You are on page 1of 29

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/317543824

KHITOSAN-LOGAM SEBAGAI MATERIAL


NANOTEKNOLOGI DAN MATERI POKOK DALAM
PEMBELAJARAN KIMIA

Presentation · April 2011


DOI: 10.13140/RG.2.2.14957.59367

CITATIONS READS

0 198

1 author:

Adlim Adlim
Syiah Kuala University
39 PUBLICATIONS 189 CITATIONS

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Local (Aceh) fisheris study View project

Science Teaching Improvement View project

All content following this page was uploaded by Adlim Adlim on 12 June 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS SYIAH KUALA

KHITOSAN-LOGAM SEBAGAI
MATERIAL NANOTEKNOLOGI DAN MATERI POKOK
DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Pidato Pengukuhan
Dalam Jabatan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Syiah Kuala

Disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Universitas Syiah Kuala


di Gedung Academic Activity Center Prof. Dr. Dayan Daud, MA
Sabtu, 09 April 2011

Oleh :

Prof. Dr. Adlim, M.Sc

Darussalam, Banda Aceh


April 2011
1
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
KHITOSAN-LOGAM SEBAGAI MATERIAL
NANOTEKNOLOGI DAN MATERI POKOK DALAM
PEMBELAJARAN KIMIA

Oleh: Adlim

Pidato Pengukuhan dalam Jabatan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Syiah Kuala
di Gedung AAC Prof. Dr. Dayan Dawood, MA. Kampus Universitas Syiah Kuala
Sabtu 9 April 2011

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke


hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya
kita telah diberi kesempatan dan kesehatan untuk hadir
dalam forum ilmiah ini. Salawat dan salam kita
sampaikan pula kepada junjungan kita Nabi Besar
Muhammad SAW yang telah membawa kita ke alam ilmu
pengetahuan dan akhlakul karima.

Hadirin dan Hadirat yang mulia


Salah satu ilmu pengetahuan alam yang banyak
dipelajari dan dikembangkan oleh ilmuan muslem sejak
dulu ialah ilmu kimia atau dikenal dengan “al-kemi”.
Jaber Ibn Hayan abad ke 8 sesudah masehi telah
mempelajari logam dan senyawanya. Sementara
Abdullah Ibn Ali Kashani di abad ke 13 mengkaji, batuan-

2
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
batuan alam menjadi marmer dan keramik. Demikian
pula para ilmuan Persia menulis kitab-kitabnya tentang
teknik mengkilabkan keramik (Saud, 1994).
Sejak dahulu fokus penelitian ilmu kimia banyak
mengarah pada menciptakan material baru yang memiliki
keunggulan dari aspek fisika dan kimia. Dalam sejarah
material dikenal beberapa era yaitu zaman batu dimana
peralatan seperti kapak terbuat dari batu. Setelah itu
dikenal pula zaman alloy atau campuran logam-logam
atau yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu. Di
abad pertengahan (abad ke 8-15) berkembang
penemuan gelas, perselen dan keramik. Teknik
pengkilatan berkembang pesat di Bagdad Irak, walaupun
porselen pertama kali ditemukan di China.
Di zaman modern tepatnya pada tahun 1937-1947
mulai dikembang material baru yaitu plastic nilon bahan-
bahan semikonduktor dan material baru lainnya (US
depart. of energy, 2011).
Era teknologi material yang akan datang ialah era
nanoteknologi. Banyak ilmuan berpendapat bahwa akan
terjadi revolusi industri dari material konvensional seperti
saat ini ke arah material baru produk nanoteknologi yang

3
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
memiliki partikel dalam ukuran nanometer. Diperkirakan
perubahan besar itu akan berdampak luas terhadap
produk teknologi saat ini seumpama runtuhnya industri
mesin ketik dan Overhead Projector di saat industri
komputer dan LCD projector berkembang.
Istilah nanotechnology dipopulerkan oleh K. Eric
Drexler seorang dosen di Massachusetts Institute of
Technology (MIT), USA di tahun sembilan belas delapan
puluhan. Ide Dexler menginspirasi Presiden Bush untuk
mengalokasikan dana 3,7 billion US dollar setarah
dengan 35 triliun rupiah untuk riset nanoteknologi. Dana
penelitian 35 triliun ini sangat besar setara dengan 9
tahun APBA hanya diperuntukkan untuk pengembangan
nanoteknologi. Impian Dexler ialah ingin membuat
peralatan elektronik dengan ukuran sangat kecil bahkan
lebih kecil dari pada sel darah merah. Sel darah merah
berukuran 2-5 mikron atau seukuran diameter sehelai
rambut yang dibelah 25. Banyak ahli berpendapat bahwa
jika kita mampu membuat mesin atau alat elektronik
seukuran itu maka alat tersebut bisa dimasukkan ke
dalam pembuluh darah dan diarahkan pada lokasi
tertentu untuk membunuh virus, sel-sel kanker atau

