You are on page 1of 2

LULU KHOERINA (18811141)

SUMMARY SKENARIO 1 BLOK MANAJEMEN FARMASI


KEKOSONGAN GABAPENTIN
Tujuan Pembelajaran
1. Mampu memahami terkait perencanaan obat di apotek.
2. Mampu memahami terkait pengadaan obat di apotek.
3. Mampu memahami terkait pentingnya SOP dan jenisnya di apotek.
4. Mampu memberikan solusi terkait scenario.

Pembahasan

Berdasarkan Permenkes RI No 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek


meliputi standar pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis meliputi berupa;
pengadaan; penerimaan; penyimpanan; pemusnahan; pengendalian; dan pencatatan dan pelaporan serta
pelayanan farmasi klinik yang berupa pengkajian Resep; dispensing; Pelayanan Informasi Obat (PIO);
konseling; Pelayanan Kefarmasian di rumah (home pharmacy care); Pemantauan Terapi Obat (PTO); dan
Monitoring Efek Samping Obat (MESO)(1). Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya
dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku meliputi: perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan
pelayanan. Perencanaan merupakan kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah dan harga dalam rangka
pengadaan dengan tujuan mendapatkan jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, serta
menghindari kekosongan obat. Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu diperhatikan
pola penyakit yaitu dengan memperhatikan pola penyakit masyarakat di sekitar apotek dengan rencana
pengadaan obat, kemampuan masyarakat yaitu dengan memperhatikan kemampuan daya beli masyarakat di
sekitar apotek dengan rencana pengadaan obat dan budaya masyarakat yaitu dengan memperhatikan
kebiasaan yang ada pada masyarakat di sekitar apotek dengan rencana pengadaan obat, misalnya merk
tertentu atau obat generik, bentuk sediaan (sirup atau tablet), dan lain-lain(6).
Untuk menjamin kualitas Pelayanan Kefarmasian maka pengadaan Sediaan Farmasi harus melalui jalur
resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengadaan obat-obatan didasarkan pada obat-obatan
yang dipilih berdasarkan bentuk sediaan serta sumber daya keuangan yang tersedia. Prosedur yang diadopsi
dalam pengadaan obat yaitu memperkirakan jumlah setiap produk obat yang diperlukan untuk suatu periode
tertentu, mencari tahu harga dari berbagai bentuk sediaan obat yang diperlukan, mengalokasikan dana untuk
setiap bentuk sediaan obat tergantung pada, sifat prioritas obat dan bentuk sediaan dan keuangan yang
tersedia(3). Adapun kriteria dalam pemilihan Pedagang Besar Farmasi (PBF) diantaranya adalah mempunyai
legalitas atau surat izin, kecepatan dan ketepatan dalam pengiriman barang, adanya penawaran diskon/bonus,
kualitas barang dan kemungkinan pengembalian barang yang rusak atau kadaluarsa. Proses pengadaan
barang untuk keperluan apotek dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pengecekan barang, pemesanan,
penerimaan barang, pencatatan dan pembayaran. Pemesanan sediaan farmasi dilakukan berdasarkan buku
defecta. Pemesanan ke PBF biasanya dilakukan melalui salesman dengan membuat Surat Pesanan (SP). SP
memuat nama dan jumlah sediaan farmasi yang dipesan, ditandatangani oleh APA. Dibuat rangkap tiga dengan
perincian lembar ke-1 dan ke-2 untuk PBF, dan lembar ketiga untuk apotek sebagai arsip pada bagian
pengadaan. Apabila APA adalah sekaligus PSA maka dapat digunakan satu rangkap SP. Setelah SP diterima
oleh PBF, barang akan dikirim ke apotek. Ada 3 macam SP yaitu SP narkotika (terdiri dari 5 rangkap, satu SP
hanya untuk satu item obat), SP psikotropika terdiri dari 2-3 rangkap dan satu SP bisa lebih dari satu item obat,
SP non narkotika-psikotropika (terdiri dari 2 rangkap untuk order obat bebas, obat bebas terbatas, alkes, obat
keras non narkotika dan psikotropika dan kosmetik). Jenis pembayaran ke PBF bisa dilakukan dengan COD
(Cash on Delivery), kredit/jatuh tempo dan konsinyasi. Metode yang diterapkan dalam pengadaan diantaranya
adalah pengadaan dalam jumlah terbatas untuk kebutuhan jangka pendek, pengadaan secara terencana
dengan membandingkan jumlah pengadaan dengan penjualan tiap periode waktu tertentu, pengadaan
spekulasi untuk jumlah yang besar dan dalam waktu yang lama untuk mengantisipasi adanya kenaikan harga
dikemudian hari, dan pengadaan secara konsinyasi yaitu dengan cara menitipkan suatu barang dagangan di
apotek yang kemudian jika ada yang laku terjual maka akan dibayarkan sejumlah tersebut(2).
Penenerimaan merupakan kegiatan verifikasi penerimaan/penolakan, dokumentasi dan penyerahan
yang dilakukan dengan menggunakan "chrecklist" yang sudah disiapkan untuk masing-masing jenis produk
yang berisi antara lain kebenaran jumlah kemasan, kebenaran kondisi kemasan seperti yang disyaratkan,
kebenaran jumlah satuan dalam tiap kemasan, kebenaran jenis produk yang diterima, tidak terlihat tanda-tanda
kerusakan, kebenaran identitas produk, penerapan penandaan yang jelas pada label, bungkus dan brosur, tidak
terlihat kelainan warna, bentuk, kerusakan pada isi produk, jangka waktu daluarsa yang memadai.
Penyimpanan harus menjamin stabilitas dan keamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Metode
penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi, bentuk sediaan dan alfabetis dengan menerapkan
