You are on page 1of 23

“Pernikahan Adat Jawa Di Sorong Serta Keterkaitannya Dengan Fikhi

Munakahat”

Diajukan Sebagai Tugas


Pada Mata Kuliah Fikhi Munakahat
Jurusan Syariah
Prodi Akhwalul Syakhsiyah Semester III (Tiga)
Dosen Pengampu : Sudirman, MH.I

Disusun Oleh:

1. Abdul Malik Wardiana (Sya. 520717024)


2. Achmad Nur Amal (Sya. 520717023)
3. Arri Qur Rohman (Sya. 520717003)

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong

Tahun Akademik 2018/2019


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nyalah kami selaku penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan
tepat waktu. Shalawat serta salam tak lupa kami junjungkan kepada nabi besar
Muhammad Saw, yang telah mengantarkan kita menuju zaman yang penuh ilmu
pengetahuan.

Makalah yang berjudul “Pernikahan Adat Jawa Di Sorong Serta


Keterkaitannya Dengan Fikhi Munakahat” ini kami buat demi memenuhi
tugas mata kuliah fikhi munakahat. Dalam menyelesaikan makalah ini sedikit
banyak kami telah belajar mengenai Pernikahan Adat Jawa Di Sorong Serta
Keterkaitannya Dengan Fikhi Munakahat. Dengan adanya makalah ini kami
berharap dapat membantu dalam proses belajar mengajar serta menambah
wawasan kita mengenai pernikahan.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat


banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karna itu, kami
mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna menyempurnakan
makalah ini dan dapat menjadi acuan dalam menyusun makalah-makalah atau
tugas-tugas selanjutnya.

Kami juga memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat
kesalahan pengetikan dan kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam
memahami maksud penulis.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Penyusun,

Sorong, 28 Oktober 2018

2
Daftar Isi
Cover ................................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 2
BAB I .................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 4
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 6
C. Tujuan Penelitian .................................................................................................. 6
D. Manfaat Penelitian ................................................................................................ 6
E. Kajian Teori .......................................................................................................... 6
A. Metode Penelitian.................................................................................................. 7
BAB II............................................................................................................................... 11
PEMBAHASAN ............................................................................................................... 11
A. Adat Pernikahan Masyarakat Suku Jawa di Sorong ...................................... 11
B. Keterkaitan Adat Pernikahan Suku Jawa Di Sorong Dengan Konsep Fikhi
Munakahat .................................................................................................................. 16
1. Pada Tahap Pertama ...................................................................................... 16
2. Pada Tahap Kedua ......................................................................................... 18
3. Pada Tahap Ketiga ......................................................................................... 18
4. Pada Tahap Keempat ..................................................................................... 19
5. Pada Tahap Keempat Prosesi Panggih ......................................................... 20
6. Pada Tahap Kelima ........................................................................................ 21
BAB III ............................................................................................................................. 22
PENUTUP ........................................................................................................................ 22
A. KESIMPULAN ................................................................................................... 22
B. SARAN ................................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 23

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Islam adalah rahmatan lil alamin dimana segala persoalan telah


dibahas dalam syariat islam mulai dari hal-hal yang terkecil hingga pada hal-
hal yang besar baik urusan secara vertikan dengan Allah maupun horizontal
antara manusia dan manusia salah satunya ialah pernikahan. Pernikahan
adalah penyatuan antara dua lawan jenis dari anak adam yang menyatukan
keduanya dalam ikatan ritual agama yang menghalalkan hubungan biologis di
antara keduanya dan menyatukan keluarga kedua pasangan.

pernikahan juga disebutkan didalam Alquran bahwasanya pernikahan


merupakan suatu hal yang dianjurkan oleh Allah dan RasulNya, sebagaimana
Allah Swt telah menciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan agar
mereka dapat saling melengkapi satu sama lain.

Hal ihwal pernikahan telah diatur dalam syariat islam dan UU


Pernikahan mulai dari rukun, syarat, sampai pada tata cara pernikahannya.
Meskipun begitu, tetap saja terdapat keunikan-keunikaan tersendiri didalam
prosesi pernikahan masing-masing pasangan, hal itu terjaadi karena Indonesiaa
adalah Negara yang terdiri dari berbagai macam suku, meskipun tata cara dan
tahap-tahap pernikahan telah diatur dalam agama dan UU Pernikahan, secara
nyata tiap-tiap ras dan suku akan memperlihatkan ciri khas dan caranya sendiri
dalam menjalankan pernikahaan. Oleh karena itulah, keunikan-keunikaan
pernikahan dari masing-masing suku sangaat banyak dan mudah dijumpai di
Indonesia ini.

Kebudayaan adat jawa memang sangat menarik dan beragam salah


satunya yaitu prosesi pernikahannya. Dalam setiap prosesi pernikahan itu pun
memiliki arti atau makna tersendiri. Maka perlulah kita megetahui arti dari

4
setiap simbol dan tahapan-tahapannya dalam prosesi pernikahan adat jawa
tersebut,

maka keunikan atau ciri khas tersebut aka nada yang berkaitan dengan
konsep Islam terkhusus yang mengatur tentang pernikahan yaitu Fiqh
Munakahat. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik melakukan penelitian
dengan judul “Pernikahan Adat Jawa Di Sorong Serta Keterkaitannya
Dengan Fikhi Munakahat”.

5
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana adat pernikahan masyarakat suku jawa di sorong?
2. Bagaimana keterkaitan adat pernikahan suku jawa di sorong dengan
konsep Fikhi Munakahat?
C. Tujuan Penelitian
1. Menjelaskan adat pernikahan masyarakat suku jawa di sorong
2. Menjelaskan keterkaitan adat pernikahan suku jawa di sorong dengan
konsep Fikhi Munakahat.
D. Manfaat Penelitian
1. Teoritis
a. Memperoleh penjelasan kajian adat pernikahan masyarakat jawa di
Sorong.
b. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui keterkaitan antar
pernikahan suku jawa di Sorong dengan konsep Fikhi Munakahat
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan guna
mengetahui adat istiadat pernikahan suku jawa di Sorong dengan
konsep Fikhi Munakahat melalui penjelasan pengalaman penelitian
yang telah dilakukan.
E. Kajian Teori

Menurut Soetoyo Prawirohamidjojo, Pengertian Perkawinan


adalah persekutuan hidup yang terjadi antara seorang pria dan wanita,
yang disahkan secara formal dengan undang-undang (yuridis) dan
kebanyakan religius. Dan perkawinan ini dalam penyelenggarannya
pula terdapat dua konsep yaitu konsep adat dan konsep agama.

berdasarkan pendapat Soetoyo tersebut dapat diketahui bahwa


budaya dan agama adalah suatu yang jelas berbeda terlebih dalam hal
perkawinan namun terdapat pula keterkaitan antara keduanya
perkawinan dengan cara adat bisa saja terselip nilai-nilai agama islam,
begitu pula perkawinan sesuai syariat agama ada yang menjadi adat,

6
bisa saja dalam syariat agama terdapat unsur adat atau dalam adat
terdapat unsur agama hal inilah yang perlu diketahui agar jelas
manakah yang termasuk dalam adat dan manakah yang termasuk
dalam perkara agama islam. Dengan begitu dapat diketahui perbedaan
yang mendasar antara perkawinan adat dan perkawinan yang termasuk
dalam syariat islam, dapat diketahui pula manakah saja adat-adat
perkawinan yang dapat diterima oleh agama atau sebaliknya
perkawinan adat yang tidak sesuai dengan syariat agama, maka dapat
ditelaah perbandingan antara keduanya dan pelaksanaan perkawinan
secara adat agar tidak melanggar batas-batas dalam syariat agama.1

A. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif, dengan tujuan
memperoleh gambaran dengan jelas dan terperinci dari sebuah
permasalahan. Kualitatif adalah metode penelitian ilmu-ilmu sosial
yang mengumpulkaan dan menganalisis data berupa kata-kata dan
perbuatan-perbuatan manusia. Penelitian kualitatif bertujuan untuk
mempelajari keterkaitan-keterkaitan antara adat pernikahan suku jawa
di Sorong dengan konsep Fikhi Munakahat.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan Etnografi dan pendekatan Normatif. Pendekatan Etnografi
adalah pendekatan yang mengacu pada kelompok sosial ataupun
budaya masyarakat secara lebih mendalam hal ini dimaksudkan untuk
menganalisis terhadap adat, tradisi dan budaya pernikahan masyarakat
suku jawa di Sorong. Sedangkan pendekatan Normatif adalah
pendekatan yang mengacu pada nilai-nilai yang bersumber dari
Alquran dan Hadist dalam konsep Fikhi Munakahat, hal ini

