You are on page 1of 8

Pecegahan yang dilakukan kepada lansia yang berisiko jatuh:

1. Latihan fisik
Diberikan latihan fleksibilitas gerakan, latihan keseimbangan fisik dan koordinasi
keseimbangan. Latihan keseimbangan berguna untuk meningkatkan fleksibilitas,
menguatkan otot-otot tungkai dan meningkatkan respon keseimbangan bila tidak
dikombinasi dengan intervensi lain hanya menurunkan risiko jatuh sebesar 11 %.
Sedangkan strategi manajemen yang meliputi kombinasi latihan keseimbangan yang
terstruktur, modifikasi lingkungan, penghentian atau pengurangan obat-obatan
psikotropik serta perbaikan visus dapat menurunkan risiko jatuh sampai 25-39 %
(Robbins, 1989 dalam Barnedh, 2006).

Hal ini sesuai dengan pendapat Colon-Emeric (2002) yang menyatakan bahwa
latihan fisik adalah salah satu bentuk intervensi tunggal yang dapat dilakukan pada lansia
karena kekuatan kedua ekstremitas bawah dan keseimbangan dapat terlihat
peningkatannya secara nyata dengan program latihan yang sederhana dan terukur.
Penelitian lain oleh Barnett, et al. (2003, dalam Anonim, 2007) menyatakan bahwa
program latihan fisik yang terdiri dari pemanasan diikuti dengan keseimbangan,
koordinasi, dan latihan kekuatan otot serta pendinginan yang dilakukan 1 jam per minggu
selama satu tahun dapat menurunkan angka kejadian jatuh sebesar 40 %.

Menurut Skelton (2001) “Aktivitas fisik mempunyai efek positif terhadap


keseimbangan tubuh atau faktor risiko jatuh, yaitu meningkatkan keseimbangan,
kemampuan fungsional, mobilitas, kekuatan dan tenaga, koordinasi dan gaya berjalan
serta menurunkan depresi dan ketakutan terhadap jatuh”. Hal ini menandakan bahwa
aktivitas fisik pada lansia perlu dilakukan karena banyak keuntungan yang dapat
dirasakan oleh lansia itu sendiri.

2. Anggota keluarga
Dianjurkan agar mengunjungi/ menengok lansia secara rutin (karena selain
kebutuhan fisik yang diperlukan, kebutuhan psikologis dan sosial juga sangat penting),
mengamati kemampuan dan keseimbangan dalam berjalan, berjalan bersama, dan
membantu stabilitas tubuh.
3. Modifikasi lingkungan
Memperbaiki kondisi lingkungan yang dianggap tidak aman, misalnya dengan
memindahkan benda berbahaya, peralatan rumah dibuat yang aman (stabil, ketinggian
disesuaikan, dibuat pegangan pada meja dan tangga) serta lantai yang tidak licin dan
penerangan yang cukup.

4. Alat Bantu Jalan


Terapi untuk pasien dengan gangguan berjalan dan keseimbangan difokuskan
untuk mengatasi atau mengeliminasi penyebabnya atau faktor yang mendasarinya.
Menggunakan alat bantu jalan seperti cane (tongkat), crutch (tongkat ketiak) dan walker.
Jika hanya 1 ekstremitas atas yang digunakan, pasien dianjurkan pakai tongkat.
Pemilihan tipe tongkat yang digunakan, ditentukan oleh kebutuhan dan frekuensi
menunjang berat badan. Jika kedua ekstremitas atas diperlukan untuk mempertahankan
keseimbangan dan tidak perlu menunjang berat badan, alat yang paling cocok adalah
four-wheeled walker. Jika kedua ekstremitas atas diperlukan untuk mempertahankan
keseimbangan dan menunjang berat badan, maka pemilihan alat ditentukan oleh
frekuensi yang diperlukan dalam menunjang berat badan.

Sumber :

Maryam, siti. (2013). Pendoman Pencegahan Jatuh Bagi Lansia di Rumah. Poltekkes Kemenkes
Jakarta III. http:// ejurnal.poltekkesjakarta3.ac.id/

Faktor yang mempengaruhi terjadinya resiko jatuh pada lansia

1. Faktor Internal

Faktor internal seperti penyakit yang diderita, gangguan penglihatan, gangguan adaptasi,

gangguan kognitif, kardiovaskular seperti hipotensi postural atau sinkop, gelap, infeksi

telinga, lemah otot tungkai, penyakit sistemik dan reaksi negatif obat-obat (Kemenkes,

2010). Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik
dan psikologis. Kerusakan fisik yang paling ditakuti dari kejadian jatuh adalah patah

tulang panggul. Jenis fraktur lain yang sering terjadi akibat jatuh adalah fraktur

pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis serta kerusakan jaringan lunak. Dampak

psikologis walaupun cedera fisik tidak terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan

jatuh lagi dapat memiliki banyak konsekuensi termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya

diri, pembatasan dalam aktivitas sehari-hari atau fobia jatuh (Rokhima, 2016).

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal lingkungan seperti kondisi tangga, lantai licin atau basah, pencahayaan

yang kurang, toilet jauh dari kamar, kondisi terlalu rendah, sepatu yang buruk atau

dengan sol licin, tempat tidur terlalu tinggi atau rendah, alat rumah tangga yang dapat

menyebabkan jatuh seperti karpet, kaki kursi, dan kabel listrik. Lingkungan merupakan

faktor yang dapat memepengaruhi keseimbangan dan berkontraksi pada resiko jatuh,

kejadian jatuh didalam ruangan lebih sering terjadi dikamar mandi, kamar tidur dan toilet.

Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya resiko jatuh pada lansia adalah faktor gizi

yang mengakibatkan penurunan fungsi keseimbangan atau kelemahan fisik. Lansia

dengan asupan makanan yang rendah kalsium dan vitamin D, fosfor, protein dan besi

beresiko untuk jatuh. Asupan makanan yang tidak memadai berupa protein, air dan tidak

melakukan aktivitas fisik yang cukup untuk menangkal hilangnya massa otot atau

kehilangan kepadatan tulang meningkatkan resiko jatuh dan cedera pada lansia

(Kemenkes, 2010).

Sumber :

Kemenkes.R.I. 2010. Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas

Kesehatan. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Komunitas


Rokhima, V. (2016). Faktor-Faktor yang Berhubungan Resiko Jatuh dengan Kejadian

Resiko Jatuh pada Lansia di Unit Pelayanan Primer Puskesmas Medan Johor. USU

Respiratory , 5-11.
2 Risiko ketidak seimbangan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen nutrisi (1100)
nutrisi kurang dari selama 7x24 jam dapat status nutrisi:
1. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan untuk
kebutuhan tubuh asupan nutrisi (1009) dengan kriteria hasil:
memenuhi kebutuhan gizi
2. Identifikasi alergi atau intoleransi makanan yang
 Asupan kalori (1-4)
 Asupan protein (1-4) dimiliki pasien
 Asupan lemak (1-4) 3. Bantu keluarga untuk menentukan jumlah kalori dan
 Asupan karbohidrat (1-4) jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi
 Asupan zat besi (1-4)
 Asupan mineral (1-4) persyaratan gizi
4. Anjurkan keluarga untuk memberikan pilihan
 Asupan vitamin (1-4)
makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap
makanan yang lebih sehat
5. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan
yang optimal pada saat mengkonsumsi makanan
6. Anjurkan pasien terkait dengan kebutuhan makanan
berdasarkan perkembangan atau usia
7. Tawarkan makanan ringan yang padat gizi
8. Monitor kalori dan asupan makanan
9. Monitor kecenderungan terjadinya penurunan berat
badan
10. Bantu pasien untuk mengakses program gizi
komunitas

Monitor Nutrisi (1160)


1. Timbang BB pasien
2. Identifikasi perubahan BB terakhir
3. Monitor turgor kulit dan mobilitas
4. Identifikasi abnormalitas kulit (misalnya, memar
berlebihan)
5. Identifikasi perubahan nafsu makan dan aktifitas
akhir-akhir ini
6. Tentukan pola makan (misalnya, makanan yang
disukai dan tidak disukai, konsumsi yang berlebihan
terhadap makanan siap saji, makan yang terlewati)
7. Monitor adanya pucat, kemerahan, dan jaringan
konjungtiva yang kering
8. Lakukan pemeriksaan laboratorium, monitor hasil HB
9. Tentukan faktor-faktor yang mempengaruhi asupan
nutrisi (misalnya, pengetahuan, ketersediaan dan
kemudahan memperoleh produk-produk makanan
yang berkualitas, pengaruh agama dan budaya, gender,
kemampuan menyiapkan makanan, mengunyah tidak
adekuat, gigi yang buruk)

Implementasi

2 Risiko ketidak seimbangan 1. Menentukan status gizi pasien dan S :


nutrisi kurang dari kemampuan untuk memenuhi
- klien mengatakan “belum mengerti apa yang harus
kebutuhan tubuh kebutuhan gizi dimakan agar tubuhnya tidak lemas”
2. Mengidentifikasi alergi atau - klien mengatakan “akan mengkonsumsi makanan
intoleransi makanan yang dimiliki yang mengandung zat besi”
pasien - klien mengatakan “nafsu makanan sudah bertambah”
3. Membantu keluarga untuk
O:
menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrisi yang dibutuhkan untuk - Klien sudah makan 3x sehari
memenuhi persyaratan gizi - Klien mau mengkonsumsi suplemen zat besi
4. Menganjurkan keluarga untuk - Klien kooperatif saat dijelaskan mengenai zat gizi

memberikan pilihan makanan sambil A : Masalah risiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari
menawarkan bimbingan terhadap kebutuhan tubuh teratasi sebagian
makanan yang lebih sehat
P : Lanjutkan intervensi
5. Menganjurkan keluarga untuk
menciptakan lingkungan yang - Memonitor kalori dan asupan makanan
optimal pada saat mengkonsumsi - Memonitor kecenderungan terjadinya penurunan berat
makanan badan
6. Menganjurkan pasien terkait dengan I : Melakanakan tindakan sesuai intervensi
kebutuhan makanan berdasarkan
perkembangan atau usia E:
7. Menawarkan makanan ringan yang
- Klien masih memilih-milih makanan
padat gizi
8. Memonitor kalori dan asupan R :
makanan
9. Memonitor kecenderungan - Memberikan beberapa pilihan makanan yang disukai

terjadinya penurunan berat badan klien dan sesuai dengan kebutuhan nutrisi klien
- Memberikan edukasi kepada keluarga terkait dengan
10. Membantu pasien untuk mengakses nutrisi yang dibutuhkan oleh klien
program gizi komunitas