You are on page 1of 20

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN SEPTEMBER2016

UNIVERSITAS HALU OLEO

MELASMA

PENYUSUN :

Andi Gunawan, S.Ked.

K1A1 12 063

PEMBIMBING :

dr. Nelly Herfina Dahlan,M.Kes.,Sp.KK.

KEPANITERAAN KLINIKILMU KESEHATANKULIT DAN KELAMIN

RUMAH SAKIT UMUM BAHTERAMAS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2016
MELASMA

Andi Gunawan, Nelly Herfina Dahlan

A. Pendahuluan

Kata “Melasma” atau hiperpigmentasi wajah, berasal dari bahasa


Yunani yaitu melas, yang artinya “hitam”. Disebut juga
“KloasmaGravidarum” dan Topeng Kehamilan” (Mask of Pregnancy)1.
Secara tipikal mengenai wanita pada umur reproduktif dengan tipe kulit
menurutFritzpatrick tipeIV-VI, walaupun kondisi ini juga dapat terjadi pada
pria2.
Melasma adalah lesi pigmentasi kulit dan predominan mengenai wanita
dengan kulit lebih gelap3. Melasma adalah hipermelanosis didapat, umumnya
simetris, berupa makula berwarna cokelat tua yang tidak merata, mengenai
area yang terpajan sinar ultraviolet dengan tempat predileksi pada pipi, dahi,
daerah atas bibir, hidung dan dagu4.

B. Epidemiologi
Melasma dapat mengenai semua ras terutama penduduk yang tinggal di
daerah tropis4. Melasma cenderung mengenai individu yang umumnya
berkulit lebih gelap, khususnya Asia Timur, Barat, dan Asia tenggara,
Hispanik dan orang hitam yang tinggal di area pajanan matahari yang intens
dan memiliki tipe kulit IV dan V menurut Fitzpatrick5.
Melasma terutama dijumpai pada perempuan, meskipun didapat pula
pada laki-laki 10%. Di Indonesia perbandingan kasus perempuan dan laki-
laki adalah 24:1. Terutama tampak pada perempuan usia subur dengan
riwayat langsung terkena pajanan sinar matahari. Insiden terbanyak pada usia
30 - 44 tahun4.
Kelainan ini dapat mengenai ibu hamil, perempuan yang memakai
kontrasepsi, pemakai kosmetik, pemakai obat, dan lain-lain4.

1
C. Etiologi
Etiologi melasma sampai saat ini belum diketahui pasti. Faktor kausatif
yang dianggap berperan pada patogenesis melasma adalah :
1. Sinar ultra violet. Spektrum sinar matahari ini merusak gugus sulfhidril
di epidermis yang merupakan penghambat enzim tirosinase dengan cara
mengikat ion Cu dari enzim tersebut. Sinar ultra violet menyebabkan
enzim tirosinase tidak dihambat lagi sehingga memacu proses
melanogenesis4.
2. Hormon. Misalnya estrogen, prgesteron, dan MSH (Melanin Stimulating
Hormon) berperan pada terjadinya melasma. Pada kehamilan, melasma
biasanya meluas pada trimester ke-3. Pada pemakai pil kontrasepsi,
melasma tampak dalam 1 bulan sampai 2 tahun setelah dimulai
pemakaian pil tersebut4.
3. Obat. Misalnya hidantoin, mesantoin, klorpromasin, sitostatik, dan
minosiklin dapat menyebabkan timbulnya melasma. Obat ini ditimbun di
lapisan dermis bagian atas dan secara kumulatif dapat merangsang
melanogenesis4.
4. Genetik. Dilaporkan adanya kasus keluarga sekitar 20-70%4.
5. Ras. Melasma banyak dijumpai pada golongan Hispanik dan golongan
kulit berwarna gelap4.
6. Kosmetika. Pemakaian kosmetika yang mengandung parfum, zat
pewarna, atau bahan-bahan tertentu dapat menyebabkan fotosenstivitas
yang dapat mengakibatkan timbulnya hiperpigmentasi pada wajah, jika
terpajan sinar matahari4.
7. Idiopatik.4

2
D. Patofisiologi
1. Sistem Pigmentasi Kulit
Melanin disintesis di dalam sel melanosit dengan bantuan enzim
tirosinase. Enzim tirosinase dibentuk di dalam ribosom, ditransfer ke
dalam lumen retikulum endoplasma kasar, diakumulasi dalam vesikel
yang dibentuk oleh kompleks golgi. Proses sintesis ini terdiri dari empat
tahap, yaitu6 :
a. Tahap I, premelanosom ditandai dengan struktur sferis dan matriks
protein amorf, sedikit aktifitas dari enzim tirosinase.
b. Tahap II, stuktur mulai membentuk oval, aktifitas enzim tirosinase
meningkat, melanin disimpan dalam matriks protein.
c. TahapIII, terdapat peningkatan pembentukan melanin
d. TahapIV,melanin telah terbentuk sempurna dan matang, dengan
panjang 1µm dan diameter 4 µm6.

