You are on page 1of 15

BAB IV

PEMBAHASAN

I. Pembahasan

Pada bab pembahasan penulis akan membahas mengenai hal-hal yang

terdapat pada konsep dasar (teori) dan kenyataan yang ada di lapangan,

tentang kesenjangan dan kendala yang ada selama penulis melakukan

asuhan keperawatan pada Tn.S dengan masalah utama perilaku kekerasan di

ruang Madrim RSJD Dr Amino Gondohutomo Semarang, yang

dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2014 sampai 25 Juni 2014, penulis akan

mengurai tahap asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa

keperawatan, intervensi, implementasi keperawatan dan evaluasi.

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan pengumpulan data subjektif dan objektif

secara sistematis dengan tujuan membuat penentuan tindakan

keperawatan bagi individu, keluarga dan komunitas.5 Dalam pengkajian

terhadap Tn.S sendiri penulis mengumpulkan data berdasarkan

pengkajian yang telah dilakukan terhadap klien dan keluarga.masalah

utama yang terjadi pada Tn.S yaitu resiko perilaku kekerasan. Pada

klien dengan resiko perilaku kekerasan seorang perawat harus berjaga-

jaga terhadap adanya peningkatan agitasi pada klien, hirarki perilaku

agresif dan kekerasan. Selain itu perawat harus mengkaji pula afek

klien yang berhubungan dengan perilaku agresif .7


Dari hasil data pengkajian yang dilakukan pada Tn.S penulis

menyimpulkan bahwa Tn.S masih menunjukkan perilaku agresif. Klien

mengalami gangguan jiwa dan dirawat di RSJD Amino Gondohutomo

Semarang sejak tanggal 14 Juni 2014 dengan alasan masuk klien

selama tiga hari marah-marah tanpa sebab sampai mengamuk merusak

televisi rumah dan teriak-teriak serta bicara kacau.

Berdasarkan alasan masuk diatas terdapat persamaan antara teori

dan kondisi klien dilapangan. Didalam teori dijelaskan klien dengan

resiko perilaku kekerasan mempunyai ciri-ciri yang salah satunya yaitu

bicara kacau dan beresiko untuk menciderai diri sendiri, orang lain serta

lingkungan.

Pada pengkajian tersebut didapatkan faktor predisposisi pada

klien dengan resiko perilaku kekerasan. Faktor predisposisi pada klien

dengan resiko perilaku kekerasan antara lain faktor biologis, irama

sirkandian tubuh, faktor gen atau keturunan, faktor kimia tubuh,

gangguan pada sistem, serta adanya faktor psikologis .5

Faktor perdisposisi pada Tn.S adalah klien mengalami gangguan

jiwa satu kali ini, sebelumnya klien tidak pernah masuk RSJ. Keluarga

klien (Tn.S) mengatakan dalam anggota keluarga klien tidak ada yang

mengalami penyakit yang sama dengan klien. Pada saat dikaji sifat

klien masih agresif. Perilaku agresif klien mengungkapkan rendahnya

harga diri klien, karena klien merasa tidak dihargai oleh istrinya yang

begitu saja meninggalkan dirinya. Keluarga klien (Tn.A) mengatakan


awalnya Tn.S tinggal bersama dengan mertua Tn.S, akan tetapi Tn.S

merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk tinggal bersama orang tua

Tn.S bersama dengan istri dan anak dari penikahan Tn.S.

Berdasarkan faktor predisposisi antara dasar teori dan kondisi

klien ternyata ada perbedaan atau kesenjangan hal ini terjadi karena saat

dilakukan pengkajian, Tn.S tidak mengalami semua yang ada pada

teori. Hal ini dikarenakan faktor pendukung atau faktor predisposisi

pada Tn.S yang paling utama ialah faktor psikologis dimana tidak

terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak

berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah.

Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan

seringkali berkaitan dengan ekspresi diri ingin menunjukkan eksistensi

diri atau simbol solidaritas, ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan

dasar dan kondisi sosial ekonomi, kesulitan dalam mengkomunikasikan

sesuatu dalam keluarga serta tidak mebiasakan dialog untuk

memecahkan masalah cenderung melakukan kekerasan dan

menyelesaikan konflik.2,15

faktor presipitasi yang di dapatkan pada Tn.S adalah klien

(Tn.S) mengatakan istri dan anaknya meninggalkannya tanpa

berpamitan dengan klien. Istri dan anak klien meninggalkan klien

karena dijemput oleh mertua klien. Menurut keluarga klien (Tn.A)

selain masalah keluarga klien mengalami masalah pada perekonomian,


sebelumnya klien mempunyai usaha jualan alat pertanian seperti pacul,

pupuk dan lain sebagainya akan tetapi usaha klien tidak laku sedangkan

modal klien habis. Kemudian klien menjadi sering melamun dan lama-

lama klien berbicara sendiri dan sering mengamuk. Klien sebelumnya

tidak pernah mengalami aniaya fisik.

