You are on page 1of 7

Dharmakarya: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol. 2, No.

2, November 2013: 139 - 145


ISSN 1410 - 5675

PELATIHAN PEMBUATAN PESTISIDA ALAMI UNTUK MENGENDALIKAN


HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI DI DESA TENJOLAYA DAN DESA
SUKAMELANG, KECAMATAN KASOMALANG, KABUPATEN SUBANG

Hersanti, Santosa, E. dan Dono, D.


Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Jatinangor Km. 21 Sumedang
E-mail: Hersanti09@gmail.com

ABSTRAK
Padi merupakan tanaman pangan utama penduduk Indonesia dan banyak diusahakan oleh petani. Pada
umumnya penduduk di Desa Tenjolaya dan Desa Sukamelang Kecamatan Kasomalang, Kabupaten
Subang bermata pencaharian sebagai petani. Salah satu faktor penghambat dalam budi daya tanaman padi
adalah serangan hama dan patogen. Pengendalian hama dan patogen yang biasa digunakan oleh petani
di kedua desa tersebut dengan menggunakan pestisida sintetik. Dampak negatif penggunaan fungisida
sintentik memacu para petani untuk menggunakan jenis pestisida yang alami yaitu dengan memanfaatkan
tanaman dan mikroba. Tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani
di Desa Tenjolaya dan Desa Sukamelang , Kecamatan Kaomalang, Kabupaten Subang dalam membuat
dan mengaplikasikan pestisida alami (pestisida nabati, mikroba, dan mikroorganisme lokal) untuk
mengendalikan hama dan patogen pada tanaman padi. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari dengan
acara pemaparan jenis-jenis pestisida alami di balai Desa Tenjolaya dan pengaplikasian pestisida
alami di lahan sawah milik petani. Pelatihan diikuti 45 orang petani, Kepala Desa Tenjolaya, penyuluh
pertanian, dan Perwakilan Dinas Pertanian Tanaman Kabupaten Subang. Hasil pelatihan ini adalah
bahwa petani yang mengikuti pelatihan tertarik dan mampu dalam membuat dan mengaplikasikan
pestisida alami untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman padi.

Kata kunci : pestisida alami, hama, penyakit, tanaman padi, Desa Tenjolaya, Desa Sukamelang

TRAINING FOR MAKING OF NATURAL PESTICIDESTO CONTROL PESTS


AND DISEASE OF PADDYIN DESA TENJOLAYA DAN DESA SUKAMELANG,
KECAMATAN KASOMALANG KABUPATEN SUBANG

ABSTRACT
Rice isthe mainfood cropof Indonesia’s populationandmuchcultivated byfarmers. In general,residents
in desa Tenjolaya and desa Sukamelang Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang live lihoodas
farmers. One inhibiting factor in the cultivation of paddyarepests and pathogens. Control of pests and
pathogens that are commonly used by farmers in the villagesis to use synthetic pesticides. The negative
impact of the use of synthetic fungicides stimulate farmers to use natural pesticidesis to use plants and
microbes. The purpose of this training is to increase knowledge and skills of farmers in the village
of Tenjolaya and village of Sukamelang, Kecamatan Kasomalang, KabupatenSubang in the making
and applying pesticides (pestisda vegetable, microbial and microorganism Local) to control pests and
pathogens on paddy. Training conducted for 2days with event types of pesticide exposure experiencedin
the village hall Tenjolaya and application of natural pesticides in paddy field sowned by farmers. 45
people attended the training of farmers, village heads Tenjolaya, agricultural extension workers and
representatives of the Department of Agriculture Plant Kabupaten Subang. The results of this trainingis
the training of farmer swhoare interested and capable of creating and applying natural pesticides to
control pests and diseasesin paddy.

Key word : natural pesticide, pest, disease, paddy, Desa Tenjolaya and DesaSukamelang
Hersanti, Santosa, E. dan Dono, D. 140

PENDAHULUAN ada di daerah tempat budi daya tanaman


padi. Potensi sumber daya alam yang
Padi merupakan tanaman pangan utama dapat digunakan sebagai pestisida alami di
penduduk Indonesia. Dalam meningkatkan antaranya berasal dari sisa-sisa tanaman,
ketahanan pangan, Pemerintah Indonesia ber- hasil tanaman, dan sisa-sisa pembuangan
usaha meningkatkan produksi padi. Upaya (sampah) rumah tangga. Beberapa tana-
meningkatkan pendapatan dari usahatani padi man yang telah diketahui efektif untuk
sawah sudah lama dilakukan, namun dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman
kenyataannya produksi padi saat ini cenderung di antaranya tembakau, nimba, bawang
menurun. Beberapa kendala menurunnya putih, gadung, sirih, cengkeh, sirsak, dan
produksi padi diantaranya adalah: menurunnya srikaya.
kesehatan dan kesuburan tanah; serangan hama, Kabupaten Subang merupakan salah
dan patogen. satu wilayah di Jawa Barat yang mempunyai
Wilayah Desa Tenjolaya dan Desa Suka- sumber daya alam yang cukup baik dan
melang, Kecamatan Kasomalang, Kabu-paten salah satunya adalah keanekaragaman jenis
Subang merupakan wilayah yang sebagian tanaman yang cukup tinggi. Jenis tanaman
besar daerah pertanian dan perkebunan. Pada yang banyak di tanam di Kabupaten Subang
umumnya lahan yang terdapat di kedua desa seperti teh, kelapa sawit, nanas, manggis, dan
tersebut ditanami padi, terutama pada musim jenis-jenis tanaman lainnya yang berpotensi
penghujan. Rata-rata produksi padi di Kabupaten sebagai pestisida seperti sirsak, srikaya,
Subang pada tahun 2009 mencapai 6 ton/ha cengkeh dan lain-lain.
(Dinas Pertanian Kabupaten Subang). Hasil ini Berdasarkan sumber potensi tanaman
masih rendah dibandingkan dengan produksi sebagai pestsida alami yang tersedia di
padi yang sesungguhnyadapat dicapai. Salah satu Kabupaten Subang khususnya di Desa
faktor yang menghambat usaha tanaman padi Tenjolaya dan Desa Sumelang, maka perlu
adalah adanya serangan organisme pengganggu dilakukan peningkatan pengerahuan dan
tanaman (OPT). Hasil laporan Dinas Pertanian keterampilan dalam pembuatan pestisida
Kabupaten Subang (2009) beberapa OPT yang alami untuk mengendalikan hama dan
sering menyerang tanaman padi diantaranya penyakit pada tanaman padi.
adalah Bacterial Leaf Blight (Xanthomonas
oryzae), tikus, penggerek batang putih, wereng Metode
batang coklat (Nilapavarta lugens), tungro.
Penggunaan pestisida untuk mengen- Pelaksanaan pelatihan dan praktik pem-
dalikan hama dan penyakit sudah menjadi suatu buatan pestisda alami untuk mengendalikan
kebiasaan petani dalam pengelolaan lahan hama dan patogen pada tanaman padi
pertaniannya. Namun, penggunaan pestisida dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2012
yang kurang bijaksana dapat menimbulkan di Balai Desa Sukamelang dan 27 Januari
masalah kesehatan, pen-cemaran lingkungan, 2012 di lahan sawah milik petani. Peserta
dan gangguan keseimbangan ekologis. Selain yang hadir pada pelatihan ini berjumlah 50
itu, harga pestisida yang tinggi sehingga orang petani, yang dihadiri pula kepala Desa
sulit dijangkau oleh petani. Oleh karena Tenjolaya, Penyuluh Pertanian Kecamatan
itu, perhatian pada alternatif pengendalian Kasomalang, dan Dinas Pertanian Kabupaten
yang lebih ramah lingkunganperlu semakin Subang.
ditingkatkan. Tahap-tahapan kegiatan tersebut sebagai
berikut :
Sumber inspirasi a. observasi kelompok tani dan penetuan
lokasi kegiatan
Pengendalian hama dan penyakit Berdasarkan keterangan dari Ketua
tanaman padi yang berwawasan lingkungan Kelompok Tani dan Petugas Penyuluh
adalah pengendalian yang berdasarkan Lapangan Pertanian (PPL) di Keca-
pemanfaatan potensi sumber daya alam yang matan Tenjolaya terdapat lebih dari 21
Pelatihan Pembuatan Pestisida Alami untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman 141

