You are on page 1of 10

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping Petugas CekKesesuaian

Format Artikel

Yessy Rosalina, S.TP, M.Si Drs. Syafnil, M.Si Ela Sri Lestari

Studi Pembuatan Plastik Biodegradable Berbahan Dasar Tepung Pisang


Merah (Musa Acuminata Red Decca) Dengan Variasi Penambahan CaCO3

Arie Judesta Putra1, Yessy Rosalina2, Syafnil2


1)
Mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
2)
Dosen Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Jalan W.R Supratman, Kandang Limun, Bengkulu, 38371A
Arijudesta95@gmail.com

ABSTRACT
The aim of this research is to get the characteristic of biodegradable plastic from red
banana flour (Musa Acuminata red decca) with variation of calcium carbonate (CaCO3)
addition and get the effect of CaCO3 addition on biodegradable plastic making process made
from red banana flour. The research design used in this study was to use a complete
randomized design with 1 factor that is the addition of calcium carbonate (CaCO3) filler.
Where for the addition of calcium carbonate used is K1 (0%), K2 (1%), K3 (2%), K4 (3%)
and K5 (4%). The results of the study that the use of red banana flour can be used as an
ingredient in the manufacture of bioplastics. Addition of CaCO3 filler gave no significant
effect to the tensile strength test of bioplastic. Where more and more CaCO3 is added then the
value of the resulting tensile strength increases. The maximum value of tensile strength is
obtained In addition to 3% CaCO3 due to the addition of 4% CaCO3 the value of tensile
strength decreases The highest tensile strength value is obtained by adding 3% CaCO3 with
the value of 1,305.56 N / m2 and the lowest value obtained on bioplastic without the addition
of CaCO3 is 961, 12 N / m2. And for elongation percentage gives a significantly different
effect on bioplastic. The more the added CaCO3 composition the elongation value will
decrease. The highest elongation value was obtained at treatment without CaCO3 addition
with value of 7.78% and the lowest elongation value was obtained at 4% CaCO3 addition with
3.89% value. As for the value of biodegradation have a significant different effect on the
bioplastic properties produced. The more the addition of CaCO3 then the percent value of
mass reduction will be smaller. The highest degradation value obtained at treatment without
CaCO3 addition was 82.24% while the lowest degradation value was 33.38% with 4% CaCO3
addition treatment.
Keywords : Biodegradable, Musa acuminata red dacca, CaCO3 .

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik plastik biodegradable dari
tepung pisang merah (Musa Acuminata red decca) dengan variasi penambahan kalsium
karbonat (CaCO3) dan mendapatkan pengaruh penambahan CaCO3 pada proses pembuatan
plastik biodegradable berbahan tepung pisang merah. Rancangan penelitian yang
digunakakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan acak lengkap (RAL)
dengan 1 faktor yaitu penambahan bahan pengisi kalsium karbonat (CaCO3). Dimana untuk
penambahan kalsium karbonat yang digunakan adalah K1 (0%), K2 (1%), K3 (2%), K4 (3%)
dan K5 (4%). Hasil penelitian bahwa Penggunaan tepung pisang merah dapat digunakan
1
sebagai bahan dalam pembuatan bioplastik. Penambahan bahan pengisi CaCO3 memberikan
pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap uji kuat tarik bioplastik. Dimana semakin banyak
CaCO3 yang di tambahkan maka nilai kuat tarik yang dihasilkan semakin meningkat. Nilai
maksimum kuat tarik diperoleh Pada penambahan 3% CaCO3 karena pada penambahan 4%
CaCO3 nilai kuat tarik menurun Nilai kuat tarik tertinggi diperoleh dengan penambahan 3%
CaCO3 dengan nilai 1.305,56 N/m2 dan nilai terendah diperoleh pada bioplastik tanpa
penambahan CaCO3 yaitu 961,12 N/m2. Dan untuk persen pemanjangan (elongasi)
memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap bioplastik. Semakin banyak komposisi
CaCO3 yang ditambahkan maka nilai elongasi akan semakin berkurang. Nilai elongasi
tertinggi diperoleh pada perlakuan tanpa penambahan CaCO3 dengan nilai 7,78% dan nilai
elongasi terendah diperoleh pada penambahan 4% CaCO3 dengan nilai 3,89%. Sedangkan
untuk nilai biodegradasi memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap sifat bioplastik
yang dihasilkan. Semakin banyak penambahan CaCO3 maka nilai persen pengurangan massa
akan semakin kecil. Nilai degradasi tertinggi diperoleh pada perlakuan tanpa penambahan
CaCO3 yaitu 82,24% sedangkan nilai degradasi terendah 33,38% dengan perlakuan
penambahan 4% CaCO3.
KataKunci : Biodegradable, Musa acuminate red dacca, CaCO3.