Melanosome kemudian ditransfer sepanjang mikrotubul membentuk


struktur dendritik menuju keratinosit, disebut apocopation. Pada dasarnya
terdapat tiga enzym yang bekerja dalam mesintesis melanin yaitu
tyrosinase (TRY), Thyrosinase Related Pritein 1 (TRYP-1) dan
Dopachrome tautomerase (DCT), tetapi enzim tirosinase memegang
peranan paling besar diantara semua enzim6.

Sintesis melanin dimulai dengan oksidasi asam amino L-tirosin


menjadi 3,4 dihydroxyphenylalanine (L-DOPA) dan selanjutnya
dioksidasi menjadi DOPAquinone, kemudian keduanya dikatalisis oleh
tirosinase. DOPAquinone kemudian akan diubah menjadi DOPAchrome,
dan pada proses berikutnya diubah menjadi 5,6-dihydroxyindole (DHI)
dan 5,6-dihydroxyindole-2-carboxylic acid (DHICA) yang akan
membentuk eumelanin yaitu melanin berwarna hitam dan juga coklat.
Pada proses tersebut, tirosinase juga berperan untuk mengubah DHI yang
menjadi indole-5-6-quinone. Melanin yang terbentuk kemudian ditransfer

3
dan didistribusikan ke keratinositepidermal di sekitar melanosit maka
akan terjadi pigmentasi kulit. Dari uraian di atas tampak bahwa enzim
utama dalam sintesis melanin adalah tirosinase. Enzim ini berperan untuk
katalisis berbagai tahap biosintesis melanin7.

Jalur sinyal yang terutama berperan dalam transkripsi gen yang


diperlukan dalam sintesis melanin di melanosit adalah jalur cyclic
adenosine monophosphate (cAMP) atau cAMP-dependent protein kinase
(PKA). Peningkatan jalur cAMPintraselular akan mengaktivasi transkripsi
gen spesifik, di antaranya microphthalmia-associatedtranscriptionfactor
(MITF) yang merupakan faktor transkripsi utama tirosinase7.

Karakteristik keadaan untuk melasma yaitu terjadi kelainan proses


pigmentasi berupa hipermelanosis epidermal, yang disebabkan oleh
peningkatan produksi melanin tanpa perubahan jumlah melanosit, dengan
mekanisme peningkatan produksi melanosom, peningkatan melanisasi
dari melanosom, pembentukan melanosom yang lebih besar, peningkatan
pemindahan melanosom ke dalam keratinosit, dan peningkatan ketahanan
melanosom dalam keratinosit8.

Gambar 1. Proses Sintesis Melanin6.

4
2. Patogenesis Etiologi
a. Sinar Ultraviolet
Paparansinarmatahariadalahfaktoryang
sangatberpengaruh,danini berlakuuntuksemuapasien
yangmengalamiperbaikanataubertambah
parahapabilaterpaparsinarmatahari.Eksaserbasimelasmahampirpasti
dijumpaisetelahterpaparsinarmatahariyang
berlebihan,mengingatkondisi melasmaakanmemudarselama
musimdingin.Lipiddanjaringantubuh (kulit)yang
terpapardengansinar,terutamaUV dapatmenyebabkan
terbentuknyasingletoxygendanradikalbebasyang merusaklipiddan
jaringantersebut. Radikal bebas ini akan menstimulasi melanosit
untuk memproduksi melaninyangberlebihan8.
Panjanggelombang dariradiasisinarmatahariyangpaling berisiko
dalampencapaiannya kebumiadalahUVB 290-320nmdanUVA320-
400nm.Semakinkuat UVB makaakan semakinmenimbulkanreaksidi
epidermis,denganperkiraan10%dapatmencapaidermis,sementara 50%
UVA akanmencapaidermis.Sinar UVakanmerusakgugussulfhidrilyang
merupakan penghambat tirosinasesehinggadengan adanyasinar
UV,enzim tirosinase bekerja secara
maksimaldanmemicuprosesmelanogenesis. Padamekanisme
perlindunganalamiterjadipeningkatan
melanositdanperubahanfungsimelanositsehingga
timbulprosestanningcepatdan lambatsebagairesponterhadap
radiasiUV. Ultraviolet A menimbulkan
reaksipigmentasicepat.Reaksicepatinimerupakan
fotooksidasidarimelaninyang telahada,danmelaninhasilradiasiUVA
hanyatersebar pada stratumbasalis. Padareaksipigmentasilambatyang
disebabkan oleh UVB,
melanositmengalamiproliferasi,terjadisintesisdan

