Вы находитесь на странице: 1из 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Fluida
Fluida secara khusus didefinisikan sebagai zat yang berdeformasi
terus menerus selama dipengaruhi suatu tegangan geser. Sebuah tegangan
geser terbentuk apabila sebuah gaya tangensial bekerja pada sebuah
permukaan. Apabila benda-benda padat biasanya seperti baja atau logam-
logam lainnya dikenai oleh suatu tegangan geser, mula-mula benda itu
akan berdeformasi (biasanya sangat kecil), tetapi tidak akan terus menerus
berdeformasi (mengalir) (Indra, 2013).
Ada dua macam macam fluida yaitu zat cair dan gas, perbedaan
antara keduanya bersifat teknis dengan adanya gaya kohesif. Karena
terdiri atas molekul-molekul tetap dimensi rapat dengan gaya kohesif yang
relatif kuat, zat cair cenderung mempertahankan volumenya dan dengan
gaya kohesif yang relatif kuat, zat cair cenderung mempertahankan
volumenya dan muka bebas sangat dipengaruhi efek gravitasi, karena
jarak antara molekul-molekulnya besar dan gaya kohesifnya terabaikan,
gas akan memuai dengan bebas sampai tertahan oleh dinding yang
mengungkungnya. Volume gas tidak tertentu, dan tanpa wadah yang
mengungkungnya, gas tersebut akan membentuk atmosfir yang pada
hakekatnya bersifathidrostatik. Gas tidak dapat membentuk permukaan
bebas, karena itu aliran gas jarangdikaitkan dengan efek gravitasi selain
apungan (Klara, 2011).
Menurut Indra (2013), mekanika fluida adalah ilmu yang
mempelajari tentang tipe-tipe aliran fluida dalam medium yang berbeda-
beda. Aliran fluida terbagi atas beberapa kategori, dibagi berdasarkan
sifat-sifat yang paling dominan dari aliran tersebut, atau berdasarkan jenis
dari fluida yang terkait. Berdasarkan pergerakannya aliran fluida terdiri
dari :

1. Steady Flow
Steady flow merupakan suatu aliran fluida dimana kecepatannya
tidak terpengaruh oleh perubahan waktu, sehingga kecepatan konstan
pada setiap titik pada aliran tersebut.
2. Non Steady Flow
Non steady flow terjadi apabila ada suatu perubahan kecepatan pada
aliran tersebut terhadap perubahan waktu.
3. Uniform Flow
Uniform flow merupakan aliran fluida yang terjadi besar dan arah
dari vector- vektor kecepatan tidak berubah dari suatu titik ke titik
berikutnya dalam aliran fluida tersebut.
II-1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4. Non Uniform Flow
Aliran ini terjadi jika besar dan arah vektor-vektor kecepatan fluida
selalu berubah terhadap lintasannya. Ini terjadi apabila luas penampang
medium fluida juga berubah.
Aliran fluida berdasarkan gaya yang bekerja pada fluida tersebut:
Air
A Zat
Zatwarna

Aliran Laminer
1. Aliran Laminar
Aliran laminar didefinisikan sebagai aliran dengan fluida yang
bergerak dalam lapisan- lapisan, atau lamina-lamina dengan satu lapisan
meluncur secara merata. Dalam aliran laminar ini viskositas berfungsi
untuk meredam kecenderungan-kecenderungan terjadinya gerakan relative
antara lapisan. Sehingga aliran laminar memenuhi pasti hukum viskositas
Newton, yaitu:
du
τ=μ
dy
------------------------- I.1
dimana:
τ = tegangan geser pada fluida (N/m2)
µ = viskositas dinamik fluida (kg/m.det)
du/dy = gradient kecepatan (m/det/m)

Suatu fluida dapat mengalir melalui pipa dengan cara yang berbeda,
yaitu dibedakan menjadi aliran laminar, aliran transisi dan aliran turbulen
yang bergantung pada kecepatan aliran fluida. Pada kecepatan fluida yang
relatif rendah fluida mengalir tanpa adanya pencampuran secara lateral
atau tidak terjadi arus eddy. Aliran ini dinamakan aliran laminer
(McCabe, 1994).
Air
Zat warna
Zat

