You are on page 1of 23

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN SISTEM STARTER

DENGAN MOTOR LISTRIK DC UNTUK PEMBELAJARAN SISTEM


STARTER

Febry Dwi Hendriarto

Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang


Alamat e-mail: febrydwi796@gmail.com

ABSTRAK: Dalam dunia pendidikan dibutuhkan berbagai media untuk memberikan kemudahan
dalam memahami suatu materi. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk menyalurkan pesan , sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan
siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar . Adapun media pembelajaran dalam
hal ini adalah media pembelajaran yang berkaitan digunakan untuk mencapai tujuan belajar
mengenai pemahaman sistem starter berupa alat peraga. Media pembelajaran ini dapat
mempermudah siswa untuk memahami sistem kerja dari starter, mengetahui nama dan bentuk
berbagai komponen starter. Di dalam dunia pendidikan kejuruan media pembelajaran harus berupa
fisik seperti media pembelajaran. Khususnya otomotif, pengajar tidak mungkin dapat menjelaskan
dengan maksimal jika komponen dari sistem kerja masih terdapat di dalam sebuah mobil. Jadi
perlu adanya pengelompokan dalam pembelajarannya. Perlu adnya pengelompokan antar sistem
agar mudah melakukan penjelaskan dan dipahami.

Kata Kunci : Media pembelajaran, sistem starter, pendidikan kejuruan.

PENDAHULUAN
Media pembelajaran merupakan salah satu kekuatan yang memacu
pendidikan untuk lebih baik lagi. Media pembelajaran mempermudah dan
mempercepat peserta didik untuk memahami suatu sistem dari sebuah perkara.
Dengan memahami sebuah sistem peserta didik akan mudah untuk melakukan
analisa dan bahkan membuat sebuah teknologi baru. Khususnya di dunia
pendidikan kejuruan media pembelajaran menjadi terpenting. Peserta didik tidak
mungkin hanya dijelaskan menggunakan papan tulis atau dengan gambar-gambar.
sulit untuk memahami sebuah sitem hanya dengan gambar. peserta didik harus
dituntut cepat untuk memahami sebuah materi tersebut, karena jam dalam
pendidikan kejuruan sangat padat. Ditambah peserta didik sekolah kejuruan
dipersiapkan lagsung untuk terjun ke dunia kerja. Penting untuk memahami sitem
dari sebuah perkara. Untuk menjadikan peserta didik berkompeten untuk ikut
bersaing di dunia kerja, diperlukan adanya sebuah media dengan semua analisis
kerusakannya. Khususnya otomotif, pengajar tidak mungkin dapat menjelaskan
dengan maksimal jika komponen dari sistem kerja masih terdapat di dalam sebuah
mobil. Jadi perlu adanya pengelompokan dalam pembelajarannya. Perlu adnya
pengelompokan antar sistem agar mudah melakukan penjelaskan dan dipahami.
Kali ini artikel ini akan membahas tentang perancangan sebuah media
pembelajaran sistem starter. Pembelajaran menggunakan papan tulis kompetensi
dasar mempelajari sistem starter, siswa hanya digambarkan diagram rangkaian
cara kerja sistem starter kemudian dijelaskan secara lisan oleh guru. Sehingga
adakalanya siswa kurang memperhatikan secara langsung penjelasan guru yang
terkadang kurang optimal. Begitu juga tentang mengetahui gejalagejala kerusakan
sistem starter menggunakan media papan tulis hanya digambarkan dengan tabel
gejala dan dijelaskan oleh guru. Hal tersebut hanya menghasilkan sebuah
gambaran semu dari pemahaman siswa tentang gejala kerusakan.
Kegiatan pembelajaran mempelajari sistem starter menggunakan media
power point kekurangannya adalah saat mempelajari cara kerja sistem starter
kemungkinan siswa tidak tertarik untuk memperhatikan jika guru menjelaskan
dengan terus-menerus melihat ke slide power point. Hal tersebut menjadi
kelemahan media power point. Sedangkan dalam mengetahui gejala kerusakan
siswa perlu merasakan dan melihat langsung gejala kerusakan komponen-
komponen sistem starter, dan disini power point belum bisa membantu memenuhi
keperluan tersebut.
Jadi media pembelajaran sistem starter ini menjadi solusi dari semua
permasalahan tersebut. Media pembelajaran sistem starter ini menggunakan
sistem yang sama digunakan dalam sistem starter mobil. Bedanya hanya sistem ini
dikeluarkan dari dalam konstruksi mobil agar mudah dipahami.
Kami berharap dengan adanya media pembelajaran ini dapat memajukan
dunia pendidikan Indonesia. Kami ingin suatu saat nanti Indonesia dapat
memproduksi kendaraan sendiri dengan kualitas yang bagus. Dibalik sebuah
karya yang bagus pasti banyak orang – orang berkompeten yang membangunnya.