PENDAHULUAN

Bioplastik atau yang sering disebut plastik biodegradable, merupakan salah satu jenis plastik
yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan yang dapat diperbaharui seperti pati, minyak
nabati dan mikroba. Bioplastik biasa digunakan sabagai kemasan seperti penggunaan plastik
konvensional pada umumnya. Bahan yang dapat diperbaharui ini memiliki biodegradabilitas
yang tinggi sehingga dapat berpotensi untuk dijadikan bahan pembuat bioplastik (Anggraini,
2013).
Pembentukan plastik biodegradable dengan bahan dasar pati (starch) menggunakan
prinsip gelatinisasi. Karena di dalam pati terdapat ikatan hidrogen yang kuat, hal ini
mengakibatkan granula di dalam pati tidak larut dalam air dingin. Namun berbeda jika air
tersebut dipanaskan, granula pati akan secara bertahap mulai membengkak secara irreversible.
Meningkatnya viskositas membuat kekentalan pada bagian-bagian granula akhirnya akan
menjadi larutan kanji kental. Proses ini dikenal sebagai gelatinisasi. Kemampuan pati untuk
mengental seperti pasta bila dipanaskan dalam air, adalah sifat yang digunakan dalam aplikasi
pati (Wurzburg, 1989) dalam Haryati dkk, (2017).
Tepung pisang mengandung banyak granula pati yang dapat digunakan sebagai bahan
baku polimer yang baik untuk memodifikasi tekstur dan konsistensi makanan (Witono dkk,
2012). Salah satu jenis pisang lokal Bengkulu yang berpotensi diolah menjadi tepung pisang
adalah pisang merah. Hasil penelitian Setiawan (2017) menyatakan bahwa tepung pisang
merah mempunyai rendemen 14,5132 %, kadar air 7,24% dan ukuran granula pati 660,93 µm.
Pati adalah polimer glukosa dan ditemukan sebagai karbohidrat simpanan dalam tumbuh-
tumbuhan, misalnya ketela pohon, pisang, jagung dan lain-lain (Poedjiadi, 1994).
Berbagai hasil penelitian yang menggunakan tepung menghasilkan plastik
biodegradable yang cukup baik. Penggunaan tepung biji durian menghasilkan karakteristik
terbaik dengan nilai kuat tarik yaitu 0,71 MPa dan untuk uji pemanjangan (elongasi) yamg
terbaik adalah 16,3% (Haryati dkk, 2017). Hasil penelitian lainnya oleh Munawaroh, dkk
(2015), menunjukkan hasil yang terbaik yaitu 10,51 kg/cm2 dan nilai elongasi 17,33%. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahan tepung dapat digunakan sebagai bahan baku
pembuatan plastik biodegradable yang efektif dan ramah lingkungan.
Salah satu bahan pengisi pada pembuatan plastik biodegradable adalah kalsium
karbonat (CaCO3). CaCO3 nanopartikel banyak digunakan dalam berbagai bidang industri,
seperti untuk pigmen putih, pengisi dan pengembang untuk kertas, karet, cat, dan plastik,
dikarenakan pada ukuran nanopartikel CaCO3 dapat terdispersi lebih merata di dalam matriks
2
sehingga dapat tercampur dengan homogen. CaCO3 nanopartikel sebagai pengisi pada plastik
dapat menghasilkan plastik biodegradable yang ramah lingkungan (Bahanan, 2010).
Penambahan bahan pengisi CaCO3 dapat meningkatkan kekuatan plastik yang terlalu
lentur, meningkatkan kekuatan, mengurang kelenturan serta kecendrungan pada bioplastik
untuk bengkok. Kalsium kerbonat sendiri harganya lebih murah dibandingkan dengan bahan
pengisi lainnya (Widyaningsih dkk, 2012). Penggunaan kalsium karbonat sebagai pengisi
sudah pernah dilakukan pada penelitian sebelumnya seperti penelitian Yang dkk (2004)
dimana penambahan CaCO3, dapat meningkatkan kuat tarik dari poli paduan pati dengan
polyvinyl alcohohol (PVA) sebagai dampak dari semakin kompaknya struktur poli paduan
karena adanya CaCO3.
Penggunaan plastik di indonesia pada tahun 2010 adalah 2,4 juta ton pertahun dan
pada tahun 2011 meningkat menjadi 2,6 juta ton. Akibat dari peningkatan penggunaan plastik
ini adalah bertambah pula jumlah sampah plastik (Surono, 2011). Hal ini menyebabkan
permasalahan bagi lingkungan karena plastik tersebut akan menjadi sampah dan
membutuhkan waktu yang lama untuk terurai. Solusi yang dapat dilakukan dari permasalah
tersebut adalah dengan menggati penggunaan plastik sintetis menjadi plastik biodegradable.
karena plastik biodegradable terbuat dari bahan-bahan yang dapat diperbaharui dan mudah
terdegradasi secara alami dialam. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan dalam
pembuatan plastik biodegradable adalah tepung dari pisang merah.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini akan dipreparasi plastik
biodegradable berbahan tepung pisang merah (Musa Acuminata red decca) dengan
plasticizer gliserol dan variasi konsentrasi bahan pengisi kalsium karbonat (CaCO3). Plastik
berbahan pati pisang merah, penguat kalsium karbonat dan plasticizer gliserol diharapkan
dapat memberikan dampak baik bagi lingkungan dan mengurangi plastik sintetis.

METODE PENELITIAN
penelitian ini adalah di Laboratorium Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi
Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, yang akan dilaksanakan pada bulan Mei-
Juni 2018.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : tepung pisang merah (Musa
Acuminata red decca), gliserol, aquades, kalsium karbonat (CaCO3). Sedangkan Alat yang
digunakan antara lain oven, gelas ukur, pengaduk kaca, termometer, magnetic stirrer, gelas
beker, kaca arloji, neraca analitik, hot plate, erlenmeyer, cetakan kaca.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
rancangan acak lengkap (RAL) dengan 1 faktor yaitu penambahan bahan pengisi kalsium
karbonat (CaCO3). Dimana untuk penambahan kalsium karbonat yang digunakan adalah K1
(0%), K2 (1%), K3 (2%), K4 (3%) dan K5 (4%). Berdasarkan faktor tersebut maka diperoleh
5 kombinasi perlakuan dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan
sehingga diperoleh 15 kombinasi perlakuan.
Variabel Pengamatan
1) Kuat Tarik
Kekuatan renggang putus merupakan kekuatan terikan yang dapat dicapai sampai film
dapat tetap bertahan sebelum film putus atau robek. Pengukuran kekuatan renggang putus
berguna untuk mengetahui besarnya gaya yang dicapai untuk mencapai tarikan maksimum ada
setiap satuan luas area film untuk merenggang atau memanjang (Surdia dan Saito, 1995).
Pengukuran kuat tarik dan pemanjangan dilakukan dengan mngikuti (ASTM D638-
02a-2002). Sampel dipotong dengan ukuran 9.1 cm x 3 cm. Edible film dijepit 1,5 cm di
kedua panjang sisinya. Kemudian ditarik dengan menggunakan beban. Selanjutnya dicatat
panjang awal sebelum penambahan beban, setelah itu dicatat film yang telah dijepit

3
ditambahkan beban, selanjutnya dilakukan pengujian lembar berikutnya. Kekuatan tarik
diukur dengan rumus :
τ = Fmax
A
Ket : τ = kekuatan tarik (MPa )
Fmax = gaya kuat tarik (N)
A = luas permukaan (cm2)

2) Uji Pemanjangan/Elongasi
Menurut Surdia dan Saito (1995), persen elongasi dari edible film diperoleh dari hasil
uji kuat tarik produk tersebut, sehingga diperoleh 2 data yaitu panjang awal (sebelum uji kuat
tarik) dan panjang akhir (setelah uji kuat tarik) dari edible film. Elongasi (perpanjangan)
diukur dengan cara yang sama dengan kuat tarik. Besarnya elongasi dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :
Elongasi (%) = L – L0 x 100%
L0
Ket: L = panjang setelah putus
L0 = Panjang mula-mula

3) Uji Biodegradasi
Uji ini didasarkan pada metode yang dilakukan oleh Haryati dkk, (2017) Pengujian
degradasi plastik biodegradable dilakukan dengan pengujian soil burial test. Metode
pengujian ini dilakukan dengan menanamkan sampal plastik biodegradable di dalam tanah
untuk mengatahui kemampuan degradasi dari tiap-tiap sampel. Sampel ditanam didalam
tanah dengan kedalaman 10 cm selama 2 minggu (14 hari) dengan titik pengamatan pada 1
hari pertama, 7 hari dan 14 hari. Pengamatan dilakukan secara visual dan kemudian akan
dihitung persen kehilangan berat pada sampel plastik. Sampel ditimbang dan diukur terlebih
dahulu dengan berat awal sampel yaitu 2 gram dan dibiarkan hingga sampel terdegradasi
secara alami. Kemudian sampel dikeringkan dan ditimbang sehingga diperoleh berat konstan.
Perhitungan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Kehilangan massa (%) = Wi-Wf x 100%


Wi
Dimana :
Wi = Berat plastik sebelum di uji biodegradasi (gr)
Wf = Berat plastik setelah di uji biodegradasi (gr)
2.6 Analisa Data
Data yang telah diperoleh dari hasil pengujian kuat tarik, elongasi dan uji
biodegradable di analisa dengan menggunakan uji sidik ragam (ANOVA) pada taraf 5%.
Jika hasil berbeda nyata akan dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT (duncant multiple range
test) pada taraf signifikan 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada penelitian ini dilakukan proses pembuatan bioplastik dengan bahan utama dari tepung
pisang merah dengan memvariasikan konsentrasi CaCO3 sebagai bahan pengisi dan gliserol
sebagai pemplastis. Pada saat penelitian dilakukan proses persiapan alat dan bahan,
pencampuran , pemanasan, pencetakan dan pengopenan. Kemudian bioplastik yang telah
dihasilkan dilakukan pengamatan pada sifat mekanik yang melimputi uji kuat tarik (tensile
strength), uji elongasi/pemanjangan dan uji biodegradasi pada plastik tersebut.

4
Pembuatan Bioplastik
Proses pembuatan bioplastik berbahan tepung pisang merah ini memodifikasi metode
yang dilakukan hasil penelitian Haryati, dkk (2017). Pada penelitian ini dilakukan modifikasi
terhadap konsentrasi tepung dan gliserol yang digunakan. Dimana bioplastik tepung pisang
merah dibuat dengan memvariasikan CaCO3 pada proses pembuatannya. Penambahan CaCO3
dimulai dari larutan yang telah dipanaskan bersuhu 70oC hingga terjadinya proses gelatinasi.
Gelatinasi adalah proses pada saat granula pati akan membengkak pecah yang menyebar
keseluruh bagian sehingga membentuk dispersi koloid dalm tepung saat dipanaskan
(Nwokocha dkk, 2009) dalam (Edward, 2017). Pengadukan dilakukan selama 15 menit.
Setelah itu kemudian sampel didinginkan dan dicetak dalam alat cetak yang terbuat dari kaca
yang berukuran 25x5 cm. Kemudian sampel dioven dengan dengan suhu 60oC yang dilakukan
selama 15 jam. Bioplastik yang dihasilkan memiliki bentuk fisik kuning bening seperti pada
gambar1.

Gambar1. Bioplastik dari tepung pisang merah


Uji Kuat Tarik
Penentuan daya regang atau sering dikenal juga sebagai kekuatan tarik merupakan
gaya maksimum yang terjadi pada film selama pengukuran berlangsung (Ardiansyah, 2011).
Kuat tarik pada bioplastik dapat dipengaruhi oleh komponen-komponen penyusunnya.
Bioplastik yang dihasilkan mempunyai komponen gliserol, tepung pisang, dan bahan pengisi
CaCO3. Keunggulan penggunaan CaCO3 ini adalah harganya murah dan mudah didapat,
sehingga penggunaan CaCO3 memiliki potensi baik digunakan sebagai bahan pengisi pada
bioplastik.
1500 1305.56
1068.52 1159.26
961.12 972.23
1000
Kuat Tarik

500
(N/M2)

0
0% 1% 2% 3% 4%
Penambahan CaCO3

Gambar 2. Hasil uji kuat tarik bioplastik tepung pisang merah terhadap variasi
penambahan bahan pengisi CaCO3.

Gambar 2 menunjukkan nilai kuat tarik pada bioplastik yang dihasilkan berkisar antara
961,12 N/m2 – 1.305,56 N/m2..kuat tarik tertinggi diperoleh pada sampel perlakuan dengan
penambahan 3% CaCO3 yaitu sebesar 1.305,56 N/m2. Nilai kuat tarik terendah pada sampel
tanpa penambahan CaCO3 yaitu sebesar 961,12 N/m2. Hasil ini lebih tinggi jika dibandingkan
dengan penelitian bioplastik dari biji durian oleh Handayani dan Wijayanti (2015) yang

5
menghasilkan kuat tarik sebesar 1187,732 N/m2. Berdasarkan hasil uji sidik ragam (ANOVA)
menunjukkan bahwa nilai uji kuat tarik berbeda nyata pada α=0,05.
Didapat bahwa penambahan variasi CaCO3 dapat memberikan hasil yang berbeda
terhadap rata-rata nilai kuat tarik pada bioplastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai
kuat tarik meningkat dengan penambahan CaCO3. Nilai maksimum kuat tarik diperoleh pada
penambahan 3% CaCO3 karena pada penambahan 4% CaCO3 nilai kuat tarik menurun.
Menurut penelitian Rakhman dan Darni (2017) semakin banyak CaCO3 yang ditambahkan
maka semakin besar pula kuat tarik akan meningkat. Hasil penelitian ini seiring dengan hasil
penelitian pada pembuatan bioplastik dari tepung pisang merah dengan bahan pengisi CaCO3.
Tetapi pada pembuatan bioplastik dengan penambahan tepung pisang 4 gram dan glisero 3 ml
penambahan optimal CaCO3 yaitu pada 3% karena dengan penambahan 4% CaCO3 kuat tarik
akan menurun. Hal ini menunjukkan bahwa struktur molekul bioplastik bersifat amorf. Pada
struktur molekul amorf, rantai-rantai bercabang namun tidak tersusun secara rapat sehingga
jarak antar molekul menjadi lebih jauh dan kekuatan ikatan molekul menjadi melemah.
Lemahnya kekuatan ikatan molekul dalam bioplastik menyebabkan semakin rendahnya gaya
yang dibutuhkan untuk memutuskan bioplastik tersebut (Hasanah dan Haryanto, 2017).

3.3 Uji Elongasi (Pemanjangan)


Elongasi merupakan persen perubahan panjang plastik biodegradable yang diukur
mulai dari panjang awal hingga pada saat mengalami penarinkan hingga putus.
9
7,7833 b
8
Persen Pemanjangan