5
redistribusimelaninpada keratinositdisekitarnya.Melasmamerupakan
proses adaptasi melanositterhadap paparan sinarmatahariyangkronis8.
Terjadinyamelasmapadadaerah wajahkarenamemiliki jumlah
melanositepidermalyang lebihbanyakdibandingbagiantubuhlainnyadan
merupakandaerahyangpaling sering terpaparsinarmatahari.Interaksi
antara faktor sinar matahari dan berbagai hormon terjadi di perifer,
kemudian bersama-samamempengaruhi metabolisme melanin di
dalam melanoepidermal unit8.
b. Hormon
Selama masakehamilanterutama trimester
terakhir,terdapatpeningkatanhormon estrogen, progesteron,
danMelanin StimulatingHormone(MSH). Hormon seks steroid
dapatmeningkatkangentranskripsiyang
mengkodeenzimmelanogenikyaituTYRdan
DCT.Selmelanositmemilikireseptorestrogen
baikdisitosolmaupundiintisel,
sedangkandarihasilsebuahpenelitianmenyatakanbahwa
hormonestrogendapat bekerja
padaselkeratinositmelaluijalurgenomikdannongenomic.Hormonestrog
en bekerjadenganmengikatreseptornyayaituestrogenreceptorά
(ERά)danestrogen receptor β(ERβ). Erάterdapat pada jaringan
reproduksi,tulang,kardiovaskuler dan
otak,baikpadaperempuanmaupunlaki-laki.Erβjuga
terdapatdijaringanreproduksi, paru-paru,kandung
kemih,jantung,ginjaldankulit.Estrogenmemilikifungsiyang berbeda-
beda berdasarkantipe selyaitukeratinosit,fibroblastdanmelanosit. Pada
keratinosit,estrogenakanmenstimulasiproliferasiselkeratinosit,yang
jugaakan meningkatkan sekresi GM-CSF6.
Hiperpigmentasi atau melasma juga dapat terjadi dengan
mengkonsumsi kontrasepsi oral, selain itu dapat terjadi pada

6
penggunaan obat Photosensitizing, tumor ovarium ringan atau
gangguan fungsi tiroid6.
Melasma merupakan suatu keadaan yang dapat sembuh sendiri,
tapi akan kembali lagi apabila ada ketidakseimbangan hormon yang
disebabkan oleh karena obat6.
Kehamilan : Pada kehamilan terjadi peningkatan pigmentasi
atau melasma disebabkan oleh karena faktor endokrin dan dengan
adanya interaksi dari sinar matahari dan efek hormon . Kira-kira 50-
75% wanita hamil disertai dengan melasma. Biasanya timbul pada
trimester pertama, menghebat sampai melahirkan, kemudian
menurun setelah melahirkan, umumnya menghilang sesudah 1 tahun
melahirkan, tetapi pada 30% kasus menetap sampai sesudah 10 tahun
melahirkan. Keadaan ini sering dijumpai pada wanita berkulit gelap
atau berambut hitam9.
Estrogen berperan langsung pada melanosit, terbukti pada
pemberian estrogen topikal di puting susu akan menimbulkan
hiperpigmentasi. Estrogen meningkatkan jumlah melanin dalam sel,
sedangkan progesteron menyebabkan peningkatan penyebaran
melanin dalam sel, ditambah lagi jumlah sel melanosit terbanyak
didaerah wajah dan merupakan daerah yang menerima paparan sinar
matahari langsung maksimal, ini semua bertanggung jawab
menentukan lokasi melasma. Pada wanita menopause yang diberikan
terapi estrogen jarang sekali terjadi melasma, hal ini mendasari
dugaan bahwa estrogen bukanlah faktor penyebab. KB hormonal. Pil
kontrasepsi merupakan faktor hormonal eksogen yang penting juga
untuk terjadinya melasma. Pil kontrasepsi mengandung estrogen dan
progesteron, sedangkan suntikan depoprovera dan norplant hanya
mengandung progesteron saja. Melasma timbul 1 – 20 bulan setelah
menggunakan kontrasepsi9.
Progesteron merupakan suatu kloasma gen yang poten
walaupun estrogen sendiri juga dapat menyebabkan melasma,

7
gabungan antara progesteron dan estrogen akan memberikan efek
yang lebih besar. Insidensmelasma yang disebabkan pil kontrasepsi
sebesar 53,5%. KB hormonalnon estrogen (mengandung progesteron
saja) tidak terbukti beresiko terhadap timbulnya melasma9.

c. Obat
Berbagai macam obat sistemik dapat menimbulkan melasma
antara lain klorpromazin, klorokuin, kortikosteroid sistemik,
sitostatika, arseninorganik, iron, fenitoin, hidantoin, mesantoin,
golongan tetrasiklin. Obat-obat ini ternyata tertimbun pada dermis
bagian atas secara kumulatif 9.
1) Klorpromazin akan bereaksi dengan melanin membentuk suatu
kompleks dan menimbulkan pigmentasi biru abu-abu pada daerah
yang terpajan sinar matahari, terutama pada dahi, malar, dan
hidung. Pigmentasi ini terjadi pada 1 – 15% penderita yang
mendapat klorpromazin dengan dosis 800 – 2000 mg perhari
selama satu tahun9.
2) Klorokuin. Kira-kira 25% pasien yang menggunakan klorokuin
selama beberapa tahun akan timbul hiperpigmentasi biru abu-abu
di muka dan leher, kadang-kadang di tungkai bawah dan lengan.
Sedangkan kuinin dan kuinidin menimbulkan hiperpigmentasi
generalisata9.
3) Minosiklin. Pemberian minosiklin 100-200 mg perhari selama 1-3
tahun akan menimbulkan hiperpigmentasi berwarna biru abu-abu.
Tampak penimbunan pigmen perivaskuler disemuatingkat
dibawahpapilari dermis9.
4) Fenotiazin. Penggunaan Fenotiazin dalam jangka lama akan
menimbulkan warna biru abu-abu sampai ungu.
5) Pemakaian sitostatika dapat terjadi hiperpigmentasidifusa akibat
penurunan turnoverrate sel-selkeratinosit9.

8
d. Genetik dan Ras
Faktor genetik dan ras mempunyai kontribusi bermakna
terhadappatogenesis melasma, seperti yang diduga pada
kajadianmelasmafamilia bahwa penyakit ini jauh lebih sering
ditemukan pada ras Hispanik, Latin,Oriental dan Indo-Cina. Faktor
predisposisi genetik pada melasma seringdijumpai pada penderita
dengan tipe kulit III-VI8.
Orang-orang yang berkulitcoklat terang dari daerah yang
banyakmengandung sinar matahari, menunjukkan lebih dari 30%
penderitamelasma mempunyai riwayat keluarga dengan melasma
juga. Pada kembaridentik pernah dilaporkan menderita melasma,
sementara saudara kandunglain dengan kondisi yang sama tidak
menderita melasma. PenelitianRikyanto, pasien melasma yang terjadi
pada usia 21-30 tahunkemungkinan besar terjadi karena faktor
genetik. Melasma terjadi pada usialebih muda bila terdapat riwayat
melasma dalam keluarga. Meskipun telahdilaporkan beberapa kasus
yang familial, bukti bahwa melasma dapat diturunkan sangat lemah8.
Faktor genetik melibatkan migrasi melanoblas dan
perkembangan sertadiferensiasinya di kulit. Morfologi melanosit,
struktur matriks melanosom,aktivitas tirosinase dan tipe dari melanin
yang disintesis, semua dibawahkontrol genetik8.

e. Kosmetik
Berbagai zat yang terkandung didalam kosmetika dapat
memberikan faktor positif dan negatif bagi kulit. Perbedaan ras, warna
dan jenis kulitseseorang dapat menimbulkan efek kosmetik. Penelitian
Tranggono padabulan Januari sampai Desember 1978 terhadap 244
pasien di RS CiptoMangunkusumo Jakarta yang menderita noda-noda
hitam, 18,3%diantaranya disebabkan oleh kosmetik. Bahan kosmetika
yangmenimbulkan hiperpigmentasi/melasma yaitu yang berasal dari
bahan iritanatau photosensitizermisalnya minyak bergamot, tar,

9
beberapa asam lemak,minyak mineral, petrolatum, lilin tawon, bahan
pewarna seperti Sudan III,para-fenilendiamin, pewangi, dan pengawet
kosmetik. Melasma yangterjadi biasanya difus dengan batas tidak
jelas dan akan lebih jelas bilaterkena sinar matahari8.
Patogenesis diduga akibat reaksi fotosensitisasi setelah terkena
pajanansinar matahari. Absorbsi sinar oleh bahan fotosensitizer,
kemudianterbentuk hapten yang akan bergabung dengan protein karier
dan memicuterjadinya respon imun. Mediator inflamasi yang
mempunyai kemampuanmerangsang proliferasimelanosit yaitu
leukotrien Cdan D. Sedangkansitokin dan interleukin (IL)-1 a, IL6,
Tumor NecrosingFactor(TNF) αmenghambat proliferasi melanosit8.
Selain hipermelanosisepidermal, juga terdapat
hipermelanosisderma dan edemakutis. Terdapat peningkatan jumlah
makrofag dermis bagian atasdan multiplikasi laminabasalis.
Terjadinya responedemakutisterhadappemberian bahan-bahan kimia
ini menunjukkan adanya degenerasi danregenerasi sel basal. Dalam
proses ini melanosom dalam keratinosit yangmengalami degenerasi
berpindah ke dermis dan terjadilah inkontinensiapigmenti, dan
hiperpigmentasidermal8.

E. Gejala Klinis
Pigmentasi biasanya terjadi cukup cepat dalam beberapa pekan,
terutama setelah terpajan sinar matahari10.
Lesi kulit yang terjadi pada melasma yaitu makula hiperpigmentasipada
wajah, warna dan intensitasnya sangat tergantung pada tipe kulit pasien.
Cokelat muda atau cokelat muda maupun hitam. Warnanya biasanya seragam
atau dapat pula seperti bercak-bercak/ bernoda10.Kebanyakan simetris. Tepi
lesi bergerigi, ireguler, dan geografis. Duapertiga pada bagian tengah wajah;
pipi, dahi, hidung, bibir atas, dan dagu; persentasi sedikit didapatkan pada
bagian wajah yaitu malar atau mandibular dan kadang-kadang pada bagian
dorsal lengan bawah10.Lesi melasma berupa makula berwarna cokelat muda

10
atau cokelat tua berbatas tegas dengan tepi tidak teratur, sering pada pipi dan
hidung yang disebut pola mala. Pola mandibular terdapat pada dagu,
sedangkan pola sentrofasial di pelipis, dahi, alis dan bibir atas. Warna keabu-
abuan atau kebiru-kebiruan terutama pada tipe dermal4.

Gambar 2.Melasma dengan berbagai pola; a. Pola Sentrofasial; b. Pola


Malar; c. Pola Mandibular9
F. Diagnosis
Diagnosis Melasma ditegakkan hanya dengan pemeriksaan klinis.
Untuk menentukan tipe melasma dilakukan pemeriksaan sinar Wood,
sedangkan pemeriksaan histopatologik hanya dilakukan pada kasus-kasus
tertentu4.
Pembantu Diagnosis
1. Pemeriksaan histopatologik4
Terdapat 2 tipe hipermelanosis :
a. Tipe epidermal : melanin terutama terdapat di lapisan asal dan
sura asal, kadang-kadang di seluruh stratum spinosum sampai
stratum korneum; terdapat sel-sel melanosit yang padat
mengandung melanin, sel-sel lapisan asal, dan suprabasal, juga
terdapat pada keratinosit dan sel-sel stratum korneum4.
b. Tipe derma ; terdapat makrofag bermelanin di sekitar pembuluh
darah pada dermis bagian atas dan bawah; terdapat fokus-fokus
infiltrat pada dermis bagian atas4.
2. Pemeriksaan mikroskop elektron4
Gambaran ultrastrukturmelanosit dalam lapisan basal memberi
kesan aktivitas melanosit meningkat4.

11
3. Pemeriksaan dengan sinar Wood4
a. Tipe epidermal : warna lesi tampak lebih kontras
b. Tipe dermal : warna lesi tidak bertambah kontras
c. Tipe campuran : lesi ada yang bertambah kontras ada yang tidak
d. Tipe tidak jelas : dengan Sinar Wood lesi menjadi tidak jelas,
sedangkan dengan sinar biasa jelas terlihat4.

G. Differential Diagnosis
Hipermelanosis Paska Inflamasi
Hiperpigmentasi ini terjadi disebabkan oleh obat, reaksi fototoksis,
infeksi, trauma dan alergi.Gambaran klinis berupa makula
hiperpigmentasi.Gambaran histologi didapatkan timbunan pigmen dengan
akumulasi melanophages dan peningkatan melanin di lapisan dermal atau
epidermal6.
Perubahan warna kulit akibat inflamasi pada kulit yang berwarna tidak
begitu sama jelasnya dengan kulit putih. Proses inflamasi yang berat pada
kulit putih akan memperlihatkan kemerahan yang mencolok. Pada kulit yang
berwarna tidak akan begitu jelas. Tanda inflamasi dapat memperlihatkan
warna coklat6.

H. Penatalaksanaan
1. Pengobatan Topikal
a. Hidroquinon (HQ)
Hidroquinon adalah suatudihydricphenolyang menghambat
konversi dari DOPA ke melanin dengan menhambat enzim tirosinase.
Mekanisme lainnya termasuk menginhibisi sintesis RNA dan DNA
dan destruksi dari melanosit. HQ merupakan gol standar pengobatan
melasma. Digunakan pada konsentrasi 2-4%. Efektif jika
dikombinasikan dengan obat lain. Kombinasi ini termasuk formula
Kligman (5% HQ, 0,1 % Tretionin, dan 0,1 dexametason), formula
modifikasi Kligman (4% HQ, 0,05% Tretionin dan 1% hidrokortison

12
asetat), formula Pathak (2% HQ dan 0,05-0,1% tretionin) dan formula
Westerchof (4,7% N-Asetilsistein, 2%HQ, dan 0,1%
Triamcinolonacetonid). Kombinasi mikroenkapsulasi HQ 4% dengan
retinol 0,15% dan antioksidan juga telah dilakukan pada melasma
dengan hasil menunjukkan peningkatan pada beratnya penyakit,
intensitas pigmentasi, area lesi dan pemeriksaan kolorimetri2.
Hidrokuinon sering menimbulkan alergi sehingga harus
ditangani dengan perawatan khusus berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan hidrokuinon dapat menyebabkan toksisitas akut dan
kronik hidrokuinon juga dapat menyebabkan kelainan pada ginjal
(Nephropathy), proliferasi sel, dan berpotensi sebagai karsinogenik
dan teratogenik9.

b. Asam Retinoat (retinoic acid/tretionin)


Asam retinoat 0,1% terutama dgunakan sebagai terapi tambahan
atau terapi kombinasi. Krim tersebut juga dipakai pada malam hari,
karena pada siang hari dapat terjadi fotodegradasi. Kini asam retinoat
dipakai sebagai monoterapi, dan didapatkan perbaikan klinis secara
bermakna, meskipun berlangsung agak lambat. Efek samping berupa
eritema, deskuamasi, dan fotosensitasi4.
Tretionin banyak digunakan untuk pengobatan melasma sebagai
agen pencerah. Oleh karena efektifitasnya, penglupasan dengan
menggunakan tretionin dapat memperbaiki pigmentasi pada melasma.
Tretionin juga daat digunakan sebagai masker2.
Tretinoin (asam retinoat atau asam vitamin A) juga terbukti
efektif untuk pengobatan melasma. Selain melasma, tretinoin juga
digunakan untuk mengobati hiperpigmentasi akibat penuaan dini dan
hiperpigmentasi postinflamasi. Tretinoin secara luas diyakini dapat
menyebabkan penyebaran granul-granul pigmen dalam keratinosit,
dengan mengganggu transfer pigmen, dan mempercepat transfer
epidermis, sehingga pigmen hilang secara lebih cepat. Tretinoin juga

13
mempercepat turnover epidermis, mempersingkat “transit time” di
lapisan basal dan mempercepat hilangnya pigmen melalui proses
epidermopoesis. Asam retinoat (RA) mereduksi melanin epidermis,
kemungkinan dengan cara menurunkan jumlah transfer melanosom
ke keratinosit, selanjutnya meningkatkan proliferasi epidermis dan
penghambatan enzim tirosinase dan pada akhirnya terjadi penurunan
proses melanogenesis. Ketika digunakan sebagai monoterapi, tretinoin
cukup efektif akan tetapi membutuhkan waktu pengobatan selama 6
bulan atau lebih. Sehingga tretinoin sering dikombinasikan dengan
satu atau lebih bahan lainnya untuk mempercepat timbulnya efek yang
diharapkan8.
Tretinoin juga berpotensi untuk menginduksi sintesis DNA sel
epidermal dandermal. Hal ini dianggap dapat membantu meniadakan
efek atrofogenik steroid topikal dengan meningkatkan ketebalan kulit.
Tretinoin mengesampingkan efek atrofi dan anti mitotik akibat
penggunaan kortikosteroid. Reaksi iritasi akibat tretinoin dapat
memfasilitasi penetrasi epidermal dari HQ dan juga mencegah HQ
teroksidasi. Konsentrasi tretinoin berkisar antara 0,05% sampai 0,1%8.
c. Asam Azeleat (Azeleic acid)
Asam Azeleat merupakan obat yang aman untuk dipakai.
Pengobatan dengan asam azeleat 20% selama 6 bulan memberikan
hasil yang baik. Efek sampingnya rasa panas dan gatal4.

2. Pengobatan Sistemik
a. Tranexamic Acid(Asam Traneksamat)
Asam Traneksamat adalah satu asam karboksil 4-aminomethyl
cycloxehane , satu analog lisin yang digunakan sebagai anti
fibrinolitik selama lebih dari 30 tahun. Obat ini menghambat aktivitas
plasminterinduksi UV dalam keratinosit dengan cara mencegah ikatan
plasminogen dengan keratinosit. Hal tersebut akan menyebabkan
berkurangnya asam arakhidonat dan mengurangi kemampuan untuk

14
memproduksi prostaglandin, dan mengurangi aktivitas
tirosinasemelanosit. Zhang telah mengemukakan bahwa asam
traneksamat dapat mengganggu reaksi katalitik dari tirosinase dan
menghambat melanogenesis. Pada pengobatan menggunakan asam
traneksamat dapat melalui oral maupun topikal atau mikroinfeksi
intradermal. Sebagai hemostatik, asam traneksamat diresepkan dalam
dosis 1000 mg 3 kali sehari, sedangkan dalam pengobatan melasma,
diberikan 250 mg 2 kali sehari2.
Dalam satu studi yang dilakukan di Cina pada penderita
melasma yang diobati dengan asam traneksamat 250 mg 2kali sehari
selama 6 bulan, dilakukan evaluasi efek pengobatan berdasarkan
berkurangnya ukuran melasma dan perbaikan pigmentasi. Hasilnya
sangat baik pada 10,8%, baik 54%, sedang 31,1%, dan kurang 4,1%.
Efek samping yang didapatkan adalah gangguan gastrointestinal dan
hipomenore. Rekurensi terlihat pada 9,5% pasien2.
Asam Traneksamat juga dapat digunakan secara topikal. Dari
hasil studi Kanechornet la, 5% AT dicampurkan dengan formulasi gel
liposom yang dicobakan pada 23 wanita Asia dengan
melasmaepidermal bilateral. Pengobatan diberikan selama 12 minggu
dan dibandingkan dengan split-face. 78,2 % pasien menunjukkan
penurunan indeks melanin. Namun, hasilnya tidak signifikan
sebanding dengan splitface. Temuan lain pada studi ini adalah
eritema yang diinduksi oleh asam traneksama topikal2.
b. Asam Askorbat/Vitamin C
Vitamin C mempunyai efek merubah melanin bentuk oksidasi
menjadi melanin bentuk reduksi yang berwarna lebih cerah dan
mencegah pembentukan melanin dengan mengubah DOPAkinon
menjadi DOPA4.
c. Glutation

15
Glutation bentuk reduksi adalah senyawa sulfihidril (SH), berpotensi
menghambat pembentukan melanin dengan jalan bergeabung dengan
cuprum dari tirosinase4.

3. Tindakan Khusus
a. Pengelupasan Kimiawi
Penglupasan kimiawi dpat membantu pengobatan kelainan
hiperpigmentasi. Pengelupasan kimiawi dilakukan dengan
mengoleskan asam glikolat 50-70% selama 4 sampai 6 menit, setiap 3
minggu selama 6 kali. Sebelum dilakukan pengelupasan kimiawi
diberikan krim asam glikolat 10% selama 14 hari4.

b. Bedah Laser
Bedah laser dengan menggunakan laser Q-Switched Ruby dan Laser
Argon, kekambuhan juga dapat terjadi4.
Berbagai laser yang digunakan untuk melasma adalah sebagai berikut2
1) Green light: Flashlamp-pumped PDL (510 nm), frequencydoubled
Q switched neodymium: Yttrium aluminiumgarnet-532 nm (QS
Nd: YAG)
2) Red light: Q switched ruby (694 nm), Q switchedalexandrite (755
nm)
3) Near-infrared: QS Nd: YAG (1064 nm).

I. Pencegahan
1. Pencegahan terhadap timbulnya Ata bertanbah berat serta kambuhnya
melasma adalah perlindungan terhadap sinar matahari. Penderita
diharuskan menghindari pajanan langsung sinar ultraviolet terutama
antara pukul 09.00 – 15.00. sebaiknya jika keluar rumah menggunakan
payung atau topi yang lebar. Melindungi kulit dengan memakai tabir

16
surya yang tepat, baik mengenai bahan maupun cara pemakaiannya.
Tanpa pemakaian tabir surya dianjurkan 30 menit sebelum terkena
pajanan sinar matahari. Ada 2 macam tabir surya yang dikenal, yaitu
tabir surya fisis dan tabir surya kimiawi. Tabir surya fisis adalah bahan
yang dapat memantulkan/menghamburkan ultra violet, misalnya titanium
dioksida, seng dioksida, kaolin; sedangkan tabir surya kimiawi adalah
bahan yang menyerap ultra violet. Tabir surya kimiawi ada 2 jenis4 ;
a. Yang mengandung PABA (Para Amino Benzoic Acid) atau
derivatnya, misalnya octil PABA
b. Yang tidak mengandung (non PABA)mislanyabensofenon,
sinamat, salisilat, dan antranilat4.
2. Menghilangkan faktor yang merupakan penyebab melasma, misalnya
menghentikan pemakaian pil kontrasepsi, menghentikan pemakaian
kosmetika yang berwarna atau mengandung parfum, mencegah
penggunaan obat, seperti hidantoin, sitostatika, obat antimalaria, dan
minosiklin4.

J. Prognosis
Melasma dapat menghilang secara spontan setelah lewat periode bulan
penggunaanatau setelah penghentian hormon kontrasepsi. Melasma dapat
juga tidak kembali pada kehamilan berikutnya10.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Ingber A. Obstetric Dermatology A Practical Guide. Springer, 2009; 7-18p.

2. Sarkar Rashmi, et al. Melasma Update. Indian Dermatology Online Journal.

2014; 5(4). 426-435p.

3. Sim Jii Hoon, et al. Treatment of Melasma by Low Fluence 1064 nm Q

Switched Nd: YAG Laser. Journal Of Dermatological Treatment. 2014; 25.

212 – 217p.

4. Soepardiman Lily. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi Ketujuh. Badan

Penerbit FK UI Jakarta. 2015. 342-345 p.

5. James William D. Andrew’s Diseases of The Skin Clinical Dermatology

Eleventh Edition. Elsevier. 2011; 846-848p.

6. Hastianingsih Indiradewi. Krim Ekstrak Etanol Kulit Batang Pohon Nangka

(Arthocarpus Heterophilus) Sama Efektifnya dengan Krim Hidrokuinon

dalam Mencegah Peningkatan Jumlah Melanin pada Kulit Marmut (Cavia

Porcelus) yang dipapar Sinar UVB. Universitas Udayana Denpasar. 2015. 1 –

89p.

7. Hindriantriani Reti, et al. Penurunan Aktivitas Tirosinase dan Jumlah

Melanin oleh FraksiEtil Asetat Buah Malaka (Phyllantus emblica) pada

Mouse Melanoma B16 Cell-Line. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan

Kelamin, FK Universitas Padjajaran. MKB. 2013; 45(2). 118-124 p.

8. Wibowo Almond. Tranexamic Acid Lebih Menurunkan Skor Melasma

daripada Triple Combination (Hidrokuinon 4%, Tretinoin 0,05%,

18
Fluosinolon Asetonid 0,01%) Pada Proses Anti Aging Kulit. Program Studi

Ilmu Biomedik Universitas Udayana. 2014. 1-65 p.

9. Tristianty Susan. Pemberian Kombinasi Krim Hidrokuinon dan Asam

Traneksamat Oral Menurunkan Jumlah Melanin Lebih Banyak

Dibandingkrim Hidrokuinon Pada Marmut Betina (Cavia

Porcellus)yangDipapar Ultraviolet B. Program Studi Ilmu Biomedik

Universitas Udayana. 2014. 1-57 p.

10. Wolff Klaus. Johnson R Allen. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of

Clinical Dermatology. Mc Graw-Hill Companies. 2009. 344-346 p.

19