kelompok tani yang tersebar di desa- waktu, peralatan, dan terbatasnya ketersediaan
desa. tanaman yang diperlukan terbatas.
b. persiapan bahan dan alat pelatihan Pelatihan pembuatan pestisida alami
Bahan dan alat pelatihan dipersiapkan untuk mengendalikan hama dan penyakit
adalah biji Baringtonia, inokulum tanaman padi yang diselenggarakan Lembaga
Trichoderma harzianum, Beuveria, daun Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
nimba, bawang putih, daun ki pait, buah (LPPM) Universitas Padjadjaran merupakan
maja, sayuran, air kelapa, gula pasir, rencana kerja dari Dinas Pertanian Kabupaten
ember, stoples plastik, saringan, blender, Subang di beberapa kecamatan. Dengan
pengaduk, dan alat semprot. demikian, kegiatan yang diselenggarakan
c. teori dan praktik pembuatan pestisida LPPM Unpad dapat memberikan sumbangan,
mikroba khususnya dalam materi dan praktik yang
Jumlah peserta pada pelatihan ini dapat disampaikan oleh petugas penyuluh
diikuti oleh 50 orang petani.Kepada pertanian.
kelompok tani yang telah diundang Faktor-faktor yang mendukung keber-
seminggu sebelumnya diberikan teori hasilan pelatihan ini adalah mahalnya harga
mengenai pembuatan pestisida mikroba pestisida sehingga kecilnya daya beli petani,
pembuatan pestisida mikrobanya sendiri ketersedian beberapa tumbuhan yang dapat
dilaksanakan di Jurusan Hama dan digunakan sebagai pestisida nabati, keinginan
Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian dan semangat petani untuk lebih mengetahui
Universitas Padjadjaran. Kegiatan ini pengendalian hama dan patogen tanaman
diikuti oleh wakil dari ketua kelompok padi yang ramah lingkungan.
tani dan petugas penyuluh pertanian. Faktor-faktor yang menghambat dalam
Setelah para peserta penyuluhan program pelatihan ini adalah belum terko-
mengetahui teori pembuatan pestsida ordinasinya kelompok tani yang meng-
alami dan mikroorganismelokal (MOL), gunakan pestisida alami ketersediaan bahan
dilanjutkan dengan praktik pembuatan nabati masih kurang walaupun jenis tanaman
kompos dan MOL. Persertadibagi dalam yang berpotensi sebagai pestisida nabati serta
6 kelompok dan setiap kelompok terdiri cukup banyak. Di samping itu, belum banyak
dari 5 orang. petani yang mengenal tentang penggunaan
d. praktik aplikasi pestisida alami mikroba sebagai pestisida.
Praktik aplikasi pestisida alami di sawah Kegiatan pembuatan pestisida selain
dilakukan pada hari ke-2. Luas lahan dilakukan di Desa Tenjolaya dilanjutkan
sawah sebagai demplot 80 m2. Lahan dengan pembuatan pestisida mikroba di
sawah yang digunakan merupakan milik Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian
petani di desa Sukamelang. Pestisida Universitas Padjadjaran, yang pembuatan
alami yang digunakan berasal dari daun pestisida mikroba diikuti oleh 4 orang petani
nimba. Aplikasi bahan alami dilakukan dan 1 orang penyuluh per-tanian. Dalam
dengan interval 3 hari sekali. pelatihan ini diberikan materi pembuatan
media masal mikroba (T. harzianum dan
Karya Utama Beuveria sp.), inokulasi mikroba pada media
masal dan cara aplikasi pestisida mikroba.
Hasil pengamatan dari kegiatan yang Akhir pelatihan ini petani diberikan inokulum
diselengarakan selama pelatihan menunjukkan T. harzianum dan Beuveria sp.
bahwa petani mempunyai pengetahuan Dari hasil tanya jawab pengetahuan
tentang tanaman-tanaman yang berpotensi petani tentang pestisida yang berasal dari
sebagai pestisida alami, akan tetapi para petani mikroba masih rendah dan dari paparan jenis-
masih kurang pengetahuan dalam memilih jenis tanaman, cara pembuatan pestisida, dan
jenis tumbuhan dan organisme pengganggu MOL, pada umumnya para petani mengenal
tumbuhan (OPT) yang dapat dikendalikan. jenis-jenis tanaman yang dapat digunakan
Selain itu, pembuatan pestisida memerlukan sebagai pestisida nabati, akan tetapi cara
Hersanti, Santosa, E. dan Dono, D. 142