DASAR TEORI
Motor DC
Motor DC adalah motor yang digerakkan oleh energi listrik DC (Amillah,
2016: 8). Salah satu jenis Motor DC adalah Motor DC magnet permanen
(Permanent Magnet Exited Brused DC Motor). Sebuah Motor DC magnet
permanen biasanya tersusun atas magnet permanen, kumparan jangkar dan sikat
(Brush).

Gambar 2. Motor Lsitrik DC


(Amillah, 2016: 8)
Sistem Starter
Sistem starter berfungsi memberikan tenaga putar bagi mesin untuk memulai
siklus kerja mesin. Pada umumnya sistem starter listrik menggunakan motor
listrik, yang dipasangkan/dihubungkan dengan poros engkol menggunakan
perantara roda gigi maupun rantai. Sumber tegangan diperoleh dari tegangan
baterai, dan motor starter harus dapat menghasilkan momen yang besar dari
tenaga yang kecil yang tersedia pada baterai. Hal lain yang harus diperhatikan
adalah konstruksi motor starter harus sekecil mungkin. Kebanyakan sistem starter
menggunakan motor seri arus searah (Nugraha, 2005: 9).
Gambar 3. Konstruksi Sistem Starter
(Otomotif Mobil, 2014)

Komponen Dasar Sistem Starter


Terdapat beberapa komponen dasar sistem starter sebagai berikut :
1. Baterai
Baterai, merupakan sebuah alat elektro-kimia yang dibuat untuk
mensuplai energi listrik tegangan rendah (pada sepeda motor
menggunakan 6 Volt dan atau 12 Volt) ke sistem pengapian, starter,
lampu dan komponen kelistrikan lainnya. Baterai menyimpan listrik
dalam bentuk energi kimia, yang dikeluarkan apabila diperlukan
sesuai beban/sistem yang memerlukannya.
2. Kunci Kontak
Kunci Kontak, berfungsi sebagai saklar utama untuk menghubung
dan memutus (On-Off) rangkaian kelistrikan sepeda motor.
3. Relay Starter (Magnetic Switch)
Relay Starter (Magnetic Switch), sebagai relay utama sistem starter
yang berfungsi untuk mengurangi rugi tegangan yang disalurkan dari
baterai ke motor starter.
4. Saklar Starter (Starter Switch)
Saklar Starter (Starter Switch), berfungsi sebagai saklar starter
yang bekerja pada saat kunci kontak pada posisi ON.
5. Motor Starter
Motor Starter, merupakan motor starter listrik (kebanyakan tipe
DC) yang berfungsi untuk mengubah tenaga kimia baterai menjadi
tenaga putar yang mampu memutarkan poros engkol untuk
menghidupkan mesin.

Cara Kerja Sistem Starter


Kerja sistem starter ini dibagi menjadi tiga keadaan, yaitu saat kunci
kontak pada posisi start (ST), saat gigi pinion berhubungan dengan gigi pada roda
penerus (flywheel), dan saat kunci kontak kembali pada posisi ON atau IG,
Berikut akan dijelaskan cara kerja sistem starter pada tiap posisi:
Saat Kunci Kontak Pada Posisi Start (ST)
Gambar 4. Saat Kunci Kontak Pada Posisi Start (ST)
(Anonim, 2015)
Kerja sistem starter saat kunci kontak pada posisi start (ST), kunci kontak
(ignition switch) yang diputar pada posisi start menyebabkan terjadinya aliran arus
ke kumparan penarik (pull-in coil) dan ke kumparan penahan (hold-in coil) yang
secara bersamaan berikut adalah aliran arus ke masing-masing kumparan tersebut.