1
Prawirohamidjojo, Soetoyo. 2008. Hukum orang dan keluarga. Bandung: Alumni

7
dimaksudkan untuk mengaitkan adat pernikahan masyarakat suku jawa
di Sorong dengan Fikhi Munakahat.
3. Lokasi Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulis mengambil lokasi
penelitian pada masyarakat-masyarakat suku Jawa yang ada disorong
yakni SP 2 dan Km 12
4. Subyek Penelitian
Subyek penelitian merupkan unsur utaama yang dijadikan
sasaran dalam penelitian guna memperoleh data secara kongkrit.
Penulis menggunakan atau mengambil dua sumber didalam penelitian
ini yaitu:
a. Data Primer, data yang diperoleh dari wawancara secara langsung
dengan orang suku jawa yang mengetahui proses pernikahan adat
yang terdapat pada sukunya. Selan itu juga, penulis menggali
informasi dari masyarakat-masyarakat yang telah menikah dengan
prosesi pernikahan adat.
b. Data Sekunder, data yang diperoleh dari sumber-sumber tertulis
yang merupakan hasil laporan dan buku-buku yang ditulis orang
lain tentang konsep Fikhi Munakahat.
5. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang dibutuhkaan dalam penelitian ini,
maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi merupakan proses pengamatan dan pencatatan
secara sistematis mengenai gejala-gejala yang diteliti. Metode ini
penulis gunakan untuk menggali data dengan jalan pengamatan
terhadap prosesi pernikahan adat masyarakat suku jawa di Sorong.
Dalam melakukan observasi dilakukan dengan cara
mengaadakaan pengamataan dan penelitiaan secara langsung di
wilayah km 12 dan SP 2 berdasarkan temuan penulis sumber

8
referensi yang digunakan berupa buku-buku yang berkaitan dengan
Fikhi Munakahat dan Perkawinan Islam.

b. Wawancara
Wawancaara merupakan suatu proses interaksi dan
komunikasi dengan caraa melalui tanya jawab secara langsung.
Dalam proses ini, hasil wawancara ditentukan oleh beberapa
faktor yaitu, pewawancara, responden, topik, situasi wawancara
dan penelitian yang tertuang dalam daftar pertanyaan.

6. Analisis Data
Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan
bekerja melalui mengurutkan data kedalam pola,
mengorganisasikaan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang
dapaat dikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan pola,
menemukan yang penting dan mempelajarinya sehingga dapat
ditemukan tema dan dirumuskan analisis kerja sesuai dengan data
yang diinginkan atau disarankan.
Analisis data yang penulis gunakan dalam menganalisis
penelitiaan ini yaitu analisis kualitatif dengan cara penulis
menjelaskaan data yang diperoleh dari narasumber, Sebagaimana
adanya dan melakukan kajian penafsiran data tersebut sehingga
dapat memperoleh gambaran tentang keterkaitan fikhi munakahat
dengan adat pernikahan suku jawa di Sorong.
Tujuan akhir dari analisis data kualitatif adalah memperoleh
makna, menghasilkan istilah-istilah serta mengembangkan teori
baru. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data
yang tersedia dari berbagai sumber penulis seperti wawancara
pengamatan proses dalam keterkaitan fikhi munakahat dengan adat
pernikahan suku jawa di Sorong, dokumen pribadi, dokumen
resmi, foto dan sebaagainya, kemudian melakukan penyusunan

9
kedalam satuan-satuan dan mengkategorisasikan data tersebut.
Langkah selanjutnya melakukan reduksi data yang dilakukan
dengan jalan membuat abstraksi yaitu suatu usaha untuk
merangkum inti penelitian, proses dan pernyataan-pernyataan yang
perlu dijaga sehingga keseluruhannya tetaap beraada didalamnya
dan padaa tahap terakhir mengadakan pemeriksaan keabsahan data.

10
BAB II

PEMBAHASAN

Tidak semua prosesi pernikahan adat jawa yang dilakukan di jawa


diterapkan oleh masyarakat suku jawa di sorong tergantung lagi kepada
masing-masing masyarakat suku jawa yang ada di sorong terhadap
perhatiannya kepada menjalani prosesi pernikahan dengan adat jawa dalam
artian masyarakat suku jawa di sorong dalam menerapkan prosesi pernikahan
adat jawa berbeda-beda ada yang hanya menyelipkan sedikit saja dan ada juga
yang banyak memakai cara prosesi pernikahan adat jawa, meskipun tidak
sampai yang ada di sorong yang melakukan semua prosesi pernikahan adat
jawa yang seharusnya dengan lengkap seperti di daerah jawa.