Berdasarkan faktor presipitasi antara dasar teori dan kondisi

klien (Tn.S) dengan resiko perilaku kekerasan ternyata tidak ada

kesenjangan. Faktor presipitasi yang ada pada Tn.S sesuai dengan teori

yang ada.

Sedangkan status mental pada klien dengan resiko perilaku

kekerasan antara lain Status mental pada klien dengan perilaku

kekerasan terdiri dari beberapa aspek. Mulai dari penampilan,

pembicaraan klien yang cenderung cepat dan keras, aktivitas motorik

mulai tegang dan gelisah, afek yang labil, interasi ketika wawancara

dengan orang lain mulai bermusuhan, tidak kooperatif, mudah

tersinggung dan curiga, persepsi yang dialami klien dengan perilaku

kekerasan bisa karena pendengaran dan penglihatan, proses pikir yang

dialami klien, tingkat kesadaran pada klien dengan perilaku kekerasan

yaitu tampak bingung dan kacau.5

Status mental pada Tn.S adalah klien berpenampilan tidak rapi,

kebersihan cukup bersih, klien memakai pakaian yang diberikan dari

Rumah Sakit dan klien mandi 2x sehari, ketika diajak bicara klien
berbicara dengan nada suara tinggi (membentak) saat menceritakan

masalahnya dengan perawat. Klien dapat diajak komunikasi dengan

baik karena klien dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang

diberikan oleh penulis. Aktivitas motorik Klien tampak gelisah, klien

sering mondar-mandir seperti orang bingung, jika klien merasa

jengkel klien suka mengepalkan tangannya sesekali klien memukul

meja ketika klien menceritakan tentang keluarganya. Klien

mengatakan alam perasaannya saat ini sedih, karena klien kangen

dengan keluarga di rumah terutama pada anak laki-lakinya. Afek klien

labil, pada saat diajak komunikasi emosi klien cepat berubah terutama

jika klien sudah ingat dengan keluarganya di rumah dan klien menjadi

ingin cepat pulang karena klien merasa jenuh berada di Rumah Sakit

sedangkan klien merasa di rumah mempunyai banyak pekerjaan,

ketika fikiran itu datang emosi klien mulai tinggi dan klien mulai

berbicara dengan nada keras. Interaksi selama wawancara saat

dilakukan pengkajian klien kooperatif dan mau menjawab pertanyaan

yang diajukan kepada klien dengan baik. Persepsi pendengaran klien,

klien mengatakan pada saat dirumah klien mendengarkan suara pak

soekarno yang mengatakan bahwa klien harus menjaga harta karun

yang berada dimakan dekat rumahnya. Klien mendengar suara itu

ketika pagi hari dan ketika klien sedang sendirian. Klien menjadi

sering berbicara sendiri ketika klien mendengar suara itu. Klien

menjadi marah-marah setelah mendengarkan suara-suara itu. Proses


pikir klien yaitu sirkumtansial, selama diajak berbicara klien berbelit-

belit akan tetapi sampai pada tujuan. Artinya selama klien diajak

berkomunikasi dan jika klien diberikan pertanyaan, klien bisa

menjawab pertanyaan itu akan tetapi klien menceritakan sesuatu yang

melenceng dari pertanyaan yang diberikan. Kemampuan klien untuk

mengingat baik. Isi pikir klien ialah klien ingin segera pulang karena

klien ingin bertemu dengan anak laki-lakinya yang berada dirumah.

Tingkat keadaran klien bingung dan klien tampak gelisah serta sering

mondar-mandir sendiri. Memori klien, klien dapat mengingat kejadian

yang dialaminya sampai dengan klien dibawa kerumah sakit oleh

saudaranya. Klien dapat mengingat waktu, tanggal serta hari. Tingkat

konsentrasi dan berhitung klien dapat berkonsentrasi akan tetapi

mudah untuk beralih, ketika klien mulai mengucapkan “saya ingin

pulang, saya merasa jenuh, saya dirumah mempunyai banyak urusan”

konsentrasi klien mulai hilang dan klien mulai merasa jengkel. Daya

tilik diri klien mengingkari penyakit yang dideritanya. Klien merasa

dirinya sehat dan tidak sakit sehingga tidak perlu berada dirumah sakit

dan tidak perlu mendapatkan pengobatan.