 Arus dari baterai mengalir ke kunci kontak → terminal 50 pada solenoid


→kumparan pull-in coil → terminal C → kumparan medan (field coil) →
sikat positif → kumparan atmature → sikat negatif → massa. Maka akan
terbentuk medan magnet pada kumparan pull-in coil.
 Arus dari baterai mengalir ke kunci kontak --> terminal 50 pada solenoid
→ kumparan hold-in coil → massa. Maka akan terbentuk medan magnet
pada kumparan hold-in coil.

Aliran arus pada kumparan pull-in coil dan kumparan hold-in coil
menyebabkan terjadinya kemagnetan pada kedua kumparan tersebut. Letak
plunyer di dalam solenoid yang tidak simetris atau tidak berada di tengah
kumparan menyebabkan plunyer tertarik dan bergerak ke kanan melawan tekanan
pegas pengembali (return spring). Karena ada aliran arus (kecil) dari pull-in coil
ke kumparan medan dan ke kumparan armature, maka medan magnet yang
terbentuk pada kumparan medan dan armature lemah sehingga motor starter
berputar lambat. Pada saat plunyer tertarik, tuas penggerak (drive lever) yang
terpasang pada ujung plunyer juga akan tertarik ke arah kanan. Bagian tengah tuas
penggerak terdapat baut yang berfungsi sebagai engsel sehingga tuas penggerak
bagian bawah yang berkaitan dengan kopling starter (starter clutch) bergerak ke
kiri mendorng gigi pinion agar berkaitan dengan ring gear. Pada kondisi pluyer
tertarik (plat kontak belum menempel), motor starter berputar lambat. Putaran
lambat ini membantu gigi pinion agar mudah masuk atau berkaitan dengan ring
gear.
Saat Gigi Pinion Berhubungan Dengan Ring Gear

Gambar 5. Saat Gigi Pinion Berhubungan Dengan Ring Gear


(Anonim, 2015)

Kerja sistem starter saat gigi pinion berhubungan dengan ring gear. Plunyer
bergerak ke kanan pada saat kumparan pull-in coil dan kumparan hold-in coil
menghasilkan medan magnet. Gerakan ini menyebabkan gigi pinion berkaitan
penuh dengan ring gear dan plat kontak pada bagian ujung kanan plunyer
menempel dengan terminal utama pada solenoid sehingga pada terminal 30 dan
terminal C terhubung. Arus yang besar dapat mengalir melewati kedua terminal
tersebut. Pada keadaan ini tegangan di terminal 50 sama dengan tegangan di
terminal 30 dan terminal C. Karena tegangan di terminal C sama dengan tegangan
di terminal 50, maka tidak ada arus yang megalir ke kumparan pull-in coil dan
kemagnetan di kumparan tersebut hilang. Secara rinci aliran arus dalam keadaan
ini dijelaskan sebagai berikut:
 Arus dari baterai mengalir ke teminal 50 → kumparan hold-in coil →
massa. Terbentuklah medan magnet pada kumparan hold-in coil.
 Arus yang besar dari baterai mengalir ke terminal 30 →plat kontak -→
terminal C → kumparan medan → sikat positif→ kommutator →
kumparan armature →ikat negatif → massa. Dan terbentuk medan magnet
yang sangat kuat pada kumparan medan dan kumparan armature sehingga
motor starter berputar.

Aliran arus yang besar pada kumparan medan dan kumparan armature
menyebabkan terjadinya medan magnet yang sangat kuat sehingga motor starter
berputar cepat dan mengahasilkan tenaga kembali yang besar untuk memutarkan
mesin. Medan magnet pada kumparan pull-in coil dalam kondisi ini tidak
terbentuk karena arus tidak mengalir ke kumparan tersebut. Selama motor starter
berputar plat kontak harus ada dalam kondisi menempel dengan terminal utama
pada solenoid. Oleh sebab itu pada kondisi ini kumparan hold-in coil tetap dialiri
arus listrik sehingga medan magnet yang terbentuk pada kumparan tersebut
mampu menahan plunyer dan plat kontak tetap menempel. Dengan demikian,
meskipun kumparan pada pull-in coil kemagnetannya hilang, plunyer masih
dalam kondisi tertahan.
Saat Kunci Kontak Kembali ke Posisi ON (IG)
Gambar 6. Saat Kunci Kontak Kembali ke Posisi ON (IG)
(Anonim, 2015)

