You are on page 1of 4

Berkaca pada Kebijakan Pendidikan Negara Maju

Dina Hanmi Rahmawati, Ineke Della Agata, Dewi Kurniawati

S1 Pendidikan Tataniaga

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara yang mempunyai jumlah penduduk yang besar, akan
tetapi tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya yang baik. Sumber
daya manusia yang baik dan berkualitas akan berpengaruh pada suatu negara. Cara
memperbaiki kualitas sumber daya manusia salah satunya dengan meningkatkan
kualitas pendidikan di negara terserbut. Indonesia yang memiliki sumber daya
manusia yang rendah harusnya mencontoh dan mengasimilasi system pendidikan
yang baik dari negara-negara maju tersebut agar dapat meningkatkan kualitas
pendidikan yang dapat membuat sumber daya manusia di Indonesia menjadi
berkualitas dan diakui dimata internasional. Selain itu Indonesia harus juga
mencontoh pendidikan karakter yang telah berhasil ditetapkan dinegara maju. Karena
karakter masyarakat Indonesia yang dulu sangat luhur sekarang menjadi tergerus dan
lama kelamaan akan hilang. Agar tidak terjdi hal tersebut selain system pendidikan
akademis yang perlu direvisi pendidikan karakter juga harus di revisi agar nilai luhur
bangsa tidak tergerus oleh zaman.
Keyword : Sistem Pendidikan, Globalisasi, Kualitas SDM

Pendahuluan

Kebijakan merupakan hal yang sangat penting bagi suatu aturan masyarakat di
sebuah negara. Menurut Hough(1984:3 Rahardjo Mudjia 2010:3)menyatakan bahwa
kebijakan bisa menunjuk pada seperangkat tujuan, rencana atau usulan, program-program,
keputusan-keputusan, serta undang-undang atau peraturan-peraturan.

Perkembangan kebijakan pendidikan tidak seimbang dengan sumber daya


manusianya yang belum bisa beradaptasi dengan baik di era globalisasi. Akibatnya
penyimpangan peserta didik dikarenakan proses sosialisasi pendidikan yang kurang
sempurna. Saat ini Indonesia mempunyai tingkat pendidikan yang cukup rendah diantara
negara-negara berkembang seperti Malaysia. Sinaga Bornok(2012: 2) Hasil survei
internasional PISA pada tahun 2007 yang menempatkan prestasi peserta didik asal Finlandia
dengan peringkat terbaik sedunia. Hafidhah Kautsar(2013: 1) Programmefor International
Student Assessment (PISA) adalah survey internasional tiga tahunan yang bertujuan untuk
mengevaluasi sistem pendidikan di dunia dengan melakukan tes kemampuan dan
pengetahuan siswa usia 15 tahun.

Munirah (2015:1) Kemajuan dan perkembangan pendidikan menjadi faktor


keberhasilan suatu Negara. Bisa terlihat contohnya yaitu seperti Negara-Negara Eropa.
Sumber daya manudsia yag dihasilkan di negara tersebut bisa dikatakan unggul karena
mereka memperoleh kualitas pedidikan yang baik. Sehingga negara-negara di wilayah Eropa
banyak yang menjadi negara maju. Di Indonesia sendiri sumber daya manusianya masih
rendah. Karena masih sedikit masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi
sebuah negara. Oleh karena itu system pendidikan yang dirasa kurang efektif seharusnya
direvisi dan saat merevisi tersebut harus mencari refrensi pada negara-negara yang sudah
berhasil menerapkan system dan kebijakan tersebut. Tujuannya agar masyarakat Indonesia
menjadi sumber daya manusia yang berkualitas tinggi tidak kalah dengan negara-negaraa
maju.

Pembahasan

Sistem pendidikan suatu negara dapat kita benahi dengan cara menata ulang kebijakan
pendidikan kita atau lebih mengefensiensi kebijakn pendidikan kita. Karena di Indonesia
pemerintah menggelontorkan banyak uang negara untuk beralih kurikulum dan hasil
berganti kurikulum tersebut belum dapat terlaksana dengan baik. Memang maksud dari
pergantian kurikulum tersebut baik namun masih kurangnya sosialisasi kepada pengajar
ataupun pemberi materi membuat para siswa atau murid menjadi sistem percobaan dan
berakibat anjloknya hasil belajar mereka karena tidak siapnya peserta didik dengan
pergantian materi yang baru tersebut.

Akhir-akhir ini pemerintah juga akan mengkaji tentang full day school yang akan diterapkan
ke semua sekolah dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas.Namun kebijakan
pemerintah tentang full day school tersebut tidak sepenuhnya buruk. Pemerintah
melakukan full day school dengan maksud agar para siswa dapat terkontrol aktivitasnya di
sekolah dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang negatif.