Aliran Turbulen
2. Aliran Turbulen
Aliran turbulen didefinisikan sebagai aliran yang dimana pergerakan
partikel-partikel fluida sangat tidak menentu karena mengalami

Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-2


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
pencampuran serta putaran partikel antar lapisan, yang mengakibatkan
saling tukar momentum dari satu bagian fluida kebagian fluida yang lain
dalam skala yang besar. Dalam keadaan aliran turbulen maka turbulensi
yang terjadi mengakibatkan tegangan geser yang merata diseluruh fluida
sehingga menghasilkan kerugian aliran. Bila laju aliran air ditingkatkan,
akan dicapai suatu kecepatan yang disebut kecepatan kritis, dimana
benang-berwarna itu menjadi bergelombang dan berangsur-angsur hilang
karena zat warna itu tersebar secara seragam di dalam keseluruhan
penampang aliran air. Perilaku air-berwarna itu menunjukkan bahwa air
itu tidak lagi mengalir menurut gerakan laminar, tetapi bergerak ke mana-
mana dalam bentuk aliran silang dan pusaran. Gerakan jenis ini
dinamakan aliran turbulen (McCabe, 1994).
A ZatZat warna

Aliran Transisi
3. Aliran Transisi
Aliran transisi merupakan aliran peralihan dari aliran laminar ke
aliran urbulen.Pada kondisi aliran biasa, aliran itu turbulen pada angka
Reynolds di atas kira-kira 4000. Antara 2100 dan 4000, terdapat suatu
daerah transisi, dimana jenis aliran itu mungkin laminar dan mungkin
pula turbulen, bergantung pada kondisi di lubang masuk tabung dan
jaraknya dari lubang masuk itu (Geankoplis, 1993).

I.1.2 Pressure Drop


Penurunan tekanan (pressure drop) adalah istilah yang digunakan
untuk menggambarkan penurunan tekanan dari satu titik dalam pipa atau
tabung ke hilir titik. "Penurunan tekanan" adalah hasil dari gaya gesek
pada fluida ketika mengalir melalui tabung yang disebabkan oleh
resistensi terhadap aliran (Santoso, 2015).
Pressure Drop secara umum memiliki artian sebagai penurunan
tekanan pada fluida yang mengalir melalui pipa karena pengaruh friksi
pada dinding pipa dan sambungan. Sifat fisik dan fluida yang paling utama
adalah mempengaruhi penurunan tekanan pada saat mengalir dalam pipa
lurus dengan kecepatan tertentu, dimana pengukuran ini adalah
pengukuran fisik internal dari fluida. Jika dari pemberian suhu atau
temperatur dan tekanan, viskositas konstan dan bebas dari laju gesek,
maka fluida tersebut disebut fluida newtonian (Geankoplis, 1997).

Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-3


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada dasarnya aliran fluida dalam pipa akan mengalami penurunan
tekanan atau pressure drop seiring dengan panjang pipa ataupun
disebabkan oleh gesekan dengan permukaan saluran, dan juga ketikaaliran
melewati sambungan pipa, belokan,katup, difusor, dan sebagainya. Dan
pada semua pipa lengkung fluida akan mengalami pressure drop, termasuk
pada pipa lengkung 900, tetapi yang menjadi catatan perbedaan besar
pressure drop tersebut terhadap jari- jari lengkung dan diameter pipa
lengkung tersebut (Priana, 2007).
Suatu fluida dapat mengalir melalui pipa dengan cara yang berbeda–
beda, ketika suatu fluida mengalir dalam pipa silinder dan velositasnya
diukur pada jarak yang berbeda dari dinding pipa ke pusat pipa, ini telah
ditunjukkan bahwa keduanya beraliran laminer dan turbulen. Dimana
fluida dalam pusat itu berpindah lebih cepat daripada fluida yang dekat
dengan dinding. Dalam sejumlah aplikasi teknik, hubungan antara
velositas rata-rata (Vav) dalam pipa dan velositas maksimum (V-max) itu
sangat bergantung, karena dalam beberapa masalah hanya V-max pada
titik pusat pipa yang diukur. Selanjutnya hanya pengukuran satu titik
hubungan antara V-max dan Vav ini dapat digunakan untuk menetapkan
Vav. Velositas rata-rata itu lima kali velositas maksimum pada pusat pipa
dimana ini diberikan oleh kesetimbangan momentum shell untuk aliran
laminer. Sedangkan untuk aliran turbulen, velositas rata-ratanya itu
delapan kali velositas maksimum (Geankoplis, 1997).
Pressure Drop merupakan hasil dari gaya-gaya terhadap fluida yang
mengalir di dalam pipa, yang disebabkan oleh tahanan fluida yang
mengalir.