Kerja sistem starter saat kunci kontak kembali ke posisi ON (IG). Setelah
mesin hidup, maka kunci kontak dilepas dan posisinya kembali ke posisi ON atau
IG. Namun demikian sesaat kunci kontak dilepas, plat kontak masih dalam
kondisi menempel. Pada keadaan ini terminal 50 tidak akan mendapatkan arus
listrik dari baterai. Aliran arus listrik pada kondisi ini dijelaskan sebagai berikut:
 Arus dari baterai mengalir ke terminal 30 → plat kontak → terminal C →
kumparan medan → sikat positif → kommutator → kumparan armature
→ sikat negatif→ massa. Masih terbentuk medan magnet yang sangat kuat
pada kumparan medan dan kumparan armature, motor starter masih
berputar.
 Arus dari baterai ke terminal 30 → plat kontak→terminal C→ kumparan
pull-in coil → kumparan hold-in coil → massa. Kumparan pull-in coil dan
kumparan hold-in coil menghasilkan medan magnet, namun arahnya
berlawanan.

Seperti dijelaskan pada aliran no.1, motor starter masih dialiri arus yang besar
sehingga pada saat ini motor starter masih berputar. Aliran arus seperti yang
dijelaskan pada no.2, terjadi juga pada kumparan pull-in coil dan kumparan hold-
in coil. Dari penjelasan dari gambar tentang solenoid tampak bahwa arus dari
terminal C ke kumparan pada pull-in coil dan kumparan hold-in coil arahnya
berlawanan sehingga medan magnet yang dihasilkan juga akan berlawanan arah
kutubnya sehingga terjadi demagnetisasi atau saling menghilangkan medan
magnet yang terbentuk oleh kedua kumparan tesebut. Akibatnya, tidak ada
kekuatan medan magnet yang dapat menahan plunyer sehingga plunyer akan
bergerak ke kiri dan kembali pada posisi semula sehingga plat kontak terlepas dari
terminal 30 dan terminal C. Arus yang besar akan berhenti mengalir dan motor
starter berhenti berputar.

METODE PENYELESAIAN
Metode penyelesaian memuat alur perancangan, digambarkan dalam
bagan alur perancangan sbb.:

Gambar 1. Alur Perancangan Produk . . .


(Sumber: diadopsi dan diadaptasi dari Sutantra & Sampurno (2010:30))
PEMBAHASAN
1) Konsep Rancangan/Sket Awal (Draft Design)
Gambar 7. Konsep Rancangan Gabungan
Keterangan :
1. Rangka
2. Motor Starter
3. Fuse
4. Kontak
5. Jalur Output ACCU
6. Jalur Input Motor Starter
7. Wadah ACCU
8. Roda

Dimensi Rancang Bangun Trainer Starter


Gambar 8. Rangka Utama

Gambar 9. Rangka Wiring Diagram & Konstruksi


Gambar 10. Trainer dari samping

Gambar 11. Motor Starter

2) Spesifikasi Produk
Tabel 1. Spesifikasi Produk

No Nama Barang Fungsi Gambar Unit Spesifikasi Jumlah


1 Rangka Sebagai penopang Pipa kotak 16,5 m
utama dan dudukan 50x50x2,3mm
dari semua komponen.

2 Papan nama Menampilkan - Ukuran 200 cm x 100 cm 200 cm x


komponen komponen utama dari - Papan untuk meja (130 cm 100 cm
sistem starter. x 20 cm) & 130
- Papan triplek Tebal 4 mm cm x 20
cm
3 Motor Starter Untuk menghidupkan - Dinamo Starter BMW E46 1 unit
mesin

4 Banner Bidang Tulisan - 190 cm x 91 cm 1 unit

5 Roda Untuk mempermudah Roda yang mampu menopang 4 buah


penggeseran Trainer beban trainer

6 Wadah ACCU Untuk tempat ACCU P x L x T (30 cm x 20 cm x 10 1 unit


cm)

7 Fuse Box Untuk mewadahi fuse Fuse tipe Blade dengan 1 unit
tahanan 10-15 ampere
8 Fuse Kotak Pengaman kelistrikan Fuse box mini tunggal khusus 1 unit
starter untuk fuse tipe Blade