Berdasarkan status mental antara teori dan kondisi klien ternyata

tidak ada kesenjangan hal ini ditunjukkan dengan status mental klien

(Tn.S) sesuai dengan teori yang ada.

Berdasarkan aspek medis klien dengan resiko perilaku

kekerasan mendapatkan obat yang diberikan pada pasien dengan


perilaku kekerasan antara lain : CPZ (Chlorpromazine), HP

(Haloperidol), THP (Triheksipenidil).2

Obat yang di dapat Tn.S antara lain olanzapine dan lorazepam.

Berdasarkan teori yang ada dan kondisi klien dilapangan terdapat

perbedaan karena klien mendapat terapi medis olanzapine dan

lorazepam. Olanzapine merupakan obat golongan antipsikosis atopikal

untuk pasien jiwa yang terdapat gangguan psikotik. Lorazepam

merupakan golongan obat antiansietas dan hipnotik sedatif.

Analisa data pada klien dengan perilaku kekerasan dapat dikaji

melalui data subjektif dan data objektif yang kemudian akan

menentukan masalah keperawatan.5

Pada analia data ditemukan data-data subjektif yang didapatkan

dari Tn.S. Tn.S menceritakan apa yang Tn.S alami. Tn.S mencerikatan

dan penulis melakukan validasi kepada pihak keluarga.

Berdasarkan analisa data antara teori dan kondisi klien ternyata

tidak ada kesenjangan. Klien menceritakan apa yang klien alamai dan

penulis menjadikannya sabagai data subjektif sebagai salah satu data

untuk menentukan masalah. Sedangkan penulis mengkaji data objektif

yang ada pada klien.


B. Diagnosa Keperawatan

1. Masalah keperawatan

Menurut teori Masalah keperawatan yang dapat muncul pada

klien resiko perilaku kekerasan ialah perilaku kekerasan, risiko

menciderai (menciderai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan),

perubahan persepsi sensori : Halusinasi, harga diri rendah, Isolasi

sosial, berduka disfungsional, penatalaksanaan regimen terapeutik

inefektif, koping keluarga inefektif. 11

Masalah keperawatan yang ada pada Tn.S adalah perilaku

kekerasan, resiko menciderai (diri sendiri, orang lain, dan

lingkungan), perubahan persepsi sensori : halusinasi, harga diri

rendah serta berduka disfungsional.

Berdasarkan masalah keperawatan yang ada, antara konsep

teori dan kondisi klien ternyata ada kesenjangan hal ini terjadi

karena klien tidak muncul masalah keperawatan regimen terapeutik

inefektif sebab klien sebelumnya belum pernah masuk RSJ dan

tidak memiliki riwayat putus obat dan klien tidak muncul masalah

keperawatan koping keluarga inefektif. Berdasarkan pengkajian

yang telah dilakukan terhadap keluarga klien, penulis mendapatkan

data bahwa keluarga klien mendukung untuk kesembuhan klien.

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatn ditetapkan sesuai dengan data yang

didapat, walaupun saat ini tidak melakukan perilaku kekerasan


tetapi pernah melakukan atau mempunyai riwayat perilaku

kekerasan dan belum mempunyai kemampuan mencegah atau

mengontrol perilaku kekerasan tersebut. Diagnosa keperawatan

yang muncul pada klien dengan perilaku kekerasan antara lain

perilaku kekerasan, resiko perilaku kekerasan, koping individu

tidak efektif, perubahan persepsi sensori : Halusinasi, resiko

menciderai diri sendiri dan orang lain, dan lingkungan, srta harga

diri rendah. 6

Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada Tn.S adalah

resiko perilaku kekerasan, resiko menciderai (diri sendiri, orang

lain, dan lingkungan), harga diri rendah.

Berdasarkan diagnosa keperawatan antara dasar teori dan

kondisi klien ternyata ada kesenjangan hal ini dikarenakan pada

pengkajian penulis yang dilakukan kepada Tn.S tidak muncul

koping individu tidak efektif hal ini disebabkan Tn.S saat dilakukan

pengkajian kooperetif dan dapat menjawab sesuai apa yang Tn.S

alami.

