You are on page 1of 7

MAKROEVOLUSI

A. LATAR BELAKANG
Evolusi merupakan salah satu topik yang masih terus menjadi perdebatan di dunia pendidikan
biologi, dan merambah di kehidupan masyarakat luas. Beberapa tokoh evolusionis berusaha
untuk menjelaskan tentang peristiwa evolusi, mereka dari berbagai sudut pandang yang masing-
masing, sehingga evolusi masih sulit untuk diterima oleh semua orang. Hal ini terkendala oleh
faktor X yang biasa dikenal dengan istilah “Missing Links”. Hilangnya beberapa penghubung
evolusi menjadikan kendala yang masih sulit, untuk menghubungkan mata rantai kejadian
evolusi dapat dijelaskan secara terinci (Campbell, 1999). Para ilmuwan yang menggunakan
metode ilmiah terus berusaha menyingkap kabut evolusi melalui sumbersumber purbakala yang
di dapat. Bukti uji Palaentologi, evolusi biologi, dan lempeng tektonik. Kita mengetahui bahwa
teori evolusi itu ada banyak, salah satunya teori yang membahas tentang makroevolusi dan
mikroevolusi yang akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapat diberi rumusan masalah sebagai berikut.
1. bagaimana penjelasan mengenai Makroevolusi?
C. Pengertian Makroevolusi
Makroevolusi adalah asal mula spesies baru dan kelompok taksonomik lain. Kemunculan
struktur baru akibat evolusi yaitu adanya perubahan dinamika perkembangan, baik temporal
(heterokroni) maupun spasial (homeosis) yang memainkan peranan penting dalam peristiwa
makroevolusi. Suatu upaya penelitian dapat memberikan banyak informasi mengenai keterkaitan
dan hubungan antara mutasi gen yang mengatur perkembangan dan sejarah evolusi. Makroevolusi
dapat terjadi ketika mikroevolusi terjadi berulang kali selama jangka waktu yang panjang dan
mengarah ke pembentukan spesies baru. Selain itu mikroevolusi juga dapat terjadi akibat dari
perubahan lingkungan utama, seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, atau asteroid menghantam
Bumi, yang mengubah lingkungan sehingga seleksi alam menyebabkan perubahan besar dalam ciri-
ciri suatu spesies (Stearns, 2003).
Makroevolusi adalah skala analisis evolusi yang dipisahkan dari lungkang gen (gen
pool). Dalam genetika populasi, suatu lungkang gen (atau gene pool) adalah populasi yang
menampung berbagai alel yang mungkin tersedia dalam suatu spesies. Populasi menjadi
lungkang gen apabila di dalamnya terdapat keunikan akibat proses saling kawin di dalamnya
terjadi secara tertutup (terisolasi), terpisah dari populasi lain. Kajian makroevolusi berfokus
pada perubahan yang terjadi pada tingkatan spesies atau populasi. Hal ini berbeda dengan
mikroevolusi,yang merujuk pada perubahan evolusi yang kecil (biasanya dideskripsikan
sebagai perubahan pada frekuensi gen atau kromosom) dalam suatu spesies ataupun
populasi. Makroevolusi pertama-tama menyangkut :
1. Suatu penyimpangan adaptif/pergeseran adaptif suatu spesies karena suatu spesies
turunan tersebut masuk ke dalam lingkungan dengan keadaan ekologi yang tidak identik
dengan lingkungan spesies induk. Agar suatu populasi dapat menjadi mantap di dalam
suatu lingkungan baru, maka harus ada keadaan yang menguntungkan terjadi bersamaan.
Pertama, tidak akan ada pergeseran jika individu yang masuk dalam lingkungan
baru dapat hidup. Ini berarti bahwa perbedaan ekologi antara lingkungan leluhur dengan
lingkungan baru itu tidak boleh besar atau jika perbedaan itu besar seperti dalam transisi
dari air ke darat, hewan baru tersebut harus sudah mengembangkan ciri-ciri yang
diperlukan dalam habitat baru, seperti paru-paru pada vertebrata dalam transisi air-darat.
Hewan yang baru masuk tersebut memerlukan sedikit pre-adaptasi.
Kedua, pergeseran tidak akan berhasil, bahkan pada spesies yang sudah
preadaptif, jika habitat yang akan dihuni spesies baru tersebut tidak mempunyai makanan
atau sumber lain yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dalam periode ketika banyak spesies
yang hidup dalam habitat tersebut menjadi penuh (Stearns, 2003).
Jika perbedaan lingkungan itu besar, maka populasi yang tergeser harus
mempunyai pre-adaptasi dan habitat yang akan dihuni spesies baru juga harus
mempunyai sumber-sumber yang belum dimanfaatkan sebelumnya.
D. Sifat makroevolusi
Perubahan evolusi jangka panjang dapat berlangsung dengan berbagai cara. Suatu
spesies yang hidup dalam lingkungan yang sedang berubah dapat mengalami seleksi yang
secara perlahan-lahan menggeser nilai rata-rata dan kisaran variasi spesies tersebut kearah
gradien lingkungan. Hal ini disebut spesiasi filetik. Populasi pada awal dan akhir urutan ini
cukup berbeda sehingga ahli biologi membenarkan mengangapnya sebagai spesies yang
berlainan, meskipun menarik garis pemisah antara spesies tersebut merupakan masalah,
kerana generasi tersebut tumpang tindih dalam morfologi dan mungkin juga dalam
reproduksi jadi spesies filetik tidak sama dengan spesies di atas, dimana divergensi terjadi
agak cepat pada populasi kecil yang semiterisolasi oleh perkembangan isolasi reproduksi
Analisis dari kelompok yang tercatat dengan baik dalam laporan fosil
menggambarkan bahwa spesies baru timbul agak lebih cepat (secara geologi) daripada jika
dengan cara spesiasi normal. Sekali terbentuk spesies baru, maka spesies tersebut tetap tidak
berubah selama jutaan tahun dan kemudian seringkali menjadi punah. Sebelum punah,
spesies turunan bercabang-cabang ke arah yang berbeda-beda. Pola spesies yang timbul dan
tengggelam tiba-tiba ini disebut ekuilibria yang tepat. Arah kemana percabangan ini
diutamakan atau dimana terjadi kepunahan ditentukan oleh keberhasilan adaptasi pada
lingkungan atau oleh faktor yang mempengaruhi laju spesiasi, yang tidak semunya adaptif;
tekanan mutasi; pola distribusi; cara reproduksi yang mempengaruhi mudahnya suatu
spesies terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang semiterisolasi dan kesuburan
(Panjaitan, 2008).