9 Jack model Sebagai socket Jack Banana warna hitam dan 7 pasang
banana rangkaian merah ukuran 1 cm x 1 cm

10 Kabel ACCU dan Penghubung Kabel Aki 12 volt dan kabel Kabel
kecil rangakaian kecil serabut 4 mm. Aki
merah(1,
5 m) dan
putih(1,5
m).
Kabel
kecil( 5m
merah
dan 2 m
hitam)
11 Kontak Menghubungkan dan Kunci kontak BMW E46 1 unit
memutus hubungan
dalam sistem starter

12 Klem Ring Untuk mengikat kabel - Kelm Baut ACCU 2 unit


ACCU ke ACCU Kuningan Tebal

13 Jepit Buaya Kecil Untuk menghubungkan - Dua buah warna merah, 3 unit
rangkaian ke motor satu buah hitam
starter

3) Perencanaan Material yang Dibutuhkan (Material Requirement


Planning/MRP)
Berisi tentang perencanaan kebutuhan material produk yang didasarkan
pada draft design. Perencanaan kebutuhan material ditampilkan dalam bentuk
tabel, memuat a) nomor, b) nama komponen, c) gambar komponen, d) jumlah
komponen, e) material yang digunakan, dan f) harga satuan;
Tabel 2. Perencanaan Material yang Dibutuhkan (Material Requirement
Planning/MRP)
Gambar Material yang
No Nama Barang Jumlah Harga Satuan (Rupiah) Total Harga (Rupiah)
digunakan
1 Rangka 16,5 m Besi kotak @Rp. 95.000 Rp. 1.567.500,-
Hollow
50 mm x 50
mm 1 m

2 Papan nama 200 cm x Papan triplek @Rp. 55.000 Rp. 110.000,-


komponen 100 cm & palem 244x122 2 lembar
130 cm x cm
20 cm
3 Motor Starter 1 unit Motor starter Rp1.800.000,- Rp1.800.000,-
BMW E46

4 Banner 190 cm x Plastik Banner Cetak spanduk/banner Rp. 30.000,-


91 cm 1x1 meter
@Rp15.000

5 Roda 4 buah Roda Trolley / @Rp65.000 Rp. 65.000,-


Roda Karet 3"
Hidup Mati
1set 4pcs

6 Wadah ACCU P x L x T Plat Galvanis @Rp. 606.000,- Rp. 606.000,-


(30 cm x 20 1,00mm
cm x 10 122 cm x 244
cm) cm

7 Fuse Box 1 unit Fuse box single Rp. 6.000,- Rp. 6.000,-

8 Fuse Kotak 1 unit Fuse box mini @Rp. 1000,- Rp. 1000,-
tunggal khusus
untuk fuse tipe
Blade. Besaran
sesuati standart
starter.
9 Jack model 7 pasang Jack Banana @Rp. 2.500,- Rp. 17.500,-
banana warna hitam
dan merah
ukuran 1 cm x
1 cm
10 Kabel ACCU dan Kabel Aki Kabel Aki 12 Kabel ACCU 125 cm Rp. 80.000,-
kecil merah(1,5 volt dan kabel @Rp. 40.000
m) dan kecil serabut 4 Kabel kecil Rp. 14.000,-
putih(1,5 mm. 1 m @Rp. 2000,-
m). Kabel
kecil( 5m
merah dan
2 m hitam)

11 Kontak 1 unit Kunci kontak Rp1.000.000 Rp1.000.000


BMW E46

12 Klem Ring 2 unit - Kelm Baut @Rp. 6.000,- Rp. 12.000,-


ACCU ACCU
Kuningan
Tebal

13 Jepit Buaya Kecil 3 unit - Dua buah @Rp. 3000,- Rp. 9000,-
warna
merah, satu
buah hitam
- Jepit Buaya
Set Besar
5.5 cm

