You are on page 1of 18

Makalah Ujian Akhir Semester

Manajemen Pajak

Disusun oleh:
Arista Sefreeyeni
8335123511

Konsentrasi Perpajakan
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya yang
telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ujian akhir semester ini dengan tepat waktu
Tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk menyempurkan nilai dari mata
kuliah Manajemen Perpajakan. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada
Ibu Nuramalia Hasanah, SE., MAk, selaku dosen dari mata kuliah tersebut karna
tanpa bimbingan Ibu, penulis bukanlah apa-apa dalam memahami materi ini.
Penulis berharap makalah ini dapat berguna bagi siapapun yang membacanya.
Dan penulis mengharapkan saran apabila dalam makalah ini terdapat kekurangan.

Jakarta, Januari 2016


Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

 Latar Belakang
Pajak merupakan iuran rakyat kepada Negara berdasarkan undang-undang (yang
dapat dipaksakan) dan tiada mendapat jasa timbal yang langsung dapat
ditunjukan. Pajak bagi perusahan merupakan beban yang perlu dipertimbangkan,
karena pajak dapat menjadi pengurang laba. Teruntuk perusahaan yang ingin
mengekspansi kekayaan perusahaannya tentu hal ini perlu diperhatikan.
Namun, yang terjadi saat ini banyak perusahaan yang menomor duakan hak dan
kewajiban perpajakan serta hukum pajak. Padahal apabila perusahaan dapat
mengelola dan menaati prosedur pajak badan dengan benar maka kelangsungan
hidup perusahaan akan semakin baik, perusahaan akan dipandang bagus oleh
pemerintah dan terhindar dari proses pengauditan yang dapat menyebabkan pajak
kurang bayar yang lebih besar diakhir perhitungannya.
Wajib pajak harus memahami undang-undang yang telah ditetapkan pemerintah
mengenai pengenaan pajak serta segala hukumnya. Sehingga apabila terjadi
ketidakwajaran atas pengenaan tarif pada pajak perusahaan wajib pajak dapat
menolak dan membetulkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu
pemahaman tentang perpajakan juga perlu wajib pajak kuasai, sehingga dapat
diaplikasikan ilmu tersebut dalam mengelola perusahaan.
Pemilihan bentuk usaha juga perlu diperhatikan apabila wajib pajak akan
meluaskan perusahaannya. Seperti yang kita tahu, pengenaan tarif pajak badan
berbeda di tiap-tiap bentuk usahanya. Bentuk usaha dapet terdiri dari bentuk usaha
perorangan maupun bentuk badan. Dimana bentuk perseorangan adalah bentuk
badan usaha yang didirkan oleh seseorang tanpa melibatkan partner dalam
kegiatan usahanya. Sedangkan, bentuk usaha badan adalah bentuk badan usaha
yang didirikan oleh lebih dari satu orang yang memiliki hubungan yang sama,
dengan disaksikan oleh notaris atau lembaga terkait (Muljono, 2009:3).
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai kasus perusahaan Aladin yang
merupakan perusahaan dagang dan ingin mengembangkan perusahaannya. Aladin
berencana akan membuka cabang di beberapa daerah, yaitu Bandung, Makassar
dan Kalimantan. Dalam melakukan rencana ini, perusahaan Aladin harus
mengetahui hal-hal apa saja yang dibutuhkan agar tidak mengeluarkan biaya yang
terlalu besar, entah dalam operasionalnya maupun dalam hal perpajakannya.
Perusahaan Aladin harus mengetahui keuntungan dan kelebihan jika ingin
membuka cabang didaerah tersebut, dan bagaimana pengenaan tarif pajaknya di
tiap daerah yang berbeda. Maka dari itu, perusahaan Aladin lebih baik melakukan
perencanaan pajak guna pengembangan usahanya. Hal tersebut akan penulis
analisis dan bahas dalam makalah ini.

 Perumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, meka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Apa pengertian pajak ?
2. Apa saja ciri – ciri dari perpajakan ?
3. Apa saja masalah – masalah yang dihadapi tax planning ( manajemen
pajak?
4. Bagaimana strategi dalam menghadapi masalah manajemen pajak

 Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian pajak
2. Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri dari perpajakan
3. Untuk mengetahui apa saja maalah – masalah yang dihadapi dalam perpajakn
4. Untuk mengetahui bagaimana strategi dalam menghadapi masalah-masalah
dalam perpajakan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori pendukung


2.1.1 Definisi Pajak
Menurut Prof. Rochmat Soemitro SH, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas
Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada
mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditujukan dan
digunakan unuk membayar pengeluaran umum.
Definisi perancis dalam Buku Leroy Beaulieu yang berjudul Traite de la science
des Finances 1906, Pajak adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak
yang dipaksakan oleh kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang, untuk
menutup belanja pemerintah.
Definisi Deutsche Reichs Abgaben Ordnung (RAO-1919); Pajak adalah bantuan
secara insidental atau secara periodik (dengan tidak ada kontraprestasinya), yang
dipungut oleh badan yang bersifat umum (negara), untuk memperoleh
pendapatan, dimana terjadi suatu tatbestand(sasaran pemajakan) karena undang-
undang telah menimbulkan utang pajak.
Definisi Prof R.A. Seligman dalam Essays in Taxation (New York, 1925); Pajak
adalah konstribusi wajib dari seseorang kepada pemerintah untuk membiayai
pengeluaran yang terjadi untuk kepentingan bersama, tanpa merujuk pada manfaat
khusus dianugerahkan.
Definisi Dr. Soeparman Soemahamidjaja dalam disertasinya yang berjudul Pajak
berdasarkan Asas Gotong Royong Universitas Padjadjaran bandung 1964; Pajak
adalah iuran wajib, berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa
berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang
dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.

Unsur-Unsur pajak ;
1. Iuran rakyat k epada negara,yang berhak memungut pajak adalah negara,
iuran berupa uang bukan barang.
2. Berdasarkan undang-undang, pajak dipungut berdasarkan atau dengan
kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timba atau kontraprestasi dari negara secara langsung dapat
ditunjuk, dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya
kontraprestasi individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran
yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

