You are on page 1of 11

MAKALAH

AQIDAH DAN AKHLAK

ALIRAN JABARIYAH

Disusun Oleh :

MIRA HAYATI

HANISAH

Kelas : XI (sebelas)

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM AL-


KHOIRIYYAH
Jalan raya sampay-cileles km 13. Kp.Lw simbut .Desa. Muaradua. Kec. Cikulur . Kab. Lebak. Prov.
Banten
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karna dengan


rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini,
yang nantinya akan menjadi referensi bagi kami dan teman-taman. Kami
berharap dengan adanya tugas ini dapat memberikan tambahan
pengetahuan.

Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,


Oleh karna itu kami selaku penyusun senantiasa mengharapkan keritik
dan saran sifatnya membangun untuk bahan acuan tugas berikutnya.

Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu


hingga makalah ini dapat terselesaikan, terutama kepada guru yang telah
membimbing kami. Akhir kata kami selaku penyusun memohon maaf atas
segala kekurangan dari tugas kami. Semoga Allah meridhoi usaha kami.
Amin

Cikulur, Oktober 2018

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1


A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ....................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................... 3


A. Pengertian Aliran Jabariyah ...................................................... 3
B. Sejarah Kemunculan Aliran Jabariyah ....................................... 3
C. Para Pemuka Jabariyah dan Doktrin-doktrinnya ........................ 4
D. Pokok-Pokok Pemikiran Jabariyah ............................................. 5
E. Penolakan Terhadap Paham Jabariyah .................................... 6

BAB III PENUTUP ................................................................................. 7


A. Kesimpulan ................................................................................ 7
B. Saran .......................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Permulaan dari perpecahan umat islam, boleh dikatakan sejak


wafatnya nabi. Tetapi perpecahan itu menjadi reda karena terpilihnya Abu
Bakar menjadi khalifah. Demikianlah berjalan masa-masa kekhalifahan
Abu Bakar, Umar, dalam kubu persatuan yang erat dan persaudaraan
yang mesrah. Dalam masa ketiga khalifah itulah dipergunakan
kesempatan yang sebaik-baiknya dan mengembangkan islam keseluruh
alam. Tetapi setelah islam luas kemana-mana tiba-tiba diakhir khalifah
usman, terjadi suatu cedera yang ditimbulkan oleh tindakan usman yang
kurang disetujui oleh pendapat umum.
Inilah asalnya fitnah yang membuka kesempatan untuk orang-
orang yang lapar kedudukan meruntuhkan pemerintahan usman.
Semenjak itulah berpangkalnya perpecahan umat islam sehingga menjadi
beberapa partai atau golongan dan memunculkan perbedaan pendapat.
Perbedaan tersebut tampak melalui perdebatan dalam masalah kalam
yang ahirnya menimbulkan berbagai aliran - aliran dalam Islam. Dalam
perdebatan tentang teologi ini, yang diperdebatkan bukanlah akidah-
akidah pokok seperti iman kepada Allah, kepada malaikat dan lain
sebagainya, melainkan perdebatan masalah akidah cabang yang
membahas bagaimana sifat Allah, Al-Qur’an itu baru ataukah qodim,
malaikat itu termasuk golongan jin atau bukan, dan hal-hal yang berkaitan
dengan itu.

B.Rumusan masalah

1. Apa pengertian jabariah?


2. Bagaimana sejarah kemunculan jabariah?
3. Siapa saja Pemuka Jabariyah dan bagaimana Doktrin-
doktrinnya?
4. Apa saja Pokok-Pokok Pemikiran Jabariyah?
5. Apa saja Dalil Aqli Dan Dalil Naqli jabariah?
6. Apa penolakan terhadap paham jabariah?
7. Bagaimana pendapat masing-masing pemakalah mengenai
jabariah?

1
C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian jabariah.


2. Untuk mengetahui sejarah kemunculan jabariah.
3. Untuk mengetahui para Pemuka Jabariyah dan bagaimana
Doktrin-doktrinnya.
4. Untuk mengetahui Apa saja Pokok-Pokok Pemikiran Jabariyah.
5. Untuk mengetahui Apa saja Dalil Aqli Dan Dalil Naqli jabariah.
6. Untuk mengetahui penolakan tentang paham jabariah.
7. Untuk mengetahui pendapat masing-masing pemakalah
mengenai jabariah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Aliran Jabariyah