pembuatannya dan jasad sasaran yang dapat biasanya jarang terserang hama dan penyakit,,
dikendalikan belum banyak diketahui, rasanya pahit atau berbau menyengat.
demikian pula dengan cara pembuatan Bagian tanaman yang dapat digunakan dapat
cairan MOL, aplikasi dan kegunaannya berupa daun, ranting, biji dan, akar/rimpang,
belum banyak diketahui. Pemaparan tergantung jenis tanamannya. Biasanya
tentang pestisida jenis ini disertai diskusi bagian yang bersifat paling beracun adalah
menghabiskan waktu, sementara praktik biji (Istifadah dan Danar Dono, 2010).
pembuatan pestisida nabati dan cairan MOL Beberapa bahan tanaman dan cara
dilaksanakan selama 6 jam. Pestisida nabati pembuatan yang dapat digunakan dalam
yang dibuat sebagian digunakan untuk mengendalikan hama dan patogen tanaman
aplikasi pada demplot keesokan harinya. tersaji pada Tabel 1.
Pada hari kedua pelatihan dilakukan Salah satu prinsip pertanian organik
aplikasi pestisida nabati di lahan milik sawah adalah mendaur ulang sisa-sisa hasil pertanian
milik petani di Desa Sukamelang. Aplikasi yang ada untuk dijadikan sumber pupuk
pestisida nabati menggunakan knapsack- maupun sebagai pestisida. Pemupukan dalam
sprayer dilakukan oleh salah seorang petani. metode SRI hanya dilakukan dengan pupuk
Selama aplikasi diselingi juga dengan tanya organik yang berasal dari bahan hijauan
jawab dengan petani. seperti jerami, batang pisang, dan dedaunan
lainnya. Penggunaan kotoran hewan seperti
Materi Pelatihan kotoran kambing, sapi, ayam, kelinci dan
Pestisida nabati adalah pestisida yang kerbau yang telah dikomposkan. Hasil dari
berasal dari tumbuhan yang mengandung proses fermentasi bahan-bahan tersebut
senyawa-senyawa bioaktif seperti alkaloid, dikenal dengan nama Mikroorganisme Lokal
terperoid, fenolik, dan senyawa lainnya yang (MOL). MOL ini telah banyak digunakan
dapat menghambat atau mematikan hama sebagai pupuk, pendekomposer, maupun
atau penyebab penyakit (patogen). Metabolit sebagai petisida alami di daerah Jawa Barat,
sekunder dapat terkandung pada jaringan Jawa Tengah terutama dalam pertanian
seperti sel parenkim pada daun, akar, bunga, padi organik. Para petani meracik larutan
biji atau kulit batang atau kayu, rimpang MOL berdasarkan pengamalan maupun
atau bahkan di seluruh bagian tumbuhan dari pelatihan yang diberikan oleh dinas
(Grainge & Ahmed, 1988). pertanian maupun dari kelompok tani yang
Senyawa yang terkandung dalam telah maju dalam pertanian organik.
tumbuh-tumbuhan dapat berpengaruh ter- Penggunaan larutan MOL dalam
hadap serangga hama melalui penghambat budaidaya padi metode SRI dilakukan sejak
nafsu makan, reppelent (penolak), meng- awal yaitu pada saat pengolahan tanah, fase
hambat perkembangan, menurunkan repro- vegetatif, pembentukan malai, dan pengisian
duksi, pengaruh langsung sebagai racun, bulir padi. Penggunaan MOL dalam sistem
mencegah peletakan telur. Senyawa dalam budidaya padi SRI selain berfungsi sebagai
tumbuh-tumbuhan juga dapat menghambat pupuk juga berfungsi sebagai agen pengendali
pertumbuhan jamur, menghambat perkecam- organisme pengganggu tanaman.
bahan spora dan pembentukan spora (spo- Pemupukan maupun untuk pengen-
rulasi) yang merupakan sumber guna penye- dalian hama dan penyakit dalam metode
baran penyakit (Istifadah dan Danar Dono, SRI hanya dilakukan dengan menggunakan
2010). bahan organik yang dibuat melalui proses
Di Indonesia terdapat lebih dari 100 fermentasi bahan alam yang tersedia di
jenis tumbuhan yang mengandung bahan sekitar persawahan atau pemukiman. Pro-
pestisida botani, beberapa diantaranya telah ses fermentasi tersebut menggunakan air
diketahui keefektifannya terhadap serangga kelapa ataupun air gula dengan waktu
hama ataupun penyakit. Tumbuhan yang fermentasi berkisar 14-21 hari. Hasil dari
berpotensi digunakan sebagai pengendali proses fermentasi bahan organik tersebut
hama dan penyakit adalah tumbuhan yang dikenal dengan nama Mikroorganisme
Pelatihan Pembuatan Pestisida Alami untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman 143

