You are on page 1of 13

Khotbah Pertama:

َّ‫ش ُر ْو َِّرَّأ َ ْنفُ ِسنَا‬ ُ َّ‫ن‬ َّ ‫َّ َونَعُ ْو َّذ َُّ ِبا‬،‫بَّ ِإلَ ْي ِه‬
َّْ ‫للَِّ ِم‬ َُّ ‫لِلَِّن َْح َمدَُّهَُّ َونَ ْست َ ِع ْينُ َّهَُّ َونَ ْست َ ْغ ِف ُر َّهَُّ َونَت ُ ْو‬ َّ ِ ََّ‫ِإنََّّ ْال َح ْم َّد‬
ََّ‫لَّ ِإلَ َّه‬ َّْ َ ‫َّ َوأ َ ْش َه َّد َُّأ‬،ُ‫ِيَّلَه‬
َّ َ َّ‫ن‬ ََّ ‫لَّهَاد‬ َّ َ َ‫لَّف‬
َّْ ‫ض ِل‬
ْ ُ‫نَّي‬ َّْ ‫ضلََّّلَ َّهَُّ َو َم‬ ِ ‫لَّ ُم‬ َّ َ َ‫للاَُّف‬
َّ َّ‫نَّيَ ْه ِد َِّه‬ َّْ ‫َّ َم‬،‫تَّأ َ ْع َما ِلنَا‬ َِّ ‫س ِيئَا‬َ ‫َو‬
َّ‫سل ََّمَّ َعلَ ْي َِّهَّ َو َعلَى‬ َ ‫للاَُّ َو‬
َّ َّ‫صلى‬ َ َّ‫س ْولُهُ؛‬ ُ ‫َّ َوأ َ ْش َه َّد َُّأَنََّّ ُم َحمداََّّ َع ْبدَُّهَُّ َو َر‬،ُ‫ْكَّلَه‬ ََّ ‫لَّش َِري‬ َّ َ َُّ‫للاَُّ َو ْحدََّه‬ َّ ََّّ‫إِل‬
َّ . َ‫ج َم ِعيْن‬ ْ َ ‫ص ْحبِ َِّهَّأ‬ َ ‫آ ِل َِّهَّ َو‬
َّ
ََّّ‫شدََّهَُّ ِإلَىَّ َخيْر‬ َ ‫للاََّ َوقَاَّهَُّ َوأ َ ْر‬
َّ َّ‫نَّاتقَى‬ َِّ ‫َّاِتقُ ْواَّللاَ؛َّفَإِنََّّ َم‬:ِ‫ْنَّ ِع َبا َّدََّللا‬ ََّ ‫أَماَّ َب ْع َّدَُّ َم َعا ِش ََّرَّال ُمؤْ ِمنِي‬
.َُّ‫أ ُ ُم ْورََّّ ِد ْي ِن َِّهَّ َود ُ ْن َيا َّه‬
Ibadallah, Bertakwalah kepada Allah Ta’aladengan selalu mencari ridha-Nya dan
menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan
untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan
untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.

Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan.


Hanya dengan ketakwaan Allah –Subhanahu wa Ta’ala– menjanjikan surga
(kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang
bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki
urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.

Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan


dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di
akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun
ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara
jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya
bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka
menjadi tempat tinggal mereka.

Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.

Firman Allah :

]42/‫كَّ ْال ُم ْنت َ َهىَّ[َّالنجم‬


ََّ ِ‫َوأَنََّّإِلَىَّ َرب‬
“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm :
42

Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati,
dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan,
menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan
berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan
(tidak jadi melakukan tekad tersebut).

Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan
kemauan. Firman Allah :

ََّ ‫ّللاَُّ َربََّّ ْال َعالَ ِم‬


]29َّ/‫ينَّ[َّالتكوير‬ َّْ َ ‫ونَّإِلََّّأ‬
َّ َّ‫نَّيَشَا ََّء‬ ََّ ‫َو َماَّتَشَا ُء‬
“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika
dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29

Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang
tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.

Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan


penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi
ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail,
Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami
kematian.

Firman Allah :
]27َّ–َّ26/‫امَّ[َّالرحمن‬ َِّ ‫كَّذُوَّ ْال َج َل‬
ِ ْ ‫لَّ َو‬
َِّ ‫اْل ْك َر‬ ََّ ِ‫َّ َويَ ْبقَىَّ َو ْج َّهَُّ َرب‬،ََّّ‫نَّ َعلَ ْي َهاَّفَان‬
َّْ ‫ُكلََّّ َم‬
“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki
kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27

Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis
awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian
kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan
kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.

Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan


kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya.
Firman Allah :

َّ‫سلُنَا‬ َُّ ‫ظةََّّ َحتىَّإِذَاَّ َجا ََّءَّأ َ َحدَ ُك َُّمَّ ْال َم ْو‬
ُ ‫تَّت َ َوفتْ َّهَُّ َُّر‬ َ َ‫لَّ َعلَ ْي ُك َّْمَّ َحف‬ ََّ ‫َو ُه ََّوَّ ْالقَا ِه َُّرَّفَ ْو‬
َُّ ‫قَّ ِعبَا ِد َِّهَّ َويُ ْر ِس‬
]61/‫ونَّ[َّاألنعام‬ ََّ ‫ط‬ُ ‫لَّيُفَ ِر‬ َّ َ َّ‫َو ُه َّْم‬
“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada
kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang
kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut
nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61