7
6 5,5567 a
5a
5 4,4467 a
3,89 a
4
3
2
1
0
0% 1% 2% 3% 4%
Penambahan CaCO3
Gambar 3. Hasil uji elongasi bioplastik tepung pisang merah terhadap penambahan CaCO3
Gambar 3 didapat bahwa perlakuan penambahan CaCO3 berpengaruh nyata terhadap
nilai elongasi bioplastik. Hasil uji DMRT taraf 5% menunjukkan bahwa rata-rata pemberian
perlakuan penambahan CaCO3 memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap elongasi
bioplastik. Pada penambahan 0 gram CaCO3 memiliki hasil yang berbeda nyata terhadap nilai
uji elongasi pada semua perlakuan. Nilai elongasi penetian ini berkisar antara 7,78% - 3,89 %.
Nilai elongasi tertinggi di hasilkan tanpa penambahan CaCO3 yaitu sebesar 7,78%. Sedangkan
nilai elongasi terendah dihasilkan pada penambahan 4% CaCO3 yaitu sebesar 3,89%. Nilai
tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan penelitian bioplastik dari biji durian oleh
Handayani dan Wijayanti (2015) yang memiliki nilai persen pemanjangan hanya 7,547%.
Gambar 3 menunjukkan bahwa semakin banyak penambahan CaCO3 maka nilai
elongasi relatif menurun. ini dikarenakan penambahan CaCO3 yang tinggi akan membuat
ikatan hidrogen didalam plastik semakin kuat, padat dan kaku. Hal ini disebabkan karena
jarak antar molekul akan semakin rapat. Sehingga menyebabkan nilai keelastisan plastik
menurun seiring dengan bertambah nya bahan pengisi yang dipakai (Haryati dkk, 2017).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hasanah dan Haryanto (2017)
menyatakan bahwa semakin banyak penambahan CaCO3 dalam bioplastik dapat
6
menyebabkan semakin menurunnya jarak ikatan intermolekulnya sehingga nilai elongasinya
juga akan semakin kecil. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Haryati dkk, (2017) bahwa
sampel tanpa penambahan kalsium karbonat memiliki nilai elongasi 16,3% pada sampel 5
gram pati, 55% gliserol dan tanpa penambahan CaCO3. Besarnya elongasi pada sampel
tersebut dikarenakan tidak adanya penambahan bahan pengisi kalsium karbonat. Dan
sebaliknya semakin banyak plasticizer, dalam hal ini gliserol maka nilai elongasi akan
semakin meningkat. Hal ini dikarnakan plasticizer dapat meningkatkan fleksibelitas film
dengan mengurangi kerapuhan pada plastik dengan cara mengganggu ikatan hidrogen antar
molekul polimer yang berdekatan.
Uji Biodegradasi
Pada pengujian biodegradasi ini dilakukan dengan metode pengujian soil burial test
yaitu dengan melakukan penanaman sampel didalam tanah dengan kedalam 10 cm. Analisa
ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan bioplastik dapat terurai dialam secara alami
tanpa penambahan bakteri. Berat sampel pada pengamatan ini adalah adalah sebanyak 0,8
gram. Tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah disekitaran perkebunan kelapa
sawit dan berwarna hitam. Berikut adalah proses penanaman sampel bioplastik yang
dilakukan didalam cup minuman yang telah dilobangi terlebih dahulu. Sampel yang
digunakan ditimbang terlebih dahulu dengan berat yang sama kemudian dikubur didalam
tanah.

Gambar 4. Penanaman sampel dengan metode soil burial test


Pengamatan persentase kehilangan berat sampel bioplastik tepung pisang merah
dilakukkan selama 7 hari. Ini dikarenakan sebagian besar sampel bioplastik tersebut telah
hancur menjadi kmponen-komponen yang sangat kecil. Hal ini berarti bahwa adanya
penurunan massa sampel. Penurunan massa tersebut menunjukkan bahwa bioplastik tepung
pisang merah dengan penambahan CaCO3 ini sangat ramah lingkungan karena dapat
terdegradasi oleh alam. Menurut Bharwadj dkk, (2012) dalam Haryati dkk, (2017) plastik
dapat terdegradasi apabila sifat hibrofilik dari film tersebut tinggi. Sifat hidrofiliknya akan
menyebabkan terjadinya pemontongan rantai polimer menjadi lebih pendek dengan dioksidasi
sehingga dapat diuraikan oleh mikroba.
100
82,24 b
pengurangan masaa

79,12 b 78,6 b
80
60
41,17 a
(%)