Kata jabariah berasal dari kata jabara yanng berarti “memaksa”. Di


dalam Al-munjid dijelaskan bahwa nama jabariah berasal dari kata jabara
yang mengandung arti memaksa dan mengharuskan melakukan
sesuatu. Kalau dikatakan Allah mempunyai sifat Al-jabbar (dalam bentuk
mubalaghah), artinya allah maha memaksa. Ungkapan al-ihsan majbur
(bentuk isim maf’ul) mempunyai arti bahwa manusia dipaksa atau
terpaksa. Selanjutnya kata jabara (bentuk pertama), setelah ditarik
menjadi jabariah (dengan menambah ya nasibah, artinya adalah suatu
kelompok atau aliran (isme). Lebih lanjut Asy-Syahratsany menegaskan
bahwa paham al jabr berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti
yang sesungguhnya dan menyandarkan kepada Allah SWT. Dengan kata
lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam
bahasa inggris, jabariah disebut fatalism atau predestination, yaitu paham
bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan
qadar Tuhan.
Dapat Kita simpulkan bahwa aliran Jabariyah adalah aliran
sekelompok orang yang memahami bahwa segala perbuatan yang
mereka lakukan merupakan sebuah unsur keterpaksaan atas kehendak
Tuhan dikarenakan telah ditentukan oleh qadha’ dan qadar Tuhan.
Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang
melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan
dengan makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat
dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan benda
mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Pencipta, sesuai
dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam soal ini manusia itu dianggap
tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang
diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk
memilih apa yang diinginkannya sendiri.

B. Sejarah Kemunculan Aliran Jabariyah

Mengenai asal usul serta akar kemunculan aliran Jabariyah ini tidak
lepas dari beberapa faktor antara lain
1. Faktor Politik
2. Faktor Geografi

3
C. Para Pemuka Jabariyah dan Doktrin-doktrinnya

Menurut Asy-Syahratsani, Jabariyah dapat dikelompokkan menjadi


dua bagian, ekstrim dan moderat. Di antara doktrin Jabariyah ekstrim
adalah pendapatnya bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan
perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri., tetapi perbuatan yang
dipaksakan atas dirinya. Misalnya, kalau seseorang mencuri, perbuatan
mencuri itu bukanlah terjadi atas kehendak sendiri, tetapi timbul karena
qadha dan qadar Tuhan yang menghendaki demikian.
Di antara pemuka Jabariyah ekstrim adalah berikut ini :

a) Jahm bin Shofyan


Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia berasal
dari Khurusan, bertempat tinggal di Khufah, ia seorang da’i yang fasih
dan lincah (orator), ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais,
seorang mawali yang menentang pemerintah Bani Umayah di
Khurasan. Ia ditawan kemudian dibunuh secara politis tanpa ada
kaitannya dengan agama.

Sebagai seorang penganut dan penyebar faham Jabariyah, banyak


usaha yang dilakukanJahm yang tersebar ke berbagai tempat, seperti
ke Tirmidz dan Balk. Pendapat Jahm yang berkaitan dengan
persoalan teologi adalah sebagai berikut :
1. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak
mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan
tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang
keterpaksaan ini lebih terkenal dibanding dengan
pendapatnya tentang surga dan neraka, konsep iman,
kalam Tuhan meniadakan sifat Tuhan (nahyu as-sifat), dan
melihat Tuhan di akhirat.
2. Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain
Tuhan.
3. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati. Dalam
hal ini, pendapatnya sama dengan konsep iman yang
dimajukan kaum Murji’ah.
4. Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah Maha Suci dari segala
sifat dan keserupaan dengan manusia seperti berbicara,
mendengar dan melihat. Begitu pula Tuhan tidak dapat
dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.
Dengan demikian, dalam beberapa hal, pendapat Jahm
hampir sama dengan Murji’ah, Mu’tazillah, dan Asy’ariyah.

4
Itulah sebabnya para pengkritik dan sejarawan
menyebutnya dengan Al-Mu’tazili, Al-Murji’i dan Al-Asy’ari.
b) Ja’d bin Dirham
Al-Ja’d adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia
dibesarkan di lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan
teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan pemerintah
Bani Umayah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang
kontroversial, Bani Umayah menolaknya. Kemudian Al-Ja’d lari ke
Kufah dan di sana ia bertemu dengan Jahm, serta mentransfer
pikirannya kepada Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan.
Doktrin pokok Ja’d secara umum sama dengan pikiran Jahm, Al-
Ghuraby menjelaskan sebagai berikut :
1. Al-Quran itu adalah makhluk. Oleh karena itu, dia
baru.sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan kepada
Allah.
2. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk,
seperti berbicara, melihat dan mendengar.
3. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.

Berbeda dengan Jabariyah ekstrim, Jabariyah moderat mengatakan


bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik
perbuatan jahat maupun perbuatan baik, tetapi manusia mempunyai
bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia
mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yang
dimaksud dengan kasab (acquisitin). Menurut faham kasab, manusia
tidaklah majbur (dipaksa oleh Tuhan), tidak seperti wayang yang
dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan,
tetapi manusia memperoleh perbuatanyang diciptakan Tuhan.