2.2 Ciri – ciri Pajak


Ciri pajak yang tersimpul dalam berbagai definisi secara umum adalah :
1. pajak peralihan kekayaan dari orang/badan ke Pemerintah
2. Pajak dipungut berdasarkan/dengan kekuatan undang-undang serta aturan
pelaksanaannya sehingga dapat dipaksakan.
3. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi
langsung secara individual yang diberikan oleh pemerintah.
4. pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah.
5. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila
dari pemasukkannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk
membiayai public investment
6. Pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu dari
pemerintah
7. Pajak dapat dipungut baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pengertian pajak menurut Pasal 1 ayat (1) UU No. 28/2007 yang menyatakan:
“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi
atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”
Sedangkan Pengertian Wajib Pajak menurut Pasal 1 ayat (2) UU No. 28/2007
menyatakan:
“Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak,
pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban
perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.”
Salah satu kewajiban pajak oleh pribadi atau badan yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan adalah Pajak Penghasilan. Pajak Penghasilan adalah Pajak
yang diterima dari Subjek Pajak yang menerima atau memperoleh Objek Pajak.
Berikut sedikit penjelasan mengenai Subjek Pajak dan Objek Pajak pada Pajak
Penghasilan. Pengertian Subjek Pajak menurut Pasal 2 UU No 36/2008 adalah:
1. orang pribadi;
2. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak;
3. badan; dan
4. bentuk usaha tetap
Pengertian Objek Pajak menurut potongan Pasal 4 ayat (1) UU No. 36/2008
adalah:
“Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan”
2.1.2 Definisi Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak dilakukan dengan memanfaatkan pengecualian-pengecualian
dan celah-celah perpajakan (loopholes) yang diperbolehkan oleh UU No.17 Tahun
2000 Tentang Pajak sehingga perencanaan pajak tersebut tidak dianggap sebagai
pelanggaran yang akan merugikan Wajib Pajak dan tidak mengarah pada
penggelapan pajak.
Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap ini
dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar dapat
diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya
penekanan perencanaan pajak adalah untuk meminimumkan kewajiban pajak.
Perencanaan pajak merupakan tindakan legal pengendalian transaksi terkait
dengan konsekuensi potensi pajak, pajak yang dapat mengefisiensikan jumlah
pajak yang ditransfer ke pemerintah.
Tujuan Perencanaan Pajak adalah merekayasa agar beban pajak (Tax
Burden) serendah mungkin dengan memanfaatkan peraturan yang ada tetapi
berbeda dengan tujuan pembuatan Undang-undang maka tax planning disini sama
dengan tax avoidance karena secara hakikat ekonomis kedua-duanya berusaha
untuk memaksimalkan penghasilan setelah pajak (after tax return) karena pajak
merupakan unsur pengurang laba yang tersedia baik untuk dibagikan kepada
pemegang saham maupun diinvestasikan kembali.
Dalam buku Mohammad Zain (2006 : 67) pengertian perencanaan pajak adalah
sebagai berikut: “Perencanaan pajak merupakan tindakan penstrukturan yang
terkait dengan konsekuensi potensi pajaknya, yang tekanannya kepada
pengendalian setiap transaksi yang ada konsekuensi pajaknya. Tujuannya adalah
bagaimana pengendalian tersebut dapat mengefisienkan jumlah pajak yang akan
di transfer ke pemerintah, melalui apa yang disebut sebagai penghindaran pajak
(tax avoidance) dan bukan penyeludupan pajak (tax evasion) yang merupakan
tindak pidana fiskal yang tidak akan di toleransi. Walaupun kedua cara tersebut
kedengarannya mempunyai konotasi yang sama sebagai tindak kriminal, namun
suatu hal yang jelas berbeda disini bahwa penghindaran pajak adalah perbuatan
legal yang masih dalam ruang lingkup pemajakan dan tidak melanggar ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, sedang penyeludupan pajak jelas-jelas
merupakan perbuatan illegal yang melanggar ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan”
Untuk meminimumkan kewajiban pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara
baik yang masih memenuhi ketentuan perpajakan (lawful) maupun yang
melanggar peraturan perpajakan (unlawful). Ukuran yang digunakan dalam
mengukur kepatuhan perpajakan wajib pajak, adalah:
1. Tax saving, yaitu upaya wajib pajak mengelakkan hutang pajaknya dengan
jalan menahan diri untuk tidak membeli produk–produk yang ada pajak
pertambahan nilainya atau dengan sengaja mengurangi jam kerja atau
pekerjaan yang dapat dilakukannya sehingga penghasilannya menjadi
kecil dan dengan demikian terhindar dari pengenaan pajak penghasilan
yang besar.
2. Tax avoidance, yaitu upaya wajib pajak untuk tidak melakukan perbuatan
yang dikenakan pajak atau upaya-upaya yang masih dalam kerangka
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan untuk memperkecil
jumlah pajak yang terhutang.
3. Tax evasion, yaitu upaya wajib pajak dengan penghindaran pajak
terhutang secara illegal dengan cara menyembunyikan keadaan yang
sebenarnya.

Strategi dalam Perencanaan Pajak


Ada beberapa cara yang biasanya dilakukan atau dipraktekkan wajib pajak untuk
meminimalkan pajak yang harus dibayar (Sophar Lumbantoruan, 1996), yaitu:
1. Pergeseran pajak, merupakan pemindahan atau mentransfer beban pajak
dari subjek pajak kepada pihak lain, dengan demikian orang atau badan
yang dikenakan pajak mungkin sekali tidak menanggungnya.
2. Kapitalisasi, merupakan pengurangan harga objek pajak sama dengan
jumlah pajak yang akan dibayarkan kemudian oleh pembeli.
3. Transformasi, merupakan cara pengelakan pajak yang dilakukan oleh
pabrikan dengan cara menanggung beban pajak yang dikenakan
terhadapnya.
4. Tax Evasion
5. Tax Avoidance