prinsip Firsf ln First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO) disertai sistem informasi manajemen (2).
Dalam melakukan praktek pekerjaan kefarmasian yang baik seorang Apoteker harus berdasarkan
Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk masing-masing jenis kegiatan baik yang dikerjakan oleh Apoteker
itu sendiri maupun oleh Apoteker lain atau Tenaga Teknis Kefarmasian yang membantu. SPO perlu secara
berkala ditinjau kembali untuk dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan tata urutan dalam melakukan
pekerjaan/ praktek kefarmasian. Dalam rangka memudahkan pemahaman dan pelaksanaannya, maka Standar
Prosedur Operasional (SPO) dibagi menjadi 4 (empat) kelompok yaitu : SPO Pengelolaan Sediaan Farmasi
dan Alat Kesehatan (10 SPO), SPO Pelayanan Kefarmasian (11 SPO), SPO Higiene dan Sanitasi (4 SPO) dan
SPO Tata Kelola Administrasi (3 SPO) dan SPO lainnya (7 SPO). Tujuan dari SPO adalah sebagai Pedoman
bagi tenaga kefarmasian khususnya Apoteker dalam melaksanakan praktik kefarmasian dan melindungi
masyarakat/pasien dari penggunaan obat yang tidak rasional. Adapun jenis dalam Pengelolaan Sediaan
Farmasi dan Alat Kesehatan yaitu 1. Perencanaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan 2. Pengadaan Sediaan
Farmasi dan Alat Kesehatan dalam Apotek 3. Pengadaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan antar Apotek
4. Penerimaan Sediaan Farmasidan Alat Kesehatan 5. Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan 6.
Pemindahan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan 7. Pemeriksaan Tanggal Kadaluwarsa 8. Pengelolaan
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang telah Kadaluwarsa 9. Pelayanan Obat Permintaan Bidan 10.
Penanganan Obat Kembalian dari Pasien(2).
Pengendalian persediaan yaitu upaya mempertahankan tingkat persediaan pada suatu tingkat tertentu
dengan mengendalikan arus barang yang masuk melalui pengaturan sistem pesanan atau pengadaan
(scheduled inventory dan perpetual inventory), penyimpanan dan pengeluaran untuk memastikan persediaan
efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan dan kekurang, kerusakan, kadaluarsa, dan kehilangan serta
pengembalian pesanan sediaan farmasi. Ada 3 metode manajemen persediaan yaitu metode visual, metode
periodic dan metode perpetual. Adapun cara untuk mencegah kekosongan stok yaitu meninjau stok setiap
minggu untuk memeriksa jumlah, mencari produk kadaluarsa setiap bulan, memanfaatkan system perangkat
lunak yang akan mengingatkan apoteker kapan mencapai jumlah ambang kritis atau tanggal dimana produk
hamper kadaluarsa(4). Berdasarkan scenario penyebab Apotek Serena kekurangan stok adalah dikarenakan
adanya kebijakan digitalisasi di PBF SAS sehingga proses input order menjadi tertunda. Solusi yang dapat
dilakukan adalah dengan memesan obat pada PBF lain. Pada scenario, apotek serena dapat melakukan
pemesanan pada PBF KLN.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang selanjutnya disingkat BPJS Kesehatan adalah
badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan. Penyelenggara pelayanan
kesehatan meliputi semua Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan berupa Fasilitas
Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan. Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama dapat berupa: a. puskesmas atau yang setara; b. praktik dokter; c. praktik dokter gigi; d. klinik pratama
atau yang setara; dan e. Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara. Fasilitas Kesehatan tingkat pertama
yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan harus menyelenggarakan pelayanan kesehatan komprehensif
berupa pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, pelayanan kebidanan, dan Pelayanan
Kesehatan Darurat Medis, termasuk pelayanan penunjang yang meliputi pemeriksaan laboratorium sederhana
dan pelayanan kefarmasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk dapat melakukan
kerja sama dengan BPJS Kesehatan, Fasilitas Kesehatan sebagaimana harus memenuhi persyaratan.
Persyaratan yang harus dipenuhi bagi Fasilitas Kesehatan tingkat pertama untuk praktik dokter atau dokter gigi
harus memiliki: 1. Surat Ijin Praktik; 2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 3. perjanjian kerja sama dengan
laboratorium, apotek, dan jejaring lainnya; dan 4. surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait
dengan Jaminan Kesehatan Nasional. Selain itu fasilitas Kesehatan tingkat pertama juga harus telah
terakreditasi. Daftar obat, Alat Kesehatan, dan bahan medis habis pakai dituangkan dalam Formularium
Nasional dan Kompendium Alat Kesehatan(5).

Referensi :
(1) Permenkes RI No 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
(2) Bina Kefarmasian, 2011, Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB), Departemen RI
halaman 15-31
(3) WHO, 2004, Management of Drugs at Health Centre Level, WHO, Brazzaville
(4) Ali, K. K., 2011, Inventory Management in Pharmacy Practice: A review of Literature, Archives of
Pharmacy Practice; 2 (4)
(5) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Rndonesia Nomor 71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan
Pada Jaminan Kesehatan Nasional
(6) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1027/menkes/sk/ix/2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek