You are on page 1of 5

ITA NUR ROHMIYATI /

K4316037 (A)

Kenali dan Cegah Malnutrisi pada Anak

Ita Nur Rohmiyati

M alnutrisi menjadi salah satu masalah kesehatan di dalam negara berkembang Asia

dan Afrika. Berdasarkan data dari WHO terdapat 49% dari 10.4 juta kematian pada

anak-anak usia di bawah 5 tahun di negara berkembang disebabkan oleh malnutrisi.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di Asia tak lepas dari masalah malnutrisi.

Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan angka gizi buruk atau malnutrisi yang

tinggi yaitu 3187 kasus pada tahun 2011.

Malnutrisi merupakan suatu keadaan dimana terjadi kekurangan atau kelebihan nutrisi

dalam tubuh manusia. Istilah malnutrisi juga disamakan dengan gizi buruk. Malnutrisi

banyak diderita oleh anak-anak yang merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan

terhadap permasalahan gizi. Kelompok ini membutuhkan zat-zat gizi yang lebih besar

daripada kelompok yang lain, sehingga rentan terhadap permasalahan gizi.

Faktor - faktor penyebab malnutrisi adalah

a. Kondisi sosial ekonomi

Erat kaitannya dengan kemiskinan. Kemiskinan disebabkan rendahnya tingkat

pendidikan, adanya bencana alam sehingga mengalami kesulitan untuk mendapat


pelayanan kesehatan. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap kecukupan

gizi anak. Sebuah penelitian menunjukkan risiko anak dari ibu-ibu dengan

pendidikan menengah ke atas (lebih dari SLTP) memiliki risiko lebi kecil untuk

mengalami malnutrisi dibandingkan anak dari ibu-ibu yang berpendidikan lebih

rendah

b. Bayi dengan berat lahir yang rendah

Kondisi ini mudah untuk memicu infeksi. Infeksi kronis berulang seperti diare,

penyakit infeksi saluran pernafasan dan demam meningkatkan risiko malnutrisi.

Infeksi dapat menyebabkan penurunan berat badan melalui muntah, diare ataupun

penurunan nafsu makan. Infeksi pada saluran cerna juga dapat menyebabkan

gangguan digesti dan absorbsi makanan. Hal tersebut tentu berpengaruh terhadap

jumlah kalori yang mampu diserap tubuh. Jumlah kalori tidak mampu memenuhi

kebutuhan tubuh untuk aktivitas dan tumbuh kembang, keadaan tersebut

menyebabkan malnutrisi. Adanya infeksi juga menyebabkan penurunan asupan

makanan.

c. Rendahnya pemberian ASI eksklusif dan pemberian MP-ASI yang tidak tepat

Pada balita yang mengalami malnutrisi juga disebabkan karena rendahnya

pemberian ASI eksklusif. Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak

tepat karena diberikan terlalu dini atau terlambat, jumlahnya tidak cukup untuk

memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi pada setiap tahapan

usia serta tidak bergizi seimbang untuk memenuhi asupan kalori, protein dan gizi

mikro (vitamin dan mineral).

d. Pola asuh

Ketidaktepatan pola asuhan, lingkungan yang tidak mendukung, dan makanan yang

tidak tepat atau tidak sesuai dengan fase tumbuh kembang anak
e. Rendahnya aksesibilitas pangan

Rendahnya aksesibilitas pangan (kemampuan rumah tangga untuk selalu memenuhi

kebutuhan pangan anggotanya) mengancam penurunan konsumsi

makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman di tingkat rumah tangga

Dampak adanya malnutrisi :

a. Malnutrisi atau gizi buruk dapat meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian

serta menurunkan produktifitas, menghambat pertumbuhan sel-sel otak yang

mengakibatkan kebodohan dan keterbelakangan.

b. Malnutrisi menyebabkan permasalahan pada fungsi paru-paru

Masalah paru-paru yang disebabkan karena malnutrisi adalah menurunkan

elastisitas dan fungsi, mengurangi masa otot pernapasan, mempengaruhi sistem

imun, mempengaruhi kontrol pernapasan, dan meningkatkan risiko terjadinya edem

paru

c. Anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan

organ di dalam tubuh anak.

d. Penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi

sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan

tentu saja merosotnya prestasi anak

Cara mencegah malnutrisi

Apa yang harus kita lakukan agar anak terhindar dari malnutrisi ?

a. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan

ASI dapat meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan penyakit. Sebuah penelitian

menunjukkan balita yang tidak diberikan ASI eksklusif memiliki risiko 3,5 kali untuk

mengalami gizi buruk dibandingkan dengan balita yang diberikan ASI eksklusif.

b. Perbaikan diet makanan anak


Pola makan anak perlu diperhatikan guna mencegah mmalnutrisi. Konsumsi

makanan yang mengandung zat gizi yang seimbang baik zat makro (karbohidrat,

protein, lemak) maupun mikro (vitamin dan mineral).

c. Program imunisasi

Imunisasi sebagai upaya efektif dalam mencegah terjangkitnya penyakit infeksi.

Penyakit yang menjadi target imunisasi adalah difteri, tetanus, pertussis, polio,

campak, tuberculosis, dan hepatitis B.

d. Perbaikan sanitasi lingkungan

Sanitasi lingkungan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi pada

anak. Perbaikan sanitasi lingkungan bisa dilakukan dengan cara pemeliharaan

lingkungan air dan sampah.

e. Deteksi dini melalui penimbangan bulanan secara rutin di posyandu

Meningkatkan cakupan deteksi dini gizi buruk melalui penimbangan bulanan balita
di posyandu.

Referensi :

Titik Kuntari, Nur Aisyah Jamil, Sunarto, Opi Kurniati

Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Islam

Indonesia Yogyakarta

Jurnal Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Vol. 7, No. 12 . 2013. Faktor Risiko

Malnutrisi pada Balita.


Bukti Upload