A. Adat Pernikahan Masyarakat Suku Jawa di Sorong


Rangkaian acara pernikahan pada adat jawa dalam prosesi besar yaitu
prosesi hajatan dan prosesi panggih.
- Prosesi hajatan adalah sebagai prosesi persiapan dalam menyambut
hari pernikahan dengan harapan seluruh kelurga besar dan calon
pengantin yang akan melaksanakan hajat di jauhkan dari segala
halangan dan seluruh acara berjalan dengan lancar.
- Panggih dalam bahaa jawa berarti bertemu, merupakan budaya
tradisional yang dilaksanakan setelah acara akad nikah. Maknanya agar
pasangan yang baru menikah dapat menjalani kehidupan rumah tangga
mereka denagn bahagia dan sejahtera diiringi restu dari kedua orang
tua serta sanak saudara.
Tahap Pertama, yang di lakukan adalah calon mempelai laki-laki
datang ke rumah calon mempelai perempuan untuk memohon ijin kepada
orang tua si perempuan untuk menikahi anaknya, bila disetujui oleh bapak dari
perempuan tersebut maka calon laki-laki akan datang untuk yang kedua kali
dengan tujuan untuk melamar dengan membawa serta orang tuanya pada hari

11
yang telah disepakati. Namun ada pula yang memakai cara perjodohan,
dimana yang mempertemukan calon kedua mempelai adalah kedua orang tua
dari masing-masing pihak dan mempertemukan anak mereka yang apabila
saling setuju maka dilanjutkan dengan pelamaran.
Pada hari pelamaran, orang tua, mempelai laki-laki dan pihak ketiga
yakni kerabat, mereka berkunjung kerumah orang tua mempelai perempuan
membawa srah-srahan/paningset yang merupakan pemberian dari pihak pria
dapat berupa cincin, perhiasan, makanan tradisional, daun sirih, buah-buahan
atau uang. Dan membicarakan tentang penentuan hari akad nikah dan resepsi
pernikahan yang penentuan hari ini menurut adat masyarakat jawa bertujuan
mencari hari baik untuk pelangsungan acara nikah.
Tahap kedua, yang dilakukan adalah Pertemuan untuk membentuk
panitia pesta pernikahan dengan mengundang sanak saudara, keluarga,
tetangga dan kenalan. Dalam tahap ini perkerjaan yang harus dijalankan oleh
panitia kegiatan, mencakup pembuatan sampai pembagian surat undangan
pernikahan Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia dan
para pelaksananya.2
Tahap ketiga, yakni tahap dimana upacara hajatan sehari sebelum
akad nikah dimana ada pemasangan atribut-atribut dan kegiatan dalam upacara
hajatan yang secara umum di sorong dilakukan 1 hari sebelum hari akad dan
resepsi yakni:
1. Tarub : Kemakmuran dan harapan
kegiatan ini berupa penataan ruang dan pemasangan tenda
di sekitar rumah yang punya hajat untuk dijadikan sebagai tambahan
ruang bagi para tamu maupun para rewang yang membantu jalannya
acara pernikahan. Tarub ini menunjukkan tanda bahwa keluarga
sedang mengadakan acara dan keluarga yang memiliki hajatan
tersebut akan memiliki hak-haknya. Biasanya, keluarga tersebut

2
Wardiono, Subekti. Masyarakat Suku Jawa Di Kawasan Km 12 Masuk, Kelurahan Klawuyuk.
Wawancara. 09 Oktober 2018.

12
akan diberikan jalan, tarub berisi berbagai macam tumbuhan yang
masing-masing memiliki makna, namun yang sering dipakai di
daerah sorong hanya berupa daun kelapa yang masih muda. Tarub
sendiri mempunyai lambang kemakmuran dan harapan bagi keluarga
baru.
2. Kembar Mayang : Makna akan setiap harapan baik untuk
rumah tangga .
Kembar mayang adalah sepasang hiasan dekoratif simbolik
setinggi setengah sampai satu badan manusia yang dilibatkan dalam
upacara perkawinan adat Jawa, Kembar Mayang ini terbuat dari
rangkaian janur, daun, dan ornament –ornamen lainnya dan memiliki
makna-makna yang berbeda. Diantaranya ada ornament yang
berbentuk keris bermakna pengantin harus pandai dan berhati-hati
serta bijaksana dalam menjalani kehidupan. Terdapat juga ornament
burung yang melambangkan motivasi yang tinggi dalam menjalani
hidup.
3. Siraman: Membersihkan diri menjelang “acara” besar.
Sebelum memulai upacara pernikahan pengantin melakukan
siraman dari kata siram (mandi). Hal ini dimaksudkan untuk
membersihkan diri kedua pengantin sebelum menjalankan upacara
yang sacral. Dalam hal ini ada tujuh orang yang akan menyiramkan
air kepada calon pengantin. Tujuh disini dalam bahasa jawa adalam
“ pitu” yaitu artinya pitulungan (pertolongan) kepada calon
pengantin.Nantinya sang ayah mempelai wanitalah yang akan
memyelesaikan ritual siraman kemudian ayah juga akan
mengendong mempelai wanita menuju kamar pengantinnya.
4. Adol dawet :bergotong royong dalam membina rumah tangga
(Prosesi)
Dalam prosesi ini kedua orang tua menyelengarakan acara
menjual dawet sebagai hidangan kepada para tamu undangan yang
telah hadir menyaksikan prosesi yang telah berjalan. Tetapi

13
penjualan dawet ini tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan
kreweng atau pecahan tembikar dari tanah liat sebagai tanda bahwa
pokok kehidupan berasal dari bumi. Di sini sang ibu kan melayani
para pembeli dan sang ayah akan memayungi sang ibu. Artinya
adalah untuk memberikan contoh kepada anak-anaknya dikemudian
hari bahwa mereka harus saling bergotong royong dalam membina
rumah tangga.
5. Potong Tumpeng
Dalam ritual jawa tumpeng identik dengan simbol
kemakmuran dan kesejahteraan karena bentuknya menyerupai
gunung. Prosesi pemotongan tumpeng ini akan dilakukan oleh ayah
dan ibu dengan mengambil bagian puncak tumpeng dan lauk
pauknya.
6. Dulangan pungkasan (suapan terakhir)
Prosesi ini yaitu prosesi suapan terakhir oleh ayah dan ibu
kepada calon pengantin sebagai tanda tanggung jawab terakhir dari
orang tua kepada anaknya yang akan menikah.
7. Rias Manten/merias pengantin
Dimana merias pengantin ini dinamakan paes yaitu
menghilangkan rambut halus yang tumbuh di sekitar dahi agar
tampak bersih dan wajah calon pengantin bercahaya,lalu merias
wajahnya dan pakaian yang di gunakan adalah pakaian adat jawa
yaitu kebaya.
8. Midodareni
Menurut pernikahan adat jawa, Midodareni adalah sebuah
prosesi menjelang acara panggih dan akad nikah. Arti kata
midodareni adalah bidadari, harapan dari ritual malam midodareni
adalah sang pengantin wanita akan terlihat cantik esok harinya Pada
malam ini pengantin wanita akan ditemani oleh seluruh anggota
keluarga dan di beri nasehat-nasehat yang berkaitan dengan
pernikahan.

14
Tahap keempat, adalah akad / ijab qobul , setelah menyelesaikan ijab
qobul maka selanjutnya yaitu upacara panggih dimana mempelai laki-laki
dipertemukan dengan mempelai perempuan dan saling menukar kembar
mayang.
Adapun prosesi pada saat resepsi ketika mempelai laki-laki
dipertemukan dengan mempelai perempuan, yaitu prosesi injak telur dimana
sang pria yang menginjak telur yang kemudian dibersihkan oleh sang
mempelai wanita, Dalam upacara ini, sang pria diharuskan menginjak telur
hingga pecah tanpa menggunakkan alas kaki lalu pengantin perempuan
membasuh kaki pengantin laki-laki yang bermakna untuk selalu patuh dan
menghormati suami.
Selanjutnya, orang tua pihak perempuan mengiring sang mempelai
menuju ke pelaminan atau dalam bahasa jawa disebut dengan iring-iringan,
kemudian setelah duduk di pelaminan terdapat prosesi yang bernama dulang-
dulangan yakni sang mempelai laki-laki menyuapi makanan kepada sang
perempuan begitu sebaliknya, setelah itu sungkeman, para mempelai meminta
restu kepada orang tua, selanjutnya prosesi kucur-kucuran. dimana sang
mempelai laki-laki menjatuhkan biji-bijian kepada sang mempelai perempuan
dan sang mempelai perempuan menadahinya yang bermakna bagaimana
seorang suami dapat bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan
keluarganya dengan memberikan nafkah atau penghasilannya kepada istri
seorang suami harus pandai menafkahi istri serta anak-anaknya kelak.
Selain prosesi itu terdapat janur kuning yang merupakan gerbang
untuk memasuki resepsi pernikahan. Janur “jalarane nur” yang maknanya agar
pernikahan tersebut mendapatkan cahaya atau pencerahan untuk rumah tangga
yang baru, janur kuning juga dimaksudkan untk menandai adanya acara dan
menyingkirkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Setelah prosesi panggih
sebagiamana yang dijelaskan diatas lalu ada acara campur sari, yaitu dari
berbagai alat music dimainkan dan dengan melantunkan nyanyian jawa,