4) Prinsip Kerja Produk yang Dihasilkan


Gambar 12. Wiring Sistem Starter
Prinsip kerja produk yang dihasilkan akan dibagi menjadi 3 bagian,
yaitu saat kunci kontak pada posisi start (ST), saat gigi pinion berhubungan
dengan gigi pada roda penerus (flywheel), dan saat kunci kontak kembali
pada posisi ON atau IG, Berikut akan dijelaskan cara kerja sistem starter
pada tiap posisi:
1. Saat Kunci Kontak Pada Posisi Start (ST)
Kerja sistem starter saat kunci kontak pada posisi start (ST), kunci
kontak (ignition switch) yang diputar pada posisi start menyebabkan
terjadinya aliran arus ke kumparan penarik (pull-in coil) dan ke
kumparan penahan (hold-in coil) yang secara bersamaan berikut
adalah aliran arus ke masing-masing kumparan tersebut.
Aliran arus pada kumparan pull-in coil dan kumparan hold-in coil
menyebabkan terjadinya kemagnetan pada kedua kumparan tersebut.
Letak plunyer di dalam solenoid yang tidak simetris atau tidak berada
di tengah kumparan menyebabkan plunyer tertarik dan bergerak ke
kanan melawan tekanan pegas pengembali (return spring). Karena ada
aliran arus (kecil) dari pull-in coil ke kumparan medan dan ke
kumparan armature, maka medan magnet yang terbentuk pada
kumparan medan dan armature lemah sehingga motor starter berputar
lambat.
Pada saat plunyer tertarik, tuas penggerak (drive lever) yang
terpasang pada ujung plunyer juga akan tertarik ke arah kanan. Bagian
tengah tuas penggerak terdapat baut yang berfungsi sebagai engsel
sehingga tuas penggerak bagian bawah yang berkaitan dengan kopling
starter (starter clutch) bergerak ke kiri mendorng gigi pinion agar
berkaitan dengan ring gear. Pada kondisi pluyer tertarik (plat kontak
belum menempel), motor starter berputar lambat. Putaran lambat ini
membantu gigi pinion agar mudah masuk atau berkaitan dengan ring
gear.
2. Saat Gigi Pinion Berhubungan Dengan Ring Gear
Kerja sistem starter saat gigi pinion berhubungan dengan ring gear.
Plunyer bergerak ke kanan pada saat kumparan pull-in coil dan
kumparan hold-in coil menghasilkan medan magnet. Gerakan ini
menyebabkan gigi pinion berkaitan penuh dengan ring gear dan plat
kontak pada bagian ujung kanan plunyer menempel dengan terminal
utama pada solenoid sehingga pada terminal 30 dan terminal C
terhubung. Arus yang besar dapat mengalir melewati kedua terminal
tersebut. Pada keadaan ini tegangan di terminal 50 sama dengan
tegangan di terminal 30 dan terminal C. Karena tegangan di terminal
C sama dengan tegangan di terminal 50, maka tidak ada arus yang
megalir ke kumparan pull-in coil dan kemagnetan di kumparan
tersebut hilang.
Aliran arus yang besar pada kumparan medan dan kumparan
armature menyebabkan terjadinya medan magnet yang sangat kuat
sehingga motor starter berputar cepat dan mengahasilkan tenaga
kembali yang besar untuk memutarkan mesin. Medan magnet pada
kumparan pull-in coil dalam kondisi ini tidak terbentuk karena arus
tidak mengalir ke kumparan tersebut. Selama motor starter berputar
plat kontak harus ada dalam kondisi menempel dengan terminal
utama pada solenoid. Oleh sebab itu pada kondisi ini kumparan hold-
in coil tetap dialiri arus listrik sehingga medan magnet yang terbentuk
pada kumparan tersebut mampu menahan plunyer dan plat kontak
tetap menempel. Dengan demikian, meskipun kumparan pada pull-in
coil kemagnetannya hilang, plunyer masih dalam kondisi tertahan.
3. Saat Kunci Kontak Kembali ke Posisi ON (IG)
Kerja sistem starter saat kunci kontak kembali ke posisi ON (IG).
Setelah mesin hidup, maka kunci kontak dilepas dan posisinya
kembali ke posisi ON atau IG. Namun demikian sesaat kunci kontak
dilepas, plat kontak masih dalam kondisi menempel. Pada keadaan ini
terminal 50 tidak akan mendapatkan arus listrik dari baterai.
Motor starter masih dialiri arus yang besar sehingga pada saat ini
motor starter masih berputar. Aliran arus seperti yang dijelaskan pada
no.2, terjadi juga pada kumparan pull-in coil dan kumparan hold-in
coil. Dari penjelasan dari gambar tentang solenoid tampak bahwa arus
dari terminal C ke kumparan pada pull-in coil dan kumparan hold-in
coil arahnya berlawanan sehingga medan magnet yang dihasilkan juga
akan berlawanan arah kutubnya sehingga terjadi demagnetisasi atau
saling menghilangkan medan magnet yang terbentuk oleh dua
kumparan itu.
Akibatnya, tidak ada kekuatan medan magnet yang dapat menahan
plunyer sehingga plunyer akan bergerak ke kiri dan kembali pada
posisi semula sehingga plat kontak terlepas dari terminal 30 dan
terminal C. Arus yang besar akan berhenti mengalir dan motor starter
berhenti berputar.

