You are on page 1of 3

Bagi mahasiswa rantau, kiriman uang dari orangtua merupakan sumber keuangan utama untuk

bertahan hidup. Padahal, tanpa disadari, kiriman uang tersebut justru membuat kita merasa
tergantung.

Demikian disampaikan Achmad Ferdiansyah Pradana Putra dalam workshop kewirausahaan di


Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Di hadapan banyak mahasiswa yang hadir,
Ferdi pun berbagi tips agar sukses menjadi seorang mahasiswa wirausahawan.

Ferdi menyarankan agar mahasiswa tidak selalu meminta uang pada orangtua karena menjadi
musuh utama untuk berwirausaha.

"Seharusnya menjadi mahasiswa harus bisa mandiri. Kalau bisa setop kiriman dari orangtua mulai
sekarang, kita harus mandiri, menghasilkan uang sendiri," ujar Ferdi, seperti disitat dari ITS Online,
Selasa (26/3/2013).

Menurut Ferdi, mahasiswa akan lebih dewasa tanpa kiriman uang dari orangtua. Tidak hanya itu,
kondisi yang tertekan juga menjadi faktor mahasiswa untuk bisa berpikir kreatif. "Dengan begitu kita
akan berpikir untuk bisa mendapatkan uang kuliah," tutur pemuda yang telah sukses dengan produk
Smart Stove-nya tersebut.

Salah satu tips lain yang diberikan oleh Ferdi adalah mimpi. Dia menegaskan agar setiap orang
mempunyai mimpi dan menuliskan mimpi tersebut. Tidak hanya ditulis, dia menyarankan agar
mahasiswa mempublikasikan tulisan tersebut dengan cara apa pun.

"Kalau perlu buat poster atau brosur dan sebarkan kepada semua orang. Siapa tahu ada yang
ngelirik Anda untuk menjadi partner bisnisnya," tutur alumnus Jurusan Teknik Kimia ITS itu.(rfa)

Mahasiswa Mandiri
Mahasiswa adalah seorang yang menuntut ilmu dengan berfikir praktis, cerdas dan berintelegen.
Ironis melihat mental mahasiswa pada saat ini. Mereka bermanja-manja dengan lingkungan yang
ada. Manja untuk pergi ke perpustakaan kampus, atau apabila ada tugas membuat makalah mereka
hanya mendownload dari internet. Mahasiswa yang seperti ini cenderung apatis. Mahasiswa dalam
menjalani perkuliahan dengan sistem Kupu-Kupu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang), biasannya tidak
mempunyai visi dan misi yang jelas, modis tetapi cara berpikirnya masih kekanak-kanakan. Mereka
inilah mahasiswa yang kurang bisa berpikir strategis. Katannya mahasiswa sendiri dijadikan sebagai
agent of change? Nyatannya tidak, Mereka dengan bangga mengatakan “saya mahasiswa” namun
seakan mengabaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa yaitu belajar dan berorganisasi.
Tidak lucu kalau mahasiswa itu bermanja-manja dengan kehidupan di luar kampus. Pandangan
masyarakat tentang mahasiswa adalah seseorang yang cerdas, sederhana, mandiri, dan ulet. Tetapi,
pada kenyataannya tidak sesuai. Dikarenakan lingkungan yang mendukung mereka untuk tidak mau
berusaha, tidak mau bekerja untuk membantu beban orang tua yang sudah bersusah payah mencari
nafkah demi membiayayai anaknya kuliah. Tetapi, banyak mereka yang memanfaatkannya dengan
percuma. Lingkungan yang mereka dituntut untuk serba praktis tanpa mengeluarkan keringat. Dari
situlah, mereka bermanja-manja, tidak mau bersusah payah dan kalau mengerjakan sesuatu selalu
mengeluh.
Mahasiswa yang bersikap strategis, maksudnya dia dapat menempatkan diri dimana saja, dan bisa
membaca lingkungan dimana mereka berada. Mahasiswa sebagai agen perubahan, jika tidak dapat
melakukan sesuatu untuk mengubah lingkungan sekitarnya dan jika tidak mempunyai kekuatan
untuk menjadi inspirasi bagi orang lain, minimal yang seharusnya dilakukan mahasiswa adalah
membawa dirinya ke arah yang lebih baik karena jika saja ia gagal dalam mengurusi dirinya maka
konsekuensi akan menjadi beban bagi orang lain.
Mahasiswa yang strategis dilain sisi bisa mensejahterkan diri sendiri, juga bisa mensejahterakan
lingkungannya. Bukan mahasiswa yang bermental ”krupuk terkena hujan” yang hanya pergi kuliah
kemudian pulang ke kos atau ke rumah, kehidupannya hanya digunakan di lingkungan luar yang
tidak bermanfaat.
Mahasiswa harusnya tidak berfikir hedonisme. Salah satu contoh untuk membuat mahasiswa lebih
mandiri adalah dengan berwirausaha. Dengan berwirausaha dapat membuat mahasiswa bisa
berinteraksi dengan dunia luar. Selain mendapatkan teman baru, dapat membantu perekonomian
keluarga untuk menipiskan beban dari orang tua.