15
namun yang lebih sering di lakukan di sorong adalah sekedar memutarnya
melalui speaker.
Tahap kelima, setelah semua prosesi di rumah mempelai perempuan
selesai, terkadang ada juga yang memakai acara ngunduh mantu, ngunduh
mantu berasal dari bahasa jawa yakni ngunduh dan mantu, ngunduh berarti
mendapatkan dan mantu berarti menentu jadi arti dari ngunduh mantu adalah
mendapatkan menantu, biasanya di lakukan tak berapa lama seusai pesta
pernikahan sehari atau dua hari setelahnya, akan tetapi bisa lebih lama lagi.3

B. Keterkaitan Adat Pernikahan Suku Jawa Di Sorong Dengan Konsep


Fikhi Munakahat

1. Pada Tahap Pertama

Kesesuaian prosesi adat pernikahan suku jawa di sorong dengan


konsep fikhi munakahat pada tahap pertama seperti yang telah dijelaskan
di atas adalah dimana pada tahapan yang memakai cara perjodohan, maka
dapat di samakan dengan konsep fiqh munakahat yaitu tahapan nazhor,
yaitu dipertemukannya kedua calon mempelai yang sebelumnya belum
saling mengenal, dan disunnahkan melihat wajah wanita tersebut, tetapi
yang disepakati para ulama yang boleh dilihat adalah muka dan kedua
telapan tangannya dengan bermaksud untuk menikahinya.4. Sementara
konsep yang satunya apabila kedua calon mempelai sudah saling mengenal
sebelumnya dan sudah sama-sama saling suka, maka apabila cara yang
seperti ini bila dikaitkan dengan konsep fiqh munakahat akan lebih sesuai
dengan khitbah yaitu meminta seorang wanita untuk dijadikan istri,

3
Anjarwati, Neneng, Mahasiswa STAIN Sorong, Prodi Akhwalulsyakhsiyah, Wawancara. 15
Oktober 2018
4
Abdul Qadir Jawas, yazid bin, 2017. Panduan keluarga sakinah. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i,
Penebar Sunnah

16
Begitu pula proses selanjutnya yang masih dalam tahap pertama
yaitu pelamaran dengan membawa serta serah-serahan/paningset dari
pihak pria maka hal ini sama saja pula dengan tahapan khitbah, khitbah
artinya melamar seorang wanita untuk dinikahi, melamar bukanlah syarat
sah pernikahan namun ia merupakan sarana menuju pernikahan,
berdasarkan dalil, diriwayatkan dari Urwah Bin Az-Zubair RA, dia berkata
:“Bahwa Nabi SAW telah mengkhitbah ‘Aisyah RA melalui Abu Bakar
Ash-Shiddiq RA…” (HR. Bukhari)5

Namun dalam adat jawa ada penambahan pembawaan srah-


srahan yang bila srah-srahan ini dapat memberatkan pihak laki-laki, namun
kembali lagi kepada kemampuan pihak laki-laki apabila mampu dan tidak
memberatkan maka hukumnya dapat menjadi boleh, sebaliknya apabila
pihak laki-laki tidak mampu dan dapat memberatkan serta diharuskan
membawa nya, maka otomatis dapat di qiyaskan bertentangan dengan
sabda nabi yang menyatakan sebaik-baik mahar adalah yang tidak
memberatkan pihak laki-laki.

