Вы находитесь на странице: 1из 7

MAKALAH

KULTUR PAKAN ALAMI

Tetraselmis sp.

NAMA : MIFTAHUL JANNAH

NIM : L22116509

KELAS : KPA (A)

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan usaha budidaya ikan di Indonesia ini semakin menjanjikan dan


banyak diminati. Salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan usaha budidaya ikan
adalah ketersediaan pakan, dimana penyediaan pakan merupakan faktor penting di
samping penyediaan induk. Pemberian pakan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup
akan memperkecil persentase larva yang mati. Jenis pakan yang dapat diberikan pada
ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan pakan
yang sudah tersedia di alam, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang diramu dari
beberapa macam bahan yang kemudian diolah menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang
dikehendaki.

Pada tahapan larva, organisme budidaya membutuhkan pakan alami sesuai


dengan kebutuhannya. Salah satu pakan alami yang banyak dimanfaatkan yaitu
fitoplankton. Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil
mampu melaksanakan reaksi fotosintesis dengan memanfaatkan air, karbondioksida, zat
hara dan sinar matahari sehingga menghasilkan senyawa organik. Fitoplankton memberi
kontribusi yang besar terhadap produktivitas primer di lautan. Dimana produktivitas
primer suatu perairan dapat ditentukan oleh tingkat kelimpahan klorofil di perairan
tersebut (Romimohtarto dan Sri Juwana, 2004). Salah satu kelas fitoplankton yang sangat
penting di perairan adalah Chlorophyceae (Padang dkk, 2015).

Tetraselmis sp merupakan jenis dari kelas Clorophyceae yang digunakan


sebagai pakan larva ikan dan non ikan. Mikroalga Tetraselmis sp. merupakan salah satu
mikroalga yang mudah dibudidayakan dan memiliki nilai gizi tinggi yaitu, kandungan
protein 74%, lemak 4%, dan karbohidrat sebanyak 21% Redjeki dan Asmin (1993) dalam
Dauri (2004). Tingginya kandungan protein tersebut menjadikan Tetraselmis sp. sebagai
pakan alami yang potensial bagi Artemia, tiram, remis, kerang dan karang (Ronquillo-
Jesse et al., 1997) dalam da Costa et al., 2004. Tetraselmis sp. juga dapat dimanfaatkan
sebagai pakan dalam kultur rotifera (Makridis et al, 2006). Tetraselmis sp. memiliki
dinding sel yang tipis dan enzim autolisis sehingga mudah dicerna oleh larva ikan dan
udang (Pantastico, 1989; Rostini, 2007 dalam Sutomo 2005).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dianggap perlu membuat makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Klasifikasi Tetraselmis sp.


Arif (2014) mengklasifikasi Tetraselmis sebagai berikut :
Empire : Eukaryota
Kingdom : Plantae
Phylum : Chlorophyta
Class : Chlorodendrophyceae
Order : Chlorodendrales
Family : Chlorodendraceae
Genus : Tetraselmis
Species : Tetraselmis sp.

B. Morfologi Tetraselmis sp.

Gambar 1. Morfologi Tetraselmis sp. (Bougis, 1979).

Chlorodendrophyceae adalah kelas kecil ganggang hijau, yang terdiri dari genera
Tetraselmis dan Scherffelia (Arora et al., 2013). Menurut Arif (2014), Tetraselmis sp.
merupakan mikroalga yang dikenal dengan istilah flagellata berklorofil. Tetraselmis sp.
merupakan alga bersel tunggal dan mempunyai empat buah flagel berwarna hijau (green
flagella). Flagella pada Tetraselmis sp. dapat bergerak secara lincah dan cepat seperti
hewan bersel tunggal. Ukuran Tetraselmis sp. berkisar antara tujuh hingga dua belas
mikron. Klorofil merupakan pigmen yang dominan sehingga alga ini berwarna hijau yang
dipenuhi plastida kloroplas. Pigmen klorofil Tetraselmis sp. terdiri dari dua macam yaitu
karotin dan xantofil. Inti sel jelas dan berukuran kecil serta dinding sel mengandung
bahan selulosa dan pektosa (Thenu, 2018).
Chlorella sp merupakan organisme bersel satu. Selnya berdiri sendiri dengan
berbentuk bulat atau bulat telur dengan diameter 3 – 8 mikron, memiliki khloroplas
berbentuk seperti cawan dan dindingnya keras. Warnanya hijau cerah, hidup dipermukaan
air tawar, namun ada juga yang hidup di air asin (Afandi, 2003). Chlorella sp dapat
bergerak tetapi sangat lambat sehingga pada pengamatan seakan – akan tidak bergerak.
Alga ini dapat tumbuh pada salinitas 0 – 35 ppt. Alga ini masih dapat bertahan hidup pada
suhu 40 oC, tetapi tidak tumbuh. Kisaran suhu 25 – 30oC merupakan kisaran suhu yang
optimal untuk pertumbuhan alga ini (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995 dalam Apriliyanti
dkk, 2016).

C. Reproduksi
Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) Tetraselmis sp. bereproduksi melalui dua
cara yaitu reproduksi aseksual dengan cara pembelahan biner dalam bentuk zoospora
kemudian terjadi proses pelengkapan dengan empat buah flagel dan terlepas dalam
bentuk zigospora kemudian dengan reproduksi seksual melalui isogami atau meleburnya
gamet jantan dan betina yang memiliki ukuran yang sama.

Gambar 2. Proses pembelahan sel (Campbell dkk, 2008).

D. Kultur Tetraselmis sp.

Chlorella sp adalah fitoplankton yang sering dijumpai di perairan umum,baik itu


perairan tawar maupun perairan laut (Wigajatri R.P, dkk 2003). Karena tidak beracun,
namun memiliki nilai gizi yang tinggi, Chlorella sp merupakan salah satu mikroalga
yang sering dibudidayakan untuk berbagai keperluan seperti obat-obatan, kosmetik, atau
untuk alternatif biodiesel. Sifat kosmopolitan Chlorella sp mampu hidup di mana-mana
kecuali di tempat yang sangat penting bagi kehidupan. Pertumbuhan Chlorella sp yang
dikultur sangat ditentukan oleh ketersediaan nutrien (unsur hara) dan kondisi lingkungan
(Sylvester et al. 2002). Faktor pembatas dalam budidaya Chlorella sp adalah nitrat dan
fosfat. Beberapa manfaat Chlorella sp diantaranya: (1) berkembangbiak dengan cepat
pada kondisi tumbuhnya, (2) mudah dalam membudidayakan, (3) menghasilkan oksigen
melalui proses fotosintesis, dan (4) mengandung protein yang tinggi dengan komponen
utama asam amino (Nakayama, 1992 dalam Arifin, F, 2012). Selain nutrien dan kondisi
lingkungan yang sesuai dengan Chlorella sp, inokulum juga merupakan faktor yang
sangat penting di dalam kultur Chlorella spp karena kultur tidak mungkin dilaksanakan
tanpa adanya inokulum (Sapta et al. 2002 dalam Apriliyanti dkk, 2016).
Chlorella sp merupakan suatu agen bioremediasi yang baik, selain dapat hidup
pada lingkungan yang tercemar juga dapat memakai logam berat sebagai logam esensial
untuk metabolisme. Banyaknya manfaat yang akan dapat diambil apabila dapat
mengembangkan Chlorella sp pada skala masal.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca
tentang kultur pakan alami khususnya Tetraselmis sp,. Saran dan kritikan yang
membangun sangat dibutuhkan demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Apriliyanti, S, Tria R.S.,Dan Bambang Y. 2016. Hubungan Kemelimpahan Chlorella Sp


Dengan Kualitas Lingkungan Perairan Pada Skala Semi Masal Di Bbbpbap Jepara.
Jurnal Ilmu Lingkungan 14(2): 77-81.

Arif, D. 2014. Diktat Teknologi Pakan Ikan. Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri
Waheru Ambon. Ambon.

Bougis, P. 1979. Marine Plankton Ecology. American Elsevier Publishing Company. New
York.

Padang, A., Sinta L.D., Dan Tahir T. Pertumbuhan Fitoplankton Tetraselmis Sp Di Wadah
Terkontrol Dengan Perlakuan Cahaya Lampu Tl. Jurnal Ilmiah Agribisnis Dan
Perikanan (Agrikan Ummu-Ternate) 8(1).

Sutomo. 2005. Kultur Tiga Jenis Mikroalaga (Tetraselmis Sp, Chlorella Sp, Dan Chaetoceros
Gracilis) Dan Pengaruh Kepadatan Awal Terhadap Pertumbuhan C. Gracilis Di
Laboratorium. Oseanologi Dan Limnologi Di Indonesia 37:43- 58

Thenu, N.W. 2018. Penggunaan Morfometrik Fitoplankton (Tetraselmis Sp.) Sebagai


Biomarker Pencemaran Logam Timbel (Pb). Makassar: Universitas Hasanuddin.