Tabel 1. Contoh Insektisida Nabati dan Cara Pembuatannya


Bahan Hama Sasaran Cara Pembuatan
Biji Barringtonia asiatica Hama ulat Biji B. asiatica sebanyak 50 g kemudian diblender dengan
menggunakan air sebanyak 1 liter (lt), tambahkan sedikit
deterjen (1g/liter)
Daun sirsak 10 lembar, daun Bahan dihaluskan/ditumbuk kemudian direndam dalam
ki pahit 0.5 kg, rimpang air (dengan volume 1:2) kemudian ditambah sedikit sabun
lengkuas. 50 g deterjen. Setelah itu, campuran disaring dan air rendaman
yang diperoleh diencerkan dengan air 1:10.
Cabe rawit 1 ons dan bawang Ulat dan hama Bahan dihaluskan, ditambah dengan air 1 liter, lalu
putih 1 ons penghisap disaring. Untukaplikasiditambah air 10-15 liter.
Daun tembakau 20 g, Ulat Daun tembakau diris kemudian direbus dalam 1 lt air.
deterjen cair 1 sendokteh Setelah itu ditambahkan 1 sendok teh deterjen cair, diaduk,
dan diendapkan semalam. Air rendaman kemudian disaring
dan untuk aplikasinya diencerkan dalam 10-15 liter air.
Dauntembakau 250 g Hama pengisap Daun tembakau diiris kemudian direndam semalam
(empatgenggam) dalam 8 liter air. Saring air rendamannya, kemudian
ditambahkan 2 sendok teh detergen
Daun sirsak 10 lembar Belalang dan ulat Daun diris-iris kemudian ke dimasukkan dalam 4 liter air
+ 4 g detergen (sabun colek), diaduk rata dan direndam
Daun tembakau 100 g semalam lalu disaring.Tiap 1 lt air saringan dapat
diencerkan dengan 10-12 lt air
Daun sirsak 10-20 lembar Kutu daun Daun ditumbuk halus kemudian dilarutkan dalam 1 liter
air dicampur dengan sepucuk sendok sabun colek, lalu
diendapkan semalam. Air rendaman disaring dan untuk
aplikasinya diencerkan dengan 10 liter air.
Daun babandotan atau kipahit Ulat dan hama Daun gulma ditumbuk kemudian direndam dalam 1 liter
(paitan) 0,5 kg penghisap air dan ditambah 1 g deterjen lalu diendapkan semalam.
Air rendaman kemudian disaring dan untukaplikasinya
diencerkan dalam 30-50 liter air.
Daun sirsak 5 lembar, Wereng Tumbuk halus bahan-bahan kemudian rendam dalam 5
rimpang jeringau liter air + 5 g detergen selama 1-2 hari kemudian disaring.
¼ genggam, bawang putih 5 Setiap 1 lt diencerkan dengan 10-12 lt
siung
Ranting/kulit batang pacar Ulat Hancurkan ranting atau kulit batang pacar cina,
cina 50-100 g tambahkan air 1 lt dan 1 g detergen (dapat juga direbus
selama 45 menit).Larutan disaring kemudian dapat
disemprotkan ke tanaman
Akar tuba 5-10 g Keong mas Tumbuk akar tuba kemudian masukkan dalam 1 lt air
yang ditambah dengan 1 g detergen, aduk sampai rata dan
rendam semalam kemudian saring air rendamannya

Tabel 2. Contoh pestisida untuk penyakit dan cara pembuatannya

Bahan penyakit Sasaran Cara membuat


Rimpang lengkuas atau Berbagai penyakit Rimpang-rimpangan ditumbuk kemudian ditambah 1 liter air +
jahe 50 g jamur 1 g detergen, kemudian direndam semalam. Air rendamannya
disaring dan siap diaplikasikan untuk penyemprotan atau bisa
disiramkan untuk penyakit yang menyerang akar
Bawang putih 50 g Berbagai penyakit Bawang putih ditumbuk kemudian ditambah air sebanyak 1 lt
jamur dan bakteri yang telah diberi 1 g atau 1 cc detergen, laludirendam semalam
atau langsung diaplikasikan dengancarapenyemprotan atau
disiramkan untuk penyakit yang menyerang akar
Bunga atau daun tagetes/ Nematoda Daun atau bunga ditumbuk, kemudian ditambahkan air
kenikir dengan perbandingan 1:10. Aplikasi dilakukan dengan
ulat penyiraman pada tanaman terinfeksi