40 33,38 a

20
0
0% 1% 2% 3% 4%
Penambahan CaCO3
Gambar 5. Hasil uji biodegradasi bioplastik tepung pisang merang dengan bahan
pengisi CaCO3.
7
Gambar 5 menunjukkan bahwa penambahan bahan pengisi CaCO3 pada plastik
biodegradable memberikan pengaruh terhadap persen pengurangan massa pada sampel
tersebut. Hasil Uji DMRT 5% menunjukkan bahwa rata-rata pemberian perlakuan
penambahan CaCO3 memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap sifat biodegradasi
plastik yang dihasilkan. Laju pengurangan massa terbesar dihasilkan tanpa penambahan
CaCO3 yaitu sebesar 82,24%, sedangkan laju pengurangan massa terendah dihasilkan pada
perlakuan 4% CaCO3 yaitu sebesar 33,38%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar
jumlah bahan pengisi CaCO3 yang ditambahkan maka laju pengurangan akan semakin kecil.
Ini disebabkan oleh penambahan CaCO3 yang terlalu banyak menyebabkan jumlah pati yang
terkandung dalam bioplastik tersebut lebih sedikit sehingga proses degradasi yang terjadi akan
semakin kecil.
Menurut Prasetya dkk, (2016) menyatakan bahwa semakin banyak selulosa yang
terkandung didalam plastik biodegradable akan mempercepat proses degradasi yang
dilakukan oleh mikroorganisme di dalam tanah. Sedangkan menurut Haryati dkk, (2017)
menyatakan bahwa sampel plastik dengan kadar gliserol yang tinggi mengalami proses
degradasi yang cepat dibandingkan dengan sedikit kadar gliserol, hal ini disebabkan oleh sifat
hidrofilik pada gliserol. Dimana sifat hidrofilik dapat mempercepat penyerapan air yang
meningkatkan mikroorganisme dapat mendegradasi plastik dengan lebih cepat. Dilihat dari
hasil penelitian ini berbanding lurus dengan dua pernyatataan diatas. Dimana semakin banyak
CaCO3 maka komposisi bahan seperti gliserol dan pati akan berkurang dan tertutupi oleh
kandungan kalsium karbonat yang dapat menyebabkan bioplastik tersebut labih kaku.
Jika dibandingkan dengan penelitian lainnya bioplastik tepung pisang merah dengan
bahan pengisi CaCO3 mempunyai waktu degradasi yang sangat cepat yaitu 82,5% dalam 7
hari. Sedangkan menurut standar ASTM 5336 dibutuhkan waktu 60 hari untuk plastik
Biodegradable dapat terurai 100%. Hal ini dikarenakan tanah yang digunakan mempunyai
tingkat kelembapan yang cukup tinggi ini disebabkan oleh kondisi cuaca dan lingkungan yang
sering berubah-ubah. Sehingga tingkat kelembapan yang tinggi akan menjadi habitat yang
baik untuk mikroba melakukan degradasi terhadap sampel plastik (Haryati dkk, 2017).
Menurut Siracusa, (2008) dalam Widyaningsih dkk, (2012) bahwa kecepatan biodegrdasi
tergantung pada temperatur (50-60oC), kelembapan, jumlah dan tipe mikroba. Bodegradasi
berjalalan cepat jika ketiga persyaratan tersebut terpenuhi.
Menurut Prasetya dkk, (2016) bahwa uji biodegradasi dengan mengontakkan langsung
dengan tanah memiliki kelemahan yaitu berupa sulitnya proses pengontrolan sampel pada saat
pengujian. Hal ini juga berarti bahwa penyebab berkurangnya fraksi massa bioplastik secara
menyeluruh tidak dapat diketahui penyebabnya, apakah karena aktivitas mikroba tanah atau
karena degradasi yang disebabkan oleh absorpsi air dari kelembapan tanah.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa


Penggunaan tepung pisang merah dapat digunakan sebagai bahan dalam pembuatan
bioplastik. Penambahan bahan pengisi CaCO3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda
nyata terhadap uji kuat tarik bioplastik. Dimana semakin banyak CaCO3 yang di tambahkan
maka nilai kuat tarik yang dihasilkan semakin meningkat. Nilai maksimum kuat tarik
diperoleh Pada penambahan 3% CaCO3 karena pada penambahan 4% CaCO3 nilai kuat tarik
menurun Nilai kuat tarik tertinggi diperoleh dengan penambahan 3% CaCO3 dengan nilai
1.305,56 N/m2 dan nilai terendah diperoleh pada bioplastik tanpa penambahan CaCO3 yaitu
961,12 N/m2.
Dan untuk persen pemanjangan (elongasi) memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap bioplastik. Semakin banyak komposisi CaCO3 yang ditambahkan maka nilai elongasi
akan semakin berkurang. Nilai elongasi tertinggi diperoleh pada perlakuan tanpa penambahan

