah. Salah satu komponen
mencapai ⁄incisal gigi).
dalam terjadinya karies adalah plak bakteri pada
gigi. Peningkatan oral hygiene dapat dilakukan

3
Kelompok 4 : Penyakit Karies pada Gigi

dengan teknik flossing untuk membersihkan plak enzim mucine, zidine, dan lysozyme yang terdapat
yang dikombinasikan dengan pemeriksaan gigi dalam saliva, mempunyai sifat bakteriostatis yang
yang teratur, merupakan suatu hal yang penting dapat mencegah aktifitas bakteri mulut
dalam meningkatkan kesehatan gigi. Selain itu (Chemiawan, 2004).
penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor
dapat mencegah terjadinya karies. Pemeriksaan Berikut peranan aliran saliva dalam memelihara
gigi yang teratur tersebut dapat membantu kesehatan gigi :
mendeteksi dan memonitor masalah gigi yang
berpotensi menjadi karies. Kontrol plak yang 1. Aliran saliva yang baik akan cenderung
teratur dan pembersihan gigi dapat membantu
membersihkan mulut termasuk melarutkan gula
mengurangi insidens karies gigi. Bila plaknya
serta mengurangi potensi kelengketan makanan.
sedikit, maka pembentukan asam akan berkurang
Dengan kata lain, sebagai pelarut dan pelumas.
dan karies tidak dapat terjadi (Ireland, 2006).
2. Aliran saliva memiliki efek buffer
4. Jumlah BakteriSegera setelah lahir, terbentuk (menjaga supaya suasana dalam mulut tetap netral),
ekosistem oral yang terdiri atas berbagai jenis
yaitu saliva cenderung mengurangi keasaman plak
bakteri. Bayi yang telah memiliki S.mutans dalam
yang disebabkan oleh gula.
jumlah yang banyak saat berumur 2 dan 3 tahun
akan mempunyai risiko karies yang lebih tinggi
untuk mengalami karies pada gigi desidui 3. Saliva mengandung antibodi dan anti
(Sondang, 2008). bakteri, sehingga dapat mengendalikan beberapa
5. Saliva bakteri di dalam plak. Namun jumlah saliva yang
Selain memiliki efek buffer, saliva juga berguna berkurang akan berperan sebagai pemicu timbulnya
untuk membersihkan sisa-sisa makanan di dalam kerusakan gigi (Chemiawan, 2004).
mulut. Aliran rata- rata saliva meningkat pada
anak-anak sampai berumur 10 tahun. Namun 4. Pola Makan dan Jenis Makanan
setelah dewasa hanya terjadi sedikit peningkatan. Pengaruh pola makan dalam proses karies biasanya
Pada individu yang berkurang fungsi salivanya, lebih bersifat lokal dari pada sistemik, terutama
maka aktivitas karies akan meningkat secara dalam hal frekuensi mengonsumsi makanan. Anak
signifikan (Sondang, 2008). dan makanan jajanan merupakan dua hal yang sulit
untuk dipisahkan. Anak memiliki kegemaran
Selain itu saliva berperan dalam menjaga mengkonsumsi jenis jajanan secara berlebihan,
kelestarian gigi. Banyak ahli menyatakan, bahwa setiap kali seseorang mengonsumsi makanan dan
saliva merupakan pertahanan pertama terhadap minuman yang mengandung karbohidrat (tinggi
karies, ini terbukti pada penderita Xerostomia sukrosa) maka beberapa bakteri penyebab karies di
(produksi ludah yang kurang) dimana akan timbul rongga mulut akan memulai memproduksi asam
kerusakan gigi menyeluruh dalam waktu singkat sehingga terjadi demineralisasi yang berlangsung
(Behrman, 2002). selama 20-30 menit setelah makan (Sondang,
2008).
Saliva disekresi oleh 3 pasang kelenjar saliva
besar yaitu glandula parotid, glandula Sehari-hari banyak dijumpai anak yang selalu
submandibularis, dan glandula sublingualis, serta dikelilingi penjual makanan jajanan, baik yang ada
beberapa kelenjar saliva kecil. Sekresi di rumah, di lingkungan tempat tinggal hingga di
sekolah. Anak yang sering mengkonsumsi jajanan
yang mengandungi gula, seperti biskut, permen, es
kelenjar anak-anak masih bersifat belum
krim memiliki skor karies yang lebih tinggi di
konstan, karena kelenjarnya masih dalam taraf bandingkan dengan anak yang mengonsumsi
pertumbuhan dan perkembangan. Saliva berfungsi
jajanan nonkariogenik seperti buah- buahan
sebagai pelicin, pelindung, penyangga, pembersih,
(Sondang, 2008).
pelarut dan anti bakteri. Saliva memegang peranan
lain yaitu dalam proses terbentuknya plak gigi,
saliva juga merupakan media yang baik untuk Frekuensi makan dan minum tidak hanya
kehidupan mikroorganisme tertentu yang menimbulkan erosi, tetapi juga kerusakan gigi atau
berhubungan dengan karies gigi. Sekresi air ludah karies gigi. Konsumsi makanan manis pada waktu
yang sedikit atau tidak ada sama sekali memiliki senggang jam makan akan lebih berbahaya
prosentase karies yang tinggi (Sondang, 2008). daripada saat waktu makan utama. Di antara
periode makan, saliva akan bekerja menetralisir
asam dan membantu proses remineralisasi. Tetapi
PH saliva normal, sedikit asam yaitu 6,5. apabila makanan dan minuman berkarbonat terlalu
Secara mekanis saliva berfungsi untuk membasahi
sering dikonsumsi, maka enamel gigi tidak
rongga mulut dan makanan yang dikunyah. Enzim-
mempunyai kesempatan untuk melakukan