Penurunan Tekanan yang Terjadi Pada Pipa

Persamaan pressure drop atau pressure loss karena friksi menurut


Hagen Poiseuille untuk aliran laminer di dalam pipa horizontal adalah
sebagai berikut:
Tekanan pada pipa I:
P1 = ρgh1 + P0
----------------------- I.2
Tekanan pada pipa II:
P2 = ρgh2 + P0
----------------------- I.3
Sehingga diperoleh persamaan:

Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-4


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

P = ρg∆h
----------------------- I.4
Keterangan :
∆P= perbedaan tekanan dari titik 1 ke titik 2 (N/m2)
ρ = densitas fluida (kg/m3)
g = gravitasi (m/s2)
∆h = ketinggian fluida h1 dan h2 (m)

I.1.3 Langkah-Langkah Menghitung Pressure Drop secara Teoritis


1. Menghitung kecepatan pada masing-masing diameter dengan rumus :
Q
v=
A
----------------------------------------- I.5
Keterangan:
v = kecepatan aliran(m/s)
Q = debit (m/s3)
D = luas permukaan pipa (m2)
2. Menghitung Nre masing-masing variabel dengan rumus :
ρDv
NRe =
μ
--------------------------------- I.6
Keterangan:
NRe = bilangan Reynold
𝜌 = densitas (kg/m3)
D = diameter (m)
v = kecepatan aliran (m/s)
µ = viskositas (kg/m.s)
3. Menghitung faktor friksi dari tiap-tiap aliran dengan menggunakan
rumus yang digunakan:
- Moody Chart untuk semua jenis aliran.
- Persamaan fanning Halaand untuk aliran turbulen.
- Persamaan fanning Churchill unuk semua jenis aliran.
- Persamaan fanning Chen untuk semua jenis aliran.
4. Menghitung friksi untuk pipa lurus (FS) dengan rumus :
L ∗ V2
F = 4f
2∗D
--------------------------------- I.7
Keterangan:
F = friksi pipa lurus (m2/s2)
f = faktor friksi
L = panjang lintasan (m)
Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-5
Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D = diameter (m)
v = kecepatan aliran (m/s)
5. Menghitung friksi untuk pipa sambungan (hf) dengan rumus :
v2
hf = Kf
2
---------------------------------- I.8
Keterangan:
hf = friksi pipa sambungan (m2/s2)
Kf = koefisien friksi sambungan
v = kecepatan aliran (m/s)

6. Menghitung total friksi dengan rumus :


∑F = F + ∑hF
------------------------------------ I.9
Keterangan:
∑F = total friksi (m2/s2)
F = friksi pipa lurus(m2/s2)
∑hf = total friksi pipa sambungan (m2/s2)

7. Menghitung ∆P teoritis dengan rumus :


△ P = ∑F ∗ ρ
------------------------------------- I.10
Keterangan:
ΔP = Pressure Drop(N/m2)
∑F = total friksi(m2/s2)
𝜌 = densitas (kg/m3)