4
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
tujuan lainnya (Dexler, 1996). Walaupun impian ini masih
ada yang meragukan namun banyak pula ilmuan yang
yakin bahwa bukan suatu yang mustahil menciptakan
alat elektronik yang sangat kecil yang ukurannya
mendekati impian Dexler. Secara awam, kalau kita
perhatikan perkembangan teknologi kamera misalnya
yang ada di sekitar kita, ukuran kamera saat ini jauh lebih
kecil dibandingkan kamera tempo dulu. Kamera saat kini,
ada yang kecil lebih kecil dari sebatang mata polpen dan
bahkan ada yang dapat dimasukkan ke dalam tubuh
manusia. Hal ini dapat dijadikan anologi bahwa ukuran
peralatan elektronik di masa mendatang cenderung lebih
kecil. Para ilmuan berpendapat bahwa berdasarkan
ukuran transistor terkecil yang sudah ditemukan saat ini,
maka diperkirakan komputer masa depan dapat 100 kali
lebih kecil dari komputer yang ada saat ini.
Agar mesin sekecil itu dapat dibuat maka
komponen-komponennya harus sangat kecil yaitu
-9
berukuran nanometer atau 10 m atau setara seper 80
ribu diameter rambut manusia. Dengan demikian maka
nanotekhnologi dimaknai bahwa penciptaan suatu
peralatan, sistem dan bahan yang berguna dengan cara

5
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
mengontrol diameter partikel-partikelnya pada ukuran 1-
100 nm, serta mengekploitasi sifat dan fenomena yang
ditimbulkannya (Meyyappan, 2004).

Ketua dan sekretaris senat serta para undangan yang


berbahagia

Manfaat nanotechnology
Produk nanoteknologi akan dan sesudah
digunakan dalam berbagai bidang termasuk di antaranya
adalah bidang medis dan farmasi. Nanoteknologi juga
berkembang dalam industri automotif, pangan, energi,
teknologi media, tekstil, bahan banguan, kosmetik, dll.
Dalam dunia kedokteran nanopartikel digunakan sebagai
bahan penanda (imaging agent) pada alat MRI. Dengan
bahan berpartikel nano maka MRI akan dapat
mengidentifikasi penyakit pada taraf sel. Selain tujuan
diagnosis, material nanopartikel juga digunakan sebagai
obat yang dapat diantarkan langsung ke sel-sel kanker
dan kemudian membunuh sel kanker tersebut. Misalnya
partikel nano oksida besi dapat menembus sel-sel tumor
maka medan magnetnya dapat diarahkan hingga

6
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
menghasilkan panas yang membunuh sel-sel kanker
(Saxl & Stark, 2006).
Jika partikel lempung dapat dibuat dalam ukuran
nanometer maka lempung tersebut dapat menjadi bahan
campuran polimer sehingga dihasilkan komposit yang
memiliki kombinasi sifat lempung dan polimer (Saxl &
Stark, 2006).
Sementara itu jika partikel-partikel silikon pada
panel surya (pembangkit listrik energi surya) dapat dibuat
dalam ukuran nanometer maka solar sel tersebut akan
1000 kali lebih efektif dari pada produk konvensional saat
ini. Demikian pula jika komponen batere handpone
terbuat dari pertikel berukuran nanometer maka batere
itu hanya perlu 1 menit untuk dicas ulang(Saxl & Stark,
2006).
Jika bahan tekstile dapat dibuat dari partikel-
partikel berukuran nanometer dan dapat ditambahkan
partikel aditif yang bermanfaat dalam ukuran nanometer
juga, maka akan dapat diciptakan pakaian yang dapat
memancarkan signal sebagai sensor untuk diditeksi
keberadaan orang yang memakainya atau pakaiaan
serba guna karena dapat menghasilkan panas pada

7
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
waktu dingin dan menjadi dingin pada waktu panas (Saxl
& Stark, 2006).
Serium oksida yang berukuran partikel nano
sudah dikomersialkan sebagai bahan campuran bensin
yang bermanfaat sehingga bahan bakar menjadi lebih
efektif dan efisien dan menghasilkan limbah yang lebih
aman untuk lingkungan.
Demikian juga bahan pengepakan makanan yang
berukuran partikel nano akan menjadi lebih efektif
menghambat oksigen sehingga makanan lebih lama
tahan. Senyawa titanium oksida yang berpartikel nano
dapat digunakan sebagai bahan kosmetik untuk
melindungi kulit dari sinar matahari. Oksida besi yang
berukuran partikel nano sangat efektif menghancurkan
limbah senyawa organik beracun menjadi gas karbon
dioksida dan uap air yang lebih aman (Zhang, 2003).

Keunggulan material berpartikel nanometer


Material yang ukuran partikelnya berada antara 1-
100 nm atau 10-9 – 10-7 meter maka digolongkan sebagai
material berpartikel nano atau dalam bahasa Inggris
disebut “nanoparticles”. Ada beberapa sifat unik material

8
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
yang memilki ukuran partikel nanometer antara lain ialah
sifat elektronik semikonduktor yang aneh yang disebut
“quantum dot” (Murphy & Coffer, 2002). Sifat anomali
lainnya ialah sifat magnet nanopartikel yang sangat
berbeda jika dibanding dengan material berpartikel besar
(Hori et al, 1999).
Luas permukaan yang besar bahan berpartikel
nano bermanfaat mempercepat reaksi kimia jika bahan
tersebut direaksikan. Secara konseptual reaksi kimia
terjadi bila mana terjadi tumbukan antara partikel-partikel
zat yang bereaksi. Misalnya jika sebatang besi seberat
10 g dicelupkan ke dalam asam sulfat (air keras) maka
hanya permukaan besi itu saja yang dapat berinteraksi
dengan asam sulfat sedangkan bagian dalam besi tidak
turut bereaksi. Lain halnya jika besi batangan tersebut
dijadikan serbuk yang sangat harus hingga partikelnya
berukuran nanometer dan tersebar maka hampir semua
bagian besi dapat bereaksi dengan asam sulfat sehingga
reaksi lebih cepat berlangsung. Dengan demikian besi
dalam bentuk serbuk disebut memiliki luas permukaan
yang besar sedangkan yang besi batangan mempunyai
luas permukaan yang lebih kecil.

9
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Bapak/Ibu & hadirin yang mulia
Metoda Pembuatan Logam nanopartikel
Sintesis partikel nano dikenal dengan dua
pendekatan iaitu top-down and bottom-up. Pendekatan
top-down merupakan metoda yang banyak dikenal oleh
para ahli teknik yang mensintesa partikel nano dari
bahan asalnya yang berpartikel besar. Sedangkan
bottom-up lebih banyak dikenal di kalangan ahli kimia
yang mensintesa partkel nano dari dari senyawa-
senyawanya baik dalam larutan maupun fasa gas
(Murphy & Coffer, 2002).
Pendekatan bottom up terdiri dari beberapa
metoda sintesa material partikel nano antara lain metoda
elektrokimia misalnya mereduksi ion logam secara
elektrolisis dengan menggunakan polimer penstabil untuk
mencegah partikel berkumpul (teragregasi). Selain itu
dapat pula dengan metoda dekomposisi termal, irradiasi
elektromagnetik, sol-gel dan imobilisasi dalam matriks
polimer (Adlim, 2006a).

10
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Para Undangan, hadirin dan hadirat yang terhormat

Khitosan-Logam
Sebagaimana uraian sebelumnya bahwa untuk
mensintesa logam berpartikel nanometer dapat dilakukan
dengan cara mencampurkan senyawa logam tersebut
dengan polimer dan kemudian ion-ion logam direduksi.
Polimer yang digunakan adalah polimer sintetik yang
dapat larut dalam air seperti PVA (polivinil alkolol) atau
PVP (polivenil pirolidon). Akhir-akhir ini polimer sintetik
telah mulai diganti dengan polimer alami salah satunya
adalah khitosan.
Khitosan merupakan turunan karbohidrat yang
memiliki gugus amino yang diisolasi dari khitin yang
banyak terdapat dalam limbah kulit udang, kulit kepiting
dan sumber-sumber lainnya (Adlim, 2003). Industri
pengolahan udang biasanya menghasilkan limbah kulit
kepala dan ekor udang yang dapat mencemari
lingkungan karena menjadi media berkembang mikroba
pathogen. Kulit udang dapat diolah menjadi khitosan
dengan beberapa proses kimiawi yaitu deproteinasi,
demineralisasi dan deasitilasi.

11
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Pada setiap rantai monomer khitosan terdapat
gugus amino yang menyumbangkan pasangan elektron
bebas untuk dapat membentuk ikatan koordinasi dengan
ion-ion ligam. Ikatan yang terbentuk antara ion logam
dengan khitosan menyebabkan ion-ion logam tersebar
secara merata di dalam matrik khitosan. Kemudian ion-
ion logam direduksi menjadi logam maka dihasilkan
partikel-partikel logam yang tersebar secara merata dan
berukuran nanometer yang memiliki kharakterik material
nanoteknologi. Tanpa khitosan koloid logam segera
mengendap, mengumpal sehigga partikel-partikel
menjadi besar dan tidak lagi berukuran nanometer.
Jadi dapat dikatakan bahwa khitosan berfungsi
mencegah partikel-partikel logam berkumpul kembali
sehingga dihasilkan partikel logam tidak hanya berukuran
nano melainkan juga tersebar secara merata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa khitosan
ternyata tidak hanya berperan sebagai penstabil logam
palladium dan platinum dalam ukuran nanometer
melainkan juga dapat menghasilkan partikel-partikel
dengan logam ukuran seragam sekitar 2 nm (Adlim et al,
2004; Adlim & Bakar, 2003). Kharakteristik partikel logam

12
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
seperti ini sangat diharapkan dalam nanoteknologi
termasuk di antaranya sebagai katalis. Katalis adalah zat
yang mempengaruhi reaksi kimia namun terbentuk
kembali dalam kuantitas yang sama setelah reaksi
berlangung. Katalis atau bahan kimia yang mempercepat
reaksi kimia secara teoritis lebih efektif dan efisien jika
partikel-partikel berukuran nanometer sehingga disebut
pula katalis nanopartikel.
Banyak artikel dalam jurnal ilmiah menjelaskan
bahwa aktifias katalis berpartikel nano memang jauh
lebih tinggi dan lebih efektif dibanding katalis
konvensional. Dengan kata lain katalis yang berpartikel
nanometer dapat memacu reaksi kimia lebih cepat
dibandingkan katalis konvensional. Sebagai pembanding
keaktifan katalis dapat digunakan parameter Turn Over
Frequency disingkat TOF. TOF katalis platinum yang
diimmobilisasi pada khitosan mencapai 93.808. Nilai ini
jauh lebih besar dari pada TOF katailis Pt yang
diimobilisasi pada Al2O3 yang hanya 850.
Banyak pula jurnal yang melaporkan bahwa
khitosan menunjukkan sifat menyerap ion logam beracun
seperti ion kadminum, ion merkuri (raksa) dan timbal

13
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
sehingga khitosan dapat dimanfaatkan pemurnian air
limbah (Wan Ngah et al, 2002a & 2002b). Khitosan tidak
hanya dapat menyerap logam-logam transisi (Robert,
1992) melainkan juga menyerap gas CO2 dan H2S
(Adlim, 2002) dan dapat dilepaskan kembali. Sehingga
khitosan berpotensi menggantikan DEA (Dietanol amine)
yang bersifat racun dan banyak digunakan sebagai
bahan penyerap gas CO2 dan H2S pada industri
pemurnian gas alam.
Khitosan telah digunakan sebagai kapsul diet
untuk menurunkan berat badan karena sifatnya yang
dapat menyerap lemak. Namun khitosan juga dapat
menyerap ion-ion besi sehingga dikhawatirkan bila
dikonsumsi maka khitosan tidak hanya menyerap lemak
juga dapat menyerap ion-ion yang ada dalam
pencernaan. Jika hal ini terjadi maka diperkirakan badan
akan langsing tapi menderita anemia. Karena itu interaksi
ion besi dengan khitosan dalam tingkat keasaman yang
berbeda-beda telah pula dipelajari untuk memperkirakan
reaksi yang mungkin terjadi jika khitosan dikonsumsi
sebagai obat penurun berat badan (diet). Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa penyerapan ion besi pada

14
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
khitosan melemah dalam suasana asam atau dalam
lingkungan vitamin C (Adlim, 2005). Dari hasil penelitian
invitro ini diduga jika kapsul khitosan dikonsumsi
bersamaan dengan vitamin C maka khitosan cenderung
tidak mengikat mineral besi yang ada dalam pencernaan.
Penelitian selanjutnya juga membuktikan bahwa
khitosan dapat menyerap ion-ion perak dan sekaligus
menstabilkannya menjadi logam perak, berpartikel nano
dengan kharakteristik partikel yang berbeda-beda
tergantung dari jenis reduktor yang digunakan (Adlim,
2003 & 2006b).
Keistimewaan khitosan lainnya ialah bilamana ia
digunakan untuk menyerap ion emas. Khitosan tidak
hanya menyerap ion-ion emas ke dalam matriksnya
melainkan juga dapat mereduksi ion emas menjadi
logam emas tanpa perlu menambah zat pereduksi lagi
(Adlim & Bakar 2008a & 2008b). Bahkan khitosan dapat
menyerap ion emas secara selektif jika ion emas tersebut
bercampur dengan ion logam lain (Soji et al, 2004).
Dengan demikian khitosan mempunyai dua fungsi
sekaligus sebagai penstabil dan pereduksi efektif untuk
ion emas tanpa memerlukan pemanasan. Sejauh

15
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
penelusuran literatur, sifat seperti ini hanya ada pada
khitosan dan belum pernah dilaporkan sifat tersebut ada
pada polimer lain.
Kebanyakan material elektronik seperti prosesor
komputer terbuat dari komposit dan campuran logam
atau alloy. Campuran logam atau multimetal untuk
keperluan electronic device ini biasanya dibuat berlapis-
lapis atau dikenal dengan istilah “core-shell”. Mensintesis
alloy dan mutilogam berstruktur core-shell merupakan
tantangan bagi peneliti apalagi jika ukuran partikel dalam
skala nanometer. Membuat campuran dua jenis logam
atau lebih sudah dikenal sejak dahulu untuk
menghasilkan bongkasan perunggu, kuningan atau
suasa. Namun akan tidak mudah membuat campuran
logam dalam ukuran yang sangat kecil setara dengan
diameter sehelai rambut dibelah 80 ribu, tidak dapat
dilihat dengan indra biasa.
Campuran logam yang berukuran nanometer
dapat buat bilamana ion-ion logam dicampurkan ke
dalam khitosan sebagai penstabil dan kemudian
direduksi sehingga dihasilkan campuran logam baik
sebagai alloy maupun lapisan-lapisan logam atau core-

16
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
shell tersebut. Campuran logam palladium dan emas
memiliki diameter partikel antara 2-20 nm dan memiliki
aktifitas sebagai katalis atau zat mempercepat reaksi
kimia. Aktivitas katalis dwi-logam ini jauh lebih tinggi dari
pada logam tunggal berukuran partikel nano (Adlim,
2011). Dwi-logam partikel nano seperti ini memiliki
karakteristik sebagai material prosessor di masa depan.
Pembuktian eksistensi pelapisan logam emas (Au)
dengan logam palladium (Pd) dalam ukuran nanometer
telah berhasil diungkap dengan cara mempelajari sifat
katalisisnya. Sifat katalis logam Pd yang terkenal sangat
aktif ternyata menurun sangat drastis manakala logam
tersebut dilapisi oleh logam Au yang tidak aktif (Adlim,
2008 & 2011).
Logam yang memiliki ukuran partikel nanometer
dan berstruktur core-shell ini juga telah berhasil
digunakan sebagai katalis homogen untuk mengkatalis
beberapa reaksi termasuk merubah kloronitrobenzena
yang beracun menjadi anilin yang lebih aman dan
bernilai ekonomis (Adlim, 2008).
Walaupun katalis homogen menunjukkan aktivitas
yang tinggi namun mempunyai keterbatasan yaitu sukar

17
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
dipisahkan dari substrat sehingga katalis ini tidak dapat
digunakan berulang (regenarasi). Karena itu telah pula
diteliti teknik immobilisasi sol logam nanopartikel pada
padatan TiO2 dan bentonit sebagai penyangga. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kharakteristik katalis yang
paling aktif dapat dihasilkan jika penyangga disalut
dengan khitosan terlebih dahulu dan kemudian ion logam
direduksi di atas penyangga tersebut. Katalis yang
diperoleh berukuran nanometer dan dapat diregenasi
atau dipakai secara berulang (Adlim, 2006c).
Khitosan yang merupakan polimer alami ini
memiliki pula manfaat yang luas karena sifatnya yang
dapat terurai secara alami, anti jamur, larut dalam asam
asetat, dapat membentuk lapisan tipis transparan atau
film, dapat menyerap lemak dan ion-ion logam. Khitosan
telah digunakan sebagai bahan pembuatan benang
operasi, obat diet dan perban luka. Khitosan digunakan
untuk pembuatan film fotografi, campuran kosmetik,
penjernih air dan campuran kertas dan lain-lain (Kumar,
2000).

Khitosan-logam dalam aspek pembelajaran kimia

18
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Dalam rangka menyambut era nanoteknologi,
hampir semua negara maju seakan berlomba-lomba
memasukkan konsep nanoteknologi dalam kurikulum
sains termasuk ilmu kimia. Misalnya New South Wales
(NSW) menyediakan matakuliah “Chem 2828 Organic &
Inorganic Chemistry for Nanotechnolgy”. Dalam silabus
ini mengkombinasi teori-teori dasar ilmu kima dan
penerapannya dalam nanoteknologi. Contoh universitas
lainnya adalah Santa Clara University (SCU) yang
merupakan universitas swasta di sebelah utara Silikon
Valley California, Amerika serikat. Di Universitas ini
tersedia matakuliah “Inroduction to Nanotechnology”
dengan 18 jam tatap muka. Kajian tentang nanomaterial
atau nanoscience, polimer, kimia medis berkembang di
pula National University of Singapure (NUS), Universitas
SRM India, Massacussate Institute of Technology (MIT)
di Amerika atau University of Cambridge di Inggris.
Topik nanotechnology yang banyak dibahas ialah
nanostructure, nanodevices, nanofabrication, surface
chemistry, colloids and particles, material
characterization, thin film, semiconductors,

19
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
nanobiotechnology, nanoelectronics and material
sciences (www.nanosense org).
Sedangkan materi pokok nanoteknologi yang
biasa diberikan pada mahasiwa S1 pendidikan kimia atau
chemistry education atau di Dublin institute of technology
ialah: Sejarah nanoteknologi, pengertian nanomaterial,
pengertian nanoteknologi, bukminsterfullerence ,
nanotube & nanowire, quantum dot, dampak
nanoteknologi, penyusunan molekul secara mandiri
(molecular self assembly), teknologi sol gel, teknik
analitikal nano (AFM, STM, dll) (O’Connor & Hayden,
2008). Di FKIP Kimia Unsyiah pengantar katalis
nanopertikel ditempatkan sebagai bagian dari kimia
anorganik.
Karena nanoteknologi ini melibatkan multi disiplin
ilmu yang meliputi ilmu kimia, fisika, biologi, ilmu
lingkungan dan ilmu teknik maka pembelajaran
nanoteknologi di sekolah menengah dan perguruan tinggi
dapat meningkatkan pemahaman siswa dan mahasiswa
tentang hubungan antar disiplin ilmu sehingga menjadi
menarik untuk dipelajari.

20
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Kurikulum kimia di sekolah menengah saat ini
padat dengan teori dan sangat sedikit dikaitkan dengan
lingkungan dan teknologi. Sehingga ilmu kimia dan ilmu
IPA lainnya kurang diminati. Siswa yang mempelajari
struktur atom dan ikatan kimia tetapi tidak memahami
kegunaannya maka banyak siswa tidak termotivasi
mempelajarinya (Krajcik et al, 2001). Padahal jika guru
berhasil memotivasi siswa agar mau belajar maka nilai
itulah yang lebih stategis dari pada jumlah materi
pelajaran yang sampaikan oleh guru. Banyak contoh
membuktikan bahwa jika siswa termotivasi belajar maka
mereka akan mencari sumber belajar lebih banyak lagi
dan tidak lagi terbatas pada catatan yang diberikan oleh
guru.
Pembelajaran kimia saat ini menggunakan
pendekatan induktif yaitu hal-hal khusus kemudian
mengarah ke yang umum. Pendekatan ini induktif
hendaknya dirubah menjadi pendekatan deduktif yaitu
memberikan hal-hal umum terlebih dahulu dan kemudian
membahas hal-hal yang spesifik. Dengan cara ini siswa
mendapat gambaran manfaat atau aspek menarik dari
apa yang akan mereka pelajari sebelum mereka

21
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
mempelajari yang lebih mendalam. Misalnya di awal
pembelajaran dijelaskan keunggulan material
nanoteknologi baru kemudian mengarah pada
pembahasan struktur atom, molekul dan ikatan kimia
yang bersifat teoritis. Dengan cara ini siswa dan
mahasiswa akan mengetahui relevansi mempelajari
struktur atom dan ikatan kimia dengan teknologi saat ini
dan masa depan sehingga pembelajaran akan lebih
menarik dan diminati (Holbrook, 2005). Kurikulum ilmu
kimia di sekolah tidak harus dirubah secara aying
melainkan hanya perlu mengintegrasikan konsep-konsep
dasar nanoteknologi dalam materi pokok ilmu kimia.
Sebagai contoh misalnya pengertian nanopartikel
dimasukan dalam konsep struktur atom. Materi tentang
luas permukaan nanopartikel dalam dikaitkan dalam
pokok bahasan struktur dan sifat zat. Reaksi
pembentukan nanopartikel dibahas pada pokok bahasan
reaksi kimia. Alloy dan logam & oksida logam
nanopartikel dibahas dalam kimia unsur. Nanotube dan
bulkminsterfullleren dalam kimia karbon dan sebagainya
yang tidak mungkin diuraikan terlalu detail dalam
kesempatan ini.