C. Intervensi

Rencana tindakan keperawatan meliputi tujuan umum, tujuan

khusus, rencana tindakan keperawatan, kriteria hasil. Rencana

keperawatan ini pada nantinya akan diterapkan untuk acuan saat

melakukan tindakan keperawatan. Pada tahap perencanaan ini penulis


tidak menemukan hambatan karena adanya kerja sama dan bimbingan

dari pembimbing akademi serta atas informasi perawat diruangan.

Berdasarkan teori yang ada rencana keperawatan mencakup perumusan

diagnosis, tujuan serta tindakan yang telah distandarisasi.5

D. Implementasi

Implementasi yang dilakukan penulis pada hari pertama ialah

membina hubungan saling percaya. Menurut teori klien dapat membina

hubungan saling percaya yang ditunjukkan dengan klien mau membalas

salam, klien mau menjabat tangan, klien mau menyebutkan nama, klien

mau tersenyum, klien mau kontak mata, klien mengetahui nama

perawat, menyediakan waktu untuk kontak.5

Pada saat penulis melakukan implementasi didapatkan hasil

klien mau membalas salam, klien mau menjabat tangan, klien mau

menyebutkan namanya Tn.S, klien mau tersenyum, klien ada kontak

mata, klien mengetahui nama penulis, Tn.S bersedia menyediakan

waktu untuk kontrak. Berdasarkan teori yang ada dan kondisi klien

ternyata tidak ada kesenjangan.

Pada implementasi hari pertama penulis juga mengajarkan klien

untuk mengontrol emosi menggunakan cara fisik 1 (tarik nafas dalam)

langkah –langkah yang dilakukan mengidentifikasi penyebab perilaku

kekerasan, mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan,

mengidentifikasi perilaku kekerasan, mengidentifikasi akibat perilaku

kekerasan, menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan,


membantu klien mempraktikkan cara mengontrol perilaku kekerasan

secara fisik 1 (tarik nafas dalam), menganjurkan klien memasukkan ke

dalam kegiatan harian.5

Implementasi yang dilakukkan penulis sesuai dengan teori yang

ada diatas. Tn.S bersedia dilatih mengontrol emosinya dengan cara tarik

nafas dalam. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kustanti dan

Widodo teknik relaksasi efektif untuk menurunkan keluhan fisik yang

dialami oleh klien perilaku kekerasan. Salah satunya yaitu teknik

relaksasi nafas dalam.

Pada hari ke dua Tn.S melakukan program ECT adalah suatu

tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan

kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini adalah

bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui

elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan

kejang grandmall. ECT lebih efektif dari antidepresan untuk klien

dengan gejala psikotik berikan antidepresan saja (imipramin 200-

300mg/hari selama 4 minggu) namun jika tidak ada perbaikan perlu


5
dipertimbangkan tindakan ECT. Pada tindakan ECT yang dilakukan

pada Tn.S didapatkan data Jumlah kejang 35”, durasi 1.00 sec, energy

14.1/13.3, dinamik impedance 540/206.

Pada hari ke dua (siang hari) penulis masih mengajarkan klien

(Tn.S) SP pertama yaitu tarik nafas dalam. Hal terjadi karena Tn.S

belum bisa melakukan SP pertama secara mandiri. Melainkan masih


dengan bantuan perawat. Pada sore harinya penulis melakukan validasi

kepada Tn.S, dan setelah divasidasi Tn.S dapat melakukan SP pertama

secara mandiri.

Pada hari ke tiga penulis mengajarkan Tn.S untuk berlatih

mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 2 : yaitu dengan cara

mengontrol perilaku kekerasan dengan pukul kasur dan bantal. langkah-

langkah diantaranya yaitu mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien,

melatih klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 2 : yaitu

dengan cara pukul kasur dan bantal. 5

Pada hari ke tiga penulis mengulang SP1P pada Tn.S, dan Tn.S

dapat melakukannya tanpa bantuan perawat. Pada hari ke tiga perawat

tidak mengalami hambatan dalam melakukkan implementasi karena

Tn.S kooperatif dan sudah bisa mengontrol emosinya walaupun masih

sampai SP2P.

Pada siang hari penulis melakukan TAK stimulasi kognitif atau

persepsi kepada Tn.S. Tujuan dari TAK sendiri yaitu klien dapat

memersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan tepat dan

klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus. TAK

stimulasi kognitif atau persepsi dapat mengenal kekerasan yang bisa

dilakukan menurut teori (Farida Kusumawati, 2011).

Dalam melakukan TAK ini penulis tidak mengalami hambatan

karena Tn.S kooperatif dan bersedia mengikuti peraturan dalam TAK,


Tn.S menggambarkan suasana dirumah Tn.S yang berada di Pati serta

Tn.S bersedia menceritakan apa yang Tn.S gambarkan.

