Вы находитесь на странице: 1из 10

http://mogerr-bwubaloks.blogspot.com/2011/10/askep-pk-rumah-tangga-kdrt.

html

askep PK rumah tangga (KDRT)


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan kebudayaan masyarakat, membawa banyak perubahan dalam segala
segi kehidupan manusia. Setiap perubahan situasi kehidupan individu baik yang sifatnya
positif ataupun yang negatif dapat mempengaruhi keseimbangan fisik, mental, dan
sosial. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan agar selalu sehat baik
fisik, mental ataupun sosial. Manusia sebagai makluk biologi-psikologi-sosial-cultural
mempunyai sejumlah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dan apabila mengalami kegagalan
dalam mendapatkan keutuhan tersebut, maka akan terjadi ketidakseimbangan (Stuart and
Sunnden,1991).
Seseorang akan beradaptasi terhadap ketidakseimbangan melalui mekanisme
penanganan yang dipelajari pada masa lampau. Apabila seseorang berhasil beradaptasi
dimasa lampau, berarti ia telah mempelajari efektifitas mekanisme penangganan yang sangat
berguna bagi dirinya pada saat ini dan dimasa yang akan datang dan sebaliknya, jika adaptasi
dimasa lampau tak berhasil, maka ia tak punya mekanisme penanganan yang adekuat untuk
beradaptasi terhadap kesulitan yang lebih komplek dimasa mendatang dan bisa menyebabkan
terjadinya keadaan yang mempunyai pengaruh buruk terhadap kesehatan jiwa atau dengan
kata lain adalah gangguan jiwa.
Salah satu tanda dan gejala gangguan jiwa adalah ungkapan marah yang mal adaptif
yang dilakukan seseorang karena gagal dalam beradaptasi dan tak punya mekanisme
penanganan yang adekuat. Ungkapan marah yang mal adaptif, salah satunya adalah agresif,
yang akan membahayakan karena dapat timbul dorongan untuk bertindak baik secara
kontruktif maupun destruktif dan masih terkontrol. Marah agresif adalah suatu prilaku yang
menyertai rasa marah dan merupakan dorongan untuk bertindak baik secara kontruktif
maupun destruktif dan masih terkontrol. Pasien dengan marah agresif akan bersifat
menentang, suka membantah, bersikap kasar, kecenderungan menuntut secara terus-menerus,
bertingkah laku kasar disertai kekerasan (Stuart and Sunden,1991).
Permasalahan yang dihadapi dalam perawatan pasien dengan marah agresif adalah
sikap pasien yang tak kooperatif, membahayakan dirinya sendiri dan lingkungan serta
masalah pasien yang dapat menimbulkan dorongan agresifnya.
Umumnya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa ke rumah sakit jiwa.
Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan “pengawalan” oleh
sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku kekerasan seperti memukul anggota
keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan utama
yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga. Penanganan yang dilakukan oleh keluarga
belum memadai sehingga selama perawatan klien setidaknya sekeluarga mendapat
pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien (manajemen perilaku kekerasan). Asuhan
keperawatan yang diberikan di rumah sakit jiwa terhadap perilaku kekerasan perlu
ditingkatkan serta dengan perawatan intensif di rumah sakit umum. Asuhan keperawatan
perilaku kekerasan (MPK) yaitu asuhan keperawatan yang bertujuan melatih klien
mengontrol perilaku kekerasannya dan pendidikan kesehatan tentang MPK pada keluarga.
Seluruh asuhan keperawatan ini dapat dituangkan menjadi pendekatan proses keperawatan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar mengenai prilaku kekerasan pada keluerga?
2. Bagaimana asuhan keperawatan jiwa prilaku kekerasan pada keluarga?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan Asuhan keperawatan jiwa perilaku
kekerasan pada keluarga yang diharapkan akan mampu mengidentifikasikan seluruh masalah
yang terjadi sehubungan dengan Perilaku kekerasan.
2. Tujuan Khusus.
- Untuk mengetahui konsep dasar mengenai perilaku kekerasan.
- Untuk mengetahui mengenai asuhan keperawatan klien perilaku kekerasan.

BAB II
PEMBAHASAN

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

A. Pengertian
Perilaku kekerasan dalam keluarga adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap perempuan maupun anak. Hal
tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.
(Stuart dan Sundeen, 1995)
Undang-Undang PKDRT ini menyebutkan bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga
adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah
tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1).
Kekerasan dalam keluarga mencakup penganiayaan fisik, emosonal dan seksual pada
anak-anak pengabaian anak, pemukulan pasangan, pemerkosaan terhadap suami atau istri dan
penganiayaan lansia. Perilaku penganiyaan dan prilaku kekerasan yang tidak akan dapat
diterima bila dilakukan oanng yang tidak dikenal sering kali di tolerannsi selama bertahun-
tahun dalam keluarga. Dalam kekerasan keluarga, keluarga yang normalnya merupakan
tempat yang aman dan anggotanya merasa dicintai dan terlindung, dapat menjadi tempat
palinng berbahaya bagi korban.

