Вы находитесь на странице: 1из 7

EKONOMI PANGAN

RINGKASAN REKOMENDASI WIDYAKARYA NASIONAL PANGAN DAN GIZI XI


SEBAGAI MASUKAN RUMUSAN RPJM 2010-2014

DOSEN PEMBIMBING :
Niken Widyastuti Hariati, S.Gz., M.Kes

Disusun Oleh :
SUPIADI
P07131116128

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANJARMASIN
PROGRAM DIPLOMA III JURUSAN GIZI
2018

3
TEMA WNPG XI TAHUN 2018
Percepatan penurunan stunting melalui revitalisasi ketahanan pangan dan gizi dalam
rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan

A. Latar belakang
Indonesia termasuk satu di antara negara-negara yang belum mencapai beberapa target
MDGs dan harus diupayakan dalam SDGs, masih ada 18 dari 67 indikator yang belum dapat
dicapai pada akhir pelaksanaan MDGs, salah satu diantaranya adalah tujuan MDGs 1.2, yaitu
proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat konsumsi minimum (Bappenas,
2015).Kondisi ini salah satunya diindikasikan oleh masih tingginya prevalensi stunting yang
disebabkan oleh kurang asupan gizi dalam waktu cukup lama.Data Riskesdas 2013 menunjukkan
proporsi stunting sebesar 36,8% (2007), 35,6% (2010) dan 37,2% (2013) (Rikesdas, 2013).
Untuk itu, pemerintah telah mengupayakan cukup banyak kebijakan dan intervensi program,
tetapi masih diperlukan tindaklanjut yang lebih baik. Setidaknya saat ini telah ada program yang
menargetkan 100 kabupaten/kota sebagai prioritas intervensi stunting ditahun 2017. Selain, telah
adanya Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG) 2017-2019 yang baru keluar bulan
Oktober yang lalu. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) merupakan forum lintas
pemangku kepentingan yang dapat berperan secara strategis dalam upaya mempertemukan dan
mensinkronisasikan berbagai program dan kebijakan pangan dan gizi untuk percepatan
penurunan angka stunting di Indonesia.

3
B. Topik Bidang dan Mitra Penyelenggara
Sejalan dengan pilar RAN PG 2017-2019, maka akan ada 5 (lima) topik bidang
bahasan. Tema-tema yang terkait dalam setiap pembahasan bidang
sebagaimana berikut:
No. Bidang Penangung Jawab/ Pemangku Kepentingan Utama
1 Peningkatan Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan
– Badan Ketahanan Pangan
Peningkatan Aksesibilitas
2
Pangan yang Beragam – Kementerian Kelautan dan Perikanan

– Badan Standarisasi Nasional


Peningkatan Penjaminan
3
Keamanan dan Mutu Pangan – Badan Pengawasan Obat dan Makanan

Peningkatan Perilaku Hidup


4 Kementerian Kesehatan
Bersih dan Sehat
Koordinasi Pembangunan
5 Bappenas
Pangan dan Gizi

Mengingat kegiatan WNPG merupakan kegiatan multi-stakeholders, maka kegiatan-


kegiatan bidang melibatkan:

1. Pemerintah Pusat
2. Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten/Desa)
3. Industri (Asosiasi dan Perusahaan)
4. Akademisi (Lembaga Penelitian dan Universitas)
5. Organisasi/Kelompok Masyarakat

C. Target
Target yang akan dicapai dalam pelaksanaan WNPG XI yaitu:

1. Jangka pendek: Bahan penyusunan RPJMN 2020 – 2024.


2. Jangka menengah: Diadopsinya rekomendasi WNPG ke dalam program pangan dan gizi
lintas kementerian dan berbagai level lembaga nasional dan lokal.

Jangka panjang: Mendukung pencapaian SDGs No. No.2, 3, 6 (target 1 dan 2) dan No.12
(langsung) dan No 1, 13,14 dan 15 (tidak langsung).

3
D. Pemberdayaan masyarakat

1. Memperkuat pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan peranan Posyandu yang


terintegrasi dengan PAUD dan kelembagaan lainnya di tingkat desa, serta penguatan
pendampingan kepada keluarga dengan rawan gizi yang didukung oleh pembiayaan dana
desa.

2. Pengembangan ekonomi lokal dan teknologi pengolahan pangan lokal, khususnya untuk
remaja, ibu hamiL, ibu menyusui dan balita, dengan mempertimbangkan

pangan yang beragam dan bergizi. Demikian juga akses bantuan sosial pangan perlu
memasukkan aspek keberagaman pangan, bukan hanya karbohidrat melainkan juga
protein hewani dan nabati serta zat gizi mikro, utamanya zat besi, asam folat, zink,
vitamin A, dan yodium.

