You are on page 1of 2

Nama : Elizabhet Ortarita Minto Ariwati

NIM : 111.130.035
Kelas : B (Jum’at, 07.30)

Link
http://krjogja.com/web/news/read/12475/Sleman_Rawan_Bencana_Longsor
http://sdin.slemankab.go.id/tag/tanah-longsor/
http://www.harianjogja.com/baca/2016/10/12/longsor-sleman-tanah-longsor-
terjadi-di-tlogo-putri-kaliurang-760124

Ancaman dan Bencana Yang Terjadi


Daerah Cangkringan dan sekitarnya, Kabupaten Sleman, merupakan
kawasan lereng Merapi yang rawan longsor. Hal ini dikarenakan banyaknya akar
yang rapuh dan tanah dengan lereng yang curam sehingga sangat mudah longsor
saat turun hujan. Bencana tanah longsor ini terjadi akibat tanah tidak mampu lagi
untuk menahan air. Untuk wilayah yang rawan longsor itu diantaranya di wilayah
lereng Merapi, yaitu Cangkringan dan sekitarnya. Sedangkan ancaman banjir di
Sleman bukan air menggenang, melainkan air mengalir kencang. Sehingga
ancaman kerusakannya infrastruktur dan rumah yang dekat dengan sungai.

Analisa dan Sintesis


Berdasar Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/Prt/M/2007 Kawasan
rawan bencana longsor adalah kawasan lindung atau kawasan budi daya yang
meliputi zona-zona berpotensi longsor. Longsor adalah suatu proses perpindahan
massa tanah/batuan dengan arah miring dari kedudukan semula, sehingga terpisah
dari massa yang mantap, karena pengaruh gravitasi, dengan jenis gerakan
berbentuk rotasi dan translasi. Longsor merupakan gejala alami yakni suatu proses
perpindahan massa tanah atau batuan pembentuk lereng dengan arah miring dari
kedudukan semula, sehingga terpisah dari massa yang mantap karena pengaruh
gravitasi, dengan jenis gerakan berbentuk translasi dan/atau rotasi. Proses
terjadinya longsor dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut : air meresap ke
dalam tanah sehingga menambah bobot tanah, air menembus sampai ke lapisan
kedap yang berperan sebagai bidang gelincir, kemudian tanah menjadi licin dan
tanah pelapukan di atasnya bergerak mengikuti lereng dan keluar dari lereng, dan
terjadilah tanah longsor.

Kesimpulan dan Rekomendasi


Bencana tanah longsor yang terjadi di daerah Cangkringan dan sekitarnya
ini disebabkan oleh banyaknya akar yang rapuh dan tanah dengan lereng yang
curam sehingga sangat mudah longsor saat turun hujan, serta tidak mampunya
tanah untuk menahan beban air.
Untuk antisipasi bencana ini, perlu dioptimalkan pemberdayaan
masyarakat khususnya di desa tanggap bencana dan relawan. Perlu adanya
kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah untuk menanggulangi bencana
tersebut. Pentingnya kesadaran masyarakat untuk peduli dengan lingkungan, serta
penataan lingkungan yang tepat.

Daftar Pustaka
Anonim. 2007. Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/Prt/M/2007
http://www.bkprn.org/peraturan/the_file/permen22_2007.pdf. Diakses 6
Oktober 2016.