4
Kelompok 4 : Penyakit Karies pada Gigi

remineralisasi dengan sempurna sehingga terjadi b. Indeks DEF-T Untuk Gigi Sulung
karies (Sondang, 2008). Indeks ini sama dengan DMF-T hanya saja indeks
DEF-T digunakan untuk gigi sulung. E disini
2.6 PENILAIAN KARIES GIGI maksudnya eksfoliasi, yaitu jumlah gigi sulung
yang hilang karena karies atau harus dicabut karena
karies. Namun dalam beberapa penelitian
Untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut eksofoliasi tidak digunakan (DF-T) karena
dalam hal ini karies gigi digunakan nilai indeks. mencegah kemungkinan terjadinya kesalahan,
Indeks adalah ukuran yang dinyatakan dengan sebab apakah pada eksfoliasi tersebut gigi
angka dari keadaan suatu golongan/kelompok responden benar-benar hilang karena karies atau
terhadap suatu penyakit gigi tertentu. Ukuran- bukan. Pada gigi sulung sering kali gigi hilang
ukuran ini dapat digunakan untuk mengukur derajat karena faktor resobsi fisiologis atau trauma. Rumus
keparahan dari suatu penyakit mulai dari yang untuk DEF- T sama dengan yang digunakan pada
ringan sampai berat. Untuk mendapatkan data DMF-T (Radiah, 2013).
tentang status karies seseorang digunakan indeks
karies agar penilaian yang diberikan pemeriksa
sama atau seragam (Herijulianti, 2002). 2.7 PENCEGAHAN KARIES