Menjadi mahasiswa mandiri finansial? siapa yang tidak mau dengan status ini. Betapa tidak, sebagai
perantau kita dituntut untuk dapat memetik pengalaman hidup sebanyak banyaknya tanpa
sedikitpun membebani orang tua.

Yah, hidup di bawah kerja keras orang tua memang tak dapat dihindari oleh seorang mahasiswa,
namun dapat di kurangi porsinya. Maksud kalimat ini adalah kita dapat meringankan beban orang
tua dengan cara mencari celah kemandirian melalui sisi finansial, mulai dari bisnis sampai yang
lainnya.

Namun ada satu hal yang menjadi syarat mutlak bagi anda yang ingin bermandiri finansial, yakni
tetap men-nomor satu-kan akademiknya.

Kuliah adalah salah satu prioritas utama kita untuk berada di tanah rantau. Orang tua kita rela
melepas anak kesayangannya ke tanah orang lain demi kita yang diharapkan mengais ilmu sebanyak-
banyaknya sehingga di masa yang akan datang akan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan
agama. Target orang tua kita tidak jauh-jauh, yakni mereka menginginkan agar kita lebih baik dari
mereka.

Kembali pada mandiri finansial, banyak objek-objek dinansial yang dapat di siasati oleh seorang
mahasiswa. Mulai dari menjalani bisnis MLM (Multilevel Marketing), wirausahawan, samnpai pada
menjadi pengajar honorer.

Objek pertama dan kedua menurut saya merupakan objek yang sedikit bahkan hampir menyita
waktu kita. Dari pengalaman di sekitar, yakni teman-teman mahasiswa yang bergelut pada dua
bidang ini (MLM dan wirausahawan) memiliki jam terbang lebih banyak dibanding objek ketiga. Jam
terbang yang dimaksud disini adalah jam terbang yang mengorbankan waktu akademik, yakni
mencuri SKS kuliah yang seharusnya lebih di prioritaskan.

Maka dalam postingan ini, saya akan lebih memusatkan perhatian pada objek ketiga, yakni menjadi
pengajar honorer.
Selain menjadi lumbung kemandirian yang berpenghasilan, pengajar honorer bagi mahasiswa juga
dapat berfungsi sebagai tempat mengembangkan dan menguji kemampuan akademik dalam hal
berkomunikasi dan mengingat kembali materi-materi keilmuan yang telah didapat di bangku kuliah.
Sebut saja seorang mahasiswa Fisika yang mengajarkan mata pelajaran fisika, akan menjadi ujian
bagi dia untuk berusaha mengingat kembali apa yang telah di pelajarinya.

Pengajar honorer bagi mahasiswa dapat dijumpai dengan berbagai topeng, seperti prifat, bimbingan
belajar dan yang lainnya. Yang tentunya menjadi objek menjanjikan bagi mahasiswa yang ingin
berpenghasilan tanpa mengorbankan sisi akademik mereka.

Menjadi tentor misalnya, memang akan menyita waktu istrahat kita, namun dapat menjadi medan
kita untuk belajar dan mengamalkan salah satu dari tiga Tri Dahrma Perguruan Tinggi, yakni
pengabdian kepada masyarakat, dengan berbagi informasi dan ilmu pengetahuan kepada
masyarakat, tekhusus pada siswa didikkan.

Menjadi pengajar honorer juga sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang mengambil konsentrasi
pada jurusan kependidikan, karena pada objek ini dia dapat bereksplorasi tentang cara mengajar,
baik dari model, strategi sampai pada teknik pembelajaran.

Ada sedikit tips bagi anda yang terpau hatinya untuk menekuni objek ini, yakni menjadi seorang
mahasiswa pengajar muda, yakni:

1. Rajinlah untuk melihat-lihat mading di kampus, karena mayoritas lembaga-lembaga privat dan
bimbingan belajar yang membutuhkan tenaga mahasiswa mencari rekrutan melalui majalah dinding.

2. Jika telah berhasil diterima sebagai seorang pengajar, rajin-rajinlah untuk membuka materi yang
akan diajarkan kepada siswa, dengan membuka kembali materi SMP ataupun SMA misalnya.

3. Tidak bertumpu pada berapa jumlah uang yang akan diperoleh dari setiap pertemuan mengajar,
namun anda harus mengedepankan misi mandiri dengan niat minimal menemani orang tua dalam
mencari obat penenang perantauan kita, yakni uang.

4. Mencari jadwal mengajar yang tidak menyita waktu akademis kita, malam hari misalnya,
janganlah cari waktu yang terlalu malam, diatas jam 9 malam misalnya. Karena hal tersebut akan
menyebabkan misi kita berbelok, dari awalnya ingin mandiri akademik, menjadi kapitalis.

5. Menabunglah disetiap menerima imbalan dari hasil mengajar, karen dengan cara ini kita telah
mencetak jasa terbesar didalam kehidupan kita.

Itulan sedikit tips bagi anda yang ingin bergelut pada objek ini, semoga dapat dipahami.

Sekian postingan dari saya, jika ada pembaca yang ingin berkonsultasi berkaitan dengan hal diatas,
karena kami juga berprofesi seabagai mahasiwa pengajar finansial, silahkan berkomunikasi pada
kolom komentar dibawah atau pada jendela buku tamu di sisi kanan blog ini.
Wassalam.