Selain itu ada pula pembicaraan penentuan hari pelaksanaanya


yang biasa ada penganggapan hari baik berdasarkan perhitungan jawa
untuk menentukan waktu kapan pelaksanaan pernikahannya, maka hal
seperti ini tidak ada tuntunannya dalam syariat, kita tidak boleh
menghukumi ada hari sial atau hari baik, karena dalam islam semua hari
itu baik, maka pernikahan dapat dilakukan kapan saja, adapula bulan yang
dianjurkan untuk melakukan pernikahan sesuai syariat menurut sebagian
ulama yaitu bulan syawal. sementara itu berkeyakinan sial tersebut
merupakan tathayur yang tathayur ini termasuk dalam kesyirikan.6

5
Pdf. Kitab Munakahat, hal 755
6
Nur Baits, Ammi, Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh Dan Ushul Fiqh,
Website Konsultasi Syariah.com

17
2. Pada Tahap Kedua

keterkaitan konsep fiqh munakahat dengan prosesi adat pernikahan


suku jawa di sorong pada tahap kedua disini seperti yang telah dijelaskan di
atas yaitu mencakupi pembentukan panitia penyebaran undangan dsb, hal ini
tidak ada pembahasannya pada fiqh munakahat namun pada hal ini bila dikaji
dengan konsep syariah maka berlaku kaidah segala hal dalam lingkup
muamalah hukumnya boleh sampai ada dalil yang melarangnya, maka
pembentukan panitia dsb ini termasuk muamalah dan dibolehkan selama tidak
menyalahi ketentuan syariat, dan satu lagi anjuran dalam syariat mengenai
pembagian undangan yaitu agar tidak hanya mengundang orang kaya
sedangkan kaum fakir dibiarkan hal ini berdasarkan sabda nabi yang
diriwayatkan dari Abu Sa’id ia mendengar Rasulullah Sallalahu Alaihi
Wasallam bersabda yang artinya:

“sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah (yang) diundang


hanya orang-orang yang kaya (saja), (sementara) orang-orang miskin
ditinggalkan (tidak diundang).7

3. Pada Tahap Ketiga

pada tahap ketiga disini merupakan prosesi hajatan yang sebenarnya


prosesi hajatan ini tidak masuk dalam pembahasan fiqh munakahat secara
khusus, dan masuk dalam pembahasan muamalah, yang dibolehkan selama
tidak melanggar ketetuan syariat, namun ada beberapa poin dalam prosesi
hajatan ini yang perlu di jadikan catatan diantaranya yaitu:

A. Pada hajatan yang mengandung makna pada simbol akan suatu


kebaikan, seperti tarub, kembar mayang, siraman dst. Maka dalam
hal ini pula bisa dapat ada unsur kesyirikan di dalamnya karena

7
Pdf Fiqh Munakahat. Hal 791

18
menafikan suatu kebaikan pada prosesi atau benda yang sejatinya
tidak dapat mendatangkan manfaat seperti yang dimaksud.8
B. Pada prosesi rias manten terutama untuk calon pengantin wanita
yang dinamakan dengan paes yaitu dengan menampakan aurat si
calon mempelai wanita pada bagian rambut, maka sudah jelas hal
ini tidak sesuai dengan konsep syariat yang memerintahkan untuk
menutupi aurat, selain itu juga pada busana adat jawa yang
dikenakan yang tidak syar’i.

4. Pada Tahap Keempat


Yaitu prosesi akad dan tentunya prosesi akad disini sejalan
dengan konsep fiqh munakat dan memenuhi syarat sahnya, hanya saja
apabila dalam konsep fiqh munakahat ada adab-adab yang perlu
diterapkan diantaranya dinjurkannya adanya khutbatul hajah sebelum akad
nikah, hendaknya pengantin wanita tidak ikut dalam majlis akad nikah,
hindari bermesraan di tempat umum, dianjurkan untuk menyebutkan
mahar ketika akad nikah, dan dianjurkan bagi siapapun yang hadir ketika
peristiwa itu untuk mendoakan pengantin9 yang adab-adab tersebut sering
dilupakan dalam prosesi pernikahan adat jawa di sorong ataupun secara
umum. setelah akad yaitu saling menukar kembar mayang yang
penjelasannya sama dengan pada tahapan ketiga poin A.

8
https://almanhaj.or.id/2643-pandangan-islam-terhadap-kebudayaan.html
9
Nur Baits, Ammi, Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh Dan Ushul Fiqh,
Website Konsultasi Syariah.com