Selain kebijakan untuk peserta didik, pemerintah juga harus memperhatikan pendidik atau
guru. Guru membutuhkan kemampuan yang mumpuni dalam mengajar siswa tapi juga
mendidik dan mengayomi siswa tersebut. Guru atau pendidik di zaman globalisasi
sekarang sudah kurang dihormati. Bisa kita lihat contohnya di daerah di Indonesia yang
marak terjadi kasus pelaporan guru oleh murid,dan masih banyak kejadian lainnya.

Kita juga dapat mencontoh kebijakan-kebijakan pendidikan di negara yang mempunyai


presentasi peserta didik yang baik seperti finlandia. Di finlandia pemerintahnya tidak
menetapkan kurikulum akan tetapi hanya menetapkan target yang harus dicapai guru
berhak mengolah bagaimana cara pembelajaran yang efektif kepada peserta didik. Gaji
guru di finlandia hampir setara gaji dokter dan pengacara karena profesi guru di finlandia
sangat dihormati dan sangat sulit untuk melamar pekerjaan tersebut. Di finlandia sendiri
jam belajar peserta didiknya rata-rata hanya 30 jam per minggu, dan yang perlu digaris
bawahi di finlandia tidak diadakan pr atau homework dan juga ujian nasional karena jika
peserta hanya mengerjakan pr atau homework mereka hanya dituntut untuk lulus dan bisa
saja mendapat jawaban itu dari teman atau bisa disebut dengan mencontek selain itu un
atau standarisasi tes tidak dilakukan karena kemampuan setiap murid tidak sama dan itu
akan menjadi beban tersendiri bagi peserta didik yang kurang kemampuannya, dan masih
banyak lagi.

Finlandia lebih menekankan pendidikan kreatifitas peserta didik. Sehingga Murid murid di
finlandia lebih banyak menghabiskan waktu bermain dari pada mendengarkan guru atau
pendidik yang berceramah di kelas. Selain itu tidak diberikan sistem rangking karena
dengan begitu guru akan berpusat pada siswa atau peserta didik yang baik saja. Dari
beberapa contoh kebijakan pendidikan yang ada di finlandia tersebut pemerintah dapat
mengambil atau meniru sistem yang baik dan efektif bagi peserta didik di indonesia.

Selain berpusat pada kegiatan akademis kita juga harus menekankan pada pendidikan
karakter. Kita bisa mencontoh negara yang sangat menekankan pendidikan karakter pada
kegiatan belajar mengajarnya seperti Negara Jepang. Menurut Pangi Syarwi(Tukiyo,
2012:2) karena tujuan pendidikan Jepang antara lain Meningkatkan kepribadian secara
utuh, menghargai nilai-nilai individu, dan menanamkan jiwa yang bebas. Jepang
menerapkan pendidikan karakter 34 sampai 35 jam per minggunya sejak dari jenjang SD
sampai SMP. Namun di Indonesia sendiri pendidikan karakter masih belum ditekankan
dalam pelajaran hanya sekali-sekali disispkan dalam mata pelajaran. Seharusnya
pemerintah mencontoh kebijakan jepang tersebut karena kita sudah memasuki era
globalisasi yang dapat menghancurkan moral bangsa jika tidak terintegrasi dengan baik.

Jadi pada era globalisasi ini selain kebijakan pendidikan diatas yang kurang efektif
pemerintah juga harus meningkatkan kebijakan pendidikan yang sangat penting yang
harus ditetapkan pemerintah yaitu tentang sikap dan perilaku. Karena sejak masuknya
globalisasi banyak sikap dan perilaku terpuji bangsa Indonesia mulai hilang tergerus oleh
globalisasi. Oleh karena itu diantara kebijakan pendidikan yang sudah saya paparkan
diatas kebijakan pendidikan tentang sikap dan perilaku ini harus ditekankan.

DAFTAR RUJUKAN

Rahardjo, Mudjia. 2010. Pemikiran Kebijakan Pendidikan Kontemporer, Malang:UIN-


MALIKI PRESS.
Sinaga, Bornok. 2012. Pendidikan dan Pembelajaran yang Demokratis dan
Humanitis.Jurnal Ilmu pendidikan. (Online), 18(2) : 5-2,
(http://www.kemahasiswaan.unimed.ac.id) diakses 30 September 2016

Munirah. 2015. Sistem pendidikan di Indonesia antara Keinginan dan Realita. Jurnal Ilmu
Pendidikan. (Online), 2(2):235-245,(http://www.id.portalgaruda.com) diakses 26 Oktober
2016

Tukiyo. 2012. Sistem Pendidikan dan Pendidikan Karakter di Jepang serta


Perbandingannya dengan di Indonesia. (Online),