Motivasi Dilakukannya Perencanaan Pajak


Motivasi yang mendasari dilakukannya suatu perencanaan pajak. Ada 3 (tiga)
unsur perpajakan yang memotivasi dilakukannya perencanaan pajak:
1. Kebijaksanaan Perpajakan (Tax Policy)
Kebijakan perpajakan merupakan alternatif dari berbagai sasaran yang hendak
dituju dalam sistem perpajakan. Terdapat faktor yang mendorong dilakukannya
suatu perencanaan pajak, yaitu:
1. Pajak yang akan dipungut
2. Siapa yang akan dijadikan subjek pajak
3. Apa saja yang merupakan objek pajak
4. Berapa besarnya tarif pajak
5. Bagaimana prosedurnya
6. Undang-undang Perpajakan (Tax Law)
Kita menyadari bahwa kenyataannya di manapun tidak ada undang-undang yang
mengatur setiap permasalahan secara sempurna, maka dalam pelaksanaannya
selalu diikuti oleh ketentuan-ketentuan lain(Peraturan Pemerintah Keputusan
Presiden, Keputusan Menteri Keuangan dan DIrektur Jendral Pajak), maka tidak
jarang ketentuan pelaksanaan tersebut bertentangan dengan Undang-undang itu
sendiri karena disesuaikan dengan kepentingan pembuat kebijaksanaan dalam
mencapai tujuan lain yang ingin dicapainya.
2. Administrasi Perpajakan (Tax Administration)
Secara umum motivasi dilakukannya perencanaan pajak adalah memaksimalkan
laba setelah pajak karena pajak itu ikut mempengaruhi dalam pengembalian
keputusan atas suatu tindakan dalam operasi perusahaan untuk melakukan
investasi dengan cara menganalisis secara cermat dan memanfaatkan peluang atau
kesempatan yang ada dalam ketentuan peraturan yang sengaja dibuat oleh
pemerintah untuk memberikan perlakuan yang berbeda atas objek yang secara
ekonomi hakikatnya sama (karena pemerintah mempunyai tujuan lain tertentu)
dengan memanfaatkan:
 Perbedaan tarif pajak (Tax Rates)
 Perbedaan perlakuan atas objek pajak sebagai dasar pengenaan pajak (Tax
Base)
 Loopholes (celah) , Shelters ( berlindung) dan

2.1.3 Definisi Wajib Pajak Berstatus Cabang


Dasar Hukum
Ketentuan yang mengatur hal ini adalah pasal 2 ayat (1) UU Nomor 28 Tahun
2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (UU KUP). Dalam ayat tersebut
disebutkan bahwa Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif
dan objektifsesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan
kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Tempat kedudukan ditafsirkan sebagai semua tempat usaha wajib pajak yang
dapat berbentuk kantor cabang, kantor perwakilan, kantor menejeman, pabrik,
gerai, kios dan lain sebagainya. Dari paparan ayat ini dapat disimpulkan bahwa
“cabang” yang didirikan di wilayah kerja kantor Ditjen pajak atau Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) yang berbeda dengan “pusat” maka wajib bagi “cabang”
untuk mendaftarkan sebagai wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) sesuai
dengan wilayah tempat “cabang” didirikan.
Apabila cabang tidak mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP Cabang
Dalam Pasal 2 ayat (4) UU KUP ditegaskan bahwa terhadap wajib pajak atau
pengusaha kena pajak yang tidak memenuhi kewajiban untuk mendaftarkan diri
dan/atau melaporkan usahanya dapat diterbitkan NPWP dan/atau pengukuhan
PKP secara jabatan.
Hal ini dapat dilakukan apabila berdasarkan data yang diperoleh atau dimiliki oleh
Ditjen Pajak ternyata orang pribadi atau badan atau Pengusaha tersebut telah
memenuhi syarat subjektif dan objektif untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib
Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Secara jabatan disini diartikan bahwa pihak Ditjen pajak dapat menetapkan secara
sepihak NPWP kepada cabang. Namun konsekuensi bila diberikan NPWP secara
sepihak ini adalah Ditjen Pajak akan melakukan penelitian berkaitan dengan
kewajiban pajak yang seharusnya dilakukan oleh tempat usaha cabang selama 5
(lima) tahun kebelakang. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (4a) UU
KUP.
Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (4a) UU KUP dinyatakan bahwa dalam penerbitan
Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak
secara jabatan harus memperhatikan saat terpenuhinya persyaratan subjektif dan
objektif dari Wajib Pajak yang bersangkutan. Selanjutnya terhadap Wajib Pajak
tersebut tidak dikecualikan dari pemenuhan kewajiban perpajakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum kepada Wajib Pajak
maupun Pemerintah berkaitan dengan kewajiban Wajib Pajak untuk mendaftarkan
diri dan hak untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak, misalnya terhadap Wajib Pajak diterbitkan Nomor
Pokok Wajib Pajak secara jabatan pada tahun 2008 dan ternyata Wajib Pajak telah
memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan terhitung sejak tahun 2005, kewajiban
perpajakannya timbul terhitung sejak tahun 2005.