D. Pokok-Pokok Pemikiran Jabariyah

1. Manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Bahwa segala perbuatan


manusia merupakan paksaan dari Tuhan dan merupakan
kehendak-Nya yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia tidak
punya kehendak dan pilihan. Ajaran ini dikemukakan oleh jahm bin
shofwan.
2. Surga dan neraka tidak kekal, begitu pun dengan yang lainnya,
hanya Tuhan yang kekal.
3. Iman adalah ma’rifat dalam hati dengan hanya membenarkan
dalam hati. Artinya, bahwa manusia tetap dikatakan beriman

5
meskipun ia meninggalkan fardhu dan melalkukan dosa besar,
tetap dikatakan beriman walaupun tanpa amal.
4. Kalam Tuhan adalah makhluk, Allah SWT mahasuci dari segala
sifat keserupaan dengan makhluk-Nya, maka Allah tidak dapat
dilihat meskipun di akhirat kelak, oleh karena itu Al-Qur’an sebagai
makhluk adalah baru dan terpisah dari Allah, tidak dapat disifatkan
kepada Allah SWT.
5. Allah tidak mempunyai sifat serupa makhluk seperti berbicara,
melihat, dan mendengar Tuhan menciptakan segala perbuatan
manusia, tetapi manusia berperan dalam mewujudkan perbuatan
itu. Teori ini dikemukakan oleh Al-Asy’ari yang disebut teori kasah,
sementara An-najjar mengaplikasikannya dengan ide bahwa
manusia tidak lagi seperti wayang yang digerakkan, sebab tenaga
yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk
mewujudkan perbuatannya.

E. Penolakan Terhadap Paham Jabariyah

Kelompok jabariyah adalah orang-orang yang melampaui batas


dalam menetapkan takdir hingga mereka mengesampingkan sama sekali
kekuasaan manusia dan mengingkari bahwa manusia bisa berbuat
sesuatu dan melakukan suatu sebab (usaha). Apa yang ditakdirkan
kepada mereka pasti akan terjadi. Mereka berpendapat bahwa manusia
terpaksa melakukan segala perbuatan mereka dan manusia tidak
mempunyai kekuasaan yang berpengaruh kepada perbuatan, bahkan
manusia seperti bulu yang ditiup angin. Maka dari itu mereka tidak berbuat
apa-apa karena berhujjah kepada takdir. Jika mereka mengerjakan suatu
amalan yang bertentangan dengan syariat, mereka merasa tidak
bertanggung jawab atasnya dan mereka berhujjah bahwa takdir telah
terjadi.
Akidah yang rusak semacam ini membawa dampak pada
penolakan terhadap kemampuan manusia untuk mengadakan perbaikan.
Dan penyerahan total kepada syahwat dan hawa nafsunya serta
terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan karena menganggap bahwa
semua itu telah ditakdirkan oleh Allah atas mereka. Maka mereka
menyenanginya dan rela terhadapnya. Karena yakin bahwa segala yang
telah ditakdirkan pada manusia akan menimpanya, maka tidak perlu
seseorang untuk melakukan usaha karena hal itu tidak mengubah takdir.

6
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Kata jabariah berasal dari kata jabara yanng berarti “memaksa”. Di


dalam Al-munjid dijelaskan bahwa nama jabariah berasal dari kata
jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskan
melakukan sesuatu.
2. Aliran Jabariyah adalah aliran sekelompok orang yang memahami
bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan merupakan sebuah
unsur keterpaksaan atas kehendak Tuhan dikarenakan telah
ditentukan oleh qadha’ dan qadar Tuhan.
3. Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada
saat munculnya golongan Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70
H. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga
disebut Jahmiyah.
4. 4. Menurut Asy-Syahratsani, Jabariyah dapat dikelompokkan
menjadi dua bagian, ekstrim dan moderat. Tokoh dari jabariyah
ekstrim adalah Jahm bin Shofyan dan Ja’d bin Dirham sedangkan
tokoh jabariyah moderat adalah An-Najjar dan Adh-Dhirar.

B. Saran

Menurut penulis solusi terhadap pandangan aliran Jabariyah yaitu


bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan
karenanya ia akan dimintai pertanggungjawaban atas keputusannya,
meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan
pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. Dengan kata lain,
kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur
tangan Allah SWT, seperti seseorang yang ingin membuat meja, kursi
atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu
tersebut yang membuat adalah Allah SWT. Untuk itu, sebagai mahasiswa
yang berpendidikan, kita harus mampu memahami benar masalah akidah
ini agar selalu berada di jalan-Nya yang lurus.

7
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rozak, Rosihin Anwar. 2012. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia
Afrizal M. 2006. Ibn Rusyid 7 Perdebatan Utama Dalam Teologi Islam.
Jakarta: Erlangga.
Harun Nasution.1986. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa
Perbandingan., Jakarta : UI Press. Cet V
Dalil Naqli dan Aqli Landasan Jabariyah dan Qadariyah”, dikutip pada 20
maret 2016, pukul 20.02. http://galleryimran.blogspot.co.id/2011/12/dalil-
naqli-dan-aqli-landasan-jabariyah.html#!/tcmbck
http://makalahterbaruku.blogspot.com/2017/04/makalah-aliran-
jabariyah.html