You are on page 1of 5

GORESAN SILET NEGERI KOLONIAL YANG MASIH MENYISAKAN

BEKAS LUKA DI WAJAH NEGERI KHATULISTIWA


Oleh : Hadi Santoso

RINGKASAN

Pada abad ke 21 ini, Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak


warisan kebudayaan dan kearifan lokal dalam pembentukan karakter sedang
bertahan ditengah-tengah modernisasi. Modernitas merasuk ke setiap insan
kebudayaan dalam kehidupan. Salah satu warisan budaya yang masih terasa kental
dan dapat kita rasakan adalah seni arsitektur. Pengaruh dari arsitektur klasik-barat
yang pertama kali berkembang di Barat (Eropa) telah mempengaruhi khasanah
arsitektur di Timur (Asia).

Gaya arsitektur kolonial di Indonesia seolah lekat dengan perjalanan


panjang negeri ini dalam bingkai pembangunan menuju kemerdekaan. Bangunan-
bangunan bergaya kolonial banyak tersebar diberbagai kota di tanah air. Sebagai
negara bekas jajahan bangsa Eropa dan Asia seperti Belanda, Spanyol, Inggris,
dan Portugis serta Jepang, pengaruh gaya arsitektur dari negeri Belanda, Portugis
serta Jepang, cukup besar terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia. Bahkan
tak jarang terjadi perpaduan diantara gaya Eropa dengan arsitektur tradisional
Indonesia.

Berdasarkan fenomena diatas, penulis sangat tertarik untuk menulis esai


tentang perkembangan seni arsitektur Indonesia dari zaman penjajahan bangsa
Eropa seperti Belanda, Spanyol, Inggris, dan Portugis serta Jepang hingga
sekarang.

PERKEMBANGAN SENI ARSITEKTUR DI INDONESIA PADA


MASA KOLONIALISME

Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur


yang berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur
Eropa ke dalam komposisi kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur
di nusantara. Seiring berkembangnya peran dan kuasa, kamp-kamp Eropa semakin
dominan dan permanen hingga akhirnya berhasil berekspansi dan mendatangkan
tipologi baru. Semangat modernisasi dan globalisasi (khususnya pada abad ke-18
dan ke-19) memperkenalkan bangunan modern seperti administrasi pemerintah
kolonial, rumah sakit atau fasilitas militer. Bangunan-bangunan inilah yang
disebut dan dikenal dengan bangunan kolonial.
Sejarah mencatat bahwa Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia
diawali oleh bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia yakni Portugis,
yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya
kedatangan mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun rumah dan
pemukimannya di beberapa kota di Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan
pelabuhan. Dinding rumah mereka terbuat dari kayu dan papan dengan penutup
atap ijuk. Namun karena sering terjadi konflik mulailah dibangun benteng.
Hampir di setiap kota besar di Indonesia. Dalam benteng tersebut, mulailah
bangsa Eropa membangun beberapa bangunan dari bahan batu bata. Batu bata dan
para tukang didatangkan dari negara Eropa. Mereka membangun banyak rumah,
gereja dan bangunan-bangunan umum lainnya dengan bentuk tata kota dan
arsitektur yang sama persis dengan negara asal mereka.
Pada saat itu, di Hindia Belanda terbentuk gaya arsitektur tersendiri yang
dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW yang dikenal dengan the Empire Style,
atau The Ducth Colonial Villa: Gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa
(terutama Prancis) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya
Hindia Belanda yang bercitra Kolonial yang disesuaikan dengan lingkungan lokal,
iklim dan material yang tersedia pada masa itu.
Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya
arsitektur Neo Klasik dikenal dengan Indische Architecture, karakter arsitektur ini
dapat dilihat seperti : Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi
depan dan belakang (ruang makan) dan didalamnya terdapat serambi tengah yang
menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lainnya. Pilar menjulang ke atas (gaya
Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi depan dan belakang dan
menggunakan atap perisai.
Pada tahun 1902 sampai tahun 1920-an, secara umum, ciri dan karakter
arsitektur kolonial di Indonesia pada tahun 1900-1920-an yaitu menggunakan
Gevel (gable) pada tampak depan bangunan. Bentuk gable sangat bervariasi
seperti curvilinear gable, stepped gable, gambrel gable, pediment (dengan
entablure). Serta penggunaan Tower pada bangunan Pengunaan tower pada
mulanya digunakan pada bangunan gereja kemudian diambil alih oleh bangunan
umum dan menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada abad ke 20.
Bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang bulat, segiempat dan ada yang
dikombinasikan dengan gevel depan. Serta penggunaaan Dormer pada bangunan.
Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis basah seperti pemilihan bentuk
ventilasi yang lebar dan tinggi, sebagai antisipasi dari hujan dan sinar matahari.

PERKEMBANGAN SENI ARSITEKTUR DI INDONESIA SETELAH


MASA KOLONIALISME

Tahun 1920 sampai tahun 1940-an Gerakan pembaharuan dalam arsitektur


baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini mempengaruhi arsitektur
kolonial Belanda di Indonesia. Pada awal abad 20, arsitek-arsitek yang baru
datang dari negeri Belanda memunculkan pendekatan untuk rancangan arsitektur
di Hindia Belanda. Aliran baru ini, semula masih memegang unsur-unsur
mendasar bentuk klasik, memasukkan unsur-unsur yang terutama dirancang untuk
mengantisipasi matahari, hujan lebat dan iklim tropis.
Selain unsur-unsur arsitektur tropis, juga memasukkan unsur-unsur
arsitektur tradisional (asli) Indonesia sehingga menjadi konsep yang eklektis.
Konsep ini nampak pada karya Maclaine Pont seperti kampus Technische
Hogeschool (ITB), Gereja Poh sarang di Kediri. Hal ini menjadi bukti telah terjadi
kombinasi gaya-gaya arsitektur dalam perjalanan perjalanan rancang bangun di
Indonesia, antara arsitektur kolonial dengan arsitektur lokal, baik yang berasa dari
pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan
Papua serta kota-kota lainnya. Hasil perpaduan dari gaya arsitektur tersebut
hingga saat ini masih dapat dinikmati sebagai obyek budaya dan pendidikan
sekaligus bukti sejarah perkembangan bangsa.

PERPADUAN SENI ARSITEKTUR INDONESIA TRADISIONAL


DENGAN
BANGSA EROPA

Dewasa ini, kebanyakan orang sangat memperhatikan desain dalam


membangun rumah atau bangunan yang lainnya. Kebanyakan orang Indonesia
cenderung monoton dalam mendesain suatu bangunan. Tak hayal, jika semua
perumahan atau bangunan di Indonesia mempunyai kemiripan dengan bangunan
yang lainnya. Semua itu, sangat erat kaitannya dengan masa penjajahan bangsa
Eropa di Indonesia.
Seperti yang kita ketahui, Indonesia hampir 350 tahun dijajah bangsa Eropa.
Tidak menutup kemungkinan, pada saat bangsa Eropa menjajah Indonesia
membawa berbagai pengaruh fisik dan non-fisik bagi masyarakat Indonesia.
Ditinjau dari segi fisiknya, mungkin otak kita akan langsung terarah kepada
penyiksaan, dan kerja paksa. Namun, yang akan dibahas disini adalah dari seg
fisiknya yaitu seni arsitekturnya. Arsitektur merupakan penanda yang memberikan
identitas bagi sebuah tempat.
Dapat kita ambil contoh, bangunan Masjid di Indonesia juga cenderung
menggunakan relief dan arsitektur perpaduan antara seni arsitektur asli indonesia
dengan bangsa Eropa. Bila ditinjau dari relief dan struktur bangunannya, masjid-
masjid di Indonesia cenderung menggunakan mercusuar ( menara ) yang sejatinya
pada masa kolonial, mercusuar tersebut digunakan sebagai lokasi pemantauan
wilayah jajahan bangsa Eropa di Indonesia. Namun, saat ini mercusuar ( menara )
tersebut telah beralih menjadi tempat meletakkannya alat pengeras suara ketika
azan tiba. Tidak hanya bangunan Masjid, perumahan mewah di Indonesia juga
cenderung menggunakan pilar (tiang) besar di teras rumahnya. Sejatinya,
penggunaan pilar ( tiang ) besar pada teras rumah masyarakat di Indonesia
merupakan ciri khas bangunan bangsa Eropa.

SIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penjajahan bangsa
Eropa di Indonesia mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan seni
arsitektur di Indonesia Saat ini, bangunan peninggalan bangsa Eropa yang
menyisakan cerita sejarah negara Indonesia masih berdiri kokoh di Indonesia
sebagai warisan budaya. Itu artinya, kita sebagai bangsa Indonesia patut bangga
terhadap budaya Indonesia dan merawatnya untuk generasi berikutnya.

Catatan Kaki:

𝟏
. Robert J.C.Young, Hybridity in Theory, Culture and Race. (London: Routledge,
1995), hlm. 9

𝟐
. http://en.wikipedia.org/wiki/De_Stijl

𝟑
.
http://www.semarang.go.id/cms/pemerintahan/dinas/pariwisata/gedung/johar.php

𝟒
. http://www.swaramuslim.com/galery/sejarah/index.php?page=VOC

𝟓
. Maria Hidayatun, Arsitektur di Indonesia Dalam Perkembangan Jaman,
Sebuah Gagasan untuk Jati diri Arsitektur di Indonesia, Institut Teknologi
Sepuluh Nopember,

𝟔
. Prijotomo, Josef, 2008, Pasang Surut Arsitektur Indonesia, Wastu Lanas
Grafika, Surabaya