8
CaCO3 dengan nilai 7,78% dan nilai elongasi terendah diperoleh pada penambahan 4%
CaCO3 dengan nilai 3,89%.
Sedangkan untuk nilai biodegradasi memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap sifat bioplastik yang dihasilkan. Semakin banyak penambahan CaCO3 maka nilai
persen pengurangan massa akan semakin kecil. Nilai degradasi tertinggi diperoleh pada
perlakuan tanpa penambahan CaCO3 yaitu 82,24% sedangkan nilai degradasi terendah
33,38% dengan perlakuan penambahan 4% CaCO3.

DAFTAR PUSTAKA

American Society for Testing and Material (ASTM) D-638-02. 2002. Standard Test Method
of Tensile Properties of Plastics. Philadelphia(US) : ASTM.
Anggraini, F. 2013. Aplikasi Plasticizer Gliserol Pada Pembuatan Plastik Biodegradable
Dari Biji Nangka. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Negeri Semarang.
Bahanan, R. 2010. Pengaruh Waktu Sonokimia Terhadap Ukuran Kristal Kalsium Karbonat
(CaCO3). Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Haryati, S., A.S. Rini., Y, Safitri. 2017. Pemanfaatan Biji Durian Sebagai Bahan Baku
Plastik Biodegradable Dengan Plasticizer Gliserol Dan Bahan Pengisi CaCO3. Jurnal
Teknik Kimia 23 (1) : (1-8).
Hasanah, Y.R dan Haryanto. 2017. Pengaruh Penambahan Filler Kalsium Karbonat (CaCO3)
Dan Clay Terhadap Sifat Mekanik Dan Biodegradable Plastik Dari Limbah Tapioka.
Jurnal Fakultas Teknik 18 (2) : (96-107).
Munawaroh, A. 2015. Pemanfaatan Tepung Kulit Pisang (Musa Paradisiaca) Dengan
Variasi Penambahan Gliserol Sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Bioplastik
Ramah Lingkungan. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia.
Setiawan, R. 2017. Kajian Pengaruh Varietas Pisang Terhadap Karakteristik Mutu Tepung
Pisang. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu.
Sholeh, A.N. 2013. Pengaruh Penambahan Gliserol Dan Asam Oleat Dalam Pembuatan
Bioplastik Dari Kulit Pisang Dan Biodegradasinya. Skripsi. Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Yogyakarta.
Surdia, T dan S. Saito. 1995. Pengetahuan Bahan Teknik. Jakarta : PT Pradya Paramita.
Tchango, J.T., A. Bikoi., R. Achard., J.V. Escalant & J.A. Ngalani. 1999. Plantain Post-
Harvest Operation. Cameroon : Food and Agriculture Organization of The United
Nations.
Waldi, J. 2007. Pembuatan bioplastik poli-β-hidroksialkanoat (pha) yang dihasilkan oleh
Rastonia eutropha pada substrat hidrolisat pati sagu dengan pemlastis isopropil
palmitat. Skripsi Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.
Widyaningsih, S., D. Kartika dan Y.T. Nurhayati. 2012. Pengaruh Penambahan Sorbitol Dan
Kalsium Karbonat Terhadap Karakteristik dan Sifat Biodegradasi Film Dari Pati Kulit
Pisang. Jurnal Fakultas Sains dan Teknik 7 (1) : (69-81).
Witono, J.R., A.J. Kumalaputri dan H.S. Lukmana. 2012. Optimasi Rasio Tepung Terigu,
Tepung Pisang, dan Tepung Ubi Jalar, serta Konsentrasi Zat Adiktif Pada

9
Pembuatan Mie. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Katolik Parahayangan.
Wurzburg, O.B. 1989. Modified Strarches. Properties and User CRC Press, Bocca Raton,
Florida.
Yang, J.H., J. Park., D. Kim., D. lee. 2004. Effect of Calcium Carbonate as the Expanding
Inhibitor on the Structural and Mechanical Properties of Expanded Starch/Polyvinyl
Alcohol Blends. Journal of Applied Polymer Science 93 : 1762-1768.

10