You are on page 1of 9

Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis di Puskesmas


Tanggul, Puskesmas Jember Kidul, dan RSUD Blambangan

Kiswaluyo1, Wildhan Septianda Bhakti2, Meirina Rosa Wisatya3, Arini Tri


Kusumawati4
1
Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat
2,3,4
Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember (UNEJ)
Jalan Kalimantan 37, Jember 68121
Email korespondensi: Wildhanjuve1897@yahoo.com

Abstrak
Pulpitis adalah proses radang pada jaringan pulpa gigi dan umumnya
kelanjutan dari proses karies. Secara patofisiologik, pulpitis dibagi menjadi pulpitis
reversibel dan pulpitis irreversibel, penting untuk menentukan diagnosis pulpitis
adalah jaringan pulpa tersebut masih dapat dipertahankan atau sudah tidak dapat
dipertahankan lagi. Perawatan pulpitis dilakukan pada teknik perawatan yang dipilih,
keluhan sakit pasien, permintaan pasien, sarana dan prasarana puskesmas dan rumah
sakit, serta kemampuan dokter gigi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
trend penatalaksanaan perawatan pulpitis yang dilakukan di Puskesmas Tanggul,
Puskesmas Jember Kidul dan RSUD Blambangan. Jenis penelitian ini adalah
observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan
sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada pasien dengan
diagnosa pulpitis (K04.0). Jumlah populasi penelitian adalah 999 pasien, jumlah
sampel 146 pasien dengan diagnosa pulpitis. Penelitian ini menggunakan dua variabel
yaitu pulpitis sebagai variabel bebas dan jenis perawatan sebagai variabel terikat . Waktu dan
tempat penelitian dilakukan selama 6 minggu (4 Januari – 13 Februari 2016) di
Puskesmas Tanggul, Puskesmas Jember Kidul dan RSUD Blambangan. Hasil
ditampilkan dengan distribusi silang dan diagram batang. Hasil penelitian trend
perawatan pulpitis terbanyak adalah medikasi sebesar 69,2% dengan rincian 44,8%
di Puskesmas Tanggul, 16,9% di Puskesmas Jember Kidul, 7,5% di RSUD
Blambangan.
Kata Kunci: Pulpitis, Puskesmas, Rumah Sakit
Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

Pendahuluan jumlah kunjungan sebanyak 163.211


Pulpitis merupakan fenomena pasien3.
peradangan dalam jaringan pulpa yang Berdasarkan latar belakang diatas
merupakan kelanjutan dari hiperemi peneliti ingin mengetahui trend perawatan

Instansi
Kode
Puskesmas Puskesmas RSUD
ICD Total
Tanggul Jember Kidul Blambangan
N % N % N % N %
K04.0 132 16,5 50 6,25 30 3,8 212 26,5
K04.1 79 9,9 63 7,9 46 5,8 188 23,5
K00.6 113 14,1 55 6,9 8 1 176 22
K01.1 8 1 4 0,5 124 15,5 136 17
K05.3 51 6,4 14 1,75 23 2,9 88 11
pulpa. Pulpa yang diinfeksi oleh bakteri pulpitis di Puskesmas Tanggul,
akan melakukan proses peradangan awal Puskesmas Jember Kidul, RSUD
dari pulpitis akut1. Peradangan merupakan Blambangan selama 6 minggu (4 Januari
reaksi jaringan ikat vaskuler yang sangant – 13 Februari 2016) .
penting terhadap cedera. Reaksi pulpa
Metodologi Penelitian
sebagian disebabkan oleh lama dan
Jenis penelitian ini adalah observasional
intensitas rangsangnya. Rangsang yang
deskriptif dengan pendekatan cross
ringan dan lama bisa menyebabkan
sectional. Penelitian dilakukan pada
peradangan kronik, sedangkan rangsang
pasien dengan diagnosa pulpitis (K04.0).
yang berat dan tiba-tiba besar
Jumlah populasi penelitian adalah 999
mengakibatkan pulpitis akut 1,9,10.
pasien, jumlah sampel penelitian 146
Pulpitis bisa berlanjut menjadi
pasien dengan diagnosa pulpitis.
kondisi yang lebih parah seperti pulpitis
Penelitian ini menggunakan dua variabel
irreversibel dan bahkan terjadi gangren
yaitu pulpitis sebagai variabel bebas dan
pulpa jika intensitas iritasi semakin berat
jenis perawatan sebagai variabel terikat.
1,9,10
. Data Profil Kesehatan Indonesia
Teknik pengambilan sampel
Tahun 2010 menunjukkan penyakit pulpa
menggunakan purposive sampling,
menduduki urutan ketujuh dari sepuluh
selanjutnya dilakukan pengelompokan data
penyakit terbanyak pada pasien rawat
yang telah diperoleh dan disajikan dalam
jalan rumah sakit di Indonesia dengan
bentuk tabel distribusi silang dan diagram
Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