Kematian mencerminkan keadilan Allah –Subhanahu wa Ta’ala– tidak pandang


bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :

َِّ ‫ُكلََّّنَ ْفسََّّذَائِقَ َّةَُّ ْال َم ْو‬


ََّ ُ‫تَّثُمََّّ ِإلَ ْينَاَّت ُ َّْر َجع‬
]57/‫ونَّ[َّالعنكبوت‬
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami
kalian dikembalikan.” Qs Al-Ankabut : 57

Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan


badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala
yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai
kematian dan kehidupan. Firman Allah :

]80/‫ونَّ[َّالمؤمنون‬ َّ َ َ‫ارَّأَف‬
ََّ ُ‫لَّت َ ْع ِقل‬ َِّ ‫لَّ َوالن َه‬
َِّ ‫فَّالل ْي‬ ْ َُّ‫يتَّ َولَ َّه‬
َُّ ‫اختِ َل‬ َُّ ‫َو ُه ََّوَّالذِيَّيُ ْح ِييَّ َويُ ِم‬
“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur)
pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80

Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh
bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman.
Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin,
orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :

َُّ ‫أ َ ْينَ َماَّت َ ُكونُواَّيُ ْد ِر ُك ُك َُّمَّ ْال َم ْو‬


]78َّ/َّ‫تَّ َولَ َّْوَّ ُك ْنت ُ َّْمَّفِيَّبُ ُروجََّّ ُمشَيدَةََّّ[َّالنساء‬
“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian
di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78

Firman Allah :

َِّ ‫ونََِّّإلَىَّ َعا ِل َِّمَّ ْالغَ ْي‬


َّ‫بَّ َوالش َهادَةََِّّفَيُنَبِئ ُ ُك َّْم‬ ََّ ‫ونَّ ِم ْن َّهَُّفَإِن َّهَُّ ُملقِي ُك َّْمَّثُمََّّت ُ َرد‬ ََّ ‫لَّ ِإنََّّ ْال َم ْو‬
ََّ ‫تَّالذِيَّت َ ِفر‬ َّْ ُ‫ق‬
]8َّ/َّ‫ونَّ[َّالجمعة‬ ََّ ُ‫ِب َماَّ ُك ْنت ُ َّْمَّت َ ْع َمل‬
“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar
akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang
mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa
yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8

Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :

]11/‫ونَّ[َّالمنافقون‬ َّ ‫ّللاَُّنَ ْفساَّ ِإذَاَّ َجا ََّءَّأ َ َجلُ ََّهاَّ َو‬


ََّ ُ‫ّللاَُّ َخ ِبيرََّّ ِب َماَّت َ ْع َمل‬ َّْ َ‫َول‬
َّ َّ‫نَّيُ َؤ ِخ ََّر‬
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila
telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu
kerjakan.” Qs Al-Munafiqun : 11

Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para
nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –
Subhanahu wa Ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para
nabi.

Dalam sebuah hadis disebutkan :

”َّ‫ت‬
ََّ ‫ارَّال َم ْو‬ َِّ ‫َلو َِّدَّفِىَّالد ْنيَاَّثمََّّال َجن َِّةَّأوَّ ْال َم ْو‬
َُّ َ ‫تَّفيَ ْخت‬ ْ ‫ْنَّالخ‬
ََّ ‫للاَُّبَي‬ َّْ ‫”َّ َماَّ ِم‬
َّ َّ‫نَّنَ ِبيََّّإلََّّخَي َره‬
Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan
kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka
mereka memilih kematian”.
Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia
ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia
sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-
benar beriman.

Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam


bersabda :

ََّّ‫ش ْيءََّّ ِإل‬ َّ ِ ‫نَّ َي ْر ِج ََّعَّ ِإلَىَّالد ْن َياَّ َولَ َّهَُّ َماَّ َعلَىَّ ْاأل َ ْر‬
َّْ ‫ضَّ ِم‬
َ َّ‫ن‬ َّْ َ ‫للاَِّ َم ْن ِزلَةََّّيُ ِحبََّّأ‬
َّ ََّ‫“ َماَّأ َ َحدََّّلَ َّهَُّ ِع ْن َّد‬
َّ‫نَّ ْال َك َرا َم َِّةَّ”َّرواه‬ َّْ ‫لَّ َع ْش ََّرَّ َمراتََّّ ِل َماَّيَ َرىَّ ِم‬ ََّ َ ‫نَّيَ ْر ِج ََّعَّإَِّلَىَّالد ْنيَاَّفَيُ ْقت‬َّْ َ ‫الش ِهي َّدَُّيَت َ َمنىَّأ‬
‫البخارىَّومسلم‬
“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah,
namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh
isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke
dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat
keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.

Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak


ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa
manusia tercabut dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit
yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.