a. Indeks DMF-T Hugh Roadman Leavell dan E. Guerney Clark


Indeks DMF-T adalah indeks untuk menilai status (Leavell Clark) dari Universitas Harvard dan
kesehatan gigi dan mulut dalam hal karies gigi Colombia membuat klasifikasi pelayanan
permanen. Karies gigi umumnya disebabkan pencegahan, yaitu pencegahan primer, sekunder,
karena kebersihan mulut yang buruk, sehingga dan tersier.
terjadilah akumulasi plak yang mengandung
 Pencegahan Primer
berbagai macam bakteri. DMF-T merupakan
Pencegahan yang diarahkan pada tahap pre-
singkatan dari Decay Missing Filled-Teeth
patogenesis merupakan pelayanan
(Herijulianti, 2002).
pencegahan primer atau pelayanan untuk
mencegah timbulnya penyakit. Biasanya
Nilai DMF-T adalah angka yang menunjukkan ditandai dengan peningkatan kesehatan dan
jumlah gigi dengan karies pada seseorang atau perlindungan khusus. Peningkatan kesehatan
sekelompok orang. Angka D (decay) adalah gigi dilakukan dengan upaya promosi berupa
yang berlubang karena karies gigi, angka M tentang cara menyingkirkan plak yang efektif
(missing) adalah gigi yang dicabut karena karies atau cara menyikat gigi dan menggunakan
gigi, angka F (filled) adalah gigi yang ditambal benang gigi.
karena karies dan dalam keadaan baik (Amaniah,  Pencegahan Sekunder
2009). Pencegahan yang diarahkan pada tahap awal
pathogenesis merupakan pelayanan
Nilai DMF-T adalah penjumlahan D+ F+ T. berkembang atau kambuh lagi. Kegiatannya
Indikator utama pengukuran DMF-T menurut berupa diagnose dini dan pengobatan yang
WHO adalah pada anak usia 12 tahun, yang tepat. Contohnya adalah penambalan pada lesi
dinyatakan dengan indeks DMF-T yaitu ≤ 3, yang karies.
berarti pada usia 12 tahun jumlah gigi yang  Pencegahan Tersier
berlubang (D), dicabut karena karies gigi (M), dan Pencegahan yang diarahkan pada tahap akhir
gigi dengan tumpatan yang baik (F), tidak lebih pathogenesis untuk mencegah kehilangan
atau sama dengan 3 gigi per anak (Amaniah, 2009). fungsi. Kegiatannya berupa rehabilitasi.
Contoh dari itu berupa gigi palsu dan implant.
Rumus yang digunakan untuk menghitung DMF-T
: DMF-T = D + M + F 2.8 PENANGANAN KARIES
DMF-T rata-rata = Jumlah D + M + F/ Jumlah  Jika pembusukan berhenti sebelum
orang yang diperiksa mencapai dentin, maka email membaik
dengan sendirinya dan bintik putih di gigi
Kategori DMF-T menurut WHO : 0,0 – 1,1 = akan menghilang. Perlindungan dentin
sangat rendah dengan mengulas fluor.
1,2 – 2,6 = rendah  Jika pembusukan telah mencapai dentin,
2,7 – 4,4 = sedang maka bagian gigi yang membusuk harus
diangkat dan diganti dengan penambalan
4,5 – 6,5 = tinggi (restorasi) dengan tumpatan tetap
6,6 > = sangat tinggi (Amaniah, 2009). (amalgam, glass ionomer, komposit resin).