batang. Waktu dan tempat penelitian Kasus terbanyak berada di Puskesmas


dilakukan selama 6 minggu (4 Januari – Tanggul dengan prosentase 16,5%.
13 Februari 2016) di Puskesmas Tanggul, Tabel distribusi silang dibawah ini
Puskesmas Jember Kidul dan RSUD digunakan untuk melihat distribusi pasien
Blambangan. dengan diagnosa pulpitis (K04.0)
Hasil berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas
Berdasarkan hasil observasi dari Tanggul, Puskesmas Jember Kidul, dan
praktik kerja lapangan selama 6 minggu RSUD Blambangan (Tabel 2)
(4 Januari 2016 – 13 Februari 2016), di
Tabel 2. Distribusi pasien dengan
Poli Gigi Puskesmas Tanggul, Puskesmas
diagnosa pulpitis (K04.0) berdasarkan
Jember Kidul, dan RSUD Blambangan.
jenis kelamin
Berikut disajikan data kunjungan pasien
dengan 5 diagnosa terbanyak di poli gigi Tempat Jenis Kelamin
Total
L P
(PKM)
puskesmas dan rumah sakit tersebut % % %
Tanggul 19,3 42,9 62,2
dalam bentuk tabel dan diagram. Jember Kidul 7,1 16,5 23,6
RSUD
7,1 7,1 14,2
Blambangan
Tabel 1. Data 5 Diagnosa Terbanyak di Total 33,5 66,5 100
Puskesmas Tanggul, Puskesmas Tabel 2 menunjukkan bahwa
Jember Kidul, dan RSUD kasus pulpitis (K04.0) terbanyak dialami
Blambangan. oleh perempuan, yaitu dengan prosentase
66,5 %.
Keterangan:
K04.0 : Pulpitis Berikut disajikan data kunjungan
K04.1 : Nekrosis pulpa pasien dengan pulpitis di poli gigi
K00.6 : Gangguan erupsi gigi Puskesmas Tanggul, Puskesmas Jember
K01.1 : Impaksi gigi Kidul, dan RSUD Blambangan pada
K05.3 : Periodontitis kronis periode 4 Januari 2016 – 13 Februari
Tabel 1 menunjukkan bahwa 2016 dalam bentuk diagram batang.
pulpitis merupakan kasus terbanyak dari
Diagram batang distribusi pasien
tiga instansi dengan prosentase 26,5%.
berdasarkan jenis kelamin dengan
diagnosa pulpitis (K04.0) di Puskesmas
Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

Tanggul, Puskesmas Jember Kidul, dan Puskesmas Jember Kidul, dan RSUD
RSUD Blambangan Blambangan (Tabel 3)

Tabel 3. Distribusi pasien dengan


diagnosa pulpitis (K04.0) berdasarkan

Kode Terapi Total


PSA Medikasi ROP Konsul TT OG
ICD % % % % % % %
Tanggul 0 44,8 17,4 0 0 0 62,2
Jember Kidul 0 16,9 6,1 0 0,4 0 23,6
Blambangan 2,8 7,5 0,9 1,8 0 0,9 14,2
Total 2,8 69,2 24,4 1,8 0,4 0,9 100
rentang usia

Tabel 3 menunjukkan bahwa


kasus pulpitis (K04.0) terbanyak dialami
oleh rentang usia 26-45 tahun, yaitu
dengan prosentase 42,9 %.