Dari Aisyah –radhiyallahu anha– berkata :

َ ‫ّللاَُّ َعلَ ْي َِّهَّ َو‬


َُّ ‫َّ َو ُه ََّوَّيُ ْد ِخ‬،‫َّ َو ِع ْندََّهَُّقَدَحََّّ ِفي َِّهَّ َماء‬،ِ‫سل ََّمَّ َوهُ ََّوَّ ِبال َم ْوت‬
َّ‫ل‬ َّ َّ‫صلى‬ َ َِّ‫ّللا‬
َّ َّ‫ل‬ ََّ ‫سو‬
ُ ‫ْتَّ َر‬َُّ ‫“ َرأَي‬
َّ‫تَّأ َ َّْو‬ َِّ ‫َّ«الل ُهمََّّأ َ ِعنِيَّ َعلَىَّ َغ َم َرا‬:ُ‫َّثُمََّّيَقُول‬،‫اء‬
َِّ ‫تَّال َم ْو‬ ِ ‫حَّ َو ْج َه َّهَُّبِال َم‬
َُّ ‫س‬َ ‫َّثُمََّّيَ ْم‬،ِ‫يَدََّهَُّفِيَّالقَدَح‬
‫ت”َّرواهَّالترمذى‬ َِّ ‫س َك َرا‬
َِّ ‫تَّال َم ْو‬ َ
”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– ketika maut menjelang,
sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia
memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan
air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul
maut.” HR. Tirmizi

Dalam sebagian riwayat :

َِّ ‫ِإنََّّ ِل ْل َم ْو‬


َ َ‫تَّل‬
َّ‫س َك َرات‬
“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”

Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut,


“Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya,
“Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus
(dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.

Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau


mendapati dirimu?”, Ia berkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari
di dalam tubuhku”
Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana
dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam
perutku”.

Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik
amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat,
tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru
rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.

Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia,
dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian
adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu
Hurairahradhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :

َ ‫تَّ ْال َم ْو‬


َّ‫ت‬ َِّ ‫أ َ ْكثِ ُرواَّ ِذ ْك ََّرَّهَاذ َِِّمَّاللذا‬
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-
Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang
menjadikannya sirna.

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu, beliau berkata :

ُ ‫يَّا ََّأَي َهاَّالن‬:َّ‫ل‬


َّ،!‫اس‬ ََّ ‫امَّفَقَا‬ ََّ َ‫لَّق‬ َُّ ُ‫َبَّثُل‬
َِّ ‫ثَّالل ْي‬ ََّ ‫للاَُّ َعلَ ْي َِّهَّ َو‬
ََّ ‫سل ََّمَّ ِإذَاَّذَه‬ َّ َّ‫صلى‬ َ َِّ‫للا‬ َُّ ‫س ْو‬
َّ َّ‫ل‬ ََّ ‫َك‬
ُ ‫انَّ َر‬
َُّ ‫َّ َجا ََّءَّ ْال َم ْو‬،ُ‫َّتَتْ َبعُ َهاَّالرا ِدفَة‬،ُ‫اجفَة‬
‫تَّ ِب َماَّ ِف ْي َِّه‬ َِّ ‫َّ َجا َء‬،َ‫ا ُ ْذ ُك ُرواَّللا‬
ِ ‫تَّالر‬
“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri
dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang
(yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan
sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang
menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).

Dan dari Abu Ad-Darda ia berkata :

َّ‫َّ ْاليَ ْو ََّمَّفِيَّالد ْو َِّرَّغَداَّفِيَّ ْالقُبُ ْو ِر‬،‫تَّ َوا ِعظاَّ َوالد ْه َِّرَّ ُمفَ ِرقا‬
َِّ ‫َكفَىَّ ِب ْال َم ْو‬
“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai
pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu
‘Assakir)

Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan


adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu
pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.

Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan


tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan
tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk
kesyirikan.

Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu


‘alaihi wa sallam bersabda :

َّ َّ‫طايَاَّثُمََّّلَ ِق ْيتَنِي‬
َُّ ‫لََّت ُ ْش ِر‬
َّ‫كَّبِي‬ َ ‫ضَّ َخ‬ َِّ ‫كَّلَ َّْوَّأَت َ ْيتَنِيَّبِقُ َرا‬
َّ ِ ‫بَّاأل َ ْر‬ ََّ ‫َّيَاَّاب‬:َّ‫للاَُّتَعَالَى‬
ََّ ‫ْنَّآدَ ََّمَّ ِإن‬ َّ َّ‫ل‬ ََّ ‫قَا‬
ََّ ُ ‫شيْئاَّ َألَت َ ْيت‬
َّ‫كَّ ِبقُ َرا ِب َهاَّ َم ْغ ِف َرة‬ َ
“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu
dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi
sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan
mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia
berkata : Hadits hasan)

Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah


dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :

َ ِ‫ِرَّ ْال ُمؤْ ِمن‬


َّ‫ين‬ َِّ ‫ّللاَِّ َوبَش‬
َّ َّ‫ونَّ ِل ُحدُو َِّد‬ ُ ِ‫َو ْال َحاف‬
ََّ ‫ظ‬
“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira
kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)

Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi


dosa-dosa besar. Allah berfirman :
‫سيِئَاتِ ُك َّْمَّ َونُ ْد ِخ ْل ُك َّْمَّ ُم ْدخَلََّّ َك ِريما‬
َ َّ‫نَّ َع ْن َّهَُّنُ َك ِف َّْرَّ َع ْن ُك َّْم‬
ََّ ‫نَّت َ ْجتَنِبُواَّ َكبَائِ ََّرَّ َماَّت ُ ْن ََّه ْو‬
َّْ ِ‫إ‬
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang
kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa :
31)

Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain


dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah
bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka
Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat
dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.

Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai
dalam menulisnya.

Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan


kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman AllahTa’ala

ِ ْ ‫ص ْد َر َّهَُّ ِل‬
َّ‫ْل ْس َل ِم‬ َّْ َ ‫ّللاَُّأ‬
َّْ ‫نَّ َي ْه ِد َي َّهَُّ َي ْش َر‬
َ َّ‫ح‬ َّْ ‫فَ َم‬
َّ َّ‫نَّيُ ِر َِّد‬
“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah
lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ِ ‫للاَُّفِيَّ ْالقَ ْل‬


َّ‫ب‬ َّ َُّ‫نُ ْورََّّيَ ْق ِذفُ َّه‬
“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa
hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,

َّ‫لَّنُ ُز ْو ِل ِه‬ َِّ ‫ارَّ ْالغُ ُر ْو َِّرَّ َوا ِل ْس ِت ْعدَا َّدَُّ ِل ْل َم ْو‬
ََّ ‫تَّقَ ْب‬ ََّ َّ‫ارَّ ْال ُخلُ ْو َِّدَّ َوالت َجا ِفي‬
َّْ ‫ع‬
َِّ َ‫نَّد‬ َِّ َ‫اْلنَا َب َّةَُّ ِإلَىَّد‬
ِ
“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri
yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”

Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam
hadits :

َّ‫لَّبِ ْالخ ََواتِي ِْم‬


َُّ ‫األ َ ْع َما‬
“Amalan tergantung akhirnya”
Dari Mu’adz radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :

َ‫لَّ ْال َجن َّة‬ َّ ََّّ‫لََّ ِإلَ َّهََّ ِإل‬


ََّ ‫للاَُّدَ َخ‬ َّ َّ‫آخ َُّرَّ َكلَ ِم َِّه‬
ِ َّ‫ان‬ َّْ ‫َم‬
ََّ ‫نَّ َك‬
“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk
surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”

Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang


yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan
syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat
syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi
yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

َّ ََّّ‫لََّ ِإلَ َّهََّإِل‬


ُ‫للا‬ َّ َّ‫لَ ِقنُواَّ َم ْوتَا ُك َّْم‬
“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara
kalian” (HR Muslim)

Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan
akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-
dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah Ta’ala. Melakukan kejahatan
dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan),
mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam
dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka
tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah
berfirman :

َُّ ‫صا ِلحاَّفِي َماَّت َ َر ْك‬


َّ‫ت‬ َُّ ‫)َّلَ َع ِليَّأ َ ْع َم‬99(َّ‫ون‬
َ َّ‫ل‬ َِّ ُ‫ار ِجع‬ ْ َّ‫ب‬ َِّ ‫لَّ َر‬ ََّ ‫تَّقَا‬َُّ ‫َحتىَّ ِإذَاَّ َجا ََّءَّأ َ َحدَ ُه َُّمَّ ْال َم ْو‬
ََّ ُ ‫نَّ َو َرائِ ِه َّْمَّبَ ْرزَ خََّّ ِإلَىَّيَ ْو َِّمَّيُ ْبعَث‬
‫ون‬ َّْ ‫َكلََّّ ِإن َهاَّ َك ِل َمةََّّ ُه ََّوَّقَائِلُ َهاَّ َو ِم‬
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian
kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke
dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.
Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.
Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-
Mukminun : 99-100)

Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;


ََّ ‫لَّت َ ْشعُ ُر‬
َّ‫ون‬ َُّ َ‫نَّيَأْتِيَ ُك َُّمَّ ْالعَذ‬
َّ َ َّ‫ابَّبَ ْغتَةََّّ َوأ َ ْنت ُ َّْم‬ َّْ َ ‫لَّأ‬ َّْ ‫نَّ َربِ ُك َّْمَّ ِم‬
َِّ ‫نَّقََّْب‬ ََّ ‫نَّ َماَّأ ُ ْن ِز‬
َّْ ‫لَّإِلَ ْي ُك َّْمَّ ِم‬ َ ‫َواتبِعُواَّأ َ ْح‬
ََّ ‫س‬
َّ‫ين‬
ََّ ‫اخ ِر‬ِ ‫نَّالس‬ ََّ ‫تَّلَ ِم‬َُّ ‫نَّ ُك ْن‬َّْ ِ‫ّللاَِّ َوإ‬
َّ َّ‫ب‬ َِّ ‫تَّفِيَّ َج ْن‬ َُّ ‫ط‬ ْ ‫لَّنَ ْفسََّّيَاَّ َح ْس َرتَاَّ َعلَىَّ َماَّفَر‬ ََّ ‫نَّتَقُو‬ َّْ َ ‫)َّأ‬55(
ََّ َ‫ينَّت َ َرىَّ ْال َعذ‬
َّ‫ابَّلَ َّْو‬ ََّ ‫لَّ ِح‬ ََّ ‫)َّأ َ َّْوَّتَقُو‬57(َّ‫ين‬ ََّ ‫نَّ ْال ُمت ِق‬ ََّ ‫تَّ ِم‬ َُّ ‫ّللاََّ َهدَانِيَّلَ ُك ْن‬ َّ ََّّ‫لَّلَ َّْوَّأَن‬ ََّ ‫)َّأ َ َّْوَّتَقُو‬56(
ََّ ‫ْتَّ ِب َهاَّ َوا ْست َ ْك َب ْر‬
َّ‫ت‬ ََّ ‫كَّآ َياتِيَّفَ َكذب‬ ََّ ْ‫)َّ َبلَىَّقَ َّْدَّ َجا َءت‬58(َّ‫ين‬ ََّ ِ‫نَّ ْال ُم ْح ِسن‬ ََّ ‫أَنََّّ ِليَّ َكرةََّّفَأ َ ُك‬
ََّ ‫ونَّ ِم‬
)59(َّ‫ين‬ ََّ ‫نَّ ْال َكا ِف ِر‬ََّ ‫تَّ ِم‬ ََّ ‫َو ُك ْن‬
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu
sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak
menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar
penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah,
sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan
(agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata:

