You are on page 1of 5

Inflamasi atau peradangan adalah respons protektif setempat atau

terlokalisasi yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan jaringan, yang berfungsi
menghancurkan, mengurangi atau mengurung suatu agen pencedera maupun
jaringan yang cedera itu. Tujuan akhir dari inflamasi adalah untuk menarik protein
plasma dan fagosit ke tempat yang cedera atau terinvasi. Protein plasma dan fagosit
tersebut dapat melakukan penghancuran dan penginaktifan agen yang masuk,
membersihkan debris atau sisa-sisa fagositosis, dan mempersiapkan jaringan untuk
proses penyembuhan dan perbaikan (Sherwood, 2001). Pada inflamasi akut ditandai
dengan adanya nyeri (dolor), panas (kalor), kemerahan (rubor), bengkak (tumor),
dan gangguan fungsi (fungsiolesa) (Sunarto, 2006).
Radang atau inflamasi adalah suatu respon utama sistem kekebalan terhadap
infeksi atau iritasi. Untuk pengobatan inflamasi ada dua golongan besar obat yang
digunakan yaitu golongan steroid dan non steroid (AINS). Golongan obat steroid
bekerja dengan menghambat sintesis enzim fosfolipase yang mengubah fosfolipid
menjadi asam arakhidonat tidak terhambat pada proses sintesis prostaglandin.
Sedangkan golongan obat AINS bekerja dengan menghambat pembentukan
prostaglandin (PG) melalui penghambatan enzim sikloosigenase. Pada pasien yang
mengalami bengkak/udem sebaiknya diberikan obat golongan AINS, sedangkan
pasien yang belum mengalami udem diberi obat antiinflamasi golongan steroid
untuk mencegah pembengkakan (Guyton, A.C. & Hall, J.E: 1997).
Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam.
Waktu paruh dalam plasma lebih dari 45 jam sehingga dapat diberikan hanya sekali
sehari. Absorpsi berlangsung cepat di lambung, terikat 99% pada protein plasma.
Obat ini menjalani siklus enterohepatik. Indikasi piroksikam hanya untuk penyakit
inflamasi sendi misalnya arthritis reumatoid, osteoarthritis, spondilitis ankilosa
dengan dosis 10-20 mg sehari (Guyton, A.C. & Hall, J.E: 1997).
Deksametason merupakan obat golongan kortikosteroid memiliki efek yang
sama dengan hormone cortisone dan hydrocortisone yang diproduksi oleh kelenjar
adrenal. Kelenjar ini berada tepat diatas ginjal kita. Dengan efek yang sama bahkan
berlipat ganda maka kortikosteroid sanggup mereduksi sistem imun (kekebalan
tubuh) dan inflamasi. Obat golongan kortikosteroid ini utamanya digunakan untuk
mengatasi radang, apapun penyebab radangnya dan di manapun lokasinya.
Beberapa penyakit peradangan yang kerap diobati dengan kortikosteroid adalah
asma, radang rematik, radang usus, radang ginjal, radang mata dan lain-lain.
Deksametason juga digunakan untuk anafilaktik dan untuk mendiagnosis syndrome
cushing. Selain itu, obat ini juga digunakan pada penyakit gangguan sistem
kekebalan tubuh, seperti berbagai jenis alergi, dan lupus. Dengan sifatnya yang
menurunkan sistem kekebalan, kortikosteroid juga dapat digunakan untuk pasien
yang baru menjalani transplantasi organ untuk mencegah reaksi penolakan tubuh
terhadap organ yang dicangkokkan. Obat ini bahkan digunakan juga pada pasien
kanker, yaitu untuk mencegah mual dan muntah akibat kemoterapi juga pada terapi
kanker itu sendiri sebagai terapi pendukung kemoterapi. Obat golongan
kortikosteroid termasuk golongan obat yang penting dalam dunia pengobatan,
karena memiliki efek farmakologi yang luas, sehingga sering digunakan dalam
pengobatan berbagai penyakit, sehingga ada yang menyebutnya sebagai obat dewa
atau obat segala penyakit. Efek samping dari deksametason dan kortikosteroid
lainnya seperti prednison adalah pengeroposan tulang, peningkatan berat badan,
moon face/ muka tembem, buffaow hum atau penggemukan punggung atau
punggung tebal seperti kerbau, selulit dan stretmark di berbagai tempat, gangguan
hati dan gangguan ginjal, serta pertumbuhan rambut yang tidak pada tempatnya
dan yang berbahaya bila terjadi cushing syndrome. Cushing sindrom merupakan
kumpulan gejala berupa penebalan punggung, muka tembem, pada abdomen,
hipertensi, penurunan toleransi terhadap karbohidrat, katabolisme protein,
gangguan psikiatri, hirsutisme pada wanita. Sindrom ini dapat terjadi akibat steroid
sistemik yang dikonsumsi sembarangan (Mycek, M.J, 2001).
Pada percobaan uji aktivitas antiinflamasi ini digunakan tikus, agar
pengamatan terhadap pembengkakan kaki tikus mudah diamati dan diukur. Tikus
kontrol positif (diberikan CMC Na) sebagai kontrol positif dan tikus yang diberikan
obat antiinflamasi piroksikam dan deksametason. Mula-mula semua tikus yang
akan digunakan ditimbang dahulu. Setelah dilakukan penimbangan, dihitung
masing-masing dosis zat yang akan diberikan sesuai dengan berat bobot badan dari
tiap tikusnya. Kemudian, pada tahap pendahuluan volume kaki tikus diukur dan
menjadi data sebagai volume dasar.
Pada percobaan ini digunakan pletysmometer untuk mengukur volume
udem telapak kaki tikus yang bekerja sesuai hukum Archimedes, dimana volume
udem telapak kaki yang dicelupkan pada air raksa adalah sama banyaknya dengan
skala yang ditunjukkan. Pada alat pletysmometer digunakan air raksa karena
memiliki daya kohesi yang tinggi sehingga tidak membasahi kaki tikus dan dapat
mendorong cairan berwarna untuk lebih mudah dibaca skalanya. Penggunaan
cairan bisa diganti dengan cairan lain dengan penambahan warna lain namun harus
memiliki prinsip cairan tidak bercampur satu sama lain. Pada rangkaian modifikasi
alat Pletysmometer digunakan air raksa dengan tujuan untuk menghindari
berkurangnya volume cairan pada alat tersebut ketika telapak kaki dicelupkan oleh
karena untuk mencegah hal demikian air tidak digunakan untuk serangkaian alat
tersebut. Setelah, 30 menit disuntikkan karagenan sebagai inflmator, lalu diamati
pembengkakan yang terjadi setiap 30 menit selama 2 jam. Pengamatan setiap 30
menit selama 2 jam dilakukan dengan tujuan mengukur besarnya inflamasi yang
terjadi pada kaki tikus akibat injeksi karagenan.
Mekanisme karagenan dalam menimbulkan inflamasi adalah dengan
merangsang lisisnya sel mast dan melepaskan mediator-mediator radang yang dapat
mengakibatkan vasodilatasi sehingga menimbulkan eksudasi dinding kapiler dan
migrasi fagosit ke daerah radang sehingga terjadi pembengkakan pada daerah
tersebut.