Gambar 1. Menunjukkan bahwa peristiwa evolusi tidak selalu berorientasi pada hasil
Makroevolusi proses yang terjadi selama beberapa ribu tahun dan menjelaskan bagaimana manusia
berevolusi dari primata dan reptil kemudian berubah menjadi burung. Mikroevolusi menyebabkan
perubahan kecil dalam spesies yang sama sedangkan makroevolusi mengarah pada penciptaan spesies
baru dari spesies induk. Perubahan kutilang dipisahkan dari kutilang lain, diamati oleh Darwin di
Kepulauan Galapagos yang terkenal dengan benar sebagai gambaran mikroevolusi oleh Darwin. Dia
mengatakan bahwa burungburung telah berevolusi dalam waktu tertentu, arti sempit istilah tersebut.
Mempelajari urutan-urutan fosil dalam strata dari berbagai lokasi dapat membawa kita melacak
makroevolusi, kejadian utama dalam sejarah evolusi kehidupan di bumi (Fried, 2006).
Bukti lain terjadinya makroevolusi adalah studi embriologi perbandingan, morfologi divergensi,
biokimia comparative, skema klasifikasi, identifikasi spesies, rekontruksi sejarah evolusi, skema lima
kingdom. Perubahan yang menyebabkan perbedaan yang lebih besar dan nyata diantara golongan
taksonomi diatas spesies. Hal ini timbul dari serangkaian panjang kejadian spesies yang masing-masing
membawa spesies keturunan makin jauh dari bentuk leluhur asli.
Makroevolusi pertama-tama menyangkut :
1. Suatu penyimpangan adaptif/pergeseran adaptif suatu spesies karena suatu spesies turunan
tersebut masuk ke dalam lingkungan dengan keadaan ekologi yang tidak identik dengan lingkungan
spesies induk. Agar suatu populasi dapat menjadi mantap di dalam suatu lingkungan baru, maka harus
ada keadaan yang menguntungkan terjadi bersamaan.
2. Jika perbedaan lingkungan itu besar, maka populasi yang tergeser harus mempunyai peradaptasi
dan habitat yang akan dihuni spesies baru juga harus mempunyai sumbersumber yang belum
dimanfaatkan sebelumnya.
E. Pola-pola Makroevolusi
Makroevolusi berfokus pada pembentukan kelompok-kelompok taksonomik baru
diatas tingkat spesies. Walaupun banyak mekanisme sama yang terlibat dalam spesiasi
bekerja juga dalam makroevolusi, rentang waktu yang diperlukan jauh lebih besar. Banyak
yang tidak mengetahui tren luas makroevolusi berasal dari rekaman fosil. Akan tetapi,
perubahan-perubahan dalam sebuah kelompok yang mengarah pada terjadinya modifikasi-
modifikasi yang tak seberapa drastis pada populasi atau bahkan pembentukan spesies baru
(mikroevolusi) dapat dipelajari melalui pengukuran frekuensi gen dalam populasi (Stearns,
2003). Pola-pola seleksi mencakup :
1. Seleksi penstabilisasi, dengan ekstrem-ekstrem pada kedua ujung spektrum dideteksi
secara tak proporsional hingga populasi cenderung mengelompok disekitar rata-rata,
walaupun pada setiap dihasilkan variasi
2. Seleksi terarah (directional selection), dengan salah satu ekstrem lebih disukai daripada
ekstrem yang satu lagi, sehingga nilai rata-rata cenderung bergerak ke arah ekstrem yang
lebih disukai
3. Seleksi pendiversifikasi (seleksi disruptif), dengan dua atau lebih suptipe lebih disukai
dan populasi cenderung berevolusi menjadi sebuah subkelompok ataupun spesies baru.

Seleksi pendiversifikasi beroperasi sangat baik pada mikroevolusi maupun


makroevolusi, dan seleksi terarah mirip dengan proses makroevolusioner yang dikenal
sebagai perubahan filetik. Pola-pola dasar perubahan luas pada makroevolusi yang
ditunjukkan oleh rekaman fosil adalah :
1. Perubahan filetik (anagenesis), perubahan bertahap pada satu garis keturunan sehingga
pada akhirnya keturunannya sangat berbeda dengan nenek moyangnya. Anagenesis
dapat disamakan dengan seleksi terarah dalam jangka waktu yang lama.
2. Kladogenesis, tren makroevolusioner dengan terjadinya percabangan. Sehingga satu
garis keturunan menghasilkan dua atau lebih garis keturunan. Populasi-populasi kecil
yang muncul dari garis keturunan itu dapat berada pada posisi yang sangat memadai
untuk menghasilkan kelompok-kelompok baru. Kladogenesis telah ditekankan sebagai
salah satu pola makroevolusiner utama oleh Ernst Mayr.
3. Radiasi adaptif, pembentukan secara relatif mendadak banyak kelompok baru, yang
mampu bergerak menuju lingkungan baru dan mengeksploitasinya. Diverifikasi yang
relatif cepat dari mamalia awal selama terjadi kepunahan dinosaurus merupakan contoh
yang baik dari diverifikasi semacam itu. Radiasi adaptif menggabungkan sifat-sifat
kladogenesis dan anagenesis, sebab garis-garis keturunan baru yang terbentuk selama
masa evolusioner yang berubah dengan cepat itu mungkin mengalami transisi-transisi
yang progresif.
4. Kepunahan, lebih dari 99,99 spesies yang pernah di evolusikan kini tak ada lagi.
Hilangnya keberagaman itu merupakan sifat tak terelakkan dari evolusi pada semua
kingdom. Lingkungan yang berubah membuat organisme yang kemarin fit, tak lagi fit
dan terancam kepunahan (Fried dan Hademenos, 2006).

Gambar (1). Makroevolusi vs mikroevolusi (hcevolution.wikispaces.com)

F. Bukti-bukti makroevolusi
Sebagian besar bukti perubahan evolusi berskala besar (disebut evolusi makro)
bersumber dari peninggalan berupa fosil. Hanya pada fosil kita dapat mengamati evolusi
untuk jangka waktu cukup lama agar bisa mengetahui pola skala besar. Dengan fosil dapat
menunjukkan jatuh bangunnya kelompok pada semua peringkat taksonomi, Species, Genus
datang dan pergi, demikian pula halnya Familia, Ordo dan Classis yang mengandung spesies
itu. Semakin besar kelompok semakin inklusif kelompok tersebut, tetapi pola bagi semua
kelompok sama saja. Kemudian ada kepunahan masal, dimana beberapa kelompok besar
punah pada waktu yang kurang lebih sama. Kita juga dapat melihat kecenderungan evolusi,
menurut garis silsilah, dimana anggota-anggota garis silsilah tersebut berevolusi secara
berkesinambungan pada arah yang sama, melalui banyak spesies dan selama waktu yang
panjang. Seperti itulah gejala evolusi makro.
Paleontologi, biologi perkembangan evolusioner, genomika perbandingan, dan
filostratigrafi genomik berkontribusi terhadap kebanyakan bukti-bukti akan pola-pola dan
proses-proses alam yang dapat diklasifikasikan sebagai makroevolusi. Sebagai contoh
makroevolusi adalah kemunculan bulu selama evolusi burung dari dinosaurus teropoda.
Kehidupan di bumi berevolusi dengan cara bereaksi terhadap perubahan kondisi
geologis. Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli paleontologi terkenal, Alfred Roman,
alam telah menghasilkan sejumlah model eksperimental yang dapat menyesuaikan diri
dengan bumi yang selalu berubah. Pada kenyataannya ahli ilmu buni membagi waktu
geologis dengan jalan mengkhususkan interval waktu tertentu terhadap bentuk kehidupan
yang dominan.
Tidak seperti planet-planet lain pada sistem matahari, bumi terus aktif secara
geologis. Sesudah pengendapan dari pengumpulan debu kosmis 4,6 milyar tahun yang lalu,
bahan-bahan dari planet mulai mengatur dirinya menjadi unit-unit yang terus berinteraksi
satu sama lain secara dinamis. Pengumpulan partikel tekanan menyebabkan bumi memanas
sebagai akibat dari friksi (benturan) dan aktivitas radioaktif. Perkiraan temperatur pada
tahap permulaan bumi menunjukkan sekitar 1.000oC. Panas dalam bumi tetap menjadi
sumber energi untuk proses diferensiasi proto bumi yang homogen, untuk dijadikan
komponen yang tetap. Tahap mula dari diferensial adalah mencairnya besi dan pengerasan
sesudahnya dari elemen ini menjadi core/inti yang berdiameter lebih dari 10.000 kilometer.
Ketika pemanasan terus berlangsung, elemen yang lebih ringan naik dan elemen
yang lebih berat tenggelam ke inti bumi. Sementara itu yang mengelilingi inti bumi, namun
berada tepat di bawah lapisan terluar adalah “matel” (selimut). Lapisan terluar di atas matel
terdiri dari atmosfer, litosfer dan crust/debu-debu halus. Karena perbedaan temperatur
diantara lapisan-lapisan, termo “arus convention” membentuk apa saja yang seperti yang
dilakukan dalam atosfer. Pergeseran dari arus-arus batu ini merupakan kunci untuk mengerti
mengapa lapisan terluar bumi selalu mengatur kembali dirinya melalui pergeseran benua,
vulkanisme dan daerah-daerah/zona-zona subduction. Fenomena ini merupakan salah satu
bagian dari plate tecnonics. Piringan tektonik merupakan hal penting untuk mengetahui
biostratigrafi bumi. Jika ingin menelusuri sejarah kehidupan bumi, maka harus kerap
kembali pada pembicaraan mengenai piringan tektonis (Fried,2006) .
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A., J. B. Reece dan L.G. Mitchell. 1999. Biology : Fifth Edition. Addison Wesley
Longman. Inc. New York
Fried, G.H. & Hademenos, G.J. 2006. Schaum’s Outlines: Biologi, Edisi Kedua. Jakarta : PT.
Gelora Aksara Pratama.
Panjaitan, S. 2008. Makroevolusi. [Online].https://sitapanjaitan.wordpress.com/2008/12/-
22/makroevolusi/. Diakses pada tanggal 6 September 2018
Stearns, S.C & Hoekstra, R.F. 2003. Evolution an Introduction. New York : Oxford University
Press