´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk


orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia
melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan
termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang
keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu
menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”

(QS Az-Zumar : 55-59)

َُّ ‫َّأَقُ ْو‬.‫س ْب ْي ِل‬


َّ‫ل‬ َ ‫س َوا ََّءَّال‬ َ َّ‫َّ َو َهدَانَا‬،‫لَّ َخيْر‬ َِّ ‫َّ َو َوفِ ْقنَاَّ ِل ُك‬،‫نَّ َهذَاَّ ُر ْشدا‬ َُّ ‫للاَُّ َو ِإيا ُك َّْمَّ ِألَقُ ِر‬
َّْ ‫بَّ ِم‬ َّ َّ‫َهدَانَا‬
َُّ‫لَّذََّْنبََّّفَا ْست َ ْغ ِف ُر ْوَّهَُّ َي ْغ ِف َّْرَّلَ ُك َّْمَّ ِإن َّه‬
َِّ ‫نَّ ُك‬
َّْ ‫ْنَّ ِم‬ َ ‫للاََّ ِليَّ َولَ ُك َّْمَّ َو ِل‬
ََّ ‫سائِ َِّرَّال ُم ْس ِل ِمي‬ َّ َّ‫لَّ َوأ َ ْست َ ْغ ِف َُّر‬
ََّ ‫َهذَاَّالقَ ْو‬
.‫الر ِح ْي ُم‬ َ َّ‫ُه ََّوَّالغَفُ ْو َُّر‬
Khutbah Kedua:

َّ ََّّ‫لَّ ِإلَ َّهََّ ِإل‬


َُّ‫للا‬ َّْ َ ‫َّ َوأ َ ْش َه َّد َُّأ‬،‫َان‬
َّ َ َّ‫ن‬ ِ ‫ال ْم ِتن‬
ِ ‫لَّ َوال ُج ْو َِّدَّ َو‬ ْ َ‫انَّ َوا ِس َّعَِّالف‬
َِّ ‫ض‬ َِّ ‫س‬ َ ‫اْل ْح‬ َّ ِ َُّ‫ا َ ْل َح ْم َّد‬
ِ َّ‫لِلَِّ َع ِظي َِّْم‬
َّ‫ص ْحبِ َِّه‬ َ ‫سل ََّمَّ َعلَ ْي َِّهَّ َو َعلَىَّآ ِل َِّهَّ َو‬ َ ‫للاَُّ َو‬
َّ َّ‫صلى‬ َ َُّ‫س ْولُ َّه‬ُ ‫َّ َوأ َ ْش َه َّدََُّّأ َنََّّ َع ْبدَُّهَُّ َو َر‬،ُ‫ْكَّلَه‬
ََّ ‫لَّش َِري‬ َّ َ َُّ‫َو ْحدََّه‬
ََّ ‫أ َ ْج َم ِعي‬
َّ .َّ‫ْن‬
َّ
َّ :ِ‫ع َبا َّدََّللا‬ِ َُّ‫أَماَّ َب ْع َّد‬
َّ
َِّ‫للا‬ ََّ ‫للاَِّ َعلَىَّنُ ْورََّّ ِم‬
َّ َّ‫ن‬ َ ِ‫لَّ َع َملََّّب‬
َّ َّ‫طا َع َِّة‬ َّ َّ‫َّ َوا ْعلَ ُم ْواَّأَنََّّت َ ْق َوى‬،‫للاََّتَعَالَى‬
َّ َ ‫للاَِّ َجلََّّ َو َع‬ َّ َّ‫اِتقُ ْوا‬
.َِّ‫للا‬ َِّ ‫للاَِّ ِخ ْيفَ َّةََّ َعذَا‬
َّ َّ‫ب‬ ََّ ‫للاَِّ َعلَىَّنُ ْورََّّ ِم‬
َّ َّ‫ن‬ َّ َّ‫صيَ َِّة‬
ِ ‫كَّ َم ْع‬ َِّ ‫َر َجا ََّءَّث َ َوا‬
ََّ ‫َّ َوت َ ْر‬،ِ‫بَّللا‬
Kaum muslimin sekalian, Jagalah sebab-sebab yang mendatangkan husul
khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa
dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala
meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

َّ‫ين‬
َ ‫اخ ِر‬ ََّ ُ‫سيَ ْد ُخل‬
ِ َ‫ونَّ َج َهنَّ ََّمَّد‬ َّْ ‫ع‬
َ َّ‫نَّ ِعبَادَتِي‬ ََّ ‫ِينَّيَ ْست َ ْك ِب ُر‬
َ َّ‫ون‬ َّْ ‫عونِيَّأ َ ْست َ ِج‬
ََّ ‫بَّلَ ُك َّْمَّإِنََّّالذ‬ ُ ‫ا ْد‬
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya
orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka
Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)

Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir
radhiyallahu anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :

ُ ‫الد َعا َُّءَّ ُه ََّوَّ ْال ِع َبادََّة‬


“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata
: Hadits hasan shahih)

Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :

َِّ‫بَّ ْاْل ِخ َرة‬


َِّ ‫نَّ َعذَا‬ َّ ‫نَّ ِخ ْز‬
َّْ ‫ي َِّالد ْنيَاَّ َو ِم‬ َِّ ‫ِنَّ َعاقِبَتَنَاَّفِيَّ ْاأل ُ ُم‬
َّْ ‫َّ َوأ َ ِج ْرنَاَّ ِم‬,َّ‫ورَّ ُك ِل َها‬ َّْ ‫الل ُهمََّّأ َ ْحس‬
“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah
kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”

Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.

Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak
Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan
maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada
dunia dan melupakan akhirat.
‫سل َم‪َّ،‬‬ ‫للاَُّ َعلَ ْي َِّهَّ َو َ‬ ‫صلىَّ َّ‬ ‫ْرَّال ُهدَىَّ ُهدَىَّ ُم َحمدََّّ َ‬ ‫للاَِّ َو َخي ََّ‬ ‫ثَّ َك َل َُّمَّ َّ‬ ‫قَّال َح ِد ْي َِّ‬ ‫صدَ ََّ‬ ‫َوا ْعلَ ُم ْواَّأَنََّّأ َ ْ‬
‫َار‪َّ،‬‬ ‫ض َللَةََّّفِيَّالن ِ‬ ‫ض َللَةََّّ َو ُكلََّّ َ‬ ‫َوشَرََّّاأل ُ ُم ْو َِّرَّ ُم ْحدَثَات ُ َهاَّ َو ُكلََّّ ُم ْحدَثَةََّّبِ ْد َعةََّّ َو ُكلََّّبَِّ ْد َعةََّّ َ‬
‫للاَِّ َعلَىَّال َج َما َع َِّةَّ‪.‬‬ ‫َو َعلَ ْي ُك َّْمَّ ِب ْال َج َما َع َِّةَّفَإِنََّّيَ َّدََّ َّ‬
‫َّ‬
‫للاَِّ َك َماَّ‬ ‫ْنَّ َع ْب َِّدَّ َّ‬ ‫ْنَّ ُم َحم َِّدَّب َِّ‬ ‫للاَِّأ َ ْج َم ِعي ََّ‬ ‫ْرَّ ِع َبا َِّدَّ َّ‬ ‫ْنَّ َو َخي َِّ‬ ‫امَّال ُمت ِقي ََّ‬ ‫للاَُّ َعلَىَّ ِإ َم َِّ‬ ‫صل ْواَّ َر ِح َم ُك َُّمَّ َّ‬ ‫َو َ‬
‫ِينَّ‬ ‫ي َِّ َياَّأَي َهاَّالذ ََّ‬ ‫ونَّ َعلَىَّالن ِب َّ‬ ‫صل ََّ‬ ‫ّللاََّ َو َم َل ِئ َكت َ َّهَُّيُ َ‬ ‫لَّ‪ِ َّ﴿َّ:‬إنََّّ َّ‬ ‫كَّ ِفيَّ ِكتَا ِب َِّهَّفَقَا ََّ‬ ‫للاَُّبِذَ ِل ََّ‬ ‫أ َ َم َر ُك َُّمَّ َّ‬
‫سل َم‪َ َّ((َّ:‬م َّْ‬
‫نَّ‬ ‫للاَُّ َعلَ ْي َِّهَّ َو َ‬ ‫صلىَّ َّ‬ ‫لَّ َ‬ ‫س ِل ُمواَّت َ ْس ِليماََّّ﴾َّ[األحزاب‪َ َّ،َّ]٥٦:‬وقَا ََّ‬ ‫صلواَّ َعلَ ْي َِّهَّ َو َ‬ ‫آ َمنُواَّ َ‬
‫ّللاَُّ َعلَ ْي َِّهَّبِ َهاَّ َع ْشرا))َّ‪َّ .‬‬ ‫صلىَّ َّ‬ ‫صلةََّّ َ‬ ‫صلىَّ َعلَيََّّ َ‬ ‫َ‬
‫َّ‬
‫كَّ‬ ‫لَّ ِإب َْرا ِهي ََّْمَّإِن ََّ‬ ‫ْتَّ َعلَىَّ ِإب َْرا ِهي ََّْمَّ َو َعلَىَّآ َِّ‬ ‫صلَي ََّ‬ ‫لَّ ُم َحمدََّّ َك َماَّ َ‬ ‫لَّ َعلَىَّ ُم َحمدََّّ َو َعلَىَّآ َِّ‬ ‫ص َِّ‬ ‫اَلل ُهمََّّ َ‬
‫لَّ‬‫تَّ َعلَىَّ ِإب َْرا ِهي ََّْمَّ َو َعلَىَّآ َِّ‬ ‫ار ْك ََّ‬ ‫لَّ ُم َحمدََّّ َك َماَّ َب َ‬ ‫كَّ َعلَىَّ ُم َحمدََّّ َو َعلَىَّآ َِّ‬ ‫ار َّْ‬ ‫َح ِميْدََّّ َم ِجيْد‪َ َّ،‬و َب ِ‬
‫يَّبَ ْكرََّّ‬ ‫ْنَّأَبِ َّْ‬ ‫ْنَّا َ ْألَئِم َِّةَّال َم ْه ِديِي ََّ‬ ‫الرا ِش ِدي ََّ‬ ‫اءَّ َ‬ ‫نَّال ُخلَفَ َِّ‬ ‫ضَّالل ُهمََّّ َع َِّ‬ ‫ار ََّ‬ ‫كَّ َح ِميْدََّّ َم ِجيْد‪َ َّ،‬و ْ‬ ‫إِب َْرا ِهي ََّْمَّإِن ََّ‬