I.1.4 Koefisien Gesek


Koefisien gesek (λ) dapat diturunkan secara matematis untuk aliran
laminer, tetapi tidak ada hubungan matematis yang sederhana untuk
variasi λ dengan bilangan Reynolds yang tersedia untuk aliran turbulen
(Priyanto, 2013).
a) Untuk aliran laminer
v L V2
hL = 64
Vd D 2g
L V2
= 64
Re D 2g
--------------------------- I.11
Dimana :
= kerugian tinggi tekan (m).
v = viskositas kinematis (m2/s).
V = kecepatan aliran fluida air (m/s).
Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-6
Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
g = percepatan gravitasi (m/s2).
D = diameter pipa (m).
Untuk rumus koefisien geseknya adalah
2gD
f = λ = hL
V2 L
------------------------- I.12
Jadi, untuk aliran laminer di semua pipa untuk semua fluida, harga f
adalah
64
f=
Re
------------------------------------- I.13
Dimana : f = λ = koefisien gesek.
Re = bilangan Reynolds number.

Untuk aliran laminer bilangan Reynolds (Re) mempunyai sebuah harga


maksimum praktis sebesar 2000.
b) Untuk aliran turbulen, banyak ahli hidraulika telah mencoba
menghitung f dari hasil-hasil percobaan mereka sendiri dan dari
percobaan orang lain.
1. Untuk aliran turbulen dalam pipa-pipa mulus dan kasar, hukum-
hukum tahanan universal dapat diturunkan dari
8𝜏0
𝑓=
𝜌𝑣 2
---------------------------------- I.14
2. Untuk pipa-pipa mulus Blasius menganjurkan untuk bilangan-
bilangan Reynolds antara 3.000 dan 100.000
0,316
f= --
Re0,25
-------------------------------- I.15

I.1.5 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pressure Drop


Pada aliran satu fase, pressure drop dipengaruhi oleh Reynold number
yang merupakan fungsi dari viskositas, berat jenis fluida dan diameter
pipa. Adapun hal-hal yang mempengaruhi pressure drop (∆P) antara lain
adalah :
1. Diameter pipa (D)
Semakin besar diameter pipa, maka semakin kecil penurunan
tekanannya (pressure drop)
2. Berat molekul fluida yang mengalir (M)
Semakin besar berat molekul fluida yang mengalir, maka semakin kecil
presure drop-nya
Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-7
Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. Faktor friksi (f)
Semakin besar faktor friksinya, maka semakin besar pula pressure drop-
nya (∆P).
4. Panjang pipa (∆L)
Semakin besar panjang suatu pipa, maka semakin besar pula pressure
drop-nya.
5. Suhu aliran (T)
Semakin besar suhu suatu aliran, maka semakin besar pula pressure
drop-nya
6. Velositas massa aliran (G)
Semakin besar velositas massa aliran suatu aliran fluida, maka semakin
besar pula pressure drop-nya
Hal ini sesuai dengan rumus:
2 2
∆LG2 RT
p1 − p2 = 4f
DM
--------------------------- I.16
(Geankoplis, 1993)

I.1.6 Macam – Macam Rumus Faktor Friksi


Menurut Dibyo (2002), pada aliran turbulen seperti aliran laminer,
faktor friksi juga tergantung pada bilangan reynold. Bagaimanapun, tidak
mungkin untuk diprediksi secara teori faktor friksi untuk aliran tubulen
seperti yang dilakukan untuk aliran laminer. Faktor friksi harus ditemukan
dengan melakukan percobaan dan itu tidak hanya tergantung pada
bilangan reynold tetapi juga pada kekasaran permukaan pipa.
Colebrook-White (1939)
Persamaan ini berlaku untuk Nre> 4000
1 ε D 1.26
= −4.0log10 +
f 3.7 Re f
----------------------- I.17
Keterangan:
f = Faktor friksi persamaan Colebrook-white
= Nilai Roughness (m)
D = Diameter dalam (m)
Re = Bilangan Reynold ( )
Swamee and Jain (1976)
Swamee dan jain mengusulkan persamaan yang mencakup
rentang Nre dari 5000 sampai 107 dan hasil dari diantara
0.00004 dan 0.05.

Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-8


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1
ε 5,74
16 log D + NRe9 10
3,7

--------------------- I.18

Keterangan:
f = Faktor friksi persamaan Swamee and Jain
= Nilai Roughness (m)
D = Diameter dalam (m)
Nre = Bilangan Reynold ( )
Chen (1979)
Chen juga menyatakan persamaan untuk faktor friksi mencakup
semua range dari Nre dan /D
1 ε D 5.0452 ε 1.1098
= −4.0log 0.2698 log 0.3539 ( )
f D Nre D
5,8056 ------- I.19
Keterangan: +
Nre0.8981
f = Faktor friksi persamaan Churchill
= Nilai Roughness (m)
D = Diameter dalam (m)
Nre = Bilangan Reynold ( )

Zigrang dan Sylvester (1982)


Persamaan ini berlaku untuk 4000<Nre<108 dan 0,00004<Ɛ/D<0,05
1 ε D 5.02 ε D
= −4.0log * − log ( +
f 3.7 Nre 3.7
13 ----------- I.20
)+.
Keterangan: Nre
f = Faktor friksi persamaan Zingrang dan Sylvester
= Nilai Roughness (m)
D = Diameter dalam (m)
Nre = Bilangan Reynold ( )
Haaland (1983)
Persamaan ini berlaku untuk Nre>2300
10 9
1 6.9 ε D
= −3.6log +
f Nre 3.7
------------ I.21
Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-9
Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Keterangan:
f = Faktor friksi persamaan Zingrang dan Sylvester
= Nilai Roughness (m)
D = Diameter dalam (m)
Nre = Bilangan Reynold ( )

Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-10


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.2 Aplikasi Industri

Demon Handoyo, Djoko H. Nugroho


2013

Perekayasaan instrumentasi dan kendali diimplementasikan untuk


mengendalikan parameter-parameter proses pada suatu pabrik agar
mencapai output yang sama dengan demand pada semua tahap proses.
lnstrumentasi merupakan pengetahuan dalam penerapan alat ukur dan
sistem pengendalian pada suatu sistem dengan menggunakan harga
numerik variabel besaran proses dan dengan tujuan agar parameter
berada dalam batas daerah tertentu atau mencapai tujuan kinerja yang
diinginkan. Desain sistem instrumentasi dan kendali pada suatu pabrik
(yang dalam hal ini diwakili oleh pabrik yellow cake) yang dilakukan di
PRPN-BATAN, dimulai dari pemahaman tentang desain proses, P&ID
(Piping and Instrumentation Diagram) dan PFD (Process Flow Diagram).
Berdasarkan informasi tersebut dirancang jumlah dan jenis parameter
yang harus diamati (monitoring) dan jumlah serta jenis parameter yang
harus dikendalikan (control).
Perhitungan pengaruh perubahan pressure drop dalam katup kontrol
terhadap intensitas derau yang ditimbulkan akibat aliran fluida di dalam
katup kontrol, dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak smart
plant. pemodelan yang digunakan oleh perangkat lunak tersebut, tentunya
berdasarkan model/formula matematis prediksi derau pada katup. Unutk
memberikan gambaran model matematis yang digunakan dalam
memprediksi derau yang ditimbulkan pada katup kontrol, maka dalam
makalah ini diilustrasikan model matematis tersebut.
Dari hasil perhitungan pengaruh perubahan pressure drop terhadap
derau hidrodinamika pada katup Globe, Butterfly dan Ball dengan
menggunakan perangkat lunak smart plant terlihat bahwa walaupun
pressure drop dinaikkan sampai 1 bar, aliran dalam katup Globe tidak
terjadi kavitasi dengan tingkat derau 40,5 ~ 50.3 dBA. Sedangkan pada
katup Butterfly dan Ball telah terjadi kavitasi. Oleh karena itu, untuk
menghindari terjadi kavitasi yang berdampak negatif terhadap sistem
industri, khususnya pada desain pabrik yellow cake yang dilakukan di
PRPN-BATAN, penggunaan katup Globe adalah sangat tepat.

Laboratorium Mekanika Fluida dan Partikel II-11


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS