Вы находитесь на странице: 1из 11

3.

Pemeriksaan Umum

Pemeriksaan umum pada setiap anggota tubuh. Gejala lokal pada lutut dapat

ditimbulkan oleh adanya penyakit sistemik.

Gerakan sendi lutut

Pemeriksaan gerakan sendi lutut sangat penting oleh karena setiap kelainan pada

lutut. Pada pemeriksaan perlu diketahui apakah gerakan disertai nyeri atau

krepitasi. Secara normal gerakan fleksi pada sendi lutut sebesar 120-145° dan

gerakan ekstensi 0° dan mungkin dapat ditemukan hiperekstensi sebesar 10°.

1. Pemeriksaan ligamentum medial dan lateral. Robekan pada ligamentum

medial dapat diperiksa melalui uji abduction stress dan pada ligamentum lateral

adduction stress. Pada pemeriksaan ini sendi lutut dalam keadaan ekstensi penuh,

satu tangan pemeriksa memegang pergelangan kaki dan satunya pada lutut.

Dengan kedua tangan dilakukan abduksi untuk menguji ligamentum medial dan

adduksi untuk menguji ligamentum lateral. Apabila ada robekan ligamentum

maka dapat dirasakan sendi bergerak melebihi batas normal.

2. Pemeriksaan ligamentum krusiatum anterior dan posterior. Kedua ligamentum

ini berfungsi untuk stabilisasi sendi lutut ke arah depan dan belakang.

Ligamentum krusiatum anterior berfungsi untuk mencegah tibia tergelincir ke

depan femur. Sedangkan ligamentum krusiatum posterior pada arah sebaliknya.


Uji Drawer. Lutut difleksikan 90° dan pemeriksa duduk pada kaki penderita

untuk mencegah gerakan kaki. Dengan meletakkan kedua tangan di belakang tibia

bagian proksimal dan kedua ibu jari pada kondilus femur, kemudian dilakukan

tarikan pada tibia ke depan dan ke belakang. Kecurigaan adanya robekan pada

ligamentum krusiatum apabila ada gerakan yang abnormal, baik ke depan

ataupun ke belakang.

Uji Lachman. Pada pemeriksaan ini lutut difleksi 15-20°. Satu tangan memegang

tungkai atas pada kondilus femur, sedangkan tangan lainnya memgang tibia

proksimal. Kedua tangan kemudian digerakkan ke depan dan ke belakang antara

tibia proksima dan femur.

Pemeriksaan pivot shift lateral. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan

tambahan untuk mengetahui defisiensi pada ligamentum krusiatum anterior.

Caranya kaki yang mengalami kelainan diangkat oleh pemeriksa, dimana kaki

kanan diangkat oleh tangan kanan dan kiri diangkat oleh tanagn kiri dan lutut

dalam keadaan ekstensi maksimal. Dengan satu tangan pemeriksa memutar dari

arah luar tungkai bawah persis di sebelah bawah lutut sehingga terjadi tekanan

valgus. Pada saat yang bersamaan tibia dirotasi ke medial. Selanjutnya lutut

difleksi secara perlahan-lahan dari posisi ekstensi. Pemeriksaan positif apabila


kondilus lateralis tibia terelokasi secara spontan pada kondilus femur ketika fleksi

mencapai 30-35°.

Uji Rotasi. Uji rotasi dilakukan untuk mengetahui adanya robekan meniskus dan

dikenal sebagai uji Mc Murray. Pada pemeriksaan ini lutut di ekstensikan

kemudian dilakukan eksorotasi maksimal untuk memeriksa meniskus medial atau

dengan endorotasi maksimal untuk memeriksa meniskus lateral. Penderita

berbaring terlentang , tungkai bawah dipegang, lutut difleksikan 90° dan

dilakukan eksorotasi maksimal dan kemudian tungkai diluruskan sambil

mempertahankan eksorotasi. Pada kerusakan meniskus, maka penderita merasa

nyeri, mungkin dapat diraba adanya krepitasi atau terdengar suara klik dari tanduk

depan/belakang atau bagian dari meniskus yang lompat keluar dari antara

kondilus femur. Pemeriksaan meniskus medial dilakukan dengan endorotasi

maksimal dan mempunyai prinsip serta prosedur pemeriksaan yang sama dengan

pemeriksaan eksorotasi maksimal.

Faktor eksterna penyebab nyeri lutut


Nyeri pada lutut tidak selalu oleh karena kelainan pada lutut itu sendiri tapi juga

mungkin oleh karena kelainan pada panggul atau daerah lain misalnya nyeri

skiatika oleh karena adanya prolapsus diskus intervertebralis.

Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan radiologis rutin pada kelainan sendi lutut yaitu foto polos AP dan

lateral dimana bagian dari femur dan tibia harus terlihat. Pemeriksaan lain adalah

Sky line atau pemeriksaan tangensial yang berguna untuk mengetahui osteoartritis

patelo femoral. Pemeriksaan radiologis dengan kontras yaitu artrografi kadangkala

bermanfaat pada kelainan-kelainan yang tidak jelas pada sendi lutut. Pemeriksaan

lainnya yaitu radioisotope scanning.

