You are on page 1of 125

BAB III

KONSEP ASUHAN KEBIDANAN

3.1 Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Trimester III


Judul : Judul dapat memudahkan petugas kesehatan mengetahui jenis
dokumentasi dari asuhan kebidanan berkesinambungan. Pada
penulisan judul nama klien menggunakan inisial. Dapat
disertakan umur klien dan disertai riwayat paritasnya. Disertai
keterangan nama rumah sakit/BPM/Puskesmas (Sulistyawati,
2009).
No.Register : Nomor register klien menjadi pembeda antar klien sehingga tidak
tertukar antar klien, dan memudahkan pencarian di rekam medik
jika ada data yang dbutuhkan (Sulistyawati, 2009)
Tanggal : Tanggal pemeriksaan saat ini dapat menentukan jadwal
pemeriksaan berikutnya. (Sulistyawati, 2009)
Pukul : Waktu dilakukannya pengkajian dapat menyesuaikan bagian
mana waktu indonesia yang digunakan (Sulistyawati, 2009).
Tempat : Tempat pengkajian dicantumkan agar mengetahui tempat
dimana tempat awal pemberian asuhan kepada pasien
(Sulistyawati, 2009)
3.1.1 Pengkajian (Identifikasi Data Dasar)
A. Data Subyektif
Data Subjektif adalah data yang didapat berdasarkan persepsi dan
pendapat klien tentang masalah kesehatan mereka. Sumber data pengkajian
dapat berasal dari anamnesa klien, keluarga dan orang terdekat, anggota tim
perawatan kesehatan, catatan medis, dan catatan lainnya. Informasi tersebut
dapat berupa kutipan atau ringkasan yang berhubungan dengan diagnosa
(Nuasiah dkk, 2014).
1. Biodata
a. Nama klien dan suami
Dalam asuhan kebidanan berkesinambungan khususnya pada ibu
hamil, dibutuhkan informasi nama ibu dan suami agar tepat sasaran
dalam pemberian asuhan kebidanan berkesinambungan.
b. Usia klien dan suami
Usia dibawah 16 tahun atau diatas 35 tahun mempredisposisi
wanita terhadap sejumlah komplikasi. Usia dibawah 16 tahun
meningkatkan insiden preeklamsia. Usia diatas 35 tahun
meningkatkan insiden diabetes tipe II (yang menyebabkan
peningkatan insiden preeklamsia dan abrupsio plasenta), persalinan
lama pada nulipara, seksio sesara, pelahiran preterm, IUGR, anomali
kromosom dan kematian janin (Varney, 2007).
c. Agama
Agama berhubungan dengan kepercayaan yang menjadi salah
satu faktor yang mempengaruhi pola pikir seseorang sehingga akan
berpengaruh terhadap pendekatan dalam memberikan asuhan
kebidanan berkesinambungan (Sulistyowati, 2009).
d. Pendidikan
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pemilihan tempat
pemeriksaan selama hamil, bersalin, nifas dan KB, serta metode
komunikasi dan health education yang akan disampaikan oleh tenaga
kesehatan (Arief dan Sudikno. 2010)
e. Pekerjaan
Pekerjaan menjadi acuan seseorang dalam mengukur tingkat
sosial ekonomi, aktifitas sehari-hari. Kelelahan dan stress karena ibu
bekerja dapat meningkatkan resiko kehamilan dan persalinan
prematur, serta ketuban pecah dini (Prawirohardjo, 2010).
f. Alamat
Pada beberapa masyarakat pedesaan masih memilih melahirkan
di fasilitas non kesehatan dibanding dengan masyarakat perkotaan,
karena akses lebih mudah dijangkau didaerah perkotaan (Arief dan
Sudikno, 2010). Tempat tinggal dan lingkungan menjadi salah satu
faktor yang mempengaruhi kebiasaan sehari-hari klien.
g. No. Telepon
Membantu petugas kesehatan melakukan follow-up terkait asuhan
kebidanan yang akan diberikan kepada klien serta menggali informasi
lain yang berhubungan dengan klien (Sulistyawati, 2009).
2. Keluhan Utama/Alasan Kunjungan
Alasan kunjungan sebagai informasi latar belakang atau alasan ibu
hamil memeriksakan dirinya ke tenaga kesehatan/fasilitas kesehatan, ibu
hamil yang memasuki waktu TM III biasanya datang karena ada keluhan
ataupun ingin kontrol rutin (Sulistyawati, 2009).
Keluhan utama merupakan kondisi/hal yang dirasakan oleh ibu hamil
yang memasuki trimester III yang paling mengganggu klien dalam
beraktifitas (misalkan sering kencing pada malam hari, tidak bisa tidur
pada malam hari, kram pada kaki, sesak napas, pusing/sakit kepala
ataupun varises). Atau ibu merasa tanda-tanda bahaya kehamilan seperti
keluar cairan berwarna hijau dari jalan lahir, keluar nya darah dari jalan
lahir, ibu kejang (WHO Indonesia, 2013).
3. Riwayat Pernikahan
Riwayat pernikahan meliputi status pernikahan, lama pernikahan, usia
saat menikah berpengaruh pada kesiapan secara psikologis, fisik serta
materil dalam menghadapi kehamilan, persalinan dan memiliki anak
(Manuaba, 2003). Selain hal tersebut, kita dapat mengelempokkan
kondisi klien masuk infertilitas primer ataupun sekunder. Kondisi anak
yang dilahirkan diluar nikah akan berpengaruh terhadap penerimaan ibu
dan keluarga terhadap kehamilannya (Diana, 2017). Kemungkinan
pernikahan beberapa kali dapat menyebabkan resiko gangguan
kesehatan, lama pernikahan klien dan usia klien pertama kali menikah
(usia menikah <20 tahun atau >35 tahun berisiko mengalami gangguan
dalam masa kehamilannya, persalinannya, nifas/menyusui serta kondisi
bayi yang dilahirkan).
4. Riwayat Obstetri
a. Riwayat menstruasi
 Hari pertama haid terakhir.
Hari pertama haid terakhir klien dapat digunakan untuk
memperkirakan usia kehamilan dan taksiran persalinan, serta dapat
menentukan kehamilan klien baik aterm/postterm/preterm sehingga
dapat dikaitkan dengan persiapan persalinannya (Sastrawinata,
2006). Maka dari itu penting kapan mengkaji HPHT.
 Siklus menstruasi
Gangguan pada siklus menstruasi klien dapat mempengaruhi
terjadinya gangguan reproduksi yang akan mempengaruhi
kehamilannya. Seorang wanita yang memiliki siklus teratur dan
normal lebih memungkinkan bersalin sesuai dengan taksiran
persalinan berdasarkan HPHT. Namun tidak selalu tanggal taksiran
persalinan merupakan hal yang pasti dikarenakan variasi waktu
ovulasi yang berbeda setiap individu (Varney, 2007). Maka dari itu
siklus menstruasi yang dialami klien perlu dikaji, apakah teratur atau
tidak dan berapa hari siklus menstruasi klien. Normal 25-38 hari (±28
hari).
 Lama menstruasi
Lama menstruasi berhubungan dengan kapan awal mula
menstruasi jika ibu hanya ingat tanggal akhir menstruasinya. Lama
haid juga berhubungan dengan implantation bleeding apabila ibu
mengalami bercak/flek dan darah keluar 1 atau 2 hari tidak seperti
menstruasi sebelumnya yang berlangsung lebih lama (Varney, 2007)
dimana penentuan usia kehamilan dan taksiran persalinan dapat
dilihat dari kapan zigot berimplantasi.
 Keluhan terkait menstruasi
Keluhan saat menstruasi dapat mencakup nyeri haid, adakah
fluor albus (keputihan) yang berlebihan, adakah keputihan berwarna,
berbau, gatal untuk mengidentifikasi adakah infeksi menular pada
reproduksi klien sehingga dapat dilakukan identifikasi
penatalaksanaan kehamilan yang tepat pada klien apakah dapat
melahirkan normal atau operasi cesar (WHO Indonesia, 2013).
 Perkiraan taksiran persalinan
Perkiraan taksiran persalinan digunakan untuk mengetahui
waktu perkiraan persalinan klien dan menentukan apakah klien
berada pada kehamilan aterm/pre-term/post-term. Bila hari pertama
haid terakhir diketahui dan siklus haid 28 hari, maka dapat dijabarkan
hari perkiraan lahir memakai rumus Naegele: hari +7, bulan –3, dan
tahun +1. Perkiraan lahir pada ibu bersalin berpengaruh pada
pemberian konseling apabila bayi yang dilahirkan preterm, aterm
atau post term dan jenis persalinan yang sesuai dengan kondisi ibu
dan bayi apakah normal atau cesar (Varney, 2007).
b. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Diperlukan penjelasan tentang jumlah gravida dan para pada ibu
untuk mengidentifikasi masalah potensial pada pelahiran kali ini dan
pascapartum, factor resiko terdahulu yang perlu diidentifikasi adalah
perdarahan, hipertensi pada kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu,
BB Lahir bayi <2500 gr atau >4000gr serta masalah lainnya dalam
kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu. Riwayat kehamilan dan
persalinan yang lalu dapat mempengaruhi metode persalinan yang
akan dilakukan saat persalinan berikutnya, seperti ibu dengan jarak 2
tahun setelah persalinan dengan sectio sesar akan melahirkan
kembali, maka metode persalinannya adalah sectio sesar, persalinan
normal akan menjadi faktor resiko terjadinya ruptur uteri (Manuaba,
2010). Grande multipata dan primipara memiliki peluang untuk
persalinan dengan SC, lebih besar dibanding dengan paritas 2-
3/multipara (Febbryanti, 2016).
Seorang wanita yang sebelumnya pernah hamil mungkin saja
khawatir dirinya akan kembali mengalami komplikasi yang
berhubungan dengan kehamilan sebelumnya. Selain faktor risiko
medis atau obstetrik, wanita mungkin juga memiliki kekhawatiran
akibat pengalaman persalinan sebelumnya, yang terkait dengan
persalinan per vaginam versus persalinan sesaria, penggunaan
analgesia, posisi saat melahirkan, dukungan tenaga pelayanan
kesehatan, dan berbagai isu lain yang berkaitan dengan proses
persalinan. Sangatlah penting untuk meningkatkan kepuasannya
terhadap proses persalinan. Sebaliknya, ia mungkin mendapatkan
pengalaman yang luar biasa pada persalinan sebelumnya dan
menginginkan bantuan untuk memastikan hasil-akhir positif yang sama
pada kehamilan mendatang (Varney, 2007).
c. Riwayat KB
Efektivitas penggunaan KB berpengaruh pada kehamilan yang
tidak direncanakan, hal ini sangat berpengaruh terhadap persiapan
proses persalinan. Persiapan yang kurang baik akan mengganggu
kondisi ibu mengadapi rasa nyeri pada persalinan. Serta untuk
mengetahui apakah klien pernah mengikuti program KB, berapa lama
dan adakah keluhan selama menggunakan metode KB ataukah klien
pernah mengganti KB. Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut
KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan
selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah
melahirkan dan beralih ke kontrasepsi apa (Ambarwati, 2008). Hal
yang perlu dikaji adalah jenis metode yang dipakai, waktu, tenaga dan
tempat saat pemasangan dan berhenti, keluhan/alasan berhenti
(Muslihatun dkk, 2009).
5. Riwayat Kesehatan
Dalam hubungannya dengan faktor resiko komplikasi pada
kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir, perlu menilai riwayat
kesehatan terdahulu, sekarang maupun keluarga. Jika penyakit terdahulu
belum selesai dalam pengobatannya dan berbahaya pada kehamilan
perlu dilakukan penatalaksanaan yang sesuai dengan kondisi ibu agar
kehamilan persalinan dan nifas yang akan dilalui aman dan sehat, jika
penyakit terdahulu dilakukan operasi terurama pada organ reproduksi hal
tsb akan sangan berpengaruh pada proses kehamilan dan pemilihan cara
persalinan (Diana, 2017). Penyakit berbahaya yang dialami oleh ibu hamil
adalah HIV/AIDS, diabetes mellitus, TBC, Hepatitis, hipertensi dan
penyakit jantung menjadi poin utama komplikasi morbiditas dan mortalitas
ibu maupun janin selain masalah saat kehamilan persalinana maupun
nifas, maka perlunya pengkajian terkait penyakit tersebut kepada ibu,
penyakit tersebut dapat menurun maupun menular baik dari keluarga atau
orang terdekat seperti suami (Romauli, 2011). Penting untuk mengetahui
apakah ibu memiliki kondisi medis yang memerlukan pemantauan ketat
selama persalinan, seperti diabetes, hipertensi atau infeksi. Diabetes
merupakan faktor terjadinya makrosomia, dapat mengakibatkan robekan
jalan lahir, distosia bahu . (Suhartika, 2017).
Tanyakan mengenai kesehatannya secara umum dan
kesejahteraannya selama kehamilan. Perlu diketahui gerakan janin,
presentasi janin berdasarkan hasil pemeriksaan kehamilan, jumlah
kunjungan/pemeriksaan kehamilan pada ibu hamil memperngaruhi
informasi kesehatan yang ibu terima selama hamil, pemeriksaan status
TT ibu akan mempengaruhi penatalaksanaan pemberian vaksin pada ibu
hamil, suntik tetanus menjadi program wajib ANC karena terbukti dapat
menurunkan angka kejadian tetanus neonatorum, keteraturan ibu
mengkonsumsi tablet darah menjadi indikasi apakah ibu memiliki resiko
anemia dan perdarahan saat persalinan, ataupun dapat melahirkan bayi
dengan BBLR. (Suhartika, 2017).
Bagaimana respon pasien dan keluarga terhadap kodisi kehamilan
klien saat ini. Bagaimana psikis ibu, apakah kehamilan ini diharapkan
atau tidak. Latar Belakang Sosial Budaya
 Bagaimana adat istiadat yang ada di lingkungan sekitar.
 Apakah ibu percaya terhadap mitos atau tidak.
 Adakah kebiasaan-kebiasaan keluarga maupun lingkungan masyarakat
yang mengganggu kehamilan ibu.
6. Pola Kebiasaan Sehari-hari
 Pola istirahat tidur
Di kehamilan usia lanjut, saat perut telah begitu besar, ibu akan
merasakan kondisi kurang nyaman, seperti kram, sering buang air kecil,
kontraksi palsu, tendangan bayi, dan peningkatan asam lambung yang
membuat ibu kerap terbangun dan mengubah posisi tidur beberapa kali.
Belum ada penelitian lebih lanjut tentang posisi tidur yang aman untuk
wanita hamil, tapi para pakar menganjurkan bahwa saat kehamilan 16
minggu, sebaiknya wanita hamil tidur dengan posisi miring ke sisi kiri
(Pusdiknakes, 2003. Saifudin, 2002. Manuaba, 2010. Jiarti dkk, 2010).
Ibu hamil setidaknya memiliki jam istirahat/tidur yang cukup. Kurang
istirahat/tidur, ibu hamil akan terlihat pucat, lesu dan kurang gairah. Ibu
hamil dianjurkan tidur malam kurang lebih 8 jam dan tidur siang kurang
lebih 1 jam (Nugroho, dkk, 2014).
 Pola aktifitas
Bagi ibu tidak bekerja, dapat mengurangi aktivitas fisik dalam
mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan ibu yang bekerja diluar
rumah sebaiknya tidak bekerja terlalu berat karena dapat menimbulkan
kontrasi uterus yang dapat menyebabkan persalinan prematur.
Kelelahan dapat menurunkan nafsu makan, sehingga asupan nutrisi
pada janin terhambat, hal ini memungkinkan tumbuh kembang yang
tidak maksimal pada janin (Pusdiknakes, 2003. Saifudin, 2002.
Manuaba, 2010. Jiarti dkk, 2010).
 Pola eliminasi
Pada ibu hamil trimester 3, terjadi pembesaran uterus secara
drastis sehingga vesical urinaria tertekan dan tidak dapat menampung
banyak urin, hal ini mengakibatkan ibu sering buang air kecil, disamping
vesical urinaria tertekan usus besar pun tertekan mengakibatkan feses
sulit keluar apabila serat dalam tubuh sedikit, makadari itu pada ibu
hamil trimester 3 rentan terjadi konstipasi dan hemoroid (Manuaba,
2010. Tyastuti dan Wahyuningsih, 2016). Biasanya pada ibu hamil
kemungkinan besar terkena sembelit karena pengaruh dari hormon
progesterone dan juga warna dari fecesnya terkadang hitam yang
disebabkan oleh tablet Fe yang dikonsumsi selama hamil (Romauli,
2011). Maka dari itu perlu dikaji kebiasaan dan gangguan ibu saat BAB
dan BAK.
 Pola nutrisi
Selama hamil, ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan makanan
yang cukup dengan pola gizi yang seimbang karena hal ini penting untuk
proses tumbuh kembang janin dan derajat kesehatan ibu. Misalnya ibu
hamil disarankan minum tablet tambah darah secara rutin untuk
mencegah anemia pada kehamilannya (IOM 2009 dan Kemenkes,
2013).
 Pola personal hygiene
Salah satu tujuan persiapan persalinan adalah meningkatkan
kesehatan optimal menjelang persalinan dan segera memberikan
laktasi. Untuk dapat mencapai keadaan optimal menjelang persalinan
perlu dilakukan dua langkah penting yaitu melakukan senam hamil dan
mempersiapkan keadaan payudara untuk laktasi (Manuaba, 2010).
Pada ibu hamil trimester 3 cenderung terjadi peningkatan hormone
yang mengakibatkan keputihan dan keringat bertambah, hal ini akan
mempengaruhi kenyamanan pada ibu hamil maka perlu adanya
pengkajian terkait personal hygine (Manuaba, 2010. Tyastuti dan
Wahyuningsih, 2016.)
 Pola kebiasaan
Perokok aktif/pasif, konsumsi jamu, obat-obatan atau alkohol dapat
mempengaruhi kondisi janin dalam kandungan dan komplikasi-
komplikasi selama hamil, persalinan dan nifas, maka dari itu kebiasaan
perlu dikaji.
 Pola seksualitas
Berapa kali melakukan hubungan seksual selama kehamilan dan
adakah keluhan, normalnya boleh dilakukan pada kehamilan trimester II
dan awal trimester III
 Pola rekreasi
Hiburan yang biasanya dilakukan oleh ibu hamil dapat
mempengaruhi kondisi emosional ibu dan janin
B. Data Obyektif
Pemeriksaan fisik pada ibu meliputi keadaan umum, tanda-tanda vital
dan pemeriksaan head to toe. Pengkajian status janin mencakup
pemeriksaan denyut jantung janin, normalnya 120-160x/menit. Taksiran
berat janin dapat dihiung dari fundus uteri. Letak dan presentasi janin dapat
diketahui dari hasil pemeriksan palpasi abdomen (Suhartika, 2017).
1) Pemeriksaan umum
Keadaan : Keadaan umum pasien dapat menentukan pertolongan
umum segera jika terdapat komplikasi pada kehamilan,
persalinan dan nifas
Kesadaran : Perubahan kesadaran seseorang dapat disebabkan
keadaan patologis seperti penurunan ketersediaan
substansi yang dibutuhkan untuk metabolism normal
otak (hipoksia, hipoglikemia), penyakit metabolic lainnya
(misalnya gagal ginjal, gagal hati, hipotermia, defisiensi
vitamin), epilepsi, obat-obatan dan toksin, inflamasi otak
sehingga akan mempengaruhi tindakan pertolongan
yang diberikan (Ginsberg, 2008).
Tekanan : Peningkatan atau penurunan tekanan darah masing-
darah masing merupakan indikasi gangguan hipertensi atau
syok pada saat kehamilan, persalinan dan nifas,
peningkatan tekanan sistolik dengan tekanan diastolik
dalam batas normal, dapat mengindikasi ansietas atau
nyeri pada saat hamil, bersalin dan nifas (Varney, 2007).
Suhu : Peningkatan suhu menunjukkan adanya infeksi atau
dehidrasi pada saat hamil, bersalin dan nifas (Varney,
2007).
Nadi : Peningkatan nadi dapat menunjukkan adanya infeksi,
syok, ansietas atau dehidrasi pada saat hamil, bersalin
dan nifas (Varney, 2007).
Pernafasan : Pada kehamilan TM3, terjadi pembesaran uterus
sehingga menekan usus dan mengakibatkan difragma
terangkat keatas, hal ini dapat mengganggu pola napas
ibu, napas normal ibu hamil berkisar antara 16-24x/m
(Ramauli, 2011). Peningkatan pernapasan yang
abnormal dapat menunjukkan syok atau ansietas pada
saat hamil, bersalin dan nifas (Varney, 2007).
2) Pemeriksaan Antopometri
Berat : Janin yang bertumbuh semakin pesat didalam uterus
Badan mengakibatkan kebutuhan akan nutrisi serta peningkatan
berat meningkat. Berat badan ditimbang untuk memperoleh
kenaikan berat badan total selama kehamilan, perlu
diwaspadai adanya kenaikan berat badan berlebih pada
sesaat menjelang persalinan, berat badan berlebih
memungkinkan ibu terkena terkena obesitas dan beresiko
komplikasi pada kehamilan dan persalinannya, berupa:
hipertensi-preeklamsia, makrosomia, prematur, persalinan
pervaginan dengan tindakan, SC dan kelainan pada janin
(WHO Indonesia, 2013).
LiLA : Kekurangan energi kronis dapat dicek menggunakan ukuran
lingkar lengan atas, LiLA < 23,5 mengindikasikan ibu
mengalami asupan nutrisi yang kurang. Resiko komplikasi
persalinannya adalah perdarahan, berat badan janin rendah
(WHO Indonesia, 2013).
3) Pemeriksaan fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan
klien serta tingkat kenyamanan fisik klien.Informasi dari hasil
pemeriksaan fisik dan anamnesis diolah untuk membuat keputusan klinik,
menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau
perawatan yang paling sesuai dengan kondisi klien.
a. Kepala
Kebersihan tubuh harus terjaga selama kehamilan, persalinan dan
nifas. Perubahan anatomik pada perut, area genitalia/lipatan paha dan
payudara menyebabkan lipatan-lipatan kulit menjadi lebih lembab dan
mudah terinvestasi oleh mikroorganisme (Prawirohardjo, 2011).
Rambut : Kondisi rambut yang lepek menunjukkan bahwa ibu
berkeringat, ketidanyamanan ini dapat menghambat
aktivitas sehari-hari pada ibu hamil dan nifas serta proses
persalinan (Varney, 2007). Warna rambut, rontok/tidak,
mudah dicabut/tidak, kebersihan rambut dan kulit.
Wajah : Pada kehamilan, terjadi peningkatan hormon melanin yang
diakibatkan karena hormon estrogen meningkat selama
kehamilan, dimana hormon melanin mempengaruhi
adanya hiperpigmentasi kulit terutama pada wajah
(Romauli, 2011). Pucat/tidak, oedem palpebra dan pipi.
Perlu dikaji untuk mengetahui perubahan pada wajah
seperti wajah pucat, edema, kloasma. Pucat pada ibu
hamil, bersalin dan nifas menunjukkan adanya anemia,
sedangkan edema pada wajah merupakan salah satu
gejala ibu bersalin mengalami pre eklamsi (Prawirohardjo,
2011).
Mata : Simetris, konjungtiva merah muda / pucat, sklera putih atau
tidak, fungsi penglihatan masih baik/tidak. Anemia adalah
suatu kondisi dimana terdapat kekurangan sel darah merah
atau hemoglobin. Salah satu gejala fisik ibu hamil, bersalin
dan nifas mengalami anemia adalah perubahan warna
pada konjungtiva (pucat) (WHO Indonesia, 2013).
Diperlukan pencegahan perdarahan pada ibu bersalin
dengan anemia.
Hidung : Terdapat beberapa penilaian hidung yang perlu dikaji yang
meliputi kebersihan dan gerakan cuping hidung yang dinilai
melalui inspeksi. Adanya gangguan pernapasan pada
hamil, bersalin dan nifas perlu berikan penatalaksanaan
yang dapat membantu ibu untuk mengurangi kondisi gawat
yang dialami
Mulut/ : Kebersihan, caries, adakah stomatitis, adakah epulis, bibir
gigi pucat/tidak, tonsil. Bibir pucat menunjukkan keadaan klien
terkait kondisi anemia dan dehidrasi. Sedangkan tonsil
terkait dengan ada/tidaknya infeksi pada masa kehamilan
yang dapat mempengaruhi tindakan pada proses
persalinan.
Telinga : Keadaan telinga perlu dilakukan pengkajian terutama
kebersihan. Kebersihan termasuk kebersihan telinga
termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi persalinan
(Prawirohardjo, 2011).
b. Leher
Pada ibu hamil trimester 3, terjadi pembesaran kelenjar tiroid hingga 15
ml akibat dari hiperplasia kelenjar dan peningkatan vaskularisasi (Romauli,
2011). Perlu dilakukan pengkajian leher dalam asuhan kebidanan
berkesinambungan meliputi pembesaran kelenjar tiroid, adakah bendungan
vena jugularis, adakah pembesaran kelenjar limfe
c. Dada/payudara
Kesimetrisan kedua payudara, kebersihan kedua payudara, puting
susu menonjol atau tidak, adakah hiperpigmentasi pada kedua aerola
mamae.
Palpasi : Pada trimester 3, pertumbuhan kelenjar mamae membuat
ukuran payudara semakin meningkat. Pada kehamilan 32
minggu warna cairan agak putih seperti air susu yang sangat
encer, sedangkan usia kehamilan 34 minggu sampai bayi
lahir cairan yang keluar lebih kental, berwarna kuning dan
banyak mengandung lemak/kolostrum (Romauli, 2011).
Adakah kolostrum, adakah massa atau pembesaran massa
atau kelenjar limfe, adakah cairan/rabas yang keluar dari
puting. Pengeluaran kolostrum/ASI dinilai untuk mengetahui
kesiapan pemberian ASI. Sedangkan massa/benjolan dinilai
untuk mengetahui keadaan abnormal payudara
(Sulistyawati, 2009)
Auskultasi : Bunyi nafas normal/tidak, intensitas reguler/tidak, bunyi
jantung normal/tidak, intensitas reguler/tidak. Volume tidal,
volume ventilasi/menit dan pengambilan oksigen/menit akan
bertambah secara signifikan pada persalinan. Perubahan ini
akan mencapai puncaknya pada minggu ke 37 kehamilan,
selama berjalannya proses persalinan dan akan kembali
seperti sedia kala dalam 24 minggu setelah persalinan
(Heffner & Schust, 2013; Prawirohardjo, 2011).
d. Abdomen
Pengkajian abdomen dilakukan melalui inspeksi dan palpasi yang perlu
dilakukan untuk mengumpulkan data objektif pada asuhan persalinan.
Inspeksi : Pembesaran abdomen melintang/membujur, sesuai usia
kehamilan atau tidak, adakah bekas luka operasi, adakah
linea alba dan striae gravidarum. Jaringan parut pada
abdomen berguna untuk memastikan integritas uterus
(Varney, 2007).
Palpasi : Pada akhir kehamilan, uterus akan membesar dan akan
menyentuh dinding abdomen, mendorong usus kesamping
dan keatas, terus tumbuh hingga menyentuh ulu hati, maka
dari itu pelu pengkajian Engagement, pola kontraksi, tinggi
fundus uteri dapat dikaji melalui palpasi.
Leopold I : Pemerisaan leopod I dapat menentukan fundus uteri,
menentukan TFU, dan konsistensi fundus. Pada letak bujur
sungsang kepala bulat keras dan melenting pada goyangan;
Leopold II : Pemeriksaan leopold II dapat mengetahui bagian apa yang
terdapat di bagian samping(batas samping kanan kiri). Pada
letak membujur dapat ditetapkan punggung anak; pada
letak lintang dapat ditetapkan dimana kepala janin.
Leopold III : Pemeriksaan leopold III mengetahui bagian terbawah janin
Leopold IV : Pemeriksaan leopold IV dapat menentukan apakah bagian
terbawah tersebut sudah masuk atau masih goyang,
menetapkan bagian terendah janin yang masuk ke pintu
atas panggul. Bila bagian terendah masuk PAP telah
melampaui lingkaran terbesarnya disebut divergen,
sedangkan bila lingkaran terbesarnya belum masuk PAP
disebut konvergen (Suryaningsih, 2017).
Auskultasi : Kesejahteraan janin dapat terdeteksi dengan menggunakan
auskultasi, penghitungan DJJ dapat dikatakan normal
apabila 120–160x/menit, jika  120 atau  160 merupakan
tanda fetal distress (Varney, 2007).
TBJ : Taksiran berat janin untuk mengetahui apakah janin
makrosomia atau tidak.
Rumus Johnson (berdasarkan palpasi atau TFU:
- TBJ jika kepala belum masuk PAP = (TFU-12) x 155 gr
- TBJ jika kepala sudah masuk PAP = (TFU-11) x 155 gr
(Suryaningsih, 2017).
e. Ekstremitas
Edema pada kaki dan pergelangan kaki saja biasanya merupakan
edema dependen yang disebabkan penurunan aliran darah vena akibat
penekanan uterus yang membesar.
Edema ekstremitas merupakan tanda klasik preeklamsia, bidan harus
mengecek dan mengevaluasi edema pada pergelangan kaki, area pratibia,
jari atau wajah. Hiperefleksia (+3 & +4) merupakan salah satu tanda
preeklamsia berat. Klonus biasanya terlihat menjelang eklamsia atau pada
eklamsia aktual (Varney, 2007).
4) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:
a. Pemeriksaan golongan darah
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk
mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk mempersiapkan
calon pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi
kegawatdaruratan.
b. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal sekali
pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga. Pemeriksaan ini
ditujukan untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak
selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat mempengaruhi proses
tumbuh kembang janin dalam kandungan.
c. Pemeriksaan protein dalam urin
Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester
kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui
adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria merupakan salah satu
indikator terjadinya preeklampsia pada ibu hamil.
d. Pemeriksaan kadar gula darah
Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus dilakukan
pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester
pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada trimester ketiga
(terutama pada akhir trimester ketiga).
e. Pemeriksaan darah Malaria
Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan pemeriksaan
darah Malaria dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di
daerah non endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria apabila
ada indikasi.
f. Pemeriksaan tes Sifilis
Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggi dan ibu
hamil yang diduga Sifilis. Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya dilakukan sedini
mungkin pada kehamilan.
g. Pemeriksaan HIV
Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus HIV
dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani
konseling kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan sendiri
keputusannya untuk menjalani tes HIV.
h. Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai menderita
Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksI Tuberkulosis tidak
mempengaruhi kesehatan janin. Selain pemeriksaaan tersebut diatas,
apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya di
fasilitas rujukan (Oktaviani, 2017).
3.1.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretasi Data Dasar)
Interpretasi data subyektif dan data obyektif yang telah diperoleh,
mengidentifikasi masalah, kebutuhan, dan diagnosa berdasarkan
interpretasi yang benar atas data yang dikumpulkan. Diagnosa kebidanan ini
dibuat sesuai standard nomenklatur kebidanan.

Dx ibu: G.... P..... Ab.....


