You are on page 1of 14

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Demam thypoid adalah penyakit akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam, gangguan pada saluran pencernaan
(Mansjoer,2002).
Thypoid fever atau demam tipoid (thypus abdominalis) merupakan
penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala
demam selama 1 minggu atau lebih dengan disertai gangguan pada saluran cerna
dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran (Ngastiyah,2005).
Typoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
salmonella thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang
sudah terkontaminasi oleh feses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman
salmonella (brunner and sudart,1994).
Thypoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella thypi dan salmonella parathypi A,B,C. Sinonim dari penyakit
ini adalah thypoid dan para thypoid abdominalis (Syaifullah Noer,1996).
Thypoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala
sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella A,B,C. Penularan
terjadi secara oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer
Orief M, 1999).
Demam tifodi merupakan penyakit infeksi menular yang terjadi pada anak
maupun dewasa. Anak merupakan yang paling rentan terkena demam tifoid, yang
biasanya banyak terjadi pada anak usia 5-19th. Penyakit ini berhubungan erat
dengan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan. Kematian demam tifoid pada
anak lebih rendah bila dibanding dengan dewasa (Dewi,2011).
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna,
dengan gejala demam kurang lebih 1 minggu, gangguan pada pencernaan dan
gangguan kesadaran. Pertimbangkan demam tifoid pada anak yang demam dan
memiliki salah satu tanda seperti diare, muntah, nyeri perut dan sakit kepala. Hal
ini terutama bila demam telah berlangsung selama 7 hari atau lebih
9Solikin,2011).

2.2 Etiologi
Penyebab dari demam tifoid adalah salmonella typhi, termasuk dalam
genus salmonella. Salmonella bersifat bergerak, berbentuk batang, tidak
membentuk spora, tidak berkapsul, gram (-). Tahan terhadap berbagai bahan
kimia, tahan beberapa hari/minggu pada suhu kamar, bahan limbah, bahan makan
kering, bahan farmasi dan tinja. Salmonella mati pada suhu 54,4C dalam 1 jam,
atau 60C dalam 15 menit (Widagdo,2011).

2.3 Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara yang
dikenal dengan SF yaitu food (makanan), fingers (jari tangan/kuku), fomitus
(muntah), fly (lalat) dan melalui feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid
dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut
dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan
yang akan dimakan oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang
memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang
tercemar kuman salmonella thypi masuk ketubuh orang yang sehat melalui mulut.
Kemudian kuman masuk kedalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan
oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk keusus halus bagian distal dan
mencapai jaringan limpoid. DiDalam jaringan limpoid ini kuman berkembang
biak, lalu masuk kealiran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel
retikuloendotelial ini kemudian melepaskam kuman kedalam sirkulasi darah dan
menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan
kandung empedu.

2.4 Tanda dan gejala


Masa tunas thypoid 10-14 hari
Minggu I
Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari.
Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual,
batuk, epitaksis, obstipasi/diare, perasaan tidak enak diperut.
Minggu II
Pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang
khas (putih kotor, pinggirnya hiperemi), hepayomegali, meteorismus, penurunan
kesadaran.

2.5 Komplikasi
a. Komplikasi interstinal
- perdarahan usus
- perporasi usus
- ilius paralitik
b. komplikasi extra intestinal
- komplikasi kardiovaskuler: Kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis,
trombosis, tromboplebitis.
- komplikasi darah: Anemia hemolitik, trombositopenia dan syndroma uremia
hemolitik.
- komplikasi paru: Pneumonia, empiema dan pleuritis.
- komplikasi pada hepar dan kandung empedu: Hepatitis dan holesistitis.
- komplikasi ginjal: Glomerulus nefritis, pyelonefritis
- komplikasi pada tulang: Osteomyolikis, osteoporosis, spondilitas, dan artritis.
- komplikasi neuropriosipskiatrik: Delirium, meningiusmus, meningitis,
polineufitis perifer, sindroma gullainbare dan sindroma katotinia.
2.6 Pathway/Woc (Suriadi dan Rita Y, 2001)
Bakteri salmonella thypi (perantara SF)

Masuk lewat makanan

Saluran pencernaan

Diserap usus halus

Bakteri masuk aliran darah sistemik

Hati limpa
Kurang
↓ pengetahuan
Hepatosplenomegali → endotoksin
↓ ↓
Mual muntah peradangan
↓ ↓
Intake tidak adekuat merangsang sintesa &
↓ pelepasan zat pirogen

Resiko keb. Nutrisi oleh leukosit pada jar.


kurang dari tubuh radang
Metabolisme ↓ ↓
↓ pirogen beredar dalam darah
Mudah letih,lesu ↓
↓ hipotalamus
Intoleransi aktivitas ↓
Resiko kekurangan Hipertermi
vol. Cairan dan
elektrolit kurng
dari keb. tubuh
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan
laboratorium, yang terdiri dari:
a. Pemerikaaan leukosit: Meningkat
b. Pemeriksaan SGOT dan SGPT: Meningkat pada demam tipoid tapi dapat
kembali normal setelah sembuh
c. Biakan darah: Biakan darah + menandakan demam tipoid, tetapi bila biakam
darah - tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam tipoid. Hal ini
dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor: Teknik
pemeriksaan laboratorium, saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit,vaksinasi
dimasa lampau, pengobatan dengan antimikroba.
d. Uji widal: Suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Antigen yang digunakan pada uji widal ini adalah untuk menentukan adanya
aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typoid. Aglutinin yang
spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan thypoid
juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Akibat infeksi oleh
salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin, yaitu:
- aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
- aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel
kuman) pada orang normal, aglutinin O dan H positif. Aglutinin O bisa sampai
1/10 sedangkan aglutinin H normal bisa 1/80 atau 1/160.
1/10,1/80,1/160 ini merupakan titer atau konsentrasi. Pada orang normal tetap
ditemukan positif karena setiap waktu semua orang selalu terpapar kuman
salmonella. Ted widal dikatakan positif jika H1/800 dan O1/400. Dari ketiga
aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk
diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
Faktor-faktor yang mempengaruhi uji widal:
1. Faktor yang berhubungan dengan klien
- keadaan umum: Gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi
- surat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: Aglutinin baru dijumpai dalam
darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke 5
atau ke 6
- penyakit tertentu: Ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam tipoid
yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukimia dan
karsinoma lanjut
- pengobatan dini dengan antibiotika: Pengobatan dini dengan obat antimikroba
dapat menghambat pembentukan antibodi
- obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid: Obat-obatan tersebut dapat
menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresistem
retikuloendotelial.
- vaksinasi (penanaman bibit penyakit yang sudah dilemahkan kedalam tubuh
manusia)
- infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya
2. Faktor teknis:
- aglutinasi silang
- konsentrasi suspensi antigen

2.8 Penatalaksanaan
1. Perawatan
- istirahat dan perawatan profesional bertujuan mencegah komplikasi dan
mempercepat pertumbuhan. Pasien harus tirah baring absolute sampai minimal 7
hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.
- mobilisasi dilakukan bertahap sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Dalam
perawatan perlu sekali dijaga hygiene perorangan, kebersihan tempat tidur,
pakaian dan peralatan yang diapakai oleh pasien
2. Diet
- diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein
- pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring
- setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim
- dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari
- vitamin dan mineral
3. Pengobatan
Pemberian antibiotik untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran kuman

2.9 Tumbuh Kembang Anak Usia Pra Sekolah (3-6 Tahun):


2.9.1 tumbuh kembang anak pra sekolah dalam aspek fisik
Pada akhir tahun ke 2, pertumbuhan tubuh dan otak lambat, dengan penurunan
yang seimbang pada kebutuhan nutrisi dan nafsu makan antara 2 dan 5 tahub,
rata-rata pertambahan berat badan anak kira-kira 2kg dan tinggi 7cm. Setiap tahun
bagian utama perut anak menjadi rata dan tubuh menjadi lebih langsing. Puncak
energi fisik dan kebutuhan tidur menurun sampai 11-13 jam/24 jam, biasanya
termasuk sekali tidur siang. Ketajaman penglihatan mwncapai 20/30 pada usia
3th. 20 gigi primer telah muncul pada usia 3th (Behrmaan dan Kliegman,2000).
Perkembangan motorik halus pada usia pra sekolah memungkinkan anak mampu
menggunakan sikat gigi yang baik (Potter dan Perry,2005).
2.9.2 Tumbuh kembang anak pra sekolah dalam aspek psikososial
Masa prasekolah (pre school age) ditandai adanya kecenderungan initiative-guilty.
Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan
tersebut mendorong melakukan beberapa kegiatan karena kemampuan anak
tersebut masih terbatas adakalanya akan mengalami kegagalan yang menyebabkan
memiliki perasaan bersalah (potter dan perry, 2005).
Pada tahap ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor atau yang
biasa disebut tahap bermain. Indikator positif pada masa ini memperlajari tingkat
ketegasan dan tujuan mempengaruhi lingkungan. Indikator negatifnya adalah
kurang percaya diri, pesimis, takut salah (potter dan perry,2005).
2.9.3 Tumbuh kembang anak pra sekolah dalam aspek motorik
Aspek motorik anak usia prasekolah lebih berkembang dan usia sebelumnya.
Keterampilan motorik kasar dan halus bertambah baik. Keterampilan motorik
kasar pada anak usia 3 tahun anak adalah dapat mengendarai sepeda roda 3,
menaiki tangga menggunakan kaki bergantian, berdiri satu kaki selama beberapa
menit dan melompati sesuatu. Pada anak usia 4 tahun anak mampu melompat
sengan satu kaki, menangkap bola, dan menuruni tangga dengan kaki bergantian.
Pada anak usia 5 tahun anak dapat melompat dengan kaki bergantian, melempar
dan menangkap boal, melompat tali dan berdiri seimbang satu kaki bergantuan
dengan mata tertutup (potter dan perry, 2005).
Sedangkan motorik halus pada anak usia 3th, anak dapat membangun menara 9
atau 10 blok, membuat jembatan dari 3 blok, meniru bentuk lingkaran dan
menggambar tanda silang. Pada anak usia 4th, anak sapat merekatkan sepatu,
meniru gambar bujur sangkar, menjiplak segilima dan menambah 3 baguan
kedalam gambar garis. Pada anak usia 5th, anak dapat mengikat tali sepatu,
menggunakan gunting dengan baik, meniru gambar segilima dan segitiga,
menambahkan 7 sampai 9 bagian pada gambar garis dan menulis beberapa huruf
dan angka serta nama depan (potter dan perry,2005).
2.9.4 tumbuh kembang anak prasekolah dalam aspek bahasa
Perkembangan bahasa terjadi paling cepat antara usia 2 dan 5 tahun.
Pembendaharaan kata bertambah dari 50-100 kata sampai 2000lebih. Bahasa
memungkinkan anak mengungkapkan perasaan, seperti marah atau frustasi tanpa
melampiaskannya; oleh karena itu, penundaan berbicara dengan anak
menunjukkan tingkat kemarahan yang lebih tinggi dan tingkah laku luar yang lain
(Behrmaan dan Kliegman,2000).
2.9.5 tumbuh kembang anak pra sekolah aspek kognitif
Menurut pigaet, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode
preoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi
mental secara logis. Melalui kemampuan tersebut, anak mampu berimajinasi atau
berfantasi tentang berbagai hal.
- penyakit dan hospitalisasi pada anak usia prasekolah
Untuk anak prasekolah, hospitalisasi dan penyakit merupakan pengalaman yang
penuh tekanan, utamanya karena perpisahan dengan lingkungan dimana orang lain
berarti, seleksi perilaku koping terbatas dan perubahan status kesehatan. Tujuan
utama yang penting dari keperawatan adalah membuat suatu pengalaman yang
positif (potter dan perry, 2005).
2.10 Asuhan Keperawatan Thypoid Fever Secara Teori
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses
keperawatan tersebut. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga
didapatkan informasi yang tepat.
a) identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan orang tua, suku/bangsa,
agama, tanggal masuk rumah sakit, no.rm, dan diagnosa medik
b) keluhan utama
Demam lebih dari 1 minggu, gangguan kesadaran: Apatis sampai somnolen dan
gangguan saluran cerna seperti perut kembung atau tegang dan nyeri pada
perbaan, mulut bau, konstipasi atau diare, tinja berdarah dengan atau tanpa lendir,
anoreksia dan muntah.
c) riwayat penyakit sekarang
Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella thypi kedalam tubuh
d) riwayat penyakit dahulu
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun
e) riwayat penyakit keluarga
Tifoid kongenital didapatkan dari seorang ibu hamil yang menderita demam tifoid
dan menularkan kepada janin melalui darah
f) imunisasi
g) riwayat pertumbuhan dan perkembangan
2. Riwayat pola aktivitas
- pola nutrisi dan metabolisme
Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan muntah saat
makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali
- pola eliminasi alvi
Klien dapat mengalami konstipasi karena tirah baring lama
- pola elimanasi urine
Warna urine kuning kecoklatan, keringat terlalu banyak keluar, mudah haus
- pola tidur dan istirahat
Terganggu sehubungan peningkatan suhu tubuh
- pola hubungan dan peran
Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien dirawat dirumah sakit
dan bed rest total
- pola penanggulangan stress
Biasanya orang tua akan nampak cemas
3. Pemeriksaan fisik
a) keadaan umum
Didapatkan klien nampak lemah, suhu tubuh meningkat 38-41C, muka
kemerahan.
b) sistem pernafasan (breathing)
Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam, batuk non produktif,
sesak nafas.
c) sistem kardiovaskuler (blood)
Terjadi penurunan tekanan darah, takikardi, hemoglobin rendah
d) sistem neurologis (brain)
Demam, nyeri kepala, kesadaran menurun: Delirium hingga stupor, gangguan
kepribadian, kejang.
e) sistem perkemihan (bladder)
Distensi kandung kemih, retensi urine
f) sisten gastrointestinal (bowel)
Umumnya konstipasi daripada urine, perut tegang, pembesaran limpa dan hati,
nyeri perut pada perabaan, bising usus, melemah atau hilanh, muntah, lidah tifoid
dengan ujung dan tapi kemerahan dan tremor, mulut bau, bibir kering dan pecah-
pecah.
g) sistem muskuloskeletal dan integumen (bone)
Lemah, kulit kering, turgor kulit menurun, nyeri, membran mukosa kering
4. Pemeriksaan penunjang
- jumlah leukosit normal/leukopenia/leukositosis
- anemia ringam, LED meningkat, SGOT, SGPT dan fosfat alkali meningkat
- kenaikan titer reaksi widal 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang memastikan
diagnosis. Pada reaksi widal titer aglutinin O dan H meningkat sejak minggu
kedua. Titer reaksi widal diatas 1:200 menyokong diagnosis.
5. Diagnosis keperawatan
- hipertermi berhubungan dengan gangguan hipotalamus oleh pirogen endogen
- resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh;
intake cairan (mual, muntah)
- resiko kebutuhan nutrisi kurang dari tubuh berhubungan dengan mual,muntah
- intoleransi aktivitas berhubhngan dengan kelemahan dan imobilisasi
- kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
6. Intervensi keperawatan
- Hipertermi Berhubungan Dengan Gangguan Hipotalamus Oleh Pirogen Endogen
Tujuan: Suhu tubuh kembali normal, keamanan dan kenyamanan pasien
dipertahankan
KH: Suhu dalam batas normal, RR dan nadi dalam batas normal
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Obs. Tanda vital terutama suhu tubuh - mengetahui keadaan umum pasien
2-4 jam
2. Berikan kompres dingin - mengurangi peningkatan suhu tubuh
lewat konveksi dan konduksi
3. Atur suhu ruangan yang nyaman - memberikan suasana yanga
kenakan pakaian tipis pada klien menyenangkan dan dapat
menghilangkan panas tubuh melalui
konvenksi dan evaporasi
4. Anjurkan untuk banyak minum air - peningkatan suhu tubuh
putih mengakibatkan penguapan sehingga
perlu diimbangi dengan asupan cairan
yang banyak
5. Kolaborasi pemberian cairan - menggantikan cairan yang hilang
parenteral sesuai indikasi
6. Kolaborasi pemberian antipiretik, - mempercepat proses penyembuhan,
antibiotik menurunkan demam. Pemberian
antibiotik menghambat pertumbuhan
dan proses infeksi dari bakteri
- Resiko Kekurangan Volume Cairan Berhubungan Dengan Peningkatan Suhu
Tubuh; Intake Cairan Kurang (Mual,Muntah)
Tujuan: Kebutuhan cairan terpenuhi
KH: Tidak mual, tidak demam, tidak muntah, suhu tubuh dalam batas normal
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Jelaskan kepada klien tentang - agar pasien dapat mengetahui tentang
pentingnya cairan pentingnya cairan dan dapat memenuhi
kebutuhan cairan
2. Monitor dan catat intake dan output - untuk mengetahui keseimbangan
cairan intake dan output cairan
3. Kolaborasi dengan dokter dalam - mengatasi mual,muntah yang dialami
pemberian antiemetic klien
4. Kaji tanda dan gejala dehidrasj - hipotensi, takikardi, demam dapat
hipovolemik, riwayat muntah, kehausan menunjukkan respon terhadap dan atau
dan turgor kulit efek dari kehilangan cairan
5. Obs. Adanya tanda-tanda syok, - agar segera dilakukan tindakan/
tekanan darah menurun, nadi cepat dan penanganan jika terjadi syok
lemah
6. Berikan cairan peroral pada klien - cairan peroral akan membantu
sesuai kebutuhan memenuhi kebutuhan cairan
7. Anjurkan kepada orang tua klien - asupan cairan secara adekuat sangat
untuk mempertahankan asupan cairan diperlukan untuk menambah volume
secara adekuat cairan tubuh
8. Kolaborasi pemberian cairan - pemberian intravena sangat penting
intravena bagi klien untuk memenuhi kebutuhan
cairang yang hilang
- Resiko Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Berhubungan Dengan
Mual,Muntah
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
KH: Tidak demam, mual berkurang, tidak ada muntah, porsi makan dihabiskan
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Berikan makanan yang tidak - untuk meningkatkan nafsu makan
merangsang saluran cerna, dan sajikan klien dan mengembalikan status nutrisi
dalam keadaan hangat
2. Monitor dan catat makanan yang - untuk mengetahui keseimbangan
dihabiskan pasien haluaran dan masukan
3. Kaji kemampuan makan klien - untuk mengetahui perubahan nutrisi
klien dan sebagai indikator intervensi
selanjutnya
4. Berikan makanan dalam porsi kecil - memenuhi kebutuhan nutrisi dengan
tapi sering meminimalkan rasa mual dan muntah
5. Anjurkan kepada orang tua - menambah selera makan san dapat
klien/keluarga untuk memberikan menambah asupan nutrisi yang
makanan yang disukai dibutuhkan klien
6. Anjurkan kepada orang tua untuk - dapat meningkatkan asam
menghindari makanan yang lambungnyang dapat memicu mual
mangandung gas/asam, pedas muntah
7. Kolaborasi pemberian antiemetik - mangatasi mual muntah, menurunkan
sesuai indikasi asam lambung yang dapat memicu
mual, muntah
- Intoleransi Aktivitas Berhubungan Dengan Kelemahan Dan Imobilisasi
Tujuan: Tidak terjadi kelemahan tubuh
KH: klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Kaji tingkat intoleransi aktivitas - menetapkan intervensi yang tepat
2. Anjurkan keluarga untuk membantu - mengurangi penggunaan energi yang
memenuhi aktivitas kebutuhan sehari- berlebihan
hari
3. Bantu mengubah posisi tidur - mencegah dekubitus karena tirah
minimal tiap 2 jam baring dan meningkatkan kenyamanan
4. Tingkatkan kemandirian klien yang - meningkatkan aktivitas ringan dan
dapat ditoleransi mendorong kemandirian sejak dini

- Kurang Pengetahuan Berhubungan Dengan Kurangnya Informasi


Tujuan: Kurang pengetahuan teratasi
KH: orang tua tidak lagi sering bertanya tentang kondisi anaknya
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua - menjadi indikator untuk menentukan
klien intervensi selanjutnya
2. Beri penjelasan pada orang tua klien - meningkatkan pengetahuan orang tua
tentang penyakit anaknya klien tentang penyakit anaknya

7. Implementasi keperawatan
Implementasi merupakan kategori dan perilaku dimana peraat melakukan
tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diperkirakan dari asuhan
keperawatan (potter & perry,1999)
8. Evaluasi keperawatan
Evaluasi merupakan keputusan atau pendapat (Capernito dan Moyet,2007).
Evaluasi adalah tindakan memeriksa setiap aktivitas dan apakah hasil yang
diharapkan telah tercapai (Rubenfeld Scheffer,1999).