NPWP Pusat dan NPWP Cabang


Ketika orang pribadi atau badan baru mulai menjalankan usaha, mereka
mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP ke KPP dimana tempat
tinggal/kedudukan wajib pajak/tempat usaha tersebut berada. NPWP ini sering
disebut sebagai NPWP pusat. Ciri utama NPWP pusat adalah 3 digit terakhirnya
000.
Bila kemudian hari usaha tersebut berekspansi dengan membuka cabang baru,
maka cabang tersebut harus ber-NPWP juga. NPWP inilah yang disebut NPWP
Cabang. NPWP Cabang terdiri dari 9 digit awal NPWP sama dengan NPWP
Pusat, 3 digit kode KPP tempat cabang tersebut berada, dan 3 digit terakhir
merupakan kode cabang.

Kewajiban Perpajakan pada NPWP Cabang


Kewajiban perpajakan Wajib Pajak Cabang adalah memungut/memotong,
membayar dan melaporkan Pajak berikut ini apabila terdapat transaksi yang
terutang. Jenis pajak yang dimaksud adalah:
PPh Pasal 21.
Sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak nomor No.SE-
23/PJ.43/2000, pemotongan PPh Pasal 21 dan atau Pasal 26 antara lain adalah
pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusat
maupun cabang, bentuk usaha tetap, perwakilan atau unit, yang membayar gaji,
upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apapun
sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa dan kegiatan. Pemotongan Pajak
yang dilakukan oleh kantor cabang, perwakilan atau unit tempat pembayaran
imbalan jasa ketenagakerjaan dimaksud dilakukan yang pada umumnya menunjuk
pada tempat pelaksanaan pekerjaan, jasa dan kegiatan.
Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan PPh Pasal
21/26, mengikuti Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor Per-31/PJ/2012
tanggal 27 Desember 2012
PPh Pasal 22
Dalam hal Wajib Pajak ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22, maka wajib
memungut, membayarkan dan melaporkan PPh pasal 22.
PPh Pasal 23
Berbeda dengan ketentuan berkaitan dengan PPh pasal 21 di atas, sesuai dengan
ketentuan pasal 23 UU PPh disebutkan “ …………dipotong pajak oleh pihak
yang wajib membayarkan.” Dari ketentuan ini dapat disimpulkan bahwa atas PPh
pasal 23 akan terutang ditempat dilakukannya pembayaran Penghasilan. Apabila
pembayaran penghasilan dilakukan oleh kantor cabang, maka PPh pasal 23 akan
dipotong , disetorkan dan dilaporkan oleh kantor cabang. Namun, sebaliknya
apabila pembayaran penghasilan dilakukan oleh kantor pusat, maka PPh pasal 23
akan dipotong, disetor dan dilaporkan oleh kantor pusat.
PPN
PPN dapat terutang di kantor cabang bila terdapat penyerahan Barang atau Jasa
Kena Pajak dan perusahaan tidak melakukan sentralisasi (pemusatan) tempat
terutangnya PPN. Khusus untuk Pengusaha yang melakukan usaha dibidang
Penjualan Tanah dan/atau bangunan, berlaku pemungutan, pembayaran dan
pelaporan PPN-nya di lokasi usaha (cabang)/tidak berlaku sentralisasi
(pemusatan) PPN. (Perdirjen pajak nomor PER-25/PJ.2013 tanggal 3 Juli
2013).
PPh Pasal 4(2)
Wajib pajak sesuai kriteria PP-46 dengan tarif 1% dari omset masing-masing
cabang wajib menyetorkan PPh-nya menggunakan NPWP cabang. Termasuk juga
wajib pajak yang melakukan transaksi Penjualan tanah dan/atau bangunan, atau
Persewaan tanah dan/atau bangunan, pembayarannya oleh cabang dimana lokasi
tanah dan/atau bangunan itu berada.

Kewajiban Penyampaian SPT tahunan OP/Badan


Terkait kewajiban SPT Tahunan, WP berstatus Cabang hanya berkewajiban
memberikan data kepada Wajib Pajak Pusat untuk dapat dilakukan konsolidasi
laporan keuangan (rekapitulasi total omset/peredaran usaha) secara keseluruhan.
Kemudian kewajiban untuk menghitung, membayarkan dan melaporkan SPT
Tahunan PPh baik OP maupun badan dilakukan oleh Wajib Pajak Pusat dengan
NPWP Pusat.

Persyaratan dan prosedur Pengajuan NPWP Cabang


Badan dapat mendaftarkan diri ke kantor pelayanan pajak yang wilayah kerjanya
meliputi kedudukan/tempat kegiatan usaha dijalankan untuk menjadi Wajib Pajak
Cabang guna memperoleh NPWP Cabang. Proses pendaftaran NPWP cabang juga
bisa dilakukan melalui online via internet (e-registration).
Untuk memperoleh NPWP Cabang cukup dengan mengisi formulir pendaftaran
yang telah disediakan, dilampiri dengan :
 Fotokopi NPWP Pusat (OP/Badan)
 Surat Penunjukkan Cabang (Badan)
 Fotokopi Akte Pendirian/perubahan (Badan)
 Fotokopi KTP dan NPWP Pengurus aktif (Badan, untuk WP OP cukup
fotokopi KTP)
 Surat Keterangan Domisili Usaha dari Kelurahan (OP/Badan) Surat Kuasa
bermaterai apabila dikuasakan dan fotokopi KTP penerima kuasa. (OP/Badan).

2.2 Analisis Kasus


Pada kasus ini tidak dijelaskan apakah jenis badan usaha dari Aladin, namun
seperti yang sudah penulis jelaskan pada teori pendukung, apabila sesuatu sudah
memenuhi sebagai subjek pajak dan memiliki objek pajak dapat disebut Wajib
Pajak. Sehingga dalam kasus ini Aladin merupakan Wajib Pajak.
Dari definisi dalam teori pendukung yang tertera, membuktikan bahwa
Perusahaan Aladin ialah termasuk Wajib Pajak yang Berstatus Cabang karena di
kasus dijelaskan bahwa pendiri perusahaan ini berniat untuk membuka kantor
perwakilan/cabang di kota sekitar perusahaan induk. Dalam perencanaan pajak,
apabila Aladin berkeinginan untuk memperluas usahanya dengan membuka
cabang, ada baiknya Aladin mengetahui atau membandingan manakah bentuk
usaha yang cocok guna membantu dalam efisiensi pajak. Aladin harus mengetahui
beberapa faktor pajak yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan bentuk usaha,
antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana hubungan antara tarif pajak penghasilan wajib pajak orang
pribadi dan tarif pajak penghasilan wajib pajak badan termasuk ketentuan
khusus yang mengatur hal itu.
2. Pengenaan pajak penghasilan berganda, baik atas laba bruto maupun
penghasilan dari pembagian keuntungan (deviden) kepada para pemegang
saham.
3. Kesempatan untuk dapat menunda pengenaan pajak pada tarif pajak
penghasilan lebih kecil/besar apabila dibandingkan dengan kesempatan
yang terdapat pada tarif pajak penghasilan dan akumulasi penghasilan
perusahaan.
4. Adanya ketentuan-ketentuan mengenai kerugian hasil usaha neto
(kompensasi kerugian) dan kredit investasi yang berlaku bagi bentu usaha
tertentu.
5. Kemungkinan pengujian perlakuan khusus terhadap pajak atas akumulasi
laba, pajak atas penghasilan personal holding company dan seterusnya.
6. Liberalisasi ketentuan-ketentuan yang mengatur fringe benefit dan/atau
payment in kind.
Aladin juga dapat membandingkan dengan melihat ciri-ciri dari bentuk usaha.
Karena Aladin merupakan perusahaan bidang dagang, kali ini penulis
menganjurkan untuk membandingkan antara Perserikatan Komanditer (CV)
dengan Perseroan Terbatas (PT).

CV PT

Ciri-Ciri · Sulit untuk menarik · Kewajiban terbatas


modal yang telah disetor pada modal tanpa
· Modal umumya melibatkan harta pribadi
lebih besar dibandingkan · Modal dan ukuran
usaha perorangan karena perusahaan besar
berasal dari beberapa · Terdapat pemisahan
orang/pihak yang tegas antara PT
· Lebih mudah dengan pemilik
mendapatkan kredit · Dapat dipimpin oleh
pijaman orang yang tidak
· Anggota aktif memiliki bagian saham
memiliki tanggungjawab · Kepemilikan mudah
tidak terbatas sedangkan berpindah tangan
anggota pasif sifatnya · Keuntungan usaha
mengharapkan dikenai pajak di PT
keuntungan. sebagai WP Badan,
· Relative mudah sedangkan keuntungan
didirikan PT setelah dipotong
· Kelangsungan hidup pajak yang dibagikan
perusahaan CV tidak kepada pemegang
menentu/terbatas. saham (perorangan)
dalam bentuk dividen
akan dikenai pajak.
Dengan demikian terjadi
pengenaan berganda
(double taxation)
· Sulit untuk
membubarkan PT,
karena merupakan
badan hukum (legal)

Dapat terlihat bahwa apabila Aladin memilih PT, Kemungkinan Aladin akan
menemukan pengenaan ganda dalam pajaknya karna selain dikenakan pph badan,
dalam PT terdapat penganaan pajak untuk dividen. Sehingga bentuk usaha CV
lebih simple dan efektif.
Selanjutnya, Aladin dapat mengajukan Persyaratan dan prosedur Pengajuan
NPWP Cabang seperti yang telah ditegaskan pada pasal 2 ayat (1) UU Nomor 28
Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (UU KUP). Namun apabila
perusahaan pusat dan cabang perusahaan Aladin berada dalam satu wilayah KPP
yang sama, maka NPWP pun cukup milik pusat saja karena memakai PKP pusat.
Dan seperti yang telah dipaparkan dalam teori pendukung diatas, perusahaan
aladin dapat menjalankan kewajiban dari wajib pajak berstatus cabang.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah untuk pembangunan gedung cabang,
harus diperhatikan apakah lebih baik bangun sendiri, beli lansung atau leasing.
Karna pembangunan gedung baru akan dikenakan pajak bumi dan bangunan, dan
lain-lain. Selanjutnya, perusahaan aladin juga harus memastikan tarif pajak di
tiap-tiap daerah. Jangan hanya karna di satu daerah pajaknya lebih kecil dari
daerah lain tapi akses operasional untuk pengiriman produknya lebih besar. Hal
itu akan sia-sia.

BAB III
PENUTUP

 Kesimpulan
Dalam mengekspansi perusahan dengan membuat beberapa cabang, lebih baik
wajib pajak mengerti dahulu tentang risiko apa saja yang akan ditemui. Salah
satunya dalam pengenaan pajak. Namun hal itu dapat dihindari dengan
perencanaan pajak yang baik.
Perusahaan Aladin dapat memulai perencanaan pajak dengan memilih bentuk
usaha badan yang untuk cabang yang akan dia buat. Selanjutnya perusahaan
aladin dapat mengikuti prosedure sebagai wajib pajak berstatus cabang.
 Saran
Penting bagi wajib pajak untuk memahami hukum pajak demi kelangsungan
perusahaannya. Wajib pajak sebaiknya memeperhitungkan baik-baik faktor yang
mendukung atau tidak ketika akan mendirikan atau memperluas usaha. Selain itu,
perencanaan pajak dapat dijadikan alternative bagi wajib pajak untuk menangani
keseimbangan pengeluaran dan laba perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.pajak.go.id/content/meneropong-siklus-hak-dan-kewajiban-wajib-
pajak
http://ekstensifikasi423.blogspot.co.id/2014/10/npwp-cabang-dan-kewajiban-
perpajakannya.html
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt509c6fd10ac24/pendaftaran-badan-
usaha-dan-kewajiban-membayar-pajak,-serta-upah-minimum
http://hukum-pajak.blogspot.co.id/2010/04/definisi-pajak.html
http://www.pbtaxand.com/consultations/354-kewajiban-perpajakan-kantor-
cabang#sthash.QNtMWtdu.dpbs
http://akhwatassyari.blogspot.co.id/2012/05/normal-0-false-false-false-in-x-none-
x.html
http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&page=show&id=15156