‫نَّتَبِعَ ُه َّْمَّ‬ ‫ْنَّ َو َم َّْ‬ ‫نَّالتَّابِ ِعي ََّ‬ ‫نَّالص َحابَ َِّةَّأ َ ْج َم ِعيْنَ ‪َ َّ،‬و َع َِّ‬ ‫ضَّالل ُهمََّّ َع َِّ‬ ‫ار ََّ‬ ‫انَّ َو َع ِلي‪َ َّ،‬و ْ‬ ‫عثْ َم ََّ‬ ‫ع َم ََّرَّ َو ُ‬ ‫َو ُ‬
‫ْنَّ‪َّ .‬‬ ‫كَّيَاَّأ َ ْك َر ََّمَّاأل َ ْك َر ِمي ََّ‬ ‫سانِ ََّ‬ ‫كَّ َو ِإ ْح َ‬ ‫كَّ َو َك َر ِم ََّ‬ ‫الدي ِْن‪َ َّ،‬و َعناَّ َم َع ُه َّْمَّ ِب َمنِ ََّ‬ ‫سانََّّ ِإلَىَّيَ ْو َِّمَّ ِ‬ ‫ِبإ ِ ْح َ‬
‫َّ‬
‫اْل ْس َل ََّمَّ‬ ‫اْل ْس َل ََّمَّ َوال ُم ْس ِل ِميْنَ ‪َّ،‬اَلل َُّهمََّّأ َ ِعزََّّ ِ‬ ‫اْل ْس َل ََّمَّ َوال ُم ْس ِل ِميْنَ ‪َّ،‬اَلل ُهمََّّأ َ ِعزََّّ ِ‬ ‫اَلل ُهمََّّأ َ ِعزََّّ ِ‬
‫ْنَّ َياَّ َربََّّ‬ ‫الدي ََّ‬ ‫اح َِّمَّ َح ْوزَ َّة ََّ ِ‬ ‫الديْنَ ‪َ َّ،‬و ْ‬ ‫ْنَّ َودَ ِم َّْرَّأ َ ْعدَا ََّءَّ ِ‬ ‫كَّ َوال ُم ْش ِر ِكي ََّ‬ ‫َوال ُم ْس ِل ِميْنَ ‪َ َّ،‬وأَذِلََّّالش ِْر ََّ‬
‫كَّ‬‫نَّخَافَ ََّ‬ ‫لَّ َِّو َليَتَنَاَّفِ ْي َم َّْ‬ ‫اجعَ َّْ‬ ‫حَّأَئِمتَنَاَّ َو ُو َل َّة ََّأ ُ ُم ْو ِرنَاَّ َو ْ‬ ‫ص ِل َّْ‬ ‫طانِنَاَّ َوأ َ ْ‬ ‫العَالَ ِميْنَ ‪َّ.‬اَلل ُهمََّّ ِآمناَّفِيَّأ َ ْو َ‬
‫لَّ َع َملَ َّهَُّفِيَّ‬ ‫اجعَ َّْ‬ ‫اك‪َ َّ،‬و ْ‬ ‫يَّأ َ ْم ِرنَاَّ ِل ُهدَ َ‬ ‫قَّ َو ِل ََّ‬ ‫اكَّيَاَّ َربََّّالعَالَ ِميْنَ ‪َّ.‬اَلل ُهمََّّ َوفِ َّْ‬ ‫ض ََّ‬ ‫اكَّ َواتبَ ََّعَّ ِر َ‬ ‫َواتقَ ََّ‬
‫قَّ َج ِم ْي ََّعَّ ُو َل َّة ََّ‬ ‫َاص َح َّةََّيَاَّ َربََّّال َعالَ ِميْنَ ‪َّ.‬اَلل ُهمََّّ َوفِ َّْ‬ ‫صا ِل َح َّةََّالن ِ‬ ‫طانَ َّةََّال َ‬ ‫ار ُز ْق َّهَُّال ِب َ‬ ‫اك‪َ َّ،‬و ْ‬ ‫ض َ‬ ‫ِر َ‬
‫للاَُّ َعلَ ْي َِّهَّ‬ ‫صلىَّ َّ‬ ‫كَّ ُم َحمدََّّ َ‬ ‫سن َِّةَّنَ ِب ِي ََّ‬ ‫اعَِّ ُ‬ ‫كَّ َواتِ َب َّ‬ ‫كَّ َوت َ ْح ِكي َِّْمَّش َْر ِع ََّ‬ ‫لَّبِ َكتَا ِب ََّ‬ ‫ْنَّ ِل ْل َع َم َِّ‬ ‫أ َ ْم َِّرَّال ُم ْس ِل ِمي ََّ‬
‫سل ََّمَّ‪َّ .‬‬ ‫َو َ‬
‫َّ‬
‫شنَا‪َّ،‬‬ ‫حَّلَنَاَّدُ ْنيََّانَاَّاَلتِيَّفِ ْي َهاَّ َمعَا ُ‬ ‫ص ِل َّْ‬ ‫ص َم َّةَُّأ َ ْم ِرنَا‪َ َّ،‬وأ َ ْ‬ ‫ِيَّ ُه ََّوَّ ِع ْ‬ ‫حَّلَنَاَّ ِد ْينَنَاَّاَلذ َّْ‬ ‫ص ِل َّْ‬ ‫اَلل ُهمََّّأ َ ْ‬
‫تَّ‬ ‫لَّ َخيْر‪َ َّ،‬وال َم ْو ََّ‬ ‫لَّال َحيَا َّة ََّ ِزيَادَةََّّلَنَاَّفِيَّ ُك َِّ‬ ‫اج َع َِّ‬ ‫آخ َرتَنَاَّاَلتِيَّفِ ْي َهاَّ َم َعادُنَا‪َ َّ،‬و ْ‬ ‫حَّلَنَاَّ ِ‬ ‫ص ِل َّْ‬ ‫َوأ َ ْ‬