B. Rentang Respon Marah


Adaptif
Maladaptif
Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk

Tindakan kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang
dapat membahayakan fisik, baik kepada diri sendiri maupun ornag lain. Sering disebut juga
gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan
gerkan motorik yang tidak dikontrol.
 Asertif : Mampu menyatakan rasa marah tanpa menyakiti orang lain dan
merasa lega.
 Frustasi : Merasa gagal mencapai tujuan disebabkan karena tujuan yang tidak
realistis.
 Pasif : Diam saja karena merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan
yang sedang dialami.
 Agresif : Tindakan destruktif terhadap lingkungan yang masih terkontrol.
 Amuk : Tindakan destruktif dan bermusuhan yang kuat dan tidak terkontrol.
C. Karakteristik Kekerasan Dalam Keluarga
1. Isolasi sosial
Anggota keluarga merahasiakan kekerasan dan sering kali tidak mengundang orang lain
datanng kerumah mereka atau tidak mengatakan kepada orang lain apa yang terjadi. Anak
dan wanita yang mengalami penganiyaan sering kali diancam oleh penganiaya bahwa mereka
akan lebih disakiti jika mengungkapkan rahasia tersebut. Anak-anak mungkin diancam bahwa
ibu, saudara kandung atau hewan peliharaan mereka kan dibunuh jika oranng diluar keluarga
mengetahui penganiayaan tersebut. Mereka ditakuti agar mereka menyimpan rahasia atau
mencegah orang lain mencampuri “ urusan keluarga yang pribadi

2. Kekuasaan dan kontrol


Anggota keluarga yang mengalami penganiayaan hampir selalu berada dalam posisi
berkuasa daan memilki kendali terhadap korban, baik korban adalah anak, pasangan, atau
lansia. Penganiaya bukan hanya menggunakan kekuatan fisik terhadap korban, tetapi juga
kontrol ekonomi dan sosial. Penganiaya sering kali adalah satu-satunya anggota keluarga
yang membuat keputusan, mengeluarkan uang, atau diijinkan untuk meluangkan waktu diluar
rumah dengan orang lain. Penganiaya melakukan penganiayaan emosional dengan
meremehkan atau menyalahkan korban dan sering mengancam korban. Setiap indikasi
kemandirian atau ketidakpatuhan anggota keluarga, baik yang nyata atau dibayangkan,
biasanya menyebabkan peningkatan prilaku kekerasan (singer at al, 1995).

3. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan yang lain


Ada hubungan antara penyalahgunaan zat, terutama alkohol, dengan kekerasan dalam
keluarga. Hal ini tidak menunjukkan sebab dan akibat-alkohol tidak menyebabkan individu
menjadi penganiaya sebalik, penganiaya juga cenderung menggunakan alkohol atau obat-
obatan lain. 50-90% pria yang memukul pasangannya dalam rumah tangga juga memiliki
riwayat penyalahgunaan zat. Jumah wanita yang mengalami penganiayaan dan mencari
pelarian dengan menggunakan alkohol mencapai 50 %. Akan tetapi, banyak peneliti yakin
bahwa alkohol dapat menguurangi inhibisi dan membuat perilaku kekerasan lebiih intens atau
sering (denham, 1995).
Alkohol juga disebut sebagai faktor dalam kasus pemerkosaan terhadap pasangan
kencan atau pemerkosaan oleh orang yang dikenal. CDC’s division of violence prevention
melaporkan bahwa studi mengidentifikasi penggunaan alkohol atau obat yang berlebiihan
yang dikaitkan dengan penganiayaan seksual.
4. Proses transmisi antargenerasi
Berarti bahwa pola prilaku kekerasan diteruskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui model peran dan pembelajaran sosial (humphreeys, 1997;tyra, 1996).
Transmisi antargenerasi menunjukkan bahwa kekerasan dalam keluarga merupakan suatu
pola yang dipelajari. Misalnya, anak-anak yang menyaksikan kekerasan dalam keluarga akan
belajar dari melihat orang tua mereka bahwa kekerasan ialah cara menyelesaikan konflik dan
bagian integral dalam suatu hubungan dekat. Akan tetapi tidaak semua orang menyaksikan
kekerasan dalam keluarga menjadi penganiayaa atau pelaku kekerasan ketika dewasa
sehingga faktor tunggal ini saja tidak menjelaskan prilku kekerasan yang terus ada.

D. Faktor Presdiposisi
Faktor Psikologis
Psycoanalytical Theory; Teori ini mendukung bahwa perilaku agresif merupakan
akibat dari instinctual drives. Freud berpendapat bahwa perilaku manusia di pengaruhi oleh
dua insting. Pertama insting hidup yang dapat di ekspresikan dengan seksualitas; dan kedua,
insting kematian yang diekspresikan dengan agresivitas.
Frustation agression theory ; teori yang dikembangkan oleh pengikut Freud ini
berawal dari asumsi, bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami
hambatan maka akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku
yang dirancang untuk melukai orang atau objek yang menyebabkan frustasi. Jadi hampir
semua orang melakukan tindakan agresif mempunyai riwayat perilaku agresif.
Pandangan psikologi lainnya mengenai perilkau agresif, mendukung pentingnya peran
dari perkembangan presdiposisi atau pengalaman hidup. Ini menggunakan pendekatan bahwa
manusia mampu memilih mekanisme koping yang sifatnya tidak merusak. Beberapa contoh
dari pengalaman tersebut :
 Kerusakan otak organik, retardasi mental, sehingga tidak mampu menyelesaikan secara
efektif.
 Severe Emotional deprivation atau rejeksi yang berlebihan pada masa kanak-kanak, atau
seduction parental, yang mengkin telah merusak hubungan saling percaya (trust) dan harga
diri.
 Terpapar kekerasan selama masa perkembangan, termasuk child abuse atau mengobservasi
kekerasan dalam keluarga, sehingga membentuk pola pertahanan atau koping.
Faktor Sosial Budaya
Social Learning Theory; teori yang dikembangkan oleh Bandura (1977) ini
mengemukakan bahwa agresi tidak berbeda dengan respon-respon yang lain. Agresi dapat di
pelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan makan
semakin besar kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan merespon terhadap
keterbangkitaan emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon yang di pelajarinya.
Pembelajaran ini bisa internal atau ekternal. Contoh internal; orang yang mengalami
keterbangkitan seksual karena menonton film erotis menjadi lebih agresif dibandingkan
mereka yang tidak menonton film tersebut; seseorang anak yang marah karena tidak boleh
beli es kemudian ibunya memberinya es agar si anak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Contoh eksternal; seorang anak menunjukan perilaku agresif setelah melihat seseorang
dewasa mengekspresikan berbagai bentuk perilaku agresif terhadap sebuah boneka.
Kultural dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat
membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang dapat diterima atau tidak dapat
diterima. Sehingga dapat membantu individu untuk mengekspresikan marah dengan cara
asertif.
Faktor biologis
Ada beberapa penelitian membuktikan bahwa dorongan agresif mempunyai
dasar biologis. Penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus
elektris ringan pada hipotalamus (yang berada di tengah sistem limbik binatang ternyata
menimbulkan perilaku agresif). Perangsangan yang diberikan terutama pada nukleus
periforniks hipotalamus dapat menyebabkan seekor kucing mengeluarkan cakarnya,
mengangkat ekornya, mendesis, bulunya berdiri
Neurotransmitter yang sering dikaitkan dengan perilaku agresif adalah serotonin,
dopamin, norepinephrine, acetilkolin, dan asam amino GABA.
Faktor-faktor yang mendukung :
 Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan.
 Sering mengalami kegagalan.
 Kehidupan yang penuh tindakan agresif.
 Lingkungan yang tidak kondusif (bising, padat).
Faktor Presipitasi
Secara umum, seseorang akan berespon dengan marah apabila merasa dirinya
teramcam. Ancaman tersebut dapat berupa injury secara psikis, atau lebih dikenal dengan
adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang. Ketika seseorang merasa terancam,
mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. Oleh
karena itu, baik perawat maupun klien harus bersama-sama mengidentifikasikannya.
Ancaman dapat berupa internal ataupun eksternal. Contoh stressor eksternal yaitu serangan
secara psikis, kehilangan hubungan yang di anggap bermakna dan adanya kritikan dari orang
lain. Sedangkan stressor dari internal yaitu merasa gagal dalam bekerja, merasa kehilangan
orang yang dicintainya, dan ketakutan terhadap penyakit yang diderita.
Bila dilihat dari sudut perawat-klien, maka faktor yang mencetuskan terjadinya
perilaku kekerasan terbagi dua, yaitu :
 Klien : Kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kurang
percaya diri.
 Lingkungan : Ribut, kehilangan orang / objek yang berharga, konflik
interaksi sosial.