E. Evaluasi

Evaluasi adalah mengevaluasi perkembangan klien dalam

mencapai hasil yang diharapkan asuhan keperawatan adalah proses

dinamik yang melibatkan perubahan dalam status kesehatan klien

sepanjang waktu, pemicu kebutuhan terhadap data baru, berbagai

diagnosa keperawatan, dan modifikasi rencana asuhan sesuai dengan

kondisi klien. 5

Pada asuhan keperawatan tahap yang terakhir adalah tahap

evalusi. Tahap evaluasi ini adalah tahap yang dilakukan setelah

melakukan implementasi yang dilakukan setiap hari selama 3x24 jam.

Evaluasi yang didapatkan penulis setelah melakukan implementasi

selama 3x24 jam kepada Tn.S ialah dengan diagnosa resiko perilaku

kekerasan. Pada saat dilakukan pengkajian hari pertama emosi Tn.S

masih labil akan tetapi Tn.S bersedia menceritakan apa yang terjadi

pada dirinya akan tetapi belum semua Tn.S ceritakan kepada penulis.

Saat dikaji Tn.S mau berkenalan dengan penulis serta klien mau

menyebutkan nama serta alamat tempat Tn.S tinggal. Tn.S mau

bercerita kepada penulis dan Tn.S mengatakan bahwa dirinya sering

merasa jengkel dan emosi. Tn.S merasa jengkel dan emosi karena Tn.S

merasa gagal dalam menjadi seorang kepala keluarga karena istri klien
pergi meninggalkan Tn.S tanpa berpamitan maupun izin dengan Tn.S.

Klien mengatakan ingin bekerja seperti dulu. Klien mengatakan

mengamuk dan merusak televisi dirumah karena merasa jengkel kepada

istrinya klien. Klien mengatakan jika jengkel Tn.S suka membanting

barang-barang yang berada di sekitar Tn.S. Dalam hal ini penulis tidak

mengalami hambatan karena Tn.S (klien) bersedia menceritakan apa

yang dialaminya. Klien mengatakan jika membanting barang berakibat

pada barang menjadi rusak. Klien mengatakan bersedia dilatih cara

mengontrol emosinya dengan cara tarik nafas dalam. Sebelum penulis

melatih klien mengontrol emosinya dengan cara isik 1 : tarik nafas

dalam, penulis membina hubungan saling percaya terhadap klien,

mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan, mengidentifikasi

penyebeb perilaku kekerasan yang dilakukan, menyebutkan cara

mengontrol perilaku kekerasan yang dilakukan, membantu klien

mempraktikan cara mengontrol marah atau emosi klien menggunakan

cara fisik 1 : tarik nafas dalam. Hal ini sesuai teori yang ada pada bab

dua. Tn.S juga mendapatkan terapi ECT. Tn.S sudah mendapatkan

terapi ECT empat kali. Dengan hasil ECT ada pada di Implementasi.

Perencanaan untuk penulis adalah mempertahankan tujuan

khusus pertama membina hubungan aling percaya, tujuan khusus ke

dua mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya,

tujuan khusus ke tiga mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan,

tujuan yang ke empat mengidentifikasi jenis oerilaku kekerasan yang


pernah dilakukan, tujuan khusus kelima mengidentifikasi akibat

perilaku kekerasan, tujuan khusus ke enam mengidentifikasi cara

konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan, tujuan khusus ke tujuh

mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan dan kemudian

melanjutkan strategi pelaksanaan yang selanjutnya yaitu mengontrol

marah dengan cara verbal, spiritual, dan minum obat secara teratur.

Tn.S juga mendapatkan terapi aktivitas kelompok. Pada saat klien

mendapatkan terapi aktivitas kelompok menggambar klien

menggambarkan suasana rumahnya yang berada didesa kemudian klien

menceritakan apa yang telah klien (Tn.S) gambarkan.

Pada klien dengan resiko perilaku kekerasan terdapat lima

strategi pelaksanaan. Pada tahap ini penulis mengalami hambatan

karena klien belum belum maksimal dalam mengontrol emosinya

dengan cara yang selanjutnya. Penulis baru sampai pada SP ke dua

yaitu mengontrol perilaku kekerasan dengan cara pukul kasur dan

bantal kemudian penulis mendelegasikan kepada perawat ruangan

untuk memvalidasi cara yang telah diajarkan kepada klien.