‫فَّ‬
‫ص ِر َّْ‬ ‫ت‪َ َّ،‬وا ْ‬ ‫سنِ َهاَّ ِإلََّّأ َ ْن َ‬ ‫لَّيَ ْه ِديْنَّا ََّ ِأل َ ْح ََّ‬ ‫قَّ َ َّ‬ ‫نَّاأل َ ْخ َل َِّ‬ ‫س َِّ‬ ‫لَّشَر‪َّ.‬اَلل ُهمََّّا ْه ِدنَاَّ ِأل َ ْح َ‬ ‫نَّ ُك َِّ‬ ‫َرا َحةََّّلَنَاَّ ِم َّْ‬
‫نَّ‬‫ْرَّ َم َّْ‬ ‫تَّ َخي ََّ‬ ‫سنَاَّت َ ْق َواهَاَّزَ ِك َهاَّأ َ ْن ََّ‬ ‫تَّنُفُ ْو َ‬ ‫ت‪َّ.‬اَلل ُهمََّّآ َِّ‬ ‫سيِئَهَّا ََّ ِإلََّّأ َ ْن َ‬ ‫فَّ َعناَّ َ‬ ‫ص ِر َُّ‬ ‫لَّ َي ْ‬ ‫سيِئ َ َهاَّ َ َّ‬ ‫َعناَّ َ‬
‫تَّ َوال ُمؤْ ِم ِني ََّ‬
‫ْنَّ‬ ‫ْنَّ َوال ُم ْس ِل َما َِّ‬ ‫س ِل ِمي ََّ‬ ‫تَّ َو ِلي َهاَّ َو َم ْو َلهَا‪َّ.‬اَلل ُهمََّّا ْغ ِف َّْرَّلَنَاَّ َو ِل َوا ِلدَ ْينَاَّ َو ِل ْل ُم َّْ‬ ‫زَ كاهَاَّأ َ ْن ََّ‬
‫نَّ ُكل َهاَّ‬ ‫الم َح ََّ‬ ‫الوبَا ََّءَّ َو ِ‬ ‫ارفَ َّْعَّ َعناَّالغ ََل ََّءَّ َو َ‬ ‫اءَّ ِم ْن ُه َّْمَّ َو ْاأل َ ْم َواتِ‪َّ،‬اَلل ُهمََّّ َو ْ‬ ‫تَّا َ ْأل َ ْحيَ َِّ‬ ‫َوال ُمؤْ ِمنَا َِّ‬
‫سائِ َِّرَّبِ َل َِّدَّ‬ ‫نَّ َ‬ ‫صةََّّ ََّو َع َّْ‬ ‫نَّبَلَ ِدنَاَّ َهذَاَّخَا َ‬ ‫نَّ َع َّْ‬ ‫ط ََّ‬ ‫ظ َه ََّرَّ ِم ْن َهاَّ َو َماَّبَ َ‬ ‫نَّ َماَّ َ‬ ‫لَّ َوال ِفت َ ََّ‬ ‫َوالزَ َل ِز ََّ‬
‫نَّلَ َّْمَّت َ ْغ ِف َّْرَّلَنَاَّ َوت َ ْر َح ْمنَاَّ‬ ‫سنَاَّ َو ِإ َّْ‬ ‫ظلَ ْمنَاَّأ َ ْنفُ َ‬ ‫اْل ْك َر ِام‪َ َّ.‬ربنَاَّإِناَّ َ‬ ‫لَّ َو ِ‬ ‫ْنَّ َعا َمةََّّيَاَّذَاَّال َج َل َِّ‬ ‫ال ُم ْس ِل ِمي ََّ‬
‫ارَّ‪َّ .‬‬ ‫ابَّالن َِّ‬ ‫سنَةََّّ ََّوقِنَاَّ َعذَ ََّ‬ ‫اْلخ َرةََِّّ َح َ‬
‫سنَةََّّ َوفِيَّ ِ‬ ‫ْنَّ َربنَاَّآتِنَاَّفِيَّالدُ ْنيَاَّ َح َ‬ ‫نَّالخَا ِس ِري ََّ‬ ‫لَنَ ُك ْونَنََّّ ِم ََّ‬
‫َّ‬
‫ّللاَِّأ َ ْكبَ َُّرَّ َو َّ‬
‫ّللاَُّيَ ْعلَ َُّمَّ َماَّ‬ ‫للاََّيَ ْذ ُك ْر ُك ْم‪َ َّ،‬وا ْش ُك ُر ْو َّهَُّ َعلَىَّنِ َع ِم َِّهَّيَ ِز ْد ُك ْم‪َ َّ،‬ولَ ِذ ْك َُّرَّ َّ‬
‫ِعبَا َّدََّللاِ‪َّ:‬ا ُ ْذ ُك ُر ْواَّ َّ‬
‫صنَعُونَ ‪َّ .‬‬ ‫تَ ْ‬
‫‪Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H oleh Syekh Ali Bin‬‬
‫‪Abdurrahman Al-Hudzaifi‬‬

‫‪Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja‬‬


‫‪Artikel firanda.com‬‬