Daun sirih 50 g Penyakit karena Bawang putih ditumbuk kemudian ditambah air sebanyak
bakteri 1 lt yang telah diberi 1 g atau 1 cc detergen, laludirendam
semalam atau langsung diaplikasikan dengan disiramkan ke
tanaman
Daun cengkih hama/penyakit Daun cengkih dikeringkan, kemudian ditumbuk dibuat serbuk
pascapanen atau atau tepung. Aplikasi dilakukan dengan penambahan serbuk
penyakit pada akar pada lubang tanam sebanyak 1-2 sendok makan/lubang
Hersanti, Santosa, E. dan Dono, D. 144

Lokal (MOL). Potensi sumber daya alam membuat pestisida alami. Petani dapat
yang dapat digunakan sebagai bahan dasar mengaplikasikan pestisida alami dalam mengen-
pembuatan MOL yang berperan sebagai dalikan hama dan penyakit tanaman padi yang
pestisida alami adalah bagian tanaman, hasil dibudidayakan, sehingga dapat mengurangi
tanaman, buangan ternak, dan sampah rumah biaya usaha budidaya pertanaman padi.
tangga. MOL ini telah banyak digunakan Pelatihan selama dua hari membangkit-
sebagai pupuk, pendekomposer, maupun kan ketertarikan beberapa petani untuk
sebagai petisida alami di daerah pertanian meningkatkan keterampilan dalam membuat
padi organik khususnya petani padi yang pestisida nabati, khususnya perbanyakan
menggunakan pertanaman metode SRI mikroba. Hasil ini menunjukkan bahwa
(Anugrah, 2007; Ekamaida, 2008; Hersanti petani peserta pelatihan tertarik untuk meng-
& Djaya, 2008). Banyak jenis larutan MOL gunakan pestisda alami untuk mengendalikan
yang berperan sebagai pestida alami baik hama dan penyakit tanaman padi.
sebagai fungisida, bakterisida, dan insektisida.
Hal ini salah satunya adalah meningkatkan SIMPULAN
populasi dan mengaktifkan bakteri-bakteri
yang berperan sebagai agens biokontrol Hasil kegiatan pelatihan pembuatan pestisida
maupun sebagai perangsang pertumbuhan alami untuk mengendalikan hama dan
tanaman (Anugrah, 2008;Ekamaida, 2008). penyakit tanaman padi di Desa Tenjolaya
MOL dibuat dengan cara mengolah dan Sukamekar, Kecamatan Kasomalang,
bahan-bahan alami seperti rebung, bonggol Kabupaten Subang yaitu petani tertarik dan
pisang, berenuk yang dicampur dengan air meningkat kemampuannya dalam membuat
kelapa atau air gula kemudian disimpan dalam pestisida nabati dan mikroba untuk
wadah tertutup selama 7-14 hari untuk proses mengendalikan hama dan penyakit pada
fermentasi (Sobirin, 2007). Bahan dasar yang tanaman padi.
dapat digunakan dalam pembuatan MOL
selain bagian tanaman dan hasil tanaman, juga DAFTAR PUSTAKA
dapat berupa hewan seperti bekicot, ikan asin,
dan keong mas (Mulyono, 2008). Anugrah, I.S. 2007. Pembelajaran Budidaya Padi
Penggunaan MOL dalam pembuatan Ekologis Berbasis Partisipasi Masyarakat:
kompos mampu memelihara kesuburan Catatan Bagi Upaya Membangun dan
tanah, meningkatkan populasi mikroba Menggerakan Pertanian dan Pedesaan.
tanah dan kelestarian lingkungan sekaligus Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebi-
dapat mempertahankan atau meningkatkan jakan Pertanian. Bogor. 15 hlm.
produktivitas tanah (Ekamaida, 2008). Selain
itu MOL digunakan sebagai pupuk, pende- Deptan, 2008. Buletin Pengelolaan Lahan
komposer, maupun sebagai pestisida alami dan Air. Edisi Desember 2008.
(Ekamaida, 2008; Hersanti & Djaya, 2008). Tersedia dalam http://pla.deptan.go.id
MOL mengandung unsur hara mikro dan /pdf /BULETIN_ PLA_ DES_ 08.pdf.
juga mengandung bakteri yang berpotensi (Diakses tanggal 23 Juli 2009).
sebagai perombak bahan organik, perangsang
pertumbuhan, dan juga sebagai agens Deptan, 2009. Pedoman Teknis Pengembangan
pengendali hama dan penyakit tanaman padi System of Rice Intensification (SRI) TA.
(Deptan, 2008). 2009. Tersedia dalam http://pla.deptan.
go.id/pdf/03_PEDOMAN_TEKNIS_
Dampak dan Manfaat SRI_2009.pdf. (Diakses tanggal 22 Juli
Pelatihan 2009).

Hasil yang diharapkan bahwa petani Ekamaida. 2008. Pengelolaan lahan perta-
dan mahasiswa mampu mengembangkan nian ramah lingkungan dengan sistem
keahliannya dan keterampilannya dalam intensifikasi tanaman padi melalui
Pelatihan Pembuatan Pestisida Alami untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman 145

pemanfaatan mikroorganisme lokal Mulyono. 2008. Bermula dari kelangkaan


dalam pembuatan kompos (Studi kasus pupuk kimia. Tersedia dalam: http://
di Desa Sidodadi Kabupaten Deli www.lampungpost.com/cetak/cetak.
Serdang). Available online at http:// php?id=2008120121344916. Diakses
library.usu.ac.id (Diakses tanggal 8 tanggal 15 Juli 2009.
September 2008).
Purwasasmita, M. 2008. Olah tanah sebagai
Hersanti, E. Santosa & Triny, S.K. 2007. boreaktor: landasan utama System of
Keragaman penyakit, sebaran hama rice Intensification (SRI). Workshop
da musuh alaminya pada pertanaman System Rice Intensification (SRI) Direk-
padi organik “System of Rice Inten- torat Jenderal Pengelolaan Lahan dan
sification” (SRI) di Jawa Barat. Air, Departemen Pertanian Direktorat
Laporan Akhir Penelitian Fundamental Pengelolaan Lahan. Jakarta,21 Oktober
DIKTI. 18 hlm. 2008.

Hersanti, 2008. Potensi bakteri asal Santosa, E. & Ramdhani, M.A. 2005a.
mikroorga-nisme lokal (MOL) dalam Prospect and challenges of rice
menekan Penyakit dan meningkatkan organic farming in Garut district,
pertumbuhan tanaman padi. Jurusan Indonesia. Open Symposium of
Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas International Society for Southeast
Pertanian. Universitas Padjadjaran. 16 Asian Agricultural Sciences. Faculty
hlm. <unpublished>. of Agriculture, University Hanoi,
Vietnam.
Hersanti & Djaya, L. 2008. Antagonism
of Bacterial Isolates from Local Santosa, E. & Ramdhani, M.A. 2005b.
Microorganisms against Rhizoctonia Increasing food security and human
solani and Their Effect on the Growth health through free environmental
of Rice Seedlings. Mini Symposium pollution with rice organic farming.
Biocontrol in conjuction with ICMNS. Proceeding International Conference
Sekolah Tinggi Ilmu Hayati Institut of Crop Security. Malang, September
Teknologi Bandung. 2005.

Johnson, L.F., & Curl, E.A. 1972. Methods Saraswati, R. & Sumarno, 2008. Peman-
for research on the ecology of soil born faatan mikroba penyubur tanah. Iptek
plant pathogens. Burgess Publishing Tanaman Pangan 3(1) : 41-58.
Co. Minnesota. 247p.
Sobirin. 2007. Starter kompos mikroorganik.
Johnston, D. 2007. Colony Characteristics. Tersedia dalam http:// clearwaste.
http://faculty.clinton.edu/faculty/ b l o g s p o t . c o m / 2 0 0 7 / 0 9 / s t a r t e r-
donald.johnston/. Diakses tanggal 22 kompos-mikro-organik gratisan. html.
November 2008 (Diakses tanggal 14 Juli 2009).

Karama, S. 2000. 65 persen Sawah di Pulau


Jawa Kritis. Suara Pembaharuan. 20
Febuari 2000.