22
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011

Daftar Bacaan

Adlim (2002). Penyerapan gas H2S dan CO2 pada


khitosan yang diisolasi dari limbah kulit udang,
Journal Agrista, 6, 99-105. (Terakreditasi)
Adlim (2003). A review of current research on chitosan
processing and applications, Jurnal Natural, 3, 32-
38.
Adlim (2005). Pengaruh asam askorbat terhadap adsopsi
besi oleh khitosan, Jurnal Natural, 5, 9-13.
Adlim (2006a). Properties and preparations metal
nanoparticles, Indonesian Journal of
Chemistry, 6, 1-10. (Terakreditasi)
Adlim (2006b). Preparation of Chitosan-Stabilized Silver
(Chi-Ag) Nanoparticles Using Different Reducing
Agents and Techniques, Jurnal Sains dan
Teknologi, 12,185-191. (Terakreditasi)
Adlim (2006c). Immobilizing Chitosan-Stabilized
Palladium Nanoclusters on Titanium Dioxide and
Their Hydrogenation Properties, Jurnal
Matematika dan Sains, 11, 125-133.
(Terakreditasi)
Adlim (2008). The Synthesis and Characterization of
Chitosan-Stabilized Mono- and Bimetallic Core-
Shell Pd/Ag & Pd/Au Nano-sized Colloidal
Catalyst and The Hydrogenation of Nitrobenzena,
Proceeding International Symposium Land
Used after Tsunami, Supporting Education,
Research and Development in the Aceh Region,
November 4-6 Syiah Kuala University, Banda
Aceh, p.140-145 (ISBN 978-979-25-7401-2).

23
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Adlim & Bakar, M. A. (2003). Size control and
morphology of chitosan stabilized precious metal
nanoparticles, MicroSom, 5-6, 6-10.
Adlim, Bakar, M. A., Liew, K.Y., & Ismail, J. (2004).
Synthesis of chitosan stabilized platinum and
palladium nanoparticles and their hydrogenation
activity, Journal of Molecular Catalysis
A: Chemical 212, 141–149. (Jurnal International)
Adlim & M. A. Bakar, (2008a). Preparation of Chitosan-
Gold Nanoparticles: Part 2 (finish). Effect of
Reducing Technique, Indo. J. Chem, 8, 320-326.
(Terakreditasi)
Adlim & M. A. Bakar, (2008b). Preparation of Chitosan-
Gold Nanoparticles: Part 1 (of 2 Articles). Effect of
Reducing Technique, Indo. J. Chem, 8, 184-188.
(Terakreditasi)
Anonymous (2003), Nanoscale iron to clean up?
Nanotoday, Elsevier, p. 10.
Anonimous (2011) Atlas of Nanotechnology
(http://www.nanosense.org/
documents/nanoed05/AtlasOfNanotechnology.pdf
(diakses 19 Maret 2011).
Bowles, K (2004). Teaching nanotechnog in high school,
www.tntg.org (diakses 14 Maret 2011)
Dexler, K.E (2001). Machine-Phase Nanotechnology,
Scientific American, http://www.ruf.rice.edu/
~rau/phys600/drexler.htm (akses 19 Maret 2011).
Holbrook, J (2005). Making Chemistry Teaching
Relevant, Chemical Education International, 6, 1-
12.
Hori, H., Teranishi, T., Nakae, Y., Seino, Y., Miyake, M &
Yamada, S. (1999). Anomalous magnetic
polarization effect of Pd and Au nanoparticles,

24
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Phys. Lett. A, 263, 406-410.
Krajcik, J & Hamlok, R & Hug, B (2001). Modern Content
and the Enterprise of Science Education for the
Twentieth Century, dalam : Holbrook (2005)
Making Chemistry Teaching Relevant, Chemical
Education International, 6, 1-12.
Kumar, M. N.V. R. (2000). A review of chitin and chitosan
application, React. Funct. Polym. 47, 1-27.
Meyyappan, M. (2004). Nanotechnology Education and
Training, Journal of Material Education, 26, 311-
320.
Murphy, C. J & Coffer, J. L. (2002). Quantum dots: a
primer, Applied Spectroscopy, 56 16A-27A.