E. Etiologi
Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak,
cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi
terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise
yang tidak terpenuhi.
Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan / keinginan yang
diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak
mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan
keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
Hilangnya harga diri; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama
untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan
merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya mempunyai keinginan
untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.

F. Tanda dan Gejala


Kemarahan dinyatakan dalam berbagai bentuk, ada yang menimbulkan pengrusakan,
tetapi ada juga yang hanya diam seribu bahasa. Gejala-gejala atau perubahan-perubahan yang
timbul pada klien dalam keadaan marah diantaranya adalah:
 Perubahan fisiologi
Tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan meningkat, pupil dilatasi, tonus otot
meningkat, mual, frekuensi buang air besar meningkat, kadang-kadang konstipasi, refleks
tendon tinggi.
 Perubahan Emosional
Mudah tersinggung , tidak sabar, frustasi, ekspresi wajah nampak tegang, bila mengamuk
kehilangan kontrol diri.
 Perubahan Perilaku
Agresif pasif, menarik diri, bermusuhan, sinis, curiga, mengamuk, nada suara keras dan
kasar.
 Menyerang atau menghindar (fight of flight)
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom beraksi
terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat, takikardi, wajah
merah, pupil melebar, sekresi HCl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urine
dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga meningkat diserta ketegangan otot,
seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.
 Menyatakan Secara Asertif (Assertiveness)
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu
dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk
mengekspresikan marah karena individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa
menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis. Di samping itu perilaku ini dapat juga
untuk pengembangan diri klien.
 Memberontak (acting out)
Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik
perhatian orang lain.
 Perilaku kekerasan
Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan

D. Lingkup Rumah Tangga


Lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang ini meliputi (Pasal 2 ayat 1):
1. Suami, isteri, dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri)
2. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud
dalam huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian,
yang menetap dalam rumah tangga (mertua, menantu, ipar dan besan); dan/atau
3. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut
(Pekerja Rumah Tangga)

E. Bentuk-Bentuk KDRT
1. Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka
berat (Pasal 6).
2. Kekerasan psikis
Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa
percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan
psikis berat pada seseorang (pasal 7)
3. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual,
pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan
hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
Kekerasan seksual meliputi (pasal 8):
a. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup
rumah tangga tersebut;
b. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya
dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
4. Penelantaran Rumah Tangga
Penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup
rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau
perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang
tersebut. Selain itu, penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan
ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak
di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (pasal 9)

F. Siklus Penganiayaan Dan Kekerasan


Alasan lain yanng sering diajukan menngapa wanita sulit meninggalkan hubungan
yanng abusive ialah siklus kekerasan atau penganiayaan.

G. Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress,
termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan
untuk melindungi diri.(Stuart dan Sundeen, 1998 hal 33).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya ancaman.
Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain
: (Maramis, 1998, hal 83)
 Sublimasi
Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu
dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang
sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue,
meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa
marah.
 Proyeksi
Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik.
Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual
terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu,
mencumbunya.
 Represi
Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya
seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi
menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua
merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu
ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.
 Reaksi formasi
Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap
dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya seorang
yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
 Displacement
Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu
berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy
berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena
menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.

H. Psikopatologi
Depkes (2000) mengemukakan bahwa stress, cemas dan marah merupakan bagian
kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat menyebabkan
kecemasan yan g menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan
dapat menimbulkan kemarahan yang mengarah pada perilaku kekerasan. Respon terhadap
marah dapat diekspresikan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal dapat berupa
perilaku kekerasan sedangkan secara internal dapat berupa perilaku depresi dan penyakit
fisik.
Mengekspresikan marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan kata-kata
yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti orang lain, akan memberikan perasaan
lega, menu runkan ketegangan, sehingga perasaan marah dapat diatasi (Depkes, 2000).
Apabila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku kekerasan, biasanya dilakukan
individu karena ia merasa kuat. Cara demikian tentunya tidak akan menyelesaikan masalah
bahkan dapat menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah
laku destruktif, seperti tindakan kekerasan yang ditujukan kepada orang lain maupun
lingkungan.
Perilaku yang tidak asertif seperti perasaan marah dilakukan individu karena merasa tidak
kuat. Individu akan pura-pura tidak marah atau melarikan diri dari rasa marahnya sehingga
rasa marah tidak terungkap. Kemarahan demikian akan menimbulkan rasa bermusuhan yang
lama