19
5. Pada Tahap Keempat Prosesi Panggih
Prosesi panggih ini dalam konsep konsep fiqh munakahat
dinamakan dengan walimatul ursy yaitu berarti jamuan yang khusus untuk
perkawinan dan tidak digunakan untuk perhelatan diluar perkawinan10
namun terdapat banyak perbedaan atau penambahan prosesi seperti injak
telur hingga pecah jelas bahwa itu termasuk perbuatan mubazir dan
mubazir dilarang dalam islam.
Selain itu terdapat janur kuning yang bermakna agar pernikahan
tersebut mendapatkan cahaya atau pencerahan untuk rumah tangga yang
baru, janur kuning juga dimaksudkan untk menandai adanya acara dan
menyingkirkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi maka hal ini juga
merupakan tathayur.
Setelah upacara panggih maka akan ada campur sari namun
campur sari dilarang dalam syariat karena mengandung musik sementara
itu dalam konsep fiqh munakahat yang dibolehkan adalah rebana/duff
sebagaimana pada hadis yang artinya: “Nabi Sallalahu Alaihi Wasallam
datang ketika acara pernikahanku. beliau duduk di atas tempat tidurku
seperti duduknya engkau (Khalid bin dzakwaan) dariku. Datanglah
beberapa anak perempuan yang memainkan/memukul duff.
Selain itu pada prosesi resepsi yang secara umum dan bukan
termasuk dalam adat jawa namun dilakukan oleh masyarakat jawa di
sorong, ada pula yang menyalahi ketentuan syariat seperti adanya ikhtilat
(percampuran), meninggalkan atau menunda sholat, bersalaman dengan
yang bukan mahrom.

10
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia Antara Fiqh Munakahat Dan Undang-
Undang Perkawinan, Jakarta: Prenada Media, 2006, Hlm. 155.

20
6. Pada Tahap Kelima

Yaitu setelah prosesi di rumah mempelai wanita selesai maka


yang selanjutnya adalah ngunduh mantu dan hal ini tidak ada dalam
konsep fiqh munakahat, dan termasuk perbuatan isrof adalah menyalurkan
sesuatu yang layak melebihi kadarnya.11 Yaitu dengan menambahkan
pelangsungan acara di pihak laki-laki tentunya hal ini merupakan sesuatu
yang berlebihan dalam agama.

11
Abduh Tuasikal, Muhammad, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul,
Artikel Rumasyo.com

21
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN

Prosesi pernikahan adat jawa di sorong dimana setiap keluarga yang akan
melansungkannya, mereka berbeda beda dalam prosesi pernikahan adat jawa yang
akan di terapkan, ada yang menerapkan sedikit saja atau ada juga yang
menerapkan banyak namun tidak sampai selengkap seperti yang dilakukukan di
daerah jawa, hal ini tergantung pada perhatian mereka terhadap adat, dan dari
berbagai macam prosesi pernikahan adat jawa tersebut ada yang memiliki
kesamaan dengan konsep fikhi munakahat dan banyak pula yang tidak sesuai
dengan konsep fikhi munakahat, dan secara garis besar prosesi pernikahan adat
jawa bila dibandingkan dengan konsep fikhi munakahat maka banyak prosesi-
prosesi unik yang tidak ada ketentuannya dalam lingkup fikhi munakahat, karena
apabila yang di dalam konsep pernikahan fikhi munakahat adalah memakai
prinsip kesederhanaan dan memudahkan sebaliknya yang ada pada konsep
pernikahan adat jawa.

B. SARAN

Nilai kebudayaan masyarakat Indonesia terutama pada suku jawa sangat


kental begitu pula pada adat pernikahannya, maka perlulah kita selektif dalam
melihat adat atau tradisi tersebut apakah sesuai dengan konsep islami serta tidak
bertentangan dengan syariat atau malah sebaliknya, karena sepatutnya kita
mendahulukan agama dibanding adat, apabila ada adat yang meragukan
bertentangan dengan syariat agama agar sebaiknya dihindari.

22
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohamidjojo, Soetoyo. 2008. Hukum orang dan keluarga. Bandung: Alumni


Wardiono,Subekti. Masyarakat Suku Jawa Di Kawasan Km 12 Masuk, Kelurahan
Klawuyuk.
Anjarwati, Neneng, Mahasiswa STAIN Sorong, Prodi Akhwalulsyakhsiyah,
Abdul Qadir Jawas, yazid bin, 2017. Panduan keluarga sakinah. Jakarta: Pustaka Imam
Syafi’i, Penebar Sunnah
Nur Baits, Ammi, Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh Dan Ushul
Fiqh, Website Konsultasi Syariah.com
Abduh Tuasikal, Muhammad, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang,
Gunungkidul, Artikel Rumasyo.com
Pdf Fiqh Munakahat

https://almanhaj.or.id/2643-pandangan-islam-terhadap-kebudayaan.html

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia Antara Fiqh Munakahat Dan
Undang-Undang Perkawinan, Jakarta: Prenada Media, 2006,

23