Dari hasil pengamatan diperoleh volume udem (selisih volume tikus


sebelum dan sesudah diinduksi dengan karagenan). Tikus yang diberikan CMC Na
pada Vu 30’= -0,04 mL; Vu 60’= 0 mL; Vu 90’= -0,01 dan Vu 120’=0. Seharusnya
pada tikus terjadi pertambahan volume udem kaki pada waktu pengamatan. Adapun
faktor-faktor kesalahan disebabkan oleh kaki tikus yang diinduksi tidak terlalu
bengkak, kesalahan terhadap pada alat pletysmometer, kesalahan dalam pemberian
dosis obat pada tikus.
Tikus yang diberikan piroksikam pada Vu 30’ = 0; Vu 60’=0; Vu 90’=0;
Vu 120’ menit =0, dan tikus yang diberikan deksametason pada Vu 30’= 0; Vu 60’=
0,01 mL; Vu 90’= 0 dan Vu 120’=0. Dari data yang diperoleh tikus yang diberikan
obat antiinflamasi piroksikam tidak terjadi pertambahan volume udem dan pada
tikus yang diberikan deksametason pada Vt 30’, Vt 90’ dan Vt 120’ tidak terjadi
peningkatan volume. Hal ini sesuai dengan literatur, dimana golongan obat steroid
bekerja dengan menghambat sintesis enzim fosfolipase yang mengubah fosfolipid
menjadi asam arakhidonat pada proses sintesis prostaglandi sedangkan golongan
Obat Antiinflamasi Non Steroid (AINS) bekerja dengan menghambat pembentukan
prostaglandin (PG) melalui penghambatan enzim sikloosigenase. Selain itu obat
AINS secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien, yang diketahui ikut
berperan dalam inflamasi. Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase
sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat
menghambat siklooksigenase dengan cara yang berbeda. Efek antiinflamasi dari
pemberian obat antiinflamasi adalah mengurangi udem pada kaki tikus akibat
pemberian karagenan. Inflamasi terjadi karena reaksi antara antigen dengan
antibodi yang dapat merangsang pelepasan mediator radang sehingga terjadi
vasodilatasi pembuluh kapiler dan migrasi fagosit ke daerah radang, yang
mengakibatkan hiperemia dan udem pada daerah terjadinya inflamasi.

Kesimpulan
Pada tikus kontrol (diberikan suspensi CMC Na) tidak terjadi pertambahan
volume udem. Seharusnya terjadi pertambahan volume udem pada setiap waktu
pengamatan setelah diinduksi dengan karagenan. Adapun faktor kesalahan
disebabkan oleh kaki tikus yang diinduksi tidak terlalu bengkak, kesalahan dari alat
ptetysmometer, kesalahan dalam pemberian dosis obat pada tikus. Sedangkan,
tikus yang diberikan piroksikam tidak terjadi pertambahan volume udem. Hal ini
sesuai dengan literatur dimana golongan obat NSAID dapat menghambat
pembentukan prostaglandin melalui penghambatan enzim sikloosigenase. Tikus
yang diberikan deksametason terjadi peningkatan volume pada Vt 60’ sedangkan
pada Vt 90’ dan 120’ tidak terjadi peningkatan volume udem. Hal ini sesuai
literatur, dimana golongan obat steroid bekerja dengan menghambat sintesis enzim
fosfolipase. Menurut literatur, deksametason memiliki efek antiinflamasi yang
lebih efektif dibandingkan dengan piroksikam. Deksametason termasuk golongan
obat antiinflamasi steroid, sehingga memiliki kerja paling efisien dengan
menghambat pembentukan asam arakhidonat yang dapat mempengaruhi respon
inflamasi tubuh. Sedangkan piroksikam termasuk antiimflamasi non-steorid (Kee
dan Evelyn, 1996).

DAFTAR PUSTAKA

Guyton dan Hall, (1997), Fisiologi Kedokteran. Edisi 9, EGC, Jakarta.


Kee dan Evelyn, (1996), Farmakologi Pendekatan proses Keperawatan, EGC,
Jakarta

Sunarto, (2006), Inflamasi. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV,
Pusat Penerbit Departemen IPD FKUI, Jakarta.

Sherwood, (2001), Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem, EGC, Jakarta.