Pemeriksaan Tungkai bawah, Pergelangan Kaki dan Jari-jari Kaki

Kelainan pada kaki menempati frekuensi yang kedua setelah kelainan

punggung dalam kasus bedah ortopedi.

Beberapa penyebab kelainan pada kaki yaitu:


Faktor herediter. Kaki merupakan bagian dari badan yang relatif cepat

berevolusi sebagai konsekuensi untuk menunjang dan menopang tubuh yang

tegak. Oleh karena itu struktur dan bentuk kaki cenderung bervariasi dan mungkin

terjadi gangguan dalam efisiensinya.

Tekanan postural. Beban tubuh yang berlebihan menyebabkan beban yang harus

ditanggung oleh kaki bertambah dan dapat menimbulkan kelainan pada kaki.

Pemakaian alas kaki. Pemakaian alas kaki terutama pada wanita seperti

pemakaian sepatu dengan bentuk dan posisi yang tidak sesuai akan mempengaruhi

secara mekanik pada kaki.

Anamnesis

Pada anamnesis harus ditanyakan secara jelas distribusi nyeri yang terjadi, di

samping riwayat pekerjaan, kebiasaan penderita, riwayat trauma sebelumnya serta

gangguan yang terjadi pada saat berdiri dan berjalan.

Pemeriksaan klinik pada tungkai bawah, pergelangan kaki dan kaki.

1. Pemeriksaan lokal tungkai bawah, pergelangan kaki dan kaki.

Inspeksi
Kontur tulang

Kontur jaringan lunak

Warna dan tekstur kulit

Adanya jaringan parut atau sinus

Palpasi

suhu kulit

Kontur tulang

Kontur jaringan lunak


Nyeri lokal

Pergerakan (aktif dan pasif dan dibandingkan dengan sisi yang normal)

Pergelangan kaki

- Plantar fleksi

- Ekstensi (dorsofeksi) Sendi subtalar

- Inversi-adduksi

- Eversi-abduksi

Sendi midtarsal

- Inversi-adduksi
- Eversi-abduksi

Jari kaki

- Fleksi

- Ekstensi

Kekuatan

Setiap otot harus diuji dan dibandingkan dengan sisi yang sebelah.

Stabilitas

Integritas ligamen khususnya ligamentum lateral dari pergelangan kaki

Cara berjalan (gait) Keadaan alas kaki (sepatu)


Bandingkan dengan sisi yang sebelah

Sirkulasi perifer

Denyut a.dorsalis pedis Denyut a.tibialis posterior Denyut a.poplitea

Denyut a.femoral

Pemeriksaan adanya sianosis pada kaki

Penapakan kaki saat berdiri Bentuk arkus longitudinal Bentuk kaki

2. Pemeriksaan umum

Efisiensi jari kaki

Efisiensi otot betis


Pemeriksaan anggota tubuh lainnya untuk menentukan apakah gejala yang terjadi

merupakan manifestasi dari suatu penyakit sistemik tubuh.

Evaluasi status perifer

Evaluasi klinik yang dilakukan meliputi keadaan kulit dari kaki, kuku, perubahan

warna, suhu, denyutan arteri dan toleransi latihan.

Pencatatan tekanan sistolik. Bila terdapat iskemik, maka kulit menipis dan tidak

elastis. Kuku menjadi buram, menebal dan ireguler. Kaki lebih dingin, berwarna

merah bata atau kebiruan (sianotik) pada uji Buerger.

Pencatatan volume denyut

Pemeriksaan aliran darah kaki dengan menggunakan prinsip teknik Doppler

Arteriografi. Struktur arterial serta adanya penyumbatan vaskuler dapat

terlihat melalui pemeriksaan radiologis setelah penyuntikan zat kontras.


Pemeriksaan gerakan pada pergelangan kaki dan sendi tarsal

Secara normal pergerakan pergelangan kaki ke arah ekstensi atau dorso fleksi

sebesar 15-20° dan plantar fleksi sebesar 40-50°

Pergerakan sendi subtalar dan midtarsal. Gerakan pada sendi subtalar dan

midtarsal terjadi secara bersama-sama sebagai satu unit kesatuan. Gerakan ini

meliputi :

- Kombinasi gerakan inversi dan adduksi (supinasi) sebesar 5°.

- Kombinasi gerakan eversi dan abduksi (pronasi) sebesar 5°.

Pada saat kedua kaki menginjak diperhatikan arkus longitudinalis apakah

bentuknya normal atau ceper, apakah ada pes kavus, pes planus, pes valgus dan

pes varus.

Pemakaian alas kaki. Pemeriksaan pada kaki tidak lengkap tanpa disertai dengan

pemeriksaan alas kaki yang dipakai , apakah ada tekanan-tekanan tertentu pada

alas kaki atau alas kaki tidak sesuai/sempit.