Berikut disajikan data kunjungan


pasien dengan pulpitis di poli gigi
Puskesmas Tanggul, Puskesmas Jember
Kidul, dan RSUD Blambangan pada
Gambar 1. Diagram distribusi pasien periode 4 Januari 2016 – 13 Februari
berdasarkan jenis kelamin dengan 2016 dalam bentuk diagram batang.
diagnosa pulpitis (K04.0) di Puskesmas
Tanggul, Puskesmas Jember Kidul, dan Diagram distribusi pasien berdasarkan

RSUD Blambangan rentang usia dengan diagnosa pulpitis


(K04.0) di Puskesmas Tanggul,
Tabel dibawah ini digunakan Kode Rentang Usia
Total
0-5 6-12 13-25 26-45 46-65 >65
ICD
untuk melihat distribusi pasien dengan % % % % % % %
K04.0 2,8 8,5 25 42,9 20,3 0,5 100%
diagnosa pulpitis (K04.0) berdasarkan Puskesmas Jember Kidul, dan RSUD
rentang usia di Puskesmas Tanggul, Blambangan
Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

7,5 % di RSUD Blambangan. Perawatan


yang paling sedikit dari ketiga tempat
tersebut adalah tumpatan tetap dengan
prosentase 0% di Puskesmas Tanggul, 0,4
% di Puskesmas Jember Kidul, 0% di
RSUD Blambangan.
Berikut disajikan data kunjungan
pasien dengan pulpitis di poli gigi
Puskesmas Tanggul, Puskesmas Jember
Gambar 2. Diagram distribusi pasien
Kidul, dan RSUD Blambangan pada
berdasarkan rentang usia dengan
periode 4 Januari 2016 – 13 Februari
diagnosa pulpitis (K04.0) di
2016 dalam bentuk diagram batang.
Puskesmas Tanggul, Puskesmas
Jember Kidul, dan RSUD Diagram distribusi macam perawatan
Blambangan. pasien dengan diagnosa pulpitis (K04.0)
di Puskesmas Tanggul, Puskesmas
Tabel dibawah ini digunakan
Jember Kidul, dan RSUD Blambangan
untuk melihat data perawatan pasien
dengan diagnosa pulpitis (K04.0) di
Puskesmas Tanggul, Puskesmas Jember
Kidul, dan RSUD Blambangan (Tabel 4).

Tabel 4. Distribusi macam perawatan


pasien dengan diagnosa pulpitis (K04.0)
di Puskesmas Tanggul, Puskesmas Gambar 3. Diagram distribusi macam
Jember Kidul, dan RSUD Blambangan perawatan pasien dengan diagnosa
pulpitis (K04.0) di Puskesmas Tanggul,
Tabel 4 menunjukkan bahwa
Puskesmas Jember Kidul, dan RSUD
perawatan pada kasus pulpitis (K04.0)
terbanyak adalah medikasi dengan Blambangan
Jenis Analgesik Total
prosentase 44,8 % di Puskesmas Tanggul, NaDiclo Antal Asmef Analsik Para %
Lokasi
16,9 % di Puskesmas Jember Kidul, dan Tanggul 1,3 29,5 13 0 9,5 62,3
Jember 2 14,3 5,5 0 5,4 27,4
Kidul
Blamba 7,1 0 0 8,9 0 10,3
ngan

Total 10,4 43,8 18,5 8,9 15,1 100


Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

Tabel dibawah ini digunakan Tabel dibawah ini digunakan


untuk melihat jenis antibiotik yang untuk melihat jenis analgesik yang
digunakan pada kasus diagnosa pulpitis digunakan pada kasus diagnosa pulpitis
(K04.0) di Puskesmas Tanggul, (K04.0) di Puskesmas Tanggul,
Puskesmas Jember Kidul, dan RSUD Puskesmas Jember Kidul, dan RSUD
Blambangan selama 6 minggu (Tabel 5) Blambangan selama 6 minggu (Tabel 6)

Tabel 5. Distribusi jenis antibiotik yang Tabel 6. Distribusi jenis analgesik yang
digunakan pada pasien dengan diagnosa digunakan pada diagnosa pulpitis (K04.0)
pulpitis (K04.0) di Puskesmas Tanggul, di Puskesmas Tanggul, Puskesmas
Puskesmas Jember Kidul, dan RSUD Jember Kidul, dan RSUD Blambangan
Blambangan
Tabel 6 menunjukkan bahwa jenis
Lokasi Jenis Antibiotik Total analgesik yang terbanyak dipakai pada
%
Clin Amox Metro Levo kasus pulpitis (K04.0) adalah Antalgin
Tanggul 0% 26,7% 10,3 0 43,8
Jember Kidul 0% 23,3% 11,6 5,5 40,4 dengan prosentase 43,8 %, dengan rincian

