Вы находитесь на странице: 1из 165

RENCANA STRATEGIS

BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL


TAHUN 2015-2019
(REVISI)

BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL


TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Sesuai amanat Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan


Kependudukan dan Pembangunan Keluarga pada Pasal 56 Ayat (1), Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memiliki tugas melaksanakan
Pengendalian Penduduk dan menyelenggarakan Keluarga Berencana. Kemudian untuk
melaksanakan tugas tersebut, pada Pasal 56 ayat (2) BKKBN mempunyai fungsi antara
lain a). perumusan kebijakan nasional; b). penetapan Norma, Standar, Prosedur, dan
Kriteria (NSPK); c). pelaksanaan advokasi dan koordinasi; d). penyelenggaraan
komunikasi, informasi, dan edukasi; e). penyelenggaraan pemantauan dan evaluasi; dan
f). pembinaan, pembimbingan, dan fasilitasi di Bidang Pengendalian Penduduk dan
penyelenggaraan Keluarga Berencana.

Dalam melaksanakan fungsi perumusan kebijakan nasional, BKKBN mengacu pada


Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahap III
periode tahun 2015-2019, dimana sasaran-sasaran yang harus dicapai dalam
Pembangunan Bidang Pengendalian Penduduk dan KB telah ditetapkan. Sasaran
RPJMN tersebut harus dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan dan strategi
implementasinya melalui berbagai output, indikator, komponen dan sub komponen
pada Rencana Strategis (Renstra) BKKBN tahun 2015-2019.

Mempertimbangkan berbagai isu strategis yang berkembang saat ini, khususnya


perubahan pendekatan dari money follow function menjadi money follow program, serta
perubahan pendekatan perencanaan pembangunan nasional yang holistik, tematik,
terintegrasi, dan spasial, maka perlu dilakukan beberapa penyesuaian pada Renstra
BKKBN 2015-2019 yang sebelumnya telah disusun dan ditetapkan melalui Peraturan
Kepala BKKBN Nomor: 212/PER/B1/2015 tanggal 11 Juni 2015. Lebih lanjut dalam
penyesuaiannya, BKKBN telah terlebih dahulu melakukan penyempurnaan pada
Strategy Map BKKBN wide dan BSC (Balanced Score Card) BKKBN. BSC BKKBN merupakan
salah satu alat untuk melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja di lingkungan BKKBN,
sehingga diharapkan berbagai indikator kinerja yang tertuang di dalam Renstra dapat
tercapai dengan optimal.

Revisi Renstra BKKBN 2015-2019 ini secara umum tidak merubah Sasaran Pembangunan
dan indikator-indikator utama yang telah ditetapkan dalam RPJMN 2015-2019. Revisi
lebih diarahkan untuk mempertajam strategi pelaksanaan Program Kependudukan, KB
dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) agar dapat diimplementasikan dengan lebih
efektif dan efisien, memiliki daya ungkit terhadap upaya pencapaian target/sasaran,
berkontribusi secara langsung terhadap upaya meningkatkan kualitas hidup manusia
Indonesia (Nawa Cita kelima), serta dapat selalu dipantau perkembangannya dan
dipertanggungjawabkan pelaksanaannya secara in-line dari RPJMN, Renstra, Rencana
Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja (Renja), Arsitektur dan Informasi Kinerja
(ADIK), sampai dengan Rencana Kerja Anggaran-Kementerian/Lembaga (RKA-K/L).

Berkenaan dengan adanya ketentuan baru dalam pemprograman dan penganggaran


berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang
mengamanatkan penerapan penganggaran berbasis kinerja, anggaran terpadu, dan

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 iii
Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM), maka revisi Renstra BKKBN 2015-2019
mengacu pada ketiga pendekatan tersebut. Selanjutnya, terkait dengan perubahan
kewenangan pemerintah sebagaimana tercantum dalam lampiran Undang-Undang
Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, BKKBN juga harus melakukan
beberapa penyesuaian pada Renstra.

Revisi Renstra BKKBN 2015-2019 ini telah melalui beberapa langkah penyempurnaan
dengan melakukan beberapa penyesuaian dan penajaman pada sasaran,
outcome/Output, kegiatan, IKK, Komponen dan Sub Komponen dengan melibatkan
seluruh komponen internal di lingkungan BKKBN. Selanjutnya dalam implementasinya
melalui Renja, ADIK dan RKA-K/L ke depan, diharapkan seluruh Unit Kerja di lingkungan
BKKBN dapat mengacu pada dokumen Renstra BKKBN 2015-2019 hasil revisi ini.

Akhirnya, dengan segala upaya dari seluruh jajaran BKKBN, kami berharap agar seluruh
target sebagaimana telah ditetapkan dalam dokumen Renstra BKKBN 2015-2019 ini
dapat tercapai sehingga akan menggambarkan suksesnya implementasi program
KKBPK secara utuh dan menyeluruh di semua tingkatan wilayah.

KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN


DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL,

Surya Chandra Surapaty

iv R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................................... iiii


DAFTAR ISI........................................................................................................................................ v
PERATURAN KEPALA BKKBN NOMOR 199 TAHUN 2016 .......................................... vi

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1


1.1. Kondisi Umum ............................................................................................... 1
1.2. Potensi dan Permasalahan ........................................................................ 3

BAB II. VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN STRATEGIS BKKBN ..................... 8
2.1. Visi ...................................................................................................................... 8
2.2. Misi ..................................................................................................................... 8
2.3. Tujuan BKKBN ................................................................................................ 9
2.4. Sasaran Strategis BKKBN ............................................................................ 9

BAB III. ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI KERANGKA REGULASI DAN


KELEMBAGAAN ....................................................................................................... 10
3.1. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional .................................................. 10
3.2. Arah Kebijakan dan Strategi BKKBN ...................................................... 11
3.3. Kerangka Regulasi ........................................................................................ 13
3.4. Kerangka Kelembagaan ............................................................................. 16

BAB IV. TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN .................................. 19


4.1. Target Kinerja ................................................................................................. 19
4.2. Kerangka Pendanaan .................................................................................. 22

BAB V. PENUTUP............................................................................................ 24

LAMPIRAN
Lampiran 1 : Matriks Rencana Strategis BKKBN ................................................ 25
Lampiran 2 : Matriks Kerangka Regulasi.............................................................. 36

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 v
PERATURAN
KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN
KELUARGA BERENCANA NASIONAL
NOMOR 199 TAHUN 2016
TENTANG
RENCANA STRATEGIS BADAN KEPENDUDUKAN DAN
KELUARGA BERENCANA NASIONAL TAHUN 2015 - 2019

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (2)


Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional dan ketentuan Pasal 3
ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-
2019, Kementerian/Lembaga melaksanakan program dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang
dituangkan dalam Rencana Strategis Kementerian/ Lembaga;
b. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Strategis Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2015-
2019, perlu menyesuaikan kebijakan anggaran yang
berorientasi pada program dan kegiatan prioritas guna
mencapai tujuan pembangunan nasional;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional tentang Rencana Strategis Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2015 -2019;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4286);
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 33,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4700);
4. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
161, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5080);
R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 vii
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2014 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga,
Keluarga Berencana dan Sistem Informasi Keluarga (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 319,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5614);
7. Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan
Ketujuh atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001
tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan
Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Kementerian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2013 Nomor 10);
8. Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2013 tentang Perubahan
Kedelapan atas Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga
Pemerintah Non Kementerian (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 11);
9. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 95);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA
BERENCANA NASIONAL TENTANG RENCANA STRATEGIS BADAN
KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL TAHUN
2015-2019.

Pasal 1
Rencana Strategis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Tahun 2015-2019 yang selanjutnya disebut Renstra BKKBN,
merupakan dokumen yang memuat gambaran tentang mandat,
tugas, fungsi dan kewenangan Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional serta peran, kondisi, tantangan, kebijakan,
strategi, program dan kegiatan yang dilengkapi dengan sasaran
strategis yang harus di capai serta indikator output, indikator
outcome, target capaian, pendanaan, dan Indikator Kinerja Utama
(IKU).

viii R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Pasal 2
Renstra BKKBN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 memuat
tentang :
a. Visi;
b. Misi;
c. Tujuan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional;
d. Sasaran Strategis Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional;
e. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional;
f. Arah Kebijakan dan Strategi Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional;
g. Kerangka Regulasi;
h. Kerangka Kelembagaan;
i. Target Kinerja; dan
j. Kerangka Pendanaan.

Pasal 3
Renstra BKKBN Tahun 2015-2019 sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1, tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Kepala Badan ini.

Pasal 4
Renstra BKKBN Tahun 2015-2019 sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 digunakan sebagai dasar sinkronisasi kebijakan dan integrasi
antara kegiatan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga dengan program dan kegiatan pemangku
kepentingan dan mitra kerja.

Pasal 5
Renstra BKKBN Tahun 2015-2019 disusun sebagai pedoman setiap
unit kerja di lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional dalam:

a. penyusunan Program Pengendalian Penduduk, Keluarga


Berencana dan Pembangunan Keluarga ditingkat nasional;
b. penyusunan Rencana Strategis Daerah yang harus
dilaksanakan dalam rangka mewujudkan Penduduk Tumbuh
Seimbang; dan
c. penyusunan Rencana Belanja Program Pengendalian
Penduduk, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga
serta Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA).

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 ix
Pasal 6
Renstra BKKBN Tahun 2015-2019 disusun untuk meningkatkan
akuntabilitas, kualitas perencanaan dan pelaksanaan program
pembangunan pada umumnya dan Program Kependudukan,
Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga pada khususnya.

Pasal 7
Pada saat Peraturan Kepala Badan ini mulai berlaku, Peraturan
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Nomor 212/PER/B1/2015 tentang Rencana Strategis Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2015-2019,
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 8
Peraturan Kepala Badan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari
2017.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Kepala Badan ini dengan penempatannya dalam Berita
Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 September 2016

KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN


KELUARGA BERENCANA NASIONAL,

SURYA CHANDRA SURAPATY

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 26 September 2016

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

WIDODO EKATJAHJANA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2016 NOMOR 1441

x R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
LAMPIRAN
PERATURAN KEPALA
BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL
NOMOR 199 TAHUN 2016

TENTANG
RENCANA STRATEGIS BADAN KEPENDUDUKAN DAN
KELUARGA BERENCANA NASIONAL
TAHUN 2015 - 2019

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 xi
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Kondisi Umum


Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, penduduk harus
menjadi titik sentral dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan terencana di segala bidang
untuk menciptakan perbandingan ideal antara perkembangan kependudukan
dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta meningkatkan
kualitas generasi mendatang untuk mensukseskan pembangunan. Terdapat dua
hal utama yang perlu diperhatikan dalam membahas integrasi penduduk dan
pembangunan. Pertama, bahwa penduduk tidak hanya diperlakukan sebagai
obyek tetapi juga subyek yang berpartisipasi penuh dalam pembangunan.
Kedua, ketika penduduk memiliki peran sebagai subyek pembangunan, maka
diperlukan upaya pemberdayaan untuk meningkatkan kapasitas penduduk
dalam pembangunan. Hal ini menyangkut “pembangunan sumber daya
manusia yang berkualitas”.
Sesuai dengan arah pembangunan Pemerintahan periode 2015-2019, Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) merupakan salah satu
Kementerian/Lembaga (K/L) yang diberi mandat untuk mewujudkan Agenda
Pembangunan Nasional (Nawa Cita), terutama pada Cita ke-5 (lima) yaitu
“Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia” melalui Pembangunan
Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana. Kemudian di dalam
Strategi Pembangunan Nasional 2015-2019 (Dimensi Pembangunan), BKKBN
berada pada Dimensi Pembangunan Manusia, yang didalamnya berperan serta
pada upaya mensukseskan Dimensi Pembangunan Kesehatan serta
Mental/Karakter (Revolusi Mental).
Selanjutnya, terkait dengan integrasi penduduk dengan pembangunan
diperlukan penguatan kebijakan dalam pembangunan berwawasan
kependudukan. Secara garis besar, pembangunan berwawasan kependudukan
adalah pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk
yang ada, dimana penduduk harus dijadikan titik sentral dalam proses
pembangunan. Penduduk harus dijadikan subyek dan obyek dalam
pembangunan, dimana pembangunan dilaksanakan oleh penduduk dan untuk
penduduk. Untuk mendukung pelaksanaan pembangunan yang berwawasan
kependudukan, BKKBN harus dapat memperkuat pelaksanaan Pembangunan
Bidang Pengendalian Penduduk dan KB beserta penjabarannya ke dalam
program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) dengan
berbagai kegiatan prioritasnya, baik dari sisi pengendalian kuantitas penduduk
(perubahan jumlah, struktur, komposisi dan persebaran penduduk yang
seimbang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan), maupun
dari sisi peningkatan kualitasnya (melalui kontribusi terhadap upaya perwujudan
norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera).

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 1
Perkembangan selanjutnya pada tahun 2016, dalam penyusunan Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) tahun 2017, Kementerian PPN/Bappenas mengembangkan
program dan kegiatan prioritas pada rancangan Pembangunan Nasional. Posisi
Program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di dalam RKP
tahun 2017 berada pada lingkup Prioritas Nasional Pembangunan Kesehatan.
BKKBN memiliki kontribusi pada Pembangunan Kesehatan melalui “Peningkatan
Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi” dengan dukungan dan kontribusi
Kementerian, Lembaga serta Mitra Kerja terkait lainnya. Pada program prioritas
“Peningkatan Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi”, BKKBN harus fokus pada
pelaksanaan 5 (lima) kegiatan prioritas RKP 2017, yaitu: 1) Pelayanan KB, 2)
Advokasi dan KIE KKBPK, 3) Pembinaan Remaja, 4) Pembangunan Keluarga, dan 5)
Regulasi, Kelembagaan, serta Data dan Informasi. Kelima kegiatan prioritas
tersebut juga harus menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan
rancangan program dan kegiatan prioritas di dalam revisi Renstra BKKBN 2015-
2019.
Beberapa aspek penting lainnya yang harus menjadi perhatian dalam
perumusan arah kebijakan dan strategi melalui pengembangan indikator kinerja
dan pengembangan kegiatan prioritas beserta aspek pembiayaannya, adalah;
• Perubahan pendekatan perencanaan yang semula bersifat money follow
function diubah menjadi money follow program. Dalam hal ini bahwa dari sisi
pembiayaan, tidak seluruh fungsi harus dibiayai secara merata, melainkan
harus selektif dengan mempertimbangkan prioritas program dan
kegiatannya. Kementerian/Lembaga (K/L) harus dapat memangkas program
yang nomenklaturnya tidak jelas dan mengutamakan pembiayaan untuk
program/kegiatan yang memiliki daya ungkit terhadap upaya pencapaian
target/sasaran dan memiliki manfaat yang secara langsung dapat diterima
oleh masyarakat.
• Perubahan pendekatan perencanaan pembangunan nasional yang holistik,
tematik, terintegrasi, dan spasial. Dalam konteks pendekatan holistik,
Program KKBPK harus dapat dilaksanakan dengan mobilisasi seluruh potensi
dan sumber daya, baik di lingkungan BKKBN maupun bersama-sama dengan
Pemangku Kepentingan dan Mitra Kerja di seluruh tingkatan wilayah. Pada
pendekatan tematik, Program KKBPK akan difokuskan pada tema sesuai
Sasaran Pembangunan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
yang telah ditetapkan dalam RPJMN. Pada pendekatan terintegrasi, BKKBN
mengembangkan keterpaduan dan sinergitas program dan kegiatan lintas
sektor Program KKBPK baik dengan Pemangku Kepentingan maupun
dengan Mitra Kerja di semua tingkatan wilayah. Selanjutnya terkait dengan
pendekatan spasial, Program KKBPK akan lebih difokuskan pada wilayah
kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan atau wilayah tertentu yang
menjadi prioritas.
• Memperhatikan pendekatan penganggaran yang berbasis kinerja, terpadu
(unified budgeting), serta mengacu pada Kerangka Pengeluaran Jangka
Menengah (KPJM). Dalam konteks penganggaran berbasis kinerja, secara
umum pengeluaran anggaran harus dapat dikaitkan dengan hasil (output)
dari kegiatan yang telah dibiayai. Terkait dengan penganggaran terpadu,

2 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
BKKBN harus mampu mengintegrasikan perencanaan anggaran untuk
seluruh jenis belanja guna mencapai hasil (output) kegiatan. Kemudian dari
sisi KPJM, penetapan penganggaran berdasarkan kebijakan implikasi
anggaran dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun anggaran, atau dapat
memperkirakan implikasi anggaran sesuai peta kerja (road map) dalam
pengembangan program dan kegiatan di masa yang akan datang.
Selain itu, dalam pengembangan indikator kinerja dan kegiatan-kegiatan
prioritas juga telah mempertimbangkan aspek pemantauan dan evaluasinya.
Keterkaitan antara Sasaran dan Indikator RPJMN, Renstra, untuk kemudian secara
tahunan dapat mengakomodir Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Renja K/L,
serta penuangannya dalam berbagai kegiatan prioritas dalam Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) harus jelas dan dapat selalu
dievaluasi perkembangannya. Dari sisi pemantauan kinerja, untuk memastikan
setiap indikator telah diukur dan terdokumentasikan dengan baik, maka pada
setiap awal tahun berjalan dilakukan penandatanganan perjanjian kinerja antara
Kepala BKKBN dan Unit Kerja Eselon I. Sedangkan untuk Unit Kerja Eselon II, baik
pusat maupun provinsi, dilakukan penandatanganan kontrak kinerja antara
Kepala BKKBN dengan seluruh Eselon II. Perjanjian kinerja dan kontrak kinerja
tersebut, merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban kinerja yang
menjadi lingkup fungsi dan tugas BKKBN terhadap masyarakat.

1.2 Potensi dan Permasalahan


Beberapa perubahan lingkungan strategis, seperti perubahan dari sisi
pendekatan perencanaan pembangunan nasional yang telah dijabarkan pada
sub-bab sebelumnya, pengembangan program dan kegiatan prioritas pada
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2017, serta adanya perkembangan
peraturan perundangan, juga menjadi dasar potensi
pengembangan/penyempurnaan arah kebijakan, strategi dan kegiatan prioritas
pada Renstra BKKBN 2015-2019 ini.
Terkait dengan potensi pengembangan program/kegiatan yang mengadopsi
kerangka program prioritas pada RKP 2017, BKKBN memiliki potensi untuk lebih
berkontribusi pada Pembangunan Kesehatan melalui “Peningkatan Pelayanan
KB dan Kesehatan Reproduksi”. Pengembangan yang dilakukan dapat dilakukan
melalui perumusan berbagai kegiatan yang secara langsung terkait dengan 5
(lima) kegiatan prioritas: 1) Pelayanan KB, 2) Advokasi dan KIE KKBPK, 3) Pembinaan
Remaja, 4) Pembangunan Keluarga, dan 5) Regulasi, Kelembagaan, serta Data dan
Informasi. Pengembangannya dapat dilakukan baik pada level komponen
maupun pada level sub komponen untuk dituangkan di dalam Renstra BKKBN
2015-2019.
Lebih lanjut terkait Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang
Pemerintahan Daerah, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
merupakan urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan
Dasar yang kewenangannya secara konkuren telah dibagi menjadi 4 (empat)
Sub Urusan yang telah diatur pembagian kewenangannya antara Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Pengembangan pada Renstra BKKBN 2015-2019 ini juga harus dapat
R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 3
mengakomodir berbagai kegiatan prioritas yang mempertimbangkan sinergitas
dari 4 (empat) Sub Urusan yang menjadi kewenangan bersama, yaitu; 1)
Pengendalian Penduduk, 2) Keluarga Berencana (KB), 3) Keluarga Sejahtera, serta 4)
Standarisasi Pelayanan KB dan Sertifikasi Tenaga Penyuluh KB (PKB/PLKB).
Pengembangan detail pelaksanaan Sub Urusan tersebut diatur dalam Peraturan
Pemerintah RI (PP) Nomor 18 tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.
Perubahan lingkungan strategis yang juga harus mendapat perhatian dalam
penajaman Program KKBPK di lini lapangan, diantaranya terkait otonomi daerah.
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan rentang kendali
manajemen pelayanan Program KKBPK antara Pemerintah dengan Pemerintah
Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, diantaranya melalui:
1) Ketersediaan instrumen regulasi yang mendukung penuangan program dan
kegiatan Pembangunan Bidang Kependudukan dan KB ke dalam program
dan kegiatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
2) Ketersediaan rancang bangun program Kependudukan, KB dan
Pembangunan Keluarga (KKBPK) yang tertuang dalam Arah Kebijakan
Umum Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
dan Rencana Strategis Daerah (Renstrada), serta Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD) Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota;
3) Penguatan kelembagaan Pengendalian Penduduk dan KB di Tingkat Provinsi
dan Kabupaten/Kota;
4) Pendayagunaan Tenaga Penyuluh KB dan Petugas Lapangan KB (PKB/PLKB)
oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, serta optimalisasi fungsi PPKBD
dan Sub-PPKBD (Kader) sebagai ujung tombak pelaksana Program KKBPK di
lini lapangan.
Jika keempat hal tersebut dapat diintegrasikan dengan baik, maka dapat
dipastikan bahwa penyelenggaraan program KKBPK di lini lapangan dapat
berjalan dengan efektif dan efisien dalam mencapai target/sasaran yang telah
ditetapkan, serta dapat memberikan manfaat secara langsung kepada
masyarakat Indonesia.
Beberapa isu strategis dan permasalahan pengendalian kuantitas penduduk,
sebagaimana tertuang di dalam RPJMN 2015-2019 Buku II (Bab II – Bidang Sosial
budaya) yang harus mendapat perhatian khusus adalah:
a. Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan KB yang Merata untuk dapat
mengatasi permasalahan pelayanan KB, antara lain: (1) Angka pemakaian
kontrasepsi cara modern tidak meningkat secara signifikan, yaitu dari sebesar
56,7 persen pada tahun 2002 menjadi sebesar 57,4 persen pada tahun 2007,
dan pada tahun 2012 meningkat menjadi sebesar 57,9 persen. Sedangkan
pada tahun 2015 sebesar 58,9 persen (Susenas 2015) ; (2) Kebutuhan ber-KB
yang tidak terpenuhi (unmet need) masih tinggi, yaitu sebesar 8,5 persen atau
11,4 persen apabila dengan menggunakan metode formulasi baru; (3)
Tingkat putus pakai penggunaan kontrasepsi masih tinggi, yaitu 27,1 persen;
(4) Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang cenderung
menurun, dari 10,9 persen menjadi 10,6 persen (atau 18,3 persen dengan
pembagi CPR modern); (5) Kualitas pelayanan KB (supply side) belum sesuai

4 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
standar, yaitu berkaitan dengan ketersediaan dan persebaran fasilitas
kesehatan/klinik pelayanan KB, ketersediaan dan persebaran tenaga
kesehatan yang kompeten dalam pelayanan KB, kemampuan bidan dan
dokter dalam memberikan penjelasan tentang pilihan metode KB secara
komprehensif termasuk mengenai efek samping alokon dan
penanganannya, serta komplikasi dan kegagalan; (6) Jaminan pelayanan KB
belum seluruhnya terpetakan pada fasilitas pelayanan KB, terutama dalam
rangka sinkronisasi dengan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Kesehatan.
b. Penguatan Advokasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang
Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga
(KKBPK) pelaksanaannya masih dihadapkan dengan beberapa permasalahan
antara lain: (1) Masih lemahnya komitmen dan dukungan para pemangku
kepentingan (stakeholders) terhadap program KKBPK terutama yang terkait
dengan kelembagaan, kebijakan, perencanaan program dan penganggaran;
(2) Masih tingginya jumlah anak yang diinginkan dari setiap keluarga, yaitu
sekitar 2,7 sampai dengan 2,8 anak atau di atas angka kelahiran total sebesar
2,6 (SDKI 2012), angka ini belum mengalami penurunan (stagnan) dari tahun
2002; (3) Masih terjadinya kesenjangan dalam memperoleh informasi
tentang program KKBPK baik antar provinsi, antara wilayah perdesaan-
perkotaan maupun antar tingkat pendidikan dan pengeluaran keluarga; (4)
Muatan dan pesan dalam advokasi dan KIE masih perlu untuk terus
dikembangkan; serta (5) Peran tenaga lapangan KB dalam konseling KB
belum optimal. Berdasarkan data SDKI 2012, hanya sebesar 5,2 persen wanita
kawin yang dikunjungi petugas lapangan KB dan berdiskusi tentang KB,
sedangkan 88,2 persen wanita kawin tidak berdiskusi tentang KB dengan
petugas KB atau provider.
c. Peningkatan pemahaman dan kesadaran remaja mengenai kesehatan
reproduksi dan penyiapan kehidupan berkeluarga. Hal sangat penting dalam
upaya mengendalikan jumlah kelahiran dan menurunkan resiko kematian
Ibu melahirkan. Permasalahan kesehatan reproduksi remaja, antara lain: (1)
Angka kelahiran pada perempuan remaja usia 15-19 tahun masih tinggi,
yaitu 48 per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun (SDKI 2012), dan remaja
perempuan 15-19 tahun yang telah menjadi ibu dan atau sedang hamil anak
pertama meningkat dari sebesar 8,5 persen menjadi sebesar 9,5 persen (SDKI
2007 dan SDKI 2012); (2) Masih banyaknya perkawinan usia muda, ditandai
dengan median usia kawin pertama perempuan yang rendah yaitu 20,1
tahun (usia ideal pernikahan menurut kesehatan reproduksi adalah 21 tahun
bagi perempuan dan 25 tahun bagi pria); (3) terdapat kesenjangan dalam
pembinaan pemahaman remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR)
yang tergambar pada tingkat kelahiran remaja (angka kelahiran remaja
kelompok usia 15-19 tahun); (4) Tingginya perilaku seks pra nikah di
sebagian kalangan remaja, berakibat pada kehamilan yang tidak diinginkan
masih tinggi; (5) Pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan
perilaku beresiko masih rendah.
d. Pembangunan keluarga melalui peningkatan pemahaman dan kesadaran
fungsi keluarga. Dalam rangka pembinaan ketahanan dan kesejahteraan
keluarga melalui pembinaan kelestarian kesertaan ber-KB masih dihadapkan
R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 5
pada beberapa permasalahan, antara lain: (1) Masih tingginya jumlah
keluarga miskin, yaitu sebesar 43,4 persen dari sebanyak 64,7 juta keluarga
Indonesia (Keluarga Pra Sejahtera/KPS sebesar 20,3 persen dan Keluarga
Sejahtera I/KS-1 sebesar 23,1 persen (Pendataan Keluarga, BKKBN 2012); (2)
Terbatasnya akses keluarga dan masyarakat untuk mendapatkan informasi
dan konseling ketahanan dan kesejahteraan keluarga; (3) Pelaksanaan
program ketahanan dan kesejahteraan keluarga akan peran dan fungsi
kelompok kegiatan belum optimal dalam mendukung pembinaan
kelestarian kesertaan ber-KB. Disamping itu, Kelompok Kegiatan (Poktan),
yang terdiri dari: Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina
Keluarga Lansia (BKL) dan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga
Sejahtera (UPPKS) belum optimal dalam memberikan pengaruh kepada
masyarakat akan pentingnya ber-KB/pelestarian Peserta KB Aktif (PA); dan (4)
Terbatasnya materi program KKBPK dalam kelompok kegiatan serta
terbatasnya jumlah dan kualitas kader/tenaga kelompok kegiatan.
e. Penguatan landasan hukum dalam rangka optimalisasi pelaksanaan
pembangunan bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB).
Penguatan landasan hukum dan penyerasian kebijakan Pembangunan
Bidang Pengendalian Penduduk dan KB memiliki beberapa permasalahan,
antara lain: (1) Belum seluruh kebijakan perencanaan program dan
penganggaran yang terkait dengan bidang Pengendalian Penduduk dan KB
dimasukan dalam perencanaan daerah (Indikator pembangunan Bidang
Pengendalian Penduduk dan KB dalam RPJMN dan Renstra BKKBN ke dalam
RPJMD dan Renstrada Provinsi dan Kabupaten/Kota); (2) Koordinasi
pembangunan Bidang Pengendalian Penduduk dan KB dengan program
pembangunan lainnya masih lemah (antara lain; koordinasi dengan program
bantuan pemerintah seperti Program Keluarga Harapan/PKH,
Jamkesmas/Jamkesda, Jampersal, PNPM, dan SJSN Kesehatan), serta
perlunya penguatan koordinasi pelaksanaan kegiatan Bidang KKB lintas
sektor (misal: Kegiatan Kampung KB).
f. Penguatan Data dan Informasi Kependudukan, KB dan KS. Terdapat
beberapa sumber data pembangunan kependudukan, KB dan KS,
diantaranya administrasi kependudukan yang mencatat registrasi
pendudukan dan registrasi vital; sensus penduduk dan beberapa survei
terkait bidang kependudukan dan KB; serta data sektoral pembangunan
kependudukan dan KB termasuk data-data kajian dan evaluasi
pembangunan Kependudukan dan KB. Data Sektoral memegang peranan
penting dalam penyusunan rencana, pelaksanaan dan evaluasi
pembangunan bidang KKB. Namun, data sektoral yang diperoleh melalui
statistik rutin pendataan kependudukan, KB, dan keluarga belum dapat
digunakan secara optimal dalam pengawasan, pemantauan, pengendalian
dan evaluasi program KKBPK, dikarenakan sistem pengolahan data masih
kurang berkualitas.
Beberapa isu strategis dan permasalahan pengendalian kuantitas penduduk
sebagaimana dijabarkan di atas sesuai dengan 5 (lima) kegiatan prioritas yang
telah ditetapkan di dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2017: 1) Pelayanan KB,
2)
Advokasi dan KIE KKBPK, 3) Pembinaan Remaja, 4) Pembangunan Keluarga, dan 5)
6 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Regulasi, Kelembagaan, serta Data dan Informasi. Sehingga upaya-upaya untuk
mengatasi berbagai permasalahan tersebut harus benar-benar dapat
digambarkan di dalam perbaikan/revisi Rencana Strategis (Renstra) BKKBN 2015-
2019 ini.
Pengembangan cakupan penggarapan Program KKBPK diantaranya juga dapat
dilakukan melalui Program Tematik dan Program/kegiatan Direktif Presiden.
Terkait dengan program tematik, BKKBN dapat berkontribusi dari sisi
Perencanaan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) yang secara umum dapat
diintegrasikan dengan berbagai kegiatan dalam lingkup peningkatan kualitas
Kesehatan Reproduksi, Advokasi dan KIE Program KKBPK, lingkup pembinaan
Keluarga Balita dan Anak, pembinaan Ketahanan Remaja, lingkup peningkatan
kesertaan ber-KB di wilayah dan sasaran khusus (Daerah Tertinggal Perbatasan
dan Kepulauan/DTPK), lingkup penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan
KKBPK, serta lingkup pengelolaan Program KKBPK di Perwakilan BKKBN Provinsi.
Selain itu, BKKBN juga berkontribusi pada program tematik peningkatan
Kerjasama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST). Dalam hal ini BKKBN dapat
berkontribusi dalam pengembangan program kerjasama dan studi di negara-
negara dengan mayoritas penduduk muslim yang maju dalam Program KKBPK
(misal: Pakistan, Iran, Mesir). Kegiatan dukungan KSST masuk dalam kegiatan
Pengembangan Kerja Sama Internasional Kependudukan dan Keluarga
Berencana.
Potensi yang juga dapat dikembangkan oleh BKKBN melalui Program/kegiatan
Direktif Presiden adalah “Kampung KB”. Kampung KB merupakan salah satu
potensi utama yang dapat memperkuat implementasi Program KKBPK di lini
lapangan serta dapat menjadi jembatan integrasi kegiatan antara BKKBN
dengan lintas Kementerian/Lembaga dan lintas sektor (Pemerintah Pusat
dengan Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/kota).

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 7
BAB II
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS BKKBN

Berbagai tingkatan dalam penuangan Rencana Strategis (Renstra) BKKBN 2015-2019,


baik pada level sasaran program (outcome), sasaran kegiatan (output), Indikator RPJMN,
Indikator Kinerja Kegiatan (IKK), level komponen maupun pada level sub komponen
sekalipun, harus dirumuskan dengan memperhatikan keterkaitannya pada Visi dan Misi
Pemerintah (Kabinet Kerja) periode 2015-2019. Berdasarkan hal tersebut, kemudian
disusun tujuan dan sasaran strategis lembaga BKKBN yang mengerucut pada upaya
pencapaian Visi dan Misi Pemerintah.

2.1 Visi Pembangunan 2015-2019


Sesuai dengan arah kebijakan Pemerintah (Kabinet Kerja) 2015-2019, seluruh
Kementerian/Lembaga diarahkan untuk turut serta mensukseskan Visi dan Misi
Pembangunan 2015-2019, dimana Visi Pemerintah untuk 5 (lima) tahun ke
depan adalah untuk “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan
Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.

2.2 Misi Pembangunan 2015-2019


Sebagaimana tertera dalam RPJMN 2015-2019, untuk mewujudkan Visi di atas
adalah melalui 7 Misi Pembangunan, yaitu:
1) Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah,
menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya
maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara
kepulauan;
2) Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan dan demokratis
berlandaskan Negara Hukum;
3) Mewujudkan politik luar negeri bebas aktif dan memperkuat jati diri sebagai
negara maritim;
4) Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan
sejahtera;
5) Mewujudkan Indonesia yang berdaya saing;
6) Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat,
dan berbasiskan kepentingan nasional; dan
7) Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Upaya perwujudan Visi dan Misi Pembangunan tersebut, telah disusun strategi
pembangunan nasional, diantaranya melalui norma pembangunan untuk
membangun dan meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat, serta
untuk meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran, dan produktifitas dengan
memberikan perhatian khusus pada peningkatan produktivitas rakyat lapisan
menengah ke bawah guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan. Hal ini kemudian didukung dengan fokus pada 3 (tiga) Dimensi
Pembangunan, yaitu: 1) Dimensi Pembangunan Manusia dan Masyarakat; 2)

8 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Dimensi Pembangunan Sektor Unggulan; 3) Dimensi Pemerataan dan
Kewilayahan. Dalam hal ini BKKBN masuk di dalam Dimensi Pembangunan yang
pertama “Dimensi Pembangunan Manusia dan Masyarakat”.

2.3 Tujuan BKKBN


Dengan berpedoman pada arah pembangunan Pemerintahan sebagaimana
tertera dalam Buku I - RPJMN 2015-2019, BKKBN berkomitmen untuk
berkontribusi dalam upaya pencapaian Visi dan Misi Pembangunan
sebagaimana dijabarkan di atas dengan perumusan tujuan untuk “mencapai
Penduduk Tumbuh Seimbang melalui upaya penurunan Laju Pertumbuhan
Penduduk (LPP) dan perwujudan Keluarga Berkualitas”.

2.4 Sasaran Strategis BKKBN


Untuk memastikan tujuan BKKBN dapat tercapai, maka ditetapkan sasaran
strategis BKKBN 2015-2019 yang sesuai dengan Sasaran Pembangunan
Kependudukan dan KB yang tertera pada RPJMN 2015-2019, yaitu:
1. Menurunnya Angka kelahiran total (TFR)
2. Meningkatnya prevalensi kontrasepsi (CPR) modern
3. Menurunnya kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need)
4. Meningkatnya peserta KB aktif yang menggunakan Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang (MKJP)
5. Menurunnya Tingkat Putus Pakai Kontrasepsi
Ke-5 (lima) Sasaran Strategis tersebut kemudian akan dijabarkan di dalam
Indikator Kinerja Sasaran Strategis yang akan dicapai melalui Indikator Kinerja
Program dan Indikator Kinerja Kegiatan. Kemudian dalam implementasi upaya
pencapaiannya dijabarkan pada level komponen sebagai penghubung dalam
penuangan berbagai kegiatan dalam Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKA-K/L).

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 9
BAB III
ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN
KELEMBAGAAN

3.1 Arah Kebijakan dan Strategi Nasional


Arah Kebijakan dan Strategi Nasional dalam Pembangunan Kependudukan dan
Keluarga Berencana yang tertera pada Buku I RPJMN 2015-2019 dan yang akan
menjadi fokus dalam pelaksanaan Program Kependudukan dan Keluarga
Berencana selama lima tahun ke depan adalah:
1. Penguatan dan pemaduan kebijakan pelayanan KB dan kesehatan
reproduksi yang merata dan berkualitas.
2. Penyediaan sarana dan prasarana serta jaminan ketersediaan alat dan obat
kontrasepsi (Alokon) yang memadai di setiap fasilitas kesehatan KB dan
jejaring pelayanan, serta pendayagunaan fasilitas kesehatan untuk
pelayanan KB.
3. Peningkatan pelayanan KB dengan penggunaan MKJP untuk mengurangi
resiko drop-out maupun penggunaan non MKJP dengan memberikan
informasi secara berkesinambungan untuk keberlangsungan kesertaan
ber-KB serta pemberian pelayanan KB lanjutan dengan
mempertimbangkan prinsip Rasional, Efektif dan Efisien (REE).
4. Peningkatan jumlah dan penguatan kapasitas tenaga lapangan KB dan
tenaga kesehatan pelayanan KB, serta penguatan lembaga di tingkat
masyarakat untuk mendukung penggerakan dan penyuluhan KB.
5. Advokasi program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan
keluarga kepada para pembuat kebijakan, serta promosi dan penggerakan
kepada masyarakat dalam penggunaan alat dan obat kontrasepsi KB.
6. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman kesehatan reproduksi bagi
remaja melalui pendidikan, sosialisasi mengenai pentingnya Wajib Belajar
12 tahun dalam rangka pendewasaan usia perkawinan, dan peningkatan
intensitas layanan KB bagi pasangan usia muda guna mencegah kelahiran
di usia remaja.
7. Pembinaan ketahanan dan pemberdayaan keluarga melalui kelompok
kegiatan bina keluarga dalam rangka melestarikan kesertaan ber-KB dan
memberikan pengaruh kepada keluarga calon akseptor untuk ber-KB.
8. Penguatan tata kelola pembangunan kependudukan dan KB melalui
penguatan landasan hukum, kelembagaan, serta data dan informasi
kependudukan dan KB.
9. Penguatan Bidang KKB melalui penyediaan informasi dari hasil
penelitian/kajian Kependudukan, Keluarga Berencana dan Ketahanan
Keluarga serta peningkatan kerjasama penelitian dengan universitas terkait
pengembangan Program KKBPK.

10 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
3.2 Arah Kebijakan dan Strategi BKKBN
Arah kebijakan dan strategi BKKBN dalam menyelenggarakan pembangunan
Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dalam periode lima
tahun ke depan adalah:
1. Peningkatan Akses dan Pelayanan KB yang Merata dan Berkualitas,
yang dilakukan melalui strategi:
a. Penguatan dan pemaduan kebijakan pelayanan KB yang merata dan
berkualitas, baik lintas sektor maupun lintas Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, terutama dalam
sistem SJSN Kesehatan dengan menata fasilitas pelayanan KB
(kemudahan akses terhadap fasilitas pelayanan KB di setiap tingkatan
wilayah);
b. Peningkatan penggerakan pelayanan KB Metode Kontrasepsi Jangka
Panjang (MKJP);
c. Peningkatan Jaminan ketersediaan Alat dan Obat Kontrasepsi (Alokon)
– melalui pengadaan dan distribusi alokon (supply chain
management);
d. Peningkatan kualitas fasilitas pelayanan KB melalui penyediaan sarana
pelayanan KB yang memadai;
e. Peningkatan pelayanan akseptor KB, baik secara statis pada fasilitas
kesehatan (Faskes) yang melayani KB, dan pelayanan KB secara mobile
di wilayah sulit (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan/DTPK);
f. Peningkatan jumlah dan penguatan kapasitas tenaga lapangan KB
(PLKB) dan tenaga medis pelayanan KB (dokter bidan), serta
penguatan lembaga di tingkat masyarakat untuk mendukung
penggerakan dan penyuluhan KB;
g. Peningkatan promosi dan konseling Kesehatan dan Hak-hak
Reproduksi;
h. Penguatan konsep kemandirian ber-KB melalui peningkatan kualitas
alat dan obat kontrasepsi produksi dalam negeri untuk meningkatkan
kemandirian, pengembangan Advokasi dan KIE KB Mandiri serta
pengembangan dalam kemandirian mengikuti SJSN Kesehatan.
2. Penguatan Advokasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
KKBPK, yang dilakukan melalui strategi:
a. Penguatan kebijakan dan pengembangan strategi Advokasi dan KIE
tentang Program KKBPK yang sinergi, baik lintas sektor maupun lintas
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah Provinsi dan
Kabupaten/Kota;
b. Peningkatan Advokasi dan KIE Program KKBPK (media, audiensi dan
momentum) kepada Mitra Kerja dan Pemangku Kepentingan
(stakeholders) di seluruh tingkatan wilayah;

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 11
c. Peningkatan Advokasi dan KIE Program KKBPK melalui berbagai media
massa dan media luar ruang serta intensifikasi Advokasi dan KIE
melalui media lini bawah (below the line);
d. Peningkatan Advokasi dan KIE Program KKBPK melalui tenaga lini
lapangan (PKB/PLKB dan PPKBD/Sub PPKBD), serta peningkatan peran
serta aktif masyarakat dengan memperhatikan sasaran target yang
disesuaikan dengan karakteristik sosial, budaya, dan ekonomi;
e. Peningkatan penggerakan mekanisme operasional lini lapangan
Program KKBPK, baik dari PKB/PLKB ke PPKBD/Sub PPKBD, maupun
dari PPKBD/Sub PPKBD ke masyarakat.
3. Peningkatan Pembinaan Ketahanan Remaja, yang dilakukan melalui
strategi:
a. Peningkatan kebijakan dan strategi yang komprehensif dan terpadu,
antar sektor dan antara pusat dan daerah, tentang KIE dan konseling
Kesehatan Reproduksi Remaja dengan melibatkan orang tua, teman
sebaya, toga/toma, sekolah, dengan memperhatikan perubahan
paradigma masyarakat akan pemahaman nilai-nilai pernikahan dan
pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja;
b. Peningkatan fungsi dan peran, serta kualitas dan kuantitas kegiatan
kelompok remaja (PIK KRR) dengan mendorong remaja untuk
mempunyai kegiatan yang positif dengan meningkatkan status
kesehatan, memperoleh pendidikan, dan meningkatkan jiwa
kepemimpinan;
c. Peningkatan pembinaan remaja tentang Generasi Berencana (GenRe);
d. Pengembangan dan peningkatan fungsi dan peran kegiatan kelompok
Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai wahana untuk meningkatkan
kepedulian keluarga dan pengasuhan kepada anak - anak remaja
mereka.
4. Peningkatan Pembangunan Keluarga, yang dilakukan melalui strategi:
a. Penguatan kebijakan dan pengembangan strategi dan materi yang
relevan tentang pemahaman orangtua mengenai pentingnya keluarga
dan pengasuhan tumbuh kembang anak, melalui: pendidikan,
penyuluhan, pelayanan tentang perawatan, pengasuhan dan
perkembangan anak dengan melibatkan tenaga lapangan, kader, dan
masyarakat;
a. Peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya Keluarga
Berencana (KB) dalam peningkatan kesejahteraan keluarga;
b. Peningkatan penyuluhan tentang pemahaman keluarga/orangtua
mengenai pentingnya keluarga dalam peran dan fungsi Kelompok
Kegiatan (BKB, BKR, BKL, dan UPPKS), serta penguatan 8 (delapan)
fungsi keluarga (agama, sosial, cinta kasih, perlindungan, reproduksi,
pendidikan, ekonomi dan lingkungan);
c. Peningkatan kapasitas tenaga lapangan dan kader serta kelembagaan
pembinaan keluarga dalam hal penyuluhan tentang pemahaman
fungsi keluarga dan peningkatan kerjasama lintas sektor dalam upaya
meningkatkan fungsi dan peran keluarga.

12 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
5. Penguatan Regulasi, Kelembagaan, serta Data dan Informasi, yang
dilakukan melalui strategi:
a. Mengharmonisasikan dan mengusulkan amandemen peraturan
perundangan agar lebih mendukung pelaksanaan program KB
(Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 dan Peraturan
Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 agar selaras dengan Undang -
undang Nomor 52 Tahun 2009; Peraturan Pemerintah Nomor 55
Tahun 2005 tentang Perimbangan Keuangan);
b. Peningkatan koordinasi dalam implementasi Undang-Undang Nomor
23 tahun 2014 terutama pada Pembagian Urusan Pemerintahan
Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana antara
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota;
c. Penguatan Kelembagaan melalui bimbingan teknis dan pemantauan
pembentukan Dinas Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk
menyelenggarakan Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana di masing-masing wilayah sesuai amanat Undang-Undang
Nomor 23 tahun 2014 dengan landasan hukum pelaksanaan yang
mengacu pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 tahun 2016 tentang
Perangkat Daerah;
d. Penyerasian dan peninjauan kembali landasan hukum/peraturan
perundang -undangan Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana;
e. Koordinasi terpadu lintas sektor (lintas kementerian/lembaga) terkait
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
Kegiatan Program KKBPK (misal: Kegiatan Kampung KB);
f. Peningkatan koordinasi perumusan kebijakan Pembangunan Bidang
Pengendalian Penduduk dan KB dengan Pemerintah Daerah Provinsi
dan Kabupaten/Kota (misal: melalui forum Musrenbangda dan
Musrenbangnas);
g. Peningkatan kualitas data dan informasi Program KKBPK yang akurat
dan tepat waktu;
h. Peningkatan diseminasi, aksesibilitas dan pemanfaatan data dan
informasi kependudukan terutama sensus dan survei bagi seluruh
pihak, termasuk swasta dan akademisi;
i. Peningkatan koordinasi, termasuk fasilitasi seluruh instansi dalam
pemanfaatan data dan informasi kependudukan untuk perencanaan
dan evaluasi kebijakan pembangunan.

3.3 Kerangka Regulasi


Kerangka Regulasi disusun dalam rangka mewujudkan arah Program
Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK)
tahun 2015-2019 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor
87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga, Keluarga Berencana dan Sistem Informasi Keluarga, adalah
terwujudnya konsistensi Kebijakan Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota
dengan tujuan:

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 13
1. Mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara kuantitas,
kualitas, dan persebaran penduduk dengan memperhitungkan daya
dukung lingkungan.
2. Meningkatkan kualitas keluarga (keluarga berkualitas) sehingga tercipta
rasa aman, tentram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam
mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin dengan
melembagakan dan membudayakan Norma Keluarga Kecil, Bahagia, dan
Sejahtera (NKKBS).
3. Meningkatkan upaya mengatur kelahiran anak, jarak, usia ideal melahirkan,
mengatur kehamilan melalui: promosi, perlindungan dan bantuan sesuai
dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.
4. Menyediakan data dan informasi keluarga untuk digunakan oleh
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai dasar penetapan
kebijakan, penyelenggaraan, dan pembangunan.
Ruang lingkup Peraturan Pemerintah ini meliputi tugas dan tanggung jawab
pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penetapan dan pelaksanaan
kebijakan tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga,
kebijakan keluarga berencana, penyelenggaraan sistem informasi keluarga,
pemantauan dan pelaporan, pembinaan dan pengawasan, serta pendanaan.
Fokus penetapan Kebijakan Nasional Perkembangan Kependudukan, Keluarga
Berencana dan Pembangunan Keluarga diarahkan untuk:
a. Menjamin tercapainya penurunan TFR sesuai target yang ditetapkan;
b. Meningkatkan kualitas penduduk dengan memanfaatkan bonus demografi;
c. Memberdayakan penerapan fungsi-fungsi keluarga; dan
d. Memperkuat semangat gotong royong berbasis keluarga.
Pemerintah juga menetapkan program dan kegiatan penyelenggaraan
pengendalian kuantitas penduduk berkaitan dengan:
a. Perencanaan kependudukan;
b. Penyediaan parameter kependudukan;
c. Analisis dampak kependudukan;
d. Kerjasama pendidikan kependudukan; dan
e. Penanganan isu-isu kependudukan di daerah provinsi, kabupaten dan kota.
Hal tersebut di atas dilaksanakan dengan cara memberikan pembinaan dan
pemenuhan pelayanan kepada masyarakat melalui advokasi, KIE, serta
penyediaan sarana dan prasarana Program KKBPK. Penyelenggaraan
pengendalian kuantitas penduduk dilakukan untuk melembagakan dan
membudayakan NKKBS yang dilakukan melalui Penyelenggaraan
Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana. Pemerintah menetapkan
kebijakan nasional pembangunan keluarga yang diarahkan untuk:
a. Melembagakan dan membudayakan NKKBS;
b. Memberdayakan fungsi keluarga;
c. Memandirikan keluarga;
d. Memberdayakan kearifan lokal;
e. Meningkatkan kualitas seluruh siklus hidup;

14 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
f. Memenuhi kebutuhan dasar masyarakat; dan
g. Memberdayakan peran serta masyarakat.
Kedudukan serta tugas dan fungsi Penyuluh KB (PKB/PLKB) tertuang dalam
lampiran Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014, dimana pengelolaan
Penyuluh KB (PKB/PLKB) merupakan kewenangan pemerintah Pusat (dalam hal
ini adalah BKKBN), dan pendayagunaannya oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota. Dalam implementasinya, selain harus mengacu pada
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 tahun 2016 tentang Perangkat Daerah,
juga diperlukan pedoman spesifik yang lebih operasional, mulai dari
penetapan standar kompetensi penyuluhan KB, penetapan Lembaga Sertifikasi
Profesi Penyuluh KB sampai pada strategi dan prosedur pelaksanaannnya
termasuk pembentukan asesor dan lembaga diklat terakreditasi di provinsi.
Standardisasi tenaga pelayanan KB bagi petugas medis berkaitan dengan
prosedur, tata cara dan kewenangan teknis medis memerlukan regulasi dan
kerjasama dengan sektor/institusi terkait, agar pelaksanaannya dapat berjalan
lancar dalam lima tahun ke depan. Dengan demikian, kerangka regulasi
penyelenggaraan urusan Bidang Pengendalian Penduduk dan KB selama lima
tahun ke depan adalah:
1. Perubahan Peraturan Presiden tentang kelembagaan BKKBN terutama
terkait dengan penambahan fungsi tidak hanya yang tertera pada Undang-
undang Nomor 52 tahun 2009 tetapi juga melaksanakan tugas fungsi
sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2014
tentang Pemerintah Daerah yang dalam lampiran dinyatakan bahwa
Kewenangan Pemerintah dalam hal ini BKKBN meliputi:
a) Pengendalian Penduduk;
- Pemaduan dan sinkronisasi kebijakan pengendalian kuantitas
penduduk.
- Penetapan perkiraan pengendalian penduduk secara nasional.
b) Keluarga Berencana (KB);
- Penyusunan desain program dan pengelolaan advokasi,
komunikasi, informasi dan edukasi pengendalian penduduk.
- Pengelolaan Tenaga penyuluh KB (PKB/PLKB).
- Pengelolaan dan penyediaan alat dan obat kontrasepsi untuk
kebutuhan PUS nasional.
- Pengelolaan dan pengendalian sistem informasi keluarga.
- Pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi
kemasyarakatan tingkat nasional dalam pengendalian pelayanan
dan pembinaan kesertaan ber- KB.
c) Keluarga Sejahtera;
- Pengembangan desain program pembangunan keluarga melalui
pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 15
- Pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi
kemasyarakatan tingkat nasional dalam pembangunan keluarga
melalui ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
d) Standardisasi dan Sertifikasi meliputi Standardisasi pelayanan KB dan
sertifikasi tenaga penyuluh KB/petugas lapangan KB (PKB/PLKB).
2. Penetapan Peraturan Presiden tentang Penyelenggaraan Keluarga
Berencana sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor
87 tahun 2014 tentang perkembangan Kependudukan, Pembangunan
Keluarga, Keluarga Berencana dan Sistem Informasi Keluarga.
3. Harmonisasi dan sinkronisasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan
Kementerian terkait dalam penerapan Undang-undang Nomor 23 tahun
2014, seperangkat peraturan perundangan yang berkaitan dengan
kelembagaan pengendalian penduduk dan KB di daerah provinsi dan
kabupaten/kota, serta petunjuk teknis tentang nomenklatur, struktur dan
tugas fungsi lembaga di daerah yang menangani Program KKBPK.
4. Penetapan peraturan Kepala BKKBN terutama dalam menerapkan Norma
Standard Prosedur dan Kriteria (NSPK) program dan kegiatan pengendalian
penduduk dan Keluarga Berencana di daerah provinsi dan kabupaten/kota.
5. Penetapan peraturan Kepala BKKBN terutama dalam perincian program
dan kegiatan serta penganggaran di kabupaten/kota sebagai rujukan
daerah dalam menerapkan struktur program dan kegiatan, indikator per
kegiatan kependudukan dan KB sekaligus kode akun anggaran.
6. Penetapan peraturan Kepala BKKBN terutama dalam menerapkan Sistem
Informasi Kependudukan dan Keluarga secara nasional dan di daerah.
7. Penetapan peraturan Kepala BKKBN terutama dalam menerapkan
standardisasi pelayanan KB kepada tenaga Pelayanan KB.
8. Penetapan peraturan Kepala BKKBN terutama dalam menerapkan
pengelolaan tenaga Penyuluh KB dan Petugas Lapangan KB.
9. Penetapan peraturan Kepala BKKBN terutama dalam menerapkan
sertifikasi tenaga penyuluh KB.
10. Penetapan peraturan Kepala BKKBN terutama dalam menerapkan
peraturan perundangan yang berlaku dalam rangka harmonisasi dan
sinkronisasi dengan Kementerian Dalam Negeri, pemerintah daerah
provinsi dan kabupaten/kota dan kementerian terkait terutama dalam
penerapan peraturan perundangan yang berlaku.
11. Penyusunan regulasi untuk mendukung pencapaian sasaran program KB di
daerah, antara lain untuk mendukung pencapaian peserta KB Baru,
pembinaan peserta KB aktif, kedudukan operasional penyuluh KB,
penyaluran anggaran mekanisme operasional dan penggerakan KB,
distribusi alokon dari kabupaten/kota ke fasilitas pelayanan kesehatan
(fasyankes), serta insentif bagi tenaga lapangan KB.
Rincian kerangka regulasi dapat dilihat pada Lampiran II: Matriks Kerangka
Regulasi.

16 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
3.4 Kerangka Kelembagaan
Berdasarkan ketentuan Pasal 12 ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014,
ditetapkan bahwa Urusan Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana adalah merupakan urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan
dengan Pelayanan Dasar. Untuk itu diperlukan penguatan kapasitas
kelembagaan yang menangani penyelenggaraan urusan Bidang Pengendalian
Penduduk dan KB di tingkat provinsi, dan kabupaten/kota agar dapat
sepenuhnya mengacu pada ketentuan tugas dan fungsi penyelenggaraan
urusan Pengendalian Penduduk dan KB sebagaimana telah ditetapkan di
dalam RPJMN dan Renstra BKKBN 2015-2019. Selain itu, dengan adanya bentuk
kelembagaan Dinas Pengendalian Penduduk dan KB maka akan memudahkan
saat penyusunan Program, Indikator dan Kegiatan Bidang Pengendalian
Penduduk dan KB baik di dalam RPJMD, Renstrada, dan RKPD Provinsi dan
Kabupaten/Kota. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka perlu
dilakukan penguatan fasilitasi, sosialisasi, pendampingan dan pembinaan,
terutama dalam menindaklanjuti Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2016
tentang Organisasi Perangkat Daerah.
Dalam rangka penguatan kelembagaan Pengendalian Penduduk dan KB
diperlukan beberapa langkah kegiatan, diantaranya:
1. Penguatan kapasitas pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota
dalam penyelenggaraan urusan Bidang Pengendalian Penduduk dan KB,
minimal berkaitan dengan;
a) Penguatan kapasitas yang berkaitan dengan kedudukan, fungsi,
klasifikasi lembaga daerah yang menangani pengendalian penduduk
dan KB.
b) Penguatan kapasitas infrastruktur regulasi yang mendukung
operasional maupun eksistensi lembaga sebagai tindak lanjut
perubahan peraturan perundangan (peraturan daerah, peraturan
Bupati/Walikota atau regulasi lain) yang berfungsi menjaga kualitas
dan sinergitas kebijakan dalam perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan dan evaluasi program.
c) Penguatan kompetensi/kapasitas sumber daya manusia baik tenaga
pengelola Program, tenaga pelaksana maupun tenaga masyarakat
yang menyelenggarakan Program KKBPK sesuai tingkatan wilayah.
d) Penguatan program dan penuangan kegiatan sebagai tindak lanjut
penerapan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) program
KKBPK sebagai penetapan arah Kebijakan umum pembangunan di
daerah, Renstrada dan Rencana Kegiatan dan Anggaran SKPD
pembangunan pengendalian penduduk dan KB.
e) Penguatan kapasitas dukungan sarana, prasarana dan anggaran
untuk menyelenggarakan program KKBPK di kabupaten/kota,
kecamatan dan desa dalam upaya menjaga kesinambungan dan
keberlangsungan pelayanan pengendalian penduduk dan KB kepada
masyarakat.
2. Menyelenggarakan sistem informasi keluarga yang berkaitan dengan
penyelenggaraan pendataan Keluarga, pencatatan dan pelaporan
pelayanan kontrasepsi dan pencatatan dan pelaporan pengendalian
lapangan program KKBPK secara akurat dan tepat waktu.

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 17
3. Memperkuat kedudukan dan peran penyuluh KB dan Petugas Lapangan
KB terutama berkaitan dengan pengelolaan sebagai Aparatur Sipil Negara
(ASN) maupun tenaga non ASN yang didayagunakan oleh pemerintah
daerah kabupaten/kota serta pelaksanaan sertifikasi penyuluh KB;
4. Memperkuat kedudukan hukum PPKBD, SUB PPKBD dan kader KB sebagai
penerapan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, di dalam
Pasal 150 dinyatakan bahwa Lembaga Kemasyarakatan Desa dibentuk
atas prakarsa pemerintah desa dan masyarakat khususnya yang bertugas
untuk melakukan pemberdayaan masyarakat desa, berperan serta aktif
dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dan melakukan
pelayanan Program KKBPK secara langsung kepada masyarakat.
5. Memperkuat pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi
kemasyarakatan dalam pengendalian pelayanan/pembinaan kesertaan
ber-KB serta dalam pembangunan keluarga melalui ketahanan dan
kesejahteraan keluarga.
6. Memperkuat pengendalian dan pendistribusian kebutuhan alat dan obat
kontrasepsi serta pelaksanaan pelayanan KB di kabupaten/kota.

18 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
BAB IV
TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN

4.1. TARGET KINERJA


Berdasarkan pada Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Pedoman Penyusunan dan Penelaahan Rencana Strategis (Renstra)
Kementerian/Lembaga (K/L) 2015-2019, maka BKKBN menyusun Renstra 2015-2019
dengan target kinerja dan kerangka pendanaan selama kurun waktu 5 (lima) tahun.
Penyusunan Renstra BKKBN 2015-2019 mengacu pada sasaran program (outcome),
sasaran kegiatan (output) dan indikator-indikator yang telah tertuang di dalam
RPJMN 2015-2019. Kemudian pengembangan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK),
Komponen dan Sub Komponen juga harus mempertimbangkan upaya perwujudan
tujuan BKKBN untuk “mencapai Penduduk Tumbuh Seimbang melalui upaya
penurunan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan perwujudan Keluarga
Berkualitas”. Selain itu, dalam penyempurnaan Renstra ini, BKKBN juga
memperhatikan berbagai prioritas pembangunan yang telah dirumuskan di dalam
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2017.

4.1.1 Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Sasaran Strategis


Sasaran Strategis BKKBN adalah kondisi yang akan dicapai secara nyata oleh
BKKBN mencerminkan pengaruh yang ditimbulkan oleh adanya outcome
dari beberapa program. Bentuk penjabaran tujuan strategis tersebut, BKKBN
menetapkan Sasaran Strategis Tahun 2015-2019 sebagai berikut:
1. Menurunnya Angka kelahiran total (TFR)
2. Meningkatnya prevalensi kontrasepsi (CPR)
3. Menurunnya kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need)
4. Meningkatnya peserta KB aktif yang menggunakan Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang (MKJP)
5. Menurunnya Tingkat Putus Pakai Kontrasepsi
Untuk mengukur keberhasilan pencapaian sasaran strategis BKKBN Tahun
2015-2019, maka BKKBN menetapkan indikator kinerja sasaran strategis
sebagai berikut:

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 19
Tabel 4.1
Indikator Kinerja Sasaran Strategis BKKBN Tahun 2015-2019

BASELINE TARGET KINERJA


INDIKATOR TARGET 2015-2019
2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) 2,60 2,37 2,36 2,33 2,31 2,28 2,28
per WUS (15-49 tahun)
2 Persentase pemakaian kontrasepsi (modern 57,9 60,5 60,7 60,9 61,1 61,3 61,3
contraceptive prevalence rate/CPR)
3 Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak 11,4 10,60 10,48 10,26 10,14 9,91 9,91
terpenuhi (unmet need) (%) (8,6)
4 Persentase Peserta KB Aktif (PA) MKJP 18,3 20,50 21,19 21,70 22,30 23,50 23,50
5 Tingkat putus pakai kontrasepsi (%) 27,1 26,0 25,7 25,3 25,0 24,6 24,6

4.1.2 Sasaran Program (Outcome) dan Indikator Kinerja Program


Sasaran Program (Outcome) merupakan hasil yang akan dicapai dari suatu
program dalam rangka pencapaian sasaran strategis BKKBN Tahun 2015-
2019. BKKBN merupakan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK)
sehingga hanya mempunyai 1 (satu) Program Teknis yaitu Program
Kependududukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga serta 3
(tiga) Program Generik yaitu: 1) Program Pelatihan, Penelitian dan
Pengembangan serta Kerjasama Internasional BKKBN; 2) Program
Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis lainnya; 3) Program
Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur BKKBN.
1. Sasaran Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga (KKBPK)
Sasaran Program (Outcome) Program Kependudukan, Keluarga
Berencana dan Pembangunan Keluarga adalah Terlaksananya Program
KKBPK di seluruh tingkatan wilayah. Untuk mengukur keberhasilan
pencapaian hasil (outcome), maka ditetapkan Indikator Kinerja Program
Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga sebagai berikut:
- Jumlah peserta KB baru /PB (juta)
- ASFR 15-19 Tahun
- Persentase PUS yang memiliki pengetahuan dan pemahaman
tentang semua jenis metode kontrasepsi modern
- Persentase keluarga yang memiliki pemahaman dan kesadaran
tentang fungsi keluarga
- Indeks Pengetahuan remaja tentang Generasi Berencana
- Persentase masyarakat yang mengetahui tentang isu
kependudukan
- Jumlah ketersediaan data dan informasi keluarga (pendataan
keluarga) yang akurat dan tepat waktu

20 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
2. Sasaran Program Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan serta
Kerjasama Internasional BKKBN
Sasaran Program (Outcome) Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan
serta Kerjasama Internasional BKKBN adalah meningkatnya kualitas SDM
Aparatur Penyelenggara Program, Kerjasama Internasional serta
Penelitian dan Pengembangan program KKBPK. Untuk mengukur
keberhasilan pencapaian hasil (outcome), maka ditetapkan Indikator
Kinerja Program Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan serta
Kerjasama Internasional BKKBN sebagai berikut:
- Persentase peningkatan kualitas SDM Aparatur dan tenaga
fungsional
- Jumlah Lembaga Diklat yang terakreditasi
- Jumlah kerjasama bilateral dan multilateral, lembaga penelitian dan
perguruan tinggi dalam dan luar negeri di bidang KKBPK
- Indeks Kepuasan hasil diklat nasional dan internasional, penelitian
dan pengembangan KB, KS dan Kependudukan
- Jumlah pelaksanaan kegiatan pelatihan, penelitian dan
pengembangan di Provinsi

3. Sasaran Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas


Teknis lainnya BKKBN
Sasaran Program (Outcome) Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan
Tugas Teknis lainnya adalah tersedianya dukungan manajemen dalam
rangka penyelenggaraan Program KKBPK. Untuk mengukur
keberhasilan pencapaian hasil (outcome), maka ditetapkan Indikator
Kinerja Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis
lainnya sebagai berikut:
- Jumlah produk hukum dan kebijakan yang dapat dipergunakan
sebagai dasar penguatan pelaksanaan program pengendalian
penduduk dan KB
- Tingkat opini laporan keuangan oleh BPK
- Jumlah dokumen perencanaan Program dan Anggaran yang
mengacu pada pendekatan kerangka pengeluaran jangka
menengah, penganggaran terpadu dan berbasis kinerja
- Persentase terlaksananya pengembangan karir Aparatur Sipil
Negara (ASN) yang kompetensinya sesuai dengan standar (sesuai
roadmap)
- Indeks kepuasan pelayanan administrasi perkantoran,
kerumahtanggaan, dan pemeliharaan sarana prasarana perkantoran
- Jumlah Dukungan manajemen pengelolaan program
Kependudukan, KB serta Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga di
Provinsi

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 21
4. Sasaran Program Program Pengawasan dan Peningkatan
Akuntabilitas Aparatur BKKBN
Sasaran Program (Outcome) Pengawasan dan Peningkatan
Akuntabilitas Aparatur BKKBN adalah meningkatnya akuntabilitas
pengelolaan Program KKBPK. Untuk mengukur keberhasilan pencapaian
hasil (outcome), maka ditetapkan Indikator Kinerja Program
Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur BKKBN sebagai
berikut:
- Persentase Temuan Penyimpangan Strategis dalam Pelaksanaan
Pengelolaan Program KKBPK oleh eksternal audit
- Jumlah pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur di
satker Perwakilan BKKBN provinsi

4.1.3 Sasaran Kegiatan dan Indikator Kinerja Kegiatan


Sasaran Kegiatan adalah keluaran (output) yang dihasilkan oleh suatu
kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran
program. Sasaran kegiatan merupakan keluaran yang harus dihasilkan oleh
unit kerja Eselon II dengan alat ukur tingkat keberhasilan pencapaiannya
menggunakan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK). Sasaran Kegiatan (Output)
dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) untuk masing-masing unit kerja Eselon II
telah disusun untuk seluruh Program dan Bidang di lingkungan BKKBN
(tertera pada matrik lampiran Renstra ini).

4.2. KERANGKA PENDANAAN


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2010
tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga
(RKA-K/L), Pemerintah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
setiap tahun dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan untuk mencapai tujuan
bernegara. Dokumen penyusunan anggaran yang dibutuhkan sebelum APBN
ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR, adalah RKA/KL dan Rencana Dana
Pengeluaran Bendahara Umum Negara (RDP BUN). RKA-K/L merupakan dokumen
rencana keuangan tahunan K/L yang disusun menurut Bagian Anggaran
Kementerian/Lembaga, sedangkan RDP BUN adalah rencana kerja dan anggaran
Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara yang memuat rincian kebutuhan dana
baik yang berbentuk anggaran belanja maupun pembiayaan dalam rangka
pemenuhan kewajiban pemerintah pusat dan transfer kepada daerah yang
pengelolaannya dikuasakan oleh Presiden kepada Menteri Keuangan selaku
Bendahara Umum Negara.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2010 juga mengatur
bahwa penyusunan RKA-K/L harus menggunakan pendekatan Kerangka
Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM), penganggaran terpadu (unified budgeting)
dan penganggaran berbasis kinerja (PBK).

22 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
4.2.1. Pendanaan Sasaran Strategis
Sasaran Strategis merupakan sasaran yang harus dapat dicapai oleh BKKBN
melalui integrasi dan sinkronisasi berbagai kegiatan prioritas di seluruh
Program, Bidang (Unit Eselon I) dan seluruh unit kerja Eselon II di lingkungan
BKKBN. Sehingga kerangka pendanaan Sasaran Strategis merupakan alokasi
anggaran BKKBN secara keseluruhan (total anggaran BKKBN).

4.2.2. Pendanaan Program dan Indikator Kinerja Program


Kerangka pendanaan Program di lingkungan BKKBN dibagi pada 4 (empat)
Program yang terdiri dari:
Tabel 4.2
Rancangan Kerangka Pendanaan Program BKKBN Tahun 2015-2019
BASELINE ALOKASI ANGGARAN
PROGRAM 2015-2019
ALOKASI 2014 2014 2016 2017 2018 2019
1 Program Kependudukan KB, dan Pembangunan 1.764.062,8 2.408.065,1 1.965.398,3 2.328.227,3 2.444.448,6 2.566.671,0 11.712.810,4
Keluarga
2 Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan 566.318,8 636.340,6 616.156,3 768.753,3 2.907.190,9 3.052.550,5 7.980.990,6
Tugas Teknis lainnya BKKBN
3 Program Pengawasan dan Peningkatan 5.369,9 11.629,0 12.460,9 17.600,0 18.480,0 19.404,0 79.573,9
Akuntabilitas Aparatur BKKBN
4 Program Pelatihan, penelitian dan Pengembangan 204.115,1 265.189,4 191.293,8 296.011,1 310.811,7 326.352,2 1.389.657,2
serta Kerjasama Internasional BKKBN

TOTAL 2.539.866,6 3.321.224,1 2.785.309,3 3.410.591,7 5.680.931,2 5.964.977,7 21.163.032,1

4.2.3. Pendanaan Bidang dan Kegiatan


Di dalam rancangan kerangka pendanaan Program, terdapat pendanaan
untuk level Bidang (unit Eselon I) dan level Kegiatan (unit kerja Eselon II). Di
dalam Program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKBPK)
terdapat 4 (empat) Bidang: Bidang Pengendalian Penduduk (DALDUK),
Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR), Bidang
Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) dan Bidang
Advokasi, Penggerakan dan Informasi (ADPIN). Pada Program Dukungan
Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya (DKM) terdapat 1 (satu)
Bidang Sekretariat Utama (Sestama), pada Program Pengawasan dan
Peningkatan Akuntabilitas Aparatur terdapat 1 (satu) Bidang Inspektorat
Utama (Irtama), dan pada Program Pelatihan, Penelitian dan
Pengembangan serta Kerjasama Internasional terdapat 1 (satu) Bidang
Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Latbang).
Pada masing-masing Bidang tersebut kemudian telah dijabarkan pada
level kegiatan (unit kerja Eselon II), termasuk kerangka struktur kegiatan
untuk unit kerja Perwakilan BKKBN Provinsi. Pendanaan pada level
kegiatan merupakan anggaran untuk mendukung keluaran (output) yang
dihasilkan oleh unit kerja Eselon II yang dilaksanakan untuk mendukung
pencapaian sasaran Program dan Bidang diatasnya. Rincian kerangka
pendanaan per-Bidang (unit Eselon I) dan per-Kegiatan Prioritas (unit kerja
Eselon II) telah tertera pada matrik lampiran Renstra ini.

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9 23
BAB V
PENUTUP

Upaya penguatan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan


Keluarga (KKBPK) tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang tergambar pada
kondisi pencapaian Program KKBPK secara nasional selama lima tahun terakhir dimana
target/sasaran yang telah ditetapkan belum berhasil dicapai secara maksimal. BKKBN
harus lebih meningkatkan komitmen dalam pelaksanaan berbagai kegiatan prioritas
baik secara internal di dalam lingkungan BKKBN sendiri, maupun dengan meningkatkan
kerjasama lintas sektor (lintas K/L) serta bersama mitra kerja dan pemangku
kepentingan (stakeholders) di seluruh tingkatan wilayah.
Perbaikan telah dilakukan di dalam Rencana Strategis (Renstra) 2015-2019 ini dengan
telah mempertimbangkan berbagai perkembangan isu dan lingkungan strategis serta
kebijakan perencanaan yang telah ditetapkan oleh Kementerian PPN/Bappenas,
diantaranya; 1) Perubahan pendekatan yang semula Money Follow Function menjadi
Money Follow Program, 2) Pendekatan Perencanaan pembangunan nasional yang
holistik, tematik, terintegrasi, dan spasial, dan 3) Penajaman Prioritas Program dan
Kegiatan Pembangunan Nasional dalam RKP 2017.
Selain itu, penyempurnaan pada Indikator Kinerja Kegiatan (IKK), Komponen dan Sub
Komponen pada Renstra ini juga telah dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan
perbaikan dan penajaman pada Balanced Score Card (BSC) BKKBN 2017-2019 yang akan
menjadi salah satu alat ukur atau alat pemantauan dan evaluasi terhadap upaya
pencapaian target/sasaran yang telah ditetapkan.
Dengan adanya perbaikan/revisi pada Rencana Strategis (Renstra) BKKBN 2015-2019 ini
diharapkan dapat meningkatkan kualitas implementasi Program Kependudukan, KB
dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) diseluruh tingkatan wilayah, dapat memperkuat
strategi pelaksanaan kegiatan prioritas dalam pencapaian target/sasaran yang telah
ditetapkan, serta dapat memudahkan proses evaluasi pelaksanaan kegiatan dan
pencapaian kinerja/ outcome dan output BKKBN. Berbagai permasalahan yang
kemudian muncul dalam proses pelaksanaan Program dan Kegiatan BKKBN ke depan
merupakan tantangan bersama yang harus dihadapi melalui berbagai strategi yang
dapat dikembangkan.

24 R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Lampiran I:

Matriks Rencana Strategis (Renstra) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)

ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI


PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

BADAN TERCAPAINYA 2.539.866,6 3.321.223,1 2.785.308,5 3.410.591,7 5.680.931,2 5.964.977,8 21.163.032,3 BKKBN
KEPENDUDUKAN PENDUDUK TUMBUH
DAN KELUARGA SEIMBANG 1 Angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) per WUS (15-49 tahun) 2,60 2,37 2,36 2,33 2,31 2,28 2,28
BADAN
BERENCANA 2 Persentase pemakaian kontrasepsi (modern contraceptive prevalence rate/CPR) 57,9 60,5 60,7 60,9 61,1 61,3 61,3 KEPENDUDUKAN
NASIONAL
DAN KELUARGA
(BKKBN) BERENCANA
3 Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) (%) 11,4 10,60 10,48 10,26 10,14 9,91 9,91
(8,6) NASIONAL
(BKKBN)
4 Persentase Peserta KB Aktif (PA) MKJP 18,3 20,50 21,19 21,70 22,30 23,50 23,50

5 Tingkat putus pakai kontrasepsi (%) 27,1 26,0 25,7 25,3 25,0 24,6 24,6
I Program Terlaksananya 1.764.062,8 2.408.065,1 1.949.995,3 2.328.227,3 2.444.448,6 2.566.671,0 11.697.407,4 BKKBN
Kependudukan, Program
KB, dan Kependudukan, KB 1 Jumlah peserta KB baru /PB (juta) 7,6 6,84 7,15 7,43 7,39 7,33 7,33
Pembangunan dan Pembangunan 2 ASFR 15-19 Tahun 48 per 1000 46 per 1000 44 per 1000 42 per 1000 40 per 1000 38 per 1000 38 per 1000
perempuan 15-19 perempuan 15-19 perempuan 15-19 perempuan 15-19 perempuan 15-19 perempuan 15-19 perempuan 15-19
Keluarga Keluarga diseluruh
tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun
tingkatan wilayah
3 Persentase PUS yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang semua 11 (Survey RPJMN 16 21 31 50 70 70 BADAN
jenis metode kontrasepsi modern 2013) KEPENDUDUKAN
DAN KELUARGA
4 Persentase keluarga yang memiliki pemahaman dan kesadaran tentang fungsi 5 (Survey RPJMN 10 20 30 40 50 50
2013) BERENCANA
keluarga NASIONAL
5 Indeks Pengetahuan remaja tentang Generasi Berencana 48,4 (skala 0-100) 48,4 49 50 51 52 52 (BKKBN)
*Survey RPJMN
6 Persentase masyarakat yang mengetahui tentang isu kependudukan 34 38 42 46 48 50 50

7 Jumlah Ketersediaan data dan informasi keluarga (pendataan keluarga) yang 1 1 1 1 1 1 1


akurat dan tepat waktu

A Bidang Terimplementasikanny 16.187,6 32.246,5 15.962,2 17.640,0 18.626,0 19.557,2 104.031,9 BKKBN DEPUTI BIDANG
Pengendalian a Kebijakan 34 provinsi; 34 provinsi; 34 provinsi; 34 provinsi; 34 provinsi; 34 provinsi;
PENGENDALIAN
A.1 Jumlah Pemda yang memasukkan indikator program KKBPK ke dalam RKPD -
Penduduk Pengendalian 50 Kab/Kota (9% 110 Kab/Kota 170 Kab/Kota (31% 240 Kab/Kota (43% 300 Kab/Kota 300 Kab/Kota (54% PENDUDUK
Penduduk dalam dari 547 Kab/Kota); (20,1% dari 547 dari 547 Kab/Kota); dari 547 Kab/Kota); (54% dari 547 dari 547 Kab/Kota); (DALDUK)

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Perencanaan 20% K/L Kab/Kota); 30% K/L 35% K/L Kab/Kota); 40% K/L
25% K/L 40% K/L
Pembangunan
1 Perencanaan Pengelolaan data dan 4.321,7 14.015,5 4.254,1 4.500,0 4.620,0 4.851,0 32.240,6 PUSAT B
Pengendalian informasi
Penduduk kependudukan yang I.1 Jumlah sektor yang menyepakati dan memanfaatkan parameter kependudukan 8 (sektor) 8 (sektor) 10 (sektor) 12 (sektor) 14 (sektor) 16 (sektor) 16 (sektor) Prioritas RKP
untuk penyusunan rencana dan pelaksanaan program pembangunan (Penguatan
dimanfaatkan sebagai
regulasi,
Basis Perencanaan kelembagaan,
Pembangunan 1.1 Persentase pemerintah Provinsi dan kab/kota yang menyediakan profil Prov 50% Prov 50% Prov 100% Prov 100% Prov 100% Prov 100% Prov 100% serta data dan
(parameter dan proyeksi) penduduk dalam melaksanakan perencanaan Kab/kota 10% Kab/kota 15% Kab/kota 20% Kab/kota 40% Kab/kota 60% Kab/kota 60% informasi)
pembangunan daerah

051 Pengembangan kebijakan dan strategi penetapan perencanaan DIREKTORAT


PERENCANAAN
pengendalian penduduk
PENGENDALIAN
052 Penetapan profil (parameter dan proyeksi) penduduk PENDUDUK
(DITRENDUK)
053 Pemanfaatan data sasaran pengendalian penduduk dalam
perencanaan pembangunan
054 Peningkatan kemitraan dalam perencanaan pengendalian
penduduk
1.2 Jumlah Pembinaan, Monitoring, dan Evaluasi Perencanaan 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov
Pengendalian Penduduk
055 Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Program Perencanaan
Pengendalian Penduduk
2 Pemaduan Terwujudnya kebijakan 3.844,5 5.405,9 3.828,2 4.010,0 3.947,0 4.144,3 21.335,4 PUSAT N
Kebijakan pembangunan yang Prioritas RKP
I.2 Persentase Pemda yang memasukkan indikator program KKBPK ke dalam RKPD 20% sektor; 30% sektor; 35% sektor; 40% sektor; 45% sektor; 50% sektor; 50% sektor;
Pengendalian berwawasan 10% provinsi; 15% provinsi; 20% provinsi; 25% provinsi; 20% 30% provinsi; 35% provinsi; 35% provinsi; (Penguatan
Penduduk kependudukan pada 5% Kab/Kota 10% Kab/Kota 15% Kab/Kota Kab/Kota 25% Kab/Kota 30% Kab/Kota 30% Kab/Kota regulasi,
semua sektor di tingkat kelembagaan,
pusat, provinsi dan 2.1 Persentase kabupaten/kota yang memiliki grand desain pembangunan - 40% kab/kota 60% kab/kota 80% kab/kota 90% kab/kota 100% kab/kota 100% kab/kota serta data dan
kependudukan informasi)
Kab/Kota
061 Kebijakan dan strategi grand design pembangunan
kependudukan tingkat kabupaten/kota DIREKTORAT
062 Fasilitasi penyusunan grand design pembangunan kependudukan PEMADUAN
tingkat kabupaten/kota KEBIJAKAN
PENGENDALIAN
063 Implementasi/pemanfaatan grand design pembangunan
PENDUDUK
kependudukan tingkat kabupaten/kota (DITJAKDUK)

25
064 Pemaduan dan sinkronisasi kebijakan pengendalian penduduk
kementerian/lembaga dengan kebijakan pembangunan daerah

2.2 Jumlah Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Pemaduan Kebijakan 33 provinsi 33 provinsi 34 provinsi 34 provinsi 34 provinsi 34 provinsi 34 provinsi
Pengendalian Penduduk
065 Pembinaan Monitoring dan Evaluasi Pemaduan Kebijakan
Pengendalian Penduduk
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

3 Kerjasama Meningkatnya 3.860,4 5.539,0 3.609,4 4.400,0 4.620,0 4.851,0 23.019,4 PUSAT B
Pendidikan sinergitas
I.3 Persentase mitra kerja dan pengelola yang memiliki komitmen dalam - 100% 100% 100% 100% 100% 100% Prioritas RKP
Kependudukan penyelenggaraan
pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan kependudukan (Penguatan
pendidikan Advokasi dan
kependudukan antar 3.1 Persentase kerjasama penyelenggaraan pendidikan formal, non formal - 100% 100% 100% 100% 100% 100% KIE KB)

26
lembaga pendidikan dan informal yang melakukan pendidikan kependudukan

071 Kebijakan dan strategi pendidikan kependudukan DIREKTORAT


KERJASAMA
072 Penyiapan materi pendidikan kependudukan PENDIDIKAN
073 Peningkatan dan atau pengembangan kemitraan pendidikan KEPENDUDUKAN
(DITPENDUK)
kependudukan
074 Implementasi pendidikan kependudukan (desiminasi/publikasi)

3.2 Jumlah Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Kerjasama Pendidikan 33 33 34 34 34 34 34


Kependudukan
075 Pembinaan, Monitoring, Evaluasi Kerjasama Pendidikan
Kependudukan
4 Analisis Dampak Tersedianya kebijakan 4.161,0 7.286,1 4.270,5 4.730,0 5.439,0 5.711,0 27.436,6 PUSAT B
Kependudukan pengendalian dampak
I.4 Jumlah kebijakan pengendalian dampak kependudukan dan model solusi - 4 6 6 6 6 28 Prioritas RKP
kependudukan dan
strategis dampak kependudukan sebagai rekomendasi pembangunan wilayah (Penguatan
model solusi strategis regulasi,
kelembagaan,
4.1 Jumlah kabupaten/kota/sektor yang menginternalisasi kebijakan - 4 Provinsi 6 Provinsi 10 Provinsi, 110 10 Provinsi, 110 14 Provinsi, 110 34 Provinsi, 330 serta data dan
pengendalian dampak kependudukan ke dalam perencanaan program Kab/Kota, 6 Sektor Kab/Kota, 6 Sektor Kab/Kota, 6 Kab/Kota, 18 informasi)
Sektor Sektor
dan kegiatan
081 Pengembangan Kebijakan, Strategi dan Program Pengendalian DIREKTORAT
Dampak Kependudukan (berbasis sektoral, tematik dan spasial) ANALISIS
DAMPAK
KEPENDUDUKAN
082 Penguatan Kemitraan dan Pelembagaan kebijakan Dampak (DITDAMDUK)
kependudukan
083 Intervensi Model Solusi Strategis Pengendalian Dampak
Kependudukan
4.2 Jumlah Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Perencanaan Pengendalian - 4 Provinsi 6 Provinsi 10 Provinsi, 110 10 Provinsi, 110 13 Provinsi, 110 33 Provinsi, 330
dampak kependudukan Kab/Kota, 6 Sektor Kab/Kota, 6 Sektor Kab/Kota, 6 Kab/Kota, 18
Sektor Sektor
084 Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan pengendalian
dampak kependudukan
B Bidang Keluarga Meningkatnya 515.370,1 901.717,8 1.056.602,2 578.510,4 894.083,6 938.787,8 4.369.701,9 BKKBN DEPUTI BIDANG
Berencana dan Kuantitas dan Kualitas KELUARGA
Kesehatan Pelayanan KB dan KR B.1 Jumlah PA Tambahan - - - 1.150.000 965.000 744.000 2.859.000 BERENCANA DAN
KESEHATAN
Reproduksi B.2 Persentase Peningkatan Kesertaan ber-KB di Daerah Terpencil, Perbatasan dan 122 Kabupaten 12% 24% 36% 48% 60% 60%
REPRODUKSI
Kepulauan Terluar (DTPK)
(KBKR)
5 Peningkatan Meningkatnya 496.071,3 863.697,7 1.040.857,5 561.753,5 877.801,2 921.691,3 4.265.801,3 PUSAT N
pembinaan pembinaan dan
I.5 Persentase peserta KB bagi PUS yang mendapatkan jaminan ketersediaan alat 53 53 53,5 54 54,5 55 55 Prioritas RKP
kesertaan ber-KB kesertaan KB melalui
dan obat kontrasepsi (alokon) melalui SJSN Kesehatan (Peningkatan
jalur pemerintah Faskes KB pemerintah Pelayanan KB)

5.1 Persentase Faskes Jalur Pemerintah yang Bekerjasama dengan BPJS 26,7% 26,7% 45,0% 63,4% 81,7% 100% 100%
Kesehatan yang Memenuhi Standar Pelayanan KB (15.798 faskes
pemerintah)
091 Penguatan Kebijakan dan Strategi Operasional Peningkatan
Akses dan Kualitas Pelayanan KB Jalur Pemerintah yang
Terintegrasi dengan BPJS Kesehatan
092 Penguatan Penggerakan dan Pelayanan KB
093 Peningkatan akses dan kualitas Pelayanan KB di Faskes
Pemerintah
II.5 Persentase faskes yang mendapatkan pemenuhan sarana, alokon sesuai dengan 24,8% (dari total 29,4% 43,3% 57,2% 71,1% 85% 85% (dari total
standar pelayanan KB (85% dari 53.342 Faskes yang diasumsikan bekerjasama asumsi faskes asumsi faskes
yang bekerjasama yang bekerjasama
dengan SJSN Kesehatan sampai dengan tahun 2019 = 45.340 Faskes s/d tahun DIREKTORAT
dengan SJSN dengan SJSN
2019) BINA KESERTAAN
kesehatan/ 53.342) kesehatan/53.342 =
45.340 Faskes di
BER-KB JALUR
2019) PEMERINTAH
(DITJALPEM)
5.2 Persentase Faskes yang Mendapat Sarana Pelayanan KB (Jumlah 46,6% 46,6% 59,9% 73,3% 86,6% 100% 100% (dari total
faskes pemerintah dan swasta yang terpenuhi sarananya dibandingkan asumsi faskes
teregister dalam
dengan target faskes yang harus dipenuhi sarananya pada 2019 =
SIM BKKBN)
45.340 faskes)
094 Jaminan Ketersediaan Alokon

095 Pemenuhan Sarana Pelayanan KB

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
III.5 Jumlah fasilitasi pembinaan kesertaan ber-KB Jalur Pemerintah 12 kali di setiap 12 kali di setiap 12 kali di setiap 12 kali di setiap 12 kali di setiap 12 kali di setiap 12 kali di setiap
provinsi provinsi provinsi provinsi provinsi provinsi provinsi

5.3 Jumlah pembinaan, monitoring dan evaluasi KB Jalur Pemerintah yang 34 provinsi 34 provinsi 34 provinsi 34 provinsi 34 provinsi 34 provinsi 34 provinsi
berkualitas
096 Penguatan Mitra Kerja dalam Pembinaan Kesertaan KB Jalur
Pemerintah
097 Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Kesertaan KB Jalur
Pemerintah
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

6 Pembinaan Meningkatnya 5.057,0 15.797,3 6.337,0 6.857,0 6.989,9 7.339,3 43.320,4 PUSAT N
standarisasi kapasitas tenaga
I.6 Persentase faskes dan jejaringnya yang memiliki tenaga kesehatan 8% 8% 27% 47% 66% 85% 85% (dari total Prioritas RKP
kapasitas tenaga kesehatan pelayanan
terstandarisasi/kompeten dalam pelayanan KB dan KR (1 faskes yang sudah (dari total asumsi asumsi faskes (Peningkatan
kesehatan KBKR yang faskes yang yang bekerjasama Pelayanan KB)
pelayanan KBKR terstandarisasi bekerjasama dengan SJSN Kesehatan memiliki 1 dokter dan atau 1 bidan
bekerjasama dengan SJSN
terstandarisasi/kompeten) dengan SJSN Kesehatan/53.342 =
Kesehatan/ 45.340 Faskes di
53.342) 2019)

6.1 Persentase Faskes swasta yang terakreditasi/rekognisi yang - - - 20% 30% 50% 50 % dari total
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan dan memberikan pelayanan KB Faskes Swasta
yang bekerjasama
dengan BPJS pada
tahun 2016
DIREKTORAT
BINA KESERTAAN
101 Penyediaan Kebijakan, Strategi dan Materi Informasi Pelayanan BER-KB JALUR
SWASTA
KB Jalur Swasta
(DITJALSWA)
102 Peningkatan Kapasitas SDM, serta ketersediaan Alokon dan
Sarana Penunjang Pelayanan KB Berkualitas di Faskes Swasta
dan Jejaringnya
103 Peningkatan Peran Serta Mitra Kerja dalam Pelayanan KB Jalur
Swasta
II.6 Persentase Peserta KB (PBI dan non PBI) yang dilayani di Faskes Swasta dan 58,9% (MS 60% 61,5% 63% 64,5% 66% 66%
jejaringnya 2014)
6.2 Persentase terlaksananya pembinaan, monitoring dan evaluasi KB Jalur 34 provinsi 100% 100% 100% 100% 100% 34 provinsi
Swasta yang berkualitas terfasilitasi
pembinaan KB
Jalur Swasta

104 Monitoring, Evaluasi dan Fasilitasi Peningkatan Akses dan


Kualitas Pelayanan KB Jalur Swasta
7 Peningkatan Meningkatnya 10.574,8 15.125,8 5.695,3 4.981,0 4.620,0 4.851,0 35.273,1 PUSAT N
Kesertaan KB di pembinaan kesertaan
I.7 Persentase kabupaten (Kabupaten Galciltas) dan kota (Wilayah Miskin 183 Kabupaten 12% Kab Galciltas 24% Kab Galciltas 36% Kab Galciltas 48% Kab Galiciltas 60% Kab Galciltas 60% Kab Galiciltas Prioritas RKP
wilayah dan KB di wilayah dan
Perkotaan) yang difasilitasi dalam pembinaan kesertaan ber KB galciltas dan 97 dan 25% Wilayah dan 35% Wilayah dan 45% Wilayah dan 55% Wilayah dan 65% Wilayah dan 65% Wilayah (Peningkatan

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
sasaran khusus sasaran khusus Wilayah Kota Kota kota Kota Kota Kota Kota Pelayanan KB)

7.1 Persentase Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan terluar 122 Kabupaten dan 12% Kab dan 25% 24% Kab dan 35% 36% Kab dan 45% 48% Kab dan 55% 60% Kab dan 65% 60% Kab dan 65%
(DTPK) dan wilayah miskin perkotaan yang difasilitasi dalam pembinaan 97 Kota (Perpres Kota Kota Kota Kota Kota Kota
131/2015)
kesertaan ber KB

110 Penyediaan Kebijakan, Strategi dan Materi Informasi Pembinaan


DIREKTORAT
Pelayanan ber-KB bagi Penduduk Miskin, DTPK dan sasaran
BINA KESERTAAN
khusus (KB Pria) BER-KB JALUR
111 Fasilitasi Pembinaan Pelayanan ber-KB bagi Penduduk Miskin WILAYAH DAN
dan DTPK SASARAN
KHUSUS
112 Peningkatan Peran Mitra Kerja dalam Pembinaan Pelayanan ber-
(DITJALSUS)
KB bagi Penduduk Miskin dan Daerah Tertinggal (termasuk
DTPK)
113 Fasilitasi Pelaksanaan Pembinaan Pelayanan KB Pria
7.2 Jumlah fasilitasi pembinaan KBKR di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan 33 Provinsi 33 Provinsi 34 Provinsi 34 Provinsi 34 Provinsi 34 Provinsi 34 Provinsi
Kepulauan terluar (DTPK), wilayah miskin perkotaan, dan Sasaran
Khusus (KB Pria)
114 Pembinaan, Monitoring, Evaluasi di Daerah Tertinggal,
Perbatasan dan Kepulauan terluar (DTPK), wilayah miskin
perkotaan, dan Sasaran Khusus (KB Pria)
8 Peningkatan Meningkatnya Kualitas 3.667,0 7.097,1 3.712,4 4.918,9 4.672,5 4.906,1 25.307,1 PUSAT N
Kualitas Kesehatan Promosi dan Konseling
I.8 Persentase faskes KB yang memiliki tenaga pelayanan KB yang memenuhi 8% 8% dari 53.342 27% dari 53.342 47% dari 53.342 66% dari 53.342 85% dari 53.342 85% (dari total Prioritas RKP
Reproduksi Kesehatan Reproduksi
standar dalam melaksanakan promosi dan konseling kesehatan dan hak-hak (dari total asumsi faskes faskes faskes faskes faskes asumsi faskes (Peningkatan
faskes yang yang bekerjasama Pelayanan KB)
reproduksi yang berkualitas
bekerjasama dengan SJSN
8.1 Persentase Faskes yang memberikan informasi Kesehatan dan Hak-hak 8% dari 53.342 8% dari 53.342 27% dari 53.342 47% dari 53.342 66% dari 53.342 85% dari 53.342 85% dari 53.342
Reproduksi faskes faskes faskes faskes faskes faskes faskes
121 Penyediaan Kebijakan, Strategi dan Materi Promosi dan
Konseling Kesehatan Reproduksi yang Dikembangkan

122 Penyediaan Sarana dan distribusi Promosi dan Konseling


Kesehatan Reproduksi di Fasilitas Kesehatan

123 Penguatan Peran Mitra Kerja yang Terlibat dalam Promosi dan

27
Konseling Kesehatan Reproduksi di Faskes
DIREKTORAT
124 Peningkatan promosi dan konseling Kesehatan Reproduksi di KESEHATAN
REPRODUKSI
DTPK
(DITKESPRO)
125 Peningkatan Kesertaan KB PP &PK
II.8 Persentase Kelompok Sasaran (poktan/BKB-BKRBKL-UPPKS dan PPKS) yang - 5% dari 265.045 10% dari 265.045 15% dari 265.045 20% dari 265.045 25% dari 265.045 25% dari 265.045
mendapatkan promosi dan konseling kesehatan, serta hak-hak reproduksi yang poktan poktan poktan poktan poktan poktan
berkualitas (memenuhi standar)
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

8.1 Persentase Kelompok Kegiatan (POKTAN) yang mendapatkan informasi - 5% dari 265.045 10% dari 265.045 15% dari 265.045 20% dari 265.045 25% dari 265.045 25% dari 265.045
kesehatan reproduksi poktan poktan poktan poktan poktan poktan

126 Peningkatan promosi dan konseling Kesehatan Reproduksi (di


komunitas, mitra kerja, serta bagi PKB/PLKB dan PPKBD/Sub
PPKBD)

28
127 Penyediaan Sarana Promosi dan Konseling Kesehatan
Reproduksi di Kelompok kegiatan
8.2 Jumlah fasilitasi pembinaan, Promosi dan Konseling Kesehatan 33 33 34 34 34 34 34
Reproduksi
128 Monitoring, Evaluasi dan fasilitasi pembinaan, Promosi dan
Konseling Kesehatan Reproduksi
C Bidang Keluarga Meningkatnya 18.696,7 52.395,5 20.040,7 102.160,2 24.475,7 25.699,5 224.771,5 BKKBN DEPUTI BIDANG
Sejahtera dan Ketahanan Keluarga KELUARGA
C.1 Persentase Keluarga Pra Sejahtera (Pra KS) - 17,0% 16,5% 16,0% 15,5% 15,0% 15,0%
Pemberdayaan guna mewujudkan SEJAHTERA DAN
Keluarga Keluarga Berkualitas C.2 Persentase remaja perempuan 15-19 tahun yang menjadi Ibu dan atau sedang 9,5% 9,45% 9,25% 9,20% 9,10% 9,00% 9,00% PEMBERDAYAAN
hamil anak pertama (SDKI 2012) KELUARGA
(KSPK)
C.4 Median Usia Kawin Pertama Perempuan 20,1 20,6 20,7 20,8 20,9 21 21
9 Pembinaan Meningkatnya 5.734,4 20.780,8 5.654,1 4.985,2 5.129,5 5.385,9 41.935,5 PUSAT N
Keluarga Balita dan Pengetahuan, Sikap I.9 Persentase keluarga yang mempunyai balita dan anak memahami dan 45,2% 50,2% 55,5% 60,5% 65,5% 70,5% 70,5% Prioritas RKP
Anak dan Perilaku (PSP) melaksanakan pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang balita dan anak (Pembangunan
keluarga balita dan keluarga)
anak dalam
pengasuhan dan 9.1 Persentase Keluarga Balita dan Anak yang Ikut BKB 45,2% 50,2% 55,5% 60,5% 65,5% 70,5% 70,5%
pembinaan tumbuh 131 Promosi Pembinaan Keluarga BKB
kembang anak DIREKTORAT
132 Penguatan Jejaring Kemitraan BKB BINA KELUARGA
II.9 Persentase PUS anggota BKB yang mendapat pembinaan kesertaan ber-KB 80% Data Dallap 80% 80% 80% 80% 80% 80% BALITA DAN
Okt 2014 ANAK
(DITBALNAK)
9.2 Persentase Kelompok BKB HI yang mendapat pembinaan KKBPK - 7,5% 10% 12,5% 15% 17,5% 17,5%

133 Peningkatan Kualitas pembinaan kelompok BKB HI

9.3 Jumlah monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program Bina Keluarga - 34 34 34 34 34 34


Balita yang berkualitas
134 Monitoring dan Evaluasi Program Bina Keluarga Balita
10 Pembinaan Meningkatnya remaja 5.238,6 12.186,3 6.052,4 83.647,5 5.562,4 5.840,5 113.289,0 PUSAT N
Ketahanan Remaja yang mendapatkan 48,4 (rentang Prioritas RKP
I.10 Indeks Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) melalui Generasi 48,4 49 50 51 52 52
pembinaan tentang indeks 0-100) (Pembinaan
Berencana (GenRe)
Generasi Berencana *Survey RPJMN Remaja)
(GenRe) 2014)
10.1 Indeks pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi - 48,4 49 50 51 52 52

141 Penyusunan Kebijakan, strategi, pedoman, materi dan


Administrasi
142 Penguatan Promosi dan pelembagaan Program GenRe
II.10 Persentase PUS anggota BKR yang ber KB 74% dari PUS pada 74,0% 74,5% 75,0% 75,5% 76,0% 76,0%
2,06jt keluarga DIREKTORAT
yang menjadi BINA KETAHANAN
anggota BKR (Stat
REMAJA
Rutin 2013)
(DITHANREM)

10.2 Persentase remaja yang mengakses PIK (dari yang pernah mendengar - 22,8% 24% 26% 28% 30% 30%
tentang PIK)

143 Peningkatan Akses dan Kualitas PIK R/M

10.3 Jumlah fasilitasi pembinaan, monitoring dan evaluasi Bina Ketahanan - 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov
Remaja
144 Monitoring, Evaluasi dan fasilitasi Program Bina Ketahanan
Remaja
11 Pembinaan Meningkatnya PSP 3.881,8 12.428,4 3.418,5 5.640,0 5.817,0 6.107,9 33.411,7 PUSAT B
Ketahanan keluarga lansia dan I.11 Persentase Keluarga yang mempunyai Lansia dan Rentan yang memahami 4,3% 4,3% 5,3% 8,0% 9,0% 10,0% 10,0% Prioritas RKP
Keluarga Lansia rentan dalam tentang Pembinaan Ketahanan Keluarga Lanjut Usia & Rentan (Pembangunan
dan Rentan pembinaan keluarga keluarga)
lansia dan rentan
11.1 Persentase Keluarga yang Memiliki Lansia Ikut BKL - 8% 8% 8% 8% 8% 8%

151 Promosi Pembinaan dan Peningkatan Akses Keluarga Lansia dan


Rentan, serta Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) DIREKTORAT
BINA KETAHANAN
KELUARGA
152 Peningkatan Jejaring Kemitraan LANSIA DAN

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
RENTAN
11.2 Persentase PPKS yang Memberikan Pelayanan Komprehensif - 30% 35% 40% 45% 50% 50% (DITHANLAN)

153 Peningkatan Kualitas PPKS

11.3 Jumlah fasilitasi pembinaan BKL dan PPKS yang berkualitas - 34 34 34 34 34 34

154 Pembinaan, Monitoring, dan Evaluasi BKL dan PPKS


ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

12 Pemberdayaan Meningkatnya 3.842,0 7.000,0 4.915,7 7.887,5 7.966,9 8.365,2 36.135,3 PUSAT B
Ekonomi Keluarga pemberdayaan Prioritas RKP
I.12 Persentase PUS KPS anggota kelompok UPPKS yang mendapat pembinaan 67,5% 68,5% 69,5% 70,5% 71,5% 72,5% 72,5%
ekonomi KPS melalui (Pembangunan
kesertaan ber-KB
kelompok UPPKS keluarga)
12.1 Persentase keluarga pra sejahtera yang menjadi anggota kelompok 51% 53,40% 53,90% 54,40% 54,90% 55,40% Survei RPJMN
dalam pembinaan ber
KB Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Kejahtera (UPPKS)

161 Pengembangan Kebijakan dan Peningkatan Promosi


Pemberdayaan Ekonomi Keluarga DIREKTORAT
PEMBERDAYAAN
162 Penguatan Kerjasama dengan Mitra Kerja dalam Pembinaan EKONOMI
Kelompok UPPKS KELUARGA
12.2 Persentase kelompok UPPKS yang mendapat bantuan permodalan 49,5 58,2 66,2 74,2 82,2 90,2 Databasis online (DITPEMKON)

163 Pengembangan akses usaha ekonomi keluarga


12.3 Jumlah Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan 33 33 34 34 34 34 Laporan
Ekonomi Keluarga yang berkualitas

164 Pembinaan, Monitoring, dan evaluasi Program Pemberdayaan


Ekonomi Keluarga
D Bidang Advokasi, Meningkatnya 168.018,5 200.378,0 101.271,4 290.569,5 114.691,8 120.426,4 827.337,1 BKKBN
Penggerakan dan Penghayatan Norma
D.1 Persentase wanita usia subur yang mengadopsi norma anak ideal 51,4% - 51% 60% 65% 70% 70%
Informasi Keluarga Kecil DEPUTI BIDANG
D.2 Persentase remaja yang yang mengadopsi norma Usia Kawin ideal - 66% 68% 69% 71% 72% 72% ADVOKASI,
PENGGERAKAN,
D.3 Persentase potensial demand 14,7% - 14,7% 14,2% 13,7% 13,2% DAN INFORMASI
13,2%
(ADPIN)
D.4 Presentase Pemanfaatan data untuk perumusan kebijakan dan pengambilan - - 10% 25% 45% 60% 60%
keputusan
13 Peningkatan Meningkatnya 145.773,3 129.593,1 73.663,6 164.092,5 76.233,4 80.045,1 523.627,8 PUSAT N
Advokasi dan KIE komitmen stakeholders I.13 Persentase stakeholder dan mitra kerja yang mendapatkan advokasi melalui 80 82 84 86 88 90 90 Prioritas RKP
Program (pemangku media, audiensi, dan momentum KKBPK (Penguatan
Kependudukan, kepentingan) dan mitra Advokasi dan
KB, dan kerja serta 13.1 Persentase stakeholders/pemangku kepentingan tingkat pusat maupun 80 82 84 86 88 90 90 KIE KB)
pembangunan meningkatnya provinsi dan kabupaten kota yang terpapar program KKBPK
pengetahuan dan

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
keluarga
pemahaman 171 Peningkatan Advoksi Program KKBPK melalui Media
masyarakat terhadap
172 Peningkatan Advokasi Program KKBPK melalui Mitra Kerja
program KKBPK

173 Peningkatan Advokasi Program KKBPK melalui Kegiatan


Momentum
II.13 Persentase PUS, WUS, remaja dan keluarga yang mendapatkan informasi 72 74 76 78 80 82 82
program KKBPK melalui media massa (cetak dan elektronik) dan media luar
ruang, terutama media lini bawah (poster, leaflet, lembar balik, banner, media
tradisional)
13.2 Persentase masyarakat yang memahami isi pesan program KKPBK dari 10,5 6,7 15 20 30 50 50
DIREKTORAT
berbagai media (Survei RPJMN (Survei RPJMN
2014: %PUS yg 2015: %PUS yg
ADVOKASI DAN
mengetahui mengetahui semua KOMUNIKASI,
semua jenis jenis alat/cara KB INFORMASI DAN
alat/cara KB modern) EDUKASI
modern) (DITVOKKOM)
174 Peningkatan promosi dan KIE Program KKBPK melalui Media
Massa Cetak dan Elektronik serta Media Luar Ruang

175 Peningkatan promosi dan KIE Program KKBPK melalui Media Lini
Bawah
176 Pengembangan Kebijakan dan Dukungan Advokasi, Promosi dan
KIE Program KKBPK
III.13 Persentase PUS, WUS, remaja dan keluarga yang mendapatkan informasi 29,1 39,1 49,1 59,1 69,1 79,1 79,1
program KKBPK melalui tenaga lini lapangan
13.3 Persentase masyarakat yang memahami isi pesan program KKBPK dari 29,1 39,1 49,1 59,1 69,1 79,1 79,1
tenaga lini lapangan (Survei RPJMN
2014)

177 Peningkatan promosi dan KIE Program KKBPK melalui Tenaga


Lini Lapangan
178 Monitoring, Evaluasi dan Pembinaan Advokasi, Promosi dan KIE
Program KKBPK
14 Peningkatan Meningkatnya 4.646,3 6.828,6 5.138,3 6.420,0 6.657,0 6.989,9 32.033,8 PUSAT B
kemitraan dengan komitmen dan peran I.14 Persentase kerjasama antara BKKBN dengan stakeholder dan organisasi 15% 30% 45% 60% 70% 80% 80% Prioritas RKP
stakeholder dan serta stakeholder dan kemasyarakatan tingkat nasional dan daerah dalam implementasi program (Penguatan
Advokasi dan

29
mitra kerja organisasi KKBPK
kemasyarakatan KIE KB)
tingkat nasional dan 14.1 Persentase mitra kerja melaksanakan program KKBPK - 30% 45% 60% 70% 80% 80%
daerah yang 181 Peningkatan peran serta pemangku kepentingan dalam
mendukung penggerakkan operasional program KKBPK
operasional program
KKBPK 182 Peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan dalam
penggerakkan operasional program KKBPK DIREKTORAT
183 Pengembangan Kebijakan, Strategi dan Materi Informasi Bina BINA HUBUNGAN
ANTAR LEMBAGA
Hubungan Antar Lembaga dan Kemitraan
(DITBINHUB)
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA
( )
II.14 Persentase pemerintah kabupaten dan kota yang mempunyai komitmen 40%dari 511 45% 55% dari 547 70% 80% 90% 90%
program KKBPK (kebijakan, kelembagaan, program, anggaran, sarana Kab/Kota kab/kota
prasarana, dan SDM)
14.2 Jumlah Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi penguatan komitmen Mitra

30
Kerja dan Pemangku Kepentingan Tk. Provinsi dan Kabupaten/Kota
- - - 34 34 34 34
dalam penggerakkan operasional program KKBPK

184 Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program KKBPK diseluruh


tingkatan wilayah
15 Peningkatan Meningkatnya kualitas 6.617,1 24.197,8 4.463,3 84.987,0 6.968,9 7.317,3 127.934,2 PUSAT N
Pembinaan Lini dan kuantitas
I.15 Persentase Kab dan Kota yang mempunyai Jumlah PLKB/PKB sesuai ratio yg 25 30% 40% 50% 60% 70% 70% Prioritas RKP
Lapangan tenaga Penyuluh KB
memadai (1:2 ideal) (Penguatan
(PKB/PLKB) dalam Advokasi dan
pengelolaan program Jumlah SDM Lini Lapangan yang Kompeten 2.650 806 882 882 882 882 4334 KIE KB)
KKBPK
15.1 Persentase SDM Lini Lapangan yang terampil melaksanakan tupoksi - 10% 40% 60% 80% 100% 100%

191 Pengembangan Kebijakan dalam rangka peningkatan kinerja SDM


Lini Lapangan dan Mekanisme Operasional
192 Pengembangan Materi dan Sarana Prasarana Operasional Lini
Lapangan
DIREKTORAT
193 Peningkatan Kapasitas SDM Lini Lapangan BINA LINI
II.15 Persentase Tenaga PKB/PLKB yang mendapatkan sertifikasi sesuai dengan 0 (8,675 PLKB/PKB - 10% dari jml 40% dari jml 70% dari jml 100% dari jml 100% dari jml LAPANGAN
standarisasi kompetensinya D3/ S1/S2 pada PKB/PLKB PKB/PLKB PKB/PLKB PKB/PLKB PKB/PLKB (DITBINLAP)
tahun 2014)

15.2 Persentase PKB/PLKB yang tersertifikasi - - 10% 40% 70% 100% 100%
194 Penyelenggaraan Sertifikasi Tenaga PKB/PLKB
III.15 Persentase pelaksanaan fasilitasi Peningkatan Pembinaan program KKBPK di 33 provinsi 100% jml 100% jml 100% jml 100% jml 100% jml 100% jml
Lini lapangan provinsi provinsi provinsi provinsi provinsi provinsi
15.3 Jumlah Fasilitasi Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Lini 34 34 34 34 34 34 34
lapangan
195 Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Lini lapangan

16 Penyediaan data Tersedianya Sistem 4.686,0 27.980,7 6.290,8 6.780,0 6.982,5 7.331,6 55.365,6 PUSAT DIREKTORAT N
dan informasi Infomasi Keluarga PELAPORAN DAN
I.16 Jumlah data dan informasi program KKBPK yang tersedia secara cepat, tepat, 6 11 17 17 17 17 17 Prioritas RKP
program KKBPK program KKBPK
akurat, dan bermanfaat berbasis teknologi informasi (Penguatan
berbasis TI sebagai regulasi,
pusat data informasi Jumlah mitra kerja dan stakeholders yang melakukan pengelolaan dan 26 26 26 26 26 26 130 kelembagaan,
BKKBN pemanfaatan data dan informasi program KKBPK serta data dan
informasi)
16.1 Indeks kepuasan pemanfaatan data dan informasi KKBPK (oleh mitra 1 dari skala 4 1 dari skala 4 2 dari skala 3 2 dari skala 4 3 dari skala 4 4 dari skala 4 4 dari skala 4
kerja, masyarakat umum, internal BKKBN, Pemangku kepentingan)

201 Pengembangan kebijakan Standarisasi Data dan Informasi


Program KKBPK
202 Data dan Informasi Statistik Rutin yang dimanfaatkan

203 Peningkatan Kualitas data melalui Penguatan Sistem Pelaporan


dan Statistik Rutin
II.16 Jumlah tenaga pengelola yang kompeten dalam pengelolaan data dan informasi 495 orang 591 orang 591 orang 591 orang 591 orang 591 orang 2955 orang
program KKBPK

16.2 Jumlah Pembinaan, monitoring dan evaluasi, serta fasilitasi Pengelolaan 6 12 19 19 19 19 12


Data dan Informasi yang berkualitas
204 Peningkatan kompetensi pengelola dalam pengelolaan data dan
informasi
205 Monitoring, Evaluasi dan fasilitasi Pengelolaan Data dan
Informasi

17 Penyediaan Tersedianya layanan 6.295,9 11.777,8 11.715,4 28.290,0 17.850,0 18.742,5 88.375,7 PUSAT B
Teknologi, Sistem Teknologi
I.17 Indeks Kepuasan Layanan terhadap pemanfaatan STIK 3 dari skala 1-5 3 dari skala 1-5 3 dari skala 1-5 3,5 dari skala 1-5 4 dari skala 1-5 4 dari skala 1-5 4 dari skala 1-5 Prioritas RKP
Informasi dan Informasi dan
(Penguatan
Dokumentasi Komunikasi (STIK) regulasi,
17.1 Indeks Kepuasan Layanan terhadap pemanfaatan STIK - 3 dari skala 1-5 3 dari skala 1-5 3,5 dari skala 1-5 4 dari skala 1-5 4 dari skala 1-5 4 dari skala 1-5
program KKBPK kelembagaan,
211 Pengembangan Sarana Prasarana Pengelolaan STIK serta data dan
informasi)
212 Pembangunan dan Pengembangan Sistem Aplikasi dan Bank Data DIREKTORAT
TEKNOLOGI,

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
INFORMASI DAN
213 Penyebarluasan Layanan Informasi dan Dokumentasi Program DOKUMENTASI
KKBPK (DITTIFDOK)
17.2 Persentase Fasilitasi Pengelolaan Data dan Informasi - 100% 100% 100% 100% 100% 100%
214 Peningkatan kompetensi pengelola
215 Monitoring, Evaluasi dan fasilitasi Pengelolaan Data dan
Informasi
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

18 Pengelolaan Terlaksananya Program KKBPK Provinsi 1.045.789,9 1.221.327,3 756.118,8 1.339.347,1 1.392.571,6 1.462.200,2 6.171.565,0
Program Program 50.160,0 28.870,2 41.631,6 83.871,2 65.034,9 68.286,6 287.694,6 Provinsi N
Bidang DALDUK Provinsi
Kependudukan, Kependudukan,
I.18 Jumlah cakupan sinkronisasi (penyerasian) kebijakan pembangunan daerah 33 Provinsi 33 provinsi (50% 34 provinsi (70% 34 provinsi (75% 34 provinsi (85% 34 provinsi (100% 34 provinsi (100% Prioritas RKP
Keluarga Keluarga Berencana dari jumlah dari jumlah dari jumlah dari jumlah dari jumlah dari jumlah (Penguatan
Berencana, dan dan Pembangunan dengan kebijakan pengendalian kuantitas penduduk diseluruh tingkatan wilayah
kab/Kota) kab/Kota) kab/Kota) kab/Kota) kab/Kota) kab/Kota) regulasi,
Pembangunan Keluarga diseluruh kelembagaan,
Keluarga Provinsi tingkatan wilayah 18.1 Persentase Kab/Kota yang mengimplementasikan kebijakan dan strategi - - - 75% Kab/Kota 85% Kab/Kota 100% Kab/Kota 100% Kab/Kota serta data dan
informasi)
pengendalian penduduk (Grand Design, Profil/paremeter dan Proyeksi
Penduduk)
221 Sinkronisasi kebijakan dan strategi penetapan perencanaan
pengendalian penduduk
222 Penetapan profil (parameter dan proyeksi) penduduk Tk.
Kabupaten/Kota
18.2 Persentase Kabupaten/Kota yang memanfaatkan Analisis Dampak - - - 110 Kab/Kota 110 Kab/Kota 110 Kab/Kota 330 Kab/Kota
Kependudukan sebagai pendukung kebijakan Pembangunan Perwakilan
berwawasan kependudukan BKKBN Provinsi
(BIDANG DALDUK
223 Internalisasi Kebijakan Pengendalian dampak kependudukan di
PROV)
Kabupaten/ Kota
18.3 Jumlah pembinaan implementasi pendidikan kependudukan di Tk. - - - 34 34 34 34
Provinsi dan Kabupaten/Kota (formal, non formal, informal)

224 Implementasi pendidikan kependudukan di Tk. Provinsi dan


Kabupaten/Kota (formal, non formal, informal)

18.4 Jumlah Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi Bidang - - - 34 34 34 34


Pengendalian Penduduk
225 Peningkatan kemitraan dalam perencanaan pengendalian
penduduk
226 Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi Pengendalian
Penduduk
Bidang KBKR Provinsi 463.726,6 228.397,6 254.554,2 439.870,0 412.549,7 433.177,2 1.768.548,7 Provinsi N
II.18 Cakupan pembinaan kesertaan ber-KB dan peningkatan kualitas pelayanan KB - 33 provinsi (100% 34 provinsi (100% 34 provinsi (100% 34 provinsi (100% 34 provinsi (100% 34 provinsi (100% Prioritas RKP
dari jumlah dari jumlah dari jumlah dari jumlah dari jumlah dari jumlah (Peningkatan

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
yang sesuai dengan standarisasi pelayanan KB diseluruh tingkatan wilayah
kab/Kota) kab/Kota) kab/Kota) kab/Kota) kab/Kota) kab/Kota) Pelayanan KB)

18.5 Jumlah penggerakan pelayanan KB MKJP - - PB MKJP = Additional Users Additional Users Additional Additional Users
618440; ganti cara (PA tambahan): (PA tambahan): Users (PA (PA tambahan):
(336.444), 1.150.000 965.000 tambahan): 2.859.000
komplikasi berat 744.000
(3.015), pencabutan
implan dan
kegagalan (563.637)

230 Penggerakan dan pemantapan kesertaan ber-KB MKJP


231 Pelayanan Pencabutan Implant
18.6 Jumlah penggerakan pelayanan KB dan KR di Daerah Tertinggal, - 2 frek/th/ kab 3 frek/th/ kab 3 frek/th/ kab 3 frek/th/ kab 3 frek/th/ kab 3 frek/th/ kab Perwakilan
Perbatasan dan Kepulauan terluar (DTPK), wilayah miskin perkotaan BKKBN Provinsi
dan sasaran khusus (BIDANG KBKR
PROV)
232 Peningkatan kualitas penggerakan pelayanan KBKR di di Daerah
Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan terluar (DTPK), wilayah
miskin perkotaan dan sasaran khusus
18.7 Persentase Faskes dan jejaringnya (diseluruh tingkatan wilayah) yang - 29,4 43,3 57,2 71,1 85 85
bekerjasama dengan BPJS dan memberikan pelayanan KBKR sesuai
dengan standarisasi pelayanan
233 Faskes KB (pemerintah dan swasta) yang memberikan pelayanan
KB sesuai dengan SOP dan kesehatan reproduksi

18.8 Persentase Faskes yang melakukan promosi dan konseling Kesehatan - 8% 27% 47% 66% 85% 85%
dan hak-hak Reproduksi di Provinsi dan Kab/Kota

234 Peningkatan promosi Kesehatan dan hak-hak Reproduksi di


Provinsi dan Kab/Kota
18.9 Jumlah Pembinaan, Monitoring, evaluasi dan Fasilitasi kegiatan Bidang - 100% Kab/Kota 100% Kab/Kota 100% Kab/Kota 100% Kab/Kota 100% Kab/Kota 100% Kab/Kota
KBKR di Kabupaten dan Kota
235 Pembinaan, monitoring, evaluasi dan fasilitasi KBKR di
Kabupaten dan Kota
Bidang KSPK Provinsi 292.576,2 187.434,2 153.458,1 166.668,3 173.955,2 182.653,0 864.168,8 Provinsi N
III.18 Pembinaan Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga diseluruh tingkatan 33 Prov dan 514 33 Prov dan 514 33 Prov dan 514 33 Prov dan 514 33 Prov dan 514 33 Prov dan 514 33 Prov dan 514 Prioritas RKP
wilayah Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota (Pembangunan
keluarga)

31
18.10 Jumlah pelaksanaan sosialisasi dan diseminasi kebijakan Keluarga 33 Prov dan 514 33 Prov dan 514 33 Prov dan 514 34 Prov dan 514 34 Prov dan 514 34 Prov dan 514 34 Prov dan 514
Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (Pembangunan Keluarga) Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota

diseluruh tingkatan wilayah


240 Sosialisasi dan diseminasi kebijakan Keluarga Sejahtera dan
Pemberdayaan Keluarga diseluruh tingkatan wilayah

18.11 Persentase Kabupaten/Kota yang mengembangkan kegiatan BKB 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Holistic Integrative
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

241 Fasilitasi Penguatan dan pembinaan BKB Holistic Integrative


Perwakilan
BKKBN Provinsi
18.12 Persentase Kabupaten/Kota yang melaksanakan Pembinaan Genre (PIK- 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Prioritas RKP
(BIDANG KSPK (Pembinaan
R/M dan BKR) PROV) Remaja)

32
242 Pembinaan PIK R/M di Provinsi dan Kabupaten/Kota
243 Pembinaan kelompok BKR
18.13 Persentase Kabupaten/Kota yang melaksanakan pembinaan BKL 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
244 Pengembangan dan pembinaan kelompok BKL

18.14 Persentase Kabupaten/Kota yang melaksanakan pembinaan PEK dan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
pembentukan kelompok UPPKS
245 Pembinaan kelompok UPPKS dan pembinaan PEK
18.15 Jumlah Pembinaan, Monitoring, evaluasi dan Fasilitasi kegiatan Bidang 33 33 34 34 34 34 34
KSPK
246 Pembinaan, Monitoring, evaluasi dan Fasilitasi kegiatan Bidang
KSPK di Kabupaten dan Kota
Bidang ADPIN Provinsi 239.327,0 776.625,3 306.474,9 648.937,6 741.031,7 778.083,3 3.251.152,8 Provinsi N

IV.18 Persentase Stakeholders/mitra kerja dan masyarakat diseluruh tingkatan 0% 30% 45% 60% 70% 80% 80% Prioritas RKP
wilayah yang mendapat Pembinaan Advokasi dan KIE program KKBPK (Penguatan
Advokasi dan
KIE KB)
18.16 Jumlah Pembinaan dan sosialisasi kebijakan, strategi dan materi 33 33 34 34 34 34 34
advokasi dan KIE pembangunan KKBPK
250 Pembinaan dan sosialisasi kebijakan, strategi dan materi
advokasi dan KIE pembangunan KKB
18.17 Jumlah Penayangan informasi KKBPK melalui berbagai media cetak dan
elektronik, media luar ruang dan seni dan budaya/tradisional

251 Penayangan informasi KKBPK melalui berbagai media cetak dan


elektronik, media luar ruang dan seni dan budaya/tradisional

252 Pelaksanaan Advokasi dan KIE program KKBPK melalui mupen

V.18 Persentase petugas lini lapangan (PLKB/PKB) yang mendapat Dukungan 100% dari 22.481 100 100 100 100 100 100 Perwakilan Prioritas RKP
Operasional program KKBPK PLKB/PKB BKKBN Provinsi (Peningkatan
(BIDANG ADPIN Pelayanan KB)

18.18 Jumlah Penggerakan Pembinaan KKBPK bagi PKB/PLKB dan mitra kerja - - - 34 34 34 34 PROV)
di setiap tingkatan wilayah
253 Dukungan Penggerakan Pembinaan KKBPK bagi mitra kerja di
setiap tingkatan wilayah
18.19 Jumlah Pembinaan mekanisme operasional dalam penguatan pelayanan - - - 34 34 34 34
dasar masyarakat

254 Pembinaan mekanisme operasional dalam penguatan pelayanan


dasar masyarakat

255 Monitoring dan Evaluasi penggerakan mekanisme operasional


dan implementasi kegiatan Bidang ADPIN di Lini Lapangan

VI.18 Jumlah wilayah yang mendapatkan dukungan pendampingan kemitraan dalam 33 prov dan 514 33 prov dan 514 34 prov dan 514 34 prov dan 514 34 prov dan 514 34 prov dan 514 34 prov dan 514 Prioritas RKP
pembangunan KKB diseluruh tingkatan wilayah kab/kota kab/kota kab/kota kab/kota kab/kota kab/kota kab/kota (Penguatan
Advokasi dan
KIE KB)
18.20 Persentase kesertaan stakeholder dan mitra kerja dalam implementasi - - - 100% 100% 100% 100%
program KKBPK
256 Peningkatan kesertaan stakeholder dan mitra kerja dalam
implementasi program KKBPK
VII.18 Pengelolaan Data dan informasi program KKBPK di Provinsi 2 jenis data dan 2 jenis data dan 2 jenis data dan 2 jenis data dan 2 jenis data dan 2 jenis data dan 2 jenis data dan Prioritas RKP
informasi di setiap informasi di setiap informasi di setiap informasi di setiap informasi di setiap informasi di informasi di setiap (Penguatan
prov (keluarga, prov (keluarga, RR) prov (keluarga, RR) prov (keluarga, RR) prov (keluarga, RR) setiap prov prov (keluarga, RR) regulasi,
RR) (keluarga, RR) kelembagaan,
serta data dan
18.21 Jumlah pengelolaan data dan informasi program KKBPK di provinsi 33 - - 34 34 34 34
informasi)

257 Peningkatan pengelolaan data dan informasi program KKBPK di


provinsi
258 Pengembangan, peningkatan kualitas dan pemanfaatan sistem
informasi kependudukan dan keluarga

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
II Program Dukungan Tersedianya Dukungan 566.318,8 636.340,6 635.474,7 768.753,3 2.907.190,9 3.052.550,5 8.000.310,0 BKKBN
Manajemen dan Manajemen Dalam
Pelaksanaan Tugas Rangka 1 Jumlah produk hukum dan kebijakan yang dapat dipergunakan sebagai dasar 4 4 1 1 1 1 8
Teknis lainnya Penyelenggaraan penguatan pelaksanaan program pengendalian penduduk dan KB
BKKBN Program KKBPK
2 Tingkat opini laporan keuangan oleh BPK WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP
BADAN
3 Jumlah dokumen perencanaan Program dan Anggaran yang mengacu pada 5 3 3 3 3 5 5
KEPENDUDUKAN
pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah, penganggaran terpadu
DAN KELUARGA
dan berbasis kinerja BERENCANA
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

4 Persentase terlaksananya pengembangan karir Aparatur Sipil Negara (ASN) 50% 52% 55% 57% 60% 63% 63% NASIONAL
yang kompetensinya sesuai dengan standar (sesuai roadmap) pengembangan pengembangan pengembangan pengembangan pengembangan pengembangan pengembangan (BKKBN)
SDM SDM SDM SDM SDM SDM SDM

5 Indeks kepuasan pelayanan administrasi perkantoran, kerumahtanggaan, dan - 3 dari skala 1-4 3 dari skala 1-4 3 dari skala 1-4 4 dari skala 1-4 4 dari skala 1-4 4 dari skala 1-4
pemeliharaan sarana prasarana perkantoran
6 Jumlah Dukungan manajemen pengelolaan program Kependudukan, KB serta 33 prov 33 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov
Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga di Provinsi
E Sekretariat Utama Terwujudnya 130.094,6 184.479,6 158.975,2 196.664,0 185.229,4 194.490,9 919.839,2 BKKBN
dukungan manajemen
E.1 Tersedianya landasan hukum dan kebijakan yang sinergi dan harmonis antara PP87/2014 tentang Perpres tentang Perpres tentang Peraturan Peraturan Peraturan Perpres tentang
dalam
pembangunan bidang kependudukan-KB dan bidang pembangunan lainnya perkembangan pedoman pedoman perundangan terkait perundangan perundangan pedoman
penyelenggaraan kependudukan, PK pelaksanaan pelaksanaan dengan terkait dengan terkait dengan pelaksanaan
program KKBPK , KB dan Sistem perkembangan perkembangan perkembangan perkembangan perkembangan Pembangunan
informasi kependudukan dan kependudukan dan program program program Pengendalian
keluarga) pembangunan pembangunan Penduduk dan KB
keluarga keluarga serta peraturan
perundangan
terkait Program
KKBPK
SEKRETARIAT
UTAMA
E.2 Persentase unit kerja yang melakukan tata kelola keuangan dan BMN yang - - - 100% 100% 100% 100%
(SESTAMA)
memenuhi standar kepatutan
E.3 Persentase unit kerja BKKBN yang melakukan perencanaan program dan - - - 100% 100% 100% 100%
anggaran yang sesuai dengan pendekatan perencanaan pembangunan nasional

E.4 Persentase pemetaan ASN BKKBN yang sesuai dengan standar kompetensi - - - 100% 100% 100% 100%

E.5 Persentase pelayanan kerumahtanggan & protokol, administrasi umum dan - - - 100% 100% 100% 100%
pengelolaan sarana & prasarana yang sesuai dengan standar

19 Penyediaan dan Tersedianya Landasan 5.332,6 8.500,0 5.603,6 7.700,0 8.085,0 8.489,3 38.377,8 PUSAT N
Sinkronisasi hukum dan kebijakan I.19 Jumlah Peraturan Perundang-undangan yang terfasilitasi dan Fasilitasi 4 4 1 1 1 1 8 Prioritas RKP
Landasan Hukum yang dapat Pembentukan Kelembagaan Pengendalian Penduduk dan KB di Kabupaten/Kota (Penguatan
dan Kebijakan dipergunakan sebagai regulasi,
Kependudukan dan dasar penguatan kelembagaan,
19.1 Jumlah regulasi/kebijakan program KKBPK 4 4 1 10 10 5 25 serta data dan
KB, serta pelaksanaan program
informasi)

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Pengelolaan KKBPK
301 Penyediaan regulasi/kebijakan dan materi hukum, organisasi dan
Organisasi dan
humas BIRO HUKUM,
Tatalaksana
ORGANISASI DAN
19.2 Jumlah pelaksanaan pembinaan, monitoring dan evaluasi dalam 33 33 34 34 34 34 34
HUMAS (BIHOM)
penataan Hukum,Organisasi dan Humas

302 Pembinaan dan fasilitasi kehumasan BKKBN

303 Pembinaan dan fasilitasi kasus hukum yang sesuai dengan


peraturan perundang-undangan yang berlaku
304 Monitoring, Evaluasi dan Pembinaan kelembagaan bidang
pengendalian penduduk dan KB di daerah

20 Pengelolaan Terwujudnya 8.036,8 27.300,0 9.373,1 11.875,7 9.082,5 9.536,6 67.168,0 PUSAT KL
Keuangan pengelolaan keuangan I.20 Persentase Laporan Keuangan & BMN yang dapat diselesaikan tepat waktu, 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
dan BMN dan BMN yang akuntabel, kredibel dan memenuhi standar kepatutan
akuntabel untuk
mencapai tingkat opini 20.1 Jumlah satker yang melaksanakan tata kelola keuangan dan BMN - - - 42 42 42 42
WTP sesuai Standar Akuntansi Pemerintah (SAP), Sistem Pengendalian
Internal (SPI) dan peraturan perundang undangan

311 Implementasi Pengelolaan Keuangan Sesuai Sistem Akuntansi


Instansi

20.2 Persentase Satuan Kerja yang melaksanakan Pengelolaan Keuangan 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %
dengan tingkat akurasi yang dapat dipertanggungjawabkan

312 Pengelolaan Administrasi Keuangan


BIRO KEUANGAN
20.3 Persentase Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa sesuai peraturan - - - 100% 100% 100% 100% DAN
PENGELOLAAN
perundangan
BMN (BIKUB)
313 Peningkatan pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa oleh ULP

20.4 Persentase Barang Inventaris Tercatat pada SIMAK BMN di semua - - - 100% 100% 100% 100%
tingkatan yang kredibel

314 Pengelolaan BMN

33
315 Implementasi Pengelolaan Barang Persediaan

20.5 Jumlah Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Keuangan 42 Satuan kerja 42 Satuan kerja 42 Satuan kerja 42 Satuan kerja 42 Satuan kerja 42 Satuan kerja 42 Satuan kerja
dan BMN yang dilaksanakan

316 Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan


BMN
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

21 Penguatan Terlaksananya 9.089,3 9.022,4 6.931,9 9.600,0 9.082,5 9.536,6 44.173,5 PUSAT KL
Perencanaan perencanaan program I.21 Jumlah Perencanaan Program dan Anggaran yang mengacu pada pendekatan 4 3 3 3 3 4 4
Program dan dan anggaran yang kerangka pengeluaran jangka menengah, penganggaran terpadu dan berbasis
Anggaran mengacu pada kinerja
pendekatan kerangka
21.1 Jumlah unit eselon II pusat dan provinsi yang merencanakan program - - - 62 62 62 62
pengeluaran jangka

34
dan anggaran yang berkualitas
menengah,
penganggaran terpadu 321 Penyediaan kebijakan perencanaan program dan anggaran yang
dan berbasis kinerja berkualitas yang dapat diimplementasikan

322 Penyediaan data basis perencanaan yang tersedia tepat waktu,


lengkap, akurat berbasis Teknologi Informasi

323 Penetapan sasaran KB (PPM PA/PB) dan KS


BIRO
324 Penyediaan perencanaan program yang berkualitas(mengacu PERENCANAAN
pada pendekatan money follow program dan pendekatan holistik, (BIREN)
terintegrasi, tematik dan spasial)

325 Peningkatan koordinasi kerjasama Luar Negeri dalam mendukung


KKBPK
326 Pengembangan Peta strategi BKKBN dan eselon I dan score card
eselon II, III dan IV
21.2 Jumlah unit eselon II pusat dan provinsi yang melaksanakan program - - - 62 62 62 62
dan anggaran sesuai dengan dokumen perencanaan

327 Monitoring dan Pembinaan Perencanaan Program dan Anggaran


program KKBPK
328 Evaluasi perencanaan program dan anggaran
22 Pengelolaan Meningkatnya 5.213,6 8.054,3 5.492,3 7.160,0 7.360,5 7.728,5 35.795,6 PUSAT KL
Administrasi pengelolaan I.22 Persentase Pengelolaan SDM Aparatur Sipil Negara yang Optimal 100 100 100 100 100 100 100
Kepegawaian dan administrasi
Pengembangan kepegawaian tepat 22.1 Indeks kepuasan ASN terhadap pelayanan kepegawaian - - 3 (skala 1-5) 3 (skala 1-5) 3 (skala 1-5) 4 (skala 1-5) 4 (skala 1-5)
Sumber Daya waktu dan
331 Penyediaan dokumen perencanaan pegawai yang berkualitas
Manusia Aparatur pengembangan SDM
Aparatur yang
kompeten 332 Penyediaan standar kompetensi jabatan dan profil kekuatan ASN
BKKBN
333 Pelaksanaan manajemen ASN dalam menjamin sistem merit

334 Pengembangan budaya kerja Organisasi dan Pembinaan disiplin BIRO


pegawai KEPEGAWAIAN
II.22 Persentase Pelayanan Administrasi Kepegawaian yang Efektif dan Efisien 50 60 70 80 90 100 100 (BIPEG)

22.2 Jumlah fasilitasi Pengelolaan Administrasi Kepegawaian dan - - 34 (1pusat, 33 34 (1pusat, 33 34 (1pusat, 33 34 (1pusat, 33 34 (1pusat, 33
Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur prov) prov) prov) prov) prov)

335 Pengelolaan Administrasi Kepegawaian yang akurat dan tepat


waktu
336 Penyediaan data ASN BKKBN yang akurat dan terkini melalui
Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) BKKBN

337 Pelaksanaan Pembinaan, Monitoring, Evaluasi dan Motivasi ASN

23 Pelaksanaan Terlaksananya 102.422,2 131.602,9 131.574,3 160.328,3 151.618,9 159.199,9 734.324,3 PUSAT KL
pelayanan pelayanan administrasi I.23 Indeks Kepuasan Pelayanan Kerumahtanggaan - skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4)
administrasi perkantoran,
kerumahtanggaan dan 23.1 Indeks kepuasan terhadap pelayanan kerumah tanggaan - skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4)
perkantoran dan
pemeliharaan sarana
kerumahtanggaan 001 Pembayaran gaji, uang makan dan tunjangan kinerja
prasarana perkantoran
yang cepat dan tepat
341 Peningkatan kualitas pelayanan kerumah tanggaan

II.23 Indeks Kepuasan Pelayanan Pemeliharaan Sarana Prasarana Perkantoran - skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4)

23.2 Indeks kepuasan terhadap pelayanan pengelolaan sarana dan - skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4)
prasarana perkantoran
002 Peningkatan Cakupan penyelenggaraan Operasional dan
Pemeliharaan Perkantoran
342 Pengelolaan sarana dan prasarana perkantoran (output 951) BIRO UMUM
(BIRUM)
III.23 Indeks Kepuasan Pelayanan Administrasi Perkantoran, Keprotokolan dan - skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4)

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Keamanan
23.3 Indeks kepuasan terhadap pelayanan administrasi perkantoran, - skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 3 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4) skala 4 (1-4)
keprotokolan dan keamanan
343 Pengembangan Perangkata tatalaksana administrasi umum

344 Peningkatan kualitas pelayanan keprotokolan


345 Peningkatan kualitas Pelayanan keamanan kantor
346 Peningkatan kualitas pelayanan administrasi umum
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

23.4 Jumlah fasilitasi, pembinaan dan evaluasi - - - 12 12 12 12


347 Peningkatan pembinaan program serta monitoring dan evaluasi
pengelolaan administrasi umum yang berkualitas

24 Pelaksanaan Terselenggaranya Program DKM Provinsi 436.224,2 451.861,0 476.499,5 572.089,2 2.721.961,5 2.858.059,6 7.080.470,8
Dukungan Dukungan Manajemen
Sekretariat Provinsi 436.224,2 451.861,0 476.499,5 572.089,2 2.721.961,5 2.858.059,6 7.080.470,8 Provinsi KL
Manajemen di dalam pengelolaan
Perwakilan BKKBN Program I.24 Dukungan Manajemen di Provinsi (termasuk gaji/001 dan pemeliharaan 13 bulan untuk 13 bulan untuk 33 13 bulan untuk 34 13 bulan untuk 34 13 bulan untuk 34 13 bulan untuk 13 bulan untuk 34
Provinsi Kependudukan, KB, rutin/002) 33 Prov Prov Prov Prov Prov 34 Prov Prov
dan Pembangunan 24.1 Persentase ketepatan Pembayaran Gaji dan uang makan Pegawai 100 100 100 100 100 100 100
Keluarga (KKBPK) di (Perwakilan BKKBN Provinsi)
Provinsi
001 Pelaksanaan Pembayaran gaji, uang makan dan tunjangan kinerja
Perwakilan BKKBN Provinsi
24.2 Jumlah penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran 12 12 12 12 12 12 12

002 Pelaksanaan operasional dan pemeliharaan perkantoran


Perwakilan Prioritas RKP
24.3 Jumlah penyelenggaraan Manajemen di Provinsi (Keuangan dan BMN, 12 12 12 12 12 12 12
BKKBN Provinsi (Penguatan
Perencanaan, Kepegawaian, Umum, dan Ortala)
(BIDANG regulasi,
351 Peningkatan kualitas perencanaan program dan anggaran SEKRETARIAT kelembagaan,
program KKBPK PROV) serta data dan
352 Peningkatan kualitas kompentensi pegawai informasi)

353 Pengelolaan keuangan dan barang milik negara yang akuntabel,


kredibel dan memenuhi standar kepatutan
354 Peningkatan pelaksanaan NSPK dan pengelolaan organisasi dan
tatalaksana
355 Penyediaan Sarana dan prasarana perkantoran
356 Peningkatan kualitas pelaksanaan program KKBPK provinsi
(MONEV)
III Program Meningkatnya 5.369,9 11.629,0 12.438,6 17.600,0 18.480,0 19.404,0 79.551,6 BKKBN BADAN
Pengawasan dan Akuntabilitas KEPENDUDUKAN
1 Persentase Temuan Penyimpangan Strategis Dalam Pelaksanaan Pengelolaan 25 % (dari 14 20 % (dari satker 15 % (dari satker 10 % (dari satker 5 % (dari satker 0 % (dari satker 0 % (dari satker DAN KELUARGA
Peningkatan Pengelolaan Program

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Program KKBPK oleh eksternal audit satker yang di yang diaudit yang diaudit yang diaudit yang diaudit yang diaudit yang diaudit BERENCANA
Akuntabilitas KKBPK audit eksternal) eksternal) eksternal) eksternal) eksternal) eksternal) eksternal)
NASIONAL
Aparatur BKKBN
(BKKBN)
2 Jumlah pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur di satker 33 Prov 33 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov
Perwakilan BKKBN provinsi
F Inspektorat Utama Meningkatnya 5.369,9 9.000,0 9.598,0 13.600,0 14.280,0 14.994,0 61.472,0 BKKBN
efektifitas, efisiensi,
dan akuntabilitas F.1 Persentase penurunan temuan eksternal - 75% 60% 55% 50% 45% 45%
pemanfaatan anggaran F.2 Persentase Unit Kerja Yang Menerapkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah - 75% 80% 85% 90% 95% 95% INSPEKTORAT
UTAMA (IRTAMA)

F.3 Persentase Satuan Kerja Mewujudkan Pembangunan Zona Intergritas Wilayah - 75% 80% 85% 90% 95% 95%

25 Peningkatan Terlaksananya 1.947,0 3.200,0 3.391,9 4.433,5 4.655,2 4.887,9 20.568,5 PUSAT KL
akuntabilitas pelaksanaan I.25 Jumlah laporan hasil pengawasan pengelolaan program KKBPK di wilayah I 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker
pengelolaan pengawasan intern
program KKBPK yang efektif dan efisien
25.1 Persentase penurunan temuan audit internal wilayah pengawasan I 75% 60% 55% 50% 45%
wilayah I terhadap pengelolaan
program KKBPK di
wilayah I 361 Kebijakan dan Strategi Pengawasan program KKBPK
362 Pelaksanaan Pengawasan Intern Program KKBPK Wilayah
Pengawasan I
INSPEKTORAT
25.2 Persentase unit kerja yang telah menyelenggarakan Sistem 75% 80% 85% 90% 95%
WILAYAH I (ITWIL
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) I)
363 Peningkatan efektifitas penyelenggaraan SPIP
25.3 Persentase unit kerja yang mendapatkan fasilitasi pembangunan Zona 75% 80% 85% 90% 95%
Integritas wilayah bebas dari korupsi
364 Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih
25.4 Jumlah fasilitasi pengawasan pengelolaan program KKBPK di wilayah I 14 dok 14 dok 14 dok 14 dok 14 dok

365 Monitoring, Evaluasi dan fasilitasi pengawasan pengelolaan


program KKBPK di wilayah I
26 Peningkatan Terlaksananya 1.997,5 2.900,0 2.613,9 4.433,5 4.655,2 4.887,9 19.490,5 PUSAT KL
akuntabilitas pelaksanaan
pengelolaan pengawasan intern I.26 Jumlah laporan hasil pengawasan pengelolaan program KKBPK di wilayah II 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker
program KKBPK yang efektif dan efisien
wilayah II terhadap pengelolaan 26.1 Persentase penurunan temuan audit internal wilayah pengawasan II 75% 60% 55% 50% 45%

35
program KKBPK di
wilayah II 371 Kebijakan dan Strategi Pengawasan program KKBPK
372 Pelaksanaan Pengawasan Intern Program KKBPK Wilayah
Pengawasan II
INSPEKTORAT
26.2 Persentase unit kerja yang telah menyelenggarakan Sistem 75% 80% 85% 90% 95%
WILAYAH II (ITWIL
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
II)
373 Peningkatan efektifitas penyelenggaraan SPIP
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

26.3 Persentase unit kerja yang mendapatkan fasilitasi pembangunan Zona 75% 80% 85% 90% 95%
Integritas wilayah bebas dari korupsi
374 Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih

36
26.4 Jumlah fasilitasi pengawasan pengelolaan program KKBPK di wilayah II 14 dok 14 dok 14 dok 14 dok 14 dok

375 Monitoring, Evaluasi dan fasilitasi pengawasan pengelolaan


program KKBPK di wilayah II
27 Peningkatan Terlaksananya 1.425,4 2.900,0 3.592,2 4.733,0 4.969,7 5.218,1 21.413,0 PUSAT KL
akuntabilitas pelaksanaan
pengelolaan pengawasan intern I.27 Jumlah laporan hasil pengawasan pengelolaan program KKBPK di wilayah III 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker 14 Satker
program KKBPK yang efektif dan efisien
wilayah III terhadap pengelolaan 27.1 Persentase penurunan temuan audit internal wilayah pengawasan III 75% 60% 55% 50% 45%
program KKBPK di
wilayah III
381 Kebijakan dan Strategi Pengawasan program KKBPK
382 Pelaksanaan Pengawasan Intern Program KKBPK Wilayah
Pengawasan III
27.2 Persentase unit kerja yang telah menyelenggarakan Sistem 75% 80% 85% 90% 95% INSPEKTORAT
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) WILAYAH III (ITWIL
III)
383 Peningkatan efektifitas penyelenggaraan SPIP

27.3 Persentase unit kerja yang mendapatkan fasilitasi pembangunan Zona 75% 80% 85% 90% 95%
Integritas wilayah bebas dari korupsi
384 Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih

27.4 Jumlah fasilitasi pengawasan pengelolaan program KKBPK di wilayah III 14 dok 14 dok 14 dok 14 dok 14 dok

385 Monitoring, Evaluasi dan fasilitasi pengawasan pengelolaan


program KKBPK di wilayah III
28 Peningkatan Terwujudnya Program Akuntabilitas pengelolaan (pengawasan) Provinsi - 2.629,0 2.840,6 4.000,0 4.200,0 4.410,0 18.079,6
akuntabilitas akuntabilitas
Pengawasan Provinsi - 2.629,0 2.840,6 4.000,0 4.200,0 4.410,0 18.079,6 Provinsi KL
pengelolaan pelaksanaan
program KKBPK di pengawasan lainnya di I.28 Jumlah pelaksanaan pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur di 33 33 34 34 34 34 34 Perwakilan
Perwakilan BKKBN provinsi provinsi BKKBN Provinsi
Provinsi
28.1 Jumlah peningkatan pelaksanaan pengawasan lainnya dan penerapan 33 33 34 34 34 34 34 (BIDANG
PENGAWASAN
ZI WBK
PROV)
390 Peningkatan fasilitasi pelaksanaan pengawasan dan peningkatan
akuntabilitas aparatur di provinsi
IV Program Pelatihan, Meningkatnya Kualitas 204.115,1 265.188,4 187.399,8 296.011,1 310.811,7 326.352,2 1.385.763,2 BKKBN BADAN
penelitian dan SDM Aparatur KEPENDUDUKAN
1 Persentase peningkatan kualitas SDM Aparatur dan tenaga fungsional 50% SDM 60% SDM 70% SDM 80% SDM 90% SDM 100% SDM 100% SDM DAN KELUARGA
Pengembangan Penyelenggara
Aparatur Aparatur Aparatur Aparatur Aparatur Aparatur Aparatur BERENCANA
serta Kerjasama Program, Kerjasama
NASIONAL
Internasional Internasional serta 2 Jumlah Lembaga Diklat yang terakreditasi 1 1 1 1 1 1 5
(BKKBN)
BKKBN Penelitian dan 3 Jumlah kerjasama bilateral dan multilateral, lembaga penelitian dan perguruan 1 2 2 3 3 11
Pengembangan tinggi dalam dan luar negeri di bidang KKBPK
program KKBPK
4 Indeks Kepuasan hasil diklat nasional dan internasional, penelitian dan 3 (dari skala 1- 3,1 (dari skala 1- 3,2 (dari skala 1- 3,3 (dari skala 1- 3,4 (dari skala 1-3,4 (dari skala 1-
pengembangan KB, KS dan Kependudukan 4) 4) 4) 4) 4) 4)
5 Jumlah pelaksanaan kegiatan pelatihan, penelitian dan pengembangan di 33 prov 33 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov 34 prov
Provinsi
G Bidang Pelatihan, Meningkatnya kualitas 31.787,2 54.431,2 62.014,1 126.626,0 135.267,3 142.030,7 520.369,3 BKKBN DEPUTI BIDANG
penelitian dan pelatihan dan PELATIHAN,
G.1 Persentase pemanfaatan hasil penelitian dalam penentuan kebijakan program - 77 77 80 83 87 87 PENELITIAN DAN
Pengembangan pemanfaatan hasil
KKBPK PENGEMBANGAN
penelitian untuk
G2 Persentase tenaga program nasional yang terlatih 55% 60% 65% 70% 75% 80% 80% (LATBANG)
penentu kebijakan
G.3 Jumlah negara pengirim peserta program pelatihan internasional 12 16 18 19 20 21 21
G.4 Persentase pegawai yang telah terpenuhi haknya mengikuti pelatihan 55% 61% 61% 61% 62% 62% 62%
kompetensi
G.5 Jumlah Balatbang dan UPT. Balai Diklat yang Terakreditasi 0 1 1 1 1 1 5
29 Peningkatan Meningkatnya 12.957,0 28.659,0 23.512,8 17.552,2 25.359,9 26.627,8 121.711,8 PUSAT KL
pendidikan dan kesertaan pendidikan
pelatihan Bidang dan pelatihan SDM I.29 Persentase SDM Tenaga Pegawai BKKBN dan Tenaga Program Meningkat 55% 60% 65% 70% 75% 80% 80%
Kependudukan, KB Aparatur Kualitasnya
serta Ketahanan Kependudukan dan KB 29.1 Persentase SDM Tenaga Pegawai dan Tenaga Program yang mengikuti 55% 60% 65% 70% 75% 80% 80%
dan Kesejahteraan pelatihan
Keluarga 401 Diklat Prajabatan dan Diklat Kepemimpinan

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
402 Pendidikan Jangka Panjang (Bantuan Tugas belajar S1 UT,
Beasiswa S2 dan S3)
403 Diklat Fungsional
404 Diklat Teknis PUSAT
29.2 Jumlah Balatbang dan UPT. Balai Diklat yang terfasilitasi untuk - 1 1 1 1 1 5 PENDIDIKAN DAN
akreditasi PELATIHAN
KKBPK (PULAP)
405 Standarisasi Balatbang dan UPT Balai Diklat
406 Kebijakan Diklat dan Strategi Diklat (Pedoman, Kurikulum,
Modul/Materi dan Media Pembelajaran)
ALOKASI (JUTA RUPIAH) INSTANSI
PROGRAM/ SASARAN PROGRAM BASELINE TARGET KINERJA BASELINE TOTAL ALOKASI PENANGGUNG PRIORITAS
No. KEGIATAN (OUTCOME)/ SASARAN INDIKATOR (REVISI RENSTRA DARI BSC) TARGET 2015-2019 PRAKIRAAN MAJU LOKASI
ALOKASI 2014 2015 2015 s.d 2019 JAWAB/ (N/B/KL)
PRIORITAS KEGIATAN (OUTPUT) 2014
2015 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 PELAKSANA

407 Pelaksanaan Assessment dalam rangka Akreditasi Diklat

408 Jejaring Kemitraan dan Kerjasama dalam Kediklatan


409 Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan Pendidikan dan Pelatihan

30 Pengembangan Meningkatkan SDM 5.882,5 8.313,7 16.539,4 15.500,0 14.700,0 15.435,0 70.488,1 PUSAT KL
Pelatihan dan Aparatur dan mitra
Kerjasama kerja yang mengikuti I.30 Jumlah SDM Aparatur yang Meningkat Kualitasnya Melalui Program Pendidikan 40 40 40 40 40 40 200
Internasional pendidikan dan ke Luar Negeri
bidang pelatihan Internasional 30.1 Jumlah SDM Aparatur dan Mitra Kerja yang Mengikuti Pendidikan dan 40 46 48 48 55 61 258
Kependudukan dan serta penguatan Pelatihan Luar Negeri
KB kerjasama 411 Peningkatan SDM Aparatur/ Mitra kerja melalui Pendidikan S2 dan
Internasional S3 Luar Negeri
412 Jumlah Pejabat/Staf/Mitra Kerja yang Mengikuti Kegiatan Short PUSAT
Training and Courses Luar Negeri PELATIHAN DAN
413 Jumlah Pejabat/Staf/Mitra Kerja yang Menjadi Pembicara KERJASAMA
INTERNASIONAL
/Delegasi pada Pertemuan Internasional Luar Negeri
KKBPK (PULIN)

30.2 Jumlah Kerjasama Internasional yang dapat Diimplementasikan 3 2 4 5 6 6 23

414 Pengembangan MoU yang Disepakati dalam Bentuk Kegiatan

415 Peningkatan Penyelenggaraan Pelatihan Internasional bagi


Peserta Luar Negeri di Indonesia
416 Monitoring dan Evaluasi Kerjasama Internasional
31 Peningkatan Tersedianya data dan 7.075,4 8.482,5 12.187,3 14.387,0 12.428,9 13.050,3 60.535,9 PUSAT KL
Penelitian dan informasi hasil
I.31 Hasil Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera 12 14 15 16 17 18 18 Prioritas RKP
pengembangan KB penelitian dan
(Penguatan
dan KS pengembangan KB dan regulasi,
KS 31.1 Tingkat kepuasan pengguna (user) terhadap hasil penelitian KB dan KS 3,0 (skala 1-4) 3,1 (skala 1-4) 3,2 (skala 1-4) 3,3 (skala 1-4) 3,3 (skala 1-4)
- - kelembagaan,
serta data dan
421 Penelitian dan pengembangan KB dan KS PUSAT informasi)

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
PENELITIAN DAN
422 Penyebarluasan dan pemanfaatan hasil litbang KB dan KS
PENGEMBANGAN
423 Peningkatan kerja sama dengan mitra dan jejaring yang aktif KB DAN KS
melakukan kerjasama litbang KB dan KS (PUSNA)
31.2 Jumlah Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Penelitian dan 34 34 34 34 34 34
Pengembangan KB dan KS -

424 Pengembangan SDM litbang KB dan KS


425 Monitoring dan Evaluasi penelitian dan pengembangan KB dan
KS
32 Peningkatan Tersedianya data dan 5.872,3 8.976,0 9.774,6 79.186,8 82.778,6 86.917,5 267.633,5 PUSAT B
penelitian dan informasi hasil
I.32 Hasil Penelitian dan Pengembangan Kependudukan 14 16 15 14 16 17 17 Prioritas RKP
pengembangan penelitian dan
(Penguatan
Kependudukan pengembangan 32.1 Tingkat Kepuasan Pengguna (user) terhadap Hasil Penelitian (Indeks) 3 3 3,1 3,2 3,3 3,5 3,5 regulasi,
kependudukan (skala 1-4) (skala 1-4) (skala 1-4) (skala 1-4) (skala 1-4) (skala 1-4) (skala 1-4) kelembagaan,
PUSAT
serta data dan
431 Penelitian dan Pengembangan Kependudukan PENELITIAN DAN
informasi)
PENGEMBANGAN
432 Penyebarluasan (Penyajian/Publikasi) dan Pemanfaatan Hasil
KEPENDUDUKAN
Litbang Kependudukan
(PUSDU)
433 Pelaksanaan Program dan Kerjasama dengan Mitra dan Jejaring
Litbang Kependudukan
434 Monitoring, Evaluasi dan fasilitasi Penelitian dan pengembangan

33 Pelaksanaan Terselenggaranya Program Pelatihan, penelitian dan Pengembangan Provinsi 172.327,9 210.757,2 125.385,7 169.385,1 175.544,4 184.321,6 865.393,9
pelatihan, kegiatan pelatihan, 141.642,6 190.838,6 81.648,0 120.091,5 123.786,1 129.975,4 646.339,5 Provinsi KL
penelitian dan penelitian dan Latbang Provinsi
pengembangan di pengembangan di I.33 Jumlah SDM provinsi (SDM Aparatur dan tenaga Fungsional, termasuk 2.700 Pegawai 2.700 Pegawai 2.700 Pegawai 2.700 Pegawai 2.700 Pegawai 2.700 Pegawai 2.700 Pegawai
Provinsi Provinsi Fungsional Penyuluh Keluarga Berencana -PLKB/PKB) yang mendapatkan Prov dan 17.294 Prov dan 17.294 Prov dan 17.294 Prov dan 17.294 Prov dan 17.294 Prov dan 17.294 Prov dan 17.294
pembinaan dan pengembangan kapasitas Fungsional Fungsional Fungsional Fungsional Fungsional Fungsional Fungsional
Penyuluh Penyuluh Penyuluh Penyuluh Penyuluh Penyuluh Penyuluh

33.1 Jumlah Pembinaan dan Pengembangan SDM (SDM Aparatur dan tenaga 10997 11996 12996 13996 14996 15995 15995
Fungsional)
441 Pembinaan dan Pengembangan SDM provinsi Perwakilan
BKKBN Provinsi
Litbang Provinsi 30.685,3 19.918,6 43.737,8 49.293,6 51.758,3 54.346,2 219.054,5
(BIDANG
II.34 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan program KKBPK di Provinsi yang 3 Dokumen 3 Dokumen 3 Dokumen 3 Dokumen 3 Dokumen 3 Dokumen LATBANG PROV) B
dimanfaatkan penelitian penelitian penelitian penelitian (KKBPK penelitian penelitian

