You are on page 1of 4

Kasus

Pasien memiliki riwayat penyakit


laringomalasia dan pasien
Faktor risiko
menggunakan NGT dalam waktu yang
lama

Sesak sejak 3 hari SMRS. Sesak tidak


dipengaruhi pada perubahan posisi. Nafas
terdengar grok - grok. Batuk tidak keluar
Anamnesis
dahak dan terdapat pilek. Pasien juga
tidak mau menyusu. Pasien memiliki
riwayat penyakit laringomalasia.

Dari pemeriksaan fisik didapatkannadi


110x/menit, suhu 36,7°C, nafas
54x/menit, saturasi O2 77%, terdapat
Pemeriksaan Fisik
oedema palpebra, nafas cuping hidung,
retraksi epigastrium stidor, slime dan
hernia umbilikalis.

Pada pemeriksan laboratorium


didapatkan leukositosis 26.000 /uL,
Pemeriksaan Penunjang dan asidosis respiratorik yaitu
penurunan pH 7.101 dan peningkatan
pCO2 88.0 mm Hg.
Medikamentosa
• IVFD KAEN 3B 16 tpm mikro
• Inj. Meropenem 3x200 mg
• Inj. Ranitidin 3x10 mg
• Inj. Dexametason 3x0.5 mg
• Nebu ventolin + pulmicort + Nacl --> 3x
• O2 7 lpm dengan CPAP
• Orogastric tube
Tatalaksana
Non Medikamentosa :
• Rawat inap
• Pasang dan observasi saturasi O2
• Susu 4x80 ml
Teori Analisa

Pada pasien terdapat laryngomalacia


Faktor risiko pneumonia aspirasi yaitu gangguan
sehingga dapat menyebabkan disfagia
menelan atau disfagia, perubahan status mental,
dan nutrisi enteral yang diberikan
gangguan pergerakan esophagus, nutrisi enteral
melalui NGT. Kedua hal ini berisiko
dan kolonisasi orofaringeal.
terhadap pneumonia aspirasi

Gejala dari pneumonia aspirasi berupa sesak nafas Pada pasien terdapat gejala sesak nafas,
dengan onset yang cepat, batuk berdahak, batuk, dan juga penurunan nafsu makan.
hemoptysis, demam, malaise, mual, dan muntah. Hal ini dapat dilihat pada pasien dengan
Sedangkan gejala khas dari laryngomalacia adalah pneumonia aspirasi. Keluhan lain pasien
stridor saat inspirasi yang diperburuk pada saat seperti nafas yang terdengar grok
makan, agitasi, posisi telentang, atau menangis merupakan ciri khas laryngomalacia

Pada pasin didapatkan bradipneu dan


penurunan saturasi oksigen. Hal ini
Pada laryngomalacia dapat ditemukan adanya
kemungkinan disebabkan akibat dari
bunyi nafas terutama saat inspirasi, irama
sesak nafas yang akut dan
pernafasan yang tidak teratur dan terdapat retraksi
berkepanjangan sehingga terjadi asidosis
paru. Pada pneumonia aspirasi dapat ditemukan
respiratorik. Pada pasien juga terlihat
adanya hipertermia, takipneu, penggunaan otot
nafas cuping hidung dan retraksi
pernafasan tambahan, sianosis sentral, rhonki pada
epigastrium menandakan kalau pasien
asukultasi paru, deviasi trakea, pekak pada
sangat sesak. Stridor yang ditemukan
perkusi, dan retraksi
pada pasien berhubungan dengan
laryngomalacia

Pada pemeriksaan laboratorium pasien dengan


Pada pasien didapatkan adanya
pneumonia aspirasi dapat ditemukan adanya
leukositosis dan asidosis respiratorik, hal
leukositosis. Pemeriksaan rontgen thoraks
ini dapat terjadi pada pasien dengan
ditemukan adanya infiltrat pada 1 atau ke 2 lapang
pneumonia aspirasi. Namun pasien
paru. Perlu juga dilakukan pemeriksaan kultur
belum pernah dilakukan pemeriksaan
darah untuk mengetahui jenis bakteri. Selain itu
laryngoscop fiber optik sehingga
untuk menegakkan diagnosis pasti dari
pemeriksaan in perlu dilakukan untuk
laryngomalacia diperlukan laryngoscop fiber optic
menegakkan diagnosis dan menentukan
untuk dapat melihat bentuk dan ukuran epiglotis
tatalaksana yang tepat
serta kartilago arytenoid.
Terapi farmakologis yang direkomedasikan pada Tatalaksana yang diberikan untuk pasien
pasien yang dipasang ventilator adalah dengan sudah sesuai namun perlu
menggunakan antibiotik betalaktam., penggunaan dipertimbangkan dilakukan
antiemetik, nebulisasi, dan steroid diperlukan supraglottoplasty karena pada pasien ini
apabila pada pasien terjadi pneumonia berat. sudah terdapat salah satu indikasi
Penatalaksanaan laryngomalacia ada yang bersifat operasi yaitu adanya stridor dengan
suportif maupun pembedahan.(supraglottoplasty( distres pernapasan