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa perancangan trainer sistem starter ini sangat
berguna bagi dunia pendidikan dalam mempermudah pemahaman dari peserta
didik. Rancangan trainer ini dibuat untuk mempermudah proses pembelajaran
pada praktikum sistem starter. Tahapan yang digunakan dalam proses perancangan
media pembelajaran ini meliputi empat tahap, yaitu konsep perancangan,
spesifikasi produk, perencanaan material, dan prinsip kerja produk. Dengan
menggunakan motor listrik untuk menggerakkan trainer diharapkan peserta didik
dapat memahami atau memudahkan dalam proses pembelajaran terutama
praktikum sistem starter secara efektif dan efisien.
DAFTAR RUJUKAN
Rujukan buku asing:
Beaty, H. & Kirtley, J. 1998. Electric Motor Handbook. New York City United
States: McGraw-Hill Professional.
Chalmers, B.J. (Eds). 1988. Electric Motor Handbook. Oxford: Butterworth &
Co.
Cox, J. 2007. Electric Motors. London: Trans-Atlantic Publications.
Emadi. 2005. Energy-Efficient Electric Motors. New York: Marcel Dekker.
Gieras, J.F. & Wing, M. 2002. Permanent Magnet Motor Technology: Design and
Applications. New York: Marcel Dekker.
Gottlieb, I. 1997. Practical Electric Motor Handbook. Oxford: Newnes.
Hand, A. 2011. Electric Motor Maintenance and Troubleshooting. New York:
McGraw-Hill Education TAB
Herman, S.L. 2009. Electric Motor Control, 9th Edition. USA: Cengage Learning.
Laithwaite, E.R. 1987. A History of Linear Electric Motors. UK: Macmillan
Education UK.
Takhasi, K. & Shigenobu, N. 1985. Permanent-magnet and Brushless DC Motors.
Oxford: Clarendon Press, Oxford University Press.
Yeadon, W.H. & Yeadon, A.W. 2001. Handbook of Small Electric Motors. New
York: McGraw-Hill.

Rujukan buku Indonesia:


Sutantra, I.N. & Sampurno, B. 2010. Teknologi Otomotif. Surabaya: Guna Widya.

Rujukan artikel internasional:


Faiz, J. & Moayed, K. 2005. Design of switched reluctance machine for
starter/generator of hybrid electric vehicle. Electric Power Systems
Research, 75: 153–160.
Grachev, P.Yu. Strizhakova, E.V. & Tabachinskiy, A.S. 2012. Starter-Generator
Design and Dynamic Processes Simulation for HEVs. Procedia
Engineering, 206: 386–391.
Gritsenkoa, A. Plaksina, A. & Almetovab, Z. Development of Combined ICE
Startup System by Means of Hydraulic Starter. Procedia Engineering, 206:
1238–1245
Khlissa, R. Vivier, S. Friedrich, G. El Kadri, K. Benkara. & Assaad, B. 2015.
Thermal Modelling Of An Asymmetrical Totally Enclosed Permanent
Magnet Integrated Starter Generator. Accepted Manuscript, 1-16.
Luque, H. Claveau, F. Chevrel, P. Poil, F. & Mercier-Calvairac, F. 2011. A Two
Level Strategy for Combustion Engine Starter Robust Control in the
Context of a Hybrid Power train. Proceedings of the 18th World Congress
The International Federation of Automatic Control, 2937-2942.
Ma, Q. Brahma, A. & Rizzoni, G. 2002. Idle Speed Control For Automotive
Engines With An Integrated Starter Alternator. 15th Triennial World
Congress, 247-252.
Moser, M. Voser, C. Onder, C. & Guzzella, L. 2012. Design Methodology of
Camshaft Driven Charge Valves for Pneumatic Engine Starts. Workshop
on Engine and Powertrain Control, Simulation and Modeling, 33-40.
Nagy, L. Szabóa, T. & Jakaba, E. 2012. Electro-dynamical modeling of a solenoid
switch of starter motors. Procedia Engineering, 48: 445 – 452.
Shoujuna, S. Weiguo, L. Peitsch, D & Schaeferb, U. 2009. Detailed Design of a
High Speed Switched Reluctance Starter/Generator for More/All Electric
Aircraft. Chinese Journal of Aeronautics, 23: 216-226.
Silva, F.B.B. Orlando, M.T.D. Fardin, J.F. Simonetti, D.S. & Baldan, C.A. 2014.
A Novel Induction Motor Starting Method Using Superconduction.
Physica C, 507: 95–102.
Rujukan skripsi/tesis/disertasi:
Amilah, Arif In. 2016. Simulasi Sistem Kendali Kestabilan Motor DC
Menggunakan Kendali PID Dan Fuzzy Logic Controler (FLC). Skripsi
tidak diterbitkan. Semarang: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Negeri Semarang.
Fatah, Amin. 2015. Pengembangan Alat Peraga Sistem Starter Pada Kompetensi
Dasar Diagnosis Gangguan Sistem Starter Sepeda Motor. Skripsi tidak
diterbitkan. Semarang : Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.
Hartawan, I Gede. 2015. Penggunaan Motor Listrik Sebagai Penggerak Untuk
Menghasilkan Perubahan Rasio Transmisi yang Stabil Pada ECVT
(Electrical Continously Variable Transmission). Skripsi tidak diterbitkan.
Bali: Fakultas Teknik Universitas Udayana.
Hidayatullah, H. 2015. Analisis Penggunaan Soft Starter Altistart46 Untuk
Starting Motor Induksi 3 Fasa Rotor Sangkar Tupai. Skripsi tidak
diterbitkan. Yogyakarta : Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta.
Maulana, A. Q. 2015. Pengaruh Proses Pembuatan Inti Lilitan Terhadap Efisiensi
Motor Listrik Dengan Menggunakan Pemodelan Perangkat Lunak Ansys
Maxwell. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: Fakultas Teknik Universitas
Sebelas Maret.
Maulana, S. C. 2015. Penerapan Alat Peraga Motor Starter Tipe Reduksi
Berbasis Led Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Skripsi tidak
diterbitkan. Semarang : Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.
Rozi, Fahrul. 2014. Pengujian Karateristik Pengasutan MotorInduksi 3 Fasa
Rotor Sangkar Menggunakan Metode Soft Starting. Skripsi tidak
diterbitkan. Bengkulu: Fakultas Teknik Universitas Bengkulu.
Santoso, T. A. M. 2017. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Sistem
Starter Berbasis Adobe Flash Pada Sistem Operasi Android Untuk Kelas
XI Jurusan TKR SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Skripsi tidak
diterbitkan. Yogyakarta : Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
Wijayanto, H. 2008. Prototipe Sistem Penggerak Mobil Listrik Dengan
Menggunakan Motor Dc Seri Stater Mobil. Skripsi tidak diterbitkan.
Depok : Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Zumain, M. A. 2009. Prototipe Mobil Listrik Dengan Menggunakan Motor Dc
Magnet Permanen 0,37 HP. Skripsi tidak diterbitkan. Depok : Fakultas
Teknik Universitas Indonesia.
Rujukan bebas/karya individual dari internet:
Anonim. 2015. Cara Kerja Motor Starter. (Online)
(http://mapelotomotif.blogspot.co.id/2015/11/cara-kerja-motor-
starter.html), diakses 11 Mei 2018.
Fuadzi, A. 2014. Overhoul Dan Perawatan Motor Starter Tipe Konvensional
pada Toyota Kijang 4k di UPTD Balai Latihan Kerja Kabupaten
Kebumen. Laporan tidak diterbitkan. Kebumen : Politeknik Dharma Patria
Kebumen.
Nugraha, B. Setya. 2005. Modul Sistem Starter. Yogyakarta: Sistem Perencanaan
Penyusunan Program dan Penganggaran (SP4) Jurusan Pendidikan Teknik
Otomotif.
Otomotif Mobil. 2014. Analisa Penyebab Dinamo Starter Mobil Hangus
Terbakar. (Online)
(https://otomotifmobil.com/2014/10/analisa-penyebab-dinamo-starter-
mobil-hangus-terbakar.html), diakses 11 Mei 2018.