37
(KKBPK dan (KKBPK dan (KKBPK dan dan RPJMN) / (KKBPK dan (KKBPK dan
RPJMN) / Prov RPJMN) / Prov RPJMN) / Prov Prov RPJMN) / Prov RPJMN) / Prov
33.2 Jumlah hasil-hasil penelitian dan pengembangan program KKBPK 3 3 3 3 3 15 Prioritas RKP
(KKB) yang dimanfaatkan (Penguatan
regulasi,
451 Penelitian dan pengembangan Program KKBPK kelembagaan,
serta data dan
informasi)
Lampiran II:
Matriks Kerangka Regulasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)

ARAH KERANGKA UNIT PENANGGUNG TARGET


NO URGENSI PEMBENTUKAN BERDASARKAN EVALUASI REGULASI EKSISTING, KAJIAN DAN PENELITIAN UNIT TERKAIT/INSTITUSI
DAN/ATAU KEBUTUHAN REGULASI JAWAB PENYELESAIAN

38
1 Amandemen UU 52 Tahun 2009 Perubahan amandemen ini terkait dengan pengaturan kelembagaan BKKBN sebagaimana diatur dalam BAB IX. Perubahan ini berfokus pada BKKBN Kemenkes, Tahun 2015-2019
ketepatan ukuran organisasi (right sizing) dan tumpang tindih (overlapping) tugas dan fungsi serta perubahan kewenangan pada BKKBN. (Para Eselon I) Setneg, Kemenkumham, Kemenkeu,
Kemenpan, BKN, Kemendagri

2 Perpres turunan PP 87/2014 Penyusunan pedoman penyelenggaraan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga dimaksudkan sebagai pelaksanaan BKKBN Kemenkes, Tahun 2015-2019
tindak lanjut dari PP 87/2014, adapun materi muatan yang diatur, meliputi: (Kedeputian Dalduk dan Setkab, Kemenkumham
a. Perpres tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Kedeputian KSPK)
b. Perka tentang Kelembagaan BKKBN
c. Perka tentang Kelembagaan BKKBN Provinsi
d. Perka tentang Kelembagaan Diklat
e. Perka tentang KB
f. Perka tentang Penelitian dan Pengembangan
g. Perka tentang SDM Penelitian
h. Perka tentang Sistem Informasi Keluarga
3 Perpres Kelembagaan (Perubahan Perpres no 3 Perubahan ini berfokus pada ketepatan ukuran organisasi (right sizing) dan tumpang tindih (overlapping) tugas dan fungsi serta perubahan BKKBN Kemenkes, Tahun 2015
dan no 4 /2013) kewenangan pada BKKBN. (Sestama) Setkab, Kemenkumham,
Perundang-undangan terkait : Kemenkeu, Kemenpan,
- UU 23 tahun 2014 (Urusan Pengendalian Penduduk dan KB) BKN, Kemendagri
- PP 87/2014
- Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Kementerian, yang telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013
- Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non Kementerian, yang telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2013
- Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 72/PER/B5/2011 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, yang telah diubah dengan perka 273/PER/B4/2014.
4 Perpres Tentang Tunjangan Kinerja Dalam rangka Pelaksanaan Reformasi birokrasi di BKKBN dan untuk meningkatkan kinerja pegawai perlu mengatur dan meninjau kembali BKKBN Kemenkes, Tahun 2015-2016
tunjangan kinerja pegawai BKKBN. (Sestama) Setkab, Kemenkumham,
5 Perka Tentang Pengelolaan dan Pendayagunaan Penyusunan regulasi terkait dengan pembagian urusan pemerintahan Bidang Pengendalian Penduduk dan KB sebagaimana UU Nomor 23 BKKBN Kemenkeu, Kemenpan, Tahun 2015-2019
PKB/PLKB Tahun 2014 Lampiran I huruf N. Penyusunan regulasi ini sebagai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah agar berjalan efisien (Sestama dan kedeputian BKN, Kemendagri

6 Perka tentang hasil Pemetaan Urusan Pemerintah dan efektif sesuai dengan target yang diharapkan. Adpin)
Daerah Bidang Pengendalian Penduduk dan KB

7 Perka tentang Pedoman Nomenklatur, Tugas dan


Fungsi Dinas Pengendalian Penduduk dan KB di
Daerah Provinsi dan Kab/Kota
8 Perka tentang Renstra (revisi) BKKBN (Sestama)
9 Perka tentang NSPK sesuai Sub Urusan BKKBN
Pengendalian Penduduk dan KB

10 Perpres Tentang Pengelolaan dan Penyediaan BKKBN


Alokon (Sestama dan kedeputian
11 Perka tentang Standarisasi Pelayanan KB KBKR)
12 Perpres Tentang Sertifikasi PKB BKKBN
(Sestama,

R e n c a n a St r ate g i s B K K B N 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Kedeputian Latbang dan
kedeputian Adpin)
13 Perka Tentang Pemberdayaan dan Peningkatan BKKBN
Peranserta Ormas dalam Program pengendalian (Sestama,
Penduduk dan KB kedeputian Adpin dan
Kedeputian KSPK)
DAFTAR ISI
Hal.
KATA PENGANTAR............................................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................................. iv
DAFTAR TABEL................................................................................................................... v
SISTEMATIKA PELAPORAN............................................................................................ vi
RINGKASAN EKSEKUTIF ................................................................................................. vii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................................... 2
Profil dan Sejarah Singkat..................................................................................... 4
Tugas, Fungsi dan Wewenang .............................................................................. 9
Penerima Manfaat ................................................................................................. 11
Kedudukan dan Fungsi.......................................................................................... 12
Struktur Organisasi................................................................................................ 13
Sumber Daya ......................................................................................................... 14
Dasar Hukum......................................................................................................... 16
B. Aspek Strategis..................................................................................................... 17
Kekuatan dan Peluang ........................................................................................... 17
C. Permasalahan....................................................................................................... 18
Kelemahan dan Ancaman...................................................................................... 18
Harapan dan Tantangan BKKBN.......................................................................... 18
BAB II PERENCANAAN KINERJA................................................................................. 21
A. Perencanaan Strategis.......................................................................................... 22
Visi dan Misi Pembangunan 2015-2019 ................................................................ 22
Visi dan Misi BKKBN ........................................................................................... 23
Tujuan BKKBN...................................................................................................... 23
Arah Kebijakan dan Strategi Nasional ................................................................... 24
Framework Renstra ............................................................................................... 31
B. Rencana Kinerja Tahunan .................................................................................. 32
Rencana Aksi Upaya Pencapaian Target/Sasaran RPJMN dan Renstra
BKKBN Tahun 2015-2019 .................................................................................... 33
Perjanjian Kinerja................................................................................................... 33

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 ii


Monitoring dan Evaluasi Pencapaian Rencana Strategis ....................................... 37
Pengelolaan Kinerja dengan Pendekatan Balanced Scorecard.............................. 41
BAB III Akuntabilitas Kinerja ............................................................................................. 45
A. Capaian Kinerja BKKBN.................................................................................... 47
B. Realisasi Anggaran ............................................................................................... 63
C. Kinerja dan Capaian Lain................................................................................... 68
BAB IV Penutup.................................................................................................................... 83
Lampiran ................................................................................................................................ 86

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 iii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Skema Grand Design RB 2010-2025................................................................... 4


Gambar 1.2 Pemberian Penghargaan Pengelola KB Teladan
Tingkat Nasional Tahun 1992 .............................................................................. 6
Gambar 1.3 Penerima Manfaat BKKBN.................................................................................. 12
Gambar 1.4 Struktur Organisasi BKKBN................................................................................ 13
Gambar 2.1 Formulir Rencana Kinerja Tahun 2017................................................................ 32
Gambar 2.2 Perjanjian Kinerja BKKBN Tahun 2017.............................................................. 34
Gambar 2.3 Penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2017................................................ 36
Gambar 2.4 Sistem Monitoring Rencana Aksi Pencapaian Kinerja......................................... 36
Gambar 2.5 Pelaksanaan Video Conference............................................................................. 39
Gambar 2.6 Pelaksanaan Rakornis Kemitraan BKKBN tahun 2017 ....................................... 40
Gambar 2.7 Peta Strategi BKKBN........................................................................................... 42
Gambar 2.8 Screenshot Aplikasi QPR ..................................................................................... 44
Gambar 3.1 Persentase pencapaian TFR, Unmet need dan PA MKJP..................................... 58
Gambar 3.2 Pagu BKKBN....................................................................................................... 65
Gambar 3.3 Perbandingan nilai aset barang............................................................................. 66
Gambar 3.4 Road Map Kampung KB 2015-2019.................................................................... 71
Gambar 3.5 Persentase Pembentukan Kampung KB menurut Provinsi................................... 71
Gambar 3.6 PNBP Award ........................................................................................................ 80
Gambar 3.7 Keterbukaan Informasi Publik tahun 2017........................................................... 81

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 iv


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tujuan dan Indikator Tujuan BKKBN................................................................... 24


Tabel 2.2 Indikator Kinerja Utama BKKBN.......................................................................... 28
Tabel 3.1 Perbandingan target dan realisasi tahun 2017 ........................................................ 48
Tabel 3.2 Angka Kelahiran Total (TFR) per WUS (15-49 tahun))
Tahun 2017............................................................................................................. 50
Tabel 3.3 Persentase pemakaian kontrasepsi
(modern contraceptive prevalence rate/CPR) tahun 2017...................................... 50
Tabel 3.4 Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (Unmet need)
Tahun 2017............................................................................................................ 51
Tabel 3.5 Persentase Peserta KB Aktif MKJP tahun 2017 .................................................... 52
Tabel 3.6 Persentase Penurunan Angka Ketidakberlangsungan Pemakaian
(tingkat putus pakai) kontrasepsi tahun 2017......................................................... 52
Tabel 3.7 Perbandingan IKU Renstra sebelum dan setelah revisi.......................................... 53
Tabel 3.8 Perbandingan target dan realisasi pencapaian tahun 2017
dengan tahun 2016 dan 2015.................................................................................. 54
Tabel 3.9 Perbandingan target dan realisasi tahun 2017 dengan target
RPJMN tahun 2019 ................................................................................................ 55
Tabel 3.10 Pagu Anggaran BKKBN s.d Desember 2017 ........................................................ 66
Tabel 3.11 Realisasi Anggaran BKKBN s.d Desember 2017.................................................. 67
Tabel 3.12 Perkembangan Nilai Akuntabilitas Kinerja BKKBN ............................................ 80

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 v


SISTEMATIKA PELAPORAN

L aporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 menjelaskan pencapaian kinerja BKKBN selama
tahun 2017 dengan berbagai keberhasilan maupun hambatannya. Sistematika
penyajian laporan kinerja adalah sebagai berikut:

Pendahuluan

Berisi penjelasan secara ringkas mengenai latar belakang, aspek strategis serta permasalahan
yang dihadapi BKKBN.

Perencanaan Kinerja

Berisi penjelasan rencana strategis BKKBN 2015-2019; visi, misi, tujuan, sasaran,
kebijakan, strategi, perjanjian kinerja, monitoring dan evaluasi pencapaian rencana strategis
tahun 2017.

Akuntabilitas Kinerja

Berisi penjelasan pencapaian kinerja tahun 2017 beserta realisasi anggaran, perbandingan
pencapaian kinerja dengan dua tahun sebelumnya serta dengan akhir tahun renstra.

Penutup

Berisi kesimpulan atas Laporan Kinerja BKKBN tahun 2017.

Lampiran

Berisi data dukung atas penjelasan dalam laporan ini.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 vi


Ringkasan Eksekutif
Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional) merupakan lembaga pemerintah non kementerian yang berkedudukan
di bawah Presiden dan bertanggungjawab kepada Presiden melalui Menteri yang
bertanggung jawab di bidang kesehatan. BKKBN bertugas melaksanakan pengendalian
penduduk dan menyelenggarakan keluarga berencana.

Laporan kinerja tahun 2017 merupakan salah satu wujud pertanggungjawaban pelaksanaan tugas
dan fungsi yang dipercayakan kepada BKKBN. Tahun 2017 juga merupakan tahun ketiga
pelaksanaan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) Tahun 2015-2019.
Mempertimbangkan berbagai isu strategis yang berkembang saat ini, khususnya perubahan
pendekatan dari money follows function menjadi money follows program, serta perubahan
pendekatan perencanaan pembangunan nasional yang holistik, tematik, terintegrasi dan spasial, maka
perlu dilakukan beberapa penyesuaian pada Renstra BKKBN 2015-2019 yang sebelumnya telah
disusun dan ditetapkan melalui Peraturan Kepala BKKBN Nomor 212/PER/B1/2015 tanggal 15 Juni
2015 yang kemudian direvisi dengan Peraturan Kepala Nomor 199 Tahun 2016.

Sesuai dengan arah kebijakan pemerintah, seluruh kementerian/lembaga diarahkan untuk turut serta
menyukseskan visi dan misi pembangunan 2015-2019, di mana visi pemerintah untuk 5 (lima) tahun
ke depan adalah untuk mewujudkan “Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian
Berlandaskan Gotong Royong” dengan misi yaitu: (1) mewujudkan keamanan nasional yang mampu
menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya
maritim dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan; (2) mewujudkan
masyarakat maju, berkeseimbangan dan demokratis berlandaskan negara hukum; (3) mewujudkan
politik luar negeri bebas aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim; (4) mewujudkan
kualitas manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera; (5) mewujudkan Indonesia yang berdaya
saing; (6) mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan
kepentingan nasional; dan (7) mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

BKKBN berkomitmen untuk mencapai visi dan misi tersebut melalui penetapan visi, misi dan tujuan.
Visi BKKBN “Menjadi lembaga yang handal dan dipercaya dalam mewujudkan penduduk
tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas” dengan tujuan “Mencapai penduduk tumbuh
seimbang melalui upaya penurunan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan perwujudan
Keluarga Berkualitas”.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 vii


Dalam tahun ketiga pelaksanaan RPJMN, BKKBN berupaya meningkatkan capaian
kinerjanya dalam rangka mencapai visi dan misi serta tujuan strategis. Untuk memastikan
tujuan BKKBN dapat tercapai, maka telah ditetapkan sasaran strategis BKKBN 2015-2019
yang sesuai dengan Sasaran Pembangunan Kependudukan dan KB yang tertera pada RPJMN
2015-2019, yaitu:

1. Menurunnya angka kelahiran total (TFR);


2. Meningkatnya prevalensi kontrasepsi (CPR) modern;
3. Menurunnya kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need);
4. Meningkatnya peserta KB aktif yang menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka
Panjang (MKJP);
5. Menurunnya tingkat putus pakai kontrasepsi.

Pada tahun 2017, seluruh sasaran dapat tercapai melalui 5 indikator kinerja utama.
Pencapaian atas keseluruhan IKU tersebut yaitu: 1 (satu) indikator kinerja sasaran
capaiannya di atas 100 persen, 3 (tiga) indikator kinerja sasaran capaiannya berkisar antara
70-99,9 persen, 1 (satu) indikator kinerja sasaran capaiannya berkisar 50-69,9 persen.

Berikut adalah tabel pencapaian indikator kinerja sasaran tahun 2017:


Tabel 1
Pencapaian Indikator Kinerja Utama BKKBN 2017

No Indikator Kinerja Utama Target Realisasi (%)


2017 2017
1. Angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) per WUS (15- 2,33 2,40 97,08
49 tahun)
2. Persentase pemakaian kontrasepsi modern (modern 60,9 57,6 94,58
contraceptive prevalence rate/CPR)
3. Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet 10,26 17,5 58,63
need) (%)
4. Persentase peserta KB Aktif MKJP 21,7 21,5 99,07

5. Tingkat putus pakai kontrasepsi (%) 25,3 22,3 113,45

Dukungan anggaran untuk pelaksanaan program KKBPK tahun 2017 yang dituangkan
melalui APBN adalah sebesar Rp 3.410.591.665.000,-. Kemudian, berdasarkan Instruksi
Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2017 tentang Efisiensi Belanja Barang
Kementerian/Lembaga dalam Pelaksanaan Anggaran Kementerian dan Belanja Negara
Tahun Anggaran 2017 tanggal 22 Juni 2017, BKKBN mengalami penghematan sebesar Rp

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 viii


700.000.000.000,- sehingga pagu anggaran belanja BKKBN menjadi Rp
2.728.591.665.000,-.

Selain dana APBN, pada tahun 2017 BKKBN juga mendapat tambahan dana hibah dalam
dan luar negeri yaitu: a) hibah dalam negeri di Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat
sebesar Rp 27.190.000.000,- dan Perwakilan BKKBN Provinsi Banten Rp 1.000.000.000,-
b) hibah luar negeri sebesar Rp 1.299.402.000,- sehingga pagu akhir BKKBN sebesar Rp
2.740.081.067.000. Realisasi total pagu sampai dengan Desember 2017 adalah Rp
2.232.151.353.285,- (81,46%).

Selain dukungan APBN untuk pelaksanaan program KKBPK, BKKBN juga mendapatkan
dukungan anggaran melalui DAK (Dana Alokasi Khusus) Fisik Sub Bidang Keluarga
Berencana. Secara umum Dana Alokasi Khusus (DAK) diarahkan untuk meningkatkan
kesejahteraan keluarga melalui program KB dengan melengkapi sarana dan prasarana
pelayanan KB serta dukungan sarana prasarana penyuluhan KB dalam rangka pengendalian
jumlah penduduk sehingga penggunaan DAK Fisik Sub Bidang KB diarahkan untuk
kegiatan yang dapat meningkatkan daya dukung untuk peningkatan jangkauan pelayanan
KB khususnya bagi keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I serta meningkatkan akses
dan kualitas pelayanan KB yang merata. Dukungan anggaran untuk DAK Fisik Sub Bidang
KB tahun 2017 sebesar Rp 501.093.500.000,- diperuntukkan bagi 492 Kabupaten dan Kota.

Sedangkan DAK Nonfisik berupa Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB)


diberikan kepada Kabupaten dan Kota secara top down untuk mendukung tercapainya
sasaran prioritas pembangunan Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan
Keluarga untuk mendukung tercapainya TFR 2,33 pada akhir tahun 2017. Dukungan
anggaran BOKB sebesar Rp. 292.800.000.000,- bagi 508 Kabupaten dan Kota seluruh
Indonesia.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 ix


BAB I
PENDAHULUAN
Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 1
A. LATAR BELAKANG

D
alam rangka mewujudkan pertanggungjawaban
atas kinerja yang dipercayakan kepadanya,
BKKBN diwajibkan untuk menyusun laporan
akuntabilitas kinerja. Hal tersebut mengacu pada
ketentuan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999
tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(AKIP) yang diperbaharui dengan diterbitkannya
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 29 Tahun 2014
tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(SAKIP). Dalam pelaksanaannya, Perpres ini dilengkapi
dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53
Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja,
Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan
Kinerja Instansi Pemerintah.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 2


L
aporan kinerja BKKBN tahun 2017 disusun sebagai salah satu bentuk
pencapaian kinerja yang dikaitkan dengan anggaran dan sasaran-sasaran
strategis dalam rangka pencapaian tujuan strategis yang telah ditetapkan
dalam Rencana Strategis (Renstra) BKKBN tahun 2015-2019. Implementasi
akuntabilitas kinerja BKKBN diwujudkan melalui penerapan sistem perencanaan dan
penganggaran serta pengukuran kinerja yang menyeluruh pada setiap tingkat unit kerja.
Pelaksanaannya dimulai dengan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019, Rencana Strategis BKKBN Tahun 2015-2019
dan Rencana Aksi Upaya Pencapaian Target/Sasaran RPJMN yang telah dilengkapi
dengan Renstra Unit Kerja Eselon I dan II, penandatanganan perjanjian kinerja serta
kontrak kinerja BKKBN dan Perwakilan BKKBN Provinsi, pengukuran dan
pengelolaan data kinerja berbasis Balanced Score Card (BSC) melalui sistem aplikasi
Quality Processes Result (QPR) Metrics versi 15.1 serta melalui sistem pencatatan dan
pelaporan.

Laporan kinerja BKKBN tahun 2017 disusun secara berjenjang, dimulai dari
penyusunan laporan kinerja Unit Kerja Eselon I dan II sebagai wujud
pertanggungjawaban kinerja yang dikaitkan dengan anggaran, serta penyusunan laporan
kinerja tingkat lembaga BKKBN yang menyajikan pencapaian atas sasaran strategis
yang telah ditetapkan dalam Renstra tahun 2015-2019.

Laporan kinerja sebagai salah satu bentuk Reformasi Birokrasi sesuai dengan Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 15 tahun 2008 tentang Pedoman
Umum Reformasi Birokrasi. Peraturan ini kemudian disempurnakan dengan terbitnya
Peraturan Presiden nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi
2010-2025. Dengan masih banyaknya tantangan yang dihadapi, Reformasi Birokrasi
tahap ke-2 (dua) tetap berlanjut dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 11 tahun 2015 tentang
Road Map Reformasi Birokrasi 2015-2019. BKKBN telah menindaklajuti peraturan
tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Kepala BKKBN nomor 9 tahun 2017 tentang
Peta Jalan Reformasi Birokrasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 3


Nasional tahun 2015-2019, dengan merujuk pada arah kebijakan Reformasi Birokrasi
sesuai dengan agenda Prioritas Pembangunan Nawacita.

Gambar 1.1
Skema Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025

Profil dan Sejarah Singkat BKKBN


Periode Pelita I (1969-1974)

Pada periode Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I ini telah dibentuk Badan Koordinasi
Keluarga Berencana (BKKBN) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1970.
Kemudian pada tahun 1972 melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1972, status
Badan ini berubah menjadi Lembaga Non Departemen yang berkedudukan di bawah
dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden melalui Menteri atau Pejabat setingkat
Menteri.

Sebagai bagian dari rencana besar pembangunan lima tahun, maka kebijakan
kependudukan tak lepas dari keseluruhan kebijakan pembangunan nasional. Kebijakan
pembangunan kependudukan ini “ditujukan untuk mengurangi angka pertumbuhan
penduduk”. Inilah yang menjadi arah utama implementasi kebijakan kependudukan
pada Pelita I dimana tingkat pertumbuhan penduduk relatif tinggi. Untuk itu, pendekatan
yang ditempuh adalah dengan cara memasyarakatkan program penjarangan kelahiran.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 4


Meskipun demikian, pemerintah tetap menyadari arti penting dan makna strategis
masalah kependudukan sebagai aset pembangunan. Jumlah penduduk yang besar
merupakan sumber daya manusia terpenting bagi keberhasilan pembangunan nasional.
Seiring upaya menekan tingkat kelahiran, pemerintah juga merancang berbagai program
aksi guna meningkatkan kualitas penduduk termasuk didalamnya adalah meningkatkan
kesejahteraan ibu dan anak, meningkatkan kemudahan dan kualitas pelayanan kesehatan
masyarakat, serta meningkatkan gizi.

Periode Pelita II (1974-1979)

Periode ini pembinaan dan pendekatan program yang semula berorientasi pada
kesehatan mulai dipadukan dengan sektor-sektor pembangunan lainnya, yang dikenal
dengan pendekatan integrasi, dengan tujuan untuk menurunkan angka kelahiran secara
langsung dengan pemakaian alat kontrasepsi dan penurunan angka kelahiran secara
tidak langsung melalui pola kebijakan kependudukan yang terintegrasi. Melalui Beyond
Family Planning tahun 1973-1975 mulai dirintis Pendidikan Kependudukan sebagai
pilot project.

Periode Pelita III (1979-1984)


Pada awal Pelita III dikembangkan penggarapan program KB dengan pendekatan KB
pedesaan di seluruh wilayah Indonesia. Kemudian dikembangkan kebijakan dan strategi
operasional yang disebut Panca Karya dan Catur Bhava Utama yang bertujuan
mempertajam segmentasi sehingga diharapkan dapat mempercepat penurunan fertilitas.
Pada periode ini juga dikembangkan model strategi baru yang memadukan KIE dan
pelayanan kontrasepsi dalam bentuk “Mass Campaign”, yang dinamakan “Safari KB
Senyum Terpadu”.

Periode Pelita IV (1983-1988)

Pada periode ini, tanggal 28 Januari 1987, dicanangkan KB Mandiri oleh Presiden
Soeharto. Program KB Mandiri dipopulerkan dengan Kampanye Lingkaran Biru (LIBI)
yang bertujuan untuk memperkenalkan tempat-tempat pelayanan dengan Logo
Lingkaran Biru KB.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 5


Periode Pelita V (1988-1993)

Pelita V merupakan tahapan akhir dari pembangunan jangka panjang pertama, pada
tahapan ini program KB terus berupaya meningkatkan kualitas petugas atau sumberdaya
manusia dan pelayanan KB. Salah satu strategi baru yang diluncurkan adalah kampanye
LIMAS (Lingkaran Emas). Lingkaran Emas ini merupakan bentuk kampanye KKM
(keluarga kecil mandiri) dan dalam LIMAS ini jenis kontrasepsi yang ditawarkan lebih
banyak dibandingkan dengan LIBI.

Pada periode ini pula ditetapkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera dan GBHN
(Garis-Garis Besar Haluan Negara) Tahun 1993, khususnya sub sektor Keluarga
Sejahtera dan Kependudukan, sehingga kebijaksanaan dan strategi gerakan KB nasional
diadakan untuk mewujudkan keluarga kecil yang sejahtera melalui penundaan usia
perkawinan, penjarangan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan
kesejahteraan keluarga.
Gambar 1.2
Pemberian Penghargaan Pengelola KB Teladan Tingkat Nasional Tahun 1992

Periode Pelita VI (1993-1998)

Pada awal Pelita VI, strategi yang dilakukan adalah meningkatkan kerjasama lintas
sektor dan antar instansi/institusi dalam suasana kesejajaran untuk mengefisienkan
pelaksanaan program. Kerjasama dimulai sejak tahap perencanaan sampai pada

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 6


pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi, dilandasi semangat kesetaraan, kemitraan
dan saling menguntungkan. Kegiatan yang dikembangkan dalam pelaksanaan
pembangunan keluarga sejahtera diarahkan pada tiga gerakan yaitu: Gerakan
Reproduksi Keluarga Sejahtera (GRKS), Gerakan Ketahanan Keluarga (GKK), dan
Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera (GEKS). Selain itu dicanangkan pula Gerakan
Bangga Suka Desa (GERBANGDESA) yang bermakna sebagai Gerakan Pembangunan
Keluarga Modern dalam suasana perkotaan di daerah pedesaan, pengenalan masyarakat
pedesaan terhadap kehidupan modern tersebut lebih diperdalam dengan diluncurkannya
Tabungan Keluarga Sejahtera (TAKESRA) dan Kredit Usaha Keluarga Sejahtera
(KUKESRA) pada tanggal 2 Oktober 1995.

Fokus kegiatan diarahkan pada pelayanan keluarga berencana dan pembangunan


keluarga sejahtera, yang dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat dan keluarga untuk
meningkatkan kualitas keluarga agar dapat melaksanakan fungsinya secara optimal.

Periode Pasca Reformasi


Sejalan dengan era desentralisasi, dan sesuai dengan Keppres nomor 103 tahun 2001,
yang kemudian diubah menjadi Keppres Nomor 09 Tahun 2004 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah
Non Departemen menyatakan bahwa sebagian urusan di bidang keluarga berencana
diserahkan kepada pemerintah kabupaten dan kota. Hal ini sejalan dengan esensi
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 (sebagaimana telah diubah menjadi Undang-
undang Nomor 32 Tahun 2004). Dengan demikian tahun 2004 merupakan tahun
pertama Keluarga Berencana Nasional dalam era desentralisasi.

Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan


Pembangunan Keluarga, yang telah disahkan pada tanggal 29 Oktober 2009, membawa
dampak terhadap perubahan kelembagaan, visi, dan misi BKKBN. Undang-undang
tersebut mengamanatkan perubahan kelembagaan BKKBN yang semula adalah Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 7


Visi BKKBN adalah “Penduduk Tumbuh Seimbang 2015” dengan misi “mewujudkan
pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil
bahagia sejahtera”. Untuk mencapai visi dan misi tersebut, BKKBN mempunyai tugas
dan fungsi untuk melaksanakan pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga
berencana sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 56 Undang-undang Nomor 52 Tahun
2009. Dalam rangka pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana
di daerah, pemerintah daerah membentuk Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Daerah yang selanjutnya disingkat BKKBD di tingkat provinsi dan
kabupaten dan kota yang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memiliki hubungan
fungsional dengan BKKBN (pasal 54 ayat 1 dan 2 Undang-undang Nomor 52 Tahun
2009).

Peran dan fungsi baru BKKBN diperkuat dengan adanya Peraturan Presiden Nomor 3
Tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun
2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata
Kerja Lembaga Pemerintah Non Kementerian; Peraturan Kepala BKKBN Nomor
82/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi dan Peraturan Kepala BKKBN Nomor
92/PER/B5/2011 tentang Organisasi Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan
Kependudukan dan Keluarga Berencana.

Seiring dengan perubahan lingkungan strategis membawa dampak kepada perubahan


perilaku manajemen kepemerintahan negara, sehingga BKKBN menyesuaikan visi dan
misi organisasi untuk mendukung Visi dan Misi Pembangunan 2015-2019. Visi
BKKBN adalah “menjadi lembaga yang handal dan dipercaya dalam mewujudkan
penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas” dengan misi: 1)
Mengarusutamakan pembangunan berwawasan kependudukan, (2) Menyelenggarakan
Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, (3) Memfasilitasi pembangunan
keluarga, (4) Membangun dan menerapkan budaya kerja organisasi secara konsisten,
(5) Mengembangkan jejaring kemitraan dalam pengelolaan Kependudukan, Keluarga
Berencana dan Pembangunan Keluarga.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 8


Selanjutnya pada periode Pasca Reformasi, Kepala BKKBN telah mengalami beberapa
pergantian:

- Pada Periode Kabinet Persatuan Indonesia, Kepala BKKBN dirangkap oleh


Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang dijabat oleh Khofifah Indar
Parawansa;

- Setelah itu digantikan oleh Prof. Dr. Yaumil C. Agoes Achir pada tahun 2001 dan
meninggal dunia pada tahun 2003;

- Pada tanggal 10 November 2003, Kepala Litbangkes Departemen Kesehatan dr.


Sumarjati Arjoso, SKM dilantik menjadi Kepala BKKBN oleh Menteri
Kesehatan Ahmad Sujudi sampai beliau memasuki masa pensiun pada tahun 2006;

- Setelah itu digantikan oleh dr.Sugiri Syarief, MPA yang dilantik sebagai Kepala
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tanggal 24
November 2006; sesuai dengan Keputusan Presiden nomor 130/M tahun 2006;
Selanjutnya Pada tanggal 27 September 2011 dilantik kembali sebagai Kepala
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, sesuia dengan Keputusan
presiden nomor 113/M tahun 2011.

- Pada tanggal 13 Juni 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan


Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, Sp.Gk sebagai Kepala Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional dengan Keputusan Presiden nomor 62/M tahun 2013;

- Pada tanggal 25 Mei 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan dr. Surya Chandra
Surapaty, MPH, Ph.D sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional dengan Keputusan Presiden nomor 56/M tahun 2015;

- Pada tanggal 11 Desember 2017, Presiden Joko Widodo menetapkan dr. Sigit
Priohutomo, MPH sebagai Plt. Kepala BKKBN Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional dengan Keputusan Presiden nomor 156/TPA tahun
2017.

Tugas, Fungsi dan Wewenang

BKKBN merupakan LPNK (Lembaga Pemerintahan Non Kementerian) yang berada


dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Berdasarkan ketentuan pasal 56 ayat

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 9


(2) Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga, dan ketentuan lampiran huruf (n) Undang-undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, BKKBN mempunyai tugas melaksanakan
tugas pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga
berencana.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, BKKBN menyelenggarakan fungsi:


a. Perumusan kebijakan nasional, pemaduan dan sinkronisasi kebijakan di bidang
Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB);
b. Penetapan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang KKB;
c. Pelaksanaan advokasi dan koordinasi di bidang pengendalian penduduk dan KB;
d. Penyelenggaraan komunikasi, informasi dan edukasi di bidang KKB;
e. Penetapan perkiraaan pengendalian penduduk secara nasional;
f. Penyusunan desain Program KKBPK;
g. Pengelolaan tenaga penyuluh KB/petugas lapangan KB (PKB/PLKB);
h. Pengelolaan dan penyediaan alat dan obat kontrasepsi untuk kebutuhan Pasangan
Usia Subur (PUS) nasional;
i. Pengelolaan dan pengendalian sistem informasi keluarga;
j. Pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan tingkat
nasional dalam pengendalian pelayanan dan pembinaan kesertaan ber-KB dan
Kesehatan Reproduksi (KR);
k. Pengembangan desain program pembangunan keluarga melalui pembinaan
ketahanan dan kesejahteraan keluarga;
l. Pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan tingkat
nasional dalam pembangunan keluarga melalui ketahanan dan kesejahteraan
keluarga;
m. Standardisasi pelayanan KB dan sertifikasi tenaga penyuluh KB/petugas lapangan
KB (PKB/PLKB);
n. Penyelenggaraan pemantauan dan evaluasi di bidang pengendalian penduduk dan
keluarga berencana; dan
o. Pembinaan, pembimbingan dan fasilitas di bidang KKB.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 10


Selain menyelenggarakan fungsi tersebut, BKKBN juga menyelenggarakan fungsi:
a. Penyelenggaraan pelatihan, penelitian dan pengembangan di bidang KKB;
b. Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi umum di lingkungan
BKKBN;
c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab BKKBN;
d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BKKBN; dan
e. Penyampaian laporan, saran dan pertimbangan di bidang KKB.

Penerima Manfaat

Sejalan dengan program dan kegiatan BKKBN, penerima manfaat terbagi ke dalam tiga
kelompok, yaitu

1) Pemangku kepentingan yang terdiri dari jajaran pemerintah, pemerintah daerah, DPR
dan DPRD, menerima manfaat berupa tersedianya data basis kependudukan dan
keluarga berencana, parameter kependudukan, dan integrasi program yang saling
menguatkan;
2) Mitra kerja terdiri dari organisasi profesi, keagamaan, pendidikan, Lembaga
Swadaya dan Organisasi Masyarakat (LSOM), tokoh agama, tokoh masyarakat,
tokoh adat, swasta, dan sebagainya, menerima manfaat berupa implementasi
pelaksanaan program dan kegiatan Keluarga Berencana; dan
3) Masyarakat menerima manfaat berupa perubahan sikap dan perilaku terhadap
Program KKBPK dan akses kualitas pelayanan Keluarga Berencana.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 11


Gambar 1.3
Penerima manfaat BKKBN

Peran pemangku kepentingan dan mitra kerja diperlukan dalam rangka mendukung
keberhasilan program KKBPK. Dukungan dan komitmen dari pemangku kepentingan
maupun partisipasi dari mitra kerja sangat penting bagi BKKBN untuk memberikan
pelayanan yang optimal kepada masyarakat khususnya keluarga pra sejahtera dan
menunjang peranan BKKBN dalam Pembangunan Kependudukan dan Keluarga
Berencana untuk mendukung agenda prioritas pembangunan.

Kedudukan dan Fungsi

Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan


Pembangunan Keluarga, dalam Pasal 53 ayat (2) BKKBN merupakan Lembaga
Pemerintah Non Kementerian yang berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung
jawab kepada Presiden.

Dalam Peraturan Kepala BKKBN Nomor 72/PER/B5/2011, sebagaimana telah diubah


dengan Peraturan Kepala BKKBN Nomor 273/PER/B4/2014 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, disebutkan bahwa
BKKBN adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berada di bawah dan
bertanggungjawab kepada Presiden melalui Menteri yang bertanggung jawab di bidang
kesehatan. BKKBN bertugas melaksanakan pengendalian penduduk dan
menyelenggarakan keluarga berencana.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 12


Struktur Organisasi

Berdasarkan Peraturan Kepala BKKBN Nomor 72/PER/B5/2011 sebagaimana telah


diubah dengan Peraturan Kepala BKKBN Nomor 273/PER/B4/2014, maka struktur
organisasi BKKBN adalah sebagai berikut:
Gambar 1.4
Struktur Organisasi BKKBN

Adapun penjabaran tugas masing-masing Pejabat Pimpinan Tinggi Madya (PTM)


beserta satuan kerja dibawahnya yaitu:

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 13


Sekretaris Utama
• Tugas: Melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan
administrasi kepada seluruh unit kerja di lingkungan BKKBN.
• Satuan Kerja yang dibawahi: Biro Perencanaan; Biro Kepegawaian; Biro Keuangan dan
Pengelolaan Barang Milik Negara; Biro Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat, Biro
Umum

Inspektorat Utama
• Tugas: Melakukan pengawasan intern di lingkungan BKKBN.
• Satuan Kerja yang dibawahi: Inspektorat Wilayah I; Inspektorat Wilayah II; Inspektorat Wilayah
III

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi


• Tugas: Merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang keluarga berencana dan
kesehatan reproduksi.
• Satuan Kerja yang dibawahi: Direktorat Bina Kesertaan Keluarga Berencana Jalur Pemerintah;
Direktorat Bina Kesertaan Keluarga Berencana Jalur Swasta; Direktorat Bina Kesertaan
Keluarga Berencana Jalur Wilayah dan Sasaran Khusus; Direktorat Kesehatan Reproduksi.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga


• Tugas: Merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang keluarga sejahtera
dan pemberdayaan keluarga.
• Satuan Kerja yang dibawahi: Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Anak;
Direktorat Bina Ketahanan Remaja; Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan
Rentan; Direktorat Pemberdayaan Ekonomi Keluarga.

Deputi Bidang Pengendalian Penduduk


• Tugas: Merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang pengendalian
penduduk.
• Satuan Kerja yang dibawahi: Direktorat Pemaduan Kebijakan Pengendalian
Penduduk; Direktorat Perencanaan Pengendalian Penduduk; Direktorat Kerjasama
Pendidikan Kependudukan; Direktorat Analisis Dampak Kependudukan.

Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi


• Tugas: Merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang advokasi dan penggerakan
serta komunikasi, informasi, dan edukasi pengendalian penduduk, keluarga berencana dan
kesehatan reproduksi, serta keluarga sejahtera dan pemberdayaan keluarga.
• Satuan Kerja yang dibawahi: Direktorat Advokasi dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi;
Direktorat Bina Hubungan Antarlembaga; Direktorat Bina Lini Lapangan; Direktorat Pelaporan
dan Statistik; Direktorat Teknologi Informasi dan Dokumentasi.

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan


Tugas: Merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang pelatihan, penelitian dan
pengembangan pengendalian penduduk, keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, serta
keluarga sejahtera dan pemberdayaan keluarga.
Satuan Kerja yang dibawahi: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga
Berencana; Pusat Pelatihan dan Kerja Sama Internasional Kependudukan dan Keluarga
Berencana; Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan; Pusat Penelitian dan
Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera.

Sumber Daya
Sampai dengan akhir tahun 2017, jumlah SDM yang aktif di BKKBN adalah 3.096
orang, sedangkan yang diperbantukan ke instansi lain sebanyak 8 orang. Berikut
adalah profil demografi pegawai BKKBN:

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 14


PROFIL DEMOGRAFI PEGAWAI BKKBN TAHUN 2017
Jumlah : 3096 orang
(Sumber: Biro Kepegawaian BKKBN Pusat, Desember 2017)

JENIS KELAMIN

48% 52%

LAKI-LAKI PEREMPUAN

JENIS JABATAN PENDIDIKAN


S 3;
SMA; 0,27% S 2;
21,30% 20,34%
35,07%
D3;
54,51% 4,95%

10,41%
S 1;
53,15%
STRUKTURAL JFT JFU S3 S2 S1 D3 SMA

Golongan

Golongan IV
(14,08%)
Golongan III
(75,52%)

Golongan II (9,85%)

Golongan I (0,55%)

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 15


Dasar Hukum
Dasar hukum penyusunan Laporan Kinerja Tahun 2017 adalah:
1. Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan
dan Pembangunan Keluarga;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan
Kinerja Instansi Pemerintah;
3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014 tentang Rencana
Kerja Pemerintah Tahun 2015;
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019;
6. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan
Presiden RI Nomor 3 Tahun 2013 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Kementerian;
7. Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas
Eselon I Lembaga Pemerintah Non Kementerian sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2013;
8. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Perjanjian
Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Reviu atas Laporan Kinerja;
9. Peraturan Kepala BKKBN Nomor 72 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional sebagaimana telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Kepala BKKBN Nomor
273/PER/B4/2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala BKKBN Nomor
72/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional;

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 16


10. Peraturan Kepala BKKBN Nomor 82 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Provinsi;
11. Peraturan Kepala BKKBN Nomor 92 Tahun 2011 tentang Balai Pendidikan dan
Pelatihan Kependudukan dan Keluarga berencana;
12. Peraturan Kepala BKKBN Nomor 212/PER/B1/2015 tentang Rencana Strategis
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2015-2019;
13. Peraturan Kepala BKKBN Nomor 199 Tahun 2016 tentang Rencana Strategis
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2015-2019.

B. Aspek Strategis Organisasi


Kekuatan dan Peluang
1. Berdasarkan amanat Undang-undang nomor 52 tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dan Undang-undang
nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta visi misi BKKBN 2015-
2019 dalam rangka mewujudkan nawacita khususnya cita ke 3 “membangun
Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam
negara kesatuan” dan cita ke 5 “membangun kualitas hidup manusia Indonesia,
BKKBN mempunyai tujuan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk
menjadi 1,21 pada tahun 2019. BKKBN berperan untuk meningkatkan kualitas
sumber daya pembangunan.
2. Tersedianya sistem manajemen kinerja sehingga dapat mewujudkan pemerintahan
yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil. Sistem
didukung oleh perangkat aplikasi seperti SIVIKA, SIM SDM, QPR, MORENA.
3. Tersedianya saluran komunikasi massa seperti televisi, radio, media sosial serta
vlog yang mendukung promosi dan sosialisasi program KKBPK.
4. Pemberian DAK sub bidang KB kepada kabupaten dan kota untuk mendukung
tercapainya sasaran prioritas pembangunan Kependudukan, Keluarga Berencana
dan Pembangunan Keluarga.
5. Pengalihkelolaan PKB dan PLKB.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 17


C. Permasalahan Utama
Kelemahan dan Ancaman
1. Lemahnya penerapan grand design kependudukan di kabupaten dan kota.
2. BKKBN masih belum optimal meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB
kepada masyarakat.

Harapan dan Tantangan BKKBN


Berdasarkan ketentuan Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, urusan pengendalian penduduk dan keluarga berencana merupakan urusan
pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar yang merupakan
urusan pemerintahan konkuren yaitu urusan pemerintahan yang dibagi antara
pemerintah pusat, daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota. Undang-undang nomor
23 tahun 2014 kemudian diterjemahkan melalui Peraturan Pemerintah nomor 12 tahun
2017 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 18 tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017. Dalam
rangka peningkatan kualitas Penduduk Keluarga Berencana dan Pembangunan
Keluarga, maka program dan kegiatan dalam penyusunan RKPD Tahun 2017 harus
berpedoman kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 18 tahun 2016 ini agar
Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana yang dilaksanakan secara
operasional di lapangan dapat sesuai dengan arah kebijakan pembangunan
kependudukan, keluarga berencana dan pembangun keluarga secara nasional.

Disahkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Tahun nomor 86 tahun 2017 tentang
Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara
Evaluasi Rancangan Peraturan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah serta
Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah,
menjadi peluang yang sangat stategis untuk penguatan Program KKBPK di lini
lapangan. Terdapat 33 (tiga puluh tiga) indikator urusan Pengendalian Penduduk dan
Keluarga Berencana yang dapat digunakan dan dipilihsesuaikan dengan visi dan misi

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 18


pimpinan daerah. Seluruh indikator urusan PPKB dapat digunakan untuk dokumen
perencanaan pembangunan daerah (RPJPD dan RPJMD maupun Renstra OPD dan
Renja)

Selain fokus pada strategi Program KKBPK, BKKBN juga memperhatikan


perkembangan kebijakan, lingkungan strategis dan berbagai permasalahan program
yang harus dihadapi saat ini antara lain stagnansi pencapaian program dan masih
lemahnya implementasi Program KKBPK di lini lapangan. Berdasarkan hasil evaluasi
internal yang dilakukan dan atas petunjuk Bapak Presiden Republik Indonesia pada
tahun 2016, maka kemudian dirumuskan inovasi strategis untuk dapat
mengimplementasikan kegiatan-kegiatan prioritas Program KKBPK secara utuh di lini
lapangan dalam rangka mencapai target sasaran yang telah ditetapkan serta
memperluas cakupan penggarapan Program KKBPK di seluruh tingkatan wilayah,
yaitu melalui “Kampung KB”. Pada tahun 2017, peningkatan kualitas hidup manusia
Indonesia melalui Kampung KB menjadi salah satu inovasi strategis dalam upaya
realisasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan Program KKBPK secara utuh dan terintegrasi
antar bidang baik internal BKKBN maupun lintas sektor di lini lapangan. Kampung
KB merupakan salah satu bentuk/model miniatur pelaksanaan total Program KKBPK
secara utuh yang melibatkan seluruh bidang di lingkungan BKKBN dan bersinergi
dengan Kementerian/Lembaga, mitra kerja, stakeholders instansi terkait sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi wilayah, serta dilaksanakan di tingkatan pemerintahan terendah
(sesuai prasyarat penentuan lokasi Kampung KB) di seluruh kabupaten dan kota.

Isu strategis nasional lainnya yang perlu dapat disikapi oleh BKKBN adalah mengenai
bonus demografi yang sangat terkait dengan proporsi penduduk Indonesia. Bonus
demografi yaitu percepatan pertumbuhan ekonomi akibat berubahnya struktur umur
penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio)
penduduk non-usia kerja terhadap penduduk usia kerja. Kebijakan yang tepat tentu
sangat diperlukan untuk menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang akan masuk
ke angkatan kerja; menjaga penurunan fertilitas di daerah-daerah yang telah mencapai
TFR di bawah 2,1; menyiapkan keterampilan dan kompetensi tenaga kerja; dan
kebijakan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja, fleksibilitas pasar tenaga kerja,

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 19


keterbukaan perdagangan dan tabungan serta dukungan sarana dan prasarana. Dalam
kaitan bonus demografi tersebut BKKBN dapat berperan sangat dominan dalam
mengatur struktur penduduk dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan
pendekatan siklus kehidupan dari dalam kandungan hingga lansia.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 20


BAB II
PERENCANAAN KINERJA
Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 21
A. PERENCANAAN STRATEGIS
Sesuai dengan arah kebijakan pemerintah 2015-2019,
seluruh Kementerian/Lembaga turut serta dalam
mensukseskan visi dan misi pembangunan 2015-2019 yaitu
“terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan
berkepribadian berlandaskan gotong royong” dengan misi:
1.Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga
kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi
dengan mengamankan sumber daya maritim dan
mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara
kepulauan;
2.Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan dan
demokratis berlandaskan negara hukum;
3.Mewujudkan politik luar negeri bebas aktif dan
memperkuat jati diri sebagai negara maritim;
4.Mewujudkan kualitas manusia Indonesia yang tinggi, maju
dan sejahtera;
5.Mewujudkan Indonesia yang berdaya saing;
6.Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang
mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan
nasional; dan
7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam
kebudayaan.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 22


Visi dan Misi BKKBN
BKKBN berperan untuk mendukung peningkatan kualitas hidup manusia melalui visi
BKKBN yaitu “Lembaga yang handal dan dipercaya dalam mewujudkan
penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas”. Dalam mendukung upaya
perwujudan visi pembangunan 2015-2019, maka BKKBN memiliki misi, yaitu:
1) Mengarusutamakan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi;
2) Menyelenggarakan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi;
3) Memfasilitasi pembangunan keluarga;
4) Membangun dan menerapkan budaya kerja organisasi secara konsisten;
5) Mengembangkan jejaring kemitraan dalam pengelolaan Kependudukan, Keluarga
Berencana dan Pembangunan Keluarga.

Tujuan BKKBN
BKKBN turut serta berkontribusi terhadap pencapaian visi dan misi pembangunan
2015-2019 melalui penetapan tujuan strategis, yaitu:
Mencapai Penduduk Tumbuh Seimbang melalui upaya penurunan Laju
Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan perwujudan Keluarga Berkualitas

Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) merupakan angka yang menunjukkan tingkat


pertambahan penduduk per tahun dalam jangka waktu tertentu. LPP berguna untuk
mengetahui perubahan jumlah penduduk antar dua periode waktu. Kemajuan suatu
bangsa juga diukur berdasarkan indikator kependudukan, ada kaitan yang erat antara
kemajuan suatu bangsa dengan laju pertumbuhan penduduk termasuk derajat
kesehatan. Bangsa yang sudah maju ditandai dengan laju pertumbuhan penduduk yang
lebih kecil. Melalui sasaran strategis ini, BKKBN berkomitmen mewujudkan
penduduk tumbuh seimbang sebagaimana yang diarahkan dalam Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025. Indikator tujuan yaitu persentase
laju pertumbuhan penduduk (LPP).

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 23


Tabel 2.1
Tujuan dan Indikator Tujuan BKKBN

Tujuan Indikator Tujuan Target 2019


Mencapai Penduduk Tumbuh Persentase Laju Pertumbuhan 1,21
Seimbang melalui upaya Penduduk
penurunan Laju Pertumbuhan
Penduduk (LPP) dan
perwujudan Keluarga
Berkualitas

Arah kebijakan dan Strategi Nasional


Arah kebijakan dan strategi nasional dalam Pembangunan Kependudukan dan
Keluarga Berencana yang tertera pada RPJMN 2015-2019 Buku I dan yang akan
menjadi fokus dalam pelaksanaan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana
selama lima tahun ke depan adalah:
1. Penguatan dan pemaduan kebijakan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang
merata dan berkualitas;
2. Penyediaan sarana dan prasarana serta jaminan ketersediaan alat dan obat
kontrasepsi yang memadai di setiap fasilitas kesehatan KB dan jejaring pelayanan,
serta pendayagunaan fasilitas kesehatan untuk pelayanan KB;
3. Peningkatan pelayanan KB dengan menggunakan MKJP untuk mengurangi resiko
drop-out maupun penggunaan non MKJP dengan memberikan informasi secara
berkesinambungan untuk keberlangsungan kesertaan ber-KB serta pemberian
pelayanan KB lanjutan dengan mempertimbangkan prinsip Rasional, Efektif dan
Efisien (REE);
4. Peningkatan jumlah dan penguatan kapasitas tenaga lapangan KB dan tenaga
kesehatan pelayanan KB, serta penguatan lembaga di tingkat masyarakat untuk
mendukung penggerakan dan penyuluhan KB;
5. Advokasi program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan
keluarga kepada para pembuat kebijakan, serta promosi dan penggerakan kepada
masyarakat dalam penggunaan alat dan obat kontrasepsi KB;
6. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman kesehatan reproduksi bagi remaja
melalui pendidikan, sosialisasi mengenai pentingnya Wajib Belajar 12 tahun dalam

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 24


rangka pendewasaan usia perkawinan, dan peningkatan intensitas layanan KB bagi
pasangan usia muda guna mencegah kelahiran di usia remaja;
7. Pembinaan ketahanan dan pemberdayaan keluarga melalui kelompok kegiatan
bina keluarga dalam rangka melestarikan kesertaan ber-KB dan memberikan
pengaruh kepada keluarga calon akseptor untuk ber-KB;
8. Penguatan tata kelola pembangunan kependudukan dan KB melalui
penguatan landasan hukum, kelembagaan, serta data dan informasi kependudukan
dan KB;
Penguatan Bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) melalui
penyediaan informasi dari hasil penelitian/kajian Kependudukan, Keluarga
Berencana dan Ketahanan Keluarga serta peningkatan kerjasama penelitian
dengan universitas terkait pengembangan Program KKBPK.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 pasal 56 ayat (2), BKKBN


memiliki 6 (enam) fungsi yang diantaranya adalah fungsi dalam perumusan kebijakan
nasional. Rencana Strategis (Renstra) BKKBN Tahun 2015-2019 merupakan
kebijakan nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Kepala BKKBN nomor 199
Tahun 2016 tentang Rencana Strategis BKKBN Tahun 2015-2019 sebagai dokumen
perencanaan dan acuan penganggaran Program Kependudukan, Keluarga Berencana
dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) periode 2015-2019.

Dalam rangka pencapaian tujuan strategis, BKKBN telah menetapkan lima sasaran
strategis, yaitu:

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 25


Sasaran Strategis 1. Menurunnya Angka Kelahiran Total (TFR)
Penduduk merupakan modal pembangunan.
Sasaran Strategis yang ingin dicapai Dalam pembangunan, penduduk dapat
pada periode 2015-2019
menjadi aset ataupun beban. Jumlah
Sasaran Strategis 1.
penduduk yang besar hanya akan menjadi
Menurunnya angka kelahiran total
(TFR) aset jika disertai dengan kualitas sumber
daya yang baik. Di sisi lain, jumlah
Sasaran Strategis 2.
Meningkatnya prevalensi kontrasepsi penduduk yang terlampau sedikit dapat
(CPR) modern menjadi masalah bagi keberlangsungan

Sasaran Strategis 3. jumlah penduduk di masa depan. Oleh


Menurunnya kebutuhan ber-KB yang karena itu, angka kelahiran total (Total
tidak terpenuhi (unmet need)
Fertility Rate) menjadi sasaran strategis yang
Sasaran Strategis 4. harus diperhatikan dari waktu ke waktu.
Meningkatnya peserta KB aktif yang
menggunakan Metode Kontrasepsi
Angka kelahiran merupakan salah satu
Jangka Panjang (MKJP) komponen pertumbuhan penduduk yang

Sasaran Strategis 5.
bersifat menambah jumlah penduduk.
Menurunnya Tingkat Putus Pakai Melalui sasaran strategis ini, BKKBN
Kontrasepsi
memastikan membuat kegiatan-kegiatan
strategis yang fokus pada pengendalian
jumlah penduduk.

Sasaran Strategis 2. Meningkatnya prevalensi kontrasepsi (CPR) modern


Sejak pemerintah melaksanakan program Keluarga Berencana (KB) pada awal tahun
1970-an, angka kelahiran mengalami penurunan yang sangat berarti. Keberhasilan ini
salah satunya didukung oleh keberhasilan peningkatan pemakaian alat dan obat
kontrasepsi. Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu faktor antara (proximate
determinant) fertilitas yang secara langsung mempengaruhi fertilitas dan dipengaruhi
oleh berbagai faktor seperti kondisi demografi, sosial, ekonomi, hukum, politik dan
lingkungan. Informasi mengenai tingkat pemakaian kontrasepsi penting untuk
mengukur keberhasilan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga. Melalui sasaran strategis ini, BKKBN berupaya
meningkatkan pemakaian kontrasepsi modern guna mengendalikan angka kelahiran.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 26


Sasaran Strategis 3. Menurunnya kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi
(unmet need)
Unmet need merupakan kebutuhan pelayanan KB yang tidak terpenuhi. Kebutuhan
pelayanan KB yang tidak terpenuhi didefinisikan sebagai persentase wanita kawin
yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi
tidak memakai alat/cara kontrasepsi. Bagi BKKBN, estimasi ukuran dan komposisi
dari populasi wanita yang kebutuhan kontrasepsinya tidak terpenuhi berguna untuk
menilai sejauh mana Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan
Keluarga telah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui sasaran strategis ini,
BKKBN bertekad menurunkan angka unmet need.

Sasaran Strategis 4. Meningkatnya peserta KB aktif yang menggunakan Metode


Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu upaya dalam Program KKBPK untuk
pengendalian fertilitas atau menekan pertumbuhan penduduk yang paling efektif.
Dalam pelaksanaannya diupayakan agar semua metode kontrasepsi yang disediakan
dan ditawarkan kepada masyarakat memberikan manfaat optimal dengan
meminimalkan efek samping maupun keluhan yang ditimbulkan. Metode kontrasepsi
dapat dibedakan menjadi dua yaitu metoda kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dan
metoda kontrasepsi jangka pendek/non MKJP. Alat dan obat ini memiliki tingkat
efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan non MKJP dalam hal pencegahan
kehamilan.

Sasaran Strategis 5. Menurunnya Tingkat Putus Pakai Kontrasepsi


BKKBN menetapkan sasaran strategis penurunan tingkat putus pakai yaitu untuk
menjamin efektifitas penggunaan kontrasepsi dalam rangka mengendalikan tingkat
angka kelahiran. Jumlah wanita yang menggunakan metode kontrasepsi pada waktu
tertentu serta keberlangsungan pemakaian kontrasepsi berdampak terhadap efektifitas
suatu metode kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
Peningkatan kualitas pelayanan keluarga berencana di Indonesia harus fokus dalam
menjaga keberlangsungan pemakaian metode kontrasepsi.

Berikut adalah Indikator Kinerja Utama BKKBN:

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 27


Tabel 2.2
Indikator Kinerja Utama BKKBN
Sasaran Indikator Sumber Data
Menurunnya angka Angka kelahiran total (total SRPJMN 2017
kelahiran total (TFR) fertility rate/TFR) per WUS
(15-49 tahun)
Meningkatnya prevalensi Persentase pemakaian SRPJMN 2017
kontrasepsi (CPR) Modern kontrasepsi (modern
contraceptive prevalence
rate/CPR)
Menurunnya kebutuhan ber- Persentase kebutuhan ber- SRPJMN 2017
KB yang tidak terpenuhi KB yang tidak terpenuhi
(unmet need) (unmet need) (%)
Meningkatnya peserta KB Persentase Peserta KB Aktif SRPJMN 2017
aktif yang menggunakan (PA) MKJP
metode kontrasepsi jangka
panjang (MKJP)
Menurunnya tingkat putus Tingkat putus pakai SRPJMN 2017
pakai kontrasepsi kontrasepsi (%)

Dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran strategis, maka BKKBN menetapkan
lima arah kebijakan dan strategi pada Renstra 2015-2019, sebagai berikut:

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 28


Arah Kebijakan 1. Peningkatan Akses dan Pelayanan KB yang Merata dan
Berkualitas

Arah kebijakan 1, ditetapkan 8 Arah Kebijakan dan Strategi BKKBN dalam


rangka mendukung tujuan dan sasaran
strategi yaitu: strategis
1. Penguatan dan pemaduan
Arah Kebijakan 1.
kebijakan pelayanan KB yang Peningkatan akses dan pelayanan KB yang
merata dan berkualitas; merata dan berkualitas

2. Peningkatan penggerakan Arah Kebijakan 2.


pelayanan KB Metode jangka Penguatan advokasi dan komunikasi, informasi
dan edukasi (KIE) KKBPK
Panjang;
3. Peningkatan jaminan ketersediaan Arah Kebijakan 3.
Peningkatan pembinaan ketahanan remaja
alat dan obat kontrasepsi;
4. Peningkatan kualitas fasilitas Arah Kebijakan 4.
Peningkatan pembangunan keluarga
pelayanan KB melalui penyediaan
sarana pelayanan KB yang Arah Kebijakan 5.
Penguatan regulasi, kelembagaan serta data
memadai; dan informasi
5. Peningkatan pelayanan akseptor
KB;
6. Peningkatan jumlah dan penguatan kapasitas tenaga lapangan KB;
7. Peningkatan promosi dan konseling kesehatan dan hak-hak reproduksi;
8. Penguatan konsep kemandirian ber-KB melalui peningkatan kualitas alat dan obat
kontrasepsi produksi dalam negeri.

Arah Kebijakan 2. Penguatan advokasi dan komunikasi, informasi dan edukasi


(KIE) KKBPK
Arah kebijakan 2, ditetapkan 5 strategi yaitu:
1. Penguatan kebijakan dan pengembangan strategi advokasi dan KIE Program
KKBPK;
2. Peningkatan advokasi dan KIE Program KKBPK kepada mitra kerja dan
pemangku kepentingan;
3. Peningkatan advokasi dan KIE Program KKBPK melalui media lini bawah;

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 29


4. Peningkatan advokasi dan KIE Program KKBPK melalui tenaga lini lapangan;
5. Peningkatan penggerakan mekanisme operasional lini lapangan Program
KKBPK.

Arah Kebijakan 3. Peningkatan pembinaan ketahanan remaja


Arah kebijakan 3, ditetapkan 4 strategi yaitu:
1. Peningkatan kebijakan dan strategi yang komprehensif dan terpadu tentang KIE
dan konseling kesehatan reproduksi remaja;
2. Peningkatan fungsi dan peran, serta kualitas dan kuantitas kegiatan kelompok
remaja (PIK KRR);
3. Peningkatan pembinaan remaja tentang generasi berencana (GenRe);
4. Pengembangan dan peningkatan fungsi dan peran kegiatan kelompok Bina
Keluarga remaja (BKR).

Arah Kebijakan 4. Peningkatan pembangunan keluarga


Arah kebijakan 4, ditetapkan 4 strategi yaitu:
1. Penguatan kebijakan dan pengembangan strategi dan materi yang relevan terkait
pentingnya keluarga dan pengasuhan tumbuh kembang anak;
2. Peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya Keluarga Berencana
dalan peningkatan kesejahteraan keluarga;
3. Peningkatan penyuluhan tentang 8 (delapan) fungsi keluarga
4. Peningkatan kapasitas tenaga lapangan dan kader serta kelembagaan pembinaan
keluarga.

Arah Kebijakan 5. Penguatan regulasi, kelembagaan serta data dan informasi


Arah kebijakan 5, ditetapkan 9 strategi yaitu:
1. Mengharmonisasikan dan mengusulkan amandemen peraturan perundangan agar
mendukung pelaksanaan Program KKBPK;
2. Peningkatan koordinasi dalam implementasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2014;
3. Penguatan kelembagaan dalam penyelenggaraan Urusan Pengendalian Penduduk
dan Keluarga Berencana sesuai amanat Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014;

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 30


4. Penyerasian dan peninjauan kembali landasan hukum/peraturan perundang-
undangan Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana;
5. Koordinasi lintas sektor terkait perencanaan, penganggaran, pelaksanaan,
pemantauan dan evaluasi kegiatan Program KKBPK;
6. Peningkatan koordinasi perumusan kebijakan pembangunan Bidang Pengendalian
dan KB dengan pemerintah daerah;
7. Peningkatan kualitas data dan informasi Program KKBPK yang akurat dan tepat
waktu;
8. Peningkatan diseminasi, aksesibilitas dan pemanfaatan data dan informasi
kependudukan terutama sensus dan survei baik seluruh pihak, termasuk swasta
dan akademisi;
9. Peningkatan koordinasi termasuk fasilitasi seluruh instansi dalam pemanfaatan
data dan informasi kependudukan untuk perencanaan dan evaluasi kebijakan
pembangunan.

Framework Renstra BKKBN


Sesuai dengan arah kebijakan pemerintah (kabinet kerja) 2015-2019, seluruh
Kementerian/Lembaga diarahkan untuk berperanserta dalam mewujudkan visi dan
misi pembangunan 2015-2019. Visi dan misi pembangunan didukung oleh 9
(sembilan) Agenda Prioritas Pembangunan Nawacita.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 31


B. Rencana Kinerja Tahunan
Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan,
akuntabel serta berorientasi hasil maka dilakukan penetapan Rencana Kinerja Tahunan
(RKT) BKKBN. RKT merupakan penjabaran atas Renstra sehingga seluruh
pelaksanaan BKKBN dapat lebih terarah dan fokus terhadap pencapaian Renstra.

Gambar 2.1
Formulir Rencana Kinerja Tahun 2017

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 32


Rencana Aksi Upaya Pencapaian Target/Sasaran RPJMN dan Rencana Strategis
BKKBN Tahun 2015-2019
Rencana aksi upaya pencapaian target/sasaran
RPJMN dan Rencana Strategis BKKBN Tahun
2015-2019 merupakan penjabaran dari Renstra
BKKBN Tahun 2015-2019 serta sebagai upaya
pencapaian target/sasaran yang telah ditetapkan
didalamnya.
Rencana Aksi BKKBN 2015-2019 mengacu
pada arah kebijakan dan strategi yang tertera
dalam RPJMN dan Renstra BKKBN 2015-2019.
Di dalam Rencana Aksi Tahun 2015-2019
diuraikan kegiatan-kegiatan prioritas yang dapat
diimplementasikan setiap tahunnya (dalam
periode 2015-2019) sehingga tidak menyimpang dari program dan kegiatan yang telah
dituangkan dalam Renstra BKKBN Tahun 2015-2019.

Perjanjian Kinerja
Dalam tahapan perencanaan kinerja,
langkah awal yang dilakukan adalah
perumusan target kinerja. Target kinerja
tersebut selaras dengan arah dan tujuan
BKKBN yang telah ditetapkan. Target
kinerja BKKBN tahun 2017 mengacu
pada target yang telah ditetapkan dalam
Renstra Tahun 2015-2019, serta dengan
memperhatikan pencapaian kinerja pada
tahun sebelumnya dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 33


Target yang sudah ditetapkan kemudian dituangkan
ke dalam dokumen perjanjian kinerja yang
merupakan bentuk komitmen dan ditetapkan serta
ditandatangani oleh Kepala BKKBN, Pejabat
Pimpinan Tinggi Madya dan Pejabat Pimpinan Tinggi
Pratama. Dokumen tersebut mencakup: (1)
penandatanganan Kontrak Kinerja Pusat dan Provinsi
Tahun 2017; (2) Indikator Kinerja Utama dan target
BKKBN Tahun 2017 yang tertuang dalam Perjanjian
Kinerja Tahun 2017.

Gambar 2.2
Perjanjian Kinerja BKKBN Tahun 2017

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 34


Untuk tahun anggaran 2017, penandatangan perjanjian kinerja dilakukan pada bulan
September 2016 bertepatan dengan pelaksanaan konsolidasi perencanaan program dan
anggaran II (KOREN II) yang melibatkan seluruh unit kerja di BKKBN baik pusat
maupun provinsi. Pelaksanaan KOREN II 2017 dilakukan setelah pagu anggaran
ditetapkan Kementerian Keuangan. Sedangkan untuk tahun 2018, pelaksanaan
penandatanganan perjanjian kinerja dilakukan mengacu pada ketentuan Peraturan
Menteri PAN dan RB RI nomor 53 tahun 2014 yaitu bahwa perjanjian kinerja harus
disusun paling lambat satu bulan setelah dokumen anggaran disahkan sehingga
dilaksanakan setelah DIPA BKKBN tahun 2018 disahkan yaitu pada bulan Januari
2018.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 35


Gambar 2.3
Penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2017

Pada tahun 2017, BKKBN telah menyusun sistem monitoring dan evaluasi atas
rencana aksi pencapaian kinerja. Sistem ini memuat informasi tentang rencana aksi
kinerja BKKBN serta sistem monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan.
Sistem ini sendiri direncanakan akan diuji coba pada tahun 2018.
Gambar 2.4
Sistem Monitoring Rencana Aksi Pencapaian Kinerja

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 36


Monitoring dan Evaluasi Pencapaian Rencana Strategis
Dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintahan bidang pengendalian
penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana serta untuk mendukung tercapainya
sasaran nasional sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden nomor 2 tahun 2015
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019, maka
telah ditetapkan Keputusan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Nomor 201/Kep/B1/2016 tentang Kinerja Program Kependudukan, Keluarga
Berencana dan Pembangunan Keluarga Tahun 2017. Keputusan Kepala BKKBN
tersebut berlaku bagi unit kerja di lingkungan BKKBN, Perwakilan BKKBN Provinsi
dan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta yang merupakan alat ukur prestasi kinerja
yang terdiri dari Indikator Kinerja dan Sasaran
Kinerja pada tahun 2017.

Monitoring dan evaluasi kinerja merupakan hal yang


rutin dilakukan di lingkungan BKKBN untuk
mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan
Program KKBPK. Monitoring dan evaluasi kinerja
Program KKBPK Tahun 2017 dilaksanakan setiap
bulan melalui forum RADALGRAM (rapat
pengendalian program) melalui fasilitasi VICON (Video Conference) yang dihadiri oleh
seluruh pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama BKKBN di pusat dan provinsi.
Dalam Radalgram telah diintegrasikan informasi kinerja dan pelaksanaan anggaran
sehingga pimpinan mendapatkan informasi tentang capaian kinerja dan keuangan secara
berkala.

Unit kerja di lingkungan BKKBN, Perwakilan BKKBN Provinsi dan Pemerintah


Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta wajib melaporkan hasil pelaksanaan kinerja
kepada Kepala BKKBN setiap bulannya sesuai dengan tata cara pencatatan dan
pelaporan yang berlaku. Monitoring dan evaluasi yang juga dilakukan terhadap variabel
kontrak kinerja baik pusat maupun provinsi dilakukan berdasarkan ketentuan sebagai
berikut:

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 37


1. Monitoring perkembangan kinerja perwakilan BKKBN Provinsi dilakukan melalui
mekanisme RADALGRAM (Rapat Pengendalian Program) serta termuat dalam:
a. Laporan Umpan Balik Hasil Pelaksanaan Sub Sistem Pencatatan dan Pelaporan
Pelayanan Kontrasepsi dan Pengendalian Lapangan. Sub sistem ditujukan
untuk mengumpulkan data
dan informasi Program
KKBPK Nasional dari
daerah secara baku dan
teratur di seluruh tanah air.
Pengumpulan data tersebut
dilakukan melalui Sub
Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Pengendalian Lapangan (bulanan), Pelayanan Kontrasepsi
(bulanan). Laporan umpan balik disusun berdasarkan laporan bulanan yang
dilaporkan secara rutin setiap bulan melalui program aplikasi Statistik Rutin
berbasis web dengan alamat http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr.
b. Laporan Umpan Balik Hasil Pelaksanaan
Sub Sistem Pencatatan dan Pelaporan Data
Potensi Wilayah Program KKBPK
Nasional. Laporan Umpan Balik Hasil
Pelaksanaan Sub Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Data Potensi Wilayah (Semester)
merupakan laporan umpan balik mengenai
data potensi wilayah yang ada di seluruh
Indonesia.
c. Laporan Umpan Balik Hasil Pelaksanaan
Sub Sistem Pencatatan dan Pelaporan Data Potensi Klinik KB Program
KKBPK Nasional. Laporan Umpan Balik Hasil Pelaksanaan Sub Sistem
Pencatatan dan Pelaporan Data Potensi Faskes KB (Semester) merupakan
laporan ulasan umpan balik mengenai data potensi faskes KB yang ada
diseluruh Indonesia.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 38


2. Evaluasi kinerja satuan unit kerja eselon II di tingkat pusat dilakukan dengan
mengisi pencapaian kinerja dengan menggunakan aplikasi QPR BSC dilakukan
secara langsung oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan di masing-masing unit
kerja. Aspek yang dinilai meliputi 4 (empat) perspektif Balanced Scorecard yaitu
perspektif pelanggan (customers), perspektif proses bisnis internal (internal
business process), perspektif pembelajaran dan pengembangan (learning and
growth), dan perspektif keuangan (financial).
a. Nilai skor maksimal adalah 100 persen dari pencapaian tiap indikator;
b. Penentuan nilai setiap variabel ditunjukkan dengan warna hijau/kuning/merah,
dengan range sebagai berikut:

Gambar 2.5
Pelaksanaan Video Conference Rapat Pimpinan

Selain itu, BKKBN melaksanakan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) untuk


mengevaluasi pencapaian kinerja dan program tahunan. Untuk mengetahui
perkembangan pencapaian kegiatan tiap kedeputian telah dikembangkan kegiatan
monitoring melalui kegiatan Rapat Kedeputian (Rapat di lingkungan masing-masing

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 39


Kedeputian Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi; Bidang
Pengendalian Penduduk; Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga;
Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi; Bidang Pelatihan, Penelitian dan
Pengembangan), Rasestama (Rapat di lingkungan Sekretariat Utama), Ratama (Rapat
di lingkungan Inspektorat Utama) yang rutin dilaksanakan setiap bulan.
Gambar 2.6
Pelaksanaan RAKORNIS Kemitraan BKKBN Tahun 2017

Penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pengendalian
dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 243/PMK.02/2011 tentang Pengukuran dan Evaluasi atas Pelaksanaan Rencana
Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga mengamanatkan kepada pimpinan
kementerian/lembaga untuk melakukan pemantauan pelaksanaan Renja-KL dan
RKAKL. Para penanggung jawab program diwajibkan melakukan evaluasi atas
program yang menjadi tanggungjawabnya. Secara pararel, E-monev yang dilaksanakan
saat ini telah memuat informasi kinerja yang dibutuhkan sebagai masukan dalam rangka
penerapan perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja (Performance Based
Planning and Budgeting), serta lebih lanjut untuk mengetahui kontribusi
kegiatan/program terhadap pencapaian target prioritas nasional. Dalam rangka
memenuhi amanat tersebut, BKKBN telah melaksanakan evaluasi pelaksanaan program

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 40


dan anggaran melalui aplikasi E-Monev. Pemantauan RKP dan E-Monev Kinerja
Penganggaran pada unit kerja Eselon II yang evaluasinya dilakukan setiap triwulanan.
Hasil evaluasi tersebut secara rutin diumpanbalikan ke unit kerja Eselon II untuk
kesinambungan sistem akuntabilitas kinerja BKKBN.

Pengelolaan Kinerja dengan Pendekatan Balanced Scorecard (BSC) di


Lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Sistem manajemen kinerja dengan pendekatan BSC di BKKBN meliputi empat
tingkatan yaitu:
1. BKKBN-Wide, level lembaga;
2. Level Eselon II (personal scorecard Pimpinan Satuan Kerja Eselon II);
3. Level Eselon III (personal scorecard Pimpinan Satuan Kerja Eselon III);
4. Level Eselon IV (personal scorecard Pimpinan Satuan Kerja Eselon IV).

Penerapan manajemen kinerja dengan pendekatan Balanced Scorecard telah


dilaksanakan sejak penyusunan Rencana Strategis Pembangunan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional Tahun 2010-2014 dan dilanjutkan pada penyusunan
Rencana Strategis Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Tahun 2015-2019. Disamping itu, penerapan manajemen kinerja dilakukan secara
bertahap dan dievaluasi secara terus menerus.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 41


Gambar 2.7
Peta Strategy BKKBN

Selain pengelolaan sistem pencatatan dan pelaporan statistik rutin, pengelolaan data
basis kegiatan prioritas program, pelaksanaan penggunaan BSC merupakan salah satu
dari pemanfaatan teknologi informasi di lingkungan BKKBN. Proses otomasi dilakukan
setelah pembangunan BSC selesai dilakukan. Upaya ini dilakukan agar dapat
mempermudah dalam proses input data, monitoring dan evaluasi dalam mendukung
pengelolaan kinerja BKKBN. Untuk mengukur keberhasilan Renstra BKKBN Tahun
2015-2019, BKKBN telah menggunakan suatu sistem manajemen kinerja yaitu QPR
(Quality Processes Report). QPR adalah aplikasi sistem manajemen kinerja berbasis
BSC (Balanced Scorecard) yang bekerja secara online dan berfungsi untuk monitor,
mengukur dan mengevaluasi pencapaian kinerja BKKBN. Sistem aplikasi BSC yang
dipakai di BKKBN adalah QPR (Quality Processes Result) versi 8.0 yang kemudian
diperbaharui dengan versi 15.1 Software ini menggunakan aplikasi berbasis web
dengan domain: jktbsc01/QPR2015-01/Portal/QPR menggunakan username dan
password masing-masing unit kerja. Aplikasi tersebut dapat diakses dengan

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 42


menggunakan jaringan intranet oleh pegawai BKKBN yang ditunjuk sebagai petugas
administrasi BSC oleh masing-masing satuan kerja/komponen.

Pelaksanaan evaluasi kinerja dilakukan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:


1. Pengumpulan Data IKU dari masing-masing unit kerja eselon II pusat dikoordinir
oleh masing-masing perencana komponen;
2. Perekaman BSC unit kerja eselon II pusat ke dalam aplikasi BSC meliputi kegiatan
perekaman data BSC unit kerja eselon II pusat yang dilakukan awal tahun setelah
pembentukan BSC unit kerja eselon II pusat yang dilakukan oleh administrator BSC
BKKBN, dalam hal ini adalah Biro Perencanaan. Pada tahap ini, hasil rekaman
dapat langsung terlihat dalam website BKKBN;
3. Pemasukan data pencapaian IKU/KPI unit kerja eselon II pusat ke aplikasi QPR
yang dilakukan secara langsung oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan di
masing-masing unit kerja eselon II di pusat;
4. Progress review realisasi pencapaian seluruh IKU/KPI oleh Biro Perencanaan
selaku pengelola manajemen kinerja BKKBN.

Monitoring dan evaluasi kinerja dilaksanakan untuk menilai tingkat pencapaian dari
masing-masing indikator kinerja serta kemungkinan terjadinya permasalahan atau
hambatan. Dengan pendekatan BSC yang dilakukan secara berkala melalui forum
khusus yang dikoordinasikan oleh tim pengelola kinerja BKKBN dengan melibatkan
para pengelola BSC dari semua unit kerja eselon II. Telaah kinerja dilakukan setiap
tahun.

Tindak lanjut dari hasil telaah kinerja adalah melakukan penyesuaian ataupun
perubahan sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing satuan kerja telah ditetapkan
untuk meningkatkan pencapaian kinerja pada periode yang akan datang. Mengingat
output kegiatan prioritas dari masing-masing satuan kerja telah ditetapkan dalam kurun
waktu 5 (lima) tahun seperti tercantum dalam Renstra selanjutnya dilakukan
penyesuaian atau perubahan dalam penetapan inisiatif strategis maupun rincian kegiatan
yang dilakukan untuk mencapai output serta Indikator Kinerja Utama (IKU) yang telah
ditetapkan.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 43


Gambar 2.8
Screenshot Aplikasi QPR

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 44


BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 45
AKUNTABILITAS KINERJA

B
erdasarkan perjanjian kinerja 2017, BKKBN berupaya
semaksimal mungkin untuk mencapai target kinerja
yang telah ditetapkan. Selama tahun 2017, BKKBN
melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kinerja. Selain
itu, BKKBN juga telah menindaklanjuti hasil evaluasi atas
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah tahun 2016 yang
dilakukan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia. Mekanisme
pengelolaan kinerja BKKBN dilakukan secara
berkesinambungan. Dalam rangka pemantauan kinerja secara
berkelanjutan, BKKBN telah mengembangkan aplikasi
teknologi informasi yang dapat memantau capaian kinerja.
Selain itu, BKKBN juga memantau realisasi kinerja dan
anggaran melalui rapat yang diadakan setiap bulan dengan
melibatkan seluruh unit kerja eselon I dan II BKKBN Pusat dan
Perwakilan BKKBN Provinsi.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 46


A. CAPAIAN KINERJA BKKBN
Selama kurun waktu tahun 2017, BKKBN terus menerus melakukan berbagai upaya
untuk memperbaiki dan meningkatkan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (SAKIP) di lingkungan BKKBN. Untuk itu, beberapa upaya yang telah
dilakukan antara lain:
1. Penetapan Peta Jalan Reformasi Birokrasi BKKBN 2015-2019, yaitu dengan
dikeluarkannya Peraturan Kepala BKKBN nomor 9 tahun 2017 tentang Peta Jalan
Reformasi Birokrasi BKKBN 2015-2019. Peta Jalan Reformasi Birokrasi
merupakan bentuk operasionalisasi Grand Design Reformasi Birokrasi yang
disusun dan dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali dan merupakan rencana rinci
reformasi birokrasi dari satu tahapan ke tahapan selanjutnya selama lima tahun
dengan sasaran per tahun yang jelas.
2. Tersusunnya Rencana Aksi Pencapaian Kinerja tahun 2017. Rencana Aksi
merupakan penjabaran atas perjanjian kinerja yang memuat tentang rencana
pencapaian target kinerja setiap triwulan.
3. Pembentukan kampung KB di setiap Kecamatan sesuai dengan road map
kampung KB 2017.
4. Dipergunakannya SIVIKA (Sistem Visum Kinerja Aparatur) sebagai salah satu
komponen selain presensi dalam pembayaran tunjangan kinerja pegawai setiap
bulannya. Besarnya Komponen SIVIKA berkontribusi terhadap perhitungan
tunjangan kinerja maksimal sebesar 20 (dua puluh) persen dalam 1 (satu) bulan.

BKKBN menggunakan Survei Kinerja Akuntabilitas Program KKBPK (SKAP)


sebagai sumber data pengukuran kinerja tahun 2017. Survei Kinerja Akuntabilitas
Program KKBPK (SKAP) merupakan survei berskala nasional dan representasi
provinsi. Survei ini bertujuan untuk mengetahui capaian indikator program KKBPK
sesuai sasaran yang tertuang dalam Renstra dan RPJMN 2015-2019. Pengambilan
sampel Survei Kinerja Akuntabilitas Program KKBPK (SKAP) dibantu oleh Badan
Pusat Statistik (BPS) dengan menggunakan metode stratified multistages random
sampling melalui pendekatan rumah tangga dan menggunakan klaster sebagai wilayah
pencacahan. Wilayah sampel mencakup 1.912 klaster (setingkat dusun) yang
terdistribusi di seluruh provinsi Indonesia. Berbeda dengan survei indikator kinerja

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 47


AKUNTABILITAS KINERJA

B
erdasarkan perjanjian kinerja 2017, BKKBN berupaya
semaksimal mungkin untuk mencapai target kinerja
yang telah ditetapkan. Selama tahun 2017, BKKBN
melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kinerja. Selain
itu, BKKBN juga telah menindaklanjuti hasil evaluasi atas
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah tahun 2016 yang
dilakukan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia. Mekanisme
pengelolaan kinerja BKKBN dilakukan secara
berkesinambungan. Dalam rangka pemantauan kinerja secara
berkelanjutan, BKKBN telah mengembangkan aplikasi
teknologi informasi yang dapat memantau capaian kinerja.
Selain itu, BKKBN juga memantau realisasi kinerja dan
anggaran melalui rapat yang diadakan setiap bulan dengan
melibatkan seluruh unit kerja eselon I dan II BKKBN Pusat dan
Perwakilan BKKBN Provinsi.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 46


Program KKBPK sebelumnya, tahun 2017 merupakan survei yang menggunakan
teknologi berupa telepon pintar yang digunakan sebagai alat pengumpul data yang
diadopsi dari Survei Performance Monitoring and Accountability (PMA) 2015. Survei
ini dapat terselenggara dengan baik atas kerjasama antara Puslitbang KB KS dan
dengan Perwakilan BKKBN Provinsi se-Indonesia, Dinas Pemberdayaan,
Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta, serta
universitas/pusat studi/lembaga penelitian di setiap provinsi.

Pada bab ini, akan dibahas mengenai capaian, hambatan atau kendala dan upaya yang
dilakukan sebagai wujud pertanggungjawaban atas perjanjian kinerja 2017 serta upaya
yang akan dilakukan untuk mewujudkan target pada tahun akhir RPJMN dan Renstra
2015-2019.

1. Perbandingan target dan realisasi kinerja tahun 2017 (tabel perbandingan


target dan realisasi 5 sasaran strategis BKKBN tahun 2017)
Tabel 3.1
Perbandingan Target dan Realisasi Tahun 2017
Tujuan/Sasaran Indikator Kinerja Sasaran Target Realisasi %

Tercapainya Penduduk Tumbuh Seimbang


Angka Kelahiran Total (TFR) per 2,33 2,40 97,08
a. Menurunnya
WUS (15-49 Tahun)
angka kelahiran
total (TFR)
Persentase pemakaian kontrasepsi 60,9 57,6 94,58
b. Meningkatnya
modern
prevalensi
kontrasepsi
(CPR) Modern
Persentase kebutuhan ber-KB yang 10,26 17,5 58,63
c. Menurunnya
tidak terpenuhi (unmet need)
kebutuhan ber-
KB yang tidak
terpenuhi
(unmet need)
Persentase peserta KB Aktif MKJP 21,7 21,5 99,07
d. Meningkatnya
peserta KB aktif
yang
menggunakan
metode
kontrasepsi

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 48


Tujuan/Sasaran Indikator Kinerja Sasaran Target Realisasi %

jangka panjang
(MKJP)

Persentase penurunan angka 25,3 22,3 113,45


e. Menurunnya
ketidakberlangsungan pemakaian
tingkat putus
(tingkat putus pakai) kontrasepsi
pakai
kontrasepsi

Dari pengukuran capaian kinerja tahun 2017 diatas secara umum sasaran strategis
tersebut berdasarkan analisa Quality Process Result (QPR) rata-rata bernilai 81,65%
dengan pernyataan “cukup berhasil”. Keberhasilan dalam mencapai sasaran tersebut
tidak terlepas dari keberhasilan 4 (empat) indikator kinerja utama yaitu Angka
Kelahiran Total (TFR) per WUS (15-49 Tahun), Persentase pemakaian kontrasepsi
modern, Persentase peserta KB Aktif MKJP dan Persentase penurunan angka
ketidaklangsungan pemakaian (tingkat putus pakai) kontrasepsi.

Pengukuran kinerja 5 (lima) indikator kinerja sasaran diuraikan sebagai berikut:

a. Angka Kelahiran Total (total fertility rate/TFR) per WUS (15-49 Tahun)
Angka kelahiran total (TFR) adalah jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan oleh
seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya apabila perempuan tersebut
mengikuti pola fertilitas pada saat TFR dihitung atau rata-rata anak yang dilahirkan
seorang wanita selama masa usia suburnya. TFR merupakan pengukuran sintetis
yang menyatakan fertilitas pada akhir masa reproduksi dari suatu kohor hipotetis
perempuan. TFR dihitung dengan cara menjumlahkan angka kelahiran menurut
umur (ASFR) kemudian dikalikan dengan interval kelompok umur (biasanya lima
tahun).

=5

di mana:
ASFRi : angka kelahiran untuk perempuan pada kelompok umur i
i=1 : kelompok umur 20-24 tahun, ...., dan i=7 untuk kelompok umur 45-
49 tahun.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 49


Tabel 3.2
Angka Kelahiran Total (TFR) per WUS (15-49 Tahun)
Tahun 2017
Indikator Sasaran Target Realisasi %

2,33 2,40 97,08


Angka Kelahiran Total (TFR) per WUS (15-49
Tahun)

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa realisasi yang didapat BKKBN untuk
IKU 1 adalah 2,40 dan jika dibandingkan dengan target sebesar 2,33 maka capaian
IKU adalah sebesar 97,08%.

b. Persentase Pemakaian Kontrasepsi (Modern Contraceptive Prevalence


Rate/CPR)

Persentase pemakaian kontrasepsi cara modern adalah persentase pasangan usia subur
(PUS) yaitu pasangan suami istri berstatus kawin, istrinya berusia 15-49 tahun, yang
sedang menggunakan alat/cara KB modern berupa sterilisasi wanita (MOW),
sterilisasi pria (MOP), Pil, IUD, Suntik, Susuk KB (Implant) dan kondom.

Pengukuran IKU CPR cara modern (persen) ini dilakukan dengan membandingkan
jumlah perempuan yang berstatus kawin usia 15-49 tahun yang sedang menggunakan
alat/cara KB modern dengan jumlah perempuan usia 15-49 tahun yang berstatus
kawin, sehingga secara matematis rumus untuk menghitung prevalensi kontrasepsi
modern adalah sebagai berikut:
Jumlah PUS yang sedang ber KB cara modern
CPR = x 100
Jumlah PUS

Tabel 3.3
Persentase Pemakaian Kontrasepsi (Modern Contraceptive Prevalence Rate/CPR)
Tahun 2017
Indikator Sasaran Target Realisasi %

60,9 57,6 94,58%


Persentase pemakaian kontrasepsi modern

Berdasarkan SKAP Tahun 2017, realisasi pemakaian kontrasepsi cara modern pada
tahun 2017 adalah 57,6% dari target 60,9% atau capaian sebesar 94,58%.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 50


c. Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) (%)
Kebutuhan pelayanan KB yang tidak terpenuhi (unmet need) didefinisikan sebagai
persentase wanita kawin yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan
kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi. Wanita yang
memerlukan KB dengan tujuan untuk menjarangkan kelahiran mencakup wanita hamil
yang kehamilannya tidak diinginkan waktu itu, wanita yang belum haid setelah
melahirkan anak yang tidak diinginkan waktu itu, dan wanita lain yang sedang tidak
hamil atau belum haid setelah melahirkan dan tidak memakai kontrasepsi tetapi ingin
menunggu dua tahun atau lebih sebelum kelahiran berikutnya. Wanita yang belum
memutuskan apakah ingin anak lagi atau ingin anak lagi tetapi belum tahun kapan juga
termasuk kelompok ini. Wanita yang memerlukan KB untuk membatasi kelahiran
mencakup wanita hamil yang kehamilannya tidak diinginkan, wanita yang belum haid
dan yang sudah haid setelah melahirkan anak yang diinginkan, yang tidak diinginkan,
yang tidak memakai kontrasepsi lagi.
Secara matematis, rumus perhitungan unmet need adalah sebagai berikut:

Unmet Need = Jumlah Perempuan yang kebutuhan ber-KBnya tidak terpenuhi x 100
Jumlah Pasangan Usia Subur
Tabel 3.4
Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need)
Tahun 2017
IKU Target Realisasi %

10,26 17,5 58,63%


Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet
need)

Berdasarkan SKAP Tahun 2017, realisasi unmet need tahun 2017 adalah 17,5%
sehingga pencapaiannya adalah 58,63%.

d. Persentase Peserta KB Aktif MKJP


Metoda kontrasepsi menurut jangka waktu pemakaiannya dibagi atas dua kelompok,
yaitu metoda kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dan metoda kontrasepsi jangka
pendek (Non-MKJP). Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan
metoda kontrasepsi yang paling efektif untuk menurunkan angka kelahiran. Metoda
Kontrasepsi Jangka Panjang adalah kontrasepsi yang dapat dipakai dalam jangka
waktu lama, lebih dari 2 tahun, efektif dan efisien untuk tujuan pemakaian

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 51


menjarangkan kelahiran lebih dari 3 tahun atau mengakhiri kehamilan pada pasangan
yang sudah tidak ingin tambah anak lagi. Jenis metoda yang termasuk ke dalam MKJP
adalah kontrasepsi mantap pria dan wanita (tubektomi dan vasektomi), Implant dan
IUD (Intra Uterine Device).
Tabel 3.5
Persentase Peserta KB Aktif MKJP
Tahun 2017
IKU Target Realisasi %

21,7 21,5 99,07%


Persentase peserta KB Aktif MKJP

Jika dibandingkan antara realisasi tahun 2017 dengan target tahun 2019, realisasi
mencapai 99,07%.

e. Persentase Penurunan Angka Ketidakberlangsungan Pemakaian (Tingkat Putus


Pakai) Kontrasepsi
Angka ketidaklangsungan pemakaian (tingkat putus pakai) kontrasepsi (Contraceptive
Discountinuation Rate) adalah proporsi pengguna alat/cara KB yang tidak meneruskan
suatu episode penggunaan alat/cara KB tertentu setelah suatu periode terpapar
(exposure) karena berbagai alasan, seperti kegagalan atau mengalami efek samping.
Keterpaparan dimulai dengan bulan awal pemakaian dan berakhir dengan penghentian
atau bulan saat wawancara jika alat/cara KB masih digunakan pada saat wawancara
(LDUI, 2010). Angka ketidakberlangsungan pemakaian (tingkat putus pakai)
kontrasepsi merupakan komplemen dari angka kelangsungan kontrasepsi
(Contraceptive Continuation Rate). Artinya, CDR = 1 – CR.
Tabel 3.6
Persentase penurunan angka ketidakberlangsungan pemakaian (tingkat putus pakai) kontrasepsi)
Tahun 2017

IKU Target Realisasi %

Persentase penurunan angka ketidakberlangsungan 25,3 22,3 113,45%


pemakaian (tingkat putus pakai) kontrasepsi

Berdasarkan SKAP Tahun 2017, realisasi tingkat putus pakai kontrasepsi tahun 2017
adalah 22,3% dari target 25,3% sehingga pencapaiannya adalah 113,45%.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 52


2. Perbandingan Target dan Realisasi Tahun 2017 dengan Target Dua Tahun
Terakhir (2016 dan 2015)
Penyusunan laporan kinerja tahun 2017 mengacu pada indikator kinerja yang telah
ditetapkan dalam dokumen rencana strategis BKKBN tahun 2015 – 2019. Rencana
Strategis BKKBN berdasarkan Peraturan Kepala BKKBN nomor 212/PER/B1/2015
tentang Rencana Strategis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Tahun 2015-2019 telah mengalami perubahan pada tahun 2017 yang diatur Peraturan
Kepala BKKBN Nomor 199 Tahun 2016 tentang Rencana Strategis Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2015-2019. Hal tersebut
menyebabkan terjadinya perubahan indikator kinerja, sebagaimana terlihat pada tabel
berikut :
Tabel 3.7
Perbandingan IKU Renstra sebelum dan setelah Revisi
Sebelum Revisi Setelah Revisi
Tujuan/Sasaran Indikator Kinerja Tujuan/Sasaran Indikator Kinerja

TERCAPAINYA PENDUDUK TUMBUH TERCAPAINYA PENDUDUK TUMBUH


SEIMBANG SEIMBANG
Menurunnya Laju Persentase laju Menurunnya angka Angka kelahiran
Pertumbuhan pertumbuhan penduduk kelahiran total (TFR) total (total fertility
Penduduk (LPP) (LPP) rate/TFR) per WUS
(15-49 tahun)
Menurunnya Angka Angka kelahiran total Meningkatnya Persentase
Kelahiran Total (total fertility rate/TFR) prevalensi kontrasepsi pemakaian
(TFR) per WUS (15- per WUS (15-49 tahun) (CPR) Modern kontrasepsi (modern
49 tahun) contraceptive
prevalence rate/CPR)
Meningkatnya Persentase pemakaian Menurunnya Persentase
pemakaian kontrasepsi kebutuhan ber-KB kebutuhan ber-KB
kontrasepsi (CPR) (contraceptive prevalence yang tidak terpenuhi yang tidak terpenuhi
rate/CPR) (unmet need) (unmet need) (%)
Menurunnya Persentase kebutuhan Meningkatnya peserta Persentase Peserta
kebutuhan ber-KB ber-KB yang tidak KB aktif yang KB Aktif (PA)
yang tidak terpenuhi terpenuhi (unmet menggunakan metode MKJP
(unmet need) need)(%) kontrasepsi jangka
panjang (MKJP)
Menurunnya angka Angka kelahiran pada Menurunnya tingkat Tingkat putus pakai
kelahiran pada remaja remaja usia 15-19 tahun putus pakai kontrasepsi (%)
usia 15-49 tahun (ASFR 15 – 19 tahun) kontrasepsi
(ASFR 15-19 tahun)
Menurunnya Persentase kehamilan
kehamilan yang tidak yang tidak diinginkan
diinginkan dari WUS (15-49 tahun)

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 53


Dari tabel diatas, diketahui hanya indikator kinerja “Angka kelahiran total (total
fertility rate/TFR) per WUS (15-49 tahun) “ dan “Persentase kebutuhan ber-KB
yang tidak terpenuhi (unmet need) (%)” yang tidak mengalami perubahan.
Sedangkan 3 indikator pada renstra revisi tidak dapat diukur perbandingan capaiannya
karena baru ditetapkan tahun 2017. Berikut perbandingan capaian indikator kinerja
tahun 2017 dengan tahun 2016 dan 2015:

Tabel 3.8
Perbandingan target dan realisasi pencapaian tahun 2017
dengan tahun 2016 dan 2015
Sasaran 2015 2016 2017

Uraian Indikator Target Realisasi % Target Realisasi % Target Realisasi %

TERCAPAINYA PENDUDUK TUMBUH SEIMBANG

Menurunnya Angka 2,37 2,28 103,9 2,36 2,30 102,60 2,33 2,40 97,08
angka kelahiran kelahiran total
total (TFR) (total fertility
rate/TFR) per
WUS (15-49
tahun)

Meningkatnya Persentase NA* NA* NA* NA* NA* NA* 60,9 57,6 94,6
prevalensi pemakaian
kontrasepsi kontrasepsi
(CPR) Modern (modern
contraceptive
prevalence
rate/CPR)

Menurunnya Persentase 10,6 14,40 73,6 10,48 15,8 66,33 10,26 17,5 58,6
kebutuhan ber- kebutuhan ber-
KB yang tidak KB yang tidak
terpenuhi (unmet terpenuhi
need) (unmet need)
(%)

Meningkatnya Persentase 20,5 21,3 103,9 21,1 21,6 102,36 21,7 21,5 99,07
peserta KB aktif Peserta KB
yang Aktif (PA)
menggunakan MKJP
metode
kontrasepsi
jangka panjang
(MKJP)

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 54


Sasaran 2015 2016 2017

Uraian Indikator Target Realisasi % Target Realisasi % Target Realisasi %

Menurunnya Tingkat putus 26,0 24,5 106,3 25,7 20,6 124,75 25,3 22,3 113,5
tingkat putus pakai
pakai kontrasepsi kontrasepsi
(%)

NA : tidak diukur pada periode sebelumnya

Perubahan indikator persentase pemakaian kontrasepsi (modern contraceptive


prevalence rate/CPR) dikarenakan pada tahun 2015 dan 2016 mengukur tingkat
prevalensi penggunaan kontrasepsi untuk semua cara (tradisional method dan modern
method). Pengukuran tahun 2017 untuk indikator ini hanya menggunakan modern
method.

3. Perbandingan realisasi kinerja tahun 2017 dengan target jangka menengah


tahun 2019
Akuntabilitas Pengelolaan Program KKBPK tahun 2017 dibanding dengan tahun 2019
diperoleh gambaran sebagai berikut:
Tabel 3.9
Perbandingan target dan realisasi pencapaian tahun 2017 dengan target RPJM tahun 2019
Sasaran 2017 2019

Uraian Indikator Target Realisasi % Target Realisasi % Ket


2019 2017

TERCAPAINYA PENDUDUK TUMBUH SEIMBANG

Menurunnya Angka 2,33 2,40 97,08 2,28 2,40 95,00 On the track,
angka kelahiran diperkirakan
kelahiran total (total tercapai
total (TFR) fertility
rate/TFR)
per WUS
(15-49 tahun)

Meningkatnya Persentase 60,9 57,6 94,6 61,3 57,6 93,96 On the track,
prevalensi pemakaian diperkirakan
kontrasepsi kontrasepsi tercapai
(CPR) (modern
Modern contraceptive

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 55


Sasaran 2017 2019

Uraian Indikator Target Realisasi % Target Realisasi % Ket


2019 2017

prevalence
rate/CPR)*

Menurunnya Persentase 10,26 17,5 58,6 9,91 17,5 56,62 Perlu upaya dan
kebutuhan kebutuhan strategi yang
ber-KB yang ber-KB yang kuat untuk
tidak tidak mencapainya
terpenuhi terpenuhi
(unmet need) (unmet need)
(%)

Meningkatnya Persentase 21,7 21,5 99,07 23,5 21,5 91,48 On the track,
peserta KB Peserta KB diperkirakan
aktif yang Aktif (PA) tercapai
menggunakan MKJP
metode
kontrasepsi
jangka
panjang
(MKJP)

Menurunnya Tingkat 25,3 22,3 113,5 24,6 22,3 110,31 On the track,
tingkat putus putus pakai dipertahankan
pakai kontrasepsi
kontrasepsi (%)

Capaian indikator kinerja sasaran tahun 2017 dibandingkan dengan indikator kinerja
sasaran 2019 RPJMN diperoleh gambaran bahwa 4 (empat) indikator berjalan sesuai
rencana dan diperkirakan akan tercapai. Sedangkan 1 (satu) indikator diperkirakan
akan sulit tercapai dan diperlukan upaya adekuat dalam mencapai indikator tersebut.

4. Analisa keberhasilan atau kegagalan


a. Target TFR pada tahun 2017 tercapai 97,08 persen, melalui antara lain:
1) BKKBN berhasil menurunkan ASFR 15-19 tahun dari 42/1000 kelahiran menjadi
33/1000 kelahiran, salah satunya melalui program Generasi Berencana (GenRe)
dan advokasi dan KIE;
2) Sosialisasi tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dari berbagai aspek
yaitu kesehatan, pendidikan, kependudukan, ekonomi dll;

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 56


3) TFR Nasional merupakan akumulasi dari ASFR kelompok umur 15-49 tahun
terutama dari kelompok umur 15-19 tahun;
4) Walaupun TFR hampir mencapai sasaran namun masih terjadi kesenjangan TFR
antar provinsi. Dengan TFR terendah di provinsi Jawa Timur sebesar 1,9 dan
tertinggi di provinsi NTT sebesar 3,3;
5) Penerimaan persepsi norma keluarga kecil sehingga terbangun kesadaran keluarga
di Indonesia terhadap nilai seorang anak (value of children);
6) Keberhasilan menurunkan keluarga pra-ks, dari 17,09 persen ditahun 2016
menjadi 16,7 persen di tahun 2017 (sumber data: Pendataan Keluarga, 2017).

b. Pemakaian kontrasepsi (modern contraceptive prevalence rate/CPR) tercapai 95


persen, antara lain karena:
1) Pembinaan peserta KB Aktif belum bisa dilakukan secara optimal, hal ini ditandai
dengan tidak tercapainya Additional Users;
2) Persentase peningkatan kesertaan ber-KB di daerah terpencil, perbatasan dan
kepulauan terluar (DTPK);
3) Promosi dan konseling kesehatan reproduksi;
4) Pelaksanaan kegiatan secara berkesinambungan pada kelompok kegiatan
(poktan).

c. Kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) (%) tercapai hanya sebesar 58,6
persen, faktor penyebabnya antara lain:
1) KIE yang selama ini dilaksanakan belum mampu menjawab kebutuhan
masyarakat utamanya, bahan-bahan edukasi terkait dengan komplikasi, efek
samping dan kegagalan;
2) Budaya patrilinial dimana suami memegang keputusan dalam hal penggunaan
kontrasepsi sehingga banyak calon akseptor yang tidak ber KB yang disebabkan
ketidaksetujuan suami;
3) Belum optimalnya pelayanan KB mobile pada DTPK.

d. Peserta KB Aktif (PA) MKJP tercapai 99,07 persen, faktor penyebabnya antara lain:
1) Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kontrasepsi MKJP;

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 57


2) Tersedianya alkon MKJP (IUD dan Implant);
3) Tersedia tenaga kesehatan (bidan dan dokter) terlatih;
4) Tersedianya sarana penunjang pelayanan KB seperti obgyn bed, IUD Kit dan
Implant Kit;
5) Penguatan tim pengelola (tenaga kesehatan, operator) mobil unit pelayanan KB
sampai ke tingkat kabupaten dan kota;
6) Tersedianya dana penggerakan bagi tenaga lapangan untuk menggerakan PUS
agar menggunakan kontrasepsi MKJP;
7) Promosi dan konseling MKJP pada kelompok kegiatan BKB, BKR, dan BKL
belum optimal.

e. Tingkat putus pakai kontrasepsi (%) tercapai 113,5 persen, faktor penyebabnya antara
lain:
1) Tersedianya dana ayoman pelayanan KB bagi PUS yang mengalami komplikasi
atau kegagalan;
2) Pembinaan keberlangsungan kesertaaan KB melalui kelompok kegiatan BKB,
BKR dan BKL.

5. Analisa peningkatan atau penurunan kinerja


Berdasarkan tabel 3.7, indikator kinerja yang mengalami penurunan capaian kinerja
adalah indikator kinerja “Angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) per WUS (15-
49 tahun) “ dan “Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) (%)
serta “Persentase Peserta KB Aktif (PA) MKJP”.
Gambar 3.1
Persentase pencapaian TFR, Unmet need dan PA MKJP

120

100

80

60
103,9 102,6 97,08 103,9 102,36 99,07
40 73,6 66,33
58,6
20

0
TFR Unmet need PA MKJP

2015 2016 2017

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 58


6. Alternatif solusi yang telah dilakukan
Atas permasalahan pada capaian unmet need yang rendah maka telah dilakukan
berbagai upaya sebagai berikut:
a) Peningkatan pembiayaan sarana penyuluhan dan pelayanan kontrasepsi melalui
DAK;
b) Peningkatan peran kelompok kegiatan (BKB, BKR, BKL) dalam memberikan
informasi efek samping, komplikasi dan fasilitas kesehatan yang dapat di akses
masyarakat;
c) Peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB di DTPK melalui pelayanan Tim
KB bergerak (Mobil Unit Pelayanan).

7. Analisa efisiensi sumber daya


Pada tahun 2017 BKKBN telah melakukan optimalisasi sumber daya baik berupa
sumberdaya manusia maupun sarana dan prasarana antara lain melalui :

a. Pelatihan-pelatihan teknis antara lain, pelatihan CTU bagi bidan dan dokter,
pelatihan MOW dan MOP bagi dokter, dan pelatihan konseling ABPK bagi bidan
di fasilitas kesehatan;
b. Sertifikasi PLKB/PKB sebanyak 14.920 tenaga;
c. Terpenuhinya standar kompetensi ASN melalui pelatihan-pelatihan jangka
pendek;
d. Terjadinya penghematan/pemotongan anggaran sebesar Rp, 700.000.000.000,-
(tujuh ratus milyar rupiah);
e. Terjadinya gagal lelang untuk pengadaan kontrasepsi implant;
f. Pemanfaatan kerjasama dengan mitra kerja strategis (DPR RI, TNI/POLRI, PKK,
IDI, IBI, POGI, NU, Muhammadiyah, Koalisi Kependudukan, IPADI, Pusat Studi
Kependudukan (PSK), AKU, Komnas Lansia, PKBI, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Sosial, Sekretariat Negara, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, UNFPA, Kementerian Dalam Negeri, Perguruan Tinggi).

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 59


8. Analisa keberhasilan/kegagalan program dan kegiatan dalam pencapaian
kinerja

Pelaksanaan program KKBPK melalui pengendalian penduduk, keluarga berencana


dan kesehatan reproduksi, keluarga sejahtera dan pemberdayaan keluarga, advokasi
penggerakan dan informasi dengan uraian sebagai berikut:

a. Pengendalian penduduk difokuskan pada terimplementasikannya kebijakan


pengendalian penduduk dalam perencanaan pembangunan tercapai sebesar 100
persen. Pencapaian ini didukung oleh kegiatan perencanaan pengendalian
penduduk tercapai 100 persen, pemaduan kebijakan pengendalian penduduk
tercapai 100 persen, kerjasama pendidikan kependudukan tercapai 166,67 persen,
analisis dampak kependudukan tercapai 133,33 persen.
b. Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi difokuskan pada meningkatnya
kualitas dan kuantitas pelayanan KB dan KR dengan capaian rata-rata sebesar -
36,95 persen. Pencapaian ini didukung oleh kegiatan peningkatan pembinaan
kesertaan ber-KB jalur pemerintah rata-rata tercapai 41,45 persen, pembinaan
standarisasi kapasitas tenaga kesehatan pelayanan KBKR rata-rata tercapai 72,97
persen, peningkatan kesertaan KB di wilayah dan sasaran khusus rata-rata tercapai
97,75 persen, peningkatan kualitas kesehatan reproduksi rata-rata tercapai 22,92
persen.
c. Keluarga sejahtera dan pemberdayaan keluarga difokuskan pada meningkatnya
ketahanan keluarga guna mewujudkan keluarga berkualitas rata-rata tercapai
sebesar 111,89 persen. Pencapaian ini didukung oleh kegiatan pembinaan
keluarga balita dan anak rata-rata tercapai 91,04 persen, pembinaan ketahanan
remaja rata-rata tercapai 97,24 persen, pembinaan ketahanan keluarga lansia dan
rentan rata-rata tercapai 103,10 persen, pemberdayaan ekonomi keluarga rata-rata
tercapai 103,88 persen.
d. Advokasi penggerakan dan informasi difokuskan pada meningkatnya
penghayatan norma keluarga kecil rata-rata tercapai sebesar 99,4 persen.
Pencapaian ini didukung oleh kegiatan peningkatan advokasi dan KIE program
KKBPK rata-rata tercapai 100 persen, peningkatan kemitraan dengan stakeholder
dan mitra kerja rata-rata tercapai 97 persen, peningkatan pembinaan lini lapangan

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 60


rata-rata tercapai 100 persen, penyediaan data dan informasi program KKBPK
rata-rata tercapai 100 persen, penyediaan teknologi informasi dan dokumentasi
program KKBPK rata-rata tercapai 100 persen.
Realisasi anggaran untuk program Kependudukan, KB dan Pembangunan
Keluarga adalah Rp 1.325.102.440.542,- atau 77,13 persen.

Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas lainnya BKKBN mendapat


tingkat opini laporan keuangan oleh BPK yaitu Wajar Dengan Pengecualian (WDP).
Realisasi anggaran untuk Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas
lainnya BKKBN adalah Rp 650.758.106.341,- atau 87,67 persen.

Program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur BKKBN mampu


menurunkan temuan penyimpangan strategis dalam pelaksanaan pengelolaan program
KKBPK oleh eksternal audit dari target 10 persen menjadi 1 persen. Realisasi
anggaran untuk program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur BKKBN
adalah Rp 242.837.804.921,- atau 91,91 persen.

Program pelatihan, penelitian dan pengembangan serta kerjasama internasional


BKKBN mampu meningkatkan jumlah lembaga diklat yang terakreditasi dari target
1 tercapai sebanyak 13 lembaga diklat meliputi Balatbang Perwakilan BKKBN
Provinsi DIY, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Sumatera
Selatan, Riau, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara dan Nusa Tenggara Barat. Realisasi anggaran untuk program pelatihan,
penelitian dan pengembangan serta kerjasama internasional adalah Rp
13.612.270.326,- atau 87,71 persen.

9. Upaya Perbaikan Kinerja


Berdasarkan atas hasil kinerja BKKBN di tahun 2017, masih terdapat kendala dalam
pencapaian sasaran kinerja. Untuk itu, BKKBN berupaya melakukan upaya perbaikan
untuk meningkatkan kinerja di tahun mendatang, yaitu melalui:
1. Pendampingan dan pemanfataan tenaga kesehatan yang sudah dilatih untuk
melaksanakan pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi;
2. Sosialisasi kebijakan, strategi dan pedoman pelaksanaan pelayanan KB dan
Kesehatan Reproduksi kepada pengelola program di lapangan;

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 61


3. Tindak lanjut regulasi induk menjadi Peraturan Kepala BKKBN yang mengatur
pelayanan KB bergerak sebagai acuan pembinaan dan pelayanan KB di wilayah
dan sasaran khusus;
4. Pemberdayaan kader sebagai penghubung dalam proses pencatatan dan pelaporan
di fasilitas kesehatan;
5. Peningkatan pelayanan KB PP (Pasca Persalinan) dan PK (Pasca Keguguran) di
fasilitas kesehatan serta bekerja sama dengan lintas sektor;
6. Promosi dan KIE melalui berbagai media (media massa/cetak dan elektronik,
media luar ruang) terutama melalui media lini bawah (poster, leaflet, lembar balik,
banner);
7. Penguatan jejaring kemitraan untuk meningkatkan komitmen dan dukungan
politis stakeholder serta penguatan kerjasama dengan mitra kerja potensial
(kementerian/lembaga, pihak swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi profesi,
dll);
8. Peningkatan akses dengan mendekatkan akses pelayanan kelompok kegiatan
(BKB, BKR, BKL, UPPKS), PPKS dan PIK Remaja serta penyediaan substansi
materi melalui berbagai media;
9. Pemanfaatan media yang dapat diapahami secara interaktif antara aparatur dan
mitra kerja dengan masyarakat menggunakan materi dan alat sehingga dapat
meningkatkan pemahaman dan perubahan sikap dan perilaku dalam ber-KB;
10. Sosialisasi, promosi, penyuluhan, penggerakan dan konseling tentang Program
KKBPK oleh petugas dan pengelola program, serta mitra kerja yang kompeten
dengan memperhatikan sasaran target untuk mengurangi kesenjangan informasi
program KKBPK;
11. Penguatan mekop program KKBPK (pertemuan rakor, pertemuan IMP/pertemuan
lengkap institusi, KIE oleh PPKBD/Sub PPKBD);
12. Pembinaan kualitas program bina lini lapangan.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 62


B. REALISASI ANGGARAN
Sebagai perwujudan pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran tahun 2017 serta
dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan,
BKKBN melakukan penyusunan Laporan Keuangan (LK) tahun 2016. Laporan
keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBN secara
akuntabel dan termasuk pencapaian prestasi kerja atas penggunaan anggaran. Laporan
keuangan disajikan sesuai Standard Akuntansi Pemerintah (SAP), yang terdiri dari
Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Akuntansi Barang Milik Negara
(SIMAK BMN). Kemudian, laporan keuangan direviu oleh Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah (APIP) sebelum diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK-RI).

Berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan


Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Undang-undang Nomor 15
Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), maka BPK telah melakukan
pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN), yang terdiri dari Neraca yang berakhir sampai dengan 31
Desember 2016, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Operasional dan Laporan
Perubahan Ekuitas untuk tahun yang berakhir tanggal tersebut, serta Catatan atas
Laporan Keuangan.

Oleh karena laporan keuangan Audited tahun anggaran 2017 baru selesai disusun pada
bulan Februari 2018 dan akan diberikan opini penilaian oleh BPK pada bulan Mei-
Juni tahun 2018, maka pada laporan kinerja ini diuraikan hasil penilaian opini BPK
terhadap laporan keuangan Audited tahun anggaran 2016. Berdasarkan hasil
pemeriksaan atas laporan keuangan Audited tahun 2016, BPK memberikan opini
Wajar Dengan Pengecualian (WDP).

Pelaksanaan SPIP (Sistem Pengendalian Intern Pemerintah)


Untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good government
governance) dan dalam rangka akuntabilitas pengelolaan keuangan maka seluruh
Pimpinan Unit Eselon I dan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi beserta seluruh

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 63


pegawai wajib menyelenggarakan SPIP secara efektif di lingkungan kerjanya masing-
masing.

Penerapan SPIP unit kerja di BKKBN diukur menggunakan tingkat/level maturitas


SPIP. Target maturitas SPIP secara nasional pada akhir periode RPJMN adalah level 3
sedangkan target maturitas BKKBN pada tahun 2017 adalah 85% atau level “2”
dengan skor 2,55 dari target kumulatif tahun 2019.

Pada tahun 2017, BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) telah
melakukan penilaian (assessment) maturitas penyelenggaraan SPIP di lingkungan
BKKBN dengan laporan hasil penilaian tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP pada
BKKBN tertuang dalam laporan nomor LEV-06/D201/2017 tanggal 30 Januari 2017.
Simpulan hasil penilaian hanya menghasilkan tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP
yang menunjukkan gambaran kondisi penerapan SPIP pada BKKBN dengan skor
maturitas SPIP sebesar 2,20. Kondisi tersebut berarti capaian penyelenggaraan SPIP
berada pada level 2 atau “berkembang”.

Inspektorat Utama BKKBN telah melaksanakan evaluasi atas pembangunan Zona


Integritas Wilayah Bebas Korupsi (ZI WBK) pada 5 (lima) satker BKKBN Provinsi.
Evaluasi tahun 2017 dilakukan pada Satker Perwakilan BKKBN Provinsi Bangka
Belitung sebesar 61,52; Jawa Timur sebesar 72,13; Sulawesi Tengah sebesar 50,64;
Sumatera Barat sebesar 52,19; dan Gorontalo sebesar 57,33.

Sedangkan untuk perhitungan Satker Pusat menggunakan hasil survey persepsi


korupsi dari Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) BKKBN,
karena indikator dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi sama dengan indikator
pelaksanaan pembangunan ZI WBK. Hasilnya penilaian PMPRB BKKBN Pusat
adalah 84,29, sehingga nilai tersebut mencerminkan pelaksanaan ZI WBK diseluruh
Satker BKKBN Pusat telah mencapai angka tersebut.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 64


Gambar 3.2
Pagu BKKBN

Pagu BKKBN
(dalam juta)
2016 2017
4.500.000
3.864.658
4.000.000
3.500.000
2.802.808
3.000.000 3.410.591
2.500.000
2.740.081
2.000.000
1.500.000
1.000.000
500.000
-
01-Jan 31-Des

Anggaran untuk pelaksanaan Pembangunan Kependudukan, Keluarga Berencana dan


Pembangunan Keluarga Nasional tahun 2017 sebesar Rp 3.410.591.665.000,-.
Kemudian, berdasarkan Instruksi Presiden nomor 4 tahun 2017 tanggal 22 Juni 2017
tentang Efisiensi Belanja Barang Kementerian/Lembaga dalam Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2017, terdapat perubahan pagu
anggaran belanja BKKBN sehingga pagu BKKBN menjadi Rp 2.728.591.665.000,-.
Kemudian terdapat tambahan dana hibah dalam dan luar negeri sebesar Rp.
29.230.275.300,- dengan rincian sebagai berikut: Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa
Barat Rp. 27.190.000.000 dan Banten Rp. 1.000.000.000,- serta Direktorat Bina
Kesertaan KB Jalur Wilayah dan Sasaran Khusus Rp. 1.040.275.300,- sebesar Rp
11.489.402.000,- sehingga total pagu akhir BKKBN sebesar Rp 2.740.081.067.000,-.
Sedangkan realisasi total pagu sampai dengan Desember 2017 adalah Rp
2.232.151.353.285,- (81,46%).

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 65


Gambar 3.3
Perbandingan nilai aset barang

Perbandingan Nilai Aset Barang T.A 2016-2017


(dalam juta)
3.000.000
2.625.603
2.500.000

2.000.000

1.500.000
1.063.458
1.000.000
642.618 667.461

500.000

17.619 15.167
-
PERSEDIAAN ASET TETAP ASET LAINNYA
2016 2017

Berdasarkan grafik diatas terlihat penurunan persediaan dari tahun 2016 ke 2017
dikarenakan kuantitas pengadaan mengalami penurunan dan sebagian barang
persediaan (terutama alokon) sudah didistribusikan ke tingkat Kabupaten/Kota.
Kenaikan aset tetap dari tahun 2016 ke 2017 dikarenakan adanya revaluasi aset tanah
sehingga mempengaruhi Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP).
Tabel 3.10
Pagu Anggaran BKKBN s.d Desember 2017

PAGU DIPA PAGU DIPA PAGU DIPA


PROGRAM/KEGIATAN
AWAL APBN-P AKHIR

BKKBN 3.410.591.665.000 2.730.891.067.000 2.740.081.067.000


Sebagai lembaga Pemerintah Non Kementerian
BKKBN mempunyai 1 (satu) Program Teknis
dan 3 (tiga) Program Generik.
A PROGRAM TEKNIS:
I PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KB : 2.328.227.291.000 1.708.884.107.000 1.718.074.107.000
1 Pengendalian Penduduk 17.640.000.000 15.033.530.000 15.033.530.000

Pembinaan dan peningkatan kemandirian


2 578.510.430.000 346.448.403.000 346.448.403.000
keluarga berencana

Pembinaan Keluarga Sejahtera dan


3 102.160.200.000 22.023.607.000 22.023.607.000
Pemberdayaan Keluarga

Peningkatan Advokasi, Penggerakan dan


4 290.569.518.000 250.794.618.000 250.794.618.000
Informasi

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 66


PAGU DIPA PAGU DIPA PAGU DIPA
PROGRAM/KEGIATAN
AWAL APBN-P AKHIR

Pengelolaan Pembangunan Kependudukan 1.083.773.949.000


5 1.339.347.143.000 1.074.583.949.000
dan Keluarga Berencana Provinsi

B PROGRAM GENERIK, MELIPUTI:

PROGRAM DUKUNGAN MANAJEMEN


II 768.753.274.000 742.264.838.000 742.264.838.000
DAN TUGAS TEKNIS LAINNYA BKKBN

PROGRAM PELATIHAN DAN


III 296.011.100.000 264.221.905.000 264.221.905.000
PENGEMBANGAN BKKBN

PROGRAM PENGAWASAN DAN


IV PENINGKATAN AKUNTABILITAS 17.600.000.000 15.520.217.000 15.520.217.000
APARATUR BKKBN

Tabel 3.11
Realisasi Anggaran BKKBN s.d Desember 2017

PAGU DIPA
PROGRAM/KEGIATAN PAGU DIPA AWAL REALISASI %
AKHIR

BKKBN 3.410.591.665.000 2.740.081.067.000 2.232.151.353.285 81,46

Sebagai lembaga Pemerintah


Non Kementerian
BKKBN mempunyai 1 (satu)
Program Teknis dan 3 (tiga)
Program Generik.
A PROGRAM TEKNIS:
PROGRAM
I KEPENDUDUKAN 2.328.227.291.000 1.718.074.107.000 1.325.102.440.542 77,12
DAN KB :
1 Pengendalian Penduduk 17.640.000.000 15.033.530.000 13.618.210.689 90,59
Pembinaan dan
2 peningkatan kemandirian 578.510.430.000 346.448.403.000 148.577.989.280 42,89
keluarga berencana
Pembinaan Keluarga
3 Sejahtera dan 102.160.200.000 22.023.607.000 21.076.980.814 95,70
Pemberdayaan Keluarga

Peningkatan Advokasi,
4 Penggerakan dan 290.569.518.000 250.794.618.000 228.289.615.165 91,03
Informasi

Pengelolaan
Pembangunan
5 Kependudukan dan 1.339.347.143.000 1.083.773.949.000 913.539.644.594 84,29
Keluarga Berencana
Provinsi

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 67


PAGU DIPA
PROGRAM/KEGIATAN PAGU DIPA AWAL REALISASI %
AKHIR

PROGRAM GENERIK,
B
MELIPUTI:
PROGRAM
DUKUNGAN
II MANAJEMEN DAN 768.753.274.000 742.264.838.000 650.758.106.341 87,67
TUGAS TEKNIS
LAINNYA BKKBN

PROGRAM
PELATIHAN DAN
III 296.011.100.000 264.221.905.000 242.837.804.921 91,91
PENGEMBANGAN
BKKBN
PROGRAM
PENGAWASAN DAN
PENINGKATAN
IV AKUNTABILITAS 17.600.000.000 15.520.217.000 13.612.270.326 87,71
APARATUR BKKBN

C. KINERJA DAN CAPAIAN LAINNYA


Dalam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara
sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945, perlu dibangun Aparatur Sipil
Negara (ASN) yang memiliki integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi
politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta mampu
menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran
sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD
1945. Oleh karena itu untuk mewujudkan ASN sebagai bagian dari reformasi
birokrasi, perlu ditetapkan ASN sebagai profesi yang memiliki kewajiban mengelola
dan mengembangkan dirinya dan wajib mempertanggungjawabkan kinerjanya dan
menerapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen ASN.

Dalam rangka pelaksanaan amanat Undang-undang nomor 5 tahun 2014 tentang


Aparatur Sipil Negara (ASN) dan ketentuan reformasi birokrasi, BKKBN telah
melaksanakan amanat tersebut dengan melakukan penataan SDM Aparatur serta
melakukan pengelolaan Sumber Daya Manusia secara profesional dimana fungsi-
fungsi SDM dari perencanaan, analisis jabatan, rekruitmen, manajemen karir saling
terintegrasi. Kebijakan dalam upaya pencapaian program antara lain peningkatan

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 68


kompetensi dan kinerja pegawai ASN yang profesional dan kompeten serta pelayanan
administrasi kepegawaian yang optimal.

Aparatur Sipil Negara sebagai bagian dari reformasi birokrasi berkewajiban


mempertanggungjawabkan kinerjanya. Pada tahun 2017, pengelolaan SDM yang
dilaksanakan sebagai upaya untuk mendukung pelaksanaan Reformasi Birokrasi di
BKKBN adalah sebagai berikut:

1. Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SIMSDM)

Undang-Undang nomor 5
tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara
(ASN) mengamanatkan
bahwa setiap
Kementerian/Lembaga
harus memiliki sistem
informasi kepegawaian
yang terintegrasi, akurat
dan akuntabel. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan pelayanan kepegawaian dan
untuk mewujudkan data dan informasi kepegawaian yang cepat, akurat, berkualitas,
dan terintegrasi dilingkungan BKKBN, maka telah dibangun jaringan aplikasi berbasis
TI yaitu berupa Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SIM SDM).
Selain itu tujuan dari sistem aplikasi ini adalah untuk mentranformasikan proses
manual menjadi otomatis sehingga administrasi dan pelayanan kepegawaian
dilingkungan BKKBN berbasis teknologi informasi.

Sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian
Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil dan Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara
Nomor 1 tahun 2013 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46
Tahun 2011, maka dalam implementasinya SIM SDM ini mencakup berbagai
kepentingan seperti penyelenggaraan pembinaan Pegawai Negeri Sipil (PNS)
berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karier yang dititikberatkan pada sistem

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 69


prestasi kerja. Penilaian prestasi kerja PNS dilaksanakan dengan berorientasi pada
peningkatan prestasi kerja dan pengembangan potensi PNS.

2. Sistem Informasi Visum Kinerja (SIVIKA)


Sistem Informasi Visum Kinerja yang
selanjutnya disebut “SIVIKA” adalah
aplikasi dalam jaringan (daring/online)
yang dipergunakan untuk membuat
Laporan Kinerja Pegawai yang dalam
pelaksanaannya terintegrasi dengan
aplikasi SIM SDM BKKBN. SIVIKA
berisi laporan kegiatan yang dilakukan
oleh setiap pegawai pada hari kerja yang akan dikaitkan dengan pelaksanaan kegiatan
tugas jabatan dalam SKP. Untuk itu, pengisian SIVIKA digunakan sebagai salah satu
komponen dalam pembayaran tunjangan kinerja pegawai setiap bulannya. Besarnya
Komponen SIVIKA berkontribusi terhadap perhitungan tunjangan kinerja maksimal
sebesar 20 (dua puluh) persen dalam 1 (satu) bulan.

3. Pencapaian Kampung KB
Sesuai dengan 9 agenda prioritas Presiden (nawacita) khususnya nawacita ke-3 untuk
membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa
dalam kerangka Negara Kesatuan, Presiden mencanangkan Kampung KB pada 14
Januari 2016 di Desa Mertasinga, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon Jawa
Barat. Pencanangan oleh Presiden ini ditindaklanjuti dengan surat edaran Menteri
Dalam Negeri RI nomor 440/70/SJ tentang Pencanangan dan Pembentukan Kampung
KB. BKKBN telah menyusun road map Kampung KB untuk kurun waktu 2015-2019
sebagai berikut:

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 70


Gambar 3.4
Road Map Kampung KB 2015-2019

Sesuai dengan peta jalan pembentukan Kampung KB 2016-2019, pada akhir tahun
2017 telah terdapat 6.409 Kampung KB yang dibentuk dari target 7.160 Kampung KB
atau sebanyak 89,5% (per 27 Desember 2017), sebagaimana grafik dibawah ini :
Gambar 3.5
Persentase Pembentukan Kampung KB
menurut Provinsi

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 71


Berdasarkan grafik di atas, tampak bahwa Provinsi Papua merupakan provinsi dengan
capaian yang paling rendah, yaitu 44 persen. Artinya dari 558 kecamatan yang ada,
hanya 248 kecamatan yang sudah memiliki Kampung KB. Rendahnya capaian
pembentukan Kampung KB disebabkan jarak antar kecamatan sangat jauh dan sulit
dijangkau sehingga membutuhkan banyak biaya, sementara biaya yang tersedia untuk
pencanangan sangat terbatas. Di sisi lain, advokasi kepada Pemerintah Daerah tentang
Kampung KB juga mengalami kendala karena terkait isu program KKBPK yang
dipandang hanya sebagai program untuk membatasi jumlah anak.

4. Jurnal Keluarga Berencana Online

Puslitbang KB dan KS, pada tanggal 6 Desember 2017, telah meluncurkan Jurnal
Keluarga Berencana (JKB) online. Jurnal ini sudah didaftarkan ke Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun sebelumnya. Jurnal ini walaupun belum
terakreditasi oleh LIPI, namun dapat sebagai sarana bagi para peneliti BKKBN
maupun dari Kementerian/Lembaga, Perguruan Tinggi dan masyarakat untuk
mempublikasikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) nya serta mendapatkan bahan referensi
terkait program KKBPK. Jurnal online ini telah terbit 2 (dua) kali pada bulan Juni dan
Desember tahun 2017 dan untuk tahun-tahun selanjutnya akan terbit sebanyak 2 (dua)
kali dengan bulan yang sama.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 72


5. e-Koren (Konsolidasi Perencanaan Program dan Anggaran berbasis TI)
Pada tahun 2017, pelaksanaan
konsolidasi perencanaan program
dan anggaran di BKKBN
dilaksanakan dengan
memanfaatkan teknologi
informasi (e-Koren). Pelaksanaan
e-Koren merupakan sebuah
bentuk inovasi yang pertama kali
dilakukan oleh BKKBN dalam
rangka menciptakan sistem
perencanaan yang efektif, transparan dan akuntabel yang terintegrasi dengan website
BKKBN. Pelaksanaan kegiatan e-Koren menggantikan mekanisme Konsolidasi
Perencanaan Program dan Anggaran yang semula dilakukan melalui wawan muka
bersama seluruh unit kerja Eselon II di lingkungan BKKBN Pusat dan Provinsi
menjadi dilakukan melalui video conference.

6. Pengembangan Sistem Kekosongan Alat dan Obat Kontrasepsi (sirene alokon)


atau Indonesia Contraceptive Early Warning System (INA cews).
Sistem ini memungkinkan dilakukan pengendalian rencana pemenuhan kebutuhan alat
dan obat kontrasepsi dari kabupaten dan kota ke fasilitas kesehatan melalui input data
hasil pelayanan kontrasepsi dan sisa stok alat dan obat kontrasepsi. Sistem ini memiliki
nilai tambah untuk melakukan perhitungan jumlah dan waktu pengiriman alat dan obat
kontrasepsi secara real time. Pada tahun 2017 telah dilakukan ujicoba di 4 provinsi
yaitu Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 73


7. Sistem Pelaporan Perencanaan Monitoring dan Evaluasi (MORENA DAK Sub
Bidang KB)
Sistem ini merupakan pencatatan dan pelaporan pengelolaan Dana Alokasi Khusus
Fisik dan Non Fisik. Sistem ini menggantikan sistem perencanaan dan pelaporan
pemanfaatan DAK Fisik dan Non Fisik dari kabupaten dan kota ke BKKBN secara
manual. Sistem ini memungkinkan dilakukannya keterpaduan perencanaan dan
pelaporan pemanfaatan DAK di daerah dan mampu mendokumentasikan proses
pelaksanaan DAK tersebut.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 74


8. Sistem Informasi Pendapatan Pegawai (SIPP)
Dalam rangka meningkatkan kualitas
kinerja dan persamaan persepsi, serta
dalam melaksanakan kegiatan
khususnya Bagian Pengelolaan Belanja
Pegawai di Lingkungan Kantor
BKKBN Pusat dan Perwakilan
BKKBN Provinsi seluruh indonesia
maka perlunya dibuatkan Aplikasi
Sistem Informasi Penghasilan Pegawai
yang selanjutnya disebut “SIPP”. Aplikasi SIPP memiliki fungsi utama untuk
memudahkan pegawai dalam mengetahui besarnya pendapatan yang diterima setiap
bulan baik dari komponen gaji, komponen tunjangan kinerja maupun uang makan yang
datanya di peroleh dari SIMSDM, Aplikasi GPP, dan Aplikasi Kehadiran Kerja
Pegawai. Diharapkan dengan tersedianya informasi di dalam SIPP pegawai dapat lebih
termotivasi dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya masing-masing, serta dapat
memudahkan pegawai dalam mengisi laporan pajak penghasilan setiap tahun. Tujuan
aplikasi SIPP ini antara lain (1) terlaksananya pembayaran gaji pegawai secara cepat,
tepat sesuai dengan peraturan yang berlaku; (2) terlaksananya pembayaran uang
makan pegawai secara cepat, tepat sesuai dengan peraturan yang berlaku; (3)
terlaksananya pembayaran tunjangan kinerja pegawai secara cepat, tepat sesuai
dengan peraturan yang berlaku.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 75


9. Digital Signage Apps untuk transparansi kegiatan dan pengaturan jadwal Kepala
BKKBN, Eselon I dan II
Aplikasi BKKBN Digital Signage merupakan aplikasi jadwal pimpinan secara on line
sebagai penyempurnaan jadwal pimpinan sebelumnya yang hanya menggunakan
berbasis webmail.
Aplikasi BKKBN Digital
Signage ini tidak hanya
berbasis WEB, tetapi juga
sudah berbasis andrioid.
Aplikasi ini digunakan
untuk mengetahui jadwal
kegiatan Kepala BKKBN,
Pejabat Pimpinan Tinggi
Madya dan Pejabat
Pimpinan Tinggi Pratama,
sehingga mempermudah
koordinasi kegiatan dalam pengelolaan program KKBPK. Aplikasi BKKBN Digital
Signage berbasis web digunakan sebagai basis pemutakhiran informasi digital signage
oleh admin, serta pengaturan detail jadwal oleh admin/sekretaris. Selanjutnya, aplikasi
BKKBN Digital Signage berbasis mobile (android) sebagai notifikasi dan pengingat
agenda atau jadwal, selain untuk update secara langsung atas perubahan jadwal atau
status keberadaan para pimpinan.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 76


10. Sistem Informasi Persuratan Arsip dan Dokumentasi (SIPAD)
Sistem Infomasi
Persuratan Arsip dan
Dokumentasi atau
selanjutnya disingkat
SIPAD merupakan
aplikasi berbasis web
yang bertujuan (1)
memudahkan
penemuan kembali
dokumen/arsip pada
saat dibutuhkan; (2)
memiliki system
pencatatan dokumen/arsip dalam bentuk digital/softcopy; (3) menjaga dokumen dari
kehilangan karena dokumen tercatat dan teregistrasi dengan baik; (4) kemudahan akses
dokumen/arsip dalam memenuhi kebutuhan organisasi. SIPAD ditujukan juga dalam
rangka melaksanakan amanat Undang-undang nomor 43 tahun 2009 tentang kearsipan
sehingga terhindar dari tindak pidana tentang penyalahgunaan pengelolaan kearsipan.

11. Aplikasi Mobile Orang Tua Hebat


Aplikasi ini memuat materi-materi informasi tentang
pengasuhan dan tumbuh kembang anak, berupa
buku, leaflet, poster dan video tentang cara pengisian
kartu kembang anak. Aplikasi ini dibuat untuk
memudahkan kader dalam menyampaikan informasi
pada saat penyuluhan kepada masyarakat. Aplikasi
ini dapat diunduh melalui googleplay atau playstore.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 77


12. Aplikasi GenRe Apps
Aplikasi berbasis web dan andrioid
ini digunakan sebagai sumber
informasi tentang Kesehatan
Reproduksi Remaja (KRR),
Penyiapan kehidupan berumah
tangga untuk remaja yang sekaligus
dapat digunakan sebagai media
konsultasi bagi remaja melalui
chatting secara online yang dikelola oleh kelompok Pusat Informasi Konseling
Remaja (PIK-R). Selain itu, aplikasi ini dapat membantu remaja untuk mencari alamat
PIK-R terdekat dengan berbasis Google Map, saat membutuhkan konsultasi secara
tatap muka. Aplikasi ini dapat diunduh melalui googleplay atau playstore.

13. Aplikasi Lansia Tangguh


Aplikasi Lansia Tangguh berbasis web dan
andrioid ini digunakan sebagai sumber
informasi tentang lansia tangguh, kelompok
kegiatan BKL, video tentang Lansia Tangguh,
Tips Lansia Tangguh dan berita tentang lansia
tangguh yang dapat di akses oleh masyarakat
secara bebas, karena aplikasi ini dapat diunduh
melalui googleplay atau playstore.

14. Aplikasi Statistik Rutin


Aplikasi Statistik Rutin merupakan sebuah aplikasi berbasis web yang dikembangkan
dalam rangka menyediakan informasi tentang pencapaian Program Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional. Situs pengolahan data statistik rutin ini merupakan hasil
pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi dan pengendalian lapangan.
Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi (Pelkon) adalah suatu kegiatan
mencatat dan melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 78


kontrasepsi yang dilakukan oleh klinik KB pemerintah maupun swasta serta dokter
atau bidan praktek swasta sesuai
dengan sistem yang telah
ditetapkan. Sedangkan Pencatatan
dan Pelaporan Pengendalian
Lapangan (Dalap) adalah suatu
kegiatan mencatat dan melaporkan
berbagai aspek tentang kegiatan
koordinasi dan pengendalian
pelaksanaan program KKB di
lapangan.

15. Aplikasi Pendataan Keluarga


Pendataan Keluarga adalah kegiatan
pengumpulan data primer tentang data
kependudukan, Keluarga Berencana,
pembangunan keluarga dan anggota
keluarga yang dilakukan oleh masyarakat
bersama pemerintah (BKKBN) secara
serentak pada waktu yang telah ditentukan
dan selanjutnya akan dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali melalui kunjungan ke
keluarga dari rumah ke rumah.

Pada tahun 2017, BKKBN memperoleh capaian baik di tingkat nasional maupun
internasional.
a. Capaian di Tingkat Nasional

BKKBN berupaya meningkatkan akuntabilitas atau pertanggungjawaban atas hasil


(outcome) terhadap penggunaan anggaran dalam rangka terwujudnya pemerintahan
yang berorientasi kepada hasil (result oriented government).

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 79


Tabel 3.12
Perkembangan Nilai Akuntabilitas Kinerja BKKBN
Tahun Nilai Akuntabilitas Kinerja Predikat Keterangan
2009 58,00 CC Cukup Baik
2010 61,68 CC Cukup Baik
2011 62,85 CC Cukup Baik
2012 64,54 CC Cukup Baik
2013 65,95 B Baik
2014 67,60 B Baik
2015 65,14 B Baik

Selain fokus pada upaya pencapaian sasaran strategis, dalam rangka mendorong
reformasi birokrasi pemerintah, BKKBN juga aktif menginternalisasi program
reformasi birokrasi di level organisasi. Dari hasil Evaluasi Pelaksanaan Reformasi
Birokrasi BKKBN Tahun 2016 oleh Kementerian PAN dan RB, BKKBN
memperoleh nilai 70,06.
Pada tahun 2017, BKKBN menerima beberapa penghargaan yang berskala
nasional, yaitu:
1) PNBP Award
BKKBN mendapatkan penghargaan Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP) Award pada tanggal 30 November 2017 atas kontribusinya sebagai
Lembaga yang berhasil meningkatkan PNBP. Target PNBP BKKBN adalah
1.522.774.473,- sedangkan realisasi yang disetorkan ke Negara sebesar Rp.
8.664.807.748,-.
Gambar 3.6
PNBP Award

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 80


2) Keterbukaan Informasi Publik tahun 2017
BKKBN mendapat penganugerahan Keterbukaan Informasi Publik tahun
2017 dari Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia. Penghargaan tersebut
diberikan oleh Wakil Presiden RI pada tanggal 21 Desember 2017.
Gambar 3.7
Keterbukaan Informasi Publik tahun 2017

b. Capaian di Tingkat Internasional

Selain capaian di tingkat nasional, BKKBN juga menorehkan capaian di tingkat


Internasional, yaitu:

1) BKKBN berperan di dunia Internasional dalam hal kependudukan dan ditandai


dengan diundangnya pejabat BKKBN sebagai pembicara dalam pertemuan
strategis, seminar dan forum kependudukan dunia, seperti pertemuan tahunan
Comission Population and Development, CPD Meeting di New York dan Family
Planning Summit 2017 di London, Belt and Road -Forum for Health
Cooperation:Towards a Health Silk Road di Beijing China, serta Economic and
Social Council (ECOSOC), New York;
2) BKKBN dipercaya oleh dunia Internasional dalam hal kependudukan sehingga
dapat menyelenggarakan Patners in Population and Development Annual
Meeting 2017, and the 14th International Inter-Ministerial Conference on
Population and Development yang bertempat di Yogyakarta;

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 81


3) Pejabat dan peneliti BKKBN diundang untuk mempresentasikan abstraknya
dalam forum dan konferensi Internasional seperti Seoul International Conference
on Social Sciences and Management, Seoul, Korea Selatan; KTM OKI ke 1
tentang perkawinan dan institusi keluarga di Jedah; 9th Annual Conference on
Health & Humanitarian Logistic, di Copenhagen Denmark dan 12th International
Conference on Interdiciplinary Social di Hiroshima Jepang.
4) BKKBN dipercaya menyelenggarakan pelatihan Internasional di Bidang Keluarga
Berencana, Kesehatan Reproduksi dan Pembangunan Keluarga seperti 1. Training
on Strategic Partnership with Muslim Religious Leaders (MRLs), di Yogyakarta;
2. The Training Course on Empowering Women through Family Planning and
Economic Development Interventions, di Bali; 3. Seychelles Young Leadership
Program 2017 on Population, Family Planning dan Family Development, di
Jakarta; 4. Knowledge Sharing Program for Autonomous Region in Muslim
Mindanao (ARMM) of The Philippines Youth Muslim Leaders, di Palembang; 5.
Study Visit on Population, Reproductive Health and Family Planning for General
Office on Population and Family Planning Vietnam, di Bali. Pelatihan
internasional ini diikuti 75 peserta dari 17 Negara yaitu Niger, Nigeria, Chad,
Pakistan, Sudan, Nepal, India, Bangladesh, Maldives, Sri Lanka, Bhutan,
Vietnam, Afghanistan, Indonesia, Lao PDR, Seychelles, dan Phillippines.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 82


BAB IV
PENUTUP
Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 83
PENUTUP

L aporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 merupakan


wujud pertanggungjawaban atas pelaksanaan
kinerja BKKBN di tahun 2017 berdasarkan Rencana
Strategis Tahun 2015-2019 (REVISI) dan Rencana Aksi
Upaya Pencapaian Target/Sasaran RPJMN. Laporan ini
sekaligus juga merupakan pertanggungjawaban atas
tugas, pokok dan fungsi yang diamanatkan kepada
BKKBN. Laporan ini memberikan gambaran atas segala
daya dan upaya BKKBN dalam mewujudkan visi, misi
dan tujuan organisasi termasuk pula harapan dan
tantangan.

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 84


T
ahun 2017 merupakan tahun ketiga pengukuran Rencana Strategis BKKBN
Tahun 2015-2019 melalui 5 Sasaran Strategis (SS) dan 5 Indikator Kinerja
Sasaran. Berdasarkan hasil pengukuran atas seluruh target kinerja yang telah
ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja, tidak semua Indikator Kinerja Sasaran
mencapai target. Pencapaian atas keseluruhan indikator tersebut yaitu: 1 (satu)
indikator kinerja sasaran capaiannya di atas 100 persen, 3 (tiga) indikator kinerja
sasaran capaiannya berkisar antara 70-99,9 persen, 1 (satu) indikator kinerja sasaran
capaiannya berkisar 50-69,9 persen. Berdasarkan hasil pengukuran atas seluruh target
kinerja yang telah ditetapkan dalam dokumen perjanjian kinerja tahun 2017,
pencapaian skor kinerja BKKBN berdasarkan QPR secara keseluruhan adalah 81,65
persen. Capaian tersebut didukung dengan pemanfaatan realisasi anggaran sebesar Rp
2.232.151.353.285,- atau sebesar 81,46% dari pagu akhir sebesar Rp
2.740.081.067.000,-.

BKKBN melakukan upaya untuk mencapai target kinerja yang telah ditetapkan antara
lain dengan melakukan perbaikan pengelolaan kinerja dan peningkatan kapasitas SDM
pengelola kinerja serta perbaikan perencanaan dan penganggaran. BKKBN telah
menerapkan monitoring dan evaluasi atas indikator kinerja utama melalui mekanisme
radalgram (rapat pengendalian program) dan reviu. BKKBN juga telah menyusun
sistem monitoring dan evaluasi atas rencana aksi pencapaian kinerja. Sistem ini
sedianya memuat informasi tentang rencana aksi kinerja BKKBN serta sistem
monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan.

Atas hasil yang dicapai di tahun 2017, BKKBN berupaya meningkatkan capaian
kinerja pada tahun 2018 diantaranya dengan penetapan proyek prioritas nasional 2018.
Akhirnya, laporan kinerja BKKBN 2017 diharapkan dapat memberikan informasi atas
pencapaian kinerja BKKBN kepada publik dan pemangku kepentingan dalam rangka
terwujudnya pemerintahan yang berorientasi pada hasil (result oriented goverment).

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 85


Lampiran

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 86


Indonesia 2,40

Nusa Tenggara Timur 3,34


Sulawesi Barat 3,10
Kalimantan Utara 2,97
Maluku Utara 2,93
Riau 2,71
Sumatera Utara 2,66
Papua 2,59
Kalimantan Selatan 2,57
Gorontalo 2,54
Kep. Riau 2,52
Aceh 2,51
Kalimantan Tengah 2,49
Nusa Tenggara Barat 2,49
Jawa Tengah 2,46
Kep. Bangka Belitung 2,46
Papua Barat 2,45
Sulawesi Tenggara 2,44
Jambi 2,44
DKI Jakarta 2,44
Sumatera Barat 2,42
Maluku 2,42
Bengkulu 2,41
Kalimantan Barat 2,39
Lampung 2,35
Sumatera Selatan 2,31
Banten 2,30
Jawa Barat 2,24
Sulawesi Utara 2,22
Sulawesi Tengah 2,22
Sulawesi Selatan 2,21
Bali 2,21
Kalimantan Timur 2,16
DI Yogyakarta 2,06
Jawa Timur 1,91

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 87


Indonesia 57,6

Bengkulu 72,3
Kalimantan Barat 70,1
Kep. Bangka Belitung 69,2
Sulawesi Utara 68,6
Jawa Timur 67,7
Sulawesi Tengah 66,4
Bali 66,0
Sumatera Selatan 65,6
Kalimantan Tengah 65,6
Jambi 65,4
Kalimantan Selatan 65,0
Gorontalo 64,7
Lampung 64,7
Jawa Barat 63,8
Banten 61,2
Kalimantan Timur 60,5
Jawa Tengah 57,7
Indonesia 57,6
Kalimantan Utara 57,5
Nusa Tenggara Barat 55,0
Maluku Utara 54,0
DI Yogyakarta 53,3
Riau 53,1
Sumatera Barat 52,3
DKI Jakarta 51,3
Aceh 50,5
Sulawesi Barat 50,4
Sulawesi Selatan 49,6
Kep. Riau 48,7
Sulawesi Tenggara 48,3
Sumatera Utara 48,2
Maluku 44,7
Nusa Tenggara Timur 43,5
Papua 41,7
Papua Barat 29,4

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 88


Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 89
Indonesia 17,5

Papua Barat 34,2


Maluku 27,0
Nusa Tenggara Timur 26,5
Papua 25,4
Sulawesi Tenggara 25,3
Sumatera Utara 25,3
Sulawesi Barat 23,8
Aceh 22,8
Maluku Utara 21,9
DKI Jakarta 21,6
Kep. Riau 21,3
Sumatera Barat 20,8
Riau 20,8
Sulawesi Selatan 20,7
Kalimantan Utara 18,3
Nusa Tenggara Barat 17,5
Kalimantan Timur 16,9
Jawa Tengah 15,9
Bali 14,6
Jawa Barat 14,4
Gorontalo 14,0
Banten 13,6
Sumatera Selatan 12,9
Jawa Timur 12,9
Kalimantan Barat 12,6
DI Yogyakarta 12,2
Lampung 12,0
Jambi 11,6
Sulawesi Tengah 11,5
Kalimantan Tengah 11,4
Kalimantan Selatan 11,2
Sulawesi Utara 10,5
Kep. Bangka Belitung 10,4
Bengkulu 8,7

Laporan Kinerja BKKBN Tahun 2017 90


FORMULIR PENGUKURAN KINERJA TINGKAT KEMENTERIAN/LEMBAGA

Kementerian/Lembaga : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Tahun Anggaran : 2017

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR TARGET REALISASI % PROGRAM/ ANGGARAN %


KINERJA KEGIATAN
PAGU REALISASI

1 2 3 4 5 6 7 8 9

BKKBN 2.740.081.067.000,- 2.232.151.353.285,- 81.46


1 Menurunnya angka 1 Angka kelahiran 2,33 2,40 97,08 Sebagai lembaga
kelahiran total total (total Pemerintah Non
(TFR) fertility Kementerian BKKBN
rate/TFR) per mempunyai 1 (satu)
WUS (15-49 Program Teknis dan 3
tahun) (tiga) Program
2 Generik.
Meningkatnya 2 Persentase 60,9 57,6 94,58
A. Program Teknis:
prevalensi pemakaian
I. PROGRAM 1.718.074.107.000,- 1.325.102.440.542,- 77.12
kontrasepsi (CPR) kontrasepsi
KEPENDUDUKAN
modern modern (modern
DAN KB:
contraceptive
prevalence
1. Pengendalian 15.033.530.000,- 13.618.210.689,- 90.59
rate/CPR)
Penduduk
3 Menurunnya 3 Persentase 10,26 17,5 58,63 2. Pembinaan dan 346.448.403.000,- 148.577.989.280,- 42.89
kebutuhan ber-KB kebutuhan ber- peningkatan
yang tidak KB yang tidak
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR TARGET REALISASI % PROGRAM/ ANGGARAN %
KINERJA KEGIATAN
PAGU REALISASI

1 2 3 4 5 6 7 8 9
terpenuhi (unmet terpenuhi kemandirian keluarga
need) (unmet need) berencana
(%) 3. Pembinaan Keluarga
Sejahtera dan 22.023.607.000,- 21.076.980.814,- 95.70
4 Meningkatnya 4 Persentase 21,7 21,5 99,07
Pemberdayaan
peserta KB aktif peserta KB
Keluarga
yang menggunakan Aktif MKJP
4. Peningkatan
Metode
Advokasi, 250.794.618.000,- 228.289.615.165,- 91.03
Kontrasepsi Jangka
Penggerakan dan
Panjang (MKJP)
Informasi
5 Menurunnya 5 Tingkat putus 25,3 22,3 113,45 5. Pengelolaan
Tingkat Putus Pakai pakai Pembangunan 1.083.773.949.000,- 913.539.644.594,- 84.29
Kontrasepsi kontrasepsi (%) Kependudukan dan
Keluarga Berencana
Provinsi
B. Program Generik:
II. PROGRAM
DUKUNGAN 742.264.838.000,- 650.758.106.341,- 87.67
MANAJEMEN
DAN TUGAS
TEKNIS LAINNYA
BKKBN

III. PROGRAM
PELATIHAN DAN 264.221.905.000,- 242.837.804.921,- 91.91
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR TARGET REALISASI % PROGRAM/ ANGGARAN %
KINERJA KEGIATAN
PAGU REALISASI

1 2 3 4 5 6 7 8 9
PENGEMBANGAN
BKKBN
IV. PROGRAM
PENGAWASAN 15.520.217.000,- 13.612.270.326,- 87.71
DAN
PENINGKATAN
AKUNTABILITAS
APARATUR
BKKBN
Jumlah Anggaran Tahun 2017 : Rp 2.740.081.067.000,- 2.811.575.080.000
Realisasi Pagu Anggaran Tahun 2017 : Rp 2.232.151.353.285,-2.620.199.415.129
PROSES BISNIS YANG TELAH MEMANFAATKAN TIK
No Proses Bisnis di BKKBN Unit Kerja Aplikasi TIK yang digunakan Alamat web

1 Proses Penyebarluasan Direktorat Teknologi Situs BKKBN, Streaming, BKKBN www.bkkbn.go.id;


Informasi Program KKBPK Informasi dan Channel, Centralized Information streaming.bkkbn.go.id;cis.bkkbn.go.id
Dokumentasi System (CIS)
2 Proses Penyebarluasan Direktorat Teknologi Situs PPID (Pusat Pengelola www.bkkbn.go.id;
Informasi Publik Informasi dan Informasi dan Dokumentasi)
Dokumentasi
3 Proses Pelayanan Direktorat Teknologi Pustaka BKKBN (Digital Library), Pustaka.bkkbn.go.id; flipbook.bkkbn.go.id
Perpustakaan Informasi dan Signage, Flipbook
Dokumentasi
4 Proses Pengadaan Barang/ Direktorat Teknologi LPSE BKKBN Lpse.bkkbn.go.id
Jasa Informasi dan
Dokumentasi
5 Proses Layanan Informasi Direktorat Teknologi Dashboard, GIS, Profile Desa Dashboard.bkkbn.go.id, GIS,
Eksekutif Informasi dan aplikasi.bkkbn.go.id/profildesa
Dokumentasi
6 Proses Manajemen SDM Biro Kepegawaian, Sistem Informasi Manajemen Simsdm.bkkbn.go.id;
Inspektorat Wilayah, Sumber Daya Manusia (SIMSDM), sertifikasi.bkkbn.go.id;
Direktorat Bina Lini Aplikasi Presensi (Face ID and evisum.bkkbn.go.id;
Lapangan; Biro Umum Fingerprint System), STATMAS sipp.bkkbn.go.id
(Status Masalah), sertifikasi
PLKB/PKB, evisum, SIPP
7 Proses Penilaian Individu Biro Kepegawaian, Sistem Informasi Visum Kinerja Sivika.bkkbn.go.id, playstore
Direktorat Bina Lini (SIVIKA) dan Android Visum
Lapangan PLKB; Sertifikasi PKB/PLKB
8 Proses Balance Score Card Biro Perencanaan Aplikasi Balance Scored Card (BSC) Bsc.bkkbn.go.id
No Proses Bisnis di BKKBN Unit Kerja Aplikasi TIK yang digunakan Alamat web

9 Proses Databasis Perencanaan Biro Perencanaan Aplikasi Data Basis Perencanaan Adp-biren.bkkbn.go.id

10 Proses Pendidikan dan Pusat Pendidikan dan Sistem Informasi Diklat Sidika.bkkbn.go.id
Pelatihan Pelatihan Kependudukan Kependudukan dan KB (SIDIKA)
dan KB
11 Proses Pengaduan Masyarakat Biro Hukum, Organisasi Pengaduan Masyarakat (DUMAS) https://www.bkkbn.go.id/pages/pengaduan-
dan Humas masyarakat
12 Proses Dokumentasi dan Biro Hukum, Organisasi Jaringan Dokumentasi Informasi Jdih.bkkbn.go.id
Informasi Hukum dan Humas Hukum (JDIH)
13 Proses Pencatatan Logistik Biro Keuangan dan Logistik http://logistik.bkkbn.go.id/
Pengelolaan Barang
Milik Negara
14 Proses Keuangan dan BMN Biro Keuangan dan Aplikasi BMN Online, Sistem Bmn.bkkbn.go.id;
Pengelolaan Barang Informasi Keuangan dan Barang sakura.bkkbn.go.id
Milik Negara Milik Negara (SAKURA).
15 Proses Pengendalian Lapangan Direktorat Pelaporan Aplikasi Pengendalian Lapangan; Aplikasi.bkkbn.go.id/sr;
dan Statistik Aplikasi Kampung KB Kampungkb.bkkbn.go.id
16 Proses Kesejahteraan Keluarga Direktorat Bina Aplikasi Kesejahteraan Keluarga Aplikasi.bkkbn.go.id/ks
Keluarga dan Anak, (BKB, BKR, BKL, UPPKS, PIK/R,
Direktorat Bina PLKB/IMP)
Ketahanan Remaja,
Direktorat Bina
Ketahanan Lansia dan
Rentan, Direktorat
Pemberdayaan Ekonomi
Keluarga, dan Direktorat
Bina Lini Lapangan
No Proses Bisnis di BKKBN Unit Kerja Aplikasi TIK yang digunakan Alamat web

17 Proses Laporan Klinik Direktorat Pelaporan Aplikasi Pelayanan KB Aplikasi.bkkbn.go.id/sr


dan Statistik
18 Proses Pendataan Keluarga Direktorat Pelaporan Aplikasi Pendataan Keluarga, Portal, Pk.bkkbn.go.id;
dan Statistik Performance Analyzer (FELISA), manajemenpk.bkkbn.go.id
Manajemen Wilayah, Manajemen
Pelaksanaan Kegiatan (MPK), Posko
dan Migrasi
19 Proses Peminjaman Ruangan Biro Umum Aplikasi Peminjaman Ruang Rapat apl.bkkbn.go.id

20 Proses Penelitian PUSNA, PUSDU Aplikasi SDKI, RPJMN Survei.bkkbn.go.id;Sdki.bkkbn.go.id