O’Connor, C & Hayden, H (2008). Contextual


Nanotechnology in Education, Dublin Institute of
Technology, www.people.plan.aau.dk (akses 19
Maret 2011).
Roberts, G.A.F. (1992). Chitin Chemistry, Hongkong:
MacMillan.
Saud, M (1994). Islam dan Evolution of Science, Adam
Publishers & Distributors, Delhi, India.
Saxl, O & Stark, D (2006). What is nanotechnology,
presentation slides of ITI Member Meeting,
www.nano.org.uk (diakses 5 Maret 2011).
Shoji, R., Miyazaki, T., Niinou, T., Kato, M & Ishii, H
(2004) Recovery of gold by chicken egg shell
membrane-conjugated chitosan beads, Journal of
Material Cycles and Waste Management, Vol 6,
No. 2, 142-146, DOI: 10.1007/s10163-003-0112-8
US Departement of energy;http://science-
ed.pnl.gov/teachers/pdfs/ mst_intro08.pdf diakses
13 Maret 2011
25
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Wan Ngah, W. S., Ghani, S. Ab & Hoon, L. L. (2002a).
Comparative Adsorption of Lead(II) on Flake and
Bead-types of Chitosan, J. Chin. Chem. Soc., 49,
625-628.
Wan Ngah, W.S., Endud, C.S & Mayanar, R. (2002b).
Removal of copper (II) ions from aqueous solution
onto chitosan and crosslinked chitosan beads,
React. Funct. Polym., 50, 181–190.
Zhang, W.-X. (2003). Nanoscale iron particles for
invironmental remediation, an overviews, J.
Nanoparticle Res., 5, 323-333.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ketua & anggota senat serta para undangan yang mulia


Pada kesempatan ini sebelum saya mengakhiri
pidato pengukuhan, perkenankan saya mengucapkan
puji dan syukur alhamdullah ke hadirat Allah SWT yang
telah memberikan kesempatan kepada saya untuk
menggali secuil ilmu hingga dianugrahi gelar keilmuan
sebagai guru besar di Universitas Syiah Kuala.
Ucapan terima kasih senantiasa disampaikan
kepada pemerintah khususnya jajaran kementerian
Pendidikan Nasional yang atas kepercayaan dan
pengangkatan saya sebagai guru besar bidang kimia

26
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
anorganik di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.
Kepada ketua dan seluruh anggota senat
universitas Syiah Kuala, saya ucapkan penghargaan
serta terima kasih atas dukungan, pengusulan dan
persetujuan untuk memberikan jabatan guru besar bagi
saya dan sampai pada hari pengukuhan yang
berbahagia ini.
Proses usulan guru besar dimulai dari unit terkecil
yaitu program studi pendidikan kimia dan fakultas
keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Syiah Kuala.
Karena itu ucapan terima kasih dan penghargaan
senantiasa saya berikan kepada institusi ini mulai dari
Dekan, ketua program studi, rekan-rekan dosen, tenaga
adminstrasi serta para mahasiswa yang tidak mungkin
disebutkan satu per satu dalam kesempatan ini. Semoga
siraturahim ini dapat terus terjaga untuk dapat
meningkatkan pelayanan akademik dan amal di akhirat
kelak.
Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada
Prof. Liew Kong Yong, Associate Professor Mohammad
Abu Bakar, Prof. Krishnamurti dan Professor Bastian

27
Adlim, 2011, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar
Universitas Syiah Kuala, di Universitas Syiah Kuala, 9 April
2011
Arifin yang telah membimbing saya dalam berbagai
strata yaitu mulai dari S3, S2 & S1. Terima kasih juga
kepada dosen dan guru yang mendidik saya dari SD
hingga perguruan tinggi. Semoga ilmu dan amal jariah
beliau mendapat pahala di sisi Allah. Selain para
pembimbing akademik, saya banyak berutang budi
kepada almarhum Bapak Dr. Erwin Nudin, M.Sc. Ucapan
terima kasih serta doa saya kirimkan kepada almarhum
yang semasa hidupnya telah membimbing, membantu
dan mempromosikan saya hingga menjadi dosen FKIP
Unsyiah. Almarhum pak Erwin merupakan sosok seorang
bapak yang dikagumi di program studi kimia.
Beliau selalu menganjurkan kebersamaan dan
keakraban. Prinsip keteraan ini membuat kami
berkomunikasi secara terbuka bahkan dalam memilih
jodoh pun sering meminta fatwa dari beliau. Kini beliau
telah tiada tapi jasa beliau tetap terukir di hati kami dosen
prodi kimia.

28

View publication stats