Blambangan 10,3% 3,8% 0 0 15,8


29,5% di Puskesmas Tanggul, 14,3% di
Puskesmas Jember Kidul, dan 0% di
Total 10,3% 53,8% 21,9 5,5 100
RSUD Blambangan. Jenis analgesik yang
Tabel 5 menunjukkan bahwa jenis
paling sedikit dipakai pada tiga tempat
antibiotik yang terbanyak dipakai pada
tersebut adalah Analsik dengan
kasus pulpitis (K04.0) adalah Amoxycilin
prosentase 0% di Puskesmas Tanggul, 0%
dengan prosentase 53,8 %, dengan rincian
di Puskesmas Jember Kidul, 8,9% di
26,7% di Puskesmas Tanggul, 23,3% di
RSUD Blambangan.
Puskesmas Jember Kidul, dan 3,8% di
RSUD Blambangan. Jenis antibiotik yang Pembahasan

paling sedikit dipakai pada tiga tempat Data kunjungan pasien pada tabel

tersebut adalah Levofloxacin dengan 1 menunjukkan bahwa penyakit gigi

prosentase 0% di Puskesmas Tanggul, terbanyak adalah pulpitis (K04.0) dengan

5,5% di Puskesmas Jember Kidul, dan prosentase sebesar 26,5%. Hasil tersebut

0% di RSUD Blambangan. sesuai dengan Riskesdas tahun 2013 yang


Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

menunjukkan prevalensi 53,2 % Tabel 4 menunjukkan bahwa


mengalami karies aktif ( karies yg belum perawatan pada kasus pulpitis (K04.0)
ditangani atau belum dilakukan terbanyak adalah medikasi dengan
penambalan / Decay (D) > 0 tertangani). prosentase 68,9 %. Medikasi pada pulpitis
Indonesia terdapat 93.998.727 jiwa yang bertujuan untuk mengobati faktor
menderita karies aktif 7. Pulpitis atau penyebab dan gejala klinis. Penyebab
inflamasi pulpa dapat akut atau kronis pulpitis antara lain golongan bakteri
dan dapat pula terinfeksi atau steril. Streptococcus10. Perawatan paling sedikit
Pulpitis berasal dari pulpa terbuka yang pada pulpitis (K04.0) adalah tumpatan
bisa disebabkan karies atau trauma4. tetap dengan prosentase 0,4 %. Pulpa
Tabel 2 menunjukkan bahwa yang meradang merupakan kontraindikasi
kasus pulpitis (K04.0) terbanyak dialami dari tindakan penumpatan tetap langsung.
oleh kaum perempuan, yakni dengan Langkah pertama yang dilakukan ketika
prosentase 66,5% sedangkan pada laki- terjadi keradangan pada pulpa dilakukan
laki sebesar 33,5%. Persentase penduduk perawatan relief of pain terlebih dahulu
yang mengalami karies aktif / pulpitis dan atau perawatan lain yang membuat rasa
menerima perawatan atau pengobatan sakit yang ditimbulkan peradangan pulpa
gigi dari tenaga medis gigi (dokter gigi hilang9.
dan perawat gigi) adalah perempuan7. Tabel 5 menunjukkan bahwa
Tabel 3 menunjukkan bahwa antibiotik pada kasus pulpitis (K04.0)
kasus pulpitis (K04.0) terbanyak dialami terbanyak adalah Amoxycilin dengan
oleh rentang usia 26-45 tahun. Rentang prosentase 53,8%. Amoxycilin
usia 26-45 tahun merupakan golongan merupakan drug of choice dari infeksi
kategori usia dewasa dan juga merupakan pada jaringan gigi. Obat ini adalah
kategori usia produktif.2,3 Tuntutan kerja, antibiotik beta laktam yang termasuk
masyarakat pada golongan usia produktif keluarga penicillin yang mempunyai
ingin cepat menyelesaikan permasalahan spektrum sedang, aktif terhadap bakteri
giginya yang jika dibiarkan, akan gram negatif maupun gram positif.
mengganggu produktivitas kerja 8. Antibiotik ini termasuk bakteriolitik yang
bekerja dengan cara menghambat sintesis
Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

dinding sel bakteri sehingga lintas tubuh5. Jenis analgesik yang paling sedikit
hubungan antara rantai polimer dipakai pada tiga tempat tersebut adalah
peptidoglikan linier yang membentuk Analsik dengan prosentase 0% di
komponen utama dari dinding sel bakteri Puskesmas Tanggul, 0% di Puskesmas
menjadi terganggu5. Jenis antibiotik yang Jember Kidul, 8,9% di RSUD
paling sedikit dipakai pada tiga tempat Blambangan. Analsik merupakan
tersebut adalah Levofloxacin dengan analgesik dengan kandungan
prosentase 0% di Puskesmas Tanggul, methampyron dan diazepam yang
5,5% di Puskesmas Jember Kidul, dan memiliki fungsi ganda yaitu sebagai
0% di RSUD Blambangan Levofloxacin pengurang rasa sakit dan pemberi efek
merupakan salah satu generasi terbaru hipnotik5. Analsik banyak diberikan di
dalam golongan antibiotik. Levofloxacin RSUD Blambangan dengan pertimbangan
menjadi antibiotik yang paling sering pasien yang datang sudah tidak tahan
dipakai di RSUD Blambangan karena dengan mengkonsumsi obat analgesik
pasien yang datang ke RSUD biasa seperti asam mefenamat dan
Blambangan adalah pasien rujukan dari antalgin.
puskesmas dan telah mengkonsumsi Kesimpulan dan Saran
antibiotik seperti amoxycilin sebelumnya. Hasil penelitian pada pasien
Tabel 6 menunjukkan bahwa dengan diagnosa pulpitis (K04.0) yang
analgesik pada kasus pulpitis (K04.0) dilakukan selama 6 minggu (4 januari –
terbanyak adalah Antalgin dengan 13 Februari 2016) di Puskesmas Tanggul,
prosentase 43,8%. Antalgin adalah derivat Puskesmas Jember Kidul, RSUD
metansulfonat dari Amidopirina yang Blambangan, maka dapat disimpulkan
bekerja terhadap susunan saraf pusat yaitu trend terbanyak perawatan pulpitis adalah
mengurangi sensitivitas reseptor rasa medikasi sebesar 69,2% dengan rincian
nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur 44,8% di Puskesmas Tanggul, 16,9% di
suhu tubuh. Tiga efek utama adalah Puskesmas Jember Kidul, 7,5% di RSUD
sebagai analgesik, antipiretik dan anti- Blambangan. Saran yang dapat diberikan
inflamasi. Antalgin mudah larut dalam air penulis adalah perlu dilakukan penelitian
dan mudah diabsorpsi ke dalam jaringan lebih lanjut tentang penyakit gigi dan
Kiswaluyo et al., Trend Penatalaksanaan Perawatan Pulpitis….

mulut lainnya beserta trend perawatan 6. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010.


yang diberikan di Puskesmas dan Rumah Metedologi Penelitian Kesehatan.
Sakit. Meningkatkan kegiatan penyuluhan Jakarta : Rineka Cipta.
7. Riskesdas 2013. Riset Kesehatan
kesehatan gigi dan mulut sedini mungkin
Dasar. Jakarta: Badan Penelitian
kepada masyarakat umum akan
dan Pengembangan Kesehatan
pentingnya memelihara kesehatan gigi
Kementrian Kesehatan RI
dan mulut.
8. Ritonga, R. 2015. Kebutuhan Data
Daftar Pustaka
Ketenagakerjaan Untuk
Pembangunan Berkelanjutan.
1. Cohen, S., dan Burns, R.C. 2006.
Jakarta: BPS.
Pathways of The Pulp 10th 9. Tarigan, R. 2004. Perawatan
Edition. St. Louis : Mosby Year Pulpa Gigi (Endodonti). Jakarta:
Book Inc. Widya Medika
10. Walton, R.E., dan Torabinejad, M.
2. Depkes. RI., 2008, Laporan Hasil
2008. Prinsip dan Praktik Ilmu
Riset Kesehatan Dasar
Endodonsi. Jakarta: EGC.
(RISKESDAS) Nasional, Badan
Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Jakarta.
3. Depkes RI, 2011. Profil Kesehatan
Indonesia. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.
4. Grossman, Louis 2005. Ilmu
Endodontik Dalam Praktek Edisi
11. Jakarta : EGC
5. Gunawan, Sulistiwa Gan 2007.
Farmakologi dan Terapi Edisi 5.
Departemen Farmakologi Dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Gaya Baru,
Jakarta