UK.....
Dx janin: Janin tunggal, hidup, intrauteri, presentasi kepala
Dx ibu: G.... P..... Ab.....
UK.....
UK.....
Keterangan : G (Gravida): jumlah kehamilan yang pernah dialami
diagnosa wanita tersebut
ibu  P (Para): jumlah kehamilan yang berakhir dengan
kelahiran bayi atau bayi telah mampu mencapai titik
mampu bertahan hidup. Data yang perlu dikaji:
- Angka pertama: jumlah bayi cukup bulan yang
dilahirkan wanita. Cukup bulan pada system ini
mengacu pada bayi berusia 37 minggu atau 2500
gram atau lebih
- Angka kedua : jumlah bayi prematur yang
dilahirkan wanita. Prematur pada sistem ini
mengacu pada setiap bayi yang dilahirkan antara
usia 28 dan 37 minggu dan dengan berat kurang
dari 2500 gram.
- Angka ketiga : jumlah kelahiran yang dilahirkan
sebelum usia kehamilan 28.
- Angka keempat : jumlah anak yang dilahirkan dan
dalam keadaan hidup sampai sekarang
 Ab (Abortus): istilah pada bayi yang lahir sebelum
usia kehamilan 20 minggu. Pada system ini juga
dikaji adanya riwayat mola hidatidosa dan riwayat
kehamilan ektopik.
 UK (berdasarkan HPHT, gerakan janin, TFU, USG)
minggu. Menghitung berdasarkan HPHT yaitu
dengan rumus 4/3. Sedangkan jika menggunakan
mcDonald, dihitung berdasarkan TFU dalam cm
kemudian dikalikan 2 dan dibagi 7 untuk UK dalam
bulan, jika dalam minggu maka dikalikan 8 dibagi 7.
Keterangan : Diagnosa diambil berdasarkan detak jantung janin yang
diagnosa terdeteksi, palpasi abdomen menggunakan leopold,
janin pemeriksaan dalam yang menunjukkan bagian terendah
janin
Masalah :  Resiko edema kaki; dikarenakan penumpukan cairan
tubuh pada ekstremitas
 Resiko gangguan pernapasa diakibatkan
pembesaran uterus
 Resiko konstipasi karen progesteron meningkat
 Resiko infeksi saluran kemih dan saluran reproduksi
akibat terlalu sering buar air kecil
Kebutuhan : Merupakan kebutuhan yang harus diberikan untuk
mengatasi masalah (Varney, 2007). KIE meredakan
ketidaknyamanan
3.1.3 Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
Langkah ini diambil berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah
ditemukan berdasarkan data yang ada kemungkinan menimbulkan keadaan
yang gawat pada kehamilan TM III, meliputi.
 Tekanan darah ibu tinggi lebih dari 140/90 mmHg kemungkinan ibu
mengalami preeklamsia
 Suhu tubuh ibu lebih dari 380 C kemungkinan ibu terkena infeks
 Nadi ibu lebih dari 100x/menit kemungkinan ibu presyok
 Denyut jantung janin <100 atau >180x/menit (normalnya 120-180x/menit)
kemungkinan janin terkena fetal distress.
 Perdarahan dari jalan lahir
 Terasa kontraksi semakin sering dan kuat disertai pengeluara cairan baik
bening atau hijau dari jalan lahir sebelum usia kehamilan 9 bulan
3.1.4 Identifikasi kebutuhan segera
Mencakup tentang tindakan segera untuk menangani diagnosa/masalah
potensial yang dapat berupa konsultasi, kolaborasi dan rujukan (Varney,
2007). Untuk kondisi kekurang cairan seperti perdarahan perlu dilakukan
resusitasi menggunakan infus RL 500 ml, serta pemberian oksigen melalui
nasal kanul sebanyak 2-4 lpm, jika hipertensi/preeklamsi berikan cairan NS
disertai 4 g larutan Mg SO4 (10 ml larutan MgSO4 40%) dan larutkan dengan
10 ml akuades. Berikan larutan tersebut secara perlahan IV selama 20 menit
(WHO Indonesia, 2013).
3.1.5 Menyusun rencana asuhan/ intervensi
Pada langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya.
Informasi atau data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap rencana asuhan
harus disetujui oleh kedua belah pihak sehingga asuhan yang diberikan
dapat efektif karena sebagian dari asuhan akan dilaksanakan oleh klien.
Dx : G....P....Ab.... UK...janin tunggal/kembar, hidup/mati, dengan
kehamilan Fisiologis
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ...... diharapkan
ibu dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi persalinan.
Kriteria :  Keadaan umum ibu dan janin baik
 Tanda-tanda vital dalam batas normal
TD : ± 120/80 mmHg, stabil
N : 60 – 100 kali/menit
S : 36,5 – 37,50C
RR : 16 – 24 kali/menit
 DJJ (+) 120-160 kali/menit
 Pemeriksaan leopold fundus teraba bagian lunak, bulat,
tidak melenting dan bagian terbawah menandakan
melenting keras, bulat, melenting
 Ibu memahami kondisinya dengan mampu menjelaskan
apa yang terjadi pada kehamilannya
Intevensi
1. Jelaskan pada klien tentang keadaan kehamilannya saat ini!
R/ ibu akan merasa tenang setelah mengetahui kondisi ibu dan janin nya,
kondisi psikologis selama kehamilan sangat penting bagi kesehatan ibu dan
janinnya (Varney, 2007)
2. Jelaskan kebutuhan ibu hamil terutama trimester III!
R/ semakin tuanya usia kehamilan, kebutuhan fisik maupun psikologis ibu
hamil semakin beragam dan harus dipenuhi, seperti:
a. Kebutuhan akan nutrisi, berikut rekomendasi BMI untuk ibu hamil
Tabel 3.1 penambahan berat badan yang dianjurkan
KENAIKAN BB TOTAL LAJU KENAIKAN BB PADA
IMT PRA HAMIL SELAMA KEHAMILAN TM II DAN TM III (Rentang
rerata kg/mg)
Gizi <18,5 12,71-18,16 kg 0,45 (0,45-0,59)
Kurang/KEK
Normal 18,5-24,9 11,35-15,89 kg 0,45 (0,36-0,45)
Kelebihan BB 25-29,9 6,81-11,35 kg 0,27 (0,23-0,32)
Obesitas ≥30 4,99-9,08 kg 0,23 (0,18-0,27)
Tabel 3.2 kebutuhan nutrisi ibu hamil TM3(Kemenkes, 2013)
Energi (kkal) +300 Vitamin A (mg) +350
Protein (g) +18 Vitamin B1 (mg) +0,3
Lemak (g) +10 Vitamin B2 (mg) +0,3
Karbohidrat (g) +40 Vitamin B3 (mg) +4
Serat (g) 30-32 Vitamin B6 (mg) +0,4
Air (mL) +300 Vitamin B12 (µg) +0,2
Vitamin C (mg) +10 Folat (µg) +200
Ca (mg) +200 Zn (mg) +10,2
Fe (mg) +13 I (ug) +100
WHO merekomendasikan pemberian suplementasi zat besi dan
asam folat harian sebagai bagian dari asuhan antenatal untuk
mengurangi resiko bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia dan
defisiensi zat besi. WHO merekomendasikan dalm 1 hari ibu hamil dapat
meminum sumplemen tambah darah yang berisikan 90 mg Ferrous
Fumarat/250 mg /Ferrous Gluconate dan asam folat 400 µg (0,4 mg).
b. Kebutuhan personal hygine
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan
sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk
mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama lipatan
kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia). Kebersihan gigi dan
mulut, perlu mendapat perhatian karena seringkali mudah terjadi gigi
berlubang, terutama pada ibu kekurangan kalsium (Suryaningsih, 2017)
c. Kebutuhan eliminasi
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan
eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kecil. Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi
makanan tinggi serat dan banyak minum air putih, terutama ketika
lambung dalam keadaan kosong. Meminum air putih hangat ketika dalam
keadaan kosong dapat merangsang gerak peristaltik usus. Jika ibu sudah
mengalami dorongan, maka segeralah untuk buang air besar agar tidak
terjadi konstipasi. Sering buang air kecil merupakan keluhan utama yang
dirasakan oleh ibu hamil, terutama trimester I dan III, hal tersebut adalah
kondisi yang fisiologis (Suryaningsih, 2017)
d. Kebutuhan seksual
Selama kehamilan berjalan normal, koitus diperbolehkan sampai
akhir kehamilan, meskipun beberapa ahli berpendapat sebaiknya tidak
lagi berhubungan seks selama 14 hri menjelang kelahiran. Koitus tidak
diperkenankan bila terdapat perdararahan pervaginan,riwayat abortus
berulang, abortus/ partus prematurus imminens, ketuban pecah
sebelumnya waktunya (Varney, 2007).
e. Istirahat
Wanita hamil dianjurkan untuk merencanakan istirahat yang teratur
karena dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk
kepentingan perkembanagan dan pertumbuhan janin. Tidur pada malam
hari selma kurang lebih 8 jam dan istirahat dalam keadaan rilaks pada
siang hari selama 1 jam (Varney, 2007). istirahat cukup baik untuk
kesehatan ibu dan janin, kondisi ibu lelah ataupun kurang istirahat dapat
mengakibatkan dapat menurunkan nafsu makan dan pertumbuhan serta
perkembangan janin kurang optimal. Aktivitas berat dapat memicu
kontraksi dini pada ibu hamil yang akan mengarah kepada persalinan
prematur.
f. Persiapan persalinan
Membuat rencana persalinan, Membuat rencana untuk pengambilan
keputusan jika terjadi kegawatdaruratan pada saat pengambilan
keputusan utama tidak ada, Mempersiapkan sistem transportasi jika
terjadi kegawatdaruratan, Membuat rencana atau pola menabung,
Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan. Senam
hamil dapat membantu proses persalinan, dimana proses persalinan
terdapat latihan pernapasan, peregangan perineum (Murni, 2017).
Tanda tanda persalinan periu dijelaskan kepada ibu, tanda-tanda
persalinan yang dideteksi dengan tepat waktu, dapat membantu ibu dan
bayinya dalam menolong persalinan
g. Persiapan menyusui
Salah satu tujuan persiapan persalinan adalah meningkatkan
kesehatan optimal menjelang persalinan dan segera memberikan laktasi.
Untuk dapat mencapai keadaan optimal menjelang persalinan perlu
dilakukan dua langkah penting yaitu melakukan senam hamil dan
mempersiapkan keadaan payudara untuk laktasi (Manuaba, 2010).
Perawatan payudara selama masa kehamilan bertujuan untuk
melihat higiene payudara, melenturkan/menguatkan puting susu dan
mengeluarkan puting susu yang datar/masuk kedalam (Manuaba, 2010).
h. Dukungan psikologis
Dukungan keluarga, tenaga kesehatan, persiapan menjadi orang tua
ataupun sibling.
3. Jelaskan pada klien tentang tanda bahaya kehamilan dan persalinan !
R/ penanganan awal dan deteksi dini pada bahaya kehamilan dan persalinan
akan meningkatkan prognosis keselamatan ibu dan janin nya.
Tabel 2.5 Tanda Bahaya Kehamilan Trimeter III
Tanda bahaya Gejala Penyebab
Perdarahan pervaginam - Merah, banyak, kadang-kadang Plasenta
disertai nyeri previa
- Perut sakit/tegang, perdarahan, janin
asfiksia, keadaan umum tidak sesuai Solusio
dengan perdarahan plasenta
Sakit kepala hebat Penglihatan kabur preeklamsia
Edema kaki, tangan dan wajah
Janin kurang bergerak DJJ tidak ada IUFD
seperti biasa (minimal 3x
dalam 1 jam)
Pengeluaran cairan Tidak ada tanda tanda persalinan Ketuban pecah
pervaginam dalam satu jam dini
Kejang sakit kepala, mual, nyeri ulu hati eklamsia
sehingga muntah. Bila semakin berat,
penglihatan semakin kabur, kesadaran
menurun
Selaput kelopak Hb <11gr% Anemia dapat
mata/konjungtiva pucat mengakibatkan
perdarahan
persalinan,
nifas dan
BBLR
Demam tinggi >380 C Infeksi
(Pusdiknakes, 2003. Saifudin, 2002. Manuaba, 2010. Jiarti dkk, 2010)
4. Ajarkan ibu untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan!
R/ tidak semua wanita mengalami semua ketidaknyamanan yang umum
muncul saat kehamilan, tetapi banyak wanita mengalaminya dalam tingkat
ringan hingga berat. Cara mengatasi ketidaknyamanan ini didasarkan pada
penyebab dan penatalasanaan didasarkan pada gejala yang muncul.
Tabel 2.6 Ketidaknyamanan saat hamil
No Ketidaknyamanan Cara Mengatasi
• Tingkatkan kebersihan dengan mandi setiap hari
• Memakai pakaian dalam dengan bahan katun dan
mudah menyerap
• Cara cebok yang benar yaitu dari arah vagina ke
1. Keputihan. belakang
• Selalu keringkan vulva setelah BAB dan BAK
• Ganti celana dalam tiap kali basah
• Tingkatkan daya tahan tubuh dengan makan buah dan
sayur
• KIE tentang penyebab sering BAK
• Kosongkan kandung kemih ketika ada dorongan untuk
kencing.
• Perbanyak minum pada siang hari.
Sering Buang Air
2. • Jangan kurangi minum dimalam hari, kecuali
Kencing
mengganggu tidur dan mengalami kelelahan
• Batasi minum kopi, teh soda.
• Berbaring miring ke kiri saat untuk tidur untuk
meningkatkan diuresis
• Hindari konstipasi
• Makan makanan yang berserat dan banyak minum
• Gunakan kompres es atau air hangat
3. Hemoroid • Dengan perlahan masukkan rektum kembali ke dalam
• Jika perlu, dapat digunakan salep obat luar untuk
memperingan/ anestesi sesaat, astringen wirchhazel,
calamine dan oksida seng.
• Tingkatkan intake cairan dan serat, misalnya buah,
sayuran, minum air hangat.
4. Sembelit • Istirahat cukup
• Senam hamil
• BAB secara teratur dan segera setelah ada dorongan
• Hindari minyak, mineral, lubrican, perangsang, saline,
hiperosmosis dan castor oil.
• Hindari makanan yang mengandung gas
5. Perut Kembung • Mengunyah makanan secara sempurna
• Lakukan senam secara teratur
• KIE tentang penyebab fisiologis
• Bantu cara untuk mengatur pernapasan
• Mendorong postur tubuh yang baik untuk pernapasan
6. Sesak Napas interkostal
• Istirahat teratur
• Merentangkan tangan di atas kepala serta menarik
napas panjang
• Gunakan Emolien topikal atau antiprurutik menurut
indikasinya
7. Striae Gravidarum
• Gunakan pakaian longgar yang dapat menopang
payudara dan abdomen
• Pakai pakaian yang tipis dan longgar.
Keringat
8. • Tingkatkan asupan cairan.
Bertambah
• Mandi secara teratur.
• Kurangi konsumsi fosfor tinggi supaya terjadi relaksasi
pada otot-otot kaki.
Kram (terutama • Latihan dorsofleksi pada kaki dan meregangkan otot
9.
pada kaki) yang terkena
• Konsumsi cukup kalsium
• Beri kompres hangat pada kaki
• Bangun secara perlahan dari posisi istirahat
• Hindari berdiri terlalu lama
Pusing sampai
10. • Hindari berbaring dengan posisi supine
pingsan (Syncope)
• Hindari lingkungan yang terlalu ramai dan berdesak-
desakan.
• Gunakan mekanisme tubuh yang baik
• Gunakan kasur yang keras untuk tidur
• Gunakan bantal ketika tidur untuk meluruskan
Sakit Punggung punggung
11.
Atas dan Bawah • Senam hamil
• Hindari epatu hak tinggi, hindari pekerjaan dengan
beban yang terlalu berat
• Masase daerah pinggang dan punggung.
• KIE mengenai peneyebab nyeri
• Tekuk lutut ke arah abdomen
Nyeri ligamentum
12. • Gunakan bantalan untuk menopang uterus dan bantal
rotundum
lainnya letakkan di antara lutut sewaktu dalam posisi
berbaring miring
• Tinggikan kaki sewaktu berbaring
• Hindari berdiri atau duduk terlalu lama
13. Varises pada Kaki
• Senam untuk melancarkan peredaran darah.
• Hindari pakaian yang ketat.
• Yakinlah bahwa ini normal pada awal kehamilan
14. Kelelahan/ Fatigue • Anjurkan ibu untuk sering istirahat
• Namun, hindari istirahat yang berlebih
(Manuaba, 2010. Tyastuti dan Wahyuningsih, 2016.)
5. Anjurkan klien untuk kontrol ulang atau bila ada keluhan !
R/ kunjungan ulang diperlukan untuk memantau kesejahteraan ibu dan
janin
3.1.6 Implementasi
Merupakan pelaksanaan dari rencana asuhan yang telah dibuat
sebelumnya secara menyeluruh dengan efisien dan aman.
3.1.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S : Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O : Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A : Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P : Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah dibuat.
3.2 Asuhan Kebidanan Pada Persalinan
3.2.1 Kala I Persalinan Normal
Tanggal : Tanggal pemeriksaan saat ini dapat menentukan jadwal
pemeriksaan berikutnya. (Sulistyawati, 2009)
Pukul : Waktu dilakukannya pengkajian dapat menyesuaikan bagian
mana waktu indonesia yang digunakan (Sulistyawati, 2009).
Tempat : Tempat pengkajian dicantumkan agar mengetahui tempat
dimana tempat awal pemberian asuhan kepada pasien
(Sulistyawati, 2009)
3.2.1.1 Pengkajian Data Dasar
1) Data Subjektif
a. Alasan kunjungan
Sebagai informasi latar belakang atau alasan ibu bersalin
memeriksakan dirinya ke tenaga kesehatan/fasilitas kesehatan, ibu hamil
yang memasuki waktu persalinan biasanya datang dengan alasan ingin
memastikan apakah kehamilannya sudah memasuki waktu persalinan atau
belum (Sulistyawati, 2009).
b. Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan kondisi/hal yang dirasakan oleh ibu hamil
yang memasuki minggu perkiraan persalinannya atau keadaan yang paling
mengganggu klien selama persalinan ini (misalkan merasa tanda-tanda
persalinan). Atau ibu merasa tanda-tanda bahaya persalinan seperti keluar
cairan berwarna hijau dari jalan lahir, keluar nya darah dari jalan lahir, ibu
kejang (WHO Indonesia, 2013).
c. Riwayat Kesehatan
Dalam hubungannya dengan diagnosis persalinan, perlu menilai
kapan mulai adanya his/kontraksi, berapa lama dan berapa sering
kontraksi timbul, adanya perdarahan pervaginam atau air ketuban jika
sudah pecah. Tanyakan mengenai kesehatannya secara umum dan
kesejahteraannya selama kehamilan. Perlu diketahui gerakan janin,
presentasi janin berdasarkan hasil pemeriksaan kehamilan. Penting untuk
mengetahui apakah ibu memiliki kondisi medis yang memerlukan
pemantauan ketat selama persalinan, seperti diabetes, hipertensi atau
infeksi. Diabetes merupakan faktor terjadinya makrosomia, dapat
mengakibatkan robekan jalan lahir, distosia bahu (Suhartika, 2017).
d. Pola Kebiasaan
 Pola nutrisi dan cairan; Pengkajian kapan terakhir ibu memenuhi asupan
nutrisi dan cairannya perlu dikaji, tenaga sangat diperlukan untuk proses
jalannya persalinan (Varney, 2007).
 Pola istirahat; Bidan perlu menggali informasi mengenai kebiasaan
istirahat pada klien supaya bidan mengetahui hambatan yang mungkin
muncul dan dapat mengganggu proses persalinan saat ini, dan untuk
mengetahui kualitas tidur dengan nyenyak atau terganggu (Varney,
2007).
 Pola aktifitas; Beban kerja tinggi/kegiatan fisik yang memberatkan klien
yang dapat mempengaruhi terjadinya penyulit atau komplikasi pada
kehamilan dan persalinan serta untuk mengetahui aktivitas ibu setelah
masuk di kamar bersalin. Pada ibu dengan persalinan prematur atau
ketuban pecah, aktivitas berat dapat mempengaruhi kondisi ibu (WHO
Indonesia, 2013).
 Pola eliminasi; Kandung kemih yang penuh dapat menggangu proses
penurunan kepala janin serta menghambat kontraksi ibu, perlu dilakukan
kajian terkait pola eliminasi (Suhartika, 2017).
 Pola personal hygiene; Kebersihan ibu yang dijaga akan mempengaruhi
kondisi kenyamanan ibu saat persalinan, dimana terjadi peningkatan
metabolisme tubuh yang menyebabkan ibu berkeringat. Pengkajian
kapan terakhir kali ibu mandi dan berganti pakaian perlu ditanyakan, agar
ibu nyaman menghadapi persalinannya (Varney, 2007).
 Pola hubungan seksual; Mengetahui pola hubungan seksual klien dengan
suami selama kehamilan dan mengetahui waktu terakhir ibu melakukan
hubungan seksual dengan suami (mengetahui pengaruh prostaglandin
terhadap kontraksi uterus) (varney, 2007).
 Pola kebiasaan; Pijat, jamu dan merokok dapat mempengaruhi proses
persalinan, sehingga pengkajian ini perlu di cermati. Persalinan yang
cepat dapat dipengaruhi oleh jamu yang diminum oleh ibu sebelum
masuk ruang persalinan.
2) Data Obyektif
Pada pemeriksaan fisik lakukan pemeriksaan keadaan umum, tanda-
tanda vital dan pemeriksaan head to toe. abdomen diperiksa pola kontraksi,
tinggi fundus uteri, pengukuran lingkar abdomen jika dicurigai kehamilan
kembar, hidramnion. Pemeriksaan pelviks diperlukan untuk mengetahui
penipisan dan pembukaan serviks, posisi serviks, adaya peningkatan bloody
show dan penurunan kepala berdasarkan stasion atau hodge. Pada
ekstremitas diperiksa adanya edema dan reflek patela (Suhartika, 2017).
Pengkajian status janin mencakup pemeriksaan denyut jantung janin,
normalnya 120-160x/menit. Taksiran berat janin dapat dihiung dari fundus
uteri. Letak dan presentasi janin dapat diketahui dari hasil pemeriksan palpasi
abdomen maupun pemeriksaan dalam, sedangkan untuk posisi janin dapat
diketahui dari hasil pemeriksaan dalam (Suhartika, 2017).
a. Pemeriksaan umum
Keadaan : Keadaan umum pasien dapat menentukan pertolongan
umum segera jika terdapat komplikasi pada persalinan, keadaan
umum yang lemah pada ibu bersalin merupakan tanda ibu
tersebut kelelahan.
Kesadaran : Perubahan kesadaran seseorang dapat disebabkan keadaan
patologis seperti penurunan ketersediaan substansi yang
dibutuhkan untuk metabolism normal otak (hipoksia,
hipoglikemia), penyakit metabolic lainnya (misalnya gagal
ginjal, gagal hati, hipotermia, defisiensi vitamin), epilepsi, obat-
obatan dan toksin, inflamasi otak sehingga akan
mempengaruhi tindakan pertolongan yang diberikan
(Ginsberg, 2008). Kesadaran pada ibu bersalin perlu dikaji,
terutama pada komplikasi persalinan.
Tekanan : Pada persalinan terjadi peningkatan tekanan darah, nadi dan
darah pernapasan, hal ini diakibatkan adanya peningkatan curah
jantung hasil dari adanya penekanan vena cava oleh kontraksi
uterus (Suhartika, 2017). Peningkatan atau penurunan
tekanan darah masing-masing merupakan indikasi gangguan
hipertensi atau syok pada saat persalinan, peningkatan
tekanan sistolik dengan tekanan diastolik dalam batas normal,
dapat mengindikasi ansietas atau nyeri pada proses
persalinan (Varney, 2007).
Suhu : Peningkatan suhu menunjukkan adanya infeksi atau dehidrasi
pada proses persalinan (Varney, 2007).
Nadi : Pada persalinan terjadi peningkatan tekanan darah, nadi dan
pernapasan, hal ini diakibatkan adanya peningkatan curah
jantung hasil dari adanya penekanan vena cava oleh kontraksi
uterus (Suhartika, 2017). Peningkatan nadi dapat
menunjukkan adanya infeksi, syok, ansietas atau dehidrasi
pada proses persalinan (Varney, 2007)
Pernafasan : Pada persalinan terjadi peningkatan tekanan darah, nadi dan
pernapasan, hal ini diakibatkan adanya peningkatan curah
jantung hasil dari adanya penekanan vena cava oleh kontraksi
uterus (Suhartika, 2017). Peningkatan pernapasa dapat
menunjukkan syok atau ansietas pada proses persalinan
(varney, 2007)
b. Pemeriksaan fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan klien
serta tingkat kenyamanan fisik klien.Informasi dari hasil pemeriksaan fisik
dan anamnesis diolah untuk membuat keputusan klinik, menegakkan
diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang
paling sesuai dengan kondisi klien.
1. Kepala
Kebersihan tubuh harus terjaga selama persalinan. Perubahan
anatomik pada perut, area genitalia/lipatan paha dan payudara
menyebabkan lipatan-lipatan kulit menjadi lebih lembab dan mudah
terinvestasi oleh mikroorganisme (Prawirohardjo, 2011).
Rambut : Kondisi rambut yang lepek menunjukkan bahwa ibu
berkeringat, ketidanyamanan ini dapat menghambat proses
persalinan (Varney, 2007). Warna rambut, rontok/tidak,
mudah dicabut/tidak, kebersihan rambut dan kulit.
Wajah : Pucat/tidak, oedem palpebra dan pipi, terdapat kloasma
gravidarum atau tidak. Perlu dikaji untuk mengetahui
perubahan pada wajah seperti wajah pucat, edema,
kloasma. Adanya edema pada wajah merupakan salah satu
gejala ibu bersalin mengalami pre eklamsi (Prawirohardjo,
2011).
Mata : Simetris, konjungtiva merah muda / pucat, sklera putih atau
tidak, fungsi penglihatan masih baik/tidak. Anemia adalah
suatu kondisi dimana terdapat kekurangan sel darah merah
atau hemoglobin. Salah satu gejala fisik ibu bersalin
mengalami anemia adalah perubahan warna pada
konjungtiva (pucat) (WHO Indonesia, 2013). Diperlukan
pencegahan perdarahan pada ibu bersalin dengan anemia.
Hidung : Terdapat beberapa penilaian hidung yang perlu dikaji yang
meliputi kebersihan dan gerakan cuping hidung yang dinilai
melalui inspeksi. Adanya gangguan pernapasan pada
persalinan perlu berikan penatalaksanaan yang dapat
membantu ibu untuk melalui porses persalinannya.
Mulut/ : Kebersihan, caries, adakah stomatitis, adakah epulis, bibir
gigi pucat/tidak, tonsil. Bibir pucat menunjukkan keadaan klien
terkait kondisi anemia dan dehidrasi. Sedangkan tonsil
terkait dengan ada/tidaknya infeksi pada masa kehamilan
yang dapat mempengaruhi tindakan pada proses persalinan.
Telinga : Keadaan telinga perlu dilakukan pengkajian terutama
kebersihan. Kebersihan termasuk kebersihan telinga
termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi persalinan
(Prawirohardjo, 2011).
2. Leher
Perlu dilakukan pengkajian leher dalam asuhan persalinan meliputi
pembesaran kelenjar tiroid, adakah bendungan vena jugularis, adakah
pembesaran kelenjar limfe
3. Dada/payudara
Kesimetrisan kedua payudara, kebersihan kedua payudara, puting
susu menonjol atau tidak, adakah hiperpigmentasi pada kedua aerola
mamae.
Palpasi : Adakah kolostrum, adakah massa atau pembesaran
massa atau kelenjar limfe, adakah cairan/rabas yang
keluar dari puting. Pengeluaran kolostrum/ASI dinilai
untuk mengetahui kesiapan pemberian ASI. Sedangkan
massa/benjolan dinilai untuk mengetahui keadaan
abnormal payudara (Sulistyawati, 2009)
Auskultasi : Bunyi nafas normal/tidak, intensitas reguler/tidak, bunyi
jantung normal/tidak, intensitas reguler/tidak. Volume
tidal, volume ventilasi/menit dan pengambilan
oksigen/menit akan bertambah secara signifikan pada
persalinan. Perubahan ini akan mencapai puncaknya
pada minggu ke 37 kehamilan, selama berjalannya
proses persalinan dan akan kembali seperti sedia kala
dalam 24 minggu setelah persalinan (Heffner & Schust,
2013; Prawirohardjo, 2011).
4. Abdomen
Pengkajian abdomen dilakukan melalui inspeksi dan palpasi yang
perlu dilakukan untuk mengumpulkan data objektif pada asuhan
persalinan.
Inspeksi : Pembesaran abdomen melintang/membujur, sesuai
usia kehamilan atau tidak, adakah bekas luka operasi,
adakah linea alba dan striae gravidarum. Jaringan parut
pada abdomen berguna untuk memastikan integritas
uterus (Varney, 2007).
Palpasi : Pada akhir kehamilan, uterus akan membesar dan akan
menyentuh dinding abdomen, mendorong usus
kesamping dan keatas, terus tumbuh hingga menyentuh
ulu hati, maka dari itu pelu pengkajian Engagement, pola
kontraksi, tinggi fundus uteri dapat dikaji melalui palpasi.
Leopold I : Pemerisaan leopod I dapat menentukan fundus uteri,
menentukan TFU, dan konsistensi fundus. Pada letak
bujur sungsang kepala bulat keras dan melenting pada
goyangan;
Leopold II : Pemeriksaan leopold II dapat mengetahui bagian apa
yang terdapat di bagian samping(batas samping kanan
kiri). Pada letak membujur dapat ditetapkan punggung
anak; pada letak lintang dapat ditetapkan dimana kepala
janin.
Leopold III : Pemeriksaan leopold III mengetahui bagian terbawah
janin
Leopold IV : Pemeriksaan leopold IV dapat menentukan apakah
bagian terbawah tersebut sudah masuk atau masih
goyang, menetapkan bagian terendah janin yang masuk
ke pintu atas panggul. Bila bagian terendah masuk PAP
telah melampaui lingkaran terbesarnya disebut
divergen, sedangkan bila lingkaran terbesarnya belum
masuk PAP disebut konvergen.
(Suryaningsih, 2017).
Auskultasi : Kesejahteraan janin dapat terdeteksi dengan
menggunakan auskultasi, penghitungan DJJ dapat
dikatakan normal apabila 120–160x/menit, jika  120
atau  160 merupakan tanda fetal distress (Varney,
2007).
TBJ : Taksiran berat janin untuk mengetahui apakah janin
makrosomia atau tidak.
Rumus Johnson (berdasarkan palpasi atau TFU:
- TBJ jika kepala belum masuk PAP = (TFU-12) x 155 gr
- TBJ jika kepala sudah masuk PAP = (TFU-11) x 155 gr
(Suryaningsih, 2017).
Kontraksi : Pada persalinan, terdapat resiko hipoksia janin akibat
dari adanya hambatan 02 yang ditransport melalui darah
ke janin hal ini dikarenakan kontraksi uteus yang
menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah
(Suryaningsih, 2017). Maka perlu adanya pengkajian
frekuensi, durasi, intensitas kontraksi harus dikaji secara
akurat untuk menentukan status persalinan (Varney,
2007).
5. Ekstremitas
Edema pada kaki dan pergelangan kaki saja biasanya merupakan
edema dependen yang disebabkan penurunan aliran darah vena akibat
penekanan uterus yang membesar. Hal ini dapat dikatakan normal pada
ibu hamil dengan catatan tidak ada tanda-tanda preeklamsi
(Suryaningsih, 2017).
Edema ekstremitas merupakan tanda klasik preeklamsia, bidan
harus mengecek dan mengevaluasi edema pada pergelangan kaki, area
pratibia, jari atau wajah. Hiperefleksia (+3 & +4) merupakan salah satu
tanda preeklamsia berat. Klonus biasanya terlihat menjelang eklamsia
atau pada eklamsia aktual (Varney, 2007).
6. Genitalia
Penipisan : Perubahan serviks yang progesif dan diagnosis persalinan
& dapat ditentukan melalui pemeriksaan serviks, penentuan
pembukaan tahap dan fase persalinan ibu dapat ditentukan juga oleh
serviks pemeriksaan serviks
Posisi : Serviks biasanya berada jauh dibelakang dan menghadap
serviks kearah posterior sebelum persalinan. Gerakan serviks
sehingga menghadap ke depan dalam posisi garis tengah
menunjukkan kesiapan seviks untuk atau sudah memasuki
tahap persalinan
Bloody : Pada awal persalinan, kontraksi uterus menyebabkan Os
Show internal serviks tertarik kedalam segmen bawah uterus
yang membuat serviks mengalami pembukaan dan
penipisan, karena persiapan jalan lahir inilah terjadi
inflamasi/perlukaan pada serviks yang mengakibatkan
keluarnya bloody show pada ibu bersalin.
Peningkatan bloody show merupakan tanda menjelang
kala II
Stasiun : Penurunan kepala janin dapat ditentukan dengan
pemeriksaan stasiun. Penurunan kepala janin merupakan
salah satu mekanisme persalinan dan menunjukkan
kemajuan dan keadekuatan pelvis.
Molage : Penurunan kepala janin untuk menyesuaikan diri terhadap
jalan lahir mengakibatkan adanya penyesuaian dari kepala
janin sebagai organ terbesar dari janin, hal ini membuat
tengkorak kepala janin menumpuk dan menjadikannya
molage ketika dilakukan pemeriksaan. Beberapa tingkatan
molage dapat diketahui melalui seberapa banyak
tumpukan antar tulang dapat diregangkan.
Letak, : Data-data ini lebiih mudah diperoleh melalui pemeriksaan
posisi & dalam karena bagian presentasi-garis sutura, fontanella,
variasi tulang tengkorak (jika peresentasi kepala), tangan atau kaki
dapat diraba secara langsung dan juga memastikan
temuan pada palpasi abdomen
Status : Memastikan atau menyingkirkan riwayat pecah ketuban
ketuban atau mendeteksi pecah ketuban yang tidak dilaporkan
untuk alasan-alasan yang dijelaskan pada riwayat
Orifisium : Pemeriksaan ini dapat menentukan ketebalan, panjang dan
vagina dan kemampuan meregang untuk dievaluasi kemungkinan
badan kebutuhan episiotomi
perineum (Varney, 2007).
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan adalah :
 Pemeriksaan glukosa darah
Pada ibu bersalin terjadi penurunan glukosa darah akibat dari proses
glikolisis karena ibu membutuhkan energi yang banyak baik ketika
menahan sakit menahan kontraksi maupun mengedan, akan tetapi
dalam beberapa teori tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan glukosa
darah terutama pada ibu bersalin dengan kebutuhan nutrisi selama
persalinan terpenuhi.
3.2.1.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretasi Data Dasar)
a. Diagnosa
Diagnosis ditentukan berdasarkan data-data yang diperoleh, yaitu
apakh ibu sedang dalam inpartu kala satu fase laten/aktif (Suhartika, 2017).

Dx ibu: G.... P..... Ab..... UK..... inpartu kala I fase laten atau fase aktif

Dx janin: Janin tunggal, hidup, intrauteri, presentasi kepala

Keterangan :  (Gravida): jumlah kehamilan yang pernah dialami


dx Ibu wanita tersebut
 P (Para): jumlah kehamilan yang berakhir dengan
kelahiran bayi atau bayi telah mampu mencapai titik
mampu bertahan hidup. Data yang perlu dikaji:
- Angka pertama: jumlah bayi cukup bulan yang
dilahirkan wanita. Cukup bulan pada system ini
mengacu pada bayi berusia 37 minggu atau 2500
gram atau lebih
- Angka kedua : jumlah bayi prematur yang
dilahirkan wanita. Prematur pada sistem ini
mengacu pada setiap bayi yang dilahirkan antara
usia 28 dan 37 minggu dan dengan berat kurang
dari 2500 gram.
- Angka ketiga : jumlah kelahiran yang dilahirkan
sebelum usia kehamilan 28.
- Angka keempat : jumlah anak yang dilahirkan dan
dalam keadaan hidup sampai sekarang
 Ab (Abortus): istilah pada bayi yang lahir sebelum usia
kehamilan 20 minggu. Pada system ini juga dikaji
adanya riwayat mola hidatidosa dan riwayat
kehamilan ektopik.
 UK (berdasarkan HPHT, gerakan janin, TFU, USG)
minggu. UK (berdasarkan HPHT, gerakan janin, TFU,
USG) minggu. Menghitung berdasarkan HPHT yaitu
dengan rumus 4/3. Sedangkan jika menggunakan
mcDonald, dihitung berdasarkan TFU dalam cm
kemudian dikalikan 2 dan dibagi 7 untuk UK dalam
bulan, jika dalam minggu maka dikalikan 8 dibagi 7.
 Inpartu kala 1 fase laten diambil dari data subjektif
berupa: kapan ibu merasakan kontraksi yang
intermitten, merasakan pengeluaran lendir darah,
cairan ketuban merembes. Dan data objektif berupa:
pembukaan serviks 1-3cm, bagian presentasi
mengalami penurunan sedikit atau tidak sama sekali.
Kontraksi selama 15-20 detik dan terjadi setiap lima-
tujuh menit, ibu masih bisa tertawa
 Inpartu kala 1 fase aktif diambil dari data objektif
berupa: pembukaan serviks 4-10 cm, terjadi
penurunan progresif presentasi kepala janin,
kontraksi muncul 2-3 menit sekali berlangsung 60
detik
(Varney, 2007).
Dx janin : Janin tunggal, hidup, intrauteri, presentasi kepala
Diagnosa diambil berdasarkan detak jantung janin
yang terdeteksi, palpasi abdomen menggunakan leopold,
pemeriksaan dalam yang menunjukkan bagian terendah
janin
Masalah : 1. Resiko nyeri
2. Resiko hipoksia janin
3. Resiko mual muntah
4. Resiko hipoglikemia
5. Resiko dehidrasi
Kebutuhan : Merupakan kebutuhan yang harus diberikan untuk
mengatasi masalah (Varney, 2007). Ibu bersalin yang
cemas dan tidak nyaman dengan rasa nyerinya dapat
diberikan dukungan psikologis dengan mempersilahkan
ibu ditemani pendamping, memberikan pijatan-pijatan
lembut diarea sakit. Memberikan kebutuhan dasar ibu
bersalin seperti makan dan minum
3.2.1.3 Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
Langkah ini diambil berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah
ditemukan berdasarkan data yang ada kemungkinan menimbulkan
keadaan yang gawat pada kala I, meliputi.
- Tekanan darah ibu tinggi lebih dari 140/90 mmHg kemungkinan ibu
mengalami preeklamsia
- Suhu tubuh ibu lebih dari 380 C kemungkinan ibu terkena infeksi
- Nadi ibu lebih dari 100x/menit kemungkinan ibu presyok
- Denyut jantung janin <100 atau >180x/menit (normalnya 120-180x/menit)
kemungkinan janin terkena fetal distress. Pemantauan DJJ diluar kontraksi.
- Kontraksi kurang dari 3 dalam 10 menit dan berlangsung kurang dari 40
detik kemungkinan inersia uteri
- Pembukaan servix pada partograf melewati garis waspada, kemungkinan
partus prolonge pada fase aktif
- Cairan amnion bercampur mekonium/darah/berbau kemungkinan terjadi
infeksi, posdate atau fetal distress.
- Volume urin sedikt dan pekat kemungkinan ibu mengalam preeklamsi atau
gangguan ginjal (Suhartika, 2017).
3.2.1.4 Identifikasi kebutuhan segera
Mencakup tentang tindakan segera untuk menangani
diagnosa/masalah potensial yang dapat berupa konsultasi, kolaborasi dan
rujukan (Varney, 2007).
- Bila pasien mengalami demam tinggi, rujuk pasien untuk dilakukan tes urin,
darah, dan pus/ nanah untuk kultur mikroba lalu memulai kombinasi
antibiotika sambil menunggu hasil kultur. Kombinasi antibiotika dilanjutkan
sampai ibu tidak demam 2 x 24 jam (ampisilin 2 gr IV setiap 6 jam +
gentamisin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam + metronidazole 500 mg IV setiap
8 jam
- Preeklamsia. Untuk pencegahan terhadap kejang, lakukan berikan dosis
awal 4 g larutan Mg SO4 (10 ml larutan MgSO4 40%) dan larutkan dengan
10 ml akuades. Berikan larutan tersebut secara perlahan IV selama 20
menit.
- Bila terjadi prolonge atau inersia uteri segera rujuk dengan dilakukan
stabilisasi terlebih dahulu (pasang infus).
- Bila janin dalam kondisi fetal distress, posisikan ibu berbaring miring kiri,
berikan oksigen, rujuk ibu keruma sakit, mencari penyebab dari ibu
(demam, obat-obatan) dapat dimulai dengan penanganan yang sesuai
(WHO Indonesia, 2013).
3.2.1.5 Menyusun rencana asuhan/ intervensi
Pada intervensi bidan harus memiliki tujuan dan kriteria hasil yaitu sebagai
berikut:
Dx : G....P....Ab.... UK... inpartu kala I fase laten atau fase aktif janin
tunggal/kembar, hidup/mati, intrauteri, presentasi kepala
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ...... diharapkan
ibu dapat melahirkan dengan aman dan selamat serta bayi
dalam kondisi normal dan sehat
Kriteria :  Memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam
mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman
untuk ibu dan bayi.
 Ibu bersalin mendapatkan pertolongan darurat yang
memadai dan tepat waktu bila diperlukan.
 Meningkatkan cakupan persalinan dan komplikasi lainnya
yang ditolong tenaga kesehatan terlatih.
 Berkurangnya kematian/ kesakitan ibu atau bayi akibat
partus lama.
Intervensi Asuhan Kebidanan pada Kala I:
1) Berikan kenyamanan dan dukungan pada ibu!
R/ wanita bersalin memiliki kebutuhan diantaranya perawatan tubuh/fisik,
ada individu yang senantiasa mendampingi, bebas dari nyeri, menerima
sikap dan perilaku serta informasi dan pemastian hasl akhir yang aman
bagi dirinya, dasar yang digunakan untuk menetapkan jenis dukungan
(varney, 2007).
Mengupayakan dukungan dan kenyamanan pada ibu bersalin dapat
berupa:
- mengatur posisi, ibu bersalin harus mengambil posisi apapun yang
membuatnya merasa nyaman. Dapat ditempat tidur atau diluar tempat
tidur seperti berdiri, berjongkok, berlutu, posisi tangan dan lutut, lutut-
dada atau pada posisi telentang. Posisi ditempat tidur dapat dilakukan
dengan mengatur posisi bantal, guling dan selimut dan mengatur benda-
benda ini untuk mengurangi nyeri. Untuk meningkatkan relaksasi secara
umum, anjuran ibu bersalin mengambil posisi miring atau telentang
dengan kepala ditinggikan jika ia berada di tempat tidur.
- Latihan relaksasi: mengambil dan mengeluarkan napas dalam setelah
kontraksi. Relaksasi ini diajarkan pada kala I fase aktif, fungsinya selain
relaksasi juga membersihkan napas dari kemungkinan hiperventilasi
akibat kontraksi.
- Latihan pernapasan guna mengalihkan rasa nyeri dari kontraksi dan
rasa ingin mengejan, menggunakan teknik pernapasan perut (hirup-
hirup-keluarkan)
- Mencegah keletihan dan mengupayakan istirahat, menyarankan ibu
untuk melakukan pernapasan normal, melakukan pengaturan orang
yang menunggu (menghindari banyak orang yang tidak memperhatikan
ibu).
- Menjamin privasi dan mencegah pajanan, menyelimuti ibu, menutupi
daerah kemaluan.
- Penjelasan proses dan kemajuan persalinan, ketidaktahuan ibu akan
kondisinya dapat menyebabkan kecemasan dan meningkatkan nyeri
kepada level akut.
- Penjelasan prosedur dan batasan yang diberlakukan, setiap prosedur
harus dimintakan persetujuan nya kepada ibu bersalin, hal ini dapat
membantu wanita berkoping efetif terhadap prosedur yang diberikan.
Wanita juga perlu memahami bahwa batasan tertentu yang diberlakukan
penting dan bermanfaat baginya.
- Menjaga kebersihan dan kondisi kering, ibu dapat disarankan untuk
mandi baik sponge maupun mandi menggunaka shower,
mempertahankan perineum tetap kering akan menambah
kesejahteraan ibu bersalin dapat mengganti baju yang dikenakan ibu
bersalin jika sudah basah karena keringat, mengganti perlak, pembalut
dengan sering, membersihkan perinuem dari arah depan ke belakang.
- Perawatan mulut, ibu bersalin biasanya mengeluarkan napas tidak
sedap, mulut kering, bibir kering dan pecah-pecah, masalah ini
membuat ibu tidak nyaman dan dapat dihindari dengan konsumsi cairan
selama persalinan, beberapa masalah tersebut diakibatkan pernapasan
mulut, dehidrasi ringan dan kelembapan yang kurang pada mulut.
Anjurkan ibu untuk menyikat gigi, menggunakan obat kumur
- Pengipasan, peningkatan metabolisme akibat kontrasi dapat
menyebabkan peeningkatan sekresi keringat. Gunakan handuk sebagai
kipas dan lap keringat serta anjurkan ibu untuk menggunakan baju yang
menyerap keringat.
- Usapan pada punggung, ada dua jenis usapan pada punggung yang
dapat meningkatkan dukungan dan kenyamanan bagi wanita bersalin..
salah satunya adalah usapan menyuluruh pada punggung yang
digunkanan untuk meningkatkan relaksasi. Usapan kedua disebut
usapan punggung OB, keduanya menunjukkan perhatian pada ibu
bersalin sekaligus menjamin adanya kehadiran orang lain selama
usapan pada punggung diberikan.
- Kompres panas/dingin pada punggung bawah, panas yang diberikan
pada bagian punggung bawah ibu bersalin, tempat kepala janin
menekan tulang belakang akan mengurangi nyeri. Panas akan
meningkatkan sirkulasi ke area tersebut sehingga memperbaiki anoksia
jaringan yang disebabkan oleh tekanan. Beberapa bidan menemuan
bahwa kompres dingin dapat mengurangi nyeri, sedangkan kompres
panas sebaliknya. Diduga nyeri mereda karena dingin menimbulkan
bbal kemungkinan arena vasokonstriksi superfisial. Beberapa wanita
dapat mereda jika dikompres secara bergantian.
- Birthing ball, sebuah bola fisioterapi merupakan media dengan ukuran
dengan kekokohan yang tepat digunakan dan menahan berat badan,
umumnya berukuran 65 cm untuk wanita dengan tinggi badan 165 cm
dan 55 cm untuk wanita dengan tinggi bidan dibawah 165 cm. Bola ini
berfungsi untuk meredakan nyeri punggung dan mendorong penurunan
kepala janin.
- Usapan pada abdomen, usapan/pijitan ringan biasanya dilakukan
dengan arah melingkar dan sering kali difokuskan pada area abdomen
bawah dengan melakukan usapan sebanyak dua kali jika wanita merasa
nyeri dibagan tersebut. Tindakan ini juga meningkatan sirkulasi kearea
perut sehingga mendilatasi pembuluh darah yang mengalami konstriksi
akibat kontraksi , mengakibatkan anoksia jaringan. Peningkatan aliran
darah ini memerangi hipoksia jaringan dan menjadi dasar fisiologis
untuk meredakan nyeri.
- Kandung kemiih kosong, efek kandung kemih yang panuh berpengaruh
pada kemajuan persalinan dan kemungkianan efek lanjut kepada
hipotonisitas, statis urin, dan infeksi kandung kemih, kandung kemih
yang penuh menekan dan sebagian menimbulkan nyeri abdomen
bawah. Nyeri ini akan jauh lebih mereda jika kandung kemih kosong
- Mengurangi kram pada tungkai, kram kemunginan disebebkan oleh
tekanan bagian presentasi pada saraf yang melintasi foramen sialitika
mayor didalam panggul. Tungkai yang terkena kram tidak boleh dipijat
karena ada resiko trombi tanpa sengaja terlepas. Trombi ini terbentuk
akibat aliran balik vena tidak lancar selama berbulan-bulan serta
kemungkinan varisas. Cara meredakan kram yang timbul adalah
dengan meluruskan tungkai dan mendorsofleksikan kaki. Relaksasi
yang dilakukan secara bergantian dengan dorsiflesi akan mempercepat
peredaan nyeri, dorsifleksi harus dipakasakan untuk memicu efek
peredaan.
- Orang terdekat untuk menemani, kehadiran orang terdekat merupakan
hal terpenting dalam mendukung dan menyamankan ibu bersalin
(Varney, 2007)
2) Observasi kemajuan persalinan!
Rasionalisasi:
- kondisi ibu: tekanan darah, suhu, nadi, pernapasan, distensi kandung
kemih, kondisi umum
- kondisi janin: denyut jantung janin, letak, persentasi, sikap, posisi,
variasi janin dan adaptasi janin terhadap perlvis, kondisi ketuban
- kontraksi, dan pemeriksaan dalam berupa penipisan, pembukaan
stasiun, perubahan perliaku ibu, tanda gejala transisi dan menjelang
kala dua persalinan
- R/ Dengan melakukan pemeriksaan kondisi ibu dan janin diharapkan
dapat dipantau secara berkelanjutan dan dapat dideteksi sejak dini jika
ada komplikasi selama persalinan.
3) Lakukan persiapan persalinan!
- R/ Dengan mempersiapkan alat dan obat untuk menolong persalinan
sejak kala I diharapkan saat pembukaan sudah lengkap ibu dapat
langsung dipimpin bersalin dan proses persalinan dapat berjalan lancar.
- Persiapan persalinan dapat berupa: amniotomi jika syarat terpenuhi
berupa ibu berada pada fase aktif persalinan dengan pembukaan 3-5
cm serta presentasi janin pada puncak kepala dengan kepala sudah
menancap
3.2.1.6 Implementasi
Implementasi kala 1 berupa:
1. Memberikan dukungan dan kenyamanan pada ibu
a) Menjelaskan kondisi ibu dan janin saat ini berdasarkan hasil pemeriksaan
b) Memberikan dukungan psikologis pada klien
c) Menganjurkan ibu agar miring ke kiri agar proses penurunan kepala bayi
dapat terjadi lebih cepat
d) Menganjurkan ibu agar makan dan minum secukupnya untuk persiapan
tenaga mengejan saat persalinan
e) Mengajjarkan ibu tentang teknis bernafas selama persalinan
f) Mengajarkan ibu tentang cara mengejan yang benar setelah pembukaan
lengkap selama proses persalinan
g) Memberikan saran kepada ibu agar sering berkemih dan tidak menahan
buang air kecil
h) Memberikan saran kepada suami dan keluarga agar menemani ibu dan
memijat punggung ibu atau membasuh muka ibu
E/ ibu kooperatif setelah diberikan dukungan dan kenyamanan
2. Melakukan observasi kondisi ibu (tekanan darah, suhu, nadi) dan kondisi
janin(denyut jantung janin), kontraksi, dan pemeriksaan dalam selama
persalinan secara teratur
E/ observasi terlampir pada lembar partograf
3. Mempersiapkan persalinan
E/ alat dan obat-obatan esensial sudah tersedia didalam partus set
3.2.1.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif
dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan segera
dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan perkembangan.
Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk SOAP.
S :Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A :Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P :Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.

3.2.2 Asuhan Kebidanan Pada Kala II Persalinan Normal


Tanggal pengkajian
Mengidentifikasi waktu dan tempat dimulainya
Jam pengkajian :
pelayanan
Tempat pengkajian
3.2.2.1 Identifikasi Data Dasar
- Subjektif
Didapat dari hasil anamnesa ketika ibu mengeluh mulesnya semakin
sering dan sakit, pengeluaran lendir darah semakin banyak dan atau
disertai cairan ketuban serta ada dorongan untuk meneran (Suhartika,
2017).
- Objektif
Keadaan umum ibu, tanda tanda vital, denyut jantung janin, penurunan
bagian terendah janin, hasil pemeriksaan dalam didapat porsio sudah tidak
teraba, pembukaan lengkap, ketuban utuh atau sudah pecah, bagian
terendah janin sudah di hodge 4 atau didasar panggul. Selain itu terdapat
tanda-tanda kala II yaitu tekanan pada anus, perineum menonjol anus dan
vulva membuka (Suhartika, 2017).
3.2.2.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretasi Data Dasar)

Dx ibu: G.... P..... Ab..... UK..... inpartu kala II

Dx janin: Janin tunggal, hidup, intrauteri, presentasi kepala


Diagnosa Inpartu kala 2 diambil dari data objektif berupa: porsio sudah
tidak teraba, pembukaan lengkap, ketuban utuh atau sudah pecah, bagian
terendah janin sudah di hodge 4 atau didasar panggul. Selain itu terdapat
tanda-tanda kala II yaitu tekanan pada anus, perineum menonjol anus dan
vulva membuka (Varney, 2007).
Masalah : 1. Resiko nyeri
2. Resiko hipoksia janin
3. Resiko mual muntah
4. Resiko hipoglikemia
5. Resiko dehidrasi
Kebutuhan : Merupakan kebutuhan yang harus diberikan untuk
mengatasi masalah (Varney, 2007). Ibu bersalin yang
cemas dan tidak nyaman dengan rasa nyerinya dapat
diberikan dukungan psikologis dengan mempersilahkan
ibu ditemani pendamping, memberikan pijatan-pijatan
lembut diarea sakit. Memberikan kebutuhan dasar ibu
bersalin seperti makan dan minum
3.2.2.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Langkah ini diambil berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah
ditemukan berdasarkan data yang ada kemungkinan menimbulkan
keadaan yang gawat pada kala II, meliputi.
a) Distosia Bahu, dimana keadaan setelah kepala lahir, bahu anterior macet
dibawah simfisis pubis sehinga tidak dapat melewati pintu bawah panggul.
Bahu posterior tertahan di atas promontorium. Distosia bahu terjadi jika
bahu masuk kedalam panggul dengan diameter biakromial pada posisi
anterposterior dari panggul. Tanda distosia bahu yang harus diamati
adalah: kesulitan melahirkan wajah dandagu, kepala bayi tetap melekat
erat di vulva atau bahkan tertarik kembali (Turtle Sign), kegagalan putar
paksi luar kepala bayi dan kegaga;an turunnya bahu.
b) Letak muka adalah keadaan ketika kepala janin mengalami hiperekstensi
sehingga ubun-ubun kecil menempel pada punggung dan yang menjadi
penunjuknya adalah dagu. Diagnosa dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan abdomen teraba os. Occipital menonjol jelas dan kepala
terasa lebih besar serta pemeriksaan dalam tidak teraba ubun-ubun besar
atau kecil namun teraba lunak (mata, hidung dan mulut).
c) Letak Sungsang yaitu keadaan janin dengan letak memanjang terhadap
sumbu tubuh ibu dengan bagian rendah adalah bokong dan atau kaki.
Macam-macam letak sungsang adalah bokong murni (bagian terendah
bokong saja dengan tungkai terangkat keatas), bokong sempurna (bagian
terendah bokong dan kedua tungkai/kaki), dan bokong tidak sempurna
(bagian terendah bokong dan kaki atau bokong dan lutut). Pada
pemeriksaan dalam akan teraba tulang sakrum, anus, tuber iskhiadikum,
kadang-kadang kaki/lutut dan pada pemeeriksaan Leopold teraba bagian
keras, bulat dan melenting
di fundus sedangkan
bagian bawah abdomen
teraba bulat, liunak dan
tidak melenting, serta
punctum maksimum DJJ terdengan jelas diatas pusat.
d) Gemeli dimana terdapat dua janin atau lebih. Diagnosa dapat diteggakn
berdasarkan ukuran perut ibu yang tidak sesuai dengan usia kehamilan,
ibu merasakan gerakan janin yang lebih sering dan lebih banyak, hasil
palpasi didapatkan dua bagian besar dan bagian-bagian kecil teraba lebih
banyak, auskultasi terdengar DJJ di dua tempat berbeda dengan
perbedaan frekuensi 10x/menit, pemeriksaan penunjang dengan USG
ditemukan dua janin atau lebih (Suhartika, 2017).
3.2.3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
a. Stabilisasi kondisi ibu dan janin
b. Distosia bahu: mengeluarkan bayi sesegara mungkin (Waktu untuk
menolong distosia bahu 10-15 menit), dengan cara meminta pertolongan
dan posisikan ibu, melakukan episiotomi, melakukan manuver McRoberts
(Dalam posisi ibu berbaring telentang, mintalah ia untuk menekuk kedua
tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya.
Mintalah bantuan 2 orang asisten untuk menekan fleksi kedua lutut ibu ke
arah dada) dan penekanan suprasimfisis yang dapat dilakukanoleh asisten
dengan cara melakukan tekanan secara simultan kearah lateral bawah
pada daerah suprasimfisis untuk membantu persalinan bahu. Kemudian
lakukan terikan mantap dan terus menerus kearah aksial (searah tulang
punggung janin) pada kepala janin untuk menggerakkan bahu depan
dibawah simfisis pubis. Jika bahu masih belum lahir lakukan manuver
untuk rotasi internal
atau manuver
2. 1.
melahirkan lengan
posterior (hanya dapat
dilakukan bila penolong
terlatih), jika masih
belum lahir lakukan
1. Manuver Mc. Roobert
rujukan. 2. Penekanan suprasimfisi (WHO Indonesia
2013)
c. Letak muka: dengan posisi dagu anterior: lahirkan bayi dengan persalinan
spontan jika pembukaan lengkap, akan tetapi jika penurunan kurang
lancar, lakukan ekstrasi forsep. Jika pembukaan belum lengkap dan tidak
ada kemajuan pembukaan dan penuruan, lakukan seksio sesarea. Letak
muka denga dagu posterior: baik pembukaan lengkap maupun belum
lengkap persalinan harus dilakukan denga seksio sesarea.
d. Letak sungsang: lakukan rujukan jika ditemukan pada fasilitas kesehatan
yang tidak memadai untuk operasi. Bayi dapat dilahirkan normal apabila
persalinan sudah sedemikian maju dan pembukaan sudah lengkap, Bayi
preterm yang kemungkinan hidupnya kecil, Bayi kedua pada kehamilan
kembar.
e. Gemeli: lakukan pemantauan kesejahteraan ibu dan janin serta rujuk ke
rumah sakit.
3.2.2.5 Intervensi Asuhan Kebidanan
Dx : G....P....Ab.... UK... inpartu kala II janin tunggal/kembar,
hidup/mati, intrauteri, presentasi kepala
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ...... diharapkan
ibu dapat melahirkan dengan aman dan selamat serta bayi
dalam kondisi normal dan sehat
Kriteria :  Tercapainya kepastian persalinan yang bersih dan aman
untuk ibu dan bayi dengan melakukan pertolongan
persalinan bayi
 Setelah dilakukan pertolongan persalinan kala II, Dalam
waktu < 2jam pada nulipara dan <1jam pada multipara bayi
telah lahir dengan normal dan lancar
Intervensi asuhan kebidanan kala II
1. Observasi kemajuan persalinan
Rasionalisasi:
- Kesejahteraan wanita Ttv, kandung kemih, urine, hidrasi, kondisi
umum, usaha mengejan, integritas perineum, kebutuhan dan jenis
episiotomi
- Kesejahteraan janin Kenormalan letak, presentasi, perlikau, dan
variasi janin, adaptasi janin terhadap pelvis, frekuensi dan pola djj,
evaluasi enormalan kemajuan yangterjadi dalam mekanime
peralinan
- Kemajuan persalinan Pola kontraksi, lama kala II, penurunan/stasion,
kemajuan melalui mekanisme persalinan selain penurunan dan
enggagemen (Varney, 2007).
2. Lakukan perawatan tubuh dan penunjang untuk wanita seperti:
Rasionalisasi:
- Pernapasan, wanita perlu dipimpim untuk bernapas pendek dan
cepat jika ia merasa ingin mengejan. Bernapas pendek dan cepat
dapat diartikan melakukan inhalasi dengan cepat diikuti dengan
ekshalasi yang kuat dan berulang, dapat dilakuan jika tidak terjadi
kontraksi
- Mengejan dengan upaya dukungan dari orang terdekat hal ini dapat
membantu ibu mengurangi ketidaknyamanan saat persalinan, orang
terdekat dapat melakukan usap-usap punggung, memimpin
pernapasan dan mengipasi (Varney, 2007).
3. Lakukan pertolongan persalinan kala II!
Rasionalisasi:
pertolongan persalinan kala II dimulai jika sudah terdapat tanda
gejala kala II, yaitu dorongan untuk meneran, tekanan pada anus,
perineum menonjol, vulva dan anus membuka. Melakukan prinsip
pencegahan infeksi yang benar dan sesuai standar. Posisi nyaman
sesuai yang diinginkan ibu dapat membantu proses persalinan. Saat
kepala bayi 5-6 cm lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi
dengan kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi
untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan
ibu untuk meneran perlahan atau bernafas cepat dan dangkal. Periksa
kemungkinan adanya lilitan tali pusat, jika longgar lepaskan, jika erat
maka jepit dan potong tali pusat segera.
Tunggu kepala bayi melakukan paksi luar secara spontan. Lahirkan
bahu denga meletakkan tangan secara biarietal. Anjurkan ibu untuk
meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakkan kepala ke arah bawah
dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan
kemudian gerakkan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu
belakang. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah ke arah
perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah
bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri & memegang lengan
dan siku sebelah atas. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran
tangan atas berlanjut ke punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang
kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-
masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya) (Suhartika, 2017).
3.2.2.6 Implementasi Asuhan Kebidanan
1. Mengobservasi kemajuan persalinan
E/ terdapat his yang frekuensi semakin sering, durasinya lama dan
intensitasnya bertambah kuat, terdapat penurunan bagian terendah
janin, terdapat dilatasi penuh pada serviks dan tidak teraba porsio
2. Melakukan perawatan tubuh dan penunjang untuk ibu
E/ ibu kooperatif setelah diberikan dukungan dan kenyamanan
3. Melakukan pertolongan persalinan kala II
E/ bayi lahir dengan aman dalam waktu <2jam pada nulipara dan <1jam
pada multipara
3.2.2.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S :Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A :Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P :Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.

3.2.3 Asuhan Kebidanan Pada Kala III Persalinan Normal


Tanggal pengkajian
Mengidentifikasi waktu dan tempat dimulainya
Jam pengkajian :
pelayanan
Tempat pengkajian
3.2.3.1 Identifikasi Data Dasar
- Subjektif
Hal yang perlu dikaji pada data subjektif berupa kebutuhan biologis
(mis. Apakah ibu merasa haus) dan kondisi psikologis (mis. Perasaan dan
penerimaan ibu terhadap bayinya), serta ibu merasa mules atau tidak
(adanya kontraksi uterus yang dirasakan ibu terkait pelepasan plasenta
(Ekayanthi, 2017).
- Objektif
Hal yang perlu dikaji adalah tinggi fundus uteri, tidak adanya janin
kedua, konsistensi uterus (kontraksi), kondisi kandung kemih, pengeluaran
darah dari genetalia dan tali pusat (Ekayanthi, 2017).
3.2.3.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretasi Data Dasar)
Dx ibu: G.... P..... Ab..... UK..... inpartu kala III
Pengangkatan diagnoa inpartu kala III diambil dari Data subjektif
berupa: ibu mengatakan masih mulas-mulas, dan data objektif: uterus
teraba sejajar pusat, teraba globuler dan teraba keras, tali pusat
memanjang didepan vulva dan terdapat semburan darah dari jalan lahir
(Ekayanthi, 2017).
- Masalah
Masalah merupakan ketidaknyamanan yang mengganggu ibu, pada
ibu bersalin adalah kelelahan setelah mengeluarkan bayinya (Ekayanthi,
2017).
- Kebutuhan
Merupakan kebutuhan yang harus diberikan untuk mengatasi masalah
(Varney, 2007). Ibu bersalin yang kelelahan dapat diberikan asupan nutrisi
baik berupa minum atau makan.
3.2.3.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Langkah ini diambil berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah
ditemukan berdasarkan data yang ada kemungkinan menimbulkan
keadaan yang gawat pada kala III, meliputi.
a. Plasenta belum lahir 30 menit setelah bayi lahir kemungkinan ibu
mengalami retensio plasenta
b. Kontraksi uterus kurang baik, kemungkinan adanya atonia uteri
c. Tali pusat terjulur keluar, kadang putus akibat traksi yang berlebihan
d. Kadang ada inversio uteri akibat tarikan terlalu kuat
e. Kadang terjadi perdarahan lanjut, kemungkinan adanya sisa plasenta,
robekan jalan lahir, ruptur uteri atau gangguan pembekuan darah
(Ekayanthi, 2017).
3.2.3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Mencakup tentang tindakan segera untuk menangani
diagnosa/masalah potensial yang dapat berupa konsultasi, kolaborasi dan
rujukan (Varney, 2007).
a. Perdarahan
 Panggil bantuan tim untuk tatalaksanan secara simultan
 Nilai sirkulasi, jalan napas dan pernapasan pasien
 Bila menemukan tanda-tanda syok, lakukan penatalaksanaan syok
 Berikan oksigen
 Pasang infus intravena dengan kanul berukuran 16-18, cairan
kristaloid berupa NaCl 0,9% atau Ringer Lactat/acetat, lakukan
pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan
 Jika fasilitas tersedia, lakukan pemeriksaan sampel darah berupa
kadar HB, golongan darah dan tipe Rh, profil hemostastis (waktu
perdarahan/bleeding time-BT, waktu pembekuan/Clotting time-CT,
Ptothombin time-PT, Activated partial thromboplastin time (APTT),
Hitung trombosit dan Fibrinogen.
 Lakukan pengawasan tekanan darah, nadi, dan pernapasan ibu.
 Periksa kondisi abdomen: kontraksi uterus, nyeri tekan, parut luka,
dan tinggi fundus uteri
 Periksa jalan lahir dan area perineum untuk melihat perdarahan dan
laserasi (jika ada, misal: robekan serviks atau robekan vagina).
 Periksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban.
 Pasang kateter Folley untuk memantau volume urin dibandingkan
dengan jumlah cairan yang masuk. (produksi urin normal 0.5-1 ml/
kgBB/jam atau sekitar 30 ml/jam)
 Siapkan transfusi darah jika kadar Hb < 8 g/dL atau secara klinis
ditemukan keadaan anemia berat
 1 unit whole blood (WB) atau packed red cells (PRC) dapat
menaikkan hemoglobin 1 g/dl atau hematokrit sebesar 3% pada
dewasa normal.
 Mulai lakukan transfusi darah, setelah informed consent
ditandatangani untuk persetujuan transfusi
 Tentukan penyebab dari perdarahannya dan lakukan tatalaksana
spesifik sesuai penyebab
b. Retensio Plasenta: Berikan 20-40 unitoksitosin dalam 1000 ml larutan
NaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10
UI IM. Lanjutkan infus oksitosin 20 UI dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9%
atau Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan
berhenti, lakukan tarikan tali pusat terkendali, bila tarikan tali pusat
terkendali tidak berhasil, lakukan plasenta manual secara hati-hati,
berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal (ampisilin 2 g IV dan
metronidazol 500 mg IV). Segera atasi atau rujuk ke fasilitas yang lebih
lengkap bila terjadi komplikasi perdarahan hebat atau infeksi
(Kemenkes RI, 2013).
c. Bila pasien Atonia Uteri: lakukan pemijatan uterus, pastikan plasenta
lahir lengkap, Berikan 20-40 UI oksitosin dalam 1000 ml larutan NaCl
0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 UI IM.
Lanjutkan infus oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9% atau
Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan
berhenti, Bila tidak tersedia oksitosin atau bila perdarahan tidak
berhenti, berikan ergometrin 0,2 mg IM atau IV (lambat), dapat diikuti
pemberian 0,2 mg IM setelah 15 menit, dan pemberian 0,2 mg IM/IV
(lambat) setiap 4 jam bila diperlukan (jangan berikan lebih dari 5 dosis
/1 mg). Jika perdarahan berlanjut, berikan 1 g asam raneksamat IV
(bolus selama 1 menit, dapat diulang setelah 30 menit). Pasang kondom
kateter atau kompresi bimanual internal selama 5 menit atau rujuk ke
fasilitas yang lebih memadai sebagai antisipasi bila perdarahan tidak
berhenti. Di rumah sakit rujukan, lakukan tindakan operatif bila kontraksi
uterus tidak membaik, dimulai dari yang konservatif (Kemenkes RI,
2015)
d. Bila pasien Ruptura Perineum dan Robekan Dinding Vagina, lakukan
eksplorasi untuk mengidentifikasi sumber perdarahan, lakukan irigasi
pada tempat luka dan bersihkan dengan antiseptik, hentikan sumber
perdarahan dengan klem kemudian ikat dengan benang yang dapat
diserap, lakukan penjahitan,bila perdarahan masih berlanjut, berikan 1
g asam traneksamat IV (bolus selama 1 menit, dapat diulang setelah 30
menit) lalu rujuk pasien. Sedangkan bila terjadi
e. Robekan Serviks: Paling sering terjadi pada bagian lateral bawah kiri
dan kanan dari porsio, jepitkan klem ovum pada lokasi perdarahan,
jahitan dilakukan secara kontinu dimulai dari ujung atas robekan
kemudian ke arah luar sehingga semua robekan dapat dijahit, bila
perdarahan masih berlanjut, berikan 1 g asam traneksamat IV (bolus
selama 1 menit, dapat diulang setelah 30 menit) lalu rujuk pasien
(Kemenkes RI, 2015).
f. Apabila terdapat Sisa Plasenta, Berikan 20-40 UI oksitosin dalam 1000
ml larutan NaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 60
tetes/menit dan 10 UI IM. Lanjutkan infus oksitosin 20 UI dalam 1000 ml
larutan NaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit
hingga perdarahan berhenti. Lakukan eksplorasi digital (bila serviks
terbuka) dan keluarkan bekuan darah dan jaringan. Bila serviks hanya
dapat dilalui oleh instrumen, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan
aspirasi vakum manual atau dilatasi dan kuretase. Berikan antibiotika
profilaksis dosis tunggal (ampisillin 2 g IV DAN metronidazole 500 mg).
Jika perdarahan berlanjut, tatalaksana seperti kasus atonia uteri
(Kemenkes RI, 2013).
g. Inversio uteri, Segera reposisi uterus. Namun jika reposisi tampak sulit,
apalagi jika inversio telah terjadi cukup lama, bersiaplah untuk merujuk
ibu. Jika ibu sangat kesakitan, berikan petidin 1 mg/kgBB (jangan
melebihi 100 mg) IM atau IV secara perlahan atau berikan morfin 0,1
mg/kgBB IM. Jika usaha reposisi tidak berhasil, lakukan laparotomi. Jika
laparotomi tidak berhasil, lakukan histerektomi (Kemenkes RI, 2013)
h. Gangguan Pembekuan Darah, Pada banyak kasus kehilangan darah
yang akut, koagulopati dapat dicegah jika volume darah dipulihkan
segera. Tangani kemungkinan penyebab (solusio plasenta, eklampsia).
Berikan darah lengkap segar, jika tersedia, untuk menggantikan faktor
pembekuan dan sel darah merah. Jika darah lengkap segar tidak
tersedia, pilih salah satu di bawah ini.
i. Plasma beku segar untuk menggantikan faktor pembekuan (15 ml/kg
berat badan) jika APTT dan PT melebihi 1,5 kali kontrol pada
perdarahan lanjut atau pada keadaan perdarahan berat walaupun hasil
dari pembekuan belum ada.
 Sel darah merah (packed red cells) untuk penggantian sel darah
merah.
 Kriopresipitat untuk menggantikan fibrinogen.
 Konsentrasi trombosit (perdarahan berlanjut dan trombosit < 20.000).
 Apabila kesulitan mendapatkan darah yang sesuai, berikan darah
golongan O untuk penyelamatan jiwa. Intervensi Asuhan Kebidanan
3.2.3.5 Intervensi Asuhan Kebidanan
Dx : G....P....Ab.... UK... inpartu kala III
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ...... diharapkan
ibu dapat melahirkan dengan aman dan selamat serta bayi
dalam kondisi normal dan sehat
Kriteria :  Membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput
ketuban secara lengkap untuk mengurangi kejadian
perdarahan pasca persalinan, memperpendek waktu
persalinan kala III, mencegah atoni uteri dan retensio
plasenta
 Setelah dilakukan pertolongan persalinan kala III, plasenta
lahir dalam waktu <30 menit.
 Kondisi umum (TTV, perdarahan, kontraksi dan kandung
kemih) ibu dalam keadaan normal)
Intervensi Kala III
1. Lakukan manajemen aktif kala III!
- Jelaskan tindakan apa yang akan dilakukan!
R/ Dengan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan oleh bidan
diharapkan klien dapat mengerti tentang kondisinya saat ini dan
dapat mempersiapkan diri untuk persalinan yang akan dihadapi.
- Lakukan pengecekan bayi kedua!
R/ jika terdapat bayi kedua segera lahirkan bayi kedua sebelum
memberikan oksitoksin agar portio tidak menutup
- Lakukan Manajeman Aktif Kala III!
R/ plasenta normal akan terlepas dalam waktu 30 menit, kemudian
melakukan penyuntikan oksitoksin 10 IU secara IM, lakukan IMD,
kosongkan kandung kemih dan Peregangan Tali Pusat terkendali,
serta mengecek tanda-tanda pelepasan plasenta (uterus teraba
globuler dan keras, ada semburan darah dan tali pusat bertambah
panjang) melahirkan plasenta
- Lakukan masase uterus selama 15 detik!
R/ kontraksi uterus baik untuk mencegah perdarahan, masase uterus
digunakan untuk merangsang uterus berkontraksi.
- Lakukan pemeriksaan plasenta dan selaput plasenta!
R/ plasenta dan selaput yang tidak lengkap dapat mengakibakan
perdarahan. Plasenta normal berdiameter: 15-20 cm tebal 2,5 cm,
kotiledon berjumlah 16- 20 dan panjang tali pusat 50 cm 2 arteri dan
1 vena.
2. Lakukan evaluasi tekanan darah nadi dan perdarahan pada ibu!
R/ tekanan darah dan nadi sebaiknya diukur paling tidak satu kali
selama kala tiga dan lebih sering jika kala tiga memanjang daripada
rata-rata atau tekanan darah dan nadi berada pada pada bata atau
dalam kisaran abnormal. Pemantauan ini tidak hanya dilakukan setelah
evaluasi peningkatan sebelumnya, tetapi penting sebagai sarana
penapisan syok pada kejadian perdarahan (Varney, 2007).
3.2.3.6 Implementasi Asuhan Kebidanan
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu, diharapkan ibu dapat
kooperatif saat proses pengeluaran ari-arinya
E/ ibu mengedan dengan baik, proses pengeluaran bayi tidak ada
kendala
2. Memberitahu ibu tindakan apa yang akan dilakukan
E/ ibu menyetujui tindakan yang diberkan
3. Memberikan injeksi oksitoksi 10 IU secara IM
E/ oksitoksin 10 IU telah dimasukkan setelah 2 menit bayi lahir
4. Menjepit dan memotong tali pusat
E/ tali pusat terpotong 2-3 cm dari pusat bayi
5. Melakukan IMD jika tidak ada indikasi
E/ selama satu jam IMD, bayi dapat menyusui
6. Melakukan pengosongan kandung kemih(jika teraba penuh)
E/ kandung kemih teraba kosong
7. Melakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT), sambil mengamati
tanda-tanda pelepasan plasenta
E/ terdapat tanda-tanda pelepasan plasenta berupa uterus teraba
keras dan globuler, tali pusat bertambah panjang dan terdapat
semburan darah
8. Melahirkan plasenta
E/ plasenta lahir >30 menit setelah bayi lahr
9. Melakukan masase fundus uteri selama 15 detik untuk memastikan
kontraksi uterus baik
E/ Fundus uteri teraba keras, perdarahan pada ibu < 500 ml
10. Melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta
E/ Plasenta lahir lengkap/tidak, Plasenta normal berdiameter: 15-20
cm tebal 2,5 cm, kotiledon berjumlah 16- 20 dan panjang tali pusat 50
cm 2 arteri dan 1 vena.
3.2.3.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S :Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A :Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P :Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.

3.2.4 Asuhan Kebidanan Pada Kala IV Persalinan Normal


Tanggal pengkajian
Mengidentifikasi waktu dan tempat dimulainya
Jam pengkajian :
pelayanan
Tempat pengkajian
3.2.4.1 Identifikasi Data Dasar
- Subjektif
Hal yang perlu dikaji pada data subjektif berupa kebutuhan biologis (mis.
Apakah ibu merasa haus) dan kondisi psikologis (mis. Perasaan dan
penerimaan ibu terhadap bayinya serta kondisi ari-arinya), serta ibu
merasa mules atau tidak (adanya kontraksi uterus yang dirasakan ibu)
(Ekayanthi, 2017).
- Objektif
Hal yang perlu dikaji adalah tinggi fundus uteri, keadaan umum ibu,
tanda tanda vital, kontraksi uetrus, kandung kemih, laserasi dan jumlah
perdarahan (Ekayanthi, 2017).
3.2.4.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretasi Data Dasar)
Dx ibu: G.... P..... Ab..... UK..... inpartu kala IV
Pengangkatan diagnose inpartu kala IV diambil dari Ds: Ibu telah
melahirkan < dari 2 jam yang lalu dan Do: kontraksi uterus, TTV, laserasi,
perdarahan dan kandung kemih
 Masalah
Masalah merupakan ketidaknyamanan yang mengganggu ibu, pada
ibu bersalin adalah rasa nyeri, kecemasan, akibat kontraksi (Suhartika,
2017).
 Kebutuhan
Merupakan kebutuhan yang harus diberikan untuk mengatasi
masalah (Varney, 2007). Ibu bersalin yang cemas dan tidak nyaman
dengan rasa nyerinya dapat diberikan dukungan psikologis dengan
mempersilahkan ibu ditemani pendamping, memberikan pijatan-pijatan
lembut diarea sakit
3.2.4.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
- Atonia uteri merupakan suatu keadaan ketika uterus tidak berkontraksi
dengan baik sehingga menyebabkan perdarahan pada masa post-partum.
Atonia uteri terjadi jika uteri tidak berkontraksi selama 15 detik setelah
dilakukan pemijatan fundus uteri. Pasien akan mengeluakan banyak darah
dan unterus tidak berkontraski atau lembek (Ekayanthi, 2017).
- Trauma jalan lahir: trauma atau perlukaan jalan lahir dapat terjadi pada ibu
yang telah mehirkan bayi setelah persalinan, baik terjadi spontan atau
disengaja (episiotomi). Perlukaan jalan lahir dapat terjadi pada perineum,
vagina, vulva, dan servik uteri.
3.2.4.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
- Bila pasien atonia uteri, lakukan pemijatan uterus, pastikan plasenta lahir
lengkap Berikan 20-40 unitoksitosin dalam 1000 ml larutan NaCl
0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unitIM.
Lanjutkan infus oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9%/Ringer
Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan berhenti. Bila
tidak tersedia oksitosin atau bila perdarahan tidak berhenti, berikan
ergometrin 0,2 mg IM atau IV (lambat), dapat diikuti pemberian 0,2 mg IM
setelah 15 menit, dan pemberian 0,2 mg IM/IV (lambat) setiap 4 jam bila
diperlukan. jangan berikan lebih dari 5 dosis (1 mg) Jika perdarahan
berlanjut, berikan 1 g asam traneksamat IV (bolus selama 1 menit, dapat
diulang setelah 30 menit). Lakukan pasang kondom kateter atau kompresi
bimanual internal selama 5 menit atau rujuk ke fasilitas yang lebih memadai
sebagai antisipasi bila perdarahantidak berhenti Di rumah sakit rujukan,
lakukan tindakan operatif bila kontraksi uterus tidak membaik, dimulai dari
yang konservatif (Kemenkes RI, 2013).
- Lakukan penjahitan laserasi jalan lahir dengan menggunakan anastesi
terlebih dahulu, menggunakan benang mudah diserap kulit dan lakukan
jahitan dengan teknik satu-satu/ simpe interupted suture atau jelujur/simple
continius suture, dan subkutis atau subcuticuler continous suture
(Ekayanthi, 2017).
3.2.4.5 Intervensi Asuhan Kebidanan
Dx : G....P....Ab.... UK... inpartu kala IV
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ......
diharapkan ibu dapat melahirkan dengan aman dan selamat
serta bayi dalam kondisi normal dan sehat
Kriteria :  Dapat mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang
bersih dan aman selama persalinan kala IV untuk
memulihkan kesehatan ibu dan bayi, meningkatkan
asuhan sayang ibu dan sayang bayi, memulai pemberian
ASI dalam waktu 1 jam pertama setelah persalinan dan
mendukung terjadinya ikatan batin antara ibu dan bayinya
 Kondisi umum (TTV, perdarahan, kontraksi dan kandung
kemih) ibu dalam keadaan normal)
Intervensi
- Beritahu ibu tindakan yang akan dilakukan!
R/ ibu akan merasa tenang jika mengetahui tindakan yang akan
dilakukan pada tubuhnya (Varney, 2007).
- Lakukan penjahitan laserasi perineum!
R/ pada derajat 2-4 perlu dilakukan penjahitan agar luka tidak
mengeluarkan darah (Ekayanthi, 2017).
- Lakukan pemantauan Kala IV!
R/ 2 Jam post-partum merupakan masa rawan terjadinya komplikasi,
oleh sebab itu diperlukan pemantaun ketat oleh bidan, pemantauan
yang dilakukan berupa kontraksi, tekanan darah, nadi, kendung kemih
dan perdarahan setiap 15 menit sekali dalam jam pertama pasca
persalinan dan setiap 30 menit sekali dalam dua jam pertama pasca
persalinan (Ekayanthi, 2017).
3.2.4.6 Implementasi Asuhan Kebidanan
- Menyampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu, diharapkan ibu
menyetujui penjahitan jalan lahir
E/ ibu bersedia dilakukan penjahitan
- Melakukan penjahitan perineum
E/ dalam waktu 15 menit laserasi telah dijahit dan luka tertutup sehingga
tidak terjadi perdarahan
- Pemantauan kala IV berupa tekanan darah, nadi, suhu, kontraksi,
kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit pada satu jam pertama
dan 30 menit pada dua jam kedua
E/ hasil terlampir pada lembar partograf
- Merapikan ibu dan mendekontaminasi alat
E/ ibu telah digantikan baju, diseka dan alat telah disterilisasi
3.2.4.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S :Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A :Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P :Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.

3.3 Asuhan Kebidanan Pada Postpartum


3.3.1 Kunjungan Nifas 1 (6 jam – 3 hari pasca persalinan)
Tanggal pengkajian
Mengidentifikasi waktu dan tempat dimulainya
Jam pengkajian :
pelayanan
Tempat pengkajian
3.3.1.1 Pengkajian Data Dasar
a. Data Subjektif
1. Alasan datang
Pasien bisa merupakan pasien rujukan dari pelayanan kesehatan
yang berada ditingkat lebih rendah atau sejajar atau pasien dengan
kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (Hidayat dan Wildan,
2010).
2. Keluhan utama
Ibu nifas pada kunjungan pertama, akan mengeluhkan
ketidaknyamanan yang dirasa pada area perut, serta kondisi ASI yang
sudah keluar atau belum (Sumiaty, 2017). Atau keluhan lain seperti
keluarnya darah melalui jalan lahir, keluarnya cairan berbau dan gatal
disertai demam, ibu kurang percaya diri dan sedih dalam menghadapi
bayinya, sakit kepala disertai nyeri abdomen kuadran kanan atas dan
penglihatan kabur (Sumiaty, 2017).
3. Riwayat nifas sekarang
Pemantauan masa nifas dilakukan sebanyak 4 kali kunjungan yaitu
pada 6-8 jam postpartum, 6 hari post partum, 2 minggu postpartum, dan
8 pinggu postpartum.
4. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a. Pola nutrisi
Proses Involusi uteri dan laktasi dipengaruhi oleh asupan nutrisi
yang dimakan oleh ibu nifas (Manuaba, 2010).
a. Pola Eliminisasi
Ibu nifas harus dapat BAK pada 6 jam post partum dan BAB
dalam 24 jam postpartum (Manuaba, 2010).
b. Pola Aktivitas
Kondisi aktivitas tinggi dan istirahat yang kurang mempengaruhi
kesiapan fisik ibu saat menghadapi masa nifas dan jumlah ASI yang
diproduksi (Ambarwati, 2010).
c. Personal Hygiene
Kebersihan diri mampu menunjang penyembuhan luka
persalinan dan mencegah timbulnya infeksi pada ibu nifas
(Komalasari, 2010). Personal hygine ibu yang kurang baik dapat
menyebabkan infeksi baik infeksi pada payudara ataupun perneum
(Sumiaty, 2017).
b. Data Objektif
1. Keadaan umum: Keadaan umum dapat berupa lemah atau baik.
Keadaan umum normalnya dalam kondisi baik.
2. Kesadaran: Pasien dengan kesadaran normal mempermudah proses
pemberian asuhan (Varney, 2009). Normalnya kesadaran dalam kondisi
komposmentis
3. Antropometri
BB: Pada ibu nifas dengan menyusui ASI eksklusif, BB akan kembali
pada BB sebelum hamil kurang lebih dalam 3 bulan pertama (Varney,
2009)
4. TTV
 TD: pada ibu nifas terjadi penurunan tekanan darah akibat dari
peningkatan cardiac output dan penurunan volume plasma.
Peningkatan cardiac output disebabkan oleh adanya peningkatan
sirkulasi darah karena kebutuhan oksigen jaringan meningkat
sebagai bentuk kompensasi penurunan volume darah karena ibu
telah kehilangan banyak darah saat persalinan dan masa nifas.
Sedangkan penurunan volume plasma merupakan akibat dari
penurunan resistensi cairan ekstravaskuler karena adanya
kontraksi uterus. TD di bawah normal pada persalinan
mengindikasikan terjadinya perdarahan (Varney, 2009).
Sedangkan temuan abnormal TD >140/90 mmHg menjadi indikasi
terjadinya preeklamsia post partum (Sumiaty, 2017). Tekanan
darah normalnya 60-80 mmHg untuk diastole dan 100-120 mmHg
untuk sistole.
 N: pada ibu nifas terjadi peningkatan nadi akibat dari peningkatan
cardiac output yang disebabkan oleh adanya peningkatan sirkulasi
darah karena kebutuhan oksigen jaringan meningkat sebagai
bentuk kompensasi penurunan volume darah karena ibu telah
kehilangan banyak darah saat persalinan dan masa nifas.
Peningkatan nadi menjadi indikasi terjadinya infeksi, perdarahan,
dan dehidrasi (Komalasari, 2010). Temuan abnormal nadi bila
>100x/ menit (Sumiaty, 2017). Dalam keadaan normal, nadi
berkisar 60 – 100 x/menit.
 S: kehilangan darah saat melahirkan dapat membuat ibu
kehilangan cairan tubuh/dehidrasi, dimana tubuh akan
memetabolisme energi secara berlebihan sehingga mengganggu
keseimbangan cairan dan ibu akan kelelahan, metabolisme energi
secara berlebihan dapat meningkatkan suhu tubuh. Dalam 1 hari
post partum akan terjadi kenaikan suhu (37,5-380C) sebagai akibat
kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan
(Komalasari, 2010). Peningkatan suhu menjadi indikasi terjadinya
infeksi, dimana pada perubahan fisiologis ibu nifas, terjadi
kehilangan darah yang mengakibatkan peningkatan leukosit, serta
kehilangan darah tak terkontrol dapat menyebabkan infeksi,
pendeteksian awal infeksi dapat ditemukan pada suhu. Temuan
abnormal suhu >380C merupakan indikasi dehidrasi/infeksi
(Sumiaty, 2017).
 RR: Respiratory rate pada ibu nifas akan kembali normal karena
tekanan diafragma kembali normal setelah bayi dan plasenta
keluar. dalam kondisi normal adalah 16 – 24 x/menit. RR dibawah
atau di atas nilai normal menandakan gangguan pada fungsi organ
respiratory (Komalasari, 2010).
5. Pemeriksaan Fisik
a. Mata : Kehilangan darah pada saat persalinan beresiko
anemia pada ibu nifas, terutama pada kehilangan darah
tidak terkontrol, hal ini dapat ditemukan pada
pemeriksaan conjungtiva mata yang pucat. Warna
conjunctiva pucat merupakan indikasi terjadinya
anemia. Sklera kuning indikasi terjadinya gangguan
pada fungsi hati (Prawirohardjo, 2008).
b. Hidung : Keberadaan pernapasan cuping hidung merupakan
tanda terjadinya masalah dalam fungsi sistem
respiratory yang akan memperburuk kondisi ibu pada
masa nifas (Varney, 2007).
c. Mulut : Kebersihan diri mencegah timbulnya infeksi pada masa
nifas (Manuaba, 2010).
d. Telinga : Kebersihan diri mencegah timbulnya infeksi pada masa
nifas (Manuaba, 2010).
e. Leher : Infeksi yang mungkin terjadi pada ibu nifas dapat dilihat
dengan ada tidaknya pembesaran kelenjar kelenjar
limfe atau tidak. Kecukupan nutrisi terutam yodium
dalam dilihat dari ada atau tidaknya pembesaran
kelenjar tiroid. Fungsi kerja organ jantung dinilai salah
satunya melalui ada atau tidaknya bendungan vena
jugularis (Manuaba, 2010).
f. Dada : Keberadaan retraksi dinding dada menggambarkan
adanya gangguan pada fungsi kerja organ pada sistem
pernapasan (Varney, 2009).
g. Payudara : Kebersihan diri termasuk kebersihan payudara
mencegah timbulnya infeksi pada ibu nifas. Masalah
pada pemberian ASI dapat disebabkan oleh bentuk
payudara (aerola) dan perlekatan saat menyusui bayi
(Komalasari, 2010).
h. Abdomen : pada ibu nifas terjadi penurunan hormon estrogen dan
progesteron yang mempengaruhi otot uterus dengan
cara meningkatkan hormon oksitoksin dan
mengaktivasi enzim proteolitik sehingga dapat
memendekkan jaringan otot yang telah mengendur.
Peningkatan oksitoksin dapat meningkatkan kontraksi
miometrium agar pembuluh darah tertutup, hasil dari
penutuan pembuluh darah adalah endometrium
menjadi iskemi dan atropi. Sedangkan pada aktivasi
enzim proteolitik membuat uterus menjadi autolisi dan
menyusut/involusi. Masa nifas yang normal dapat
tergambar dengan penurunan dan konsistensi uterus
(Komalasari, 2010). Fundus teraba kuat, berkontraksi
baik, tidak teraba diatas ketinggian. Temuan abnormal
apabila fundus teraba lembek dan diatas ketinggian
fundus saat masa post-partum (Sumiaty, 2017). Tinggi
fundus uteri pada ibu nifas hari ke 1-3 adalah
pertengahan pusat simfisis dengan berat 500 gram
(Maryunani, 2009).
i. Genetalia : Masa nifas yang normal tergambar dengan karakteristik
lokhea (Prawirohardjo, 2008). Merah kehitaman
(Lokhea Rubra), bau biasa, tidak ada gumpalan darah
atau butir-butir darah beku (ukuran jeruk kecil), jumlah
perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya perlu
mengganti pembalut 2-4 jam sekali). Temuan abnormal
dapat berupa merah terang, bau busuk, mengeluarkan
gumpalan darah, perdarahan hebar (memerlukan
penggantian pembalut setiap 0-2 jam sekali). Lokhea
normal pada temuan kunjungan nifas 1 adalah rubra
j. Anus : Data yang diperlukan pada pemeriksaan anus adalah
ada tidaknya hemoroid. Hemoroid merupakan
pembesaran pembuluh darah vena pada daerah rectum
yang akan semakin membesar dengan adanya
permasalah BAB seperti konstipasi yang bisa terjadi
pada ibu nifas (Prawirohardjo, 2008).
k. Ekstremitas : Data yang diperlukan pada pemeriksaan
ekstermitas meliputi ada tidaknya odema, varises, dan
kelainan. Adanya odema berkaitan dengan tanda
bahaya terjadinya pre-eklamsi yang mungkin terjadi
pada ibu nifas. Keberadaan varises memberi gambaran
secara umum fungsi kardivaskular. (Prawirohardjo,
2008).
6. Pemeriksaan penunjang: dilakukan jika ada indikasi.
a. Pemeriksaan Darah Lengkap
Kondisi Hb<12 gram% berisiko terjadi perdarahan pada saat masa
nifas (Varney, 2009).
b. Pemerikaan Urine
Hasil pemeriksaan reduksi positif mengindikasikan peningkatan
kadar gula dalam urin atau diabetes mellitus. Pemeriksaan albumin
positif mengindikasikan terjadinya preeklamsi postpartum. Kadar
aseton tinggi dalam urine menggambarkan asupan nutrisi pada ibu
nifas yang kurang (Varney, 2009).
3.3.1.2 Interpretasi data dasar
1. Diagnosa aktual
Dx : P..... A......, ..... jam Postpartum Fisiologis / hari ke......
Diagnose Pospartum fisiologis diambil dari data:
Data subjektif berupa frekuensi berkemih dan mengganti pembalut,
keluhan utama yang dirasa dan data objektif yaitu Kesehatanan umum:
Letih, terlalu letih, lemah, TTV: TD <140/90 mmHg, suhu <380C, Nadi
<100x/menit, Fundus teraba Kuat/lembek, Lokhea berwarna merah
kehitaman atau merah terang, berbau/tidak, terdapat gumpalan/tidak
Masalah: kecemasan akan hilangnya perhatian, ketidaknyamanan
terhadap nyeri episiotomi, kelelahan, ketidaknyamanan pada payudara.
Gangguan perkemihan, Gangguan buang air besar, dan Krisis Situasi
2. Kebutuhan: Dukungan psikologis dan KIE berupa: (Sumiaty, 2017)
 Gangguan perkemihan
1. Beri penjelasan kepada pasien bahaya menunda kencing setelah
melahirkan.
2. Berikan keyakinan bahwa jongkok waktu kencing tidak akan
mengakibatkan luka jahitan membuka.
3. Anjurkan kepada pasien untuk kencing sedini mungkin.
4. Dampingi pasien kencing di kamar mandi jika keadaan pasien masih
lemah
5. Jika pasien benar-benar mengalami kesulitan untuk kencing maka
pertimbangkan untuk dilakukan kateter nonpermanent, namun
selanjutnya lakukan latihan kencing sendiri di kamar mandi dengan
memberikan rangsangan terlebih dahulu: siram kemaluan dengan air
hangat kemudian air dingin secara bergantian (Sulistyawati, 2009).
 Gangguan buang air besar
1. Berikan penjelasan kepada pasien mengenai arti pentingnya buang
air besar sedini mungkin setelah melahirkan.
2. Yakinkan pasien bahwa jongkok dan mengedan ketika BAB tidak
akan menimbulkan kerusakan pada luka jahitan.
3. Anjurkan kepada pasien untuk banyak minum air putih serta makan
sayuran dan buah (Sulistyawati, 2009).
 Gangguan proses menyusui
1) Kaji penyebab gangguan.
2) Lakukan antisipasi sesuai penyebab.
3) Libatkan suami dan keluarga dalam proses pelaksanaan.
4) Berikan dukungan mental sepenuhnya kepada pasien (Sulistyawati,
2009).
3.3.1.3 Identifikasi Masalah dan Diagnosa Potensial
Adapun kegawatdaruratan pada masa nifas, meliputi
 Kondisi emosi ibu labil, keadaan umum lemah, ibu nampak kurus, BB
menurun, wajah kusam, napas pendek dan sering menghela napas
pajang, rambuk rontok, tenggorokan terasa penuh, nyeri pada daerah
dada, ekstremitas atas dan bawah lemah dan kadang gemetar,
kemungkinan adanya depresi post-partum
 Perdarahan postpartum kemungkinan adanya atonia uteri, adanya sisa
plasenta, Retensio plasenta, robekan jalan lahir, ruptur uteri, inversio
uteri atau gangguan pembekuan darah
 Demam, nadi meningkat, terdapat nyeri perut bagian bawah, lokhea
berbau, adanya pembesaran uterus, kemungkinan adanya infeksi
masa nifas
 Puting payudara mendatar atau tertanam kemunginan adanya keadaan
abnormal pada payudara
 Adanya nyeri epigastrium, penglihatan kabur dan sait kepala
kemungkinan adanya preeklamsia-eklamsia puerperale/post-partum
(Sumiaty, 2017).
3.3.1.4 Identifikasi Kebutuhan dan Tindakan Segera
Berikut beberapa kondisi yang sering ditemui pada ibu nifas dan sangat
perlu untuk dilakukan tindakan yang bersifat segera.
 Depresi postpartum
1. Konsul atau rujuk wanita tersebut untuk mendapat pengobatan
psikologis dan farmakologis.
2. Intervensi farmakologis: antidepresan trisiklik atau selective serotonin
reuptake inhibition (SSRI) dapat diprogramkan. Menurut Epperson,
konsentrasi obat-obatan dalam plasma biasanya rendah dalam serum
bayi yang mengonsumsi ASI dan sebagian besar obat dapat digunakan
tanpa menimbulkan efek yang merugikan pada bayi. Suri et al.
menganjurkan agar kadar serum bayi dipantau dengan ketat. Mereka
juga menambahkan bahwa obat-obatan yang telah berhasil diteliti
secara terbatas, antara lain mencakup: antidepresan trisiklik, SSRI,
Benzodiazepin, Litium, Karbamazepin, dan Divalproeks. Schou
menyatakan bahwa antidepresan trisiklik, litium, atau SSRI dapat
digunakan setelah melahirkan, jika memang diperlukan.
3. Pendidikan bagi keluarga dan dukungan dari keluarga wanita sangat
penting.
4. Identifikasi risiko bunuh diri. Wanita yang berisiko terkadang perlu
dihospitalisasi.
5. Pengobatan alternatif. (Sinclair, 2009)
 Perdarahan postpartum
 Panggil bantuan tim untuk tatalaksanan secara simultan
 Nilai sirkulasi, jalan napas dan pernapasan pasien
 Bila menemukan tanda-tanda syok, lakukan penatalaksanaan syok
 Berikan oksigen
 Pasang infus intravena dengan kanul berukuran 16-18, cairan kristaloid
berupa NaCl 0,9% atau Ringer Lactat/acetat, lakukan pengambilan
sampel darah untuk pemeriksaan
 Jika fasilitas tersedia, lakukan pemeriksaan sampel darah berupa
kadar HB, golongan darah dan tipe Rh, profil hemostastis (waktu
perdarahan/bleeding time-BT, waktu pembekuan/Clotting time-CT,
Ptothombin time-PT, Activated partial thromboplastin time (APTT),
Hitung trombosit dan Fibrinogen.
 Lakukan pengawasan tekanan darah, nadi, dan pernapasan ibu.
 Periksa kondisi abdomen: kontraksi uterus, nyeri tekan, parut luka, dan
tinggi fundus uteri
 Periksa jalan lahir dan area perineum untuk melihat perdarahan dan
laserasi (jika ada, misal: robekan serviks atau robekan vagina).
 Periksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban.
 Pasang kateter Folley untuk memantau volume urin dibandingkan
dengan jumlah cairan yang masuk. (CATATAN: produksi urin normal
0.5-1 ml/ kgBB/jam atau sekitar 30 ml/jam)
 Siapkan transfusi darah jika kadar Hb < 8 g/dL atau secara klinis
ditemukan keadaan anemia berat
 1 unit whole blood (WB) atau packed red cells (PRC) dapat menaikkan
hemoglobin 1 g/dl atau hematokrit sebesar 3% pada dewasa normal.
 Mulai lakukan transfusi darah, setelah informed consent ditandatangani
untuk persetujuan transfusi
 Tentukan penyebab dari perdarahannya dan lakukan tatalaksana
spesifik sesuai penyebab
Bila pasien Atonia Uteri, lakukan pemijatan uterus, pastikan plasenta
lahir lengkap Berikan 20-40 unitoksitosin dalam 1000 ml larutan NaCl
0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unitIM.
Lanjutkan infus oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9%/Ringer
Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan berhentiu Bila
tidak tersedia oksitosin atau bila perdarahan tidak berhenti, berikan
ergometrin 0,2 mg IM atau IV (lambat), dapat diikuti pemberian 0,2 mg IM
setelah 15 menit, dan pemberian 0,2 mg IM/IV (lambat) setiap 4 jam bila
diperlukan. jangan berikan lebih dari 5 dosis (1 mg) Jika perdarahan
berlanjut, berikan 1 g asam traneksamat IV (bolus selama 1 menit, dapat
diulang setelah 30 menit). Lakukan pasang kondom kateter atau kompresi
bimanual internal selama 5 menit atau rujuk ke fasilitas yang lebih
memadai sebagai antisipasi bila perdarahantidak berhenti Di rumah sakit
rujukan, lakukan tindakan operatif bila kontraksi uterus tidak membaik,
dimulai dari yang konservatif.
Bila pasien Ruptura Perineum dan Robekan Dinding Vagina, lakukan
eksplorasi untuk mengidentifikasi sumber perdarahan, lakukan irigasi
pada tempat luka dan bersihkan dengan antiseptik, hentikan sumber
perdarahan dengan klem kemudian ikat dengan benang yang dapat
diserap, lakukan penjahitan,bila perdarahan masih berlanjut, berikan 1 g
asam traneksamat IV (bolus selama 1 menit, dapat diulang setelah 30
menit) lalu rujuk pasien. Sedangkan bila terjadi Robekan Serviks: Paling
sering terjadi pada bagian lateral bawah kiri dan kanan dari porsio,
jepitkan klem ovum pada lokasi perdarahan, jahitan dilakukan secara
kontinu dimulai dari ujung atas robekan kemudian ke arah luar sehingga
semua robekan dapat dijahit, bila perdarahan masih berlanjut, berikan 1 g
asam traneksamat IV (bolus selama 1 menit, dapat diulang setelah 30
menit) lalu rujuk pasien.
Bila terjadi Retensio Plasenta: Berikan 20-40 unitoksitosin dalam
1000 ml larutan NaCl 0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 60
tetes/menitdan 10 UNIT IM. Lanjutkan infus oksitosin 20 UNIT dalam 1000
ml larutan NaCl 0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit
hingga perdarahan berhenti, lakukan tarikan tali pusat terkendali, bila
tarikan tali pusat terkendali tidak berhasil, lakukan plasenta manual secara
hati-hati, berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal (ampisilin 2 g IV DAN
metronidazol 500 mg IV).segera atasi atau rujuk ke fasilitas yang lebih
lengkap bila terjadi komplikasi perdarahan hebat atau infeksi.
Apabila terdapat Sisa Plasenta, Berikan 20-40 unitoksitosin dalam
1000 ml larutan NaCl 0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 60
tetes/menitdan 10 unitIM. Lanjutkan infus oksitosin 20 unitdalam 1000 ml
larutan NaCl 0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga
perdarahan berhenti. Lakukan eksplorasi digital (bila serviks terbuka) dan
keluarkan bekuan darah dan jaringan. Bila serviks hanya dapat dilalui oleh
instrumen, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan aspirasi vakum manual
atau dilatasi dan kuretase. Berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal
(ampisillin 2 g IV DAN metronidazole 500 mg). Jika perdarahan berlanjut,
tatalaksana seperti kasus atonia uteri.
Inversio uteri, Segera reposisi uterus. Namun jika reposisi tampak
sulit, apalagi jika inversio telah terjadi cukup lama, bersiaplah untuk
merujuk ibu. Jika ibu sangat kesakitan, berikan petidin 1 mg/kgBB (jangan
melebihi 100 mg) IM atau IV secara perlahan atau berikan morfin 0,1
mg/kgBB IM. Jika usaha reposisi tidak berhasil, lakukan laparotomi. Jika
laparotomi tidak berhasil, lakukan histerektomi.
Gangguan Pembekuan Darah, Pada banyak kasus kehilangan darah
yang akut, koagulopati dapat dicegah jika volume darah dipulihkan
segera. Tangani kemungkinan penyebab (solusio plasenta,
eklampsia).Berikan darah lengkap segar, jika tersedia, untuk
menggantikan faktor pembekuan dan sel darah merah. Jika darah lengkap
segar tidak tersedia, pilih salah satu di bawah ini:
 Plasma beku segar untuk menggantikan faktor pembekuan (15 ml/kg
berat badan) jika APTT dan PT melebihi 1,5 kali kontrol pada
perdarahan lanjut atau pada keadaan perdarahan berat walaupun
hasil dari pembekuan belum ada.
 Sel darah merah (packed red cells) untuk penggantian sel darah
merah.
 Kriopresipitat untuk menggantikan fibrinogen.
 Konsentrasi trombosit (perdarahan berlanjut dan trombosit < 20.000).
 Apabila kesulitan mendapatkan darah yang sesuai, berikan darah
golongan O untuk penyelamatan jiwa. Berikan oksigen.
 Perbaiki kehilangan volume darah dengan pemberian infus cairan
intravena (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) sebelum tindakan
pembedahan(Kemenkes, 2013)..
3.3.1.5 Intervensi
Dx : P....Ab.... ..... jam Postpartum Fisiologis / hari ke......
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ......
diharapkan ibu nifas dapat kembali pulih
Kriteria : Membantu pemulihan ibu dan bayi melalui
penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini
penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi
pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang
kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan
bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi
dan KB
Intervensi asuhan kebidanan kunjungan nifas 1 (KF 1):
1. Fasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada klien!
R/ Salah satu hak klien adalah mengetahui hasil pemeriksaan terhadap
dirinya (Sulistyawati, 2009)
2. Lakukan pencegahan perdarahan masa nifas akibat atonia uteri!
R/ atonia uteri dapat terjadi pada masa nifas yang akan mengakibatkan
perdarahan pospartum, ibu dan keluarga dapat diajarkan cara masase
uterus agar tetap keras/berkontraksi, kontraksi akan mencegah ibu
mengalami perdarahan (Ekayanthi, 2017).
3. Lakukan deteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan!
R/ perdarahan merupakan salah satu penyebab tertinggi angka
kematian pada ibu, maka dari itu penanganan perdarahan perlu dicari
penyebab lain selain atonia uteri seperti sisa plasenta, retensio plasenta
dll. Penanganan efektif ketika terjadi perdarahan adalah stabilisasi
pasien, mencari sumber perdarahan, dan berikan penatalaksanaan
yang sesuai dari penyebab perdarahan (Varney, 2007)
4. Ajarkan ibu seputar pendidikan kesehatan dan ajarkan ibu untuk
melakukan kontak awal dengan bayinya!
R/ Pengetahun seputar kesehatan menjadi salah satu cara
meningkatkan kesehatan klien, pendidikan yang diberikan dapat
berupa:
 Fisiologi masa nifas: rasa mules dan tegang pada perut
merupakanhal normal sebagai bagian proses kembalinya rahim ke
ukuran semula
 Melakukan kontak awal dengan bayi nya, kontak kulit ke kulit dari
ibu atau dari keluarga lain
 Menjaga bayi agar tidak hipotermi dengan menghindari bayi dari
permukaan/pakaian yang dingin, tidak menggunakan pakaian,
selimut dan bedong.
 Pijat oksitoksin untuk melancarkan ASI
 Cara menyusui yang benar: menyarankan klien untuk
mengosongkan payudaranya saat menyusui bayinya dan
memasukkan puting susu sampai aerola pada mulut bayi,
memberikan ASI sesering mungkin, sesuai dengan kebutuhan bayi.
 Kebutuhan nutrisi: menyarankan klien untuk makan-makanan yang
bergizi dengan porsi banyak terutama sayur-sayuran dan ikan dan
memperbanyak minum air putih serta menghindari makanan yang
pedas. Penyembuhan luka juga dapat dipengaruhi oleh asupan
makanan.
 Istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga setelah persalinan
 Mobilisasi dini: menganjurkan ibu untuk miring kanan atau miring
kiri, duduk kemudian berjalan perlahan
 Higine personal: menyarankan untuk selalu menjaga kebersihan diri
dan mengganti pembalut setiap kali basah/penuh dan menjaga luka
jahitan agar tetap kering. Mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir sesudah dan sebelum memegang luka, membersihkan
daerah kelami dan makan. (Sumiaty, 2017).
5. Ajarkan ibu dan keluarga cara mencegah hypotermi pada bayi baru lahir!
R/ hipertermi merupakan salah satu penyebab kematian pada bayi baru
lahir, pencegahan yang tepat dapat mengurangi kejadian kematian pada
bayi baru lahir (sumiaty, 2017).
6. Berikan terapi!
R/ pengobatan pada klien postpartum dapat diberikan berupa antibiotik
dan antipiretik untuk mencegah infeksi (sumiaty, 2017).
7. Jadwalkan kunjungan ulang!
R/ Pemeriksaan nifas rutin akan mampu mendeteksi lebih dini terhadap
masalah yang timbul selama masa nifas (sumiaty, 2017).
3.3.1.6 Implementasi
Implementasi asuhan kebidanan kunjungan nifas 1 (KF 1) 6 jam-3 hari
postpartum:
1. Memfasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada klien.
E/ ibu memahami hasil pemeriksaan nya dan kooperatif selama
pelayanan diberikan
2. Melakukan pencegahan perdarahan masa nifas akibat atonia uteri
dengan cara mengajari ibu dan keluarga masase uterus sampai terasa
keras/berkontraksi
E/ ibu dapat mengulang 75% informasi yang diberikan
3. Mendeteksi dan memberikan perawatan penyebab lain perdarahan!
E/ perdarahan yang terjadi pada ibu dapat diatasi dalam waktu 5 menit
setelah perawatan yang diberikan
4. Mengajarkan ibu seputar pendidikan kesehatan, berupa:
 Fisiologi masa nifas: rasa mules dan tegang pada perut
merupakanhal normal sebagai bagian proses kembalinya rahim ke
ukuran semula
 Melakukan kontak awal dengan bayi nya, kontak kulit ke kulit dari
ibu atau dari keluarga lain
 Menjaga bayi agar tidak hipotermi dengan menghindari bayi dari
permukaan/pakaian yang dingin, tidak menggunakan pakaian,
selimut dan bedong.
 Pijat oksitoksin untuk melancarkan ASI
 Cara menyusui yang benar: menyarankan klien untuk
mengosongkan payudaranya saat menyusui bayinya dan
memasukkan puting susu sampai aerola pada mulut bayi,
memberikan ASI sesering mungkin, sesuai dengan kebutuhan bayi.
 Kebutuhan nutrisi: menyarankan klien untuk makan-makanan yang
bergizi dengan porsi banyak terutama sayur-sayuran dan ikan dan
memperbanyak minum air putih serta menghindari makanan yang
pedas. Penyembuhan luka juga dapat dipengaruhi oleh asupan
makanan.
 Istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga setelah persalinan
 Mobilisasi dini: menganjurkan ibu untuk miring kanan atau miring
kiri, duduk kemudian berjalan perlahan
 Higine personal: menyarankan untuk selalu menjaga kebersihan diri
dan mengganti pembalut setiap kali basah/penuh dan menjaga luka
jahitan agar tetap kering. Mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir sesudah dan sebelum memegang luka, membersihkan
daerah kelami dan makan.
E/ 75% informasi yang diberikan dapat diulangi oleh ibu
5. Memberikan terapi berupa:
 Antibiotik 3 x 500 mg/hari untuk pencegahan infeksi
 Antipiretik 3 x 500 mg/hari untuk nyeri perineum yang dirasakan
oleh ibu
 Tablet Fe 1 x 1 tablet/hari untuk mengganti darah yang hilang saat
proses persalinan
E/ 100% informasi cara meminum obat dapat diulang oleh ibu
6. Menjadwalkan kunjungan ulang:
 4 hari-28 hari setelah persalinan
 Atau bila terdapat tanda bahaya masa nifas: perdarahan luar biasa,
berbau busuk, sakit kepala, pandangan mata kabur, nyeri
epigastrium, bengkak pada wajah, tangan dan payudara dan
melakukan kontak awal dengan bayinya
E/ ibu berkomitmen akan kembali pada tanggal yang sudah ditetapkan
atau apabila ada tanda bahaya nifas (Sumiaty, 2017).
3.3.1.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S :Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A :Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P :Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.
3.3.2 Asuhan Kebidanan Pada Kunjungan Nifas 2 (4 hari-28 hari
pascapersalinan)
Tanggal pengkajian
Mengidentifikasi waktu dan tempat dimulainya
Jam pengkajian :
pelayanan
Tempat pengkajian
3.3.2.1 Pengkajian Data Dasar
1. Data Subjektif
Data Subjektif merupakan data yang didapat berdasarkan persepsi dan
pendapat klien tentang masalah kesehatan mereka. Data ini dapat diperoleh
dengan melakukan anamnesa kepada klien, keluarga dan orang terdekat,
anggota tim perawatan kesehatan, catatan medis, dan catatan lainnya.
a. Identitas Ibu dan Suami
Pada ibu dengan kunjungan sebelumnya sudah tercatat data
lengkapnya, tidak perlu dikaji kembali pendidikan, pekerjaan dan agama.
Begitu pula dengan nama suami.
b. Alasan datang
Pasien bisa merupakan pasien rujukan dari pelayanan kesehatan
yang berada ditingkat lebih rendah atau sejajar atau pasien dengan
kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (Hidayat dan Wildan,
2010).
c. Keluhan utama
Ibu nifas dengan bendungan payudara sering mengeluhkan
payudara terasa keras dan penuh terkadang disertai nyeri
(Prawirohardjo, 2008). Atau keluhan lain seperti keluarnya darah melalui
jalan lahir, keluarnya cairan berbau dan gatal disertai demam, ibu kurang
percaya diri dan sedih dalam menghadapi bayinya, sakit kepala disertai
nyeri abdomen kuadran kanan atas dan penglihatan kabur (Sumiaty,
2017).
d. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Komplikasi pada kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu berisiko
timbulnya masalah pada nifas saat ini (Manuaba, 2010).
e. Riwayat nifas sekarang
Menanyakan kondisi nifas secara umum
f. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
1. Pola nutrisi
Proses Involusi uteri dan laktasi dipengaruhi oleh asupan nutrisi
yang dimakan oleh ibu nifas (Manuaba, 2010).
2. Pola Eliminisasi
Ibu nifas harus dapat BAK pada 6 jam post partum dan BAB dalam
24 jam postpartum (Manuaba, 2010).
3. Pola Aktivitas
Kondisi aktivitas tinggi dan istirahat yang kurang mempengaruhi
kesiapan fisik ibu saat menghadapi masa nifas dan jumlah ASI yang
diproduksi (Ambarwati, 2010).
4. Personal Hygiene
Kebersihan diri mampu menunjang penyembuhan luka persalinan
dan mencegah timbulnya infeksi pada ibu nifas (Komalasari, 2010).
Personal hygine ibu yang kurang baik dapat menyebabkan infeksi baik
infeksi pada payudara ataupun perneum (Sumiaty, 2017).
2. Data Objektif
a. Pemeriksaan TTV
- TD: Kemungkinan tekanan darah akan lebih rendah setelah ibu
melahirkan karena ibu telah kehilangan banyak darah saat persalinan
dan masa nifas. TD di bawah normal pada persalinan
mengindikasikan terjadinya perdarahan (Varney, 2009). Sedangkan
temuan abnormal TD >140/90 mmHg menjadi indikasi terjadinya
preeklamsia post partum (Sumiaty, 2017). Tekanan darah normalnya
60-80 mmHg untuk diastole dan 100-120 mmHg untuk sistole.
- N: Peningkatan nadi menjadi indikasi terjadinya infeksi, perdarahan,
dan dehidrasi (Komalasari, 2010). Temuan abnormal nadi bila >100x/
menit (Sumiaty, 2017). Dalam keadaan normal, nadi berkisar 60 – 100
x/menit.
- S: Peningkatan suhu menjadi indikasi terjadinya infeksi. Dalam 1 hari
post partum akan terjadi kenaikan suhu (37,5-380C) sebagai akibat
kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan
(Komalasari, 2010). Temuan abnormal suhu >380C merupakan
indikasi dehidrasi/infeksi (Sumiaty, 2017). Suhu normal adalah 36,5 –
37,5 ºC.
- RR: RR dibawah atau di atas nilai normal menandakan gangguan
pada fungsi organ respiratory (Komalasari, 2010). Respiratory rate
dalam kondisi normal adalah 16 – 24 x/menit
b. Pemeriksaan payudara
Payudara : Kebersihan diri termasuk kebersihan payudara
mencegah timbulnya infeksi pada ibu nifas. Masalah pada pemberian ASI
dapat disebabkan oleh bentuk payudara (aerola) dan perlekatan saat
menyusui bayi (Komalasari, 2010).
c. Pemeriksaan kontraksi rahim dan tinggi fundus unteri
Abdomen: Masa nifas yang normal dapat tergambar dengan
penurunan dan konsistensi uterus (Komalasari, 2010). Fundus teraba
kuat, berkontraksi baik, tidak teraba diatas ketinggian. Temuan abnormal
apabila fundus teraba lembek dan diatas ketinggian fundus saat masa
post-partum (Sumiaty, 2017). Tinggi fundus uteri pada ibu nifas 1 minggu
adalah pertengahan pusat simfisis dengan berat 500 gram (Maryunani,
2009).
d. Pemeriksaan lokhia dan perdarahan
Genetalia: Masa nifas yang normal tergambar dengan karakteristik
lokhea (Prawirohardjo, 2008). Merah kehitaman (Lokhea Rubra), bau
biasa, tidak ada gumpalan darah atau butir-butir darah beku (ukuran jeruk
kecil), jumlah perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya perlu
mengganti pembalut 2-4 jam sekali). Temuan abnormal dapat berupa
merah terang, bau busuk, mengeluarkan gumpalan darah, perdarahan
hebar (memerlukan penggantian pembalut setiap 0-2 jam sekali).
Temuan lokhea normal pada kunjungan 2 adalah lokhea sanguinolenta
(hari ke4-7), serosa (hari ke 7-14) dan alba (minggu 2-6 postpartum)
3.3.2.2 Interpretasi data dasar
Diagnosa aktual
Dx : P..... A......, ..... jam Postpartum Fisiologis / hari ke......
Diagnose Pospartum fisiologis diambil dari data:
Data subjektif berupa frekuensi berkemih dan mengganti pembalut,
keluhan utama yang dirasa dan data objektif yaitu Kesehatanan umum:
Letih, terlalu letih, lemah, TTV: TD <140/90 mmHg, suhu <380C, Nadi
<100x/menit, Fundus teraba Kuat/lembek, Lokhea berwarna merah
kehitaman atau merah terang, berbau/tidak, terdapat gumpalan/tidak
Masalah: kecemasan akan hilangnya perhatian, ketidaknyamanan
terhadap nyeri episiotomi, kelelahan, ketidaknyamanan pada payudara.
Gangguan perkemihan, Gangguan buang air besar, dan Krisis Situasi
Kebutuhan: Dukungan psikologis dan KIE berupa: (Sumiaty, 2017)
 Gangguan perkemihan
- Beri penjelasan kepada pasien bahaya menunda kencing setelah
melahirkan.
- Berikan keyakinan bahwa jongkok waktu kencing tidak akan
mengakibatkan luka jahitan membuka.
- Anjurkan kepada pasien untuk kencing sedini mungkin.
- Dampingi pasien kencing di kamar mandi jika keadaan pasien masih
lemah
- Jika pasien benar-benar mengalami kesulitan untuk kencing maka
pertimbangkan untuk dilakukan kateter nonpermanent, namun
selanjutnya lakukan latihan kencing sendiri di kamar mandi dengan
memberikan rangsangan terlebih dahulu: siram kemaluan dengan air
hangat kemudian air dingin secara bergantian (Sulistyawati, 2009).
 Gangguan buang air besar
- Berikan penjelasan kepada pasien mengenai arti pentingnya buang air
besar sedini mungkin setelah melahirkan.
- Yakinkan pasien bahwa jongkok dan mengedan ketika BAB tidak akan
menimbulkan kerusakan pada luka jahitan.
- Anjurkan kepada pasien untuk banyak minum air putih serta makan
sayuran dan buah (Sulistyawati, 2009).
 Gangguan proses menyusui
- Kaji penyebab gangguan.
- Lakukan antisipasi sesuai penyebab.
- Libatkan suami dan keluarga dalam proses pelaksanaan.
- Berikan dukungan mental sepenuhnya kepada pasien (Sulistyawati,
2009).
3.3.2.3 Identifikasi Masalah dan Diagnosa Potensial
Adapun kegawatdaruratan pada masa nifas, meliputi
 Kondisi emosi ibu labil, keadaan umum lemah, ibu nampak kurus, BB
menurun, wajah kusam, napas pendek dan sering menghela napas
pajang, rambuk rontok, tenggorokan terasa penuh, nyeri pada daerah
dada, ekstremitas atas dan bawah lemah dan kadang gemetar,
kemungkinan adanya depresi post-partum
 Perdarahan postpartum kemungkinan adanya atonia uteri, adanya sisa
plasenta, Retensio plasenta, robekan jalan lahir, ruptur uteri, inversio
uteri atau gangguan pembekuan darah
 Demam, nadi meningkat, terdapat nyeri perut bagian bawah, lokhea
berbau, adanya pembesaran uterus, kemungkinan adanya infeksi
masa nifas
 Payudara bengkak atau lecet, puting mendatar atau tertanam
kemunginan adanya keadaan abnormal pada payudara (sumiaty,
2017).
3.3.2.4 Identifikasi Kebutuhan dan Tindakan Segera
 Infeksi
Bila metritis/infeksi pada uterus setelah persalinan, Berikan
antibiotika sampai dengan 48 jam bebas demam: Ampisilin 2 g IV setiap 6
jam, Ditambah gentamisin 5 mg/kgBB IV tiap 24 jam, Ditambah
metronidazol 500 mg IV tiap 8 jam, Jika masih demam 72 jam setelah
terapi, kaji ulang diagnosis dan tatalaksana, Cegah dehidrasi. Berikan
minum atau infus cairan kristaloid. Pertimbangkan pemberian vaksin
tetanus toksoid (TT) bila ibu dicurigai terpapar tetanus (misalnya ibu
memasukkan jamu-jamuan ke dalam vaginanya). Jika diduga ada sisa
plasenta, lakukan eksplorasi digital dan keluarkan bekuan serta sisa
kotiledon. Gunakan forsep ovum atau kuret tumpul besar bila perlu Jika
tidak ada kemajuan dan ada peritonitis (demam, nyeri lepas dan nyeri
abdomen), lakukan laparotomi dan drainase abdomen bila terdapat pus.
Jika uterus terinfeksi dan nekrotik, lakukan histerektomi subtotal. Lakukan
pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan darah perifer lengkap termasuk
hitung jenis leukosit, Golongan darah ABO dan jenis Rh, Gula Darah
Sewaktu (GDS), Analisis urin, Kultur (cairan vagina, darah, dan urin sesuai
indikasi),Ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
sisa plasenta dalam rongga uterus atau massa intra abdomen-pelvik,
Periksa suhu pada grafik (pengukuran suhu setiap 4 jam) yang
digantungkan pada tempat tidur pasien. Periksa kondisi umum: tanda vital,
malaise, nyeri perut dan cairan pervaginam setiap 4 jam. Lakukan tindak
lanjut jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit per 48 jam. Terima, catat
dan tindak lanjuti hasil kultur. Perbolehkan pasien pulang jika suhu < 37,50
C selama minimal 48 jam dan hasil pemeriksaan leukosit < 11.000/mm3.
Bila abses pelvis, Berikan antibiotika kombinasi sebelum pungsi dan
drain abses sampai 48 jam bebas demam: Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam,
Ditambah gentamisin 5 mg/kgBB IV tiap 24 jam, Ditambah metronidazol
500 mg IV tiap 8 jam, Jika kavum Douglas menonjol, lakukan drain abses,
jika demam tetap tinggi, lakukan laparotomi (Kemenkes, 2013).
Bila infeksi luka perineum atau abdominal, Kompres luka dengan
kasa lembab dan minta pasien mengganti kompres sendiri setiap 24 jam.
Jaga kebersihan ibu, minta ibu untuk selalu mengenakan baju dan
pembalut yang bersih. Jika terdapat pus atau cairan, bukalah luka dan
lakukan drainase. Angkat kulit yang nekrotik, jahitan subkutis dan buat
jahitan situasi. Jika terdapat abses tanpa selulitis, tidak perlu diberikan
antibiotika.Bila infeksi relatif superfisial, berikan ampisilin 500 mg per oral
selama 6 jam dan metronidazol 500 mg per oral 3 kali/hari selama 5 hari
(Kemenkes, 2013).
Selulitis dan fasiitis nekrotikan Jika terdapat pus atau cairan, bukalah
luka dan lakukan drainase. Angkat kulit yang nekrotik, jahitan subkutis dan
lakukan debridemen. Jika infeksi hanya superfisial dan tidak meliputi
jaringan dalam, pantau timbulnya abses dan berikan antibiotika: Ampisilin
500 mg per oral 4 kali sehari selama 5 hari. Ditambah metronidazol 500 mg
per oral 3 kali sehari selama 5 hari. Jika infeksi cukup dalam, meliputi otot,
dan menimbulkan nekrotik (fasiitis nekrotikan), siapkan laparotomi dan
berikan kombinasi antibiotika sampai jaringan nekrotik telah diangkat dan
48 jam bebas demam: Penisillin G 2 juta unit IV setiap 6 jam. Ditambah
gentamisin 5 mg/kgBB IV tiap 24 jam. Ditambah metronidazol 500 mg IV
tiap 8 jam. Jika sudah 48 jam bebas demam, berikan: Ampisilin 500 mg per
oral 4 kali sehari selama 5 hari Ditambah metronidazol 500 mg per oral 3
kali sehari selama 5 hari (Kemenkes, 2013).
Catatan: Fasiitis nekrotikan membutuhkan debridemendan jahitan
situasi. Lakukan jahitan reparasi 2-4 minggu kemudian, bila luka sudah
bersih. Jika infeksi parah pada fasiitis nekrotikan, rawat pasien di rumah
sakit untuk tatalaksana dan ganti kasa penutup luka 2 kali sehari.
Bila tetanus, rujuk ibu ke rumah sakit, Selama mempersiapkan
rujukan: Miringkan ibu ke samping agar tidak terjadi aspirasi. Jaga jalan
napas tetap terbuka. Atasi kejang dengan diazepam 10 mg IV selama 2
menit. Jauhkan ibu dari kebisingan dan cahaya. Pasang jalur intravena
untuk memberikan cairan. Jangan berikan cairan lewat mulut. Berikan
antibiotika benzil penisilin 2 juta unit IV setiap 4 jam selama 48 jam. Lalu,
lanjutkan dengan ampisilin 500 mg 3 kali sehari selama 10 hari. Berikan
antitoksin tetanus 3000 unit IM. Di fasilitas kesehatan yang leibih lengkap,
cari tahu dan singkirkan penyebab infeksi (misalnya jaringan yang
terinfeksi). Ventilasi mekanik mungkin diperlukan.
Bila mastitis, Ibu sebaiknya tirah baring dan mendapat asupan cairan
yang lebih banyak. Sampel ASI sebaiknya dikultur dan diuji sensitivitas.
Berikan antibiotika : Kloksasilin 500 mg per oral per 6 jam selama 10-14
hari ATAU eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10-14 hari
Dorong ibu untuk tetap menyusui, dimulai dengan payudara yang tidak
sakit. Bila payudara yang sakit belum kosong setelah menyusui, pompa
payudara untuk mengeluarkan isinya. Kompres dingin pada payudara
untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Berikan parasetamol 3 x 500 mg per
oral. Sangga payudara ibu dengan bebat atau bra yang pas. Lakukan
evaluasi setelah 3 hari (Kemenkes, 2013).
 Abnormal payudara
Bila bendungan payudara, Sangga payudara ibu dengan bebat atau
bra yang pas. Kompres payudara dengan menggunakan kain
basah/hangat selama 5 menit. Urut payudara dari arah pangkal menuju
puting. Keluarkan ASI dari bagian depan payudara sehingga puting
menjadi lunak. Susukan bayi 2-3 jam sekali sesuai keinginan bayi (on
demand feeding) dan pastikan bahwa perlekatan bayi dan payudara ibu
sudah benar. Pada masa-masa awal atau bila bayi yang menyusu tidak
mampu mengosongkan payudara, mungkin diperlukan pompa atau
pengeluaran ASI secara manual dari payudara. Letakkan kain
dingin/kompres dingin dengan es pada payudara setelah menyusui atau
setelah payudara dipompa. Bila perlu, berikan parasetamol 3 x 500 mg per
oral untuk mengurangi nyeri. Lakukan evaluasi setelah 3 hari
Bila retraksi puting, Jka retraksi tidak dalam, susu dapat diperoleh
dengan menggunakan pompa payudara. Jika puting masuk sangat dalam,
suatu usaha harus dilakukan untuk mengeluarkan puting dengan jari pada
beberapa bulan sebelum melahirkan (Kemenkes, 2013).
3.3.2.5 Intervensi asuhan kebidanan kunjungan nifas 2 (KF 2)
Dx : P....Ab.... ..... jam Postpartum Fisiologis / hari ke......
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ......
diharapkan ibu nifas dapat kembali pulih
Kriteria : Membantu pemulihan ibu dan bayi melalui
penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini
penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi
pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang
kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan
bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi
dan KB
Intervensi asuhan kebidanan kunjungan nifas 2 (KF 2):
1. Fasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada klien!
R/ Salah satu hak klien adalah mengetahui hasil pemeriksaan terhadap
dirinya.
2. Pastikan involusi uterus berjalan normal!
R/ involusi uterus merupakan proses kembalinya uterus kepada kondisi
sebelum hamil, temuan abnormal pada ibu nifas dapat menghalangi
proses kembalinya uterus kepada kondisi sebelum kehamilan.
3. Lakukan penilaian adanya tanda-tanda deman, infeksi atau perdarahan
abnormal!
R/ perdarahan dan infeksi merupakan salah satu penyebab tertinggi
angka kematian pada ibu, maka dari itu penanganan perdarahan perlu
dicari penyebab lain selain atonia uteri seperti sisa plasenta, retensio
plasenta dll. Penanganan efektif ketika terjadi perdarahan adalah
stabilisasi pasien, mencari sumber perdarahan, dan berikan
penatalaksanaan yang sesuai dari penyebab perdarahan.
4. Ajarkan ibu seputar pendidikan kesehatan (ibu dan bayi)!
R/ Pengetahun seputar kesehatan menjadi salah satu cara meningkatkan
kesehatan klien, pendidikan kesehatan yang diberikan dapat berupa:
 Perawatan payudara dengan cara mengompres payudara dengan air
hangat dan dingin sebelum menyusui
 Memberikan asi eksklusif pada bayinya, dimana bayi klien hanya
diberi ASI sampai usia 6 bulan, tidak diberi makanan/minuman
apapun kecuali obat jika ada indikasi
 Komposisi ASI (fore milk dan hind milk) ASI foremilk adalah ASI awal
yang lebih cair, tinggi laktosa. ASI ini berfungsi untuk menghilangkan
rasa haus bayi. Sedangkan ASI hindmilk adalah ASI yang keluar
selanjutnya adalah hindmilk yang mengandung banyak lemak untuk
memberikan rasa kenyang kepada bayi dan penting untuk
pertumbuhan dan kesehatan bayi selanjutnya, pastikan bayi
mengisap satu payudara sampai terasa lembek sembelum beralih ke
payudara yang lain (UNICEF, 2017)
 Mengajarkan ibu mengolah ASI perah: pompa asi 3-4 jam sekali
secara teratur, pilih waktu dalam keadaan payudara penuh terisi,
peralatan dalam keadaan steril, pilih tempat yang nyaman dan
tenang, cuci tangan dengan sabun, dahulukan minum air putih
segelas, saat memerah harus dalam kondisi tenang, simpan ASI
dalam lemari es atau cool box (Ramandey, 2017).
 Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat berpengaruh
terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu makan cukup
akan gizi dan pola makan teratur, maka produksu ASI akan lancar
(Ramandey, 2017).
 Istirahat yang cukup, istirahat yang kurang dapat mempengaruhi
produksi ASI, kondisi ibu yang capek, kurang istirahat maka ASI akan
berkurang (Ramandey, 2017).
 Melakukan perawatan pada bayi baru lahir seperti perawatan tali
pusat, memandikan bayi dll.
5. Jadwalkan kunjungan ulang!
R/ Pemeriksaan nifas rutin akan mampu mendeteksi lebih dini terhadap
masalah yang timbul selama masa nifas.
3.3.2.6 Implementasi asuhan kebidanan kunjungan nifas 2 (KF 2) 4 hari-28
hari pasca persalinan:
1. Memfasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada klien.
E/ ibu memahami hasil pemeriksaan nya dan kooperatif selama
pelayanan diberikan
2. Memastikan involusi uterus berjalan normal!
E/ setelah melakukan pemeriksaan, uterus terpantau dalam kondisi
berinvolusi dengan baik.
3. Melakukan penilaian adanya tanda-tanda deman, infeksi atau
perdarahan abnormal!
E/ perdarahan/infeksi yang terjadi pada ibu dapat diatasi dalam waktu 5
menit setelah perawatan yang diberikan
4. Mengajarkan ibu seputar pendidikan kesehatan, berupa:
 Perawatan payudara dengan cara mengompres payudara dengan air
hangat dan dingin sebelum menyusui
 Memberikan asi eksklusif pada bayinya, dimana bayi klien hanya
diberi ASI sampai usia 6 bulan, tidak diberi makanan/minuman
apapun kecuali obat jika ada indikasi
 Komposisi ASI (foremilk dan hindmilk),
 Mengajarkan ibu mengolah ASI perah: pompa asi 3-4 jam sekali
secara teratur, pilih waktu dalam keadaan payudara penuh terisi,
peralatan dalam keadaan steril, pilih tempat yang nyaman dan
tenang, cuci tangan dengan sabun, dahulukan minum air putih
segelas, saat memerah harus dalam kondisi tenang, simpan ASI
dalam lemari es atau cool box (Ramandey, 2017).
 Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat berpengaruh
terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu makan cukup akan
gizi dan pola makan teratur, maka produksu ASI akan lancar
(Ramandey, 2017).
 Istirahat yang cukup, istirahat yang kurang dapat mempengaruhi
produksi ASI, kondisi ibu yang capek, kurang istirahat maka ASI akan
berkurang (Ramandey, 2017).
 Melakukan perawatan pada bayi baru lahir seperti perawatan tali
pusat, memandikan bayi dll.
5. Menjadwalkan kunjungan ulang:
 29 hari-42 hari setelah persalinan
 Atau bila terdapat tanda bahaya masa nifas: perdarahan luar biasa,
berbau busuk, sakit kepala, pandangan mata kabur, nyeri
epigastrium, bengkak pada wajah, tangan dan payudara dan
melakukan kontak awal dengan bayinya
E/ ibu berkomitmen akan kembali pada tanggal yang sudah
ditetapkan atau apabila ada tanda bahaya nifas
3.3.2.7 EVALUSI
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S :Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A :Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P :Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.

3.3.3 Asuhan Kebidanan Pada Kunjungan Nifas 3 (29 hari-42 hari


pascapersalinan)
Tanggal pengkajian
Mengidentifikasi waktu dan tempat dimulainya
Jam pengkajian :
pelayanan
Tempat pengkajian
3.3.3.1 Pengkajian Data Dasar
 Data Subjektif
Data Subjektif merupakan data yang didapat berdasarkan persepsi
dan pendapat klien tentang masalah kesehatan mereka. Data ini dapat
diperoleh dengan melakukan anamnesa kepada klien, keluarga dan orang
terdekat, anggota tim perawatan kesehatan, catatan medis, dan catatan
lainnya.
1. Identitas Ibu dan Suami
Pada ibu dengan kunjungan sebelumnya sudah tercatat data
lengkapnya, tidak perlu dikaji kembali pendidikan, pekerjaan dan
agama. Begitu pula dengan nama suami.
2. Alasan datang
Pasien bisa merupakan pasien rujukan dari pelayanan kesehatan
yang berada ditingkat lebih rendah atau sejajar atau pasien dengan
kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (Hidayat dan Wildan,
2010).
3. Keluhan utama
Ibu nifas dengan bendungan payudara sering mengeluhkan
payudara terasa keras dan penuh terkadang disertai nyeri
(Prawirohardjo, 2008). Atau keluhan lain seperti keluarnya darah melalui
jalan lahir, keluarnya cairan berbau dan gatal disertai demam, ibu
kurang percaya diri dan sedih dalam menghadapi bayinya, sakit kepala
disertai nyeri abdomen kuadran kanan atas dan penglihatan kabur
(Sumiaty, 2017).
4. Riwayat menstruasi
Pemberian konseling KB pada KF 3 memperhatikan pola menstruasi
dan keluahan yang dialami ibu di saat haid dan di luar haid (Andriaansz
& Waspodo, 2011). Maka perlu adanya pengkajian riwaya menstruasi
berupa HPHT, siklus, lama, banyak darah, keluhan saat menstruasi dan
di luar menstruasi.
5. Riwayat kontrasepsi
Penjarangan kehamilan perlu dilakukan, pada UU No. 52 tahun
2009 tentang keluarga berencana, penggunaan kontrasepsi bertujuan
untuk memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak,keluarga
dan bangsa, selain itu juga penggunaan KB merupakan salah satu
upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak. dimana pada
ibu masa nifas dengan jarak kehamilannya <2tahun bisa menyebabkan
resiko perdarahan (Tando, 2017).
Riwayat kontrasepsi meliputi jenis, lama dan keluhan yang ibu alami
selama menggunakan alat kontrasepsi tertentu. Pengalaman KB
sebelumnya membantu dalam menentukan keputusan ber-KB
selanjutnya (Manuaba, 2010).
6. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Komplikasi pada kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu berisiko
timbulnya masalah pada nifas saat ini (Manuaba, 2010).
7. Riwayat nifas sekarang
Pemantauan masa nifas dilakukan sebanyak 4 kali kunjungan yaitu
pada 6-8 jam postpartum, 6 hari post partum, 2 minggu postpartum, dan
8 pinggu postpartum
8. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
 Pola nutrisi
Proses Involusi uteri dan laktasi dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang
dimakan oleh ibu nifas (Manuaba, 2010).
 Pola Eliminisasi
Ibu nifas harus dapat BAK pada 6 jam post partum dan BAB dalam
24 jam postpartum (Manuaba, 2010).
 Pola Aktivitas
Kondisi aktivitas tinggi dan istirahat yang kurang mempengaruhi
kesiapan fisik ibu saat menghadapi masa nifas dan jumlah ASI yang
diproduksi (Ambarwati, 2010).
 Personal Hygiene
Kebersihan diri mampu menunjang penyembuhan luka persalinan
dan mencegah timbulnya infeksi pada ibu nifas (Komalasari, 2010).
Personal hygine ibu yang kurang baik dapat menyebabkan infeksi
baik infeksi pada payudara ataupun perneum (Sumiaty, 2017).
 Data Objektif
1. Pemeriksaan TTV
TD: Kemungkinan tekanan darah akan lebih rendah setelah ibu
melahirkan karena ibu telah kehilangan banyak darah saat
persalinan dan masa nifas. TD di bawah normal pada persalinan
mengindikasikan terjadinya perdarahan (Varney, 2009). Sedangkan
temuan abnormal TD >140/90 mmHg menjadi indikasi terjadinya
preeklamsia post partum (Sumiaty, 2017). Tekanan darah
normalnya 60-80 mmHg untuk diastole dan 100-120 mmHg untuk
sistole.
N: Peningkatan nadi menjadi indikasi terjadinya infeksi, perdarahan, dan
dehidrasi (Komalasari, 2010). Temuan abnormal nadi bila >100x/
menit (Sumiaty, 2017). Dalam keadaan normal, nadi berkisar 60 –
100 x/menit.
S: Peningkatan suhu menjadi indikasi terjadinya infeksi. Dalam 1 hari
post partum akan terjadi kenaikan suhu (37,5-380C) sebagai akibat
kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan
(Komalasari, 2010). Temuan abnormal suhu >380C merupakan
indikasi dehidrasi/infeksi (Sumiaty, 2017). Suhu normal adalah 36,5
– 37,5 ºC.
RR: RR dibawah atau di atas nilai normal menandakan gangguan pada
fungsi organ respiratory (Komalasari, 2010). Respiratory rate dalam
kondisi normal adalah 16 – 24 x/menit.
2. Pemeriksaan lokhia dan perdarahan
Genetalia: Masa nifas yang normal tergambar dengan karakteristik
lokhea (Prawirohardjo, 2008). Merah kehitaman (Lokhea Rubra), bau
biasa, tidak ada gumpalan darah atau butir-butir darah beku (ukuran
jeruk kecil), jumlah perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya perlu
mengganti pembalut 2-4 jam sekali). Temuan abnormal dapat berupa
merah terang, bau busuk, mengeluarkan gumpalan darah, perdarahan
hebar (memerlukan penggantian pembalut setiap 0-2 jam sekali).
Temuan lokhea normal pada kunjungan 2 adalah lokhea sanguinolenta
(hari ke4-7), serosa (hari ke 7-14) dan alba (minggu 2-6 postpartum).
3. Pemeriksaan kontraksi rahim dan tinggi fundus unteri
Abdomen: Masa nifas yang normal dapat tergambar dengan
penurunan dan konsistensi uterus (Komalasari, 2010). Fundus teraba
kuat, berkontraksi baik, tidak teraba diatas ketinggian. Temuan
abnormal apabila fundus teraba lembek dan diatas ketinggian fundus
saat masa post-partum (Sumiaty, 2017). Tinggi fundus uteri pada ibu
nifas hari ke 1-3 adalah pertengahan pusat simfisis dengan berat 500
gram (Maryunani, 2009).
4. Pemeriksaan payudara
Payudara: Kebersihan diri termasuk kebersihan payudara mencegah
timbulnya infeksi pada ibu nifas. Masalah pada pemberian ASI dapat
disebabkan oleh bentuk payudara (aerola) dan perlekatan saat
menyusui bayi (Komalasari, 2010).
3.3.3.2 Interpretasi data dasar
Diagnosa aktual
Dx : P..... A......, ..... jam Postpartum Fisiologis / hari ke......
Diagnose Pospartum fisiologis diambil dari data:
Data subjektif berupa frekuensi berkemih dan mengganti pembalut, keluhan
utama yang dirasa dan data objektif yaitu Kesehatanan umum: Letih, terlalu
letih, lemah, TTV: TD <140/90 mmHg, suhu <380C, Nadi <100x/menit,
Fundus teraba Kuat/lembek, Lokhea berwarna merah kehitaman atau
merah terang, berbau/tidak, terdapat gumpalan/tidak
Masalah: kecemasan akan hilangnya perhatian, ketidaknyamanan
terhadap nyeri episiotomi, kelelahan, ketidaknyamanan pada payudara.
Gangguan perkemihan, Gangguan buang air besar, dan Krisis Situasi
Kebutuhan: Dukungan psikologis dan KIE berupa: (Sumiaty, 2017)
3.3.3.3 Identifikasi Masalah dan Diagnosa Potensial
Adapun kegawatdaruratan pada masa nifas, meliputi
 Kondisi emosi ibu labil, keadaan umum lemah, ibu nampak kurus, BB
menurun, wajah kusam, napas pendek dan sering menghela napas
pajang, rambuk rontok, tenggorokan terasa penuh, nyeri pada daerah
dada, ekstremitas atas dan bawah lemah dan kadang gemetar,
kemungkinan adanya depresi post-partum
 Perdarahan postpartum kemungkinan adanya atonia uteri, adanya sisa
plasenta, Retensio plasenta, robekan jalan lahir, ruptur uteri, inversio
uteri atau gangguan pembekuan darah
 Demam, nadi meningkat, terdapat nyeri perut bagian bawah, lokhea
berbau, adanya pembesaran uterus, kemungkinan adanya infeksi masa
nifas
 Payudara bengkak atau lecet, puting mendatar atau tertanam
kemunginan adanya keadaan abnormal pada payudara
(Kemenkes, 2013).
3.3.3.4 Identifikasi Kebutuhan dan Tindakan Segera
 Bila mastitis, Ibu sebaiknya tirah baring dan mendapat asupan cairan
yang lebih banyak. Sampel ASI sebaiknya dikultur dan diuji sensitivitas.
Berikan antibiotika : Kloksasilin 500 mg per oral per 6 jam selama 10-14
hari ATAU eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10-14 hari
Dorong ibu untuk tetap menyusui, dimulai dengan payudara yang tidak
sakit. Bila payudara yang sakit belum kosong setelah menyusui, pompa
payudara untuk mengeluarkan isinya. Kompres dingin pada payudara
untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Berikan parasetamol 3 x 500 mg
per oral. Sangga payudara ibu dengan bebat atau bra yang pas. Lakukan
evaluasi setelah 3 hari.
 Abnormal payudara
Bila bendungan payudara, Sangga payudara ibu dengan bebat atau bra
yang pas. Kompres payudara dengan menggunakan kain basah/hangat
selama 5 menit. Urut payudara dari arah pangkal menuju puting.
Keluarkan ASI dari bagian depan payudara sehingga puting menjadi
lunak. Susukan bayi 2-3 jam sekali sesuai keinginan bayi (on demand
feeding) dan pastikan bahwa perlekatan bayi dan payudara ibu sudah
benar. Pada masa-masa awal atau bila bayi yang menyusu tidak mampu
mengosongkan payudara, mungkin diperlukan pompa atau pengeluaran
ASI secara manual dari payudara. Letakkan kain dingin/kompres dingin
dengan es pada payudara setelah menyusui atau setelah payudara
dipompa. Bila perlu, berikan parasetamol 3 x 500 mg per oral untuk
mengurangi nyeri. Lakukan evaluasi setelah 3 hari
Bila retraksi puting, Jka retraksi tidak dalam, susu dapat diperoleh
dengan menggunakan pompa payudara. Jika puting masuk sangat
dalam, suatu usaha harus dilakukan untuk mengeluarkan puting dengan
jari pada beberapa bulan sebelum melahirkan. (Kemenkes, 2013).
3.3.3.5 Intervensi asuhan kebidanan kunjungan nifas 3 (KF 3)
Dx : P....Ab.... ..... jam Postpartum Fisiologis / hari ke......
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ......
diharapkan ibu nifas dapat kembali pulih
Kriteria : Membantu pemulihan ibu dan bayi melalui
penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini
penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi
pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang
kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan
bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi
dan KB
Intervensi asuhan kebidanan kunjungan nifas 3 (KF 3):
1. Fasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada klien!
R/ Salah satu hak klien adalah mengetahui hasil pemeriksaan terhadap
dirinya (Varney, 2007)
2. Pastikan involusi uterus berjalan normal!
R/ involusi uterus merupakan proses kembalinya uterus kepada kondisi
sebelum hamil, temuan abnormal pada ibu nifas dapat menghalangi
proses kembalinya uterus kepada kondisi sebelum kehamilan (Varney,
2007)
3. Lakukan penilaian adanya tanda-tanda deman, infeksi atau perdarahan
abnormal!
R/ perdarahan dan infeksi merupakan salah satu penyebab tertinggi
angka kematian pada ibu, maka dari itu penanganan perdarahan perlu
dicari penyebab lain selain atonia uteri seperti sisa plasenta, retensio
plasenta dll. Penanganan efektif ketika terjadi perdarahan adalah
stabilisasi pasien, mencari sumber perdarahan, dan berikan
penatalaksanaan yang sesuai dari penyebab perdarahan (Sumiaty,
2017)
4. Lakukan penjelasan dalam rangka mengatasi kesulitan-kesulitan klien!
R/ KIE menjadi salah satu cara dalam mengatasi kesulitan-kesulitan
klien (Sumiaty, 2017).
5. Berikan konseling KB secara dini!
R/ KB selama masa nifas perlu diberikan, agar ibu dapat memulihkan
diri sampai kondisi rahim siap untuk hamil lagi
3.3.3.6 Implementasi asuhan kebidanan kunjungan nifas 3 (KF 3) 29-42 hari
setelah persalinan:
1. Memfasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada klien.
E/ ibu memahami hasil pemeriksaan nya dan kooperatif selama
pelayanan diberikan
2. Memastikan involusi uterus berjalan normal!
E/ setelah melakukan pemeriksaan, uterus terpantau dalam kondisi
berinvolusi dengan baik.
3. Melakukan penilaian adanya tanda-tanda deman, infeksi atau
perdarahan abnormal!
E/ perdarahan/infeksi yang terjadi pada ibu dapat diatasi dalam waktu
5 menit setelah perawatan yang diberikan
4. Berikan konseling KB secara dini!
E/ segera setelah diberik konseling KB, ibu dapat menentukan pilihan
untuk menggunakan metode KB yang diingnkan
5. Menjadwalkan kunjungan ulang bila terdapat tanda bahaya masa
nifas: perdarahan luar biasa, berbau busuk, sakit kepala, pandangan
mata kabur, nyeri epigastrium, bengkak pada wajah, tangan dan
payudara dan melakukan kontak awal dengan bayinya
E/ ibu akan kembali jika terdapat tanda gejala tsb.
3.3.3.7 EVALUASI
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S :Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A :Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P :Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.

3.4 Asuhan Kebidanan Pada Neonatus


3.4.1 Kunjungan Neonatus 1
Tanggal pengkajian
Mengidentifikasi waktu dan tempat dimulainya
Jam pengkajian :
pelayanan
Tempat pengkajian
3.4.1.1 Pengkajian Data Dasar
 Data Subjektif
Data subjektif merupakan data yang didapat berdasarkan persepsi
dan pendapat klien tentang masalah kesehatan mereka. Data ini dapat
diperoleh dengan melakukan anamnesa kepada klien, keluarga dan
orang terdekat, anggota tim perawatan kesehatan, catatan medis, dan
catatan lainnya.
1. Identitias Bayi Baru Lahir
Identitias bayi baru lahir meliputi nama bayi dan no.rekam medik.
Ketepatan pemberian asuhan salah satunya dengan memastikan
asuhan tepat pada penerima asuhan berdasarkan identitas (Varney,
2010).
2. Identitas Ibu dan Ayah atau Penanggung Jawab Bayi
Identitas klien dan suami, meliputi nama, umur, agama, pendidikan,
pekerjaan, serta alamat tempat tinggal. Data seputar identitas baik
identitas ibu maupun suami menjadi informasi bagi tenaga kesehatan
seputar kondisi demografi klien. Identitas akan mempermudah dalam
proses pendekatan selama pemeriksaan berlangsung.
a. Nama ibu dan ayah atau penanggung jawab bayi
Penanggung jawab klien diantaranya adalah orang tua sebagai
wali dari bayi baru lahir (Gondodiputro, 2007).
b. Pendidikan
Penyampaian komunikasi informasi dan edukasi dipengaruhi
oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan penerima KIE terkait
kesehatan bayi baru lahir (Hidayat dan Wildan, 2010).
c. Pekerjaan
Tingkat ekonomi dan besarnya penghasilan mempengaruhi
dalam pemberian asuhan pada BBL (Azizah, 2015). Angka kematian
bayi terkait dengan kemiskinan, anak dalam kelompok rumah tangga
termiskin umumnya memiliki angka kematian balita lebih dari 2 lipat
dari angka kematian balita di kelompok rumah tangga yang sejahtera
(UNICEF, 2012).
d. Agama
Pemberian asuhan bayi salah satunya dengan memberikan
pendidikan kesehatan kepada penanggung jawab berkaitan
perawatan BBL dapat disesuaikan dengan kepercayaan klien
(Hidayat dan Wildan, 2010).
e. Alamat
Lingkungan tempat tinggal klien mempengaruhi akses terhadap
fasilitas kesehatan dan kesehatan BBL. Kondisi lingkungan yang
tidak baik dapat menjadi pencetus timbulnya penyulit selama masa
(Suriadi, 2010). Tren yang terjadi saat ini adalah kematian neonatal
di perkotaan mengalami peningkatan, hal ini diakibatkan urbanisasi
yang cepat, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk yang
berlebihan, kondisi sanitasi yang buruk pada penduduk miskin
perkotaan, yang diperburuk oleh perubahan dalam masyarakat yang
telah menyebabkan hilangnya jaring pengaman sosial tradisional
(UNICEF, 2012).
3. Alasan datang
Pasien bisa merupakan pasien rujukan dari pelayanan kesehatan
yang berada ditingkat lebih rendah atau sejajar atau pasien dengan
kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (Hidayat dan Wildan,
2010).
3. Keluhan utama
Kondisi kesulitan bernapas dengan ditandai kondisi megap-megap
merupakan keluhan yang biasa disampaikan oleh perawat jaga yang
terjadi pada bayi asfiksia.
4. Riwayat Prenatal
Beberapa obat yang dikonsumsi ibu saat hamil mempengaruhi
kondisi bayi yang dilahirkan misalnya thalidomide yang menyebabkan
kelainan bawaan dan jamu-jamuan berisiko menyebabkan ketuban
berwarna hijau. apakah ibu menggunakan obat-obar teratogenik,
cerkena radiasi, atau infeksi virus pada trimester pertarna. Juga
ditanyakan apakah ada kelainan bawaan pada keluarga. Di samping itu
perlu diketahui apakah ibu menderita penyakit yang dapat mengganggu
pertumbuhan janin, seperti diabetes rnelitus, asrna bronkial dan
sebagainya. Sebelum memeriksa bayi perlu diperiksa cairan amnion, tali
pusat, dan plasenta (Sniderman, 2005).
5. Riwayat Natal
Penggunaan forcep dan vacuum pada persalinan menimbulkan
trauma pada kepala bayi. Trauma pada klafikula akibat persalinan
menyebabkan reflek moro asimetris (Ekayanthi, 2017). Angka kematian
bayi baru lahir pada anak-anak yang ibunya mendapatkan pelayanan
antenatal dan pertolongan persalinan oleh profesional medis adalah
seperlima dari angka kematian pada anak-anak yang ibunya tidak
mendapatkan pelayanan ini (UNICEF, 2012).
6. Riwayat Post Natal
Kejadian infeksi pada bayi dapat terjadi melalui perawatan tali pusat
yang salah dan pemberian makanan pada bayi yang kurang tepat.
7. Riwayat Kesehatan
Beberapa penyakit yang dapat diturunkan melalui genetik adalah
asma, ginjal, dan diabetes. Keluarga dengan anggota keluarga yang
mengalami kelainan bawaan berisiko menurunkan kelainan bawaan
tersebut ke anggota keluarga yang lain.
8. Riwayat Psikososial
Dukungan psikologis merupakan salah satu kebutuhan dasar pada
masa BBL terutama pada hal perawatan.
9. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a. Pola nutrisi
Nutrisi menjadi salah satu kebutuhan dasar BBL untuk menunjang
proses pertumbuhan dan perkembangan. Bayi usia 0-6 bulan hanya
membutuhkan ASI (Manuaba, 2010)
b. Pola Eliminisasi
Mekonium secara umum keluar pada 24 jam pertama, jika sampai
48 jam pertama belum keluar kemungkinan adanya obstruksi
saluran pencernaan.
c. Personal Hygiene
Kebersihan diri mampu pencegah infeksi dimana kondisi bayi baru
lahir yang rentan terjadi infeksi.
 Data Objektif
1. Menilai adaptasi
Bayi yang mungkin memerlukan resusitasi adalah bayi yang lahir
dengan pemapasan tidak adekuat, tonus otot kurang, ada mekonium di
dalam cairan amnion atau lahir kurang bulan. Nilai Apgar masih dipakai
untuk melihar keadaan bayi pada usia l rnenit clan 5 menit, tetapi tidak
dipakai untuk menentukan apakah BBL perlu resusitasi atau tidak. Nilai
Apgar 5 menit dapat digunakan untuk menentukan prognosis.
Nilai Apgar dapar digunakan untuk menilai respon resusitasi. Nilai
Apgar yang dinilai pada resusirasi tidak sama dengan nilai Apgar pada
bayi baru lahir yang bernapas spontan. Nilai Apgar yang diperluas
dengan menyatakan tindakan resusitasi akan memberikan informasi
untuk meningkatkan pelayanan neonatal (Suradi, 2008).
Tabel 3.1 cara menentukan nilai APGAR
Tanda 0 1 2
Denyut jantung Tidak ada < 100 ≥ 100
Usaha bernafas Tidak ada lambat Menangis kuat
Tonus otot Lumpuh Ekstremitas Gerakan aktif
fleksi sedikit
Reflek Tidak bereaksi Gerakan sedikit Reaksi melawan
Warna kulit Seluruh tubu Tubuh Seluruh tubuh
biru/ pucat kemerahan/ kemerahan
ekstremitas biur
(American Academy of Pediatrics, American Collage of Obsterician’s and
Gynecologists 2006)
2. Antropometri
Berat : Berat badan cukup bayi baru lahir >2500 gram. Bayi
Badan dengan BBL >4000 gram merupakan kondisi makrosomia,
sedangkan BBL <2500 gram merupakan kondisi berat
badan lahir rendah. Berat bayi turun dalam minggu
pertama, kemudian naik kembali mencapai berat lahirnya
pada usia 2 minggu, maksimal 10%, untuk bayi kurang
bulan maksimal 15%. Kejadian kelainan kongenital pada
bayi kurang bulan 2 kali lebih banyak dibanding bayi cukup
bulan, sedangkan pada bayi kecil uncuk masa kehamilan
kejadian rersebut sampai 10 kali lebih besar (CDC, 1991).
Panjang : Perlu diukur panjang kepala-simfisis dan simfisis-kaki
Badan untuk menilai proporsi tubuh bayi, agar kelainan seperti
akondroplasia dapat dideteksi.
Panjang badan bayi baru lahir adalah 45-50 cm.
LiLA : LILA pada BBL belum mencerminkan keadaan tumbuh
kembang bayi. Normalnya lingkar lengan atas bayi baru
lahir adalah 11-15 cm.
Lingkar : Pengukuran lingkar kepala dilakukan dari dahi kemudian
Kepala melingkari kepala dan kembali lagi ke dahi. Lingkar kepala
normal bayi baru lahir adalah 33-35 cm
Lingkar : Lingkar dada diukur dari daerah dada ke punggung
Dada kembali ke dada (pengukuran dilakukan melalui kedua
putting susu). Apabila diameter kepala lebih besar 3 cm
dari lingkar dada maka bayi mengalami hydrocephalus,
sedangkan bila diameter kepala lebih kecil 3 cm dari lingkar
dada maka bayi mengalami microcephalus
3. TTV
Nadi : Denyut nadi bervariasi dari 90/menit saat bayi tidur
tenang sarnpai 180/menit selama aktivitas. Denyut
jantung bayi prematur yang tenang berkisar antara
140-150/menit. Dalam keadaan normal, nadi bayi
baru lahir berkisar 120– 160 x/menit. Peningkatan
nadi menjadi indikasi terjadinya infeksi dan dehidrasi.
Suhu : Suhu cubuh BBL diukur pada aksila. Suhu BBL
normal adalah antara 36,5-37,5 0C. Suhu meninggi
dapat ditemukan pada dehidrasi, gangguan serebral,
infeksi, atau kenaikan suhu lingkungan. Kenaikan
suhu merata biasanya disebabkan oleh kenaikan
suhu lingkungan. Apabila ekstremitas dingin dan
tubuh panas kemungkinan besar disebabkan oleh
sepsis, perlu diingat bahwa infeksi/sepsis pada BBL
dapat saja tidak disertai dengan kenaikan suhu
tubuh, bahkan sering terjadi hipoterrni (Miller, 2005).
Pernapasan : Frekuensi napasa yang normal pada BBL adalah 40-
60x per menit 14. BBL dengan frekuensi napas yang
terus-menerus di atas 60 kali per menit perlu diamati
lebih teliti untuk kernungkinan adanya kelainan paru,
jantung, atau metabolik (Stoll, 2004), Fluktuasi
frekuensi napas tergantung dari aktivitas fisis,
rnenangis, tidur, atau bangun. Karena fluktuasinya
cepat maka frekuensi napas BBL harus dihitung
dalarn satu rnenit penuh dan kalau mungkin dihitung
saat bayi tidur atau dalarn keadaan tenang oleh
karena sering terdapat periodic breaching, yaitu henti
napas yang berlangsung 5-10 detik di antara pola
pernapasan yang reguler, Serangan apnea yang
sebenamya biasanya lebih lama dari 20 detik dan
sangat jarang terjadi pada BBL cukup bulan. Amati
pola pernapasan, jika bayi tenang, dalam keadaan
normal tidak dijumpai pernapasan cuping hidung,
rnerintih, ataupun retraksi dada. Sebagian bayi,
khususnya bayi prernatur, saat rnenangis dapat
menunjukkan retraksi sternal atau subkostal ringan
(Rennnie, 2005). Napas yang rersendat-sendat dan
udak teratur (irregular gruping) yang kadang-kadang
diikuti oleh gerakan spasme rnulur dan dagu
menunjukkan gangguan pusat pernapasan yang
berat.
4. Pemeriksaan Fisik
- Kulit
Warna: kemerahan, biru atau akrosianosis, ikterus, adanya
verniks kaseosa/zat seperti lemak berwarna putih kotor, tanda
kelahiran seperti hemangioma yang sering terlihat pada. kelopak
mata dan le her yang akan menghilang dalam rnlnggu-rninggu
pertama atau mongolian spot diskitar punggung, pantat atau
ttempat lain, dengan ciri-ciri kulit warna keabu-abuan berbatas
tegas. Hilang saat bayi berusia 1 tahun atau lebih.
Bayi dengan anoksia akan mengeluarkan mekonium ke cairan
amnion. Akibamya verniks, kulit, kuku, dan tali pusat berwama
kuning kecoklat-coklatan dan disebut pewarnaan mekonium
(meconium scaining).
Kulit bayi prematur tipis, halus dan cenderung berwarna
merah sekali. Bayi yang amac sangat prernatur tampak seperti
agar-agar (gelatin). Kulit bayi cenderung mengelupas dan tampak
seperti kertas perkarnen terutama pada bayi lebih bulan. Pada BBL
yang berumur 1-3 hari sering tampak papula putih kecil-kecil dan
kadang-kadang berbentuk vesikopustula di atas eriterna dan
disebut eritema toksikum. Biasanya terdapat pada muka, badan,
anggota gerak dan menghilang sesudah 1 minggu. Penyebabnya
tidak diketahui. Pada waktu lahir tampak erupsi vesikopustula di
daerah dagu, leher, punggung, ekstrernitas, celapak cangan dan
kaki berlangsung selama 2-3 hari. Lesi ini harus dibedakan dengan
erupsi vesikuler yang lebih berbahaya seperti pada herpes
sirnpleks arau infeksi kuman Staphylococcus di kulit (Stoll, 2004).
- Kepala dan leher
Bentuk kepala kadang asimetris karena penyesuaian pada
saat persalinan dan umumnya hilang dalam 48 jam.
Perkembangan telinga dalam. Ubun-ubun besar rata atau tidak
menonjol, dapat sedikit menonjol saat bayi menangis. Garis sutura,
ukuran, dan tekanan fontanel anterior dan posterior harus
diperiksa dengan jari, Ukuran fontanel anterior bevariasi, maksimal
3x3 cm. Fontanel yang tegang menandakan peningkatan tekanan
intrakranial seperti pada edema otak, hidrosefalus, acau meningitis
(Stoll, 2004)
Perhatikan juga trauma lahir pada kepala, seperti kaput
suksedaneum (edema pada kulit kepala, lunak tidak berfluktuasi,
batasnya tidak tegas dan menyebarangi sutura, akan hilang dalam
beberapa hari (Sniderman, 2005), hematoma sefal (konsistensi
hematoma sefa ini lunak, berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi
tulang tengkorak, jadi tidak menyebrangi sutura, hematoma akan
mengalami kalsifikasi dan menghilang pada 2-6 bulan (Mainali,
2006).
Wajah yang tidak simetris mungkin disebabkan oleh
kelumpuhan saraf ke-7 hipoplasia otot depresor sudut rnulur, atau
posisi janin yang tidak normal.
Leher BBL tampak pendek akan tetapi pergerakannya baik.
Apabila terdapat keterbatasan pergerakan perlu dipikirkan
kelainan tulang leher (Bersetch, 2005).
Trauma leher dapat terjadi pada persalinan yang sulit. Trauma
leher ini dapat menyebabkan kerusakan pleksus brakialis sehingga
terjadi paresis pada tangan, lengan atau diafragma. Dapat terjadi
perdarahan m. sternokleidomastoideus yang apabila tidak
ditangani dengan baik dapat menyebabkan tortikolis. Perhatikan
pula adanya webbed neck yang terdapat pada beberapa kelainan
kongenital antara lain sindrom Turner. Kedua klavikula harus
diperiksa untuk melihat fraktur (Sniderman 2005).
- Mata
Tidak ada kotoran atau sekret, lebar jarak kedua mata sering
berhubungan dengan sindrom kongenital disamping letak daun
telinga yang rendah. Mata sering terbuka dengan sendirinya bila
bayi didudukkan dengan hati-hati, dimiringkan sedikit ke depan
dan kebelakang atau dengan reflek moro. Gerakan pupil biasanya
baru timbul beberapa minggu sesudah lahir (Rennie, 2005).
- Telinga
Perhatikan bentuk, ukuran, dan posisi telinga, dan rasakan
kartilagonya. Pada BBL cukup bulan telah cukup terbentuk tulang
rawan sehingga bentuk telinga dapat dipertahankan. Daun telinga
yang letaknya rendah (low-set ears), yaitu yang batas atasnya
berada di lebih rendah dari kantus lateral mata, terdapat pada BBL
dengan sindrom tertentu anrara lain sindrom Pierre-Robin.
Pada telinga kadangkala ditemukan daun telinga yang terlipat,
dan biasanya pulih dengan sendirinya dalam l minggu pertama.
Perlu diperhatikan adanya preauricular pits, skin rags, atau daun
telinga tambahan. Skin tags atau ronjolan kulit dapat terjadi
sebagai kelainan autosomal dominan, namun pada kasus seperti
ini penting untuk melakukan pemeriksaan pendengaran lanjuran.
Pemeriksaan dengan otoskop biasanya tidak menjadi bagian
pemeriksaan rutin BBL (Rennie, 2005).
- Hidung
Perlu diamati bentuk hidung dan lebar jembatannya (nasal
bridge). Jika campak terlalu lebar, ukurlah jarak antar kantus
medial mata. Jarak tersebut tidak boleh lebih dari 2,5 cm pada BBL
cukup buIan. Hidung dapat tampak pesek karena cekanan yang
dialami di intrauterin. BBL bernapas melalui hidung, Apabila ia
bemapas melalui mulur, maka harus dipikirkan kernungkinan
terdapamya obstruksi jalan napas oleh karena atresia koana
bilareral atau fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol
ke nasofaring. Pernapasan cuping hidung menunjukkan adanya
gangguan pernapasan (Rennie, 2005).
- Mulut
Bibir, gusi, langit-langit utuh dan tidak ada bagian yang
terbelah, nilai kekuatan hisap bayi dengan memasukkan satu jari
yang menggunakan sarung tangan kedalam mulut, raba langit-
langit, bayi akan mengisap kuat jari pemeriksa.
BBL jarang rnempunyai gigi. Bila ada biasanya pada gigi seri
bawah, jarang di tempat lain. Gigi ini jarang sekali rontok dan akan
lepas sendiri sebelurn gigi susu tumbuh. Gigi pada BBL biasanya
dijumpai pada sindrom Ellis-van Creveld, sindrorn Hallerrnann-
Strief dan sindrorn lain.
- Dada dan payudara
Pada respirasi normal, dinding dada bergerak bersama
dengan dinding perut. Apabila terdapat gangguan pernapasan,
terlihat pernapasan yang paradoksal dan retraksi pada inspirasi.
Gerakan dinding dada harus simetris. Bila tidak, pikirkan
kemungkinan pneumotoraks, paresis diafragma atau hernia
diafragmatika (Sniderman, 2005).
Kelenjar payudara BBL baik pada wanita atau lelaki oleh
karena pengaruh hormon ibu kadangkala tampak membesar dan
seringkali disertai dengan sekresi air susu.' Keadaan ini tidak perlu
dikhawatirkan kecuali terdapat tanda-tanda peradangan (Rennie,
2005).
- Perut
Perut bayi datar, teraba lemas, tali pusat tidak ada
perdarahan, pembengkakan, nanah, bau yang tidak enak pada tali
pusat atau kemerahan disekitar tali pusat.
Dinding perut BBL lebih datar dan pada dinding dada. Bila
perut sangat cekung, pikirkan kemungkinan hernia diafragmatika.
Abdomen yang membuncit mungkin disebabkan hepato/
slenomegali atau tumor lainnya ataupun cairan di dalam rongga
perut. Bila perut bayi kembung teliti kemungkinan enterokolitis
nekrotikans, perforasi usus atau ileus. Perhatikan adanya
gasrroskisis, ekstrofia vesikalis, omfalokel, atau duktus
omfaloenterikus yang persisten, Omfalokel perlu dibedakan dari
gastroskisis yang disebabkan karena kegagalan dinding perut
untuk menutup akibat defek pada m. rektus abdominis. Kelainan
bawaan lain yang perlu diperhatikan adalah sindrorn Prune Belly.
Dinding abdomen masih lemah terutama pada bayi prematur (Stoll,
2004).
Trauma pada abdomen oleh karena proses kelahiran yang
sulit, misalnya letaksungsang, dapat mengakibatkan perdarahan
hati, limpa, atau kelenjar adrenal.
- Punggung dan tulang belakang
Kuat terlihat utuh, tidak teraba lubang dan benjolan pada
tulang belakang.
- Ekstremitas
Jumlah jari, posisi kaki baik atau bengkok kedalam/keluar,
gerakan ekstremita simetris atau tidak.
- Anus
Pemeriksaan anus bukan hanya untuk mengetahui ada
tidaknya atresia ani melainkan juga untuk mengetahui posisinya.
Kadang-kadang fistula yang besar dianggap sebagai anus yang
normal. Tetapi apabila diperhatikan maka akan kelihatan bahwa
fistula terletak di depan atau di belakang anus yang normal.
Pengeluaran mekonium biasanya terjadi dalam 24 jam
pertama. Apabila setelah 48 jam mekonium belum juga keluar,
pikirkan kemungkinan meconium plug syndrome, megakolon, atau
obstruksi saluran pencernaan. Mekonium yang keluar in utero
pada bayi yang letak kepala adalah salah satu tanda gawat janin.
Bila terdapat darah dalam mekonium perlu dibedakan apakah
darah berasal dari bayi atau dari ibu yang tertelan oleh bayi.
Anus imperforata tidak selalu mudah dilihat; kadangkala
diperlukan pemeriksaan dengan memasukkan kelingking atau pipa
ke dalarn rektum, atau dengan perneriksaan radiologik, Lekukan
atau lipatan kulit yang tidak teratur sering ditemukan di garis
tengah sakrokoksigeal yang mungkin dikacaukan dengan sinus
pilonidal.
- Genetalia
Bayi perempuan: Pada bayi perempuan cukup bulan labia
minora tertutup oleh labia mavora, dan ini adalah salah satu kriteria
untuk menilai usia keharnilan BBL Lubang uretra terpisah dari
lubang vagina, bila hanya terdapat satu lubang berarti ada
kelainan. Kadang-kadang tampak sekret yang berdarah dari
vagina, hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon ibu ( withdrawal
bleeding).
Bayi laki-laki: Pada bayi lelaki sering terdapat fimosis. Ukuran
penis bayi berkisar antara 3· 4 cm (panjang) clan 1-1,3 cm (lebar).
Hipospadia adalah kelainan yang ridak jarang diternukan, yang
dapat berupa defek di bagian ventral ujung penis saja atau berupa
defek sepanjang penisnya. Epispadia yaitu defek pada dorsum
penis, lebih jarang ditemukan, dan merupakan varian ekstrofia
kandung kencing.
Skrotum bayi cukup bulan biasanya mempunyai banyak
rugae, Hidrokel seringkali ditemukan dan harus dibedakan dari
hernia inguinalis. Testis biasanya sudah turun ke dalam skrotum
pada bayi cukup bulan. Pada bayi kurang bulan, tidak jarang
terdapar kriptorkismus, Torsi testis dapac terjadi in utero dan dapat
dilihat pada saat lahir berupa testis yang membesar dan keras.
Kadang-kadang sulit menentukan jenis kelamin BBL. Misalnya
pada bayi perempuan terdapat klitoris yang besar dan labia
mayoranya berfusi serta berpigmen banyak, atau pada bayi lelaki
dengan penis kecil dan hipospadia serta skrotum terpisah. Dalam
keadaan ini perlu perneriksaan kromatin seks atau kromosom seks
Trauma di daerah genitalia eksterna seringkali ditemukan
pada kelahiran sungsang yang dapat berupa perdarahan ke dalam
rongga skrotum atau testis. Ereksi pada BBL merupakan hal yang
biasa, Kira-kira 95% BBL buang air kecil dalam waktu 24 jam.
Kadang-kadang BBL buang air kecil pada saat atau segera
sesudah lahir dan perlu dicatat (Stoll, 2004).
- Menilai cara : Meminta ibu menyusui, kepala dan badan
menyusui dalam garis lurus, wajah bayi menghadap
payudara. Ibu mendekatkan bayi ke tubuhnya,
bibir bawah melengkung keluar, sebagian besar
aerola berada di mulut bayi, mengisap dalam
dan pelan kadang disertai berhenti sesar
- Reflek
- Berkedip: pengukuran dapat dilakukan dengan cara
menyorotkan cahaya kemata bayi, hasil temuan dalam kondisi
normal apabila dijumpai pada tahun pertama sedangkan
kondisi patologis; jika tidak ada, menunjukan kebutaan
- Reflek glabella: ketuk daerah pangkal hidung secara perlahan-
lahan dengan menggunakan jari telunjuk pada saat mata
terbuka. Bayi akan mengedipkan mata pada 4-5 ketukan
pertama.
- Reflek hisap: benda menyentuh bibir disertai reflek menelan.
Tekanan mulut bayi pada langit bagian dalam gusi atas timbul
isapan yang kuat dan cepat. Dilihat pada bayi menyusui.
- Reflek mencari (rooting): bayi akan menoleh ke arah benda
yang mendekati/menyentuh pipinya
- Reflek genggam (Palmar grap): meletakkan jari telunjuk pada
palmar, normalnya bayi akan menggenggam dengan kuat
- Reflek babinski: gores pada telapak kaki, dimulai tumit, gores
sisi lateral telapak kaki ke arah atas kemudian gerakkan jari
sepanjang telapak kaki bayi akan menunjukkan repon berupa
semua jari kaki hyperekstensi dengan ibu jari dorsofleki
dijumpai sampai usia 2tahun, kondisi patologis ditemukan
apabila jari kaki mengembang setelah usia 2 tahun, merupakan
tanda lesi ekstra pyramidal.
- Reflek moro: timbulnya pergerakan tangan yang simetris
apabila kepala tiba-tiba digerakan atau dikejutkan dengan cara
bertepuk tangan berupa Lengan ekstensi, jari mengembang,
kepala mendongak ke belakang, tungkia sedikit ekstensi,
lengan kembali ke tenggah dengan tangan menggenggam,
tulang belakang dan ekstremitas bawah eksternsi, lebih kuat
selama 2 bulan dan menghilang pada usia 3-4 bulan. Temuan
patologis didapati tanda berupa: Refleks yang menetap lebih
dari 4 bulan menunjukkan kerusakan otak, respon tidak simetris
adanya hemiparesis, fraktur klavikula atau cedera pleksus
barchialis, tidak ada respon ekstremitas bawah adanya
dislokasi pinggul atau cedera medulla spinalis.
- Tonic neck pemeriksaan dilakukan dengan Menolehkan kepala
bayi dengan cepat ke satu sisi, kondisi normal Bayimelakukan
perubahan posisi jika kepala ditolehkan ke satu sisi, lengan dan
tungkai ekstensi kearah sisi putaran kepala dan fleksi pada sisi
yang berlawanan, normalnya refleks ini tidak terjadi setiap
kepala di tolehkan, tampak pada usia kira-kira 2 bln dan
menggilang pada usia 12 bulan. Kondisi tidak normal jika
respon terjadi setiap kali kepala ditolehan, jika menetap
menunjukkan adanya kerusakan serebral mayor.
- Reflek kaget/startle: pemeriksaan dilakukan dengan bertepuk
tangan dengan keras, reaksi normal bayi akan mengekstensi
dan memfleksi lengan dalam merespon terhadap suara keras,
tangan tetap rapat, refleks ini akan menghilang pada usia 4
bulan. Jika tidak adanya refleks menunjukkan adanya
gangguan pendengaran.
(Alifah, 2017 dan Marmi, 2015)
Pemeriksaan Usia kehamilan
 Grafik lubschenco klasifikasi
neonatus dari pertumbuhan
intrauterin dan usia kehamilan
(Abbott Nutritions, 2008)
 Ballard skor (ballard, 1991)
1) Penilaian Maturitas
Neuromuskular
a) Postur
Tonus otot tubuh
tercermin dalam postur
tubuh bayi saat istirahat
dan adanya tahanan saat
otot diregangkan. Ketika
pematangan berlangsung,
berangsur-angsur janin
mengalami peningkatan
tonus fleksor pasif dengan arah sentripetal, dimana ekstremitas bawah
sedikit lebih awal dari ekstremitas atas. Pada awal kehamilan hanya
pergelangan kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi bersamaan dengan
pergelangan tangan. Pinggul mulai fleksi, kemudian diikuti dengan
abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi prematur tonus pasif ekstensor
tidak mendapat perlawanan, sedangkan pada bayi yang mendekati matur
menunjukkan perlawanan tonus fleksi pasif yang progresif.
Untuk mengamati postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa
menunggu sampai bayi menjadi tenang pada posisi nyamannya. Jika bayi
ditemukan terlentang, dapat dilakukan manipulasi ringan dari ekstremitas
dengan memfleksikan jika ekstensi atau sebaliknya. Hal ini akan
memungkinkan bayi menemukan posisi dasar kenyamanannya. Fleksi
panggul tanpa abduksi memberikan gambaran seperti posisi kaki kodok.
b) Square Window
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap
peregangan ekstensor memberikan hasil sudut fleksi pada pergelangan
tangan. Pemeriksa meluruskan jarijari bayi dan menekan punggung
tangan dekat dengan jari-jari dengan lembut. Hasil sudut antara telapak
tangan dan lengan bawah bayi dari preterm hingga posterm diperkirakan
berturut-turut > 90 °, 90 °, 60 °, 45 °, 30 °, dan 0 °
c) Arm Recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan
mengukur sudut mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan
ekstensikan. Arm recoil dilakukan dengan cara evaluasi saat bayi
terlentang. Pegang kedua tangan bayi, fleksikan lengan bagian bawah
sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan kedua lengan dan
lepaskan.Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan. Skor 0: tangan tetap
terentang/ gerakan acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180 °, Skor 2: fleksi
parsial 110-140 °, Skor 3: fleksi parsial 90-100 °, dan Skor 4: kembali ke
fleksi penuh
d) Popliteal Angle
Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut
dengan menguji resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi. Dengan
bayi berbaring telentang, dan tanpa popok, paha ditempatkan lembut di
perut bayi dengan lutut tertekuk penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi
ini, pemeriksa memegang kaki satu sisi dengan lembut dengan satu
tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan yang lain.
Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini dapat
mengganggu interpretasi. Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi
pasti terhadap ekstensi. Ukur sudut yang terbentuk antara paha dan betis
di daerah popliteal. Perlu diingat bahwa pemeriksa harus menunggu
sampai bayi berhenti menendang secara aktif sebelum melakukan
ekstensi kaki. Posisi Frank Breech pralahir akan mengganggu manuver
ini untuk 24 hingga 48 jam pertama usia karena bayi mengalami kelelahan
fleksor berkepanjangan intrauterine. Tes harus diulang setelah pemulihan
telah terjadi.
e) Scarf Sign
Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi
berbaring telentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah
tubuh dan mendorong tangan bayi melalui dada bagian atas dengan satu
tangan dan ibu jari dari tangan sisi lain pemeriksa diletakkan pada siku
bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu
harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus dan
amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada
lembar kerja, yakni, penuh pada tingkat leher (-1); garis aksila
kontralateral (0); kontralateral baris puting (1); prosesus xyphoid (2); garis
puting ipsilateral (3); dan garis aksila ipsilateral (4).
f) Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul
dengan memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior
fleksor pinggul. Dengan posisi bayi terlentang lalu pegang kaki bayi
dengan ibu jari dan telunjuk, tarik sedekat mungkin dengan kepala tanpa
memaksa, pertahankan panggul pada permukaan meja periksa dan amati
jarak antara kaki dan kepala serta tingkat ekstensi lutut ( bandingkan
dengan angka pada lembar kerja). Penguji mencatat lokasi dimana
resistensi signifikan dirasakan. Hasil dicatat sebagai resistensi tumit
ketika berada pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting
baris (2); daerah pusar (3); dan lipatan femoralis (4).
2) Penilaian Maturitas Fisik
a. Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur
intrinsiknya bersamaan dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan
pelindung, yaitu vernix caseosa. Oleh karena itu kulit menebal, mengering
dan menjadi keriput dan / atau mengelupas dan dapat timbul ruam selama
pematangan janin. Fenomena ini bisa terjadi dengan kecepatan berbeda-
beda pada masing-masing janin tergantung pada pada kondisi ibu dan
lingkungan intrauterin. Sebelum perkembangan lapisan epidermis
dengan stratum corneumnya, kulit agak transparan dan lengket ke jari
pemeriksa. Pada usia perkembangan selanjutnya kulit menjadi lebih
halus, menebal dan menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang
menghilang menjelang akhir kehamilan. pada keadaan matur dan pos
matur, janin dapat
mengeluarkan
mekonium dalam
cairan ketuban. Hal
ini dapat
mempercepat
proses
pengeringan kulit,
menyebabkan
mengelupas,
pecah-pecah,
dehidrasi, sepeti
sebuah perkamen.
b. Lanugo
Lanugo adalah
rambut halus yang
menutupi tubuh
fetus. Pada
extremeprematurity kulit janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo
mulai tumbuh pada usia gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya
sangat banyak, terutama di bahu dan punggung atas ketika memasuki
minggu ke 28. Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian
bawah. Daerah yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan dengan
maturitasnya dan biasanya yang paling luas terdapat di daerah
lumbosakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi
lanugo. Variasi jumlah dan lokasi lanugo pada masing-masing usia
gestasi tergantung pada genetik, kebangsaan, keadaan hormonal,
metabolik, serta pengaruh gizi. Sebagai contoh bayi dari ibu dengan
diabetes mempunyai lanugo yang sangat banyak. Pada melakukan
skoring pemeriksa hendaknya menilai pada daerah yang mewakili jumlah
relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas dan bawah dari punggung bayi.
c. Permukaan Plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini
kemungkinanberkaitan dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan.
Bayi dari ras selain kulit putih mempunyai sedikit garis telapak kaki lebih
sedikit saat lahir. Di sisi lain pada bayi kulit hitam dilaporkan terdapat
percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya garis pada
telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun demikian penialaian
dengan menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis
tertentu. Bayi very premature dan extremely immature tidak mempunyai
garis pada telapak kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi
tersebut berdasarkan permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang
dari ujung jari hingga tumit. Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor
-2, untuk jarak antara 40 hingga 50 mm diberikan skor -1.
d. Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat
stimulasi esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi
yang diterima janin. Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada
atau tidaknya bintik-bintik akibat pertumbuhan papila Montgomery.
Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah areola dengan
ibu jari dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam milimeter 9.
e. Mata/Telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring
perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri
atas palpasi ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga
ke arah wajah kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan
kembalinya daun telinga ketika dilepaskan ke posisi semulanya. Pada
bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika dilepaskan.
Pemeriksaan mata pada intinya menilai kematangan berdasarkan
perkembangan palpebra. Pemeriksa berusaha membuka dan
memisahkan palpebra superior dan inferior dengan menggunakan jari
telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely premature palpebara akan
menempel erat satu sama lain. Dengan bertambahnya maturitas palpebra
kemudian bisa dipisahkan walaupun hanya satu sisi dan meningggalkan
sisi lainnya tetap pada posisinya. Hasil pemeriksaan pemeriksa kemudian
disesuaikan dengan skor dalam tabel. Perlu diingat bahwa banyak
terdapat variasi kematangan palpebra pada individu dengan usia gestasi
yang sama. Hal ini dikarenakan terdapat faktor seperti stres intrauterin
dan faktor humoral yang mempengaruhi perkembangan kematangan
palpebra.
f. Genital (Pria)
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam
scrotum kurang lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun
mendahului testis kanan yakni pada sekitar minggu ke 32. Kedua testis
biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis bagian atas atau bawah
pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit
skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae Testis dikatakan telah
turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona berugae. Pada
nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut, dan kadang
belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus
matur hingga posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan dapat
menyentuh kasur ketika berbaring. Pada cryptorchidismus scrotum pada
sisi yang terkena kosong, hipoplastik, dengan rugae yang lebih sedikit jika
dibandingkan sisi yang sehat atau sesuai dengan usia kehamilan yang
sama.
g. Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus
harus diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari
garis horisontal. Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia
minora dan klitoris tampak lebih menonjol sedangkan aduksi
menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia majora 9. Pada neonatus
extremely premature labia datar dan klitoris sangat menonjol dan
menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas fisik, klitoris
menjadi tidak begitu menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol.
Mendekati usia kehamilan matur labia minora dan klitoris menyusut dan
cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar. Labia majora
tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada nutrisi
intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia majora
menjadi besar pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang
menyebabkan labia majora cenderung kecil meskipun pada usia
kehamilan matur atau posmatur dan labia minora serta klitoris cenderung
lebih menonjol.
3.4.1.2 Interpretasi data dasar
Intepretasi data dasar merupakan rangkaian menghubungkan data
yang diperoleh dengan konsep teori, prinsip relevan atau mengetahui
kesehatan pasien. Pada langkah ini data diintepretasikan menjadi
diagnosa, masalah, kebutuhan (Varney, 2010).
1. Diagnosa aktual
Dx: Neonatus (kurang/cukup/lebih bulan), kurang/sesuai/besar
masa kehamilan usia…jam/hari
Diagnosa neonatus diambil berdasarkan usia bayi kurang dari 28 hari,
kurang/cukup/lebih bulan diambil dari skor ballard dan
kurang/sesuai/besar masa kehamilan diambil berdasarkan grafik
luschenco
2. Masalah: berat lahir rendah, hipotermi
3. Kebutuhan: termoregulasi, imunisasi
3.4.1.3 Identifikasi Masalah dan Diagnosa Potensial
Langkah ini diambil berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah
ditemukan berdasarkan data yang ada kemungkinan menimbulkan
keadaan yang gawat.
Identifikasi adanya diagnosa atau masalah potensial yang dapat
muncul dan diagnosa atau masalah yang sudah ada sebelumnya dalam
hal ini sikap waspada dan antisipasi bidan sangat diperlukan bahkan jika
bisa mencegah lebih dahulu serta siap untuk menghadapi kemungkinan
yang dapat timbul (Ambarwati, 2010). Beberapa diagnosa/masalah
potensial yang mungkin ditemukan pada BBL adalah:
1. Hipoksia jaringan
2. Hipoksia neural
3. Ikterus
4. Diare
5. Infeksi (Kemenkes, 2013)
3.4.1.4 Identifikasi Kebutuhan dan Tindakan Segera
Pada pelaksanaannya, bidan kadang dihadapkan pada beberapa
situasi yang darurat, yang menuntut bidan harus segera melakukan
tindakan penyelamatan terhadap pasien. Kadang pula bidan dihadapkan
pada situasi pasien yang memerlukan tindakan segera padahal sedang
menunggu instruksi dokter, bahkan mungkin juga situasi pasien yang
memerlukan konsultasi tim kesehatan lain. Di sini, bidan sangat dituntut
kemampuannya untuk dapat selalu melakukan evaluasi keadaan pasien
agar asuhan yang diberikan tepat dan aman.
 Pada kasus bayi baru lahir dengan asfiksia memerlukan tindakan
segera yaitu resusitasi.
 Menangani gangguan napas pada penyakit sangat berat atau infeksi
bakteri berat. Posisikan kepala bayi setengah tengadah, jika perlu
bahu diganjal dengan gulungan kain. Bersihkan jalan napas dengan
menggunakan alat pengisap lendir. Jika mungkin, berikan oksigen
dengan kateter nasal atau nasal prong dengan kecepatan 0.5 liter per
menit. Jika terjadi henti napas (apneu), lakukan resusitasi.
 OGTJika bayi masuk klasifikasi dehidrasi berat, ada fasilitas dan
kemampuan untuk pemberian cairan IV, maka: Pasang jalur IV,
Berikan cairan IV Ringer Laktat (jika tidak tersedia, berikan NaCl 0,9%)
sebanyak 30 ml/kgBB selama 1 jam (10 tetes makro/kg BB/menit atau
30 tetes mikro/kg BB/menit). Evaluasi setiap 1 jam : Bila membaik,
RUJUK SEGERA dengan meneruskan cairan IV 70 ml/kgBB selama 5
jam (5 tetes makro/kg BB/menit atau 14 tetes mikro/kg BB/menit). Bila
belum membaik, nadi masih lemah, ulangi lagi 30 ml/kgBB/jam (10
tetes makro/kg BB/menit atau 30 tetes makro/kg BB/menit). Lakukan
evaluasi 1 jam : Bila membaik, RUJUK SEGERA dengan meneruskan
pemberian cairan IV 70 ml/kgBB selama 5 jam (5 tetes mikro/kg
BB/menit atau 14 tetes mikro/kg BB/menit). Bila belum membaik,
RUJUK SEGERA dengan memberikan cairan IV dengan tetesan lebih
cepat sampai teraba nadi lebih kuat.
3.4.1.5 Intervensi
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan
langkah sebelumnya. Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan
pertimbangan yang tepat, meliputi pengetahuan, teori up to date, serta
divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak
diinginkan oleh pasien. Dalam menyusun perencanaan, sebaiknya pasien
dilibatkan karena pada akhirnya pengambilan keputusan dilaksanakannya
suatu rencana asuhan ditentukan oleh pasien sendiri. Untuk menghindari
perencanaan asuhan yang tidak terarah, dibuat terlebih dahulu pola pikir
dengan menetukan tujuan tindakan yang akan dilakukan, meliputi sasaran
dan target hasil yang akan dicapai; dan menentukan rencana tindakan
yang sesuai dengan masalah dan tujuan yang akan dicapai.
Dx : Neonatus (kurang/cukup/lebih bulan), kurang/sesuai/besar
masa kehamilan usia…jam/hari
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ......
diharapkan bayi baru lahir dalam keadaan baik dan sehat
Kriteria : Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya
pernafasan serta mencegah hipotermi, hipokglikemia dan
infeksi. Untuk terlaksananya perawatan bayi baru lahir
dengan segera dan tepat.
Intervensi Asuhan Kebidanan pada Kunjungan Neonatus (KN) 1:
1. Fasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada keluarga klien!
R/ Salah satu hak klien dan atau keluarga klien adalah mengetahui
hasil pemeriksaan terhadap dirinya.
2. Amati pernapasan, warna kulit dan aktifitas!
R/ adaptasi bayi baru lahir perlu dipantau 24 jam pertama setelah lahir.
3. Pertahankan suhu tubuh bayi!
R/ kehilangan suhu sangat cepat terjadi pada bayi, karena adaptasi
bayi masih rentan terhadap kehilangan suhu. Mencegah kehilangan
panas dapat dilakukan dengan: membuat ruang bersalin yang hangat,
mengeringkan tubuh bayi tanpa membersihkan verniks, letakkan bayi
diatas dada ibu/perut ibu agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi, IMD,
gunaan pakaian yang sesuai untuk mencegah kehilangan panas,
jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir, rawat
gabung, resusitasi dalam lingkungan yang hangat, transportasi
hangat, pelatihan untuk petugah kesehatan dan konseling untuk
keluarga (Kemenkes, 2010)
4. Lakukan pemotongan dan perawatan tali pusat!
R/ tali pusat perlu dijaga sterilitasnya, infeksi pada tali pusat
diakibatkan oleh perawatan yang kurang baik (Kemenkes, 2010).
5. Berikan vitamin K!
R/ Karena sistem pembekuan darah pada bayi baru lahir belum
sempurna, maka semua bayi akan berisiko untuk mengalami
perdarahan tidak tergantung apakah bayi mendapat ASI atau susu
formula atau usia kehamilan dan berat badan pada saat lahir.
Perdarahan bisa ringan atau menjadi sangat berat, berupa perdarahan
pada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ataupun perdarahan
intrakranial (Kemenkes, 2010).
6. Berikan salep mata profilaksis pada bayi baru lahir!
R/ salep mata diberikan pada bayi baru lahir guna mencegah
terjadinya infeksi pada mata (Kemenkes, 2010).
7. Berikan imunisasi hepatitis 1 jam setelah suntik Vit. K/sebelum pulang!
R/ pencegahan penyakit hepatitis dapat dilakukan dengan suntik
hepatitis pada saat bayi baru lahir. Penularan Hepatitis pada bayi baru
lahir dapat terjadi secara vertikal (penularan ibu ke bayinya pada waktu
persalinan) dan horisontal (penularan dari orang lain). Dengan
demikian untuk mencegah terjadinya infeksi vertikal, bayi harus
diimunisasi Hepatitis B sedini mungkin. Penderita Hepatitis B ada
yang sembuh dan ada yang tetap membawa virus Hepatitis B didalam
tubuhnya sebagai carrier (pembawa) hepatitis. Risiko penderita
Hepatitis B untuk menjadi carrier tergantung umur pada waktu
terinfeksi. Jika terinfeksi pada bayi baru lahir, maka risiko menjadi
carrier 90%. Sedangkan yang terinfeksi pada umur dewasa risiko
menjadi carrier 5-10% (Kemenkes, 2010).
8. Ajari ibu dan keluarga seputar pendidikan kesehatan!
R/ Pengetahun seputar kesehatan menjadi salah satu cara
meningkatkan kesehatan klien. Pendidikan kesehatan yang diberikan
yaitu: tanda-tanda bahaya bayi, cara merawat bayi, pemberian ASI,
dan bounding attachment (Marmi, 2015).
9. Jadwalkan kunjungan ulang!
R/ Pemeriksaan rutin akan mampu mendeteksi lebih dini terhadap
masalah yang mungkin timbul pada bayi baru lahir.
3.4.1.6 Implementasi
Implementasi Asuhan Kebidanan pada Kunjungan Neonatus (KN) 1:
1. Memfasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada keluarga
klien
E/ ibu kooperatif selama pelayanan diberikan
2. Mengamati pernapasan, warna kulit dan aktifitas ada bayi baru lahi
E/ hasil tercatat pada lembar observasi
3. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan cara memakaikan baju dan
selimut atau melakukan kontak kulit ke kulit dengan ibu
E/ suhu tubuh bayi dalam batas normal
4. Memberikan vitamin K
E/ 1 mg/ 0,5 ml vitamin k telah disuntikan kepada bayi
5. Melakukan perawatan tali pusat!
E/ tali pusat dalam keadaan tertutup kasa steril
6. Memberikan imunisasi hepatitis 1 jam setelah suntik Vit. K/sebelum
pulang
E/ 0,5 ml vaksin hepatitis telah disuntkan
7. Mengajari ibu dan keluarga seputar pendidikan kesehatan
E/ 75% penjelasan yang diberikan dapat diulang kembali oleh klien
8. Menjadwalkan kunjungan ulang!
E/ ibu dapat mengulang kembali kapan tanggal kembalinya
3.4.1.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S : Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O : Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan
pendukung lainnya.
A : Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P : Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.

3.4.2 Asuhan Kebidanan Pada Kunjungan Neonatus 2 (hari ke3-7 setelah


lahir) dan Kunjungan Neonatus 3 (hari ke 8-28 setelah lahir)
3.4.2.1 Pengkajian data dasar
- Data subjektif
a. Alasan datang
b. Keluhan tentang bayinya
c. Riwayat prenatal
Anak keberapa, konsumsi jamu dan obat-obatan selama kehamilan
dapat mengakibatkan gangguan pada janin
d. Riwayat natal
Cara, waktu, tempat bersalin, kondisi bayi saat lahir (langsung
menangis /tidak) dan tindakan yang diberikan pada bayi jika ada.
Warna air ketuban (KEMENKES , 2010).
e. Riwayat post natal
Apakah pernah sakit, pengobatan. Kondisi tali pusat
f. Riwayat kesehatan Penyakit ibu yang mungkin berdampak pada bayi
(TBC, demam saat persalinan, KPD > 18 jam, hepatitis B atau C,
siphilis, HIV/AIDS, penggunaan obat) (kemenkes 2010). Diabetes
melitus dapat menyebabkan abortus, cacat bawaan, dsmatur, janin
besar, kematian neonatal, kelainan neurologis dan psikologis
kemudian hari. Toksoplasma dapat menyebabkan hidrosefalus, mikro
sefalus, kejang, retardasi mental dan ketulian. Rubella dapat
menyebabkan retardasi pertumbuhan, hiperbilirubinemia,
trombositopenia, hepatomegali dan retardasi mental (Alifah, 2017).
g. Riwayat psikososial
Kebutuhan dasar manusia adalah emosi dan kasih sayang, terutama
pada bayi baru lahir yang membutuhkan rasa aman (kasih sayang)
lebih besar dibandingkan dengan fase lainnya dalam kehidupan.
Dukungan dari keluarga, proses penerimaan keluarga dengan
menunjukkan kecintaan yang besar akan membantu menstimulasi
pertumbuhan anak (Irianti, 2017).
h. Pola pemenuhan kebutuhan seharii-hari
- Frekuensi bayi menyusu dan kemampuan menghisap
Normal nya bayi akan menyusu 2-3 jam sekali dalam sehari.
(Ramandey, 2017) Kondisi bayi malas menyusu dan
memuntahkannya perlu dikaji, karena kondisi tersebut merupakan
tanda bahaya pada bayi baru lahir yang memiliki penyakit atau
infeksi. Kesulitan dalam menyusui perlu dikaji, karena hal tersebut
merupakan masalah pada pemberian nutrisi bayi baru lahir.
Makanan/minuman yang diberikan selain ASI dapat mempengaruhi
sistem pencernaan bayi. (kemenkes, 2011)
- Eliminasi
Normal nya feses bayi berwarna kuning dan akan lebih mud pada
hari kelima setelah lahir. Dan BAK normal pada bayi baru lahir 6-8
kali sehari. Kedua hal ini merupakan salah satu tanda bayi cukup
ASI (Ramandey, 2017). Kondisi tinja berwarna pucat
mengindikaikan adanya ikterus pada bayi, terutama didukung
dengan warna kulit kuning (KEMENKES , 2010)
- Data objektif
Pemeriksaan fisik yang dilakukan Keadaan yang ditemukan
1. Lihat postur, tonus dan - Posisi tungkai dan tangan fleksi
aktivitas - Bayi sehat akan bergerak aktif
2. Keadaan umum bayi - letargi/tidak sadar, gelisah/rewel
3. Lihat kulit - Wajah, bibir dan selaput lendir,
dada harus berwarna merah muda
- Bila terdapat pustul kemungkinan
infeksi atau penyakit berat,
sedangkan bila dilakukan
pencubitan didaerah perut dan
kembali > 2 detik/sangat lambat
ada kemungkinan bayi dari diare
atau dehidrasi berat. Menilai
kondisi kuning pada kulit bayi.
4. Pernapasan dan tarikan - Frekuensi normal 40-60 kali
dinding dada kedalam permenit
ketika bayi sedang tidak - Tidak ada tarikan dinding dada
menangis kedalam yang kuat
- ≥ 60 kali/menit atau < 30 kali
permenit, disertai suara rintihan
dan tarikan dinding dada ke dalam
yang sangat kuat juga merupakan
tanda dari infeksi atau penyakit
berat pada bayi
5. Denyut jantung Frekuensi denyut jantung normal
(menggunakan stetoskop 120-160 kali permenit
setinggi apeks kordis)
6. Suhu suhu tubuh ≥ 37,50C atau < 35,5
menandakan adanya infeksi pada
bayi
7. Kepala - Bentuk kepala kadang asimetris
karena penyesuaian pada saat
persalinan dan umumnya hilang
dalam 48 jam
- Ubun-ubun besar rata atau tidak
menonjol, dapat sedikit menonjol
saat bayi menangis
8. Mata Tidak ada kotoran atau sekret
9. Mulut Bibir, gusi, langit-langit utuh
dan tidak ada bagian yang terbelah,
nilai kekuatan hisap bayi dengan
memasukkan satu jari yang
menggunakan sarung tangan
kedalam mulut, raba langit-langit,
bayi akan mengisap kuat jari
pemeriksa.

10. Perut dan tali pusat Perut bayi datar, teraba lemas, tali
pusat tidak ada perdarahan,
pembengkakan, nanah, bau yang
tidak enak pada tali pusat atau
kemerahan disekitar tali pusat
11. Punggung Kuat terlihat utuh, tidak teraba lubang
dan benjolan pada tulang belakang
12. Ekstremitas Hitung jumlah jari tangan dan kaki,
posisi kaki atau bengkok kedalam
attau keluar, gerakan ekstremtas
simetris atau tidak
13. Anus Mekonium sudahkeluar dalam 24jam
setelah lahir
14. Genetalia Bayi peremuan kadang terlihat cairan
vagina berwarna putih atau
kemerahan, bayi laki-laki terapat
lubang uretra pada ujung penis, bayi
sudah buang air kecil dalam 24 jam
setelah lahir
15. Antopometri Berat lahir 2,5-4 kg, dalam minggu
Timbang pertama turun dulu kemudian naik
Panjang badan kembali pada usia 2 minggu
Lingkar kepala kemudian akan mencapai berat
lahirnnya. Penurunan maksimal
mencapa 10% pada bayi cukup bulan
dan 15% pada bayi kurang bulan
Panjang lahir normal 48-52 cm
Lingkar kepala normal 33-37 cm
16. Menilai cara menyusui Lakukan penilaian pada posisi ibu
menyusui (seluruh badan bayi
tersangga dengan baik, kepala dan
badan bayi lurus, badan bayi
menghadap ke dada ibu, badan bayi
dekat ke ibu), bayi melekat dengan
sempurna (dagu bayi menempel
payudaa, mulut terbuka lebar, bibir
bawah membuka keluar, areola
tampak lebih banyak dibagian atas
dari pada dibawah mulut), serta
perhatikan apakah bayi menghisap
dalam, teratur, diselingi istirahat,
hanya terdengar suara menelan.

17. Menilai umur kehamilan Ballard skor dan grafik lubschenco


(kemenkes, 2016. Kemenkes, 2011. IDAI, 2008)
3.4.2.2 Interpretasi data dasar
Intepretasi data dasar merupakan rangkaian menghubungkan data
yang diperoleh dengan konsep teori, prinsip relevan atau mengetahui
kesehatan pasien. Pada langkah ini data diintepretasikan menjadi
diagnosa, masalah, kebutuhan (Varney, 2010).
Diagnosa aktual
Dx: Neonatus (kurang/cukup/lebih bulan), kurang/sesuai/besar
masa kehamilan usia…jam/hari
Diagnosa neonatus diambil berdasarkan usia bayi kurang
dari 28 hari, kurang/cukup/lebih bulan diambil dari skor
ballard dan kurang/sesuai/besar masa kehamilan diambil
berdasarkan grafik luschenco
Masalah: berat lahir rendah, hipotermi
Kebutuhan: termoregulasi, imunisasi
3.4.2.3 Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
Beberapa diagnosa/masalah potensial yang mungkin ditemukan
pada BBL adalah: Ikterus berat, Diare dehidras berat, Infeksi bakteri
sangat berat atau penyakit sangat berat (Kemenkes, 2010)
3.4.2.4 Identifikasi kebutuhan segera
 Jika terdapat ikterus berat lakukan pencegahan agar gula darah tidak turun
dengan meminta ibu menyusui bayinya atau dapat membuat air gula 5%
dengan cara melarutkan gula sebanyak 1 sendok takar (5 gram) ke dalam
½ gelas air matang (100 ml aduk sampai rata), menjaga bayi agar ttap
hangat dan lakukan rujukan segera
 Berikan terapi pra rujukan jika bayi masuk klasifikasi dehidrasi berat, ada
fasilitas dan kemampuan untuk pemberian cairan IV, maka: Pasang jalur
IV, Berikan cairan IV Ringer Laktat (jika tidak tersedia, berikan NaCl 0,9%)
sebanyak 30 ml/kgBB selama 1 jam (10 tetes makro/kg BB/menit atau 30
tetes mikro/kg BB/menit). Evaluasi setiap 1 jam : Bila membaik, RUJUK
SEGERA dengan meneruskan cairan IV 70 ml/kgBB selama 5 jam (5 tetes
makro/kg BB/menit atau 14 tetes mikro/kg BB/menit). Bila belum membaik,
nadi masih lemah, ulangi lagi 30 ml/kgBB/jam (10 tetes makro/kg BB/menit
atau 30 tetes makro/kg BB/menit). Lakukan evaluasi 1 jam : Bila membaik,
RUJUK SEGERA dengan meneruskan pemberian cairan IV 70 ml/kgBB
selama 5 jam (5 tetes mikro/kg BB/menit atau 14 tetes mikro/kg BB/menit).
Bila belum membaik, RUJUK SEGERA dengan memberikan cairan IV
dengan tetesan lebih cepat sampai teraba nadi lebih kuat.
 Berikan antibiotik dosis pertama intramuskular pada bayi muda sakit
dengan klasifikasi Penyakit Sangat Berat atau Infeksi Bakteri Berat.
Antibiotik pilihan pertama adalah Ampisilin dan Gentamisin. Antibiotik
pilihan kedua adalah Penisilin Prokain dan Gentamisin (Kemenkes, 2011)
3.4.2.5 Intervensi
Dx : Neonatus (kurang/cukup/lebih bulan), kurang/sesuai/besar
masa kehamilan usia…jam/hari
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ......
diharapkan bayi baru lahir dalam keadaan baik dan sehat
Kriteria : Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya
pernafasan serta mencegah hipotermi, hipokglikemia dan
infeksi. Untuk terlaksananya perawatan bayi baru lahir
dengan segera dan tepat.
Intervensi Asuhan Kebidanan pada Kunjungan Neonatus (KN) 2 & 3:
1. Fasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada keluarga klien!
R/ Salah satu hak klien dan atau keluarga klien adalah mengetahui
hasil pemeriksaan terhadap dirinya.
2. Jelaskan cara mengatasi masalah klien!
R/ KIE menjadi salah satu cara dalam mengatasi masalah klien, seperti
masalah pemberian ASI seperti bayi banyak menangis atau rewel, bayi
tidak tidur sepanjang malam, bayi menolak menyusu, bingung puting,
bayi prematur dan BBLR, bayi kuning, bayi sakit, sumbing, bayi
kembar, ibu khawatir bahwa ASI-nya tidak cukup untuk bayi atau ibu
mengatakan bahwa air susunya tidak keluar (ekayanthi, 2017).
3. Ajari ibu dan keluarga seputar pendidikan kesehatan!
R/ Pengetahun seputar kesehatan menjadi salah satu cara
meningkatkan kesehatan klien. Pendidikan kesehatan yang diberikan
yaitu: tanda-tanda bahaya bayi, cara merawat bayi, pemberian ASI,
mengajari ibu cara meningkatkan produksi ASI, memerah asi, merawat
payudaa, menyimpan ASI perah, cara memberika ASI setelah
disimpan, menjaga kehangatan bayi (kemenkes, 2010)
4. Ingatkan orangtua untuk mengurus akta kelahiran bayinya!
R/ akta bayi berguna bagi keberlangsungan hidup bayi, seperti
mengurus sekolah, jaminan kesehatan dll. Syarat mengurus akta
adalah surat kelahiran yang bisa didapat dari tempat bayi dilahirkan.
Kriteria hasil: ibu berkomitmen akan melakukan segera mengurus akta
bayi setelah mendapat surat keterangan lahir (kemenkes, 2013).
5. Jadwalkan kunjungan ulang!
R/ Pemeriksaan rutin akan mampu mendeteksi lebih dini terhadap
masalah yang mungkin timbul pada bayi baru lahir. Tanda bahaya
pada bayi yang dapat dideteksi oleh orang tua adalah bayi tidak mau
menyusu, kejang-kejang, lemah, sesak nafas, merintih, tali pusat
kemerahan sampai dinding pertu, berbau atau bernanah,
demam/panas tinggi, mata bayi bernanah, diare/BAB cair lebih dari 3x,
kulit dan mata bayi kuning, tinja bayi bewarna pucat. Pada kunjungan
2-3 ibu sudah dapat diingatkan untuk melakukan kunjungan imunisasi
BCG dan polio 1 untuk anaknya, imunisai dapat dilakukan sebelum
bayi berusia 2 bulan (kemenkes, 1997).
3.4.2.6 Implementasi
Implementasi Asuhan Kebidanan pada Kunjungan Neonatus (KN) 2 & 3:
1. Memfasilitasi informasi seputar hasil pemeriksaan kepada klien.
E/ ibu dan keluarga kooperatif selama diberikan pelayanan
2. Menjelaskan cara mengatasi masalah klien.
E/ 75% informasi yang dijelaskan kepada ibu untuk menyelesaikan
masalahnya dapat diulang kembali
3. Mengajarkan ibu dan keluarga seputar pendidikan kesehatan.
E/ 75% penjelasan yang diberikan dapat diulang kembali oleh klien
4. Mengingatkan ibu untuk segera mengurus akta kelahiran anaknya
E/ ibu berjanji akan segera mengurusnya
5. Menjadwalkan kunjungan ulang apabila
 1 minggu lagi yaitu pada kunjungan neonatus 3
 Sebelum bayi berusia 2 bulan untuk imunisasi BCG dan Polio 1
 Apabila terdapat tanda bahaya pada bayi
E/ ibu berjanji akan kembali sebelum bayi berumur 2 minggu/bila ada
tanda bahaya dan jadwal imunisasi.
3.4.2.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S :Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A :Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P :Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.

3.5 Asuhan kebidanan pada akseptor KB


Tanggal pengkajian
Mengidentifikasi waktu dan tempat dimulainya
Jam pengkajian :
pelayanan
Tempat pengkajian
3.5.1 Pengkajian Data Dasar
a. Data Subyektif
1) Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan ibu saat ini atau yang menyebabkan klien datang
ke BPS seperti ingin menggunakan kontrasepsi atau keadaan yang paling
mengganggu klien selama penggunaan kontrasepsi (Amenorea/tidak
terjadi perdarahn/spotting, perdarahan) (Marmi, 2015).
2) Riwayat Menstruasi
 Hari Pertama haid terakhir; Hari pertama haid terakhir klien dapat
digunakan untuk acuan waktu memulai penggunaan KB baru,
memastikan tidak hamil, pemberian konseling penggunaan metode
barrier jika awal menggunakan pil/suntik KB diluar jadwal
 Siklus menstruasi; Gangguan pada siklus menstruasi klien dapat
mempengaruhi terjadinya gangguan reproduksi yang akan
mempengaruhi pemilihan kontrasepsi. Maka dari itu siklus menstruasi
yang dialami klien perlu dikaji, apakah teratur atau tidak dan berapa
hari siklus menstruasi klien. Normal 25-38 hari (±28 hari).
 Lama menstruasi; Untuk mengetahui lamanya menstruasi klien,
perkiraan jumlah perdarahan yang dialami klien (dihitung melalui
jumlah pembalut yang digunakan klien dalam 1 hari ketika menstruasi),
mengidentifikasi apakah ada kelainan lamanya menstruasi pada klien
atau tidak. Normal 3-8 hari.
 Keluhan terkait menstruasi; Untuk mengetahui adakah keluhan yang
dirasakan klien terkait menstruasi misalnya adakah nyeri haid, adakah
fluor albus (keputihan) yang berlebihan, adakah keputihan berwarna,
berbau, gatal untuk mengidentifikasi adakah infeksi menular pada
reproduksi klien sehingga dapat dilakukan penapisan sebelum
penggunaan KB.
3) Riwayat Keluarga Berencana
Yang perlu dikaji adalah apakah ibu pernah menjadi akseptor KB. Kalau
pernah, kontrasepsi apa yang pernah digunakan, berapa lama, keluhan
pada saat ikut KB (Muslihatun, 2009).
4) Riwayat Penyakit Sistemik
Riwayat kesehatan yang lalu ditanyakan untuk mengidentifikasi kondisi
kesehatan dan untuk mengetahui penyakit yang diderita dahulu seperti
hipertensi, diabetes, PMS, HIV/AIDS.
5) Riwayat Penyakit Keluarga
Dikaji dengan penyakit yang menurun dan menular yang dapat
memengaruhi kesehatan akseptor KB. Sehingga dapat diketahui penyakit
keturunan misalnya hipertensi, jantung, asma, demam dan apakah dalam
keluarga memiliki keturunan kembar, baik dari pihak istri maupun pihak
suami.
6) Pola kebiasaan sehari-hari
Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan pasien sehari-hari dalam
menjaga kebersihan dirinya dan bagaimana pola makanan sehari-hari
apakah terpenuhi gizinya atau tidak.
a) Pola Nutrisi; Mengetahui seberapa banyak asupan nutrisi pada
pasien.Dengan mengamati adakah penurunan berat badan atau tidak
pada pasien.
b) Pola Eliminasi; Untuk mengetahui BAB dan BAK berapa kali sehari
warna dan konsistensi.
c) Pola istirahat; Untuk mengetahui berapa lama ibu tidur siang dan
berapa lama ibu tidur pada malam hari.
d) Pola seksual; Untuk mengkaji berapa frekuensi yang dilakukan
akseptor dalam hubungan seksual.
e) Pola hygiene; Mengkaji frekuensi mandi, gosok gigi, kebersihan
perawatan tubuh terutama genetalia berapa kali dalam sehari-hari.
f) Aktivitas; Aktivitas akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah
atau adanya nyeri akibat penyakit-penyakit yang dialaminya.
7) Data Psikologis
Data psikososial untuk mengetahui pengetahuan dan respon ibu terhadap
alat kontrasepsi yang digunakan saat ini, bagaimana keluhannya,
respons suami dengan pemakaian alat kontrasepsiyang akan digunakan
saat ini, dukungan dari keluarga, dan pemilihan tempat dalam pelayanan
KB (Muslihatun dkk, 2009).
b. Data Obyektif
1) Pemeriksaan umum
Keadaan umum :Lemah, cukup, baik
Kesadaran :Composmentis, apatis, konfusi
Postur :Untuk mengetahui postur tubuh klien apakah
lordosis,kifosis atau skoliosis yang dapat
mempengaruhi persiapan persalina
Tekanan darah : ± 120/80 mmHg pada kondisi normal
Suhu :normalnya 36,5 – 37,50C,  380C dianggap tidak
normal dan ada tanda infeksi.
Nadi : 60 – 100 kali/menit.
Pernafasan : 16 – 24 kali/menit.
Berat badan :pada kontrasepsi hormonal, kenaikan BB merupakan
salah satu efek samping yang terkadang pada
sebagian klien merupakan masalah.
Tinggi badan :normalnya > 145 cm. Evaluasi terhadap BMI (body
mass index), apakah ibu mengalami overweigh
selama penggunaan kontrasepsi, ibu dengan BMI >30
kg/m2 akan lebih baik menghindari kontrasepsi
kombinasi.
2) Pemeriksaan fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan
klien serta tingkat kenyamanan fisik klien. Informasi dari hasil
pemeriksaan fisik dan anamnesis diolah untuk membuat keputusan
klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan
atau perawatan yang paling sesuai dengan kondisi klien.
a. Kepala
Mata :simetris, konjungtiva merah muda / pucat, sklera
putih atau tidak, fungsi penglihatan masih baik/tidak
Mulut/gigi :kebersihan, caries, adakah stomatitis, adakah
epulis, bibir pucat/tidak
b. Leher
Adakah pembesaran kelenjar tiroid, adakah bendungan vena
jugularis dan pembesaran kelenjar limfe
c. Dada/payudara
Kesimetrisan kedua payudara, kebersihan kedua payudara,
puting susu menonjol atau tidak, adakah hiperpigmentasi pada kedua
aerola mamae.
Palpasi : adakah asi, adakah massa atau pembesaran massa atau
kelenjar limfe, adakah cairan/rabas yang keluar dari puting.
d. Abdomen
Tidak tampak pembesaran, tidak tampak bekas luka, terdapat
hiperpigmentasi linea alba & nigra, terdapat striae livida, tidak teraba
massa/tumor dan nyeri tekan
e. Ekstremitas
Simetris/tidak, adakah oedema pada ekstremitas atas dan
bawah (+/+), adakah varises, kuku jari dan akral apakah pucat,
refleks patella (bila terdapat indikasi) dapat (+/-).
f. Genitalia dan anus
Genitalia eksterna
Untuk mengetahui apakah ada oedema pada vagina, adakah
varises, adakah pengeluaran lendir darah, adakah bekas luka jahitan
perineum, adakah pembengkakan pada kelenjar skene dan
bartholini. Untuk mencari adakan infeksi menular seksual pada klien
yang akan mempengaruhi pemilihan kontrasepsi.
g. Genitalia interna
Dilakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui adakah
pengeluaran cairan/lendir darah, adakah infeksi pada jalan lahir yang
akan mempengaruhi penapisan kontrasepsi AKDR.
Dilakukan untuk mengetahui adakah hemoroid pada anus yang
dapat mempengaruhi proses persalinan
3) Pemeriksaan Penunjang
PP test
3.5.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretasi Data Dasar)
Interpretasi data subyektif dan data obyektif yang telah diperoleh,
mengidentifikasi masalah, kebutuhan, dan diagnosa berdasarkan
interpretasi yang benar atas data yang dikumpulkan. Diagnosa kebidanan ini
dibuat sesuai standard nomenklatur kebidanan.
Dx :P............ Ab......... Akseptor KB .....................
Ds :diperoleh dari keterangan dan keluhan yang disampaikan
ibu secara langsung
Do :diperoleh dari hasil pemeriksaan secara keseluruhan yang
mengarah ke diagnosa.
Masalah :yang menyertai diagnosa dan keadaan pasien.
Kebutuhan :kebutuhan yang diberikan sesuai masalah yang ada dan
tidak harus segera dilakukan.
3.5.3 Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
Identifikasi diagnosa atau masalah potensial dibuat setelah
mengidentifikasi diagnosa atau masalah kebidanan yang berdasarkan data
ada kemungkinan menimbulkan keadaan yang gawat. Langkah ini
membutuhkan antisipasi dan bila mungkin dilakukan pencegahan.
3.5.4 Identifikasi kebutuhan segera
Pada tahap ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera, baik
tindakan konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan
kondisi klien.Tindakan bisa terapi yang dibutuhkan segera untuk mengatasi
masalah selama kehamilan.
3.5.5 Menyusun rencana asuhan/ intervensi
Pada langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya.
Informasi atau data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap rencana asuhan
harus disetujui oleh kedua belah pihak sehingga asuhan yang diberikan
dapat efektif karena sebagian dari asuhan akan dilaksanakan oleh klien.
Dx :P............ Ab......... Akseptor KB.........................
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan kebidanan ibu mendapatkan suntikan
KB 3 bulan dengan aman
Kriteria:
 Ibu mengerti penjelasan bidan, ibu dapat mengulang kembali
penjelasan bidan
 Kb yang diberikan sesuai dengan pilihan ibu
 Tidak tampak kemerahan di area suntikan
Intervensi:
 Jelaskan kondisi ibu saat ini!
R/ ibu akan merasa tenang setelah mengetahui kondisinya yang
mendukung dirinya menggunakan metode KB pilihannya sendiri.
 Berikan informasi KB menggunakan ABPK!
R/ ABPK merupakan alat bantu pemberian edukasi bagi pasien untuk
memilih kontrasepsi yang cocok digunakan untu dirinya sendiri
 Berikan KB sesuai dengan pillihan ibu!
R/ wanita memiliki hak dalam memilih, sedangkan bidan adalah
fasilitator wanita untuk membantu dalam pemilihan kontrasepsi yang
aman, nyaman dan cocok digunakan untuk wanita
3.5.6 Implementasi
Merupakan pelaksanaan dari rencana asuhan yang telah dibuat sebelumnya
secara menyeluruh dengan efisien dan aman.
3.5.7 Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan.
Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk SOAP.
S : Data Subyektif. Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O : Data Obyektif. Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A : Assessment. Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P : Penatalaksanaan. Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah dibuat.
Tempat, Tanggal

Ttd

Nama terang