3. Perubahan perilaku terhadap pola asuh dan konsumsi pangan serta higienis diri dan
lingkungan melalui penetapan kunci utama untuk mendapatkan “Anakku Hebat,
Bangsaku Kuat” dengan sasaran calon ibu (remaja putri), ibu hamil, dan ibu dengan anak
balita. Kunci utama tersebut adalah konsumsi pangan bergizi seimbang dan aman,
kunjungan kehamilan dan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemantauan tumbuh
kembang dan imunisasi terjadwal di fasilitas kesehatan, dan cuci tangan pakai sabun
dengan air mengalir, serta pemanfatan jamban yang sehat dan aman.

4. Penguatan enabling factors melalui peningkatan pendapatan keluarga, pemahaman dan


kesadaran individu dan keluarga, serta kesadaran masyarakat terhadap perubahan pola
konsumsi, pola asuh dan higienis pribadi dan lingkungan.

Rekomentasi meliputi aspek-aspek sbb:


1. ASPEK REGULASI, KEBIJAKAN, DAN PROGRAM

5. Diperlukan peninjauan kembali terhadap Peraturan Presiden No. 42 Tahun 2013 tentang
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi, guna dapat menjadi landasan yang kuat dan
komprehensif untuk pangan dan gizi di tingkat pusat dan daerah.

6. Penjaminan keamanan dan mutu pangan dengan prinsip Good Regulatory Practices untuk
penguatan program, pembinaan, dan pengawasan serta komunikasi, informasi, edukasi,
dan advokasi (KIEA).

3
7. Penyempurnaan:

a. Angka Kecukupan Gizi (AKG), Acuan Label Gizi (ALG) dan istilah kategori status
gizi pada Standar Antropometri.

b. Angka Kecukupan Gizi (AKG) dengan rerata energi 2100 kkal dan Angka
Kecukupan Protein (AKP) sebesar 57 gram/kapita/hari

c. Penggunaan dan updating terus menerus Daftar Komposisi Pangan Indonesia (DKPI)
untuk penilaian, perencanaan konsumsi dan penyediaan pangan dengan melibatkan
Perguruan Tinggi dan juga Poltekes Gizi seluruh Indonesia

d. Keperluan Pangan untuk Medis Khusus yang berfungsi sebagai obat terkait paket
manfaat sesuai INA-CBGs untuk masuk ke dalam Formularium Nasional dan Skema
Pembiayaan JKN.

8. Penetapan pola kebutuhan pangan nasional dan daerah berdasarkan keragaman pangan
lokal, peningkatan efisiensi fasilitas dan infrastruktur dalam rantai pangan untuk membuat
harga komoditas pangan lebih terjangkau.

9. Penetapan Strategi Komunikasi untuk kampanye gizi seimbang dan isi piringku secara
berkelanjutan guna perubahan perilaku pola asuh, konsumsi pangan, higienis pribadi, dan
lingkungan bagi anak sekolah, remaja, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia dini
dilengkapi dengan pemantauan dan evaluasi menggunakan indeks gizi seimbang (healthy
eating index). Pelaksanaannya melalui penyamaan lokus, fokus, dan jadwal dengan
kampanye media, advokasi media, ceramah tokoh masyarakat dan agama, kunjungan
rumah oleh Puskesmas, dan mobilisasi masyarakat

2. ASPEK KOORDINASI KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN


a. Koordinasi efektif sejak perumusan kebijakan serta penyelarasan dokumen kebijakan
dan perencanaan, dengan memastikan bahwa program terkait stunting di berbagai K/L
dipertimbangkan sebagai prioritas, sehingga dapat dijamin anggarannya.
b. Penguatan tata hubungan antara pemerintah pusat dan daerah dengan dunia usaha,
masyarakat madani, perguruan tinggi dan organisasi profesi serta mitra pembangunan
dalam melaksanakan pencegahan stunting terintegrasi.
c. Penyelarasan kebijakan yang mendukung penurunan stunting dari sisi produksi dan
pengolahan pangan, serta distribusi dan konsumsi untuk penjaminan produk, kualitas,

3
keamanan pangan yang terjangkau.
d. Kelembagaan Pokja standar mutu dan kecukupan gizi perlu ditingkatkan menjadi
sekretariat nasional standar pangan dan gizi di bawah koordinasi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI).

B. MONITORING DAN EVALUASI

Diperlukan surveilan dengan data yang valid, akurat, terus menerus yang dikumpulkan di desa
oleh petugas kompeten dan didistribusikan di setiap level sesuai keperluan seperti keperluan
intervensi di tingkat Puskesmas dan Kecamatan, keperluan perencanaan di tingkat
kabupaten/kota, dan keperluan penyusunan kebijakan di provinsi dan pusat.

C. RISET

1. Penyusunan road map R&D ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bidang pangan dan
gizi, berdasarkan hasil pemetaan (mapping) stunting di Indonesia yang terkait dengan
lokalitas, mutu pangan, dan lain-lain.

2. Pengembangan model intervensi stunting dengan mempertimbangkan pengalaman sukses


di dalam negeri atau mancanegara secara konsisten.

3. Penguatan pengembangan pangan lokal berbasis kearifan lokal dengan melibatkan peran
akademisi serta industri sebagai bagian dari upaya perbaikan gizi masyarakat.

3
3