You are on page 1of 42

KEANEKARAGAMAN MAKROALGA DAN MIKROALGA DI KOTA

MALANG SEBAGAI SUMBER BELAJAR MAHASISWA BIOLOGI


UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Alfian Ramadana1, Bella Ayu Ratnasari2, Firnindia Putri*3, Mahdiyani Nur4,


Muhammad Nur Wais5
S1 Pendidikan Biologi
Universitas Negeri Malang
Jalan Semarang No. 5, Malang 65145
firnindiapanda@gmail.com

Abstrak: Makroalga dan mikroalga merupakan biota penting


sebagai salah satu komponen utama penyusun ekosistem
pesisir juga ikut berperan dalam menjaga keseimbangan
ekosistem. Alga bernilai ekonomis dan memiliki tingkat
kegunaan yang tinggi karena komoditas alga laut dapat
bermanfaat bagi manusia maupun lingkungan perairan
sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atau
mengidentifikasi keberagaman mikroalga dan makroalga yang
terdapat di Kota Malang agar dapat digunakan sebagai sumber
pembelajaran materi protista bagi mahasiswa Universitas
Negeri Malang, serta mengelompokkan mikroalga dan
makroalga menggunakan kunci dikotom. Malang memiliki
keanekaragaman baik mikroalga maupun makroalga yang
cukup tinggi dan berpotensi sebagai lokasi penelitian studi
keanekaragaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif eksploratif dengan objek penelitian
berupa spesimen makroalga. Hasil dari penelitian ini
ditemukan mikroalga dari divisi chlorophyta sebanyak 20
genus, sedangkan dari divisi bacillariophyta ditemukan 3
genus, Cianophyta sebanyak 4 genus, Crysophya 2 genus,
Excavata 2 genus, dan Charohyta 2 genus. Pada makroalga
banyak ditemukan adalah Rhodophyta, terdapat 7 genus
makroalga, divisi Chlorophyta ditemukan hanya berjumlah 3
genus makroalga, dan devisi Phaeophyta ditemukan hanya
berjumlah 4 genus makroalga.
Kata kunci : keberagaman, mikroalga, makroalga, sumber
pembelajaran, kunci dikotom
Keanekaragaman merupakan jumlah total spesies dalam suatu area
tertentu atau diartikan juga sebagai jumlah spesies yang terdapat dalam suatu
area antar jumlah total individu dari spesies yang ada dalam suatu komunitas
(Michael,11 1984, h.57). Menurut (Campbell, 2010, h.385) keanekaragaman
spesies merupakan suatu karakteristik ekologi yang dapat diukur dan khas
untuk organisasi ekologi pada tingkat komunitas. Berdasarkan uraian diatas
dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman merupakan macam spesies yang
terdapat pada suatu daerah yang ada dalam suatu komunitas. Keberagaman ini
dapat dijadikan sebagai alternatif sumber pembelajaran pada materi protista
mirip tumbuhan.
Menurut Basmi (dalam Fachrul, 2007) indeks keanekaragaman yang
tinggi menunjukkan stabilitas komunitas dalam kondisi prima (stabil) atau
kualitas air bersih sedangkan keanekaragaman yang rendah mengindikasikan
bahwa kualitas biota tidak stabil atau telah mengalami pencemaran.
Berdasarkan ukurannya, alga digolongkan dalam dua kelompok utama
yaitu mikroalga dan makroalga. Mikroalga adalah mikroorganisme aquatik
fotositetik berukuran mikroskopis, yang dapat ditemukan di dalam air tawar dan
air laut, dan termasuk ke dalam jenis makhluk hidup fotoautotrof (Winahyu,
2013:93). Mikroalgae terdiri dari divisi chrysophyta (diatom), chlrorophyta dan
cyanophyta. Alga berperan sebagai salah satu parameter ekologi yang dapat
memberikan gambaran keadaan perairan dan termasuk komponen biotik
penting dalam metabolisme badan air, karena merupakan mata rantai primer di
dalam rantai makanan ekosistem perairan (Samudra et.al, 2012:7). Makroalga
berbeda dengan mikroalga karena memiliki ukuran yang lebih besar dan dapat
dilihat oleh mata telanjang tanpa bantuan alat seperti mikroskop. Makroalga
dibagi dalam tiga kelompok utama yaitu alga coklat (Phaeophyta), alga hijau
(Chlorophyta), dan alga merah (Rhodophyta). Kelompok ini memiliki klorofil
dengan karakter warna yang berbeda (Mouritsen, 2013).
Makroalga memiliki banyak manfaat dalam segala bidang. Dari segi
ekologis, makroalga memiliki peranan penting sebagai penyuplai bahan orga
nik utama di perairan dan menjaga kekokohan karang. Secara ekonomis
makroalga dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan obat - obatan.
Beberapa makroalga dimanfaatkan sebagai sumber vitamin dan diketahui
memiliki komponen yang dapat digunakan untuk mengobati masalah
pencernaan dan beberapa penyakit lainnya (Kim, 2012). Beberapa jenis
makroalga justru memiliki dampak buruk jika dimakan karena bersifat racun,
seperti Caulerpa spp dan Turbinaria ornata (Reine dan Trono Jr, 2002). Selain
sebagai sumber makanan dan obat- obatan beberapa makroalga dimanfaatkan
sebagai sumber energi baru, misalnya sebagai bahan pembuatan biodiesel,
biobutanol, dan biogasoline (Pooja, 2010).
Selain mengidentifikasi penelitian ini juga bertujuan untuk
mengelompokkan mikroalga dan makroalga sesuai kunci dikotomnya. Menurut
Rifai (1976), berdasarkan cara penyusunan sifat-sifat yang harus dipilih maka
dikenal tiga macam kunci determinasi, yaitu kunci perbandingan, kunci analisis
dan sinopsis, yang akan dibahas di sini adalah kunci analisis. Kunci analisis
merupakan kunci yang paling umum digunakan dalam pustaka. Kunci ini sering
juga disebut kunci dikotomi sebab terdiri atas sederetan bait atau kuplet. Setiap
bait terdiri atas dua (atau adakalanya beberapa) baris yang disebut penuntun dan
berisi ciri-ciri yang bertentangan satu sama lain, untuk memudahkan pemakaian
dan pengacuan, maka setiap bait diberi bernomor, sedangkan penuntunnya
ditandai dengan huruf. Pemakaian kunci analisis harus mengikuti bait-bait
secara bertahap sesuai dengan yang ditentukan oleh penuntun dengan
mempertentangkan ciri-ciri yang tercantum dalam penuntun-penuntun itu
akhirnya hanya akan tinggal satu kemungkinan dan kita dituntun langsung pada
nama takson yang dicari.
Sumber belajar adalah semua jenis sumber yang ada di sekitar kita yang
memungkinkan kemudahan terjadinya proses belajar (Asyhar, 2012).
Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar tidak banyak mengalami
kesulitan, mengingat biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang makhluk
hidup yang obyek dan persoalannya banyak terjadi di lingkungan alam sekitar (
Afriyani ,2005). Dalam pembelajaran protista mirip tumbuhan lingkungan
menjadi laboratorium alam yang berperan penting untuk menunjang mahasiswa
mendapatkan sumber untuk belajar.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang
identifikasi mikroalga dan makroalga di kawasan Malang agar dapat
dimanfaatkan sebagai alternatif sumber belajar mahasiswa pada pokok bahasan
materi protista. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan
mengidentifikasi keanekaragaman jenis mikroalga dan makroalga di sekitar
Malang sebagai sumber belajar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
sumber informasi untuk melakukan pemanfaatan dan pelestarian makroalga
atau mikroalga serta menambah informasi dan dasar untuk penelitian
selanjutnya.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan


metode diskriptif eksploratif

Waktu dan tempat penelitian


Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret 2018. Lokasi pengambilan
sampel di perairan acak sekitar Malang

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air kolam,
herbarium makroalga, gelas preparat, gelas penutup, baskom kecil, kaca
pembesar, dan mikroskop.
HASIL DAN ANALISIS DATA

Mikroalgae

Berdasarkan pengamatan mikro alaga di Malang ditemukan enam Divisi


mikroalga, yaitu Bacillariophyta, Chlorophyta, Cyanophyta, Crysophyta,
Excavata, Charophyta . Divisi mikroalga yang paling banyak ditemukan adalah
Chloropyta, terdapat 20 genus mikroalga, Bacillariophyta ditemukan hanya
berjumlah tiga genus mikroalga, Cyanophyta terdapat empat genus mikroalga,
Crysophyta terdapat dua genus mikroalga, Excavata terdapat dua genus
mikroalga, dan Charophyta terdapat dua genus mikroalga. Genus yang temasuk
kedalam divisi Chlorophyta ada 20 genus mikroalga, yaitu Ulothrix, Chlorella,
Actinastrum, Chlorococcum, Aphanothece, Netrium, Closterium, Pediastrum,
Chartophora, Cylindrocytis, Cladophora, Stigeodonium, Scenedesmus,
Mougeotia, Crucigenia, Selenastrum, Dicthyosphaerium, Characium,
Batrycoccus, Tetrastum. Sedangkan, genus yang termasuk kedalam divisi
Bacillariophyta adalah Cymbella, Gomphonema, Navicula. Genus yang
termasuk kedalam divisi Cyanophyta adalah Gleocpsa, Spirulina, Aphanizome,
Oscillateria. Genus yang termasuk kedalam divisi Crysophyta adalah
Naviculla, Tribonema. Genus yang termasuk kedalam divisi Excavata adalah
Tetracelomonas, Pacus. Genus yang termasuk kedalam divisi Charophyta
adalah Cosmarium,Onychonyma.
NO DIVISI NAMA GAMBAR ANALISIS DATA
GENUS
1 Chloroph Ulthorix sp. • Sel sel nya berkoloni
yta berupa benang
• Kloroplas berbentuk
pipa
• Sel sel nya tersusun
memanjang seperti
benang dan berbentuk
Perbesaran (40 x 10) silindris
Ditemukan di Aquarium
pribadi Sawojajar, Kolam
rektorat Universitas Negeri
Malang.
Chlorella Sp. • Bersel tunggal
• Berbentuk bola
• Kloroplas berbentuk
mangkuk
• Berwarna hijau
Ditemukan di Aquarium
pribadi Sawojajar, Kolam
trapesium Universitas Negeri
Malang, Kolam Universitas
Perbesaran (40 x 10) Brawijaya, Kolam rektorat
Universitas Negeri Malang,
Kolam lele Donomulyo,
Kolam SD 2 Malang.

Chlorococcum • Bentuk bulat telur


• Tiap sel memiliki satu
kloroplas berbentuk
mangkuk
• Umumnya berbentuk
kokus dan dalam koloni
berbentuk speris
• Ditemukan di air tawar
Ditemukan di Kolam ikan patin
Perbesaran (40 x 10) Donomulyo, Kolam SD 2
Malang
Aphanothece • Bebentuk ellipsoid
• Hidup berkoloni
• uniselular
Ditemukan di Kolam ikan patin
Donomulyo, Kolam rektorat
Universitas Negeri Malang.

Perbesaran (40 x 10)


Netrium • Dinding sel jelas
terlihat, tidak dibagi
dua bagian tanpa liang
• sel tunggal sendirian,
pendek dan kebanyakan
tidak cerutan.
• Dua kloroplas disetiap
sel, kloroplas memiliki
Perbesaran (40 x 10) rabung serat yang
memanjang, uniselular,
umumnya koloni
filament panjang.
Ditemukan Kolam ikan patin
Donomulyo.
Closterium • Berbentuk ellipsoid
yang ujungnya agak
runcing
• Memiliki kloroplas
Ditemukan di Kolam ikan
patin Donomulyo, Kolam
trapesium Universitas Negeri
Malang, Kolam pribadi
Lesanpuro
Perbesaran (40 x 10)
Pediastrum • Sel muda memiliki
kloroplas parietal
bentuk cakram dengan
satu pirenoid
• Sel dan koloni tanpa
selubung gelatin yang
mencolok
• Sel membentuk seperti
piring datar yang
melingkar
• Sel tubuh dalam bentuk
organel, dengan tanduk
menyerupai tonjolan
Perbesaran (40 x 10)
Ditemukan di Kolam ikan patin
Donomulyo, Kolam rektorat
Universitas Negeri Malang,
Kolam pribadi Lesanpuro,
Kolam lele Donomulyo.

Chartophora • Memiliki nanyak


fili/duri
• Bentuk tubuh bulat
• Memiliki klorofil
(autotrof)
• Sel berinti satu
• Terdiri atas benang-
benang
• Merayap dan tubuh
bersifat heterotrik
Ditemukan Kolam ikan patin
Donomulyo.
Perbesaran (40 x 10)
Cylindrocytis • Hidup berkoloni
• Uniselular
• Mengandung klorofil
• Sel tersusun atas dua
semisel yang sam persis
• Dinding sel terdiri dari
dua lapis yang dilapisi
lendir
Ditemukan di Kolam ikan patin
Donomulyo

Perbesaran (40 x 10)


Cladhophora • Tumbuh pada batu
dan kayu yang
terendam (umum)
• Ganggang ini bersifar
kering dan tidak
berlendir (umum)
• Sel-selnya berinti
banyak, bercabang
(filament)
• Kloropas berbentuk
Perbesaran (40 x 10) jala dengan pirenoid-
pirenoid membentuk
koloni
• Ditemukan di dalam
air tawar yang
mengalir atau dalam
air laut
• Berkembangbiak
secara vegetatif
dengan zoospora dan
generatif dengan
isogami.
Ditemukan di Kolam
trapesium Universitas Negeri
Malang.
Stigeodonium  Pada bagian tengah
terdapat kloroplas
 Sel seperti Ulothrix
 Berbentuk filamen
 Ditemukan di Kolam
trapesium Universitas
Negeri Malang.

Perbesaran (40 x 10)


Scenedesmus • Berwarna hijau terang
• kosmopolitan (air
tawar, payau, asin.
• Terdapat yang unisel,
koloni dan filamen.
• Pigmen yang dimiliki:
klorofil a,b, karoten
Perbesaran (40 x 10) (ֶα,β,γ) dan beberapa
xantofil
• Dinding sel terbuat dari
selulosa atau polimer
xylosa atau mannosa
atau hemiselulosa.
• Sebagian anggota
memiliki flagel -à dapat
bergerak sedikit
• bentuk flagel isokontae
• jumlah dan letak sangat
bervariasi (apikal,
subapikal, lateral).
Ditemukan di Kolam trapesium
Universitas Negeri Malang,
Kolam Universitas Brawijaya.
Mougeotia sp. • Bentuknya memanjang
• Memiliki inti sel
• Memiliki dinding sel
• Terdapat pirenoid
• Ditemukan di air
Ditemukan Kolam trapesium
Universitas Negeri Malang,
Kolam rektorat Universitas
Perbesaran (40 x 10) Negeri Malang.
Actinastrum • Uniseluler
hantzschii • Koloni berbentuk
bintang (8)
• Koloni berbentuk
cerutu
• Berwarna hijau
• Ditemukan di sungai
atau danau
Ditemukan di Kolam ikan patin
Donomulyo, Kolam trapesium
Universitas Negeri Malang,
Kolam Universitas Brawijaya,
Kolam lele Donomulyo,Kolam
SD 2 Malang

Perbesaran (40 x 10)


Crucigenia • Terdiri dari sel-sel kecil
rectangularis • Sel-sel tersebut
biasanya tergabung
menjadi koloni besar
awalnya berbentuk
bulat, kemudian tak
teratur.
• Protoplasnya adalah
biru-hijau terang
• Tampak gelap atau
coklat karena efek
optik vesikel yang terisi
oleh gas
Perbesaran (40 x 10) Ditemukan di kolam
Universitas Brawijaya
Selenastrum • Hidup berkoloni dari
gracile 4,8, atau 16 sel.
• Tubuh berbentuk sabit,
meruncing dibagian
kedua ujungnya.
• Sel menempel satu
sama lain di permukaan
dorsal
• Klorolplas melengkung
seperti piring, dengan
pirenoid.
Ditemukan di kolam
Perbesaran (40 x 10)
Universitas Brawijaya
Dictyosphariu • Berkoloni
m • Termasuk divisi
ehrenbergianiu chlorophyta karena
m memiliki kloroplas
• Berbentuk bulat kecil
• Antar sel dihubungkan
oleh cabang-cabang
kecil seperti tali
Perbesaran (40 x 10) Ditemukan di kolam
Universitas Brawijaya
Characium • Berbentuk seperti
characiopsis
• Kloroplas tunggal
untuk beberapa
pirenoid
• Diatom, dan mungkin
sedikit membungkung
• Sabagi kloropita
berwarna hijau dan
Perbesaran (40 x 10) jika sebagai xantopita
berwarna kuning
Ditemukan di kolam rektorat
Universitas Negeri Malang
Botrycoccus • Termasuk mikroalga
braunii • Bersifat autotroph
(berfotosintesis)
• Hidup di perairan dan
berkoloni
• Selnya berdinding tebal
Perbesaran (40 x 10) • Ditemukan di air tawar
dan air payau
Ditemukan di kolam lele
Donomulyo.

Tetrastum • Berbentuk bulat


• Hidup Berkoloni
agregat. Bentuk
plameloid
• Bentuknya tetrad
Ditemukan di SD 2 Malang

Perbesaran (40 x 10)


2. Bacillari Cymbella • Katup jelas
ophyta cosleyi dorsiventral dengan
substrat atau bulat
apex.
• Margin dorsal sangat
melengkung
• Area sentral sempit
atau kecil dan
asimetris
Perbesaran (40 x 10) • Tali proksimal
berakhir dibelokkan
secara ventrally,
dengan celah fisses
yang sedikit melebar.
Ditemukan di Kolam
Universitas Brawijaya
Gomphonema • Sel biasanya di koloni
sp. berbentuk kipas,
menempel pada garis
mukosa bercabang
dikotomisasi, terkadang
bebas.
• Sel berbentuk baji
dalam tampilan korset
dengan pseudosepta
Perbesaran (40 x 10) terlihat
• Ditemukan bercampur
dengan lumpur atau
menempel pada substrat
di dasar perairan
Ditemukan di Kolam
Universita Brawijaya, Kolam
rektorat Universitas negeri
Malang.
NO DIVISI NAMA GAMBAR ANALISIS DATA
SPESIES
3 Cyanop Gleocapsa Sp • Bersel satu
hyta • Sel berbentuk oval
• Memiliki selubung
lender
Ditemukan di Aquarium
pribadi di Sawojajar

Perbesaran (40 x 10)


Spirulina • Bersel satu
(termasuk
mikroalga)
• Berbentuk
menyerupai spiral
• Berwarna hijau
kebiruan sehingga
termasuk organisme
autotroph
• Hidup berdiri
sendiri dan dapat
Perbesaran (40 x 10) bergerak bebas
• Juga memiliki
pigmen biru
Ditemukan di kolam lele
Donomulyo

Aphanizomeno • Memiliki klorofil


n flos-aquae • Hidup di air tawar
• Bersel tunggal
Ditemukan di kolam lele
Donomulyo

Perbesaran (40 x 10)


Oscillatoria • Bentuk tidak
bercabang dan
terdiri atas sel –
sel pipih
• Lebar sel dapat
mencapai 6 - 8 µm
• Filamen ada yang
hijau, biru, ungu,
atau merah
• Bersel tunggal
Ditemukan di kolom lele
Pebesaran (40 x 10) Donomulyo dan kolam
SD 2 Malang
4 Chryso Naviculla • Terdapat pada
phyta lumpur dan tempat
berair
• Struktur tubuh dari
epat seperti perahu,
sedangkan dari
samping berbentuk
seperti kotak.
• Dining sel
Naviculla tersusun
dari bahan kersik
Pebesaran (40 x 10)
• terdapat pigmen
xantofil dan karotin
• Inti sel terletak
ditengah- tengah
Ditemukan di aquarium
pribadi di Sawojajar,
kolam lele Donomulyo,
dan SD 2 Malang
Tribonema • Memiliki dinding
sel yang tersusun
dari pektin dan
silicon
• Berbentuk filamen
• Umumnya dalam
semua situasi air
Ditemukan di kolam lele
Donomulyo

Pebesaran (40 x 10)


5 Excavat Tetracelomona • Mempunyai flagel
a s • Membentuk unisel
• Bentuk tubuh bulat
• Mengandung
kloroplas
• Mempunyai stigma
Ditemukan di kolam
rektorat Universitas Negeri
Malang

Pebesaran (40 x 10)


Phacus • Sel kaku
longicauda • Berbentuk bulat
dan datar
• Terdapat sebuah
flagell
• Sel memlilki
banyak kloroplas
bulat dan “eyespot”
merah
Ditemukan di kolam SD 2
Malang
Pebesaran (40 x 10)
6 Charop Cosmarium • Sel berbentuk dua
hyta oval yang saling
berdempet/berhada
pan
• Di tengah sel
terdapat satu inti
• Bentuk kloroplas
mengikuti bentuk
sel
Pebesaran (40 x 10) Ditemukan di kolam SD 2
Malang
Onychonyma • Memiliki inti
ditengah
• Hidup dengan
susunan tubuh
koloni senobium
• Sel berbentuk
persegi panjang
• Memiliki kloroplas
Ditemukan di kolam SD 2
Malang
Pebesaran (40 x 10)

Makroalga

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan telah ditemukan empat


belas genus makroalga di Malng. Makroalga yang ditemukan berada dalam tiga
divisi yang yaitu divisi Chlorophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta. Genus yang
temasuk kedalam divisi Rhodophyta, yaitu Chondrus, Galaxaura, Gelidiella,
Rodymenia, Eucheuma, , Palmaria dan Macrocystis. Genus yang termasuk
kedalam divisi Chlorophyta, adalah Halimeda,Caulerpa, dan Ulva Genus yang
termasuk kedalam divisi Phaeophyta adalah Sargassum, Padina, Turbinaria
dan Dyctyotqa..

no GAMBAR Klasifikasi Karakterisik

1 Condus • Talus berbentuk


lembaran
• Berwarna merah
• Terlihat sedikit kaku
• Struktur tubuh terdiri
atas blodi dan tangkai
• Hidup di daerah
pasang surut air laut
2 Halimeda • Thallus berbentuk
rumpun.
• Percabangan pada
thallus dichotomous
atau tricothomous.
• Halver pada halimeda
berfungsi untuk
menempel pada
substrat
• Keseluruhan talusnya
seperti kaktus
• Bagian thallusnya
bergelombang, bulat
atau bongkol.
• Habitanya biasanya
ditemukan pada
wilayah perairan
dangkal yang
bersubstrat pasir atau
lumpur

3 Galaxaura • Berbentuk seperti


ginjal yang bercabang

• Hidup di daerah
terumbu karang

• Mempunyai perekat
berupa rhizoid

• Hidup membuat
koloni
4 Palmaria • Tersusun banyak
lembaran
• Mempunyai klorofil,
figmen merah
• Talus berbentuk
seperti lembaran daun
• Hidup di daerah
bebatuan dekat pantai

5 Gellidiela • Thallus berbentuk


rumpun dimana
rhizoidnya tumbuh
dari stolon yang
merambat
• Berwarna kuning
kecoklatan hingga
hijau kecoklatan
• Tumbuh didaerah
intertidal dengan air
yang dangkal
• Cabang tumbuh tegak
seperti kipas, segitiga
dengan cabang-
cabang samping yang
melekat pada cabang
utama

6 Padina • Memiliki thallus


tegak dan berbentuk
seperti kipas
• Segmen bergaris
melingkar
• Pigmen berwarna
coklat
• Habitat di pinggir
pantai dan bebatuan
7 Ulva • Bentuk tubuh
menyerupai selada
• Berbentuk lembaran
tipis lebar
• Tallus menyerupai
kipas
• Menempel pada batu
dan tanah

8 Caulerpa • Bentuk thalus bulatan


bultan kecil yang
menggumpal
• Hidup melekat pada
batu
• Hidup pada perairan
dangkal

9 Turbinaria • Hidup di air laut /


pantai

• Melekat pada batu


batuan

• Pigmen berwarna
coklat

• Tumbuh berbentuk
seperti lembaran

• Batang berbentuk
silindris, tegak, dan
kasar
10 Dictyota • Thalus pipih seperti
pita
• Percabangan
dichotomus ujung
meruncing
• Warna thallus coklat
tua
• Alat perekat
berbentuk cakram

11 Eucheuma • Talus silindris


• Berwarna hijau dan
cokklat kemerahan
• Ditumbuhi nodus dan
duri lunak
• Percabangan
alternates (berseling)
• Hidup di air laut

12 Sargassum • Thallus pipih

• Licin

• Holdfast berbentuk
cakram

• Percabangan
berseling teratur

• Pigmen warna coklat

• Hidup didaerah
karang kedalaman 0,5
- meter
13 Rhodymenia • Berwarna merah
kecoklatan

• Berbentuk seperti
membran

• Bentuk talus
bervariasi dari bentuk
oval sampai runcing

• Hidup didaerah
pasang surut air laut

14 Macrocystis • ditemukan melekat


pada karang.
• Talus berwarna
kuning hingga coklat
keunguan.
• Talus berupa kantung
lonjong dengan
tangkai kecil.
• Bagian dalam talus
berisi air. Ukuran
talus 0,5—2 cm dan
tumbuh merumpun.
• Ada benjolanbenjolan
kecil (vesikel) di
permukaan talus
terutama pada bagian
apikal.
• Kantung dapat
bercabang dan juga
tidak.
• Kantung muncul pada
stipe yang tumbuh ke
samping menyerupai
rhizome.
• Holdfast tipe rhizoid.
• Irisan melintang dari
bagian pangkal talus
menunjukkan struktur
pseudoparenchymatou
s.
• Talus disusun oleh
korteks dan medula.
• Korteks berbentuk
bulat, tersusun rapat,
sel berbentuk bulat.
• Medula disusun oleh
berlapis-lapis jaringan
yang disusun oleh sel
berbentuk bulat
dengan ukuran
diameter mencapai
0,2 mm.
• Irisan membujur dari
talus menunjukkan sel
berbentuk membulat.

PEMBAHASAN

Keanekaragaman Mikroalga

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, ditemukan enam


Divisi mikroalga, yaitu Bacillariophyta, Chlorophyta, Cyanophyta, Crysophyta,
Excavata, Charophyta . Divisi mikroalga yang paling banyak ditemukan adalah
Chloropyta, terdapat 20 genus mikroalga, Bacillariophyta ditemukan hanya
berjumlah tiga genus mikroalga, Cyanophyta terdapat empat genus mikroalga,
Crysophyta terdapat dua genus mikroalga, Excavata terdapat dua genus
mikroalga, dan Charophyta terdapat dua genus mikroalga. Genus yang temasuk
kedalam divisi Chlorophyta ada 20 genus mikroalga, yaitu Ulothrix, Chlorella,
Actinastrum, Chlorococcum, Aphanothece, Netrium, Closterium, Pediastrum,
Chartophora, Cylindrocytis, Cladophora, Stigeodonium, Scenedesmus,
Mougeotia, Crucigenia, Selenastrum, Dicthyosphaerium, Characium,
Batrycoccus, Tetrastum. Sedangkan, genus yang termasuk kedalam divisi
Bacillariophyta adalah Cymbella, Gomphonema, Navicula. Genus yang
termasuk kedalam divisi Cyanophyta adalah Gleocpsa, Spirulina, Aphanizome,
Oscillateria. Genus yang termasuk kedalam divisi Crysophyta adalah
Naviculla, Tribonema. Genus yang termasuk kedalam divisi Excavata adalah
Tetracelomonas, Pacus. Genus yang termasuk kedalam divisi Charophyta
adalah Cosmarium,Onychonyma.

Kelas Bacillariophyceae dan Chlorophyceae memiliki jumlah genus yang


tinggi karena kelas tersebut mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di
sekitarnya dibandingkan dengan kelas lainnya. Menurut Sachlan (1982), kelas
Bacillariophyceae lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan
merupakan kelompok fitoplankton yang disenangi oleh ikan dan larva udang.
Selain itu, menurut Adjie, dkk. (dalam Rudiyanti, 2009), Bacillariophyceae
adalah salah satu kelompok alga yang secara kualitatif dan kuantitatif banyak
terdapat di berbagai perairan tipe sungai, baik sebagai plankton maupun
perifiton, sedangkan Chlorophyceae yang termasuk ke dalam filum
Chlorophyta paling banyak dijumpai di perairan tawar. Sachlan (1982)
mengemukakan bahwa Bacillariophyceae dan Chlorophyceae merupakan
plankton terbanyak dan terpenting dalam perairan, baik tawar maupun laut
sebagai produsen primer, terutama pada permukaan air yang penuh zat hara.
Kelas Cyanophyceae memiliki jumlah genus yang paling sedikit (2 genus)
dikarenakan perairan Siantan Hilir memiliki pH yang rendah (5,50-5,67).
Menurut Subarijanti (1984), Cyanophyceae merupakan kelas yang hanya
mampu menyesuaikan diri dengan kondisi perairan yang bersifat alkali (pH >
7).

Clorophyta merupakan kelompok mikroalga yang paling banyak


ditemukan didaerah perairan karena memiliki lingkup habitat yang luas dan
termasuk kedalam kelompok mikroalga terbesar dibandingkan dengan
kelompok mikroalga yang lainnya (Gunawan, 2011:26). Devisi ini memiliki
ciri khusus, yaitu mengandung pigmen klorofil A , klorofil B dan beberapa
karotenoid serta biasanya berwarna hijau rumput.. Chlorophyta merupakan
organisme prokariotik dan organisme fotosintetik. Beberapa spesies dari
Chlorophyta memiliki flagella, serta memiliki dinding sel yang sebagian besar
berupa sellulosa (Suminto, 2005:17).Chlorophyceae yang termasuk ke dalam
filum Chlorophyta paling banyak dijumpai di perairan tawar (Rudiyanti, 2009).
Chlorophyceae merupakan plankton terbanyak dan terpenting dalam perairan,
baik tawar maupun laut sebagai produsen primer, terutama pada permukaan air
yang penuh zat hara (Sachlan, 1982).

Genus Ulothrix terdiri atas sel-sel yang berbentuk silindris dan tersusun
memanjang seperti benang. Ganggang ini hidup di air tawar yang airnya tidak
terlalu hangat dan hidup menempel pada batu-batu atau di dasar perairan
(Fauziah & Laily, 2015). Bentuk filamen panjang tak bercabang dengan lebar
11-45 μm. Pada setiap sel terdapat kloroplas yang berbentuk seperti ladam atau
lempengan yang terletak pada bagian tepi ruangan sel dan dilengkapi dengan 1-
2 pireniod (Mizuno, 1990). Dinding sel Ulothrix sp. tersusun atas dua lapisan,
lapisan luar adalah pektin dan lapiasan dalam tersuun oleh selulosa. Kloroplas
terbungkus oleh system membrane rangkap. Pigmen yang terdapat dalam
kloroplas yaitu klorofil a dan b. kloroplas di dalam sel letaknya mengikuti
bentuk dinding sel (parietal) (Fauziah & Laily, 2015).

Chlorella sp adalah salah satu jenis alga hijau bersel satu. Selnya berdiri
sendiri dengan berbentuk bulat atau bulat telur dengan diameter 3 – 8 mikron,
memiliki khloroplas berbentuk seperti cawan dan dindingnya keras. Warnanya
hijau cerah, hidup dipermukaan air tawar, namun ada juga yang hidup di air
asin (Afandi, 2003). Chlorella sp dapat bergerak tetapi sangat lambat sehingga
pada pengamatan seakan – akan tidak bergerak. Alga ini dapat tumbuh pada
salinitas 0 – 35 ppt. Alga ini masih dapat bertahan hidup pada suhu 40 oC,
tetapi tidak tumbuh. Kisaran suhu 25 – 30oC merupakan kisaran suhu yang
optimal untuk pertumbuhan alga ini (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
Actinastrum merupakan alga yang memiliki ciri talusnya berbentuk
seperti bintang, ada juga yang berbentuk seperti cerutu, selnya disusun
memancar dalam koloni (Prescott, 1970)

Apanotece merupakan organisme uniseluler, dapat membentuk koloni


dengan sel berbentuk lonjong atau lonjong berkelompok padat dan merata di
dalam lendir yang padat dan berlimpah, meskipun selubung lendir sel individu
tidak jelas. Koloni sering makroskopis, terdefinisi dengan baik atau tidak
beraturan, dan mungkin mengambang bebas atau menetap. Sel-sel berwarna
abu-abu, zaitun, atau biru-hijau terang, dan memiliki butiran tetapi tidak
memiliki vakuola. Dalam koloni, sel-sel membentuk lapisan tunggal sering
dengan sel-sel yang setidaknya di daerah tampaknya sejajar dalam baris.
Beberapa spesies dilaporkan sebagai bentuk motil tunggal, tetapi tepi genus
tetap tidak jelas.

Netrium memiliki sel berbentuk silindris panjang dengan ujung bulat.


Netrium memiliki satu kloroplas ditengah.

Closterium sp. terlihat seperti bulan sabit. Menurut Carter (2008)


bentuknya mirip bulan sabit memanjang, melengkung dan meruncing di bagian
ujungnya, penampangnya bundar, dinding sel halus atau dengan garis bujur,
band-band di dinding sel beberapa spesies lamina kloroplasnya bergerigi dan
radial, yang membuat penampang berbentuk bintang, pirenoid sejajar atau
tersebar, memiliki kloroplas sehingga dapat berfotosintesis, memiliki banyak
vakuola di bagian ujung. Closterium sp. bentuknya beraneka rupa sehingga
ganggang ini dinamakan ganggang hias, terutama hidup dalam rawa-rawa yang
airnya bereaksi asam. Sel selnya ada yang berbentuk bulan sabit (Closterium)
atau di tengah-tengah berlekuk hingga mempunyai bentuk seperti biskuit atau
bintang, sehingga sel terdiri atas 2 bagian yang setangkup atau simetris di
dalam tiap-tiap bagian itu suatu kloroplas yang besar dengan susunan yang
rumit, mempunyai satu atau beberapa pirenoid. Di tengah tengah sel terdapat
satu inti. Beberapa jenis dapat merayap dengan perantaraan benang-benang
lendir yang dikeluarkan melalui liang-liang pada dinding selnya.

Pediastrum merupakan alga yang memiliki bentuk pelat melingkar yang


tersusun atas beberapa sel dalam satu koloni. Dinding sel Pediastrum sangat
tahan terhadap pembusukan akibat jamur dan bakteri akuatik yang bersifat
parasit (Prescott, 1970)

Scenedesmus merupakan kelompok mikroalga dan yang paling beragam


karena ada yang bersel tunggal, koloni dan bersel banyak. warna hijau dari
klorofil a dan b yang sama dalam proporsi sebagai 'tinggi' tanaman serta c
klorofil tetapi dilaporkan terdapat di beberapa prasinophyceae; √ U-karoten,
dan berbagai karakteristik xanthophylls. Hasil asimilasi berupa amilum yang
tersusun dalam kloroplas, kloroplasnya beraneka bentuk dan ukurannya, ada
yang seperti mangkok, seperti busa, seperti jala, dan seperti bintang,
penyusunnya sama seperti pada tumbuhan tingkat tinggi yaitu amilase dan
amilopektin. Scenedesmus sp. yang hidup di air tawar memiliki sifat
kosmopolit, terutama yang hidup di tempat yang terkena cahaya matahari
langsung seperti kolam, danau dan genangan air hujan, sungai atau selokan.
Scenedesmus sp. merupakan mikroalga yang bersifat kosmopolit. Sebagian
besar Scenedesmus dapat hidup di lingkungan akuatik seperti perairan tawar
dan payau. Scenedesmus juga ditemukan di tanah atau tempat yang lembab. Sel
Scenedesmus berbentuk silindris dan umumnya membentuk koloni. Koloni
Scenedesmus terdiri dari 2, 4, 8, atau 16 sel tersusun secara lateral. Ukuran sel
bervariasi, panjang sekitar 8--20 µm dan lebar sekitar 3--9 µm. Struktur sel
Scenedesmus sederhana. Sel Scenedesmus sp. diselubungi oleh dinding yang
tersusun atas tiga lapisan, yaitu lapisan dalam yang merupakan lapisan
selulosa, lapisan tengah merupakan lapisan tipis yang strukturnya seperti
membran, dan lapisan luar, yang menyelubungi sel dalam koloni. Lapisan luar
berupa lapisan seperti jaring yang tersusun atas pektin dan dilengkapi oleh
bristles.
Mougeotia termasuk ke dalam ordo Zygnematales dan famili
Zygnemetaceae karena mempunyai ciri yang sama seperti ordo Zygnematales
dan famili Zygnemetaceae pada umumnya yaitu, habitatny adi air tawar,
Semua anggota grup ini berkembang menjadi filamen tak bercabang, satu sel
tebal, yang tumbuh lebih panjang melaluipembelahan sel normal. Reproduksi
seksual terjadi dalam suatu proses yang disebutkonjugasi. Dengan genus:
Mougeotia dan spesies: Mougeotia sp. Filamen tersusun atas sel yang
berbentuk silindris. Lebar filamen berkisar 15-25 μm (Pantecost, 1984; 194).
Kloroplasnya berbentuk pita dan dilengkapi dengan sebaris pirenoid. Kloroplas
biasanya memenuhi hampir seluruh ruangan sel dan terkadang terpilin.

Genus Crucigenia memiliki ciri-ciri yaitu bersel satu, berwarna hijau,


bentuk satu sel lonjong, hidup berkoloni, satu koloni berjumlah empat sel atau
lebih, tidak memiliki flagel (John et al, 2005).

Selenastrum adalah alga bersel tunggal yang sering digunakan untuk


menilai toksisitas kontaminan dalam lingkungan akuatik, dan yang
direkomendasikan spesies uji alga dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi
dan Pengembangan (OECD) dan Organisasi Internasional untuk Standardisasi
(ISO) (OECD, 2006).

Genus Characium adalah alga hijau alga epiphytic, yang diklasifikasikan


dalam keluarga Chlorococcaceae atau Characiaceae dari Chlorococcales
(Kotzing, 1984). Menurut Floyd & Watanabe (1990) Characium memiliki ciri
khusus, yaitu memiliki tinukleat, kloroplas dengan pyrenoids, zoospora berupa
biflagellata, tidak memiliki atau berdinding tipis, dan sel-sel dihubungkan ke
substrat di salah satu ujungn sel tuuhnya.

Genus Brotrycocus merupakan alga bersel tunggal berwarna hijau, bayak


dijumpai diperairan danau, tambak, ataupun perairan payau sampai laut
(Metzger & Largeau, 2005). Kandungan klorofil mencapai ±1,5–2,8%, terdiri
dari klorrofil a, b, dan c sehingga permukaan perairan tampak berwarna hijau-
coklat kekuningan (Kabinawa, 2008). Brotrycocus memiliki inti sel dengan
ukuran ±15–20 µm dan berkoloni, bersifat nonmotil dan setip pergerkannnya
sangat dipengaruhi oleh arus perairan (Kabinawa, 2008).

Tetrastrum memiliki sel berbentuk bulat berjumlah empat yang saling


berhubungan satu sama lain dengan ukuran sel yang sama dan berwarna hijau
daun secara keseluruhan sel. Alga ini termasuk koloni senobium yang memiliki
kloroplas diseluruh sel. Menurut Soken & Taxa (2015) bahwa ciri-ciri tersebut
termasuk Divisi Chlorophyta, Famili Chlorophyceae, Ordo Chlorococcales,
Genus Tetrastrum. Menurut Belcher & Swale (1976) bahwa empat sel
sederhana yang berkoloni membetu sebuah berlian terkadang dihiasi oleh duri-
duri kecil atau spina disekitar garis. Panjang sel mencapai 10 μm. Genus
Tetrastrum ini dapat ditemukan pada kolam, danau, dan sungai yang aliran
airnya tenang.

Bacillariophyta yang ditemukan di perairan sekitar Malang ada 3 genus


genera. Genera dari Bacillariophyta yang ditemukan yaitu Cymbella,
Gomphonema, Navicula atau diatom umum ditemukan sebagai kelompok
produsen primer dominan maupun subdominan kecuali pada sungai berlumpur
(Zuklifli., 2012; Sundari, 2016; Winahyu, 2013). Bacillariophyta memiliki
kemampuan beradaptasi terhadap arus yang kuat maupun lambat karena
memiliki alat penempel pada substrat berupa tangkai bergelatin (Andriansyah
et al., 2014). Bacillariophyta juga merupakan bioindikator yang telah banyak
digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran suatu perairan (Winahyu et
al., 2013).

Cyanophyta yang ditemukan di Malang terdiri atas 4 genera. Genera dari


Cyanobacteria yang ditemukan meliputi Gleocpsa, Spirulina, Aphanizome,
Oscillateria. Cyanophytaa biasanya terdiri dari beberapa mikroalga hijau-biru
dan bersifat unisesuler, berfilamen atau berkoloni, tidak memiliki membran
internal, tidak memiliki organel/nukleus, dan warna alga ini hijau-biru, hijau-
hijau, ungu, cokelat, merah-jingga tergantung pada konsentrasi pigmen
klorofil, fikosianin, dan fikoeritin (Pratiwi, 2008). Cyanophyta membutuhkan
suhu yang relatif lebih tinggi untuk berkembang dengan baik. Pada penelitian
ini suhu rata-rata perairan Sungai Kati pada saat penelitian adalah 27°C,
kisaran suhu tersebut bukanlah suhu ideal bagi pertumbuhan Cyanophyta
(Andriansyah et al., 2014).

Sedangkan jenis yang paling sedikit ditemukan yaitu dari divisi


Chrysophyta sebanyak 2 jenis. Ditemukannya sedikit jenis dari divisi
Chrysophyta dikarenakan divisi ini lebih banyak ditemukan pada perairan
dingin dan air laut. Divisi ini biasanya ditemukan dengan warna kuning,
cokelat, dan jingga (Pelczar, 2010:252). Selain itu berdasarkan hasil penelitian
Aida (2013:6) divisi Crysophyta paling sedikit ditemukan dikarenakan faktor
aliran air yang rendah sehingga spesies mikroalga juga sulit untuk ditemukan.
Jenis mikroalga dari divisi Crysophyta dapat dilihat pada Gambar 4.2 sebagai
berikut.

Naviculla, Tribonema. Genus yang termasuk kedalam divisi Excavata


adalah Tetracelomonas, Pacus. Genus yang termasuk kedalam divisi
Charophyta adalah Cosmarium,Onychonyma.

Keanekaragaman Makroalga

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, ditemukan tiga


Divisi makroalga, yaitu Chlorophyta, Rhodophyta, Phaeophyta. Divisi
makroalga yang paling banyak ditemukan adalah Rhodophyta, terdapat 7 genus
makroalga, divisi Chlorophyta ditemukan hanya berjumlah 3 genus
makroalga, dan devisi Phaeophyta ditemukan hanya berjumlah 4 genus
makroalga. Genus yang temasuk kedalam divisi Rhodophyta ada 7 genus
makroalga, yaitu Chondrus, Galaxaura, Gelidiella, Rodymenia, Eucheuma, ,
Palmaria dan Macrocystis. Genus yang termasuk kedalam divisi Chlorophyta,
adalah Halimeda,Caulerpa, dan Ulva Genus yang termasuk kedalam divisi
Phaeophyta adalah Sargassum, Padina, Turbinaria dan Dyctyotqa..

Divisi Rhodophyta memiliki talus berbentuk silindris yang berwarna


merah, Gracilaria memiliki ciri khusus talus berbentuk silindris dan
permukaannya licin. Talus tersusun oleh jaringan yang kuat, bercabang-cabang
dengan panjang kurang lebih 250 mm, garis tengah cabang antara 0,5-2,0 mm.
Pertulangan lateral yang memanjang menyerupai rumput.Bentuk cabang
silindris dan meruncing di ujung cabang (Hoek, 1995).

Genus Chodrus memiliki ciri-ciri, yaitu bentuk thalusnya yang pipih,


thalus mengandung zat pectin dan zat floridien, teksturnya berkeriput, ujung
thalus teksturnya kasar , warna dari kuning kehijauan, merah,ungu ke gelap
atau keunguan-coklat, daur hidup berfasa dua. banyak mengandung zat pektin,
disamping zat floredian, percabangan dikotom pendek.Elastis seperti tulang
rawan (chondrus). Dengan kunci dikotom 1a, 2b, 5b, 9b, 14a (Chondrus)

Genus Galaxaura memiliki ciri-ciri, yaitu dinding sel tersusun atas


selulosa (sebelah dalam) dan pectin berlendir (sebelah luar), memiliki pigmen
fikoeretrin, hidup melekat pada substrat dengan bantuancakram pelekat,
reproduksi aseksual dengan spora, seksual dengan oogami, talus silindri,
berbuku-buku pendek, percabangan dikotomis, permukaan tubuh licin, ujung
talus tumpul dan agak membentuk lubang,jika berkoloni membentuk formasi
seperti bola, warna mulai hijau, hijau kuning, abu-abu, merah. Dengan kunci
dikotom 1a, 2b, 5b, 9a, 10a, 11b, 12a, 13b(Galaxaura)

Genus Gelidiella memiliki ciri-ciri yaitu tumbuh menempel pada batu


di daerah pasang surut atau bawah pasang surut, multiseluler, berklorofil a,
terdapat 2 lapisan dinding sel. Gelidium sp.berwarna merah kecoklatan
(pirang), bentuk tubuh seperti rumput atau semak, batang utama tegak dan
mempunyai percabangan dikotom. Genus Gelidium sp. memiliki talus agak
keras, silindris atau agak pipih, bercabang-cabang menyirip (Setyawan, 2000).
Dengan kunci dikotom 1a, 2b, 5a, 6b (Gelidiella)

Genus Rhodymenia memiliki ciri-ciri, yaitu tubuh berbentuk lembaran,


tekstur tubuhnya lembek dan sedikit transparan, berwarna kehijau, talus
silindris. Dengan kunci dikotom 1a, 2b, 5b, 9a, 10a, 11b, 12b (Rhodymeia)

Genus Eucheuma memiliki ciri-ciri, yaitu talus silindris, permukaan


licin cartilageneus (menyerupai tulang rawan), berwarna hijau terang, coklat
kemerahan, talus berujung runcing atau tumpul,ditumbuhi nodulus (tonjolan-
tonjolan) dan duri lunak/tumpul, percabangan talus dikotomis atau trikotomis.
Euchema sp berbentuk talus, bercabang, dan memiliki bintil-bintil yang disebut
spina. Ciri-ciri rumput laut jenis ini yaitu thallus silindris, percabangan thallus
berujung runcing atau tumpul dan ditumbuhi nodulus, berupa duri lunak yang
tersusun berputar teratur mengelilingi cabang (Soegiarto, 1978). Dengan kunci
dikotom 1a, 2b, 5b, 9a, 10a, 11b, 12a, 13a (Euchema)

Genus Macrocystis memiliki ciri-ciri, yaitu hidup menempel kuat di


bebatuan dengan bantuan talus yang menyerupai akar, tubuhnya berwarna
kecoklatan, mengandung pigmen xantofil atau karoten, multiseluler, talus
menyerupai akar. Dengan kunci dikotom 1a, 2b, 5b, 9b, 14b (Macrocystis)

Palmaria sp. berbentuk lembaran tumpul. Palmaria sp memiliki blade


pipih, sederhana, dan bercabang dikotom (Handayani et al, 2014). Palmaria
memiliki bentuk talus pipih, memiliki filoid berbentuk lembaran, tidak
memiliki gelembung udara, letak reseptakel pada aksilar, percabangan talusnya
tidak berpola, memiliki ciri khas talusnya berbentuk pipih pita, serta mirip
dengan tumbuhan kadaka (Guiry, 2011). Dengan kunci dikotom 1a, 2b, 5b, 9a,
10b (Palmaria)

Divisi Chlorophyta memiliki talus yang bercabang, holdfast berkapur


dan menempel kuat pada substratnya. Blade tipis dan agak kasar berwarna
hijau keputih – putihan, warna putih tersebut karena Halimeda menghasilkan
zat kerak kapur. Sisa kapur yang terakumulasi dari Halimeda menetap secara
khusus untuk membantu pertumbuhan bertahap pada terumbu karang. (Firda
dkk, tanpa tahun)

Caulerpa sp memiliki ciri secara umum adalah keseluruhan tubuhnya


terdiri dari satu sel dengan bagian bawah yang menjalar menyerupai stolon
yang mempunyai rhizoid sebagai alat pelekat pada subtrat serta bagian yang
tegak. Bagian yang tegak disebut asimilator karena mempunyai klorofil. Stolon
dan rhizoid bentuknya hampir sama dari jenis ke jenis.Sedangkan asimilator
mempunyai bentuk bermacam-macam tergantung jenisnya (Sharma, 2007).
Dengan kunci dikotom 1a, 2a, 3b (Caulerpa)

Halimeda sp.memiliki talusnya mempunyai percabangan, holdfast


berkapur dan menempel kuat pada substratnya. Blade tipis dan agak kasar
berwarna hijau keputih – putihan, warna putih tersebut karena Halimeda
menghasilkan zat kerak kapur. Sisa kapur yang terakumulasi dari Halimeda
menetap secara khusus untuk membantu pertumbuhan bertahap pada terumbu
karang. Bukt i dari pendapat ini datang dari studi penggalian dasar dari karang
atoll Funafuti, yang memperlihatkan bahwa 20 m pertama dari sedimen terdiri
dari 80-95% segmen-segmen Halimeda yang dikenali (Ryther, 2012). Dengan
kunci dikotom 1a, 2a, 3a, 4b (Halimeda)

Ulva sp. mempunyai talus berbentuk lembaran tipis. Bentuk pipih


tersebut membuat Ulva dijuluki selada laut.Ulva menempel di dasar
perairan.Tubuh talusnya pipih melebar.Talus Ulva ada dua macam yaitu talus
haploid dan talus diploid. Secara morfologi, kedua talus ini berbentuk sama
sehingga bersifat isomorfisme (Bold et al, 1980). Dengan kunci dikotom 1a,
2a, 3a, 4a (Ulva)
Divisi Phaeophyta memiliki karakteristik warna hijau zaitun hingga
cokelat berdasarkan jumlah pigmen fukosantin. Seluruh anggota divisi ini
merupakan rumput laut yang multiseluler (Bold, 1987).

Genus Sargasum dan Turbinaria memiliki ciri-ciri, yaitu talus pipih dan
licin, holdfast berbentuk cakram, warna talus coklat, memiliki bladder air
(gelembung uadra) yang umumnya soliter. Ciri khas Sargassum memiliki
gelembung udara.Gelembung udara tersebut disebut pneumatocysts,
memberikan daya apung sehingga dekat permukaan air dan dengan demikian
menerima lebih banyak cahaya untuk fotosintesis Turinaria memiliki bentuk
filoid menyerupai terompet (Summich and Dudley, 2008). Dengan kunci
dikotom 1a, 2b, 5a, 6a, 7a, 8a (Sargassum)

Dictyota sp. membentuk 2 cabang yang terminal dan bentuk


percabangan dikotom. Setiap ujung thali terdapat percabangan dikotomi yaitu
tipe percabangan becabang dua yang mudah terlepas untuk membentuk alga
baru yang bebas dalam perkembangbiakan vegetatif.Cabang-cabangnya berupa
lembaran lembaran yang sangat tipis (Nurmiyati, 2013). Dengan kunci dikotom
1a, 2b, 5a, 6a, 7b (Dictyota)

Padina sp.berbentuk lembaran tumpul, berwarna coklat kekuningan,


bagian atas lobus sedikit melebar, dan holfast berbentuk cakram kecil
berserabut. Padina sp berwarna cokelat karena banyak mengandung pigmen
fotosintetik fukosantin, disamping klorofil a. Selnya berflagel dua, tidak sama
panjang. Di bagian yang menyerupai kipas terdapat garis-garis horisontal yang
disebut garis konsentris.Di ujung daun terdapat penebalan yang disebut
penebalan gametangia yang berfungsi sebagai reproduksi gamet dan pelindung
daerah pinggiran daun agar tidak sobek karena ombak besar pada zona pasang-
surut (Hoek et ai, 1995). Dengan kunci dikotom 1a, 2b, 5a, 6b (Padina).
KUNCI DETERMINASI
1. a. Makroalga..................................................................................................... 2
b. Mikroalga ..................................................................................................... 15
2. a. Klorofil ......................................................................................................... 3
b. Non klorofil .................................................................................................. 5
3. a. Talus tidak sederhana ................................................................................... 4
b. Talus sederhana ............................................................................................ Caulerpa
4. a. Seperti kipas ................................................................................................. Ulva
b. Seperti rumpun ............................................................................................. Halimeda
5. a. Coklat ........................................................................................................... 6
b.Merah ............................................................................................................ 9
6. a. Berflagel ....................................................................................................... 7
b. Tidak Berflagel............................................................................................. Padina
7. a. Ada gelembung air ....................................................................................... 8
b. Tidak ada gelembung air .............................................................................. Dictyota
8. a. Foloid tidak berbentuk.................................................................................. Sargassum
b. Foloid berbentuk seperti terompet ............................................................... Turbinaria
9. a. Talus lembaran ............................................................................................. 10
b. Talus silindris ............................................................................................... 14
10. a. Percabangan dikotom pendek ....................................................................... 11
b. Percabangan tidak berpola ........................................................................... Palmaria
11. a. Dinding sel 2 lapis ........................................................................................ Gelidelia
b. Dinding sel 1 lapis ........................................................................................ 12
12. a. Ujung talus kasar .......................................................................................... 13
b. Ujung talus lembek ...................................................................................... Rhodimenia
13. a. Ujung talus runcing ...................................................................................... Eucheuma
b. Ujung talus tumpul ....................................................................................... Galaxaura
14. a. Cabang seperti tulang rawan ........................................................................ Chondrus
b. Cabang seperti akar ...................................................................................... Macrocystis
15. a. Uniseluler ..................................................................................................... 16
b. Multiseluler .................................................................................................. 31
16. a. Bergerak bebas ............................................................................................. 17
b. Diam ............................................................................................................. 18
17. a. Sel kaku ........................................................................................................
b. Sel lunak ....................................................................................................... Tetraselo
18. a. Koloni ........................................................................................................... 19
b. Soliter ........................................................................................................... 27
19. a. Senobium ...................................................................................................... 20
b. Agregat ......................................................................................................... 25
20. a. Bentuk kloroplas........................................................................................... 21
b. Bulat ............................................................................................................. 22
21. a. Tidak ada pirenoid ........................................................................................ Tetrastum
b. Bintang .........................................................................................................
22. a. Sempurna ...................................................................................................... 23
b. Lonjong ........................................................................................................
23. a. Anggur ..........................................................................................................
b. Filamen ......................................................................................................... 24
24. a. Memanjang ...................................................................................................
b. Tumpul .........................................................................................................
25. a. Bulat ............................................................................................................. 26
b. semusel .........................................................................................................
26. a. Dinding sel berlekuk ....................................................................................
b. dinding sel berlendir .....................................................................................
27. a. Thalus ...........................................................................................................
b. Filamen ......................................................................................................... 28
28. a. Bersekat ........................................................................................................ 29
b.
29. a. Lurus............................................................................................................. 30
b. bercabang .....................................................................................................
30. a. Rapat .............................................................................................................
b. Renggang .....................................................................................................
31. a. Bentuk sel ..................................................................................................... 32
b. struktur sel .................................................................................................... 37
32. a. Bulat ............................................................................................................. 33
b. lonjong ......................................................................................................... 35
33. a. Soliter ........................................................................................................... 34
b. koloni ...........................................................................................................
34. a. Motil .............................................................................................................
b. diam ..............................................................................................................
35. a. Kloroplas tunggal .........................................................................................
b. Kloroplas bentuk jala ................................................................................... 36
36. a. Lurus.............................................................................................................
b. Bersekat ........................................................................................................
37. a. Kaku .............................................................................................................
b. Fleksibel .......................................................................................................
DAFTAR RUJUKAN

Afandi, Y.V., 2003, Uji Penurunan Kandungan Nitrat dan Fosfat oleh Alga
Hijau (Chlorella sp) secara Kontinyu Jurusan Teknik Lingkungan ITS,
Surabaya.

Andriansyah, Setyawati TR, Lovadi I. 2014. Kualitas Perairan Kanal Sungai


Jawi dan Sungai Raya Dalam Kota Pontianak Ditinjau dari Struktur
Komunitas Mikroalga Perifitik. J.Protobiont. 3(1):61–70.

Belcher, H. & Erica, S. (1978). A Beginner’s Guide of Freshwater Algae.


London: Cambridge.

Belcher, H. & Swale, E.. 1976. A Beginner’s Guideto Freshwater Algae.


London: Institute of Terrestrial Ecology.

Bold, H. C., Alexopoulos, C. J., Delevoryas, T., 1987, Morphology of Plants


and Fungi, edisi 5,Harper& Row Publishers, New York.
Bold, H.C. danWynne.M.J., 1980, Introduktion to the Algae.Prentice-Hall,
Englewood Cliffs.
Carter, C. F. & Williamson, D.B. (2008). A Rediscovered UK Desmid:
Closterium Regulare Breb The phycologist. Autum No. 75:24.
Diandara Oryza,Susriyati Mahanal,Murni Saptasari.2016. Keanekaragaman
Makroalga di Daerah Intertidal Pantai Pasir Panjang Kabupaten
Malang. Seminar Nasional Pendidikan dan Saintek (ISSN: 2557-533X)

Fauziah S. M., Laily A N., 2015. Identifikasi Mikroalga dari Divisi


Chlorophyta di Waduk Sumber Air Jaya Dusun Krebet Kecamatan
Bululawang Kabupaten Malang. BIOEDUKASI: Volume 8, Nomor 1
Halaman 20-22.

Firda Ama Zulfia, Indah Syafinatu Zafi, Kuni Mawaddah, dan Leviana Erinda
Murni (tanpa tahun). Saptasari. Keanekaragaman Makroalga Sekitar
Pantai Pancur Alas Purwo Sebagai Media Pembelajaran Realia
Mahasiswa Calon Guru Biologi Di Fmipa Universitas Negeri Malang
Floyd, G. L. & Watanabe, S. 1990. Comparative ultrastructure of the
zoospores of eight species of Characium (Chlorophyceae). J. Phycol. 26
(Suppl.): 11.

Guiry, M.D. 2011. Palmaria.


http://www.algaebase.org/search/genus/detail/?genus_id=37291.Diakses
pada tanggal 13 Juni 2016

Gunawan. 2011. Jurnal. Keragaman Mokroalga di Lahan Bekas Tambang Batu


Bara, Cempaka. BIOSCIENTAE. No. 2 Vol. 7 Hal. 23-27.

Handayani, S., Setia, Mitra T., Endarti, S.E., 2014, Pengenalan Makroalga
Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta

Harmoko, Eka L.,& Solinda. Eksplorasi Mikroalga Di Air Terjun Watervang


Kota Lubuklinggau. Bioedukasi Vol 8. No 1. Mei 2017

Hoek, v.d, Mann, D.G., and Jahns, H.M., 1995, Algae: An Introduction to
Phycology, Cambridge University Press, Cambridge
Ilham Budi Setyawan dkk.2013. Identifikasi Keanekaragaman dan Pola
Penyebaran Makroalga Di Daerah Pasang Surut Pantai Pidakan
Kabupaten Pacitan Sebagai Sumber Belajar Biologi. Jurnal Pendidikan
Biologi Indonesia volume 1 Nomor 1(Issn: 2442-3750)(Halaman 78-88)

Isnansetyo, A.,Kurniastuty, 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan


Zooplankton. Kanisius, Yogyakarta.

John, M., Walters, T., Wilke, G., Osborne, L., FHWA. (2005). Road Weather
Information System – Environmental Sensor Station Siting Guidelines –
Version 1.0. Washington, DC: Federal Highway Administration.

Kasrina, Sri Irawati dan Wahyu E Jayant.Ragam Jenis Mikroalga Di Air Rawa
Kelurahan Bentiring Permai Kota Bengkulu Sebagai Alternatif Sumber
Belajar Biologi Sma. Jurnal Exacta, Vol. X No. 1 Juni 2012

Kabinawa, I.N.K. 2008. Biodiesel energi terbarukan dari mikroalga. Warta


Pertamina. (9): 31–35.

Kutzing, F.T .1849 : Species Algarum . Leipzig.


Mizuno, T. (1990). Illustrasion of freshwater plankton of Japan. Hoikusha
Publishing Co. Ltd.Osaka.

Metzger, P. and Largeau, C. 2005. Botryococcus braunii: a rich source for


hydrocarbons and related ether lipids. Appliction Microbiology
Biotecnology. (65) 5: 486-496

Nurmiyati, 2013, Keragaman, Distribusi dan Nilai Penting Makro Alga Di


Pantai Sepanjang Gunung Kidul, Bioedukasi.nomor 6, vol 1, hal. 12-21.

Pratiwi ST. 2008. Mikrobiologi Farmasi.Yogyakarta: Erlangga.

Prescott, G.W. (1970). The Freshwater Algae. University of Montana. WM.C.


Brown Company Publishers. Dubuque, Lowa.

Rudiyanti, S. 2009. Kualitas Perairan Sungai Banger Pekalongan Berdasarkan


Indikator Biologis. Saintek Perikanan. 4(2): 46 – 52

Ryther, 2012, Introduction to Phaeophyta,


http://www.ucmp.berkeley.edu/chromista/phaeophyta.html.Diakses pada
tanggal 11 Juni 2016.

Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Correspohornce Course Centre.

Sharma, O. P., 2007,Textbook of Algae, Tata McGraw-Hill Publishing


Company Limited, New Delhi

Setyawan, A. D., 2000, Petunjuk Praktikum Taksonomi Tumbuhan I


(Cryptogamae), UNS, Surakarta.

Soken & Taxa. 2015. Digital Specimen Archives. (online),


(http://protist.i.hosei.ac.jp/), diakses pada 19November 2015.

Subarijanti, H.U. 1994. Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan


Plankton. Universitas Brawijaya. Malang.
Soegiarto et. al. 1978. Pertumbuhan Alga Laut Euchema spinosum pada
Berbagai Kedalaman di Goba Pulau Pari. Oseanoligi LIPI, Jakarta

Suminto. 2005. Budidaya Pakan Alami Mikroalgae dan Rotifer. Undip:


Semarang.

Summich and Dudley, 2008, Laboratory and Field Investigations in Marine


Life, edisi 9, Jones and Bartlett Publisher, London.

Sundari PPK. 2016. Identifikasi Fitoplankton di Perairan Sungai Pepe sebagai


Salah Satu Anak Sungai Bengawan Solo di Jawa Tengah. Prosiding
Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek, UMS Solo 21 Mei
2016. p.1006–1011.

Winahyu DA, Yulistia A, Elly L, Rustiati, Jani M, Andi S. 2013. Studi


Pendahuluan Mengenai Keanekaragaman Mikroalga di Pusat Konservasi
Gajah, Taman Nasional Way Kambas. Prosiding Semirata FMIPA
Universitas Lampung, p.93–98.

Winahyu, D.A..2013.Studi Pendahuluan Mengenai Keanekaragaman


Mikroalga di Pusat Konservasi Gajah, Taman Nasional Way Kambas:
Lampung.

Zulkifli H, Husnah, Ridho MR, Juanda S. 2009. Status kualitas sungai musi
bagian hilir ditinjau dari komunitas fitoplankton. Journal of Biological
Researches. 15(1):5–9.