5
Kelompok 4 : Penyakit Karies pada Gigi

 Perawatan saluran akar gigi Masyarakat sangat rentan terhadap


 Jika dentin yang menutup pulpa sudah penyakit, khususnya penyakit karies gigi.
tipis maka dapat dilakukan pulp capping Kurangnya kesadaran akan pentingnya
indrek dengan menggunakan pelapis kesehatan gigi dan mulut dan tidak adanya
dentin Ca(OH)2. tenaga medis gigi di daerah-daerah terpencil
 Pencabutan gigi bila kerusakan gigi sudah menyebabkan masyarakat kurang menjaga
parah dan tidak bisa dipertahankan lagi. kesehatan gigi dan mulutnya. Masyarakat
 Penambalan gigi (setelah jaringan yang kurang menyadari akan adanya perawatan gigi
rusak dibuang dan dibersihkan) seperti indikasi penambalan gigi atau filling
dan masyarakat hanya mengetahui adanya
pencabutan apabila gigi sudah mengalami
karies (lubang), sehingga angka kasus
III. III. HASIL PENELITIAN pencabutan gigi lebih tinggi dari pada
penambalan. Gambaran karies dengan kategori
berdasarkan penelitian jurnal masyarakat pesisir DMF-T berdasarkan umur yaitu kelompok
pantai kelurahan takisung kecamatan takisung umur 20-30 tahun sebanyak 16 (32%) orang
kabupaten tanah laut, hasil penelitian yang dengan rata-rata DMF-T sebanyak 2,1.
dilakukan pada 60 orang masyarakat pesisir pantai Sedangkan kelompok umur 31-40 tahun
Kelurahan Takisung Kecamatan Takisung sebanyak 18 (36%) orang dengan rata rata
Kabupaten Tanah Laut dapat dilihat dalam DMF-T sebesar 3,9, dan kelompok umur 41-50
distribusi tabel di bawah ini. Tabel 1. Distribusi tahun sebanyak 16 (32%) orang dengan rata-
DMF-T Masyarakat Pesisir Pantai Kelurahan rata DMF-T tertinggi 4,0. Hasil ini
Takisung Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah menunjukkan bahwa keadaan atau kondisi gigi
Laut tahun 2015 DMF-T n % Rata Rata Decay 283 kelompok usia muda lebih baik dibandingkan
57 % 5,7 Missing 216 43 % 4,3 Filling 0 0 0 kelompok usia tua. Hal ini menunjukkan
Jumlah 499 100% 9,8 Berdasarkan (Tabel 1) bahwa semakin bertambah umur seseorang,
diketahui bahwa distribusi berdasarkan kategori risiko terkena karies menjadi lebih besar. Hal
decay sebanyak 283 (57%) dengan rata rata 5,7, ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan
missing sebanyak 216 (43%) dengan rata rata 4,3 bahwa sejalan dengan bertambahnya usia
dan filling 0 (tidak ada). Tabel 2. Distribusi DMF- seseorang, jumlah karies pun meningkat.
T Berdasarkan Umur Masyarakat Pesisir Pantai Gambaran DMF-T berdasarkan jenis kelamin
Kelurahan Takisung Kecamatan Takisung menunjukkan hasil bahwa angka DMF-T laki-
Kabupaten Tanah Laut tahun 2015 Kelompok laki lebih tinggi dibandingkan perempuan
Umur N % DMF-T n RataRata 20-30 tahun 16 yaitu 45 orang laki-laki dengan rata rata 8,9
orang 32 % 109 2,1 31-40 tahun 18 orang 36 % sedangkan 5 orang perempuan dengan rata rata
193 3,8 41-50 tahun 16 orang 32 % 197 3,9 Jumlah 1,1. Hal ini diperkirakan karena perempuan
50 orang 100% 499 9,8 Berdasarkan (Tabel 2) cenderung lebih telaten dalam menjaga
diketahui bahwa distribusi berdasarkan umur kesehatan giginya, karena menyangkut estetik
adalah kelompok umur 20-30 tahun sebanyak 16 seseorang. Sukmana : Gambaran Karies
orang (32%) dengan ratarata DMF-T terendah 2,1, Dengan Menggunakan DMF-T 184 Gambaran
sedangkan umur 31-40 tahun sebanyak 18 orang distribusi DMF-T pada masyarakat di daerah
(36%) dengan rata rata DMF-T 3,9 dan kelompok tersebut yaitu decay sebanyak 283 gigi dengan
umur 41-50 tahun sebanyak 16 orang (32%) rata-rata 5,7, missing sebanyak 216 gigi
dengan rata-rata tertinggi DMF-T sebesar 4,0. dengan rata-rata 4,3 dan filling 0 gigi.
Tabel 3. Distribusi DMF-T Berdasarkan Jenis Tingginya decay atau gigi karies dan
Kelamin Masyarakat Pesisir Pantai Kelurahan banyaknya gigi yang hilang disebabkan karena
Takisung Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah kurangnya perhatian masyarakat terhadap
Laut tahun 2015 Jenis kelamin n % DMF-T n keadaan gigi dan mulutnya. Tidak adanya
RataRata Laki-laki 45 orang 90% 441 8.8 filling atau gigi yang ditambal disebabkan
Perempuan 5 orang 10% 58 1,1 Jumlah 50 100% karena kurangnya pengetahuan masyarakat
499 9,8 Berdasarkan (Tabel 3) diketahui bahwa tentang perawatan gigi. Masyarakat cenderung
distribusi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan hanya mengetahui bahwa gigi yang sudah
bahwa keadaan gigi laki-laki lebih buruk karies atau lubang tidak dapat dirawat lagi
dibandingkan dengan perempuan. Laki-laki sehingga lebih memilih untuk mencabut
sebanyak 45 orang memiliki rata rata DMF-T 8,8 giginya. Selain faktor kesadaran dan kebiasaan
dan perempuan sebanyak 5 orang memiliki rata rata masyarakat, terdapat faktor lain penyebab
DMF-T 1,1. tingginya angka karies di masyarakat pesisir,
yaitu faktor alam. Penelitian yang dilakukan
IV. PEMBAHASAN ini menyebutkan bahwa masyarakat yang
tinggal di daerah terpencil banyak

6
Kelompok 4 : Penyakit Karies pada Gigi

mengkonsumsi ikan. Tingginya kadar mineral Pemeliharaan. Ed. Revisi. Medan: USU
yang terkandung dalam ikan menyebabkan Press, 2016: 4-28
proses pembusukan mudah terjadi. Hasil 3. Nasution M. Peranan Mikroorganisme
penelitian menunjukkan secara signifikan Infeksi Rongga Mulut. Medan: USU
bahwa daerah pesisir memiliki angka kejadian Press, 2017: 17, 20
karies serta skor DMF yang lebih tinggi. 4. FKG UI. Karies. http://lib.ui.ac.id. 2018
Prevalensi karies gigi 82,3% dengan rata-rata 5. Tarigan R. Karies Gigi. Jakarta:
DMF-T sebesar 2,6. distribusi karies gigi Hipokrates, 1995
meningkat sesuai pertambahan umur dan 6. Sukmana B. Jurnal gambaran karies
mencakup pada semua tingkat pendidikan. dengan menggunakan dmf-t pada
Menurut Takada dan Fukushima (1986), air masyarakat pesisir pantai kelurahan
garam mempunyai pengaruh terhadap takisung kecamatan takisung kabupaten
kelangsungan bakteri khususnya bakteri utama tanah laut. Diakses dari :
penyebab karies gigi yaitu Streptococcus http://download.portalgaruda.org/article.p
mutans (Firman, 2010). hp?article=443778&val=9342&title=GA
MBARAN%20KARIES
V. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian ini, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa gambaran karies
dengan kategori DMF-T masyarakat pesisir
pantai di daerah terpencil, Kelurahan Takisung
tahun 2015 termasuk kriteria cukup tinggi. Hal
ini menunjukkan bahwa kondisi kesehatan gigi
dan mulut masyarakat Kelurahan Takisung
tergolong dalam kategori buruk. Selain itu,
diketahui juga bahwa kesadaran masyarakat
Kelurahan Takisung tentang kesehatan gigi
dan mulut sangat kurang. Kurangnya tenaga
medis serta prasarana penyokong dalam
bidang kesehatan gigi dan mulut di Kelurahan
Takisung menjadi beberapa faktor tingginya
karies masyarakat pesisir pantai. Saran yang
dapat diberikan adalah perbaikan kuantitas dan
kualitas sarana dan petugas kesehatan gigi dan
mulut untuk memotivasi dan mendukung
perkembangan kesehatan gigi dan mulut
masyarakat ke arah yang lebih baik. Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan pada
masyarakat antara lain himbauan agar
masyarakat mau melakukan penambalan gigi,
kerja sama dengan institusi pemerintah lainnya
dalam pelaksanaan fluoridasi air minum, serta
rutinitas berupa kontrol kesehatan gigi dan
mulut minimal 6 bulan sekali ke puskesmas.
Hal-hal tersebut perlu dipertimbangkan dalam
aplikasinya secara merata agar dapat
membantu memajukan kualitas kesehatan gigi
dan mulut masyarakat pesisir pantai di
Kelurahan Takisung.

VI. DAFTAR PUSTAKA


1. Edward Dental Caries Control in children.
In: International Dental Conference on
“Caries Control throughout Life in Asia”,
Krabi, 2013: 75-83
2. Pintauli S, Hamada T. Menuju Gigi dan
Mulut Sehat Pencegahan dan